(navigation image)
Home American Libraries | Canadian Libraries | Universal Library | Community Texts | Project Gutenberg | Biodiversity Heritage Library | Children's Library | Additional Collections
Search: Advanced Search
Anonymous User (login or join us)
Upload
See other formats

Full text of "kumpulan ebook pdf dakwah salafy"




Asy-Syaikh al-'Allamah 
Muhammad bin Sholeh al-'Utsaimin ^M 






Prinsip Ilmu Ushul Fiqih 



□L 



c^\> 



m 






AlMshulmin llmil Uskul 



Asvj-Sy aikk al-'Allamak M^Jiammad Lin Skolek al-Ut; 

JudulDalam Bohasa Indonesia 
Prinsip Ilmu Uskiol Fiqik 

Penerj email 
ALu SHilak & Ummu SHilak 

Layout &^ Design Sampul 
ALu SHilak 

Diseharhan nielaliii : 

httD://tholib.wordDress.conn 

Jumadi ats-Tsaniy ak 1428 H / Juni 2007 M 



M ajiyoid@yahoo.com 



Diperbolehkan menyebarkan / memperbanyak terjemahan ini 
selama bukan untuk tujuan komersial 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



MUQODDIMAH PENULIS 

c4Jp ill ,^^ '■'^j^jj fi'M' '''-o^ i^' J^^'j "^ k^j-^ *i fi'^j '^' *il '^l *i 

Ini adalah Tulisan singkat dalam Ushul Fiqih yang kami tulis sesuai 
kuhkulum yang telah disepakati untuktahun ketiga Tsanawiyah di ma'had- 
ma'had ilmiyyah, dan kami menamakannya: 

(al-Ushul min ■llmil Ushul) 

Aku memohon kepada Allah agar menjadikan ilmu kami ikhlas karena 
Allah dan bermanfaat bagi hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah Maha 
Dekat dan Maha Mengabulkan Doa. 



4I> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



USHUL FIQIH 



Ushul Fiqih didefinisikan dengan 2 tinjauan: 

Pertama : tinjauan dari 2 kosa katanya yaitu dari tinjauan kata (j^\) dan 
kata {in). 

Ushul (J^^*!!!) adalah bentuk jamak dari "al-Ashl" (^i) yaitu apa yang 
dibangun di atasnya yang selainnya, dan diantaranya adalah 'pokoknya 
tembok {/j^\ J>?) yaitu pondasinya, dan 'pokoknya pohon' (o>Ht j>f) yang 
bercabang darinya ranting-rantingnya. Allah berfirman: 

^J \^°Jj Cj\j l^ilpl O? iy^iJiS' iQp XJS' *)hj> iJS\ L)jl^ u>^ "J 111 

"Tidakkah kamu perhatikan basaimana Allah telah membuat 
perumpamaan kalimat yang balk seperti pohon yang balk, akarnya teguh dan 
cabangnya (menjulang) ke langit" [QS. Ibrohim : 24] 

Dan Fiqih (^iJi) secara bahasa adalah pemahaman (^0> diantara dalilnya 
adalah firman Allah : 



4I> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



"dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku. " (QS Thohaa : 27) 
Dan secara istilah: 

"Mengetahui hukum-hukum syar'i yang bersifat amaliyyah dengan dalil- 
dalilnya yans terpehnci." 

Maka yang dimaksud dengan perkataan kami : (si>i) " Mensetahui" adalah 
llmu dan persangkaan. Karena mengetahui hukum-hukum fiqih terkadang 
bersifat yakin dan terkadang bersifat persangkaan, sebagaimana banyak 
dalam masalah-masalah fiqih. 

Dan yang dimaksud dengan perkataan kami : (4^'^\ 'f'^% "Hukum-hukum 
syarT adalah hukum-hukum yang diambil dari syari'at, seperti wajib dan 
haram, maka keluar darinya (yakni Hukum-hukum syar'i) hukum-hukum akal; 
seperti mengetahui bahwa keseluruhan lebih besar daripada sebagian; dan 
hukum-hukum adat (kebiasaan); seperti mengetahui turunnya embun di 
malam yang dingin jika cuaca cerah. 

Yang dimaksud dengan perkataan kami : (hiiii) "Amaliah" adalah apa-apa 
yang tidak berhubungan dengan aqidah, seperti sholat dan zakat. Maka tidak 
termasuk darinya (Amaliah) apa-apa yang berhubungan dengan aqidah; 



4I> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



seperti mentauhidkan Allah, dan mengenal nama-nama dan sifat-Nya; maka 
yang demikian tidak dinamakan Fiqih secara istilah. 

Yang dimaksud dengan perkataan kami : (iX^\ i^Vu) "densan dalH- 
dalilnya yang terpehnci" adalah dalil-dalil fiqh yang berhubungan dengan 
masalah-masalah fiqh yang terperinci, maka tidak termasuk di dalamnya ilmu 
Ushul Fiqih karena pembahasan di dalamnya hanyalah mengenai dalil-dalil 
fiqih yang umum. 

Kedua : dari tinjauan keberadaannya sebagai julukan pada bidang tertentu, 
maka Ushul Fiqih didefinisikan dengan : 

"Ilmu yang membahas dalil-dalil fiqih yang umum dan cara mengambil 
faidah darinya dan kondisi orang yang mengambil faidah. " 

Yang dimaksud dengan perkataan kami (4i^^») "yang umum/mujmal", 
kaidah-kaidah umum; seperti perkataan : "perintah menunjukkan hukum 
wajib", "larangan menunjukkan hukum haram", "sah-nya suatu amal 
menunjukkan amal tersebut telah terlaksana (yakni, ia tidak dituntut untuk 
mengulangi, pent)". Maka tidak termasuk dari "yang umum": dalil-dalil yang 
terperinci. Dalil-dalil terperinci tersebut tidaklah disebutkan dalam ilmu 
Ushul Fiqih kecuali sebagai contoh (dalam penerapan) suatu kaidah. 

Yang dimaksud dari perkataan kami : (^^ ii'^-is tt^j-, "dan cara mengambil 
faidah darinya" yaitu mengetahui bagaimana mengambil faidah hukum dari 
dalil-dalilnya dengan mempelajari hukum-hukum lafadz dan penunjukkannya 

E 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



seperti umum, khusus, muthlaq, muqoyyad, nasikh, mansukh, dan Iain-lain. 
Maka dengan menguasainya (yakni cara mengambil faidah dari dalil-dalil 
umum) seseorang bisa mengambil faidah hukum dari dalil-dalil fiqih. 

Diinginkan dengan perkataan kami : (4«^i J^^j) "kondisi orang yang 
mengambil faidah", yaitu mengetahui kondisi/keadaan orang yang mengambil 
faidah, yaitu mujtahid. Dinamakan orang yang mengambil faidah {^C£~i) 
karena ia dengan dirinya sendiri dapat mengambil faidah hukum dari dalil- 
dalilnya karena ia telah mencapai derajat ijtihad. Maka mengenal mujtahid, 
syarat-syarat ijtihad, hukumnya dan yang semisalnya dibahas dalam ilmu 
Ushul Fiqih. 

FAIDAH USHUL FIQIH: 

Ilmu Ushul Fiqih adalah ilmu yang agung kedudukannya, sangat penting 
dan banyak sekali faidahnya. Faidahnya adalah kokoh dalam menghasilkan 
kemampuan yang seseorang mampu dengan kemampuan itu mengeluarkan 
hukum-hukum syar'i dari dalil-dalilnya dengan landasan yang selamat. 

Dan yang pertama kali mengumpulkannya menjadi suatu bidang tersendiri 
adalah al-lmam asy-Syafi'i Muhammad bin Idris rohimahuUoh, kemudian para 
'ulama sesudahnya mengikutinya dalam hal tersebut. Maka mereka menulis 
dalam ilmu Ushul Fiqih tulisan-tulisan yang bermacam-macam. Ada yang 
berupa tulisan, sya'ir, tulisan ringkas, tulisan yang panjang, sampai ilmu 
Ushul Fiqih ini menjadi bidang tersendiri keberadaannya dan kelebihannya. 



4I> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



fi — ^Hs 
HUKUM-HUKUM 

Al-Ahkam (f'^% adalah bentuk jamak dari hukum f^), secara bahasa 
maknanya adalah keputusan/ketetapan (^UaiJt). 

Dan secara istilah : 

*I^j jl cjl?xi j\ cL-ii? °jj» ^^;Iii^l JliflL jiisll py^^ Lj\^ oU;a^l U 

"/4pa-opa yang ditetapkan oleh seruan syah'at yang berhubungan dengan 
perbuatan mukallaf (orang yang dibebani syah'at) dari tuntutan atau pilihan 
atau peletakan." 

Dan yang dimaksud dari perkataan kami : (^^i L''^) "seruan syari'at" : Al- 
Qur'an dan as-Sunnah. 

Dan yang dimaksud dari perkataan kami : (^yiSlt jull jiiii) "yang 
berhubungan dengan perbuatan mukallaf: apa-apa yang berhubungan 
dengan perbuatan mereka baik itu perkataan atau perbuatan, melakukan 
sesuatu atau meninggalkan sesuatu. 

Maka keluar dari perkataan tersebut apa-apa yang berhubungan dengan 
aqidah, maka tidak dinamakan hukum secara istilah. 



4i> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Yang dimaksud dari perkataan kami : (i^i) "mukallaf : siapa saja yang 
keadaannya dibebani syari'at, maka mencakup anak kecil dan orang gila. 

Yang dimaksud dari perkataan kami : {^ » "dan tuntutan": perintah 
dan larangan, baik itu sebagai keharusan ataupun keutamaan. 

Yang dimaksud dari perkataan kami : (JJ^ jf) "atau pilihan": mubah (hal- 
hal yang dibolehkan) 

Yang dimaksud dari perkataan kami : (^j j?) "atau peletakan": Sah, rusak, 
dan yang lainnya yang diletakkan oleh pembuat syari'at dari tanda-tanda, 
atau sifat-sifat untuk ditunaikan atau dibatalkan. 

PEMBAGIAN HUKUM SYARI'AT: 

Hukum syari'at dibagi menjadi dua bagian : Taklifiyyah (Pembebanan) 
dan Wadh'iyyah (Peletakan). 

Al-Ahkam at-Taklifiyyah ada lima : Wajib, mandub (sunnah), harom, 
makruh, dan mubah. 

1 . Wajib (v^ijJi) secara bahasa : (^pisj hi^\) "yang jatuh dan harus". 
Dan secara istilah : 

"Apa-apa yang dipehntahkan oleh pembuat syari'at densan bentuk 
keharusan", seperti sholat lima waktu. 

B 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Maka keluar dari perkataan kami : (^jUJt -u yi U) "Apa-apa yang 
dipehntahkan oleh pembuat syah'at", yang haram, makruh dan mubah. 

Dan keluar dari perkataan kami : (fijJ^i ^rj J^) "densan bentuk 
keharusan", yang mandub. 

Dan suatu yang wajib itu pelakunya diganjar jika ia melakukannya 
untuk mendapatkan pahala (ikhlas), dan orang yang meninggalkannya 
berhak mendapatkan adzab. 



Dan dinamakan juga : (ifj-ij us-j l^jJj i»}). 
2. Mandub (^>iil\) secara bahasa : (>^-»lO "yang diseru". 



Dan secara istilah : 



^ljJ)II i^'^Js-^^ ^jllSl 4j >f U 



"Apa-apa yang dipehntahkan oleh pembuat syah'at tidak dalam bentuk 
keharusan", seperti sholat rowatib. 

Maka keluar dari perkataan kami : (^j^-^Ji *j yi '^) "Apa-apa yang 
dipehntahkan oleh pembuat syah'at", yang haram, makruh dan mubah. 

Dan keluar dari perkataan kami : (fijJVi ^rj J^ "i) "tidak dengan bentuk 
keharusan", yang wajib. 

B 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Dan suatu yang mandub itu pelakunya diganjar jika ia melakukannya 
untuk mendapatkan pahala (ikhlas), dan orang yang meninggalkannya tidak 
mendapatkan adzab. 



Dan dinamakan juga : (S^j L?«~.j Uji-^j ii-). 
3. Haram (i>>i) secara bahasa : (^>^0 "yang dilarang". 
Dan secara istilah : 

"Apa-apa yang dilarang oleh pembuat syah'at dalam bentuk keharusan 
untuk ditinssalkan", seperti durhaka kepada orang tua. 

Maka keluar dari perkataan kami : (^j^-^Ji us. J:'^) "Apa-apa yang dilarang 
oleh pembuat syari'at", yang wajib, sunnah dan mubah. 

Dan keluar dari perkataan kami : (iJ>Jb j.\jJVi ^^j J^) "dalam bentuk 
keharusan untuk ditinggalkan" , yang makruh. 

Dan suatu yang haram itu pelakunya diganjar jika ia meninggalkannya 
untuk mendapatkan pahala (ikhlas), dan orang yang melakukannya 
berhak mendapatkan adzab. 

Dan dinamakan juga : (wjif ji ijjii«) 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



4. Makruh (»j/lO secara bahasa : (jS^O "yari§ dimurkai". 

Dan secara istilah : 

"Apa-apa yang dilarang oleh pembuat syah'at tidak dalam bentuk 
keharusan untuk ditinsgalkan", seperti mengambil sesuatu dengan tangan 
kiri dan memberi dengan tangan kiri. 

Maka keluar dari perkataan kami : (^jUJi -u^ ^/ U) "Apa-apa yang dilarang 
oleh pembuat syah'at", yang wajib, sunnah dan mubah. 

Dan keluar dari perkataan kami : (iJ>Jb j.\jJVi *^j J^ % "tidak dalam bentuk 
keharusan untuk ditinggalkan", yang haram. 

Dan suatu yang makruh itu pelakunya diganjar jika ia meninggalkannya 
untuk mendapatkan pahala (ikhlas), dan orang yang melakukannya 
tidak mendapatkan adzab. 

5. Mubah (^\S\) secara bahasa : ("US Oji'aij jU\) "yang diumumkan dan diizinkan 
dengannya". 

Dan secara istilah : 

"Apa-apa yang tidak berhubungan dengan perintah dan larangan secara 
asalnya". Seperti makan pada malam hari di bulan Romadhon. 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Dan keluar dari perkataan kami : (yi -u ji«. •;! i.) "apa-apa yang tidak 
berhubungan dengan pehntah", wajib dan mandub. 

Dan keluar dari perkataan kami : (^/ -ij) "dan pula larangan", haram dan 
makruh. 

Dan keluar dari perkataan kami : ("OiiJ) "pada asalnya", apa-apa yang 
seandainya ada kaitannya dengan perintah karena keberadaannya (yakni 
suatu yang mubah) sebagai wasilah (yang menghantarkan) terhadap hal 
yang diperintahkan, atau ada kaitannya dengan larangan karena 
keberadaannya sebagai wasilah terhadap hal yang dilarang; maka bagi hal 
yang mubah tersebut hukumnya sesuai dengan apa-apa ia (yang mubah 
tersebut) menjadi wasilah baginya, dari hal yang diperintahkan atau yang 
dilarang. Dan yang demikian tidak mengeluarkannya (yakni hal yang mubah) 
dari keberadaannya sebagai sesuatu yang hukumnya mubah pada asalnya. 

Dan mubah yang senantiasa berada pada sifat mubah (boleh), maka ia 
tidak mengakibatkan ganjaran dan tidak pula adzab. 

Dan dinamakan juga : (\^\^j''i':h-). 
AL-AHKAM AL-WADH'IYYAH (i^jli ^\^H\) : 
Al-Ahkam al-wadh'iyyah adalah : 

"Apa-apa yang dUetakkan oleh pembuat syah'at dan tanda-tanda untuk 
menetapkan atau menolak, melaksanakan atau membatalkan. " 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Dan diantaranya adalah sah (s^^i) dan rusak(iL^i)/tidak sah-nya sesuatu. 
1. Sah (2-?<-aJi) secara bahasa : {je}.\ j^ f±J>\) yang selamat dari penyakit. 
Secara istilah : 

loip °^\ OlT SiUp i^ dA*3 jUT cJly l« 

"apa-apa yang pengaruh perbuatannya berakibat padanya, baik itu 
ibadah ataupun akad. " 

Maka sah dalam ibadah : apa-apa yang beban terlepas dengannya 
(yakni ibadah yang sah) dan tuntutan gugur dengannya. 

Dan sah dalam akad : apa-apa yang pengaruh adanya akad tersebut 
berakibat terhadap keberadaannya, seperti pada suatu akad jual beli 
berakibat kepemilikan. 

Dan tidaklah sesuatu itu menjadi sah kecuali dengan menyempurnakan 
syarat-syaratnya dan tidak ada penghalang-penghalangnya. 

Contohnya dalam ibadah : seseorang mendatangi sholat pada waktunya 
dengan menyempurnakan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya dan kewajiban- 
kewajibannya. 



■QD- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Contohnya dalam akad : seseorang melakukan akad jual beli dengan 
menyempurnakan syarat-syaratnya yang telah diketahui dan tidak adanya 
penghalang-penghalangnya. 



Jika 
pengi 



Jika hilang satu syarat dari syarat-syarat yang ada, atau adanya 
Jhalang dari penghalang-penghalangnya maka tidak dikatakan sah. 

Contoh hilangnya syarat dalam ibadah : seseorang sholat tanpa bersuci. 

Contoh hilangnya syarat dalam akad : seseorang menjual barang yang 
bukan miliknya. 

Contoh adanya penghalang dalam ibadah : seseorang sholat sunnah 
mutlak pada waktu larangan. 

Contoh adanya penghalang dalam akad : seseorang menjual sesuatu 
kepada orang yang wajib baginya sholat jum'at, sesudah adzan jum'at yang 
kedua dari sisi yang tidak dibolehkan. 

2. Rusak / Fasid (j-iUiJt) secara bahasa : yang pergi dengan hilang dan rugi. 
Dan secara istilah : 

Ijip °^\ OlST SiiUp ^Qp di*3 jUT iJjd *i \j> 

"apa-apa yans pengaruh perbuatannya tidak berakibat kepadanya, baik 
itu ibadah atu akad. " 

QE 



Ushul Fiqih (AiiJi Jj-^i) 



Fasid dalam ibadah : apa-apa yang beban tidak terlepas dengannya dan 
tuntutan tidak gugur dengannya; seperti sholat sebelum waktunya. 

Fasid dalam akad : apa-apa yang pengaruh akad tersebut tidak 
berakibat padanya (tidak memiliki dampak); seperti menjual sesuatu yang 
belum ditentukan. 

Dan semua yang fasid (rusak) dalam ibadah, akad dan syarat-syarat 
maka itu adalah haram. Karena yang demikian termasuk melampaui 
batasan-batasan Allah dan menjadikan ayat-ayat-Nya sebagai olok-olokan, 
dan karena Nabi shoUallohu alaihi wa sallam mengingkari orang yang 
mensyaratkan syarat-syarat yang tidak ada dalam kitabullah (al-Qur'an). 

Fasid dan batil memiliki makna yang sama kecuali dalam dua tempat: 

Yang pertama: dalam ihrom, para 'ulama membedakan keduanya, 
bahwa yang fasid adalah apabila seorang yang ihrom menyetubuhi istrinya 
sebelum tahallul awal; dan yang batil adalah apabila seseorang murtad dari 
Islam. 

Yang kedua : dalam nikah; para 'ulama membedakan keduanya, bahwa 
yang fasid adalah apa-apa yang diperselisihkan para 'ulama dalam 
kerusakannya, seperti nikah tanpa wali; dan batil adalah apa-apa yang 
disepakati kebatilannya seperti menikahi wanita yang masih dalam " iddah- 
nya. 



-QT]- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



ILMU 

Definisinya: 

llmu adalah : 

"Mengetahui sesuatu sesuai dengan apa adanya (yakni sesuai dengan yang 
sebenarnya) dengan pasti/yakin" 

Misalnya mengetahui bahwa keseluruhan itu lebih besar daripada 
sebagian, dan bahwa niat merupakan syarat dari ibadah. 

Maka keluar dari perkataan kami : {<-^\ iJij^j) "mengetahui sesuatu" adalah 
tidak mengetahui sesuatu secara menyeluruh, dan dinamakan "kebodohan 
yang ringan" (Ja-Ji J^0> misalnya seseorang ditanya: "kapankah terjadinya 
perang Badar?" Lalu dia menjawab "saya tidak tahu". 

Dan keluar dari perkataan kami: (^ j» \^ Jj.) "sesuai dengan yang 
sebenarnya" adalah mengetahui sesuatu dari segi yang menyelisihi keadaan 
yang sebenarnya dan dinamakan (v^jli J^O "kebodohan yang bertingkat", 
misalnya seseorang ditanya : "kapankah terjadinya perang badar?", Lalu dia 
menjawab : "pada tahun ketiga Hijriah". 



4II> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Dan keluar dari perkataan kami : (^^s^ irtjij) "densan pengetahuan yang 
pasti/yakin" adalah mendapatkan pengetahuan tentang sesuatu dengan 
pengetahuan yang tidak pasti/yakin dari segi ada kemungkinan padanya 
(bahwa yang benar) tidak sesuai dengan apa yang ia ketahui, maka tidak 
dinamakan sebagai ilmu. Kemudian jika kuat padanya dari salah satu 
kemungkinan tersebut, maka yang kuat disebut sebagai (jfe) dan yang lemah 
disebut sebagai (^j), dan jika kedua kemungkinan itu sama maka disebut 
sebagai (a^). 

Dengan hal ini jelaslah bahwa hubungan tentang pengetahuan terhadap 
sesuatu itu adalah seperti berikut : 

^.Umu (^) : yaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan yang sebenarnya 
dengan pasti/yakin. 

I.Jahil Basith {K«j j^) : yaitu tidak mengetahui sesuatu secara menyeluruh 
(yakni mengetahui sesuatu secara sebagian saja, pent). 

3.JahU Murokkab (^y Je) : yaitu mendapat pengetahuan tentang sesuatu 
dari segi yang menyelisihi apa yang sebenarnya. 

A.Dzonn (jfe) : yaitu mendapat pengetahuan tentang sesuatu dengan 
kemungkinan adanya (pendapat) lainnyayang marjuh/lemah. 



-Q6]- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



5.Wahm (^,) : yaitu mendapat pengetahuan tentang sesuatu dengan 
kemungkinan adanya (pendapat) lainnya yang rojih/kuat. 

b.Syakk (dii) : yaitu mendapat pengetahuan tentang sesuatu dengan 
kemungkinan adanya (pendapat) lainnya yang sama kuat. 

PEMBAGIAN ILMU : 

llmu terbagi menjadi dua macam : {^jj^') "Dhoruri" dan {i^p) "Nadzorf. 

I.llmu Dhoruri adalah apa-apa yang pengetahuan tentangnya sudah diketahui 
secara pasti, yaitu sudah pasti padanya tanpa butuh pemeriksaan dan 
pendalilan, seperti ilmu tentang bahwa keseluruhan itu lebih besar 
daripada sebagian, bahwa api itu panas, dan bahwa Nabi Muhammad 
ShallaUahu 'alaihi wa sallam adalah utusan Allah subhanahu wa ta'ala. 

2. llmu Nadhoh adalah apa-apa yang (untuk mengetahuinya) membutuhkan 
pemeriksaan dan pendalilan, seperti pengetahuan tentang wajibnya niat 
dalam sholat. 



■QD- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



KALAM 



Kalam secara bahasa : 

'^^i^ i°^°j^\ JaiiJI 
"Lafadh yang diletakkan untuk suatu makna. " 
Dan secara istilah : 

"Lafadh yang berfaidah (memUiki makna)", 

Misalnya : (l_l-j j_^j luj in) "Allah adalah Robb kita dan Muhammad adalah 
Nabi kita". 

Dan suatu kalam minimal tersusun dari dua kata benda; atau satu kata 
kerja dan satu kata benda. 

Contoh yang pertama : (in J.^-j j— ^) "Muhammad adalah Rosullullah" dan 
contoh yang kedua adalah (x^^\i:L^\) "Muhammad berdiri". 



-Qi> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Dan satu bagian dari kalam disebut kata yaitu : Lafadh yang diletakkan 
untuk suatu makna tunggal, yaitu kadang-kadang berupa kata benda {isim), 
kata kerja [fi'H], atau huruf {harf). 

Isim (kata benda) : 

"apa-apa yans menunjukkan makna pada dihnya sendih dengan tidak 
menunjukkan waktu tertentu. " 

Dan isim ada tiga macam : 

Pertama : Apa-apa yang menunjukkan keumuman misalnya kata sambung. 

Kedua : Apa-apa yang menunjukkan kemutlakan misalnya nakiroh dalam 
konteks penetapan. 

Ketiga : Apa-apa yang menunjukkan kekhususan misalnya nama orang. 

Fi'il (kata kerja): 

"Apa-apa yang menunjukkan makna pada dihnya sendih, dan keadaannya 
menunjukkan salah satu dah tiga waktu. " 



■QE]- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Yaitu fi'U madhi seperti (f—^), fi'il mudhori' seperti (^— jii) atau fill amr 
seperti (;;^0- 

Dan fi'U dengan pembagiannya tersebut memberikan faidah mutlaq, 
bukan umum. 

Harf adalah : 

"Apa-apa yang menunjukkan makna pada yang selainnya" 
Diantaranya : 

1 . Wawu (jij— ii) : datang sebagai 'athof (penyambung), maka memberikan 
faidah penggabungan dua hal yang saling bersambung di dalam sebuah 
hukum, tidak menunjukkan urutan dan tidak menafikannya kecuali 
dengan dalil. 

2. Fa' (M\) : datang sebagai 'athof (penyambung), maka memberikan faidah 
penggabungan dua hal yang saling bersambung di dalam hukum dengan 
berurutan dan beriringan dan datang dengan sebab, dan memberi faidah 
ta'lil (alasan). 

3. (s^lJ^i j.">LJ() : memiliki beberapa makna diantaranya : sebab, kepemilikan 
dan kebolehan. 



-Qo]- 



Ushul Fiqih (AiiJi Jj-^i) 



4. (i'j^\ J^) : memiliki beberapa makna diantaranya : wajib. 
JENIS-JENIS KALAM : 

Kalam terbagi dari segi kemungkinan disifati benar dan tidaknya dengan dua 
macam : 

1)4/-/C/7obar(Berita): 

"Kalam yang munskin disifati dengan benar atau dusta pada asalnya." 

Maka keluar dari perkataan kami : (^iS3ij jj-aJu o^jj. oi ^. u) "Apa-apa yang 
mungkin disifati dengan benar atau dusta"; (^uj^i) "al-insya (yang mengandung 
perintah atau larangan, pent)" karena tidak memiliki kemungkinan seperti 
itu, sebab penunjukannya bukanlah suatu pengkabaran yang mungkin untuk 
dikatakan : ia benar atau dusta. 

Dan keluar dari perkataan kami : ("OtiJ) "pada asalnya"; khobar yang tidak 
mengandung kebenaran, atau tidak mengandung kedustaan dari sisi yang 
dikabarkan. Yang demikian karena khobar dari sisi yang dikabarkan terbagi 
menjadi 3 : 



-[ir> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Pertama, yang tidak mungkin disifati dengan dusta, seperti khobar dari 
Allah dan Rasul-Nya yang telah shohih darinya. 

Kedua, yang tidak mungkin disifati dengan kebenaran, seperti khobar 
tentang sesuatu yang mustahil secara syar'i atau secara akal. Yang pertama 
(mustahil secara syar'i, pent), seperti seorang yang mengaku sebagai Rasul 
setelah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam; dan yang kedua (mustahil secara 
akal, pent), seperti khobar berkumpulnya 2 hal yang saling bertentangan 
(yang tidak mungkin ada bersamaan atau hilang bersamaan, pent) seperti 
bergerak dan diam pada sesuatu yang satu pada waktu yang sama. 

Ketiga, yang mungkin disifati dengan benar dan dusta baik dengan 
kemungkinan yang sama (tidak bisa dibenarkan dan didustakan karena sulit 
ditarjih, pent) atau dengan merojihkan salah satunya, seperti kabar dari 
seseorang tentang sesuatu yang ghoib dan yang semisalnya. 



2)Al-lnsya' (^uj^ii): 

oi53lj (i^Uflib iXfijJ, d\ l^^, "i \j> 

"Kalam yang tidak munskin disifati dengan benar atau dusta", 
diantaranya adalah perintah dan larangan. Seperti firman Allah : 

"Sembahlah Allah dan janganlah kalian menyekutukannya dengan sesuatu 
apapun." (an-Nisa : 36) 



■QD- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Dan terkadang kalam adalah berupa khobar insya' ditinjau dari 2 sisi; 
seperti bentuk akad yang dilafadzkan, misal : "aku jual atau aku terima", 
karena kalimat ini merupakan khobar ditinjau dari penunjukannya terhadap 
apa yang ada (kehendak, pent) pada orang yang meng-akad, dan merupakan 
insya' ditinjau dari sisi konsekuensi akad. 

Terkadang kalam datang dalam bentuk khobar tapi yang dimaksud 
dengannya adalah Insya' dan sebaliknya untuk suatu faidah. 

Contoh yang pertama : Firman Allah subhanahu wa ta'ala : 

"Dan perempuan-perempuan yang diceraikan hendaklah menunggu tiga 
kali quru'" (al-Baqoroh : 228) 

Maka firman Allah "o^>:" adalah berbentuk khobar tetapi yang dimaksud 
dengannya adalah perintah, dan faidah dari hal tersebut adalah penegasan 
terhadap perbuatan yang diperintahkan tersebut, sampai seolah-olah 
perintah tersebut seperti perintah yang telah terjadi, berbicara dengannya 
seperti salah satu sifat dari sifat-sifat perintah. 

Contoh yang sebaliknya : Firman Allah subhanahu wa ta'ala : 

isTu'da^ J-«^j ^^^ 'i*l' ^j^^ "iji.-^ ^jy^ "ly.-^^ J\^j 

"Dan berkata orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman, " Ikutilah 
jalan (agama) kami dan kami akan memikul kesalahan-kesalahan kamu." [QS 
al-Ankabut : 12] 



-QO- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Maka firman Allah "j-j^V adalah dalam bentuk perintah tetapi yang dimaksud 
dengannya adalah khobar, yaitu : dan kami akan memikul, dan faidah dari hal 
tersebut adalah menempatkan sesuatu yang dikhobarkan tersebut pada 
tempat yang diwajibkan dan diharuskan dengannya. 

HAKIKAT DAN MAJAZ 

Kalam dari sisi penggunaannya terbagi menjadi hakikat dan majaz. 

1 . Hakikat (uJ>i~\) adalah 

"Lafadz yans disunakan pada asal peletakannya. " 

Seperti : Singa (j-i) untuk suatu hewan yang buas. 

Maka keluar dari perkataan kami : (J.«s--l\) "yang digunakan" : yang tidak 
digunakan, maka tidak dinamakan hakikat dan majaz. 

Dan keluar dari perkataan kami : {'-^ ^j uJ) " pada asal peletakannya" : 
Majaz. 

Dan hakikat terbagi menjadi tiga macam : Lushowiyyah, Syar'iyyah dan 
'Urfiyyah. 



-QT]- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Hakikat lughowiyyah adalah : 

"Lafadz yang disunakan pada asal peletakannya secara bahasa. " 

Maka keluar dari perkataan kami : (uui j) "secara bahasa" : hakikat syar'iyyah 
dan hakikat 'urfiyyah. 

Contohnya : sholat, maka sesungguhnya hakikatnya secara bahasa adalah doa, 
maka dibawa pada makna tersebut menurut perkataan ahli bahasa. 

Hakikat syar'iyyah adalah : 

"Lafadz yang digunakan pada asal peletakannya secara syar'i. " 

Maka keluar dari perkataan kami : (^j — jJiJ) "secara syar'i" : hakikat 
lughowiyyah dan hakikat 'urfiyyah. 

Contohnya : sholat, maka sesungguhnya hakikatnya secara syar'i adalah 
perkataan dan perbuatan yang sudah diketahui yang dimulai dengan takbir 
dan diakhiri dengan salam, maka dibawa pada makna tersebut menurut 
perkataan ahli syar'i. 



-QO- 



Ushul Fiqih (AiiJi Jj-^i) 



Hakikat 'urfiyyah adalah : 

"Lafadz yang disunakan pada asal peletakannya secara 'urf (adat/kebiasaan). " 

Maka keluar dari perkataan kami : {^yis J) "secara 'urf : hakikat lushowiyyah 
dan hakikat syar'iyyah. 

Contohnya : Ad-Dabbah (<— !i-iJO> maka sesungguhnya hakikatnya secara 'urf 
adalah hewan yang mempunyai empat kaki, maka dibawa pada makna 
tersebut menurut perkataan ahli 'urf. 

Dan manfaat dari mengetahui pembagian hakikat menjadi tiga macam adalah 
: Agar kita membawa setiap lafadz pada makna hakikat dalam tempat yang 
semestinya sesuai dengan penggunaannya. Maka dalam penggunaan ahli 
bahasa lafadz dibawa kepada hakikat lushowiyyah dan dalam penggunaan 
syar'i dibawa kepada hakikat syar'iyyah dan dalam penggunaan ahli 'urf 
dibawa kepada hakikat 'urfiyyah. 

2. Majaz (j\^s) adalah 

"Lafadz yang digunakan bukan pada asal peletakannya. " 
Seperti : singa untuk laki-laki yang pemberani. 

on 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Maka keluar dari perkataan kami : (J--«:U() "yang digunakan" : yang tidak 
digunakan, maka tidak dinamakan hakikat dan majaz. 

Dan keluar dari perkataan kami : (4— i j— <5j i— • jr-i- J) "bukan pada asal 
peletakannya" : Hakikat. 

Dan tidak boleh membawa lafadz pada makna majaznya kecuali dengan 
dalil yang shohih yang menghalangi lafadz tersebut dari maksud yang hakiki, 
dan ini yang dinamakan dalam ilmu bayan sebagai qorinah (penguat). 

Dan disyaratkan benarnya penggunaan lafadz pada majaznya : Adanya 
kesatuan antara makna secara hakiki dengan makna secara majazi agar 
benarnya pengungkapannya, dan ini yang dinamakan dalam ilmu bayan 
sebagai 'Alaqoh (hubungan/ penyesuaian), dan 'Alaqoh bisa berupa 
penyerupaan atau yang selainnya. 

Maka jika majaz tersebut dengan penyerupaan, dinamakan majaz 
Isti'arah (<>j\^^), seperti majaz pada lafadz singa untuk seorang laki-laki yang 
pemberani. 

Dan jika bukan dengan penyerupaan, dinamakan majaz Mursal (j_-y ji#) 
jika majaznya dalam kata, dan dinamakan majaz 'Aqli {J^ j'^) jika majaznya 
dalam penyandarannya. 

Contohnya dari majaz mursal : kamu mengatakan : (j— Ui >— i-*j) "Kami 
memelihara hujan", maka kata (j— 1=11) "hujan" merupakan majaz dari rumput 
(k_.^\). Maka majaz ini adalah pada kata. 



■QD- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Dan contohnya dari majaz 'Aqli : Kamu mengatakan : (s — j-Ji j— kit c— ji) 
"Hujan itu menumbuhkan rumput", maka kata-kata tersebut seluruhnya 
menunjukkan hakikat maknanya, tetapi penyandaran menumbuhkan pada 
hujan adalah majaz, karena yang menumbuhkan secara hakikat adalah Allah 
ta'ala, maka majaz ini adalah dalam penyandarannya. 

Dan diantara majaz mursal adalah : Majaz dalam hal penambahan dan 
majaz dalam hal penghapusan. 

Mereka memberi permisalan majaz dalam hal penambahan dengan 
firman Allah ta'ala : 

"Tidak ada sesuatupun yans serupa densan-Nya" (QS. Asy-Syuro : 1 1 ) 

Maka mereka mengatakan : Sesungguhnya (Jl^i) "huruf kaaf adalah 
tambahan untuk penguatan peniadaan permisalan dari Allah ta'ala. 

Contoh dari majaz dengan penghapusan adalah firman Allah ta'ala : 

"Bertanyalah kepada desa" (QS. Yusuf : 82) 

Maksudnya : (^yJi J— »i J' — -ij) "bertanyalah pada penduduk desa", maka 
penghapusan kata (J-j>i) "penduduk' adalah suatu majaz, dan bagi majaz ada 
macam yang sangat banyak yang disebutkan dalam ilmu bayan. 



■QE]- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Dan hanya saja disebutkan sedikit tentang hakikat dan majaz dalam 
ushul fiqh karena penunjukan lafadz bisa jadi berupa hakikat dan bisa jadi 
berupa majaz, maka dibutuhkan untuk mengetahui keduanya dan hukumnya. 
Wallahu A'lam. 



Pembagian kalam menjadi hakikat dan majaz adalah masyhur di 
kalangan sebagian besar muta'akhkhirin dalam Al-Qur'an dan yang selainnya. 
Dan berkata sebagian ahli ilmu : "Tidak ada majaz dalam Al-Qur'an" dan 
berkata sebagian yang lain : "Tidak ada majaz dalam Al-Qur'an dan yang 
selainnya", dan ini merupakan pendapat Abu Ishaq Al-lsfaroyin dan dari 
kalangan muta'akhkhirin Muhammad Al-Amin Asy-Syanqithi. Dan Syaikhul 
Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qoyyim telah menjelaskan 
bahwasanya istilah tersebut muncul setelah berlalunya tiga masa yang utama, 
dan beliau menguatkan pendapat ini dengan dalil-dalil yang kuat dan banyak, 
yang menjelaskan kepada orang yang menelitinya bahwa pendapat ini adalah 
pendapat yang benar. 



■QE]- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



PERINTAH 



Perintah {yH\) adalah : 

"Perkataan yang mengandung permintaan untuk dilakukannya suatu 
perbuatan, dalam bentuk al-isti'la (dari yang lebih tinggi ke yang lebih 
rendah, seperti Allah memerintahkan hamba-Nya. pent). 

Keluar dari perkataan kami : (Jj— 5) "perkataan" ; Isyarat, maka isyarat 
tidak dinamakan perintah, walaupun maknanya memberi faidah perintah. 

Keluar dari perkataan kami : (J-^<iJi s — ^) "permintaan untuk dilakukannya 
suatu perbuatan" ; larangan, karena larangan merupakan permintaan untuk 
meninggalkan sesuatu, dan yang dimaksud dengan perbuatan adalah 
mewujudkan sesuatu, maka (perbuatan tersebut, pent) mencakup 
perkataan/ucapan yang diperintahkan. 

Keluar dari perkataan kami : (^•>u— -ilt -u^j ^^) "dalam bentuk isti'la" ; al- 
Utimas (setara/sejajar/selevel, pent) dan do'a (dari yang lebih rendah 
kepada yang lebih tinggi, pent) dan yang selainnya yang diambil dari bentuk 
perintah dengan adanya qorinah (yakni konteks kalimatnya bukan sebagai 
perintah, pent). 



-Qo]- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



BENTUK-BENTUK PERINTAH : 



Bentuk-bentuk perintah ada empat : 



1 . Fi'il amr (y^\ }>i), 
Contohnya : 



o\^°l "jfl ItX^l l^J U Jil 



"Bacalah apa-apa yang diwahyukan kepadamu dari Al-Kitab" [QS. Al- 
Ankabut :45] 

2. Isim fi'il amr (y^s j*i ^s), 
Contohnya : 

"Marilah kita sholat" 

3. Masdar pengganti dari fi'il amr (ySli Jos jt- i-j^i yuii\), 
Contohnya : 

o\i^l Li°j^ \jyk' ^.iJI ^iiJ liV9 

"Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka 
pancunglah batang leher mereka." [QS. Muhammad : 4] 



-Qr> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



4. Fi'il Mudhori' yang bersambung dengan lam amr (yH\ ^'^. Ojyli ^jUli), 
Contohnya : 

"Supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya" QS. Al-Mujadalah:4] 

Dan terkadang yang selain bentuk perintah memberi faidah permintaan 
untuk dilakukannya suatu perbuatan seperti suatu perbuatan yang disifati 
dengan hukum fardhu atau wajib atau mandub (disukai) atau merupakan 
ketaatan atau pelakunya dipuji atau yang meninggalkannya dicela atau 
mengerjakannya mendapat ganjaran atau meninggalkannya mendapat adzab. 

Yang ditunjukkan dari bentuk perintah {y^\ Sir^): 

Bentuk perintah secara mutlak/ umum memberi konsekuensi: wajibnya 
sesuatu yang diperintahkan dan bersegera (sji^O dalam melakukannya secara 
langsung. 

Diantara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa bentuk perintah memberi 
konsekuensi wajib adalah firman Allah ta'ala : 

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul, takut akan 
ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih" [QS. an-Nur : 63] 



■QD- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Segi pendalilannya bahwasanya Allah memperingatkan kepada orang- 
orang yang menyelisihi perintah Rosul shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa 
mereka akan tertimpa fitnah yaitu kesesatan atau mereka akan ditimpa 
dengan adzab yang pedih, yang demikian itu tidaklah terjadi melainkan 
dengan meninggalkan kewajiban, maka ini menunjukkan bahwa perintah 
Rosullullah shallallahu 'alaihi wa sallam secara mutlak/ umum menunjukkan 
wajibnya perbuatan yang diperintahkan. 

Dan diantara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa bentuk perintah 
menunjukkan untuk segera dilakukan secara langsung adalah firman Allah 
ta'ala : 

"Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan" [QS. Al-Baqoroh : 
148] 

Dan semua yang diperintahkan secara syar'i merupakan kebaikan, dan 
perintah untuk berlomba-lomba dalam mengerjakannya merupakan dalil 
wajibnya bersegera. 

Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membenci ketika para sahabat 
menunda-nunda apa yang diperintahkan kepada mereka dari menyembelih 
dan mencukur rambut pada hari perjanjian Hudaibiyyah, sampai Rosullullah 
shallallahu 'alaihi wa sallam masuk mendatangi Ummu Salamah radhiyallahu 
'anha maka beliau menceritakan kepadanya apa yang beliau dapatkan dari 
sikap para sahabat (yang menunda-nunda perintahnya, pent). [HR. Ahmad 
dan Al-Bukhori]. 



4E^ 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Dan karena bersegera dalam melakukan suatu perbuatan (yang 
diperintahkan, pent) adalah lebih hati-hati dan lebih membebaskan dari 
tanggungan, dan menunda-nunda melakukan perbuatan yang diperintahkan 
merupakan cacat, dan memberi konsekuensi bertumpuknya kewajiban- 
kewajiban sehingga seseorang menjadi tidak sanggup mengerjakannya. 

Dan terkadang perintah keluar dari hukum wajib dan bersegera dengan 
adanya dalil yang menunjukkan demikian maka perintah keluar dari hukum 
wajib kepada beberapa makna (hukum), diantaranya : 

1 . Mandub (disukai), seperti firman Allah ta'ala : 

"Dan datangkanlah saksi jika kalian berjual beli" [QS. Al-Baqoroh : 282] 

Perintah untuk mendatangkan saksi atas jual beli hukumnya adalah mandub 
dengan dalil bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membeli kuda dari 
seorang A'robi (Arab Badui) dan beliau tidak mendatangkan saksi. [HR. 
Ahmad, An-Nasa'i, Abu Dawud, dan pada hadits tersebut terdapat suatu 
cerita]. 

2. Mubah (Boleh), dan kebanyakan yang terjadi adalah jika perintah tersebut 
datang setelah adanya larangan atau sebagai jawaban terhadap sesuatu yang 
disangka terlarang. 

Contoh setelah adanya larangan : firman Allah ta'ala : 

Qi] 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



"Jika engkau telah bertahallul maka berburulah" [QS. Al-Maidah : 2] 

Perintah untuk berburu tersebut hukumnya mubah karena ia muncul 
setelah adanya larangan yang ditunjukkan dari firman Allah : 



f> ^'Ij ^1 J^ > 



"(Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang 
dalam keadaan ber-ihrom." [QS. Al-Maidah : 1] 

Dan contoh sebagai jawaban terhadap sesuatu yang disangka terlarang 
adalah sabda Nabi shallaUahu 'alaihi wa saUam : 

"Lakukanlah, tidak mengapa!" [Muttafaqun alaih] 

Sebagai jawaban atas orang yang bertanya kepada beliau pada haji wada' 
tentang mendahulukan amalan-amalan haji yang satu terhadap yang lainnya 
yang dikerjakan pada hari led. 

3. Ancaman seperti pada firman Allah ta'ala : 

"Berbuatlah semau kalian, sesungguhnya Allah Maha Melihat terhadap 
apa-apa yang kalian kerjakan." [QS. Fushshilat : 40] 

QE 



Ushul Fiqih (AiiJi Jj-^i) 



"Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan 
barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir." Sesungguhnya Kami telah 
sediakan bagi orang orang zalim itu neraka" [QS. Al-Kahfi: 29] 

Penyebutan ancaman setelah adanya perintah yang disebutkan tadi 
merupakan dalil bahwa perintah tersebut adalah sebagai ancaman. 

Dan terkadang perintah keluar dari hukum bersegera kepada hukum boleh 
ditunda (i/'IjJO- 

Contohnya : Qodho' puasa romadhon, maka seseorang diperintahkan 
untuk menunaikannya, akan tetapi ada dalil yang menunjukkan bahwa qodho' 
tersebut boleh ditunda. Dari Aisyah radhiyallahu 'anha ia berkata : 

"Aku pernah mempunyai hutang puasa romadhon, aku tidak mampu untuk 
mengqodho'nya kecuali di bulan Sya'ban, yang demikian adalah karena 
kedudukan Rosullullah shallaUahu 'alaihi wa sallam." [HR. Al-Jama'ah] 

Dan seandainya mengakhirkannya adalah haram maka Aisyah tidak akan 
diizinkan untuk mengakhirkan qodho' tersebut. 



-Q6]- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



APA YANG TIDAK SEMPURNA SESUATU YANG DIPERINTAHKAN KECUALI 
DENGANNYA (4. % j^ai ^. -i u): 

Jika suatu perbuatan yang diperintahkan tidak bisa dikerjakan kecuali 
dengan sesuatu maka sesuatu tersebut adalah diperintahkan, jika yang 
diperintahkan adalah wajib maka sesuatu itu hukumnya juga wajib, dan jika 
yang diperintahkan adalah mandub maka sesuatu itu hukumnya mandub. 

Contoh yang wajib : menutup aurat, jika tidak bisa dikerjakan kecuali 
dengan membeli pakaian, maka membeli pakaian tersebut hukumnya menjadi 
wajib. 

Contoh yang mandub : memakai wewangian untuk sholat jum'at, jika 
tidak bisa dikerjakan kecuali dengan membeli wewangian, maka membeli 
wewangian tersebut hukumnya menjadi mandub. 

Dan kaidah ini terkandung pada kaidah yang lebih umum darinya yaitu : 

"hukum wasUah adalah sebasaimana hukum yang dituju. " 

Maka wasilah-wasilah untuk suatu yang diperintahkan hukumnya adalah 
diperintahkan juga, dan wasilah-wasilah yang suatu yang dilarang hukumnya 
adalah dilarang. 



■QD- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



LARANGAN 



Larangan d^O adalah : 

"Perkataan yang mengandung permintaan untuk menahan diri dari suatu 
perbuatan dalam bentuk isti'la' (dari atas ke bawah) dengan bentuk khusus 
yaitu fi'il mudhori' yang didahului dengan 7a nahiyah (S-aiUi "j) (Yakni [•;!] yang 
bermakna larangan, pent)." 



Seperti firman Allah : 



Oj^u* "i ^.iii fri}*! y? 'ij 



"Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang 
mendustakan ayat-ayat kami dan orang-orang yang tidak beriman kepada 
akhirat." [QS. Al-An'am:105] 



-Qi> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Keluar dari perkataan kami : (Jji) "perkataan" : isyarat (sjUi^ii), maka 

isyarat tidak dinamakan sebagai larangan walaupun maknanya memiliki 
faidah sebagai larangan. 



Keluar dari perkataan kami : ((_aS3i t-iJs) "permintaan untuk menahan diri 
dari suatu perbuatan": perintah {yH\), karena perintah adalah permintaan 
untuk melakukan suatu perbuatan." 

Keluar dari perkataan kami : («.*>Us--'^i ^i-j Js.) "dalam bentuk isti'la" : 
sejajar (^uJ*ii) dan doa (s-U-aJi), dan yang selainnya yang memberi faidah 
larangan dengan adanya qorinah. 

Keluar dari perkataan kami : (a-AUJi % djjA\ ^jLiii ^ i^j-^ a«_^.) "dengan 

bentuk khusus yaitu fi'il mudhori' yang didahului dengan la nahiyah" : apa-apa 
yang menunjukkan atas permintaan menahan diri dari sesuatu dengan bentuk 
perintah {yH\ 4«_^), seperti : (^i) "tinggalkan", (^yi) "tinggalkan", (ciS") 

"cukup", dan yang selainnya, maka walaupun ini mengandung permintaan 
untuk menahan diri dari sesuatu, tapi fi'il-fi'il tersebut dalam bentuk perintah 
{y>H\ a«_^), maka fi'il-fi'il tersebut adalah bermakna perintah, bukan larangan. 

Dan terkadang yang selain bentuk larangan {^\ 'i*~p) memberi faidah 
permintaan untuk menahan diri dari suatu perbuatan seperti suatu perbuatan 



■QE]- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



yang disifati dengan keharoman, larangan atau keburukan, atau atau 
pelakunya dicela, atau mengerjakannya mendapat adzab. 

APA-APA YANG MENJADI KOSEKUENSI BENTUK LARANGAN (^\ a*-^): 

Bentuk larangan secara mutlak menunjukkan keharoman dan rusaknya 
sesuatu yang dilarang tersebut. 

Diantara dalil-dalil bahwa larangan itu menunjukkan keharoman adalah 
firman Allah ta'ala : 

"Apa-apa (perintah) yang datang kepada kalian dari Rosul maka ambillah 
(kerjakanlah) dan apa-apa yang dilarang oleh Rosul maka berhentilah 
(tinggalkanlah)" [QS. Al-Hasyr : 7] 

Maka perintah untuk berhenti (meninggalkan dari apa yang dilarang) 
menunjukkan wajibnya berhenti, dan konsekuensinya adalah haramnya 
mengerjakan perbuatan tersebut. 

Diantara dalil-dalil bahwa larangan itu menunjukkan rusaknya suatu 
perbuatan adalah sabda Nabi ShoUallahu 'alaihi wa saUam adalah : 

S3 }45 U>f 4ip ^ %i^ J^ °^ 

"Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak ada padanya 
perintah kami maka perbuatan tersebut tertolak." 



4W^ 



Ushul Fiqih (AiiJi Jj-^i) 



Yakni ditolak (■sj^y), dan apa-apa yang Nabi shoUallahu alaihi wa sallam 

melarang dari mengerjakannya, maka tidak ada padanya perintah Nabi 
shoUallahu alaihi wa sallam, sehingga perbuatan tersebut merupakan 
perbuatan yang ditolak. 

Demikian dan dalam kaidah al-madzhab (maksudnya adalah madzhab 
hambali, pent) dalam perbuatan yang dilarang; apakah perbuatan tersebut 
menjadi batal atau tetap sah dengan adanya pengharaman (terhadap 
perbuatan tersebut)? adalah sebagai berikut : 

1 . Bahwa larangan tersebut kembali pada dzat yang dilarang atasnya atau 
syaratnya maka sesuatu itu menjadi batal. 

2. Bahwa larangan tersebut kembali pada perkara luar yang tidak 
berhubungan dengan dzat yang dilarang atasnya dan tidak pula 
berhubungan dengan syaratnya maka sesuatu itu tidak menjadi batal. 

Misal larangan yang kembali pada dzat yang dilarang dalam masalah 
ibadah adalah : Larangan untuk berpuasa pada dua hari led. 

Misal larangan yang kembali pada dzat yang dilarang dalam masalah 
mu'amalah adalah : Larangan untuk berjual beli setelah adzan sholat jum'at 
yang kedua bagi orang-orang yang wajib sholat jum'at. 

Misal larangan yang kembali pada syaratnya dalam masalah ibadah 
adalah: Larangan bagi laki-laki untuk memakai pakaian dari sutera, menutup 
aurat adalah syarat sahnya sholat, jika dia menutupnya dengan pakaian yang 
dilarang atasnya, maka sholatnya tidak sah karena larangan tersebut kembali 
pada syaratnya. 



-[«> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Misal larangan yang kembali pada syaratnya dalam masalah mu'amalah 
adalah: Larangan untuk berjual beli dengan suatu binatang yang masih berada 
dalam perut induknya, maka pengetahuan tentang sesuatu yang akan 
diperjual belikan adalah syarat sahnya jual beli, jika seseorang berjual beli 
dengan suatu binatang yang masih berada dalam perut induknya, maka jual 
beli tersebut tidak sah karena larangan tersebut kembali pada syaratnya. 

Misal larangan yang kembali pada perkara luar dalam masalah ibadah 
adalah : larangan bagi laki-laki untuk memakai imamah dari sutera, jika dia 
sholat dan memakai imamah dari sutera maka sholatnya tidak batal, karena 
larangan tidak kembali kepada dzatnya sholat dan syaratnya. 

Misal larangan yang kembali pada perkara luar dalam masalah mu'amalah 
adalah : larangan untuk menipu, maka jika seseorang melakukan jual beli 
sesuatu dengan menipu, jual beli tersebut tidak batal karena larangan tidak 
kembali pada dzatnya jual beli dan syaratnya. 

Dan terkadang suatu larangan keluar dari hukum haram kepada hukum 
lain dengan dalil yang menunjukkan hal itu, diantaranya : 

1. Makruh, mereka (ulama ushul fiqh, pent) memberi permisalan hal itu 
dengan sabda Nabi shoUallahu alahi wa saUam : 



S^^ jAj <ul<4i «j^^ ^^' "cr^- ^ 



"Janganlah salah seorang diantara kalian menyentuh kemaluannya 
dengan tangan kanan ketika sedang kencing." 



HID- 



Ushul Fiqih (AiiJi Jj-^i) 



Maka jumhur ulama mengatakan : "Sesungguhnya larangan disini 
adalah menunjukkan kemakruhan, karena kemaluan adalah salah satu 
bagian tubuh manusia, dan hikmah dari larangan tersebut adalah 
mensucikan tangan kanan." 

2. Sebagai arahan, misalnya sabda Nabi shoUallahu alaihi wa sallam kepada 
Mu'adz :" Janganlah kamu meninggalkan untuk membaca disetiap akhir 
sholat : 



aii-'iUp ^j 2Jj^3 ^^i Jj^ Jfi'i"^\ 



"Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur 
kepada-Mu dan untuk memperbaiki ibadahku kepada-Mu." 

ORANG YANG MASUK DALAM PEMBICARAAN PERINTAH DAN LARANGAN : 

Orang yang masuk dalam pembicaraan perintah dan larangan adalah 
Mukallaf, yaitu orang yang telah baligh dan berakal. 

Maka keluar dari perkataan kami : "orang yang telah baligh": anak kecil, 
maka dia tidak dibebani perintah dan larangan dengan pembebanan yang 
sama sebagaimana beban orang yang telah baligh, tetapi dia diperintahkan 
untuk melakukan ibadah setelah mencapai tamyiz, sebagai latihan baginya 
dalam ketaatan dan melarang dari kemaksiatan, agar terbiasa menahan diri 
darinya. 

Dan keluar dari perkataan kami : "orang yang berakal" : orang gila, maka 
dia tidak dibebani perintah dan larangan, tetapi dia dicegah dari apa-apa 
yang melampaui batas terhadap orang lain atau dari melakukan kerusakan. 



HID- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



dan seandainya dia melakukan sesuatu yang diperintahkan atasnya, maka 
perbuatan tersebut tidak sah, karena tidak ada maksud untuk melaksanakan 
perintah Allah didalamnya. 

Dan tidak termasuk atas hal ini diwajibkannya zakat dan hak-hak harta 
bagi harta anak kecil dan orang gila, karena kewajiban atas hal ini terikat 
dengan sebab yang tertentu, kapan didapatkan sebab itu (misalnya : haul dan 
nishob sebagai sebab wajibnya zakat mal, pent) maka ditetapkan hukumnya, 
maka sesungguhnya masalah ini dilihat pada sebabnya bukan pada pelakunya! 

Dan taklif (pembebanan) dengan perintah dan larangan mencakup untuk 
orang Islam dan orang kafir, tetapi orang kafir tidak sah jika ia melakukan 
perbuatan yang diperintahkan disebabkan kekafirannya, berdasarkan firman 
Allah ta'ala : 

"Dan tidak ada yang menshalansi mereka untuk ditehma dan mereka 
nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan 
RasulNya" [QS. At-Taubah : 54] 

Dan ia tidak diperintahkan untuk meng-qodho'nya seandainya ia masuk 
islam, berdasarkan firman Allah ta'ala : 

"Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: "Jika mereka berhenti 
(dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa- 
dosa mereka yang sudah lalu" [QS. Al-Anfal : 38] 



4^ 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Dan sabda Nabi ShoUallohu alaihi wa sallam kepada Amr bin al-Ash : 

"Apakah kamu tidak mensetahui wahai Amr, bahwa islam menshapus 
apa-apa (dosa-dosa, pent) yang telah laid' 

Dan hanya saja dia akan disiksa disebabkan ia meninggalkannya 
(perintah, pent) jika ia mati dalam kekafiran, berdasarkan firman Allah ta'ala 
sebagai jawaban kepada orang-orang yang berdosa ketika mereka ditanya : 

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka 
menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orans yang mengerjakan 
shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami 
membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang 
membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan,hingga 
datang kepada kami kematian" [QS. Al-Muddatsir : 32-37] 



Penghalang-Penghalang Taklif (cii^l ^\ja) : 



Taklif (pembebanan syari'at) memiliki penghalang-penghalang, 
diantaranya : Kebodohan (J^0> ^upa (Oi_~Ji) dan keterpaksaan {»^/'i^), 
berdasarkan sabda Nabi Shollallahu alaihi wa sallam : 



HID- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



"Sesunssuhnya Allah telah memaafkan pada ummatku kesalahan, lupa 
dan apa-apa yang mereka dipaksa atasnya." [HR Ibnu Majah dan Baihaqi] dan 
hadits ini memiliki penguat-penguat dari Al-Kitab dan As-Sunnah yang 
menunjukkan atas keshohihannya. 

Kebodohan (J^O adalah tidak adanya ilmu, maka kapan saja seorang 

mukallaf melakukan suatu perbuatan yang haram karena tidak tahu tentang 
keharomannya maka ia tidak berdosa, seperti orang yang berbicara dalam 
sholat karena tidak tahu tentang keharoman berbicara (dalam sholat, pent). 
Dan jika seseorang meninggalkan suatu perbuatan yang wajib karena tidak 
tahu tentang wajibnya perbuatan tersebut, maka tidak wajib baginya untuk 
mengqodho'nya jika waktunya telah berlalu, dengan dalil bahwasanya Nabi 
Shollallohu alaihi wa Sallam tidak memerintahkan kepada orang yang jelek 
dalam sholatnya -yang dia tidak tuma'ninah dalam sholatnya-, Nabi tidak 
memerintahkan kepadanya untuk mengganti apa yang telah berlalu dalam 
sholat-sholatnya, dan hanya saja Nabi memerintahkan kepadanya untuk 
mengerjakan (yakni mengulang, pent) sholat yang masih pada waktunya 
berdasarkan sisi yang disyari'atkan. 

Lupa (Oi_~Ji) : adalah lalainya hati terhadap sesuatu yang diketahui, 

maka jika seseorang mengerjakan sesuatu perbuatan yang haram karena 
lupa, maka ia tidak berdosa, seperti orang yang makan dalam keadaan 
berpuasa disebabkan lupa. Dan jika seseorang meninggalkan perbuatan yang 
yang wajib karena lupa maka tidak ia tidak berdosa pada saat ia lupa. Tetapi 



4^ 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



dia wajib mengerjakannya ketika dia ingat, berdasarkan sabda Nabi 
ShoUallohu alaihi wa Sallam : 



\Aj^i \i\ i^^lfi^ 6%^ ^_e-J °J» 



"Barans siapa yang lupa mengerjakan sholat, maka hendaknya ia 
mengerjakannya ketika ia mengingatnya." 

Keterpaksaan {s\^'i\) : dipaksanya seseorang mengerjakan sesuatu yang 

tidak ia ingink an, maka barang siapa yang dipaksa untuk melakukan sesuatu 
yang haram, maka ia tidak berdosa, seperti orang yang dipaksa dalam 
kekafiran dan hatinya tetap dalam keimanan. Dan barang siapa yang dipaksa 
untuk meninggalkan kewajiban maka ia tidak berdosa pada saat ia dipaksa, 
dan wajib baginya untuk mengqodho'nya ketika sudah tidak ada paksaan, 
seperti orang yang dipaksa untuk meninggalkan sholat sampai keluar 
waktunya, maka sesungguhnya dia wajib untuk mengqodho'nya ketika sudah 
tidak ada paksaan. 

Dan hanya saja pencegah-pencegah ini berhubungan dengan hak Allah, 
karena hal ini dibangun atas ampunan dan rahmat-Nya, adapun dalam hak- 
hak sesama makhluk maka tidaklah dicegah dari menanggung apa yang wajib 
untuk ditanggungnya jika orang yang memiliki hak tersebut tidak ridho 
dengan gugurnya (hak tersebut, pent), Wallohu a'lam. 



HID- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



UMUM 

DEFINISINYA : 

Umum (fUJt) secara bahasa : (J-i^i) Yans mencakup. 
Dan secara istilah : 

"Lafadz yang mencakup untuk semua anssotanya tanpa ada pembatasan" 



Contohnya : 



^ J> jji\ 01 



"Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti (JyS^") benar-benar 
berada dalam syurga yang penuh kenikmatan." [QS. Al-lnfithor : 13 dan Al- 
Muthoffifin : 22] 

Maka keluar dari perkataan kami : (siijsi ^ jj^sUi) "yang mencakup untuk 
semua anggotanya" : apa-apa yang tidak mencakup kecuali satu, seperti nama 
sesuatu dan Isim Nakiroh dalam konteks untuk penetapan (ou^i jl- j i/^\) 
sebagaimana firman Allah ta'ala : 



-[i8> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



"Maka bebaskanlah seorang budak (ai^)" [QS. Al-Mujadalah : 3] 

Karena ayat ini tidak mencakup semua anggotanya secara menyeluruh, 
dan hanya saja ayat ini mencakup satu dari anggotanya yang tidak 
ditentukan. 

Dan keluar dari perkataan kami : o-a^ ">^j) "tanpa ada pembatasan" : apa- 
apa yang mencakup seluruh anggotanya dengan pembatasan, seperti nama- 
nama bilangan: ratusan, ribuan dan yang semisal keduanya. 

BENTUK-BENTUK UMUM {^y^s ^) 

Bentuk-bentuk umum ada tujuh : 

1. Apa-apa yang menunjukkan atas keumumannya dengan alat-alatnya (yang 
menunjukkan keumuman, pent), contohnya : (jr), (j4*^), {^'^), (s-t^s), dan («ii^) 

Sebagaimana firman Allah ta'ala : 

"Sesungguhnya segala sesuatu (»> jr) Kami ciptakan menurut ukuran" 
[QS. Al-Qomar : 49] 



4^ 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



2. Kata-kata syarat (ij^i tUs-i), sebagaimana finnan Allah ta'ala : 

"Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, maka itu adalah untuk 
dirinya sendiri" [QS. Al-Jatsiyah : 15] 

"Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah" [QS. Al- 
Baqoroh : 115] 

3. Kata-kata tanya (fV^-"!" '^')> sebagimana firman Allah ta'ala : 

"Maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?" [QS. 
Al-Mulk : 30] 

"Apakah jawabanmu kepada para Rosul?" [QS. Al-Qoshosh : 65] 
"Maka kemanakah kamu akan pergi?" [QS. At-Takwir : 26] 



4io> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



4. Kata-kata sambung (ajj^jli <.\s'H\), sebagaimana firman Allah ta'ala : 



OjisUl la iikJjl Aj "ijjlfij (ilUfliU «.\^ t^-^0 



"Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan mem- 
benarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa." [QS.Az-Zumar :33] 



"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- 
benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." [QS. Al- 
Ankabut : 69] 

"Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang 
yang takut (kepada Tuhannya)." [QS. An-Nazi'at : 26] 



j0°JS\ ^J \j>j oi^UUi ^J\j>iJSj 



"Kepunyaan Allah apa-apa yang ada di langit dan yang ada di bumi." [QS. 
Ali Imron : 109] 

5. Isim Nakiroh dalam konteks peniadaan, larangan, syarat, atau pertanyaan 
yang maksudnya adalah pengingkaran (^j^^^i ^^^-i^js ij^iji ^\j\ j^\ ji_- j s/Ji), 
sebagaimana firman Allah ta'ala : 

ill hi ^l °^ \^j 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



"Dan tidaklah ada Sesembahan (yang berhak disembah) selain Allah" [QS. 
Ali-lmron : 62] 

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan 
sesuatupun" [QS. An-Nisa' : 36] 

UJp j.^ jio OlS* 4ijl OVJ aytihi jl Ul^ Ijoll 01 

"Jika kamu melahirkan sesuatu atau menyembunyikannya, maka sesung- 
guhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu." [QS. Al-Ahzab : 54] 

"Siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang 
kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?" [QS. Al-Qoshosh : 71 ] 

6. Yang dima'rifatkan dengan idhofah baik tunggal ataupun jama' ( aiu=vv ^>!-i 
wj^ fi o\r ii>), sebagaimana firman Allah ta'aia : 

"Dan ingatlah nikmat Allah atas kalian" [QS. Ali Imron : 103 dan al-Ma'idah : 7] 
"maka ingatlah nikmat-nikmat Allah." [QS. al-A'rof : 74] 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



7. Yang dima'rifatkan dengan alif-lam al-lstighroqiyyah {i^^y^'i^ Ji , alif-lam 
yang menunjukkan umum, pent) baik tunggal maupun jama', sebagaimana 
firman Allah ta'ala : 



\sL3ufi OLJvJl (ji^J 
"Dan manusia dijadikan bersifat lemah." [QS. An-Nisa':28] 

"Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah 
mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta 
izin" [QS. An-Nuur : 59] 

Adapun yang dima'rifatkan dengan alif-lam al-ahdiyyah {hj^\ ji, alif-lam 
untuk sesuatu yang sudah diketahui) maka hal ini tergantung dari isim yang sudah 
diketahui tersebut (yakni yang dimasuki alif-lam al-ahdiyyah, pent), jika ia 
umum maka yang dima'rifatkan juga umum, dan jika ia khusus maka yang 
dima'rifatkan juga khusus. Contoh dari yang umum adalah firman Allah ta'ala : 

"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat (asj^): 
"Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah 
Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka 
hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." Lalu seluruh 
malaikat-malaikat (asj^'i) itu bersujud semuanya." [QS. Ash Shod : 71-73] 

QE 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Contoh dari yang khusus adalah firman Allah ta'ala : 

•^Ijj ii>i oUi^ifl Jjl.^1 '^j^J cr^ *^i^j '^J^J J\ ^^j' ^ 

"Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekah) 
seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah 
mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir'aun. Maka Fir'aun mendurhakai 
Rasul (Ji^S'O itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat." [QS. Al- 
Muzammil : 15-16] 

Adapun yang dima'rifatkan dengan Alif-lam untuk menjelaskan jenis, 
maka tidak bersifat umum kepada setiap anggotanya, jika kamu berkata : 

"Laki-laki itu lebih baik dahpada wanita, atau 

"Kaum laki-laki lebih baik dahpada kaum wanita" 

Maka maksudnya bukanlah bahwa setiap perorangan dari laki-laki lebih 
baik daripada setiap perorangan dari wanita. Dan hanya saja maksudnya 
adalah bahwa jenis ini (laki-laki, pent) lebih baik daripada jenis ini (wanita, 
pent). Dan kadang-kadang dijumpai seseorang dari wanita yang lebih baik 
dari sebagian laki-laki. 



-QT]- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



BERAMAL DENGAN DALIL YANG UMUM 

Wajib beramal dengan keumuman lafadz dalil yang umum sampai ada 
dalil shohih yang mengkhususkannya, karena beramal dengan nash-nash dari 
Al-Kitab dan As-Sunnah adalah wajib berdasarkan yang ditunjukkan oleh 
penunjukannya, sampai ada dalil yang menyelisihinya. 

Jika ada suatu dalil umum dengan sebab yang khusus, maka wajib 
beramal sesuai keumumannya. Karena yang menjadi ibroh (sandaran) adalah 
umumnya lafadz bukan kekhususan sebab {,.^—^\jfij—^.'ihiii\^j^,ij^\) kecuali 
jika ada dalil yang menunjukkan pengkhususan dalil yang umum tersebut 
dengan apa yang menyerupai keadaan sebab (asbabun nuzul atau wurud, 
pent) yang dalil itu turun karenanya, maka dikhususkan dengan yang 
menyerupai sebab tersebut. 

Contoh yang tidak ada dalil menunjukkan atas pengkhususannya : Ayat 
tentang zhihar (yakni seorang suami mengatakan kepada isrinya : "bagiku 
kamu seperti punggung ibuku", pent), sebab turunnya adalah perbuatan 
zhihar yang dilakukan Aus bin Shomit, dan hukumnya umum untuknya dan 
untuk yang selainnya. 

Contoh yang ada dalil yang menunjukkan atas pengkhususannya : Sabda 
Rosullulloh shoUallohu alaihi wa saUam : 

"Bukanlah termasuk kebaikan, berpuasa ketika safar." 



4E> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Sebabnya adalah ketika Nabi shoUallohu alaihi wa sallam dalam suatu 
safar, beliau melihat keramaian dan ada seseorang yang diberi naungan (dari 
terik matahari, pent) lalu RosuUuUoh bersabda : 

"jLJi\ J ^U-^l jS\ jfi ^" :jUfl .^\^ :ljJ\i "'?IJL» U" 

"Ada apa ini?" Mereka berkata : "Dia orang yang sedang berpuasa." Lalu 
RosuUuUoh bersabda : "Bukanlah termasuk kebaikan, berpuasa ketika safar." 

Ini merupakan dalil umum yang khusus untuk orang yang menyerupai 
kondisi orang ini, yakni berat baginya puasa ketika safar. Dan dalil yang 
menunjukkan pengkhususannya bahwa Nabi shoUallohu alaihi wa sallam 
pernah berpuasa ketika safar dimana hal itu tidak memberatkannya, dan 
RosuUuUah shoUallohu alaihi wa sallam tidak melakukan sesuatu kecuali 
kebaikan. 



4l6> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



KHUSUS 

DEFINISINYA : 

Khusus O&it) secara bahasa : (^uit fur) Lawan dari umum. 
Dan secara istilah : 

"Suatu la f adz yang menunjukkan atas sesuatu yang terbatas dengan 
orans tertentu atau bilan^an tertentu, seperti nama-nama , isyarat dan 
jumlah. " 

Keluar dari perkataan kami : (j^^^Ji-) "atas sesuatu yang terbatas" : (ffli) umum. 
Pengkhususan {jdrd^\) secara bahasa : (^i !<») lawan dari pengumuman. 
Secara istilah : 

^\iJl i\J\ Jiuu, ^lj>l 

"Mengeluarkan sebagian anggota yang umum." 

Dan yang mengkhususkan (^^a^i) : Pelaku pengkhususan yaitu pembuat 
syariat, dan dimutlakkan sebagai dalil yang dihasilkan dengannya 
pengkhususan. 



Ushul Fiqih (AiiJi Jj-^i) 



Dalil takhsis ada dua macam : Muttashil (J^) dan Munfashil (J-ai^). 

Muttashil (bersambung) : yang tidak bisa berdiri sendiri. 

Munfashil (terpisah) : yang bisa berdiri sendiri. 

Di antara Mukhoshshis Muttasil (J-ait ja-a^li) : 

Pertama : pengecualian/Zst/tsna' {l'ii^'i\) yaitu secara bahasa : berasal dan kata 
(jiiit)> yaitu mengembalikan sebagian dan sesuatu kepada sebagian yang lain, 
seperti (JJ-i ^^) mengembalikan sebagian dari tali kepada sebagian yang lain. 

Secara istilah : "mengeluarkan sebagian anggota sesuatu yang umum 
dengan lUa {"ii) atau salah satu saudara-saudaranya, seperti firman Alloh : 

"Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang 
yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan saling berwasiat untuk mentaati 
kebenaran dan saling berwasiat untuk menetapi kesabaran." [QS. al-'Ashr : 2-3] 

Keluar dari perkataan kami : (u^ty-i ts-u^t ji -ik) "dengan ilia (kecuali) atau 
salah satu saudara-saudaranya" : takhshih dengan syarat dan yang lainnya. 



4W^ 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



SYARAT ISTITSNA' (PENGECUALIAN) : 

Benarnya istitsna' disyaratkan dengan beberapa syarat, diantaranya : 

[1] Bersambungnya dengan yang dikecualikan (t^^^O; secara hakiki atau 
secara hukum. 

Muttashil secara hakiki : yang langsung bersambung dengan yang 
dikecualikan dari sisi keduanya tidak dipisah dengan suatu pemisah. 

Muttashil secara hukum : yang dipisahkan antara sesuatu yang umum 
dengan yang dikecualikan darinya dengan pemisah yang tidak mungkin untuk 
dicegah, seperti batuk atau bersin. 

Jika antara keduanya terpisah dengan suatu pemisah yang mungkin 
dicegah atau dengan diam, maka istitsna'-nya tidak sah. Seperti seseorang 
mengatakan : (jty-i ^j-s-) "Semua budak-budakku bebas" kemudian ia diam atau 
berbicara dengan pembicaraan yang lain lalu mengatakan : (ta-u- •;!!) "kecuali 
Said", maka istitsna'-nya tidak sah dan semuanya budaknya bebas. 

Dan dikatakan : istitsna' dengan diam atau ada pemisah adalah sah, jika 
masih dalam satu pembicaraan yang sama, berdasarkan hadits Ibnu Abbas 
rodhiyallohu anhuma: 

ji?- *jj ill Aj>y jJJl IJLa 01" -.A^ riJ »ji J\i J^j aAs- ill JU? j_^l 01 



4IE> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Bahwa Nabi shoUallohu alaihi wa sallam berkata pada hari fat-hul 
Makkah (penaklukan Makkah) : "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan 
negh ini pada hari ketika Dia menciptakan langit dan bumi, tidak boleh 
dipotong durinya dan tidak boleh dipotong ranting-rantingnya" al-Abbas 
berkata : "wahai RasuluUoh, kecualikan idzkhir, karena idzkhir adalah untuk 
kebutuhan mereka dan rumah mereka", lalu RasuluUoh bersabda : "kecuali 
idzkhir". Dan pendapat ini lebih rojih berdasarkan penunjukkan hadits ini 
atasnya. 

[2] Yang dikecualikan {J^\) tidak lebih banyak dari setengah yang 
dikecualikan darinya (uj- J^\), seandainya dikatakan : (Ji- •;!! ^iji ij^ 'J^ iJ) 
"Saya memiliki hutang terhadapnya sepuluh dirham kecuali enam", istitsna'- 
nya tidak sah dan ia hams mengeluarkan 10 seluruhnya. 

Dan dikatakan : yang demikian tidak disyaratkan sehingga istitsna'-nya sah, 
walaupun yang dikecualikan lebih banyak dari setengah, maka pada contoh 
yang tadi tidak mengharuskannya untuk mengeluarkan kecuali hanya 4 saja. 

Adapun jika dikecualikan semuanya, maka tidak sah berdasarkan dua 
pendapat tadi. Jika seseorang mengatakan : (sj^ "is i_^ J^ *)) "Saya memiliki 
hutang terhadapnya sepuluh kecuali sepuluh", mengharuskannya membayar 
sepuluh seluruhnya. 

Dan syarat ini adalah jika istitsna'nya dalam bentuk jumlah, adapun jika 
dalam bentuk sifat maka sah walaupun dikeluarkan semua atau kebanyakan, 
misalnya : firman Alloh ta'ala kepada iblis : 



4^ 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



"Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap 
mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu dari orang-orang yang sesat." 
[QS. al-Hijr : 42] 

Dan pengikut iblis dari kalangan anak adam adalah lebih banyak dari 
separuh jumlah mereka, seandainya aku mengatakan : {>.'^H\ % ^\ d cy ^^) 
"Berikanlah kepada siapa yang di rumah itu kecuali orang-orang yang kaya.", 
lalu diketahui bahwa semua yang ada di rumah itu adalah orang kaya, maka 
istitsna'nya sah dan mereka tidak diberi apa-apa. 

Yang kedua : yang termasuk mukhoshshish muttashil (J-aii j^-aAli) : syarat, 
yaitu secara bahasa : iiJi^s) tanda. 

Dan yang dimaksud dengannya di sini : 

"menggantungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain adanya atau tidak 
adanya dengan (a-fcj^i oi) atau salah satu dari saudara-saudaranya." 

Dan syarat merupakan mukhoshshish (yang mengkhususkan), baik 
diletakkan di depan atau diakhirkan. 

Contoh yang diletakkan di depan adalah firman-Nya ta'ala kepada orang- 
orang musyrik : 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



|4iw^ 'jl^ fi\^jJ' 'ji^J fi'>Cai( (j^\ilj (jj\i OV^ 

"Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, 
maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan" [QS. at-Taubah : 5] 

Dan contoh yang diakhirkan adalah firman-Nya ta'ala : 

\J^ 1^ *^^ (31 1ajJ'\5^ °^^^} ci^ ll^ L)\^i i^j*^' tlM'^0 

"Dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, 
hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada 
kebaikan pada mereka" [QS. an-Nur : 33] 

Yang ketiga : (u^t) Sifat, yaitu : 

Jb- jl Jjj jl Cju ja a\*J| liljfll JOM <b j,fl:aSs j_^. y>Ji^ l« 

"Yang memberikan kesan suatu makna yang menjadi khusus dengannya 
sebagian anggota yang umum dari na'at atau badal atau haal." 

Misal dari na'at (cj>3) adalah firman-Nya ta'ala : 

"Maka dari yang kamu miliki dari budak-budak wanita yang beriman " [QS. 
an-Nisa' : 25] 

Misal dari badal (Jjj) adalah firman-Nya ta'ala : 



HID- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



"Atas manusia ada kewajiban terhadap Allah untuk haji ke Baitulloh, 
yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perialanan ke sana " [QS. Ali Imron 
:97] 

Misal dari haal (J^^) adalah firman-Nya ta'ala : 

\^ \jS\sf- M^^ *J'j^ \XAjcji L«j^ Jiflj ^j 

"Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaia maka 
balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya" [QS. an-Nisa' : 93] 

MUKHOSHSHISH MUNFASIL (j-^t ,,^^0 

Mukhoshshish Munfasil adalah : Mukhoshshish yang berdiri sendiri, yaitu 
ada tiga hal : perasaan, akal dan syari'at. 

Contoh takhshish dengan perasaan adalah firman Alloh ta'aia tentang 
angin untuk kaum 'Aad : 



^o y"^ *I^ J^ S^^" 



"yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya" [QS. Al- 
Ahqof : 25] 

Maka perasaan menunjukkan bahwa angin tersebut tidak menghancurkan 
langit dan bumi. 

[JE 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Contoh takhshish dengan akal adalah finnan AUoh ta'ala : 

"Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." [QS. al-Ahqof : 33] 

Maka akal menunjukkan bahwa Dzat AUoh ta'ala bukanlah makhluk. 

Dan diantara 'ulama ada yang berpendapat bahwa apa-apa yang 
dikhususkan dengan perasaan dan akal bukanlah sesuatu yang umum yang 
dikhususkan, akan tetapi merupakan umum yang dimaksudkan dengannya 
sesuatu yang khusus. 

Adapun takhshish dengan syari'at, maka al-Qur'an dan as-Sunnah 
dikhususkan dengan yang semisalnya dan dengan ijma' dan qiyas. 

Contoh Takhshish al-Qur'an dengan al-Qur'an : firman AUoh ta'ala : 

"Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali 
quru'" [QS. al-Baqoroh : 228] 

Dikhususkan dengan firman-Nya ta'ala : 



4^ 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- 
perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu 
mencampurinya maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka 'iddah bagimu 
yang kamu minta menyempurnakannya." [QS. al-Ahzab : 49] 

Contoh takhshish al-Qur'an dengan as-Sunnah : ayat warisan, seperti 
firman-Nya ta'ala : 

"Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian warisan untuk) anak- 
anakmu. Yaitu : bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang 
anak perempuan." [QS. an-Nisa' : 11] 

Dan yang semisal dengan ayat ini dikhususkan dengan sabda Rasulullah 
shallaUahu 'alaihi wa saUam : 

"Seorang muslim tidak mewarisi orang kafir, dan orang kafir tidak 
mewarisi orang muslim." 

Contoh takhshish al-Qur'an dengan Ijma' : firman Alloh ta'ala : 

"Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat 
zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah 
mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera." [QS. an-Nur : 4] 



-[lO- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Dikhususkan dengan ijma' bahwa budak yang menuduh hukumannya 
didera (dicambuk) 40 kali. Demikianlah yang dijadikan contohkan oleh para 
ahli ushul, dan hal ini perlu diperiksa kembali dikarenakan adanya khilaf 
dalam masalah ini, dan aku belum mendapati contoh yang selamat (dari 
adanya khilaf, pent). 

Contoh takhshish al-Qur'an dengan Qiyas : firman Alloh ta'ala : 

"Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap- 
tiap seorang dari keduanya seratus dali dera." [QS. an-Nur : 2] 

Dikhususkan dengan mengqiyaskan budak laki-laki yang berzina terhadap 
budak perempuan yang berzina dalam menjadikan hukumannya separuh, dan 
dikurangi menjadi lima puluh dera, menurut pendapat yang masyhur. 

Dan contoh takhshish As-Sunnah dengan Al-Qur'an : sabda Nabi 
shoUallohu alaihi wa sallam : 

c"...i)l Jj--.j IJ^ Olj ill *i\ Ail V of IjJ^^. ^ j-.Uil JJllf of CJy\" 

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi 
bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh dan 
bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh...." Al-Hadits. 



Dikhususkan dengan firman Alloh ta'ala : 

[JI]— 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) 
kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang 
diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang 
benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada 
mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka 
dalam keadaan tunduk." [At-Taubah : 29] 

Dan contoh takhshish As-Sunnah dengan As-Sunnah : sabda Rosul 
shoUallohu alaihi wa saUam : 

"Apa-apa (pertanian, pent) yang diairi dengan air hujan zakatnya adalah 
sepersepuluh" 

Dikhususkan dengan sabdanya shoUallohu alaihi wa sallam : 

ilju^ (j^y 1«^ dji U-J ^j^ 

"Tidak ada zakat bagi (hasil pertanian, pent) yang di bawah 5 wisq". 

Dan aku (asy-Syaikh Ibnul 'Utsaimin, pent) belum menemukan contoh 
takhshish As-Sunnah dengan ijma'. 



HID- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Dan contoh takhshish As-Sunnah dengan qiyas : sabda Rosul shoUallohu 
alaihi wa sallam : 



^U- s-jyjj hj» Jisr j^U jSLii 



"Laki-laki yang belum menikah dan perempuan yang belum menikah (yang 
berzina, pent) didera seratus kali dan diasingkan selama 1 tahun." 

Dikhususkan dengan mengqiyaskan budak laki-laki yang berzina terhadap 
budak perempuan yang berzina dalam menjadikan hukumannya separuh, dan 
dikurangi menjadi lima puluh dera, menurut pendapat yang masyhur. 



-[l8> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



MUTLAK DAN MUQOYYAD 

DEFINISI MUTLAK (jMi): 

Mutlak (jiHi) secara bahasa adalah : (aJii j-js) lawan dari Muqoyyad. 
Dan secara istilah : 

"Apa-apa yans menunjukkan atas hakikat tanpa ikatan" 

Sebagaimana finnan AUoh ta'ala : 

UiUkSJ (1)1 Jli °y» Oj j.y^ 

"Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua 
suami isteri itu bercampur" [QS. al-Mujadilah : 3] 

Maka keluar dari perkataan kami : (a^^t Js. Ji u) "apa-apa yang 
menunjukkan atas hakikat": umum (fUJi), karena umum menunjukkan atas 
keumuman, bukan mutlak hakikat saja. 

Maka keluar dari perkataan kami : (4^ Vj) "tanpa ikatan" : Muqoyyad [jM)- 



-[l9>i 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



DEFINISI MUQOYYAD (aJlt) : 

Muqoyyad {j^\) secara bahasa adalah : (sj^j jyy ^^ aj 4J j*r u) Apa yang 
dijadikan padanya suatu ikatan dari unta dan yang semisalnya. 

Dan secara istilah : 

"Apa-apa yang menunjukkan hakikat dengan ikatan" 
Sebagaimana firman AUoh ta'ala : 

"(hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman" [QS. 
an-Nisa' : 92] 

Maka keluar dari perkataan kami : (jjj) "dengan ikatan" : Mutlak (jiUi). 
BERAMAL DENGAN NASH YANG MUTLAK : 

Wajib beramal dengan nash yang mutlak berdasarkan kemutlakannya 
kecuali jika ada dalil yang men-toqy/d-nya (mengikatnya), karena beramal 
dengan nash-nash dari Al-Kitab dan As-Sunnah adalah wajib berdasarkan atas 
apa-apa yang menjadi konsekuensi penunjukkan-penunjukannya sampai ada 
dalil yang menyelisihi hal itu. 



-[™>i 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Jika terdapat nash yang mutlak dan nash yang muqoyyad, wajib mengikat 
nash yang mutlak tersebut dengan nash yang muqoyyad jika hukumnya satu 
(dalam satu permasalahan, pent), dan jika tidak, maka setiap nash diamalkan 
berdasarkan apa-apa yang ada padanya, dari mutlak atau muqoyyad. 

Contoh yang hukum keduanya satu : firman Alloh ta'ala : 

"maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua 
suami isteri itu bercampur" [QS. al-Mujadalah : 3] 

Dan firman Alloh dalam kafarot membunuh : 

"(hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman" [QS. 
an-Nisa' : 92] 

Contoh yang hukum keduanya tidak satu : Firman Alloh ta'ala : 

U4j-WJ Sy^\h JijiUij 3j^ij 

"Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan 
keduanya" [QS. al-Ma'idah : 38] 

Dan firman Alloh dalam ayat wudhu' : 

(jsi^i j\ ^'^jj ^ii^j^j ijL^^ 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



"Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku" [QS. al- 
Ma'idah : 6] 

Maka hukumnya berbeda, yang pertama memotong dan yang kedua 
membasuh, maka ayat yang pertama tidak bisa diikat dengan ayat yang 
kedua, bahkan tetap pada kemutlakannya, sehingga pemotongan adalah 
sampai pergelangan tangan dan membasuh sampai siku. 



HID- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



MUJAAAL DAN MUBAYYAN 

DEFINISI MUJMAL (J-^i) : 

Mujmal secara bahasa : (^^b ^0 mubham (yang tidak diketahui) dan 
yang terkumpul. 

Secara istilah : 

"Apa yang dimaksud darinya ditawaqqufkan terhadap yang selainnya, baik 
dalam ta'yinnya (penentuannya) atau penjelasan sifatnya atau ukurannya." 

Contoh yang membutuhkan dalil lain dalam ta'yin/penentuannya: Firman 
Alloh ta'ala: 

"Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali 
quru'" [QS. Al-Baqoroh : 228] 

Quru' (^yJt) adalah lafadz yang musytarok (memiliki beberapa makna, 
pent) antara haidh dan suci, maka menta'yin salah satunya membutuhkan 
dalil. 

Contoh yang membutuhkan dalil lain dalam penjelasan sifatnya : Firman 
Alloh ta'ala : 



HID- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



"Dan dirikanlah sholat" [QS. Al-Baqoroh : 43] 

Maka tata cara mendirikan sholat tidak diketahui (hanya dengan ayat ini, 
pent), membutuhkan penjelasan. 

Contoh yang membutuhkan dalil lain dalam penjelasan ukurannya : 
Firman Alloh ta'ala : 

SlTjli I jit} 
"Dan tunaikanlah zakat" [QS. Al-Baqoroh : 43] 

Ukuran zakat yang wajib tidak diketahui (hanya dengan ayat ini, pent), 
maka membutuhkan penjelasan. 

DEFINISI MUBAYYAN i^\) : 

Mubayyan secara bahasa : (^-isjlij ^^li) yang ditampakkan dan yang 
dijelaskan. 



Secara istilah : 



"Apa yang dapat difahami maksudnya, baik dengan asal peletakannya 
atau setelah adanya penjelasan." 

Qi] 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Contoh yang dapat difahami maksudnya dengan asal peletakannya : 
lafadz : langit {t-\sf), bumi [jfj), gunung (J-^), adil (J-**), dholim (^), jujur 
(jj-^s). Maka kata-kata ini dan yang semisalnya dapat difahami dengan asal 
peletakannya, dan tidak membutuhkan dalil yang lain dalam menjelaskan 
maknanya. 

Contoh yang dapat difahami maksudnya setelah adanya penjelasan : 
firman Alloh ta'ala : 

"Dan dirikanlah sholat dan tunaikan zakat" [QS. Al-Baqoroh : 43] 

Maka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, keduanya adalah mujmal, 
tetapi pembuat syari'at (Alloh ta'ala) telah menjelaskannya, maka lafadz 
keduanya menjadi jelas setelah adanya penjelasan. 

BERAMAL DENGAN DALIL YANG MUJMAL: 

Seorang mukallaf wajib bertekad untuk beramal dengan dalil yang 
mujmal ketika telah datang penjelasannya. 

Nabi shoUallohu alaihi wa sallam telah menjelaskankan semua syarfatnya 
kepada umatnya baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, sehingga 
beliau meninggalkan ummat ini di atas syari'at yang putih bersih malamnya 
seperti siangnya, dan beliau tidak pernah sama sekali meninggalkan 
penjelasan (terhadap syari'at, pent) ketika dibutuhkan. 

Dan penjelasan Nabi shoUallohu alaihi wa sallam itu berupa perkataan 
atau perbuatan atau perkataan dan sekaligus perbuatan. 



HID- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Contoh penjelasan beliau shoUallohu alaihi wa saUam dengan perkataan : 
Pengkhobaran beliau tentang nishob-nishob dan ukuran zakat, sebagaimana 
dalam sabdanya shoUallohu alaihi wa sallam : 

jJIjuI frlft-bJl CJL^ U^ 

"Apa-apa (hasil pertanian, pent) yang diairi dengan air hujan zakatnya 
adalah 1/10" 

Sebagai penjelasan dari firman Alloh ta'ala yang mujmal : 

"Dan tunaikanlah zakat" [QS. Al-Baqoroh : 43] 

Contoh penjelasan beliau shoUallohu alaihi wa sallam dengan perbuatan: 
perbuatan beliau dalam manasik di hadapan ummat sebagai penjelasan dari 
firman Alloh ta'ala yang mujmal : 



^ O-^' J^ ^J 



"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah" [QS. Ali 
Imron :97] 

Dan demikian juga sholat kusuf (gerhana bulan) dengan sifat sholatnya, 
dalam kenyataannya hal ini merupakan penjelasan terhadap sabdanya 
shoUallohu alaihi wa sallam yang mujmal : 

\jLfii \^ l^ ^\j liVs 

on 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



"Jika kalian melihat sesuatu darinya maka sholatlah". [Muttafaqun alaihi] 

Contoh penjelasan beliau shoUallohu alaihi wa sallam dengan perkataan 
dan sekaligus perbuatan : penjelasan beliau shoUallohu alaihi wa sallam 
tentang tata cara sholat, sesungguhnya pejelasan beliau adalah dengan 
perkataan dalam hadits al-musi' fi sholatihi (orang yang jelek dalam 
sholatnya), dimana beliau shoUallohu alaihi wa sallam bersabda : 

"Jika engkau akan sholat maka sempurnakanlah wudhu, kemudian 
menghadaplah ke qiblat lalu bertakbirlah....", al-hadits. 

Dan penjelasan beliau adalah dengan perbuatan juga, sebagaimana 
dalam hadits Sahl bin Sa'ad As-Sa'idi rodhiyallohu anhu bahwa Nabi 
shoUallohu alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar lalu bertakbir (takbirotul 
ihrom, pent), dan orang-orangpun bertakbir di belakang beliau sedangkan 
beliau berada di atas mimbar...., Al-Hadits, dan dalam hadits tersebut : 
"kemudian beliau menghadap kepada orang-orang dan berkata : 

IP^ Ij^JxJj c^ l^y <:\Sa CJjti \£\ 

"hanya saja aku melakukan ini supaya kalian mengikuti gerakanku dan 
supaya kalian mengetahui sholatku". 



HID- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



DZOHIR DAN MU'AWWAL 

DEFINISI DZOHIR (y^^\) : 

Dzohir secara bahasa : Yang terang (c-isijiO dan yang jelas (jrJi). 
Secara istilah : 

"Apa-apa yang menunjukkan atas makna yang rojih dengan lafadznya 
sendiri dengan adanya kemungkinan makna lainnya." 

Misalnya sabda Nabi shoUallohu alaihi wa sallam : 

"Berwudhulah kalian karena memakan daging unta!" 

Maka sesungguhnya yang dzohir dari yang dimaksud dengan wudhu adalah 
membasuh anggota badan yang empat dengan sifat yang syar'i bukan wudhu 
yang berarti membersihkan diri. 

Keluar dari perkataan kami : "apa-apa yang menunjukkan atas makna 
dengan lafadznya sendiri" (^^ J^ 4-44 Ji u) : Mujmal, karena mujmal tidak 
menunjukkan makna dengan lafadznya sendiri. 



4jE^ 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Keluar dari perkataan kami : "rojih" (j^tj) : Mu'awwal, karena ia 
menunjukkan atas makna yang marjuh jika tanpa qohnah. 

Keluar dari perkataan kami : "dengan adanya kemungkinan makna 
lainnya" (»>- Jus-i j.) : Nash yang tegas, karena ia tidak memiliki kemungkinan 
kecuali hanya satu makna. 

BERAMAL DENGAN DALIL YANG DZOHIR : 

Beramal dengan dalil yang dzohir adalah wajib kecuali jika ada dalil yang 
memalingkannya dari makna dzohirnya. Karena ini merupakan jalannya para 
salaf, dan karena ini lebih hati-hati dan lebih melepaskan tanggungan, dan 
lebih kuat dalam ta'abbud dan ketundukan. 

DEFINISI MU'AWWAL (Jjp): 

Mu'awwal secara bahasa : dari kata "al-Awlf {Sji^) yakni kembali {^yrj^). 
Secara istilah : 

"Apa-apa yang lafadznya dibawa pada makna yang marjuh." 

Keluar dari perkataan kami : "pada makna yang marjuh" (j^j^jli t^^li J^) : 
Nash dan Dzohir. 



4jE^ 



Ushul Fiqih (AiiJi Jj-^i) 



Adapun nash, karena ia tidak mengandung kemungkinan kecuali hanya 
satu makna, dan adapun dzohir, karena ia dibawa kepada makna yang rojih. 

Ta'wil ada dua macam : Shohih diterima dan Rusak ditolak. 

1. Ta'wil yang shohih : yang ditunjukkan atas makna tersebut dengan dalil 
yang shohih, seperti ta'wil terhadap firman AUoh ta'ala : 

... 2jji!i\ Jllilj 

"bertanyalah kepada desa..." [QS. Yusuf : 82] 

Kepada makna "bertanyalah kepada penduduk desa" (iyJt J^i Ji-ij)> karena 
desa tidak mungkin untuk diberi pertanyaan kepadanya. 

2. Ta'wil yang rusak : yang tidak ada dalil yang shohih yang menunjukkan 
makna tersebut, seperti ta'wil orang-orang mu'aththilah (ahli ta'thil) 
terhadap firman AUoh ta'ala : 

"Ar-Rohman bersemayam di atas arsy" [QS. Thoha : 5] 

Kepada makna istaula (S^\ I menguasai), dan yang benar bahwa 
maknanya adalah ketinggian dan menetap, tanpa tai<yif dan tamtsil. 



4W^ 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



AN-NASKH 

DEFINISINYA : 

Naskh secara bahasa : Penghilangan (sJtj^O dan Pemindahan (JiJi)- 
Secara istilah : 

"Terangkatnya (dihapusnya, pent) hukum suatu dalil syar'i atau lafadznya 
dengan dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah." 

Yang dimaksud dengan perkataan kami : (^ jij) " Terangkatnya hukum" 
yakni : perubahannya dari wajib menjadi mubah atau dari mubah menjadi 
haram misalnya. 

Keluar dari hal tersebut perubahan hukum karena hilangnya syarat atau 
adanya penghalang, misalnya terangkatnya kewajiban zakat karena 
kurangnya nishob atau kewajiban sholat karena adanya haid, maka hal 
tersebut tidak dinamakan sebagai naskh. 

Dan yang dimaksud dengan perkataan kami : {^M ji) "atau lafadznya" : 
lafadz suatu dalil syar'i, karena naskh bisa terjadi pada hukumnya saja tanpa 
lafadznya, atau sebaliknya, atau pada keduanya (hukum dan lafadznya) 
secara bersamaan sebagaimana yang akan datang. 



4ir> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Keluar dari perkataan kami : (iUij ^uS3i ^ jj^) "dengan dalil dari Al-Kitab 
dan As-Sunnah" : apa yang selain keduanya dari dalil-dalil syar'i, seperti ijma' 
dan qiyas maka suatu dalil tidak bisa di-naskh dengan keduanya. 

NASKH ITU MUNGKIN TERJADI SECARA AKAL DAN TERJADI SECARA SYAR'I. 

Adapun kemungkinannya secara akal : karena di tangan Alloh-lah semua 
perkara, dan milik-Nyalah hukum, karena Dia adalah Ar-Robb Al-Malik, maka 
Alloh berhak mensyariatkan kepada hamba-hamba-Nya apa-apa yang menjadi 
konsekuensi hikmah dan rahmat-Nya. Apakah tidak masuk akal jika al-Malik 
memerintahkan kepada yang dimiliki-Nya dengan apa yang dikehendaki-Nya? 
Kemudian konsekuensi hikmah dan rahmat Alloh ta'ala kepada hamba-hamba- 
Nya adalah Dia mensyariatkan kepada mereka dengan apa-apa yang 
diketahui-Nya bahwa di dalamnya dapat tegak maslahat-maslahat agama dan 
dunia mereka. Dan maslahat-maslahat berbeda-beda tergantung kondisi dan 
waktu, terkadang suatu hukum pada suatu waktu atau kondisi adalah lebih 
bermaslahat bagi para hamba, dan terkadang hukum yang lain pada waktu 
dan kondisi yang lain adalah lebih bermaslahat, dan Alloh Maha Mengetahui 
dan Maha Bijaksana. 

Adapun terjadinya naskh secara syar'i, dalil-dalilnya adalah : 

1 . Firman Alloh ta'ala: 

\^^ jl \^ jl?ij OU lg.i. J j jf ill [y °fsl^ U 

"Ayat mana saja yang Kami naskh, atau Kami jadikan (manusia) lupa 
kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding 
dengannya." [QS. al-Baqoroh : 106] 



4i2> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



2. Finnan AUoh ta'ala: 

"Sekarang Allah telah meringankan kepadamu" [QS. al-Anfal : 66] 

"Maka sekarang campurilah mereka" [QS. al-Baqoroh : 187] 

Maka ini adalah nash tentang terjadinya perubahan hukum yang 
sebelumnya. 

3. Sabda Nabi shallaUahu alaihi wa sallam: 

"Aku dahulu melarang kalian untuk menziarahi kubur, maka (sekarang) 
berziarahlah" [HR. Muslim] 

Ini merupakan nash tentang dinaskh-nya larangan menziarahi kubur. 

DALIL YANG TIDAK BISA DI-NASKH 

Naskh tidak bisa terjadi pada beberapa hal berikut ini : 

1. Al-Akhbar (Khobar-khobar), karena naskh tempatnya adalah dalam 
masalah hukum dan karena me-naskh salah satu di antara dua khobar berarti 
melazimkan bahwa salah satu di antara kedua khobar tersebut adalah dusta. 
Dan kedustaan adalah suatu hal yang mustahil bagi khobar dari AUoh dan 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Rosul-Nya, kecuali apabila hukum tersebut datang dalam bentuk khobar, 
maka tidak mustahil untuk dvnaskh, sebagaimana firman AUoh ta'ala : 



jlsllo Sjjju OjjjC? Ojjilp ISsl* [^;So (1)1 



"Jlka ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan 
dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. " [QS. Al-Anfal : 65] 

Maka sesungguhnya ayat ini adalah khobar yang maknanya adalah 
perintah, oleh karena itu naskh-nya datang pada ayat yang berikutnya, yaitu 
firman AUoh ta'ala : 

"Sekarang Allah telah mehngankan kepadamu dan dia telah mengetahui 
bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang 
sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir. " [QS. 
Al-Anfal : 66] 

2. Hukum-hukum yang maslahatnya berlaku di setiap waktu dan tempat : 
seperti tauhid, pokok-pokok keimanan, pokok-pokok ibadah, akhlaq-akhlaq 
yang mulia seperti kejujuran dan kesucian, kedermawanan dan keberanian 
dan yang semisalnya. Maka tidak mungkin me-naskh perintah terhadap hal-hal 
tersebut, dan begitu pula tidak mungkin me-naskh larangan tentang apa-apa 
yang tercela di setiap waktu dan tempat, seperti syirik, kekufuran, akhlaq- 
akhlaq yang buruk seperti dusta, berbuat fujur (dosa), bakhil, penakut dan 



■S- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



yang semisalnya, karena syari'at-syari'at semuanya adalah untuk 
kemaslahatan para hamba dan mencegah mafsadat dari mereka. 

SYARAT-SYARAT NASKH 

Disyaratkan dalam me-naskh apa yang mungkin untuk dvnaskh dengan 
syarat-syarat di antaranya : 

1 . Tidak mungkinnya dilakukan jama' (penggabungan makna) antara kedua 
dalil, apabila memungkinkan untuk di-jamo' maka tidak boleh dvnaskh karena 
memungkinkannya untuk beramal dengan kedua dalil tersebut. 

2. Pengetahuan tentang lebih terbelakangnya (lebih akhir datangnya, pent) 
dalil yang me-naskh (naasikh) dan hal tersebut bisa diketahui dengan nash 
atau khobar dari sahabat atau dengan tahkh (sejarah). 

Contoh yang diketahui lebih akhirnya yang me-naskh dengan nash adalah 
sabda Nabi shoUallohu alaihi wa sallam : 

"Dahulu aku mengizinkan kalian untuk nikah mut'ah dengan wanita, maka 
sesungguhnya AUoh telah mengharomkannya sampai hah kiamat". 

Contoh yang diketahui dengan khobar sahabat adalah perkataan Aisyah 
rodhiyallohu anha : 

^j.«lit) 2^^:-^ jii ty'lfH cj^jijL» cj^jC^j jIip OT^i °^ Jjli U>-3 l)\S' 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



"Dahulu dalam apa yang diturunkan dari Al-Qur'an adalah sepuluh kali 
persusuan menjadikan mahrom, kemudian dihapus menjadi lima kali 
persusuan". 

Contoh yang diketahui dengan tarikh adalah finnan Alloh ta'ala : 

"Sekarang Allah telah mehnsankan kepadamu" [QS. Al-Anfal : 66] 

Kata (o^i) "sekarang", menunjukkan atas lebih akhirnya hukum tersebut. 
Dan demikian juga jika disebutkan bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam 
menghukumi sesuatu sebelum hijroh, kemudian setelah itu beliau 
menghukumi dengan yang menyelisihinya, maka yang kedua (setelah hijroh, 
pent) adalah sebagai naasikh (yang me-naskh). 

3. Naasikh-nya Shohih, dan jumhur mensyaratkan bahwa naasikh harus lebih 
kuat dari yang mansukh (yang d\-naskh) atau semisal/sederajat dengannya, 
sehingga menurut mereka dalil yang mutawatir tidak bisa d\-naskh dengan 
dalil yang ahad, walaupun dalil ahad tersebut shohih. Dan yang rojih adalah 
bahwasanya naasikh tidak disyaratkan harus lebih kuat dari yang mansukh 
atau sederajat dengannya, karena tempatnya naskh adalah masalah hukum, 
dan dalam penetapan hukum tidak disyaratkan derajatnya harus mutawatir. 

MACAM-MACAM AN-NASKH : 

Naskh ditinjau dari nash yang mansukh terbagi menjadi tiga macam : 



■S- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



1. Apa yang 6\-naskh hukumnya dan tertinggal lafadznya, dan ini banyak 
dalam Al-Qur'an. 

Contohnya : dua ayat Al-Mushobaroh yakni firman AUoh ta'ala : 

"Jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan 
dapat mensalahkan dua ratus orans musuh. " [QS. Al-Anfal : 65] 

Hukumnya di-naskh dengan firman AUoh ta'ala : 

jj^Cflil ^ llJIj Jjl OiU ^^f Ijll* liJf liu/9 [^ Olj jlslla jlslls 

"Sekaranq Allah telah merinqankan kepadamu dan dia telah mensetahui 
bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang 
sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir. Dan 
jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat 
mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang- 
orang yang sabar. " [QS. Al-Anfal : 66] 

Dan hikmah di-naskhnya hukum tanpa lafadznya adalah tetap adanya 
pahala membacanya dan mengingatkan ummat tentang hikmah naskh 
tersebut. 

2. Apa yang di-naskh lafadznya dan hukumnya tetap berlaku seperti ayat 
rajam, dan telah shohih dalam "Ash-Shohihain dari hadits Ibnu Abbas 



HID- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



rodhiyallohu anhuma dari Umar bin Al-Khoththob rodhiyallohu anhu, ia 
berkata : 

^J^ <djl Jjl>j («irj \A\^jj \AUiipj \Ab'l^ (♦^S^' ^J ^' Jj^°' ^ '^^ 

l« aJJIj Jj\i ijjil d\ Oloj ^\Uu Jll? 01 ^_p^'^ fi^^ l^jj (♦l-'j 4^ ^1 

d\t j\ ic^\ cJ>\i b) frUJjl} Jl^r^' [>« 0-^' '^1 t^ J I>* t5^ J^ '^^ 

"Dahulu diantara ayat yang AUoh turunkan adalah ayat rajam, maka kami 
membacanya, memahaminya, dan menghafalnya. Dan RosuUuUoh shoUallohu 
alaihi wa saUam melakukan hukum rajam dan kamipun melakukan hukum 
rajam setelah beliau, maka aku khawatir seandainya manusia telah melewati 
waktu yang panjang, seseorang akan berkata : Demi AUoh, kami tidak 
menemukan ayat rajam dalam kitab AUoh, maka mereka menjadi sesat 
dengan meninggalkan kewajiban yang telah diturunkan oleh AUoh, 
sesungguhnya rajam dalam KitabuUoh adalah hak terhadap orang yang 
berzina, jika laki-laki dan perempuan itu adalah muhshon (pernah menikah, 
pent) dan kejelasan (persaksian) telah ditegakkan atau hamil atau adanya 
pengakuan." 

Dan hikmah di-noskhnya lafadz tanpa hukumnya adalah sebagai ujian bagi 
ummat dalam mengamalkan apa yang mereka tidak mendapatkan lafadznya 
dalam Al-Qur'an, dan menguatkan iman mereka terhadap apa yang diturunkan 
AUoh ta'ala, kebalikan dari keadaan orang yahudi yang berusaha 
menyembunyikan nash rajam dalam Taurot. 



4i8> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



3. Apa yang 6\-naskh hukum dan lafadznya, seperti di-naskhnya sepuluh kali 
persusuan dari hadits Aisyah rodhiyallohu anha yang telah lalu. 

Naskh ditinjau dari yang me-naskh dibagi menjadi empat macam : 

1 . Di-nas/chnya Al-Qur'an dengan Al-Qur'an, contohnya adalah dua ayat al- 
Mushobaroh. 

2. Di-naskhnya Al-Qur'an dengan As-Sunnah, aku belum menemukan contoh 
yang selamat/ shohih. 

3. Di-naskhnya As-Sunnah dengan Al-Qur'an, contohnya adalah di-nas/thnya 
hukum (sholat) menghadap Baitul Maqdis yang telah shohih dengan As- 
Sunnah dengan hukum menghadap Ka'bah yang telah shohih dengan 
firman Alloh ta'ala : 

ija^j Ixaj^j IjJjfl Lais' \j» <^L^j f'j^' J:?iLwJl Ja^ ^^^-^^J Sj^ 

"Palinskanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja 
kamu berada, palinskanlah mukamu ke arahnya." [Al-Baqoroh : 144] 

4. Di-naskhnya As-Sunnah dengan As-Sunnah, contohnya sabda Nabi 
shollallohu alaihi wa sallam : 



"Dahulu aku melarang kalian dari meminum nabidz yang disimpan di 
tempat-tempat, maka (sekarang) minumlah sesuai dengan kehendak kalian, 
dan jangan kalian meminum sesuatu yang memabukkan." 



4^ 



Ushul Fiqih (AiiJi Jj-^i) 



HIKMAH NASKH : 

Naskh mempunyai banyak hikmah diantaranya : 

1 . Memelihara maslahat-maslahat para hamba dengan disyariatkannya apa 
yang lebih bermanfaat bagi mereka dalam urusan agama dan dunia 
mereka. 

2. Berkembangnya syari'at sedikit demi sedikit hingga mencapai 
kesempurnaan. 

3. Ujian bagi para mukallaf terhadap kesiapan mereka untuk menerima 
perubahan suatu hukum kepada yang lain, dan keridho'an mereka 
terhadap hal tersebut. 

4. Ujian bagi para mukallaf untuk menegakkan tugas bersyukur jika naskh 
itu kepada hukum yang lebih ringan, dan tugas untuk bersabar jika naskh 
itu kepada hukum yang lebih berat. 



■H- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



AL-AKHBAR 

DEFINISI KHOBAR : 

Khobar (j)ii-t) secara bahasa : berita (MO- 
Yang dimaksud di sini adalah : 

"Apa-apa yang disandarkan kepada Nabi shoUallohu alaihi wa sallam dan 
perkataan atau perbuatan atau taqhr atau sifat." 

Dan telah berlalu penjelasan tentang ahkam lebih dari sekali. 

Adapun perbuatan, maka sesungguhnya perbuatan RosuUuUoh shoUallohu 
alaihi wa sallam ada beberapa macam : 

Yang pertama : yang dilakukannya berupa kebiasaan, seperti makan, 
minum, dan tidur, maka secara dzatnya perbuatan ini tidak ada hukumnya, 
akan tetapi terkadang perbuatan yang sifatnya kebiasaan tersebut 
diperintahkan atau dilarang karena suatu sebab, dan terkadang memiliki sifat 
yang dituntut seperti makan dengan tangan kanan, atau larangan seperti 
makan dengan tangan kiri. 

Yang kedua : apa yang dilakukan sesuai dengan adat, seperti sifat 
pakaian maka hal ini mubah dalam batasan dzatnya, dan terkadang hal 
tersebut diperintahkan atau dilarang karena suatu sebab. 



-[ir> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Yang ketiga : apa yang dilakukan Nabi shoUallohu alaihi wa sallam dalam 
bentuk khushushiyyah (kekhususan), maka hal itu khusus bagi beliau, seperti 
puasa wishol dan nikah dengan menghibahkan diri. 

Dan tidaklah sesuatu perbuatan dihukumi dengan khushushiyyah kecuali 
dengan dalil (yang menunjukkan bahwa hal tersebut adalah kekhususan 
beliau, pent), karena hukum asalnya adalah mengikutinya. 

Yang keempat : apa yang dilakukan Nabi shoUallohu alaihi wa sallam 
secara ta'abbudi, maka ini wajib bagi beliau sampai perbuatan tersebut 
disampaikan karena wajibnya menyampaikan, kemudian hukumnya menjadi 
mandub (mustahab/sunnah, pent) bagi beliau dan bagi kita berdasarkan 
perkataan yang rojih, hal tersebut dikarenakan bahwa perbuatan beliau yang 
ta'abuddiyah menunjukkan atas disyari'atkannya perbuatan tersebut, dan 
pada asalnya tidak ada dosa bagi yang meninggalkannya, maka perbuatan itu 
disyari'atkan dan tidak ada dosa dalam meninggalkannya, ini adalah hakikat 
mandub. 

Contoh dari hal tersebut adalah : hadits Aisyah rodhiyallohu anha 
bahwasanya dia ditanya tentang dengan apa Nabi shoUallohu alaihi wa sallam 
memulai masuk rumahnya? la berkata : "dengan siwak', tidaklah siwak ketika 
masuk rumah kecuali hanya sekedar perbuatan beliau, maka perbuatan 
tersebut menjadi mandub. 

Contoh yang lain adalah : Nabi shoUallohu alaihi wa sallam menyela- 
nyela jenggotnya di dalam berwudhu. Maka menyela-nyela jenggot tidak 
masuk dalam membasuh wajah, sehingga hal ini menjadi penjelas terhadap 
sesuatu yang mujmal dan hanya saja hal tersebut sekedar perbuatan beliau, 
maka perbuatan tersebut adalah mandub. 



HID- 



Ushul Fiqih (AiiJi Jj-^i) 



Yang kelima : apa-apa yang dilakukan beliau sebagai penjelas dari 
kemujmalan (keumuman) nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah, maka perbuatan 
tersebut wajib atas beliau sampai perbuatan tersebut dijelaskan karena 
wajibnya menyampaikannya, kemudian hukum nash tersebut menjadi 
mubayyan bagi beliau dan bagi kita, jika hukumnya wajib maka perbuatan 
tersebut hukumnya wajib dan jika hukumnya mandub maka perbuatan 
tersebut hukumnya mandub. 

Contoh yang wajib adalah : perbuatan-perbuatan dalam sholat yang 
sifatnya wajib yang Nabi shoUallohu alaihi wa sallam melakukannya sebagai 
penjelas terhadap firman Alloh ta'ala : 

"Dan dirikanlah sholat" [QS. Al-Baqoroh : 43] 

Dan contoh yang mandub : sholatnya Nabi shoUallohu alaihi wa sallam 
dua rokaat di belakang maqom Ibrohim setelah selesai dari thowaf sebagai 
penjelas firman Alloh ta'ala : 



"^Ji^ («tf*'jll f ^ °cy 'j-i^'O 



"Dan jadikanlah sebagian maqom Ibrahim tempat shalat." [QS. Al- 
Baqoroh : 125] 

Yang mana Nabi shoUallohu alaihi wa sallam mendatangi maqom Ibrohim 
dan beliau membaca ayat ini, maka sholat dua roka'at di belakang maqom 
Ibrohim adalah sunnah. 



-[lO- 



Ushul Fiqih (AiiJi Jj-^i) 



Adapun taqhr (persetujuan) Nabi ShoUallohu alaihi wa sallam atas 
sesuatu maka hal tersebut menunjukkan atas bolehnya perbuatan itu dari sisi 
yang beliau setujui, baik berupa perkataan ataupun perbuatan. 

Contoh persetujuan beliau atas perkataan : persetujuan beliau terhadap 
seorang budak wanita yang beliau bertanya kepadanya : "Dimana Alloh?" ia 
berkata : "Di atas langit". 

Contoh persetujuan beliau atas perbuatan adalah : persetujuan beliau 
terhadap orang yang ikut berperang yang membaca Al-Qur'an dalam sholatnya 
untuk teman-temannya kemudian ia mengakhirinya dengan bacaan: " lJj\ >i ji 
::u>i" [QS. Al-lkhlash : 1], maka Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkata : 
"bertanyalah kepadanya, kenapa ia melakukannya?" kemudian para shohabat 
menanyainya, maka ia menjawab : "karena dalam ayat tersebut ada sifat Ar- 
Rohman dan aku senang membacanya" Lalu Nabi shollallohu alaihi wa sallam 
berkata : "kabarkan kepadanya bahwa Alloh mencintainya". 

Contoh yang lain : persetujuan beliau terhadap orang-orang Habasyah 
yang bermain-main di masjid, dengan tujuan man-ta'/Z/mereka kepada Islam. 

Adapun perbuatan-perbuatan yang terjadi di zaman beliau shollallohu 
alaihi wa sallam dan tidak diketahuinya maka hal tersebut tidak dinisbatkan 
kepada beliau, tetapi hal itu sebagai hujjah atas taqhr Alloh terhadap 
perbuatan tersebut, dan oleh karena itu para sahabat rodhiyallohu anhum 
berdalil atas bolehnya melakukan 'azl dengan pendiaman Alloh terhadap 
mereka atas hal itu. Jabir rodhiyallohu anhu berkata : 



-[|4>i 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



"Dahulu kami melakukan 'azl sedangkan Al-Qur'an sedang diturunkan" 
[Muttafaqun alaihi]. 

Muslim menambahkan : berkata Sufyan : Seandainya sesuatu itu dilarang 
maka Al-Qur'an sungguh akan melarang kami melakukannya. 

Dan yang menunjukkan bahwa pendiaman Alloh (terhadap suatu 
perbuatan) merupakan hujjah adalah perbuatan-perbuatan mungkar yang 
disembunyikan oleh orang-orang munafiq, Alloh ta'ala menjelaskannya dan 
mengingkarinya, maka ini menunjukkan bahwa apa yang didiamkan oleh Alloh 
hukumnya adalah boleh. 

Pembagian khobar ditinjau dari sisi kepada siapa penyandarannya : 

Khobar ditinjau dari penyandarannya dibagi menjadi tiga bagian : marfu', 
mauquf, dan maqtu'. 

1. Marfu' (^j_9>(): Apa yang disandarkan kepada Nabi shoUallohu alaihi wa 
sallam secara hakiki atau secara hukum. 

Marfu' secara hakiki adalah : sabda Nabi shoUallohu alaihi wa sallam, 
perbuatan dan toqr/rnya/persetujuannya. 

Marfu' secara hukum adalah : apa yang disandarkan kepada sunnah beliau 
shoUallohu alaihi wa sallam, zamannya, dan yang semisalnya yang tidak 
menunjukkan secara langsung dari beliau. 



-[lO- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Dan di antaranya adalah perkataan sahabat : "kami dipehntahkan" atau 
"kami dilarans atau yang semisalnya. Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas 
rodhiyallohu anhuma : 

"Telah dipehntahkan kepada manusia agar mengakhiri ibadah hajinya 
(dengan thowaf, pent) di BaituUoh, namun diberi kelonggaran bagi wanita 
haidh." 

Dan perkataan Ummu Athiyah : 

"Kami dilarang untuk mengiringi jenazah, namun tidak dikeraskan atas kami" 

2. /Aauquf {'^^p): apa-apa yang disandarkan kepada shohabat dan tidak tetap 
baginya hukum marfu'. Dan ini merupakan hujjah berdasarkan pendapat yang 
rojih, kecuali jika menyelisihi nash atau perkataan shohabat yang lain, jika 
menyelisihi nash maka diambil nashnya, dan jika menyelisihi perkataan 
shohabat yang lain maka diambil yang rojih di antara keduanya. 

Shohabat adalah : orang yang berkumpul bersama Nabi shoUallohu alaihi 
wa sallam dalam keadaan beriman kepada beliau dan meninggal dalam 
keadaan beriman. 

3. Maqtu' {^j-M.\): apa-apa yang disandarkan kepada tabi'in dan yang setelah 
mereka. 



■S- 



Ushul Fiqih (AiiJi Jj-^i) 



Tabi'in adalah : orang yang berkumpul bersama shohabat dalam keadaan 
beriman kepada RosuluUoh shoUallohu alaihi wa sallam dan meninggal dalam 
keadaan beriman. 

Pembagian khobar ditinjau dari jalan-jalannya : 

Khobar ditinjau dari jalan-jalannya dibagi menjadi : mutawatir dan ahad. 

1. Mutawatir : apa-apa yang diriwayatkan oleh banyak rowi, yang secara 
adat mustahil bagi mereka bersepakat dengan sengaja dalam kebohongan dan 
menyandarkannya kepada sesuatu yang dapat dirasakan. 

Contohnya adalah sabda Nabi shoUallohu alaihi wa sallam : 



juJi ^ oiA*£« Ij^slli \>Ux!j> |Up L)iS' °J» 



"Barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka ambillah 
tempat duduknya di neraka." 

2. Ahad : apa-apa yang selain mutawatir (yakni tidak sampai derajat 
mutawatir, pent). 

Dan dari segi tingkatannya hadits ahad terbagi menjadi tiga bagian : 
shohih, hasan, dan dho'if. 

Shohih : apa yang dinukil oleh rowi yang 'adl, sempurna 
d/?oi)7t/hapalannya, dengan sanad yang bersambung, terlepas dari sifat syadz 
dan 'illah yang merusak. 



HID- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Hasan : apa yang dinukil oleh rowi yang 'adl, dhobitnya ringan, dengan 
sanad yang bersambung, terlepas dari sifat syadz dan 'Ulah yang merusak. 
Dan bisa naik ke derajat shohih jika jalannya berbilang (lebih dari satu, pent) 
dan dinamakan shohih li shoihhi. 

Dho'if : yang tidak memenuhi syarat hadits shohih dan hasan. 

Dan bisa naik ke derajat hasan jika jalannya berbilang (yakni jika 
kedhoifannya muhtamal/ ringan, pent), yang saling menguatkan satu sama 
lain dan dinamakan hasan 11 ghoirihi. 

Dan semua jenis hadits ini merupakan hujjah kecuali hadits dho'if, maka 
ia bukan hujjah akan tetapi tidak mengapa menyebutkannya sebagai 
syawahid dan yang semisalnya. 

BENTUK-BENTUK PENYAMPAIAN : 
Dalam hadits terdapat pengambilan dan penyampaian. 
Pengambilan (J-^Jt): mengambil hadits dari orang lain. 
Penyampaian (^tiSli): menyampaikan hadits kepada orang lain. 

Penyampaian memiliki bentuk-bentuk, di antaranya : 

1. Haddatsani (ci^-^^) / "telah menceritakan kepadaku": yang syaikhnya 
membacakan hadits kepadanya. 



■a- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



2. Akhbaroni (iij^^i) / "telah mengabarkan kepadaku": yang syaikhnya 
membacakan hadits kepadanya, atau dia yang membacakan kepada 
syaikhnya. 

3. Akhbaroni ijazatan (jjl^j ^j^j'i) / "telah mengabarkan kepadaku dengan 
ijazah" atau ajaza 11 (^ j\^'s) I "telah memberikan kepadaku ijazah " : yang 
meriwayatkan dengan ijazah (tertulis, pent) tanpa membacakan. 

Dan ijazah : izin yang diberikan syaikh kepada muridnya untuk 
meriwayatkan darinya apa-apa yang telah diriwayatkannya, walaupun 
bukan dengan jalan pembacaan. 

4. An'anah (ia«Ji): meriwayatkan hadits dengan lafadz 'an (o^) I "dari". 

Dan hukum 'an'anah adalah bersambung sanadnya, kecuali dari orang yang 
ma'ruf dengan sifat tadlis, maka sanadnya tidak dihukumi bersambung 
kecuali ia menegaskan dengan lafadz tahdits. 

Dan pembahasan tentang masalah hadits dan riwayatnya banyak jenisnya 
dalam ilmu mustholah, dan yang telah kami isyaratkan sudah mencukupi 
insyaAUoh ta'ala. 



4IE^ 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



IJAAA' 

DEFINISINYA : 

Ijma' secara bahasa : (juii-iHj j.j«J\) Niat yang kuat dan Kesepakatan. 
Dan secara istilah : 

"Kesepakatan para mujtahid ummat ini setelah wafatnya Nabi Shallallahu 
'alaihi wa sallam terhadap suatu hukum syar'i. " 

Maka keluar dari perkataan kami : (jljji) "kesepakatan" : adanya khilaf 
walaupun dari satu orang, maka tidak bisa disimpulkan sebagai ijma'. 

Dan keluar dari perkataan kami : (^-i-^^) "Para mujtahid" : Orang awam 
dan orang yang bertaqlid, maka kesepakatan dan khilaf mereka tidak 
dianggap. 

Dan keluar dari perkataan kami : (a—oSii 8J_j») "Ummat ini" : Ijma' selain 
mereka (ummat Islam), maka ijma' selain mereka tidak dianggap. 

Dan keluar dari perkataan kami : (^j ^As-kJ^^s a«j) "Setelah wafatnya 
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : Kesepakatan mereka pada zaman Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka tidak dianggap sebagai ijma' dari segi 
keberadaannya sebagai dalil, karena dalil dihasilkan dari sunnah nabi 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Shallallahu 'alaihi wa sallam baik dari perkataan atau perbuatan atau taqhr 
(persetujuan), oleh karena itu jika seorang shahabat berkata : "Dahulu kami 
melakukan", atau "Dahulu mereka melakukan seperti ini pada zaman Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam ", maka hal itu marfu' secara hukum, tidak 
dinukil sebagai ijma'. 

Dan keluar dari perkataan kami : (^j—^ f^ J^) "terhadap hukum syar'i" : 
Kesepakatan mereka dalam hukum akal atau hukum kebiasaan, maka hal itu 
tidak termasuk disini, karena pembahasan dalam masalah ijma' adalah seperti 
dalil dari dalil-dalil syar'i. 

Ijma merupakan hujjah, dengan dalil-dalil diantaranya : 

1 . Firman Allah : 

"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat 
yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia." 
[QS. Al-Baqoroh : 143] 

Maka firmanNya : "Saksi atas manusia", mencakup persaksian terhadap 
perbuatan-perbuatan mereka dan hukum-hukum dari perbuatan mereka, dan 
seorang saksi perkataannya diterima. 

2. Firman Allah : 






Ushul Fiqih (AiiJi Jj-^i) 



"Jika kalian berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan 
Rasul-Nya." [QS. An-Nisa' : 59] 

Menunjukkan atas bahwasanya apa-apa yang telah mereka sepakati adalah 
benar. 

3. Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam: 

"Umatku tidak akan bersepakat diatas kesesatan" 

4. Kami mengatakan : Ijma' umat atas sesuatu bisa jadi benar dan bisa jadi 
salah, jika benar maka ia adalah hujjah, dan jika salah maka bagaimana 
mungkin umat yang merupakan umat yang paling mulia disisi Allah sejak 
zaman Nabinya sampai hari kiamat bersepakat terhadap suatu perkara yang 
batil yang tidak diridhoi oleh Allah? Ini merupakan suatu kemustahilan yang 
paling besar. 

MACAM-MACAM IJMA' : 

Ijma' ada dua macam : Qoth'i dan Dzonni. 

1. Ijma' Qoth'i : Ijma' yang diketahui keberadaannya di kalangan umat ini 
dengan pasti, seperti ijma' atas wajibnya sholat lima waktu dan haramnya 
zina. Ijma' jenis ini tidak ada seorangpun yang mengingkari ketetapannya dan 
keberadaannya sebagai hujjah, dan dikafirkan orang yang menyelisihinya jika 
ia bukan termasuk orang yang tidak mengetahuinya. 



Hjolh 



Ushul Fiqih (AiiJi Jj-^i) 



2. Ijma' Dzonni : Ijma' yang tidak diketahui kecuali dengan dicari dan 
dipelajari [tatabbu & istiqro'). Dan para ulama telah berselisih tentang 
kemungkinan tetapnya ijma' jenis ini, dan perkataan yang paling rojih dalam 
masalah ini adalah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang mengatakan 
dalam Al-Aqidah Al-Wasithiyyah : "Dan ijma' yang bisa diterima dengan pasti 
adalah ijma'nya as-salafush-sholeh, karena yang setelah mereka banyak 
terjadi ikhtilaf dan umat ini telah tersebar." 

Ketahuilah bahwasanya umat ini tidak mungkin bersepakat untuk 
menyelisihi suatu dalil yang shohih dan shorih serta tidak mansukh karena 
umat ini tidaklah bersepakat kecuali diatas kebenaran. Dan jika engkau 
mendapati suatu ijma' yang menurutmu menyelisihi kebenaran, maka 
perhatikanlah! Mungkin dalilnya yang tidak shohih atau tidak shorih atau 
mansukh atau masalah tersebut merupakan masalah yang diperselisihkan 
yang kamu tidak mengetahuinya. 

SYARAT-SYARAT IJMA' : 

Ijma' memiliki syarat-syarat, diantaranya : 

1. Tetap melalui jalan yang shohih, yaitu dengan kemasyhurannya 
dikalangan 'ulama atau yang menukilkannya adalah orang yang tsiqoh dan 
luas pengetahuannya. 

2. Tidak didahului oleh khilaf yang telah tetap sebelumnya, jika didahului 
oleh hal itu maka bukanlah ijma' karena perkataan tidak batal dengan 
kematian yang mengucapkannya. 



HjoLh 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Maka ijma' tidak bisa membatalkan khilaf yang ada sebelumnya, akan 
tetapi ijma' bisa mencegah terjadinya khilaf. Ini merupakan pendapat yang 
rojih karena kuatnya pendalilannya. Dan dikatakan : tidak disyaratkan yang 
demikian, maka bisa ditetapkan atas salah satu pendapat yang ada 
sebelumnya pada masa berikutnya, kemudian ia menjadi hujjah bagi ummat 
yang setelahnya. Dan menurut pendapat jumhur, tidak disyaratkan berlalunya 
zaman orang-orang yang bersepakat, maka ijma' ditetapkan dari ahlinya 
(mujtahidin) hanya dengan kesepakatan mereka (pada saat itu juga, pent) 
dan tidak boleh bagi mereka atau yang selain mereka menyelisihinya setelah 
itu, karena dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ijma' adalah hujjah, tidak 
ada padanya pensyaratan berlalunya zaman terjadinya ijma' tersebut. Karena 
ijma' dihasilkan pada saat terjadinya kesepakatan mereka, maka apa yang 
bisa membatalkannya? 

Dan jika sebagian mujtahid mengatakan sesuatu perkataan atau 
mengerjakan suatu pekerjaan dan hal itu masyhur di kalangan ahlul Ijtihad 
dan tidak ada yang mengingkarinya dengan adanya kemampuan mereka untuk 
mengingkari hal tersebut, maka dikatakan : hal tersebut menjadi ijma', dan 
dikatakan : hal tersebut menjadi hujjah bukan ijma', dan dikatakan : bukan 
ijma' dan bukan pula hujjah, dan dikatakan : jika masanya telah berlalu 
sebelum adanya pengingkaran maka hal itu merupakan ijma', karena diam 
mereka (mujtahidin) secara terus-menerus sampai berlalunya masa padahal 
mereka memiliki kemampuan untuk mengingkari merupakan dalil atas 
kesepakatan mereka, dan ini merupakan pendapat yang paling dekat kepada 
kebenaran. 



HjKh 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Qiyas 

DEFINISINYA : 

Qiyas secara bahasa : Pengukuran (jiJJ^\) dan Penyamaan (stjuai). 
Secara istilah : 

"Menyamakan cabang dengan yang pokok {ashl) di dalam suatu hukum 
dikarenakan berkumpulnya sebab yang sama antara keduanya." 

Cabang (^yJi) : yang diqiyaskan (^^^0- 

Pokok/ash/ (J^^O : yang diqiyaskan kepadanya [tJs. ^s). 

Hukum (^i) : 

"Apa yang menjadi konsekuensi dalil syar'i dari yang wajib atau harom, 
sah atau rusak, atau yang selainnya." 

Sebab/lllah (swi) : 

"Sebuah makna dimana hukum ashl ditetapkan dengan sebab tersebut." 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Ini merupakan empat rukun qiyas, dan qiyas merupakan salah satu dalil 
yang hukum-hukum syar'i ditetapkan dengannya. 

Dan sungguh al-Kitab, as-Sunnah dan perkataan sahabat telah menunjuk- 
kan dianggapnya qiyas sebagai dalil syar'i. Adapun dalil-dalil dari al-Kitab : 

1 . Firman Alloh ta'ala : 

"Allah-lah yang menurunkan al-Kitab dengan (membawa) kebenaran dan 
(menurunkan) mizan." [QS. Asy-Syuuro : 17] 

Mizan/timbangan (oij—jV) adalah sesuatu yang perkara-perkara ditimbang 
dengannya dan diqiyaskan dengannya. 

2. Firman Alloh ta'ala : 

aJuM (ji^ Jjl \j\Jj US' 

"Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami 
akan mengulanginya" [QS. Al-Anbiya : 104] 

J M JP°J^^ 'M ^^ss^^ '•^ '^. ^J\ a^^il^ blkli 'jisi r\fj>^ Jl-jl t^iil llilj 

"Dan Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan 
awan, maka Kami halau awan itu kesuatu negeri yang mati lalu Kami 
hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan 
itu." [QS. Fathir : 9] 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



AUoh ta'ala menyerupakan pengulangan penciptaan dengan 
permulaannya, dan menyerupakan menghidupkan yang mati dengan 
menghidupkan bumi, ini adalah qiyas. 

Di antara dalil-dalil sunnah : 

1 . Sabda Nabi shoUallohu alaihi wa sallam kepada seorang wanita yang 
bertanya kepadanya tentang berpuasa untuk ibunya setelah meninggal : 

JlJ ^ ^fu cSi "^i^ diji t^Sjj oisrf 4-4^ c^)> ^' J^ *^\^ °J cJ^ 

"Bagaimana pendapatmu jika ibumu memiliki hutang lalu kamu 
membayar-nya? Apakah hutang tersebut tertunaikan untuknya?" Dia 
menjawab : "Ya". Beliau bersabda : "Maka berpuasalah untuk ibumu." 

2. Bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi shoUallohu alaihi wa sallam 
lalu ia berkata : 

L^ii}]! u j\i °^ j\i "^jji [^ ^' Ja ju^ !S}i.f flip ^^ ojj Jji J/-3 u 
'j\i ijy As-y il^ 'j\i f^i Jl 'j\i °ftM 'j\i ^jj' [>« igj Ja 'j\i ^ 'j\i 

4PJJ liA ciii|l Jiii 

"Wahai Rosullulloh! Telah dilahirkan untukku seorang anak laki-laki yang 
berkulit hitam." Maka Nabi shoUallohu alaihi wa sallam berkata: "Apakah 
kamu memiliki unta? la menjawab: "Ya", Nabi berkata: "Apa saja warnanya?" 
la menjawab: "Merah", Nabi berkata: "Apakah ada yang berwarna keabu- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



abuan?" la menjawab: "Ya", Nabi berkata: "Mengapa demikian?" la menjawab: 
"Mungkin uratnya ada yang salah" Nabi berkata: "Mungkin juga anakmu ini 
terjadi kesalahan urat". 

Demikian ini seluruh contoh yang ada dalam kitab dan sunnah sebagai 
dalil atas kebenaran qiyas karena di dalamnya ada penganggapan sesuatu 
sama dengan yang semisalnya. 

Dan di antara dalil dari perkataan sahabat : Apa yang datang dari Amirul 
Mu'minin Umar bin Al-Khoththob dalam suratnya kepada Abu Musa Al-Asy'ari 
dalam hal pemutusan hukum, ia berkata : 

\^, s.lj M J,| \.^-^^\ i\,\ iSJ UJ J.0^1 f ii}\^H\ ^^jf'^j '■^'^ jj^^' 

"Kemudian fahamilah, fahamilah terhadap apa yang diajukan kepadamu, 
kepada apa yang datang kepadamu yang tidak ada dalam al-Qur'an dan as- 
Sunnah, kemudian qiyaskanlah perkara-perkara yang terjadi padamu tersebut 
dan ketahuilah persamaan-persamaannya, kemudian sandarkanlah pendapatmu 
itu kepada apa yang paling dicintai Alloh dan paling menyerupai kebenaran." 

Ibnul Qoyyim berkata : "dan ini adalah surat (dari Umar, pent) yang mulia 
yang telah diterima oleh para 'ulama". 

Dan Al-Muzani meriwayatkan bahwa para ahli fiqih sejak zaman sahabat 
sampai zaman beliau telah bersepakat bahwa penyamaan dengan yang benar 



HjoLh 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



adalah benar dan penyamaan dengan yang bathil adalah bathil, dan mereka 
menggunakan qiyas-qiyas dalam fiqh dalam seluruh hukum-hukum. 

SYARAT-SYARAT QIYAS : 

Qiyas memiliki syarat-syarat di antaranya : 

1. Tidak bertentangan dengan dalil yang lebih kuat darinya, maka tidak 
dianggap qiyas yang bertentangan dengan nash atau ijma' atau perkataan 
shohabat jika kita mengatakan bahwa perkataan shohabat adalah hujjah. Dan 
qiyas yang bertentangan dengan apa yang telah disebutkan dinamakan 
sebagai anggapan yang rusak [j^-^'i'^ J-^i). 

Contohnya : dikatakan : bahwa wanita rosyidah (baligh, berakal, dan bisa 
mengurus diri sendiri, pent) sah untuk menikahkan dirinya sendiri tanpa wali, 
diqiyaskan kepada sahnya ia berjual-beli tanpa wali. 

Ini adalah qiyas yang rusak karena menyelisihi nash, yaitu sabda Nabi 
shoUallohu alaihi wa sallam : 

"Tidak ada nikah kecuali dengan wali." 

2. Hukum ash/-nya tsabit (tetap) dengan nash atau ijma'. Jika hukum ash/-nya 
itu tetap dengan qiyas maka tidak sah mengqiyaskan dengannya, akan tetapi 
diqiyaskan dengan ashl yang pertama, karena kembali kepada ashl tersebut 
adalah lebih utama dan juga karena mengqiyaskan cabang kepada cabang 
lainnya yang dijadikan ashl kadang-kadang tidak shohih. Dan karena 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



mengqiyaskan kepada cabang, kemudian mengqiyaskan cabang kepada ashl; 
menjadi panjang tanpa ada faidah. 

Contohnya : dikatakan riba berlaku pada jagung diqiyaskan dengan beras, 
dan berlaku pada beras diqiyaskan dengan gandum, qiyas yang seperti ini 
tidak benar, akan tetapi dikatakan berlaku riba pada jagung diqiyaskan 
dengan gandum, agar diqiyaskan kepada ashl yang tetap dengan nash. 

3. Pada hukum ashl terdapat 'illah (sebab) yang diketahui, agar 
memungkinkan untuk dijama' antara ashl dan cabang padanya. Jika hukum 
ashl-nya adalah perkara yang murni ta'abbudi (peribadatan yang tidak 
diketahui 'illah-nya, pent), maka tidak sah mengqiyaskan kepadanya. 

Contohnya : dikatakan daging burung unta dapat membatalkan wudhu 
diqiyaskan dengan daging unta karena kesamaan burung unta dengan unta, 
maka dikatakan qiyas seperti ini adalah tidak benar karena hukum ashl-nya 
tidak memiliki 'illah yang diketahui, akan tetapi perkara ini adalah murni 
ta'abbudi berdasarkan pendapat yang masyhur (yakni dalam madzhab al- 
Imam Ahmad rohimahulloh, pent). 

4. 'Illah-nya mencakup makna yang sesuai dengan hukumnya, yang penetapan 
'illah tersebut diketahui dengan kaidah-kaidah syar'i, seperti 'illah 
memabukkan pada khomer. 

Jika maknanya merupakan sifat yang paten (tetap) yang tidak ada 
kesesuaian/hubungan dengan hukumnya, maka tidak sah menentukan 'illah 
dengannya, seperti hitam dan putih. 



4TT0]- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Contohnya : Hadits Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma : bahwa Bariroh 
diberi pilihan tentang suaminya ketika ia dimerdekakan, Ibnu Abbas berkata : 
"suaminya ketika itu adalah seorang budak berkulit hitam". 

Perkataan beliau "hitam" merupakan sifat yang tetap yang tidak ada 
hubungannya dengan hukum, oleh karena itu berlaku hukum memilih bagi 
seorang budak wanita jika ia dimerdekakan dalam keadaan memiliki suami 
seorang budak walaupun suaminya itu berkulit putih, dan hukum tersebut 
tidak berlaku jika ia dimerdekakan dalam keadaan memiliki suami seorang 
yang merdeka walaupun suaminya itu berkulit hitam. 

5. 'lUah tersebut ada pada cabang sebagaimana 'Ulah tersebut juga ada dalam 
ashl, seperti menyakiti orang tua dengan memukul diqiyaskan dengan 
mengatakan "uf7"ah". Jika 'iUah (pada ashl, pent) tidak terdapat pada 
cabangnya maka qiyas tersebut tidak sah. 

Contohnya : dikatakan 'iUah dalam pengharoman riba pada gandum 
adalah karena ia ditakar, kemudian dikatakan berlaku riba pada apel dengan 
diqiyaskan pada gandum, maka qiyas seperti ini tidak benar, karena 'Ulah 
(pada ashl-nya, pent) tidak terdapat pada cabangnya, yakni apel tidak 
ditakar. 



4TTr> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



JENIS-JENIS QIYAS (^MJi ^uJi) 

Qiyas terbagi menjadi Qiyas Jali {'Jsr) dan Qiyas Khofi i^J>^)- 

1. Qiyas jali (jelas) adalah : yang tetap 'Ulahnya dengan nash atau ijma' atau 
dipastikan dengan menafikan perbedaan antara ashl dan cabangnya. 

Contoh yang 'iUah-nya tetap dengan nash : Mengqiyaskan larangan 
istijmar (bersuci dengan batu atau yang semisalnya, pent) dengan darah najis 
yang beku dengan larangan istijmar dengan kotoran hewan, maka 'iUah dari 
hukum ash/-nya tetap dengan nash ketika Ibnu Mas'ud rodhiyallohu anhu 
datang kepada Nabi shoUallohu alaihi wa sallam dengan dua batu dan sebuah 
kotoran hewan agar beliau beristinja' dengannya, kemudian beliau mengambil 
dua batu tersebut dan melempar kotoran hewan tersebut dan mengatakan : 
"Ini kotor (^j ti*)", dan (j^J^) adalah najis (^^^t)- 

Contoh yang 'illah-nya tetap dengan ijma' : Nabi shoUallohu alaihi wa 
sallam melarang seorang qodhi (hakim) memutuskan perkara dalam keadaan 
marah. 

Maka qiyas dilarangnya qodhi yang menahan kencing dari memutuskan 
perkara, terhadap larangan qodhi yang sedang marah dari memutuskan 
perkara merupakan qiyas jali karena 'illah ashl-nya tetap dengan ijma' yaitu 
adanya gangguan pikiran dan sibuknya hati. 

Contoh yang dipastikan 'illah-nya dengan menafikan perbedaan antara 
ashl dan cabangnya : Qiyas diharamkannya menghabiskan harta anak yatim 
dengan membeli pakaian, terhadap pengharoman menghabiskannya dengan 



4TT2> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



membeli makanan karena kepastian tidak adanya perbedaan antara 
keduanya. 

2. Qiyas khofi (samar) adalah : yang 'Ulah-nya tetap dengan istimbath 
(penggalian hukum) dan tidak dipastikan dengan menafikan perbedaan antara 
ashl dengan cabang. 

Contohnya : mengqiyaskan tumbuh-tumbuhan dengan gandum dalam 
pengharaman riba dengan 'illah sama-sama ditakar, maka penetapan 'Ulah 
dengan takaran tidak tetap dengan nash, tidak pula dengan ijma' dan tidak 
dipastikan dengan menafikan perbedaan antara ashl dan cabangnya. Bahkan 
memungkinkan untuk dibedakan antara keduanya, yaitu bahwa gandum 
dimakan berbeda dengan tumbuh-tumbuhan. 

QIYAS ASY-SYABH / KEMIRIPAN (^\ ^ls) 

Di antara Qiyas ada yang dinamakan dengan "Qiyas asy-Syabh" yaitu suatu 
cabang diragukan antara dua ashl yang berbeda hukumnya, dan pada cabang 
tersebut terdapat kemiripan dengan masing-masing dari kedua ashl tersebut, 
maka cabang tersebut digabungkan dengan salah satu dari kedua ashl 
tersebut yang lebih banyak kemiripannya. 

Contohnya : apakah seorang budak bisa memiliki dalam keadaan ia 
dimiliki dengan diqiyaskan kepada orang merdeka? atau dia tidak bisa 
memiliki dengan diqiyaskan kepada binatang ternak? 

Jika kita memperhatikan dua ashl ini, orang yang merdeka dan binatang 
ternak, kita dapati bahwa budak diragukan antara keduanya. Dari sisi bahwa 



4TT3> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



ia adalah seorang manusia yang berakal, ia diberi ganjaran, diberi siksaan, 
menikah dan menceraikan, yang ini mirip dengan orang merdeka. Dari sisi 
bahwa ia diperjual belikan, digadaikan, diwaqafkan, dihadiahkan, dijadikan 
sebagai warisan, tidak ditinggalkan begitu saja, dijaminkan dengan harga dan 
bisa digunakan, yang hal ini mirip dengan binatang ternak. Dan kami telah 
mendapatkan bahwa budak dari sisi penggunaan harta lebih mirip dengan 
binatang ternak maka hukumnya digabungkan dengannya. 

Jenis qiyas ini adalah lemah jika tidak ada antara cabang dan ash/-nya 
'Utah yang sesuai, hanya saja ia memiliki kemiripan dengan osh/-nya dalam 
kebanyakan hukumnya dengan keadaan diselisihi oleh ashl yang lain. 

QIYAS AL-'AKS/ KEBALIKAN (j^\ ^^) 

Di antara qiyas ada yang dinamakan dengan "Qiyas al-'Aks", yaitu : 
penetapan lawan hukum ashl untuk cabangnya, karena adanya lawan dari 
'Ulah hukum ashl pada cabang tersebut. 

Dan mereka (para ulama ahli ushul, pent) memberi contoh dengan sabda 
Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam : 

J ^4*— ^j 131 diJJL-^ <?jjj 4Jp OlTl ^\y j ^4*49j jJ i^Jjl" : J\i ^.yr\ 

"Dan pada persetubuhan salah seorang di antara kalian bernilai 
shodaqoh." Para sahabat berkata : "Wahai Rosululloh, apakah salah seorang 
dari kami menyalurkan syahwatnya lalu ia mendapat pahala karenanya?" 



^m]- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



RosuluUoh berkata : "Bagaimana menurut kalian jika ia menyalurkannya 
kepada yang harom, bukankah ia akan mendapat dosa? Demikian pula jika ia 
menyalurkannya kepada yang halal, maka ia akan mendapat pahala." 

Nabi shoUallohu alaihi wa sallam menetapkan untuk cabang yaitu 
persetubuhan yang halal sebagai pembatal hukum ashl yaitu persetubuhan 
yang haram, karena adanya pembatal 'iUah hukum ashl pada cabang tersebut, 
ditetapkan pahala untuk cabangnya karena ia adalah persetubuhan yang 
halal, sebagaimana pada ashl-nya ditetapkan dosa karena ia adalah 
persetubuhan yang haram. 



4TT?]- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



TA'ARUDH 

Definisinya : 

Ta'arudh secara bahasa : Saling berhadapan (J— !^0 dan saling menghalangi 

(jiUJl). 

Secara istilah : 

y-^\ Uf'wb-I UJ\3«r. <L^. jrJJ^l Jj^ 

"Saling berhadapannya dua dalil dari sisi salah satunya menyelisihi yang lain." 

Pembagian ta'arudh ada empat : 

Yang pertama : terjadi pada dua dalil yang umum, padanya ada empat 
kondisi : 

1. Mungkin umtuk dijama' antara keduanya, dari sisi masing-masing dalil 
tersebut bisa dibawa pada kondisi yang tidak bertentangan dengan yang lain, 
maka harus dijama'. 

Misalnya : Firman Alloh ta'ala kepada Nabi-Nya shoUallohu alaihi wa sallam : 

"Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan 
yang lurus." [QS. Asy-Syuuro' : 52] 

[JH] 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Dan finnan AUoh ta'ala : 

c4;;-f [y ^j^ "i all 

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang 
yang kamu kasihi." [QS. Al-Qoshosh : 56] 

Dan jama' antara keduanya adalah bahwa ayat yang pertama maksudnya 
adalah hidayatud dalalah (atau yang disebut hidayatul irsyad atau hidayatul 
bayan, pent) kepada al-haq, dan sifat ini tetap bagi Rosul shoUallohu alaihi 
wa sallam. 

Dan ayat yang kedua maksudnya adalah hidayatut taufiq untuk beramal, 
hidayatut taufiq ini di tangan AUoh ta'ala sedangkan RosuluUoh shoUallohu 
alaihi wa sallam dan yang selainnya tidak memilikinya. 

2. Jika tidak mungkin untuk dijama', maka dalil yang datang belakangan 
menjadi nasikh (yang menghapus hukum sebelumnya, pent) jika tarikhnya 
diketahui, sehingga dalil nasikh tersebut diamalkan sedangkan dalil yang 
datang lebih dulu {mansukh) tidak diamalkan. 

Misalnya : Firman AUoh ta'ala tentang puasa : 

lio "Jjf- \j^jlfi2 d\j 4J "J^ j^ \Jsf- f' jlai °j^ 

"Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka 
itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu 
mengetahui." [QS. Al-Baqoroh : 184] 



4TT7]- 



Ushul Fiqih (AiiJi Jj-^i) 



Ayat ini memberi faidah bolehnya memilih antara makan dan puasa 
dengan tarjih agar berpuasa. 

Dan firman AUoh ta'ala : 

"Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) 
di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa 
sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya 
berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain." 
[QS. Al-Baqoroh: 185] 

Menunjukkan bahwa puasa harus dilakukan bagi orang yang tidak sakit 
dan musafir dan mengqodho' sebagai kewajiban bagi keduanya (orang sakit 
dan musafir), akan tetapi ayat ini datang belakangan setelah ayat yang 
pertama tadi, sehingga ayat yang kedua adalah sebagai nasikh bagi ayat yang 
pertama sebagaimana yang demikian ditunjukkan oleh hadits Salamah bin al- 
Akwa' yang tetap dalam ash-Shohihain (shohih al-Bukhori dan Muslim, pent) 
dan yang selain keduanya. 

3. Jika tidak diketahui tarikh-nya, maka diamalkan dengan yang rojih, jika 
ada dalil yang merojihkan. 

Misalnya : Sabda beliau shoUallohu alaihi wa sallam : 



4TTi> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



"Barang siapa yang menyentuh kemaluannya, maka hendaklah ia 
berwudhu." 

Dan beliau shoUallohu alaihi wa saUam pernah ditanya tentang seseorang 
yang menyentuh kemaluannya, apakah ia harus berwudhu? Beliau menjawab : 

"Tidak, sesungguhnya (kemaluannya) itu adalah bagian dari tubuhmu". 

Maka dirojihkan dalil yang pertama karena pendapat ini lebih hati-hati 
dan juga karena hadits yang pertama tadi jalannya lebih banyak dan yang 
menshohihkannya juga lebih banyak, dan juga karena hadits pertama tadi 
memindahkan dari hukum asal, padanya terdapat tambahan ilmu. 

4. Jika tidak ada dalil yang merojihkan, maka wajib untuk tawaqquf 
(didiamkan), tetapi tidak didapatkan padanya contoh yang shohih. 

Yang kedua : Ta'arudh terjadi antara dua dalil yang khusus, dalam keadaan 
ini juga ada empat kondisi. 

1 . Mungkin untuk dijama' antara keduanya, maka wajib dijama'. 

Misalnya : hadits Jabir rodhiyallohu anhu tentang sifat haji Nabi 
shoUallohu alaihi wa sallam, bahwa Nabi shoUallohu alaihi wa sallam sholat 
dhuhur pada hari an-Nahr (idul adha, pent) di Mekkah[1], dan hadits Ibnu 
Umar rodhiyallohu anhuma bahwa Nabi shoUallohu alaihi wa sallam sholat 
dhuhur di Mina, maka dijama' antara keduanya bahwa beliau sholat dhuhur di 



4TT9]- 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Mekkah dan ketika keluar ke Mina beliau mengulangnya (sebagai tathowwu', 
pent) dengan para sahabat yang ada di sana. 

2. Jika tidak memungkinkan untuk dijama', maka dalil yang kedua (yang 
datangnya belakangan, pent) adalah sebagai nasikh jika diketahui tarikhnya. 

Misalnya : firman AUoh ta'ala : 

\—Xj> iULkJ l::^ \^j jAjyr\ c4jT j^\ '^\'y^ ^' di^-f b*! J^l <^\ U 
iiisllp oUij kiilp oUij iiillp llji j.\ii 

"Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu 
yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki 
yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan 
Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki- 
laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu." [QS 
Al-Ahzab : 50] 

Dan firman AUoh ta'aia : 

j^iU- llXpyS'S jJj r Oj' °cy 4>4^ S^ '^^ *ij ^^ "cy «-\^' "^ J^' *i 

"Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan 
tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain), 
meskipun kecantikannya menarik hatimu" [QS Al-Ahzab : 52] 

Maka ayat yang kedua adalah sebagai nasikh bagi ayat yang pertama 
menurut salah satu pendapat. 



HjIo> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



3. Jika tidak memungkinkan untuk dS-naskh, maka diamalkan dengan yang 
rojih jika ada dalil yang merojihkan. 

Misalnya : hadits Maimunah, bahwa Nabi shoUallohu alaihi wa sallam 
menikahinya ketika ia dalam keadaan halal (setelah selesai ihrom, pent). Dan 
hadits Ibnu Abbas bahwa Nabi shoUallohu alaihi wa sallam menikahi 
Maimunah dalam keadaan ia sedang ihrom. 

Maka yang rojih adalah hadits yang pertama, karena Maimunah adalah 
pelaku kisah tersebut dan ia lebih mengetahui tentang kisahnya, dan juga 
karena hadits Maimunah tersebut dikuatkan dengan hadits Abu Rofi' 
rodhiyallohu anhu : bahwa Nabi shoUallohu alaihi wa sallam menikahinya 
(Maimunah) ketika dalam keadaan halal, ia (Abu Rofi') berkata : 

"Ketika itu aku adalah perantara antara keduanya." 

4. Jika tidak ada dalil yang merojihkan, maka wajib ditawoqqu/kan 
(didiamkan) dan tidak ada pada keadaan ini contoh yang shohih. 

Yang ketiga : ta'arudh terjadi antara dalil yang umum dan dalil yang khusus, 
maka dalil yang umum dikhususkan dengan dalil yang khusus. 

Misalnya : sabda beliau shoUallohu alaihi wa sallam : 

"(Pertanian) yang diairi dengan hujan (zakatnya adalah) sepersepuluh." 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Dan sabda beliau : 

i^'jlfi ^^°^\ iLZ^ dji UlJ jj~^ 

"Tidak ada zakat pada (hasil pertanian) yang di bawah lima wisq". 

Maka hadits yang pertama dikhususkan dengan hadits yang kedua dan 
tidak diwajibkan zakat kecuali pada apa-apa yang sampai lima wisq. 

Yang keempat : ta'arudh terjadi antara 2 nash, yang salah satunya lebih 
umum daripada yang lain dari satu sisi, dan lebih khusus dari sisi lain. 

1 . Salah satu dalil bertindak sebagai pengkhusus dari keumuman salah satu 
dari kedua dalil tersebut, maka dikhususkan dengannya. 

Contohnya : firman Alloh ta'ala : 

"Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan 
isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) 
empat bulan sepuluh hari." [QS. al-Baqoroh : 234] 

Dan Firman-Nya: 

j^lX^ 2^i^, of 04^' JU^Oi o*ijij 

"Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu 'iddah mereka itu ialah 
sampai mereka melahirkan kandungannya." [QS. ath-Tholaq : 4] 



Hj^lh 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Ayat yang pertama bersifat khusus pada wanita yang ditinggal mati 
suaminya, dan bersifat umum pada wanita hamil dan yang selainnya. Ayat 
yang kedua bersifat khusus pada wanita hamil dan bersifat umum pada 
wanita yang ditinggal mati suaminya dan yang selainnya. Akan tetapi dalil 
menunjukkan pengkhususan keumuman ayat pertama dengan ayat kedua, 
yang demikian karena Subai'ah al-Aslamiyyah melahirkan semalam setelah 
kematian suaminya, maka Rosululloh sholallohu alaihi wa saUam 
mengizinkannya untuk menikah lagi. Dengan ini, maka masa 'iddah wanita 
hamil adalah sampai ia melahirkan, baik ia adalah wanita yang ditinggal mati 
suaminya atau yang selainnya. 

2. Jika tidak ada dalil yang bertindak sebagai pengkhusus dari keumuman 
salah satu dari kedua dalil tersebut, maka diamalkan dalil yang rojih. 

Contohnya : sabda beliau sholallohu alaihi wa sallam : 

^'^ '^„ Js- ^^: \ii a^r^i ^o^f ji^'i Til 

"Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, janganlah ia duduk 
sebelum ia sholat 2 roka'at." 



Dan sabda beliau : 



"Tidak ada sholat setelah sholat shubuh sampai terbitnya matahari, dan 
tidak ada sholat setelah sholat ashar sampai terbenamnya matahari." 



4I1> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Hadits yang pertama bersifat khusus pada tahiyyatul masjid dan bersifat 
umum dari sisi waktunya. Dan dalil yang kedua bersifat khusus pada waktu 
dan bersifat umum dari sisi jenis sholatnya, mencakup tahiyyatul masjid dan 
yang selainnya. Akan tetapi yang rojih adalah mengkhususkan keumumam 
hadits kedua dengan hadits pertama, maka boleh sholat tahiyyatul masjid 
pada waktu-waktu yang dilarang padanya untuk sholat secara umum, dan 
hanya saja kami merojihkan yang demikian karena pengkhususan keumuman 
hadits kedua telah tetap pada selain tahiyyatul masjid, seperti meng-qodho' 
sholat fardhu dan mengulang seholat jama'ah, sehingga menjadi lemahlah 
keumumannya. 

3. Dan jika tidak ada dalil dan tidak pula murojjih (dalil yang merojihkan) 
untuk mengkhususkan keumuman salah satu dari keduanya, maka wajib untuk 
mengamalkan kedua dalil tersebut pada apa-apa yang tidak terjadi 
pertentangan di dalamnya, dan tawaqquf (diam) pada bentuk yang kedua 
dalil tersebut saling bertentangan padanya. 

Akan tetapi tidak mungkin terjadi pertentangan antara nash-nash pada 
satu masalah dari sisi yang tidak mungkin untuk di-jama', atau di-naskh, atau 
ditarjih; karena nash-nash tidaklah saling membatalkan, dan Rosululloh 
shoUallohu alaihi wa saUam telah menjelaskan dan menyampaikan, akan 
tetapi terkadang yang demikian terjadi pada pendapat seorang mujtahid yang 
disebabkan keterbatasannya. Wallohu A'lam. 



4m^ 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



URUTAN Dl ANTARA DALIL-DALIL 

Jika dalil-dalil yang telah lalu (al-Qur'an, as-Sunnah, Ijma', dan Qiyas) 
sepakat atas suatu hukum atau salah satu dalil tersebut menyendiri tanpa ada 
yang menyelisihinya maka wajib untuk menetapkan hukumnya. Dan jika 
terjadi ta'arudh dan mungkin untuk dijama' maka wajib untuk dijama', 
seandainya tidak mungkin untuk dijama' maka dilakukan naskh jika telah 
sempurna syarat-syarat naskh tersebut. 

Dan jika tidak mungkin untuk dilakukannya naskh, maka wajib untuk 
ditarjih. 

Maka lebih diutamakan dalam al-Qur'an dan as-Sunnah : 

Nash daripada dzohir. 

Dzohir daripada mu'awwal. 

Manthuq (yang tersurat) daripada ma f hum (yang tersirat). 

Mutsbit (yang menetapkan) daripada nafi (yang meniadakan). 

Yang memindahkan dari hukum asal (j-<sSn ^p jiui) daripada yang tetap di 
atas hukum asal tersebut {j^^\ Jj-^\), karena pada yang memindahkan dari 
hukum asal terdapat tambahan ilmu. 

Keumuman yang mahfudz (yakni yang tidak terkhususkan) daripada yang 
tidak mahfudz. 

on 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Dalil yang memiliki sifat untuk diterima lebih banyak daripada dalil yang 
memiliki sifat untuk diterima kurang darinya. 

Pelaku kejadian daripada yang selainnya. 

Dan didahulukan dalam ijma' : qoth'i daripada dzonni. 

Dan didahulukan dalam qiyas : jali daripada khofi. 



4J26^ 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



MUFTI DAN MUSTAFTI 

Mufti (^0 : 

"Orang yang mengabarkan/memberitahu suatu hukum syar'i." 
Mustafti (,s^^\) : 

"Orang yang bertanya tentang suatu hukum syar'i." 
SYARAT-SYARAT FATWA : 

Disyaratkan untuk bolehnya seseorang berfatwa dengan syarat: 

1 . Seorang IAuft\ mengetahui tentang suatu hukum dengan yakin atau dzonn 
rojih (persangkaan kuat), dan jika ia tidak mengetahui maka wajib 
baginya untuk tawaqquf. 

2. Pertanyaan digambarkan dengan sempurna (jelas), agar lebih kokoh 
dalam menghukuminya, karena "t^j^ ^ i^J ^^\ Jj. ^^s" (penentuan hukum 
atas sesuatu merupakan cabang dari penggambarannya). 



HjHh 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



Jika makna perkataan mustafti masih rancu bagi mufti maka ia 
bertanya kepada mustafti tentang pertanyaannya itu, jika pertanyaannya 
butuh untuk dirinci maka mufti minta agar pertanyaannya dirinci, atau ia 
yang menyebutkan jawabannya secara rinci. Jika ia ditanya tentang 
seseorang laki-laki yang mati meninggalkan anak perempuan, saudara 
laki-laki dan 'am syaqiq (paman/saudara laki-laki dari ayah yang se-ayah 
dan se-ibu, pent), maka mufti bertanya tentang saudara laki-laki 
tersebut, apakah ia se-ibu saja (Akh U Umm, pent) atau tidak? atau ia 
merinci dalam jawabannya; jika se-ibu saja maka tidak mendapat apa- 
apa, dan sisanya setelah bagian anak perempuan adalah untuk paman, 
dan jika saudara laki-laki tersebut tidak hanya se-ibu saja (yakni Akh 
Syaqiiq atau Akh 11 Abb, pent), maka sisa warisan setelah bagian anak 
perempuan adalah untuk saudara laki-laki tersebut. 

3. Seorang mufti dalam keadaan tenang sehingga ia mampu menggambarkan 
masalah dan menerapkannya pada dalil-dalil syar'i, maka janganlah 
seorang berfatwa dalam keadaan pikirannya sedang sibuk dengan marah, 
sedih, bosan atau yang selainnya. 

DISYARATKAN DALAM WAJIBNYA BERFATWA DENGAN SYARAT-SYARAT : 

1. Telah terjadinya kejadian yang ditanyakan tersebut, jika belum terjadi 
maka tidak wajib untuk berfatwa dikarenakan tidak mendesak, kecuali 
jika maksud penanya adalah untuk belajar maka tidak boleh bagi mufti 
untuk menyembunyikan ilmu, bahkan ia menjawabnya kapanpun penanya 
bertanya pada setiap keadaan. 



HjlLh 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



2. Dia tidak mengetahui kondisi penanya bahwa maksudnya bertanya adalah 
untuk berlebih-lebihan, atau mencari-cari rukhshoh, atau untuk 
mempertentangkan antara pendapat para 'ulama yang satu dengan yang 
lain, atau yang selainnya dari maksud-maksud yang buruk. Jika ia 
mengetahui hal tersebut dari kondisi penanya, maka ia tidak wajib 
berfatwa. 

3. Fatwa tersebut tidak menimbulkan mudhorot yang lebih besar, jika 
dengan fatwa tersebut akan timbul mudhorot yang lebih besar, maka ia 
wajib diam untuk menolak mafsadat yang lebih besar dengan yang lebih 
ringan. 

YANG DIHARUSKAN BAGI MUSTAFTI: 

Diharuskan 2 perkara bagi Mustafti: 

Yang pertama : ia menginginkan kebenaran dari pertanyaannya tersebut 
dan beramal dengannya, bukan untuk mencari-cari rukhshoh dan 
menyudutkan mufti, dan yang selain itu dari niat-niat yang buruk. 

Yang kedua : ia tidak meminta fatwa kecuali dari orang yang tahu, atau 
yang ia duga kuat bahwa orang itu mampu berfatwa. 

Dan selayaknya ia untuk memilih di antara 2 orang mufti yang lebih 
berilmu dan lebih waro', dan dikatakan : yang demikian adalah wajib. 



HjIEh 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



IJTIHAD 

DEFINISINYA : 

Ijtihad secara bahasa : 

"Mengerahkan kesunsguhan untuk memperoleh suatu perkara yang 
be rat." 

Secara istilah : 

"Mengerahkan kesungguhan untuk mengetahui suatu hukum syar'i. " 
Mujtahid : 

"Orang yang mengerahkan kesungguhannya untuk hat tersebut. " 

Syarat-syarat Ijtihad: 

Ijtihad memiliki syarat-syarat, di antaranya : 

1 . la mengetahui dalil-dalil syar'i yang dibutuhkan dalam ijtihadnya, seperti 
ayat-ayat hukum dan hadits-haditsnya. 



^l30> 



Ushul Fiqih (AiiJi Jj-^i) 



2. la mengetahui apa-apa yang berhubungan dengan keshohihan hadits dan 
kedho'ifannya, seperti mengetahui sanad-sanadnya dan para perowinya 
dan Iain-lain. 

3. la mengetahui nasikh dan mansukh dan tempat-tempat terjadinya ijma', 
sehingga ia tidak menghukumi dengan suatu hukum yang sudah mansukh 
atau menyelisihi ijma'. 

4. la mengetahui dalil-dalil yang diperselisihkan hukumnya dari 
pengkhususan, atau taqyid, atau yang semisalnya, sehingga ia tidak 
menghukumi dengan yang menyelisihi hal tersebut. 

5. la mengetahui bahasa ('Arab, pent), dan ushul fiqih yang berhubungan 
dengan penunjukkan-penunjukkan lafadz, seperti umum, khusus, 
muthlaq, muqoyyad, mujmal, mubayyan, dan yang semisal itu, sehingga 
ia menghukumi dengan apa yang menjadi konseskuensi penunjukkan- 
penunjukkan tersebut. 

6. la memiliki kemampuan untuk kokoh dalam menggali hukum-hukum (ber- 
istimbath) dari dalil-dalilnya. 

Dan ijtihad terkadang terbagi-bagi, terkadang pada satu bab dari bab-bab 
ilmu, atau pada satu permasalahan dari masalah-masalahnya. 

YANG HARUS DILAKUKAN SEORANG MUJTAHID: 

Seorang mujtahid harus mengerahkan kesungguhannya dalam mencari 
yang benar, kemudian menghukumi dengan apa yang nampak baginya, jika ia 
benar maka ia akan mendapat 2 ganjaran; ganjaran atas ijtihadnya dan 
ganjaran atas mendapatkan yang benar, karena dalam mendapatkan 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



kebenaran berarti ia telah menampakkan yang benar dan mengamalkannya. 
Dan jika ia salah maka ia mendapat satu ganjaran dan kesalahannya 
diampuni, berdasarkan sabda RosuluUoh shoUallohu alaihi wa saUam : 

"Jika seorang hakim menghukumi sesuatu dan berijtihad lalu benar, maka 
ia mendapat dua ganjaran. Dan jika ia menghukumi dan berijtihad lalu salah, 
maka ia mendapat satu ganjaran." 

Dan jika hukum tersebut belum nampak baginya, maka ia wajib untuk 
tawaqquf dan boleh baginya untuk bertaqlid ketika itu karena darurat. 



4I1> 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



TAQLID 

DEFINISINYA : 

Secara bahasa : 

"Meletakkan sesuatu di leher densan melUitkan padanya seperti tali kekang. " 

Secara istilah : 

a^rs^ 4Jj3 ^ ^ ^Ul 

"Mensikuti perkataan orang yang perkataannya bukan hujjah. " 

Keluar dari perkataan kami : (a-j^ 4_Jji j,^ ^) "orang yang perkataannya 
bukan hujjah" : ittiba' (mengikuti) Nabi sholallohu alaihi wa sallam, 
mengikuti ahlul ijma', dan mengikuti shahabat jika kita katakan bahwa 
perkataan shahabat tersebut adalah hujjah, maka mengikuti salah satu dari 
hal tersebut tidaklah dinamakan taqlid, karena hal ini merupakan ittiba' 
kepada hujjah. Akan tetapi terkadang disebut sebagai taqlid dari sisi majaz 
dan perluasan bahasa. 

TEMPAT-TEMPAT TERJADINYA TAQLID (j^\ ^^rY- 
Taqlid dapat terjadi dalam dua tempat : 



4I1> 



Ushul Fiqih (AiiJi Jj-^i) 



Yang pertama : seorang yang taqlid (muqoUid) adalah orang awam yang 
tidak mampu mengetahui hukum (yakni beir-istimbath dan istidlal, pent) 
dengan kemampuannya sendiri, maka wajib baginya taqlid. Berdasarkan 
firman AUoh sholallohu alaihi wa saUam : 



hjX}^ "i ^ h\ J'S\\ JaI IjjLli 



"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika 
kamu tidak mengetahui." [QS. an-Nahl : 43] 

Dan hendaknya ia mengikuti orang (yakni 'ulama, pent) yang ia dapati 
lebih utama dalam ilmu dan waro'(kehati-hatian)nya, jika hal ini sama pada 
dua orang ('ulama), maka hendaknya ia memilih salah seorang diantara 
keduanya. 

Yang kedua : terjadi pada seorang mujtahid suatu kejadian yang ia harus 
segera memutuskan suatu masalah, sedangkan ia tidak bisa melakukan 
penelitian maka ketika itu ia boleh taqlid. Sebagian 'ulama mensyaratkan 
untuk bolehnya taqlid : hendaknya masalahnya (yang ditaqlidi) bukan dalam 
ushuluddin (pokok agama/aqidah, pent) yang wajib bagi seseorang untuk 
meyakininya; karena masalah aqidah wajib untuk diyakini dengan pasti, dan 
taqlid hanya memberi faidah dzonn (persangkaan). 

Dan yang rojih (kuat) adalah bahwa yang demikian bukanlah syarat, 
berdasarkan keumuman firman AUoh sholallohu alaihi wa sallam : 



4Ili] 



Ushul Fiqih (AiiJi Jj-^i) 



"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika 
kamu tidak mengetahui." [QS. an-Nahl : 43] 

Ayat ini adalah dalam konteks penetapan kerosulan yang merupakan 
ushuluddin, dan karena orang awam tidak mampu untuk mengetahui (yakni 
ber-istimbath dan istidlal, pent) kebenaran dengan dalil-dalinya Maka jika ia 
memiliki udzur dalam mengetahui kebenaran, tidaklah tersisa (baginya) 
kecuali taqlid, berdasarkan firman AUoh sholallohu alaihi wa saUam : 

"Bertakwalah kepada AUoh semampu kalian. " [QS. at-Taghobun : 1 6] 

JENIS-JENIS TAQLID : 

Taqlid ada dua jenis : umum dan khusus. 

1 . Taqlid yang umum : seseorang berpegang pada suatu madzhab tertentu 
yang ia mengambil rukhshoh-rukhshohnya^ dan azimah-azimahnya^ dalam 
semua urusan agamanya. 

Dan para 'ulama telah berbeda pendapat dalam masalah ini. Diantara 
mereka ada yang berpendapat wajibnya hal tersebut dikarenakan 
(menurut mereka, pent) orang-orang muta-akhihn memiliki udzur (tidak 

^ Rukhshoh (Laf-Js) : ('u;;Jia« ji io^ii i'^^\S' ji«J\ iJ\^ ji>j-ei- ^^y^ JJoj c-3 u) " Apa-apa yang 
tetap dengan dalil syar'i yang khusus pada kondisi adanya udzur; seperti sholat sambil 
duduk atau berbaring". ^™' 

- Azitmh (Sj-joJi): (^'^ sVu^^s" ji»Ji *Ji^ j^ i^yi c-3 u) "Apa-apa yang tetap^erlaku secara 
syar'i, bukan dalam kondisi adanya udzur; seperti sholat sambil berdiri. p™' 

on 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



mampu, pent) untuk ber-ijtihad; diantara mereka ada yang berpendapat 
haramnya hal tersebut karena apa yang ada padanya dari keharusan yang 
mutlak dalam mengikuti orang selain Nabi sholallohu alaihi wa sallam. 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : "Sesungguhnya dalam 
pendapat yang mewajibkan taat kepada selain Nabi dalam segala 
perintah dan larangannya adalah menyelisihi ijma' dan tentang 
kebolehannya masih dipertanyakan." 

Beliau juga berkata : "Barangsiapa memegang suatu madzhab 
tertentu, lalu ia melaksanakan yang menyelisihi madzhabnya tanpa taqlid 
kepada 'ulama lain yang memberinya fatwa dan tanpa istidlal dengan 
dalil yang menyelisihinya, dan tanpa udzur syar'i yang menunjukkan 
halalnya perbuatan yang dilakukannya, maka ia adalah orang yang 
mengikuti hawa nafsunya, pelaku keharoman tanpa ada udzur syar'i, dan 
ini adalah mungkar. Adapun jika menjadi jelas baginya apa-apa yang 
mengharuskan adanya tarjih pendapat yang satu atas yang lainnya, baik 
dengan dalil-dalil yang terperinci jika ia tahu dan memahaminya, atau ia 
melihat salah seorang 'ulama yang berpendapat adalah lebih 'aalim (tahu) 
tentang masalah tersebut daripada 'ulama yang lain, yang mana 'ulama 
tersebut lebih bertaqwa kepada Alloh terhadap apa-apa yang 
dikatakannya, lalu orang itu rujuk dari satu pendapat ke pendapat lain 
yang seperti ini maka ini boleh, bahkan wajib dan al-lmam Ahmad telah 
menegaskan akan hal tersebut. 

Taqlid yang khusus : seseorang mengambil pendapat tertentu dalam 
kasus tertentu, maka ini boleh jika ia lemah/tidak mampu untuk 
mengetahui yang benar melalui ijtihad, baik ia lemah secara hakiki atau 
ia mampu tapi dengan kesulitan yang sangat. 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



FATWA SEORANG MUQOLLID (ORANG YANG BERTAQLID): 

AUoh sholallohu alaihi wa sallam berfirman: 

"Maka bertanyalah kepada orans yans mempunyai pensetahuan {/■Ji\ JJ»?) 
jika kamu tidak mensetahui." [QS. an-Nahl : 43] 

Dan ahludz dzikr (ji'i— it J-^?) mereka adalah ahlul ilmi, dan muqoUid 
bukanlah termasuk ahlul ilmi yang diikuti, akan tetapi ia hanya mengikuti 
orang lain. 

Abu Umar Ibnu Abdil Barr dan yang selainnya berkata: "Manusia telah ber- 
ijma' bahwa muqollid tidak terhitung sebagai ahli ilmu, dan bahwa ilmu 
adalah mengetahui kebenaran dengan dalilnya." Ibnul Qoyyim berkata: "Yang 
demikian sebagaimana dikatakan oleh Abu Umar, karena manusia tidak 
berbeda pendapat bahwa ilmu adalah pengetahuan yang dihasilkan dari dalil. 
Adapun jika tanpa dalil, maka ini adalah taqlid." Kemudian setelah itu Ibnul 
Qoyyim menyebutkan 3 pendapat tentang bolehnya fatwa dengan taqlid: 

Yang pertama: tidak boleh berfatwa dengan taqlid karena taqlid 
bukanlah ilmu, dan berfatwa tanpa ilmu adalah harom. Ini merupakan 
pendapat kebanyakan al-Ash'haab (yakni 'ulama Hanabilah, pent) dan 
kebanyakan (jumhur) Syafi'iyyah. 

Yang kedua : bahwa hal tersebut boleh dalam masalah yang berkaitan 
dengan dirinya sendiri, dan seseorang tidak boleh taqlid dalam masalah yang 
ia berfatwa dengannya kepada orang lain. 



41|7>i 



Ushul Fiqih (AiiJi Jj-^i) 



Yang ketiga : bahwa hal tersebut boleh ketika ada hajat (keperluan) dan 
tidak adanya seorang 'aalim mujtahid, pendapat ini merupakan pendapat 
yang paling benar dan pendapat ini dilakukan. Selesai perkataannya (Ibnul 
Qoyyim, pent). 

Dan dengan ini maka sempurnalah apa yang kami ingin menulisnya dalam 
kesempatan yang singkat ini, kita memohon kepada AUoh agar memberikan 
kepada kita petunjuk dalam perkataan dan perbuatan, dan menutup amal- 
amal kita dengan kesuksesan, sesungguhnya ia Maha Memberi dan Maha 
Pemurah, sholawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad dan 
keluarganya. 



HjiLh 



Ushul Fiqih (AAiJi Jj-^i) 



MAROJf 



al-Qpmus al-Muhith : al-Fairuz Abadi. 

al-Kaukabul Munir syarh Mukhtashor at-Tahhr : al-Futuhi. 

Minhaajul Ushul dan Syarahnya : matan oleh al-Baidhowi, pensyarahnya 
majhul bagi kami. 

Syarhu Jamil Jawami' wa Hasyiyatuhu : Syarah oleh al-Muhli dan 
Hasyiyah oleh al-Bunani. 

Roudhotun Nadzir dan syarahnya : pokok-nya oleh al-Muwaffiq, dan 
syarah oleh Abdul Qodir bin Badron. 

Hushulul Ma'mul min 'llmil Ushul : Muhammad Shiddiq. 

al-Madkhol ila Madzhabi Ahmad ibni Hanbal : Abdul Qodir bin Badron. 

Irsyadul Fuhul ila Tahqiqil Haq min llmil Ushul : asy-Syaukani. 

Fatawa Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah : penyusun : Abdurrahman bin 
Qosim. 

10. al-Muswaddah fi Ushulil Fiqh : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, ayah dan 
kakeknya. 

1 1 . Zaadul Ma'ad : Ibnul Qoyyim. 

12. I'lamul Muwaqqi'in : Ibnul Qoyyim. 



HjIEh