(navigation image)
Home American Libraries | Canadian Libraries | Universal Library | Community Texts | Project Gutenberg | Children's Library | Biodiversity Heritage Library | Additional Collections
Search: Advanced Search
Anonymous User (login or join us)
Upload
See other formats

Full text of "Laskar Pelangi (FULL Version)"

INDONESIA'S MOST POWERFUL BOOK 







7l 



* Andrei idabb seorang st?niman b Jta-Liti. 

— KilhiIj Hu-'niL-Li jnuliv Jj l,'.'iiJiH'i.t.L''iiirit»jlL'P'ltk; (IliJiJ' 



>n J r 



& > 



k i" r 3- 1 



"Ti&kk peinjh iij.i yvingbasaiinKngfltol 

ji i LLilus. Cmta yang mendafair 

menrwingi krhtdupan Dung biinyak * 

—KomjMi 




* fc 



inArw* 1 HmT^I-* 



ei#n 



~Di tcngah berbagai berita dan hnburen leilevisi lentang srknlali 
yaag uk f ukup i-it'i-iLtf 1 1 MifWasi daft spirit, rtuka buku ini adatah 

pilihan vwf BMBflk 6uku ini dlculis dals-ri semsnjat reafci 

krhidupan H?kal.".Ti i srbuah dunia tak1?rsrntu1\.sebuah Kmancat 

Ui.--i.riij unmk iumvt ddtai«l liuir-dnii-iie /<inu irib">-en[uli." 

— Qarki Nu jroh*. Sliuid 



anbrea hirata 

laskar fielangi 



ixtractei by panglima kumbang 



diuku ini kupersembahkan untuk 

guruku )bu Htuslimah Hafsari ian flapak Harfan £{{enty Hoor, 

sepuluh sahabat masa kecilku anggota Caskar (Pelangi. 



^Q^ZS^L^ 



"Ucafoan Terima TCasift 



UCAPAN terima kasih kusampaikan 
kepada Ally, Katja Kochling, Saskia de 
Rooij, Basuna Hamin, Cindy Riza 
Stella, Heldy Suliswan Hirata, Yan 
Sancin, Zaharudin, Roxane, Resval, 
Gatot Indra, Olan, Hazuan Seman Said, 
KA. Arizal Artan, Okin di Telkom 
Jember, dan terutama untuk Mas 
Gangsar Sukirnoa serta Mbak 
Suhindrati a. Shinta di Bentang 
Pustaka. 



Osi HZufci 



14 



Ucapan Terima Kasih 

Bab 1 Sepuluh Murid Baru 

Bab 2 Antediluvium 

Bab 3 Inisisasi 

Bab 4 Perempuan-Perempuan Perkasa 

Bab 5 The Tower Of Babel 

Bab 6 Gedong 

Bab 7 Zoom Out 

Bab 8 Center Of Excellence 

Bab 9 Penyakit Gila No. 5 

Bab 10 Bodenga 

Bab 1 1 Langit Ketujuh 

Bab 12 Mahar 

Bab 13 Jam Tangan Plastik Murahan 

Bab 14 Laskar Pelangi dan Orang-Orang Sawang 

Bab 15 Euforia Musim Hujan 

Bab 16 Puisi Surga dan Kawanan Burung Pelintang Pulau 



Bab 17 Ada Cinta di Toko Kelontong Bobrok Itu 

Bab 18 Moran 

Bab 19 Sebuah Kejahatan Terencana 

Bab 20 MiangSui 

Bab 21 Rindu 

Bab 22 Early Morning Blue 

Bab 23 Billitonite 

Bab 24 TukBayanTula 

Bab 25 Rencana B 

Bab 26 Be There or Be Damned! 

Bab 27 Detik-Detik Kebenaran 

Bab 28 Societeit de Limpai 

Bab 29 Pulau Lanun 

Bab 30 Elvis Has Left The Building 

Dua belas tahun kemudian 

Bab 31 ZaalBatu 
Bab 32 Agnostik 
Bab 33 Anakronisme 
Bab 34 Gotik 



"... and to every action there is always an equal and opposite 
or contrary, reaction ..." 

Isaac Newton, 1643-1727 






PAGI itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di 
depan sebuah kelas. Sebatang pohon filicium 1 tua yang riang mene- 
duhiku. Ayahku duduk di sampingku, memeluk pundakku dengan 
kedua lengannya dan tersenyum mengangguk-angguk pada setiap 
orangtua dan anak-anaknya yang duduk berderet-deret di bangku 
panjang lain di depan kami. Hari itu adalah hari yang agak penting: 
hari pertama masuk SD. 

Di ujung bangku-bangku panjang tadi ada sebuah pintu ter- 
buka. Kosen pintu itu miring karena seluruh bangunan sekolah 
sudah doyong seolah akan roboh. Di mulut pintu berdiri dua orang 
guru seperti para penyambut tamu dalam perhelatan. Mereka adalah 



1 Filicium (Filicium decipiens; fern tree; pohon kere/kiara/kerai payung; Ki Sabun): 
pohon yang termasuk familia Sapindaceae, disebut Ki Sabun karena seluruh bagian 
tubuhnya mengandung saponin atau zat kimia yang menjadi salah satu bahan dasar 
sabun. Pohon peneduh ini termasuk salah satu pohon yang dapat mengurangi polusi 
udara sampai 67%. 



Andrea Hirata 



seorang bapak tua berwajah sabar, Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, 
sang kepala sekolah dan seorang wanita muda berjilbab, Ibu N.A. 
Muslimah Hafsari atau Bu Mus. 

Seperti ayahku, mereka berdua juga tersenyum. 

Namun, senyum Bu Mus adalah senyum getir yang dipaksakan 
karena tampak jelas beliau sedang cemas. Wajahnya tegang dan 
gerak-geriknya gelisah. la berulang kali menghitung jumlah anak- 
anak yang duduk di bangku panjang. la demikian khawatir sehingga 
tak peduli pada peluh yang mengalir masuk ke pelupuk matanya. 
Titik-titik keringat yang bertimbulan di seputar hidungnya meng- 
hapus bedak tepung beras yang dikenakannya, membuat wajahnya 
coreng moreng seperti pemeran emban bagi permaisuri dalam Dul 
Muluk 2 , sandiwara kuno kampung kami. 

"Sembilan orang... baru sembilan orang Pamanda Guru, masih 
kurang satu...," katanya gusar pada bapak kepala sekolah. Pak 
Harfan menatapnya kosong. 

Aku juga merasa cemas. Aku cemas karena melihat Bu Mus 
yang resah dan karena beban perasaan ayahku menjalar ke sekujur 
tubuhku. Meskipun beliau begitu ramah pagi ini tapi lengan kasar- 
nya yang melingkari leherku mengalirkan degup jantung yang cepat. 
Aku tahu beliau sedang gugup dan aku maklum bahwa tak mudah 
bagi seorang pria beruisa empat puluh tujuh tahun, seorang buruh 
tambang yang beranak banyak dan bergaji kecil, untuk menyerahkan 
anak laki-lakinya ke sekolah. Lebih mudah menyerahkannya pada 



2 Dul Muluk: sandiwara orang Melayu, dipentaskan seperti ketoprak tapi pakemnya 
berbabak-babak, dalam Dul Muluk tak ada unsur musik sebagai bagian dari 
dramatisasi sandiwara. Temanya selalu tentang sesuatu yang berhubungan dengan 
kerajaan. Dul Muluk disebut Demulok dalam dialek Belitong atau sekadar Mulok saja. 



Seym fu fi Mu rid B a m 

tauke pasar pagi untuk jadi tukang parut atau pada juragan pantai 
untuk menjadi kuli kopra 3 agar dapat membantu ekonomi keluarga. 
Menyekolahkan anak berarti mengikatkan diri pada biaya selama 
belasan tahun dan hal itu bukan perkara gampang bagi keluarga ka- 
mi. 

"Kasihan ayahku. . ." 

Maka aku tak sampai hati memandang wajahnya. 

"Barangkali sebaiknya aku pulang saja, melupakan keinginan 
sekolah, dan mengikuti jejak beberapa abang dan sepupu-sepupuku, 
menjadi kuli..." 

Tapi agaknya bukan hanya ayahku yang gentar. Setiap wajah 
orangtua di depanku mengesankan bahwa mereka tidak sedang du- 
duk di bangku panjang itu, karena pikiran mereka, seperti pikiran 
ayahku, melayang-layang ke pasar pagi atau ke keramba 4 di tepian 
laut membayangkan anak lelakinya lebih baik menjadi pesuruh di 
sana. Para orangtua ini sama sekali tak yakin bahwa pendidikan 
anaknya yang hanya mampu mereka biayai paling tinggi sampai 
SMP akan dapat mempercerah masa depan keluarga. Pagi ini mere- 
ka terpaksa berada di sekolah ini untuk menghindarkan diri dari 
celaan aparat desa karena tak menyekolahkan anak atau sebagai 
orang yang terjebak tuntutan zaman baru, tuntutan memerdekakan 
anak dari buta huruf. 



3 Kopra: daging buah kelapa yang dikeringkan untuk membuat minyak kelapa. 

4 Keramba: keranjang atau kotak dari bilah bambu untuk membudidayakan ikan 
yang diletakkan di pinggir pantai, sungai, danau, atau bendungan; atau keranjang 
untuk mengangkut ikan, bentuknya lonjong, terbuat dari anyaman bambu dengan 
kerangka kayu, biasanya berlapis ter supaya kedap air. 



Andrea Hirata 

Aku mengenal para orangtua dan anak-anaknya yang duduk di 
depanku. Kecuali seorang anak lelaki kecil kotor berambut keriting 
merah yang meronta-ronta dari pegangan ayahnya. Ayahnya itu tak 
beralas kaki dan bercelana kain belacu. Aku tak mengenal anak 
beranak itu. 

Selebihnya adalah teman baikku. Trapani misalnya, yang duduk 
di pangkuan ibunya, atau Kucai yang duduk di samping ayahnya, 
atau Syahdan yang tak diantar siapa-siapa. 

Kami bertetangga dan kami adalah orang-orang Melayu Beli- 
tong dari sebuah komunitas yang paling miskin di pulau itu. Ada- 
pun sekolah ini, SD Muhammadiyah, juga sekolah kampung yang 
paling miskin di Belitong. Ada tiga alasan mengapa para orangtua 
mendaftarkan anaknya di sini. Pertama, karena sekolah Muham- 
madiyah tidak menetapkan iuran dalam bentuk apa pun, para 
orangtua hanya menyumbang sukarela semampu mereka. Kedua, 
karena firasat, anak-anak mereka dianggap memiliki karakter yang 
mudah disesatkan iblis sehingga sejak usia muda harus mendapat- 
kan pendadaran Islam yang tangguh. Ketiga, karena anaknya me- 
mang tak diterima di sekolah mana pun. 

Bu Mus yang semakin khawatir memancang pandangannya ke 
jalan raya di seberang lapangan sekolah berharap kalau-kalau masih 
ada pendaftar baru. Kami prihatin melihat harapan hampa itu. Maka 
tidak seperti suasana di SD lain yang penuh kegembiraan ketika me- 
nerima murid angkatan baru, suasana hari pertama di SD Muham- 
madiyah penuh dengan kerisauan, dan yang paling risau adalah Bu 
Mus dan Pak Harfan. 

Guru-guru yang sederhana ini berada dalam situasi genting ka- 
rena Pengawas Sekolah dari Depdikbud Sumsel telah memperingat- 



Seym fu fi Mu rid B a m 

kan bahwa jika SD Muhammadiyah hanya mendapat murid baru 
kurang dari sepuluh orang maka sekolah paling tua di Belitong ini 
hams ditutup. Karena itu sekarang Bu Mus dan Pak Harfan cemas 
sebab sekolah mereka akan tamat riwayatnya, sedangkan para 
orangtua cemas karena biaya, dan kami, sembilan anak-anak kecil 
ini— yang terperangkap di tengah— cemas kalau-kalau kami tak jadi 
sekolah. 

Tahun lalu SD Muhammadiyah hanya mendapatkan sebelas 
siswa, dan tahun ini Pak Harfan pesimis dapat memenuhi target 
sepuluh. Maka diam-diam beliau telah mempersiapkan sebuah pida- 
to pembubaran sekolah di depan para orangtua murid pada kesem- 
patan pagi ini. Kenyataan bahwa beliau hanya memerlukan satu sis- 
wa lagi untuk memenuhi target itu menyebabkan pidato ini akan 
menjadi sesuatu yang menyakitkan hati. 

"Kita tunggu sampai pukul sebelas," kata Pak Harfan pada Bu 
Mus dan seluruh orangtua yang telah pasrah. Suasana hening. 

Para orangtua mungkin menganggap kekurangan satu murid 
sebagai pertanda bagi anak-anaknya bahwa mereka memang sebaik- 
nya didaftarkan pada para juragan saja. Sedangkan aku dan agaknya 
juga anak-anak yang lain merasa amat pedih: pedih pada orangtua 
kami yang tak mampu, pedih menyaksikan detik-detik terakhir 
sebuah sekolah tua yang tutup justru pada hari pertama kami ingin 
sekolah, dan pedih pada niat kuat kami untuk belajar tapi tinggal 
selangkah lagi harus terhenti hanya karena kekurangan satu murid. 
Kami menunduk dalam-dalam. 

Saat itu sudah pukul sebelas kurang lima dan Bu Mus semakin 
gundah. Lima tahun pengabdiannya di sekolah melarat yang amat ia 



Andrea Hirata 



cintai dan tiga puluh dua tahun pengabdian tanpa pamrih pada Pak 
Harfan, pamannya, akan berakhir di pagi yang sendu ini. 

"Baru sembilan orang Pamanda Guru...," ucap Bu Mus bergetar 
sekali lagi. la sudah tak bisa berpikir jernih. la berulang kali meng- 
ucapkan hal yang sama yang telah diketahui semua orang. Suaranya 
berat selayaknya orang yang tertekan batinnya. 

Akhirnya, waktu habis karena telah pukul sebelas lewat lima 
dan jumlah murid tak juga genap sepuluh. Semangat besarku untuk 
sekolah perlahan-lahan runtuh. Aku melepaskan lengan ayahku dari 
pundakku. Sahara menangis terisak-isak mendekap ibunya karena ia 
benar-benar ingin sekolah di SD Muhammadiyah. Ia memakai sepa- 
tu, kaus kaki, jilbab, dan baju, serta telah punya buku-buku, botol air 
minum, dan tas punggung yang semuanya baru. 

Pak Harfan menghampiri orangtua murid dan menyalami me- 
reka satu per satu. Sebuah pemandangan yang pilu. Para orangtua 
menepuk-nepuk bahunya untuk membesarkan hatinya. Mata Bu 
Mus berkilauan karena air mata yang menggenang. Pak Harfan ber- 
diri di depan para orangtua, wajahnya muram. Beliau bersiap-siap 
memberikan pidato terakhir. Wajahnya tampak putus asa. Namun 
ketika beliau akan mengucapkan kata pertama Assalamu'alaikum 
seluruh hadirin terperanjat karena Tripani berteriak sambil menun- 
juk ke pinggir lapangan rumput luas halaman sekolah itu. 

"Harun!" 

Kami serentak menoleh dan di kejauhan tampak seorang pria 
kurus tinggi berjalan terseok-seok. Pakaian dan sisiran rambutnya 
sangat rapi. Ia berkemeja lengan panjang putih yang dimasukkan ke 
dalam. Kaki dan langkahnya membentuk huruf x sehingga jika ber- 
jalan seluruh tubuhnya bergoyang-goyang hebat. Seorang wanita 



Seym fu fi Mu rid B a m 



gemuk setengah baya yang berseri-seri susah payah memeganginya. 
Pria itu adalah Harun, pria jenaka sahabat kami semua, yang sudah 
berusia lima belas tahun dan agak terbelakang mentalnya. la sangat 
gembira dan berjalan cepat setengah berlari tak sabar menghampiri 
kami. la tak menghiraukan ibunya yang tercepuk-cepuk 5 kewalahan 
menggandengnya. 

Mereka berdua hampir kehabisan napas ketika tiba di depan 
Pak Harfan. 

"Bapak Guru...," kata ibunya terengah-engah. 

"Terimalah Harun, Pak, karena SLB hanya ada di Pulau Bangka, 
dan kami tak punya biaya untuk menyekolahkannya ke sana. Lagi 
pula lebih baik kutitipkan dia di sekolah ini daripada di rumah ia 
hanya mengejar-ngejar anak-anak ayamku..." 

Harun tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang kuning 
panjang-panjang. Pak Harfan juga terseyum, beliau melirik Bu Mus 
sambil mengangkat bahunya. 

"Genap sepuluh orang...," katanya. 

Harun telah menyelamatkan kami dan kami pun bersorak. 
Sahara berdiri tegak merapikan lipatan jilbabnya dan menyandang 
tasnya dengan gagah, ia tak mau duduk lagi. Bu Mus tersipu. Air 
mata guru muda ini surut dan ia menyeka keringat di wajahnya yang 
belepotan karena bercampur dengan bedak tepung beras. 



5 Tercepuk-cepuk: istilah daerah untuk menggambarkan cara jalan yang terpincang- 
pincang/terseok-seok. 



ftnfedifuvium 



IBU Muslimah yang beberapa menit lalu sembap, gelisah, dan co- 
reng-moreng kini menjelma menjadi sekuntum Crinum giganteum 1 . 
Sebab tiba-tiba ia mekar sumringah dan posturnya yang jangkung 
persis tangkai bunga itu. Kerudungnya juga berwarna bunga crinum 
demikian pula bau bajunya, persis crinum yang mirip bau vanili. 
Sekarang dengan ceria beliau mengatur tempat duduk kami. 

Bu Mus mendekati setiap orangtua murid di bangku panjang 
tadi, berdialog sebentar dengan ramah, dan mengabsen kami. Semua 
telah masuk ke dalam kelas, telah mendapatkan teman sebangkunya 



1 Jenis crinum yang paling besar (kata giganteum berasal dari kata gigantic yang berarti 
raksasa). Umumnya setiap bunga crinum mengeluarkan aroma seperti aroma vanili. 
Di dunia terdapat tidak kurang dari 180 jenis crinum, banyak ahli yang menganggap 
ia masuk dalam familia lily, lebih tepatnya parennial lily, karena warnanya yang putih 
dan bentuknya yang mirip bunga tersebut. Tapi ada juga ahli yang tidak sependapat, 
karena jika dilihat dari jenis crinum rawa (swamp crinum atau crinum asiaticum) yang 
beracun, penampilannya jauh benar dibanding lily. 



Andrea Himta 



masing-masing, kecuali aku dan anak laki-laki kecil kotor berambut 
keriting merah yang tak kukenal tadi. la tak bisa tenang. Anak ini 
berbau hangus seperti karet terbakar. 

"Anak Pak Cik akan sebangku dengan Lintang," kata Bu Mus 
pada ayahku. 

Oh, itulah rupanya namanya, Lintang 1 , sebuah nama yang aneh. 

Mendengar keputusan itu Lintang meronta-ronta ingin segera 
masuk kelas. Ayahnya berusaha keras menenangkannya, tapi ia 
memberontak, menepis pegangan ayahnya, melonjak, dan meng- 
hambur ke dalam kelas mencari bangku kosongnya sendiri. Di bang- 
ku itu ia seumpama balita yang dinaikkan ke atas tank, girang tak 
alang kepalang, tak mau turun lagi. Ayahnya telah melepaskan belut 
yang licin itu, dan anaknya baru saja meloncati nasib, merebut pen- 
didikan. 

Bu Mus menghampiri ayah Lintang. Pria itu berpotongan seper- 
ti pohon cemara angin 3 yang mati karena disambar petir: hitam, me- 
ranggas, kurus, dan kaku. Beliau adalah seorang nelayan, namun 
pembukaan wajahnya yang mirip orang Bushman 4 adalah raut wajah 
yang lembut, baik hati, dan menyimpan harap. Beliau pasti termasuk 



2 Lintang: bahasa Jawa, berarti bintang. 

3 Cemara angin: salah satu jenis cemara (Casuarina ecjnisetifolia) yang penampakannya 
sangat seram, tinggi meranggas, sekeras batu. Entah menanggung karma apa jenis 
cemara ini karena sering sekali disambar petir, tapi mungkin karena ada unsur medan 
magnet di dalamnya. Daunnya jika ditiup angin kadang-kadang berbunyi seperti 
siulan, mungkin ini yang menyebabkan orang menamainya cemara angin 

4 Bushman: suku yang hidup di dataran bersemak-semak dan belukar di sabana- 
sabana Afrika (bush dalam bahasa Inggris berarti semak/belukar). Nama itu didapat 
dari antropolog Peran-cis. Suku ini terangkat pamornya karena film God Must Be 
Crazy, wajah dan sifat mereka polos dan lugu. 



10 



Antedifuvium 



dalam sebagian besar warga negara Indonesia yang menganggap 
bahwa pendidikan bukan hak asasi. 

Tidak seperti kebanyakan nelayan, nada bicaranya pelan. Lalu 
beliau bercerita pada Bu Mus bahwa kemarin sore kawanan burung 
pelintang pulau 5 mengunjungi pesisir. Burung-burung keramat itu 
hinggap sebentar di puncak pohon ketapang 6 demi menebar 
pertanda bahwa laut akan diaduk badai. Cuaca cenderung semakin 
mem-buruk akhir-akhir ini maka hasil melaut tak pernah memadai. 
Apa-lagi ia hanya semacam petani penggarap, bukan karena ia tak 
punya laut, tapi karena ia tak punya perahu. 

Agaknya selama turun temurun keluarga laki-laki cemara angin 
itu tak mampu terangkat dari endemik kemiskinan komunitas Mela- 
yu yang menjadi nelayan. Tahun ini beliau menginginkan perubah- 
an dan ia memutuskan anak laki-laki tertuanya, Lintang, tak akan 
menjadi seperti dirinya. Lintang akan duduk di samping pria kecil 
berambut ikal yaitu aku, dan ia akan sekolah di sini lalu pulang pergi 
setiap hari naik sepeda. Jika panggilan nasibnya memang harus men- 
jadi nelayan maka biarkan jalan kerikil batu merah empat puluh 
kilometer mematahkan semangatnya. Bau hangus yang kucium tadi 
ternyata adalah bau sandal cunghai, yakni sandal yang dibuat dari 
ban mobil, yang aus karena Lintang terlalu jauh mengayuh sepeda. 

Keluarga Lintang berasal dari Tanjong Kelumpang, desa nun 
jauh di pinggir laut. Menuju ke sana harus melewati empat kawasan 



5 Agaknya berada dalam keluarga betet dan bayan-penampilannya seperti itu, 
selebihnya misterius. 

6 Ketapang (Terminalia catapa): pohon besar yang berdaun lebar dan buahnya 
bertempurung keras. Kulit buahnya dipakai untuk menyamak, kulit dan bijinya dapat 
dibuat minyak. Pohon ini banyak sekali tumbuh di daerah pinggir laut. 



11 



Andrea Himta 



pohon nipah 7 , tempat berawa-rawa yang dianggap seram di kam- 
pung kami. Selain itu di sana juga tak jarang buaya sebesar pangkal 
pohon sagu melintasi jalan. Kampung pesisir itu secara geografis 
dapat di-katakan sebagai wilayah paling timur di Sumatra, daerah 
minus nun jauh masuk ke pedalaman Pulau Belitong. Bagi Lintang, 
kota kecamatan, tempat sekolah kami ini, adalah metropolitan yang 
harus ditempuh dengan sepeda sejak subuh. Ah! Anak sekecil itu. . . 

Ketika aku menyusul Lintang ke dalam kelas ia menyalamiku 
dengan kuat seperti pegangan tangan calon mertua yang menerima 
pinangan. Energi yang berlebihan di tubuhnya serta-merta menjalar 
padaku laksana tersengat listrik. Ia berbicara tak henti-henti penuh 
minat dengan dialek Belitong yang lucu, tipikal orang Belitong 
pelosok. Bola matanya bergerak-gerak cepat dan menyala-nyala. Ia 
seperti pilea s , bunga meriam itu, yang jika butiran air jatuh di atas 
daunnya, ia melontarkan tepung sari, semarak, spontan, mekar, dan 
penuh daya hidup. Di dekatnya, aku merasa seperti ditantang 
mengambil ancang-ancang untuk sprint seratus meter. Sekencang 
apa engkau berlari? Begitulah makna tatapannya. 

Aku sendiri masih bingung. Terlalu banyak perasaan untuk 
ditanggung seorang anak kecil dalam waktu demikian singkat. Ce- 
mas, senang, gugup, malu, teman baru, guru baru... semuanya ber- 



7 Nipah (Nipa fruticans): palem yang tumbuh merumpun dan subur di rawa-rawa 
daerah tropis, tingginya mencapai 8 meter, daunnya digunakan untuk bahan atap, 
tikar, keranjang, topi, dan payung. Nira dari sadapan perbungaannya digunakan 
untuk pembuatan gula dan alkohol. 

8 Pilea/bunga meriam (Pilea microphylla atau artillery plant): tanaman ini berbentuk 
menyerupai pakis, dengan daun-daun hijau yang mungil. Daunnya mengandung 
tepung sari yang pada musim kemarau akan menebal dan jika terkena percikan air, 
tepung sari tersebut akan terlontar, atau seperti meledak sehingga disebut bunga 
meriam. 



12 



Antedifuvium 



campur aduk. Ditambah lagi satu perasaan ngilu karena sepasang se- 
patu baru yang dibelikan ibuku. Sepatu ini selalu kusembunyikan ke 
belakang. Aku selalu menekuk lututku karena warna sepatu itu hi- 
tam bergaris-garis putih maka ia tampak seperti sepatu sepak bola, 
jelek sekali. Bahannya pun dari plastik yang keras. Abang-abangku 
sakit perut menahan tawa melihat sepatu itu waktu kami sarapan 
pagi tadi. Tapi pandangan ayahku menyuruh mereka bungkam, 
membuat perut mereka kaku. Kakiku sakit dan hatiku malu dibuat 
sepatu ini. 

Sementara itu, kepala Lintang terus berputar-putar seperti bu- 
rung hantu. Baginya, penggaris kayu satu meter, vas bunga tanah Hat 
hasil prakarya anak kelas enam di atas meja Bu Mus, papan tulis 
lusuh, dan kapur tumpul yang berserakan di atas lantai kelas yang 
sebagian telah menjadi tanah, adalah benda-benda yang menakjub- 
kan. 

Kemudian kulihat lagi pria cemara angin itu. Melihat anaknya 
demikian bergairah ia tersenyum getir. Aku mengerti bahwa pira 
yang tak tahu tanggal dan bulan kelahirannya itu gamang mem- 
bayangkan kehancuran hati anaknya jika sampai drop out saat kelas 
dua atau tiga SMP nanti karena alasan klasik: biaya atau tuntutan 
nafkah. Bagi beliau pendidikan adalah enigma, sebuah misteri. Dari 
empat garis generasi yang diingatnya, baru Lintang yang sekolah. 
Generasi kelima sebelumnya adalah masa antediluvium 9 , suatu masa 
yang amat lampau ketika orang-orang Melayu masih berkelana 
sebagai nomad. Mereka berpakaian kulit kayu dan menyembah 
bulan. 



9 Antediluvium: masa sebelum diluvium (zaman pleistosen). 



13 



Andrea Himta 



UMUMNYA Bu Mus mengelompokkan tempat duduk kami 
berdasarkan kemiripan. Aku dan Lintang sebangku karena kami 
sama-sama berambut ikal. Trapani duduk dengan Mahar karena 
mereka berdua paling tampan. Penampilan mereka seperti para pe- 
lantun irama semenanjung idola orang Melayu pedalaman. Trapani 
tak tertarik dengan kelas, ia mencuri-curi pandang ke jendela, meli- 
rik kepala ibunya yang muncul sekali-sekali di antara kepala orang- 
tua lainnya. 

Tapi Borek (bacanya Bore', "e"-nya itu seperti membaca elang, 
bukan seperti menyebut "e" pada kata edan, dan "k"-nya itu bukan 
"k" penuh, Anda tentu paham maksud saya) dan Kucai didudukkan 
berdua bukan karena mereka mirip tapi karena sama-sama susah di- 
atur. Baru beberapa saat di kelas Borek sudah mencoreng muka Ku- 
cai dengan penghapus papan tulis. Tingkah ini diikuti Sahara yang 
sengaja menumpahkan air minum A Kiong sehingga anak Hokian 
itu menangis sejadi-jadinya seperti orang ketakutan dipeluk setan. 
NA. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani Fadillah, 
gadis kecil berkerudung itu, memang keras kepala luar biasa. Kejadi- 
an itu menandai perseteruan mereka yang akan berlangsung akut 
bertahun-tahun. Tangisan A Kiong nyaris merusak acara perkenalan 
yang menyenangkan pagi itu. 

Sebaliknya, bagiku pagi itu adalah pagi yang tak terlupakan 
sampai puluhan tahun mendatang karena pagi itu aku melihat Lin- 
tang dengan canggung menggenggam sebuah pensil besar yang be- 
lum diserut seperti memegang sebilah belati. Ayahnya pasti telah ke- 
liru membeli pensil karena pensil itu memiliki warna yang berbeda 



14 



Antedifuvium 



di kedua ujungnya. Salah satu ujungnya berwarna merah dan ujung 
lainnya biru. Bukankah pensil semacam itu dipakai para tukang jahit 
untuk menggaris kain? Atau para tukang sol sepatu untuk membuat 
garis pola pada permukaan kulit? Sama sekali bukan untuk menulis. 

Buku yang dibeli juga keliru. Buku bersampul biru tua itu ber- 
garis tiga. Bukankah buku semacam itu baru akan kami pakai nanti 
saat kelas dua untuk pelajaran menulis rangkai indah? Hal yang tak 
akan pernah kulupakan adalah bahwa pagi itu aku menyaksikan se- 
orang anak pesisir melarat— teman sebangku— untuk pertama kali- 
nya memegang pensil dan buku, dan kemudian pada tahun-tahun 
berikutnya, setiap apa pun yang ditulisnya merupakan buah pikiran 
yang gilang gemilang, karena nanti ia— seorang anak miskin pe- 
sisir — akan menerangi nebula 10 yang melingkupi sekolah miskin ini 
sebab ia akan berkembang menjadi manusia paling genius yang per- 
nah kujumpai seumur hidupku. 



t^S^s^Q^ 



1 Sekelompok bintang di langit yang tampak sebagai kabut atau gas pijar berbahaya. 



15 



teak*, 
Onisiasi 



TAK susah melukiskan sekolah kami, karena sekolah kami adalah 
salah satu dari ratusan atau mungkin ribuan sekolah miskin di sean- 
tero negeri ini yang jika disenggol sedikit saja oleh kambing yang 
senewen ingin kawin, bisa rubuh berantakan. 

Kami memiliki enam kelas kecil-kecil, pagi untuk SD Muham- 
madiyah dan sore untuk SMP Muhammadiyah. Maka kami, sepuluh 
siswa baru ini bercokol selama sembilan tahun di sekolah yang sama 
dan kelas-kelas yang sama, bahkan susunan kawan sebangku pun tak 
berubah selama sembilan tahun SD dan SMP itu. 

Kami kekurangan guru dan sebagian besar siswa SD Muham- 
madiyah ke sekolah memakai sandal. Kami bahkan tak punya sera- 
gam. Kami juga tak punya kotak P3K. Jika kami sakit, sakit apa pun: 
diare, bengkak, batuk, flu, atau gatal-gatal maka guru kami akan 
memberikan sebuah pil berwarna putih, berukuran besar bulat 
seperti kancing jas hujan, yang rasanya sangat pahit. Jika diminum 



Andrea Hirata 

kita bisa merasa kenyang. Pada pil itu ada tulisan besar APC. Itulah 
pil APC yang legendaris di kalangan rakyat pinggiran Belitong. Obat 
ajaib yang bisa menyembuhkan segala rupa penyakit. 

Sekolah Muhammadiyah tak pernah dikunjungi pejabat, penjual 
kaligrafi, pengawas sekolah, apalagi anggota dewan. Yang rutin 
berkunjung hanyalah seorang pria yang berpakaian seperti ninja. Di 
punggungnya tergantung sebuah tabung aluminium besar dengan 
slang yang menjalar ke sana kemari. la seperti akan berangkat ke 
bulan. Pria ini adalah utusan dari dinas kesehatan yang menyemprot 
sarang nyamuk dengan DDT. Ketika asap putih tebal mengepul 
seperti kebakaran hebat, kami pun bersorak-sorak kegirangan. 

Sekolah kami tidak dijaga karena tidak ada benda berharga yang 
layak dicuri. Satu-satunya benda yang menandakan bangunan itu 
sekolah adalah sebatang tiang bendera dari bambu kuning dan se- 
buah papan tulis hijau yang tergantung miring di dekat lonceng. 
Lonceng kami adalah besi bulat berlubang-lubang bekas tungku. Di 
papan tulis itu terpampang gambar matahari dengan garis-garis 
sinar berwarna putih. Di tengahnya tertulis: 

SDMD 
Sekolah Dasar Muhammadiyah 

Lalu persis di bawah matahari tadi tertera huruf-huruf arab 
gundul yang nanti setelah kelas dua, setelah aku pandai membaca 
huruf arab, aku tahu bahwa tulisan itu berbunyi amar makruf nahi 
mungkar artinya: menyuruh kepada yang makruf dan mencegah 
dari yang mungkar". Itulah pedoman utama warga Muhammadiyah. 
Kata-kata itu melekat dalam kalbu kami sampai dewasa nanti. Kata- 



18 



Inisiasi 

kata yang begitu kami kenal seperti kami mengenal bau alami ibu- 
ibu kami. 

Jika dilihat dari jauh sekolah kami seolah akan tumpah karena 
tiang-tiang kayu yang tua sudah tak tegak menahan atap simp 1 yang 
berat. Maka sekolah kami sangat mirip gudang kopra. Konstruksi 
bangunan yang menyalahi prinsip arsitektur ini menyebabkan tak 
ada daun pintu dan jendela yang bisa dikunci karena sudah tidak 
simetris dengan rangka kusennya. Tapi buat apa pula dikunci? 

Di dalam kelas kami tidak terdapat tempelan poster operasi 
kali-kalian seperti umumnya terdapat di kelas-kelas sekolah dasar. 
Kami juga tidak memiliki kalender dan tak ada gambar presiden dan 
wakilnya, atau gambar seekor burung aneh berekor delapan helai 
yang selalu menoleh ke kanan itu. Satu-satunya tempelan di sana 
adalah sebuah poster, persis di belakang meja Bu Mus untuk menu- 
tupi lubang besar di dinding papan. Poster itu memperlihatkan gam- 
bar seorang pria berjenggot lebat, memakai jubah, dan ia memegang 
sebuah gitar penuh gaya. Matanya sayu tapi meradang, seperti telah 
mengalami cobaan hidup yang mahadahsyat. Dan agaknya ia me- 
mang telah bertekad bulat melawan segala bentuk kemaksiatan di 
muka bumi. Di dalam gambar tersebut sang pria tadi melongok ke 
langit dan banyak sekali uang-uang kertas serta logam berjatuhan 
menimpa wajahnya. Di bagian bawah poster itu terdapat dua baris 



1 Atap sirap: atap yang dibuat dari kayu ulin (Eusideroxylon zzvageri), sebagian orang 
menyebutnya kayu besi atau kayu belian. Ulin sirap secara alamiah berupa pohon 
yang batangnya seperti berlapis-lapis sehingga begitu dibelah langsung rata 
menyerupai tripleks atau papan tipis. Langkah selanjutnya tinggal memotong-motong 
ulin sirap sesuai dengan ukuran yang dikehendaki dan siap digunakan untuk atap 
rumah. Kayu ulin sirap yang berusia tua sudah semakin sulit diperoleh karena 
penebangan hutan yang tidak terkendali. Sekarang ini penggunaan atap sirap sudah 
semakin langka, namun masih bisa dilihat misalnya gedung asli ITB di Bandung. 



19 



Andrea Hirata 



kalimat yang tak kupahami. Tapi nanti setelah naik ke kelas dua dan 
sudah pintar membaca, aku mengerti bunyi kedua kalimat itu ada- 
lah: RHOMA IRAMA, HUJAN DUIT! 

Maka pada intinya tak ada yang baru dalam pembicaraan ten- 
tang sekolah yang atapnya bocor, berdinding papan, berlantai tanah, 
atau yang kalau malam dipakai untuk menyimpan ternak, semua itu 
telah dialami oleh sekolah kami. Lebih menarik membicarakan ten- 
tang orang-orang seperti apa yang rela menghabiskan hidupnya ver- 
tahan di sekolah semacam ini. Orang-orang itu tentu saja kepala se- 
kolah kami Pak KA. Harfan Efendy Noor bin K.A. Fadillah Zein 
Noor dan Ibu NA. Muslimah Hafsari Hamid binti KA. Abdul Ha- 
mid. 

Pak Harfan, seperti halnya sekolah ini, tak susah digambarkan. 
Kumisnya tebal, cabangnya tersambung pada jenggot lebat berwarna 
kecokelatan yang kusam dan beruban. Hemat kata, wajahnya mirip 
Tom Hanks, tapi hanya Tom Hanks di dalam film di mana ia 
terdampar di sebuah pulau sepi, tujuh belas bulan tidak pernah ber- 
temu manusia dan mulai berbicara dengan sebuah bola voli. Jika kita 
bertanya tentang jenggotnya yang awut-awtuan, beliau tidak akan 
repot-repot berdalih tapi segera menyodorkan sebuah buku karya 
Maulana Muhammad Zakariyya Al Kandhallawi Rah, R.A. yang ber- 
judul Keutamaan Memelihara Jenggot. Cukup membaca pengantar- 
nya saja Anda akan merasa malu sudah bertanya. 

K.A. pada nama depan Pak Harfan berarti Ki Agus. Gelar K.A. 
mengalir dalam garis laki-laki silsilah Kerajaan Belitong. Selama pu- 
luhan tahun keluarga besar yang amat bersahaja ini berdiri pada gar- 
da depan pendidikan di sana. Pak Harfan telah puluhan tahun 
mengabdi di sekolah Muhammadiyah nyaris tanpa imbalan apa pun 



20 



Inisiasi 

demi motif syiar Islam. Beliau menghidupi keluarga dari sebidang 
kebun palawija di pekarangan rumahnya. 

Hari ini Pak Harfan mengenakan baju takwa yang dulu pasti 
berwarna hijau tapi kini warnanya pudar menjadi putih. Bekas- 
bekas warna hijau masih kelihatan di baju itu. Kaus dalamnya ver- 
lubang di beberapa bagian dan beliau mengenakan celana panjang 
yang lusuh karena terlalu sering dicuci. Seutas ikat pinggang plastik 
murahan bermotif ketupat melilit tubuhnya. Lubang ikat pinggang 
itu banyak berderet-deret, mungkin telah dipakai sejak beliau ver- 
usia belasan. 

Karena penampilan Pak Harfan agak seperti beruang madu 
maka ketika pertama kali melihatnya kami merasa takut. Anak kecil 
yang tak kuat mental bisa-bisa langsung terkena sawan. Namun, 
ketika beliau angkat bicara, tak dinyana, meluncurlah mutiara- 
mutiara nan puitis sebagai prolog penerimaan selamat datang penuh 
atmosfer sukacita di sekolahnya yang sederhana. Kemudian dalam 
waktu yang amat singkat beliau telah merebut hati kami. Bapak yang 
jahitan kerah kemejanya telah lepas itu bercerita tentang perahu 
Nabi Nuh serta pasangan-pasangan binatang yang selamat dari 
banjir bandang. 

"Mereka yang ingkar telah diingatkan bahwa air bah akan 
datang...," demikian ceritanya dengan wajah penuh penghayatan. 

"Namun, kesombongan membutakan mata dan menulikan teli- 
nga mereka, hingga mereka musnah dilamun ombak..." 

Sebuah kisah yang sangat mengesankan. Pelajaran moral per- 
tama bagiku: jika tak rajin shalat maka pandai-pandailah berenang. 



21 



Andrea Hirata 



Cerita selanjutnya sangat memukau. Sebuah cerita peperangan 
besar zaman Rasulullah di mana kekuatan dibentuk oleh iman bu- 
kan oleh jumlah tentara: perang Badar! Tiga ratus tiga belas tentara 
Islam mengalahkan ribuan tentara Quraisy yang kalap dan bersen- 
jata lengkap. 

"Ketahuilah wahai keluarga Ghudar, berangkatlah kalian ke 
tempat-tempat kematian kalian dalam masa tiga hari!" Demikian 
Pak Harfan berteriak lantang sambil menatap langit melalui jendela 
kelas kami. Beliau memekikkan firasat mimpi seorang penduduk 
Mekkah, firasat kehancuran Quraisy dalam kehebatan perang Badar. 

Mendengar teriakan itu rasanya aku ingin melonjak dari tempat 
duduk. Kami ternganga karena suara Pak Harfan yang berat 
menggetarkan benang-benang halus dalam kalbu kami. Kami me- 
nanti liku demi liku cerita dalam detik-detik menegangkan dengan 
dada berkobar-kobar ingin membela perjuangan para penegak 
Islam. Lalu Pak Harfan mendinginkan suasana yang berkisah 
tentang penderitaan dan tekanan yang dialami seorang pria bernama 
Zubair bin Awam. Dulu nun di tahun 1929 tokoh ini bersusah 
payah, seperti kesulitan Rasulullah ketika pertama tiba di Madinah, 
mendirikan sekolah dari jerjak kayu bulat seperti kandang. Itulah 
sekolah pertama di Belitong. Kemudian muncul para tokoh seperti 
K.A. Abdul Hamid dan Ibrahim bin Zaidin yang berkorban habis- 
habisan melanjufkan sekolah kandang itu menjadi sekolah Muham- 
madiyah. Sekolah ini adalah sekolah Islam pertama di Belitong, bah- 
kan mungkin di Sumatra Selatan. 

Pak Harfan menceritakan semua itu dengan semangat perang 
badar sekaligus setenang embusan angin pagi. Kami terpesona pada 
setiap pilihan kata dan gerak lakunya yang memikat. Ada semacam 



22 



Inisiasi 

pengaruh yang lembut dan baik terpancar darinya. la mengesankan 
sebagai pria yang kenyang akan pahit getir perjuangan dan kesusah- 
an hidup, berpengetahuan seluas samudra, bijak, berani mengambil 
risiko, dan menikmati daya tarik dalam mencari-cari bagaimana ca- 
ra menjelaskan sesuatu agar setiap orang mengerti. 

Pak Harfan tampak amat bahagia menghadapi murid, tipikal 
"guru" yang sesungguhnya, seperti dalam lingua asalnya, India, yaitu 
orang yang tak hanya mentransfer sebuah pelajaran, tapi juga yang 
secara pribadi menjadi sahabat dan pembimbing spiritual bagi mu- 
ridnya. Beliau sering menaikturunkan intonasi, menekan kedua 
ujung meja sambil mempertegas kata-kata tertentu, dan mengangkat 
kedua tangannya laksana orang berdoa minta hujan. 

Ketika mengajukan pertanyaan beliau berlari-lari kecil men- 
dekati kami, menatap kami penuh arti dengan pandangan mata-nya 
yang teduh seolah kami adalah anak-anak Melayu yang paling ber- 
harga. Lalu membisikkan sesuatu di telinga kami, menyitir dengan 
lancar ayat-ayat suci, menantang pengetahuan kami, ber-pantun, 
membelai hati kami dengan wawasan ilmu, lalu diam, diam berpikir 
seperti kekasih merindu, indah sekali. 

Beliau menorehkan benang merah kebenaran hidup yang 
sederhana melalui kata-katanya yang ringan namun bertenaga 
seumpama titik-titik air hujan. Beliau mengobarkan semangat kami 
utnuk belajar dan membuat kami tercengang dengan petuahnya 
tentang keberanian pantang menyerah melawan kesulitan apa pun. 
Pak Harfan memberi kami pelajaran pertama tentang keteguhan 
pendirian, tentang ketekunan, tentang keinginan kuat untuk 
mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan kami bahwa hidup bisa 
demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan 



23 



Andrea Hirata 

keikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau menyampaikan 
sebuah prinsip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam dadaku 
serta memberi arah bagiku hingga dewasa, yaitu bahwa hiduplah 
untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima 
sebanyak-banyaknya. 

Kami tak berkedip menatap sang juru kisah yang ulung ini. Pria 
ini buruk rupa dan buruk pula setiap apa yang disandangnya, tapi 
pemikirannya jernih dan kata-katanya bercahaya. Jika ia mengucap- 
kan sesuatu kami pun terpaku menyimaknya dan tak sabar me- 
nunggu untaian kata berikutnya. Tiba-tiba aku merasa sangat ver- 
untung didaftarkan orangtuaku di sekolah miskin Muhammadiyah. 
Aku merasa telah terselamatkan karena orangtuaku memilih sebuah 
sekolah Islam sebagai pendidikan paling dasar bagiku. Aku merasa 
amat beruntung berada di sini, di tengah orang-orang yang luar 
biasa ini. Ada keindahan di sekolah Islam melarat ini. Keindahan 
yang tak 'kan kutukar dengan seribu kemewahan sekolah lain. 

Setiap kali Pak Harfan ingin menguji apa yang telah dicerita- 
kannya kami berebutan mengangkat tangan, bahkan kami meng- 
acung meskipun beliau tak bertanya, dan kami mengacung walau- 
pun kami tak pasti akan jawaban. Sayangnya bapak yang penuh daya 
tarik ini harus mohon diri. Satu jam dengannya terasa hanya satu 
menit. Kami mengikuti setiap inci langkahnya ketika meninggalkan 
kelas. Pandangan kami melekat tak lepas-lepas darinya karena kami 
telah jatuh cinta padanya. Beliau telah membuat kami menyayangi 
sekolah tua ini. Kuliah umum dari Pak Harfan di hari pertama kami 
masuk SD Muhammadiyah langsung menancapkan tekad dalam hati 
kami untuk membela sekolah yang hampir rubuh ini, apa pun yang 
terjadi. 



24 



Inisiasi 

Kelas diambil alih oleh Bu Mus. Acaranya adalah perkenalan 
dan akhirnya tibalah giliran A Kiong. Tangisnya sudah reda tapi ia 
masih terisak. Ketika diminta ke depan kelas ia senang bukan main. 
Sekarang di sela-sela isaknya ia tersenyum. Ia menggoyang-goyang- 
kan tubuhnya. Tangan kirinya memegang botol air yang kosong— 
karena isinya tadi ditumpahkan Sahara— dan tangan kanannya 
menggenggam kuat tutup botol itu. 

"Silahkan ananda perkenalkan nama dan alamat rumah ...," 
pinta Bu Mus lembut pada anak Hokian itu. 

A Kiong menatap Bu Mus dengan ragu kemudian ia kembali 
tersenyum. Bapaknya menyeruak di antara kerumunan orangtua 
lainnya, ingin menyaksikan anaknya beraksi. Namun, meskipun 
berulang kali ditanya A Kiong tidak menjawab sepatah kata pun. Ia 
terus tersenyum dan hanya tersenyum saja. 

"Silakan ananda ...," Bu Mus meminta sekali lagi dengan sabar. 

Namun sayang A Kiong hanya menjawabnya dengan kembali 
tersenyum. Ia berkali-kali melirik bapaknya yang kelihatan tak 
sabar. Aku dapat membaca pikiran ayahnya, "Ayolah anakku, kuat- 
kan hatimu, sebutkan namamu! Paling tidak sebutkan nama bapak- 
mu ini, sekali saja! Jangan bikin malu orang Hokian!" Bapak Tiong- 
hoa berwajah ramah ini dikenal sebagai seorang Tionghoa kebun 2 , 
strata ekonomi terendah dalam kelas sosial orang-orang Tionghoa di 
Belitong. 



2 Tionghoa kebun: sebuah julukan di masyarakat Melayu untuk orang-orang 
Tionghoa yang tidak berdagang seperti kebanyakan profesi komunitasnya, melainkan 
berkebun untuk mencari nafkah. Kebanyakan kehidupannya kurang beruntung 
dibandingkan saudara-saudaranya yang berdagang, sehingga julukan Tionghoa 
kebun identik dengan kemiskinan. 



25 



Andrea Hirata 



Namun, sampai waktu akan berakhir A Kiong masih tetap saja 
tersenyum. Bu Mus membujuknya lagi. 

"Baiklah ini kesempatan terakhir untukmu mengenalkan diri, 
jika belum bersedia maka harus kembali ke tempat duduk." 

A Kiong malah semakin senang. la masih sama sekali tak men- 
jawab. la tersenyum lebar, matanya yang sipit menghilang. Pelajaran 
moral nomor dua: jangan tanyakan nama dan alamat pada orang 
yang tinggal di kebun. Maka berakhirlah perkenalan di bulan 
Februari yang mengesankan itu. 



26 



"Bad 4 

IPeremfo 



uan-foeremfouan fterfasa 



AKU pernah membaca kisah tentang wanita yang membelah batu 
karang untuk mengalirkan air, wanita yang menenggelamkan diri 
belasan tahun sendirian di tengah rimba untuk menyelamatkan be- 
berapa keluarga orang utan, atau wanita yang berani mengambil risi- 
ko tertular virus ganas demi menyembuhkan penyakit seorang anak 
yang sama sekali tak dikenalnya nun jauh di Somalia. Di sekolah 
Muhammadiyah setiap had aku membaca keberanian berkorban se- 
macam itu di wajah wanita muda ini. 

N.A. Muslimah Hafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid, atau 
kami memanggilnya Bu Mus, hanya memiliki selembar ijazah SKP 
(Sekolah Kepandaian Putri), namun beliau bertekad melanjutkan 
cita-cita ayahnya— K.A. Abdul Hamid, pelopor sekolah Muham- 
madiyah di Belitong— untuk terus mengobarkan pendidikan Islam. 
Tekad itu memberinya kesulitan hidup yang tak terkira, karena kami 
kekurangan guru— lagi pula siapa yang rela diupah beras 15 kilo se- 



Andrea Hirata 



tiap bulan? Maka selama enam tahun di SD Muhammadiyah, beliau 
sendiri yang mengajar semua mata pelajaran— mulai dari Menulis 
Indah, Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan, Ilmu Bumi, sampai Ma- 
tematika, Geografi, Prakarya, dan Praktik Olahraga. Setelah seharian 
mengajar, beliau melanjutkan bekerja menerima jahitan sampai jauh 
malam untuk mencari nafkah, menopang hidup dirinya dan adik- 
adiknya. 



BU MUS adalah seroang guru yang pandai, karismatik, dan 
memiliki pandangan jauh ke depan. Beliau menyusun sendiri silabus 
pelajaran Budi Pekerti dan mengajarkan kepada kami sejak dini pan- 
dangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum, keadilan, dan 
hak-hak asasi— jauh hari sebelum orang-orang sekarang meributkan 
soal materialisme versus pembangunan spiritual dalam pendidikan. 
Dasar-dasar moral itu menuntun kami membuat kon-struksi imaji- 
ner nilai-nilai integritas pribadi dalam konteks Islam. Kami diajar- 
kan menggali nilai luhur di dalam diri sendiri agar berperilaku baik 
karena kesadaran pribadi. Materi pelajaran Budi Pekerti yang hanya 
diajarkan di sekolah Muhammadiyah sama sekali tidak seperti kode 
perilaku formal yang ada dalam konteks legalitas institusional seper- 
ti sapta prasetya atau pedoman-pedoman peng-alaman lainnya. 

"Shalatlah tepat waktu, biar dapat pahala lebih banyak," demi- 
kian Bu Mus selalu menasihati kami. 

Bukankah ini kata-kata yang diilhami surah An-Nisa dan telah 
diucapkan ratusan kali oleh puluhan khatib? Sering kali dianggap 
sambil lalu saja oleh umat. Tapi jika yang mengucapkannya Bu Mus 
kata-kata itu demikian berbeda, begitu sakti, berdengung-dengung 



2S 



Perempuan-Perempuan Perkasa 

di dalam kalbu. Yang terasa kemudian adalah penyesalan mengapa 
telah terlamabat shalat. 

Pada kesempatan lain, karena masih kecil tentu saja, kami 
sering mengeluh mengapa sekolah kami tak seperti sekolah-sekolah 
lain. Terutama atap sekolah yang bocor dan sangat menyusahkan sa- 
at musim hujan. Beliau tak menanggapi keluhan itu tapi menge- 
luarkan sebuah buku berbahasa Belanda dan memperlihatkan se- 
buah gambar. 

Gambar itu adalah sebuah ruangan yang sempit, dikelilingi tem- 
bok tebal yang suram, tinggi, gelap, dan berjeruji. Kesan di dalamnya 
begitu pengap, angker, penuh kekerasan dan kesedihan. 

"Inilah sel Pak Karno di sebuah penjara di Bandung, di sini be- 
liau menjalani hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu mem- 
baca buku. Beliau adalah salah satu orang tercerdas yang pernah di- 
miliki bangsa ini." 

Beliau tak melanjutkan ceritanya. 

Kami tersihir dalam senyap. Mulai saat itu kami tak pernah lagi 
memprotes keadaan sekolah kami. Pernah suatu ketika hujan turun 
amat lebat, petir sambar menyambar. Trapani dan Mahar memakai 
terindak, topi kerucut dari daun lais 1 khas tentara Vietkong, untuk 
melindungi jambul mereka. Kucai, Borek, dan Sahara memakai jas 
hujan kuning bergambar gerigi metal besar di punggungnya dengan 
tulisan "UPT Bel" (Unit Penambangan Timah Belitong)— jas hujan 
jatah PN Timah milik bapaknya. Kami sisanya hampir basah kuyup. 



1 Lais (Tandarus furcatus): tanaman semacam pandan tapi berduri, anyaman daunnya 
digunakan untuk membuat topi kerucut, karung, dan tas. 



29 



Andrea Hirata 



Tapi sehari pun kami tak pernah bolos, dan kami tak pernah menge- 
luh, tidak, sedikit pun kami tak pernah mengeluh. 

Bagi kami Pak Harfan dan Bu Mus adalah pahlawan tanpa tanda 
jasa yang sesungguhnya. Merekalah mentor, penjaga, sahabat, peng- 
ajar, dan guru spiritual. Mereka yang pertama menjelaskan secara 
gamblang implikasi amar makruf nahi mungkar sebagai pegangan 
moral kami sepanjang hayat. Mereka mengajari kami membuat 
rumah-rumahan dari perdu apit-apit, mengusap luka-luka di kaki 
kami, membimbing kami cara mengambil wudu, melongok ke da- 
lam sarung kami ketika kami disunat, mengajari kami doa sebelum 
tidur, memompa ban sepeda kami, dan kadang-kadang membuat- 
kan kami air jeruk sambal. 

Mereka adalah ksatria tampa pamrih, pangeran keikhlasan, dan 
sumur jernih ilmu pengetahuan di ladang yang ditinggalkan. Sum- 
bangan mereka laksana manfaat yang diberikan pohon filicium yang 
menaungi atap kelas kami. Pohon ini meneduhi kami dan dialah 
saksi seluruh drama ini. Seperti guru-guru kami, filicium memberi 
napas kehidupan bagi ribuan organisme dan menjadi tonggak 
penting mata rantai ekosistem. 



^Q^^s^^ 



30 



Tfie Tower Qffeahef 



JUMLAH orang Tionghoa di kampung kami sekitar sepertiga dari 
total populasi. Ada orang Kek, ada orang Hokian, ada orang Tong- 
san, dan ada yang tak tahu asal usulnya. Bisa saja mereka yang lebih 
dulu mendiami pulau ini daripada siapa pun. Aichang 1 , phok 2 , kiaw 3 , 
dan khaknai 4 , seluruhnya adalah perangkat penambangan timah pri- 
mitf yang sekarang dianggap temuan arkeologi, bukti bahwa nenek 
moyang mereka telah lama sekali berada di Pulau Belitong. Komu- 
nitas ini selalu tipikal: rendah hati ddan pekerja keras. Meskipun 
jauh terpisah dari akar budayanya namun mereka senantiasa meme- 



1 Aichang: dahan-dahan, ranting, dan dedaunan yang digunakan untuk menyumbat 
sela-sela kiaw agar aliran air tidak bocor. 

2 Phok: tanggul air yang dibuat penambang dalam instalasi penambangan timah 
tradisional. 

3 Kiaw: kayu-kayu bulat sepanjang dua atau tiga meter sebesar lengan laki-laki 
dewasa yang digunakan untuk membuat phok. 

4 Khaknai: lumpur yang akan dibuang setelah bijih-bijih timah dipisahkan dari 
lumpur tersebut. 



Andrea Hirata 

lihara adat istiadatnya, dan di Belitong mereka beruntung karena 
mereka tak perlu jauh-jauh datang ke Jinchanying kalau hanya ingin 
melihat Tembok Besar Cina. 

Persis bersebelahan dengan toko-toko kelontong milik warga 
Tionghoa ini berdiri tembok tinggi yang panjang dan di sana sini 
tergantung papan peringatan "DILARANG MASUK BAGI YANG 
TIDAK MEMILIKI HAK". Di atas tembok ini tidak hanya ditancapi 
pecahan-pecahan kaca yang mengancam tapi juga dililitkan empat 
jalur kawat berduri seperti di kamp Auschwitz. Namun, tidak seperti 
Tembok Besar Cina yang melindungi berbagai dinasti dari serbuan 
suku-suku Mongol di utara, di Belitong tembok yang angkuh dan 
berkelak-kelok sepanjang kiloan meter ini adalah pengukuhan sebu- 
ah dominasi dan perbedaan status sosial. 

Di balik tembok itu terlindung sebuah kawasan yang disebut 
Gedong, yaitu negeri asing yang jika berada di dalamnya orang akan 
merasa tak sedang berada di Belitong. Dan di dalam sana berdiri 
sekolah-sekolah PN. Sekolah PN adalah sebutan untuk sekolah milik 
PN (Perusahaan Negara) Timah, sebuah perusahaan yang paling 
berpengaruh di Belitong, bahkan sebuah hegemoni lebih tepatnya, 
karena timah adalah denyut nadi pulau kecil itu. 

Suatu sore seorang gentleman keluar dari balik tembok itu un- 
tuk berkeliling kampung dengan sebuah Chevrolet Corvette, lalu 
esoknya di depan sebuah majelis ia mencibir. 

"Tak satu pun kulihat ada anak muda memegang pacul! Tak 
pernah kulihat orang-orang muda demikian malas seperti di sini." 

Ha? Apa dia kira kami bangsa petani? Kami adalah buruh-bu- 
ruh tambang yang bangga, padi tak tumbuh di atas tanah-tanah ka- 
mi yang kaya material tambang! 



32 



The Tower OfBahef 



LAKSANA the Tower of Babel — yakni Menara Babel, metafora 
tangga menuju surga yang ditegakkan bangsa babylonia sebagai per- 
lambang kemakmuran 5.600 tahun lalu, yang berdiri arogan di anta- 
ra Sungai Tigris dan Eufrat di tanah yang sekarang disebut Irak— 
timah di Belitong adalah menara gading kemakmuran berkah Tuhan 
yang menjalar sepanjang Semenanjung Malaka, tak putus-putus se- 
perti jalinan urat di punggung tangan. 

Orang Melayu yang merogohkan tangannya ke dalam lapisan 
dangkal aluvium 5 , hampir di sembarang tempat, akan mendapati le- 
ngannya berkilauan karena dilumuri ilmenit 6 atau timah kosong. 
Bermil-mil dari pesisir, Belitong tampak sebagai garis pantai kuning 
berkilauan karena bijih-bijih timah dan kuarsa 7 yang disirami caha- 
ya matahari. Pantulan cahaya itu adalah citra yang lebih kemilau da- 
ri riak-riak gelombang laut dan membentuk semacam fatamorgana 
pelangi sebagai mercusuar yang menuntun para nakhoda. 



5 Aluvium: lempung, pasir halus, pasir, kerikil, atau butiran lain yang terndapkan 
oleh air mengalir; zaman geologi yang paling muda dari zaman kuarter atau zaman 
geologi sekarang. 

6 Ilmenit: mineral yang bentuknya persis bijih timah, yaitu berupa pasir, berwarna 
hitam, tapi sangat ringan, sementara bijih timah amat berat. Berat segenggam timah 
seperti segenggam besi, sedangkan segenggam ilmenit lebih ringan daripada 
segenggam pasir, sehingga ilmenit disebut juga timah kosong. Ilmenit banyak sekali 
berada di lapisan aluvium yang dangkal. Sekian lama tak dipedulikan karena 
dianggap tidak berharga sampai seorang ilmuwan Australia menemukan bahwa 
ilmenit merupakan bahan yang nyaris sempurna untuk produk-produk antipanas 
tinggi. 

7 Kuarsa: mineral penyusun utama dalam pasir, batuan, dan berbagai mineral, bersifat 
lebih tembus cahaya ultraungu daripada kaca biasa sehingga banyak digunakan 
dalam alat optika; silika. 



33 



Andrea Hirata 

Tuhan memberkahi Belitong dengan timah bukan agar kapal 
yang berlayar ke pulau itu tidak menyimpang ke Laut Cina Selatan, 
tetapi timah dialirkan-Nya ke sana untuk menjadi mercusuar bagi 
penduduk pulau itu sendiri. Adakah mereka telah semenamena pada 
rezeki Tuhan sehingga nanti terlunta-lunta seperti di kala Tuhan 
menguji bangsa Lemuria 8 ? 

Kilau itu terus menyala sampai jauh malam. Eksploitasi timah 
besar-besaran secara nonstop diterangi ribuan lampu dengan energi 
jutaan kilo watt. Jika disaksikan dari udara di malam hari Pulau Beli- 
tong tampak seperti familia besar Ctenopore, yakni ubur-ubur yang 
memancarkan cahaya terang berwarna biru dalam kegelapan laut: 
sendiri, kecil, bersinar, indah, dan kaya raya. Belitong melayang-la- 
yang di antara Selat Gaspar dan Karimata bak mutiara dalam tang- 
kupan kerang. 

Dan terberkatilah tanah yang dialiri timah karena ia seperti kna- 
utia 9 yang dirubung beragam jenis lebah madu. Timah selalu me- 
ngikat material ikutan, yakni harta karun tak ternilai yang melimpah 
ruah: granit 10 , zirkonium 11 , silika 12 , senotim 13 , monazite 14 , ilmenit, 



8 Bangsa Lemuria: seperti Pompeii yang dilanda bencana terus punah, Lemuria 
dianggap bangsa berbudaya tinggi yang ada di wilayah Samudra Pasifik. Hilang 
secara misterius dan sebagian arkeolog menganggap Lemuria hanya mitos. 

9 Knautia {widow flower): tanaman ini diyakini hanya hidup di daerah tropis, karena 
susah tumbuh jika terlindung dari sinar matahari. Bunganya bertangkai kurus, 
kelopaknya menyerupai daun-daun kecil dan berwarna merah menyala. 

10 Granit: batuan keras yang berwarna keputih-putihan dan berkilauan. 

11 Zirkonium: logam tanah langka, berwarna putih perak kristalin atau kelabu amort, 
tahan terhadap korosi, lambang kimia: Zr. 

12 Silika: mineral terbesar dari pasir dan batu pasir; Sid; kristal; hablur. 

13 Senotim: berada pada lapisan aluvium, berbentuk butir-butir pasir berwarna 
kekuning-kuningan dengan kandungan utama fosfat, thorium, dan yttrium. Mineral ini 
juga mengandung unsur radioaktif, namun masih bisa ditoleransi karena kadarnya 
sangat rendah. 



34 



The Tower OfBahef 

siderit 15 , hematit 16 , clay, emas, galena 17 , tembaga, kaolin 18 , kuarsa, 
dan topas 19 ... Semuanya berlapis-lapis, meluap-luap, beribu-ribu ton 
di bawah rumah-rumah panggung kami. Kekayaan ini adalah... 
bahan dasar kaca berkualitas paling tinggi, bijih besi dan titanium 20 
yang bernas, ...material terbaik untuk superkonduktor, timah ko- 
song ilmenit yang digunakan laboratorium roket NASA sebagai ma- 
ted antipanas ekstrem, zirkonium sebagai bahan dasar produk-pro- 
duk tahan api, emas murni dan timah hitam yang amat mahal, bah- 
kan kami memiliki sumber tenaga nuklir: uranium yang kaya raya. 
Semua ini sangat kontradiktif dengan kemiskinan turun temu-run 
penduduk asli Melayu Belitong yang hidup berserakan di atas-nya. 
Kami seperti sekawanan tikus yang paceklik di lumbung padi. 

Belitong dalam batas kuasa eksklusif PN Timah adalah kota 
praja Konstantinopel yang makmur. PN adalah penguasa tunggal 
Pulau Belitung yang termasyhur di seluruh negeri sebagai Pulau 
Timah. Nama itu tercetak di setiap buku geografi atau buku Him- 
punan Pengetahuan Umum pustaka wajib sekolah dasar. PN amat 
kaya. la punya jalan raya, jembatan, pelabuhan, real estate, bendung- 



14 Monazite: fosfat berwarna cokelat kemerahan, mengandung logam bumi yang 
langka dan merupakan sumber penting dari thorium, lanthanun, dan cerium. Biasanya 
berupa kristal-kristal kecil yang terisolasi. 

15 Sinerit: mineral besi karbonat alamiah, lazim diperoleh dari meteor. 

16 Hematit: bijih besi yang berwarna merah kehitaman; Fe203 

17 Galena: mineral yang terdiri atas unsur plumbum (Pb) dan sulfur (S), berbentuk 
seperti bijih timah, berwarna hitam. 

18 Kaolin: tanah liat yang lunak, halus, dan putih, terjadi dari pelapukan batuan 
granit, dijadikan bahan untuk membuat porselen atau untuk campuran membuat kain 
tenun (kertas, karet, obat-obatan, dan sebagainya); tanah liat Cina. 

19 Topas: batu permata berwarna macam-macam (kuning, cokelat, kemerah-merahan, 
tidak berwarna, dan sebagainya); alumunium silikat dengan berbagai campuran. 

20 Titanium: logam berwarna kelabu tua dan amort; unsur dengan nomor atom 22, 
berlambang Ti. Logam ini sangat ringan dan kuat. 



35 



Andrea Hirata 

an, dok kapal, sarana telekomunikasi, air, listrik, rumah-rumah sa- 
kit, sarana olahraga— termasuk beberapa padang golf, kelengkapan 
sarana hiburan, dan sekolah-sekolah. PN menjadikan Belitong— 
sebuah pulau kecil— seumpama desa perusahaan dengan aset triliun- 
an rupiah. 

PN merupakan penghasil timah nasional terbesar yang mem- 
pekerjakan tak kurang dari 14.000 orang. la menyerap hampir selu- 
ruh angkatan kerja di Belitong dan menghasilkan devisa jutaan do- 
lar. Lahan eksploiotasinya tak terbatas. Lahan itu disebut kuasa pe- 
nambangan dan secara ketat dimonopoli. Legitimasi ini diperoleh 
melalui pembayaran royalti— lebih pas disebut upeti— miliaran rupi- 
ah kepada pemerintah. PN mengoperasikan 16 unit emmer bager 
atau kapal keruk yang bergerak lamban, mengorek isi bumi de-ngan 
150 buah mangkuk-mangkuk baja raksasa, siang malam me-rambah 
laut, sungai, dan rawa-rawa, bersuara mengerikan laksana kawanan 
dinosaurus. 

Di titik tertinggi siklus komidi putar, di masa keemasan itu, 
penumpangnya mabuk ketinggian dan tertidur nyenyak, melanjut- 
kan mimpi gelap yang ditiup-tiupkan kolonialis. Sejak zaman pen- 
jajahan, sebagai platform infrastruktur ekonomi, PN tidak hanya 
memonopoli faktor produksi terpenting tapi juga mewarisi mental 
bobrok feodalistis a la Belanda. Sementara seperti sering dialami 
oleh warga pribumi di mana pun yang sumber daya alamnya dieks- 
ploitasi habis-habisan, sebagaian komunitas di Belitong juga termar- 



36 



The Tower OfBahef 

ginalkan dalam ketidakadilan kompensasi tanah ulayah 21 , persamaan 
kesempatan, dan trickle down effects 22 . 



^S^vzsQ^ 



21 Tanah ulayah: tanah hutan yang diwariskan turun-temurun (sudah menjadi milik 
orang/adat) tapi belum diusahakan. 

22 Trickle down effect: teori ekonomi yang menyebutkan bahwa keuntungan finansial 
dan lainnya yang diterima oleh bisnis besar secara bertahap akan menyebar menjadi 
keuntungan seluruh masyarakat. 



37 



%at> 6 



Cjedc 



on 



"3 



PULAU Belitong yang makmur seperti mengasingkan diri dari ta- 
nah Sumatra yang membujur dan di sana mengalir kebudayaan Me- 
layu yang tua. Pada abad ke-19, ketika korporasi secara sistematis 
mengeksploitasi timah, kebudayaan bersahaja itu mulai hidup dalam 
karakteristik sosiologi tertentu yang atribut-atributnya mencermin- 
kan perbedaan sangat mencolok seolah berdasarkan status berkasta- 
kasta. Kasta majemuk itu tersusun rapi mulai dari para petinggi PN 
Timah yang disebut "orang staf ' atau urang setap dalam dialek lokal 
sampai pada para tukang pikul pipa di instalasi penambangan serta 
warga suku Sawang yang menjadi buruh-buruh yuka 1 penjahit ka- 
rung timah. Salah satu atribut diskriminasi itu adalah sekolah-seko- 
lah PN. 



1 Yuka: sebutan untuk pekerjaan terendah, jika di PN Timah pekerjaan itu adalah 
menjahit karung timah yang bersifat musiman dan borongan. 



Andrea Hirata 

Maka lahirlah kaum menak, implikasi dari institusi yang ingin 
memelihara citra aristokrat. PN melimpahi orang staf dengan peng- 
hasilan dan fasilitas kesehatan, pendidikan, promosi, transportasi, 
hiburan, dan logistik yang sangat diskriminatif dibanding kompen- 
sasi yang diberikan kepada mereka yang bukan orang staf. Mereka, 
kaum borjuis ini, bersemayam di kawasan eksklusif yang disebut 
Gedong. Mereka seperti orang-orang kulit putih di wilayah selatan 
Amerika pada tahun 70-an. Feodalisme di Belitong adalah sesuatu 
yang unik, karena ia merupakan konsekuensi dari adanya budaya 
korporasi, bukan karena tradisi paternalistik dari silsilah, subkultur, 
atau privilese yang dianugerahkan oleh penguasa seperti biasa terjadi 
di berbagai tempat lain. 

Sepadan dengan kebun gantung yang memesona di pelataran 
menara Babylonia, sebuah taman kesayangan Tiran Nebuchadnezzar 
III untuk memuja Dewa Marduk, Gedong adalah landmark Belitong. 
Ia terisolasi tembok tinggi berkeliling dengan satu akses keluar 
masuk seperti konsep cul de sac 2 dalam konsep pemukiman modern. 
Arsitektur dan desain lanskapnya bergaya sangat kolonial. Orang- 
orang yang tinggal di dalamnya memiliki nama-nama yang aneh, 
misalnya Susilo, Cokro, Ivonne, Setiawan, atau Kuntoro, tak ada 
Muas, Jamali, Sa'indun, Ramli, atau Mahader seperti nama orang- 
orang Melayu, dan mereka tidak pernah menggunakan bin atau bin- 
ti. 

Gedong lebih seperti sebuah kota satelit yang dijaga ketat oleh 
para Polsus (Polisi Khusus) Timah. Jika ada yang lancang masuk 
maka koboi-koboi tengik itu akan menyergap, mengintergoasi, lalu 
interogasi akan ditutup dengan mengingatkan sang tangkapan pada 



2 Cul de sac: jalan yang tertutup di salah satu ujungnya, biasanya untuk di kawasan 
permukiman. 



40 



Gedong 

tulisan "DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI 
HAK" yang bertaburan secara mencolok pada berbagai akses dan 
fasilitas di sana, sebuah power statement tipikal kompeni. 

Kawasan warisan Belanda ini menjunjung tinggi kesan menjaga 
jarak, dan kesan itu diperkuat oleh jajaran pohon-pohon saga 3 tua 
yang menjatuhkan butir-butir buah semerah darah di atas kap mo- 
bil-mobil mahal yang berjejal-jejal sampai keluar garasi. Di sana, ru- 
mah-rumah mewah besar bergaya Victoria memiliki jendela-jendela 
kaca lebar dan tinggi dengan tirai yang berlapis-lapis laksana layar 
bioskop. Rumah-rumah itu ditempatkan pada kontur yang agak 
tinggi sehingga kelihatan seperti kastil-kastil kaum bangsawan de- 
ngan halaman terpelihara rapi dan danau-danau buatan. Di dalam- 
nya hidup tenteram sebuah keluarga kecil dengan dua atau tiga anak 
yang selalu tampak damai, temaram, dan sejuk. 

Setiap rumah memiliki empat bangunan terpisah yang disam- 
bungkan oleh selasar-selasar panjang. Itulah rumah utama sang ma- 
jikan, rumah bagi para pembantu, garasi, dan gudang-gudang. Sela- 
sar-selasar itu mengelilingi kolam kecil yang ditumbuhi Nymphaea 
caereulea 4 atau the blue water lily yang sangat menawan dan di te- 
ngahnya terdapat patung anak-anak gendut semacam Mannequin 



3 Saga (Adenanthera microsperma): ada dua macam saga, yaitu saga pohon dan saga 
rambat. Saga pohon biasa disebut saga saja, pohonnya bisa tumbuh sangat besar 
seperti beringin dan berbuah keras, kecil, dan berwarna merah berkelip. Tumbuhan 
ini termasuk suku polong-polongan (Papiliocaceae), berdaun majemuk menyirip ganjil, 
bunganya berwarna merah. 

4 Nymphaea caereulea (seroja biru; tunjung biru; the blue waterlily; blue lotus; egyptian 
lotus; Sacred Narcotic Lily of the Nile): jenis lotus air berwarna biru nan cantik. 
Dipercaya telah digunakan oleh bangsa Mesir kuno sebagai obat dan pelengkap 
ritual. Bunga yang dikeringkan terkadang diisap seperti rokok untuk menimbulkan 
efek sedatif ringan. 



41 



Andrea Hirata 

Piss 5 legenda negeri Belgia yang menyemprotkan air mancur sepan- 
jang waktu dari kemaluan kecilnya yang lucu. 

Pot-pot kayu anggrek mahal Tainia shimadaf dan Chysis 7 
digan-tungkan berderet-deret di bibir atap selasar dan di bawahnya 
ter-susun rapi bejana keramik antik bertangga-tangga berisi kaktus 
Chaemasereas dan Parodia scopa. Untuk urusan bunga ini ada pe- 
tugas khusus yang merawatnya. Di luar lingkar kolam didirikan se- 
buah kandang berlubang kotak-kotak kecil persegi berbentuk pira- 
mida yang berseni dan ditopang oleh sebuah pilar bergaya Romawi, 
itulah rumah burung merpati Inggris. 

Di dalam rumah utama sang majikan terdapat ruang tamu 
dengan lampu-lampu yang teduh dan perabot utama di sana adalah 
sebuah sofa Victorian rosewood berwarna merah. Jika duduk di atas- 
nya seseorang dapat merasa dirinya seperti seorang paduka raja. Di 
samping ruang tamu adalah ruang makan tempat para penghuni ru- 
mah makan malam mengenakan busana senja yang terbaik dan ber- 



5 Mannequin Piss: nama sebuah patung yang sangat terkenal, merupakan landmark 
berusia ratusan tahun yang terletak di sebuah persimpangan kecil di pusat kota 
Brussel, Belgia. Legendanya, zaman dahulu ketika terjadi sebuah kebakaran hebat, 
warga diselamatkan oleh seorang malaikat yang berkemih. Patung-patung kecil yang 
menyerupai Mannequin Piss banyak diproduksi dan digunakan sebagai hiasan di air 
mancur. 

6 Tainia shimadai (azalea orchid): anggrek ini memiliki sepal berwarna kuning, cokelat 
kehijauan, atau cokelat. Labelumnya berwarna kuning dengan bercak-bercak merah 
cokelat kecil di kedua sisinya, dengan ujung depan terbelah tiga. Tainia banyak hidup 
di pegunungan yang dingin dan lembab. Namanya berasal dari kata Yunani, "tainia" 
yang berarti fillet, karena daunnya yang panjang dan sempit dengan tangkai daun 
yang panjang. 

7 Chysis (baby orchid): anggrek ini sepintas menyerupai cattelya, tapi bunganya lebih 
tebal dan berlilin. Sepal dan petalnya lebar dan luas, labelumnya berdaging tebal dan 
berlilin. Daunnya tersusun seperti kipas dan berbaris di sepanjang pseudobulb-nya. 
Spesies-spesiesnya memiliki warna yang berbeda-beda: putih-kuning, putih dengan 
ujung ungu, kuning kecokelatan, kuning-peac/i dengan setrip merah di labelumnya. 



42 



Gedong 

sepatu. Di meja makan mewah dengan kayu cinnamon glaze, mereka 
duduk mengelilingi makanan yang namanya bahkan belum ada 
terjemahannya. Pertama-tama perangsang lapar pumpkin and Gor- 
gonzola soup s , lalu hadir caesar salad* menu utama, chicken cordon 
bleu 10 , vitello alia Provenzale 11 , atau... Pada bagian akhir sebagai ma- 
kanan penutup adalah creamy cheesecake topped with stawberry 
puree, buah-buah persik dan prem. 

Mereka makan dengan tenang sembari mendengarkan musik 
klasik yang elegan: Mozart: Haffner No. 35 in D Major. Mereka me- 
matuhi table manner. Setelah melampirkan serbet di atas pangkuan- 
nya makan malam dimulai nyaris tanpa suara dan tak ada seorang 
pun yang menekan bibir meja dengan sikunya. 

Sarapan pagi disajikan di ruangan yang berbeda. Ruangan ini 
terbuka, menghadap ke kebun anggrek dan kolam renang dangkal 
yang biru. Mejanya juga berbeda yakni terracotta tile top oval yang 
lucu namun berkelas. Di pagi hari mereka senang mencicipi omelet 
dan menyeruput teh Earl Grey 12 atau cappuccino 13 , lalu mereka me- 



8 Pumpkin and Gorgonzola Soup: sup labu yang dicampur dengan gorgonzola (keju 
biru Italia yang lembab dengan rasa yang kuat). 

9 Caesar salad: salad yang dibuat dari campuran lettuce (daun dari tabaman serupa 
kol yang berwarna putih kehijauan, lebar, dan renyah), croutons (roti tawar kering 
berbentuk dadu), keju parmesan, dan anchovy (semacam ikan teri yang diasinkan), 
dengan bumbu [dressing) berbahan dasar telur. Namanya diambil dari Caesar Gardini, 
pemilik sebuah restoran di Tijuana, Meksiko, yang konon pertama kali 
menemukannya. 

10 Chicken cordon bleu: ayam yang diisi dengan gulungan daging asap dan keju dan 
digoreng dengan tepung panir. 

11 Vitello alia Provenzalle: masakan Italia, terbuat dari daging sapi muda (umumnya 
berusia 18-20 bulan) yang dimasak (di-steia) dengan tomat dan bumbu-bumbu lain. 

12 Teh Earl Grey: teh khas Inggris yang menggunakan bergamot sebagai campuran, 
sehingga menghasilkan warna seduhan yang lebih muda dengan rasa musky. Konon 



43 



Andrea Hirata 

lemparkan remah-remah roti pada burung-burung merpati Inggris 
yang berebutan, rakus tapi jinak. 

Halaman setiap rumah sangat luas dan tak dipagar. Kebanyakan 
didekorasi dengan karya seni instalasi dari konstruksi logam yang 
maknanya tak mudah dicerna orang awam. Hamparan rumput ma- 
nila di halaman menyentuh lembut bibir jalan raya dengan tinggi 
permukaan yang sama. Ada daya tarik tersendiri di situ. Tak ada pa- 
rit, karena semua sistem pembuangan diatur di bawah tanah. Peka- 
rangan ditumbuhi pinang raja, bambu Jepang, pisang kipas, dan ber- 
jenis-jenis palem yang berselang-seling di antara taman-taman 
bunga umum, ornamen, galeri, angsa-angsa besar yang berkeliaran, 
kafe members only, patung-patung, snooker bar 14 , sudut-sudut tem- 
pat bermain anak-anak berisi ayam-ayam kalkun yang dibiarkan be- 
bas, trotoar untuk membawa anjing jalan-jalan, kolam-kolam re- 
nang, dan lapangan-lapangan golf. Tenang dan tidak berisik, kecuali 
sedikit bunyi, rupanya anjing pudel sedang mengejar beberapa ekor 
kucing anggora. 

Namun, selain suara hewan-hewan lucu itu sore ini terdengar 
lamat-lamat denting piano dari salah satu kastil Victoria yang tertu- 
tup rapat berpilar-pilar itu. Floriana atau Flo yang tomboi, salah se- 



nama tersebut diambil dari Charles Grey, yaitu Earl Grey II (1764-1845), seorang 
negarawan dan mantan perdana merited Inggris. 

13 Cappuccino: minuman yang merupakan campuran dari kopi espresso dan susu 
panas yang berbusa, kadang ditaburi bubuk kayu manis atau cokelat. 

14 Snooker bar: tempat bermain snooker, yaitu sebuah variasi dari permainan biliar, 
yang dimainkan di atas meja berlapis kain laken yang meiliki 6 kantung berbukaan 
bundar (4 di setiap sudut dan 2 di tengah sisi panjangnya). Permainan ini 
menggunakan sebuah tongkat panjang (cue), satu bola putih (cue ball), 15 bola merah, 
serta 6 bola warna lainnya (merah muda, hijau, cokelat, biru, kuning, dan hitam). 
Permainan ini sangat populer di Inggris dan negara-negar yang pernah menjadi 
bagian dari kekaisaran Inggris. 



44 



Gedong 

orang siswa sekolah PN, sedang les piano. Guru privatnya sangat 
bersemangat tapi Flo sendiri terkantuk-kantuk tanpa minat. Kedua 
tangannya menopang wajah murungnya sambil menguap berulang- 
ulang di samping sebuah instrumen megah: grand piano merk Stein- 
way and sons yang hitam, dingin, dan berkilauan. Wajah Flo seperti 
kucing kebanyakan tidur dan bangun magrib-magrib. 

Bapaknya— seorang Mollen Bas, kepala semua kapal keruk— du- 
duk di sebuah kursi besar semacam singgasana sehingga tubuh kecil- 
nya tenggelam. Kakinya dibungkus sepatu mahal De Carlo cokelat 
yang elegan, tergantung berayun-ayun lucu. la geram pada tingkah 
si tomboi dan malu pada sang guru, seorang wanita berkaca-mata, 
setengah baya, berwajah cerdas dan hanya bisa tersenyum-senyum. 
Beliau tak henti-henti memohon maaf pada wanita Jawa yang sangat 
santun itu atas kelakuan anaknya. 

Bapak Flo adalah orang hebat, seseorang yang amat terpelajar. 
la adalah insinyur lulusan terbaik dari Technische Universiteit Delf di 
Holland dari Fakultas Werktuiqbouwkunde, Maritieme techniek & 
technische materiaalwetenschappen, yang artinya kurang lebih: jago 
teknik. 

la adalah salah satu dari segelintir orang Melayu asli Belitong 
yang berhak tinggal di Gedong dan orang kampung yang mampu 
mencapai karier tinggi di jajaran elite orang staf karena kepintaran- 
nya. Sebagai Mollen Bas beliau sanggup mengendalikan shift ribuan 
karyawan, memperbaiki kerusakan kapal keruk yang tenaga-tenaga 
ahli asing sendiri sudah menyerah, dan mengendalikan aset pro- 
duksi miliaran dolar. Tapi menghadapi anak perempuan kecilnya, si 
tomboi gasing yang tak bisa diatur ini, beliau hampir menyerah. 



45 



Andrea Hirata 

Semakin keras suara bapaknya menghardik semakin lebar Flo meng- 
uap. 

Pokok perkaranya sederhana, yakni beliau telah memiliki be- 
berapa anak laki-laki dan Flo si bungsu, adalah anak perempuan 
satu-satunya. Namun anak perempuannya ini bersikeras ingin men- 
jadi laki-laki. Setiap had beliau berusaha memerempuankan Flo an- 
tara lain dengan memaksanya kursus piano. Grand piano itu di- 
datangkan dengan kapal khusus dari Jakarta. Guru privat yang me- 
rupakan seorang instruktur musik profesional, juga khusus dijemput 
dari Tanjong Pandan. Lebih dari itu, di sela kesibukannya, bapaknya 
rela menunggui Flo kursus, namun yang beliau dapat tak lebih dari 
uapan-uapan itu. Flo bahkan tak berminat menyentuh tuts-tuts 
hitam putih yang berkilat-kilat karena pikirannya melayang ke 
sasana tempat ia latihan kick boxing dan angkat barbel. 

Flo tak suka menerima dirinya sebagai seorang perempuan. 
Mungkin karena pengharuh dari saudara-saudara kandungnya yang 
seluruhnya laki-laki atau karena suatu ketidakseimbangan dalam 
kimia tubuhnya. Maka ia memotong rambut dengan model lurus 
pendek dan ia belajar mengubah ekspresi wajah cantiknya agar me- 
refleksikan seringai laki-laki. Ia bercelana jeans, kaos oblong, dan 
membuang anting-anting yang dibelikan ibunya. Guru privat itu 
memperkenalkan dengan lembut notasi do, mi, sol, si dalam lintasan 
empat oktaf dan memperlihatkan posisi jari-jemari pada setiap 
notasi itu sebagai dasar bagi Flo untuk berlatih fingering. Flo 
menguap lagi. 



46 



"Bad J 

Zoom Out 



TAK disangsikan, jika di-zoom out, kampung kami adalah kampung 
terkaya di Indonesia. Inilah kampung tambang yang menghasilkan 
timah dengan harga segenggam lebih mahal puluhan kali lipat 
dibanding segantang padi. Triliunan rupiah aset tertanam di sana, 
miliaran rupiah uang berputar sangat cepat seperti putaran mesin 
parut, dan miliaran dolar devisa mengalir deras seperti kawanan 
tikus terpanggil pemain seruling ajaib Der Rattenfanger von Hameln. 
Namun jika di-zoom in, kekayaan itu terperangkap di satu tempat, ia 
tertimbun di dalam batas tembok-tembok tinggi Gedong. 

Hanya beberapa jengkal di luar lingkaran tembok tersaji 
pemandangan kontras seperti langit dan bumi. Berlebihan jika 
disebut daerah kumuh tapi tak keliru jika diumpamakan kota yang 
dilanda gerhana berkepanjangan sejak era pencerahan revolusi in- 
dustri. Di sana, di luar lingkar tembok Gedong hidup komunitas 
Melayu Belitong yang jika belum punya enam anak belum berhenti 



Andrea Hirata 

beranak pinak. Mereka menyalahkan pemerintah karena tidak me- 
nyediakan hiburan yang memadai sehingga jika malam tiba mereka 
tak punya kegiatan lain selain membuat anak-anak itu. 

Di luar tembok feodal tadi berdirilah rumah-rumah kami, 
beberapa sekolah negeri, dan satu sekolah kampung Muhammadi- 
yah. Tak ada orang kaya di sana, yang ada hanya kerumunan toko 
miskin di pasar tradisional dan rumah-rumah panggung yang renta 
dalam berbagai ukuran. Rumah-rumah asli Melayu ini sudah 
ditinggalkan zaman keemasannya. Pemiliknya tak ingin merubuh- 
kannya karena tak ingin berpisah dengan kenangan masa jaya, atau 
karena tak punya uang. 

Di antara rumah panggung itu berdesak-desakan kantor polisi, 
gudang-gudang logistik PN, kantor telepon, toapekong, kantor 
camat, gardu listrik, KUA, masjid, kantor pos, bangunan pemerin- 
tah— yang dibuat tanpa perencanaan yang masuk akal sehingga 
menjadi bangunan kosong telantar, tandon air, warung kopi, rumah 
gadai yang selalu dipenuhi pengunjung, dan rumah panjang suku 
Sawang. 

Komunitas Tionghoa tinggal di bangunan permanen yang juga 
digunakan sebagai toko. Mereka tidak memiliki pekarangan. Ada- 
pun pekarangan rumah orang Melayu ditumbuhi jarak pagar, belun- 
tas, beledu, kembang sepatu, dan semak belukar yang membosan- 
kan. Pagar kayu saling-silang di parit bersemak di mana tergenang 
air mati berwarna cokelat— juga sangat membosankan. Entok 1 dan 
ayam kampung berkeliaran seenaknya. Kambing yang tak dijaga me- 



1 Entok: itik yang dipelihara sebagai pengeram yang baik, terutama untuk mengerami 
telur bebek yang tidak dapat dierami induknya sendiri, suaranya berdesis; itik manila; 
itik surati. 



48 



Zoom Out 



lalap tanaman bunga kesayangan sehingga sering menimbulkan ke- 
ributan kecil. 

Jalan raya di kampung ini panas menggelegak dan ingar-bingar 
oleh suara logam yang saling beradu ketika truk-truk reyot lalu-la- 
lang membawa berbagai peralatan teknik eksplorasi timah. Kawasan 
kampung ini dapat disebut sebagai urban atau perkotaan. Umumnya 
tujuh macam profesi tumpang tindih di sini: kuli PN sebagai mayo- 
ritas, penjaga toko, pegawai negeri, pengangguran, pegawai kantor 
desa, pedagang, dan pensiunan. Sepanjang waktu mereka hilir mu- 
dik dengan sepeda. Semuanya, para penduduk, kambing, entok, 
ayam, dan seluruh bangunan itu tampak berdebu, tak teratur, tak 
berseni, dan kusam. 

Keseharian orang pinggiran ini amat monoton. Pagi yang sunyi 
senyap mendadak sontak berantakan ketika kantor pusat PN Timah 
membunyikan sirine, pukul 7 kurang 10. Sirine itu memekakkan 
telinga dalam radius puluhan kilometer seperti peringatan serangan 
Jepang dalam pengeboman Pearl Harbour. 

Demi mendengar sirine itu, dari rumah-rumah panggung, ja- 
lan-jalan kecil, sudut-sudut kampung, rumah-rumah dinas perma- 
nen berdinding papan, dan gang-gang sempit bermunculanlah para 
kuli PN bertopi kuning membanjiri jalan raya. Mereka berdesakan, 
terburu-buru mengayuh sepeda dalam rombongan besar atau ber- 
jalan kaki, karena sepuluh menit lagi jam kerja dimulai. Jumlah 
mereka ribuan. 

Mereka menyerbu tempat kerja masing-masing: bengkel bubut, 
kilang minyak, gudang beras, dok kapal, dan unit-unit pencucian 
timah. Para kuli yang bekerja shift di kapal keruk melompat berjejal- 
jejal ke dalam bak truk terbuka seperti sapi yang akan digiring ke 



49 



Andrea Hirata 

penjagalan. Tepat pukul 7 kembali dibunyikan sirene kedua tanda 
jam resmi masuk kerja. Lalu tiba-tiba jalan-jalan raya, kampung- 
kampung, dan pasar kembali lengang, sunyi senyap. Setelah pukul 7 
pagi, rumah orang Melayu Belitong hanya dihuni kaum wanita, para 
pensiunan, dan anak-anak kecil yang belum sekolah. Kampung 
kembali hidup pada pukul 10, yaitu ketika wanita-wanita itu me- 
mainkan orkestra menumbuk bumbu. Suara alu yang dilantakkan ke 
dalam lumpang kayu bertalu-talu, sahut-menyahut dari rumah ke 
rumah. 

Pukul 12 sirine kembali berbunyi, kali ini adalah sebagai tanda 
istirahat. Dalam sekejap jalan raya dipenuhi para kuli yang pulang 
sebentar. Lapar membuat mereka tampak seperti semut-semut 
hitam yang sarangnya terbakar, lebih tergesa dibanding waktu 
mereka berangkat pagi tadi. Pukul 2 siang sirine berdengung lagi 
memanggil mereka bekerja. Para kuli ini akan kembali pulang ke 
peraduan setelah terdengar sirine yang sangat panjang tepat pukul 5 
sore. Demikianlah yang berlangsung selama puluhan tahun 
lamanya. 



TIDAK seperti di Gedong, jika makan orang urban ini tidak 
mengenal appetizer sebagai perangsang selera, tak mengenal main 
course, ataupun dessert. Bagi mereka semuanya adalah menu utama. 
Pada musim barat ketika nelayan enggan melaut, menu utama itu 
adalah ikan gabus 2 . Para kuli yang bernafsu makan besar sesuai de- 
ngan pembakaran kalorinya itu jika makan seluruh tubuhnya seakan 



2 Ikan gabus (Ophiocephalus striatus): ikan air tawar, bentuknya seperti ikan lele, tetapi 
tidak berpatil; ikan aruan. 



50 



Zoom Out 

tumpah ke atas meja. Agar lebih praktis tak jarang baskom kecil nasi 
langsung digunakan sebagai piring. Di situlah diguyur semangkuk 
gangan 3 , yaitu masakan tradisional dengan bumbu kunir. Ketika 
makan emreka tak diiringi karya Mozart Haffner No. 35 in D Major 
tapi diiringi rengekan anak-anaknya yang minta dibelikan baju 
pramuka. 

Setiap subuh para istri meniup siong (potongan bambu) untuk 
menghidupkan tumpukan kayu bakar. Asap mengepul masuk ke 
dalam rumah, menyembul keluar melalui celah dinding papan, dan 
membangunkan entok yang dipelihara di bawah rumah panggung. 
Asap itu membuat penghuni rumah terbatuk-batuk, namun ia amat 
diperlukan guna menyalakan gemuk sapi yang dibeli bulan sebelum- 
nya dan digantungkan berjuntai-juntai seperti cucian di atas perapi- 
an. Gemuk sapi itulah sarapan mereka setiap pagi. Sebelum ber- 
angkat para kuli itu tidak minum teh Earlgrey atau cappuccino, 
melainkan minum air gula aren dicampur jadam 4 untuk menimbul- 
kan efek tenaga kerbau yang akan digunakan sepanjang hari. 

Apabila persediaan gemuk sapi menipis dan angin barat se- 
makin kencang, maka menu yang disajikan sangatlah istimewa, yaitu 
lauk yang diasap untuk sarapan, lauk yang diasin untuk makan 
siang, dan lauk yang dipepes untuk makan malam, seluruhnya 
terbuat dari ikan gabus. 



3 Gangan: nama semacam sayuran dengan bumbu kunir, bisa dimasak bersama 
daging (gangan daging) atau ikan (gangan ikan). 

4 Jadam: getah dari semacam pohon yang hanya tumbuh di Arab, dibentuk seperti 
kapur, dan berwarna hitam. Bila ada yang menderita sakit, misalnya memar di tulang 
rusuk, maka jadam tersebut dikikis, dicampur air, dan diminum. 



51 



Andrea Hirata 

DI luar lingkungan urban, berpencar menuju dua arah besar 
adalah wilayah rural atau pedesaan. Daerha ini memanjang dalam 
jarak puluhan kilometer menuju ke barat ibu kota Kabupaten: Tan- 
jong Pandan. Sebaliknya, ke arah selatan akan menelusuri jalur ke 
pedalaman. Jalur ini berangsur-angsur berubah dari aspal men-jadi 
jalan batu merah dan lama-kelamaan menjadi jalan tanah se-tapak 
yang berakhir di laut. 

Di sepanjang jalur pedesaan rumah penduduk berserakan, 
berhadap-hadapan dipisahkan oleh jalan raya. Dulu nenek moyang 
mereka berladang di hutan. Belanda menggiring mereka ke pinggir 
jalan raya, agar mudah dikendalikan tentu saja. Orang-orang pe- 
desaan ini hidup bersahaja, umumnya berkebun, mengambil hasil 
hutan, dan mendapat bonus musiman dari siklus buah-buahan, 
lebah madu, dan ikan air tawar. Mereka mendiami tanah ulayat dan 
di belakang rumah mereka terhampar ribuan hektar tanah tak 
bertuan, padang sabana, rawa-rawa layaknya laboratorium alam 
yang lengkap, dan aliran air bening yang belum tercemar. 

Kekuatan ekonomi Belitong dipimpin oleh orang staf PN dan 
para cukong swasta yang mengerjakan setiap konsesi eksploitasi 
timah. Mereka menempati strata tertinggi dalam lapisan yang sangat 
tipis. Kelas menengah tak ada, oh atau mungkin juga ada, yaitu para 
camat, para kepala dinas dan pejabat-pejabat publik yang korupsi 
kecil-kecilan, dan aparat penegak hukum yang mendapat uang dari 
menggertaki cukong-cukong itu. 

Sisanya berada di lapisan terendah, jumlahnya banyak dan per- 
bedaannya amat mencolok dibanding kelas di atasnya. Mereka ada- 
lah para pegawai kantor desa, karyawan rendahan PN, pencari madu 
dan nira, para pemain organ tunggal, semua orang Sawang, semua 
orang Tionghoa kebun, semua orang Melayu yang hidup di pesisir, 



52 



Zoom Out 

para tenaga honorer Pemda, dan semua guru dan kepala sekolah— 
baik sekolah negeri maupun sekolah kampung— kecuali guru dan 
kepala sekolah PN. 



53 



Center Qffyceffence 



SEKOLAH-SEKOLAH PN Timah, yaitu TK, SD, dan SMP PN 
berada dalam kawasan Gedong. Sekolah-sekolah ini berdiri megah 
di bawah naungan Aghatis berusia ratusan tahun dan dikelilingi pa- 
gar besi tinggi berulir melambangkan kedisiplinan dan mutu tinggi 
pendidikan. Sekolah PN merupakan center of excellence atau tempat 
bagi semua hal yang terbaik. Sekolah ini demikian kaya raya karena 
didukung sepenuhnya oleh PN Timah, sebuah korporasi yang kele- 
bihan duit. Institusi pendidikan yang sangat modern ini lebih tepat 
disebut percontohan bagaimana seharusnya generasi muda dibina. 

Gedung-gedung sekolah PN didesain dengan arsitektur yang tak 
kalah indahnya dengan rumah bergaya Victoria di sekitarnya. Rua- 
ngan kelasnya dicat warna-warni dengan tempelan gambar kartun 
yang edukatif, poster operasi dasar matematika, tabel pemetaan un- 
sur kimia, peta dunia, jam dinding, termometer, foto para ilmuwan 
dan penjelajah yang memberi inspirasi, dan ada kapstok topi. Di 



Andrea Hirata 

setiap kelas ada patung anatomi tubuh yang lengkap, globe yang 
besar, white board, dan alat peraga konstelasi planet-planet. 

Di dalam kelas-kelas itu puluhan siswa brilian bersaing ketat da- 
lam standar mutu yang sanggat tinggi. Sekolah-sekolah ini me-miliki 
perpustakaan, kantin, guru BP, laboratorium, perlengkapan keseni- 
an, kegiatan ekstrakurikuler yang bermutu, fasilitas hiburan, dan sa- 
rana olahraga— termasuk sebuah kolam renang yang masih disebut 
dalam bahasa Belanda: zwembad. Di depan pintu masuk kolam re- 
nang ini tentu saja terpampang peringatan tegas "DILARANG 
MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK". Di setiap kelas 
ada kotak P3K berisi obat-obat pertolongan pertama. Kalau ada sis- 
wanya yang sakit maka ia akan langsung mendapatkan pertolongan 
cepat secara profesional atau segera dijemput oleh mobil ambulans 
yang meraung-raung. 

Mereka memiliki petugas-petugas kebersihan khusus, guru-gu- 
ru yang bergaji mahal, dan para penjaga sekolah yang berseragam 
seperti polisi lalu lintas dan selalu meniup-niup peluit. Tali merah 
bergulung-gulung keren sekali di bahu seragamnya itu. 

"Jumlah gurunya banyak." 

Demikian ujar Bang Amran Isnaini bin Muntazis Ilham — yang 
pernah sekolah di sana— persis pada malam sebelum esoknya aku 
masuk pertama kali di SD Muhammadiyah itu. 

Aku termenung. 

"Setiap pelajaran ada gurunya masing-masing, walaupun kau 
baru kelas satu." Maka pada malam itu aku tak bsia tidur akibat pu- 
sing menghitung berapa banyak jumlah guru di sekolah PN, tentu 
saja juga selain karena rasa senang akan masuk sekolah besok. 



56 



Center Of Excellence 

Murid PN umumnya anak-anak orang luar Belitong yang ba- 
paknya menjadi petinggi di PN. Sekolah ini juga menerima anak 
kampung seperti Bang Amran, tapi tentu saja yang orangtuanya Su- 
dan menjadi orang staf. Mereka semua bersih-bersih, rapi, kaya, 
necis, dan pintar-pintar luar biasa. Mereka selalu mengharumkan 
nama Belitong dalam lomba-lomba kecerdasan, bahkan sampai ting- 
kat nasional. Sekolah PN sering dikunjungi para pejabat, pengawas 
sekolah, atau sekolah lain untuk melakukan semacam benchmarking, 
melihat bagaimana seharusnya ilmu pengetahuan ditransfer dan 
bagaimana anak-anak kecil dididik secara ilmiah. 

Pendaftaran hari pertama di sekolah PN adalah sebuah peraya- 
an penuh sukacita. Puluhan mobil mewah berderet di depan sekolah 
dan ratusan anak orang kaya mendaftar. Ada bazar dan pertunjukan 
seni para siswa. Setiap kelas bisa menampung hampir sebanyak 40 
siswa dan paling tidak ada 4 kelas untuk setiap tingkat. SD PN tidak 
akan membagi satu pun siswanya kepada sekolah-sekolah lain yang 
kekurangan murid karena sekolah itu memiliki sumber daya yang 
melimpah ruah untuk mengakomodasi berapa pun jumlah siswa 
baru. Lebih dari itu, bersekolah di PN adalah sebuah kehormatan, 
hingga tak seorang pun yang berhak sekolah di situ sudi dilung- 
surkan ke sekolah lain. 

Ketika mendaftar, badan mereka langsung diukur untuk tiga 
macam seragam harian dan dua macam pakaian olah raga. Mereka 
juga langsung mendapat kartu perpustakaan dan bertumpuk-tum- 
puk buku acuan wajib. Seragamnya untuk hari Senin adalah baju bi- 
ru bermotif bunga rambat yang indah. Sepatu yang dikenakan 
berhak dan berwarna hitam mengilat. Sangat gagah ketika ber- 
marching band melintasi kampung. Melihat mereka aku segera 
teringat pada sekawanan anak kecil yang lucu, putih, dan bersayap, 



57 



Andrea Hirata 

yang turun dari awan— seperti yang biasa kita lihat pada gambar- 
gambar buku komik. Setiap pagi para murid PN dijemput oleh bus- 
bus sekolah berwarna biru. 

Kepala sekolahnya adalah seorang pejabat penting, Ibu Frischa 
namanya. Caranya ber-make up jelas memperlihatkan dirinya se- 
dang bertempur mati-matian melawan usia dan tampak jelas pula, 
dalam pertempuran itu, beliau telah kalah. la seorang wanita keras 
yang terpelajar, progresif, ambisius, dan sering habis-habisan meng- 
hina sekolah kampung. Gerak geriknya diatur sedemikian rupa se- 
bagai penegasan kelas sosialnya. Di dekatnya siapa pun akan merasa 
terintimidasi. 

Kalau sempat berbicara dengan beliau, maka ia sama seperti 
orang Melayu yang baru belajar memasak, bumbunya cukup tiga 
macam: pembicaraan tentang fasilitas-fasilitas sekolah PN, anggaran 
ekstrakurikuler jutaan rupiah, dan tentang murid-muridnya yang 
telah menajdi dokter, insinyur, ahli ekonomi, pengusaha, dan orang- 
orang sukses di kota atau bahkan di luar negeri. Bagi kami yang wak- 
tu itu masih kecil, masih berpandangan hitam putih, beliau adalah 
seorang tokoh antagonis. 

Yang dimaksud dengan sekolah kampung tentu saja adalah per- 
guruan Muhammadiyah dan beberapa sekolah swasta miskin lain- 
nya di Belitong. Selain sekolah miskin itu memang terdapat pula 
beberapa sekolah negeri di kampung kami. Namun kondisi sekolah 
negeri tentu lebih baik karena mereka disokong oleh negara. Semen- 
tara sekolah kampung adalah sekolah swadaya yang kelelahan me- 
nyokong dirinya sendiri. 



58 






FILICIUM decipiens biasa ditanam botanikus untuk mengundang 
burung. Daunnya lebat tak kenal musim. Bentuk daunnya cekung 
sehingga dapat menampung embun untuk burung-burung kecil mi- 
lium. Dahannya pun mungil, menarik hati burung segala ukuran. 
Lebih dari itu, dalam jarak 50 meter dari pohon ini, di belakang se- 
kolah kami, berdiri kekar menjulang awan sebatang pohon tua ga- 
nitri (Elaeocarpus sphaericus schum). Tingginya hampir 20 meter, 
dua kali lebih tinggi dari filicium. Konfigurasi ini menguntungkan 
bagi burung-burung kecil cantik nan aduhai yang diciptakan untuk 
selalu menjaga jarak dengan manusia (sepertinya setiap makhluk 
yang merasa dirinya cantik memang cenderung menjaga jarak), ya- 
itu red breasted hanging parrots atau tak lain serindit Melayu. 

Sebelum menyerbu /iZ/dum, serindit Melayu terlebih dulu mela- 
kukan pengawasan dari dahan-dahan tinggi ganitri sambil jungkir 



Andrea Hirata 

balik seperti pemain trapeze 1 . Melangak-longok ke sana kemari apa- 
kah ada saingan atau musuh. Buah ganitri yang biru mampu menya- 
markan kehadiran mereka. Kemampuan burung ini berakrobat me- 
nyebabkan ahli ornitologi 2 Inggris menambahkan nama hanging pa- 
da nama gaulnya itu. Jika keadaan sudah aman kawanan ini akan 
menukik tajam menuju dahan-dahan /?Z/dum dan tanpa ampun, de- 
ngan paruhnya yang mampu memutuskan kawat, secepat kilat, ung- 
gas mungil rakus ini menjarah buah-buah kecil filicium dengan ke- 
pala waspada menoleh ke kiri dan kanan. Pelajaran moral nomor 
tiga: jika Anda cantik, hidup Anda tak tenang. 

Seumpama suku-suku Badui di Jazirah Arab yang menggan- 
tungkan hidup pada oasis maka filicium tua yang menaungi atap ke- 
las kami ini adalah mata air bagi kami. Hari-hari kami terorientasi 
pada pohon itu. la saksi bagi drama masa kecil kami. Di dahannya 
kami membuat rumah-rumahan. Di balik daunnya kami bersembu- 
nyi jika bolos pelajaran kewarganegaraan. Di batang pohonnya kami 
menuliskan janji setia persahabatan dan mengukir nama-nama kecil 
kami dengan pisau lipat. Di akarnya yang menonjol kami duduk 
berkeliling mendengar kisah Bu Mus tentang petualangan Hang Je- 
bat, dan di bawah keteduhan daunnya yang rindang kami bermain 
lompat kodok, berlatih sandiwara Romeo dan Juliet, tertawa, mena- 
ngis, bernyanyi, belajar, dan bertengkar. 

Setelah serindit Melayu terbang melesat pergi seperti anak pa- 
nah Winetou menembus langit maka hadirlah beberapa keluarga 



1 Trapeze: artinya tongkat horizontal yang terikat pada dua lajur tali yang tergantung 
secara paralel, digunakan untuk sebuah nomor dalalm senam indah atau dalam 
permainan akrobat di sirkus. 

2 Ornitologi: ilmu pengetahuan tentang burung, termasuk deskripsi dan klasifikasi, 
penyebaran dan kehidupannya. 



60 



Pemjakit Gifa No. 5 

jalak 3 kerbau. Penampilan burung ini sangat tak istimewa. Karena 
tak istimewa maka tak ada yang memerhatikannya. Mereka santai 
saja bertamu ke haribaan dedaunan filicium, menikmati setiap gigit- 
an buah kecilnya, buang hajat sesuka hatinya.... Bahkan ketika mu- 
lutnya penuh, mereka pun akan membersihkan paruhnya dengan 
menggosok-gosokkannya pada kulit filicium yang seperti handuk ke- 
ring. Mereka kemudian akan turun ke tanah, buncit, penuh daging, 
bulat beringsut-ingsut laksana seorang MC. Tak peduli pada dunia. 
Sebaliknya, kami pun tak tertarik menggodanya. Interaksi kami de- 
ngan jalak kerbau adalah dingin dan individualistis. 

Demikian pula hubungan kami dengan burung ungkut-ungkut 4 
yang mematuki ulat di kulit filicium. Menurutku ungkut-ungkut 
mendapat nama lokal yang tidak adil. Bayangkan, nama bukunya 
adalah coppersmith barbet. Nyatanya ia tak lebih dari burung biru 
pucat membosankan dengan bunyi yang lebih membosankan kut... 
kut... kut... namun kehadirannya sangat kami tunggu karena ia selalu 
mengunjungi pohon filicium sekitar pukul 10 pagi. Pada jam ini ka- 
mi mendapat pelajaran kewarganegaraan yang jauh lebih membo- 
sankan. Suara kut-kut-kut persis di luar jendela kelas kami jelas lebih 
menghibur dibanding materi pelajaran bergaya indoktrinasi itu. 

Setelah ungkut-ungkut berlalu hinggaplah kawanan cinenen ke- 
labu 5 yang mencari serangga sisa garapan ungkut-ungkut. Tak per- 



3 Jalak (Sturnupostor jala): burung beo kecil, bulunya hitam, kaki dan paruhnya 
berwarna kuning. 

4 Ungkut-ungkut (Coppersmith barbet; Megalaema haema): burung yg agak ke hijau- 
hijauan pada punggungnya, dada berwarna putih. 

5 Cinenen kelabu (Orthotomus sepium; Ashy Tailorbird; Olivebaeked Tailorbird): burung 
kicau kecil (sekitar 13 cm) berwarna kelabu, dengan campuran warna hitam pada 
sayapnya, merah pada bagian kepala, dan kuning pada dada. Burung ini memiliki 
sayap yang pendek dan membulat, ekor pendek yang tegak, kaki yang kuat, serta 



61 



Andrea Hirata 

nah kulihat mereka hadir bersamaan karena peringai coppersmith 
yang tak pernah mau kalah. Lalu silih berganti sampai menjelang 
sore berkunjung burung-burung madu sepah 6 , pipit, jalak biasa 7 , ge- 
latik batu, dan burung matahari 8 yang berjingkat-jingkat riang dari 
dahan ke dahan. 

Demikian harmonisnya ekosistem yang terpusat pada sebatang 
pohon filicium anggota familia Acacia ini. Seperti para guru yang 
mengabdi di bawahnya, pohon ini tak henti-hentinya menyokong 
kehidupan sekian banyak spesies. Pada musim hujan ia semakin se- 
marak. Puluhan jenis kupu-kupu, belalang sembah, bunglon, lintah, 
jamur telur 9 beracun, kumbang, capung, ulat bulu, dan ular daun sa- 
ling berebutan tempat. 

Drama, opera, dan orkestra yang manggung di dahan-dahan 
filicium sepanjang had tak kalah seru dengan panggung sandiwara 
yang dilakoni sepuluh homo sapiens di sebuah kelas di bawahnya. 
Seperti episode pagi ini misalnya. 

"Aku mau ikut ke pasar, Cai," Syahdan memohon kepada Kucai, 
ketika kami dibagi kelompok dalam pelajaran pekerjaan tangan dan 
harus membli kertas kajang 10 di pasar. 



paruh yang panjang dan melengkung. Nama tailorbird diambil dari cara mereka 
membangun sarang-menjahit tepian beberapa daun besar menjadi satu dengan serat 
tanaman atau sarang laba-laba sehingga menjadi semacam kantung tempat sarang 
rumput yang sesungguhnya dibangun. 

6 Madu sepah: burung kecil dengan punggung berwarna merah dan paruh lancip. 

7 Jalak biasa: jalak yang berparuh hitam 

8 Burung Matahari: burung kecil, berdada kuning, dengan sayap berwarna hitam, 
bentuk tubuhnya seperti kolibri, dan ia pemakan sari bunga. 

9 Jamur telur: jamur kecil yang tumbuh di sembarang tempat, beracun. 

10 Kertas kajang: kertas minyak berwarna merah, biru, kuning, biasa dibuat layangan. 



62 



Pemjakit Gifa No. 5 

"Tapi sandal dan bajuku buruk begini", katanya lagi dengan po- 
los dan tahu diri sambil melipat karung kecampang yang dipakainya 
sebagai tas sekolah. 

"Jangan kau bikin malu aku, Dan, apa kata anak-anak SD PN 
nanti?" jawab Kucai sok gengsi padahal satu pun ia tak kenal anak- 
anak kaya itu. Mengesankan dirinya kenal dengan anak-anak seko- 
lah PN dikiranya mampu menaikkan martabatnya di mata kami. 

Maka sepatuku yang seperti sepatu bola itu kupinjamkan pada- 
nya. Borek rela menukar dulu bajunya dengan baju Syahdan. Lalu 
Syahdan pun, yang memang berpembawaan ceria, kali ini terlihat 
sangat gembira. Ia tak peduli kalau baju Borek kebesaran dan sebe- 
narnya tak lebih bagus dari bajunya. Ada pula kemungkinan Borek 
kurapan, aku pernah melihat kurap itu ketika kami ramai-ramai 
mandi di dam tempo hari. 

Seperti Lintang, Syahdan yang miskin juga anak seorang nela- 
yan. Tapi bukan maksudku mencela dia, karena kenyataannya secara 
ekonomi kami, sepuluh kawan sekelas ini, memang semuanya orang 
susah. Ayahku, contohnya, hanya pegawai rendahan di PN Timah. 
Beliau bekerja selama 25 tahun mencedok tailing, yaitu material bu- 
angan dalam instalasi pencucian timah yang disebut wasserif 1 . Sela- 
in bergaji rendah, beliau juga rentan pada risiko kontaminasi radio 
aktif dari monazite dan senotim. Penghasilan ayahku lebih rendah 
dibandingkan penghasilan ayah Syahdan yang bekerja di bagan dan 
gudang kopra, penghasilan sampingan Syahdan sendiri sebagai tu- 
kang dempul perahu, serta ibunya yang menggerus pohon karet jika 
digabungkan sekaligus. Masalahnya di mata Syahdan, gedung seko- 



11 Wasserij: (baca: wasray), bhs. Belanda, tempat pencucian. Timah wasserij adalah 
timah yang telah dicuci. 



63 



Andrea Hirata 

lah, bagan ikan, dan gudang kopra tempat kelapa-kelapa busuk itu 
bersemedi adalah sama saja. la tidak punya sense of fashion sama se- 
kali dan di lingkungannya tidak ada yang mengingatkannya bahwa 
sekolah berbeda dengan keramba. 

Sebangku dengan Syahdan adalah A Kiong, sebuah anomali. 
Tak tahu apa yang merasuki kepala bapaknya, yaitu A Liong, seo- 
rang Kong Hu Cu sejati, waktu mendaftarkan anak laki-laki satu-sa- 
tunya itu ke sekolah Islam puritan dan miskin ini. Mungkin karena 
keluarga Hokian itu, yang menghidupi keluarga dari sebidang kebun 
sawi, juga amat miskin. 

Tapi jika melihat A Kiong, siapa pun akan maklum kenapa na- 
sibnya berakhir di SD kampung ini. la memang memiliki penampil- 
an akan ditolak di mana-mana. Wajahnya seperti baru keluar dari 
bengkel ketok magic, alias menyerupai Frankenstein. Mukanya lebar 
dan berbentuk kotak, rambutnya serupa landak, matanya tertarik ke 
atas seperti sebilah pedang dan ia hampir tidak punya alis. Seluruh 
giginya tonggos dan hanya tinggal setengah akibat digerogoti 
phyrite 12 dan markacite 13 dari air minum. Guru mana pun yang meli- 
hat wajahnya akan tertekan jiwanya, membayangkan betapa susah- 
nya menjejalkan ilmu ke dalam kepala aluminiumnya itu. 

Dia sangat naif dan tak peduli seperti jalak kerbau. Jika kita me- 
ngatakan bahwa dunia akan kiamat besok maka ia pasti akan berge- 
gas pulang untuk menjual satu-satunya ayam yang ia miliki, bahkan 
meskipun sang ayam sedang mengeram. Dunia baginya hitam putih 
dan hidup adalah sekeping jembatan papan lurus yang harus dititi. 



12 Mineral yang berbentuk seperti kristal, mengandung unsur sulfur (S) dan plumbum 
(Pb). Dapat memengaruhi keasaman air. 

13 Markacite: berbentuk batangan-batangan kecil kisut berwarna abu-abu. Juga 
mengandung plumbum dan sulfur, namun kadarnya berbeda dengan phyrite. 



64 



Pemjakit Gifa No. 5 

Namun, meskipun wajahnya horor, hatinya baik luar biasa. la peno- 
long dan ramah, kecuali pada Sahara. 

Tapi tak dinyana, sekian lama waktu berlalu, rupanya kepala ka- 
lengnya cepat juga menangkap ilmu. Justru pria beraut manis manja 
yang duduk di depannya dan berpenampilan layaknya orang pintar 
serta selalu mengangguk-angguk kalau menerima pelajaran, ternyata 
lemot bukan main, namanya Kucai. 

Kucai sedikit tak beruntung. Kekurangan gizi yang parah ketika 
kecil mungkin menyebabkan ia menderita miopia alias rabun jauh. 
Selain itu pandangan matanya tidak fokus, melenceng sekitar 20 de- 
rajat. Maka jika ia memandang lurus ke depan artinya yang ia lihat 
adalah benda di samping benda yang ada persis di depannya dan de- 
mikian sebaliknya, sehingga saat berbicara dengan seseorang ia tidak 
memandang lawan bicaranya tapi ia menoleh ke samping. Namun, 
Kucai adalah orang paling optimis yang pernah aku jumpai. Keku- 
rangannya secara fisik tak sedikit pun membuatnya minder. Sebalik- 
nya, ia memiliki kepribadian populis, oportunis, bermulut besar, ba- 
nyak teori, dan sok tahu. 

Kucai memiliki network yang luas. Ia pintar bermain kata-kata. 
Kalau hanya perkara perselisihan peneng sepeda 14 dengan aparat de- 
sa, informasi di mana bisa menjual beras jatah PN, atau bagaimana 
cara mendapatkan karcis pasar malam separuh harga, serahkan saja 
padanya, ia bisa memberi solusi total. Kelemahannya adalah nilai- 
nilai ulangannya tidak pernah melampaui angka enam karena ia ter- 
masuk murid yang agak kurang pintar, bodoh yang diperhalus. 



14 Peneng sepeda: pajak sepeda berupa semacam perangko yang ditempelkan di 
sepeda. 



65 



Andrea Hirata 

Maka jika digabungkan sifat populis, sok tahu, dan oportunis 
dengan otaknya yang lemot— Kucai memiliki semua kualitas untuk 
menjadi seorang politisi. Kenyataannya memang begitu. Seperti ke- 
banyakan politisi jika ia bicara tatapan matanya dan gayanya sangat 
meyakinkan walaupun dungunya minta ampun. Kualitas kepolitisi- 
annya itu mungkin menurun dari bapaknya. Beliau adalah seorang 
pensiunan tukang bagi beras di PN Timah dan telah bertahun-tahun 
menjabat sebagai ketua Badan Amil masjid kampung. 

Kucai juga bertahun-tahun menjadi ketua kelas kami namun 
bagi kami ketua kelas adalah jabatan yang paling tidak menyenang- 
kan. Jabatan itu menyebalkan antara lain karena harus mengingat- 
kan anggota kelas agar jangan berisik padahal diri sendiri tak bisa di- 
am. Ini menyebabkan tak ada dari kami yang ingin menjadi ketua 
kelas, apalagi kelas kami ini sudah terkenal susah dikendalikan. Ber- 
ulang kali Kucai menolak diangkat kembali menduduki jabatan itu, 
namun setiap kali Bu Mus mengingatkan betapa mulianya menjadi 
seorang pemimpin, Kucai pun luluh dan dengan terpaksa bersedia 
menjabat lagi. 

Suatu hari dalam pelajaran budi pekerti kemuhamadiyahan, Bu 
Mus menjelaskan tentang karakter yang dituntut Islam dari seorang 
amir. Amir dapat berarti seorang pemimpin. Beliau menyitir perka- 
taan Khalifah Umar bin Khatab. 

"Barangsiapa yang kami tunjuk sebagai amir dan telah kami 
tetapkan gajinya untuk itu, maka apa pun yang ia terima selain gaji- 
nya itu adalah penipuan!" 

Rupanya Bu Mus geram dengan korupsi yang merajalela di ne- 
geri ini dan beliau menyambung dengan lantang. 



66 



Pemjakit Gifa No. 5 

"Kata-kata itu mengajarkan arti penting memegang amanah se- 
bagai pemimpin dan Al-Qur'an mengingatkan bahwa kepemimpin- 
an seseorang akan dipertanggungjawabkan nanti di akhirat ...." 

Kami terpesona mendengarnya, namun Kucai gemetar. Menda- 
pati dirinya sebagai seorang pemimpin kelas ia gamang pada per- 
tanggungjawaban setelah mati nanti, apalagi sebagai seorang politisi 
ia menganggap bahwa menjadi ketua kelas itu tidak ada keuntung- 
annya sama sekali. Tidak adil! Lagi pula ia sudah muak mengurusi 
kami. Kami terkejut karena serta-merta ia berdiri dan berdalih seca- 
ra diplomatis. 

"Ibunda Guru, Ibunda mesti tahu bahwa anak-anak kuli ini ke- 
lakuannya seperti setan. Sama sekali tak bisa disuruh diam, terutama 
Borek, kalau tak ada guru ulahnya ibarat pasien rumah sakit jiwa 
yang buas. Aku sudah tak tahan, Ibunda, aku menuntut pemungutan 
suara yang demokratis untuk memilih ketua kelas baru. Aku juga tak 
sanggup mempertanggungjawabkan kepemimpinanku di padang 
Masyar nanti, anak-anak kumal ini yang tak bisa diatur ini hanya 
akan memberatkan hisabku!" 

Kucai tampak sangat emosional. Tangannya menunjuk-nunjuk 
ke atas dan napasnya tersengal setelah menghamburkan unek-unek 
yang mungkin telah dipendamnya bertahun-tahun. Ia menatap Bu 
Mus dengan mata nanar tapi pandangannya ke arah gambar R.H. 
Oma Irama Hujan Duit. 

Kami semua menahan tawa melihat pemandangan itu tapi Ku- 
cai sedang sangat serius, kami tak ingin melukai hatinya. 

Bu Mus juga terkejut. Tak pernah sebelumnya beliau menerima 
tanggapan selugas itu dari muridnya, tapi beliau maklum pada be- 
ban yang dipikul Kucai. Beliau ingin bersikap seimbang maka beliau 



67 



Andrea Hirata 

segera menyuruh kami menuliskan nama ketua kelas baru yang ka- 
mi inginkan di selembar kertas, melipatnya, dan menyerahkannya 
kepada beliau. Kami menulis pilihan kami dengan bersungguh- 
sungguh dan saling merahasiakan pilihan itu dengan sangat ketat. 

Kucai senang sekali. Wajahnya berseri-seri. la merasa telah 
mendapatkan keadilan dan menganggap bahwa bebannya sebagai 
ketua kelas akan segera berakhir. 

Suasana menjadi tegang menunggu detik-detik penghitungan 
suara. Kami gugup mengantisipasi siapa yang akan menjadi ketua 
kelas baru. 

Sembilan gulungan kertas telah berada dalam genggaman Bu 
Mus. Beliau sendiri kelihatan gugup. Beliau membuka gulungan per- 
tama. 

"Borek!" teriak Bu Mus. 

Borek pucat dan Kucai melonjak girang. Terang-terangan ia 
menunjukkan bahwa ia sendiri yang telah memilih Borek, kawan se- 
bangkunya yang ia anggap pasien rumah sakit jiwa yang buas. Bu 
Mus melanjutkan. 

"Kucai!" 

Kali ini Borek yang melonjak dan Kucai terdiam. Kertas ketiga. 

"Kucai!" 

Kucai tersenyum pahit. Kertas keempat. 

"Kucai!" 

Kertas kelima. 

"Kucai!" 



68 



Pemjakit Gifa No. 5 

Kucai pucat pasi. Demikian seterusnya sampai kertas kesem- 
bilan. Kucai terpuruk. la jengkel sekali kepada Borek yang tubuhnya 
menggigil menahan tawa. la memandang Borek dengan tajam tapi 
matanya mengawasi Trapani. 

Karena Harun tak bisa menulis maka jumlah kertas hanya sem- 
bilan tapi Bu Mus tetap menghargai hak asasi politiknya. Ketika Bu 
Mus mengalihkan pandangan kepada Harun, Harun mengeluarkan 
senyum khas dengan gigi-gigi panjangnya dan berteriak pasti. 

"Kucai ...!" 

Kucai terkulai lemas. Hari ini kami mendapat pelajaran penting 
tentang demokrasi, yaitu bahwa ternyata prinsip-prinsipnya tidak 
efektif untuk suksesi jabatan kering. Bu Mus menghampirinya de- 
ngan lembut sambil tersenyum jenaka. 

"Memegang amanah sebagai pemimpin memang berat tapi ja- 
ngan khawatir orang yang akan mendoakan. Tidakkah Ananda se- 
ring mendengar di berbagai upacara petugas sering mengucap doa: 
Ya, Allah lindungilah para pemimpin kami? Jarang sekali kita men- 
dengar doa: Ya Allah lindungilah anak-anak buah kami ...." 



DUDUK di pojok sana adalah Trapani. Namanya diambil dari 
nama sebuah kota pantai di Sisilia. Nyatanya ia memang seelok kota 
pantai itu. Ia memesona seumpama bondol peking 15 . Si rapi jali ini 



15 Bondol peking (Lonchura punctulata; scaly -breasted Munia; Nutmeg Mannikin; Spice 
Finch): jenis bondol (Munia maja: burung kecil pemakan biji yang berkepala putih, 
pipit ubat; emprit kaji) yang setelah dewasa akan memiliki ciri: berparuh pendek, 
tebal dan gelap, berpunggung cokelat, berkepala cokelat gelap, dengan dada berbecak 
putih dan hitam atau cokelat. Panjang tubuhnya sekitar 11-12 cm. Burung muda 



69 



Andrea Hirata 

adalah maskot kelas kami. Seorang perfeksionis berwajah seindah 
rembulan. la tipe pria yang langsung disukai wanita melalui sekali 
pandang. Jambul, baju, celana, ikat pinggang, kaus kaki, dan sepatu- 
nya selalu bersih, serasi warnanya, dan licin. la tak bicara jika tak 
perlu dan jika angkat bicara ia akan menggunakan kata-kata yang di- 
pilih dengan baik. Baunya pun harum. Ia seorang pemuda santun 
harapan bangsa yang memenuhi semua syarat Dasa Dharma Pramu- 
ka. Cita-citanya ingin jadi guru yang mengajar di daerah terpencil 
untuk memajukan pendidikan orang Melayu pedalaman, sungguh 
mulia. Seluruh kehidupannya seolah terinspirasi lagu Wajib Belajar 
karya R.N. Sutarmas. 

Ia sangat berbakti kepada orangtua, khususnya ibunya. Sebalik- 
nya, ia juga diperhatikan ibunya layaknya anak emas. Mungkin kare- 
na ia satu-satunya laki-laki di antara lima saudara perempuan lain- 
nya. Ayahnya adalah seorang operator vessel board 16 di kantor tele- 
pon PN sekaligus tukang sirine. Meskipun rumahnya dekat dengan 
sekolah tapi sampai kelas tiga ia masih diantar jemput ibunya. Ibu 
adalah pusat gravitasi hidupnya. 

Trapani agak pendiam, otaknya lumayan, dan selalu menduduki 
peringkat ketiga. Aku sering cemburu karena aku kebanjiran salam 
dari sepupu-sepupuku untuk disampaikan pada laki-laki muda flam- 
boyan ini. Dia tak pernah menanggapi salam-salam itu. Di sisi lain 
kami juga sering jengkel pada Trapani karena setiap kali kami punya 
"acara", misalnya menyangkutkan sepeda Pak Fahimi— guru kelas 



memiliki punggung yang lebih pucat, kepala lebih terang dan dada yang berwarna 

krem kekuningan. 

16 Vessel board: adalah alat sambung komunikasi model lama yang ditunggui 

seorang operator. Jika ada panggilan telepon maka operator ini akan 

menyambungkan kawat-kawat pada sebuah papan yang penuh lubang saluran 

telekomunikasi. 



70 



Pemjakit Gifa No. 5 

empat yang tak bermutu dan selalu menggertak murid— di dahan 
pohon gayam 17 , Trapani hams minta izin dulu pada ibunya. 

Lalu ada Sahara, satu-satunya hawa di kelas kami. Dia secantik 
grey cheeked green, atau burung punai lenguak. la ramping, berjil- 
bab, dan sedikit lebih beruntung. Bapaknya seorang Taikong, yaitu 
atasan para Kepala Parit, orang-orang lapangan di PN. Sifatnya yang 
utama: penuh perhatian dan kepala batu. Maka tak ada yang berani 
bikin gara-gara dengannya karena ia tak pernah segan mencakar. 
Jika marah ia akan mengaum dan kedua alisnya bertemu. Sahara sa- 
ngat temperamental, tapi ia pintar. Peringkatnya bersaing ketat de- 
ngan Trapani. Kebalikan dari A Kiong, Sahara sangat skeptis, susah 
diyakinkan, dan tak mudah dibuat terkesan. Sifat lain Sahara yang 
amat menonjol adalah kejujurannya yang luar biasa dan benar-benar 
menghargai kebenaran. Ia pantang berbohong. Walaupun diancam 
akan dicampakkan ke dalam lautan api yang berkobar-kobar, tak sa- 
tu pun dusta akan keluar dari mulutnya. 

Musuh abadi Sahara adalah A Kiong. Mereka bertengkar hebat, 
berbaikan, lalu bertengkar lagi. Sepertinya mereka sengaja diperte- 
mukan nasib untuk selalu berselisih. Mereka saling memprotes dan 
berbeda pendapat untuk hal-hal sepele. Sahara menganggap apa pun 
yang dilakukan A Kiong selalu salah, dan demikian pula sebaliknya. 
Kadang-kadang perseteruan mereka itu lucu dan membuka wawas- 
an. 



17 Gayam (Inocarpus edulis): pohon yang daunnya lebat dan dapat dipakai sebagai 
pembungkus, biasanya tumbuh didaerah yang banyak air. Buah pohon ini enak 
dimakan - biasanya orang Melayu merebusnya dan menyajikannya bersama kelapa 
parut, asal jangan digoreng, karena buah tersebut akan mengeras seperti batu. 



71 



Andrea Hirata 

Misalnya ketika kami berkumpul dan Trapani bercerita tentang 
bagusnya buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, karya legendaris 
Buya Hamka. 

"Aku juga sudah pernah membaca buku itu, maaf aku tak suka, 
terlalu banyak nama dan tempat, susah aku mengingatnya." Demiki- 
an komentar A Kiong mencari penyakit. 

Sahara yang sangat menghargai buku tertusuk hatinya dan me- 
nyalak tanpa ampun, "Masya Allah! Dengar anak muda, mana bisa 
kauhargai karya sastra bermutu, nanti jika Buya menulis lagi buku 
berjudul Si Kancil Anak Nakal Suka Mencuri Timun barulah buku 
seperti itu cocok buatmu..." 

Kami semua tertawa sampai berguling-guling. 

A Kiong tersinggung, tapi ia kehabisan kata, maka ditelannya 
saja ejekan itu mentah-mentah, pahit memang. Apa boleh buat, ia 
tak bisa mengonter cemoohan secerdas itu. 

Sebaliknya, Sahara sangat lembut jika berhadapan dengan Ha- 
run. Harun adalah seorang pria santun, pendiam, dan murah se- 
nyum. Ia juga merupakan teman yang menyenangkan. Model ram- 
butnya seperti Chairil Anwar dan pakaiannya selalu rapi. Masalah 
pakaian itu benar-benar diperhatikan oleh ibunya. Ia lebih kelihatan 
seperti pejabat kantoran di PN daripada anak sekolahan. Bagian be- 
lakang bajunya, yang disetrika dengan lipatan berpola kotak-kotak— 
lagi mode ketika itu— tampak serasi di punggung Harun. 

Harun memiliki hobi mengunyah permen asam jawa dan sama 
sekali tidak bisa menangkap pelajaran membaca atau menulis. Jika 
Bu Mus menjelaskan pelajaran, ia duduk tenang dan terus-menerus 
tersenyum. Pada setiap mata pelajaran, pelajaran apa pun, ia akan 



72 



Pemjakit Gifa No. 5 

mengacung sekali dan menanyakan pertanyaan yang sama, setiap 
hari, sepanjang tahun, "Ibunda Guru, kapan kita akan libur lebar- 
an?" 

"Sebentar lagi Anakku, sebentar lagi ...," jawab Bu Mus sabar, 
berulang-ulang, puluhan kali, sepanjang tahun, lalu Harun pun ber- 
tepuk tangan. 

Jika istirahat siang Sahara dan Harun duduk berdua di bawah 
pohon filicium. Mereka memiliki kaitan emosi yang unik, seperti 
persahabatan Tupai dan Kura-Kura. Harun dengan bersemangat 
menceritakan kucingnya yang berbelang tiga baru saja melahirkan 
tiga ekor anak yang semuanya berbelang tiga pada tanggal tiga ke- 
marin. Sahara selalu sabar mendengarkan cerita itu walaupun Harun 
menceritakannya setiap hari, berulang-ulang, puluhan kali, sepan- 
jang tahun, dari kelas satu SD sampai kelas tiga SMP. Sahara tetap 
setia mendengarkan. 

Jika kami naik kelas Harun juga ikut naik kelas meskipun ia tak 
punya rapor. Pengecualian dari sistem, demikian orang-orang pintar 
di Jakarta menyebut kasus seperti ini. Aku sering memandangi wa- 
jahnya lama-lama untuk menebak apa yang ada di dalam pikiran- 
nya. Dia hanya tersenyum menanggapi tingkahku. Harun adalah 
anak kecil yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa. 

Pria kedelapan adalah Borek. Pada awalnya dia adalah murid 
biasa, kelakuan dan prestasi sekolahnya sangat biasa, rata-rata air. 
Tapi pertemuan tak sengajanya dengan sebuah kaleng bekas minyak 
penumbuh bulu yang kiranya berasal dari sebuah negeri nun jauh di 
Jazirah Arab sana telah mengubah total arah hidupnya. Gambar di 
kaleng itu memperlihatkan seorang pria bercelana dalam merah, 
berbadang tinggi besar, berotot kawat tulang besi, dan berbulu lak- 



73 



Andrea Hirata 

sana seekor gorila jantan. la menemukan kaleng itu di dapur seorang 
pedagang kaki lima spesialis penumbuh segala jenis rambut. 

Sejak itu Borek tidak tertarik lagi dengan hal lain dalam hidup 
ini selain sesuatu yang berhubungan dengan upaya membesarkan 
ototnya. Karena latihan keras, ia berhasil, dan mendapat julukan 
Samson. Sebuah gelar ningrat yang disandangnya dengan penuh rasa 
bangga. Agak aneh memang, tapi paling tidak sejak usia muda Borek 
sudah menjadi dirinya sendiri dan sudah tau pasti ingin menjadi apa 
dia nanti, l.alu secara konsisten ia berusaha mencapainya. Ia melom- 
pati suatu tahap pencarian identitas yang tak jarang mengombang- 
ambingkan orang sampai tua. Bahkan sering sekali mereka yang tak 
kunjung menemukan identitas menjalani hidup sebagai orang lain. 
Borek lebih baik dari mereka. 

Samson demikian terobsesi dengan body building dan tergila- 
gila dengan citra cowok macho, dan pada suatu hari aku termakan 
hasutannya. 



AKU tak mengerti dari mana ia mendapat sebuah pengetahuan 
rahasia untuk membesarkan otot dada. 

"Jangan bilang siapa-siapa ...!" katanya berbisik. Ia menoleh ke 
kiri dan kanan, seakan takut ada yang memerhatikan dan mencuri 
idenya. Lalu ia menarik tanganku, kami pun berlari menuju bela- 
kang sekolah, sembunyi di ruangan bekas gardu listrik. Dari dalam 
tasnya ia mengeluarkan sebuah bola tenis yang dibelah dua. 



74 



Pemjakit Gifa No. 5 

"Kalau ingin dadamu menonjol seperti dadaku, inilah rahasia- 
nya!" Kembali ia berbisik walaupun ia tahu di sana tak mungkin ada 
siapa-siapa. Agaknya bola tenis itu mengandung sebuah keajaib-an. 

"Pasti sebuah penemuan yang hebat, rupanya bola tenis inilah 
rahasia keindahan tubuhnya," pikirku. Tapi akan diapakan aku ini? 

"Buka bajumu!" perintahnya. "Biar kujadikan kau pria sejati pu- 
jaan kaum Hawa. . . ." 

Wajahnya menunjukkan bahwa ia tak habis pikir mengapa se- 
mua laki-laki di luar sana tidak melakukan metode praktisnya ini, 
jalan pintas menuju kesempurnaan penampilan seorang lelaki. Se- 
sungguhnya aku ragu tapi tak punya pilihan lain. Pintu gardu sudah 
ditutup. 

"Cepatlah!" 

Aku semakin ragu. 

Namun, belum sempat aku berpikir jauh tiba-tiba ia merangsek 
maju ke arahku dan dengan keras menekankan bola tenis itu ke 
dadaku. Aku terjajar ke belakang sampai hampir jatuh. Aku tak ber- 
daya. Dengan leluasa dan sekuat tenaga ia membenamkan benda 
sialan itu ke kulit dadaku karena sekarang punggungku terhalang 
oleh tumpukan balok. Badannya jauh lebih besar, tenaganya seperti 
kuli, alisnya sampai bertemu karena ia mengerahkan segenap ke- 
kuatannya, membuatku meronta-ronta. 

Aku paham, belahan bola tenis ini dimaksudkan bekerja seperti 
sebuah benda aneh bertangkai kayu dan berujung karet yang dipakai 
orang untuk menguras lubang WC. Bola tenis itu adalah alat bekam 
yang akan menarik otot sehingga menonjol dan bidang. Itu idenya. 



75 



Andrea Hirata 

Sekarang tekanan tenaga Samson dan daya isap bola tenis itu mulai 
bereaksi menyiksaku. 

Yang aku rasakan adalah seluruh isi dadaku: jantung, hati, paru- 
paru, limpa, berikut isi perut dan darahku seperti terisap oleh bola 
tenis itu. Bahkan mataku rasanya akan meloncat. Aku tercekat, tak 
sanggup mengeluarkan kata-kata. Aku memberi isyarat agar ia me- 
lepaskan pembekam itu. 

"Belum waktunya, harus seslesai hitung nama dan orangtua, 
baru ada khasiatnya!" 

Hitung nama dan orangtua? Aduh! Celaka! 

Hitung nama dan orangtua adalah inovasi konyol kami sendiri, 
yaitu mengerjakan sesuatu dalam durasi menyebut nama sekaligus 
nama orang tua, misalnya Trapani Ihsan Jamari bin Zainuddin II- 
ham Jamari atau Harun Ardhli Ramadhan bin Syamsul Hazana Ra- 
madhan. Aku sudah tak sanggup menanggungkan benda yang me- 
nyedot dadaku ini selama menyebut nama sepuluh teman sekelas 
apalagi dengan nama orangtuanya. Nama orang Melayu tak pernah 
singkat. 

Samson tak peduli, ia tetap menekan belahan bola tenis itu tan- 
pa perasaan. Ini adalah adu kekuatan antara David yang kecil dan 
Goliath sang raksasa. Aku terperangkap seperti ikan kepuyu di da- 
lam bu 18 bu. Aku mulai sesak napas. Tubuhku rasanya akan meledak. 
Isapan bola tenis itu laksana sengatan lebah tanah kuning yang pa- 
ling berbisa dan tubuhku mulai terasa menciut. Kakiku mengais- 
ngais putus asa seperti banteng bernafsu menanduk matador. Na- 



18 Bubu: alat untuk menangkap ikan yang dibuat dari saga atau bambu yang dapat 
dianyam, dipasang dalam air sehingga ikan dapat masuk tapi tidak bisa keluar lagi. 



76 



Pemjakit Gifa No. 5 

mun, pada detik paling gawat itu rupanya Tuhan menyelamatkanku 
karena tanpa diduga salah satu balok di belakangku jatuh sehingga 
sekarang aku memiliki ruang utnuk mengambil ancang-ancang. 
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, kuambil seluruh tenaga terakhir 
yang tersisa lalu dengan sekali jurus kutendang selangkang Samson, 
tepat di belahan pelirnya, sekuat-kuat-nya, persis pegulat Jepang An- 
tonio Inoki menghantam Muhammad Ali di lokasi tak sopan itu pa- 
da pertarungan absurd tahun '76. 

Samson melolong-lolong seperti kumbang terperangkap dalam 
stoples. Aku melompat kabur pontang-panting. Belahan bola tenis 
inovasi genius dunia body building itu pun terpental ke udara dan 
jatuh berguling-guling lesu di atas tumpukan jerami. Sempat aku 
menoleh ke belakang dan melihat Samson masih berputar-putar me- 
megangi selangkangnya, lalu manusia Hercules itu pun tumbang 
berdebam di atas tanah. 

Di dadaku melingkar tanda bulat merah kehitam-hitaman, se- 
buah jejak kemahatololan. 

Ketika ibuku bertanya tentang tanda itu aku tak berkutik, kare- 
na pelajaran Budi Pekerti Kemuhammadiyahan setiap Jumat pagi 
tak membolehkan aku membohongi orangtua, apalagi ibu. Maka 
dengan amat sangat terpaksa kutelanjangi kebodohanku sendiri. 
Abang-abang dan ayahku tertawa sampai menggigil dan saat itulah 
untuk pertama kalinya aku mendengar teori canggih ibuku tentang 
penyakit gila. 

"Gila itu ada 44 macam," kata ibuku seperti seorang psikiater 
ahli sambil mengunyah gambir dan sirih. 



77 



Andrea Hirata 

"Semakin kecil nomornya semakin parah gilanya," beliau 
menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatapku seeperti sedang 
menghadapi seorang pasien rumah sakit jiwa. 

"Maka orang-orang yang sudah tidak berpakaian dan lupa diri 
di jalan-jalan, itulah gila no.l, dan gila yang kau buat dengan bola 
tenis itu sudah bisa masuk no. 5. Cukup serius! Hati-hati, kalau tak 
pakai akal sehat dalam setiap kelakuanmu maka angka itu bisa 
segera mengecil." 

Bukan bermaksud berpolemik dengan temuan para ahli jiwa. 
Kami mengerti bahwa teori ini tentu saja hanya untuk mengingat- 
kan anak-anaknya agar jangan bertindak keterlaluan. Tapi begitulah 
teori penyakit gila versi ibuku dan bagiku teori itu efektif. Aku malu 
sudah bertindak konyol. 

Aku tak yakin apakah Samson benar-benar menerapkan teknik 
sinting itu untuk memperbesar otot-ototnya, ataukah ia hanya ingin 
membodohi aku. Yang kutahu pasti adalah selama tiga hari berikut- 
nya ia ke sekolah dengan berjalan terkangkang-kangkang seperti 
orang pengkor, badannya yang besar membuat ia tampak seperti 
King Kong. 



PADA sebuah pagi yang lain, pukul sepuluh, seharusnya burung 
kut-kut sudah datang. Tapi pagi ini senyap. Aku tersenyum sendiri 
melamunkan seifat-sifat kawan sekelasku. Lalu aku memandangi 
guruku Bu Mus, seseorang yang bersedia menerima kami apa ada- 
nya dengan sepenuh hatinya, segenap jiwanya. Ia paham betul ke- 
miskinan dan posisi kami yang rentan sehingga tak pernah membuat 
kebijakan apa pun yang mengandung implikasi biaya. Ia selalu 



78 



Pemjakit Gifa No. 5 

membesarkan hati kami. Kupandangi juga sembilan teman sekelas- 
ku, orang-orang muda yang luar biasa. Sebagian mereka ke sekolah 
hanya memakai sandal, sementara yang bersepatu selalu tampak ke- 
besaran sepatunya. Orantua kami yang tak mampu memang sengaja 
membeli sepatu dua nomor lebih besar agar dapat dipakai dalam dua 
tahun ajaran. 

Ada keindahan yang unik dalam interaksi masing-masing sifat 
para sahabatku. Tersembunyi daya tarik pada cara mereka mengarti- 
kan sekstan untuk mengukur diri sendiri, menilai kemampuan 
orang tua, melihat arah masa depan, dan memersepsi pandangan 
lingkungan terhadap mereka. Kadang kala pemikiran mereka kon- 
tradiktif terhadap pendapat umum laksana gurun bertemu pantai 
atau ibarat hujan ketika matahari sedang terik. Tak jarang mereka 
seperti kelelawar yang tersasar masuk ke kamar, menabrak-nabrak 
kaca ingin keluar dan frustasi. Mereka juga seperti seekor parkit 19 
yang terkurung di dalam gua, kebingungan dengan gema suaranya 
sendiri. 

Sejak kecil aku tertarik untuk menjadi pengamat kehidupan dan 
sekarang aku menemukan kenyataan yang memesona dalam sosio- 
logi lingkungan kami yang ironis. Di sini ada sekolahku yang seder- 
hana, para sahabatku yang melarat, orang Melayu yang terabaikan, 
juga ada orang staf dan sekolah PN mereka yang glamor, serta PN 
Timah yang gemah ripah dengan Gedong, tembok feodalistisnya. 
Semua elemen itu adalah perpustakaan berjalan yang memberiku 
pengetahuan baru setiap hari. 



19 Parkit (Psitacula passerina; parakeet): burung bayan kecil, berbulu cerah (biasanya 
bertubuh hijau, berkepala kuning, dan bermuka oranye), berekor panjang dan lancip, 
berukuran sekitar 30 cm. Burung jenis ini sekarang sudah semakin langka, dulunya 
mereka ditembaki karena dianggap sebagai hama di perkebunan buah. 



79 



Andrea Hirata 

Pengetahuan terbesar terutama kudapat dari sekolahku, karena 
perguruan Muhammadiyah bukanlah center of excellence, tapi ia 
merupakan pusat marginalitas sehingga ia adalah sebuah universitas 
kehidupan. Di sekolah ini aku memahami arti keikhlasan, perjuang- 
an, dan integritas. Lebih dari itu, perintis peruguran ini mewariskan 
pelajaran yang amat berharga tentang ide-ide besar Islam yang mu- 
lia, keberanian untuk merealisasi ide itu meskipun tak putus-putus 
dirundung kesulitan, dan konsep menjalani hidup dengan gagasan 
memberi manfaat sebesar-besarnya untuk orang lain melalui pe- 
ngorbanan tanpa pamrih. 

Maka sejak waktu virtual tercipta dalam definisi hipotesis ma- 
nusia tatkala nebula mengeras dalam teori lubang hitam, di antara 
titik-titik kurunnya yang merentang panjang tak tahu akan berhenti 
sampai kapan, aku pada titik ini, di tempat ini, merasa bersyukur 
menjadi orang Melayu Belitong yang sempat menjadi murid Mu- 
hammadiyah. Dan sembilan teman sekelasku memberiku hari-hari 
yang lebih dari cukup untuk suatu ketika di masa depan nanti ku- 
ceritakan pada setiap orang bahwa masa kecilku amat bahagia. Ke- 
bahagiaan yang spesifik karena kami hidup dengan persepsi tentang 
kesenangan sekolah dan persahabatan yang kami terjemahkan sen- 
diri. 

Kami adalah sepuluh umpan nasib dan kami seumpama kerang- 
kerang halus yang melekat erat satu sama lain dihantam deburan 
ombak ilmu. Kami seperti anak-anak bebek. Tak terpisahkan dalam 
susah dan senang. Induknya adalah Bu Mus. Sekali lagi kulihat wa- 
jah mereka, Harun yang murah senyum, Trapani yang rupawan, 
Syahdan yang liliput, Kucai yang sok gengsi, Sahara yang ketus, A 
Kiong yang polos, dan pria kedelapan— yaitu Samson— yang duduk 
seperti patung Ganesha. 



80 



Pemjakit Gifa No. 5 

Lalu siapa pria yang kesembilan dan kesepuluh? Lintang dan 
Mahar. Pelajaran apa yang mereka tawarkan? Mereka adalah pria- 
pria muda yang sangat istimewa. Memerlukan bab tersendiri untuk 
menceritakannya. Sampai di sini, aku sudah merasa menjadi seorang 
anak kecil yang sangat beruntung. 



^S^zs^L^ 



81 



'Radio 



teodenaa 



PAGI ini Lintang terlambat masuk kelas. Kami tercengang mende- 
ngar ceritanya. 

"Aku tak bisa melintas. Seekor buaya sebesar pohon kelapa tak 
mau beranjak, menghalang di tengah jalan. Tak ada siapa-siapa yang 
bisa kumintai bantuan. Aku hanya berdiri mematung, berbicara de- 
ngan diriku sendiri." 

Lima belas meter. 

"Buaya sebesar itu tak 'kan mampu menyerangku dalam jarak 
ini, ia lamban, pasti kalah langkah. Kalau cukup waktu aku dapat 
menghitung hubungan massa, jarak, dan tenaga, baik aku maupun 
buaya itu, sehingga aku dapat memperkirakan kecepatannya me- 
nyambarku dan peluangku untuk lolos. Ilmu menyebabkan aku be- 
rani maju beberapa langkah lagi. Apalagi fisikia tidak mempertim- 



Andrea Hirata 

bangkan psy war, kalau aku maju ia pasti akan terintimidasi dan 
masuk lagi ke dalam air. 

"Aku maju sedikit, membunyikan lonceng sepeda, bertepuk ta- 
ngan, berdeham-deham, membuat bunyi-bunyian agar dia merayap 
pergi. Tapi ia bergeming. Ukurannya dan teritip yang tum-buh di 
punggungnya memperlihatkan dia penguasa rawa ini. Dan sekarang 
saatnya mandi matahari. Secara fisik dan psikologis binatang atau 
secara apa pun, buaya ini akan menang. Ilmu tak berlaku di sini. 

"Tapi lebih dari setengah perjalanan sudah, aku tak 'kan kem- 
bali pulang gara-gara buaya bodoh ini. Tak ada kata bolos dalam ka- 
musku, dan hari ini ada tarikh Islam, mata pelajaran yang menarik. 
Ingin kudebatkan kisah ayat-ayat suci yang memastikan kemenang- 
an Byzantium tujuh tahun sebelum kejadian. Sudah siang, aku maju 
sedikit, aku pasti terlambat tiba di sekolah." 

Dua belas meter 

"Aku hanya sendirian. Jika ada orang lain aku berani lebih fron- 
tal. Tahukah hewan ini pentingnya pendidikan? Aku tak berani lebih 
dekat. Ia menganga dan bersuara rendah, suara dari perut yang 
menggetarkan seperti sendawa seekor singa atau seperti suara orang 
menggeser sebuah lemari yang sangat besar. Aku diam menunggu. 
Tak ada jalur alternatif dan kekuatan jelas tak berimbang. Aku mulai 
frustasi. Suasana sunyi senyap. Yang ada hanya aku, seekor buaya 
ganas yang egois, dan intaian maut." 

Kami prihatin dan tegang mendengar kisah perjuangan Lintang 
menuju sekolah. 



84 



Bodenga 

"Tiba-tiba dari arah samping kudengar riak air. Aku terkejut 
dan takut. Menyeruak di antara lumut kumpai 1 , membelah genang- 
an setinggi dada, seorang laki-laki seram naik dari rawa. la berjalan 
menghampiriku, kakinya bengkok seperti huruf O," lanjutnya. 

"Siapa laki-laki itu Lintang?" tanya Sahara tercekat. 

"Bodenga ...." 

"Ooh...," kami serentak menutup mulut dengan tangan. Mena- 
kutkan sekali. Tak ada yang berani berkomentar. Tegang menunggu 
kelanjutan cerita Lintang. 

"Aku lebih takut padanya daripada buaya mana pun. Pria ini tak 
mau dikenal orang tapi sepanjang pesisir Belitong Timur, siapa tak 
kenal dia? 

"Dia melewatiku seperti aku tak ada dan dia melangkah tanpa 
ragu mendekati binatang buas itu. Dia menyentuhnya! Menepuk-ne- 
puk lembut kulitnya sambil menggumamkan sesuatu. Ganjil sekali, 
buaya itu seperti takluk, mengibas-ngibaskan ekornya laksana seekor 
anjing yang ingin mengambil hati tuannya, lalu mendadak sontak, 
dengan sebuah lompatan dahsyat seperti terbang reptil zaman Creta- 
ceous 2 itu terjun ke rawa menimbulkan suara laksana tujuh pohon 
kelapa tumbang sekaligus. 

Lintang menarik napas. 



1 Kumpai (Panicum stagninum): rumput (gelagah), tumbuh di paya-paya, hijau, 
mengambang di atas air. 

2 Zaman Cretaceous: istilah geologi untuk menyebutkan masa setelah zaman 
Mesozoic berakhir, yaitu sekitar 65 sampai 144 juta tahun yang lalu. Bumi mulai 
menghangat pada masa ini, beberapa genus reptilia besar mulai punah pada akhir 
zaman ini, sementara jenis flora yang masih ada sampai sekarang mulai tumbuh 
(seperti pohon eik dan maple). 



85 



Andrea Hirata 

"Aku terkesima dan tadi telah salah hitung. Jika binatang purba 
itu mengejarku maka orang-orang hanya akan menemukan sepeda 
reyot ini. Fisika sialan. Memprediksi perilaku hewan yang telah ber- 
tahan hidup jutaan tahun adalah tindakan bodoh nan sombong. 

"Dari permukaan air yang bening jelas kulihat binatang itu 
menggoyangkan ekor panjangnya untuk mengambil tenaga dorong 
sehingga badannya yang hidrodinamis menghujam mengerikan ke 
dasar air. 

"Bodenga berbalik ke arahku. Seperti selalu, ekspresinya dingin 
dan jelas tak menginginkan ucapan terima kasih. Kenyataannya aku 
tak berani menatapnya, nyaliku runtuh. Dengan sekali sentak ia bisa 
menenggelamkanku sekaligus sepeda ini ke dalam rawa. Aku me- 
ngenal reputasi laki-laki liar ini. Tapi aku merasa beruntung karena 
aku telah menjadi segelintir orang yang pernah secara langsung me- 
nyaksikan kehebatan ilmu buaya Bodenga." 



AKU termenung mendengar cerita Lintang. Aku memang tidak 
pernah menyaksikan langsung Bodenga beraksi tapi aku mengenal 
Bodenga lebih dari Lintang mengenalnya. Bagiku Bodenga adalah 
guru firasat dan semua hal yang berhubungan dengan perasaan ga- 
mang, pilu, dan sedih. 

Tak seorang pun ingin menjadi sahabat Bodenga. Wajahnya ca- 
rut-marut, berusia empat puluhan. Ia menyelimuti dirinya dengan 
dahan-dahan kelapa dan tidur melingkar seperti tupai di bawah po- 
hon nifah selama dua hari dua malam. Jika lapar ia terjun ke sumur 
tua di kantor polisi lama, menyelam, menangkap belut yang terpe- 



86 



Bodenga 



rangkap di bawah sana dan langsung memakannya ketika masih di 
dalam air. 

la makhluk yang merdeka. la seperti angin. la bukan Melayu, 
bukan Tionghoa, dan bukan pula Sawang, bukan siapa-siapa. Tak 
ada yang tahu asal usulnya. la tak memiliki agama dan tak bisa bica- 
ra. la bukan pengemis bukan pula penjahat. Namanya tak terdaftar 
di kantor desa. Dan telinganya sudah tak bisa mendengar karena ia 
pernah menyelami dasar Sungai Lenggang untuk mengambil bijih- 
bijih timah, demikian dalam hingga telinganya mengeluarkan darah, 
setelah itu menjadi tuli. 

Bodenga kini sebatang kara. Satu-satunya keluarga yang pernah 
diketahui orang adalah ayahnya yang buntung kaki kanannya. 
Orang bilang karena tumbal ilmu buaya. Ayahnya itu seorang dukun 
buaya terkenal. Serbuan Islam yang tak terbendung ke seantero 
kampung membuat orang menjauhi mereka, karena mereka meno- 
lak meninggalkan penyembahan buaya sebagai Tuhan. 

Ayahnya telah mati karena melilit tubuhnya sendiri kuat-kuat 
dari mata kaki sampai ke leher dengan akar jawi 3 lalu menerjunkan 
diri ke Sungai Mirang. Ia sengaja mengumpankan tubuhnya pada 
buaya-buaya ganas di sana. Masyarakat hanya menemukan potong- 
an kaki buntungnya. Kini Bodenga lebih banyak menghabiskan wak- 
tu memandangi aliran Sungai Mirang, sendirian sampai jauh malam. 

Pada suatu sore warga kampung berduyun-duyun menuju la- 
pangan basket Sekolah Nasional. Karena baru saja ditangkap seekor 
buaya yang diyakini telah menyambar seorang wanita yang sedang 
mencuci pakaian di Manggar. Karena aku masih kecil maka aku tak 



3 Akar Jawi (Ficus rhododendrifolia): pohon sejenis beringin tapi kecil yang banyak 
sekali akar tunjangnya dan biasanya tumbuh di tepi telaga atau sungai. 



87 



Andrea Hirata 

dapat menembus kerumunan orang yang mengelilingi buaya itu, aku 
hanya dapat melihatnya dari sela-sela kaki pengunjung yang rapat 
berselang-seling. Mulut buaya besar itu dibuka dan disangga dengan 
sepotong kayu bakar. 

Ketika perutnya dibelah, ditemukan rambut, baju, jam tangan, 
dan kalung. Saat itulah aku melihat Bodenga mendesak maju di an- 
tara pengunjung. Lalu ia bersimpuh di samping sang buaya. Wajah- 
nya pucat pasi. Ia memberi isyarat kepada orang-orang, memohon 
agar berhenti mencincang binatang itu. Orang-orang mundur dan 
melepaskan kayu bakar yang menyangga mulut buaya tersebut. Me- 
reka paham bahwa penganut ilmu buaya percaya jika mati mereka 
akan menjadi buaya. Dan mereka maklum bahwa bagi Bodenga bua- 
ya ini adalah ayahnya karena salah satu kaki buaya ini buntung. 

Bodenga menangisi. Suaranya pedih memilukan. 

"Baya... Baya... Baya...," panggilnya lirih. Beberapa orang me- 
nangis sesenggukan. Aku menyaksikan dari sela-sela kaki pengun- 
jung air matanya mengalir membasahi pipinya yang rusak berbintik- 
bintik hitam. Air mataku juga mengalir tak mampu kutahan. Buaya 
ini satu-satunya cinta dalam hidupnya yang terbuang, dalam dunia- 
nya yang sunyi senyap. 

Ia mengucapkan ratapan yang tak jelas dari mulutnya yang 
gagu. Ia mengikat sang buaya, membawanya ke sungai, menyeret 
bangkai ayahnya itu sepanjang pinggiran sungai menuju ke muara. 
Bodenga tak pernah kembali lagi. 

Bodenga dalam fragmen sore itu menciptakan cetak biru rasa 
belas kasihan dan kesedihan di alam bawah sadarku. Mungkin aku 
masih terlalu kecil utnuk menyaksikan tragedi sepedih itu. Ia mewa- 
kili sesuatu yang gelap di kepalaku. Pada tahun-tahun mendatang 



88 



Bodenga 

bayangannya sering mengunjungiku. Jika aku dihadapkan pada si- 
tuasi yang menyedihkan maka perlahan-lahan ia akan hadir, mewa- 
kili semua citra kepedihan di dalam otakku. Maka sore itu sesung- 
guhnya Bodenga telah mengajariku ilmu firasat. Ia juga yang per- 
tama kali memperlihatkan padaku bahwa nasib bisa memperlakukan 
manusia dengan sangat buruk, dan cinta bisa menjadi demikian bu- 
ta. 

Lintang memang tak memiliki pengalaman emosional dengan 
Bodenga seperti yang aku alami, tapi bukan baru sekali itu ia diha- 
dang buaya dalam perjalanan ke sekolah. Dapat dikatakan tak jarang 
Lintang mempertaruhkan nyawa demi menempuh pendidikan, na- 
mun tak sehari pun ia pernah bolos. Delapan puluh kilometer pu- 
lang pergi ditempuhnya dengan sepeda setiap had. Tak pernah me- 
ngeluh. Jika kegiatan sekolah berlangsung sampai sore, ia akan tiba 
malam hari di rumahnya. Sering aku merasa ngeri membayangkan 
perjalanannya. 

Kesulitan itu belum termasuk jalan yang tergenang air, ban 
sepeda yang bocor, dan musim hujan berkepanjangan dengan petir 
yang menyambar-nyambar. Suatu hari rantai sepedanya putus dan 
tak bisa disambung lagi karena sudah terlalu pendek sebab terlalu 
sering putus, tapi ia tak menyerah. Dituntunnya sepeda itu puluhan 
kilometer, dan sampai di sekolah kami sudah bersiap-siap akan 
pulang. Saat itu adalah pelajaran seni suara dan dia begitu bahagia 
karena masih sempat menyanyikan lagu Padamu Negeri di depan 
kelas. Kami termenung mendengarkan ia bernyanyi dengan sepenuh 
jiwa, tak tampak kelelahan di matanya yang berbinar jenaka. Setelah 
itu ia pulang dengan menuntun sepedanya lagi sejauh empat puluh 
kilometer. 



89 



Andrea Hirata 

Pada musim hujan lebat yang bisa mengubah jalan menjadi su- 
ngai, menggenangi daratan dengan air setinggi dada, membuat gu- 
ruh dan halilintar membabat pohon kelapa hingga tumbang berge- 
limpangan terbelah dua, pada musim panas yang begitu terik hingga 
alam memuai ingin meledak, pada musim badai yang membuat hasil 
laut nihil hingga berbulan-bulan semua orang tak punya uang sepe- 
ser pun, pada musim buaya berkembang biak sehingga mereka men- 
jadi semakin ganas, pada musim angin barat putting beliung, pada 
musim demam, pada musim sampar— sehari pun Lintang tak per- 
nah bolos. 

Dulu ayahnya pernah mengira putranya itu akan takluk pada 
minggu-minggu pertama sekolah dan prasangka itu terbukti keliru. 
Hari demi hari semangat Lintang bukan semakin pudar tapi malah 
meroket karena ia sangat mencintai sekolah, mencintai teman- 
temannya, menyukai persahabatan kami yang mengasyikkan, dan 
mulai kecanduan pada daya tarik rahasia-rahasia ilmu. Jika tiba di 
rumah ia tak langsung beristirahat melainkan segera bergabung de- 
ngan anak-anak seusia di kampungnya untuk bekerja sebagai kuli 
kopra. Itulah penghasilan sampingan keluarganya dan juga sebagai 
kompensasi terbebasnya dia dari pekerjaan di laut serta ganjaran 
yang ia dapat dari "kemewahan" bersekolah. 

Ayahnya, yang seperti orang Bushman itu, sekarang mengang- 
gap keputusan menyekolahkan Lintang adalah keputusan yang tepat, 
paling tidak ia senang melihat semangat anaknya menggelegak. Ia 
berharap suatu waktu di masa depan nanti Lintang mampu menye- 
kolahkan lima orang adik-adiknya yang lahir setahun sekali sehingga 
berderet-deret rapat seperti pagar, dan lebih dari itu ia berharap Lin- 
tang dapat mengeluarkan mereka dari lingkaran kemiskinan yang 
telah lama mengikat mereka hingga sulit bernapas. 



90 



Bodenga 

Maka ia sekuat tenaga mendukung pendidikan Lintang dengan 
cara-caranya sendiri, sejauh kemampuannya. Ketika kelas satu dulu 
pernah Lintang menanyakan kepada ayahnya sebuah persoalan pe- 
kerjaan rumah kali-kalian sederhana dalam mata pelajaran berhi- 
tung. 

"Kemarilah Ayahanda ... berapa empatkali empat?" 

Ayahnya yang buta huruf hilir mudik. Memandang jauh ke laut 
luas melalui jendela, lalu ketika Lintang lengah ia diam-diam menye- 
linap keluar melalui pintu belakang. Ia meloncat dari rumah pang- 
gungnya dan tanpa diketahui Lintang ia berlari sekencang-kencang- 
nya menerabas ilalang. Laki-laki cemara angin itu berlari pontang- 
panting sederas pelanduk untuk minta bantuan orang-orang di kan- 
tor desa. Lalu secepat kilat pula ia menyelinap ke dalam rumah dan 
tiba-tiba sudah berada di depan Lintang. 

"Em ... emm... empat belasss ... bujangku ... tak diragukan lagi 
empat belasss... tak lebih tak kurang ...," jawab beliau sembari terse- 
ngal-sengal kehabisan napas tapi juga tersenyum lebar riang gem- 
bira. Lintang menatap mata ayahnya dalam-dalam, rasa ngilu me- 
nyelinap dalam hatinya yang masih belia, rasa ngilu yang mengikrar- 
kan nazar aku harus jadi manusia pintar, karena Lintang tahu ja- 
waban itu bukan datang dari ayahnya. 

Ayahnya bahkan telah salah mengutip jawaban pegawai kantor 
desa. Enam belas, itulah seharusnya jwabannya, tapi yang diingat 
ayahnya selalu hanya angka empat belas, yaitu jumlah nyawa yang 
ditanggungnya setiap hari. 

Setelah itu Lintang tak pernah lagi minta bantuan ayahnya. 
Mereka tak pernah membahas kejadian itu. Ayahnya diam-diam 
maklum dan mendukung Lintang dengan cara lain, yakni memberi- 



91 



Andrea Hirata 

kan padanya sebuah sepeda laki bermerk Rally Robinson, made in 
England. Sepeda laki adalah sebutan orang Melayu untuk sepeda 
yang biasa dipakai kaum lelaki. Berbeda dengan sepeda bini, sepeda 
laki lebih tinggi, ukurannya panjang, sadelnya lebar, keriningannya 
lebih maskulin, dan di bagian tengahnya terdapat batang besi besar 
yang tersambung antara sadel dan setang. Sepeda ini adalah harta 
warisan keluarga turun-temurun dan benda satu-satunya yang pa- 
ling berharga di rumah mereka. Lintang menaiki sepeda itu dengan 
terseok-seok. Kakinya yang pendek menyebabkan ia tidak bisa du- 
duk di sadel, melainkan di atas batang sepeda, dengan ujung-ujung 
jari kaki menjangkau-jangkau pedal. Ia akan beringsut-ingsut dan 
terlonjak-lonjak hebat di atas batangan besi itu sambil menggigit bi- 
birnya, mengumpulkan tenaga. Demikian perjuangannya mengayuh 
sepeda ke pulang dan pergi ke sekolah, delapan puluh kilometer seti- 
ap hari. 

Ibu Lintang, seperti halnya Bu Mus dan Sahara adalah seorang 
N.A. Itu adalah singkatan dari Nyi Ayu, yakni sebuah gelar bangsa- 
wan kerajaan lama Belitong khusus bagi wanita dari ayah seorang 
K.A. atau Ki Agus. Adat istiadat menyarankan agar gelar itu diputus 
pada seorang wanita sehingga Lintang dan adik-adik perempuannya 
tak menyandang K.A. atau N.A. di depan nama-nama mereka. Mes- 
kipun begitu, tak jarang pria-pria keturunan N.A. menggunakan 
gelar K.A., dan hal itu bukanlah persoalan karena gelar-gelar itu ada- 
lah identitas kebanggaan sebagai orang Melayu Belitong asli. 

Jika benar kecerdasan bersifat genetik maka kecerdasan Lintang 
pasti mengalir dari keturunan nenek moyang ibunya. Meskipun buta 
huruf dan kurang beruntung karena waktu kecil terkena polio se- 
hingga salah satu kakinya tak bertenaga, tapi ibu Lintang berada 
dalam garis langsung silsilah K.A. Cakraningrat Depati Muhammad 



92 



Bodenga 

Rahat, seseorang bangsawan cerdas anggota keluarga Sultan Nang- 
kup. Sultan ini adalah utusan Kerajaan Mataram yang membangun 
keningratan di tanah Belitong. Beliau membentuk pemerintahan 
dan menciptakan klan K.A. dan N.A. itu. Anak cucunya tidak di- 
warisi kekuasaan dan kekayaan tapi kebijakan, syariat Islam, dan ke- 
cendekiawanan. Maka Lintang sesungguhnya adalah pewaris darah 
orang-orang pintar masa lampau. 

Meskipun tak bisa membaca, ibu Lintang senang sekali melihat 
barisan huruf dan angka di dalam buku Lintang. Beliau tak peduli, 
atau tak tahu, jika melihat sebuah buku secara terbalik. Di beranda 
rumahnya beliau merasa takjub mengamati rangkaian kata dan ter- 
kagum-kagum bagaimana baca-tulis dapat mengubah masa depan 
seseorang. 

Beranda itu sendiri merupakan bagian dari gubuk panggung 
dengan tiang-tiang tinggi untuk berjaga-jaga jika laut pasang hingga 
meluap jauh ke pesisir. Adapun gubuk ini merupakan bagian dari 
pemukiman komunitas orang Melayu Belitong yang hidup di sepan- 
jang pesisir, mengikuti kebiasaan leluhur mereka para penggawa dan 
kerabat kerajaan. Oleh karena itu, dalam lingkungan Lintang banyak 
bersemayam keluarga-keluarga K.A. dan N.A. 

Gubuk itu beratap daun sagu dan berdinding lelak dari kulit 
pohon meranti. Apa pun yang dilakukan orang di dalam gubuk itu 
dapat dilihat dari luar karena dinding kulit kayu yang telah berusia 
puluhan tahun merekah pecah seperti lumpur musim kemarau. 
Ruangan di dalamnya sempit dan berbentuk memanjang dengan 
dua pintu di depan dan belakang. Seluruh pintu dan jendela tidak 
memiliki kunci, jika malam mereka ditutup dengan cara diikatkan 
pada kusennya. Benda di dalma rumah itu ada enam macam: 
beberapa helai tikar lais dan bantal, sajadah dan Al-Qur'an, sebuah 



93 



Andrea Hirata 

lemari kaca kecil yang sudah tidak ada lagi kacanya, tungku dan alat- 
alat dapur, tumpukan cucian, dan enam ekor kucing yang dipasangi 
kelintingan sehinga rumah itu bersuara gemerincing sepanjang hari. 

Di luar bangunan sempit memanjang tadi ada semacam 
pelataran yang digunakan oleh empat orang tua untuk menjalin 
pukat. Bagian ini hanya ditutupi beberapa keping papan yang 
disandarkan saja pada dahan-dahan kapuk yang menjulur-julur, 
bahkan untuk memaku papan-papan itu pun keluarga ini tak punya 
uang. Empat orang tua itu adalah bapak dan ibu dari bapak dan ibu 
Lintang. Semuanya sudah sepuh dan kulit mereka keriput sehingga 
dapat dikumpulkan dan digenggam. Jika tidak sedang menjalin 
pukat, keempat orang itu duduk menekuri sebuah tampah me- 
munguti kutu-kutu dan ulat-ulat lentik di antara bulir-bulir beras 
kelas tiga yang mampu mereka beli, berjam-jam lamanya karena 
demikian banyak kutu dan ulat pada beras buruk itu. 

Selain empat orang itu ikut pula dalam keluarga ini dua orang 
adik laki-laki ayah Lintang, yaitu seorang pria muday ang kerjanya 
hanya melamun saja sepanjang hari karena agak terganggu jiwanya 
dan seorang bujang lapuk yang tak dapat bekerja keras karena 
menderita burut akibat persoalan kandung kemih. Maka ditambah 
lima adik perempuan Lintang, Lintang sendiri, dan kedua orang- 
tuanya, seluruhnya berjumlah empat belas orang. Mereka hidup 
bersama, berdesak-desakan di dalam rumah sempit memanjang itu. 

Empat orangtua yang sudah sepuh, dua adik laki-laki yang tak 
dapat diharapkan, semua ini membuat keempat belas itu kelang- 
sungan hidupnya dipanggul sendiri oleh ayah Lintang. Setiap hari 
beliau menunggu tetangganya yang memiliki perahu atau juragan 
pukat harimau memintanya untuk membantu mereka di laut. Beliau 
tidak mendapatkan persentasi dari berapa pun hasil tangkapan, tapi 



94 



Bodenga 

memperoleh upah atas kekuatan fisiknya. Beliau adalah orang yang 
mencari nafkah dengan menjual tenaga. Tambahan penghasilan se- 
sekali beliau dapat dari Lintang yang sudah bisa menjadi kuli kopra 
dan anak-anak perempuannya yang mengumpulkan kerang saat 
angin teduh musim selatan 4 . 

Lintang hanya dapat belajar setelah agak larut karena rumahnya 
gaduh, sulit menemukan tempat kosong, dan karena hams berebut 
lampu minyak. Namun sekali ia memegang buku, terbanglah ia me- 
ninggalkan gubuk doyong berdinding kulit itu. Belajar adalah hibur- 
an yang membuatnya lupa pada seluruh penat dan kesulitan hidup. 
Buku baginya adalah obat dan sumur kehidupan yang airnya selalu 
memberi kekuatan baru agar ia mampu mengayuh sepeda menan- 
tang angin setiap hari. Jika berhdapan dengan buku ia akan terisap 
oleh setiap kalimat ilmu yang dibacanya, ia tergoda oleh sayap-sayap 
kata yang diucapkan oleh para cerdik cendekia, ia melirik maksud 
tersembunyi dari sebuah rumus, sesuatu yang mungkin tak kasat 
mata bagi orang lain. 

Lalu pada suatu ketika, saat hari sudah jauh malam, di bawah 
temaram sinar lampu minyak, ditemani deburan ombak pasang, de- 
ngan wajah mungil dan matanya yang berbinar-biran, jari-jari kurus 
Lintang membentang lembar demi lembar buku lusuh stensilan ber- 
judul Astronomi dan Ilmu Ukur. Dalam sekejap ia tenggelam dila- 
mun kata-kata ajaib pembangkangan Galileo Galilei terhadap kos- 
mologi Aristoteles, ia dimabuk rasa takjub pada gagasan gila para 
astronom zaman kuno yang terobsesi ingin mengukur berapa jarak 



4 Musim selatan: sebutan orang Melayu untuk sekitar bulan April-Mei, di saat tiupan 
angin lebih tenang. Berlawanan dengan musim barat yang dingin dan berangin (di 
saat nama bulan berakhiran dengan suku kata "-ber"). 



95 



Andrea Hirata 

bumi ke Andromeda 5 dan nebula-nebula Triangulum 6 . Lintang me- 
nahan napas ketika membaca bahwa gravitasi dapat membelokkan 
cahaya saat mempelajari tentang analisis spektral yang dikembang- 
kan untuk studi bintang gemintang, dan juga saat tahu mengenai 
teori Edwin Hubble yang menyatakan bahwa alam hidup mengem- 
bang semakin membesar. Lintang terkesima pada bintang yang mati 
jutaan tahun silam dan ia terkagum-kagum pada pengembaraan 
benda-benda langit di sudut-sudut gelap kosmos yang mungkin ha- 
nya pernah dikunjungi oleh pemikiran-pemikiran Nicolaus Coper- 
nicus dan Isaac Newton. 

Ketika sampai pada Bab Ilmu Ukur ia tersenyum riang karena 
nalarnya demikian ringan mengikuti logika matematis pada simulasi 
ruang berbagai dimensi. Ia dengan cepat segera menguasai dekom- 
posisi tetrahedral yang rumit luar biasa, aksioma arah, dan teorema 
Phytagorean. Semua materi ini sangat jauh melampaui tingkat usia 
dan pendidikannya. Ia merenungkan ilmu yang amat menarik ini. Ia 
melamun dalam lingkar temaram lampu minyak. Dan tepat ketika 
itu, dalam kesepian malam yang mencekam, lamunannya sirna kare- 
na ia terkejut menyaksikan keanehan di atas lembar-lembar buram 
yang dibacanya. Ia terheran-heran menyaksikan angka-angka tua 
yang samar di lembaran itu seakan bergerak-gerak hidup, mengge- 
liat, berkelap-kelip, lalu menjelma menjadi kunang-kunang yang ra- 
mai beterbangan memasuki pori-pori kepalanya. Ia tak sadar bahwa 
saat itu arwah para pendiri geometri sedang tersenyum padanya dan 



5 Andromeda: nama untuk konstilasi terbesar di belahan bumi utara yang terletak 
persis di selatan dari konstilasi Cassiopeia dandi utara konstilasi Perseus. Tidak ada 
bintang di Andromeda melainkan tempat beradanya Galaksi Andromeda, yaitu salah 
satu anggota dari kelompok yang sama dengan Galaksi Bimasakti (Milky Way) kita. 

6 Triangulum: konstilasi kecil di belahan bumi selatan yang berada di dekat Aries dan 
Perseus. 



96 



Bodenga 

Copernicus serta Lucretius sedang duduk di sisi kiri dan kanannya. 
Di sebuah rumah panggung sempiot, di sebuah keluarga Melayu pe- 
dalaman yang sangat miskin, nun jauh di pinggir laut, seorang geni- 
us alami telah lahir. 

Esoknya di sekolah Lintang heran melihat kami yang kebi- 
ngungan dengan persoalan jurusan tiga angka. 

"Apa, sih yang dipusingkan orang-orang kampung ini dengan 
arah angin itu?" Demikian suara dari dalam hatinya. 

Seperti juga kebodohan yang sering tak disadari, beberapa orang 
juga tak menyadari bahwa dirinya telah terpilih, telah ditakdirkan 
Tuhan untuk ditunangkan dengan ilmu. 



^S^zs^L^ 



97 



Hanait Kefujufi 



KEBODOHAN berbentuk seperti asap, uap air, kabut. Dan ia bera- 
cun. Ia berasal dari sebuah tempat yang namanya tak pernah dikenal 
manusia. Jika ingin menemui kebodohan maka berangkatlah dari 
tempat di mana saja di planet biru ini dengan menggunakan tabung 
roket atau semacamnya, meluncur ke atas secara vertikal, jangan 
pernah sekali pun berhenti. 

Gapailah gumpalan awan dalam lapisan troposfer, lalu naiklah 
terus menuju stratosfer, menembus lapisan ozon, ionosfer, dan bu- 
lan-bulan di planet yang asing. Meluncurlah terus sampai ketinggian 
di mana gravitasi bumi sudah tak peduli. Arungi samudra bintang 
gemintang dalam suhu dingin yang mampu meledakkan benda pa- 
dat. Lintasi hujan meteor sampai tiba di eksosfer— lapisan paling lu- 
ar atmosfer dengan bentangan selebar 1.200 kilometer, dan teruslah 
melaju menaklukkan langit ketujuh. 



Andrea Hirata 

Kita hanya dapat menyebutnya langit ketujuh sebagai gambaran 
imajiner tempat tertinggi dari yang paling tinggi. Di tempat asing 
itu, tempat yang tak 'kan pernah memiliki nama, di atas langit ke 
tujuh, di situlah kebodohan bersemanyam. Rupanya seperti kabut ti- 
pis, seperti asap cangklong, melayang-layang pelan, memabukkan. 
Maka apabila kita tanyakan sesuatu kepada orang-orang bodoh, me- 
reka akan menjawab dengan merancau, menyembunyikan ketidak- 
tahuannya dalam omongan cepat, mencari beragam alasan, atau 
membelokkan arah pertanyaan. Sebagaian yang lain diam terpaku, 
mulutnya ternganga, ia diselubungi kabut dengan tatapan mata yang 
kosong dan jauh. Kedua jenis reaksi ini adalah akibat keracunan 
asap tebal kebodohan yang mengepul di kepala mereka. 

Kita tak perlu menempuh ekspedisi gila-gilaan itu. Karena selu- 
ruh lapisan langit dan gugusan planit itu sesungguhnya terkonstelasi 
di dalam kepala kita sendiri. Apa yang ada pada pikiran kita, dalam 
gumpalan otak seukuran genggam, dapat menjangkau ruang seluas 
jagat raya. Para pemimpi seperti Nicolaus Copernicus, Battista Delia 
Porta, dan Lippershey malah menciptakan jagat raya-nya sendiri, di 
dalam imajinasinya, dengan sistem tata suryanya sendiri, dan Lucre- 
tius, juga seoerang pemimpi, menuliskan ilmu dalam puisi-puisi. 

Tempat di atas langit ketujuh, tempat kebodohan bersemanyam, 
adalah metafor dari suatu tempat di mana manusia tak bisa mem- 
pertanyakan zat-zat Allah. Setiap usaha mempertanyakannya hanya 
akan berujung dengan kesimpulan yang mempertontonkan kemaha- 
tololan sang penanya sendiri. Maka semua jangkauan akal telah ber- 
akhir di langit ketujuh tadi. Di tempat asing tersebut, barangkali 
Arasy, di sana kembali metafor kagungan Tuhan bertakhta. Di ba- 
wah takhta-Nya tergelar Lauhul Mahfuzh, muara dari segala cabang 
anak-anak sungai ilmu dan kebijakan, kitab yang telah mencatat se- 



100 



Lancjit Ketujufi 

tiap lembar daun yang akan jatuh. la juga menyimpan rahasia ke 
mana nasib akan membawa sepuluh siswa baru perguruan Muham- 
madiyah tahun ini. Karena takdir dan nasib termasuk dalam zat- 
Nya. 

Tuhan menakdirkan orang-orang tertentu untuk memiliki hati 
yang terang agar dapat memberi pencerahan pada sekelilingnya. 
Dan di malam yang tua dulu ketika Copernicus dan Lucretius duduk 
di samping Lintang, ketika angka-angka dan huruf menjelma men- 
jadi kunang-kunang yang berkelap-kelip, saat itu Tuhan menyemai- 
kan biji zarah klecerdasan, zarah yang jatuh dari langit dan meng- 
hantam kening Lintang. 

Sejak hari perkenalan dulu aku sudah terkagum-kagum pada 
Lintang. Anak pengumpul kerang ini pintar sekali. Matanya me- 
nyala-nyala memancarkan inteligensi, keingintahuan menguasai di- 
rinya seperti orang kesurupan. Jarinya tak pernah berhenti meng- 
acung tanda ia bisa menjawab. Kalau melipat dia paling cepat, kalau 
membaca dia paling hebat. Ketika kami masih gagap menjumlahkan 
angka-angka genap ia sudah terampil mengalikan angka-angka gan- 
jil. Kami baru saja bisa mencongak, dia sudah pintar membagi angka 
desimal, menghitung akar dan menemukan pangkat, lalu, tidak ha- 
nya menggunakan, tapi juga mampu menjelaskan hubungan kedua- 
nya dalam tabel logaritma. Kelemah-annya, aku tak yakin apakah hal 
ini bisa disebut kelemahan, adalah tulisannya yang cakar ayam tak 
keruan, tentu karena mekanisme motorik jemarinya tak mampu me- 
ngejar pikirannya yang berlari sederas kijang. 

"13 kali 6 kali 7 tambah 83 kurang 39!" tantang Bu Mus di de- 
pan kelas. 



101 



Andrea Hirata 

Lalu kami tergopoh-gopoh membuka karet yang mengikat 
segenggam lidi, untuk mengambil tiga belas lidi, mengelompok- 
kannya menjadi enam tumpukan, susah payah menjumlahkan se- 
mua tumpukan itu, hasilnya kembali disusun menjadi tujuh kelom- 
pok, dihitung satu per satu sebagai total dua tahap perkalian, ditam- 
bah lagi 83 lidi lalu diambil 39. Otak terlalu penuh untuk mengor- 
ganisasi sinyal-sinyal agar mengambil tindakan praktis mengurang- 
kan dulu 39 dari 83. Menyimpang sedikit dari urutan cara berpikir 
orang kebanyakan adalah kesalahan fatal yang akan mengacaukan 
ilmu hitung aljabar. Rata-rata dari kami menghabiskan waktu ham- 
pir selama 7 menit. Efektif memang, tapi tidak efisien, repot sekali. 

Sementara Lintang, tidak memegang sebatang lidi pun, tidak 
berpikir dengan cara orang kebanyakan, hanya memjamkan mata- 
nya sebentar, tak lebih dari 5 detik ia bersorak. 

"590!" 

Tak sebiji pun meleset, meruntuhkan semangat kami yang se- 
dang belepotan memegangi potongan lidi, bahan belum selesai de- 
ngan operasi perkalian tahap pertama. Aku jengkel tapi kagum. 
Waktu itu kami baru masuk had pertama di kelas dua SD! 

"Superbl Anak pesisir, superbl" puji Bu Mus. Beliau pun tergoda 
untuk menjangkau batas daya pikir Lintang. 

"18 kali 14 kali 23 tambah 1 1 tambah 14 kali 16 kali 7!" 

Kami berkecil hati, temangu-mangu menggenggami lidi, lalu 
kurang dari tujuh detik, tanpa membuat catatan apa pun, tanpa ke- 
raguan, tanpa ketergesa-gesaan, bahkan tanpa berkedip, Lintang ber- 
kumandang. 

"651.952!" 



102 



Lancjit Ketujufi 

"Purnama! Lintang, bulan purnama di atas Dermaga Olivir, in- 
dah sekali! Itulah jawabanmu, ke mana kau bersembunyi selama 
ini...?" 

Ibu Mus bersusah payah menahan tawanya. la menatap Lintang 
seolah telah seumur hidup mencari murid seperti ini. la tak mung- 
kin tertawa lepas, agama melarang itu. la menggeleng-gelengkan ke- 
palanya. Kami terpesona dan bertanya-tanya bagaimana cara Lin- 
tang melakukan semua itu. Dan inilah resepnya .... 

"Hafalkan luar kepala semua perkalian sesama angka ganjil, 
itulah yang sering menyusahkan. Hilangkan angka satuan dari per- 
kalian dua angka puluhan karena lebih mudah mengalikan dengan 
angka berujung nol, kerjakan sisanya kemudian, dan jangan keke- 
nyangan kalau makan malam, itu akan membuat telingamu tuli dan 
otakmu tumpul!" 

Polos, tapi ia telah menunjukkan kualifikasi highly cognitive 
complex dengan mengembangkan sendiri teknik-teknik melokalisasi 
kesulitan, menganalisis, dan memecahkannya. Ingat dia baru kelas 
dua SD dan ini adalah hari pertamanya. Selain itu ia juga telah men- 
demonstrasikan kualitas nalar kuantitatif level tinggi. Sekarang aku 
mengerti, aku sering melihatnya berkonsentrasi memandangi angka- 
angka. Saat itu dari keningnya seolah terpancar seberkas sinar, 
mungkin itulah cahaya ilmu. Anak semuda itu telah mampu me- 
ngontemplasikan bagaimana angka-angka saling bereaksi dalam su- 
atu operasi matematika. Kontemplasi-kontemplasi ini rupanya me- 
lahirkan resep ajaib tadi. 

Lintang adalah pribadi yang unik. Banyak orang merasa dirinya 
pintar lalu bersikap seenaknya, congkak, tidak disiplin, dan tak pu- 
nya integritas. Tapi Lintang sebaliknya. Ia tak pernah tinggi hati, ka- 



103 



Andrea Hirata 

rena ia merasa ilmu demikian luas untuk disombongkan dan meng- 
gali ilmu tak akan ada habis-habisnya. 

Meskipun rumahnya paling jauh tapi kalau datang ia paling 
pagi. Wajah manisnya senantiasa bersinar walaupun baju, celana, 
dan sandal cunghai-nya buruknya minta ampun. Namun sungguh 
kuasa Allah, di dalam tempurung kepalanya yang ditumbuhi rambut 
gimbal awut-awutan itu tersimpan cairan otak yang encer sekali. Pa- 
da setiap rangkaian kata yang ditulisnya secara acak-acakan tersirat 
kecemerlangan pemikiran yang gilang gemilang. Di balik tubuhnya 
yang tak terawat, kotor, miskin, serta berbau hangus, dia memiliki 
an absolutely beautiful mind. Ia adalah buah akal yang jernih, bibit 
genius asli, yang lahir di sebuah tempat nun jauh di pinggir laut, dari 
sebuah keluarga yang tak satu pun bisa membaca. 

Lebih dari itu, seperti dulu kesan pertama yang kutangkap dari- 
nya, ia laksana bunga meriam yang melontarkan tepung sari. Ia lucu, 
semarak, dan penuh vitalitas. Ia memperlihatkan bagaimana ilmu 
bisa menjadi begitu menarik dan ia menebarkan hawa positif sehing- 
ga kami ingin belajar keras dan berusaha menunjukkan yang terbaik. 

Jika kami kesulitan, ia mengajari kami dengan sabar dan selalu 
membesarkan hati kami. Keunggulannya tidak menimbulkan pe- 
rasaan terancam bagi sekitarnya, kecemerlangannya tidak menerbit- 
kan iri dengki, dan kehebatannya tidak sedikit pun mengisyaratkan 
sifat-sifat angkuh. Kami bangga dan jatuh hati padanya sebagai se- 
orang sahabat dan sebagai seorang murid yang cerdas luar biasa. 
Lintang yang miskin duafa adalah mutiara, galena, kuarsa, dan topas 
yang paling berharga bagi kelas kami. 

Lintang selalu terobsesi dengan hal-hal baru, setiap informasi 
adalaha sumbu ilmu yang dapat meledakkan rasa ingin tahunya ka- 



104 



Lancjit Ketujufi 

pan saja. Kejadian ini terjadi ketika kami kelas lima, pada hari ketika 
ia diselamatkan oleh Bodenga. 

"Al-Qur'an kadangkala menyebut nama tempat yang hams di- 
terjemahkan dengan teliti...." Demikian penjelasan Bu Mus dalam 
tarikh Islam, pelajaran wajib perguruan Muhammadiyah. Jangan ha- 
rap naik kelas kalau mendapat angka merah untuk ajaran ini. 

"Misalnya negeri yang terdekat yang ditaklukkan tentara Persia 
padatahun ...." 

"620 Masehi! Persia merebut kekaisaran Heraklius yang juga 
berada dalam ancaman pemberontakan Mesopotamia, Sisilia, dan 
Palestina. Ia juga diserbu bangsa Avar, Slavia, dan Armenia 

Lintang memotong penuh minat, kami ternganga-nganga, Bu 
Mus tersenyum senang. Beliau menyampingkan ego. Tak keberatan 
kuliahnya dipotong. Beliau memang menciptakan atmosfer kelas se- 
perti ini sejak awal. Memfasilitasi kecerdasan muridnya adalah yang 
paling penting bagi beliau. Tidak semua guru memiliki kualitas se- 
perti ini. Bu Mus menyambung, "Negeri yang terdekat itu . . . ." 

"Byzantium! Nama kuno untuk Konstantinopel, mendapat na- 
ma belakangan itu dari The Great Constantine. Tujuh tahun kemu- 
dian negeri itu merebut lagi kemerdekaannya, kemerdekaan yang di- 
ingatkan dalam kitab suci dan diingkari kaum musyrik Arab, me- 
ngapa ia disebut negeri yang terdekat Ibunda Guru? Dan mengapa 
kitab suci ditentang?" 

"Sabarlah anakku, pertanyaanmu menyangkut pernjelasan tafsir 
surah Ar-Ruum dan itu adalah ilmu yang telah berusia paling tidak 
seribu empat ratus tahun. Tafsir baru akan kita diskusikan nanti ka- 
lau kelas dua SMP...." 



105 



Andrea Hirata 

"Tak mau Ibunda, pagi ini ketika berangkat sekolah aku hampir 
diterkam buaya, maka aku tak punya waktu menunggu, jelaskan di 
sini, sekarang juga!" 

Kami bersorak dan untuk pertama kalinya kami mengerti mak- 
na adnal ardli, yaitu tempat yang dekat atau negeri yang terdekat 
dalam arti harfiah dan tempat paling rendah di bumi dalam konteks 
tafsir, tak lain dari Byzantium di kekaisaran Roma sebelah timur. 
Kami bersorak tentu bukan karena adnal ardli, apalagi Byzantium 
yang merdeka, tapi karena kagum dengan sikap Lintang menantang 
intelektualitasnya sendiri. Kami merasa beruntung menjadi saksi ba- 
gaimana seseorang tumbuh dalam evolusi inteli-gensi. Dan ternyata 
jika hati kita tulus berada di dekat orang berilmu, kita akan disinari 
pancaran pencerahan, karena seperti halnya kebodohan, kepintaran 
pun sesungguhnya demikian mudah menjalar. 



ORANG cerdas memahami konsekuensi setiap jawaban dan 
menemukan bahwa di balik sebuah jawaban tersembunyi beberapa 
pertanyaan baru. Pertanyaan baru tersebut memiliki pasangan se- 
jumlah jawaban yang kembali akan membawa pertanyaan baru da- 
lam deretan eksponensial. Sehingga mereka yang benar-benar cerdas 
kebanyakan rendah hati, sebab mereka gamang pada akibat dari 
sebuah jawaban. Konsekuensikonsekuensi itu mereka temui dalam 
jalur-jalur seperti labirin, jalur yang jauh menjalarjalar, jalur yang 
tak dikenal di lokus-lokus antah berantah, tiada berujung. Mereka 
mengarungi jalur pemikiran ini, tersesat di jauh di dalamnya, sendi- 
rian. 



106 



Lancjit Ketujufi 

Godaan-godaan besar bersemayam di dalam kepala orang- 
orang cerdas. Di dalamnya gaduh karena penuh dengan skeptisisme. 
Selesai menyerahkan tugas kepada dosen, mereka selalu merasa ti- 
dak puas, selalu merasa bisa berbuat lebih baik dari apa yang telah 
mereka presentasikan. Bahkan ketika mendapat nilai A plus terting- 
gi, mereka masih saja mengutuki dirinya sepanjang malam. 

Orang cerdas berdiri di dalam gelap, sehingga mereka bisa me- 
lihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lian. Mereka yang tak dipa- 
hami oleh lingkungannya, terperangkap dalam kegelapan itu. Sema- 
kin cerdas, semakin terkucil, semakin aneh mereka. Kita menyebut 
mereka: orang-orang yang sulit. Orang-orang sulit ini tak berteman, 
dan mereka berteriak putus asa memohon pengertian. Ditambah se- 
dikit saja dengan sikap introver, maka orang-orang cerdas semacam 
ini tak jarang berakhir di sebuah kamar dengan perabot berwarna te- 
duh dan musik klasik yang terdengar lamat-lamat, itulah ruang tera- 
pi kejiwaan. Sebagian dari mereka amat menderita. 

Sebaliknya, orang-orang yang tidak cerdas hidupnya lebih baha- 
gia. Jiwanya sehat walafiat. Isi kepalanya damai, tenteram, sekaligus 
sepi, karena tak ada apa-apa di situ, kosong. Jika ada suara memasu- 
ki telinga mereka, maka suara itu akan terpantul-pantul sendirian di 
dalam sebuah ruangan yang sempit, berdengung-dengung sebentar, 
lalu segera keluar kembali melalui mulut mereka. 

Jika menyerahkan tugas, mereka puas sekali karena telah ber- 
hasil memenuhi batas akhir, dan ketika mendapat nilai C, mereka 
tak henti-hentinya bersyukur karena telah lulus. 

Mereka hidup di dalam terang. Sebuah senter menyiramkan si- 
nar tepat di atas kepala mereka dan pemikiran mereka hanya sampai 
pada batas lingkaran cahaya senter itu. Di luar itu adalah gelap. 



107 



Andrea Hirata 

Mereka selalu berbicara keras-keras karena takut akan ke-gelapan 
yang mengepung mereka. Bagi sebagian orang, ketidaktahuan ada- 
lah berkah yang tak terkira. 

Aku pernah mengenal berbagai jenis orang cerdas. Ada orang 
genius yang jika menerangkan sesuatu lebih bodoh dari orang yang 
paling bodoh. Semakin keras ia berusaha menjelaskan, semakin bi- 
ngung kita dibuatnya. Hal ini biasanya dilakukan oleh mereka yang 
sangat cerdas. Ada pula yang kurang cerdas, bahkan bodoh sebenar- 
nya, tapi kalau bicara ia terlihat paling pintar. Ada orang yang me- 
miliki kecerdasan sesaat, kekuatan menghafal yang fotografis, na- 
mun tanpa kemampuan analisis. Ada juga yang cerdas tapi berpura- 
pura bodoh, dan lebih banyak lagi yang bodoh tapi berpura-pura 
cerdas. 

Namun, sahabatku Lintang memiliki hampir semua dimensi ke- 
cerdasan. Dia seperti toko serba ada kepandaian. Yang paling me- 
nonjol adalah kecerdasan spasialnya, sehingga ia sangat unggul da- 
lam geometri multidimensional. Ia dengan cepat dapat membayang- 
kan wajah sebuah konstruksi suatu fungsi jika digerak-gerakkan da- 
lam variabel derajat. Ia mampu memecahkan kasus-kasus dekompo- 
sisi modern yang runyam dan mengajari kami teknik menghitung 
luas poligon dengan cara membongkar sisi-sisinya sesuai Dalil Geo- 
metri Euclidian. Ingin kukatakan bahwa ini sama sekali bukan per- 
kara mudah. 

Ia sering membuat permainan dan mendesain visualisasi guna 
menerjemahkan rumusan geometris pada tingkat kesulitan yang sa- 
ngat tinggi. Tujuannya agar gampang disimulasikan sehingga kami 
sekelas dapat dengan mudah memahami kerumitan Teorema Kupu- 
Kupu atau Teorema Morley yang menyatakan bahwa pertemuan se- 
gitiga yang ditarik dari trisektor segitiga bentuk apa pun akan mem- 



108 



Lancjit Ketujufi 

bentuk segitiga inti yang sama sisi. Semua itu dilengkapinya dengan 
bukti-bukti matematis dalam jangkauan analisis yang melibatkan 
kemampuan logika yang sangat tinggi. Ini juga sama sekali bukan 
urusan mudah, terutama untuk tingkat pendidikan serendah kami 
serta. Dan mengingat kopra maka kuanggap apa yang dilakukan 
Lintang sangat luar biasa. 

Lintang juga cerdas secara experiential yang membuatnya pia- 
wai menghubungkan setiap informasi dengan konteks yang lebih 
luas. Dalam kaitan ini, ia memiliki kapasitas metadiscourse selayak- 
nya orang-orang yang memang dilahirkan sebagai seorang genius. 
Artinya adalah jika dalam pelajaran biologi kami baru mempelajari 
fungsi-fungsi otot sebagai subkomponen yang membentuk sistem 
mekanik parsial sepotong kaki maka Liontang telah memahami sis- 
tem mekanika seluruh tubuh dan ia mampu menjelaskan peran se- 
potong kaki itu dalam keseluruhan mekanika persendian dan otot- 
otot yang terintegrasi. 

Kecerdasannya yang lain adalah kecerdasan linguistik. Ia mudah 
memahami bahasa, efektif dalam berkomunikasi, memiliki nalar 
verbal dan logika kualitatif. Ia juga mempunyai descriptive power, 
yakni suatu kemampuan menggambarkan sesuatu dan mengambil 
contoh yang tepat. Pengalamanku dengan pelajaran bahasa Inggris 
di hari-hari pertama kelas 2 SMP nanti membuktikan hal itu. 

Saat itu aku mendapat kritikan tajam dari ayahku karena nilai 
bahasa Inggris yang tak kunjung membaik. Aku pun akhirnya meng- 
hadap pemegang kunci pintu ilmu filsafat untuk mendapat satu dua 
resep ajaib. Aku keluhkan kesulitanku memahami tense. 

"Kalau tak salah jumlahnya sampai enam belas, dan jika ia su- 
dah berada dalam sebuah narasi aku ekhliangan jejak dalam konteks 



109 



Andrea Hirata 

tense apa aku berada? Pun ketika ingin membentuk sebuah kalimat, 
bingung aku menentukan tense-nya. Bahasa Inggrisku tak maju-ma- 
ju." 

"Begini," kata Lintang sabar menghadapi ketololanku. Ketika itu 
ia sedang memaku sandal cunghai-nya yang menganga seperti buaya 
lapar. Kupikir ia pasti mengira bahwa aku mengalami disorientasi 
waktu dan akan menjelaskan makna tense secara membosankan. Ta- 
pi petuahnya sungguh tak kuduga. 

"Memikirkan struktur dan dimensi waktu dalam sebuah bahasa 
asing yang baru saja kita kenal tidak lebih dari hanya akan merepot- 
kan diri sendiri. Sadarkah kau bahasa apa pun di dunia ini, di mana 
pun, mulai dari bahasa Navajo yang dipakai sebagai sandi tak terpe- 
cahkan di perang dunia kedua, bahsa Gaelic yang amat langka, baha- 
sa Melayu pesisir yang berayun-ayun, sampai bahasa Mohican yang 
telah punah, semuanya adalah kumpulan kalimat, dan kalimat tak 
lain adalah kumpulan kata-kata, paham kau sampai di sini?" 

Aku mengangguk, semua orang tahu itu. 

Lalu ia melanjutkan, "Nah, kata apa pun, pada dasarnya adalah 
kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan, paham? Ini 
bukan masalah bahasa yang sulit tapi masalah cara berpikir." 

Sekarang mulai menarik. 

"Berangkatlah dari sana, pelajari bagaimana menggunakan kata 
benda, kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan dalam sebuah kali- 
mat Inggris, itu saja, Kal. Tak lebih dari itu!" 

Belajar kata terlebih dulu, bukan belajar bahasa, itulah inti para- 
digma belajar bahsa Inggris versi Lintang. Sebuah ide cemerlang 
yang hanya terpikirkan oleh orang-orang yang memahami prinsip- 



110 



Lancjit Ketujufi 

prinsip belajar behasa. Dengan paradigma ini aku mengalami kema- 
juan pesat, bukan hanya karena aku dapat mempelajari bahsa Inggris 
dengan bantuan analogi bahasa Indonesia, tapi petuahnya mampu 
melenyapkan sugesti kesulitan belajar bahasa asing yang umum me- 
landa siswa-siswa daerah. Bahwa bahasa, baik lokal maupun asing, 
adalah permainan kata-kata, tak lebih dari itu! 

Setelah aku mampu membangun konstruksiku sendiri dalam 
memahami kalimat-kalimat Inggris, kemudian Lintang menunjuk- 
kan cara meningkatkan kualitas tata bahasaku dengan mengenalkan 
teori strktur dan aturan-aturan tense. Pendekatan ini diam-diam ka- 
mi sebarkan pada seluruh teman sekelas. Dan ternyata hal ini sukses 
besar, sehingga dapat dikatakan Lintanglah yang telah mengakhiri 
masa kejahiliahan bahasa Inggris di kelas kami. 

Mungkin kami telah belajar bahasa Inggris dengan pendekatan 
yang keliru, tapi cara ini efektif. Dan cara ini diajarkan oleh sese- 
orang yang percaya bahwa setiap orang memiliki jalan yang berbeda 
untuk memahami bahasa. Aku kagum dengan daya pikir Lintang, 
dalam usia semuda itu ia mampu melihat elemen-elemen filosofis 
sebuah ilmu lalu menerjemahkannya menjadi taktik-taktik praktis 
untuk menguasainya. Yang lebih istimewa, orang yang mengajariku 
ini bahkan tak mampu membeli buku teks wajib bahasa Inggris. 

Lintang memasuki suatu tahap kreatif yang melibatkan intuisi 
dan pengembangan pemikiran divergen yang orisinal. Ia menggali 
rasa ingin tahunya dan tak henti mencoba-coba. Indikasi kegenius- 
annya dapat dilihat dari kefasihannya dalam berbahasa numerik, ya- 
itu ia terampil memproses sebuah pernyataan matematis mulai dari 
hipotesis sampai pada kesimpulan. Ia membuat penyangkalan ber- 
dasarkan teorema, bukan hanya berdasarkan pembuktian kesalahan, 
apalagi simulasi. Dalam usia muda dia telah memasuki area yang a- 



111 



Andrea Hirata 

mat teoretis, cara berpikirnya mendobrak, mengambil risiko, tak 
biasa, dan menerobos. Setiap hari kami merubungnya untuk mene- 
mukan kejutan-kejutan pemikirannya. 

Baru naik ke kelas satu SMP, ketika kami masih pusing tujuh 
keliling memetakan absis dan ordinat pada produk cartesius dalam 
topik relasi himpunan sebagai dasar fungsi linear, Lintang telah me- 
ngutak-atik materi-materi untuk kelas yang jauh lebih tinggi di ting- 
kat lanjutan atas bahkan di tingkat awal perguruan tinggi seperti im- 
plikasi, biimplikasi, filosofi Pascal, binomial Newton, limit, diferen- 
sial, integral, teori-teori peluang, dan vektor. Ketika kami baru saja 
mengenal dasar-dasar binomial ia telah beranjak ke pengetahuan 
tentang aturan multinomial dan teknik eksploitasi polinomial, ia 
mengobrak-abrik pertidaksamaan eksponensial, mengilustrasikan 
grafik-grafik sinus, dan membuat pembuktian sifat matematis 
menggunakan fungsi-gunsgi trigonometri dan aturan ruang tiga di- 
mensi. 

Suatu waktu kami belajar sistem persamaa nlinier dan tertatih- 
tatih menguraiuraikan kasusnya dengan substitusi agar dapat mene- 
mukan nilai sebuah variabel, ia bosan dan menghambur ke depan 
kelas, memenuhi papan tulis dengan alternatif-alternatif solusi lini- 
er, di antaranya dengan metode eliminasi Gaus-Jordan, metode 
Crammer, metode determinan, bahkan dengan nilai Eigen. Setelah 
itu Lintang mulai menggarap dan tampak sangat menguasai prinsip- 
prinsip penyelesaian kasus nonlinier. Ia dengan amat lancar menje- 
laskan persamaan multivariabel, mengeksploitasi rumus kuadrat, 
bahkan menyelesaikan operasi persamaan menggunakan metode 
matriks! Padahal dasar-dasar matriks paling tidak baru dikhot- 
bahkan para guru pada kelas dua SMA. Yang lebih menakjubkan a- 
dalah semua pengetahuan itu ia pelajari sendiri dengan membaca 



112 



Lancjit Ketujufi 

bermacam-macam buku milik kepala sekolah kami jika ia mendapat 
giliran tugas menyapu di ruangan beliau. Ia bersimpuh di balik pintu 
ayun, semacam pintu koboi, menekuni angka-angka yang bicara, 
bahkan dalam buku-buku berbahasa Belanda. 

Ia memperlihatkan bakat kalkulus yang amat besar dan keahli- 
annya tidak hanya sebatas menghitung guna menemukan solusi, tapi 
ia memahami filosofi operasi-operasi matematika dalam hubungan- 
nya dengan aplikasi seperti yang dipelajari para mahasiswa tingkat 
lanjut dalam subjek metodologi riset. Ia membuat hitungan yang 
iseng namun cerdas mengenai berapa waktu yang dapat dihemat 
atau berapa tambahan surat yang dapat diantar per hari oleh Tuan 
Pos jika mengubah rute antarnya. Ia membuat perkiraan ketahanan 
benang gelas dalam adu layangan untuk berbagai ukuran nilon ber- 
dasarkan perkiraan kekuatan angin, ukuran layangan, dan panjang 
benang. Rekomendasinya menyebabkan kami tak pernah terkalah- 
kan. 

Prediksinya tak pernah meleset dalam menghitung waktu kun- 
cup, bersemi, dan mati untuk bunga red hot cat tail dengan meneliti 
kadar pupuk, suplai air, dan sinar matahari. Ia mengompilasi de- 
ngan cermat tabel pengamatan distribusi durasi, frekuensi dan wak- 
tu curah hujan lalu menghitung rata-rata, variansi, dan koefisien ko- 
relasi dalam rangka memperkirakan berapa kali Pak Harfan bolos 
karena bengek itu menunjukkan pola yang konsisten terhadap fung- 
si hujan dan lebih ajaib lagi Lintang mampu membuat persentase 
bias dugaannya. 

Lintang bereksperimen merumuskan metode jembatan keledai- 
nya sendiri untuk pelajaran-pelajaran hafalan. Biologi misalnya. Ia 
menciptyakan sebuah konfigurasi belajar metabolisme dengan me- 
rancang kelompok sistem biologis mulai dari sistem alat tubuh, per- 



il:? 



Andrea Hirata 

napasan, pencernaan, gerak, sampai sistem saraf dan indra, baik un- 
tuk manusia, vertebrata, maupun avertebrata, sehingga mudah dipa- 
hami. 

Maka jika kita tanyakan padanya bagaiaman seekor cacing me- 
lakukan hajat kecilnya, siap-siap saja menerima penjelasan yang ra- 
pi, kronologis, terperinci, dan sangat cerdas mengenai cara kerja 
rambut getar di dalam sel-sel api, lalu dengan santai saja, seumpama 
seekor monyet sedang mencari kutu di punggung pacarnya, ia akan 
membuat analogi buang hajat cacing itu pada sistem ekskresi proto- 
zoa dengan anatomi vakuola kontraktil yang rumit itu, bahkan jika 
tidak distop, ia akan dengan senang hati menjelaskan fungsi-fungsi 
korteks, simpai bowman, medulla, lapisan malpigi, dan dermis 
dalam sistem ekskresi manusia. Karena bagi Lintang, melalui desain 
jembatan keledainya tadi, benda-benda hafalan ini dengan mudah 
dapat ia kuasai, satu malam saja, sekali tepuk. 

Masih dalam pelajaran biologi, terjadi perdebatan sengit di an- 
tara kami tentang teori yang memaksakan pendapat bahwa manusia 
berasal dari nenek moyang semacam lutung, kami terperangah oleh 
argumentasi Lintang: 

"Persoalannya adalah apakah Anda seorang religius, seorang 
darwinian, atau sekadar seorang oportunis? Pilihan sesungguhnya 
hanya antara religius dan darwinian, sebab yang tidak memilih ada- 
lah oportunis! Yaitu mereka yang berubah-ubah sikapnya sesuai si- 
tuasi mana yang akan lebih menguntungkan mereka. Lalu pilihan itu 
seharusnya menentukan perilaku dalam menghargai hidup ini. Jika 
Anda seorang darwinian, silakan berperilaku seolah tak ada tuntutan 
akhirat, karenab agi Anda ktia bsuci yang memaktub bahwa manusia 
berasal dari Nabi Adam adalah dusta. Tapi jika Anda seorang religi- 
us maka Anda tahu bahwa teori evolusi itu palsu, dan ketika Anda 



114 



Lancjit Ketujufi 

tak kunjung mempersiapkan diri untuk dihisab nanti dalam hidup 
setelah mati, maka dalam hal ini anda tak lebih dari seorang sekuler 
oportunis yang akan dibakar di dasar neraka!" 

Itulah Lintang dengan pandangannya. Pikirannya memang te- 
lah sangat jauh meninggalkan kami. Dan dengarlah itu, bicaranya le- 
bih pintar dari bicara seluruh menteri penerangan yang pernah di- 
miliki republik ini. 

"Ayo yang lain, jangan hanya anak Tanjong keriting ini saja 
yang terus menjawab," perintah Bu Mus. 

Biasanya setelah itu aku tergoda untuk menjawab, agak ragu-ra- 
gu, canggung, dan kurang yakin, sehingga sering sekali salah, lalu 
Lintang membetulkan jawabanku, dengan semangat konstruktif pe- 
nuh rasa akrab persahabatan. Lintang adalah seorang cerdas yang 
rendah hati dan tak pernah segan membagi ilmu. 

Aku belajar keras sepanjang malam, tapi tak pernah sedikit pun, 
sedetik pun bisa melampaui Lintang. Nilaiku sedikit lebih baik dari 
rata-rata kelas namun jauh tertinggal dari nilainya. Aku berada di 
bawah bayang-bayangnya sekian lama, sudah terlalu lama malah. 
Rangking duaku abadi, tak berubah sejak caturwulan pertama kelas 
satu SD. Abadi seperti lukisan ibu menggendong anak di bulan. Ri- 
val terberatku, musuh bebuyutanku adalah temanku sebangku, yang 
aku sayangi. 

Dapat dikatakan bahwa Bu Mus sering kewalahan menghadapi 
Lintang, terutama untuk pelajaran matematika, sehingga ia sering 
diminta membantu. Ketika Lintang menerangkan sebuah persoalan 
rumit dan membaut simbol-simbol rahasia matematika menjadi si- 
nar yang memberi terang bagi kami, Bu Mus memerhatikan dengan 
seksama bukan hanya apa yang diucapkan Lintang tapi juga pende- 



ns 



Andrea Hirata 

katannya dalam menjelaskan. Lalu beliau menggeleng-gelengkan ke- 
palanya, komat-kamit, berbicara sendiri tak jelas seperti orang 
menggerendeng. Belakangan aku tahu apa yang dikomat-kamitkan 
beliau.; Bu Mus mengucapkan pelan-pelan kata-kata penuh kagum, 
"Subhanallah. . . .Subhanallah. . . ." 

"Yang paling membuatku terpesona," cerita Bu Mus pada ibu- 
ku. "Adalah kemampuannya menemukan jawaban dengan cara lain, 
cara yang tak pernah terpikirkan olehku," sambungnya sambil mem- 
betulkanjilbab. 

"Lintang mampu menjawab sebuah pertanyaan matematika 
melalui paling tidak tiga cara, padahal aku hanya mengajarkan satu 
cara. Dan ia menunjukkan padaku bagaimana menemukan jawaban 
tersebut melalui tiga cara lainnya yang tak pernah sedikit pun aku 
ajarkan! Logikanya luar biasa, daya pikirnya meluap-luap. Aku su- 
dah tak bisa lagi mengatasi anak pesisir ini Ibunda Guru." 

Bu Mus tampak bingung sekaligus bangga memiliki murid se- 
pandai itu. Sebaliknya, ibuku, seperti biasa, sangat tertarik pada hal- 
hal yang aneh. 

"Ceritakan lagi padaku kehebatannya yang lain," pancing beliau 
memanasi Bu Mus sambil memajukan posisi duduknya, mendekat- 
kan keminangan tempat cupu-cupu gambir dan kapur, lalu melu- 
dahkan sirih melalui jendela rumah panggung kami. 

Dan tak ada yang lebih membahagiakan seorang guru selain 
mendapatkan seorang murid yang pintar. Kecemerlangan Lintang 
membawa gairah segar di sekolah tua kami yang mulai kehabisan 
napas, megap-megap melawan paradigma materialisme sistem pen- 
didikan zaman baru. Sekarang suasana belajar mengajar di sekolah 
kami menjadi berbeda karena kehadiran Lintang, hanya tinggal 



116 



Lancjit Ketujufi 

menunggu kesempatan saja baginya untuk mengharumkan nama 
perguruan Muhammadiyah. Lintang dengan segala daya tarik kecer- 
dasannya daalah gemerincing tamborin yang nakal, bernada miring, 
dalam alunan stambul gaya lama. Dialah mantar dalam rima-rima 
gurindam 1 yang itu-itu saja. Dia ikan lele yang menggeliat dalam 
timbunan lumpur berku kemarau sekolah kami yang telah bosan 
dihina. Tubuhnya yang kurus menjadi siku-siku yang mengeakkan 
kembali tiang utama perguruan Muhammadiyah yang bahkan be- 
lum tentu tahun depan mendapatkan murid baru. 

Dewan guru tak henti-hentinya membicarakan nilai rapor 
Lintang. Angka sembilan berjejer mulai dari pelajaran aqaid (aki- 
dah), Al-Qur'an, fikih, tarikh Islam, budi pekerti, kemuhammadi- 
yahan, pendidikan kewarganegaraan, ilmu bumi, dan bahasa Inggris. 

Untuk biologi, matematika dan semua variannya: ilmu ukur, 
aritmatika, aljabar, dan ilmu pengetahuan alam bahkan Bu Mus be- 
rani bertanggung jawab untuk memberi nilai sempurna: sepuluh. 
Kehebatan Lintang tak terbendung, kepiawaiannya mulai kondang 
ke seantero kampung. Dan yang lebih mendebarkan, karena reputa- 
sinya itu, kami dipertimbangkan untuk diundang mengikuti lomba 
kecerdasan antarsekolah yang dapat menaikkan gengsi sekolah se- 
tinggi rasi bintang Auriga 2 . Sudah demikian lama kami tak diundang 
dalam acara bergengsi ini karena prestasi sekolah selalu di bawah 
rata- rata. 



1 Gurindam: sajak dua baris yang mengandung petuah atau nasihat (misalnya: baik- 
baik memilih kawan, salah-salah bisa jadi lawan). 

2 Auriga: konstelasi berbentuk layangan di langit sebelah utara. Bintang yang terbesar 
dalam konstelasi ini adalah Capella. Bintang-bitang di dalam Auriga kebanyakan 
merupakan bintang biner, yaitu sepasang bintang yang berputar mengelilingi pusat 
massa. Auriga mencapai titik tertingginya pada bulan Juni dan dapat terlihat dari 
belahan bumi utara dan sebelah utara belahan belahan bumi selatan. 



117 



Andrea Hirata 

Nilai terendah di rapor Lintang, yaitu delapan, hanya pada mata 
pelajaran kesenian. Walaupun sudah berusaha sekuat tenaga dan 
mengerahkan segenap daya pikir dia tak mampu mencapai angka 
sembilan karena tak memapu bersaing dengan seorang pria muda 
berpenampilan eksentrik, bertubuh ceking, dan berwajah tampan 
yang duduk di pojok sana sebangku dengan Trapani. Nilai sembilan 
untuk pelajaran kesenian selalu milik pria itu, namanya Mahar. 



^Q^zsQ^ 



118 



JAak 



ar 



BAKAT laksana Area 51 di Gurun Nevada, tempat di mana mayat- 
mayat alien disembunyikan: misterius! Jika setiap orang tahu dengan 
pasti apa bakatnya maka itu adalah Utopia. Sayangnay Utopia tak ada 
dalam dunia nyata. Bakat tidak seperti alergi, dan ia tidak otomatis 
timbul seperti jerawat, tapi dalam banyak kejadian ia harus ditemu- 
kan. 

Banyak orang yang berusaha mati-matian menemukan bakat- 
nya dan banyak pula yang menunggu seumur hidup agar bakatnya 
atau dirinya ditemukan, tapi lebih banyak lagi yang merasa dirinya 
berbakat padahal tidak. Bakat menghinggapi orang tanpa diundang. 
Bakat main bola seperti Van Basten mungkin diam-diam dimiliki se- 
orang tukang taksir di kantor pegadaian di Tanjong Pandan. Seo- 
rang Karl Marx yang lain bisa saja sekarang sedang duduk menjaga 
wartel di sebuah kampus di Bandung. Seorang kondektur ternyata 
adalah John Denver, seorang salesman ternyata berpotensi menjadi 



Andrea Hirata 

penembak jitu, atau salah seorang tukang nasi bebek di Surabaya 
ternyata berbakat menjadi komposer besar seperti Zuybin Mehta. 

Namun, mereka sendiri tak pernah mengetahui hal itu. Si tu- 
kang taksir terlalu sibuk melayani orang Belitong yang kehabisan 
uang sehingga tak punya waktu main bola, sang penjaga wartel se- 
panjang hari hanya duduk memandangi struk yang menjulur-julur 
dari printer Epson yang bunyinya merisaukan seperti lidah wanita 
dalam film Perempuan Berambut Api, kondektur dan salesman se- 
tiap hari mengukur jalan, dan lingkungan si tukang nasi bebek sama 
sekali jauh dari sesuatu yang berhubungan dengan musik klasik. la 
hanya tahu bahwa jika mendengarkan orkestra telinganya mampu 
melacak nada demi nada yang berdenting dari setiap instrumen dan 
hatinya bergetar hebat. Sayangnya sepanjang hidup-nya ia tak per- 
nah mendapat kesempatan sekali pun memegang alat musik, dan tak 
juga pernah ada seorang pun yang menemukannya. Maka ketika ia 
mati, bakat besar gilang gemilang pun ikut terkubur bersamanya. Se- 
perti mutiara yang tertelan kerang, tak pernah seorang pun melihat 
kilaunya. 

Karena bakat sering kali harus ditemukan, maka ada orang yang 
berprofesi sebagai pemandu bakat. Di Amerika orang-orang seperti 
ini khusus berkeliling dari satu negara bagian ke negara baigan lain 
untuk mencari pemain baseball potensial. Jika— satu di antara sejuta 
kemungkinan — orang ini tak pernah menghampiri seseorang yang 
sesungguhnya berbakat, maka hanya nasib yang menentukan apakah 
bakat seseorang tersebut pernah ditemukan atau tidak, pelajaran 
moral nomor empat: Ternyata nasib yang juga sangat misterius itu 
adalah seorang pemandu bakat! Hal ini paling tidak dibuktikan oelh 
Forest Gump, jika ia tidak mendaftar menjadi tentara dan jika ia 
tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di barak pada suatu sore 



120 



Mafiar 

maka mungkin ia tak pernah tahu kalau ia sangat berbakat bermain 
tenis meja. Ritchie Blackmore juga begitu, kalau orang tuanya mem- 
belikan papan catur untuk hadiah ulang tahun mungkin ia tak 
pernah tahu kalau dia berbakat menjadi seorang gitaris classic rock. 

Dan di siang yang panas menggelegak ini, ketika pelajaran seni 
suara, di salah satu sudut kumuh perguran miskin Muhammadiyah, 
kami menjadi saksi bagaimana nasib menemukan bakat Mahar. Mu- 
lanya Bu Mus meminta A Kiong maju ke depan kelas untuk menya- 
nyikan sebuah lagu, dan seperti diduga— hal ini sudah delapan belas 
kali terjadi— ia akan membawakan lagu yang sama yaitu Berkibarlah 
Benderaku karya Ibu Sud. 

". . .berkiballah bendelaku. . . ." 

". . .lambang suci gagah pelwila 

"... bergelak-bergelak! Selentak ... selentak ...!" 

A Kiong membawakan lagu itu dengan gaya mars tanpa rasa sa- 
ma sekali. Ia memandang keluar jendela dan pikirannya tertuju pada 
labu siam yang merambati dahan-dahan rendah filicium serta buah- 
buahnya yang gendut-gendut bergelantungan. Ia bahkan tidak sedi- 
kit pun memandang ke arah kami. Ia mengkhianati penonton. 

Telinganya tak mendengarkan suaranya sendiri karena ia agak- 
nya mendengarkan suara ribut burung-burung kecil prenjak sayap 
garis yang berteriak-teriak beradu kencang dengan suara kumbang- 
kumbang betina pantat kuning. Ia tak mengindahkan jangkauan 
suaranya serta atk ambil pusing dengan notasi. Kali ini ia mengkhia- 
nati harmoni. 



121 



Andrea Hirata 

Kami juga tak memerhatikannya bernyanyi. Lintang sibuk de- 
ngan rumus phytagoras, Harun tertidur pulas sambil mendengkur, 
Samson menggambar seorang pria yang sedang mengangkat sebuah 
rumah dengan satu tangan kiri. Sahara asyik menyulam kruistik ka- 
ligrafi tulisan Arab Kulil Haqqu Walau Kana Murron artinya: Kata- 
kan kebenaran walaupun pahit dan Trapani melipat-lipat sapu ta- 
ngan ibunya. Sementara itu Syahdan, aku dan Kucai sibuk mendis- 
kusikan rencana kami menyembunyikan sandal Pak Fahimi (guru 
kelas empat yang galak itu) di Masjid Al-Hikmah. Mahar adalah 
orang satu-satunya yang menyimaknya. Sedangkan Bu Mus menu- 
tup wajahnya dengan kedua tangan, beliau berusaha keras menahan 
kantuk dan tawa mendengar lolongan A Kiong. 

Lalu giliran aku. Tak kalah membosankan, lebih membosankan 
malah. Setelah dimarahi karena selalu menyanyikan lagu PotongBe- 
bek Angsa, kini aku membuat sedikit kemajuan dengan lagu baru In- 
donesia Tetap Merdeka karya C. Simanjuntak yang diaransemen 
Damoro IS. Ketika aku mulai menyanyi Sahara mengangkat sebentar 
wajahnya dari kruistiknya dan terang-terangan memandangku de- 
ngan jijik karena aku menyanyikan lagu cepat-tegap itu dengan nada 
yang berlari-lari liar sesuka hati, ke sana kemari tanpa harmonisasi. 
Aku tak peduli dengan pelecehan itu dan tetap bersemangat. 

"... Sorak-sorai bergembira. . .bergembira semua. . . ." 
"... telah bebas negeri kita. . . Indonesia merdeka 

Namun, aku menyanyi melompati beberapa oktaf secara drastis 
tanpa dapat kukendalikan sehingga tak ada keselarasan nada dan 
tempo. Aku telah mengkhianati keindahan. 



122 



Mafiar 

Kali ini Bu Mus sudah tak bisa lagi menahan tawanya, beliau 
terpingkal-pingkal sampai berair matanya. Aku berusaha keras 
memperbaiki harmonisasi lagu itu tapi semakin keras aku berusaha 
semakin aneh kedengarannya. Inilah yang dimaksud dengan tidak 
punya bakat. Aku susah payah menyelesaikan lagu itu dan teman- 
temanku sama sekali tak mengindahkan penderitaanku karena me- 
reka juga menderita menahan kantuk, lapar, dan haus di tengah hari 
yang panas ini, dan batin mereka semakin tertekan karena mende- 
ngar suaraku. 

Bu Mus menyelamatkan aku dengan buru-buru menyuruhku 
berhenti bernyanyi sebelum lagu merdu itu selesai, dan sekarang be- 
liau menunjuk Samson. Kenyataannya semakin parah, Samson me- 
nyanyikan lagu yang berjudul Teguh Kukuh Berlapis Baja juga karya 
C. Simanjuntak sesuai dengan citra tubuh raksasanya. la menyanyi- 
kan lagu itu dengan sangat nyaring sambil menunduk dalam dan 
menghentak-hentakkan kakinya dengan keras. 

".. .Teguh kukuh berlapis baja!" 
"...rantai smangat mengikat padu!" 
" . . . tegak benteng Indonesia!" 

Tapi ia juga sama sekali tidak tahu konsep harmonisasi sehingga 
ia menjadikan lagu itu seperti sebuah lagu lain yang belum pernah 
kami kenal. Ia mengkhianati C. Simanjuntak. Maka sebelum bait 
pertama selesai, Bu Mus segera menyuruhnya kembali ke tempat du- 
duk. Samson membatu, tak percaya dengan apa yang baru saja dide- 
ngarnya, ia terheran-heran. 

"Mengapa aku dihentikan, Ibunda Guru ...?" 



123 



Andrea Hirata 

Inilah yang dimaksud dengan tak punya bakat dan tak tahu diri. 

Maka seni suara adalah mata pelajaran yang paling tidak pros- 
pektif di kelas kami. Oleh karena itu, ia ditempatkan di bagian akhir 
paling siang. Fungsinya hanya untuk menunggu waktu Zuhur, yaitu 
saatnya kami pulang, atua untuk sekadar hiburan bagi Bu Mus ka- 
rena dengan menyuruh kami bernyanyi beliau bisa menertawakan 
kami. Pada umumnya kami memang tak bisa menyanyi. Bahkan 
Lintang hanya bisa menampilkan dua buah lagu, yaitu Padamu 
Negeri dan Topi Saya Bundar. Lagu tentang topi ini adalah lagu su- 
per ringkas dengan bait yang dibalik-balik. Lintang menyanyikan- 
nya dengan tergesa-gesa sehingga seperti rapalan agar tugas itu cepat 
selesai. 

Adapun Trapani, sejak kelas satu SD tak pernah menyanyikan 
lagu lain selain lagu Kasih Ibu Sepanjang Jalan. Sahar menyanyikan 
lagu Rayuan Pulau Kelapa dengan gaya seperti seriosa yang menurut 
dia sangat bagus padahal sumbangnya minta ampun. Sedangkan Ku- 
cai— juga dari kelas satu SD— hanya menampilkan dua buah lagu 
yang sama, kalau tidak lagu Rukun Islam ia akan menyanyikan lagu 
Rukun Iman. 

"Masih ada lima menit sebelum azan zuhur. Ah, masih bisa satu 
lagu lagi," kata Bu Mus sambil tersenyum simpul. Kami memandang 
beliau dengan benci. 

"Ibunda, kenapa tak pulang saja!" 

Kami sudah mengantuk, lelah, lapar, dan haus. Siang ini panas 
sekali. Burung-burung prenjak sayap garis 1 semakin banyak dan tak 



1 Perenjak sayap garis (Prinia familiaris; Bar-zainged Prima): burung kecil pemakan 
serangga, berwarna kelabu, memiliki sayap pendek bergaris-garis dan ekor yang 



124 



Mafiar 

mau kalah dengan kumbang-kumbang betina pantat kuning. Ka- 
dang-kadang mereka hinggap di jendela kelas sambil menjerit se- 
jadi-jadinya, menimbulkan suara bising yang memusingkan bagi 
perut-perut yang keroncongan. 

"Nah, sekarang giliran ...." Bu Mus memandangi kami satu per 
satu untuk menjatuhkan pilihan secara acak . . . dan kali ini pandang- 
annya berhenti pada Mahar. 

"Ya, Mahar, silakan ke depan anakku, nyanyikan sebuah lagu 
sambil kita menunggu azan zuhur." 

Bu Mus terus tersenyum mengantisipasi kekonyolan apa lagi 
yang akan ditampilkan muridnya. Sebelumnya kami tak pernah 
mendengar Mahar bernyanyi, karena setiap kali tiba gilirannya, azan 
zuhur telanjur berkumandang sehingga ia tak pernah mendapat ke- 
sempatan tampil. 

Kami tidak peduli ketika Mahar beranjak. Ia menyandang tas- 
nya, sebuah karung kecampang, karena ia juga sudah bersiap-siap 
akan pulang. Kami sibuk sendiri-sendiri. Sahara sama sekali tak me- 
malingkan wajah dari kruistiknya, Lintang terus menghitung, 
Samson masih menggambar, dan yang lain asyik berdiskusi. Mahar 
melangkah ke depan dengan tenang, anggun, tak tergesa-gesa. 

Di depan kelas ia tak langsung menyanyikan lagu pilihannya, 
tapi menatap kami satu per satu. Kami terheran-heran melihat 
tingkahnya yang ganjil, namun tatapannya penuh arti, seperti se- 
buah tatapan kerinduan dari seorang penyanyi pop gaek yang me- 
lakukan konser khusus untuk para ibu-ibu single parent, dan kaum 



panjang lentik seperti murai batu. Paruhnya tipis dan agak melengkung. Habitat 
burung ini adalah di tempat terbuka seperti padang ilalang. 



125 



Andrea Hirata 

ibu ini adalah para penggemar setia yang sudah amat lama tak ber- 
sua dengan sang artis nostalgia. 

Setelah memandangi kami cukup lama, ia memalingkan wajah- 
nya ke arah Bu Mus sambil tersenyum kecil dan menunduk, layak- 
nya peserta lomba bintang radio yang memberi hormat kepada de- 
wan juri. Mahar merapatkan kedua tangannya di dadanya seperti se- 
niman India, seperti orang memohon doa. Tampak jelas jari-jari 
kurusnya yang berminyak seperti lilin dan ujung-ujung kukunya 
yang bertaburan bekas-bekas luka kecil sehingga seluruh kukunya 
hampir cacat. Sejak kelas dua SD Mahar bekerja sampingan sebagai 
pesuruh tukang parut kelapa di sebuah toko sayur milik seorang 
Tionghoa miskin. Tangannya berminyak karena berjam-jam me- 
remas ampas kelapa sehingga tampak licin, sedangkan jemari dan 
kukunya cacat karena disayat gigi-gigi mesin parut yang tajam dan 
berputar kencang. Mesin itu mengepulkan asap hitam dan harus 
dihidupkan dengan tenaga orang dewasa dengan cara menarik 
sebuah tuas berulangulang. Bunyi mesin itu juga merisaukan, suatu 
bunyi kemelaratan, kerja keras, dan hidup tanpa pilihan. Ia mem- 
bantu menghidupi keluarga dengan menjadi pesuruh tukang parut 
karena ayahnya telah lama sakit-sakitan. 

Bu Mus membalas hormat takzimnya yang santun dengan terse- 
nyum ganjil. "Anak muda ini pasti tak pandai melantun tapi jelas ia 
menghargai seni," mungkin demikian yang ada dalam hati Bu Mus. 
Tapi tetap saja beliau menahan tawa. Lalu Mahar mengucapkan se- 
macam prolog. 

"Aku akan membawakan sebuah lagu tentang cinta Ibunda 
Guru, cinta yang teraniaya lebih tepatnya ...." 



126 



Mafiar 

Tuhanku! Kami terperangah dan Bu Mus terkejut. Prolog sema- 
cam ini tak pernah kami lakukan, dan tenia lagu pilihan Mahar sa- 
ngat tak biasa. Lagu kami hanya tiga macam yaitu: lagu nasional, 
lagu kasidah, dan lagu anak-anak. Lagu apakah gerangan yang akan 
dibawakan anak muda berwajah manis ini? Kini kami semua me- 
mandanginya dengan heran, Sahara melepaskan kruistiknya. Belum 
sempat kami mencerna ia menyambung kalem dengan gaya seperti 
seorang bijak berpetuah. 

"Lagu ini bercerita tentang seseorang yang patah hati karena ke- 
kasih yang sangat ia cintai direbut oleh teman baiknya sendiri ...." 

Mahar tercenung syahdu, tatapan matanya kosong jauh melin- 
tasi jendela, jauh melintasi awan-awan berarakan, hidup memang 
kejam .... 

Bu Mus termenung ragu-ragu. Beliau menatap Mahar sambil 
tersenyum penuh tanda tanya. Hati kami juga penasaran. Lalu Bu 
Mus mengambil sebuah keputusan yang puitis. 

"Jalan ke ladang berliku-liku, jangan lewat hutan cemara, segera 
nyanyikan lagumu, biar kutahu engkau merana ...." 

Mahar tersenyum dalam duka. 

"Terima kasih Ibunda Guru." 

Mahar bersiap-siap, kami menunggu penuh keingintahuan, dan 
kami semakin takjub ketika ia membuka tasnya dan mengeluarkan 
sebuah alat musik: ukulele! 

Suasana jadi hening dan kemudian perlahan-lahan Mahar me- 
mulai intro lagunya dengan memainkan melodi ukulele yang men- 
dayu-dayu, ukulele itu dipeluknya dengan sendu, matanya terpejam, 
dan wajahnya syahdu penuh kesedihan yang mengharu biru, pias 



127 



Andrea Hirata 

menahankan rasa. Jiwanya seolah terbang tak berada di tempat itu. 
Lalu dengan interlude yang halus meluncurlah syair-syair lagu me- 
nakjubkan dalam tempo pelan penuh nuansa duka yang dinyanyi- 
kan dengan keindahan andante 2 maestoso yang tak terlukiskan kata- 
kata 

"...I was dancing with my darling to the Tennesse waltz..." 
"...when an old friend I happened to see..." 
" ...intoduced her to my love one and while they were dancing... 
" ...my friend stole my sweetheart from me..." 

Seketika kami tersentak dalam pesona, itulah lagu Tennesse 
Waltz yang sangat terkenal karya Anne Murray, dan lagu itu diba- 
wakan Mahar dengan teknik menyanyi seindah Patti Page yang me- 
lambungkan lagu lama itu. Ritme ukulele mengiringi vibrasi sem- 
purna suaranya disertai sebuah penghayatan yang luar biasa sehing- 
ga ia tampak demikian menderita karena kehilangan seorang keka- 
sih. 

Syair demi syair lagu itu merambati dinding-dinding papan tua 
kelas kami, hinggap di daun-daun kecil linaria 3 seperti kupu-kupu 



2 Andante: tempo musik yang agak lambat, lebih pelan daripada moderato tapi lebih 
cepat daripada adagio. Berasal dari bahasa Italia yang berarti "berjalan". Jika 
ditambah dengan "maestoso" maka berarti tempo tersebut harus dimainkan dengan 
berwibawa. 

3 Linaria (toadflax; butter-and-eggs): nama genus untuk tanaman liar yg memiliki bunga 
bergerombol (ada yg tegak, ada yg merayap di atas tanah) yg umumnya berwarna 
menyala kuning pucat-oranye (spesies lain ada yg berwarna ungu, biru, merah, putih) 
dan daun-daun yg kecil. Bunganya berbentuk tabung sempit yg terbelah di ujungnya 
sehingga membentuk bibir atas (disebut hood atau kerudung/topi) dan bibir bawah 
yg kecil dan berwarna lain. Tanaman ini disebut toadflax krn jika bunganya ditekan 
sisinya, ia akan berbentuk seperti katak (toad) yg sedang membuka mulut. 



128 



Mafiar 

cantik thistle crescent 4 , lalu terbang hanyut dibawa awan-awan tipis 
menuju ke utara. Suara Mahar terdengar pilu merasuki relung hati 
setiap orang yang ada di ruangan. Intonasinya lembut membelai- 
belai kalbu dan Mahar memaku hati kami dalam rasa pukau 
menyaksikannya menyanyi sambil menitikkan air mata. Apa pun 
yang sedang kami kerjakan terhenti karena kami telah terkesima. 
Kami tersihir oleh aura seni yang terpancar dari sosok anak muda 
tampan yang menyanyi dari jiwanya, bukan hanya dari mulutnya, 
sehingga lagu itu menjadi sebuah simfoni yang agung. Kami terbawa 
suasana melankolis karena Mahar benar-benar mengembuskan na- 
pas lagu itu. Rasa kantuk, lapar, dan dahaga menjadi tak terasa. Bah- 
kan kumbang-kumbarrg dan kawanan burung prenjak sayap garis 
menjadi senyap, berhenti menjerit-jerit demi mendengar lantunan- 
nya. Suhu udara yang panas perlahan-lahan menjadi sejuk mengha- 
nyutkan. 

Ketika Mahar bernyanyi seluruh alam diam menyimak. Kami 
merasakan sesuatu tergerak di dalam hati bukan karena Mahar ber- 
nyanyi dengan tempo yang tepat, teknik vokal yang baik, nada yang 
pas, interpretasi yang benar, atau chord ukulele yang sesuai, tapi 
karena ketika ia menyanyikan Tennesse Waltz kami ikut merasakan 
kepedihan yang mendalam seperti kami sendiri telah kehilangan ke- 



4 Thistle crescent (Vanessa cardui; painted lady; thistle butterfly; cosmopolite): jenis kupu- 
kupu yg mungkin paling luas persebarannya dan paling banyak dijumpai di seluruh 
dunia. Kupu-kupu ini hidup di daerah yg terbuka dan terkena cahaya matahari - 
terutama taman, lapangan, dan tanah kososng. Sayapnya berwarna oranye atau 
merah kecokelatan dgn bercak dan tepian hitam, sementara permukaan bawahnya 
biasanya berwarna merah muda dengan corak putih dan hitam. Sayap belakangnya 
biasanya memiliki corak seperti mata yg berwarna biru. Kupu-kupu ini hidup dari 
nektar bunga thistle (tanaman dengan batang dan daun berduri, dengan braktea 
bunga yg lancip-lancip seperti duri, biasanya berwarna ungu), aster dan red clover 
(sejenis semanggi). 



129 



Andrea Hirata 

kasih yang paling dicintai. Kemampuan menggerakkan inilah ba- 
rangkali yang dimaksud dengan bakat. Siang itu, ketika sedang me- 
nunggu azan zuhur, ternyata seorang seniman besar telah lahir di 
sekolah gudang kopra perguruan Muhammadiyah. Mahar meng- 
akhiri lagunya secara/ade out disertai linangan air mata. 

"...I lost my litle darling the night they were playing the beautiful 
Tennesse waltz..." 

Dan kami serentak berdiri memberi standing applause yang sa- 
ngat panjang untuknya, lima menit! Bu Mus berusaha keras me- 
nyembunyikan air mata yang menggenang berkilauan di pelupuk 
mata sabarnya. 

Tak dinyana, beberapa menit yang lalu, ketika Bu Mus menun- 
juk Mahar secara acak untuk menyanyi, saat itulah nasib menyapa- 
nya. Itulah momen nasib yang sedang bertindak selaku pemandu ba- 
kat. Siang ini, komidi putar Mahar mulai menggelinding dalam velo- 
sitas yang bereskalasi. 



^S^zsQ^ 



130 



^am Canaan Vlastik. Jdurahan 



SETELAH tampil dengan lagu memukau Tennesse Waltz kami me- 
nemukan Mahar sebagai lawan virtual rasionalitas Lintang. la adalah 
penyeimbang perahu kelas kami yang cenderung oleng ke kiri kare- 
na tarikan otak kiri Lintang. Sebaliknya, otak sebelah kanan Mahar 
meluap-luap melimpah ruah. Mereka berdua membangun tonggak 
artistik daya tarik kelas kami sehingga tak pernah membosankan. 

Jika Lintang memiliki level intelektualitas yang demikian tinggi 
maka Mahar memperlihatkan bakat seni selevel dengan tingginya 
inteligensia Lintang. Mahar memiliki harnpir setiap aspek kecerdas- 
an seni yang tersimpan seperti persediaan amunisi kreativitas dalam 
lokus-lokus di kepalanya. Kapasitas estetika yang tinggi melahirkan- 
nya sebagai seniman serba bisa, ia seorang pelantun gurindam, su- 
tradara teater, penulis yang berbakat, pelukis natural, koreografer, 
penyanyi, pendongeng yang ulung, dan pemain sitar yang fenome- 
nal. 



Andrea Hirata 

Lintang dan Mahar seperti Faraday kecil dan Warhol mungil 
dalam satu kelas, atau laksana Thomas Alva Edison muda dan Ra- 
bindranath Tagore junior yang berkumpul. Keduanya penuh inovasi 
dan kejutan-kejutan kreativitas dalam bidangnya masing-masing. 
Tanpa mereka, kelas kami tak lebih dari sekumpulan kuli tambang 
melarat yang mencoba belajar tulis rangkai indah di atas kertas ber- 
garis tiga. 

Dan di antara mereka berdua kami terjebak di tengah-tengah 
seperti orang-orang dungu yang ditantang Columbus mendirikan 
telur. Karena Lintang dan Mahar duduk berseberangan maka kami 
sering menoleh ke kiri dan ke kanan dengan cepat, persis penonton 
pertandingan pingpong, terkagum-kagum pada kegeniusan mereka. 

Jika tak ada guru, Lintang tampil ke depan, menggambar rang- 
kaian teknik bagaimana membuat perahu dari pelepah sagu. Perahu 
ini digerakkan baling-baling yang disambungkan dengan motor 
yang diambil dari tape recorder dan ditenagai dua buah batu baterai. 
la membuat perhitungan matematis yang canggih untuk memanipu- 
lasi gerak mekanik motor tape dan menjelaskan kepada kami hu- 
kum-hukum pokok hidrolik. Perhitungan matematikanya itu dapat 
memperkirakan dengan sangat akurat laju kecepatan perahu berda- 
sarkan massanya. Aku terpesona melihat perahu kecil itu berputar- 
putar sendiri di dalam baskom. 

Setelah itu Mahar maju, menundukkan kepala dengan takzim di 
depan kami seperti seniman istana yang ingin bersenandung atas 
perkenan tuan raja, lalu dengan manis ia membawakan lagu Leaving 
on a Jet Plane dengan gitarnya dengan ketukan-ketukan bernuansa 
hadrah. Di tangan orang yang tepat musik ternyata bisa menjadi de- 
mikian indah. Mahar juga membaca beberapa bait puisi parodi ten- 
tang orang-orang Melayu yang mendadak kaya atau tentang burung- 



132 



}am Tangan PfastiH Murafian 

burung putih di Pantai Tanjong Kelayang. Mahar dengan aksesori- 
aksesori etniknya ibarat orang yang dititipi Engelbert Humperdink 
suara emas dan diwarisi Salvador Dali sikap-sikap nyentrik. Persaha- 
batannya dengan para seniman lokal dan seorang penyiar radio AM 
yang memiliki beragam koleksi musik memperkaya wawasan seni 
dan perbendaharaan lagu Mahar. 

Pada kesempatan lain Lintang mempresentasikan percobaan 
memunculkan arus listrik dengan mengerak-gerakkan magnet seca- 
ra mekanik dan menjelaskan prinsip-prinsip kerja dinamo. Mahar 
memperagakan cara membuat sketsa-sketsa kartun dan cara menyu- 
sun alur cerita bergambar. Lintang menjelaskan aplikasi geometri 
dan aerodinamika dalam mendesain layangan, Mahar menceritakan 
kisah yang memukau tentang bangsa-bangsa yang punah. Pernah ju- 
ga Lintang menyusun potongan-potongan kaca yang dibentuk ce- 
kung seperti parabola dan menghadapkannya ke arah matahari agar 
mendapatkan suhu yang sangat tinggi, rancangan energi matahari 
katanya. 

Sebaliknya Mahar tak mau kalah, ia menggotong sebuah meja 
putar dan mendemonstrasikan seni membuat gerabah yang indah, 
teknik-teknik melukis gerabah itu dan mewarnainya. Lintang mem- 
peragakan cara kerja sekstan 1 dan menjelaskan beberapa perhitung- 
an matematika geometris dengan alat itu, Mahar membaca puisi 
yang ditulisnya sendiri dengan judul Doa dan dibawakan secara me- 
mukau dengan gaya tilawatil Qur'an, belum pernah aku melihat 
orang membaca puisi seperti itu. 



1 Sekstan: alat untuk mengukur sudut astronomis yang meliputi seperenam lingkaran 
(60°) untuk menentukan posisi kapal di laut). 



133 



Andrea Hirata 

Kadang kala mereka berkolaborasi, misalnya Mahar mengingin- 
kan sebuah gitar elektrik yang gampang dibawa seperti tas biasa, 
sehingga tak merepotkan jika naik sepeda, maka Lintang datang de- 
ngan sebuah desain produk yang belum pernah ada dalam industri 
instrumen musik, yaitu desain stang gitar yang dipotong lalu dipa- 
sangi semacam engsel sehingga terciptalah gitar yang bisa dilipat. 
Sungguh istimewa. Sudah banyak aku melihat keanehan di dunia 
pentas— misalnya pemain biola yang ketiduran ketika sedang mang- 
gung, panggung yang roboh, musisi yang menghancurkan alat-alat 
musik, pemain gitar yang kesetrum, seorang pria midland yang ma- 
kan kelelawar, atau orang-orang kampung yang meniru-niru Mick 
Jagger— tapi gitar dilipat sehingga menjadi seperti papan catur, baru 
kali ini aku saksikan. Dan jika Mahar dan Lintang beraksi, kami ber- 
kumpul di tengah-tengah kelas, bertumpuk-tumpuk kegirangan, ter- 
buai keindahan, dan menggumamkan subhanallah berulang-ulang, 
atas dua macam kepintaran mengasyikkan yang dianugerahkan Ilahi 
kepada mereka. 

Mahar sangat imajinatif dan tak logis— seseorang dengan bakat 
seni yang sangat besar. Sesuatu yang berasal dari Mahar selalu me- 
nerbitkan inspirasi, aneh, lucu, janggal, ganjil, dan menggoda keya- 
kinan. Namun, mungkin karena otak sebelah kanannya benar-benar 
aktif maka ia menjadi pengkhayal luar biasa. Di sisi lain ia adalah 
magnet, simply irresistable! 

Ia penggemar berat dongeng-dongeng yang tidak masuk akal 
dan segala sesuatu yang berbau paranormal. Tanyalah padanya hika- 
yat lama dan mitologi setempat, ia hafal luar kepala, mulai dari do- 
ngeng naga-naga raksasa Laut Cina Selatan sampai cerita raja ber- 
ekor yang diyakininya pernah menjajah Belitong. 



134 



}am Tangan PfastiH Murafian 

Ia sangat percaya bahwa alien itu benar-benar ada dan suatu 
ketika nanti akan turun ke Belitong menyamar sebagai mantri suntik 
di klinik PN Timah, penjaga sekolah, muazin di Masjid Al-Hikmah, 
atau wasit sepak bola. Dalam keadaan tertentu ia sangat konyol mi- 
salnya ia menganggap dirinya ketua persatuan paranormal interna- 
sional yang akan memimpin perjuangan umat manusia mengusir 
serbuan alien dengan kibasan daun-daun beluntas. 

Aku ingat kejadian ini, suatu ketika untuk nilai rapor akhir kelas 
enam, Bu Mus yang berpendirian progresif dan terbuka terhadap 
ide-ide baru, membebaskan kami berekspresi. Kami diminta menye- 
tor sebuah masterpiece, karya yang berhak mendapat tempat terhor- 
mat, dipajang di ruang kepala sekolah. Maka esoknya kami memba- 
wa celengan bebek dari tanah liat dan asbak dari cetakan lilin. Seba- 
gian lainnya membawa replika rumah panggung Melayu dari bahan 
perdu apit-apit dan simpai dari jalinan rotan untuk mengikat sapu 
lidi. Trapani menyetorkan peta Pulau Belitong yang dibuat dari ser- 
buk kayu. Syahdan membuat karya yang persis sama tapi bahannya 
bubur koran, jelek sekali dan busuk baunya. 

Harun menyetorkan tiga buah botol bekas kecap, itu saja, botol 
kecap! Tak lebih tak kurang. Aku sendiri hanya mampu membuat 
tirai dari biji-biji buah berang yang dikombinasikan dengan tali ra- 
piah yang digulung kecil-kecil. Setiap tiga buah biji berang berarti 
satu ketupat kecil tali rapiah berwarna-warni. Sebuah karya norak 
yang sangat tidak berseni. 

Tapi masih mending. A Kiong membuat lampion tanpa perhi- 
tungan akal sehat. Ketika dinyalakan lampion itu terbakar berkobar- 
kobar sehingga dengan terpaksa, demi keamanan, Samson melem- 
parkan benda itu keluar jendela. Padahal A Kiong tak tidur barang 
sepicing pun membuatnya. Karena karya kami sangat tidak memu- 



135 



Andrea Hirata 

askan, kami semua mendapat nilai tak lebih dari angka 6,5. Sungguh 
tak sebanding dengan jerih payah yang dikeluarkan. 

Amat berbeda dengan Mahar. la datang membawa sebuah bing- 
kai besar yang ditutupi selembar kain hitam. Kami sangka ia mem- 
buat sebuah lukisan. Tapi setelah kain itu pelan-pelan dilucuti, sa- 
ngat mengejutkan! Di baliknya muncul semacam cetakan tenggelam 
di atas batu apung. Cetakan kerangka seekor makhluk purbakala 
yang sangat janggal dan mengesankan sangat buas. 

Makhluk ini bukan acanthopholis, sauropodomorphas, kera an- 
thropoid, dinosaurus atau saurus-saurus semacamnya, dan bukan 
pula makhluk-makhluk prasejarah seperti yang telah kita kenal. Se- 
baliknya, Mahar membuat sebuah cetakan fosil kelelawar raksasa 
semacam Palaeochiropterxy tupaiodon tapi dengan bentuk yang di- 
modifikasi sehingga tampak ganjil dan mengerikan. Anatomi makh- 
luk itu tentu tak pernah teridentifikasi oleh para ahli karena ia hanya 
ada di kepala Mahar, di dalam imajinasi seorang seniman. 

Fosil di atas batu apung tipis itu dibuat begitu orisinal sehingga 
mengesankan seperti temuan paleontologi 2 yang autentik. Ia meng- 
gunakan semacam lapisan karbon untuk memperkuat kesan purba 
pada setiap detail fosil itu. Lalu karyanya dibingkai dengan potong- 
an-potongan balak lapuk yang sudut-sudutnya diikat tali pohon jawi 
agar kesan purbanya benar-benar terasa. 

"Inilah seni, Bung!" khotbahnya di hadapan kami yang terkesi- 
ma. Gayanya seperti pesulap sehabis membuka genggaman tangan 
untuk memperlihatkan burung merpati. 



2 Paleontologi: ilmu tentang fosil (binatang dan tumbuhan). 



136 



}am Tangan PfastiH Murafian 

Dan ia mendapat angka sembilan, tak ada lawannya. Angka itu 
adalah nilai kesenian tertinggi yang pernah dianugerahkan Bu Mus 
sepanjang karier mengajarnya. Bahkan Lintang sekalipun tak ber- 
kutik. 

Imajinasi Mahar meloncat-loncat liar amat mengesankan. Se- 
sungguhnya, seperti Lintang, ia juga sangat cerdas, dan aku belum 
pernah menjumpai seseorang dengan kecerdasan dalam genre seper- 
ti ini. Ia tak pernah kehabisan ide. Kreativitasnya tak terduga, unik, 
tak biasa, memberontak, segar, dan menerobos. Misalnya, ia melatih 
kera peliharaannya sedemikian rupa sehingga mampu berperilaku 
layaknya seorang instruktur. Maka dalam sebuah penampilan, kera- 
nya itu memerintahkannya untuk melakukan sesuatu yang dalam 
pertunjukan biasa hal itu seharusnya dilakukan sang kera. Sang kera 
dengan gaya seorang instruktur menyuruh Mahar bernyanyi, mena- 
ri-nari, dan berakrobat. Mahar telah menjungkirbalikkan paradigma 
seni sirkus, yang menurutku merupakan sebuah terobosan yang sa- 
ngat genius. 

Pada kesempatan lain Mahar bergabung dengan grup rebana 
Masjid Al-Hikmah dan mengolaborasikan permainan sitar di da- 
lamnya. Jika grup ini mendapat tawaran mengisi acara di sebuah ha- 
jatan perkawinan, para undangan lebih senang menonton mereka 
daripada menyalami kedua mempelai. 

Mahar pula yang membentuk sekaligus menyutradarai grup tea- 
ter kecil SD Muhammadiyah. Penampilan favorit kami adalah cerita 
perang Uhud dalam episode Siti Hindun. Dikisahkan bahwa wanita 
pemarah ini mengupah seorang budak untuk membunuh Hamzah 
sebagai balas dendam atas kematian suaminya. Setelah Hamzah mati 
wanita itu membelah dadanya dan memakan hati panglima besar 
itu. A Kiong memerankan Hamzah, dan Sahara sangat menikmati 



137 



Andrea Hirata 

perannya sebagai Siti Hindun. Juga karena inisiatif Mahar, akhirnya 
kami membentuk sebuah grup band. Alat-alat musik kami adalah 
electone yang dimainkan Sahara, standing bass yang dibetot tanpa 
ampun oleh Samson, sebuah drum, tiga buah tabla, serta dua buah 
rebana yang dipinjam dari badan amil Masjid Al-Hikmah. 

Pemain rebana adalah aku dan A Kiong. Mahar menambahkan 
kendang dan seruling yang dimainkan secara sekaligus oleh Trapani 
melalui bantuan sebuah kawat agar seruling tersebut dapat dijang- 
kau mulutnya tanpa meninggalkan kendang itu. Maka pada aranse- 
men tertentu Trapani leluasa menggunakan tangan kanannya untuk 
menabuh kendang sementara jemari tangan kirinya menutup-nutup 
enam lubang seruling. Sebuah pemandangan spektakuler seperti 
sirkus musik. Setiap wanita muda dipastikan bertekuk lutut, terbius 
seperti orang mabuk sehabis kebanyakan makan jengkol jika melihat 
Trapani yang tampan berimprovisasi. Trapani adalah salah satu daya 
tarik terbesar band kami. Hanya ada sedikit masalah, yaitu ia mogok 
tampil jika ibunya tidak ikut menonton. 

Insiden sempat terjadi pada awal pembentukan band ini karena 
Harun bersikeras menjadi drumer padahal ia sama sekali buta nada 
dan tak paham konsep tempo. 

"Dengarkan musiknya, Bang, ikuti iramanya," kata Mahar sabar. 

"Drum itu takbisa kauperlakukan semena-mena." 

Setelah dimarahi seperti itu biasanya Harun tersenyum kecil 
dan memperhalus tabuhannya. Tapi itu tak berlangsung lama. Bebe- 
rapa saat kemudian, meskipun kami sedang membawakan irama 
bertempo pelan nan syahdu, misalnya lagu Semenanjung Tak Sein- 
dah Wajah yang syairnya bercerita tentang seorang pria Melayu 
duafa meratap-ratap karena ditipu kekasihnya, Harun kembali 



138 



}am Tangan PfastiH Murafian 

menghantam drum itu sekuat tenaganya seperti memainkan lagu 
rock Deep Purple yang berjudul Burn. Dan ia sendiri tak pernah tahu 
kapan harus berhenti. Ia hanya tertawa riang dan menghantam 
drum itu sejadi-jadinya. 

Mahar tetap sabar menghadapi Harun dan berusaha menun- 
tunnya pelan-pelan, namun akhirnya kesabaran Mahar habis ketika 
kami membawakan lagu Light My Fire milik The Doors. Di sepan- 
jang lagu yang inspiratif itu Harun menghajar hithat, tenor drum, 
simbal 3 , serta menginjak-injak pedal bass drum sejadi-jadinya. De- 
ngan stik drum ia menghajar apa saja dalam jangkauannya, persis 
drumer Tarantula melakukan end fill untuk menutup lagu rock 
dangdut Wakuncar. 

"Dengar kata adikmu ini, Abangda Harun, kalau Abang berma- 
in drum seperti itu bisa-bisa Jim Morrison melompat dari Hang 
kuburnya!" 

Diperlukan waktu berhari-hari dan permen asam jawa hampir 
setengah kilo untuk membujuk Harun agar mau melepaskan jabatan 
sebagai drumer dan menerima promosi jabatan baru sebagai tukang 
pikul drum itu ke mana pun kami tampil. 

Mahar adalah penata musik setiap lagu yang kami bawakan dan 
racun pada setiap aransemennya menyengat ketika ia memainkan 
melodi dengan sitarnya. Ia berimprovisasi, berdiri di tengah pertun- 
jukan, dan dengan wajah demikian syahdu ia mengekspresikan seti- 
ap denting senar sitar yang bercerita tentang daun-daun pohon bin- 
tang yang melayang jatuh di permukaan Sungai Lenggang yang te- 
nang lalu hanyut sampai jauh ke muara, tentang angin selatan yang 



Simbal: alat musik berupa dua piringan kuningan yang diadu. 



139 



Andrea Hirata 

meniup punggung Gunung Selumar, berbelok dalam kesenyapan 
Hutan Jangkang, lalu menyelinap diam-diam ke perkampungan. Ah, 
indahnya, pria muda ini memiliki konsep yang jelas bagaimana 
seharusnya sebuah sitar berbunyi. 

Mahar adalah arranger berbakat dengan musikalitas yang nakal. 
la piawai memilih lagu dan mengadaptasikan karakter lagu tersebut 
ke dalam instrumen-instrumen kami yang sederhana. Misalnya pada 
lagu Owner of a Lonely Heart karya group rock Yess. Mahar meng- 
awali komposisinya dengan intro permainan solo tabla yang meng- 
hentak bertalu-talu dalam tempo tinggi. la mengajari Syahdan me- 
nyelipkan-nyelipkan warna tabuhan Afrika dan padang pasir pada 
fondasi tabuhan gaya suku Sawang. Sangat eksotis. 

Gebrakan solo Syahdan seumpama garam bagi mereka yang da- 
rah tinggi: berbahaya, beracun, dan memicu adrenalin. Syahdan 
mengudara sendirian dengan letupan-letupan yang menggairahkan 
sampai beberapa bar. Lalu Syahdan menurunkan sedikit tempo ba- 
nana fab/a-nya dan pada momen itu, kami— para pemain rebana 
dan dua pemain tabla lainnya-pelan-pelan masuk secara elegan 
mendampingi suara tabla Syahdan yang surut, namun tak lama ke- 
mudian kembali bereskalasi menjadi tempo yang semakin cepat, 
semakin garang, semakin ganas memuncak. Kami menghantam ta- 
buh-tabuhan ini sekuat tenaga dengan tempo secepat-cepatnya be- 
serta semangat Spartan, para penonton menahan napas karena ber- 
ada dalam tekanan puncak ekstase, lalu tepat pada puncak kehe- 
bohan, suara alat-alat perkusi ini secara mendadak kami hentikan, 
tiga detik yang diam, lengang, sunyi, dan senyap. Ketika penonton 
mulai melepaskan kembali napas panjangnya dengan penuh kenya- 
manan perlahan-lahan hadirlah dentingan sitar Mahar menyambut 
perasaan damai itu. Mahar melantunkan dawai sitar sendirian dalam 



140 



}am Tangan PfastiH Murafian 

nada-nada minor nan syahdu bergelombang seperti buluh perindu. 
Pilihan nada ini demikian indah hingga terdengar laksana aliran 
sungai-sungai di bawah taman surga. Dada terasa lapang seperti 
memandang laut lepas landai tak bertepi di sebuah sore yang jingga. 

Pada bagian ini biasanya penonton menghambur ke bibir 
panggung. Lalu Mahar meningkahi sitar dengan intonasi naik turun 
dalam jangkauan hampir empat oktaf. Dengan gaya India klasik, 
Mahar berimprovisasi. la memainkan sitar dengan sepenuh jiwa se- 
olah esok ia telah punya janji pasti dengan malaikat maut. Matanya 
terpejam mengikuti alur skala minor yang menyentuh langsung ba- 
gian terindah dari alam bawah sadar manusia yang mampu menik- 
mati sari pati manisnya musik. Jemarinya yang kurus panjang meng- 
aduk-aduk senar sitar dengan teknik yang memukau. Ia menyerah- 
kan segenap jiwa raganya, terbang dalam daya bius melodi musik. 

Suara sitar itu menyayat-nyayat, berderai-derai seperti hati yang 
sepi, meraung-raung seperti jiwa yang tersesat karena khianat cinta, 
merintih seperti arwah yang tak diterima bumi. Rendah, tinggi, pe- 
lan, kencang, berbisik laksana awan, marah laksana topan, meme- 
kakkan laksana ledakan gunung berapi, lalu diam tenang laksana da- 
nau di tengah rimba raya. Semakin lama semakin keras dan semakin 
cepat, kembali memuncak, semakin lama semakin tinggi dan pada 
titik nadirnya Trapani serta-merta menyambut dengan sorak me- 
lengking melalui tiupan seruling, panjang, satu not, menjerit-jerit 
nyaring pada tingkat nada tertinggi yang dapat dicapai seruling 
bambu tradisonal itu. 

Mereka berdua bertanding, berlomba-lomba meninggikan nada 
dan mengeraskan suara instrumen masing-masing. Mereka seperti 
seteru lama yang menanggungkan dendam membara, seruling clan 
sitar saling menggertak, menghardik, dan membentak galak... na- 



141 



Andrea Hirata 

mun dengan harmoni yang terpelihara rapi. Tiba-tiba, amat me- 
ngejutkan, sama sekali tak terduga, secara mendadak mereka break! 
Tiga detik diam. Setelah itu serta-merta datang menyerbu, menyalak 
galak, menghambur masuk bertalu-talu seluruh suara alat musik: 
drum, standing bass, seluruh tabla, sitar, seruling, seluruh rebana, 
dan electone sekeras-kerasnya. Tepat pada puncak bahana seluruh 
alat musik secara mendadak kami break lagi, satu detik diam, napas 
penonton tertahan, lalu pada detik kedua Mahar meloncat seperti 
tupai, merebut mikrofon dan langsung menjerit-jerit menyanyikan 
lagu Owner of a Lonely Heart dalam nada tinggi yang terkendali. 
Para penonton histeris dalam sensasi, kemudian tubuh mereka 
terpatah-patah mengikuti hentakan-hentakan staccato yang dinamis 
sepanjang lagu itu. 

Inilah musik, kawan. Musik yang dibawakan dengan sepenuh 
kalbu. Mahar menekankan konsep akustik dalam komposisi ini, 
misalnya dengan mengambil gaya piano grand pada electone dengan 
tambahan sedikit efek sustain. Keseluruhan komposisi dan konsep 
ini ternyata menghasilkan interpretasi yang unik terhadap lagu 
Owner of a Lonely Heart. Kami yakin sedikit banyak kami telah ber- 
hasil menangkap semangat lagu itu, termasuk esensi pesannya, yaitu 
hati yang sepi lebih baik dari hati yang patah, seperti dimaksudkan 
orang-orang hebat dalam grup Yess. 

Maka tak ayal lagu rock modern tersebut adalah master piece 
penampilan kami selain sebuah lagu Melayu berjudul Patah Kemudi 
karya Ibu Hajah Dahlia Kasim. 

Mahar juga adalah seorang seniman idealis. Pernah sebuah par- 
pol ingin memanfaatkan grup kami yang mulai kondang untuk me- 



142 



}am Tangan PfastiH Murafian 

narik massa melalui iming-iming uang dan berbagai mainan anak- 
anak, Mahar menolak mentah-mentah. 

"Orang-orang itu sudah terkenal dengan tabiatnya mengham- 
burkan janji yang tak'kan ditepatinya," demikian Mahar berorasi di 
tengah-tengah kami yang duduk melingkar di bawah filicium. Jari- 
nya menunjuk-nunjuk langit seperti seorang koordinator demon- 
strasi. 

"Kita tidak akan pernah menjadi bagian dari segerombolan pe- 
nipu! Sekolah kita adalah sekolah Islam bermartabat, kita tidak akan 
menjual kehormatan kita demi sebuah jam tangan plastik murahan!" 

Mahar demikian berapi-api dan kami bersorak-sorai mendu- 
kung pendiriannya. Dan mungkin karena kecewa kepada para pe- 
mimpin bangsa maka Mahar memberi sebuah nama yang sangat 
memberi inspirasi untukband kami, yaitu: Republik Dangdut. 

Mahar adalah Jules Verne kami. la penuh ide gila yang tak ter- 
pikirkan orang lain, walaupun tak jarang idenya itu absurd dan lucu. 
Salah satu contohnya adalah ketika ketua RT punya masalah dengan 
televisinya. TV hitam putih satu-satunya hanya ada di rumah beliau 
dan tidak bisa dikeluarkan dari kamarnya yang sempit karena kabel 
antenanya sangat pendek dan ia kesulitan mendapatkan kabel untuk 
memperpanjangnya. Kabel itu ter-sambung pada antena di puncak 
pohon randu. Keadaan mendesak sebab malam itu ada pertandingan 
final badminton All England antara Svend Pri melawan lie Sumirat. 
Begitu banyak penonton akan hadir, tapi ruangan TV sangat sempit. 
Sejak sore Pak Ketua RT tak enak hati karena banyak handai taulan 
yang akan bertamu tapi tak 'kan semua mendapat kesempatan 
menonton pertandingan seru itu. 



143 



Andrea Hirata 

Ketika beliau berkeluh kesah pada kepala sekolah kami, maka 
Mahar yang sudah kondang akal dan taktiknya segera dipanggil dan 
ia muncul dengan ide ajaib ini: 

"Gambar TV itu bisa dipantul-pantulkan melalui kaca, Ayah- 
anda Guru," kata Mahar berbinar-binar dengan ekspresi lugunya. 

Pak Harfan melonjak girang seperti akan meneriakkan 
"eureka 4 !" Maka digotonglah dua buah lemari pakaian berkaca besar 
ke rumah ketua. Lemari pertama diletakkan di ruang tamu dengan 
posisi frontal terhadap layar TV dan ruangan itu paling tidak me- 
nampung 17 orang. Sedangkan lemari kedua ditempatkan di beran- 
da. Lemari kaca kedua diposisikan sedemikian rupa sehingga dapat 
menangkap gambar TV dari lemari kaca pertama. Ada sekitar 20 
orang menonton TV melalui lemari kaca di beranda. 

Tak ada satu pun penonton yang tak kebagian melihat aksi lie 
Sumirat. Penonton merasa puas dan benar-benar menonton dari la- 
yar kaca dalam arti sesungguhnya. Meskipun Svend Pri yang kidal di 
layar TV menjadi normal di kaca yang pertama dan kembali menjadi 
kidal pada layar lemari kaca kedua. Menurutku inilah ide paling re- 
volusioner, paling lucu, dan paling hebat yang pernah terjadi pada 
dunia penyiaran. Aku rasa yang dapat menandingi ide kreatif ini ha- 
nya penemuan remote control beberapa waktu kemudian. 

Kepada majelis penonton TV yang terhormat Pak Harfan ber- 
ulang kali menyampaikan bahwa semua itu adalah ide Mahar, dan 



4 Eureka: istilah yang digunakan untuk mengekspresikan keberhasilan dalam 
menemukan sesuatu atau memecahkan suatu masalah. Dari kata Yunani "heurcka" 
yang secara harfiah berarti "aku telah menemukan-(nya), konon diucapkan oleh 
Archimedes saat ia berhasil menemukan hukum berat jenis air. 



144 



}am Tangan PfastiH Murafian 

bahwa Mahar itu adalah muridnya. Murid yang dibanggakannya ha- 
bis-habisan. 

Sayangnya, seperti banyak dialami seniman hebat lainnya, me- 
reka jarang sekali mendapat perhatian dan penghargaan yang me- 
madai. Gaya hidup dan pemikiran mereka yang mengawang-awang 
sering kali disalahartikan. Misalnya Mahar, kami sering mengang- 
gapnya manusia aneh, pembual, dan tukang khayal yang tidak dapat 
membedakan antara realitas dan lamunan. 

Keadaan ini diperparah lagi dengan ketidakmampuan kami 
mengapresiasi karya-karya seninya. Sehingga beberapa karya hebat- 
nya malah mendapat cemoohan. Kenyataannya adalah kami tidak 
mampu menjangkau daya imajinasi dan pesan-pesan abstrak yang ia 
sampaikan melalui karya-karya tersebut. Kami selalu membesar-be- 
sarkan kekurangannya ketika sebuah pertunjukan gagal total, tapi ji- 
ka berhasil kami jarang ingin memujinya. Mungkin karena masih 
kecil, maka kami sering tidak adil padanya. 



^Q^^sS^ 



145 



Hasfair IPefanaidan Orana-Omna Sawana 



PAPILIO blumei 1 , kupu-kupu tropis yang menawan berwarna hitam 
bergaris biru-hijau itu mengunjungi pucuk filicium. Kehadiran me- 
reka semakin cantik karena kehadiran kupu-kupu kuning berbintik 
metalik yang disebut pure clouded yellow. Mereka dan lidah atap si- 
rap cokelat yang rapuh menyajikan komposisi warna kontras di atas 
sekolah Muhammadiyah. Dua jenis bidadari taman itu melayang-la- 
yang tanpa bobot bersukacita. Tak lama kemudian, seperti tumpah 
dari langit, ikut bergabung kupu-kupu lain, danube clouded yellow. 

Hanya para ahli yang dapat membedakan pure clouded yellow 
dengan danube clouded yellow, berturut-turut nama latin mereka 



1 Papilio blumei: kupu-kupu dari jenis swallowtail (dicirikan dengan "ekor" di ujung 
bawah sayapnya) yang berukuran vukup besar (sekitar 12 cm lebar dan cm 
panjang). Sayapnya yang berwarna hitam begitu kontras dengan strip biru-hijau 
sehingga memberinya tampilan yang sangat eksotis. Konon ditemukan di Taman 
Nasional Bantimurung di Maros, Sulawesi Selatan, dan diberi nama berdasarkan 
nama panggilannya. Belu, dan bulan penemuannya, Mei. 



Andrea Hirata 

adalah Colias crocea 2 dan Colias myrmidone 3 . Di mata awam kecan- 
tikan mereka sama: absolut, dan hanya dapat dibayangkan melalui 
keindahan namanya. Keduanya adalah si kuning berawan yang 
memesona laksana Danau Danube yang melintasi Eropa: sejuk, ele- 
gan, dan misterius. Berbeda dengan tabiat unggas yang cenderung 
agresif dan eksibisionis, makhluk-makhluk bisu berumur pendek ini 
bahkan tak tahu kalau dirinya cantik. Meskipun jumlahnya ratusan, 
tapi kepak sayapnya senyap dan mulut mungil indahnya diam dalam 
kerupawanan yang melebihi taman lotus. Melihat mereka rasanya 
aku ingin menulis puisi. 

Saat ratusan pasang danube clouded yellow berpatroli meling- 
kari lingkaran daun-daun /H/dum, maka mereka menjelma menjadi 
pasir kuning di Dermaga Olivir. Sayapsayap yang menyala itu adalah 
fatamorgana pantulan cahaya matahari, berkilauan di atas butiran- 
butiran ilmenit yang terangkat abrasi. Sebuah daya tarik Belitong 
yang lain, pesona pantai dan kekayaan material tambang yang 
menggoda. 

Kupu-kupu clouded yellow dan Papilio blumei saling berceng- 
krama dengan harmonis seperti sebuah reuni besar bidadari peng- 
huni berbagai surga dari agama yang berbeda-beda. Jika diperhati- 
kan dengan saksama, setiap gerakan mereka, sekecil apa pun, seolah 
digerakkan oleh semacam mesin, keserasian. Mereka adalah orkestra 
warna dengan insting sebagai konduktornya. Dan agaknya dulu me- 
mang telah diatur jauh-jauh hari sebelum mereka bermetamorfosis, 



2 Colias crocea (Pure clouded yellow): kupu-kupu dengan warna dasar kuning-jingga, 
dengan tepian luar sayap berwarna gelap bersetrip kuning di atas pembuluh 
darahnya. Habitat kupu-kupu ini adalah di stepa, lembah, dan lereng yang kering. 

3 Colias myrmidone (Danube clouded yellow): mirip dnegan C. Crocea, juga memiliki 
tepian berwarna gelap, namun tanpa pembuluh-pembuluh kuning. Habitatnya di 
daerah stepa dan hutan-stepa dengan pepohonan yang renggang, biasanya pinus. 



148 



Lasfcar Pefangi dan Orang-Orang Sawang 

telah tercatat di Lauhul Mahfuzh saat mereka masih meringkuk ber- 
bedak-bedak tebal dalam gulungan-gulungan daun pisang, bahwa 
sore ini mereka akan menari-nari di pucuk-pucuk/?Z-rium, bersenda 
gurau, untuk memberiku pelajaran tentang keagungan Tuhan. 

Kupu-kupu ini sering melakukan reuni setelah hujan lebat. 
Sayangnya sore ini, pemandangan seperti butiranbutiran cat berwar- 
na-warni yang dihamburkan dari langit itu serentak bubar dan har- 
moni ekosistem hancur berantakan karena serbuan sepuluh sosok 
Homo sapiens. Makhluk brutal ini memanjati dahan-dahan filicium, 
bersorak-sorai, dan bergelantungan mengklaim dahannya masing- 
masing. Kawanan itu dipimpin oleh setan kecil bernama Kucai. Ber- 
ada pada posisi puncak rantai makanan seolah melegitimasi kecen- 
derungan Homo sapiens untuk merusak tatanan alam. 

Kucai mengangkangi dahan tertinggi, sedangkan Sahara, satu- 
satunya betina dalam kawanan itu, bersilang kaki di atas dahan ter- 
rendah. Pengaturan semacam itu tentu bukan karena budaya patri- 
arki begitu kental dalam komunitas Melayu, tapi semata-mata kare- 
na pakaian Sahara tidak memungkinkan ia berada di atas kami. la 
adalah muslimah yang menjaga aurat rapat-rapat. 

Kepentingan kami tak kalah mendesak dibanding keperluan ka- 
um unggas, fungi, dan makhluk lainnya terhadap filicium karena 
dari dahan-dahannya kami dapat dengan leluasa memandang pela- 
ngi. 

Kami sangat menyukai pelangi. Bagi kami pelangi adalah lukis- 
an alam, sketsa Tuhan yang mengandung daya tarik mencengang- 
kan. Tak tahu siapa di antara kami yang pertama kali memulai hobi 
ini, tapi jika musim hujan tiba kami tak sabar menunggu kehadiran 



149 



Andrea Hirata 

lukisan langit menakjubkan itu. Karena kegemaran kolektif terhadap 
pelangi maka Bu Mus menamai kelompok kami Laskar Pelangi. 

Sore ini, setelah hujan lebat sepanjang hari, terbentang pelangi 
sempurna, setengah lingkaran penuh, terang benderang dengan 
enam lapis warna. Ujung kanannya berangkat dari Muara Genting 
seperti pantulan permadani cermin sedangkan ujung kirinya terta- 
nam di kerimbunan hutan pinus di lereng Gunung Selumar. Pelangi 
yang menghunjam di daratan ini melengkung laksana jutaan bida- 
dari berkebaya warna-warni terjun menukik ke sebuah danau ter- 
pencil, bersembunyi malu karena kecantikannya. 

Kini filicium menjadi gaduh karena kami bertengkar berten- 
tangan pendapat tentang panorama ajaib yang terbentang meling- 
kupi Belitong Timur. Berbagai versi cerita mengenai pelangi men- 
jadi debat kusir. Dongeng yang paling seru tentu saja dikisahkan 
oleh Mahar. Ketika kami mendesaknya ia sempat ragu-ragu. Pan- 
dangan matanya mengisyaratkan bahwa: kalian tidak akan bisa men- 
jaga informasi yang sangat penting ini! 

Dia diam demi membuat pertimbangan serius, namun akhirnya 
ia menyerah, bukan kepada kami yang memohon tapi kepada ha- 
sratnya sendiri yang tak terkekang untuk membual. 

"Tahukah kalian ...," katanya sambil memandang jauh. 

"Pelangi sebenarnya adalah sebuah lorong waktu!" 

Kami terdiam, suasana jadi bisu, terlena khayalan Mahar. - 

"Jika kita berhasil melintasi pelangi maka kita akan bertemu de- 
ngan orang-orang Belitong tempo dulu dan nenek moyang orang- 
orang Sawang." 



150 



Lasfcar Pefangi dan Orang-Orang Sawang 

Wajahnya tampak menyesal seperti baru saja membongkar se- 
buah rahasia keluarga yang terdalam dan telah disimpan tujuh tu- 
runan. Lalu dengan nada terpaksa ia melanjutkan, "Tapi jangan sam- 
pai kalian bertemu dengan orang Belitong primitif dan leluhur Sa- 
wang itu, karena mereka itu adalah kaum kanibal ...!!" 

Sekarang wajahnya pasrah. A Kiong menutup mulutnya dengan 
tangan dan hampir saja tertungging dari dahan karena melepaskan 
pegangan. Sejak kelas satu SD, A Kiong adalah pengikut setia Mahar. 
Ia percaya- dengan sepenuh jiwa-apa pun yang dikatakan Mahar. Ia 
memposisikan Mahar sebagai seorang suhu dan penasihat spriritual. 
Mereka berdua telah menasbihkan diri sendiri dalam sebuah sekte 
ketololan kolektif. 

Demi mendengar kisah Mahar, Syahdan yang bertengger persis 
di belakang pendongeng itu dengan gerakan sangat takzim, tanpa di- 
ketahui Mahar, menyilangkan jari di atas keningnya dan mengesek- 
gesekkannya beberapa kali. Mahar tidak mengerti apa yang sedang 
terjadi di belakangnya. Sakit perut kami menahan tawa melihat ke- 
lakuan Syahdan. Baginya Mahar sudah tak waras. 

Lintang menepuk-nepuk punggung Mahar, menghargai cerita- 
nya yang menakjubkan, tapi ia tersenyum simpul dan pura-pura 
batuk untuk menyamarkan tawanya. Kami terus memandangi kein- 
dahan pelangi tapi kali ini kami tak lagi berdebat. Kami diam sampai 
matahari membenamkan diri. Azan magrib menggema dipantulkan 
tiang-tiang tinggi rumah panggung orang Melayu, sahut-menyahut 
dari masjid ke masjid. Sang lorong waktu perlahan hilang ditelan 
malam. Kami diajari tak bicara jika azan berkuman-dang. 

"Diam dan simaklah panggilan menuju kemenangan itu...," pe- 
san orangtua kami. 



151 



Andrea Hirata 



KAMI orang-orang Melayu adalah pribadi-pribadi sederhana 
yang memperoleh kebijakan hidup dari para guru mengaji dan 
orang-orang tua di surau-surau sehabis salat magrib. Kebijakan itu 
disarikan dari hikayat para nabi, kisah Hang Tuah, dan rima-rima 
gurindam. Ras kami adalah ras yang tua. Malay atau Melayu telah 
dikenal Albert Buffon sejak lampau ketika ia mengidentifikasi ras- 
ras besar Kaukasia, Negroid, dan Mongoloid. Meskipun banyak an- 
tropolog berpendapat bahwa ras Melayu Belitong tidak sama dengan 
ras Malay versi Buffon-dengan kata lain kami sebenarnya bukan 
orang Melayu— tapi kami tak membesar-besarkan pendapat itu. Per- 
tama karena orang-orang Belitong tak paham akan hal itu dan kedua 
karena kami tak memiliki semangat primordialisme. Bagi kami, 
orang-orang sepanjang pesisir selat Malaka sampai ke Malaysia ada- 
lah Melayu atas dasar ketergila-gilaan mereka pada irama semenan- 
jung, dentaman rebana, dan pantun yang sambut-menyambut, bu- 
kan atas dasar bahasa, warna kulit, kepercayaan, atau struktur ba- 
ngun tulang-belulang. Kami adalah ras egalitarian. 

Aku melamun merenungkan cerita Mahar. Aku tak tertarik de- 
ngan lorong waktu, tapi terpancang pada ceritanya tentang orang- 
orang Belitong tempo dulu. Minggu lalu ketika sedang memperbaiki 
sound system di masjid, demi melihat kabel centang perenang yang 
dianggapnya benda ajaib zaman baru, muazin kami yang telah 
berusia 70 tahun menceritakan sesuatu yang membuatku terkesiap. 

Cerita itu adalah tentang kakek beliau yang sempat bercerita 
kepadanya bahwa orangtua kakeknya itu, berarti mbah buyut atau 
datuk muazin kami, hidup berkelompok mengembara di sepanjang 
pesisir Belitong. Mereka berpakaian kulit kayu dan mencari makan 



152 



Lasfcar Pefangi dan Orang-Orang Sawang 

dengan cara menombak binatang atau menjeratnya dengan akar- 
akar pohon. Mereka tidur di dahan-dahan pohon santigi 4 untuk 
menghindari terkaman binatang buas. Kala bulan purnama mereka 
menyalakan api dan memuja bulan serta bintang gemintang. Aku 
merinding memikirkan betapa masih dekatnya komunitas kami 
dengan kebudayaan primitif. 

"Kita telah lama bersekutu dengan orang-orang Sawang. Mereka 
adalah pelaut ulung yang hidup di perahu. Suku itu berkelana dari 
pulau ke pulau. Di Teluk Balok leluhur kita menukar pelanduk, 
rotan, buah pinang, dan damar dengan garam buatan wanita-wanita 
Sawang ...," cerita muazin itu. 

Seperti ikan yang hidup dalam akuarium, senantiasa lupa akan 
air, begitulah kami. Sekian lama hidup berdampingan dengan orang 
Sawang kami tak menyadari bahwa mereka sesungguhnya sebuah 
fenomena antropologi. Dibanding orang Melayu penampilan 
mereka amat berbeda. Mereka seperti orang-orang Aborigin. Kulit 
gelap, rahang tegas, mata dalam, pandangan tajam, bidang kening 
yang sempit, struktur tengkorak seperti suku Teuton, dan berambut 
kasat lurus seperti sikat. 

PN Timah mempekerjakan suku maskulin ini sebagai buruh 
yuka, yaitu penjahit karung timah, pekerjaan strata terendah di 
gudang beras. Dan mereka bahagia dengan sistem pembayaran 
setiap hari Senin. Sulit dikatakan uang itu akan bertahan sampai 
Rabu. Tak ada kepelitan mengalir dalam pembuluh darah arang 



4 Pohon santigi: pohon langka yang biasanya tumubuh di daerah pantai. Pohon ini 
bisa dibonsai seperti beringin dan harganya mencapai jutaan rupiah. Konon termasuk 
pohon keramat dan kayunya banyak dicari karena diyakini dapat menolak santet atau 
bisa menjadi gagang keris atau tombak yang baik. 



153 



Andrea Hirata 



Sawang. Mereka membelanjakan uang seperti tak ada lagi hari esok 
dan berutang seperti akan hidup selamanya. 

Karena kekacauan persoalan manajemen keuangan ini, orang 
Sawang tak jarang menjadi korban stereotip di kalangan mayoritas 
Melayu. Setiap perilaku minus tak ayal langsung diasosiasikan 
dengan mereka. Diskredit ini adalah refleksi sikap diskriminatif 
sebagian orang Melayu yang takut direbut pekerjaannya karena 
malas bekerja kasar. Sejarah menunjukkan bahwa orang-orang 
Sawang memiliki integritas, mereka hidup eksklusif dalam 
komunitasnya sendiri, tak usil dengan urusan orang lain, memiliki 
etos kerja tinggi, jujur, dan tak pernah berurusan dengan hukum. 
Lebih dari itu, mereka tak pernah lari dari utang-utangnya. 

Orang Sawang senang sekali memarginalkan diri sendiri. Itulah 
sifat alamiah mereka. Bagi mereka hidup ini hanya terdiri atas 
mandor yang mau membayar mereka setiap minggu dan pekerjaan 
kasar yang tak sanggup dikerjakan suku lain. Mereka tak memahami 
konsep aristokrasi karena kultur mereka tak mengenal power 
distance. Orang yang tak memaklumi hal ini akan menganggap me- 
reka tak tahu tata krama. Satu-satunya manusia terhormat di antara 
mereka adalah sang kepala suku, seorang shaman 5 sekaligus dukun, 
dan jabatan itu sama sekali bukan hereditas. 

PN memukimkan orang Sawang di Sebuah rumah panjang yang 
bersekat-sekat. Di situ hidup 30 kepala keluarga.Tak ada catatan pas- 
ti dari mana mereka berasal. Mungkinkah mereka belum terpetakan 
oleh para antropolog? Tahukah para pembuat kebijakan bahwa ting- 



5 Shaman: pemimipin spiritual, seseorang yang bertindak sebagai perantara antara 
wilayah fisik dan wilayah spiritual, dan yang dipercaya memiliki kekuatan tertentu 
seperti kemampuan meramal dan menyembuhkan. 



154 



Laskar Pefangi dan Orang-Orang Sawang 

kat kelahiran mereka amat rendah sedangkan mortalitasnya begitu 
tinggi sehingga di rumah panjang hanya tertinggal beberapa keluar- 
ga yang berdarah murni Sawang? Akankah bahasa mereka yang in- 
dah hilang ditelan zaman? 



^Qr^^rS^ 



155 



Tzuforia JAusim 7-fujan 



TAMBANG hitam terbentang cekung di atas permukaan air berwar- 
na cokelat yang bergelora. Ujung tambang yang diikat dengan sepo- 
tong kayu bercabang tersangkut ke sebuah dahan karet tua yang ra- 
puh di tengah aliran sungai. Tadi Samson yang telah melemparkan- 
nya dengan gugup. Hampir tujuh belas meter jarak antara tepian su- 
ngai dan dahan karet tempat kayu satu meter itu tersangkut. Berarti 
lebar sungai ini paling tidak tiga puluh meter dan dalamnya hanya 
Tuhan yang tahu. Alirannya meluncur deras tergesa-gesa, tipikal su- 
ngai di Belitong yang berawal dan berakhir di laut. Bagian membu- 
jur permukaan sungai tampak berkilat-kilat disinari cahaya mataha- 
ri. 

Sekarang ujung tambang satunya dipegangi A Kiong yang pucat 
pasi pada posisi melintang. la memanjat pohon kepang 1 rindang 
yang berseberangan dengan pohon karet tadi dan menambatkan tali 



1 Pohon kepang (Aquilaria malaccensis): pohon yang kulitnya bisa dijadikan tali. 



Andrea Hirata 

pada salah satu cabangnya. Badanku gemetar ketika aku melintas 
menuju pohon karet dengan cara menggeser-geserkan genggaman 
tanganku yang mencekik tambang erat-erat. Aku bergelantungan 
seperti tentara latihan perang. Kadang-kadang kakiku terlepas dari 
tambang dan menyentuh permukaan air yang meliuk-liuk, membuat 
darahku dingin berdesir. Kulihat samar bayanganku di atas air yang 
keruh. Kalau aku terjatuh maka aku akan ditemukan tersangkut di 
akar-akar pohon bakau dekat jembatan Lenggang, lima puluh kilo- 
meter dari sini. 



SEMUA susah payah melawan larangan orangtua itu hanyalah 
untuk memetik buah-buah karet dan demi sedikit taruhan harga diri 
dalam arena tarak. Atau barangkali perbuatan bodoh itu justru dige- 
rakkan oleh keinginan untuk membongkar rahasia buah karet yang 
misterius. Kekuatan kulit buah karet tak bisa diramalkan dari bentuk 
dan warnanya. Pada rahasia itulah tersimpan daya tarik permainan 
mengadu kekuatan kulitnya. Permainan kuno nan legendaris itu di- 
sebut tarak. Cuma ada satu hal yang agak berlaku umum, yaitu po- 
hon-pohon karet yang buahnya sekeras batu selalu berada di tempat- 
tempat yang jauh di dalam hutan dan memerlukan nyali lebih, atau 
sikap nekat yang tolol, untuk mengambilnya. 

Di dalam tarak, dua buah karet ditumpuk kemudian dipukul 
dengan telapak tangan. Buah yang tak pecah adalah pemenangnya. 
Inilah permainan pembukaan musim hujan di kampung kami, se- 
macam pemanasan untuk menghadapi permainan-permainan lain- 
nya yang jauh lebih seru pada saat air bah tumpah dari langit. 



158 



Euforia Musim Hujan 

SEIRING dengan semakin gencarnya hujan mengguyur kam- 
pung-kampung orang Melayu Belitong, aura tarak perlahan-lahan 
redup. Jika tarak sudah tak dimainkan maka itulah akhir bulan Sep- 
tember, begitulah tanda alam yang dibaca secara primitif. Wilayah- 
wilayah tropis di muka bumi akan mengalami mendung seharian 
dan hujan berkepajangan. Sementara di Barat sana, orang-orang 
menjalani hari-hari yang kelabu menjelang musim salju. Pada se- 
panjang bulan berakhiran "-ber", seisi dunia tampak lebih murung, 
maka tidak mengherankan di beberapa bagian barat angka statistik 
bunuh diri meningkat. 

Aku melongok keluar jendela, RRI mengumandangkan sebuah 
lagu lama sebelum siaran berita, Rayuan Pulau Kelapa. Alunan nada 
Hawaian yang tak lekang dimakan waktu mendayu-dayu membuat 
mata mengantuk. Sebuah siang yang syahdu, sesyahdu Howling Wolf 
saat menyanyikan lagu blues How Long Baby, How Long. 

Tapi suasana agak berbeda bagi kami. Acara sedih di bulan-bu- 
lan penghujung tahun ini adalah urusan orang dewasa. Bagi kami 
hujan yang pertama adalah berkah dari langit yang disambut dengan 
sukacita tak terkira-kira. Dan tak pernah kulihat di wilayah lain, hu- 
jan turun sedemikian lebat seperti di Belitong. 

Tujuh puluh persen daratan di Belitong adalah rainforest alias 
hutan hujan. Pulau kecil itu berada pada titik pertemuan Laut Cina 
Selatan di sisi barat dan Laut Jawa di sisi timur. Adapun di sisi utara 
dan selatan ia diapit oleh Selat Karimata dan Selat Gaspar. Letaknya 
yang terlindung daratan luas Pulau Jawa dan Kalimantan melin- 
dungi pantainya dari gelombang ekstrem musim barat, namun 
uapan jutaan kubik air selama musim kemarau dari samudra berke- 
liling itu akan tumpah seharian selama berbulan-bulan pada musim 



159 



Andrea Hirata 



hujan. Maka hujan di Belitong tak pernah sebentar dan tak pernah 
kecil. 

Hujan di Belitong selalu lama dan sejadi-jadinya seperti air bah 
tumpah ruah dari langit, dan semakin lebat hujan itu, semakin gem- 
par guruh menggelegar, semakin kencang angin mengaduk-aduk 
kampung, semakin dahsyat petir sambar-menyambar, semakin gi- 
ranglah hati kami. Kami biarkan hujan yang deras mengguyur tubuh 
kami yang kumal. Ancaman dibabat rotan oleh orangtua kami ang- 
gap sepi. Ancaman tersebut tak sebanding dengan daya tarik luar 
biasa air hujan, binatang-binatang aneh yang muncul dari dasar pa- 
rit, mobil-mobil proyek timah yang terbenam, dan bau air hujan 
yang menyejukkan rongga dada. 

Kami akan berhenti sendiri setelah bibir membiru dan jemari 
tak terasa karena kedinginan. Seluruh dunia tak bisa mencegah ka- 
mi. Kami adalah para duta besar yang berkuasa penuh saat musim 
hujan. Para orangtua hanya menggerutu, frustrasi merasa dirinya 
tak dianggap. Kami berlarian, bermain sepak bola, membuat candi 
dari pasir, berpura- pura menjadi biawak, berenang di lumpur, me- 
manggil-manggil pesawat terbang yang melintas, dan berteriak 
keras-keras tak keruan kepada hujan, langit, dan halilintar seperti 
orang lupa diri. 

Tapi lebih dari itu, yang paling seru adalah permainan tanpa 
nama yang melibatkan pelepah-pelepah pohon pinang 2 hantu. Satu 
atau dua orang duduk di atas pelepah selebar sajadah, kemudian dua 
atau tiga orang lainnya menarik pelepah itu dengan kencang. Maka 



2 Pinang (Areca catechu): tumbuhan berumpun, berbatang lurus seperti lilin, tangkai 
daun yang melekat pada batangnya berbentuk seperti lembaran kulit, buay yang tua 
berwarna kuning kemerah-merahan untuk kawan makan sirih. 



160 



Euforia Musim Hujan 

terjadilah pemandangan seperti orang main ski es, tapi secara 
manual karena ditarik tenaga manusia. 

Penumpang yang duduk di depan memegangi pelepah seperti 
penunggang unta sedangkan penumpang di belakang memeluknya 
erat-erat agar tidak tergelincir. Mereka yang bertubuh paling besar, 
yaitu Samson, Trapani, dan A Kiong menduduki jabatan penarik 
pelepah dan mereka amat bangga dengan jabatan itu. 

Puncak permainan ini adalah momen ketika para penarik pele- 
pah yang bertenaga sekuat kuda beban berbelok mendadak serta 
dengan sengaja menambah kekuatannya di belokan itu. Maka pe- 
numpangnya akan melaju sangat kencang, terseret sejajar ke arah 
samping, meluncur mulus tapi deras sekali di atas permukaan lum- 
pur yang licin, lalu menikung tajam dalam kecepatan tinggi. 

Aku rasakan tikungan itu membanting tubuhku tanpa dapat 
kukendalikan dan sempat kulihat cipratan air bercampur lumpur 
yang besar menghempas dari sisi kanan pelepah mengotori para 
penonton: Sahara, Harun, Kucai, Mahar, dan Lintang. Mereka gem- 
bira luar biasa menerima cipratan air kotor itu, semakin kotor airnya 
semakin senang mereka. Mereka bertepuk tangan girang menye- 
mangati kami. Sementara Syahdan yang duduk di belakangku 
memegang tubuhku kuat-kuat sambil bersorak-sorai. 

Syahdan bertindak selaku co-pilot, dan aku pilotnya. Kami 
meluncur menyamping dengan tubuh rebah persis seperti gerakan 
laki-laki gondrong pengendara sepeda motor tong setan di sirkus 
atau lebih keren lagi seperti gerakan speed racer yang merendahkan 
tubuhnya untuk mengambil belokan maut. Sebuah gaya rebah yang 
penuh aksi. Pada saat menikung itu aku merasakan sensasi tertinggi 
dari permainan tradisional yang asyik ini. 



161 



Andrea Hirata 

Namun, cerita tidak selesai sampai di situ. Karena sudut belok- 
an tersebut tidak masuk akal maka tikungan tersebut tak 'kan per- 
nah bisa diselesaikan. Para penarik bertabrakan sesama dirinya sen- 
diri, terjatuh-jatuh jumpalitan, terbanting-banting tak tentu arah, se- 
mentara aku dan Syahdan terpental dari pelepah, terhempas, ter- 
guling-guling, lalu kami berdua terkapar di dalam parit. 

Kepalaku terasa berat, kuraba-raba dan benjolan kecil-kecil ber- 
munculan. Air masuk melalui hidungku, suaraku jadi aneh, seperti 
robot, dan ada rasa pening di bagian kepala sebelah kanan yang 
menjalar ke mata. Rasa itu hanya sebentar, biasa kita alami kalau air 
memasuki hidung. Aku tersedak-sedak kecil seperti kambing batuk. 
Lalu aku mencari-cari Syahdan. la terbanting agak jauh dariku. Tu- 
buhnya telentang, tergeletak tak berdaya, air menggenangi setengah 
tubuhnya di dalam parit. la tak bergerak. 

Kami menghambur ke arah Syahdan. Aduh! Gawat, apakah ia 
pingsan? Atau gegar otak? Atau malah mati? Karena ia tak bernapas 
sama sekali dan tadi ia terpelanting seperti tong jatuh dari truk. Di 
sudut bibirnya dan dari lubang hidungnya kulihat darah mengalir, 
pelan dan pekat. Kami merubung tubuhnya yang diam seperti ma- 
yat. Sahara mulai terisak-isak, wajahnya pias. Aku memandangi wa- 
jah temanku yang lain, semuanya pucat pasi. A Kiong gemetar hebat, 
Trapani memanggil-manggil ibunya, aku sangat cemas. 

Aku menampar-nampar pipinya. 

"Dan! Dan ...!" Aku pegang urat di lehernya, seperti pernah ku- 
lihat dalam film Little House on The Prairie. Namun sayang sebenar- 
nya aku sendiri tak mengerti apa yang kupegang, karena itu aku tak 
merasakan apa-apa. Samson, Kucai, dan Trapani turut menggoyang- 
goyang tubuh Syahdan, berusaha menyadarkannya. Tapi Syahdan 



162 



Euforia Musim Hujan 

diam kaku tak bereaksi. Bibirnya pucat dan tubuhnya dingin seperti 
es. Sahara menangis keras, diikuti oleh A Kiong. 

"Syahdan... Syahdan.., bangun Dan...," ratap Sahara pedih dan 
ketakutan. 

Kami semakin panik, tak tahu harus berbuat apa. Aku terus- 
menerus memanggilmanggil nama Syahdan, tapi ia diam saja, kaku, 
tak bernyawa, Syahdan telah mati. Kasihan sekali Syahdan, anak 
nelayan melarat yang mungil ini harus mengalami nasib tragis 
seperti ini. 

Kami menggigil ketakutan dan Samson memberi isyarat agar 
mengangkat Syahdan. Ketika kami angkat tubuhnya telah keras se- 
perti sepotong balok es. Aku memegang bagian kepalanya. Kami go- 
tong tubuh kecilnya sambil berlari. Sahara dan A Kiong meraung- 
raung. Kami benar-benar panik, namun dalam kegentingan yang 
memuncak tiba-tiba di gumpalan bulat kepala keriting yang kupeluk 
kulihat deretan gigi-gigi hitam keropos dan runcing-runcing seperti 
dimakan kutu meringis ke arahku, kemudian kudengar pelan suara 
tertawa terkekeh-kekeh. 

Ha! Rupanya co-pilot-ku ini hanya berpura-pura tewas! Sekian 
lama ia membekukan tubuhnya dan berusaha menahan napas agar 
kami menyangka ia mati. Kurang ajar betul, lalu kami membalas 
penipuannya dengan melemparkannya kembali ke dalam parit kotor 
tadi. Dia senang bukan main. Ia terpingkal-pingkal melihat kami 
kebingungan. Kami pun ikut tertawa. Sahara menghapus tangisnya 
dengan lengannya yang kotor. Makin lama tawa kami makin keras. 
Kulirik lagi Syahdan, ia meringis kesakitan tapi tawanya keras sekali 
sampai-sampai keluar air matanya. Air matanya itu bercampur 
dengan air hujan. 



163 



Andrea Hirata 

Anehnya, justru peristiwa terjatuh, terhempas, dan terguling- 
guling yang menciderai, lalu disusul dengan tertawa keras saling 
mengejek itulah yang kami anggap sebagai daya tarik terbesar 
permainan pelepah pinang. Tak jarang kami mengulanginya berkali- 
kali dan peristiwa jatuh seperti itu bukan lagi karena sudut tikungan, 
kecepatan, dan massa yang melanggar hukum fisika, tapi memang 
karena ketololan yang disengaja yang secara tidak sadar digerakkan 
oleh spirit euforia musim hujan. Pesta musim hujan adalah sebuah 
perhelatan meriah yang diselenggarakan oleh alam bagi kami anak- 
anak Melayu tak mampu. 



^S^zsQ^ 



164 



Pwsi Suraa dan TOtwanan feurvma IPefinfana 



avt 



NAH, seluruh kejadian ini terjadi pada bulan Agustus saat aku 
berada di kelas dua SMP. Kemarau masih belum mau pergi. Pohon- 
pohon angsana 1 menjadi gundul, bambu-bambu kuning meranggas. 
Jalan berbatu-batu kecil merah, setiap dihempas kendaraan, meng- 
embuskan debu yang melekat pada sirip-sirip daun jendela kayu. 
Kota kecilku kering dan bau karat. 

Warga Tionghoa semakin rajin menekuni kebiasaannya: mandi 
saat tengah hari, menyisir rambutnya yang masih basah ke belakang, 
lalu memotongi ujung-ujung kukunya dengan antip 2 . Hanya mereka 
yang tampak sedikit bersih pada bulan-bulan seperti ini. Adapun 



1 Pohon Angsana (Pterocarpus indica): pohon yang bunganya berwarna kuning dan 
berbau jeruk, kulitnya dapat dimanfaatkan sebagai obat, kayunya digunakan untuk 
pembuatan alat-alat rumah tangga, bahan bangunan, kerajinan tangan, dan Iain-lain. 

2 Antip (antip kuku): istilah orang Melayu untuk menyebut alat pemotong kuku. 



Andrea Hirata 

warga suku Sawang termangu-mangu memeluk tiang-tiang rumah 
panjang mereka, terlalu panas untuk tidur di bawah atap seng tak 
berplafon dan terlalu lelah untuk kembali bekerja, dilematis. 

Orang-orang Melayu semakin kumal. Sesekali anak-anaknya 
melewati jalan raya membawa balok-balok es dan botol sirop Capila- 
no. Hawa pengap tak 'kan menguap sampai malam. Sebaliknya, 
menjelang dini hari suhu akan turun drastis, dingin tak terkira, me- 
nguji iman umat Nabi Muhammad untuk beranjak dari tempat tidur 
dan shalat subuh di masjid. 

Perubahan ekstrem suhu adalah konsekuensi geografis pulau 
kecil yang dikelilingi samudra. Karena itu kemarau di kampung ka- 
mi menjadi sangat tidak menyenangkan. Kepekatan oksigen menye- 
babkan tubuh cepat lelah dan mata mudah mengantuk. Namun, ada 
suka di mana-mana. Anda tentu paham maksud saya. Bulan ini amat 
semarak karena banyak perayaan berkenaan dengan hari besar nege- 
ri ini. Agustus, semuanya serba menggairahkan! 

Begitu banyak kegiatan yang kami rencanakan setiap bulan 
Agustus, antara lain berkemah! Ketika anak-anak SMP PN dengan 
bus birunya berekreasi ke Tanjong Pendam, mengunjungi kebun bi- 
natang atau museum di Tanjong Pandan, bahkan verloop* bersama 
orangtuanya ke Jakarta. Kami, SMP Muhammadiyah, pergi ke Pan- 
tai Pangkalan Punai. Jauhnya kira-kira 60 km, ditempuh naik sepe- 
da. Semacam liburan murah yang asyik luar biasa. 

Meskipun setiap tahun kami mengunjungi Pangkalan Punai, 
aku tak pernah bosan dengan tempat ini. Setiap kali berdiri di bibir 
pantai aku selalu merasa terkejut, persis seperti pasukan Alexander 
Agung pertama kali menemukan India. Jika laut berakhir di puluhan 
hektar daratan landai yang dipenuhi bebatuan sebesar rumah dan 



166 



Puisi Surga dan Kawanan Burling Pefintang Pufau 

pohon-pohon rimba yang rindang merapat ke tepi paling akhir om- 
bak pasang mengempas, maka kita akan menemukan keindahan 
pantai dengan cita rasa yang berbeda. Itulah kesan utama yang dapat 
kukatakan mengenai Pangkalan Punai. Tak jauh dari pantai menga- 
lirlah anak-anak sungai berair payau dan di sanalah para penduduk 
lokal tinggal di dalam rumah panggung tinggi-tinggi dengan formasi 
berkeliling. Mereka juga orang-orang Melayu, orang Melayu yang 
menjadi nelayan. Berarti rumah-rumah ini tepatnya terkurung oleh 
hutan lalu di tengahnya mengalir anak-anak sungai dan posisinya 
cenderung menjorok ke pinggir laut. Sebuah komposisi lanskap hasil 
karaya tangan Tuhan. Keindahan seperti digambarkan dalam buku- 
buku komik Hans Christian andersen. 

Namun, pemandangan semakin cantik jika kita mendaki bukit 
kecil di sisi barat daya Pangkalan. Saat sore menjelang, aku senang 
berlama-lama duduk sendiri di punggung bukit ini. Mendengar sa- 
yup-sayup suara anak-anak nelayan— laki-laki dan perempuan— 
menendang-nendang pelampung, bermain bola tanpa tiang gawang 
nun di bawah sana. Teriakan mereka terasa damai. Sekitar pukul 
empat sore, sinar matahari akan mengguyur barisan pohon cemara 
angin yang tumbuh lebat di undakan bukit yang lebih tinggi di sisi 
timur laut. Sinar yang terhalang pepohonan cemara angin itu mem- 
bentuk segitiga gelap raksasa, persis di tempat aku duduk. Sebalik- 
nya, di sisi lain, sinarnya ayang kontras menghunjam ke atas permu- 
kaan pantai yang dangkal, sehingga dari kejauhan dapat kulihat pa- 
sir putih dasar laut. 

Jika aku menoleh ke belakang, maka aku dapat menyaksikan pe- 
mandangan padang sabana. Ribuan burung pipit menggelayuti rum- 
put-rumput tinggi, menjerit-jerit tak karuan, berebutan tempat ti- 
dur. Di sebelah sabana itu adalah ratusan pohon kelapa bersaling-si- 



167 



Andrea Hirata 

lang dan di antara celah-celahnya aku melihat batu-batu raksasa 
khas Pangkalan Punai. Batu-batu raksasa yang membatasi tepian 
Laut Cina Selatan yang biru berkilauan dan luas tak terbatas. Selu- 
ruh bagian ini disirami sinar matahari dan aliran sungai payau tam- 
pak sampai jauh berkelok-kelok seperti cucuran perak yang dicair- 
kan. Sebaliknya, jika aku melemparkan pandangan lurus ke bawah, 
ke arah formasi rumah panggung yang berkeliling tadi, maka sinar 
matahari yang mulai jingga jatuh persis di atas atap-atap daun 
nanga' yang menyembul-nyembul di antara rindangnya dedaunan 
pohon santigi. Asap mengepul dari tungku-tungku yang membakar 
serabut kelapa untuk mengusir serangga magrib. Asap itu, diiringi 
suara azan magrib, merayap menembus celah-celah atap daun, ha- 
nyut pelan-pelan menaungi kampung seperti hantu, lamat-lamat 
merambati dahan-dahan pohon bintang yang berbuah manis, lalu 
hilang tersapu semilir angin, ditelan samudra luas. Dari balik jen- 
dela-jendela kecil rumah panggung yang berserakan di bawah sana 
sinar lampu minyak yang lembut dan kuntum-kuntum api pelita 
menari-nari sepi. 

Pesona hakiki Pangkalan Punai membayangiku menit demi me- 
nit sampai terbawa-bawa mimpi. Mimpi ini kemudian kutulis men- 
jadi sebuah puisi karena, sebagai bagian dari program berkemah, ka- 
mi harus menyerahkan tugas untuk pelajaran kesenian berupa ka- 
rangan, lukisan, atau pekerjaan tangan dari bahan-bahan yang dida- 
pat di pinggir pantai. Inilah puisiku. 

Aku Bermimpi Melihat Surga 

Sungguh, malam ketiga di Pangkalan Punai aku mimpi melihat surga 

Ternyata surga tidak megah, hanya sebuah istana kecil di tengah 

hutan 

Tidak ada bidadari seperti disebut di kitab-kitab suci 



168 



Puisi Surga dan Kawanan Burling Pefintang Pufau 

Aku meniti jembatan kecil 

Seorang wanita berwajah jernih menyambutku 

"Inilah surga" katanya. 

la tersenyum, kerling matanya mengajakku menengadah 

Seketika aku terkesiap oleh pantulan sinar matahari senja 

Menyirami kubah-kubah istana 

Mengapa sinar matahari berwarna perak, jingga, dan biru? 

Sebuah keindahan yang asing 

Di istana surga 

Dahan-dahan pohon ara menjalar ke dalam kamar-kamar sunyi 

yang bertingkattingkat 

Gelas-gelas kristal ber denting dialiri air zamzam 

Menebarkan rasa kesejukan 

Bunga petunia 3 ditanam di dalam pot-pot kayu 

Pot-pot itu digantungkan pada kosen-kosen jendela tua berwarna 

biru 

Di beranda, lampu-lampu kecil disembunyikan di balik tilam, indah 

sekali 

Sinarnya memancarkan kedamaian 

Tembus membelah perdu-perdu di halaman 

Surga begitu sepi 

Tapi aku ingin tetap di sini 

Karena kuingat janjimu Tuhan 

Kalau aku datang dengan berjalan 



3 Petunia: tanaman terna (tumbuhan dengan batang lunak tidak berkayu atau hanya 
mengandung jaringan kayu sedikit sekali sehingga pada akhir masa tumbuhnya mati 
sampai ke pangkalnya tanpa ada batang yang tertinggal di atas tanah) dari famili 
Solanaceal, tingginya antara 16-30 cm, batangnya lengket, bunganya berbentuk 
kerucut seperti corong, ada yang bermahkota ganda dengan warna yang bervariasi 
(merah, putih, kuning pucat, biru, dan ungu tua). 



169 



Andrea Hirata 

ENGKAU akan menjemputku dengan berlari-lari 

Dengan puisi ini, untuk pertama kalinya aku mendapat nilai 
kesenian yang sedikit lebih baik dari nilai Mahar, tapi hal itu hanya 
terjadi sekali itu saja. Puisiku ini membuktikan bahwa karya seni 
yang baik, setidaknya baik bagi Bu Mus, adalah karya seni yang ju- 
jur. Namun, aku punya cerita yang panjang dan kurasa cukup pen- 
ting mengapa kali ini Mahar tidak mendapatkan nilai kesenian ter- 
tinggi seperti baisanya. Semua itu gara-gara sekawanan burung he- 
bat nan misterius yang dinamai orang-orang Belitong sebagai bu- 
rung pelintang pulau. 

Nama burung pelintang pulau selalu menarik perhatian siapa 
saja, di mana saja, terutama di pesisir. Sebagian orang malah meng- 
anggap burung ini semacam makhluk gaib. Nama burung ini mam- 
pu menggetarkan nurani orang-orang pesisir sehubungan dengan 
nilai-nilai mitos dan pesan yang dibawanya. 

Burung pelintang pulau amat asing. Para pencinta burung lokal 
dan orang-orang pesisir hanya memiliki pengetahuan yang amat 
minim mengenai burung ini. Di mana habitatnya, bagaimana rupa 
dan ukuran aslinya, dan apa makanannya, selalu jadi polemik. Ha- 
nya segelintir orang yang sedang beruntung saja pernah melihatnya 
langsung. Burung ini tak pernah tertangkap hidup-hidup. Keraha- 
siaan burung ini adalah konsekuensi dari kebiasaannya. 

Nama pelintang pulau adalah cerminan kebiasaan burung ini 
terbang sangat kencang dan jauh tinggi melintang (melintasi) pulau 
demi pulau. Mereka hanya singgah sebentar dan selalu hinggap di 
puncak tertinggi dari pohon-pohon yang tingginya puluhan meter 



170 



Puisi Surga dan Kawanan Burling Pefintang Pufau 

seperti pohon medang 4 dan tanjung 5 . Singgahnya pun tak pernah la- 
ma, tidak untuk makan apa pun. Mereka sangat liar, tidak mungkin 
bisa didekati. Setelah hinggap sebentar dengan kawanan lima atau 
enam ekor mereka terburuburu terbang dengan kencang ke arah 
yang sama sekali tak dapat diduga. Banyak orang yang percaya 
bahwa mereka hidup di pulau-pulau kecil yang tak dihuni manusia. 
Sementara mitos lain mengatakan bahwa burung-burung ini hanya 
hinggap sekali saja pada sebuah kanopi di setiap pulau. Mereka 
menghabiskan sebagian besar hidupnya terbang tinggi di angkasa, 
melintas dari satu pulau ke pulau lain yang berjumlah puluhan di 
perairan Belitong. 

Orang-orang Melayu pesisir percaya bahwa jika burung ini 
singgah di kampung maka pertanda di laut sedang terjadi badai 
hebat atau angin puting beliung. Sering sekali kehadirannya mem- 



4 Pohon medang (Cinnamomum porrectum); pohon gadis; kayu lada; madang loso; 
medang sahang; kisereh; kipedes; selasihan; marawali; merang; parari; pelarah; 
peluwari; palio: salah satu jenis suku Lauraceae, yang kulit dan kayunya berbau 
harum. Pohon ini berukuran sedang hingga besar dengan ketinggian bisa mencapai 
35-45 meter. Batang pohonnya bundar, lurus, dan umumnya tidak berbanir (banir: 
akar yang menganjur ke luar menyerupai dinding penopang pohon, seperti pada 
beringin). Permukaan kulit batang berwarna kelabu atau kelabu cokelat sampai krem, 
serta beralur dangkal merapat dan mengelupas kecil-kecil. Bagian kulit dalam pohon 
ini cokelat kemerahan, dan makin ke dalam menjadi merah muda atau putih. Pohon 
ini termasuk beruntung karena banyak dilestarikan oleh penduduk yang 
memanfaatkan kulitnya sebagai sumber nafkah (meskipun seperti juga banyak jenis 
pohon lain, kayu pohon medang sebenarnya bisa digunakan untuk bahan bangunan, 
kayu lapis, mebel, lantai, dinding, kerangka pintu dan jendela, dan sebagainya). Kulit 
kayu medang merupakan bahan baku racun nyamuk bakar dan gaharu (hio). 
Sementara getah yang menempel di kulitnya bisa digunakan untuk bahan baku lem. 
Pohon itu tidak akan mati meskipun berkali-kali diambil kulitnya, melainkan akan 
semakin besar sehingga semakin banyak kulitnya yang bisa diambil oleh para 
pemburu. 

5 Tanjung (Mimusops elengi): pohon yang bunganya berwarna putih kekuning- 
kuningan dan berbau harum, biasa dipakai untuk hiasan sanggul. 



171 



Andrea Hirata 

batalkan niat nelayan yang akan melaut. Tapi ada penjelasan logis 
untuk pesan ini, yaitu jika mereka memang tinggal di pulau terpencil 
maka badai laut akan menyapu pulau tersebut dan saat itulah 
mereka menghindar menuju pesisir lain. 

Burung yang konon sangat cantik dengan dominasi warna biru 
dan kuning ini berukuran seperti burung bayan. Tapi aku agak ku- 
rang setuju dengan pendapat itu. Aku setuju dengan warnanya, tapi 
ukurannya pasti jauh lebih besar, karena saksi mata melihatnya 
bertengger puluhan meter darinya sehingga akan tampak lebih kecil. 
Perkiraanku burung itu paling tidak berpenampilan seperti burung 
rawe yang beringas atau peregam segagah rajawali. Demikianlah 
burung pelintang pulau, semakin misterius keberadaannya, semakin 
legendaris ceritanya. Mungkinkah burung ini belum terpetakan oleh 
para ahli ornitologi? 

Namun, burung apa pun itu, ketika melakukan semacam peneli- 
tian untuk membuat tugas kesenian yang ia putuskan berupa lukis- 
an, Mahar mengaku melihat burung pelintang pulau nun jauh tinggi 
berayun-ayun di pucuk-pucuk meranti. Ia pontang-panting menuju 
tenda untuk memberitahukan apa yang baru saja dilihatnya, dan ka- 
mi pun menghambur masuk ke hutan untuk menyaksikan salah satu 
spesies paling langka kekayaan fauna pulau Belitong itu. Sayangnya 
yang kami saksikan hanya dahan-dahan yang kosong, beberapa ekor 
anak lutung yang masih berwarna kuning, dan langit hampa yang 
luas menyilaukan. Mahar menjebak dirinya sendiri. Maka, seperti 
biasa, mengalirlah ejekan untuk Mahar. 

"Kalau makan buah bintang kebanyakan, manisnya memang 
dapat membaut orang mabuk, Har, pandangan kabur, dan mulut 
melantur," Samson menarik pelatuk dan penghujatan pun dimulai. 



172 



Puisi Surga dan Kawanan Burling Pefintang Pufau 

"Sungguh Son, yang kulihat tadi burung pelintang pulau kawan- 
an lima ekor." 

"Dalam laut dapat kukira, dalamnya dusta siapa sangka," de- 
ngan rima pantun yang sederhana Kucai menohok Mahar tanpa pe- 
rasaan. 

Keputusasaan terpancar di wajah Mahar yang tanpa dosa, mata- 
nya mencari-cari dari dahan ke dahan. Aku iba melihatnya, dengan 
cara apa aku dapat membelanya? Tanpa saksi yang menguatkan, po- 
sisinya tak berdaya. 

Kulihat dalam-dalam mata Mahar dan aku yakin yang baru saja 
dilihatnya memang burung-burung keramat itu. Ah! Beruntung se- 
kali. Sayangnya upaya Mahar meyakinkan kami sia-sia karena repu- 
tasinya sendiri yang senang membual. Itulah susahnya jadi pembual, 
sekali mengajukan kebenaran hakiki di antara seribu macam dusta, 
orang hanya akan menganggap kebenaran itu sebagai salah satu dari 
buah kebohongan lainnya. 

"Mungkin yang kau lihat tadi burung ayam-ayam 6 yang sengaja 
hinggap di dahan tepat di atasmu utnuk mengencingi jambulmu 
itu," cela Kucai. 

Tawa kami meledak menusuk perasaan Mahar. Burung ayam- 
ayaman tidak eksklusif, terdapat di mana-mana, dan senang bercan- 
da di sepanjang saluran pembuangan pasar ikan. Perut-perut ikan 
adalah caviar bagi mereka. Burung itu selalu digunakan orang Mela- 
yu sebagai perlambang untuk menghina. Belum reda tawa kami Sa- 
hara berusaha menyadarkan kesesatan Mahar. 



6 Burung ayam-ayam (Gallerex cinerea): unggas yang serupa ayam, berkaki panjang, 
tidak kuat terbang, biasa hidup di tambak atau di rawa-rawa. 



173 



Andrea Hirata 

"Jangan kau campuradukkan imajinasi dan dusta, kawan. Tak 
tahukah engkau, kebohongan adalah pantangan kita, larangan itu 
bertalu-talu disebutkan dalam buku Budi Pekerti Muhammadiyah." 

Trapani mencoba sedikit berlogika, "Barangkali kau salah lihat 
Har, keluarga Lintang saja yang sudah empat turunan tinggal di pe- 
sisir tak pernah sekalipun melihat burung itu apa lagi kita yang baru 
berkemah dua hari." 

Masuk akal juga, tapi nasib orang siapa tahu? 

Situasi makin kacau ketika sore itu berita kunjungan burung pe- 
lintang pulau menyebar ke kampung dan beberapa nelayan batal 
melaut. Ibu Mus tak enak hati tapi tak mengerti bagaimana mene- 
tralisasi suasana. Mahar semakin terpojok dan merasa bersalah. Na- 
mun percaya atau tidak, malamnya angin bertiup sangat kencang 
mengobrak-abrik tenda kami. Beberapa batang pohon cemara tum- 
bang. Di laut kami melihat petir menyambar-nyambar dengan dah- 
syat dan awan hitam di atasnya berugulung-gulung mengerikan. Ka- 
mi lari terbirit-birit mencari perlindungan ke rumah penduduk. 

"Mungkin yang kau lihat tadi sore benar-bear burung pelintang 
pulau, Har," kata Syahdan gemetar. 

Mahar diam saja. Aku tahu kata "mungkin" itu tidak tepat. Ba- 
gaimanapun juga badai ini sedikit banyak memihak ceritanya, me- 
ngurangi rasa bersalahnya, dan dapat menghindarkannya dari cap 
pembual, apalagi esoknya para nelayan berterima kasih padanya. 
Namun, ternyata temannya masih meragukannya dengan menggu- 
nakan kata "mungkin", padahal tenda kami sudah hancur lebur di- 
aduk-aduk badai. Rasa tersinggungnya tidak berkurang sedikit pun. 
Pada tingkat ini dia sudah merasa dirinya seorang persona non grata, 
orang yang tak disukai. 



174 



Puisi Surga dan Kawanan Burling Pefintang Pufau 

Demikianlah dari waktu ke waktu kami selalu memperlakukan 
Mahar tanpa perasaan. Kami lebih melihatnya sebagai seorang 
bohemian yang aneh. Kami dibutakan tabiat orang pada umumnya, 
yaitu menganggap diri paling baik, tidak mau mengakui keunggulan 
orang, dan mencari-cari kekurangan orang lain untuk menutupi 
ketidakbecusan diri sendiri. 

Kami jarang sekali ingin secara objektif membuka mata melihat 
bakat seni hebat yang dimiliki Mahar dan bagaimana bakat itu ber- 
kembang secara alami dengan menakjubkan. Namun, tak mengapa, 
lihatlah sebentar lagi, seluruh ketidakadilan selama beberapa tahun 
ini akan segara dibalas tuntas olehnya dengan setimpal. Cerita akan 
semakin seru! 

Besoknya Mahar membuat lukisan berjudul "Kawanan Burung 
Pelintang Pulau". Sebuah tema yang menarik. Lukisan itu berupa li- 
ma ekor burung yang tak jelas bentuknya melaju secepat kilat me- 
nembus celah-celah pucuk pohon meranti 7 . Latar belakangnya ada- 
lah gumpalana awan kelam yang memancing badai hebat. Hampar- 
an laut dilukis biru gelap dan permukaannya berkilat-kilat meman- 
tulkan cahaya halilintar di atasnya. 

Kelima ekor burung itu hanya ditampakkan berupa serpihan- 
serpihan warna hijau dan kuning dengan ilustrasi tak jelas, seperti 
sesuatu yang berkelebat sangat cepat. Jika dilihat sepintas, memang 
masih terlihat samar-samar seperti lima kawanan burung tapi kesan 
seluruhnya adalah seperti sambaran petir berwarna-warni. Sebuah 
lukisan penuh daya mitos yang menggetarkan. 



7 Pohon meranti: termasuk jenis Shorea. Kayunya keras, digunakan untuk bahan 
bangunan, landasan rel kereta api, tiang listrik, dan lain sebagainya. 



175 



Andrea Hirata 

Dengan kekuatan imajinasinya Mahar berusaha mengabadikan 
sifat-sifat misterius burung ini. Yang ada dalam pemikiran di balik 
lukisannya bukanlah bentuk anatomis burung pelintang pulau tapi 
representasi sebuah legenda magis, sifat-sifat alami burung pelintang 
pulau yang fenomenal, keterbatasan pengetahuan kita tentang me- 
reka, karakternya yang suka menjauhi manusia, dan mitos-mitos 
ganjil yang menggerayangi setiap kepala orang pesisir. 

Lukisan Mahar sesungguhnya merupakan sebuah karya hebat 
yang memiliki nyawa, mengandung ribuan kisah, menentang keya- 
kinan, dan mampu menggugah perasaan. Namun, Mahar tetaplah 
anak kecil dengan keterbatasan kosa kata untuk menjelaskan mak- 
sudnya. la kesulitan menemukan orang yang dapat memahaminya, 
dan lebih dari itu, ia juga seniman yang bekerja berdasarkan suasana 
hati. Maka ketika Samson, Syahdan, dan Sahara berpen-dapat bahwa 
bentuk burung yang tak jelas karena Mahar sebenarnya tak pernah 
melihatnya, Mahar kembali tenggelam dalam sarkasme, mood-nya 
rusak berantakan. 

Inilah kenyataan pahit dunia nyata. Begitu banyak seniman ba- 
gus yang hidup di antara orang-orang buta seni. Lingkungan umum- 
nya tak memahami mereka dan lebih parah lagi, tanpa beban berani 
memberi komentar seenak udelnya. Ketika Mahar sudah berpikir 
dalam tataran imajinasi, simbol, dan substansi, Samson, Syahdan, 
dan Sahara masih berpikir harfiah. Kasihan Mahar, seniman besar 
kami yang sering dilecehkan. Karena kecewa sebab karyanya diang- 
gap tak jujur, Mahar setengah hati menyerahkan karyanya kepada 
Bu Mus sehingga terlambat. Inilah yang menye-babkan nilai Mahar 
agak berkurang sedikit. Yaitu karena melanggar tata tertib batas pe- 
nyerahan tugas, bukan karena pertimbangan artistik. Ironis me- 
mang. 



176 



Puisi Surga dan Kawanan Burling Pefintang Pufau 

"Kali ini Ibunda tidak memberimu nilai terbaik untuk mendi- 
dikmu sendiri," kata Bu Mus dengan bijak pada Mahar yang cuek sa- 
ja. 

"Bukan karena karyamu tidak bermutu, tapi dalam bekerja apa 
pun kita hams memiliki disiplin." 

Aku rasa pandangan ini cukup adil. Sebaliknya, aku dan kami 
sekelas tidak menganggap keunggulanku dalam nilai kesenian seba- 
gai momentum lahirnya seniman baru di kelas kami. Seniman besar 
kami tetap Mahar, the one and only. Adapun Mahar yang nyentrik 
sama sekali tidak peduli. la tak ambil pusing mengenai bagaimana 
karya-karya seninya dinilai dalam skala angka-angka, apalagi seka- 
rang ia sedang sibuk. la sedang berusaha keras memikirkan konsep 
seni untuk karnaval 1 7 Agustus. 



177 



Ada Cinfa di Tofcp TCefonfona IZohrok. Oh 



MEMANG menyenangkan menginjak remaja. Di sekolah, mata pe- 
lajaran mulai terasa bermanfaat. Misalnya pelajaran membuat telur 
asin, menyemai biji sawi, membedah perut kodok, keterampilan me- 
nyulam, menata janur, membuat pupuk dari kotoran hewan, dan 
praktek memasak. Konon di Jepang pada tingkat ini para siswa telah 
belajar semikonduktor, sudah bisa menjelaskan perbedaan antara is- 
tilah analog dan digital, sudah belajar membuat animasi, belajar soft- 
ware development, serta praktik merakit robot. 

Tak mengapa, lebih dari itu kami mulai terbata-bata berbahasa 
Inggris: good this, good that, excuse me, I beg your pardon, dan I am 
fine thank you. Tugas yang paling menyenangkan adalah belajar me- 
nerjemahkan lagu. Lagu lama Have I Told You Lately That I Love 
You ternyata mengandung arti yang aduhai. Dengarlah lagu penuh 
pesona cinta ini. Bermacam-macam vokalis kelas satu telah memba- 
wakannya termasuk pria midland bersuara serak: Mr. Rod Stewart. 



Andrea Hirata 

Tapi sedapat mungkin dengarlah versi Kenny Rogers dalam album 
Vote For Love Volume 1 . Lagu cantik itu ada di trek pertama. 

Syair lagu itu kira-kira bercerita tentang seorang anak muda 
yang benci sekali jika disuruh gurunya membeli kapur tulis, sampai 
pada suatu had ketika ia berangkat dengan jengkel untuk membeli 
kapur tersebut, tanpa disadarinya, nasib telah menunggunya di pasar 
ikan dan menyergapnya tanpa ampun. 

Membeli kapur adalah salah satu tugas kelas yang paling tidak 
menyenangkan. Pekerjaan lain yang amat kami benci adalah menyi- 
ram bunga. Beragam familia pakis mulai dari kembang tanduk rusa 
sampai puluhan pot suplir kesayangan Bu Mus serta rupa-rupa kak- 
tus topi uskup, Parodia, dan Mammillaria 1 harus diperlakukan de- 
ngan sopan seperti porselen mahal dari Tiongkok. Belum lagi deret- 
an panjang pot amarilis 2 , kalimatis, azalea 3 , nanas sabrang, Cala- 



1 Mammillaria: nama genus yang termasuk familia Cactaceae (cacti) atau kaktus. Nama 
Mammillaria datang dari bahasa Latin "mamma" karena tonjolan-tonjolan (tubercules) 
yang menutupi seluruh tubuh tanaman tersebut, dan yang, pada beberapa spesies, 
mengandung cairan tubuh yang kental seperti susu (lateks). Tubuh kaktus ini bulat 
dan pendek, tumbuh soliter atau berkelompok. Duri-duri kaktusnya tumbuh di 
puncak tonjolan tadi dan dibedakan menjadi duri sentral dan duri radial. Bunganya 
berwarna merah, merah muda, putih, kuning, atau bervariasi, biasanya mekar di 
siang hari. 

2 Amarilis (Amaryllis; naked lady): genus yang terdiri dari hanya satu spesies, yaitu 
Belladona Lily (Amaryllis belladona), yang berasal dari Afrika Selatan. Amarilis 
merupakan tanaman berumbi yang memiliki beberapa helai daun dengan panjang 30- 
50 cm dan lebar 2-3 cm, yang tertatat dalam dua baris. Di musim gugur daun-daun 
amarilis akan tumbuh dan kemudian gugur di akhir musim semi. Di akhir musim 
panas umbinya memproduksi satu atau dua batang setinggi 30-60 cm, di ujungnya 
akan muncul 2 sampai 12 buah bunga berbentuk corong. Bunga ini berdiameter 
sekitar 6-10 cm dan terdiri dari 6 petal (3 petal luar dan 3 petal dalam yang hampir 
mirip), dan berwarna putih, merah muda, merah, atau ungu. Nama amarilis juga 
sering digunakan untuk menyebut familia Amaryllidaceae yang terdiri dari beragam 
genus seperti Hippeastrum, Narcissus, Galanthus, dan Clivia. 



180 



Ada Chita di Toko Kefontong Bobrok Itu 

thea 4 , Stromanthe 5 , Abutilon 6 , kalmus, damar 7 kamar, dan anggrek 
Dendrobium 8 dengan berbagai variannya. Berlaku semena-mena ter- 
hadap bunga-bunga ini merupakan pelanggaran serius. 

"Ini adalah bagian dari pendidikan!" pesan Bu Mus serius. 



3 Azalea: nama spesies dari genus Rhododendron. Berasal dari kata Yunani "azaleas" 
yang berarti "kering", meski sebenarnya ini tidak cocok dengan azalea zaman 
sekarang yang tidak tumbuh di daerah kering seperti varietas aslinya. Tanaman ini 
merupakan sesemakan dengan kelompok-kelompok besar bunga berwarna merah 
muda, merah, jingga, ungu, kuning, atau putih. 

4 Calathea: tanaman tropis yang unik, daunnya hijau gelap (pada Calathea amabilis 
[kadang juga disebut Stromanthe amabilis atau Ctenante] daunnya disertai pola garis- 
garis putih-hijau) dan berimpel, berbentuk oval dan melancip di ujung, sementara 
bagian bawah daunnya berwarna maroon. Bentuk braktea (daun gagang; daun 
pelindung) bunganya bervariasi, dan bentuk kerucut sarang lebah yang berkilau 
sampai bentuk ekor ular derik dan berwarna biru, merah, putih, dan lain sebagainya 
(pada Calathea crocata bunganya berbentuk seperti nyala api dan berwarna oranye 
atau kuning). Di Afrika Selatan, orang menggunakan Calathea sebagai makanan, obat, 
anyaman keranjang, dan atap. Menariknya, tanaman ini akan menutup daunnya di 
kala malam tiba. 

5 Stromanthe: genus dari familia yang sama dengan Calathea yang terdiri dari dua 
spesies tanaman dalam ruang, yaitu S. amabilis dan S. sanguinea. S. amabilis memiliki 
daun-daun yang berukuran panjang 15-25 cm dan lebar 5 cm, sementara S. sanguinea 
memiliki daun yang lebih besar (mencapai panjang 30-50 cm dan lebar sekitar 10 cm) 
dan berkilat. Keduanya memiliki daun-daun yang berbentuk seperti kipas. 

6 Abutilon (Mallow, Indian Mallow, Flowering Maple): genus besar yang terdiri dari 
sekitar 150 spesies tanaman berdaun lebar yang tergolong dalam familia mallow 
(Malvaceae). Tanaman ini sangat populer di daerah subtropis. Daun-daun abutilon ada 
yang tidak berkelompok, ada yang tanpa kelopak, ada juga yang menjari dengan 3-7 
kelopak. Bunga-bunganya sangat mencolok dengan lima petal, kebanyakan berwarna 
merah, merah muda, jingga, kuning, atau putih. 

7 Damar: getah keras yang berasal dari bermacam-macam pohon dan banyak 
macamnya. 

8 Dendrobium: merupakan jenis anggrek epifit (menumpang di pohon tapi tidak 
mengambil makanan darinya seperti anggrek parasit). Namanya diambil dari kata 
Yunani, "dendron" yang berarti pohon dan "bios" yang berarti hidup. Spesies dari 
anggrek ini memiliki bunga warna merah muda, putih, kuning, atau kombinasi. 



181 



Andrea Hirata 

Masalahnya adalah mengambil air dari dalam sumur di bela- 
kang sekolah merupakan pekerjaan kuli kasar. Selain hams mengisi 
penuh dua buah kaleng cat 15 kilogram dan pontang-panting memi- 
kulnya, sumur tua yang angker itu sangat mengerikan. Sumur itu hi- 
tam, berlumut, gelap, dan menakutkan. Diameternya kecil, dasarnya 
tak kelihatan saking dalamnya, seolah tersambung ke dunia lain, ke 
sarang makhluk jadi-jadian. Beban hidup terasa berat sekali jika pa- 
gi-pagi sekali harus menimba air dan menunduk ke dalam sumur 
itu. 

Hanya ketika menyirami bunga stripped carina beauty aku me- 
rasa sedikit terhibur. Ah, indahnya bunga yang semula tumbuh liar 
di bukit-bukit lembap di Brazil ini. Masih dalam familia Apocyna- 
ceae maka agak sedikit mirip dengan alamanda tapi strip-strip putih 
pada bunganya yang berwarna kuning adalah daya tarik tersendiri 
yang tak dimiliki jenis carina lain. Daun hijaunya yang menjulur ge- 
muk-gemuk kontras dengan gradasi warna kuntum bunga sepanjang 
musim, menghadirkan pesona keindahan purba. Orang Parsi me- 
nyebutnya bunga surga. Jika ia merekah maka dunia tersenyum. la 
adalah bunga yang emosional, maka menyiramnya harus berhati-ha- 
ti. Tidak semua orang dapat menumbuhkannya. Konon hanya mere- 
ka yang bertangan dingin, berhati lembut putih bersih yang mampu 
membiakkannya, ialah Bu Muslimah, guru kami. 

Kami memiliki beberapa pot stripped canna beauty dan sepakat 
menempatkannya pada posisi yang terhormat di antara tanaman-ta- 
naman kerdil nan cantik Peperomia 9 , daun picisan 10 , sekulen, dan 



9 Peperomia: genus dengan lebih dari 1.500 spesies di seluruh dunia dan sekitar 20 di 
antaranya sudah populer sebagai tanaman pot. Semuanya memiliki varietas dengan 
dedaunan berwarna unik yang tepiannya tidak rata. Batangnya berdaging, ada yang 
tumbuh ke atas, ada yang menggantung atau merambat. Warnanya bervariasi antara 



182 



Ada Chita di Toko Kefontong Bobrok Itu 

Ardisia 11 . Ketika tiba musim bersemi bersamaan, maka tersaji se- 
buah pemandangan seperti kue lapis di dalam nampan. 

Aku selalu tergesa-gesa menyirami bunga biar tugas itu cepat 
selesai, namun jika tiba pada bagian carina itu dan para tetangganya 
tadi, aku berusaha setenang-tenangnya. Aku menikmati suatu lamu- 
nan, menduga-duga apa yang dibayangkan orang jika berada di 
tengah-tengah surga kecil ini. Apakah mereka merasa sedang berada 
di taman Jurassic 12 ? 

Aku melihat sekeliling kebun bunga kecil kami. Letaknya persis 
di depan kantor kepala sekolah. Ada jalan kecil dari batu-batu perse- 
gi empat menuju kebun ini. Di sisi kiri kanan jalan itu melimpah 
ruah Monstera 13 , Nolina 14 , Violces, kacang polong, cemara udang, 



hijau muda, merah, kuning, dan kombinasi. Kebanyakan adalah tumbuhan epifit. 
Namanya diambil dari kata Yunani "pepri" (lada) dan "homoios" (mirip), yang 
berarti "tampak seperti lada". 

10 Daun picisan (sisik naga): merupakan tumbuhan epifit, terna, tumbuh di batang 
dan dahan pohon, memiliki akar rimpang panjang, kecil, merayap, bersisik, panjang 
5-22 cm, dengan akar melekat kuat. Daun yang satu dengan yang lainnya tumbuh 
dengan jarak yang pendek, tebal berdaging, berbentuk jorong (bulat panjang), dengan 
ujung tumpul atau membundar, pangkal runcing, tepi rata, permukaan daun tua 
gundul dan berambut jarang pada permukaan bawah, warnanya berkisar dari hijau 
sampai kecokelatan. Ukuran daun yang berbentuk bulat sampai jorong hampir sama 
dengan uang logam picisan sehingga tanaman ini dinamakan picisan. Tanaman ini 
memiliki berbagai khasiat, salah satunya adalah bisa digunakan sebagai penghilang 
rasa nyeri dan obat batuk. 

11 Ardisia: kelompok besar beberapa jenis pohon dan semak hijau. Tanaman kecil 
akan tampak cantik di dalam pot jika sedang tertutup oleh buah-buah berri kecilnya 
yang berwarna merah sampai hitam. Daunnya kecil-kecil, berwarna hijau gelap, 
dengan bunga putih-merah muda. 

12 Jurassic: periode geologi di saat dinosaurus berkembang pesat, burung-burung dan 
mamalia pertama kali muncul, berlangsung sekitar 210-140 juta tahun yang lalu. 
Jurassic merupakan periode pertengahan dari zaman Mesozoic. 

13 Monstera (Monstera delicioca; Swiss cheese plant): tumbuhan berdaun besar berwarna 
hijau, berkilap, dan bundar atau berbentuk hati ketika masih muda. Ciri khasnya 



183 



Andrea Hirata 

keladi 15 , begonia 16 , dan aster 17 yang tumbuh tinggi-tinggi serta tak 
perlu disiram. Bunga-bunga ini tak teratur, kaya raya akan nektar, 
berdesak-desakan dengan bunga berwarna menyala yang tak dike- 
nal, bermacam-macam rumput liar, kerasak, dan semak ilalang. 

Secara umum kebun bunga kami mengensankan taman yang di- 
rawat sekaligus kebun yang tak terpelihara, dan hal ini justru seca-ra 
tak sengaja menghadirkan paduan yang menarik hati. Latar belakang 
kebun itu adalah sekolah kami yang doyong, seperti bangunan ko- 



adalah tepian yang robek serta berlubang, yang baru tampak ketika tanaman ini 
dewasa. Dengan perawatan yang tepat tanaman ini bisa tumbuh sampai mencapai 
lebar 60 cm dan tinggi 2,4 m. Monstera menyukai posisi yang terang tapi teduh. Di 
alam liar tanaman ini tumbuh di batang pohon dan sepanjang cabang pohon, 
bergantung dengan akar aerialnya yang menyerupai ekor berwarna cokelat. 

14 Nolina (Beaucarnea recurvata; ponytail plant; ponytail palm; elephants foot): sebuah 
genus dari familia agave (Agavaceae). Nolina memiliki daun yang panjang, langsing, 
dan lancip, yang keluar dan menjuntai dari puncak sebuah batang keras yang panjang 
dengan dasar yang menggelembung-mirip kaki gajah. Beberapa spesiesnya 
dibudidayakan sebagai tanaman hias. Jenis yang paling sering ditemui adalah Nolina 
recurvata, yang biasa ditanam di dalam rumah. 

15 Keladi {Colocasia esculenta): tumbuhan jenis terna; berdaun lebar dan berumbi dan 
ada yang dapat dimakan ada yang tidak. 

16 Begonia: nama umum untuk familia tanaman berbunga yang terdiri lebih dari 1.000 
spesies, memiliki karakteristik berupa daun-daun yang asimetris serta bunga-bunga 
jantan dan betina yang terpisah dalam tanaman yang sama. Bunga-bunga ini 
berwarna kuning, oranye, merah muda, atau putih. Batangnya kebanyakan berair, 
namun ada yang tegak, merambat, atau tumbuh di bawah tanah. Begonia ada yang 
sengaja dibudidayakan karena keindahan daunnya [painted-leaf begonia) yang 
berbentuk hati (bisa mencapai panjang 30 cm) dan berpola mencolok dengan 
kombinasi warna merah, hitam, perak, dan hijau dengan tepian yang berimpel. 

17 Aster {Aster corvifollus): nama yang umum digunakan untuk sebuah genus yang 
memiliki lebih dari 250 spesies tanaman berbunga majemuk yang harum, termasuk 
familia Compositae {Composite flowers) atau Asteraceae. Bunga aster berwarna merah, 
putih, kuning, ungu, atau merah muda. Aster memiliki floret tengah {disk floret) yang 
bundar dan berwarna kuning sementara floret pinggir {ray florets, terdiri dari banyak 
petal) yang mengelilinginya memiliki warna bervariasi dari ungu sampai biru, serta 
dari merah muda sampai putih. 



184 



Ada Chita di Toko Kefontong Bobrok Itu 

song tak dihuni yang dilupakan zaman. Semuanya memperkuat 
kesan sebuah paradiso liar, keeksotisan tropika. 

Lalu merambat pada tiang lonceng adalah dahan jalar labu air. 
Seperti tangan raksasa ia menggerayangi dinding papan pelepak se- 
kolah kami, tak terbendung menujangkau-jangkau atap sirap yang 
terlepas dari pakunya. Sebagian dahannya merambati pohon jambu 
air mawar 18 dan delima 19 yang meneduhi atap kantor itu. Cabang- 
cabang buah muda labu air terkulai di depan jendela kantor sehing- 
ga dapat dijangkau tangan. Burung-burung gelatik rajin bergelan- 
tungan di situ. Sepanjang pagi tempat itu riuh rendah oleh suara 
kumbang dan lebah madu. Jika aku memusatkan pendengaran pada 
dengungan ribuan lebah madu itu, lama-kelamaan tubuhku seakan 
kehilangan daya berat, mengapung di udara. Itulah kebun sekolah 
muhammadiyah, indah dalam ketidakteraturan, seperti lukisan Kan- 
dinsky. Kalau bukan gara-gara sumur sarang jin yang horor itu, pe- 
kerjaan menyiram bunga seharusnya bisa menjadi tugas yang me- 
nyenangkan. 

Namun, tugas membeli kapur adalah pekerjaan yang jauh lebih 
horor. Toko Sinar Harapan, pemasok kapur satu-satunya di Belitong 
Timur, amat jauh letaknya. Sesampainya di sana— di sebuah toko 
yang sesak di kawasan kumuh pasar ikan yang becek— jika perut ti- 
dak kuat, siapa pun akan muntah karena bau lobak asin, tauco, kanji, 
kerupuk udang, ikan teri, asam jawa, air tahu, terasi, kembang kol, 



18 Jambu air mawar (Eugenia jambos): jambu air yang berbentuk bulat kecil, berwarna 
kuning pucat atau kehijauan, berkulit licin dan agak keras. 

19 Delima (Punka granatum): tumbuhan perdu dengan cabang yang rendah dan 
berduri jarang. Daunnya kecil-kecil agak kaku dan berwarna hijau berkilap. Buahnya 
dapat dimakan, berkulit kekuning-kuningan sampai merah tua, kalau masak 
merekah. Juga disebut cempaka tanjung. 



185 



Andrea Hirata 

pedak cumi, jengkol, dan kacang merah yang ditelantarkan di dalam 
baskom-baskom karatan di depan toko. 

Jika berani masuk ke dalam toko, bau itu akan bercampur de- 
ngan bau plastik bungkus mainan anak-anak, aroma kapur barus 
yang membuat mata berair, bau cat minyak, bau gaharu 20 , bau sabun 
colek, bau obat nyamuk, bau ban dalam sepeda yang bergelantungan 
di sembarang tempat di seantero toko, dan bau tembakau lapuk di 
atas rak-rak besi yang telah bertahun-tahun tak laku dijual. 

Dagangan yang tak laku ini tidak dibuang karena pemiliknya 
menderita suatu gejala psikologis yang disebut hoarding, sakit gila 
no. 28, yaitu hobi aneh mengumpulkan barang-barang rongsokan 
tak berguna tapi sayang dibuang. Seluruh akumulasi bau tengik itu 
masih ditambah lagi dengan aroma keringat kuli-kuli panggul yang 
petantang-petenteng membawa gancu, ingar-bingar dengan bahasa- 
nya sendiri, dan lalu-lalang seenaknya memanggul karung tepung 
terigu. 

Belum seberapa, pusat bau busuk yang sesungguhnya berada di 
los pasar ikan yang bersebelahan langsung dengan Toko Sinar Hara- 
pan. Di sini ikan hiu dan pari disangkutkan pada cantolan paku de- 
ngan cara menusukkan banar 21 mulai dari insang sampai ke mulut 
binatang malang itu, sebuah pemandangan yang mengerikan. Bau 
amis darah menyebar ke seluruh sudut pasar. Perut-perut ikan di- 
biarkan bertumpuk-tumpuk di sepanjang meja, berjejal tumpah ber- 
serakan di lantai yang tak pernah dibersihkan. Dan bau yang paling 



20 Gaharu: kayu yang harum baunya, biasanya dari pohon tengkaras (Aquilaria 
malaccensis). 

21 Banar (Smilax helferi): pohon yang merambat seperti rotan, akarnya bisa digunakan 
sebagai pengikat, juga sebagai obat. 



186 



Ada Chita di Toko Kefontong Bobrok Itu 

parah berasal dari makhluk-makhluk laut hampir busuk yang 
disimpan dalam peti-peti terbuka dengan es seadanya. 

Pagi itu giliran aku dan Syahdan berangkat ke toko bobrok itu. 
Kami naik sepeda dan membuat perjanjian yang bersungguh-sung- 
guh, bahwa saat berangkat ia akan memboncengku. la akan menga- 
yuh sepeda setengah jalan sampai ke sebuh kuburan Tionghoa. Lalu 
aku akan menggantikannya mengayuh sampai ke pasar. Nanti pu- 
langnya berlaku atruan yang sama. Suatu pengaturan tidak masuk 
akal yang dibuat oleh orang-orang frustrasi. Ditambah lagi satu sya- 
rat cerewet lainnya, yaitu setiap jalan menanjak kami harus turun 
dari sepeda lalu sepeda dituntun bergantian dengan jumlah langkah 
yang diperhitungkan secara teliti. 

Tubuh Syahdan yang kecil terlonjak-lonjak di atas batang sepe- 
da laki punya Pak Harfan saat ia bersusah payah mengayuh pedal. 
Sepeda itu terlalu besar untuknya sehingga tampak seperti kendara- 
an yang tak bisa ia kuasai, apalagi dibebani tubuhku di tempat du- 
duk belakang. Namun, ia bertekad terus mengayuh sekuat tenaga. 
Siapa pun yang melihat pemandangan itu pasti prihatin sekaligus 
tertawa. Tapi suasana hatiku sedang tidak peka untuk segala bentuk 
komedi. Aku duduk di belakang, tak acuh pada kesusahannya. 

"Turun dulu, tuan raja ...," Syahdan menggodaku ketika sepeda 
kami menanjak. 

Ia ngos-ngosan, tapi tersenyum lebar dan membungkuk laksana 
seorang penjilat. Syahdan selalu riang menerima tugas apa pun, ter- 
masuk menyiram bunga, asalkan dirinya dapat menghindarkan diri 
dari pelajaran di kelas. Baginya acara pembelian kapur ini adalah va- 
kansi kecil-kecilan sambil melihat beragam kegiatan di pasar dan ke- 
sempatan mengobrol dengan beberapa wanita muda pujaannya. Aku 



187 



Andrea Hirata 



turun dengan malas, dingin, tak tertarik dengan kelakar-nya, dan tak 
punya waktu untuk bertoleransi pada penderitaan pria kecil ini. 

Kami sampai di sebuah Toapekong. Di depannya ada bangunan 
rendah berbentuk seperti kue bulan dan di tengah bangunan itu ter- 
tempel foto hitam putih wajah serius seorang nyonya yang disimpan 
dalam bidang yang ditutupi kaca. Lelehan lilin merah berserakan di 
sekitarnya. Itulah kuburan yang kumaksud taid dalam perjanjian ka- 
mi, maka tibalah giliranku mengayuh sepeda. 

Aku naiki sepeda itu tanpa selera, setengah hati, dan sejak gelin- 
dingan roda yang pertama aku sudah memarahi diriku sendiri, me- 
nyesali tugas ini, toko busuk itu, dan pengaturan bodoh yang kami 
baut. Aku menggerutu karena rantai sepeda reyot itu terlalu kencang 
sehingga berat untuk aku mengayuhnya. Aku juga mengeluh karena 
hukum yang tak pernah memihak orang kecil: sadel yang terlalu 
tinggi, parak oruptor yang bebas berkeliaran seperti ayam hutan, 
Syahdan yang berat meskipun badannya kecil, dunia yang tak per- 
nah adil, dan baut dinamo sepeda yang longgar sehingga girnya me- 
nempel di ban akibatnya semakin berat mengayuhnya dan menyala- 
kan lampu sepeda di siang bolong ini persis kendaraan pembawa je- 
nazah. 

Syahdan duduk dengan penuh nikmat di tempat duduk bela- 
kang sambil menyiul-nyiulkan lagu Semalam di Malaysia. la tak am- 
bil pusing mendegar ocehanku, peluh hampir masuk ke dalam kelo- 
pak matanya tapi wajahnya riang gembira tak alang kepalang. 

Lalu kami memasuki wilayah bangunan permanen yang berde- 
ret-deret, berhadapan satu sama lain hampir beradu atap. Inilah 
jejeran toko kelontong dengan konsep menjual semua jenis barang. 
Sepeda kami meliuk-liuk di antara truk-truk raksasa yang diparkir 



188 



Ada Chita di Toko Kefontong Bobrok Itu 

seenaknya di depan warung-warung kopi. Di sana hiruk pikuk para 
karyawan rendahan PN Timah, pengangguran, bromocorah, pen- 
siunan, pemulung besi, polisi pamong praja, kuli panggul, sopir 
mobil omprengan, para penjaga malam, dan pegawai negeri. Pem- 
bicaraan mereka selalu seru, tapi selalu tentang satu topik, yaitu me- 
maki-maki pemerintah. 

Setelah deretan warung kopi lalu berdiri hitam berminyak-mi- 
nyak beberapa bengkel sepeda dan tenda-tenda pedagang kaki lima. 
Kelompok ini berada di sela-sela mobil omprengan dan para peda- 
gang dadakan dari kampung yang menjual berbagai hasil bumi da- 
lam keranjang-keranjang pempang 22 . Pedagang kampung ini men- 
jual beragam jenis rebung, umbi-umbian, pinang, sirih, kayu bakar, 
madu pahit, jeruk nipis, gaharu, dan pelanduk yang telah diasap. 
Bagian akhirp asar ini adalah meja-meja tua panjang, parit-parit ke- 
cil yang mampet, dan tong-tong besar untuk menampung jeroan 
ikan, sapi, dan ayam. Baunya membuat perut mual. Inilah pasar 
ikan. 

Pasar ini sengaja ditempatkan di tepi seungai dengan maksud 
seluruh limbahnya, termasuk limbah pasar ikan, dapat dengan mu- 
dah dilungsurkan ke sungai. Tapi pasar ini berada di dataran rendah. 
Akibatnya jika laut pasang tinggi sungai akan menghanyutkan kem- 
bali gunungan sampah organik itu menuju lorong-lorong sempit pa- 
sar. Lalu ketika air surut sampah itu tersangkut pada kaki-kaki meja, 
tumpukan kaleng, pagar-pagar yang telah patah, pangkal-pangkal 
pohon seri, dan tiang-tiang kayu yang centang perenang. Demikian- 
lah pasar kami, hasil karya perencanaan kota yang canggih dari para 



22 Keranjang pempang: keranjang yang bercabang agar bisa diletakkan di bagian 
belakang sepeda. 



189 



Andrea Hirata 



arsitek Melayu yang paling kampungan. Tidak dekaden tapi kacau 
balau bukan main. 

Toko Sinar Harapan terletak sangat strategis di tengah pusaran 
bau busuk. la berada di antara para pedagang kaki lima, bengkel se- 
peda, mobil-mobil omprengan, dan pasar ikan. 

Pembelian sekotak kapur adalah transaksi yang tak penting se- 
hingga pembelinya hams menunggu sampai juragan toko selesai 
melayani sekelompok pria dan wanita yang menutup kepalanya 
dengan sarung dan berpakaian dengan dominasi warna kuning, hi- 
jau, dan merah. Di sekujur tubuh wanita-wanita ini bertaburan per- 
hiasan emas— asli maupun imitasi, perak, dan kuningan yang sangat 
mencolok. 

Mereka tidak tertarik untuk berbasa-basi dengan orang-orang 
Melayu di sekelilingnya. Mereka hanya berbicara sesama mereka 
sendiri atau sedikit bicara dengan Bang Sad atau "bangsat". Itulah 
panggilan untuk Bang Arsyad, orang Melayu, tangan kanan A 
Miauw sang juragan Toko Sinar Harapan, karena kadang-kadang 
tabiat Bang Sad tak jauh dari namanya. Pria-pria bersarung ini 
berbicara sangat cepat dengan nada yang beresklasi harmonis naik 
turun dalam band yang lebar, maka akan terdengar persis pola aku- 
mulatif suara ombak menghempas pantai, suatu lingua yang sangat 
cantik. 

A Miauw sendiri adalah sesosok teror. Pira yang sok mendapat 
hoki ini sangat berlagak bagai bos. Tubuhnya gendut dan ia selalu 
memakai kaus kutang, celana pendek, dan sandal jepit. Di tangannya 
tak pernah lepas sebuah buku kecil panjang bersampul otif batik, 
buku utang. Pensil terselip di daun telinganya yang berdaging seperti 



190 



Ada Chita di Toko Kefontong Bobrok Itu 

bakso dan di atas mejanya ada sempoa besar yang jika dimainkan 
bunyinya mampu merisaukan pikiran. 

Tokonya lebih cocok jika disebut gudang rabat. Ratusan jenis 
barang bertumpuk-tumpuk mencapai plafon di dalam ruangan kecil 
yang sesak. Selain berbagai jenis sayur, buah, dan makanan di dalma 
baskom-baskom karatan tadi, toko ini juga menjual sajadah, asinan 
kedondong dalma stopelas-stoples tua, pita mesin tik, dan cat besi 
dengan bonus kalender wanita berpakaian seadanya.Di dalam 
sebuah bufet kaca panjang dipajang bedak kerang pemutih wajah 
murahan, tawas, mercon, peluru senapan angin, racun tikus, 
kembang api, dan antena TV. Jika kita terburu-buru membeli obat 
diare cap kupu-kupu, maka jangan harap A Miauw dapat segera 
menemukannya. Kadang-kadang ia sendiri tak tahu di mana puyer 
itu disimpan. Ia seperti tertimbun dagangan dan tenggelam di 
tengah pusaran barang-barang kelontong. 

"Kiak-kiak!" 

A Miauw memanggil tak sabar, dan Bang Sad tergopoh-gopoh 
menghampirinya. 

"Magai di Manggara masempo linnaT' 

Orang-orang bersarung keberatan ketika mengamati harga kaus 
lampu petromaks. Di Manggar lebih murah kata mereka. 

"Kito lui, ba? Ngape de Manggar harge e lebe muraT 

Bang Sad menyampaikan keluhan itu pada juragannya dalam 
bahasa Kek campur Melayu. 

Aku sudah muak di dalam toko bau ini tapi sedikit terhibur 
dengan percakapan tersebut. Aku baru saja menyaksikan bagaimana 
kompleksitas perbedaan budaya dalam komunitas kami didemon- 



191 



Andrea Hirata 

strasikan. Tiga orang pria dari akar etnik yang sama sekali berbeda 
berkomunikasi dengan tiga macam bahasa ibu masing-masing, 
campur aduk. 

Orang-orang yang berjiwa penuh prasangka akan menduga A 
Miauw sengaja merekayasa konfigurasi komunikasi seperti itu untuk 
keuntungannya sendiri, namun mari kugambarkan sedikit kepri- 
badian A Miauw. la memang pria congkak dengan intonasi bicara 
tak enak didengar, wajahnya juga seperti orang yang selalu ingin 
memerintah, kata-katanya tidak bersahabat, dan badannya bau 
tengik bawang putih, tapi ia adalah seorang Kong Hu Cu yang taat 
dan dalam hal berniaga ia jujur tak ada bandingannya. 

Maka dalam harmoni masyarakat kami, warga Tionghoa adalah 
pedagang yang efisien. Adapun para produsen berada di negeri 
antah berantah, mereka hanya kami kenal melalui tulisan made in... 
yang tertera di buntut-buntut panci. Orang-orang Melayu adalah 
kaum konsumen yang semakin miskin justru semakin konsumtif. 
Sedangkan orang-orang pulau berkerudung tadi adalah para 
pembuka lapangan kerja musiman bagi warga suku Sawang yang 
memanggil belanjaan mereka. 

"Segere! Siun! Siun!" hardik tiga orang Sawang, kuli panggul, 
yang numpang lewat, membuyarkan lamunanku. Mereka adalah 
kawan yang telah lama kukenal. Dolen, Baset, dan Kunyit, begitulah 
nama mereka. Agaknya urusan A Miauw dengan orang-orang ber- 
kerudung itu telah selesai dan sekarang masuklah ia ke transaksi 
kapur. 

"Aya...ya..., Muhammadiyah! Kapur tulis!" keluh A Miauw 
menarik napas panjang, seolah kami hanya akan merusak hokinya. 



192 



Ada Chita di Toko Kefontong Bobrok Itu 

Acara pembelian kapur adalah rutin dan sama. Setelah me- 
nunggu sekian lama sampai hampir pingsan di dalam toko bau itu, 
A Miauw akan berteriak nyaring memerintahkan seseorang meng- 
ambil sekotak kapur. Lalu dari ruang belakang akan terdengar te- 
riakan jawaban dari seseorang— yang selalu kuduga seorang gadis 
kecil— yang juga berbicara nyaring, lantang, dan cepat seperti kicau- 
an burung murai batu. 

Kotak kapur dikeluarkan melalui sebuah lubang kecil persegi 
empat seperti kandang burung merpati. Yang terlihat hanya sebuah 
tangan halus, sebelah kanan, yang sangat putih bersih, menjulurkan 
kotak kapur melalui lubang itu. Wajah pemilik tangan ini adlaah 
misterius, sang burung murai batu tadi, tersembunyi di balik din- 
ding papan yang membatasi ruangan tengah toko dengan gudang 
barang dagangan di belakang. Sang misteri ini tidak pernah bicara 
sepatah kata pun padaku. la menjulurkan kotak kapur dengan ter- 
gesa-gesa dan menarik tangannya cepat- cepat seperti orang meng- 
umpankan daging ke kandang macan. Demikianlah berlangsung 
bertahun-tahun, prosedurnya tetap, itu-itu saja, takberubah. 

Jika tangannya menjulur tak kulihat ada cincin di jari-jemarinya 
yang lentik, halus, panjang-panjang, dan ramping, namun siuk a, 
gelang giok indah berwarna hijau tampak berkarakter dan melingkar 
garang pada pergelangan tangannya yang ditumbuhi bulu-bulu ha- 
lus. Dalam hatiku, jika kau berani macam-macam pastilah jemari- 
nya secepat patukan bangau menusuk kedua bola mataku dengan 
gerakan kuntau yang tak terlihat. Mungkin pula gelang giok yang 
selalu membuatku segan itu diwarisinya dari kakeknya, seorang 
suhu sakti, yang mendapatkan gelang itu dari mulut seekor naga 
setelah naga itu dibinasaan dalam pertarunagan dahsyat untuk 



193 



Andrea Hirata 



merebut hati neneknya. Ah! Kiranya aku terlalu banyak nonton film 
shaolin. 

Namun, tahukah Anda? Di balik kesan yang garang itu, di ujung 
jari-jemari lentik si misterius ini tertanam paras-paras kuku nan 
indah luar biasa, terawat amat baik, dan sangat memesona, jauh 
lebih memesona dibanding gelang giok tadi. Tak pernah kulihat 
kuku orang Melayu seindah itu, apalagi kuku orang Sawang. la tak 
pernah memakai kuteks. Aliran urat-urat halus berwarna merah 
tersembunyi samarsamar di dalam kukunya yang saking halus dan 
putihnya sampai tampak transparan. Ujung-ujung kuku itu dipo- 
tong dengan presisi yang mengagumkan dalam bentuk seperti bulan 
sabit sehingga membentuk harmoni pada kelima jarinya. 

Permukaan kulit di seputar kukunya sangat rapi, menandakan 
perawatan intensif dengan merendamnya lama-lama di dalam beja- 
na yang berisi air hangat dan pucukpucuk daun kenanga. Ketika me- 
manjang, kuku-kuku itu bergerak maju ke depan dengan bentuk me- 
nunduk dan menguncup, semakin indah seperti batu-batu kecubung 
dari Martapura, atau lebih tepatnya seperti batu kinyang air muda 
kebiru-biruan yang tersembunyi di kedalaman dasar Sungai Mirang. 
Amat berbeda dengan kuku Sahar yang jika memanjang ia akan me- 
lebar dan makin lama semakin menganga, persis seperti mata pacul. 

Dan yang tercantik dari yang paling cantik adalah kuku jari ma- 
nisnya. Ia memperlihatkan seni perawatan kuku tingkat itnggi me- 
lalui potongan pendek natural dengan tepian kuku berwarna kulit 
yang klasik. Tak berlebihan jika kukatakan bahwa paras kuku jari 
manis nona misterius ini laksana batu merah delima yang terindah 
di antara tumpukan harta karun raja brana yang tak ternilai harga- 
nya. 



194 



Ada Chita di Toko Kefontong Bobrok Itu 

Aku sudah terlalu sering mendapatkan tugas membeli kapur 
yang menjengkelkan ini, sudah puluhan kali. Satu-satunya penghi- 
buran dari tugas horor ini adalah kesempatan menyaksikan sekilas 
kuku-kuku itu lalu menertawakan bagaimana kontrasnya kuku- 
kuku zamrud khatulistiwa tersebut dibanding potongan-potongan 
kecil terasi busuk di seantero toko bobrok ini. Karena terlalu sering, 
aku jadi hafal jadwal si nona misterius memotong kukunya setiap 
hari Jumat, lima minggu sekali. 

Demikianlah berlangsung selama beberapa tahun. Aku tak per- 
nah seklai pun melihat wajah nona ini dan ia pun sama sekali tak 
berminat melihat bagaimana rupaku. Bahkan setiap kuucapkan 
kamsia setelah kuterima kotak kapurnya, ia juga tidak menjawab. 
Diam seribu bahasa. Non penuh rahasia ini seperti pengejawantahan 
makhluk asing dari negeri antah berantah, dan ia dengan sangat 
konsisten menjaga jarak denganku. Tidak ada basa basi, tak ada 
ngobrol-ngobrol, tak ada buang-buang waktu untuk soal remeh-te- 
meh, yang ada hanya bisnis! 

Kadangkala aku penasaran ingin melihat bagaimana wajah pe- 
milik kuku-kuku nirwana itu. Apakah wajahnya seindah kuku-kuku- 
nya? Apakah jari-jari tangan kirinya seindah jari-jari tangan kanan- 
nya? Atau ... apakah dia Cuma punya satu tangan? Jangan-jangan dia 
tidak punya wajah! Tapi semua pikiran itu hanya di dalam hatiku 
saja. Tak ada niat sedikit pun untuk mengintip wajahnya. Mendapat 
kesempatan memandangi kuku-kukunya saja pun cukuplah untuk 
membuatku bahagia. Kawan, aku tidak termasuk dalam golongan 
pria-pria yang kurang ajar. 

Biasanya setelah mengambil kapur, ikami langsung pulang, A 
Miauw akan mencatat di buku utang dan nanti akan dilunasi Pak 
Harfan setiap akhir bulan. Kami tak berurusan dengan masalah ke- 



195 



Andrea Hirata 

uangan, dan ketika kami berlalu, si juragan itu tak sedikit pun me- 
lirik kami. la menjentikkan dengan keras biji-biji sempoe seolah 
mengingatkan "Utang kalian sudah menumpuk!" 

Bagi A Miauw kami adalah pelanggan yang tidak menguntung- 
kan, alias hanya merepotkan saja. Kalau sekali-kali Syahdan men- 
dekatinya untuk meminjam pompa sepeda, ia akan meminjamkan 
pompa itu sambil mengomel meledak-ledak. Aku benci sekali meli- 
hat kaus kutangnya itu. 

Sekarang sudah hampir tengah hari, udara s emakin panas. Ber- 
ada di tengah toko ini serasa direbus dalam panci sayur lodeh yang 
mendidih. Cuaca mendung tapi gerahnya tak terkira. Aku sudah tak 
tahan dan mau muntah. Untungnya A Miauw, seperti biasa, men- 
jerit memerintahkan nona misterius agar menjulurkan kapur di 
kotak merpati. Dengan pandangan matanya yang sok kuasa A 
Miauw memberiku isyarat untuk mengambil kapur itu. 

Aku berjalan cepat melintas karung-karung bawang putih te- 
ngik sambil menutup hidung. Aku bergegas agar tugas penuh siksa- 
an ini segera selesai. Namun, tinggal beberapa langkah mencapai 
kotak merpati sekejap angin semilir yang sejuk berembus meniup 
telingaku— hanya sekejap saja. Saat itu tak kusadari bahwa sang 
nasib yang gaib menyelinap ke dalam toko bobrok itu, mengepung- 
ku, dan menyergapku tanpa ampun, karena tepat pada momen itu 
kudengar si nona berteriak keras mengejutkan: 

"Haiyaaaaa.... !!!" 

Bersamaan dengan teriakan itu terdengar suara puluhan batang- 
an kapur jatuh di atas lantai ubin. 



196 



Ada Chita di Toko Kefontong Bobrok Itu 

Rupanya si kuku cantik sembrono sehingga ia menjatuhkan 
kotak kapur sebelum aku sempat mengambilnya. Maka kapur-kapur 
itu sekarang berserakan di lantai. 

"Ah...," keluhku. 

Agaknya aku harus merangkak-rangkak, memunguti kapur- 
kapur itu di sela-sela karung buah kemiri, meskipun kulitnya telah 
dikelupas, tapi buahnya masih basah sehingga berbau memusingkan 
kepala. Kuperlukan bantuan Syahdan, namun kulihat ia sedang ber- 
bicara dengan putri tukang hok lo pan atau martabak terang bulan 
seperti orang menceritakan dirinya sedang banyak uang karena baru 
saja selesai menjual 15 ekor sapi. Aku tak mau mengganggu saat-saat 
gombalnya itu. 

Maka apa boleh buat, kupunguti susah payah kapur-kapur itu. 
Sebagian kapur itu jatuh di bawah daun pintu terbuka yang dibatasi 
oleh tirai yang amat rapat, terbuat dari rangkaian keong-keong kecil. 
Aku tahu di balik tirai itu, sang nona itu juga memunguti kapur 
karena kudengar gerutuannya. 

"Haiyaaa ... haiyaaa ...." 

Ketika aku sampai pada kapur-kapur yang berserakan persis di 
bawah tirai itu, hatiku berkata pasti nona ini akan segera menutup 
pintu agar aku tidak punya kesempatan sedikit pun untuk melihat 
dia lebih dari melihat kukunya, namun yang terjadi kemudian 
sungguh di luar dugaan. Kejadiannya sangat mengejutkan, karena 
amat cepat, tanpa disangka sama sekali, si nona misterius justru tiba- 
tiba membuka tirai dan tindakan cerobohnya itu membuat wajah 
kami sama-sama terperanjat hampir bersentuhan!!! Kami beradu 
pandang dekat sekali ... dan suasana seketika menjadi hening .... 
Mata kami bertatapan dengan perasaan yang tak dapat kulukiskan 



197 



Andrea Hirata 

dengan kata-kata. Kapur-kapur yang telah ia kumpulkan terlepas 
dari genggamannya, jatuh berserakan, sedangkan kapur-kapur yang 
ada di genggamanku terasa dingin membeku seperti aku sedang 
mencengkeram batangan-batangan es lilin. 

Saat itu kau merasa jarum detik seluruh jam yang ada dunia ini 
berhenti berdetak. Semua gerakan alam tersentak diam dipotret 
Tuhan dengan kamera raksasa dari langit, blitz-nya membutakan, 
flashW. Menyilaukan dan membekukan. Aku terpana dan merasa se- 
perti melayang, mati suri, dan mau pingsan dalam ekstase. Aku tahu 
A Miauw pasti sedang berteriak-teriak tapi aku tak mendengar 
sepatah kata pun dan aku tahu persis bau busuk toko itu semakin 
menjadi-jadi dalam udara pengap di bawah atap seng, tapi panca- 
indraku telah mati. Aliran darah di sekujur tubuhku menjadi dingin, 
jantungku berhenti berdetak sebentar kemudian berdegup kencang 
sekali dengan ritme yang kacau seperti kode morse yang meletup- 
letupkan pesan SOS. Lebih dari itu aku menduga bahwa dia, si 
misterius berkuku seindah pelangi, yang tertegun seperti patung 
persis di depan hidungku ini, agaknya juga dilanda perasaan yang 
sama. 

"Siun! Siunl Segere...!" teriak kuli-kuli Sawang, terdengar samar, 
menggema jauh berulang-ulang seperti didengungkan di dalma gua 
yang panjang dan dalam, mereka memintaku minggir. 

Tapi kami berdua masih terpaku pandang tanpa mampu ber- 
kata apa pun, lidahku terasa kelu, mulutku terkunci rapat— lebih 
tepatnya ternganga. Tak ada satu kata pun yang dapat terlaksana. 
Aku tak sanggup beranjak. Wanita ini memiliki aura yang melum- 
puhkan. Tatapan matanya itu mencengkeram hatiku. 



198 



Ada Chita di Toko Kefontong Bobrok Itu 

Ia memiliki struktur wajah lonjong dengan air muka yang sa- 
ngat menawan. Hidungnya kecil dan bangir. Garis wajahnya tirus 
dengan tatapan mata kharismatik menyejukkan sekaligus menguat- 
kan hati, seperti tatapan wanita-wanita yang telah menjadi ibu suri. 
Jika menerima nasihat dari wanita bermata semacam ini, semangat 
pria mana pun akan berkobar. 

Bajunya ketat dan bagus seperti akan berangkat kondangan, 
dengan dasar biru dan motif kembang portlandica kecil-kecil ber- 
warna hijau muda menyala. Kerah baju itu memiliki kancing sebesar 
jari kelingking, tinggi sampai ke leher, merefleksikan keanggunan 
seorang wanita yang menjaga integritasnya dengan keras. Alisnya 
indah alami dan jarak antara alis dengan batas rambut di keningnya 
membentuk proporsi yang cantik memesona. la adalah lukisan 
Monalisa yang ditenggelamkan dalam danau yang dangkal dan 
dipandangi melalui terang cahaya bulan. 

Seperti kebanyakan ras Mongoloid, tulang pipinya tidak me- 
nonjol, tapi bidang wajahnya, bangun bahunya, jenjang lehernya, 
potongan rambutnya, dan jatuh dagunya yang elegan menciptakan 
keseluruhan kesan dirinya benar-benar mirip Michelle Yeoh, bin- 
tang film Malaysia yang cantik itu. Maka terkuaklah rahasia yang 
tertutup rapi selama bertahun-tahun. Sang pemilik kuku-kuku indah 
itu ternyata seorang wanita muda cantik jelita dengan aura yang tak 
dapat dilukiskan dengan cara apa pun. 

Kejadian ini membuat pipinya yang putih bersih tiba-tiba 
memerah dan matanya yang sipit bening seperti ingin menghambur- 
kan air mata. Aku tahu bahwa selain sejuta perasaan tadi yang 
mungkin sama-sama melanda kami, ia juga merasakan malu tak ter- 
kira. Ia bangkit dengan cepat dan membanting pintu tanpa ampun. 



199 



Andrea Hirata 

la tak peduli dengan kapur-kapur itu dan tak peduli padaku yang 
masih hilang dalam tempat dan waktu. 

Suara keras bantingan pintu itu membuatku siuman dari sebuah 
pesona yang memabukkan dan menyadarkan aku bahwa aku telah 
jatuh cinta. Aku limbung, kepalaku pening dan pandangan mataku 
berkunang-kunang karena syok berat. Beberapa waktu berlalu aku 
masih terduduk terbengong-bengong bertumpu di atas lututku yang 
gemetar. Aku mencoba mengatur napas dan darahku berdesir 
menyelusuri seluruh tubuhku yang berkeringat dingin. Aku baru 
saja dihantam secara dahsyat oleh cinta pertama pada pandangan 
yang paling pertama. Sebuah perasaan hebat luar biasa yang 
mungkin dirasakan manusia. 

Aku berupaya keras bangun dan ketika aku menoleh ke 
belakang, orang-orang di sekelilingku, Syahdan yang mengham- 
piriku, A Miauw yang menunjuk-nunjuk, orang-orang bersarung 
yang pergi beriringan, dan kuli-kuli Sawang yang terhuyunghuyung 
karena beban pikulannya, mereka semuanya, seolah bergerak seperti 
dalam slow motion, demikian indah, demikian anggun. Bahkan para 
uli panggul yang memilikul karung jengkol tiba-tiba bergerak penuh 
wibawa, santun, lembut, dan berseni, seolah mereka sedang mempe- 
ragakan busana Armani yang sangat mahal di atas catwalk. 

Aku tak peduli lagi dengan kotak kapur yang isinya tinggal 
setengah. Aku berbalik meninggalkan toko dan merasa kehilangan 
seluruh bobot tubuh dan beban hidupku. Langkahku ringan laksana 
orang suci yang mampu berjalan di atas air. A ku menghampiri 
sepeda reyot Pak Harfan yang sekarang terlihat seperti sepeda keran- 
jang baru. Aku dihinggapi semacam perasasaan bahagia yang aneh, 
sebuah rasa bahagia bentuk lain yang belum pernah kualami sebe- 
lumnya. Rasa bahagia ini melebihi ketika aku mendapat hadiah 



200 



Ada Chita di Toko Kefontong Bobrok Itu 

radio transistor 2-band dari ibuku sebagai upah mau disunat tempo 
hari. 

Ketika mempersiapkan sepeda untuk pulang, aku mencuri 
pandang ke dalam toko. Kulihat dengan jelas Michele Yeoh meng- 
intipku dari balik tirai keong itu. la berlindung, tapi sama sekali tak 
menyembunyikan persaaannya. Aku kembali melayang menembus 
bintang gemerlapan, menari-nari di atas awan, menya-nyikan lagu 
nostalgia Have I Told You Lately That I Love You. Aku menoleh lagi 
ke belakang, di situ, di antara tumpukan kemiri basah yang tengik, 
kaleng-kaleng minyak tanah, dan karung-karung pedak cumi aku 
telah menemukan cinta. 

Kutatap Syahdan dengan senyum terbaik yang aku memiliki— ia 
membalas dengan pandangan aneh— lalu kuangkat tubuhnya yang 
kecil untuk mendudukkannya di atas sepeda. Aku ingin, degnan 
gemira, mengayuh sepeda itu, membonceng Syahdan, mengantarnya 
ke tempat-tempat di mana saja di jagad raya ini yang ia inginkan. 
Oh, inilah rupanya yang disebut mabuk kepayang! 

Dalam perjalanan pulang aku dengan sengaja melanggar perjan- 
jian. Setelah kuburan Tionghoa aku tak meminta Syahdan meng- 
gantikanku. Karena aku sedang bersukacita. Seluruh energi positif 
kosmis telah memberiku kekuatan ajaib. Semua terasa adil kalau 
sedang jatuh cinta. Cinta memang sering membuat perhitungan 
menjadi kacau. Sepanjang perjalanan aku bersiul dengan lagu yang 
tak jelas. Lagu tanpa harmoni; lagu yang belum pernah tercipta, 
karena yang menyanyi bukan mulutku, tapi hatiku. Jika sedang tak 
bersiul di telingaku tak henti-henti berkumandang lagu All I Have to 
Do is Dream. 



201 



Andrea Hirata 

Seusai pelajaran aku dan Syahdan dipanggil Bu Mus untuk 
mempertanggungjawabkan kapur yang kurang. Aku diam meatung, 
tak mau berdusta, tak mau menjawab apa pun yang ditanyakan, dan 
tak mau membantah apa pun yang dituduhkan. Aku siap menerima 
hukuman seberat apa pun— termasuk jikalau harus mengambil 
ember yang kemarin dijatuhkan Trapani di sumur horor itu. Saat itu 
yang ada di pikiranku hanyalah Michele Yeoh, Michele Yeoh, dan 
Michele Yeoh, serta detik-detik ketika cinta menyergapku tadi. 
Hukuman yang kejam hanya akan menambah sentimentil suasana 
romantis di mana aku rela masuk sumur maut dunia lain sebagai 
pahlawan cinta pertama .... Ah! Cinta ... 

Benar saja hukumannya seperti kuduga. Sebelum turun ke 
dalam sumur sempat kulihat Bu Mus menginterogasi Syahdan yang 
mengangkat-angkat bahunya yang kecil, menggeleng-gelengkan 
kepalanya, dan menyilangkan jarinya di kening. "Hah! la menuduh- 
ku sudah sin ting ...?" 



^Q^^sS^ 



202 



Jvfomn 



BARU kali ini Mahar menjadi penata artistik karnaval, dan karnaval 
ini tidak main-main, inilah peristiwa besar yang sangat penting, kar- 
naval 17 Agustus. Sebenarnya guru-guru kami agak pesimis karena 
alasan klasik, yaitu biaya. Kami demikian miskin sehingga tak per- 
nah punya cukup dana untuik membuat karnaval yang representatif. 
Para guru juga merasa malu karena parade kami kumuh dan itu-itu 
saja. Namun, ada sedikit harapan tahun ini. Harapan itu adalah Ma- 
har. 

Karnaval 17 Agustus sangat potensial untuk meningkatkan 
gengsi sekolah, sebab ada penilaian serius di sana. Ada kategori bu- 
sana terbaik, parade paling megah, peserta paling serasi, dan yang 
paling bergengsi: penampil seni terbaik. Gengsi ini juga tak terlepas 
dari integritas para juri yang dipimpin oleh seorang seniman senior 
yang sudah kondang, Mbah Suro namanya. Mbah Suro adalah orang 
Jawa, ia seniman Yogyakarta yang hijrah ke Belitong karena idealis- 



Andrea Hirata 

me berkeseniannya. Karena sangat idelais maka tentu saja Mbah Su- 
ro juga sangat melarat. 

Seperti telah diduga siapa pun, seluruh kategori— mulai dari 
juara pertama sampai juara harapan ketiga— selalu diborong sekolah 
PN. Kadang-kadang sekolah negeri mendapat satu dua sisa juara 
harapan. Sekolah kampung tak pernah mendapat penghargaan apa 
pun karena memang tasmpil sangat apa adanya. Tak lebih dari peng- 
gembira. 

Sekolah-sekolah negeri mampu menyewa pakaian adat lengkap 
sehingga tampil memesona. Sekolah-sekolah PN lebih keren lagi. 
Parade mereka berlapis-lapis, paling panjang, dan selalu berada di 
posisi paling strategis. Barisan terdepan adalah puluhan sepeda ke- 
ranjang baru yang dihias berwarna-warni. Bukan hanya sepedanya, 
pengendaranya pun dihias dengan pakaian lucu. Lonceng sepeda 
dibunyikan dengan keras bersama-sama, sungguh semarak. 

Pada lapisan kedua berjejer mobil-mobil hias yang dindandani 
berbentuk perahu, pesawat terbang, helikopter, pesawat ulang alik 
Apollo, taman bunga, rumah adat Melayu, bahkan kapal keruk. Di 
atas mobil-mobil ini berkeliaran putri-putri kecil berpakaian putih 
bersih, bermahkota, dengan rok lebar seperti Cinderella. Putri-putri 
peri ini membawa tongkat berujung bintang, melambai-lambaikan 
tangan pada para penonton yang bersukacita dan melempar-lem- 
parkan permen. 

Setelah parade mobil hias muncullah barisan para profesional, 
yaitu para murid yang berdandan sesuai dengan cita-cita mereka. 
Banyak di antara mereka yang berjubah putih, berkacamata tebal, 
dan mengalungkan stetoskop. Tentulah anak-anak ini nanti jika 
sudah besar ingin jadi dokter. 



204 



Moran 

Ada juga para insinyur dengan pakaian overall dan berbagai 
alat, seperti test pen, obeng ,dan berbagai jenis kunci. Beberapa siswa 
membawa buku-buku tebal, mikroskop, dan teropong bintang kare- 
na ingin menjadi dosen, ilmuwan, dan astronom. Selebihnya berse- 
ragam pilot, pramugari, tentara, kapten kapal, dan polisi, gagah se- 
kali. Guru-gurunya — di bawah komando Ibu Frischa— tampak 
sangat bangga, mengawal di depan, belakang, dan samping barisan, 
masing-masing membawa handy talky. 

Setelah lapisan profesi tadi muncul lapisan penghibur yang me- 
narik. Inilah kelompok badut-badut, para pahlawan super seperti 
Superman, Batman, dan Captain America. Balon-balon gas me- 
nyembul-nyembul dibawa oleh kurcaci dengan tali-tali setinggi tiang 
telepon. Dalam barisan ini juga banyak peserta yang memakai baju 
binatang, mereka menjadi kuda, laba-laba, ayam jago, atau ular-ular 
naga. Mereka menari-nari raing dengan koreografi yang menarik. 
Mereka juga bernyanyi-nyanyi sepanjang jalan, mendendangkan 
lagu anak-anak yang riang. Yang paling menponjol dari penampilan 
kelompok ini adalah serombongan anak-anak yang berjalan-jalan 
memakai engrang. Di antara mereka ada seorang anak perempuan 
dengan egrang paling tinggi melintas dengan tangkas tanpa terlihat 
takut akan jatuh. Dialah Flo, dan dia melangkah ke sana kemari 
sesuka hatinya tanpa aturan. Penata rombongan ini susah payah 
menertibkannya tapi ia tak peduli. Ayah ibunya tergopoh-gopoh 
mengikutinya, berteriak-teriak menyuruhnya berhati-hati, Flo ber- 
lari-lari kecil di atas egrang itu membuat kacau barisannya. 

Penutup barisan karnaval sekolah PN adalah barisan marching 
band. Bagian yang paling aku sukai. Tiupan puluhan trombon 1 lak- 



1 Trombon: alat musik tiup berbentuk trompet panjang dan cara memainkannya 
ditiup sambil menyorong dan menarik alat pada pipa trompet tersebut. 



205 



Andrea Hirata 

sana sangkakala hari kiamat dan dentuman timpani menggetarkan 
dadaku. Marching band sekolah PN memang bukan sembarangan. 
Mereka disponsori sepenuhnya oleh PN Timah. Koreografer, pe- 
nata busana, dan penata musiknya didatangkan khusus dari Jakarta. 
Tidak kurang dari seratus lima puluh siswa terlibat dalam marching 
band ini, termasuk para colour guard yang atraktif. Tanpa marching 
band sekolah PN, karnaval 17 Agustus akan kehilangan jiwanya. 

Puncak penampilan parade karnaval sekolah PN adalah saat ba- 
risan panjang marching band membentuk fomrasi dua kali putaran 
jajaran genjang sambil memberi penghormatan di depan podium 
kehormatan. Dengan penataan musik, koregrafi, dan busana yang 
demikian luar biasa, marching band PN selalu menyabet juara 
pertama untuk kategori yang paling bergengsi tadi, yaitu Penampil 
Seni Terbaik. Kategori ini sangat menekankan konsep performing art 
dalam trofinya adalah idaman seluruh peserta. Sudah belasan tahun 
terakhir, tak tergoyahkan, trofi tersebut terpajang abadi di lemari 
prestisius lambang supremasi sekolah PN. 

Podium kehormatan merupakan tempat terhormat yang ditem- 
pati makhlukmakhluk terhormat, yaitu Kepala Wilayah Operasi PN 
Timah, sekretarisnya, seseorang yang selalu membawa walky talky, 
beberapa pejabat tinggi PN Timah, Pak Camat, Pak Lurah, Kapolsek, 
Komandan Kodim, para Kepala Desa, para tauke, Kepala Puskesmas, 
para Kepala Dinas, Tuan Pos, Kepala Cabang Bank BRI, Kepala 
Suku Sawang, dan kepala-kepala lainnya, beserta ibu. Podium ini 
berada di tengah-tengah pasar dan di sanalah pusat penonton yang 
paling ramai. Masyarakat lebih suka menonton di dekat podium 
daripada di pinggir-pinggir jalan, karena di podium para peserta di- 
wajibkan beraksi, menunjukkan kelebihan, dan mempertontonkan 
atraksi andalannya sambil memberi penghormatan. Di sudut podi- 



206 



Moran 



um itulah bercokol Mbah Suro dan para juri yang akan memberi pe- 
nilaian. 

Bagi sebagian warga Muhammadiyah, karnaval justru peng- 
alaman yang kurang menyenangkan, kalau tidak bisa dibilang 
traumatis. Karnaval kami hanya terdiri atas serombongan anak kecil 
berbaris banjar tiga, dipimpin oleh dua orang siswa yang membawa 
spanduk lambang Muhammadiyah yang terbuat dari kain belacu 
yang sudah lusuh. Spanduk itu tergantung menyedihkan di antara 
dua buah bambu kuning seadanya. Di belakangnya berbaris para 
siswa yang memakai sarung, kopiah, dan baju takwa. Mereka 
melambangkan tokoh-tokoh Sarekat Islam dan pelopor Muham- 
madiyah tempo dulu. 

Samson selalu berpakaian seperti penjaga pintu air. Tentu bu- 
kan karena setelah besar ia ingin jadi penjaga pintu air seperti ayah- 
nya, tapi hanya itulah kostum karnaval yang ia punya. Sedangkan 
pakaian tetap Syahdan adalah pakaian nelayan, juga sesuai dengan 
profesi ayahnya. Adapun A Kiong selalu mengenakan baju seperti 
juri kunci penunggu gong sebuah perguruan shaolin. 

Sebagian besar siswa memakai sepatu bot tinggi, baju kerja te- 
rusan, dan helm pengaman. Pakaian ini juga milik orangtuanya. Me- 
reka memperagakan diri sebagai buruh kasar PN Timah. Beberapa 
orang yang tidak memiliki sepatu bot atau helm tetap nekat berpara- 
de memakai baju terusan. Jika ditanya, mereka mengatakan bahwa 
mereka adalah buruh timah yang sedang cuti. 

Selebihnya memanggul setandan pisang, jagung, dan semanggar 
kelapa. Ada pula yang membawa cangkul, pancing, beberapa jerat 
tradisional, radio, ubi kayu, tempat sampah, dan gitar. Agar lebih 
dramatis Syahdan membawa sekarung pukat, Lintang meniup-niup 



207 



Andrea Hirata 

peluit karena ia wasit sepak bola, sementara aku dan Trapani berlari 
ke sana kemari mengibas-ngibaskan bendera merah karena kami 
adalah hakim garis. 

Beberapa siswa memikul kerangka besar tulang belulang ikan 
paus, membawa tanduk rusa, membalut dirinya dengan kulit buaya, 
dan menuntun beruk peliharaan— tak jelas apa maksudnya. Seorang 
siswa tampak berpakaian rapi, memakai sepatu hitam, celana 
panjang warna gelap, ikat pinggang besar, baju putih lengan panjang 
dan menenteng sebuah tas koper besar. Siswa ajaib ini adalah Harun. 
Tak jelas profesi apa yang diwakilinya. Di mataku dia tampak seperti 
orang yang diusir mertua. 

Demikianlah karnaval kami setiap tahun. Tak melambangkan 
cita-cita. Mungkin karena kami tak berani bercita-cita. Setiap siswa 
disarankan memakai pakaian profesi orangtua karena kami tak 
punya biaya untuk membuat atau menyewa baju karnaval. Semua- 
nya adalah wakil profesi kaum marginal. Maka dalam hal ini Kucai 
juga berpakaian rapi seperti Harun dan ia melambai-lam-baikan se- 
pucuk kartu pensiun kepada para penonton sebab ayahnya adalah 
pensiunan. Sedangkan beberapa adik kelasku terpaksa tidak bisa me- 
ngikuti karnaval karena ayahnya pengangguran. 

Satu-satunya daya tarik karnaval kami adalah Mujis. Meskipun 
bukan murid Muhammadiyah namun tukang semprot nyamuk ini 
selalu ingin ikut. Dengan dua buah tabung seperti penyelam di 
punggungnya dan topeng yang berfungsi sebagai kacamata dan pe- 
nutup mulut seperti moncong babi, ia menyemprotkan asap tebal 
dan anak-anak kecil yang menonton di pinggir jalan berduyun- 
duyun mengikutinya. 



208 



Moran 

Jika melewati podium kehormatan, biasanya kami berjalan ce- 
pat-cepat dan berdoa agar parade itu cepat selesai. Nyaris tak ada 
kesenangan karena minder. Hanya Harun, dengan koper zaman The 
Beatles-nya tadi yang melenggang pelan penuh percaya diri dan me- 
lemparkan senyum penuh arti kepada para petinggi di podium ke- 
hormatan. 

Mungkin dalam hati para tamu terhormat itu bertanya-tanya, 
"Apa yang dilakukan anak-anak bebek ini?" 

Kenyataan inilah yang memicu pro dan kontra di antara murid 
dan guru Muhammadiyah setiap kali akan karnaval. Beberapa guru 
menyarankan agar jangan ikut saja daripada tampil seadanya dan 
bikin malu. Mereka yang gengsian dan tak kuat mental seperti Sa- 
hara jauh-jauh hari sudah menolak berpartisipasi. Maka sore ini, 
Pak Harfan, yang berjiwa demokratis, mengadakan rapat terbuka di 
bawah pohon fillicium. Rapat ini melibatkan seluruh guru dan mu- 
rid dan Mujis. 

Beliau diserang bertubi-tubi oleh para guru yang tak setuju ikut 
karnaval, tapi beliau dan Bu Mus berpendirian sebaliknya. Suasana 
memanas. Kami terjebak di tengah. 

"Karnaval ini adalah satu-satunya cara untuk menunjukkan 
kepada dunia bahwa sekolah kita ini masih eksis di muka bumi ini. 
Sekolah kita ini adalah sekolah Islam yang mengedepankan peng- 
ajaran nilai-nilai religi, kita harus bangga dengan hal itu!" 

Suara Pak Harfan bergemuruh. Sebuah pidato yang menggetar- 
kan. Kami bersorak sorai mendukung beliau. Tapi tak berhenti sam- 
pai di situ. 



209 



Andrea Hirata 

"Kita hams karnaval! Apa pun yang terjadi! Dan biarlah tahun 
ini para guru tidak ikut campur, mari kita beri kesempatan kepada 
orang-orang muda berbakat seperti Mahar untuk menunjukkan 
kreativitasnya, tahukah kalian ... dia adalah seniman yang genius!" 

Kali ini tepuk tangan kami yang bergemuruh, gegap gempita 
sambil berteriakteriak seperti suku Mohawk berperang. Pak Harfan 
telah membakar semangat kami sehingga kami siap tempur. Kami 
sangat mendukung keputusan Pak Harfan dan sangat senang karena 
akan digarap oleh Mahar, teman kami sekelas. Kami mengelu- 
elukannya, tapi ia tak tampak. Ooh, rupanya dia sedang bertengger 
di salah satu dahan/jZ/riwrn. Dia tersenyum. 

Sebagai kelanjutan keputusan rapat akbar, Mahar serta-merta 
mengangkat A Kiong sebagai General Affair Assistant, yaitu pem- 
bantu segala macam urusan. A Kiong mengatakan padaku tiga 
malam dia tak bisa tidur saking bangganya dengan penunjukan itu. 
Dan telah tiga malam pula Mahar bersemadi mencari inspirasi. Tak 
bisa diganggu. 

Kalau masuk kelas Mahar diam seribu bahasa. Belum pernah 
aku melihatnya seserius ini. Ia menyadari bahwa semua orang ber- 
harap padanya. Setiap hari kami dan para guru menunggu dengan 
was was konsep seni kejutan seperti apa yang akan ia tawarkan. Ka- 
mi menunggu seperti orang menunggu buku baru Agatha Christie. 
Jika kami ingin berbicara dengannya dia buru-buru melintang-kan 
jari di bibirnya menyuruh kami diam. Menyebalkan! Tapi begitulah 
seniman bekerja. Dia melakukan semacam riset, mengkhayal, dan 
berkontemplasi. 



210 



Moran 

Dia duduk sendirian menabuh tabla 2 , mencari-cari musik, sam- 
pai sore di bawah filicium. Tak boleh didekati. la duduk melamun 
menatap langit lalu tiba-tiba berdiri, mereka-reka koreografi, ber- 
jingkrak-jingkrak sendiri, meloncat, duduk, berlari berkeliling, di- 
am, berteriak-teriak seperti orang gila, menjatuhkan tubuhnya, ber- 
guling-guling di tanah, lalu dia duduk lagi, melamun berlama-lama, 
bernyanyi tak jelas, tiba-tiba berdiri kembali, berlari ke sana kemari. 
Tak ada ombak tak ada angin ia menyeruduk-nyeruduk seperti he- 
wan kena sampar. 

Apakah ia sedang menciptakan sebuah masterpiece? Apakah ia 
akan berhasil membuktikan sesuatu pada event yang mempertaruh- 
kan reputasi ini? Apakah ia akan berhasil membalikkan kenyataan 
sekolah kami yang telah dipandang sebelah mata dalam karnaval 
selama dua puluh tahun? Apakah ia benar-benar seorang penerobos, 
seorang pendobrak yang akan menciptakan sebuah prestasi feno- 
menal? Haruskan ia menanggung beban seberat ini? Bagaimanapun 
ia masih tetap seorang anak kecil. 

Kuamati ia dari jauh. Kasihan sahabatku seniman yang kesepian 
itu, yang tak mendapatkan cukup apresiasi, yang selalu kami ejek. 
Wajahnya tampak kusut semrawut. Sudah seminggu berlalu, ia 
belum juga muncul dengan konsep apa pun. 

Lalu pada suatu Sabtu pagi yang cerah ia datang ke sekolah 
dengan bersiul-siul. Kami paham ia telah mendapat pencerahan. Jin- 
jin telah meraupi wajah kucel kurang tidurnya dengan ilham, dan 
Dionisos, sang dewa misteri dan teater, telah meniup ubunubunnya 
subuh tadi. Ia akan muncul dengan ide seni yang seksi. Kami sekelas 



2 Tabla: sepasang drum asli India, satu berbentuk silinder, satunya lagi berbentuk 
seperti mangkuk. 



211 



Andrea Hirata 

dan banyak siswa dari kelas lain serta para guru merubungnya. la 
maju ke depan siap mempresentasikan rencananya. Wajahnya 
optimis. 

Semua diam siap mendengarkan. la sengaja mengulur waktu, 
menikmati ketidaksabaran kami. Kami memang sudah sangat pena- 
saran. la menatap kami satu per satu seperti akan memperlihatkan 
sebuah bola ajaib bercahaya pada sekumpulan anak kecil. 

"Tak ada petani, buruh timah, guru ngaji, atau penjaga pintu air 
lagi utnuk karnaval tahun ini!" teriaknya lantang, kami terkejut. 

Dan ia berteriak lagi. 

"Semua kekuatan sekolah Muhammadiyah akan kita satukan 
untuksatuhal!!!" 

Kami hanya terperangah, belum mengerti apa maksudnya, tapi 
Mahar optimis sekali. 

"Apa itu Har? Ayolah, bagaimana nanti kami akan tampil, ja- 
ngan bertele-tele!" tanya kami penasaran hampir bersamaan. Lalu 
inilah ledakan ide gemilangnya. 

"Kalian akan tampil dalam koreografi massal suku Masai dari 
Afrika!" 

Kami saling berpandangan, serasa tak percaya dengan pen- 
dengaran sendiri. Ide itu begitu menyengat seperti belut listrik meli- 
lit lingkaran pinggang kami. Kami masih kaget dengan ide luar biasa 
itu ketika Mahar kembali berteriak menggelegar melambungkan 
gairah kami. 

"Lima puluh penari! Tiga puluh penabuh tabla! Berputar-putar 
seperti gasing, kita ledakkan podium kehormatan!" 



212 



Moran 

Oh, Tuhan, aku mau pingsan. Serta-merta kami melonjak 
girang seperti kesurupan, bertepuk tangan, bersorak sorai senang 
membayangkan kehebohan penampilan kami nanti. Mahar memang 
sama sekali tak bisa diduga. Imajinasinya liar meloncat-loncat, men- 
dobrak, baru, dan segar. 

"Dengan rumbai-rumbai!" kata suara keras di belakang. Suara 
Pak Harfan sok tahu. Kami semakin gegap gempita. Wajah beliau 
sumringah penuh minat. 

"Dengan bulu-bulu ayam!" sambung Bu Mus. Kami semakin 
riuh rendah. 

"Dengan surai-surai!" 

"Dengan lukisan tubuh!" 

"Dengan aksesori!" 

Demikian guru-guru lain sambung-menyambung. 

"Belum pernah ada ide seperti ini!" kata Pak Harfan lagi. 

Para guru mengangguk-angguk salut dengan ide Mahar. Mereka 
salut karena selain kana menampilkan sesuatu yang berbeda, me- 
nampilkan suku terasing di Afrika adalah ide yang cerdas. Suku itu 
tentu berpakaian seadanya. Semakin sedikit pakaiannya— atau de- 
ngan kata lain semakin tidak berpakaian suku itu— maka anggaran 
biaya untuk pakaian semakin sedikit. Ide Mahar bukan saja baru dan 
yahud dari segi nilai seni tapi juga aspiratif terhadap kondisi kas 
sekolah. Ide yang sangat istimewa. 

Seluruh kalangan di perguruan Muhammadiyah sekarang men- 
jadi satu hati dan mendukung penuh konsep Mahar. Semangat kami 
berkobar, kepercayaan diri kami meroket. Kami saling berpelukan 



213 



Andrea Hirata 

dan meneriakkan nama Mahar. la laksana pahlawan. Kami akan me- 
nampilkan sebuah tarian spektakuler yang belum pernah ditampil- 
kan sebelumnya. Dengan suara tabla bergemuruh, dengan kostum 
suku Masai yang eksotis, dengan koreografi yang memukau, maka 
semua itu akan seperti festival Rio. Kami sudah membayangkan pe- 
nonton yang terpeona. Kali ini, untuk pertama kalinya, kami berani 
bersaing. 

Setelah itu, setiap sore, di bawah pohon filicium, kami bekerja 
keras berhari-hari melatih tarian aneh dari negeri yang jauh. Sesuai 
dengan arahan Mahar tarian ini harus dilakukan dengan gerakan 
cepat penuh tenaga. Kaki dihentakkan-hentakkan ke bumi, tangan 
dibuang ke langit, berputar-putar bersama membentuk formasi 
lingkaran, kemudian cepat-cepat menunduk seperti sapi akan me- 
nanduk, lalu melompat berbalik, lari semburat tanpa arah dan mun- 
dur kembali ke formasi semula dengan gerakan seperti banteng 
mundur. Kaki harus mengais tanah dengan garang. Demikian ber- 
ulang-ulang. Tak ada gerakan santai atau lembut, semuanya cepat, 
ganas, rancak, dan patah-patah. Mahar menciptakan koreografi yang 
keras tapi penuh nilai seni. Asyik ditarikan dan merupa-kan olah 
raga yang menyehatkan. 

Tahukah Anda apa yang dimaksud dengan bahagia? Ialah apa 
yang aku rasakan sekarang. Aku memiliki minat besar pada seni, 
akan membuat sebuah performing art bersama para sahabat karib— 
dan kemungkinan ditonton oleh cinta pertama? Aku mengalami 
kebahagiaan paling besar yang mungkin dicapai seorang laki-laki 
muda. 

Kami sangat menyukai gerakan-gerakan enerjik rekaan Mahar 
dan kuat dugaanku bahwa kami sedang menarikan kegembiraan su- 
ku Masai karena sapi-sapi peliharaannya baru saja beranak. Selain 



214 



Moran 

itu selama menari kami harus meneriakkan kata-kata yang tak kami 
pahami artinya seperti, "Habuna! Habuna! Habuna! Baraba... 
baraba...baraba..habba...habba..homm!" 

Ketika kami tanyakan makna kata-kata itu, dengan gaya seperti 
orang memiliki pengetahuan yang amat luas sampai melampaui 
benua Mahar menjawab bahwa itulah pantun orang Afrika. Aku 
baru tahu ternyata orang Afrika juga memiliki kebiasaan seperti 
orang Melayu, gemar berpantun. Aku simpan baik-baik pengetahu- 
an ini. 

Namun mengenai maksud, ternyata aku salah duga. Semula aku 
menyangka bahwa kami berdelapan— karena Sahara tak ikut dan 
Mahar sendiri menjadi pemain tabla— adalah anggota suku Masai 
yang gembira karena sapi-sapinya beranak. Tapi ternyata kami 
adalha sapi-sapi itu sendiri. Karena setelah kami menari demikian 
riang gembira, kemudian kami diserbu oleh dua puluh ekor cheetah. 
Mereka mengepung, mencabik-cabik harmonisasi formasi tarian 
kami, meneror, menerkam, mengelilingi kami, dan mengaum-aum 
dengan garang. Lalu situasi menjadi kritis dan kacau balau bagi 
paras api dan pada saat itulah menyerbu dua puluh orang Moran 
atau prajurit Masai yang sangat terkenal itu. Prajurit-prajurit ini me- 
nyelamatkan para sapi dan berkelahi dengan cheetah yang menye- 
rang kami. Gerakan cheetah itu direka-reka Mahar dengan sangat 
genius sehingga mereka benar-benar tampak seperti binatang yang 
telah tiga hari tidak makan. Sedangkan para Moran dilatih lebih 
khusus sebab menyangkut keterampilan memainkan properti-pro- 
perti seperti tombak, cambuk, dan parang. 

Demikianlah cerita koreografi Mahar. Keseluruhan fragmen itu 
diiringi oleh tabuhan tiga puluh tabla yang lantang bertalu-talu me- 
mecah langit. Para penabuh tabla juga menari-nari dengan gerakan 



215 



Andrea Hirata 

dinamis memesona. Hasil akhirnya adalah sebuah drama seru per- 
tarungan massal antara manusia melawan binatang dalam alam 
Afrika yang liar, sebuah karya yang memukau, masterpiece Mahar. 

Nuansa karnaval semakin tebal menggantung di awan Belitong 
Timur. Hari H semakin dekat. Seluruh sekolah sibuk dengan ber- 
bagai latihan. Marching band sekolah PN sepanjang sore melaku- 
kan geladi sepanjang jalan kampung. Baru latihannya saja penonton 
sudah membludak. Meneror semangat peserta lain. 

Tapi kami tak gentar. Situasi moril kami sedang tinggi. Melihat 
kepemimpinan, kepiawaian, dan gaya Mahar kepercayaan diri kami 
meletup-letup. la tampil laksana para event organizer atau para seni- 
man, atau mereka yang menyangka dirinya seniman. Pakaiannya 
serba hitam dengan tas pinggang berisi walkman, pulpen, kacamata 
hitam, batu baterai, kaset, dan deodoran. Kami mengerahkan selu- 
ruh sumber daya civitas akademika Muhammadiyah. Latihan kami 
semakin serius dan yang paling sering membuat kesalahan adalah 
Kucai. Meskipun dia ketua kelas tapi di panggung sandiwara ini Ma- 
harlah yang berkuasa. 

Mahar mencoba menjelaskan maksudnya dengan berbagai cara. 
Kadang-kadang ia demikian terperinci seperti buku resep masakan, 
dan lebih sering ia merasa frustrasi. Namun, kami sangat patuh pada 
setiap perintahnya walaupun kadang-kadang tidak masuk akal. Tapi 
ini seni, Bung, tak ada hubungannya dengan logika. 

"Dalam tarian ini kalian harus mengeluarkan seluruh energi 
dan harus tampak gembira! Bersukacita seperti karyawan PN baru 
terima jatah kain, seperti orang Sawang dapat utangan, seperti para 
pelaut terdampar di sekolah perawat!" 



216 



Moran 

Aku sungguh kagum dari mana Mahar menemukan kata-kata 
seperti itu. Ketika istirahat A Kiong berbisik pada Samson, "Son, aku 
baru tahu kalau di Belitong ada sekolah perawat di pinggir laut?" 

Rupanya bisikan polos itu terdengar oleh Sahara yang kemu- 
dian, seperti biasa, merepet panjang mencela keluguan A Kiong, 
"Apa kau tak paham kalau itu perumpamaan! Banyak-banyaklah 
membaca buku sastra!" 



217 



Sehuafi Kejafiafan Terencana 



DAN tibalah hari karnaval. Hari yang sangat mendebarkan. Mahar 
merancang pakaian untuk cheetah dengan bahan semacam terpal 
yang dicat kuning bertutul-tutul sehingga dua puluh orang adik 
kelasku benar-benar mirip hewan itu. Wajah mereka dilukis seperti 
kucing dan rambut mereka dicat kuning menyala-nyala dengan ba- 
han wantek. 

Tiga puluh pemain tabla seluruh tubuhnya dicat hitam berkilat 
tapi wajahnya dicat putih mencolok sehingga menimbulkan peman- 
dangan yang sangat aneh. Sedangkan dua puluh Moran atau prajurit 
Masai sekujur tubuhnya dicat merah, mereka menggunakan penu- 
tup kepala berupa jalinan besar ilalang, membawa tombak panjang, 
dan mengenakan jubah berwarna merah yang sangat besar. Tampak 
sangat garang dan megah. 

Tampaknya Mahar memberi perhatian istimewa pada delapan 
ekor sapi. Pakaian kami paling artistik. Kami memakai celana merah 



Andrea Hirata 

tua yang menutup pusar sampai ke bawah lutut. Seluruh tubuh kami 
dicat cokelat muda seperti sapi Afrika. Wajah dilukis berbelang- 
belang. Pergelangan kaki dipasangi rumbai-rumbai seperti kuda ter- 
bang dengan lonceng-lonceng kecil sehingga ketika melangkah ter- 
dengar suara gemerincing semarak. Di pinggang dililitkan selendang 
lebar dari bahan bulu ayam. Kami juga memakai beragam jenis akse- 
soris yang indah, yaitu anting-anting besar yang dijepit dan gelang- 
gelang yang dibuat dari akar-akar kayu. 

Yang paling istimewa adalah penutup kepala. Tak cocok jika di- 
sebut topi, tapi lebih sesuai jika disebut mahkota seribu rupa. Mah- 
kota ini sangat besar, dibuat dari lilitan kain semacam stagen yang 
sangat panjang. Lalu berbagai jenis benda diselipkan, dijepit, atau 
dijahit pada stagen itu. Puluhan bulu angsa dan belibis, ber-bagai je- 
nis perdu sepanjang hampir satu meter, dahan sapu-sapu, berbagai 
bunga liar, berbagai jenis daun, dan bendera-bendera kecil. Empat 
hari Sahara membuat mahkota hebat ini. Lalu punggung kami di- 
pasangi sesuatu seperti surai kuda, bahannya— seperti tertulis pada 
sketsa— adalah tali rafia. Kami adalah sapi yang anggun dan megah. 

Inilah rancangan adiguna karya Mahar. Secara umum kami 
tidak tampak seperti sapi. Dilihat dari belakang kami lebih mirip 
manusia keledai, dari samping seperti ayam kalkun, dari atas seperti 
sarang burung bangau. Jika dilihat dari wajah, kami seperti hantu. 

Aksesori yang tampaknya biasa saja adalah untaian kalung. Juga 
sesuai dengan sketsa rancangan Mahar, kami akan memakai kalung 
besar yang terbuat dari benda-benda bulat sebesar bola pingpong 
berwarna hijau. Tak ada yang istimewa dengan kalung ini dan tak 
seorang pun mau membicarakannya. Kami sibuk membahas mah- 
kota kami. Kami yakin mahkota ini akan membuat orang kampung 



220 



Scbuah Kejafiatan Terencana 



ternganga mulutnya dan wanita-wanita muda di kawasan pasar ikan 
berebutan kirim salam. 

Tak disangka ternyata kalung yang tak menarik perhatian itulah 
sesungguhnya sentral ide seluruh koreografi ini. Tak ada seorang 
yang menduga bahwa pada untaian anak-anak kalung itu Mahar me- 
nyimpan rahasia terdalam daya magis penampilan kami, yang mem- 
buatnya tidak tidur tiga hari tiga malam. Sesungguhnya kalung itu- 
lah puncak tertinggi kreativitas Mahar. 

Setelah seluruh pakaian siap, Mahar mengeluarkan aksesori ter- 
akhir dari dalam karung, yaitu kalung tadi. Jumlahnya delapan se- 
jumlah sapi. Kami semakin girang. Tentu Mahar telah bersusah pa- 
yah sendirian membuatnya. Kalung itu dibaut dari buah pohon aren 
yang masih hijau sebesar bola pingpong yang ditusuk seperti sate de- 
ngan tali rotan kecil. Kami berebutan memakainya. Tak banyak pe- 
ngetahuan kami mengenai buah hutan ini. Sebelum parade kami 
berkumpul berpegangan tangan, menundukkan kepala untuk ber- 
doa, mengharukan. 

Seperti telah kami duga, sambutan penonton di sepanjang jalan 
sangat luar biasa. Mereka bertepuk tangan dan berlarian mengikuti 
dari belakang untuk melihat penampilan kami di depan podium ke- 
hormatan. 

Menjelang podium kami mendengar gelegar suara sepuluh unit 
trimpani, yaitu drum terbesar. Suaranya menggetarkan dada dan di- 
timpali oleh suara membahana puluhan instrumen brass mulai dari 
tuba, horn, trombon, klarinet 1 , trompet, saksofon 2 tenor dan bariton 



1 Klarinet: alat musik tiup dengan lidah-lidah tunggal (single reeds) yang dapat 
bergetar, dibuat dari kayu atau logam yang diberi lubang-lubang dan gamitan, 
menghasilkan suara kecil melengking. 



221 



Andrea Hirata 



yang dimainkan puluhan siswa. Marching band sekolah PN sedang 
beraksi! 

Pakaian pemain marching band dibedakan berdasarkan instru- 
men yang dimainkan. Yang paling gagah adalah barisan bass drum 
yang tampil menggunakan pakaian prajurit Romawi. Mereka mem- 
buat helm bertanduk runcing dan benar-benar mencetak aluminium 
menjadi rompi lalu mengecatnya dengan warna kuningan. Pemain 
simbal memakai rompi berwarna-warni dan bawahan celana pan- 
jang biru yang dimasukkan dalam sepatu bot Pendragon yang mahal 
setinggi lutut. Mereka seperti sekawanan ksatria yang baru turun da- 
ri punggung kuda-kuda putih. Marching band PN tampil semakin 
baik setiap tahun. Mereka selalu menunjukkan bahwa mereka yang 
terbaik. 

Sebagai entry podium kehormatan mereka melantunkan Glenn 
Miller's In the Mood dengan interpretasi yang pas. Penonton me- 
lenggak-lenggok diayun irama swing yang asyik. Para colour guard 
serta-merta menyesuaikan koreografinya dengan gaya kabaret khas 
tahun 60-an. Panggung kasino Las Vegas segera berpindah ke sudut 
pasar ikan Belitong yang kumuh. Setiap siswa yang terlibat dalam 
marching band ini belum-belum sudah mengumbar senyum keme- 
nangan seolah seperti tahun-tahun lalu: Penampil Seni Terbaik ta- 
hun ini pasti mereka sabet. Tapi jika menyaksikan mereka beraksi 
agaknya keyakinan itu memang sangat beralasan. 

Sebagai puncak atraksi di depan podium mereka membawakan 
Concerto for Trumpet dan Orchestra yang biasa dilantunkan Wyn- 



2 Saksofon: alat musik tiup yang dibuat dari logam, berbentuk lengkung seperti pipa 
cangklong, dilengkapi dengan lubang dan tombol jari. Saksofon ada berbagai 
macamnya: saksofon tenor, saksofon alto, dan saksofon bariton. 



ooo 



Scbuah Kejafiatan Terencana 

ton Marsalis. Dalam nomor ini penampilan mereka amat menga- 
gumkan. Agaknya mereka sudah bisa dikompetisikan di luar negeri. 
Komposisi ini sesungguhnya adalah musik klasik karya Johann 
Hummel tapi oleh Marching Band PN dibawakan kembali dalam 
aransemen big band dengan kekuatan brass section yang memukau. 

Bagian intro Concerto indah itu diisi atraksi lima belas pemain 
blira dengan pecahan suara satu, dua, dan tiga. Lalu ikut bergabung 
hentakan-hentakan sepuluh pasang simbal, bass drum, dan timpani. 
Tempo dan bahana mereka pelankan ketika puluhan snare drum 3 
mengambil alih. Jiwa siapa pun yang mendengarnya akan tergetar. 
Belum tuntas sensasi penonton dengan buaian snare drum yang can- 
tik rancak tiba-tiba para colour guard memasuki medan, memben- 
tuk formasi dan menampilkan tarian kontemporer yang memikat. 
Bayangkan indahnya: sebuah big band dengan kekuatan brass, kos- 
tum yang gemerlapan, dan koreografi kontemporer. 

Ribuan penonton bertepuk tangan kagum. Kemudian mereka 
bersorak-sorai ketika tiga orang mayoret— ratu segala pesona— de- 
ngan sangat terampil melemparlemparkan tongkatnya tanpa mem- 
buat kesalahan sedikit pun. Para mayoret cantik, bertubuh ramping 
tinggi, dengan senyum khas yang dijaga keanggunannya, meliuk- 
liuk laksana burung merak sedang memamerkan ekornya. 

Wanita-wanita muda yang meloncat dari gambar-gambar di 
almanak ini mengenakan rok mini degnan stocking berwarna hitam 
dan sepatu bot Cortez metalik tinggi sampai ke lutut. Sarung 
tangannya putih sampai ke lengan atas dan mereka bergerak demi- 
kian lincah tanpa sedikit pun terhalangi hak sepatunya yang tinggi. 



3 Snare drum (side drum): sejenis drum yang dilengkapi dengan bentangan kawat di 
bagian bawahnya agar menghasilkan suara yang bergetar atau berderik. 



223 



Andrea Hirata 

Topinya adalah baret putih yang diselipi selembar bulu angsa putih 
bersih seperti topi Robin Hood. Mereka tidak sekadar mayoret, me- 
reka adalah pergawati. Langkahnya cepat panjang-panjang dan se- 
ring kali memekik memberi perintah. Pandangannya menyapu selu- 
ruh penonton seperti tipuna sihir yang membius. 

Wajahnya mencerminkan suatu kebiasaan bergaul dengan ba- 
rang-barang impor dan tidak mau menghabiskan waktu untuk soal 
remeh-temeh. Jika sore mereka berjalanjalan dengan beberapa ekor 
anjing chihuahua dan malam hari makan di bawah temaram cahaya 
lilin. Tak pernah kekenyangan dan tak pernah berserdawa. Garis 
matanya memperlihatkan kemanjaan, kesejahteraan dan masa depan 
yang gilang gemilang. Mereka seperti orang-orang yang tak 'kan 
pernah kami kenal namanya, seperti orang yang berasal dari tempat 
yang sangat jauh dan hanya mampir sebentar untuk membuat kami 
ternganga. Mereka seperti orang-orang yang hanya memakan bu- 
nga-bunga putih melati dan mengisap embun utnuk hidup. Jubah- 
nya dari bahan sutera berkilat, berkibar-kibar tertiup angin, mene- 
barkan bau harum memabukkan. 

Sementara di sini, di sudut ini, kami terpojok di pinggir, seperti 
segerombolan spesies primata aneh yang menyembul-nyembul dari 
sela-sela akar pohon beringin. Hitam, kumal, dan coreng-moreng, 
terheran-heran melihat gemerlap dunia. Tapi kami segera memben- 
tuk barisan, tak surut semangat, tak sabar menunggu giliran. 

Segera setelah ujung Marching Band PN meninggalkan arena 
podium dan perlahan-lahan menghilang bersama lagu syahdu 
penutup sensasi: Georgia on My Mind, diiringi tepuk tangan dan 
suitan panjang penonton, seketika itu juga, tanpa membuang tempo, 
dengan amat ejli mencuri momen, secara sangat mendadak Mahar 
bersama tiga puluh pemain tabla menghambur tak beraturan me- 



224 



Scbuah Kejafiatan Terencana 

nguasai arena depan podium. Gerakan mereka mengagetkan. De- 
ngan dentuman tabla bertalu-talu serta tingkah tarian yang sangat 
dinamis, penonton pun terperanjat. Mahar menyajikan pemandang- 
an natural, asli, yang sama sekali kontras dengan marching band 
modern. Melalui lantakan tabla sekuat tenaga dan gerak tari seperti 
ratusan monyet sedang berebutan dengan tupai menjarah buah 
kuini, Mahar menyeret fantasi penonton ke alam liar Afrika. 

Penonton terbelalak menerima sajian musik etnik menghentak 
yang tak diduga-duga. Mereka berdesak-desakan maju merepotkan 
para pengaman. Para penonton terbius oleh irama yang belum 
pernah mereka dengar dan pakaian serta tarian yang belum pernah 
mereka lihat. Demi mendengar lengkingan tabla yang memecah 
langit, barisan Marching Band PN terpecah konsentrasinya dan 
berbalik arah ke podium. Mereka membubarkan diri tanpa koman- 
do lalu bergabung dengan para penonton yang terpaku. Mereka 
keheranan melihat tarian liar yang tak seperti Campak Darat, yaitu 
tarian Belitong paling kuno dengan gerakan tetap maju mundur, dan 
irama yang tak seperti Betiong yakni irama asli Belitong yang biasa 
mereka dengar. Sebaliknya yang mereka saksikan adalah gerakan 
rancak tanpa pola dan ekspresi bebas spontan dari tubuh-tubuh 
muda yang lentik meliuk-liuk seperti gelombang samudra, garang 
seperti luak, dan menyengat laksana lebah tanah. Koreografi Mahar 
berkarakter dance drumming dari suku-suku sub Sahara yang me- 
ngandung fragmen survival ribuan tahun dari spesies yang hidup 
saling memangsa. Inilah adzohu, sebuah manifestasi perjuangan 
eksistensi dalam metafora gesture tubuh manusia yang memaknai 
ketukan tabla laksana tiupan mantra-mantra nan magis. Koreografi 
ini mengandung tenaga gaib yang emnyihir. Mahar memvisualisasi- 
kan alam ganas di mana hukum rimba berkuasa. Maka musik tari ini 



225 



Andrea Hirata 

tak hanya mendetak degup jantung karena tabla yang berdentum- 
dentum tapi membran vibrasinya juga menggetarkan jiwa karena 
tenaga mistik sebuah ritual suci siklus hidup. 

Penonton semakin merangsek ke depan dan mulai terpukau 
pada tarian etnik Afrika yang eksotis. Mereka mengamati satu per 
satu wajah kami yang tersamar dalam coreng moreng, ingin tahu 
siapa penampil tak biasa ini. Namun tanpa disadari tubuh mereka 
bergerak-gerak patah-patah mengikuti potongan-potongan irama 
yang dilantakkan dan tanpa diminta tepuk tangan, siulan, dan sorak- 
sorai ribuan penonton membahana menyambut kejutan aksi seksi 
tabla. Penonton riuh rendah berdecak kagum. Pada detik itu aku 
tahu bahwa penampilan kami telah berhasil. Mahar telah melakukan 
entry dengan sukses. Semua seniman panggung mengerti jika entry 
telah sukses biasanya seluruh pertunjukan akan selamat. Para hadi- 
rin telah terbeli tunai! 

Kesuksesan entry pemain tabla mengangkat kepercayaan diri 
kami sampai level tertinggi. Kami, delapan ekor sapi, yang akan 
tampil pada plot kedua, gemetar menunggu aba-aba dari Mahar 
untuk menerjang arena. Kami tak sabar dan rasanya kaki sudah gatal 
ingin mendemonstrasikan kehebatan mamalia menari. Kami adalah 
remaja-remaja kelebihan energi dan lapar akan perhatian. Lima 
belas meter dari tempat kami berdiri adalah arena utama dan kami 
mengambil ancang-ancang laksana peluru-peluru meriam yang siap 
diledakkan. Sangat mendebarkan, apalagi penonton semakin meng- 
gila tak terkendali mengikuti ketukan tabla. Mereka membentuk 
lingkaran yang rapat, ikut menari, bertepuk tangan, bersuit-suit pan- 
jang, dan berteriak-teriak histeris. 

"Tabahkan hati kalian, keluarkan seluruh kemampuan!" ledak 
Bu Mus memberi semangat kepada kami, para mamalia. Pak Harfan 



226 



Scbuah Kejafiatan Terencana 

sudah tidak bisa bicara apa-apa. Tangannya membekap dada seperti 
orang berdoa. 

Tapi di tengah penantian menegangkan itu aku merasakan 
sedikit keanehan di lingkaran leherku. Seperti ada kawat panas 
menggantung. Aku juga merasa heran melihat warna telinga teman- 
temanku yang berubah menjadi merah, demikian pula kalung kami, 
membentuk lingkaran berwarna kelam di kulit. Aku merasakan 
panas pada bagian dada, wajah, dan telinga, lalu rasa panas itu 
berubah menjadi gatal. 

Dalam waktu singkat rasa gatal meningkat dan aku mulai 
menggaruk-garuk di seputar leher. Sekarang kami sadar bahwa rasa 
gatal itu berasal dari getah buah aren yang menjadi mata kalung 
kami. Hasil rancangan adibusana Mahar. Buah aren yang ditusuk 
dengan tali rotan itu mengeluarkan getah yang pelan-pelan melelh di 
lingkaran leher. Rasa gatal itu semakin menjadi-jadi tapi kami takb 
isa berbuat apa-apa karena untuk melepaskan kalung itu berarti 
harus melepaskan mahkota. Dan melepaskan mahkota besar yang 
beratnya hampir satu setengah kilogram ini bukan persoalan mudah. 
Mahkota raksasa ini sengaja dirancang Mahar untuk dikenakan 
dengan lilitan tiga kali melalui dagu sehingga tanpa bantuan se- 
seorang tak mungkin membukanya sendiri. Tak mungkin melaku- 
kan itu apalagi Mahar sekarang telah melakukan gerakan seperti me- 
nyembah-nyembah ke arah kami. Itulah isyarat kami harus masuk 
dan beraksi. 

Maka semua usaha untuk berbuat sesuatu pada kalung itu 
terlambat dan yang terjadi berikutnya tak 'kan pernah kulupakan se- 
umur hidupku. Kami menyerbu arena dengan semangat spartan. 
Tepuk tangan penonton bergemuruh. Pada awalnya kami menari 
bersukacita sesuai dengan skenario. Lalu kami, para sapi ini, mulai 



227 



Andrea Hirata 

bergerakgerak aneh dan sedikit melenceng dari gerakan seharusnya 
karena kami diserang oleh rasa gatal yang luar biasa. 

Rasa gatal ini begitu dahsyat. Aku tak pernah merasakan gatal 
demikian hebat dan jelas berasal getah buah aren muda yang 
menjadi mata kalung kami. Pertama-tama rasanya panas, perih, lalu 
geli dan gatal sekali. Jika digaruk bukannya sembuh tapi akan sema- 
kin menjadi-jadi, bertambah gatal dua kali lipat. Karena gerakan 
kami rancak dengan tangan mengibas-ngibas ke sana kemari maka 
getah aren itu menyebar ke seluruh tubuh. Sekarang seluruh tubuh 
kami dilanda gatal tak tertahankan. 

Kami berusaha tidak menggaruk-garuk karena hal itu akan me- 
rusak koreografi, kami bertekad mengalahkan Marching Band PN. 
Selain tu menggaruk hanya akan memperparah keadaan, maka kami 
bertahan dalam penderitaan. Satu-satunya cara mengalihkan siksaan 
gatal adalah dengan terus-menerus bergerak jumpalitan seperti 
orang lupa diri. Maka sekarang kami bergerak sendiri-sendiri tak 
terkendali seperti orang kesetanan. Kami berteriak-teriak, meraung, 
saling menanduk, saling menerkam, saling mencakar, merayap, 
berguling-guling di tanah, menggelepar-gelepar. Semua itu tak 
terdapat dalam skenario. Lintang komat-kamit tak jelas dan matanya 
memerah seperti buah saga. Trapani sama sekali menguap ketam- 
panannya, wajah manisnya berubah menjadi wajah algojo yang 
sedang kalap. Sedangkan A Kiong menampar-nampar dirinya sen- 
diri dengan keras seperti orang kesurupan. Telinganya seolah 
mengeluarkan asap dan wajahnya seperti kaleng biskuit Roma. 
Wajah kami memerah seperti terbakar api dan urat-urat lengan ber- 
timbulan menahankan gatal. 

Kami bergerak demikian beringas, berjingkrak-jingkrak seperti 
sekaleng cacing yang dicurahkan di atas aspal yang panas mendidih. 



228 



Scbuah Kejafiatan Terencana 

Sebaliknya, melihat kami sangat menjiwai, para pemain tabla pun 
terbakar semangatnya. Mereka mempercepat tempo untuk meng- 
ikuti gerakan-gerakan liar kami. Kami menari dengan tenaga dua 
kali lipat dari latihan dan gerakan dua kali lebih cepat dari seharus- 
nya. Kami seolah berkejaran dengan tabuhan tabla. Menimbulkan 
pemandangan yang menakjubkan. Bahkan orang Afrika sendiri tak 
pernah menari sehebat ini. 

Sesungguhnya maksud kami bukan itu. Tapi kami senewen 
menanggungkan gatal. Penonton yang tidak memahami situasi 
mengira suara tabla itu mengandung sihir dan telah membuat kami, 
delapan ekor sapi ini, kesurupan, maka mereka bertepuk tangan 
gegap gempita karena kagum dengan daya magis tarian Afrika. 
Mereka berteriak-teriak histeris memberi semangat dan salut kepada 
kami yang mampu mencapai penghayatan setinggi itu. Penonton 
semakin merapat dan petinggi di podium kehormatan menghambur 
ke depan meninggalkan tempat-tempat duduknya yang teduh dan 
nyaman. Mereka berebutan menyaksikan kami dari dekat. Mereka 
takjub dengan sebuah pemandangan aneh. Bagi mereka ini adalah 
ekspresi seni yang luar biasa. Sementara kami semakin tunggang- 
langgang, berputar-putar seperti gasing. Kami sudah tak peduli 
dengan pantun Afrika yang harusnya kami lantunkan. Teriakan 
kami sekarang menjadi: 

"Hushhhhhhh... hushh... hushhhh! Habbaa... habbbaaa... 
habbaaaa...!!!" 

Penonton malah mengira itu mantra-mantra gaib. Aku melirik 
Mahar. Aneh sekali, wajahnya tapak senang tak alang kepalang, 
gembira bukan main. la tampak sangat setuju dengan seluruh gerak- 
an gila kami walaupun tidak seperti yang dilatihkannya dulu. 



229 



Andrea Hirata 

"Terus Kawan, hebat sekali, ayo berguling-guling, inilah mak- 
sudnya," bisiknya di antara kami sambil berlari-lari memikul tabla. 
Aku mulai curiga. Tapi aku tak sempat berpikir jauh karena kami 
sekarang sedang diserang oleh dua puluh ekor cheetah. Suasana 
semakin seru. Kami semakin sinting karena gatal dan panas. Kami 
merasa sangat haus, menderita dehidrasi. Ketika cheetah meneyrang, 
kami berbalik menyerang. Kami sudah lupa diri. Seharusnya hal ini 
tak terjadi. Skenarionya tidak begitu. 

Skenarionya adlaah kami seharusnya menguik-nguik ketakutan 
sampai prajurit Masai, Moran yang gagah berani itu, datang sebagai 
pahlawan untuk menyelamatkan kami. Tapi sebaliknya sekarang 
kami dengan beringas membalas serangan cheetah karena kami tak 
mungkin diam, jika diam rasa gatal rasanya akan memecahkan 
pembuluh darah kami. 

Para cheetah kebingungan. Ketika mereka menerjang kami 
membalas, cheetah berlari kocar-kacir dan kembali menyerang, de- 
mikian terjadi berulang-ulang. Namun anehnya skenario yang kacau 
balau tak direncanakan ini justru memunculkan karakter asli bina- 
tang yang pada suatu ketika bisa demikian ganas tanpa ampun dan 
pada keadaan yang lain terbirit-birit ketakutan jika kekuatannya tak 
berimbang. Sebaliknya sekali lagi kulirik Mahar. la senang sekali 
dengan improvisasi spontan ini, tabuhan tablanya semakin ganas. 
Senyumnya mengembang. Tak pernah aku melihatnya sebahagia itu. 

Surai kuda, selendang yang melilit pinggang, dan mahkota kami 
melambai-lambai eksotis karena kami melonjak-lonjak tak terken- 
dali. Kami menari seperti orang dirasuki iblis yang paling jahat, 
seperti ditiup Lucifer sang raja hantu. Arena semakin membara dan 
gairah tarian mendidih ketika dua puluh prajurit Masai menyerbu 
masuk untuk menyelamatkan kami, yang terjadi adalah pertarungan 



230 



Sebuah Kejafiatan Terencana 

dahsyat antara sapi dan prajurit Masai melawan dua puluh ekor 
cheetah. Ada enam puluh penari termasuk pemain tabla yang seka- 
rang saling menyerang dalam hentakan musik Masai. Penonton riuh 
rendah dalam kekaguman. Para fotografer sampai kehabisan film. 

Pasir-pasir halus yang bertaburan di atas arena membubung 
menjadi debu tebal yang mengaburkan pandangan. Debu itu menge- 
lilingi kami yang berputar seperti pusaran angin. Di tengah pusaran 
itu kami bertempur habis-habisan dalam sebuah ritual liar alam 
Afrika yang kami tarikan seperit binatang buas yang terluka. Dalam 
kekacaubalauan terdengar teriakan-teriakan hsiteris, auman bina- 
tang, dan suara tabla berdentum-dentum. Keseluruhan koreografi 
yang menampilkan fragmen pertempuran manusia melawan bina- 
tang dengan gerakan spontan di depan podium kehormatan itu ter- 
nyata menghasilkan karya seni yang sulit dilukiskan dengan kata- 
kata. Sebuah formasi gerakan chaos orisinal yang tercipta secara 
tidak sengaja. Para penonton tersihir melihat kami trance secara 
kolektif, mereka tersentak dalam histeria menyaksikan peman- 
dangan magis yang menkjubkan. Sebuah pemandangan eksotis dari 
totalitas tarian yang menciptakan efek seni yang luar biasa. Sebuah 
efek seni yang memang diharapkan Mahar, efek seni yang akan 
membawa kami menjadi Penampil Seni Terbaik tahun ini, tak 
diragukan, tak ada bandingannya. 

Pak Harfan, Bu Mus, dan guru-guru kami sangat bangga dan 
seolah tak percaya melihat murid-muridnya memiliki kemampuan 
seperti itu. Mereka tak sadar bahwa kami menderita berat karena 
gatal dan gerakan kami tak ada hubungannya dengan Moran, 
cheetah, dan bunyi-bunyian tabla yang memecah gendang telinga. 

Tiga puluh menit kami tampil serasa tiga puluh jam. Kami, para 
sapi, memang dirancang untuk meninggalkan arena pertama kali. 



231 



Andrea Hirata 

Pemain tabla, cheetah, dan prajurit Masai masih hams melanjutkan 
fragmen. Segera setelah meninggalkan arena kami berlari pontang 
panting mencari air. Sayangnya air terdekat adalah sebuah kolam 
kangkung butek di belakang sebuah toko kelontong. Kolam itu 
adalah tempat pembuangan akhir ikan-ikan busuk yang tak laku 
dijual. Apa boleh buat, kami ramai-ramai menceburkan diri di sana. 

Kami tak melihat ketika penonton memberikan standing 
applause selama tujuh menit. Kami tak menyaksikan guru-guru 
kami menangis karena bangga. Aku kagum kepada Mahar, ia ber- 
hasil memompa kepercayaan diri kami dan dengan kepercayaan diri 
ternyata siapa pun dapat membuat prestasi yang mencengangkan. 
Hal itu dibuktikan oleh sekolah Muhammadiyah yang mampu me- 
matahkan mitos bahwa sekolah kampung tidak mungkin menang 
melawan sekolah PN dalam karnaval. Sayangnya saat itu kami tak 
dapat bergembira seperti warga Muhammadiyah di podium dan 
kami jgua tak mendengar ketika ketua dewan juri, Mb ah Suro, naik 
mimbar. Beliau mengucapkan pidato panjang puji-pujian untuk 
kami: 

"Sekolah Muhammadiyah telah menciptakan daripada suatu ar- 
wah baru dalam karnaval ini. Maka dari itu mereka telah men- 
canangkan suatu daripada standar baru yang semakin kompetitif 
dari pada mutu festival seni ini. Mereka mendobrak dengan ide 
kreatif, tampil all out, dan berhasil menginterpretasikan dengan 
sempurna daripada sebuah tarian dan musik dari negeri yang jauh. 
Para penarinya tampil penuh penghayatan, dengan spontanitas dan 
totalitas yang mengagumkan sebagai suatu manifestasi daripada 
penghargaan daripada mereka terhadap seni pertunjukan itu sendiri. 
Penampilan Muhammadiyah tahun ini adalah daripada suatu 
puncak pencapaian seni yang gilang gemilang dan oleh karena itu 



232 



Sebuah Kejafiatan Terencana 

dewan juri tak punya daripada pilihan lain selian daripada meng- 
anugerahkan penghargaan daripada penampila seni terbaik tahun 
ini kepada sekolah Muhammadiyah!" 

Wahai dewan juri yang terhormat, mari kuberitahukan pada 
bapak-bapak sekalian, tahu apa bapak-bapak soal seni, interpretasi 
seni kami adlaah interpretasi getah buah aren yang gatalnya mem- 
bakar lingkaran leher kami sampai ke pangkal-pangkal paha dengan 
perasaan seperti memakan api. Itulah yang membuat kami menari 
seperti orang yang tidak waras, dan tiulah interpretasi seni kami. 

Mendengar pidato itu para penonton kembali bergemuruh dan 
seluruh warga Muhammadiyah bersorak-sorai senang karena sebuah 
kemenangan yang fenomenal. 

Sebaliknya kami, delapan ekor ternak dalam koreografi hebat 
itu, tetap tak tahu semua kejadian yang menggemparkan itu, dan 
kami juga masih tak tahu ketika Mahar diarak warga Muhammad- 
iyah setelah sekolah menerima trofi bergengsi Penampil Seni Ter- 
baik tahun ini. Trofi yang telah dua puluh tahun kami idamakan dan 
selama itu pula bercokol di sekolah PN. Baru pertama kali ini trofi 
itu dibawa pulang oleh sekolah kampung. Trofi yang tak 'kan 
membuat sekolah kami dihina lagi. 

Kami tak tahu semua itu karena ketika itu kami sedang 
berkubang di dalam lumpur kolam kangkung, menggosok-gosok 
leher dengan daun genjer. Yang kami tahu hanyalah bahwa Mahar 
telah membalas kami dengan setimpal karena pelecehan kami 
padanya selama ini. Buah-buah aren itu sungguh merupakan sebuah 
rancangan kalung etnik properti adi busana koreografi yang bernilai 
seni, hasil perenungan Mahar berjam-jam sambil memandangi 
langit di bawah pohon filicium. Itulah sebuah perenungan tingkat 



233 



Andrea Hirata 

tinggi yang membuat hatinya bergejolak sepanjang malam karena 
girang akan memberi kami pelajaran, sebuah perenungan pembalas- 
an dendam yang telah ia rencanakan dengan rapi selama bertahun- 
tahun. 

Wajah manisnya pasti sedang tersenyum sekarang dan senyum- 
nya tak berhenti mengembang jika ia ingat penderitaan kami. Di 
kolam busuk luar biasa sehingga merontokkan bulu hidung ini kami 
membayangkan Mahar melonjak-lonjak girang disirami sinar agung 
prestasi dan kata-kata pujian setinggi langit. Sedangkan kami agak- 
nya memang patut dihukum di kolam perut ikan ini. Mahar mem- 
balas kami sekaligus merebut penghargaan terbaik— sekali tepuk dua 
nyamuk tumbang. Pria muda yang nyeni itu memang genius luar 
baisa, dan baginya pembalasan ini maniiiiis sekali, semanis buah 
bintang. 



^S^zs^L^ 



234 



Jvfmna 0> 



w 



AWAN-AWAN kapas berwarna biru lembut turun. Mengapung 
rendah ingin menyentuh permukaan laut yang surut jauh, beratus- 
ratus hektare luasnya, hanya setinggi lutut, meninggalkan pohon- 
pohon kelapa yang membujur di sepanjang Pantai Tanjong Kela- 
yang. Aku tahu bahwa awan-awan kapas biru muda itu dapat men- 
jadi penghibur bagi mataku, tapi dia tak kan pernah menjadi sahabat 
bagi jiwaku, karena sejak minggu lalu aku telah menjadi sekuntum 
daffodil 1 yang gelisah, sejak kukenal sebuah kosakata baru dalam 
hidupku: rindu. 



1 Daffodil (Narcissus): dinamai dari tokoh pemuda dalam mitologi Yunani yang 
terpesona oleh keindahannya sendiri sampai ajal menjemputnya dan ia pun berubah 
menjadi sekuntum bunga. Genus Narcissus merupakan keluarga amarilis. Tanaman 
ini bermubi, memiliki bunga tunggal atau ganda dengan enam petal, mahkota bunga 
yang memiliki enam petal bersatu, enam benang sari, dan sebuah putik yang soliter. 
Sebuah mahkota berbentuk seperti piala-disebut korona-mencuat dari permukaan 
dalam bunganya. Daffodil biasanya berwarna putih atau kuning, atau kombinasi dari 
keduanya. Spesies yang paling umum ditemui adalah yellow daffodil (Narcissus 



Andrea Hirata 

Kini setiap hari aku dilanda rindu pada nona kuku cantik itu. 
Aku rindu pada wajahnya, rindu pada paras kuku-kukunya, dan rin- 
du pada senyumnya ketika memandangku. Aku juga rindu pada san- 
dal kayunya, rindu pada rambut-rambut liar di dahinya, rindu pada 
caranya mengucapkan huruf "r", serta rindu pada caranya merapi- 
kan lipatan-lipatan lengan bajunya. 

Kadang-kadang aku bersembunyi di bawah pohon filicium, 
melamun sendiri, dadku sesak sepanjang waktu. Aku segera menger- 
ti bahwa aku adalah tipe laki-laki yang tak kuat menahankan rindu. 
Lalu aku berpikir keras mencari jalan untuk meringankan beban itu. 
Setelah melalui pengkajian berbagai taktik, akhirnya aku sampai 
pada kesimpulan bahwa rinduku hanya bisa diobati dengan cara 
sering-sering membeli kapur dan untuk itu Bu Mus adalah satu- 
satunya peluangku. 

Maka aku mengerahkan segala daya upaya, memohon sepenuh 
hati, agar tugas membeli kapur tulis diserahkan padaku, kalau perlu 
kapur tulis untuk seluruh kelas SD dan SMP Muhammadiyah, se- 
panjang tahun ini. 

"Bukankah kau paling benci tugas itu, Ikal?" 

Aku tersipu. Ironis, aku telah menemukan definisi ironi yang 
sebenarnya. Penyebabnya tentu bukan karena Toko Sinar Harapan 
telah menjadi wangi, tapi semata-mata karena ada putri Gurun Gobi 
menungguku di sana. Maka ironi bukanlah persoalan substansi, ia 



pseudonarcissus) yang memiliki ciri khas mahkota bunga berwarna kuning yang dalam 
dan menyerupai terompet. Umbi Narcissus mengandung alkaloid yang beracun jika 
dimakan karena bisa menyebabkan gangguan pencernaan akut seperti muntah, diare, 
disertai dengan gemetar dan kejang. 



236 



Miang Sui 

tak lain hanyalah soal kompensasi. Itulah definisi ironi, tak kurang 
tak lebih. 

Bu Mus tak berminat mendebatku dan kulihat perubahan 
wajahnya. Pastilah instingnya selama bertahun-tahun menjadi guru 
secara naluriah telah membunyikan lonceng di kepalanya bahwa hal 
ini sedikit banyak berhubungan dengan urusan cinta monyet. De- 
ngan jiwa penuh pengertian dan sebuah senyum jengkel beliau 
mengiyakan sambil menggeleng-gelengkan kepala. 

"Asal jangan kau hilangkan lagi kapur-kapur itu, perlu kau tahu, 
kapur itu dibeli dari uang sumbangan umat!" 

Kemudian aku dan Syahdan menjadi tim yang solid dalam 
pengadaan kapur. Aku menjadi semacam manajer pembelian, Syah- 
dan tak perlu mengayuh sepeda, cukup duduk di belakang, meme- 
gang kotak-kotak kapur kuat-kuat dan menjaga mulutnya rapat-ra- 
pat, karena hubungan antar-ras adalah isu yang sensitif ketika itu. 
Kami menikmati ketegangan perjanjian rahasia ini dan selama be- 
berapa bulan setelah itu aku telah menjadi tukang kapur yang ber- 
dedikasi tinggi. Sebaliknya Syahdan, tentu saja melalui rekomen- 
dasiku pada Bu Mus, selalu ikut denganku. la gembira karena sema- 
kin lama meninggalkan kelas sekaligus leluasa mendekati putri tu- 
kang hoklo pan. 

Sesampainya di toko biasanya aku langsung cepat-cepat masuk 
dan berdiri tegak dengan saksama di tengah-tengah lautan barang 
kelontong. Minyak kayu putih kukipas-kipaskan di bawah hidung 
untuk melawan bau tengik. Aku menyeka keringat dan tak sabar 
menunggu menit-menit ajaib, yaitu ketika A Miauw memberi 
perintah kepada burung murai batu di balik tirai yang terbuat dari 
keong-keong kecil itu. 



237 



Andrea Hirata 

Aku menghampiri kotak merpati saat ia menjulurkan kapur. 
Setiap kali ini terjadi jantungku berdebar. Ia masih tetap tak berkata 
apa pun, diam seribu bahasa, demikian juga aku. Tapi aku tahu ia 
sekarang tak lagi cepat-cepat menarik tangannya. Ia memberiku 
kesempatan lebih lama memandangi kuku-kukunya. Hal itu cukup 
membuatku demikian bahagia sampai seminggu berikutnya. 

Demikianlah berlangsung selama beberapa bulan. Setiap Senin 
pagi aku dapat menjumpai belahan jiwaku, walaupun hanya kuku- 
kukunya saja. Hanya sampai di situ saja kemajuan hubungan kami, 
tak ada sapa, tak ada kata, hanya hati yang bicara melalui kuku-kuku 
yang cantik. Tak ada perkenalan, tak ada tatap muka, tak ada rayuan, 
dan tak ada pertemuan. Cinta kami adalah cinta yang bisu, cinta 
yang sederhana, dan cinta yang sangat malu, tapi indah, indah sekali 
tak terperikan. 

Kadang-kadang ia menjentikkan jarinya atau menggodaku sam- 
bil terus memegang kotak kapur ketika akan kuambil sehingga kami 
saling tarik. Kadang kala ia mengepalkan tinjunya, mungkin mak- 
sudnya: kenapa kamu terlambat? Sering telah kusiapkan diri ber- 
minggu-minggu untuk sedikit saja memegang tangannya atau untuk 
mengatakan betapa aku rindu padanya. Tapi setiap kali aku melihat 
kuku-kukunya, semua kata yang telah ditulis rapi pun sirna, meng- 
uap bersama aroma keringat orang Sawang dan seluruh keberanian 
lenyap tertimbun tumpukan lobak asin. Tirai yang terbuat dari ke- 
ong-keong kecil itu demikian kukuh untuk ditembus oleh mental 
laki-laki sekecil aku. 

Sudah dua musim berlalu, sudah dua kali orang-orang bersa- 
rung turun dari perahu, aku merasa sudah saatnya untuk tahu siapa 
namanya. Namun sekali lagi, walaupun sudah berhari-hari me- 
ngumpulkan keberanian untuk bertanya langsung ketika tangannya 



238 



Miang Sui 

menjulur, aku menjadi bisu dan tuli. Aku begitu kerdil di depannya. 
Maka kutugaskan Syahdan mencari informasi. la sangat girang men- 
dapat tugas itu. Lagaknya seperti intel Melayu, mengendap-endap, 
berjingkat-jingkat penuh rahasia. 

"Namanya A Ling ...!" bisiknya ketika kami sedang khatam Al- 
Qur'an di Masjid Al Hikmah. Jantungku berdetak kencang. 

"Seangkatan dengan kita, di sekolah nasional!" Dan pyarrr!! Ko- 
piah resaman Taikong Razak menghantam rihalan Syahdan. 

"Jaga adatmu di muka kitab Allah anak muda!!" 

Syahdan meringis dan kembali menekuri Khatamul Qur'an. Se- 
kolah nasional adalah sekolah khusus anak-anak Tionghoa. Aku me- 
natap Syahdan dengan serius. Sekolah nasional ...? 

"Jangan sampai tahu ibuku," kataku cemas, "Bisa-bisa kau kena 
raj am." 

Syahdan tak mau menanggapi peringatkanku yang tidak kon- 
tekstual dengan infonya yang berharga tadi. Wajahnya mengisyarat- 
kan bahwa ia punya kejutan lain. 

"A Ling adalah sepupu A Kiong ...!" 

Aku terkejut, rasanya seperti tertelan biji rambutan yang macet 
di tenggorokanku. A Kiong, pria kaleng kerupuk itu! Mana mungkin 
dia punya sepupu bidadari? 

Syahdan membaca pikiranku, ia mengangguk-angguk yakin 
memastikan, "Iya, betul sekali, Kawan, A Kiong kita itu, tapi aku tak 
pasti, apakah A Kiong seperti itu karena tumbal ilmu sesat, titisan 
yang keliru, atau anomali genetika?" 



239 



Andrea Hirata 

Syahdan vulgar dan sok tahu. Aku segera teringat pada A Kiong. 
Beberapa hari ini ia belajar di kelas sambil berdiri karena lima biji 
bisul padi bermunculan di pantatnya sehingga ia tak bisa duduk. 
Tapi ia berkeras ingin tetap sekolah. 

Aku tak dapat menggamabrkan perasaanku atas semua info ini. 
Kenyataan bahwa A Ling adalah sepupu a Kiong membuatku ber- 
semangat sekaligus waswas. Aku dan Syahdan berunding serius 
membahas perkembangan ini dan kami putuskan untuk men- 
ceritakan situasinya pada A Kiong. Kami menganggap dialah satu- 
satunya peluang untuk menembus tirai keong itu. 

Kami giring A Kiong menuju kebun bunga sekolah dan kami 
dudukkan di abngku kecil dekat kelompok perdu kamar Beloperone, 
Pittosporum 2 , dan kembang sepatu yang saat itu sedang bersemi, 
tempat yang sempurna untuk bermusyawarah soal cinta. 

A Kiong menyimak dengan saksama ceritaku tapi ia tak bereaksi 
apa pun, tak ada sedikit pun perubahan air mukanya, ia tidak me- 
ngerti apa maksud pembicaraan kami. Pandangannya kosong dan 
bingung. Aku duga keras A Kiong tak paham sama sekali konsep 
cinta. 

"Mudahnya begini saja, Kiong," kataku tak sabar. "Aku akan 
menitipkan padamu surat dan puisi untuk A Ling, maukah kau 
memberikan padanya? Serahkan padanya kalau kalian sembahyang 
di kelenteng, pahamkah engkau?" 

Ia mengernyitkan dahinya, rambut landaknya berdiri tegak, wa- 
jahnya yang bulat gemuk tampak semakin jenaka. Ketika ia melepas- 



2 Pittosporum: nama genus besar untuk semak hijau dengan daun kecil yang kasar. 
Bunganya berkelompok, berwarna putih, ungu, atau kuning kehijauan dan berbau 
harum. Biasa digunakan sebagai pagar tanaman. 



240 



Miang Sui 

kan kembali kernyitannya itu pipinya yang tembem jatuh berayun- 
ayun lucu. Dia adalah pria berwajah mengerikan tapi lucu. 

"Mengapa tak kauberikan langsung padahal setiap Senin pagi 
kau bertemu dengannya? Tidak masuk akal!" A Kiong tak meng- 
ucapkan kata-kata itu tapi inilah arti kernyitannya itu. Aku juga 
menjawabnya dari dalam hati, semacam telepati. "Hei, anak Hokian, 
sejak kapan cinta masuk akal?" 

Aku menarik napas panjang, membalikkan badanku, meman- 
dang jauh ke lapangan hijau pekarangan sekolah kami. Seperti se- 
dang berakting dalam sebuah teater aku merenggut daun-daun 
Dracaena 3 , meremas-remasnya lalu melemparkannya ke udara. 

"Aku malu, A Kiong, nyaliku lumpuh kalau berada satu meter 
darinya, aku adalah seorang pria yang kompulsif, jika ceroboh aku 
takut ketahuan bapaknya, kalau itu terjadi, tak terbayangkan akibat- 
nya!" 

Kudapat kata-kata itu dari majalah Aktuil langganan abangku, 
barangkali agak kurang tepat, tapi apa peduliku. Demi mendengar 
kata-kata seperti naskah sandiwara radio itu Syahdan memeluk erat- 
erat pohon petai cina di sampingnya. Aku kehabisan kata untuk 
menjelaskan pada A Kiong bahwa titip-menitip dalam dunia percin- 



3 Dracaena: genus besar tanaman tropis yang memiliki daun runcing seperti pedang 
atau oval dan lancip di ujungnya, sering kali dengan corak warna yang bergradasi, 
yang berkelompok di ujung batangnya. Tanaman ini jarang sekali memproduksi 
bunganya yang kecil dan berwarna putih kehijauan. Spesiesnya yang paling umum 
ditemui adalah fragnant dracaena (Dracaena fragans; corn-plant), dengan ciri khas berupa 
daun yang lemas dan melengkung, dengan setrip warna daun yang lebih muda di 
tengahnya. Ada juga spesies gold-dust dracaena {Dracaena surculosa) yang memiliki 
daun berbintik keemasan. 



241 



Andrea Hirata 



taan mengandung nilai romansa yang tinggi karena ada unsur-unsur 
kejutan di sana. 

Rupanya A Kiong menangkap keputusasaan dalam nada suara- 
ku. la adalah siswa yang tidak terlalu pintar tapi ia setia kawan. Se- 
panjang masih bisa diusahakan ia tak 'kan pernah membiarkan saha- 
batnya patah harapan. Luluh hatinya melihat aktingku. Sekarang ia 
tersenyum dan aku menyembahnya seperti murid shaolin berpamit- 
an pada suhunya untuk memberantas kejahatan. Namun karena tu- 
runan darah wiraswasta leluhurnya, A Kiong tentu menuntut kom- 
pensasi yang rasional. Aku tak keberatan menggarap PR tata buku 
hitung dagangnya. 

Lalu, tak terbendung, melalui A Kiong, puisi-puisi cintaku me- 
ngalir deras menyerbu pasar ikan. Baginya itu hanyalah tugas mu- 
dah. Sebaliknya, ia mulai merasakan kenikmatan eskalasi gengsi 
akibat nilai-nilai tata buku hitung dagang yang membaik. Hubungan 
A Kiong, aku dan Syahdan adalah simbiosis mutualisme, seperti bu- 
rung cako dengan kerbau. Ia sama sekali tak menyadari bahwa per- 
soalan titip menitip ini dapat membawa risiko ia pecah kongsi de- 
ngan pamannya A Miauw. 

Aku selalu mendesak A Kiong untuk menceritakan bagaimana 
wajah A Ling ketika menerima puisi dariku. 

"Seperti bebek ketemu kolam," kata A Kiong penuh godaan per- 
sahabatan. 

Dan pada suatu sore yang indah, di bulan Juli yang juga indah, 
di tempat duduk bulat, sendirian di kebun bunga kami, aku menulis 
puisi ini untuk A Ling: 



242 



Miang Sui 

Bunga Krisan 

A Ling, lihatlah ke langit 

Jauh tinggi di angkasa 

Awan-awan putih yang berarak itu 

Aku mengirim bunga-bunga krisan untukmu 

Ketika kumasukkan puisi ke dalam sampul surat, aku terse- 
nyum, tak percaya aku bisa menulis puisi seperti itu. Cinta barang- 
kali dapat memunculkan sesuatu, kemampuan atau sifat-sifat raha- 
sia, yang tak kita sadari sedang bersembunyi di dalam tubuh kita. 
Namun ketika itu aku selalu merasa heran mengapa A Ling selalu 
mengembalikan puisiku? Barangkali di tokonya yang sesak tak ada 
lagi tempat untuk menyimpan kertas. Demikianlah pikiranku, bu- 
kankah anak kecil selalu berpikir positif. Aku tak ambil pusing soal 
itu lagi pula saat ini pikiranku sedang tak keruan karena pada kotak 
kapur yang kuambil pagi ini ada tulisan: 

Jumpai aku di acara sembahyang rebut 

Tulisan tangan A Ling! Ini adalah lompatan raksasa dalam hu- 
bungan kami. Bagiku catatan kecil ini sangat penting seperti kate- 
belece 4 presiden untuk menaikkan gaji seluruh pegawai negeri. Kei- 
nginanku melihat kembali wajah Michele Yeoh-ku setelah insiden 
tirai dulu adalah tabungan rindu dalam celengan tanah liat yang se- 
tiap saat hampir meledak. Dan dalam waktu 92 jam, 15 menit, 10 
detik dari sekarang aku akan menjumpainya langsung! Di halaman 
kelenteng. 



4 Katebelece: surat pendek untuk memberitakan hal seperlunya saja; surat pengantar 
dari pejabat untuk urusan tertentu. 



243 



Andrea Hirata 

Hari-hari menjelang pertemuan adalah hari-hari tak bisa tidur. 
Klasik sekali memang, tapi apa boleh buiat karena memang itu ke- 
nyataannya maka hams kuceritakan. Berkali-kali kubaca pesan di 
atas kotak kapur itu tapi masih tetap isinya tentang janji ketemu. 
Dibaca dari arah mana pun, dari belakang seperti membaca huruf 
Arab, dari depan, dari atas, dari jauh, dari dekat, dipantulkan di 
cermin, digerus dengan lilin, dibaca dengan kaca pembesar, dibaca 
di balik api, ditaburi tepung terigu, diawasi lama-lama seperti me- 
lihat gamabr tiga dimensi yang tersamar, isinya tetap sama yaitu 
"jumpai aku di acara sembahyang rebut". Itu adalah kalimat bahasa 
Indonesia yang jelas, bukan idiom, bukan isyarat atau simbol. Aku 
seolah tak percaya dengan pesan itu tapi aku, si Ikal ini, akan segera 
berjumpa dengan cinta pertamanya! Tak diragukan lagi, dunia boleh 
iri. 

Kotak kapur yang ada tulisan pesan A Ling itu kusimpan di ka- 
marku seperti benda koleksi yang bernilai tinggi. Syahdan dan A 
Kiong sampai bosan terus-menerus mendengar kisahku tentang pe- 
san itu. Mereka muak. Satu pelajaran berharga, orang yang sedang 
jatuh cinta adalah orang yang egois. Aku seolah tak percaya pada apa 
yang akan terjadi, mimpikah ini? 

"Bukan, Kawan, bukan mimpi, mandilah bersih-bersih dan 
tunggu dia pukul empat sore di halaman kelenteng, saat persiapan 
sembahyang rebut. Dia wanita yang baik, dia akan datang untuk 
janjinya," nasihat A Kiong, event organizer pertemuan penting ini, 
yang tiba-tiba menjadi amat bijaksana. 

Chiong Si Ku atau sembahyang rebut diadakan setiap tahun. Se- 
buah acara semarak di mana seluruh warga Tionghoa berkumpul. 
Tak jarang anak-anaknya yang merantau pulang kampung untuk 
acara ini. Banyak hiburan lain ditempelkan pada ritual keagamaan 



244 



Miang Sui 

ini, misalnya panjat pinang, komidi putar, dan orkes Melayu, se- 
hingga menarik minat setiap orang untuk berkunjung. Dengan 
demikian ajang ini dapat disebut sebagai media tempat empat kom- 
ponen utama kelompok subetnik di kampung kami: orang Tiong- 
hoa, orang Melayu, orang pulau bersarung, dan orang Sawang ber- 
kumpul. 

Orang Sawang tak terlalu tertarik dengan hiburan-hiburan tadi 
tapi mata mereka tak lepas dari tiga buah meja berukuran besar de- 
ngan panjang kira-kira 12 meter, lebar dan tingginya kira-kira 2 me- 
ter. Di atas meja itu ditimbun berlimpah ruah barang-barang keper- 
luan rumah tangga, mainan, dan berjenis-jenis makanan. Barang- 
barang ini adalah sumbangan dari setiap warga Tionghoa. Tak ku- 
rang dari 150 jenis barang mulai dari wajan, radio transistor, bahkan 
televisi, berbagai jenis kue, biskuit, gula, kopi, beras, rokok, bahan 
tekstil, berbagai botol dan kaleng minuman ringan, gayung, pasta 
gigi, sirop, ban sepeda, tikar, tas, sabun, payung, jaket, ubi jalar, baju, 
ember, celana, buah mangga, kursi plastik, batu baterai, sampai be- 
ragam produk kecantikan disusun bertumpuk-tumpuk laksana gu- 
nung di atas meja-meja besar tadi. Daya tarik terkuat dari sembah- 
yang rebut adalah sebuah benda kecil yang disebut fung pu, yakni 
secarik kain merah yang disembunyikan di sela-sela barang-barang 
tadi. Benda ini merupakan incaran setiap orang karena ia perlam- 
bang hoki dan yang mendapatkannya dapat menjualnya kembali pa- 
da warga Tionghoa dengan harga jutaan rupiah. 

Meja itu diletakkan di depan sebuah Thai Tse Ya, yaitu patung 
raja hantu yang dibuat dari bambu dan kertas-kertas berwarna- 
warni. Tinggi Thai Tse Ya mencapai 5 meter dengan diameter perut 
2 meter. Ia adalah sesosok hantu raksasa yang menyeramkan. Mata- 
nya sebesar semangka dan lidahnya panjang menjuntai seperti ingin 



245 



Andrea Hirata 

menjilati jejeran babi berminyak-minyak yang dipanggang berayun 
di bawahnya. Thai Tse Ya tak lain adalah representasi sifat-sifat bu- 
ruk dan kesialan manusia. Sepanjang sore dan malam hari, warga 
Tionghoa yang Kong Hu Cu tentu saja melakukan sembahyang di 
depan Thai Tse Ya ini. 

Tepat tengah malam salah seorang paderi akan memukul se- 
buah tempayan besar pertanda seluruh hadirin dapat mengambil— 
lebih tepatnya merebut— semua barang yang ada di tiga meja besar 
tadi. Oleh karena itu Chiong Si Ku disebut juga acara sembahyang 
rebut. 

Ketika tempayan itu dipukul bertalu-talu tanda mulai berebut 
aku menyaksikan salah satu peristiwa paling dahsyat yang pernah di- 
lakukan manusia. Gunungan beratus-ratus jenis barang tersebut le- 
nyap dalam waktu tak lebih dari satu menit— 25 detik lebih tepatnya, 
dan tempat itu berubah menjadi kekacaubalauan yang tak tertulis- 
kan kata-kata. Debu tebal mengepul ketika ratusan orang dengan ga- 
rang menyerbu meja-meja tinggi itu dengan semangat seperti orang 
kesetanan. Tak jarang meja-meja itu hancur berantakan dan para pe- 
rebut cidera berat. 

Mereka yang berhasil naik ke atas meja dengan gerakan secepat 
kilat melemparkan barang-barang secara sistematis kepada rekan- 
rekannya yang menunggu di bawah. Mereka yang bertindak sendiri 
naik ke atas meja dan memasukkan apa saja yang ada di dekatnya ke 
dalam sebuah karung— juga dengan kecepatan kilat— sampai kadang 
kala tak bisa menurunkan karungnya itu karena sudah di luar batas 
tenaganya. 

Kadang kala belasan orang berebut sebuah barang sehingga ter- 
jadi semacam perkelahian di tengah tumpukan barang dan beberapa 



246 



Miang Sui 

di antaranya terjengkang, jatuh menabrak barang-barang rebutan, 
lalu terjembab ke tanah. Para penonton tak sempat bertepuk tangan 
tapi hanya terpana menyaksikan pemandangan sekilas yang maha 
dahsyat sekaligus ngeri membayangkan bagaimana manusia bisa be- 
gitu serakah dan beringas. 

Mereka yang tidak membawa karung memasukkan apa saja ke 
dalam seluruh saku baju dan celana bahkan ke dalma bajunya se- 
hingga tampak seperti badut. Dalam situasi berebutan yang sangat 
cepat otak sudah tidak bisa menalar, kadang kala butir-butir beras 
dan gula juga dimasukkan ke dalam saku celana. Mereka yang saku 
baju dan celananya— bahkan bagian dalam bajunya— telah penuh 
memasukkan apa saja ke dalma mulutnya, mereka makan apa saja, 
sebanyak mungkin, ketika masih berada di atas meja, jika perlu 
mereka akan menyimpan barang di dalam lubang-lubang hidung 
dan telinga, luar biasa! 

Jika berhasil merebut radio transistor jangan harap akan mem- 
bawanya pulang dengan utuh karena ketika masih di atas meja radio 
itu akan direbut oleh lima belas orang sekaligus sehingga yang ter- 
sisa hanya tombol-tombol atau antenanya saja. Prinsipnya tak me- 
ngapa mendapatkan tombolnya saja asalkan orang lain juga tak 
mendapatkan radio seutuhnya. Perkara radio itu menjadi hancur tak 
bisa dipakai adalah urusan lain yang tak penting. Inilah manifestasi 
dasar keserakahan manusia. Chiong Si Ku adalah bukti nyata tak ter- 
bantah terhadap teori yang dipercaya para antropolog tentang ke- 
cenderungan egois, tamak, merusak, dan agresif sebagai sifat-sifat 
dasar homo sapiens. 

Superstar dalam Chiong Si Ku tentu saja orang-orang Sawang. 
Tanpa mereka bisa-bisa acara ini kehlilangan sensasinya. Mereka 
sukses setiap tahun karena pengorganisasian yang solid. Sejak sore 



247 



Andrea Hirata 

mereka telah melakukan riset di mana posisi barang-barang ber- 
harga, dari sudut mana hams menyerbu, berapa tenaga yang diper- 
lukan, dan mengkalkulasi perkiraan perolehan. Berhari-hari sebelum 
sembahyang rebut mereka telah menyusun strategi. Pembagian tu- 
gasnya jelas, yaitu mereka yang berbadan besar bertugas menjegal 
kelompok perebut lain, yang kecil menyerbu naik ke atas meja seper- 
ti gerakan monyet: cepat, jeli, dan tangkas, dan sisanya menunggu di 
bawah, siaga menangkap apa saja yang dilemparkan dari atas meja. 
Kelompok ini beranggotakan sampai dua puluh orang. Seorang pria 
Sawang kurus bermata liar ditugaskan khusus selama bertahun- 
tahun untuk menjarah/ungpu. Ketika ia beraksi ekspresinya datar 
seolah ia tak punya urusan dengan perebut-perebut serakah lainnya. 
Tingkah lakunya persis budak yang dijanjikan merdeka oleh Siti 
Hindun jika berhasil membunuh Hamzah sang panglima pada pe- 
rang Uhud. Sang budak tak ada urusan dengan perang Uhud, perang 
itu bukan perangnya, setelah menombak dada Hamzah ia bergegas 
pulang. Demikian pula pria bermata liar ini. Ketika paderi memukul 
tempayan pertama kali ia langsung memanjat meja seperti manusia 
laba-laba, lalu dengan cekatan ia berjingkat-jingkat di antara lautan 
barang-barang. Matanya yang tajam nanar jelalatan melacak ke sana 
kemari dan dalam waktu singkat ia mampu menemukan/tmgpw. Ia 
selalu sukses meskipun paderi telah menyembunyikan benda kecil 
keramat itu dengan amat rapi di antara tumpukan terdalam lipatan 
daster, di dalam salah satu dari puluhan kaleng biskuit Khong Guan 
yang paling sulit dijangkau, di dalam karung kemiri, di sela-sela de- 
daunan tebu, bahkan di dalam buah jeruk kelapa. Setelah mendapat- 
kanfungpu ia menyelipkan carikan merah itu di pinggangnya dan 
melompat turun seperti pemilik ilmu peringan tubuh. Ia tak sedikit 
pun peduli dengan barang-barang berharga lainnya serta kecamuk 
ratusan pria kasar yang berebut dengan brutal. Sang legenda hidup 



248 



Miang Sui 

Chiong Si Ku itu mendarat ke bumi tanpa menimbulkan suara lalu 
sedetik kemudian ia menghilang di tengah kerumunan massa mem- 
bawa lari lambang supremasi Chiong Si Ku. Ia lenyap di telan gelap, 
asap gaharu, dan aroma dupa. 

Orang-orang Melayu, sebagaimana biasa, susah berorganisasi. 
Bukannya fokus pada ikhtar untuk mencapai tujuan dan meme- 
nangkan persaingan tapi sebaliknya mereka gemar sekali berpolitik 
sesama mereka sendiri. Tak terima jika dikoreksi dan jarang ada 
yang mau berintrospeksi. Di antara mereka selalu saja berbeda pen- 
dapat dan mereka senang bukan main dengan pertengkaran yang tak 
konstruktif. Tak mengapa tujuan tak tercapai asal tak jatuh nama 
dalam debat kusir. Dan selalu terjadi suatu gejala yang paling umum 
yaitu: yang paling bodoh dan paling tak berpendidikan adalah paling 
lantang dan paling pintar kalau bicara. Jika orang Melayu memben- 
tuk sebuah tim maka setiap orang ingin menjadi pemimpin. Akhir- 
nya tim yang solid tak pernah terbentuk. Akibatnya dalam sembah- 
yang rebut mereka beroperasi secara individu dan berjuang secara 
soliter maka yang berhasil dibawa pulang hanya tubuh yang remuk 
redam, sebatang tebu, beberapa bungkus sagon, sebelah kaos kaki 
Mundo, beberapa butir kepala boneka, bibit kelapa yang tak dipe- 
dulikan orang Sawang, dan pompa air— itu pun hanya sumbatnya 
saja. Chiong Si Ku diakhiri dengan membakar Thai Tse Ya dengan 
harapan tak ada sifat-sifat buruk dan kesialan melanda sepanjang ta- 
hun ini. Sebuah acara keagamaan tua yang syarat makna, berseni, 
dan sangat memesona. Pukul 3.30 selesai shalat Ashar. 

Pesan di kotak kapur! Seperti message in a bottle. Aku berdiri 
tegak di bawah pohon seri di halaman kelenteng sambil memegangi 
sepedaku, menunggu. Anak-anak muda Tionghoa hilir mudik. Me- 
reka sibuk mendirikan Thai Tse Ya setinggi lima meter. Ada A 



249 



Andrea Hirata 

Kiong diantara mereka, ia berulang kali mengacungkan jempolnya 
menyemangatiku. 

"Tabahlah, Kawan, ambil semua risiko, begitulah hidup," demi- 
kian barangkali maksudnya. 

Aku membalas dengan senyum kecut karena aku gelisah. Aku 
gelisah membayangkan apa yang ada di pikiran seorang wanita mu- 
da Tionghoa tentang laki-laki Melayu kampung seperti aku. Dan 
berada di tengah lingkungan mereka membuat aku semakin ragu. 
Apa aku pulang saja? Tapi aku rindu. Dan rinduku telanjur ber- 
darah-darah. 

Seperti terjadi setiap hari, pukul 3.30 sore matahari masih terasa 
sangat panas dan dengan berdiri di sini sebagian tubuhku tersiram 
cahayanya. Aku dapat merasakan keringatku mengalir pelan di leher 
baju takwa putih berlengan panjang, baju terbaik yang aku miliki, 
hadiah hiburan lomba azan. Jantungku berdetak kacau, aku gugup 
luar biasa. Burung matahari akwanan tujuh ekor yang berkicau- 
kicau di dahan-dahan rendah seri jelas-jelas menggodaku. Mereka 
berjingkat-jingkat dan ribut sekali. Kumbang juga menerorku, se- 
perti suara ambulans mereka sibuk melubangi kayu-kayu besar ber- 
cat merah mencolok yang menyangga atap kelenteng. Suaranya me- 
risaukanku. Aku tak sabar menunggu. 

Pukul 3.55 

Sudah 25 menit aku mematung di sini, tak ada tanda-tanda 
kehadiran A Ling. Wajah A Kiong menaruh belas kasihan padaku. 
Barangkali tadi aku tiba terlalu awal, harusnya aku datang terlambat 
saja, atau tak datang sama sekali. Berbagai pikiran aneh mulai 
merasukiku. Aku merasa lelah karena tegang. Kakiku kesemutan. 



250 



Miang Sui 

Mataku tak lepas-lepas memandang ke arah satu-satunya jalan 
yang menghubungkan kelenteng dengan pasar ikan. Di sepanjang 
kiri kanan jalan ini tumbuh berderet-deret pohon saga. Cabang- 
cabang atasnya bertemu meneduhi jalan di bawahnya sehingga jalan 
ini tampak seperti gua. Setelah deretan pohon-pohon saga, jalan ini 
berbelok ke kanan. Pinggir jalan ini dipagari bekas-bekas tulang 
bangunan yang terlantar. 

Tulang-tulang bangunan itu dirambati dengan lebat tak 
beraturan ke sana kemari oleh Bougainvillea spectabilis 5 liar atau 
kembang kertas dan berakhir pada ujung sebuah jalan buntu. Di 
ujung jalan ini berdiri toko Sinar Harapan, rumah A Ling. Maka 
berdiri dua puluh meter persis di depan Thak Si Ya adalah posisi 
yang telah kuperhitungkan dengan matang. Jika ia muncul di 
belokan itu, maka dari posisi ini aku dapat melihatnya langsung 
berjalan anggun seperti burung sekretaris 6 menuju ke arahku. Pasti 
ia akan menunduk tersenyum-senyum, atau, seperti film India, ia 
akan berlari kecil membawa seikat bunga, lalu merentangkan 
tangannya untuk memelukku. Ah, aku bermimpi. 

Tapi ia tak muncul-muncul dan aku berulang kali mengusap 
mataku yang kelelahan memelototi belokan itu. Kakiku penat dan 
aku mulai merasa pusing karena ketegangan berkepanjangan. 
Sekarang Thak Si Ya telah berdiri, para pemuda Tionghoa bertepuk 



5 Bugenvil (bunga kertas; Bougainvillea): nama umum genus tanaman bunga 
merambat yang memiliki sulur berduri. Genus ini terdiri dari sekitar 13 spesies. 
Tanaman ini memiliki bunga yang kecil, sederhana, dan terpisah, yang biasanya 
dikelilingi oleh braktea yang mencolok. Braktea ini bisa berwarna merah, merah 
muda, ungu, kuning, oranye, atau putih. Namanya diambil dari Louis Antoine de 
Bougainville, pria Perancis pemimpin ekspedisi saat tanaman ini ditemukan. 

6 Burung sekretaris (secretary bird): burung dari kelompok bangau, begitu anggun, 
tinggi, berkaki panjang, dan berjalan melenggak-lenggok, berasal dari Afrika. 



251 



Andrea Hirata 

tangan, sementara aku semakin gelisah. Aku melirik Thak Si Ya yang 
berdiri tinggi tegak, matanya seram sekali mengawasi gerak gerikku. 

Sekarang sudah pukul 3.57, tiga menit menjelang tenggat waktu. 

Aku menghitung dengan jariku, jika sampai hitungan keenam 
puluh ia tak muncul maka aku akan pergi saja. Aku kepanasan dan 
merasa mual. Karena tegang, perutku naik membaut ngilu ulu 
hatiku. Kalau tadi pikiran yang bukan-bukan merasukiku, kini 
pikiranku dilanda keraguan. 

Apakah ia benar-benar seperti persepsiku selama ini? Apakah 
yang kuabyangkan tentang dirinya akan sama sekali berbeda 
kenyataannya? Mungkinkah sekarang ia sedang menyiangi tauge, 
lupa akan janjinya? Tahukah ia betapa berarti pesannya itu untukku? 
Dan sekarang ia tak datang, betapa hancur hatiku. Ingin segera 
kukayuh sepeda ini, lari sekencang-kencangnya menceburkan diri ke 
Sungai Lenggang. 

Pukul 4.02, lewat sudah batas janji. 

Tik! Tok! Tik! Tok! Tik! Tok! 

Sudah 60! Hitunganku sampai. Ia ingkar! 

Aku berada di puncak kegelisahan. Tanganku dingin, jantungku 
berdetak makin cepat. Suara kumbang-kumbang semakin riuh 
merubung aku, menerorku tanpa ampun. Ngiung! Ngiung! Ngiung... 

Dadaku sesak karena rindu dan marah, aku naiki sadel sepeda, 
sudah tak tahan ingin berlalu dari neraka ini. Namun ketika aku 
akan mengayuh sepeda, aku mendengar persis di belakangku suara 
itu. Suara yang lembut seperti tofu. Suara yang membuat kumbang- 
kumbang terdiam bungkam. Inilah suara yang sejuk seperti angin 



252 



Miang Sui 

selatan, suara terindah yang pernah kudengar seumur hidupku, 
laksana denting harpa dari surga. 

"Siapa namamu?" 

Aku berbalik cepat dan terkejut. 

Aku tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Karena di situ, 
persis di situ, tiga meter di depanku, berdirilah ia, the distinguished 
Miss A Ling herself. Michele Yeoh-ku. Ia datang dari arah yang sama 
sekali tak kuduga karena sebenarnya dari tadi ia sudah berada di 
dalam kelenteng memerhatikanku, dan pada detik-detik terakhir aku 
akan kecewa, ia hadir, memberiku kejutan listrik voltase tinggi, 
menghancurkan setiap butiran-butiran darah merah di tubuhku. Se- 
telah lima tahun mengenalnya, baru tujuh bulan yang lalu pertama 
melihat wajahnya, setelah puluhan puisi yang kutulis untuknya, 
setelah berton-ton rindu untuknya, baru sore ini dia akan tahu na- 
maku. 

Aku tergagap-gagap seeprti orang Melayu belajar mengaji. 

Ia mengulum senyum, manis sekali tak terperikan. Hadir dalam 
balutan chong kiun, baju acara penting yang memesona, di suatu 
bulan Juli yang meriah, ia turun ke bumi bagai venus dari Laut Cina 
Selatan. Baju itu mengikuti lekuk tubuhnya dari atas mata kaki 
sampai ke leher dan dikunci dengan kancing tinggi berbentuk seper- 
ti paku. Tubuhnya yang ramping bertumpu di atas sepasang sandal 
kayu berwarna biru. Cantik rupawan melebihi mayoret mana pun. 
Tingginya tak kurang dari 175 cm, jelas lebih tinggi dariku. 

Serasi dengan rumpun genayun yang tumbuh kurus menjulang 
di sampingnya ia mengikat rambutnya menjadi satu ikatan besar 
dan ikatan itu ditegakkan tinggi-tinggi. Beberapa helai rambut yang 



253 



Andrea Hirata 

disatukan jatuh di atas pundak chong kiun berwarna lam set, biru 
muda, dengan motif bunga ros besar-besar. Beberapa helai rambut 
lainnya dibiarkan jatuh melintasi wajahnya yang teduh jelita. Kuku- 
kukunya yang cantik memegang hio utnuk sembahyang. 

Ada sedikit kilasan kedewasaan pada pancaran matanya 
dibanding terakhir kami bertemu. Teori yang memaksakan 
pendapat bahwa wanita bermata besar kelihatan lebih cantik akan 
runtuh berantakan jika melihat A Ling. Matanya yang sipit sedikti 
tertarik ke atas, senada dengan bentuk alis yang dibiarkan alami. 
Dalam lukisan wajah yang tirus bentuk mata seperti itu menciptakan 
rasa kecantikan dengan karakter yang kaut. Inilah pusat gravitasi 
pesona wajah A Ling. 

Sejujurnya aku tak sanggup mengatasi keanggunan pada level 
seperti ini. Ini bukan untukku. Aku merasa tak pantas. Bagiku ia 
seperti seseorang yang akan selalu menjadi milik orang lain. Dan 
aku, tak lebih dari pengisi data nama dan alamat pada buku simfoni- 
nya yang akan terlupakan sebulan setelah ini. Aku tak mungkin ber- 
ada di dalam liga ini. Aku rasanya ingin pulang saja. Ia membaca itu. 
Lalu memegang mata kiang Han, seuntai kalung yang menggantung 
panjang di lehernya. Mata kalung itu batu giok dan bertulisan 
Tionghoa. Aku tak paham makna tulisan itu. 

"Miangsui," kata A Ling. Nasib, itulah artinya. 

Dan lilin besar merah pun dinyalakan, cahayanya berkibar-ki- 
bar, ratusan jumlahnya. Mata Thai Tse Ya berkilat-kilat karena lilin 
menyinari wajahnya dari bawah. Ia tampak makin seram tapi aura A 
Ling membuatnya tak lebih dari boneka kertas yang jenaka dan 
kumbang-kumbang yang nakal tadi tak berani muncul lagi. 



254 



Miang Sui 

A Ling menarik tanganku, kami berlari meninggalkan halaman 
kelenteng, terus berlari melintasi kebun kosong tak terurus, menyi- 
bak-nyibakkan rumput apit-apit setinggi dada, tertawa kecil menuju 
lapangan rumput halaman sekolah nasional. Kami merebahkan diri 
kelelahan, memandangi awan senja berarakan. 

"Aku membaca puisimu, Bunga Krisan, di depan kelas!" kata- 
nya serius. "Puisiyang indah ...." 

Aku melambung. 

Wajah A Ling yang cantik berair karena keringat, seperti embun 
di permukaan kaca. la bangkit, lalu berjalan hilir mudik di depanku 
yang memandanginya seperti bayi melihat kelereng. Lalu dengan ga- 
ya seperti dosen ia menggenggam jemarinya, bercerita penuh sema- 
ngat tentang minatnya pada sketsa dan cita-citanya menjadi peran- 
cang busana. Sebaliknya, aku menceritakan minatku pada seni. Di 
dekatnya aku merasa berarti, merasa menjadi seseorang, di dekatnya 
aku merasa ingin menjadi seorang pria yang lebih baik. Di dekatnya 
aku merasa seperti sedang berada dalam sebuah adegan dalam film. 

Dari lapangan itu kami kemudian berlari-lari menuju komidi 
putar. Bukankah komidi putar adalah sebuah benda yang menakjub- 
kan? Setelah seorang pria kumal mengangkat sebuah tuas lalu benda 
itu secara mekanik memutar insan-insan yang dimabuk cinta yang 
duduk berimpitan di dalam sebuah tempat seperti mentudung. Lalu 
tiba-tiba semuanya menjadi mudah karena semua hal disaksikan 
dari suatu jarak. Bagiku mentudung-mentudung itu seumpama pela- 
minan di mana orang berusaha menikmati keindahan cinta dalam 
kesederhanaan sensasi yang ditawarkan sebuah komidi putar. Kein- 
dahan yang sederhana ini membuatku belajar menghargai cinta yang 
sekarang duduk di sampingku. Inilah sore terindah dalam hidupku. 



255 



Andrea Hirata 

Aku bertanya-tanya pada diri sendiri: ke manakah nasib akan mem- 
bawaku setelah ini? Dari putaran tertinggi komidi aku dapat melihat 
lapangan tempat tadi kami memandangi awan. 



^S^^^Lz? 



256 






DI sebuah buku aku melihatnya mengendarai kuda dengan cara 
memeluk erat perut hewan itu seperti prajurit Kubilai Khan. 
Matanya berkilat-kilat karena dewa mata tombak telah melukai hati- 
nya. Darahku menggelegak ketika ia mengendap-endap mendekati 
seekor moose jantan. Dan aku tak kuasa membalik satu lembar ter- 
akhir saat ia mengatakan bahwa ia akan mencampakkan cinta wani- 
ta-wanita berdarah campuran Tututni dan Chimakuan. Semua itu 
karena ia tak mau mencemari darah Indian Pequot yang mengalir 
deras di tubuhnya, dan yang paling memilukan, karena ia adalah 
pria terakhir dalam sukunya. 

Maka air kelaki-lakiannya bersimbah di punggung-punggung 
kuda tak berpelana dan ia mengembara sendirian di lautan padang 
rumput Yellowstone yang tak bertepi. Ia menjerit sepanjang hari dan 
menari menantang matahari sehingga pandangan matanya gelap gu- 
lita. Ia merangkak-rangkak, berdoa agar salah satu wanita dari suku- 



Andrea Hirata 

nya akan muncul di antara kawanan coyote seperti para dewa telah 
menghadirkan wanita-wanita Squamish. Tapi waktu yang mengutus 
angin juga telah tega mengkhianatinya, sehingga ia menjadi tua, dan 
saat maut menagih janjinya, ia mati masih perjaka, Pagi itu langit 
melapangkan kedua tangan, menyambut darah asli Pequot, 

Chinookcuk, yang terakhir dari kaumnya itu adalah prajurit 
yang memutuskan untuk mengucilkan diri karena ingin menjaga ke- 
sucian darah Pequot. Sama seperti suatu suku terasing di Sepahua 
Amazon. Mereka melarikan diri jauh ke rimba yang dalam karena 
ingin menghindarkan diri dari wabah kolera. Sejak tahun 1500 tak 
seorang pun pernah melihat mereka. Isolated by choice, demikian 
para ahli menyebutnya, yaitu sikap sengaja mengasingkan diri. Se- 
dangkan yang mengumbar keberadaan dirinya seperti suku-suku O- 
sage, Huron, Lakmiut, Cherokee, Sawang, atau Melayu Belitong 
umumnya mengalami hambatan-hambatan geografis sehingga ter- 
isolasi. Meskipun dalam kasus tertentu isolasi sengaja itu juga terjadi 
karena pertimbangan komersial, misalnya Sheffield yang tiga tahun 
lalu memutuskan untuk mengucilkan diri dengan menutup banda- 
ranya karena tidak menghasilkan keuntungan. Adapun suku-suku 
Perupian itu memang terasing karena rimba belantara yang sulit di- 
tembus, sungai-sungai yang liar, dan gunung gemunung yang terjal. 

Pada suatu ketika Melayu Belitong sempat terisolasi karena 
mereka tinggal di sebuah pulau kecil yang dikelilingi samudra, se- 
mentara tidak semua peta memuat pulau ini. Waktu itu di sana be- 
lum berdiri BTS-BTS atau antena gelombang mikro untuk teleko- 
munikasi. Satu-satunya akses suku ini kepada dunia luar adalah me- 
lalui sebuah pintu baja setebal 30 sentimeter. Bagi orang Belitong, 
pintu baja itu adalah tabir pemisah kehidupan jahiliah dan dunia 



258 



Rindu 



modern, sekaligus laksana teropong kapal selam yang timbul untuk 
melongok-longok dunia luar. 

Pintu baja tulen itu menutup sebuah ruangan sempit rahasia 
yang menyimpan benda-benda keramat berwarna-warni. Ruangan 
ini disebut kluis dan merupakan bagian utama dari sebuah kantor 
peninggalan Belanda. Jika pintu ini ditutup maka orang Melayu 
Belitong merasa bahwa di dunia ini Tuhan hanya menciptakan me- 
reka dan bumi berbentuk lonjong. Kluis adalah jendela alam semesta 
bagi suku Melayu Belitong. 

Oleh karena itu, kluis sangat penting dan kuncennya bukan 
orang sembarangan. Di dunia ini hanya ia dan Tuhan yang tahu 
kombinasi sebelas digit nomor benteng pertama kluis. Setelah me- 
mutar kombinasi itu ia harus melalui tiga tahap lagi untuk mem- 
bukanya. Pertama, ia harus memasukkan dua buah anak kunci tem- 
baga kurus panjang ke dalam dua lubang kunci dan memutarnya se- 
tengah lingkaran secara bersamaan. Kedua, ia kembali memasukkan 
sebuah anak kunci besar yang harus diputar dengan kedua tangan 
karena harus cukup tenaga untuk membalik enam buah batangan 
baja murni sebesar lengan manusia dewasa dari penyekatnya, inilah 
tuas kunci utama kluis. Dan ketiga setelah pintu besi 30 sentimeter 
itu terbuka ternyata masih ada lagi pintu besi jeruji yang dikunci 
dengan gembok tembaga selebar telapak tangan. 

Ruangan kluis ini tahan api dan jika diledakkan dengan dinamit 
100 kilogram ia masih tak akan bergerak. Di dalamnya gelap pekat 
tak ada udara, apabila terperangkap di sana dipastikan akan mati le- 
mas dalam waktu singkat. Jika pintu itu rusak, hanya seorang pria 
tua bernarna Hans Ritsema Van Horn dari Uttrech yang bisa mem- 
betulkannya. Pengamanan dibuat demikian ketat berlapis-lapis kare- 
na dalam kluis itu terdapat benda-benda keramat berwarna-warni, 



259 



Andrea Hirata 

benda inilah sang penguasa waktu. la bukan semacam lorong waktu 
yang dapat membalik tempo tapi ia lebih seperti time slider pada 
DVD player, dan ia disimpan dalam portepel-portepel. Dengan 
Rp200, perangko kilat, tujuh had insya Allah sampai kepada alamat 
penerima, menuju tajuan kota mana pun di Pulau Jawa, dan Rp75 
adalah perangko biasa, jika ingin sampai saat Hari Raya Idul Adha 
maka kirimlah sebelum Hari Raya Idul Fitri. 

Pria pemegang kunci kluis itu merupakan orang terpilih dan 
Tuhan diam-diam telah menciptakan untuknya sebuah pekerjaan 
yang bukan hanya bergaji rendah tapi juga unik dan bisa memacu 
otak sekaligus jantungnya. kepada pemangku pekerjaan inilah seha- 
rusnya kita, khususnya kami, orang-orang Melayu Beiitong, meng- 
haturkan terima kasih yang tak terperikan. Meskipun The Beatles te- 
lah menunjukkan sedikit respek kepadanya dengan menulis lagu Mr. 
Postman, tapi masih jarang sekali pujangga-pujangga Melayu yang 
tersohor merangkai gurindam, mengarang puisi, atau sekadar menu- 
lis cerpen tentang kiprahnya. 

Pekerjaan kuncen kluis yang memacu otak dan jantung kumak- 
sud di atas adalah pekerjaan Pak Pos yang sekaligus menjadi kepala 
kantor pos di kecamatan-kecamatan. Dalam susunan organisasi, me- 
reka menamainya Pengurus Kantor Pos Pembantu, tapi di kampung 
kami beliau disebut Tuan Pos. Beliaulah yang memungkinkan kami 
berkomunikasi dengan budaya luar melalui benda keramat berwar- 
na-warni, yaitu perangko-perangko itu, dan beliau pula yang me- 
nyampaikan koran-koran terlambat sebulan dari Jakarta sehingga 
kami tahu rupa kepala suku republik ini. Pada suatu kurun waktu 
pernah angin barat berkepanjangan berembus demikian kencang, 
akibatnya kapal-kapal harus memilih muatan secara selektif dan 



260 



Rindu 



orang-orang Beiitong juga terpaksa memilih: mau makan beras atau 
makan kertas? 

Karena di kampung kami tidak ada sawah maka kapal-kapal itu 
memutuskan untuk membawa barang-barang penting saja, dan ko- 
ran dianggap kurang penting. Maka koran-koran itu terlambat sela- 
ma tiga puluh dua tahun. Kami tak tahu apa yang terjadi di Jakarta. 
Tapi setelah koran-koran itu tiba kami tak kecewa meskipun telah 
terlambat selama itu karena ternyata sang kepala suku masih orang 
sama. 

Than Pos memacu otak karena ia menguras pikirannya untuk 
membuat perencanaan cashflow dan benda pos guna keperluan bu- 
lan depan. Ia harus memperkirakan berapa orang yang akan me- 
narik tabanas, menguangkan wesel menerima pensiun, dan mengi- 
rim surat, kartu, dan paket. Lalu setelah sepanjang hari melayani pe- 
langgan di loket, menjelang sore Tuan Pos mengeluarkan sepeda un- 
tuk berkeliling kampung mengantar surat, ia pun memacu jantung- 
nya. 

Tuan Pos kami adalah tuan sekaligus anak buah bagi dirinya 
sendiri karena semua pekerjaan ia kerjakan sendiri. Beliau bekerja 
sejak subuh: memasak sagu untuk lem, mengangkat karung paket, 
menjual perangko, menerima dan membayar tabanas dan wesel, 
mencap surat. Kadang-kadang beliau membantu pelanggan menulis 
dan malah membacakan surat cinta untuk para kekasih yang buta 
huruf. Ketika BUMN yang sok progresif sekarang ribut soal Good 
Corporate Citizenship, Tuan Pos kami telah jauh-jauh hari mem- 
praktikkannya. Beliau menyortir surat sejak subuh dan mengantar- 
nya di bawah hujan dan panas. Sudah begitu tak jarang pula beliau 
menerima keluhan yang pedas dari pelanggan. Sekilas dalam hati 
aku berdoa: 



261 



Andrea Hirata 

"Ya, Allah, cita-citaku adalah menjadi seorang penulis atau pe- 
main bulu tangkis, tapi jika gagal jadikan aku apa saja kalau besar 
nanti, asal jangan jadikan aku pegawai pos. Dan jangan beri aku pe- 
kerjaan sejak subuh." 



"APA anak-anak muda di kelas ini sudah boleh menerima surat 
cinta, Ibunda Guru?" Itulah kata-kata dari sepotong kepala yang me- 
longok dari balik daun pintu kelas kanii. Bu Mus tersenyum ramah 
pada Tuan Pos yang tiba-tiba muncul. Beliau biasa menerima kirim- 
an majalah syiar Islam Panji Masyarakat dari sebuah kantor Mu- 
hammadiyah di Jawa Tengah. Tapi kali ini Tuan Pos membawa surat 
untukku. 

Istimewa sekali! Inilah surat pertama yang kuterima dari Perum 
Pos. Dulu aku sering mengantar nenekku ke kantor pos untuk me- 
ngambil pensiun. Tapi secara pribadi, baru kali ini aku menerima 
layanan dari perusahaan umum yang sangat bersahaja ini, sahabat 
orang kecil, pos giro. Aku bangga dan sekilas merasa menjadi orang 
yang agak sedikit penting. 

Apakah surat ini dari redaksi majalah Kawanku atau Hai untuk 
puisi-puisi yang tak pernah kukirimkan? Tentu saja tak mungkin. 
Surat ini dialamatkan ke sekolah, tak ada nama dan alamat pengi- 
rimnya, sampulnya biru muda. indah, dan harum pula baunya. 

Apakah salah alamat? Mungkin untuk Samson atau Sahara dari 
sahabat pena mereka di Kuala Tungkal, Sungai Penuh, Lubuk Sika- 
ping, atau Gunung Sitoli. Mengapa para abat pena selalu berasal dari 
tempat-tempat yang namanya aneh? Atau mungkin untuk Trapani 
yang tampan dari seorang pengagum rahasia? 



262 



Rindu 



Pak Pos tersenyum menggoda. Beiiau mengeluarka form xl3. 
Tanda terima kiriman penting. 

"Surat ini untukmu, rambut ikal, cepat tanda tanda tangan di si- 
ni, tak 'kan kuhabiskan waktuku di sekolahmu ini, masih banyak 
kerjaan, sekarang musim bayar pajak, masih ratusan SPT pajak ha- 
ms diantar, cepatlah ...," 

Pak Pos belum puas dengan godaannya. 

'Ada gadis kecil datang ke kantor pos pagi-pagi. Mengirimimu 
kilat khusus dalam kota! Mungkin asap hio membuatnya sedikit 
linglung, pakai perangko biasa pun pasti kuantar hari ini. la berkeras 
dengan kilat khusus, begitu pentingkah urusanmu belakangan ini, 
ikal mayang?" 

Aha, asap hio! Sekarang aku paham, kurampas surat itu, Dada- 
ku berdebar-debar. 

Menunggu waktu pulang untuk membuka isi surat itu rasanya 
seperti menunggu rakaat terakhir shalat tarawih hari ketiga puluh. 
Saat itu imam membaca hampir setengah Surah Al-Baqarah semen- 
tara ketupat sudah menari-nari di depan mata. 

Aku duduk sendiri di bawah filicium ketika seluruh siswa sudah 
pulang. Surat bersampul biru itu berisi puisi. 

Rindu 

Cinta benar-benar telah menyusahkanku 

Ketika kita saling memandang saat sembahyang rebut 

Malamnya aku tak bisa tidur karena wajahmu tak maupergi dari 

kamarku 

Kepalaku pusing sejak itu... 



263 



Andrea Hirata 



Siapa dirimu? 

Yang berani merusak tidur dan selera makanku? 

Yang membuatku melamun sepanjang waktu? 

Kamu tak lebih dari seorang anak muda pengganggu! 

Namun ingin kukatakan padamu 

Setiap malam aku bersyukur kita telah bertemu 

Karena hany a padamu, aku akan merasa rindu .... 

A Ling 

Aku terpaku memandangi kertas itu. Tanganku gemetar. Aku 
membaca puisi itu dengan menanggung firasat sepi tak tertahankan 
yang diam-diam menyelinap. Aku bahagia tapi dilanda kesedihan 
yang gelap, ada rasa kehilangan yang mengharu biru. Tak lama ke- 
mudian aku melihat pagar-pagar sekolahku perlahan-lahan berubah 
menjadi kaki-kaki manusia yang rapat berselang-seling. Ada sese- 
orang duduk tersimpuh di tengah lapangan dikelilingi kaki-kaki itu. 
Dan ada bangkai seekor buaya terbujur kaku di sampingnya. la tam- 
pak samar-samar dan terlihat sangat putus asa. Lalu wajah samar la- 
ki-laki itu tampak mendekat, ia menoleh ke arahku, air mata meng- 
alir di pipinya yang carut marut berbintik-bintik hitam. Hari itu aku 
paham bahwa kepedihan Bodenga yang kusaksikan bertahun-tahun 
lampau di lapangan basket sekolah nasional telah melekat dalam be- 
nakku sebagai sebuah trauma, dan hari itu, setelah sekian tahun 
berlalu, untuk pertama kalinya Bodenga mengunjungiku. 



^S^zs^L^ 



264 



Tzarfy JAomina fefm 



TEKANAN darahku terlalu rendah. Penderita hipotensi tidak bisa 
bangun tidur dengan tergesa-gesa. Jika langsung berdiri maka pan- 
dangan mata akan berkunang-kunang lalu bisa-bisa ambruk dan 
kembali tidur dalam bentuk yang lain. Sebuah konsekuensi yang me- 
ngerikan. 

Namun, Samson sungguh tak punya perasaan. la membabat ka- 
kiku tanpa ampun dengan gulungan tikar lais saat aku sedang terti- 
dur lelap. 

"Bangun!" hardiknya. "Wak Haji sudah datang, sebentar lagi 
azan, disiramnya kau nanti!" Dan aku terbangkit mendadak, mera- 
cau tak keruan antara tidur dan terjaga, tergagap-gagap. Kurasakan 
dunia berputar-putar, pandanganku gelap. Aku merangkak berlin- 
dung di balik pilar agar tak ketahuan Wak Haji yang sedang mem- 
buka jendela-jendela masjid. Sempat kulihat Lintang, Trapani, 
Mahar, Syahdan, dan Harun terbirit-birit menyerbu tempat wudu. 



Andrea Hirata 

Tidur di ruang utama masjid adalah pelanggaran. Kami seha- 
rusnya tidur di belakang, di ruangan beduk dan usungan jenazah. 
Aku tersandar tanpa daya pada pilar yang beku, berusaha meregang- 
regangkan mataku, jantungku terengah-engah, aku bersusah payah 
mengumpul-ngumpulkan nyawa. 

Angin dingin menyerbu lewat jendela. Mataku terpicing meng- 
intip keluar jendela. Sisa cahaya bulan yang telah pudar jatuh di ha- 
laman rumput, sepi dan murung. Inilah early morning blue, sema- 
cam hipokondria 1 , perasaan malas, sakit, pesimis, dan kelabu tanpa 
alasan jelas yang selalu melandaku jika bangun terlalu dini. Teringat 
puisi A Ling untukku, aku ingin tidur lagi dan baru bangun minggu 
depan. 

Setelah Wak Haji selesai mengumandangkan azan baru kurasa- 
kan jiwa dan ragaku bersatu. Kucai yang telah mengambil wudu de- 
ngan sengaja melewatiku, jaraknya dekat sekali, bahkan hampir me- 
langkahiku. la menjentik-jentikkan air ke wajahku. Kibasan sarung 
panjangnya menampar mukaku. 

"Pemalas!" katanya. 

Malam minggu ini kami menginap di Masjid Al Hikmah karena 
setelah shalat subuh nanti kami punya acara seru, yaitu naik gunung! 

Gunung Selumar tidak terlalu tinggi tapi puncaknya merupakan 
tempat tertinggi di Belitong Timur. Jika memasuki kampung kami 
dari arah utara maka harus melewati bahu kiri gunung ini. Dari 
kejauhan, gunung ini tampak seperti perahu yang terbaiik, kukuh, 
biru, dan samar-samar. Di sepanjang tanjakan dan turunan menyu- 



1 Hipokondria: ketakutan yang berlebihan dan terus-menerus (bersifat jangka 
panjang) terhadap gangguan kesehatan tubuh. Penderita hipokondria biasanya yakin 
bahwa ia memiliki penyakit serius tanpa ada bukti yang objektif. 



266 



Earfij Morning Bfue 

suri bahu kiri Gunung Selumar berderet-deret rumah-rumah pendu- 
duk Selinsing dan Selumar. Mereka memagari pekarangannya de- 
ngan bambu tali 2 yang ditanam rapat-rapat dan dipangkas rendah- 
rendah. Kampung kembar ini dipisahkan oleh sebuah lembah yang 
digenangi air yang tenang. Danau Merantik, demikian namanya. 

Jika mengendarai sepeda maka stamina tubuh akan diuji oleh 
sebuah tanjakan pendek namun curam menjelang Desa Selinsing. 
Pemuda-pemuda Melayu yang berusaha membuat kekasihnya ter- 
kesan tak 'kan membiarkannya turun dari sepeda. Mereka nekat me- 
ngayuh sampai ke puncak, mengerahkan segenap tenaga, tertatih- 
tatih sehingga sepeda tak lurus lagi jalannya. Setelah tanjakan Selin- 
sing ini ditaklukkan maka sepeda akan menukik turun. Sang pemu- 
da akan tersenyum puas, meminta kekasihnya memeluk pinggang- 
nya erat-erat dan meyakinkannya bahwa ia kurang lebih tidak akan 
terlalu memalukan nanti kalau dijadikan suami. 

Pada tukikan ini sepeda akan meluncur turun dengan deras, 
menikung sedikit, sebanyak dua kali, menelusuri lembah Danau Me- 
rantik, lalu disambut lagi oleh tanjakan kampung Selumar. Keka-sih 
mana pun akan maklum kalau diminta turun, karena tanjakan 
Selumar meskipun tak securam tanjakan Selinsing namun jarak tan- 
jaknya sangat panjang. 

Baru seperempat saja menempuh tanjakan Selumar maka sepe- 
da yang dituntun akan terasa berat. Pagar bambu tali yang dibentuk 
laksana anak-anak tangga tampak berbayang-bayang karena mata 
berkunang-kunang akibat kelelahan. Semakin ke puncak langkah se- 
makin berat seperti dibebani batu. Keringat bercucuran mengalir 



2 Bambu tali (Gigantochloa apus): Bambu yang batangnya (setelah dibelah-belah) dapat 
dijadikan tali. 



267 



Andrea Hirata 

deras melalui celah-celah leher baju, daun telinga, dan mata, sampai 
membasahi celana. Tapi saat mencapai puncaknya, yaitu puncak ba- 
hu kiri Gunung Selumar, semua kelelahan itu akan terbayar. Di ha- 
dapan mata terhampar luas Belitong Timur yang indah, dibatasi pe- 
sisir pantai yang panjang membiru, dinaungi awan-awan putih yang 
mengapung rendah, dan barisan rapi pohon-pobon cemara angin. 

Dari puncak bahu ini tampak rumah-ramah penduduk terurai- 
urai mengikuti pola anak-anak Sungai Langkang yang berkelak-ke- 
lok seperti ular. Kelompok rumah ini tak lagi dipagari oleh bambu 
tali namun berselang-seling di antara padang ilalang liar tak bertuan. 
Semakin jauh, jalur pemukiman penduduk semakin menyebar mem- 
bentuk dua arah. 

Pemukiman yang berbelok ke arah barat daya terlihat sayup- 
sayup mengikuti alur jalan raya satu-satunya menuju Tanjong Pan- 
dan. Dan yang terdesak terus ke utara terputus oleh aliran sebuah 
sungai lebar bergelombang yang tersambung ke laut lepas-Sungai 
Lenggang yang melegenda. Di seberang Sungai Lenggang rumah-ru- 
mah penduduk semakin rapat mengitari pasar tua kami yang kusam. 

Jangan terburu-buru menuruni lembah. Berhentilah untuk ber- 
istirahat. Sandarkan tubuh berlama-lama di salah satu pokok pohon 
angsana tempat anak-anak tupai ekor kuning rajin bermain. De- 
ngarkan orkestra daun-daun pohon jarum dan jeritan histeris bu- 
rung-burung kecil matahari yang berebut sari bunga jambu mawar 
dengan kumbang hitam. Nikmati komposisi lanskap yang manis an- 
tara gunung, lembah, sungai, dan laut. Longgarkan kancing baju dan 
hirup sejuk angin selatan yang membawa aroma daun Anthurium 
andraeanum, yaitu bunga hati yang tumbuh semakin subur beranak 
pinak mengikuti ketinggian. Dinamakan bunga hati karena daunnya 
berbentuk hati. 



268 



Earfij Morning Bfue 

Aku sendiri tak pasti, apakah aroma harum alami yang mela- 
pangkan dada itu berasal dari andraeanum sendiri atau dari simbio- 
sisnya, sebangsa fungsi Clitocybe gibba yaitu jamur daun tak ber- 
tangkai yang rajin merambati akar-akar familia keladi itu. Jamur ini 
bersemi dalam suhu yang semakin lembab saat memasuki musim 
angin barat pada bulan-bulan yang berakhiran -ber. Bentuknya te- 
gap, rendah, dan gemuk-gemuk. 

Kami sudah sangat sering piknik ke Gunung Selumar dan agak 
sedikit bosan dengan sensasinya. Biasanya kami tidak sampai ke 
puncak, sudah cukup puas dengan pemandangan dari 75% ketinggi- 
annya. Lagi pula komposisi batu granit di atas lereng gunung ini 
membuat jalur pendakian ke puncak menjadi licin. Namun, kali ini 
aku amat bergairah dan bertekad untuk mendaki sampai ke puncak. 
Laskar Pelangi menyambut baik semangatku. Belum apa-apa mereka 
telah sibuk bercerita tentang pemandangan hebat yang akan kami 
saksikan nanti dari puncak, yaitu seluruh jembatan di kampung ka- 
mi, kapal-kapal ikan, dan tongkang pasir gelas yang bersandar di 
dermaga. 

Tapi aku tak peduli dengan semua pemandangan itu karena aku 
punya misi rahasia. Rahasia ini menyangkut sebuah pemandangan 
menakjubkan yang hanya bisa disaksikan dari puncak tertinggi Gu- 
nung Selumar. Rahasia ini juga berhubungan dengan bunga-bunga 
kecil nan rupawan yang hanya tumbuh di puncak tertinggi. Mereka 
adalah bunga liar Callistemon laevis 3 atau bunga jarum merah, atau 
kalau beruntung, bunga kecil kuning kelopak empat semacam Diplo- 
taxis muralis. 



3 Callistemon laevis; bunga jarum merah; bottlehrush: adalah sebuah genus yang 
memiliki 34 spesies dari familia Myrtaceae. Disebut bottlebrush karena bunganya 
yang silindris dan seperti sikat botol. Daun-daunnya berbentuk linier dan lancip. 



269 



Andrea Hirata 

Aku menyebutnya bunga rumput gunung, istilahku sendiri, ka- 
rena ia senang menyelinap, enam atau tujuh tangkai seperanakan, di 
antara rerumputan zebra liar di puncak-puncak gunung dekat la-ut. 
Kelopaknya selebar ibu jari, berwarna kuning redup dan tangkai 
yang menopangnya berwarna hijau muda dengan ukuran tak sepa- 
dan, natural, spontan, lucu, dan cantik. Daun-daunnya tak dapat di- 
katakan indah karena bentuk dan warnanya, bukan ukurannya, lebih 
seperti daun Vitex trifolia 4 biasa. Namun jika kita siangi daunnya 
dan berhasil mengumpulkan paling tidak 15 kuntum lalu disatukan 
de-ngan jumlah yang lebih sedikit dari kuntum bunga jarum merah 
ma-ka satu kata untuk mereka: fantastik! 

Bunga jarum merah berbentuk jarum yang lebat dengan ujung 
bulat kecil-kecil berwarna kuning. Ketika bunga jarum digabungkan 
dengan bunga rumput gunung tanpa diatur maka mereka seolah be- 
rebutan tampil. Ikatlah mereka dengan pita rambut berwarna biru 
muda dan tulislah sebuah puisi, maka Anda akan mampu mendi- 
nginkan hati wanita mana pun. 

Setelah tiga jam mendaki kami tiba di puncak. Lelah, haus, dan 
berkeringat, tapi tampak jelas rasa puas pada setiap orang, sebuah 
ekspresi "telah mampu menaklukkan". Aku yakin perasaan inilah 
yang memicu sikap obsesif setiap pendaki gunung profesional untuk 
menaklukkan atap-atap dunia. Kiranya daya tarik mendaki gunung 
berkaitan langsung dengan fitrah manusia. 



4 Vitex trifolia: tumbuhan dengan daun-daun yang bagian permukaan atasnya 
berwarna hijau keabu-abuan dengan corak putih yang menawan, sementara 
permukaan bawahnya berwarna perak. Daun-daun yang sangat dekoratif ini cocok 
untuk daerah tropis dan dapat tumbuh dengan mudah, selain itu juga tanaman ini tak 
membutuhkan banyak air. 



270 



Earfij Morning Bfue 

Lalu dengan hiruk pikuk sahut-menyahut teman-temanku, para 
Laskar Pelangi, berkomentar tentang pemandangan yang terhainpar 
luas di bawah mereka. 

"Lihatlah sekolah kita," pekik Sahara. Bangunan itu tampak 
menyedihkan dari jauh. Rupanya dilihat dari sudut dan jarak bagai- 
manapun, sekolah kami tetap seperti gudang kopra! 

Lalu Kucai menunjuk sebuah bangunan,"Hai! Tengoklah! Itu 
masjid kita." 

Seluruh khalayak meneriakinya, tak terima. 

"Itu kelenteng, bodoh!" Dan mereka pun terbelah dalam dua 
keloinpok debat kusir. 

Sebagaimana biasa Mahar mulai berdongeng, menurutnya Gu- 
nung Selumar adalah seekor ular naga yang sedang menggulung diri 
dan telah tidur panjang selama berabad-abad. 

"Ular ini akan bangun nanti kalau hari kiamat. Kepalanya ada di 
puncak gunung ini. Berarti tepat berada di bawah kaki-kaki kita 
sekarang! Dan ekornya melingkar di muara Sungai Lenggang," kata- 
nya absurd. 

"Maka jangan terlalu ribut di sini, nanti kalian kualat," tambah- 
nya lagi belum puas membodohi diri sendiri. Teman-temanku riuh 
rendah mendengar cerita itu dalam pro dan kontra. 

Tapi seperti biasa pula, A Kiong-lah yang selalu termakan do- 
ngeng Mahar, ia tampak serius dan percaya seratus persen. Mungkin 
sebagai ungkapan rasa kagum atas cerita yang sangat bermanfaat itu, 
dengan takzim ia memberikan bekal pisang rebusnya kepada Mahar. 
Sikapnya seperti seorang anggota suku primitif menyerahkan upeti 
kepada dukun yang telah menyembuhkannya dari penyakit kudis. 



271 



Andrea Hirata 

Mahar menyambar upeti itu dan secara kilat memasukkannya ke 
dalam sistem pencernaannya tanpa peduli bahwa dia sedang diang- 
gap sangat berwibawa oleh A Kiong. Meledaklah tawa Laskar Pelangi 
melihat pemandangan itu. Namun A Kiong tetap serius, ia sama 
sekali tidak tertawa, baginya kejadian itu tidak lucu. 

Demikian pula aku. Aku juga tidak tertawa. Karena aku sedang 
merasa sepi di keramaian. Mataku tak lepas memandang sebuah ko- 
tak persegi empat berwarna merah nun jauh di bawah sana, atap se- 
buah rumah. Rumah A Ling. 

Aku menyingkir dari kegirangan teman-temanku, sendirian 
menelusuri padang ilalang rendah di puncak gunung, memetik 
bunga-bunga liar. Kupandangi lagi atap rumah A Ling dan segeng- 
gam bunga liar nan cantik di dalam genggaman. Untuk inikah aku 
mendaki gunung setinggi ini? 

Panorama dari puncak ini seperti musik. Intronya adalah gum- 
palan awan putih yang mengapung rendah seolah aku dapat men- 
jangkaunya. Lalu mengalir vokal dari suitan-suitan panjang burung- 
burung prigantil yang kadang-kadang begitu dekat dan nyaring, 
sampai terdengar jauh samar-samar bersahut-sahutan dengan leng- 
kingan-lengkingan kecil kawanan murai batu. Reffrain-nya adalah 
ribuan burung punai yang menyerbu hamparan buah bakung yang 
masak menghitam seperti permadani raksasa. Musik diakhiri secara 
fade out oleh jajaran panjang hutan bakau tangkapan hujan yang 
memagari anak-anak Sungai Lenggang, berkelok-kelok sampai tak 
tampak oleh pandangan mata, ditelan muara-muara di sepanjang 
Pantai Manggar sampai ke Tanjong Kelumpang. 



272 



Earfij Morning Bfue 

Angin sejuk yang bertiup dari lembah menampar-nampar wa- 
jahku. Aku merasa tenang dan akan kutulis puisi demi seseorang di 
balik tirai keong itu. Puisi inilah misi rahasiaku. 

Jauh Tinggi 

A Ling, hari ini aku mendaki Gunung Selumar 
Tinggi, tinggi sekali, sampai ke puncaknya 
Hanya untuk melihat atap rumahmu 
Hatiku damai rasanya 



273 



"Bad 23 
Biffifonife 



SENIN pagi yang cerah. Sepucuk puisi dibungkus kertas ungu 
bermotif kembang api. Bunga-bunga kuning kelopak empat dan 
kembang jarum merah primadona puncak gunung diikat pita ram- 
but biru muda. Tak juga hilang kesegarannya karena semalam telah 
kurendam di dalam vas keramik. Tak sabar rasanya ingin segera ku- 
berikan pada A Ling. 

Benda-benda ajaib ini adalah properti sekuel cinta pagi ini, dan 
skenarionya adalah: ketika A Ling menyodorkan kotak kapur, aku 
serta-merta meletakkan bunga dan puisiku ini ke tangannya yang 
terbuka. Tak perlu ada kata-kata. Biarlah ia menghapus air matanya 
karena keindahan bunga-bunga liar dari puncak gunung. Biarlah ia 
membaca puisiku dan merasakan kue keranjang tahun ini lebih enak 
dari tahun-tahun lalu. 

Aku gugup dan bergegas menghampiri lubang kotak kapur 
segera setelah A Miauw memberi perintah. Namun ketika tinggal 



Andrea Hirata 

dua langkah sampai ke kotak itu aku terkejut tak alang kepalang. 
Aku terjajar mundur ke belakang dan nyaris terantuk pada kaleng- 
kaleng minyak sayur. Aku terperanjat hebat karena melihat tangan 
yang menjulurkan kotak kapur adalah sepotong tangan yang sangat 
kasar. Tangan itu bukan tangan A Ling! 

Tangan itu sangat ganjil, seperti sebilah tembaga yang jahat. 
Bentuknya benar-benar kebalikan dari tangan Michele Yeoh-ku. Ta- 
ngan itu berotot, dekil, hitam legam, dan berminyak-minyak. Dari 
otot lengan atasnya menjalar urat-urat besar berwarna biru, timbul 
dan berkejaran. 

Sebuah gelang akar bahar, tidak tanggung-tanggung, melingkar 
tiga kali pada lengan tembaga sepuhan tembaga itu. Ujung gelang 
diukir berbentuk kepala ular beracun kuat pinang barik yang 
menganga lapar siap menyambar. Sedangkan pada pergelangan siku, 
seperti dikenakan raksasa jahat dalam pewayangan, melekat gelang 
alumunium ketat dengan kedua ujung berbentuk gerigi kunci, biasa 
dipakai untuk tujuan-tujuan melanggar hukum. Memang tidak 
terdapat tato— pantangan bagi orang Melayu yang tahu agama, tapi 
pada tiga jari-jemarinya terdapat tiga mata cincin yang mengancam. 

Jari telunjuknya dibalut cincin batu satam terbesar yang pernah 
kulihat. Batu satam adalah material meteorit yang unik karena di 
muka bumi ini hanya ada di Belitong. Warnanya hitam pekat karena 
komposisi carbon acid dan mangaan, dan kepadatannya lebih dari 
baja sebingga tidak mungkin bisa dibentuk. Batu-batu ini biasa 
bersembunyi di lubang bekas tambang timah dan tak 'kan dapat di- 
temukan jika sengaja dicari. Hanya nasib baik yang dapat menge- 
luarkan satam dari perut bumi. Tahun 1922 kompeni menyebut batu 
ini billitonite dan dari sinilah Pulau Belitong mendapatkan nama- 
nya. Tanpa sama sekali mempertimbangkan estetika, pemilik tangan 



276 



Biffitonite 

itu mengikat benda keramat dari tata surya itu apa adanya dengan 
kuningan murahan. Namun, ia memakainya dengan bangga seolah 
dirinya penguasa langit. 

Pada jari manisnya terpajang cincin bermata batu akik yang 
mengesankan seperti sebuah batu kecubung asli Kalimantan yang 
amat berharga. Tapi aku tak bisa dibohongi. Batu itu tak lebih dari 
sintetis hasil masakan plastik yang dipadatkan dengan kristal pada 
suhu yang sangat tinggi. Pemakainya adalah seorang penipu. Yang 
ditipunya tak lain dirinya sendiri. 

Yang terakhir, di jari tengahnya, tampak pemimpin dari seluruh 
cincin yang mengintimidasi dan pernyataan kecenderungan licik 
pemiliknya. Di situ menyeringai angker sebuah mata cincin besar 
tengkorak manusia dengan mata berlubang. Cincin ini dibuat dari 
bahan mur baja putih yang didapat secara kongkalikong dengan 
orang bengkel alat berat PN Timah. Cara mengubah baja ini menjadi 
cincin membuat siapa pun bergidik. Setelah dibentuk secara kasar 
dengan mesin bubut kemudian mur besar baja putih mentah yang 
sangat keras itu dikikir secara manual selama berminggu-minggu. 
Kebiasaan membuat cincin seperti ini sering dipraktikkan oleh 
karyawan PN Timah dalam tingkatan kuli. Kerja keras rahasia 
berminggu-minggu itu hanya akan menghasilkan sebuah cincin 
putih berkilauan yang jelek sekali. Sebuah kebiasaan yang tak masuk 
akalku sampai sekarang. 

Lalu kuku-kuku pemilik tangan ini, aduh! Minta ampun, 
bentuknya seperti paras kuku-kuku yang terkena kutukan. Berbeda 
seperti langit dan bumi dibanding kuku-kuku A Ling yang ber- 
tahun-tahun menyihir pandanganku. Kuku-kuku ini sangat tebal, 
kotor, panjang tak beraturan, dan ujungnya pecah-pecah. Secara 
umum kuku-kuku ini mirip sekali dengan sisikbuaya. 



277 



Andrea Hirata 

Belum hilang rasa terkejutku, aku mendengar suara ketukan 
keras kuku-kuku besi itu di permukaan papan dekat kotak kapur 
tanda tak sabar, maksudnya biar aku segera mengambil kapur itu. 
Dari dalam terdengar suara gerutuan tak bersahabat. Karena kuku- 
kuku itu sangat kasar maka ketukan itu terdengar demikian keras, 
membuatku semakin gelisah. Tapi yang paling merisaukanku adalah 
karena aku tak menemukan A Ling. Ke manakah gerangan Michele 
Yeoh-ku? 

"Apa yang terjadi?" Syahdan mendekatiku. "Ikal, tangan siapa 
seperti pentungan satpam itu?" 

Aku tak menjawab, tenggorokanku tercekik. 

Tangan itu tak asing bagiku. Itu adalah tangan Bang Sad. Aku 
ingat ketika ia mengukir kepala ular pinang barik pada akar bahar 
pemberian pria-pria berkerudung tempo hari. Pernah dicerita- 
kannya padaku bahwa dibutuhkan waktu tiga minggu untuk mem- 
bentuk akar panjang dari dasar laut itu menjadi gelang tiga lingkar. 
Akar yang tadinya lurus kencang ditaklukkan dengan cara melu- 
murinya dengan minyak rem dan mengasapinya dengan sabar di 
atas suhu tungku yang terkendali. 

Ketukan-ketukan itu terus menerorku. Bang Sad sungguh tak 
punya perasaan. Ia tak tahu aku sedang panik, gugup, dan risau ka- 
rena tak menjumpai A Ling seperti kebiasaan yang telah berlangsung 
selama tujuh tahun. Baru kali ini terjadi hal di luar kebiasaan itu. 
Situasi ini sangat membingungkan buatku. Otakku tak bisa berpikir. 

Hanya Syahdan yang kiranya segera dapat mencerna keadaan, 
mengurai kebuntuan, memecah kebekuan. Ia berinisiatif mengambil 
kotak kapur itu. Bang Sad menarik tangannya seperti seekor bina- 
tang melata yang masuk kembali ke dalam sarangnya. Syahdan men- 



278 



Biffitonite 

dekatiku yang berdiri terpaku, wajahnya sendu. la ingin menun- 
jukkan simpati tapi aku juga tahu bahwa ia sendiri merasa gentar. A 
Miauw yang dari tadi memerhatikan menghampiriku dengan te- 
nang. Berdiri persis di sampingku ia menarik napas panjang dan 
mengatur dengan hati-hati apa yang ingin diucapkannya. 

"A Ling sudah pigi Jakarta .... Nanti dia terbang naik Pesawat 
pukui 9. Ia harus menemani bibinya yang sekarang hidup sendiri, ia 
juga bisa mendapat sekolah yang bagus di sana ...." 

Aku tertegun putus asa. Rasanya tak percaya dengan apa yang 
kudengar. Terjawab sudah firasatku ketika Bodenga mengunjungi- 
ku. Semangatku terkulai lumpuh. 

"Kalau ada nasib, lain hari kalian bisa bertemu lagi." A Miauw 
menepuk-nepuk pundakku. 

Aku terdiam dan menunduk seperti orang sedang menghening- 
kan cipta. Tanganku mencengkeram kuat ikatan bunga-bunga liar 
dan selembar puisi. 

"Ia titip salam buatmu dan ia ingin kamu menyimpan ini...." 

A Miauw menyerahkan sebuah kado yang dibungkus kertas 
berwarna ungu bermotif kembang api, persis sama dengan kertas 
sampul puisiku. Sebuah kebetulan yang hampir mustahil. Aku tahu, 
sejak awal Tuhan telah mengamati baik-baik cinta yang luar biasa 
indah ini. 

Aku merasa seluruh barang dagangan yang ada di toko itu 
rubuh menimpaku. Dadaku sesak. Aku melihat sekeliling dan 
terpikir akan sesuatu. Aku menarik tangan Syahdan dan mengajak- 
nya pulang. 



279 



Andrea Hirata 

Persis pukul 8.50 kami sampai di halaman sekolah, lalu berlari 
melintasi lapangan menuju pokok pohon gayam tempat kami sering 
duduk bersama-sama mengamati pesawat terbang yang datang dan 
pergi meninggalkan Tanjong Pandan. Kami mengambil posisi ter- 
baik sambil bersandar di pokok pohon itu. Kami diam dan terus 
menengadahkan kepala, memicingkan mata, ke arah langit yang 
cerah biru menyilaukan. 

Pukul 9.05. 

Perlahan-lahan muncul sebuah pesawat Foker 28 melintas pelan 
di atas lapangan sekolah kami. Aku tahu di dalam pesawat itu ada A 
Ling dan ia juga pasti sedang sedih meninggalkan aku sendiri. Aku 
mengamati pesawat yang pergi membawa cinta pertamaku menem- 
bus awan-awan putih nun jauh tinggi di angkasa tak terjangkau. 
Pesawat itu semakin lama semakin kecil dan pandanganku semakin 
kabur, bukan karena pesawat itu semakin jauh tapi karena air mata 
tergenang di pelupuk mataku. Selamat tinggal belahan jiwaku, cinta 
pertamaku. 

Setelah pesawat itu sama sekali menghilang Syahdan meninggal- 
kanku sendirian. Tiba-tiba aku disergap oleh perasaan sunyi yang 
tak tertahankan. Rasanya di dunia ini hanya aku satu-satunya makh- 
luk hidup. Daun-daun gayam yang rontok berbunyi seperti bilah- 
bilah seng yang berjatuhan di kesunyian malam. 

Pohon gayam ini adalah satu-satunya pohon di tengah lapangan 
sekolahku yang sangat luas dan aku duduk sendiri di bawahnya, 
kesepian. Aku baru saja ditinggalkan oleh seseorang yang telah me- 
menuhi hatiku sampai meluap-luap selama lima tahun terakhir ini. 
Lalu dengan tiba-tiba pagi ini, ia begitu saja tercabut dari kehidup- 
anku. 



280 



Biffitonite 

Aku membuka kado yang dititipkan A Ling. Di dalamnya 
terdapat sebuah buku berjudul Seandainya Mereka Bisa Bicara karya 
Herriot dan sebuah diary yang memuat berbagai catatan harian dan 
lirik-lirik lagu. Aku membalik lembar demi lembar diary itu. Tak 
ada yang istimewa dan tak ada yang khusus ditujukan untukku. 
Namun pada suatu halaman aku membaca judul sebuah puisi yang 
rasanya aku kenal, judulnya Bunga Krisan. Pada lembar-lembar 
berikutnya aku melihat seluruh puisi yang dulu pernah kukirimkan 
kepadanya dan selalu ia kembalikan. A Ling menyalin kembali 
seluruh puisiku dalam diary-nya.. 



281 



"Bah 24 
Tuk. %au 



Tufa 



an / ma 



ANGIN selatan, angin paling jinak, biasa berembus dengan kecepat- 
an maksimum 10 mph. Angin lembut ini tiba-tiba mengamuk men- 
jadi monster puting beliung dengan kecepatan seribu kali lipat, 
10.000 mph. Pohon dan mobil-mobil beterbangan seperti bulu, aspal 
jalan terkelupas. Seluruh bangunan runtuh, bahkan fondasi rumah 
tercabut, yang tersisa hanya lubang-lubang WC. Tepung sari Camel- 
lia 1 dan Buxus yang tumbuh di kebun liar peliharaan alam di puncak 
Gunung Samak terhambur ke udara, menimbulkan Pemandangan 
menyedihkan seperti nyawa-nyawa muda yang dicabut paksa oleh 
malaikat maut dari jasad yang segar bugar. Semua itu gara-gara 



1 Camellia (Camellia japonica; Japonica): tumbuhan sesemakan dari keluarga teh dengan 
bunga yang bentuknya menyerupai mawar. Daunnya berwarna hijau dan berkilat. 
Berasal dari bahasa Latin modern untuk nama Joseph Kamel (1661-1706), seorang 
misionaris dan ahli botani yang pertama kali mendeskripsikan tanaman ini. 



Andrea Hirata 



pembakaran minyak solar berlebihan selama ratusan tahun dalam 
eksploitasi timah sehingga menimbulkan gas rumah kaca. Gas itu 
tertumpuk di atas atmosfer Belitong dan segera menimbulkan efek 
rumah kaca, menunggu hari untuk menjadi mara bahaya. Lalu se- 
nyawa gas rumah kaca itu— karbondioksida— dan radiasi matahari 
memicu reaksi kimia yang mengubah tepung sari yang bergenta- 
yangan di udara menjadi semacam bubuk mesiu dengan daya ledak 
sangat tinggi seperti TNT. Karena kuantitasnya telah berakumulasi 
demikian lama maka pada suatu tengah hari saat orang-orang Mela- 
yu sedang mendengarkan musik pelepas lelah di RRI, tanpa firasat 
apa pun, terjadilah katastropi itu. Sebuah ledakan yang sangat dah- 
syat seperti ledakan nuklir menghantam Belitong. Orang-orang Beli- 
tong mengira kiamat telah datang maka tak perlu menyelamatkan 
diri. Mereka terduduk pasrah di tangga-tangga rumahnya, melongo 
melihat ekor ledakan yang kemudian membentuk cendawan raksasa 
yang menutupi tanah kuno pulau itu sehingga gelap gulita. Dalam 
waktu singkat ajal yang sebenarnya pun pelan-pelan menjemput, 
yakni ketika cendawan yang mengandung radio aktif, merkuri, dan 
amoniak hanyut turun mengejar orang-orang Belitong yang kocar- 
kacir mencari perlindungan. Mereka menyelinap ke gorong-gorong, 
menyelam di sungai, sembunyi di dalam karung goni, terjun ke su- 
mur-sumur, dan tiarap di got-got. Tapi semua usaha itu sia-sia kare- 
na gas-gas kimia tadi larut dalam udara dan air. Sebagian orang Beli- 
tong tewas di tempat, tertungging seperti ekstremis dibedil kompeni, 
dan mereka yang selamat berubah menjadi makhluk-makhluk cebol 
berbau busuk. 

Melihat penampilan orang Belitong seperti itu pemerintah pusat 
di Jakarta merasa malu kepada dunia internasional dan tak sudi me- 



284 



Tuk Baijan Tufa 



ngakui orang Belitong sebagai warga negara republik. Karena itu Ka- 
bupaten Belitong dipaksa rela melakukan referendum. Walaupun 
hanya sedikit orang Melayu Belitong yang ingin memisahkan diri 
dari NKRI tapi pemerintah menganggap keputusan manusia-manu- 
sia cebol itu sebagai aklamasi sehingga Belitong menjadi negara yang 
merdeka. Bisa dipastikan bahwa Belitong tidak mampu menghidupi 
dirinya sendiri. Di sisi lain, efek rumah kaca yang demikian tinggi 
mengakibatkan ekologi di sana tidak seimbang, permukaan air laut 
naik, dan suhu menjadi terlalu panas. Dan saat itulah kebenaran 
yang hakiki datang. Bodenga yang telah lama menghilang tiba-tiba 
muncul mengambil alih pemerintahan kabupaten, ia menindas tan- 
das orang-orang cebol yang telah memperlakukan ia dan ayahnya 
dengan tidak adil. Orang-orang cebol itu digiring olehnya dan dige- 
lontor ke muara Sungai Mirang agar dimangsa buaya. Orang-orang 
cebol itu meregang nyawa dan dalam waktu singkat mereka tewas 
terapung-apung seperti ikan kena tuba. 

Itulah kira-kira isi kepala seorang pemimpi yang hampir gila ka- 
rena frustrasi putus cinta pertama. 

Aku tak bisa berpikir jernih, bermimpi buruk, berhalusinasi, 
dan dihantui khayalan-khayalan aneh. Jika aku melihat ke luar jen- 
dela dan ada pelangi melingkar maka pelangi itu menjadi mono- 
bom. Jika aku mendengar kicauan prenjak maka ia berbunyi seperti 
burung mistik pengabar kematian. Aku merasa setiap orang: para 
penjaga toko, Tuan Pos, tukang parut kelapa, polisi pamong praja, 
dan para kuli panggul telah berkonspirasi melawanku. 

Meskipun selama lima tahun aku hanya dua kali berjumpa de- 
ngan Michele Yeoh-ku tapi perasaanku padanya melebihi segalanya. 



285 



Andrea Hirata 



A Ling adalah sosok yang dapat menimbulkan perasaan sayang 
demikian kuat bagi orang-orang yang secara emosional terhubung 
dengannya. la cantik, pintar, dan baik. Cintanya penuh imajinasi 
dan kejutan-kejutan kecil yang menyenangkan, mungkin itulah yang 
membuatku amat terkesan. Tapi rupanya ketika ia melepaskan geng- 
gaman tangannya minggu lalu, saat itu pula nasib memisahkan 
kami. Kini dirinya menjadi semakin berarti ketika ia sudah tak ada 
dan aku merasa getir. Kepergian A Ling meninggalkan sebuah ru- 
angan kosong, rongga hampa yang luas, dan duka lara di dalam hati- 
ku. Dadaku sesak karena rindu dan demi menyadari bahwa rindu itu 
tak 'kan pernah terobati, aku rasanya ingin meledak. Aku selalu 
ingin menghambur ke toko kelontong Sinar Harapan, tapi aku tahu 
tindakan dramatis seperti film India itu akan percuma saja karena di 
sana aku hanya akan disambut oleh botol-botol tauco dan tumpukan 
terasi busuk. Aku merana, merana sekali. 

Aku merasa tak percaya, amat terkejut, dan tak sanggup mene- 
rima kenyataan bahwa sekarang aku sendiri. Sendiri di dunia yang 
tak peduli. Jiwaku lumpuh karena ditinggal kekasih tercinta, atau 
dalam bahasa puisi: aku mengharu biru tatkala kesepian melayap 
mencekam dermaga jiwa, atau: batinku nelangsa berdarah-darah 
tiada daya mana kala ia sirna terbang mencampak asmara. 

Dan juga, laksana film India, perpisahan itu membuatku sakit. 
Seperti pertemuan pertama dalam insiden jatuhnya kapur di hari 
yang bersejarah. tempo hari, saat itu kebahagiaanku tak terlukiskan 
kata-kata. Maka kini, saat perpisahan, kepedihanku juga tak tergam- 
barkan kalimat. Beberapa waktu lalu aku pernah menertawakan 
Bang Jumari yang menderita diare hebat dan menggigil di siang bo- 



286 



Tuk Baijan Tufa 



long karena cintanya diputuskan oleh Kak Shita, kakak sepupuku. 
Ketika itu aku tak habis pikir bagaimana kekonyolan seperti itu bisa 
terjadi. Namun, kini hal serupa aku alami. Hukum karma pasti ber- 
laku! 

Selama dua hari aku sudah tidak masuk sekolah. Maunya hanya 
tergeletak saja di tempat tidur. Kepalaku berat, napasku cepat, dan 
mukaku memerah. Ibuku memberiku Naspro dan obat cacing Asko- 
min. Tapi aku tak sembuh. Aku menderita panas tinggi. 

Setelah Syahdan, Mahar dan pengikut setianya A Kiong-lah 
yang datang menjengukku. Mahar memakai jas panjang sampai ke 
lutut seperti seorang dokter hewan dari Eropa dan A Kiong tergo- 
poh-gopoh di belakangnya menenteng sebuah tas koper laksana 
siswa perawat yang sedang magang. Koper ini sangat istimewa kare- 
na di sana sini ditempeli bekas peneng sepeda dan berbagai lambang 
pemerintahan sehingga mengesankan Mahar seperti seorang pejabat 
penting kabupaten. 

Syahdan sedang duduk di samping tempat tidurku ketika Mahar 
masuk ke kamar. A Kiong dan Mahar tak mengucapkan sepatah kata 
pun, ekspresi mereka datar. Dengan gerakan isyarat Mahar menyu- 
ruh Syahdan minggir. 

Mahar berdiri persis di sampingku, memandangiku dengan cer- 
mat dari ujung kaki sampai ujung rambut. la masih tetap tak bicara. 
Wajahnya serius seperti seorang dokter profesional dan seolah da- 
lam waktu singkat teiah menyelesaikan diagnosisnya. la mengge- 
leng-gelengkankan kepalanya pertanda kasus yang dihadapi tidak 
sepele. la menarik napas prihatin dan menoleh ke arah A Kiong. 



287 



Andrea Hirata 

"Pisau!" pekiknya singkat. 

A Kiong cepat-cepat memutar nomor kombinasi koper lalu 
mengeluarkan sebilah pisau dapur karatan. Aku dan Syahdan me- 
merhatikan dengan khawatir. Pisau itu diberikan dengan takzim pa- 
da Mahar yang menerimanya seperti seorang ahli bedah. 

"Kunir!" perintah Mahar lagi, tegas dan keras. 

A Kiong kembali merogoh sesuatu dari dalam koper dan segera 
menyerahkan kunir seukuran ibu jari. Tanpa banyak cingcong Ma- 
har memotong kunir dan dengan gerakan sangat cepat tak sempat 
kuhindari ia menggerus kunir itu di keningku, melukis tanda silang 
yang besar. Maka terpampanglah di keningku huruf X berwarna 
kuning. Lalu, seperti telah sama-sama paham prosedur berikut-nya 
tanpa dikomando, A Kiong mengambil dahan-dahan beluntas dari 
dalam koper, melemparkannya kepada Mahar yang menyambutnya 
dengan tangkas dan langsung menampar-namparkan daun-daun itu 
ke sekujur tubuhku tanpa ampun sambil komat-kamit. 

Bukan hanya itu, sementara Mahar mengibas-ngibaskan daun- 
daun beluntas dengan beringas, A Kiong serta-merta menyembur- 
nyemburkan air ke selurah tubuhku— termasuk wajah— melalui alat 
penyemprot bunga, sehingga yang terjadi adalah sebuah kekacauan. 
Aku jadi berantakan dan basah seperti kucing kehujanan, namun 
aku tak berkutik karena mereka sangat kompak, cepat, terencana, 
dan sistematis. 

Tak lama kemudian mereka berhenti. Mahar menarik napas le- 
ga dan A Kiong dengan wajah bloonnya ikut-ikutan bernapas lega 



288 



Tuk Baijan Tufa 



sok tahu. Sebuah sikap gabungan antara kebodohan dan fanatisme. 
Aku dan Syahdan hanya melongo, terpana, pasrah total. 

"Tiga anak jin tersinggung karena kau kencing sembarangan di 
kerajaan mereka dekat sumur sekolah ...," Mahar menjelaskan de- 
ngan gaya seolah-olah kalau dia tidak segera datang nyawaku tak ter- 
tolong. Tak ada rasa bersalah dan niat menipu tercermin dari wajah- 
nya. Mahar dan A Kiong tampil penuh kordinasi dengan ketenangan 
mutlak tanpa dosa. Mereka tak sedikit pun ragu atas keyakinanya 
pada metode penyembuhan dukun yang konyol tak tanggung-tang- 
gung. 

"Merekalah yang membuatmu demam panas," sambungnya lagi 
sambil memasukkan alat-alat kedokterannya tadi ke dalam koper, la- 
lu dengan elegan menyerahkan koper itu pada A Kiong. A Kiong 
menyambut tas itu seperti anggota Paskibraka menerima bendera 
pusaka. 

"Tapi jangan cemas, Kawan, barusan mereka sudah kuusir, be- 
sok sudah bisa masuk sekolah!" 

Lalu tanpa basa-basi, tanpa pamit, mereka berdua langsung pu- 
lang. Hanya itu saja kata-katanya. Bahkan A Kiong tak mengucap- 
kan sepatah kata pun. Aku terengah-engah. Syahdan menutup wa- 
jahnya dengan tangannya. 

Mahar memang sudah edan. la semakin tak peduli dengan bu- 
ku-buku dan pelajaran sekolah. Nilai-nilai ulangannya merosot ta- 
jam, bisa-bisa ia tidak lulus ujian nanti. Sebenarnya ia murid yang 
pandai, belum lagi menghitung bakat seninya, tapi nafsu ingin tahu 
yang terkekang terhadap dunia gaib membuatnya lebih senang 



289 



Andrea Hirata 



memperdalam hal-hal yang subtil. Belakangan ini keanehannya se- 
makin menjadi-jadi, dan semua itu gara-gara anak Gedong yang 
tomboi itu Flo atau mungkin gara-gara seorang dukun siluman ber- 
nama Tuk Bayan Tula. 



SEBULAN yang lalu seluruh kampung heboh karena Flo hilang. 
Anak bengal penduduk Gedong itu memisahkan diri rombongan te- 
man-teman sekelasnya ketika hiking di Gunung Selumar. Polisi, tim 
SAR, anjing pelacak, anjing kampung, kelompok pencinta alam, pa- 
ra pendaki profesional dan amatir, para petualang, para penduduk 
yang berpengalaman di hutan, para pengangguran yang bosan tak 
melakukan apa-apa, dan ratusan orang kampung tumpah ruah men- 
carinya di tengah hutan lebat ribuan hektare yang melingkupi lereng 
gunung itu. Kami sekelas termasuk di dalamnya. 

Sampai senja turun Flo masih belum ditemukan. Bapak, Ibu, 
dan saudara-saudaranya berulang kali pingsan. Guru-guru dan te- 
man-teman sekelasnya menangis cemas. Segenap daya upaya dike- 
rahkan tapi belum ada tanda-tanda di mana ia berada. Susah me- 
mang, hutan di gunung ini sangat lebat, sebagian belum terjamah, 
dan hutan itu berujung di lembah-lembah liar yang dialiri anak-anak 
sungai berbahaya. 

Salak anjing, teriakan orang memanggil-manggil, dan suara be- 
lasan megafon bertalu-talu di lereng gunung. Para dukun tak mam- 
pu memberi petunjuk apa pun, ada saja alasannya, tapi umumnya 
adalah bahwa para jin penunggu Gunung Selumar lebih sakti, se- 



290 



Tuk Baijan Tufa 



buah alasan klasik. Dari lengkingan megafon itu kami tahu nama 
anak perempuan yang sedang hilang: Flo. 

Menjelang sore sebuah lampu sorot besar yang biasa dipakai di 
kapal keruk dibawa ke lereng gunung untuk memudahkan tim pe- 
nyelamat. Orang-orang dari kampung tetangga turut bergabung. Se- 
karang jumlah pencari mencapai ribuan. Hari beranjak gelap dan 
keadaan semakin mengkhawatirkan. Kabut tebal yang menyelimuti 
gunung sangat menyulitkan usaha pencarian. Wajah setiap orang 
mulai kelihatan cemas dan putus asa. Tahun lalu dua orang anak 
laki-laki juga tersesat, setelah tiga hari mereka ditemukan berpeluk- 
an di bawah sebatang pohon Medang, meninggal dunia karena kela- 
paran dan hipotermia 2 . Sinar merah lampu sirine mobil ambulans 
yang berputar-putar menjilati sisi pohon-pohon besar, menciptakan 
suasana mencekam seperti ada kematian yang dekat. 

Sudah delapan jam berlalu tapi Flo masih tak diketahui 
keberadaannya di tengah hutan rimba gunung ini. Orang tua Flo 
dan para pencari mulai panik. Malam pun turun, 

Kami merasa kasihan pada Flo. Kini ia seorang diri dalam gelap 
gulita rimba. Ia bisa saja terjatuh, mengalami patah kaki atau ping- 
san. Atau mungkin saat ini ia sedang terisak-isak, ketakutan, lapar 
dan kedinginan di bawah sebatang pohon besar, dan suaranya telah 
parau memanggil-manggil minta tolong. Anak perempuan yang 
seperti anak laki-laki itu tentu tadi pagi tak menyadari konsekuensi 



2 Hipotermia: keadaan suhu tubuh yang turun sampai di bawah 35° C, biasanya 
karena terpaan dingin dalam waktu lama. 



291 



Andrea Hirata 



keisengannya. Mungkin awalnya ia hanya ingin menggoda teman- 
temannya. Tapi sekarang, keadaan bisa fatal. 

Kontur gunung ini sangat unik. Jika berada di dalam hutannya 
banyak sekali komposisi pohon dan permukaan tanah yang tampak 
sama. Maka jika melewati jalur itu seolah seseorang merasa berada 
di tempat yang telah ia kenal, padahal tanpa disadari langkahnya 
semakin menjauh tersasar ke dalam rimba. Jika Flo mengalami ini ia 
akan tersasar jauh ke selatan menuju aliran anak-anak Sungai 
Lenggang yang sangat deras berjeram-jeram menuju ke muara. Tak 
sedikit orang yang telah menjadi korban di sana. Pada beberapa 
bagian di wilayah selatan ini juga terhampar dataran tanah luas yang 
mengandung jebakan mematikan, yaitu kiumi, semacam pasir hidup 
yang kelihatan solid tapi jika diinjak langsung menelan tubuh. 

Namun, ia akan sial sekaii jika tersasar ke utara. Di sana jauh 
lebih berbahaya. Ia memasuki semacam pintu mati. Ia tak 'kan bisa 
kembali, sebuah point of no return, karena lereng gunung di bagian 
itu terhalang oleh ujung aliran sungai jahat yang disebut Sungai 
Buta. Sungai Buta adalah anak Sungai Lenggang tapi alirannya putus 
hanya sampai di lereng utara Gunung Selumar. Sungai itu seperti 
sebuah gang sempit yang buntu atau seperti jalan yang berakhir di 
jurang. Orang kampung menamainya Sungai Buta sebagai 
representasi keangkerannya. Buta lebih berarti gelap, tak ada 
petunjuk, terperangkap tanpa jalan keluar, dan mati. 

Sungai Buta demikian ditakuti karena permukaannya sangat 
tenang seperti danau, seperti kaca yang diam. Tapi tersembunyi di 
bawah air yang tenang itu adalah maut yang sesungguhnya, yaitu 
buaya-buaya besar dan ular-ular dasar air yang aneh-aneh. Buaya 



292 



Tuk Baijan Tufa 

sungai ini berperangai lain dan amat agresif, mereka mengincar 
kera-kera yang bergelantungan di dahan rendah, bahkan menyam- 
bar orang di atas perahu. Pohon-pohon tua ru' yang tinggi tumbuh 
dengan akar tertanam di dasar sungai ini, sebagian telah mati meng- 
hitam, membentuk pemandangan yang sangat menyeramkan seperti 
sosok-sosok hantu raksasa yang merenungi permukaan sungai dan 
menunggu mangsa melintas. 

Sungai Buta berbentuk melingkar, mengurung sisi utara 
Gunung Selumar. Jika Flo tersesat ke sini ia tak mungkin dapat kem- 
bali mundur karena tenaganya pasti tak akan cukup untuk kembali 
mendaki punggung granit yang curam. Jika ia memaksa, sangat 
mungkin ia akan terpeleset jatuh dan terhempas di atas batu-batu 
karang. Pilihan satu-satunya hanya berenang melintasi Sungai Buta 
yang horor dengan kelebaran hampir seratus meter. Untuk menye- 
berangi sungai itu ia terlebih dahulu harus menyibak-nyibakkan 
hamparan bakung setinggi dada dan hampir dapat dipastikan pada 
langkah-langkah pertama di area bakung itu riwayatnya akan tamat. 
Di sanalah habitat terbesar buaya-buaya ganas di Belitong. 

Di tengah kepanikan tersiar kabar bahwa ada seorang sakti 
mandraguna yang mampu menerawang, tapi beiiau tinggal jauh di 
sebuah Pulau Lanun yang terpencil. Ialah seorang dukun yang telah 
menjadi legenda, Tuk Bayan Tula, demikian namanya. Tokoh ini 
dianggap raja ilmu gaib dan orang paling sakti di atas yang tersakti, 
biang semua keganjilan, muara semua ilmu aneh. 

Banyak orang beranggapan Tuk Bayan Tula tak lebih dari seka- 
dar dongeng, bahwa ia sebenarnya tak pernah ada, dan tak lebih dari 
mitos untuk menakuti anak kecil agar cepat-cepat tidur. Tapi banyak 



293 



Andrea Hirata 

juga yang berani bersaksi bahwa ia benar-benar ada. Bahkan diya- 
kini beliau duiu pernah tinggal di kampung dan sempat menjadi 
penjaga hutan larangan suruhan Belanda, pernah menjadi carik, clan 
pernah menjadi nakhoda kapal yang berulang kali memimpin arma- 
da melanglang Selat Malaka. Menjadi perompak barangkali. 

Konon beliau memang memiliki bakat khusus di bidang ilmu 
antah berantah, karena dalam usia muda beliau sudah menguasai 
budi suci. Ilmu ini sangat potensial membuat penganutnya senang 
memanjat tiang bendera di tengah malam sebab menderita sakit 
saraf. Jika tak kuat menahankan ilmu gaib budi suci, dalam waktu 
singkat seseorang bisa menjadi gila. Tapi jika sukses, pemegangnya 
bisa membunuh orang bahkan tanpa menyentuhnya. Tuk sudah 
khatam budi suci sejak usia belasan. Dalam usia itu beliau juga su- 
dah bisa mempraktikkan ilmu sekuntak, maka beliau mampu me- 
madamkan bohlam hanya dengan memandangnya sepintas. Namun, 
seiring tinggi ilmunya ia semakin menjauhkan diri dari masyarakat 
dan telah berpantang kata untuk menjaga kesaktiannya. Maka Tuk 
Bayan Tula tak 'kan pernah berucap lagi. 

Kini Tuk menyepi di pulau tak berpenghuni. Nama Tuk Bayan 
Tula sendiri adalah nama yang menciutkan nyali. Tuk adalah nama 
julukan lama, dari kata datuk untuk menyebut orang sakti di Be- 
litong. Bayan juga panggilan bagi orang berilmu hebat yang selalu 
memakai nama binatang, dalam hal ini burung bayan. Tula, bahasa 
Belitong asli, artinya kualat, mungkin jika kurang ajar dengan beliau 
orang bisa langsung kualat. Sedangkan nama Pulau Lanun tempat 
tinggal Tuk sekarang juga tak kalah angker. Lanun berarti perom- 
pak. Pulau itu tak berani didekati para nelayan karena di sanalah 



294 



Tuk Baijan Tufa 

para perompak yang kejam sering merapat. Namun, kabarnya para 
perompak itu kabur tunggang langgang ketika Tuk Bayan Tula me- 
nguasai pulau itu, Banyak yang mengatakan para perompak itu di- 
penggal Tuk dengan sadis. Kini Tuk tinggal sendirian di sana. 

Berbagai cerita yang mendirikan bulu kuduk selalu dikait-kait- 
kan dengan tokoh siluman ini. Ada yang mengatakan beliau sengaja 
mengasingkan diri di pulau kecil sebelah barat sebagai tameng yang 
melindungi Pulau Belitong dari amukan badai. Ada yang percaya ia 
bisa melayang-layang ringan seperti kabut dan bersembunyi di balik 
sehelai ilalang. Dan yang paling menyeramkan adalah bahwa dikata- 
kan Tuk telah menjadi manusia separuh peri. 

Anehnya, di balik keangkeran cerita yang berbau mistis itu se- 
mua orang menganggap Tuk Bayan Tula adalah wakil dari alam ba- 
wah tanah dunia putih. Di beberapa wilayah di Belitong beliau di- 
anggap sebagai pahlawan yang telah membasmi para dukun hitam 
nekromansi yang mengambil keuntungan melalui komunikasi de- 
ngan orang-orang yang telah mati. Beliau dianggap ahli menyem- 
buhkan penyakit yang disebabkan oleh praktik klenik jahat untuk 
mencelakakan orang. Maka Tuk tak ubahnya Robin Hood, pahlawan 
yang mencuri untuk menolong kaum papa, atau orang yang berbuat 
baik dengan cara yang salah. Ada pula sebagian orang Belitong yang 
menganggap beliau bukan dukun, tapi sekadar seorang eksentrik 
yang dianugerahi indra keenam. 

Apakah Tuk Bayan Tula seseorang yang mengkhianati ajaran 
tauhid? Mungkinkah ia sekadar seorang pahlawan pemusnah santet 
yang ingin mati sebagai martir? Ataukah ia hanya seorang tua yang 
memutuskan hidup sendiri karena bermasalah dengan perangkat 



295 



Andrea Hirata 



syahwat? Tak ada yang tahu pasti. Kisah kesaktian, gaya hidup, bio- 
grafi, dan paradoks kepahlawanan Tuk ketika dikonfrontasikan 
dengan keyakinan orang awam akan menjadi sebuah misteri. Misteri 
ini mengandung daya tarik dunia bawah tanah, metafisika, paranor- 
mal, fenomena-fenomena janggal, dan ilmu pengetahuan yang 
membakar rasa ingin tahu sebagian orang. Sebagian dari orang itu 
adalah Mahar. 

Dalam kasus Flo, keadaan paniklah yang menyebabkan orang- 
orang sudah tidak lagi mengandalkan akal sehat sehingga berunding 
untuk minta bantuan Tuk Bayan Tula. Kekalutan memuncak karena 
saat itu sudah tengah maiam dan Flo tak juga diketahui nasibnya. 
Maka diutuslah beberapa orang untuk menemui Tuk Bayan Tula. 
Utusan ini bukan sembarangan, paling tidak terdiri atas orang-orang 
yang telah cukup berpengalaman dalam urusan mistik sehingga 
cukup teguh hatinya jika digertak Tuk. Mereka adalah seorang pa- 
wang hujan, seorang dukun angin, kepala suku Sawang, dan seorang 
polisi senior. Utusan ini berangkat menggunakan speedboat milik 
PN Timah yang berkecepatan sangat tinggi. Kami waswas menung- 
gu mereka kembali, terutama cemas kalau-kalau keempat orang 
utusan itu disembelih oieh sang manusia siluman setengah peri. Ke- 
tika matahari pagi mulai merekah, utusan tadi kembali. Kami senang 
menyambut mereka dengan mengharapkan keajaiban yang tak ma- 
suk akal, tapi itu lebih baik dari pada patah harapan sama sekali. Na- 
mun utusan ini tak membawa kabar apa-apa kecuali sepucuk kertas 
dari Tuk Bayan Tula. Puluhan orang mengerumuni cerita mereka 
yang mencengangkan. Mahar duduk paling depan, 



296 



Tuk Baijan Tufa 

"Ketika perahu merapat, anjing-anjing hutan melolong-lolong 
seolah melihat iblis beterbangan," kata ketua utusan, seorang pa- 
wang hujan. la termasuk orang berilmu dan dunia bawah tanah bu- 
kan hal baru baginya, tapi terlihat jelas ia takut dan merasa Tuk 
tidak ada di liganya. Sama sekali bukan tandingannya. 

"Tuk Bayan Tula tinggal di sebuah gua yang gelap, di jantung 
Pulau Lanun. Pulau itu berbelok menyimpang dari jalur nelayan, 
jadi tak seorang pun akan ke sana. Perahu-perahu perompak yang 
telah beliau bakar berserakan di tepi pantai. Tak ada siapa-siapa di 
pulau itu kecuali beliau sendiri dan tak terlihat ada tanaman kebun 
atau sumur air tawar, tak tahulah Datuk itu makan minum apa." 

Kemudian para anggota utusan yang lain sambung-menyam- 
bung, "Melihat wajahnya dada rasanya berdetak, sungguh seseorang 
yang tampak sangat sakti dan berilmu tinggi. Ketika beliau keluar ke 
mulut gua seakan seluruh alam menunduk. Di sana kami merasakan 
udara yang penuh daya magis." 

Cerita ini dikonfirmasikan oleh hampir seluruh anggota utusan, 
bahwa ketika Tuk Bayan Tula berdiri kira-kira lima meter di depan 
mereka, mereka melihat kaki-kaki datuk itu tak menyentuh bumi. Ia 
seperti kabut yang melayang. 

"Tubuhnya tinggi besar, rambut, kumis, dan jenggot-nya lebat 
dan panjang, matanya berkilat-kilat seperti burung bayan. Pakaian- 
nya hanya selembar kain panjang yang dililit-lilitkan. Ia bertelanjang 
dada, dan sebilah parang yang sangat panjang terselip di pinggang- 
nya. Aku ketakutan melihatnya." 



297 



Andrea Hirata 



Kami mendengarkan dengan saksama, terutama Mahar yang 
tampak terpesona bukan main. Mulutnya ternganga dan raut wajah- 
nya memperlihatkan kekaguman yang amat sangat pada Tuk Bayan 
Tula. la tampak begitu terpengaruh dan siap mengabdi pada super- 
star dunia gaib itu. Inilah fanatisme buta. Dalam imajinasinya 
mungkin Tuk Bayan Tula sedang duduk di atas singgasana yang di- 
buat dari tulang belulang musuh-musuhnya. Lalu beberapa ekor 
dedemit yang telah ditaklukkannya patuh melayaninya dengan lim- 
pahan anggur-anggur putih. Ketika itu tak sedikit pun terlintas da- 
lam pikirannya kalau nanti Tuk Bayan Tula akan memutar jalan 
hidupnya dan jalan hidup perempuan kecil yang sedang tersesat di 
rimba ini dengan sebuah kisah antiklimaks. 

"Di depan mulut gua kami melihat empat lembar pelepah pi- 
nang raja tempat duduk telah tergelar, seolah beliau telah tahu jauh 
sebelumnya kalau kami akan datang. Beliau menemui kami, sedikit 
pun tidak tersenyum, sepatah pun tidak berkata." 

Sang ketua utusan mengusap wajahnya yang masih kelihatan 
terkesiap karena pertemuan langsungnya dengan tokoh sakti man- 
draguna Tuk Bayan Tula. Meskipun sudah beberapa jam yang lalu ia 
masih belum bisa menghilangkan perasaan terkejutnya. 

"Kami menceritakan maksud kedatangan karni. Beliau mende- 
ngarkan dengan memalingkan muka. Belum selesai kami berkisah 
beliau langsung memberi isyarat meminta sepucuk kertas dan pena, 
lalu beliau menuliskan sesuatu. Juga diisyaratkan agar kami segera 
pulang dan hanya membuka tulisan beliau setelah tiba di sini. Di 
kertas inilah beliau menulis." 



298 



Tuk Baijan Tufa 



Ketua utusan memperlihatkan gulungan kertas, semua orang 
merubungnya. Mahar melihat gulungan itu dengan tatapan seperti 
melihat benda ajaib peninggalan makhluk angkasa luar. Dengan 
gemetar sang ketua utusan membuka gulungan kertas itu dan di 
sana tertulis: 

INILAH PESAN TUK BAY AN TULA: 

JIKA INGIN MENEMUKAN ANAK PEREMPUAN ITU MAKA 
CARILAH DIA DIDEKAT GUBUK LADANG YANG 
DITINGGALKAN. TEMUKAN SEGERA ATAU DIA ARAN 
TENGGELAM DI BAWAH ARAR BARAU 

Sebuah pesan yang mendirikan bulu tengkuk, lugas, dan meng- 
ancam— atau lebih tepatnya menakut-nakuti. Tapi harus diakui bah- 
wa pesan ini mengandung sebuah tenaga. Pilihan katanya teliti dan 
menunjukkan sebuah kualitas keparanormalan tingkat tinggi. Jika 
Tuk Bayan Tula seorang penipu maka ia pasti penipu ulung, tapi jika 
ia memang dukun maka ia pasti bukan dukun palsu yang oportunis- 
tik. Bagaimanapun pesan ini mengandung pertaruhan reputasi yang 
pasti. Tidak ada kata tersembunyi, tak ada kata bersayap. Intinya 
jelas: jika Flo tidak ditemukan di dekat gubuk ladang yang telah di- 
tinggalkan pemiliknya atau jika ia tidak ditemukan tewas hari ini di 
sela-sela akar bakau, maka sang legenda Tuk Bayan Tula tak lebih 
dari seorang tukang dadu cangkir di pinggir jalan. Semua makhluk 
yang senang memain-mainkan dadu adalah kaum penipu. Ralau itu 
sampai terjadi rasanya aku ingin berangkat sendiri ke Pulau Lanun 
untuk menyita satu-satunya kain yang melilit tubuh Tuk. Tapi selain 
semua kemungkinan itu pesan tadi juga harus diakui telah memberi 



299 



Andrea Hirata 



harapan dan batas waktu, apa yang akan terjadi jika semuanya 
terlambat? 

Kebiasaan berladang berpindah-pindah masih berlangsung 
hingga saat ini. Namun potensi kesulitan sangat mungkin muncul. 
Tak mudah menentukan yang mana yang merupakan gubuk ladang. 
Gubuk telantar banyak terdapat di lereng gunung, yaitu gubuk ra- 
hasia para pencuri timah. Para pendulang liar menggali timah nun 
jauh di lereng gunung secara ilegal dan menjualnya pada para penye- 
lundup yang menyamar sebagai nelayan di perairan Bangka Beli- 
tong. Pencuri dan penyelundup timah adalah profesi yang sangat 
tua. Aktivitas kriminal ini — kriminal dari kaca-mata PN Timah ten- 
tu saja— telah ada sejak orang-orang Kek datang dari daratan Tiong- 
kok untuk menggali timah secara resmi di Belitong dalam rangka 
mengerjakan konsesi dari kompeni, hari-hari itu adalah abad ke-17. 

PN Timah memperlakukan pelaku eksploitasi timah ilegal dan 
penyelundup dengan sangat keras, tanpa perikemanusiaan. Pelaku- 
nya diperlakukan seolah pelaku tindak pidana subversif. Di gunung- 
gunung yang sepi tempat para pendulang timah dianggap pencuri 
dan di laut tempat penyelundup dianggap perompak, hukum seolah 
tak berlaku. Jika tertangkap tak jarang kepala mereka diledakkan di 
tempat dengan AKA 47 oleh manusia-manusia tengik bernama Pol- 
sus Timah. 

Tim kami berangkat sejak pagi benar di bawah pimpinan Ma- 
har. Kami bergerak ke utara, ke arah jalur maut Sungai Buta. Belasan 
ladang— terutama yang dekat sungai— telah kami kunjungi dan gu- 
buknya telah kami obrak-abrik, kami juga mencari-cari di sela-sela 
akar bakau, tapi hasilnya nihil. Flo raib seperti ditelan bumi. Suara 



300 



Tuk Baijan Tufa 



kami sampai parau memanggil-manggil namanya dan satu-satu-nya 
megafon yang dibekali posko telah habis baterainya. 

Dan pagi pun tiba, pencarian berlangsung terus. Dari walky 
talky kami pantau bahwa Flo masih tetap misteri. Sekarang baterai 
walky talky mulai lemah dan hanya dapat memonitor saja. Tidak 
hanya batu-batu baterai itu, semangat kami pun melemah. Kami 
mulai dihinggapi perasaan putus asa. 

Dari setiap gubuk yang kami kunjungi dan tidak ditemukan Flo 
di dalamnya maka satu kredit minus mengurangi reputasi Tuk. 
Sesudah hampir dua puluh gubuk yang nihil, saat itu menjelang 
tangah hari, reputasi beliau pun makin pudar— kalau bukan disebut 
hancur. Kami mulai meragukan kesaktian dukun siluman itu. Mahar 
tampak agak tersinggung setiap kali kami mengeluh jika menemu- 
kan gubuk yang kosong, apa lagi ada celetukan yang melecehkan 
Tuk gayan Tula. 

"Kalau dia bisa berubah menjadi burung bayan, tak perlu susah- 
susah kita mencari-cari seperti ini," desah Kucai sambil terengah- 
engah. 

Berbagai pikiran buruk menghantui kepala yang penat dan 
tubuh yang lelah. 

Ke manakah engkau gadis kecil? Mungkinkah anak gedongan 
itu telah tewas? 

Parameter pencarian demikian luas. Flo bisa saja tidak menu- 
runi lereng menuju ke lembah. melainkan naik terus ke puneak, atau 
berjalan berputar-putar niengelilingi lereng, tersesat dalam fatamor- 
gana sampai habis tenaganya. Mungkin juga ia telah tembus di sisi 



301 



Andrea Hirata 



barat daya dan memasuki perkampungan Tionghoa kebun di sana. 
Atau ia sedang dililit ular untuk dibusukkan dan ditelan besok 
malam. 

Mungkinkah ia telah berenang melintasi Sungai Buta? Bukan- 
kah ia anak tomboi yang terkenal nekat tak kenal takut? Selamat 
atau sudah tamatkah riwayatnya? Perbekalan air dan makanan kami 
yang seadanya telah habis. Harun, Trapani, dan Samson sudah ingin 
menyerah dan menyarankan kami kembali ke posko, tapi Mahar tak 
setuju, ia yakin sekali pada kebenaran pesan Tuk Bayan Tula. Se- 
baliknya, bagi kami hanya bayangan penderitaan Flo yang masih 
menguatkan hati untuk terus mencari. Jika ingat betapa ia ketakut- 
an, kelaparan, dan kedinginan, kelelahan kami rasanya dapat dita- 
hankan. 

Menjelang pukul 10 pagi, berarti telah 27 jam Flo lenyap. Kami 
sudah tak memedulikan pesan Tuk. Bagi kami— kecuali Mahar— 
datuk itu tak lebih dari semua dukun-dukun lainnya, palsu dan 
oportunistik. Kami memperlebar parameter pencarian sampai agak 
naik ke atas ladang. Di setiap gubuk kami menemukan pemandang- 
an yang sama, yaitu babi-babi hutan yang kawin berpesta pora atau 
tikus-tikus pengerat bercengkrama di antara dengungan kumbang 
yang bersarang di tiang-tiang gubuk yang lapuk. 

Pukul 11, siang sudah, kami tiba di sebuah batu cadas besar 
yang menjorok. Kami berkumpul di sana unluk mengistirahatkan 
sisa-sisa tenaga terakhir. Inilah ujung akhir lereng utara karena 
setelah ini, nun setengah kilometer di bawah kami adalah wilayah 
bahaya maut Sungai Buta. Kami tak 'kan turun ke wilayah yang di- 
hindari setiap orang itu, bahkan penjelajah profesional tak berani ke 



302 



Tuk Baijan Tufa 

sana. Kami sudah putus asa dan setelah beristirahat ini kami akan 
segera kembali ke posko. Kami telah gagal, Flo tetap nihil, dan paling 
tidak di lereng utara Tuk Bayan Tula telah berdusta. Dari walky talky 
kami memonitor bahwa di barat, timur, dan selatan Flo juga tak di- 
temukan, berati Tuk Bayan Tula telah berdusta di empat penjuru 
angin. 

Kami diam terpaku menerima berita itu. Wajah Mahar sembap 
seperti ingin menangis. la seumpama kekasih yang dikhianati orang 
tersayang. Tuk telah melukai hatinya meskipun ia sedikit pun tak 
kenal tokoh pujaannya itu. Ini risiko keyakinan yang rabun. Dan aku 
sedih, bukan karena membayangkan kehancuran integritas Tuk atau 
perasaan Mahar yang kecewa, tapi karena memikirkan nasib buruk 
yang menimpa Flo. Bisa saja ia tak 'kan pernah ditemukan, hilang, 
raib. Bisa juga ia ditemukan tapi cuma tinggal berupa kerangka yang 
dipatuki burung gagak. Ia juga mungkin ditemukan dalam keadaan 
menyedihkan telah tercabik-cabik hewan buas. Dan yang paling tak 
tertahankan adalah jika ia mati sia-sia secara memilukan karena 
pertolongan terlambat beberapa jam saja. Sulit untuk bertahan 
hidup dalam suhu sedingin malam tadi tanpa makanan sama sekali. 
Dan saat-saat sekarang ini sudah memasuki keadaan yang mulai 
terlambat itu. Mengapa anak cantik kaya raya yang hidup di rumah 
seperti istana, dari keluarga terhormat, tanpa trauma masa kecil, dan 
yang memiliki limpahan kasih sayang semua orang, serta lingkungan 
seperti taman eden, harus berakhir di tempat ganas ini? Aku tak 
sanggup membayangkan lebih jauh perasaan orangtuanya. 

Aku terbaring kelelahan memandangi keseluruhan Gunung Se- 
lumar yang biru, agung, dan samar-samar. Aku pernah menulis pui- 



303 



Andrea Hirata 



si cinta di puncaknya dan gunung ini pernah memberiku inspirasi 
keindahan yang lembut. Bahkan di sabana di atas sana tumbuh bu- 
nga-bunga liar kuning kecil yang dapat membuat siapa pun jatuh 
cinta, bukan hanya kepada bunganya, tapi juga kepada orang yang 
mempersembahkannya. Namun kelembutan gunung ini, seperti 
kelembutan unsur-unsur alam lainnya, air, angin, api, dan bumi ter- 
nyata menyembunyikan kekejaman tak kenal ampun. Betapa tega- 
nya, toh bagaimanapun nakalnya, Flo hanyalah seorang gadis kecil, 
permata hati keluarganya. 

Kucai menepuk-nepuk bahu Mahar dan menghiburnya. Mahar 
memalingkan muka. la menunduk diam. Matanya jauh menyapu 
pandangan ke Sungai Buta dan rawa-rawa bakung di bawah sana. 
Kami bangkit, membereskan perlengkapan, dan mempersiapkan diri 
untuk pulang. Sebelum kami melangkah pergi Syahdan yang menga- 
lungkan teropong kecil di lehernya mencoba-coba benda plastik 
mainan itu. la meneropong tepian Sungai Buta. Saat kami ingin me- 
nuruni batu cadas itu tiba-tiba Syahdan berteriak, sebuah teriakan 
nasib. 

"Lihatlah itu, ada pohon kuini di pinggir Sungai Buta." 

Kami membalikkan badan terkejut dan Mahar serta-merta me- 
rampas teropong Syahdan. la berlari ke bibir cadas dan meneropong 
ke bawah dengan saksama, "Dan ada gubuk!" katanya penuh sema- 
ngat. 

"Kita harus turun ke sana!" katanya lagi tanpa berpikir panjang. 



304 



Tuk Baijan Tufa 

Kami semua terperanjat dengan usul sinting itu. Kucai yang dari 
tadi membisu menganggap kekonyolan Mahar telah melampaui ba- 
tas. Sebagai ketua kelas ia merasa bertanggung jawab. 

"Apa kau sudah gila!" Ia menyalak dengan galak. Sorot matanya 
tajam, merah, dan marah, walaupun yang ditatapnya adalah Harun 
yang berdiri melongo di samping Mahar. 

"Mari aku jelaskan ke kepalamu yang dikaburkan asap keme- 
nyan sehingga tak bisa berpikir waras. Pertama-tama di bawah sana 
tak mungkin sebuah ladang. Tak ada orang sinting yang mau berla- 
dang di pinggir Sungai Buta kecuali ia ingin mati konyol. Tak tahu- 
kah kau cerita pengalaman orang lain, di situ buaya tidak menunggu 
tapi mengejar. Dan ular-ular sebesar pohon kelapa melingkar-ling- 
kar di sembarang tempat. Kalaupun itu memang gubuk, itu gubuk 
pencuri timah. Berdasarkan pesan datuk setengah iblis anak gedong- 
an itu hanya ada di gubuk ladang yang ditinggalkan!" 

Mahar menatap Kucai dengan dingin, Kucai semakin geram. 

"Kalau kita turun ke sana, aku pastikan kita bisa menjadi Flo- 
Flo baru yang malah akan dicari orang, menambah persoalan, mere- 
potkan semuanya nanti. Tempat itu sangat berbahaya, Har, pakai o- 
takmu! Ayo pulang!!" Mahar tetap sedingin es, ekspresinya datar. 
"Lagi pula mana mungkin anak perempuan kecil itu dapat mencapai 
tempat ini. Batu ini adalah dinding utara terakhir. Kita telah menda- 
tangi puluhan gubuk ladang yang ditinggalkan, hasilnya nol, menda- 
tangi satu gubuk pencuri timah hasilnya akan tetap sama, ayolah pu- 
lang, Kawan, terimalah kenyataan bahwa Tuk telah menipu kita, 
ayolah pulang, Kawan ...," Kucai merendahkan suaranya, mungkin ia 



305 



Andrea Hirata 



sadar membujuk orang setengah gila tidak bisa dengan marah-ma- 
rah. Tapi Mahar tetap membatu, ia seperti menhir, masih belum bisa 
diyakinkan. Ia tak 'kan menyerah semudah ini. Syahdan ikut mena- 
sihati dengan kata-kata pesimis. "Sudah hampir tiga puluh jam Flo 
hilang, kita harus belajar realistis, mungkin ia memang ditakdirkan 
menemui ajal di gunung ini. Tuhan telah memanggilnya dan gunung 
ini pun mengambilnya." 

Mahar tak bergerak. Kami beranjak meninggalkan tempat itu. 
Lalu dengan dingin Mahar mengatakan ini, "Kalian boleh pulang, 
aku akan turun sendiri...." 

Maka turunlah kami semua walaupun kami tahu tak 'kan mene- 
mukan Flo di pinggir Sungai Buta. Hal itu sangat muskil, sangat 
mustahil. Semuanya menggerutu dan kami mengutuki Syahdan yang 
tadi iseng-iseng meneropong dengan teropong plastik jelek mainan 
anak-anak itu. Dia menyesal. Tapi semuanya telah telanjur, sekarang 
kami pontang panting menuruni punggung lereng yang curam, ber- 
kelak-kelok di antara batu-batu besar dan menerabas kerimbunan 
gulma yang sering menusuk mata. 

Kami menuju ke sebuah gubuk pencuri timah di wilayah maut 
pinggiran Sungai Buta hanya untuk menemani Mahar, menemani ia 
memuaskan egonya, membuktikan padanya bahwa insting tidak ha- 
rus selalu benar, dan melindunginya dari ketololannya sendiri. Wa- 
laupun kami benci pada kefanatikannya tapi ia tetap teman kami, 
anggota Laskar Pelangi, kami tak ingin kehilangan dia. Kadang-ka- 
dang persahabatan sangat menuntut dan menyebalkan. Pelajaran 
moral nomor lima: jangan bersahabat dengan orang yang gila per- 
dukunan. 



306 



Tuk Baijan Tufa 

Kira-kira satu jam kemudian, tepat tengah hari kami telah 
berada di lembah Sungai Buta. Wilayah ini merupakan blank spot 
untuk frekuensi walky talky sehingga suara kemerosok yang sedikit 
menghibur dari alat itu sekarang mati dan tempat ini segera jadi 
mencekam. Untuk pertama kalinya aku ke sini dan rasa angkernya 
memang tidak dibesar-besarkan orang. Kenyataannya malah terasa 
lebih ngeri dari bayanganku sebelumnya. Kami memasuki wilayah 
yang jelas-jelas menunjukkan permusuhan pada pendatang. Wilayah 
ini seperti dikuasai oleh suatu makhluk teritorial yang buas, asing, 
dan sangat jahat. Kerasak-kerasak gelap di pokok pohon nipah yang 
digenangi air seperti kerajaan jin dan tempat sarang berkembang 
biaknya semua jenis bangsa-bangsa hantu. Biawak berbagai ukuran 
melingkar-lingkar di situ, sama sekali tak takut pada kehadiran 
kami, beberepa ekor di antaranya malah bersikap ingin menyerang. 

Hanya sedikit orang pernah ke sini dan di antara yang sedikit 
itu— dan yang paling tolol— adalah kami. Kami berjalan dalam 
langkah senyap berhati-hati. Semuanya mengeluarkan parang dari 
sarungnya dan terus-menerus menoleh ke kiri dan kanan serta 
membentuk formasi untuk melindungi punggung orang terdekat. 
Kami mendengar suara sesuatu ditangkupkan dengan sangat keras 
dan mengerikan disertai suara kibasan air yang besar. Kami diam tak 
membahas itu, kami tahu suara itu tangkupan mulut buaya yang 
besarnya tak terkira. Ada juga suara bayi-bayi buaya yang berkeciak 
dan pemandangan beberapa ekor ular bergelantungan di dahan- 
dahan pohon. Kami terus merangsek maju seperti sedang mengintai 
musuh. 



307 



Andrea Hirata 



Pondok itu kira-kira seratus meter di depan kami. Semakin 
dekat, semakin jelas dan mencengangkan karena tempat itu agaknya 
memang bekas sebuah ladang yang ditinggalkan. Kami menemukan 
kawat-kawat bekas pagar dan dari kejauhan melihat pohon-pohon 
kuini, jambu bol, dan sawo. Siapa orang luar biasa yang berani 
berladang di sini? 

Jarak ladang ini dekat sekali dengan pinggiran Sungai Buta, bisa 
dipastikan sangat berbahaya. Pemiliknya pasti ingin mendekati air 
tanpa mempertimbangkan keselamatan. Sebuah tindakan bodoh. 
Atau mungkinkah karena ketololannya itulah maka riwayat sang 
pemilik telah berakhir di tepi sungai ini sehingga ladangnya seka- 
rang tak bertuan? Tapi ada hal lain, yaitu siapa pun pemilik terse- 
but— terutama jika ia masih hidup— maka ia pasti tak sanggup 
memelihara ladang ini karena hama perompak tanaman juga luar 
biasa di sini. Kawanan kera sampai mencapai lima kelompok, saling 
berebutan lahan dengan serakah. Belum lagi tupai, lutung, babi hu- 
tan, musang, luak, dan tikus pengerat, hewan-hewan ini sudah keter- 
laluan. 

Kami berjingkat-jingkat tangkas di atas akar-akar bakau yang 
cembung berselang-seling. Akar-akar ini seperti menopang pohon- 
nya yang rendah. Tak kami temukan Flo tersangkut di bawah akar- 
akar itu, satu lagi konfirmasi penipuan Tuk Bayan Tula. Setelah ya- 
kin Flo tak ada di bawah akar bakau, kami pelan-pelan mendekati 
ladang. 

Semakin dekat ke lokasi ladang kami dapat melihat dengan jelas 
sebuah gubuk beratap daun nipah. Lalu ada suatu pemandangan 
yang agak menarik, yaitu salah satu dahan pohon jambu mawar yang 



308 



Tuk Baijan Tufa 

berdaun amat lebat bergoyang-goyang hebat seperti ingin dirubuh- 
kan. Jambu mawar itu tumbuh persis di samping gubuk. Pastilah itu 
ulah lutung besar yang sepanjang waktu selalu lapar. 

Kami mendekati pohon jambu mawar itu dengan waspada. 
Kami menyusun semacam strategi penyergapan untuk memberi 
pelajaran pada lutung rakus itu. Kami mengendap-endap seperti 
pasukan katak baru keluar dari rawa untuk merebut sebuah gudang 
senjata. Di ladang telantar ini tumbuh subur ilalang setinggi dada 
dan pohon-pohon singkong yang sudah centang perenang dirampok 
hewan-hewan liar. Buah-buah sawo yang masih muda, putik-putik 
jambu bol, dan buah kuini muda juga berserakan di tanah karena 
dijarah secara sembrono oleh hama hewan-hewan itu. Bahkan buah- 
buahan ini tak sempat masak. Binatang-binatang tak tahu diri! 

Lutung besar yang sedang berpesta pora di dahan jambu mawar 
itu tak menyadari kehadiran kami. la semakin menjadi-jadi, meng- 
guncang-guncang dahan jambu itu hingga daun dan bakal buahnya 
berjatuhan, kurang ajar sekali. Kami semakin dekat dan berjinjit- 
jinjit tak menimbulkan suara. Kami ingin menangkapnya basah se- 
hingga ia semaput ketakutan, inilah hiburan kecil di tengah kete- 
gangan menyelamatkan nyawa manusia. 

Setelah tiba saatnya kami bersama-sama menghitung hingga 
tiga dan melompat serentak, menghambur ke bawah dahan itu sam- 
bil bertepuk tangan dan berteriak sekeras-kerasnya untuk mengejut- 
kan sang lutung. Tapi tak sedikit pun diduga situasi berbalik seratus 
delapan puluh derajat, karena sebaliknya, ketika kami menyerbu jus- 
tru kami yang terkejut setengah mati tak alang kepalang, rasanya 
ingin terkencing-kencing. Kami tak percaya dengan penglihatan ka- 



309 



Andrea Hirata 



mi dan terkaget-kaget hebat karena persis di atas kami, di sela-sela 
dedaunan yang sangat rimbun, bertengger santai seekor kera besar 
putih yang tampak riang gembira menunggangi sebatang dahan se- 
perti anak kecil kegirangan main kuda-kudaan, wajahnya seperti ba- 
ru saja bangun tidur dan belum sempat cuci muka. la tertawa terba- 
hak-bahak sampai keluar air matanya melihat wajah kami yang 
terbengong-bengong pucat pasi. Flo yang berandal telah ditemukan! 



^Q^zzsQ^ 



310 






AKU terengah-engah basah kuyup. Syahdan memandangi aku 
dengan prihatin. Kami saling berpandangan lalu tertawa. Tawaku se- 
makin keras seiring tangis di dalam hati tentu saja. Tangis karena 
mendapati diri sampai sakit karena dera putus cinta. Mahar telah 
habis-habisan menjadikanku kelinci percobaan. "Anak-anak jin yang 
tersinggung?" Ke mana perginya akal sehatnya? Dia patut mendapat 
nomor 7 dalam teori gila versi ibuku. Tapi aku tahu dia sesungguh- 
nya bermaksud baik. 

Setelah Mahar, A Kiong dan daun-daun beluntasnya pergi tanpa 
pamit lalu datang Bu Mus dan teman-teman sekolahku yang lain. 
Syahdan mengadukan kelakuan Mahar, tapi Bu Mus menunjukkan 
wajah tak peduli. Beliau sudah cukup lama dibuat pusing oleh 
Mahar dan tak berminat menambah beban berat hidupnya dengan 
memikirkan dukun palsu itu. 



Andrea Hirata 

Beliau mengeluarkan pil ajaib APC. Besoknya aku sudah bisa 
berangkat ke sekolah dan aku tahu persis yang menyembuhkanku 
adalah pil APC. Begitu melihatku memasuki kelas A Kiong langsung 
menyalami Mahar. Mahar menaikkan alisnya, mengangkat bahunya, 
dan mengangguk-angguk seperti burung penguin selesai kawin. Itu- 
lah gerakan khas Mahar yang sangat menyebalkan. 

"Apa kubilang!" barangkali itulah maknanya. 

Mahar mengelus-elus koper bututnya dan A Kiong semakin 
fanatik padanya. Mereka berdua tenggelam dalam kesesatan memer- 
sepsikan diri sendiri. 

Rupanya fisikku memang telah sembuh tapi hatiku tidak. Pu- 
lang dari sekolah aku kembali disergap perasaan sedih. Tak mudah 
melupakan A Ling. Dadaku kosong karena kehilangan sekaligus se- 
sak karena rindu. Aku terbaring kuyu di atas dipan memandangi 
diary dan buku Herriot kenang-kenangan darinya. Untuk mengalih- 
kan kesedihan aku mengambil buku Seandainya Mereka Bisa Bicara 
itu dan dengan malas aku berusaha membacanya. 

Sudah kuniatkan dalam hati bahwa jika buku itu membosankan 
maka setelah halaman pertama ia akan langsung kutangkupkan di 
wajahku karena aku ingin tidur. Lalu kata demi kata berlalu. Setelah 
itu kalimat demi kalimat dan dilanjutkan dengan paragraf demi 
paragraf. Aku tak berhenti membaca dan beberapa kali membaca 
paragraf yang sama berulang-ulang. Tanpa kusadari dalam waktu 
singkat aku telah berada di halaman 10 tanpa sedikit pun sanggup 
menggeser posisi tidurku. Seluruh perasaan gundah, putus asa, dan 
air mata rindu yang tadi sudah menggenang di pelupuk mataku 
diisap habis oleh lembar demi lembar buku itu. 



312 



Rencana B 

Buku ajaib itu bercerita tentang perjuangan seorang dokter 
hewan muda di zaman susah tahun 30-an. Dokter muda itu, Herriot 
sendiri, bekerja nun jauh di sebuah desa terpencil di bagian antah 
berantah di Inggris sana. Desa kecil itu bernama Edensor. 

Mulutku ternganga dan aku menahan napas ketika Herriot 
menggambarkan keindahan Edensor: "Lereng-lereng bukit yang tak 
teratur tampak seperti berjatuhan, puncaknya seperti berguling- 
guling tertelan oleh langit sebelah barat, yang bentuknya seperti pita 
kuning dan merah tua .... Pegunungan tinggi yang tak berbentuk itu 
mulai terurai menjadi bukit-bukit hijau dan lembah-lembah luas. Di 
dasar lembah tampak sungai yang berliku-liku di antara pepohonan. 
Rumah-ramah petani yang terbuat dari batu-batu yang kukuh dan 
berwarna kelabu tampak seperti pulau di tengah ladang yang diusa- 
hakan. Ladang itu terbentang ke atas seperti tanjung yang hijau 
cerah di atas lereng bukit .... Aku sampai di taman bunga mawar, 
kemudian ke taman asparagus, yang tumbuh jadi pohon yang tinggi. 
Lebih jauh ada pohon arbei dan tumbuhan frambos. Pohon buah 
terdapat di mana-mana. Buah persik, buah pir, buah ceri, buah 
prem, bergantungan di atas tembok selatan, berebut tempat dengan 
bunga-bunga mawar yang tumbuh liar." 

Aku terkesima pada desa kecil Edensor. Aku segera menyadari 
bahwa ada keindahan lain yang memukau di dunia ini selain cinta. 
Herriot menggambarkan Edensor dengan begitu indah dan meme- 
ngaruhiku sehingga ketika ia bercerita tentang jalan-jalan kecil ber- 
alaskan batu-batu bulat di luar rumah praktiknya rasanya aku dapat 
mencium harum bunga daffodil dan astuaria yang menjalar di 
sepanjang pagar peternakan di jalan itu. Ketika ia bercerita tentang 
padang sabana yang terhampar di Bukit Derbyshire yang mengeli- 
lingi Edensor rasanya aku terbaring mengistirahatkan hatiku yang 



313 



Andrea Hirata 

lelah dan wajahku menjadi dingin ditiup angin dari desa tenang dan 
cantik itu. Aku telah jatuh hati dengan Edensor dan menemukannya 
sebagai sebuah tempat dalam khayalanku setiap kali aku ingin lari 
dari kesedihan. 

Sebaliknya aku semakin mencintai A Ling. la dengan bijak telah 
mengganti kehadirannya dengan kehadiran Edensor yang mampu 
melipur laraku. A Ling meninggalkan buku Herriot untukku tentu 
karena sebuah alasan yang jelas. Selanjutnya, aku membaca buku 
Herriot berulang-ulang sehingga hampir hafal. Ke mana pun aku 
pergi buku itu selalu kubawa dalam tas sandang bututku. Buku itu 
adalah representasi A Ling dan pengobat jiwaku. Jika aku merasa 
risau dan sedih maka aku segera mengalihkan pikiranku dengan 
membayangkan aku sedang duduk di bangku rendah di tengah ta- 
man anggur di Edensor. Kumbang-kumbang berdengung riuh ren- 
dah, mataku menatap lembut pegunungan Pennines yang biru di 
Derbyshire dan angin lembah yang sejuk mengembus wajahku, me- 
nguapkan semua kepedihan, resah, dan kesulitan hidupku di sudut 
kampung kumuh panas di Belitong ini. Aneh memang, jika Trapani 
seluruh hidupnya seolah dipengaruhi oleh lagu Wajib Belajar maka 
kini seluruh hidupku terinspirasi oleh buku Seandainya Mereka Bisa 
Bicara, terutama oleh Desa Edensor yang ada di buku itu. Jika beban 
hidup demikian memuncak rasanya aku ingin sekali berada di 
Edensor. Punguk merindukan bulan tentu saja. Mana mungkin anak 
Melayu miskin nun di Pulau Belitong sana mengangankan berada di 
sebuah tempat di Inggris. Bermimpi pun tak pantas. 

Sebaliknya, karena Edensor aku segera merasa pulih jiwa dan 
raga. Edensor memberiku alternatif guna memecah penghalang 
mental agar tak stres berkepanjangan karena terus-terusan terpaku 
pada perasaan patah hati. A Ling telah memberi racun cinta sekali- 



314 



Rencana B 

gus penawarnya. Aku mulai tegar meskipun tak 'kan ada lagi 
Michele Yeoh. Aku siap menyesuaikan diri dengan kenyataan baru. 
Aku sudah ikhlas meninggalkan cetak biru kehidupan indah asmara 
pertamaku yang bertaburan wangi bunga dalam ritual rutin pem- 
belian kapur tulis. 

Inilah asyiknya menjadi anak kecil. Patah hati karena cinta yang 
telah berlangsung sekian tahun— lima tahun!— bisa pulih dalam 
waktu tiga hari dan disembuhkan oleh sebuah desa bernama Eden- 
sor di tempat antah berantah di Inggris sana dan hanya diceritakan 
melalui sebuah buku ajaib. 

Sedangkan orang dewasa bisa-bisa memerlukan waktu tiga 
tahun untuk mengobati frustrasi karena hancurnya cinta platonik 
tiga minggu. Apakah semakin dewasa manusia cenderung menjadi 
semakin tidak positif? Aku belajar berjiwa besar, berusaha mema- 
hami esensi konsep virtual dan fisik dalam hubungan emosional. 
Bukankah jika mencintai seseorang kita harus membiarkan ia bebas? 
Apabila hal semacam ini dialami oleh seorang dewasa mungkin ia 
tak mau lagi melihat kapur tulis seumur hidupnya. 

Kini aku akan mengenang A Ling sebagai bagian terindah 
dalam hidupku. Aku tetap rajin, dengan naluri cinta yang sama, 
dengan semangat yang sama, berangkat dengan Syahdan setiap 
Senin pagi untuk membeli kapur, meskipun sekarang aku disambut 
oleh sebilah tangan beruang dan kuku-kuku burung nazar pemakan 
bangkai. Setiap membeli kapur aku tetap mengikuti prosedur yang 
sama dan menikmati kronologi perasaanku di tengah kepengapan 
Toko Sinar Harapan. Aku menyimulasikan urutan-urutan sensasi 
keindahan cinta pertama seolah A Ling masih menungguku di balik 
tirai-tirai rapat yang terbuat dari keong-keong kecil itu. 



315 



Andrea Hirata 

Sering kali sekarang aku bertanya pada diri sendiri: berapakah 
jumlah pasangan yang telah mengalami cinta pertama, lalu hanya 
memiliki satu cinta itu dalam hidupnya, menikah, dan kemudian 
hanya terpisahkan karena Tuhan memanggil salah satu dari mereka? 
Sedikit sekali! Atau malah mungkin tidak ada! Sepertinya kedua 
jawaban tersebut bisa menjadi hipotesis yang meyakinkan untuk 
pertanyaan dangkal semacam itu. Karena itulah yang umumnya 
terjadi dalam dunia nyata. 

Maka aku memiliki pandangan sendiri mengenai perkara cinta 
pertama ini, yaitu cinta pertama memang tak 'kan pernah mati, tapi 
ia juga tak 'kan pernah survive. Selain itu aku telah menarik 
pelajaran moral nomor enam dari pengalaman cinta pertamaku 
yaitu: jika Anda memiliki kesempatan mendapatkan cinta pertama 
di sebuah toko kelontong, meskipun toko itu bobrok dan bau tengik, 
maka rebutlah cepat-cepat kesempatan itu, karena cinta pertama 
semacam itu bisa menjadi demikian indah tak terperikan! 

Aku melihat ke belakang, membuat evaluasi kemajuan hidupku, 
dan bersyukur telah mengenai A Ling. Jika berpikir positif, ternyata 
mengenai seseorang secara emosional memberikan akses pada se- 
buah bank data kepribadian tempat kita dapat belajar banyak hal 
baru. Hal-hal baru itu bagiku pada intinya satu: wanita adalah 
makhluk yang tak mudah diduga. Maka banyak orang berpikir keras 
mengurai sifat-sifat rahasia wanita, Paul I. Wellman misalnya de- 
ngan tesis Dewi Aphrodite-nya. Ia menggambarkan wanita sebagai 
makhluk yang di dalam dirinya berkecamuk pertentangan-perten- 
tangan, mengandung pergolakan abadi, sopan tapi berlagak, senti- 
mental sekaligus bengis, beradab namun ganas. 

Bagiku, aku masih tak mengerti wanita, namun sepertinya ada 
semacam komposisi kimiawi tertentu di dalam tubuh mereka yang 



316 



Rencana B 

menyebabkan lelaki dengan komposisi kimiawi tertentu pula merasa 
betah di dekatnya. Maka cinta adalah reaksi kimia sehingga keaneh- 
an dapat terjadi, seorang pangeran tampan kaya raya bisa saja dito- 
lak oleh seorang gadis penjaga pintu tol, dan seorang wanita public 
relation officer di sebuah BUMN yang sangat luas pergaulannya bisa 
saja tergila-gila setengah mati dengan seorang laki-laki penyendiri 
yang eksentrik. Itulah wanita, maka siapa pun ia, seorang dewi 
agung dalam mitologi Yunani atau sekadar seorang penjaga toko 
kelontong bobrok di Belitong, masing-masing menyimpan rahasia 
untuk dirinya sendiri, rahasia yang tak 'kan pernah diketahui siapa 
pun. 

Wanita seperti apakah A Ling? Inilah yang paling menarik dari 
kisah cinta monyet ini. Setelah berpisah dengannya, aku baru 
mengerti tipe semacam ini. Ia bukanlah pribadi mekanis yang meng- 
ungkapkan perasaan secara eksplisit. Ia memiliki pendirian yang 
kuat dan amat percaya diri. Ia model wanita yang memegang per- 
tanggungjawaban pada setiap gabungan huruf-huruf yang meluncur 
dari mulutnya. Dan ini menimbulkan respek karena aku tahu 
banyak orang harus berulang-ulang meyakinkan dirinya sendiri dan 
pasangannya dengan kata-kata basi berbusa-busa, bahwa mereka 
masih saling mencintai, sungguh mengibakan! A Ling tak ingin 
menghabiskan waktu berurusan dengan pola respons aksi reaksi 
cinta picisan yang klise, retoris, dan membosankan. 

Aku belajar berjiwa besar atas seluruh kejadian dengan A Ling. 
Sekarang aku memiliki cinta yang baru dalam tas bututku: Edensor. 
Sudah selama 115 jam, 37 menit, 12 detik aku kehilangan A Ling dan 
saat ini kuputuskan untuk berhenti mengiba-iba mengenang cinta 
pertama itu. 



317 



Andrea Hirata 

Akhirnya, aku mampu melangkah menyeberangi garis ujian 
tabiat mengasihani diri dan sekarang aku berada di wilayah positif 
dalam menilai pengalamanku. Aku mulai bangkit untuk menata diri. 
Aku mempelajari metode-metode ilmiah modern agar dapat bangkit 
dari keterpurukan. Aku rajin membaca berbagai buku kiat-kiat 
sukses, pergaulan yang efektif, cara cepat menjadi kaya, langkah- 
langkah menjadi pribadi magnetik, dan bunga rampai manajemen 
pengembangan pribadi. 

Aku berhenti membuat rencana-rencana yang tidak realistis. 
Filosofi just do it, itulah prinsipku sekarang, lagi pula bukankah John 
Lennon mengatakan life is what happens to us while we are busy 
making plans] Sesuai saran buku -buku psikologi praktis yang muta- 
khir itu aku mulai menginventarisasi bidang minat, bakat, dan ke- 
mampuanku. Dan aku tak pernah ragu akan jawabannya yaitu: aku 
paling piawai bermain bulu tangkis dan aku punya minat sangat 
besar dalam bidang tulis-menulis. 

Kesimpulan itu kuperoleh karena aku selalu menjadi juara 
pertama pertandingan bulu tangkis kelurahan U 19 dan pialanya 
berderet-deret di rumahku. Piala itu demikian banyak sampai ada 
yang dipakai ibuku untuk pemberat tumpukan cucian, ganjal pintu, 
dan penahan dinding kandang ayam. Ada juga piala yang dipakai 
menjadi semacam palu untuk memecahkan buah kemiri, dan sebuah 
piala berbentuk panjang bergerigi dari pertandingan terakhir sering 
dimanfaatkan ayahku untuk menggaruk punggungnya yang gatal. 

Lawan-lawanku selalu kukalahkan dengan skor di bawah sete- 
ngah. Kasihan mereka, meskipun telah berlatih mati-matian berbu- 
lan-bulan dan setiap pagi makan telur setengah masak dicampur 
jadam dan madu pahit, tapi mereka selalu tak berkutik di depanku. 
Kadang-kadang aku beraksi dengan melakukan drop shot sambil 



318 



Rencana B 

salto dua kali atau menangkis sebuah smash sambil koprol. Jika aku 
sedang ingin, aku juga biasa melakukan semacam pukulan straight 
dari celah-celah kedua selangkangku dengan posisi membelakangi 
lawan, tak jarang aku melakukan itu dengan tangan kiri! 

Lawan yang tak kuat mentalnya melihat ulahku akan emosi dan 
jika ia terpancing marah maka pada detik itulah ia telah kalah. Para 
penonton bergemuruh melihat hiburan di lapangan bulu tangkis. 
Jika aku bertanding maka pasar menjadi sepi, warung-warung kopi 
tutup, sekolah-sekolah memulangkan murid-muridnya lebih awal, 
dan kuli-kuli PN membolos. "Si kancil keriting", demikianlah 
mereka menjulukiku. Lapangan bulu tangkis di samping kantor desa 
membludak. Mereka yang tak kebagian tempat berdiri di pinggir 
lapangan sampai naik ke pohon-pohon kelapa di sekitarnya. 

Kukira semua fakta itu lebih dari cukup bagiku untuk menyebut 
bulu tangkis sebagai potensi seperti dinyatakan dalam buku-buku 
pengembangan diri itu. Dan minat besar lainnya adalah menulis. 
Tapi memang tak banyak bukti yang mengonfirmasi potensiku di 
bidang ini, kecuali komentar A Kiong bahwa surat dan puisiku 
untuk A Ling sering membuatnya tertawa geli. Tak tahu apa artinya, 
bagus atau sebaliknya. 

Maka aku mulai mengonsentrasikan diri untuk mengasah 
kemampuan kedua bidang ini. Seperti juga disarankan oleh buku- 
buku ilmiah itu maka aku membuat program yang jelas, terfokus, 
dan memantau dengan teliti kemajuanku. Buku itu iuga 
menyarankan agar setiap individu membuat semacam rencana A 
dan rencana B. 

Rencana A adalah mengerahkan segenap sumber daya untuk 
mengembangkan minat dan kemampuan pada kemampuan utama 



319 



Andrea Hirata 

atau dalam bahasa bukunya core competency, dalam kasusku berarti 
bulu tangkis dan menujis. Setelah tahap pengembangan itu selesai 
lalu bergerak pelan tapi pasti menuju tahap profesionalisme dan 
tahap aktualisasi diri, yaitu muncul menggebrak secara memesona di 
hadapan publik sebagai yang terbaik. Kemudian akhir dari semua 
usaha sistematis ilmiah dan terencana itu adalah mendapat peng- 
akuan kejayaan prestasi, menjadi orang tenar atau selebriti, hidup 
tenang, sehat walafiat, bahagia, dan kaya raya. Sebuah rencana yang 
sangat indah. Setiap kali membaca rencana A-ku aku mengalami 
kesulitan untuk tidur. 

Demikianlah, rencana A sesungguhnya adalah apa yang orang 
sebut sebagai kata-kata ajaib mandraguna: cita-cita. Dan aku senang 
sekali memiliki cita-cita atau arah masa depan yang sangat jelas, 
yaitu: menjadi pemain bulu tangkis yang berprestasi dan menjadi 
penulis berbobot. Jika mungkin sekaligus kedua-duanya, jika tidak 
mungkin salah satunya saja, dan jika tidak tercapai kedua-duanya, 
jadi apa saja asal jangan jadi pegawai pos. 

Cita-cita ini adalah kutub magnet yang menggerakkan jarum 
kompas di dalam kepalaku dan membimbing hidupku secara me- 
yakinkan. Setelah selesai merumuskan masa depanku itu sejenak aku 
merasa menjadi manusia yang agak berguna. 



JIKA aku menengok sahabat sekelasku mereka juga ternyata 
memiliki cita-cita yang istimewa. Sahara misainya, ia ingin menjadi 
pejuang hak-hak asasi wanita. Dia mendapat inspirasi cita-citanya 
itu dari penindasan luar biasa terhadap wanita yang dilihatnya di 
film-film India. A Kiong ingin menjadi kapten kapal, mungkin 



320 



Rencana B 

karena ia senang berpergian atau mungkin topi kapten kapal yang 
besar dapat menutupi sebagian kepala kalengnya itu. Kucai menya- 
dari bahwa dirinya memiliki sedikit banyak kualitas sebagai seorang 
politisi yaitu bermulut besar, berotak tumpul, pendebat yang kom- 
pulsif, populis, sedikit licik, dan tak tahu malu, maka cita-citanya 
sangat jelas: ia ingin jadi seorang wakil rakyat, anggota dewan. 

Tak ada angin tak ada hujan, tanpa ragu dan malu-malu, 
Syahdan ingin menjadi aktor. Ia sedikit pun tidak menunjukkan ka- 
pasitas atau bakat akting, bahkan dalam pertunjukan teater kelas ka- 
mi Syahdan tidak bisa membawakan peran apa pun yang mengan- 
dung dialog karena ia selalu membuat kesalahan. Karena itu Mahar 
memberinya peran sederhana sebagai tukang kipas putri raja yang 
selama pertunjukan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tugasnya 
hanya mengipas-ngipasi sang putri dengan benda semacam ekor bu- 
rung merak, itu pun masih sering tak becus ia lakukan. Semua orang 
menyarankan agar Syahdan meninjau kembali cita-citanya tapi ia 
bergeming. Ia tak peduli dengan segala cemoohan, ia ingin menjadi 
aktor, tak bisa diganggu gugat. 

"Cita-cita adalah doa, Dan," begitulah nasihat bijak dari Sahara. 
"Kalau Tuhan mengabulkan doamu, dapatkah kaubayangkan apa 
jadinya dunia perfilman Indonesia?" 

Sedangkan Mahar sendiri mengaku bahwa ia mampu menera- 
wang masa depannya. Dan dalam terawangannya itu ia dengan ya- 
kin mengatakan bahwa setelah dewasa ia akan menjadi seorang 
sutradara sekaligus seorang penasihat spiritual dan hypnotherapist 
ternama. 

Cita-cita yang paling sederhana adalah milik Samson. Ia me- 
mang sangat pesimis dan hanya ingin menjadi tukang sobek karcis 



321 



Andrea Hirata 

sekaligus sekuriti di Bioskop Kicong karena ia bisa dengan gratis 
menonton film. Ia memang hobi menonton film. Selain itu profesi 
tersebut dapat memelihara citra machonya. Adapun Trapani yang 
baik dan tampan ingin menjadi guru. Ketika kami tanyakan kepada 
Harun apa cita-citanya ia menjawab kalau besar nanti ia ingin 
menjadi Trapani. 

Semua ini gara-gara Lintang. Kalau tak ada Lintang mungkin 
kami tak 'kan berani bercita-cita. Yang ada di kepala kami, dan di 
kepala setiap anak kampung di Belitong adalah jika selesai sekolah 
lanjutan pertama atau menengah atas kami akan mendaftar menjadi 
tenaga langkong (calon karyawan rendahan di PN Timah) dan akan 
bekerja bertahun-tahun sebagai buruh tambang lalu pensiun sebagai 
kuli. Namun, Lintang memperlihatkan sebuah kemampuan luar 
biasa yang menyihir kepercayaan diri kami. Ia membuka wawasan 
kami untuk melihat kemungkinan menjadi orang lain meskipun 
kami dipenuhi keterbatasan. Lintang sendiri bercita-cita menjadi 
seorang matematikawan. Jika ini tercapai ia akan menjadi orang 
Melayu pertama yang menjadi matematikawan, indah sekali. 

Pribadi yang positif, menurut buku, tidak boleh hanya memiliki 
satu rencana, tapi harus memiliki rencana alternatif yang disebut 
dengan istilah yang sangat susah diucapkan, yaitu contingency planl 
Rencana alternatif itu disebut juga rencana B. Rencana B tentu saja 
dibuat jika rencana A gagal. Prosedurnya sederhana yakni: lupakan, 
tinggalkan dan buang jauh-jauh rencana A dan mulailah mencari 
minat dan kemampuan baru, setelah ditemukan maka ikuti lagi 
prosedur seperti rencana A. Inilah buku resep kehidupan yang 
bukan main hebatnya hasil karya para pakar psikologi praktis yang 
bersekongkol dengan para praktisi sumber daya manusia— dan 
penerbit buku tentu saja. 



322 



Rencana B 

Seorang pribadi yang efektif dan efisien hams sudah memiliki 
rencana A dan rencana B sebelum ia keluar dari pekarangan rumah- 
nya. Tapi aku tak tahan membayangkan rencana B dalam hidupku 
karena selain bulu tangkis dan menulis aku tak punya kemampuan 
lain. Sebenarnya ada tapi sungguh tak bisa dipertanggungjawabkan, 
yaitu kemampuan mengkhayal dan bermimpi, aku agak malu meng- 
akui ini. Aku tak punya kecerdasan seperti Lintang dan tak punya 
bakat seni seperti Mahar. Aku berpikir keras untuk memformulasi- 
kan rencana B. Namun sangat beruntung, setelah berminggu-ming- 
gu melakukan perenungan akhirnya tanpa disengaja aku mendapat 
inspirasi untuk merumuskan sebuah rencana B yang hebat luar 
biasa. 

Rencana B-ku ini sangat istimewa karena aku tidak perlu me- 
ninggalkan rencana A. Para pakar sendiri mungkin belum pernah 
berpikir sejauh ini. Rencana B-ku sifatnya menggabungkan minat 
dan kemampuan yang ada pada rencana A. Intinya jika aku gagal 
meniti karier di bidang bulu tangkis dan tak berhasil sebagai penulis 
sehingga semua penerbit hanya sudi menerima tulisanku untuk di- 
jual menjadi kertas kiloan, maka aku akan menempuh rencana B ya- 
itu: aku akan menulis tentang bulu tangkis! 

Aku menghabiskan sekian banyak waktu untuk membuat ren- 
cana B ini agar sebaik rencana A, yaitu sampai tahap-tahap yang pa- 
ling teknis dan operasional. Oleh karena itu, aku telah punya an- 
cang-ancang judul bukuku, seluruhnya ada tiga yaitu TATA CARA 
BERMAIN BULU TANGKIS, FAEDAH BULU TANGKIS, atau 
BULU TANGKIS UNTUK PERGAULAN. 

Rencana B ini kuanggap sangat rasional karena aku telah me- 
lihat bagaimana pengaruh bulu tangkis pada orang orang Melayu 
pedalaman. Jika musim Thomas Cup atau All England maka di kam- 



323 



Andrea Hirata 

pung kami bulu tangkis bukan hanya sekadar olahraga tapi ia men- 
jadi semacam budaya, semacam jalan hidup, seperti sepak bola bagi 
rakyat Brasil. Pada musim itu ilalang tanah-tanah kosong dibabat, 
pohon-pohon pinang ditumbangkan untuk dibelah dan dijadikan 
garis lapangan bulu tangkis, dan gengsi kampung dipertaruhkan ha- 
bis-habisan dalam pertandingan antardusun. Jika malam tiba kam- 
pung menjelma menjadi semarak karena lampu petromaks mene- 
rangi arena-arena bulu tangkis dan teriakan para penonton yang 
gegap gempita. Di sisi lain aku percaya bahwa ratusan kaum pria 
yang tergila-gila pada bulu tangkis lalu pulang ke rumah kelelahan 
akan mengalihkan mereka dari rutinas malam sehingga dapat mene- 
kan angka kelahiran anak-anak Melayu. Sungguh besar manfaat bu- 
lu tangkis bagi kampung kami yang minim hiburan. Fenomena ini 
meyakinkanku bahwa tulisanku tentang bulu tangkis akan mencapai 
suatu kedalaman dan kategori yang disebut para sastrawan pintar 
zaman sekarang sebagai buku dalam genre humaniora! 

Buku itu akan ditulis setelah melalui riset yang serius dan me- 
libatkan studi literatur serta wawancara yang luas. Jika beruntung 
aku akan mengusahakan agar mendapat semacam kata pengantar se- 
kapur sirih dari Ferry Sonneville dan dengan sedikit kerja sama 
dengan penerbit aku sudah mengkhayalkan akan mendapat banyak 
komentar berisi pujian dari para pakar di sampul belakang buku itu. 

Misalnya Liem Swie King, ia akan berkomentar, "Ini adalah se- 
buah buku yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kepercaya- 
an diri, membangun network, dan menambah kawan." 

Komentar Lius Pongoh agak lebih singkat: "Sebuah buku yang 
memberi pencerahan." 



324 



Rencana B 

Seorang birokrat dari komite olah raga menyumbangkan pujian 
yang filosofis: "Belum pernah ada buku olahraga ditulis seperti ini, 
penulisnya sangat memahami makna men sana incorpore sano." 

Demikian pula pujian seorang seksolog yang gemar bermain 
bulu tangkis: "Buku wajib bagi Anda yang memiliki kelebihan berat 
badan dan kesulitan membina hubungan." 

Rudy Hartono memuji habis-habisan: "Sebuah buku yang 
menggetarkan!" 

Sedangkan komentar dari Ivana Lie adalah: "Membaca buku ini 
rasanya aku ingin memeluk penulisnya." 



^S^zsQ^ 



325 



"Bad 26 

fee There or fee Uamnedf 

"APAKAH Ananda sudah memiliki rencana A dan rencana B?" 

Itulah pertanyaan pertama Bu Mus kepada Mahar sekaligus 
awal pidato panjang untuk menasihati tindakannya yang sudah ke- 
terlaluan. la sudah berbelok ke jalan gelap dunia hitam, ia harus se- 
gera disadarkan. Pelajaran praktik olahraga yang sangat kami sukai 
dibatalkan. Semuanya harus masuk kelas dalam rangka menghakimi 
Mahar dan mengembalikannya ke jalan yang lurus. Layar pun turun, 
rol-rol film drama diputar. 

Mahar menunduk. Ia pemuda yang tampan, pintar, berseni, tapi 
keras pendiriannya. 

"Ibunda, masa depan milik Tuhan ...." 

Aku melihat cobaan yang dihadapi seorang guru. Wajah Bu 
Mus redup. Seorang sahabat pernah mengatakan bahwa guru yang 
pertama kali membuka mata kita akan huruf dan angka-angka se- 



Andrea Hirata 

hingga kita pandai membaca dan menghitung tak 'kan putus-putus 
pahalanya hingga akhir hayatnya. Aku setuju dengan pendapat itu. 
Dan tak hanya itu yang dilakukan seorang guru. la juga membuka 
hati kita yang gelap gulita. 

"Artinya Ananda tidak punya sebuah rencana yang positif, tak 
pernah lagi mau membaca buku dan mengerjakan PR karena meng- 
habiskan waktu untuk kegiatan perdukunan yang membelakangi 
ayat-ayat Allah." 

Bu Mus mulai terdengar seperti warta berita RRI pukul 7. 
Lintasan berita: "Nilai-nilai ulanganmu merosot tajam. Kita akan 
segera menghadapi ulangan caturwulan ke tiga, setelah itu catur- 
wulan terakhir menghadapi Ebtanas. Nilaimu bahkan tak memenuhi 
syarat untuk melalui caturwulan tiga ini. Jika nanti ujian antaramu 
masih seperti ini, Ibunda tidak akan mengizinkanmu ikut kelas 
caturwulan terakhir. Itu artinya kamu tidak boleh ikut Ebtanas." 

Ini mulai serius, Mahar tertunduk makin dalam. Kami diam 
mendengarkan dan khotbah berlanjut. Berita utama: "Hiduplah 
hanya dari ajaran Al-Qur'an, hadist, dan sunatullah, itulah pokok- 
pokok tuntunan Muhammadiyah. Insya Allah nanti setelah besar 
engkau akan dilimpahi rezeki yang halal dan pendamping hidup 
yang sakinah." 

Disambung berita penting: "Klenik, ilmu gaib, takhayul, 
paranormal, semuanya sangat dekat dengan pemberhalaan. Syirik 
adalah larangan tertinggi dalam Islam. Ke mana semua kebajikan 
dari pelajaran aqidah setiap Selasa? Ke mana semua hikmah dari 
pengalaman jahiliah masa lampau dalam pelajaran tarikh Islam? Ke 
mana etika kemuhammadiyahan?" 



328 



Be There Or Be Damned 

Suasana kelas menjadi tegang. Kami harap Mahar segera minta 
maaf dan menyatakan pertobatan tapi sungguh sial, ia malah men- 
jawab dengan nada bantahan. 

"Aku mencari hikmah dari dunia gelap Ibunda dan penasaran 
karena keingintahuan. Tuhan akan memberiku pendamping dengan 
cara yang misterius ..." 

Kurang ajar betul, Bu Mus bersusah payah menahan emosinya. 
Aku tahu beliau sebenarnya ingin langsung melabrak Mahar. Air 
mukanya yang sabar menjadi merah. Beliau segera keluar ruangan 
menenangkan dirinya. 

Kami serentak menatap Mahar dengan tajam. Alis Sahara 
bertemu, tatapan matanya kejam sekali. 

"Minta maaf sana! Tak tahu diuntung!" hardik Sahara. 

Kucai selaku ketua kelas ambil bagian, suaranya menggelegar, 
"Melawan guru sama hukumnya dengan melawan orangtua, durha- 
ka! Siksa dunia yang segera kauterima adalah burut! Pangkal paha- 
mu akan membesar seperti timun suri hingga langkahmu ngang- 
kang!" Keras sekali Kucai menghardik Mahar tapi yang dipelototinya 
Harun. 

Wajah Mahar aneh. Ia seperti sangat menyesal dan merasa ber- 
salah tapi di sisi lain tampak yakin bahwa ia sedang mempertahan- 
kan sebuah argumen yang benar, menurut versinya sendiri tentu sa- 
ja. Persis ketika kami ingin memprotes Mahar secara besar-besaran 
tiba-tiba Bu Mus masuk lagi ke dalam ruangan dan menyemprotkan 
pokok berita, "Camkan ini anak muda, tidak ada hikmah apa pun 
dari kemusyrikan, yang akan kau dapat dari praktik-praktik klenik 
itu adalah kesesatan yang semakin lama semakin dalam karena sifat 



329 



Andrea Hirata 

syirik yang berlapis-lapis. Iblis mengipas-ngipasimu setiap kali kau 
kipasi bara api kemenyan-kemenyan itu." 

Mahar mengerut. la tampak sangat bersalah telah membuat 
ibunda gurunya muntab. Bu Mus ternyata bisa juga emosi dan tak 
berhenti sampai di situ, "Sekarang kau harus mengambil sikap kare- 
na ...." 

Belum selesai ultimatum itu tiba-tiba terdengar assalamu 
'alaikum. Bu Mus menjawab dan mempersilakan masuk kepala seko- 
lah kami, seorang bapak berwajah penting, dan seorang anak perem- 
puan tapi seperti laki-laki. Anak perempuan ini berpostur tinggi, 
dadanya rata, pantatnya juga rata. la seperti sekeping papan. Sepatu- 
nya bot Wrangler navigator yang mahal dan itu adalah sepatu laki- 
laki. Kaus kakinya lucu, berwarna-warni meriah berlapis-lapis seper- 
ti sarang lebah dan menutupi tempurung lutut. la jelas bukan orang 
Muhammadiyah karena semua wanita Muhammadiyah berjilbab. la 
memakai rok besar dari bahan wol bermotif kotak-kotak besar me- 
rah seperti kilt orang-orang Skotlandia. Kilt itu menutupi ujung atas 
kaus kakinya tadi sehingga tak ada sedikit pun celah kulit kakinya 
yang terbuka. Rambutnya pendek, kulitnya putih bersih sangat ha- 
lus, dan wajahnya cantik. Secara umum ia tampak seperti seorang 
pemuda Skotlandia yang imut. 

Bapak berwajah orang penting tadi berusaha tersenyum ramah. 

"Ini anak saya, Flo," katanya pelan-pelan. 

"Dia sudah tidak ingin lagi sekolah di sekolah PN dan sudah 
membolos dua minggu, Dia bersikeras hanya ingin sekolah di sini." 

Orang penting ini menggaruk-garuk kepalanya. Setiap kata- 
katanya adalah batu berat puluhan kilo yang ia seret satu per satu. 



330 



Be There Or Be Damned 

Nada bicaranya jelas sekali seperti orang yang sudah kehabisan akal 
mengatasi anaknya itu. Kami semua termasuk kepala sekolah tersipu 
menahan tawa. Bu Mus yang baru saja marah juga tersenyum. Se- 
buah senyum terpaksa karena kami semua sudah tahu reputasi Flo. 
Beliau sudah pusing tujuh keliling menghadapi Mahar dan sekarang 
harus ditambah lagi satu anak setengah laki-laki setengah perem- 
puan yang sudah pasti tak bisa diatur! Hari ini adalah hari yang sial 
dalam hidup Bu Mus. 

Flo sendiri acuh tak acuh, ia tak tersenyum dan hanya menatap 
bapaknya. Anak cantik ini berkarakter tegas, pasti, tahu persis apa 
yang ia inginkan, dan tak pernah ragu-ragu, sebuah gambaran sikap 
yang mengesankan. Bapaknya juga menatap anaknya, suatu tatapan 
penuh kekalahan yang pedih. Lalu bapaknya melihat sekeliling 
ruangan kelas kami yang seperti ruang interogasi tentara Jepang, 
tatapannya semakin pedih. Dengan pasrah ia menyampaikan ini. 

"Maka saya serahkan anak saya pada Ibu, jika ia menyulitkan, 
Bapak Kepala Sekolah sudah tahu di mana harus menemui saya. 
Menyesal harus saya sampaikan bahwa ia pasti akan menyulitkan." 

Kami tertawa dan bapaknya tersenyum pahit. Flo masih cuek 
seolah semua kata-kata itu tak ada maknanya, laksana angin lewat 
saja. Kepala Sekolah dan orang penting itu mohon diri. Kepala Seko- 
lah kami tersenyum simpul sambil memandang Bu Mus penuh arti. 

Bu Mus memandangi Flo dari samping Mahar yang baru saja 
dimarahinya habis-habisan dan Flo yang berandal berdiri tegak di 
depan kelas seperti orang mengambil pose untuk peragaan kaus kaki 
Italia model terbaru. Meskipun seperti laki-laki tapi ia sesungguhnya 
gadis remaja yang menawan, dan kulitnya indah luar biasa. Di kelas 



331 



Andrea Hirata 

ini ia laksana Winona Ryder yang diutus UNICEF untuk membesar- 
kan hati para penderita lepra di sebuah kampung kumuh di Sudan. 

Flo menyilangkan kakinya, bahunya yang kurus bidang mekar 
seperti memiliki bantalan di pundak-pundaknya. Ia sangat meme- 
sona. Semua mata menghunjam ke arahnya. Sebuah pemandangan 
yang tak biasa. Jika diamati dengan saksama, di balik kedua bola ma- 
tanya yang gelap coklat seperti buah hamlam tersembunyi kebaikan 
yang sangat besar. 

Semuanya diam, Flo juga diam. Kami berharap Flo akan me- 
mecah kekakuan dengan memperkenalkan dirinya. Tapi ia tak mela- 
kukan itu dan Bu Mus juga tak memintanya mengenalkan diri kare- 
na dua alasan: Flo jelas tak senang dengan formalitas, kedua: siapa 
yang tak kenal Flo? Namanya melambung gara-gara hilang di Gu- 
nung Selumar tempo hari dan reputasinya semakin top karena baru- 
baru ini menjuarai pertarungan kick boxing. Ia meng-KO hampir 
seluruh lawannya padahal ia satu-satunya petarung wanita. Maka Bu 
Mus mengambil inisiatif sambil tersenyum bersahabat. 

"Baiklah, selamat datang di kelas kami, setelah ini pelajaran ke- 
muhammadiyahan, silakan Ananda duduk di sana dengan Sahara" 

Sahara senang bukan main karena selama sembilan tahun hanya 
ia satu-satunya wanita di kelas kami. Selama ini ia duduk sendirian 
dan sekarang ia akan punya teman sesama jenis. Ia mengusap-usap 
kursi kosong di sampingnya dan menampilkan bahasa tubuh sela- 
mat datang. Tapi di luar dugaan ternyata Flo tak beranjak. Wajahnya 
tak menunjukkan minat sama sekali. Dia membatu dan memandang 
jauh ke luar jendela. Kami bingung, lalu Flo kembali memandang 
kami dan kami terkejut ketika dengan pasti ia menunjuk Trapani 
sambil bersabda: 



332 



Be There Or Be Damned 



"Aku hanya ingin duduk di samping Mahar!" 

Luar biasa! Kalimat pertama yang meluncur dari mulut kecil 
makmurnya itu setelah baru saja beberapa menit menginjakkan kaki 
di sekolah Muhammadiyah adalah sebuah pembangkangan! Pem- 
bangkangan bukanlah hal yang biasa di perguruan kami. Kami tak 
pernah sekali pun dengan sengaja menyatakan pembangkangan, ka- 
mi bahkan memanggil guru kami ibunda guru. 

Kami terperanjat, demikian pula Bu Mus. Air muka sabarnya 
menjadi keruh. Baru saja beliau memikirkan kemungkinan kerusak- 
an etika Muhammadiyah yang akan dibuat Mahar dan murid baru 
separuh pria ini, tiba-tiba sekarang dua ekor angin tornado ini ingin 
bersekutu. Berat sekali cobaan hidup Bu Mus. Wajah Bu Mus sem- 
bap. Flo menunjukkan wajah tak mau berkompromi dan Bu Mus 
sudah tahu bahwa percuma melawan dia. Lagi pula bagi Flo dirinya 
bukanlah wanita, maka ia tak mau duduk dengau Sahara. Di sisi lain 
ia menganggap Trapani harus mengalah karena ia adalah seorang 
wanita. Transeksual memang sering membingungkan. 

Trapani kebingungan karena dia sudah sembilan tahun terbiasa 
duduk sebangku dengan Mahar dan Bu Mus harus mengambil kepu- 
tusan yang sulit. Beliau memberi isyarat pada Trapani agar lungsur. 
Flo menghambur ke kursi bekas Trapani di samping Mahar. Mahar 
serta-merta mengeluarkan tiga macam sikap khasnya yang menye- 
balkan: menaikkan alis, mengangkat bahu, dan mengangguk-ang- 
guk. Kami muak melihatnya tapi ia tampak senang bukan main. Se- 
perti dugaannya, Tuhan telah memberinya pendamping secara mis- 
terius. Sebuah doa yang langsung dikabulkan di tempat. Bajingan 
kecil itu memang selalu beruntung. Sebaliknya, Trapani kehilangan 
teman sebangku dan ia sekarang harus duduk dengan Sahara yang 



333 



Andrea Hirata 



temperamental. Sahara sendiri sangat tidak suka menerima Trapani. 
la mengaum, alisnya bertemu. 

Flo tampak kaku duduk di kelas kami dan seluruh ruangan itu 
sama sekali tidak merepresentasikan setiap jenis sandang yang dike- 
nakannya. Kelas rombeng ini juga tak cocok dengan kulit putih dan 
raut mukanya yang penuh sinar kekayaan. Apa yang dicari anak 
kaya ini di sekolah miskin yang tak punya apa-apa? Mengapa ia 
ingin menukar gemerlap sekolah PN dengan sekolah gudang kopra? 
Buah khuldi di pekarangan siapa yang telah dimakannya sehingga 
dia terusir dari taman eden Gedong? 

Tidak, ia tidak dicampakkan oleh sekolah PN tapi ia sengaja 
ingin pindah ke sekolah Muhammadiyah atas kemauan sendiri, 
tanpa tekanan dari pihak mana pun dan dalam keadaan sehat wal 
afiat jasmani dan rohani, hanya pikirannya saja yang sedikit kacau. 



PADA hari-hari pertama kami terkagum-kagum dengan 
berbagai perlengkapan sekolahnya yang menurut ia biasa saja. Ia 
memiliki enam macam tas yang dipakai berbeda-beda setiap hari. 
Tas hari Jumat paling menarik karena berumbai-rumbai seperti tas 
Indian. Ia juga memiliki banyak kotak. Kotak khusus untuk beragam 
penggaris: ada penggaris busur, penggaris segitiga, penggaris siku, 
dan beragam ukuran penggaris segi empat. Kotak lainnya berisi 
jangka-jangka kecil, berbagai jenis pensil, pulpen, dan penghapus 
seperti kue lapis yang dapat menimbulkan rasa lapar. Lalu ada 
serutan yang lucu serta sapu tangan handuk kecil di dalam tas 
rajutan ibunya. 



334 



Be There Or Be Damned 

Di dalam tas rajutan kecil itu ada berjejal-jejal uang kertas yang 
dimasukkan dengan sembrono oleh Flo. Jika ia membuka tas itu 
sering kali uang tadi berjatuhan ke lantai. Jumlah uang itu semakin 
hari semakin banyak dan membuat tasnya menjadi gendut. Flo tidak 
bisa membelanjakan uang itu di sekolah Muhammadiyah karena tak 
ada yang bisa dibeli. Uang itu memiliki nama yang sangat asing bagi 
kami: uang saku. Sesuatu yang seumur-umur tak pernah kami 
dapatkan dari orangtua kami. 

Sebagian besar benda-benda itu belum pernah kami lihat. Ia 
amat berbeda dengan kami dalam semua hal. Ia seumpama bangau 
Hokaido yang anggun tersasar ke kandang itik. Setiap pagi ia diantar 
sopirnya— dengan sebuah mobil mewah tentu saja— setelah ia 
sarapan dari semacam benda yang dapat membuat roti meloncat. 

Sejak kami menjadi pahlawan kesiangan yang menemukan Flo 
ketika ia hilang di Gunung Selumar tempo hari ia memang telah 
mengenal kami, terutama Mahar dan reputasinya. Flo hengkang dari 
sekolah PN karena didorong oleh kepribadiannya yang pembosan, 
cenderung antikemapanan, tergila-gila dengan pemberontakan, dan 
keinginannya menjadi anggota Laskar Pelangi yang unik. Tapi ada 
alasan lain yang tak banyak orang tahu, dan ini agak berbahaya, 
yaitu ia tergila-gila pada Mahar. Ia mengagumi Mahar bukan sebagai 
pribadi tapi sebagai seorang profesional muda perdukunan. 

Karena orangnya memang ekstrovert dan berpikiran terbuka 
maka kami segera akrab dengan Flo. Pada sebuah sore yang dingin 
setelah hujan lebat Flo kami inisiasi di dahan tertinggi filicium dan 
sejak sore itu ia resmi kami bai'at sebagai anggota Laskar Pelangi. 
Saat pelangi melingkar dan guruh bersahut-sahutan membahana di 
atas langit Belitong Timur, ia mengucapkan janji setia persaudaraan. 



335 



Andrea Hirata 

Ternyata Flo adalah pribadi yang sangat menyenangkan. la 
memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa. la cantik dan 
sangat rendah hati, sehingga kami betah di dekatnya. la tak pernah 
segan menolong dan selalu rela berkorban. Terbukti bahwa di balik 
sifatnya keras kepala tersimpan kebaikan hati yang besar. 

Aneh, di sekolah Muhammadiyah yang tak punya fasilitas apa 
pun Flo sangat bersemangat. Ada sesuatu yang menggerakkannya. la 
tak pernah sehari pun bolos dan bersikap sangat santun kepada para 
pengajar. Konon bapaknya sampai mengucapkan terima kasih 
kepada kepala sekolah kami dan Bu Mus. la datang lebih pagi dari 
siapa pun, menyapu seluruh sekolah, menimba berember-ember air 
dan menyiram bunga tanpa diminta. Sekolah ini adalah jembatan 
jiwa baginya. 

Flo sangat dekat dengan Mahar. Mereka saling tergantung dan 
saling melindungi. Hubungan mereka sangat unik. Dengan bersama 
Mahar dan berada di sekolah Muhammadiyah Flo seperti berada di 
dunia yang memang diidamkannyaselama ini. la seperti orang yang 
telah menemukan identitas setelah bersusah payah mencarinya 
melalui pemberontakan-pemberontakan sinting. Demikian pula 
Mahar, ia merasa menemukan satu-satunya orang yang 
memahaminya, tak pernah melecehkannya, dan menghargai setiap 
kelakuan anehnya. Maka mereka seperti Starsky and Hutch atau 
Harley Davidson and The Marlboro Man, gandeng renteng ke sana 
kemari persis Trapani dan ibunya. 

Mahar benar-benar telah mendapatkan pendamping. Mereka 
sering tampak berduaan, berbicara, bertukar pikiran sampai berjam- 
jam. Orang yang melihatnya akan menyangka mereka berpacaran. 
Seorang pemuda tampan dan seorang anak gadis cantik yang 
tomboi, siang malam tak terpisahkan. Saling tergila-gila, serasi 



336 



Be There Or Be Damned 

sekali. Tapi kenyataannya mereka sama sekali tidak punya hubungan 
emosional semacam itu. Mereka memang tergila-gila tapi kekasih 
hati mereka adalah dunia gelap mistik dan klenik. 

Dunia gelap itulah yang memicu adrenalin Flo dan itu jugalah 
salah satu tujuannya mendekati Mahar. Berbeda dengan A Kiong 
yang juga mengabdi kepada Mahar tapi memosisikan diri sebagai 
murid, Flo sebaliknya memosisikan diri sebagai rekan. Persekutuan 
mereka membawa kemajuan yang pesat dalam elaborasi dunia meta- 
fisik karena ditunjang oleh sumber daya yang dimiliki Flo. Mereka 
mempelajari dengan saksama fenomena-fenomena aneh melalui 
majalah-majalah luar negeri dan buku-buku ilmiah karangan 
psychist ternama. Kalau dulu Mahar berurusan dengan primbon atau 
prasasti dan istilah-istiiah kuntilanak, jenglot, Dalbho anak genderu- 
wo, dan pocong, sekarang referensinya meningkat menjadi paranor- 
mal-phernalia, UFO codes, science fictions news, dan The Anomalist, 
dan bicaranya juga menjadi lebih maju dan keren, kalau dulu keme- 
nyan, tuyul, kerasukan setan, dan santet, sekarang menjadi istilah- 
istiiah paranormal asing seperti exorcism, clairevoyance, sightings, 
fan poltergeist. 

Mahar tertarik pada mitologi, hubungan supranatural dengan 
antropologi, sejarah, cerita rakyat, arkeologi, kekuatan penyembuh- 
an, ilmu-ilmu purba, ritual, dan kepercayaan berhala. Maka sedikit 
banyak ia menganggap dirinya seorang ilmuwan supranatural. Seba- 
liknya, Flo adalah petualang sejati. Ia kurang tertarik dengan aspek 
ilmu dan keyakinan dalam kejadian-kejadian mistik tapi ia ingin 
mengalami manifestasi berbagai teori dan fenomena magis dalam 
praktik. Karena tujuan utama pendalaman mistik Flo adalah untuk 
menguji dirinya sendiri, sampai sejauh mana ia bisa menoleransi 



337 



Andrea Hirata 

rasa takutnya. la kecanduan getar-getar mara bahaya dunia lain. Flo 
sedikit lebih parah sintingnya dibanding Mahar. 

Maka untuk merealisasikan semua tujuan itu dan untuk menik- 
mati hobinya, mereka berdua menyusun sebuah rencana sistematis. 
Langkah awal mereka adalah membentuk sebuah organisasi rahasia 
para penggemar paranormal. Setelah kasak-kusuk sekian lama, tak 
dinyana ternyata mereka mampu menemukan anggota-anggota se- 
paham yang sangat antusias. Mereka membentuk sebuah perkum- 
pulan yang disebut Societeit de Limpai dan melakukan pertemuan 
rutin serta aktivitas perklenikan secara diam-diam. 

Semakin lama aktivitas itu semakin tinggi dan tak jarang meli- 
batkan perjalanan yang jauh. Tak terbayangkan ke mana keinginta- 
huan dapat membawa manusia: ke gunung tertinggi, ke gua yang 
gelap, melintasi padang, menuruni ngarai, menyeberangi lumpur, 
sungai, dan laut. Singkatnya, organisasi bawah tanah ini sangat sibuk 
dan menuntut pengadministrasian jadwal, dana, dan properti se- 
hingga mereka membutuhkan bantuan seorang sekretaris merang- 
kap bendahara! 

Ketika aku ditawari posisi itu, aku segera menyambarnya. Mes- 
kipun tidak ada honornya sepeser pun tapi aku merasa terhormat 
menjadi seorang sekretaris dari sebuah gerombolan orang-orang 
yang bersahabat dengan hantu. Aku juga bangga karena jabatan itu 
menunjukkan bahwa aku punya cukup integritas untuk memegang 
uang, artinya paling tidak aku bisa dipercaya walaupun hanya diper- 
caya oleh orang-orang yang sudah tidak lurus pikirannya. 

Tugasku sederhana dan cukup diatur melalui sebuah buku 
register. Tugas tersebut adalah mencatat iuran anggota, menyimpan 
uangnya, dan mencatat barang-barang pribadi milik anggota yang 



338 



Be There Or Be Damned 

akan dijual atau digadaikan guna membeli peralatan dan membiayai 
ekspedisi. Tugas lainnya adalah mengatur pertemuan rahasia. 
Biasanya undangan dibuat oleh bosku, Mahar atau Flo, dan aku 
harus mengedarkannya pada seluruh anggota. Seperti sore ini 
misainya, Flo menyerahkan undangan padaku, isinya: 

Rapat mendesak, Los V/B pasar ikan, Pk. 7 tepat. 
Be there or be damned! 



*zJ2^$^3^7 



339 






DALAM sebuah bangunan berarsitektur art deco, di ruangan oval 
yang ingar-bingar, kami terpojok: aku, Sahara, dan Lintang. 

Kembali kami berada dalam sebuah situasi yang mempertaruh- 
kan reputasi. Lomba kecerdasan. Dan kami berkecil hati melihat 
murid-murid negeri dan sekolah PN membawa buku-buku teks 
yang belum pernah kami lihat. Tebal berkilat-kilat dengan sampul 
berwarna-warni, pasti buku-buku mahal. Sebagian peserta berteriak- 
teriak keras menghafalkan nama-nama kantor berita. 

Risikonya tentu jauh lebih besar dari karnaval dulu. Lomba 
kecerdasan adalah arena terbuka untuk mempertontonkan kecerdas- 
an, atau jika sedang bernasib sial, mempertontonkan ketololan yang 
tak terkira. Dan semua nasib sial itu akan ditanggung langsung oleh 
aku, Sahara, dan Lintang. Kami adalah regu F pada lomba memencet 
tombol ini. Bagaimana kalau kami tak mampu menjawab dan hanya 
membawa pulang angka nol? 



Andrea Hirata 

Persoalan klasiknya adalah kepercayaan diri. Inilah problem 
utama jika berasal dari lingkungan marginal dan mencoba bersaing. 
Kami telah dipersiapkan dengan baik oleh Bu Mus. Beliau memang 
menaruh harapan besar pada lomba ini lebih dari beliau berharap 
waktu kami karnaval dulu. Bu Mus pontang-panting mengumpul- 
kan contoh-contoh soal dan bekerja sangat keras melatih kami dari 
pagi sampai sore. Bu Mus melihat lomba ini sebagai media yang 
sempurna untuk menaikkan martabat sekolab Muhammadiyah yang 
bertahun-tahun selalu diremehkan. Bu Mus sudah bosan dihina. 
Sayangnya sekeras apa pun beliau membuat kami pintar dan 
menguatkan mental kami, mendorong-dorong, membujuk, dan 
mengajari kami agar tegar, kami tetap gugup. Semua yang telah di- 
hafalkan berminggu-minggu lenyap seketika, jalan pikiran menjadi 
buntu. Aku berusaha menenangkan diri dengan membayangkan 
duduk bersemadi di atas padang rumput hijau di tempat yang paling 
tenang dalam imajinasiku: Edensor, tapi upaya ini juga gagal. 

"Persetan kepercayaan diri, pokoknya dengar pertanyaannya ba- 
ik-baik, pencet tombolnya cepat-cepat, dan jawab dengan benar," 
demikian kataku. Sahara mengangguk, Lintang tak peduli. 

Kami duduk menghadapi sebuah meja mahoni yang besar, pan- 
jang, indah, dan dingin. Seluruh teman sekelasku dan guru-guru ha- 
dir untuk menyemangati kami. Ruangan penuh sesak oleh para pen- 
dukung setiap sekolah. Aku, Lintang, dan Sahara mengerut di balik 
meja itu. Kami berpakaian amat sederhana dan sepatu cunghai Lin- 
tang masih menebarkan bau hangus. 

Pendukung yang paling dominan tentu saja pendukung sekolah 
PN. Jumlahnya ratusan dan menggunakan seragam khusus dengan 
tulisan mencolok di punggungnya: VINI, VIDI, VICI, artinya AKU 
DATANG, AKU LIHAT, AKU MENANG. Benar-benar menjatuh- 



342 



Detik-Detik Kebenar 



an 



kan mental lawan. Sekolah PN mengirim tiga regu, masing-masing 
regu A, B, dan C. Anggota regu itu adalah yang terbaik dari yang ter- 
baik. Mereka diseleksi secara khusus dengan amat ketat dan standar 
yang sangat tinggi. Beberapa peserta itu pernah menjuarai lomba 
cerdas cermat tingkat provinsi bahkan ada yang telah dikirim untuk 
tingkat nasional. Pakaian anggota regu juga sangat berbeda. Mereka 
mengenakan jas warna biru gelap yang indah, sepatu yang seragam 
dengan celana panjang berwarna serasi, dan mereka berdasi. 

Tahun ini mereka dipersiapkan lebih matang, sistematis, dan se- 
cara amat ilmiah oleh seorang guru muda yang terkenal karena 
kepandaiannya. Guru ini membuat simulasi situasi lomba sesung- 
guhnya dengan bel, dewan juri, stop watch, dan antisipasi variasi- 
variasi soal. Guru yang cemerlang ini baru saja mengajar di PN, dulu 
ia bekerja di sebuah perusahaan asing di unit riset dan pengembang- 
an kemudian ditawari mengajar di PN dengan gaji berlipat-lipat dan 
janji beasiswa S2 dan S3. Ia lulus cum laude dari Fakultas MIPA se- 
buah universitas negeri ternama. Tahun ini ia terpilih sebagai guru 
teladan provinsi. Ia mengajar fisika, Drs. Zulfikar, itulah namanya. 

Pendukung kami dipimpin oleh Mahar dan Flo. Meskipun ha- 
nya berjumlah sedikit tapi semangat mereka menggebu. Mereka 
membawa dua buah bendera besar Muhammadiyah yang telah lapuk 
dan berbagai macam tabuh-tabuhannya seperti para suporter sepak 
bola. Para pelajar PN yang menganggap Flo pengkhianat melirik 
kejam padanya, tapi seperti Lintang, Flo juga tak peduli. Walaupun 
besar sekali kemungkinan tim kami dipermalukan oleh kecerdasan 
tim PN dalam lomba ini, tapi Flo tak ragu sedikit pun membela 
habis-habisan sekolahnya, sekolah kampung Muhammadiyah. 

Di antara pendukung kami ada Trapani dan ibunya, kedua anak 
beranak ini saling bergandengan tangan. Aku melihat pelajar-pelajar 



343 



Andrea Hirata 

wanita berbisik-bisik, tertawa cekikikan, dan terus-menerus melirik- 
nya karena semakin remaja Trapani semakin tampan. la ramping, 
berkulit putih bersih, tinggi, berambut hitam lebat, di wajahnya mu- 
lai tumbuh kumis-kumis tipis, dan matanya seperti buah kenari mu- 
da: teduh, dingin, dan dalam. 

Sesungguhnya dalam seleksi tim yang akan mewakili sekolah 
kami Trapani telah terpilih. Skornya lebih tinggi dibanding skor Sa- 
hara namun nilai geografinya lebih rendah. Kekuatan tim kami 
adalah matematika, hitungan-hitungan IPA, biologi, dan bahasa 
Inggris yang semuanya tak diragukan ada di tangan Lintang. Aku 
agak baik pada bidang-bidang kewarganegaraan, tarikh Islam, fikih, 
budi pekerti, dan sedikit bahasa Indonesia. Yang paling lemah dalam 
tim kami adalah geografi dan ahli geografl kami adalah Sahara. 
Maka demi kekuatan tim Trapani dengan lapang dada memberi 
kesempatan pada Sahara untuk tampil. Trapani adalah pria muda 
yang amat tampan dan berjiwa besar. 

"Tabahkan hatimu, Ikal ...," itulah nasihat Trapani pelan pada- 
ku. 

Sementara di meja mahoni yang megah itu Lintang diam seribu 
bahasa, kelelahan, selayaknya orang yang memikul selurah beban 
pertaruhan nama baik. Aku tak henti-henti berkipas, bukan kepa- 
nasan, tapi hatiku mendidih karena gentar. Tak pernah sekali pun 
sekolah kampung menang dalam lomba ini, bahkan untuk diundang 
saja sudah merupakan kehormatan besar. 

Lintang sudah membatu sejak subuh tadi. Di atas truk terbuka 
yang membawa kami ke ibu kota kabupaten ini, Tanjong Pandan, ia 
membisu seperti orang sakit gigi parah. Ia memandang jauh. Tak 
mampu kuartikan apa yang berkecamuk di dadanya. Ayah, Ibu, dan 



344 



Detik-Detik Kebenar 



an 



adik-adiknya juga ikut. Mereka, termasuk Lintang, baru pertama kali 
ini pergi ke Tanjong Pandan. 

Sahara duduk di tengah. Aku dan Lintang di samping kiri dan 
kanannya. Ekspresi Lintang datar, ia tersandar lesu tanpa minat. 
Agaknya ia demikian minder, berkecil hati, dan malu berada di 
lingkungan yang sama sekali asing baginya. Ia hanya menatap Ayah, 
Ibu, dan adik-adiknya yang berpakaian amat sederhana, duduk sa- 
ling merapatkan diri di pojok, tampak bingung dalam suasana yang 
hiruk pikuk. Aku mencoba berkonsentrasi tapi gagal. Lintang dan 
Sahara sudah tak bisa diharapkan. 

Kulihat tangan para peserta lain mulai meraba tombol di depan 
mereka, siap menyalak. Sahara kelihatan pucat, seperti orang bi- 
ngung. Ia yang telah ditugasi dan dilatih khusus memencet tombol 
sedikit pun tak mampu mendekatkan jarinya ke benda bulat itu. Ia 
sudah pasrah atas kemungkinan kalah mutlak. Sahara mengalami 
demam panggung tingkat gawat. Sementara otakku tak bisa lagi 
dipakai untuk berpikir. Keributan yang terjadi ketika peserta lain 
mencoba-coba tombol dan mikrofon terdengar bagaikan teror bagi 
kami. Kami tak sedikit pun mencoba benda-benda itu. Kami sudah 
kalah sebelum bertanding. Para pendukung Muhammadiyah mem- 
baca kegentaran kami. Mereka tampak prihatin. 

Suasana semakin tegang ketika ketua dewan juri bangkit dari 
tempat duduknya, memperkenalkan diri, dan menyatakan lomba di- 
mulai. Jantungku berdegup kencang, Sahara pucat pasi, dan Lintang 
tetap diam misterius, ia bahkan memalingkan wajah keluar melalui 
jendela. 

Dan inilah detik-detik kebenaran itu. Pertanyaan ditujukan ke- 
pada semua peserta yang harus berlomba cepat memencet tombol 



345 



Andrea Hirata 

agar dapat menjawab dan jika keliru akan kena denda. Aku tak 
berani melihat para penonton. Dan Bu Mus tak berani melihat wajah 
kami. Wajahnya dipalingkan ke lampu besar di tengah ruangan yang 
berjuntai-juntai laksana raja gurita. Baginya ini adalah peristiwa 
terpenting selama lima belas tahun karier mengajarnya. Beliau 
benar-benar menginginkan kami menang dalam lomba ini, karena 
beliau tahu lomba ini sangat penting artinya bagi sekolah kampung 
seperti Muhammadiyah. Wajahnya kusut menanggung beban, 
mungkin beliau juga telah bosan bertahun-tahun selalu diremehkan. 

Tak lama kemudian seorang wanita anggun yang bergaun jas 
cantik berwarna merah muda berdiri. Beliau meminta penonton 
agar tenang karena beliau akan mengajukan pertanyaan. Suaranya 
indah, bertimbre berat, dan tegas seperti penyiar RRI. 

Wanita itu mendekatkan wajahnya pada mikrofon dan mene- 
gakkan lembaran kertas di depannya seperti orang akan membaca 
Pancasila. Detik-detik kebenaran yang hakiki dan mencemaskan ter- 
gelar di depan kami. Seluruh peserta memasang telinga baik-baik, 
siap menyambar tombol, dan siaga mendengar berondongan perta- 
nyaan. Suasana mencekam .... 

Pertanyaan pertama bergema. 

"la seorang wanita Prancis, antara mitos dan realita ..." 

Kring! Kriiiiiiiingggg! Kriiiiiiiiiiiiinnnggggg! 

Wanita anggun itu tersentak kaget karena pertanyaannya secara 
mendadak dipotong oleh suara sebuah tombol meraung-raung tak 
sabar. Aku dan Sahara juga terperanjat tak alang kepalang karena 
baru saja sepotong lengan kasar dengan kecepatan kilat menyambar 
tombol di depan kami, tangan Lintang! 



346 



Detik-Detik Kebenar 



an 



"Regu F!" kata seorang pria anggota dewan juri lainnya. Wajah- 
nya seperti almarhum Benyamin S. la memakai jas dan dasi kupu- 
kupu. 

"Joan D'Arch, Loire Valley, France!" jawab Lintang membahana, 
tanpa berkedip, tanpa keraguan sedikit pun, dengan logat Prancis 
yang sengau-sengau aduhai. 

"Seratusss!" Benyamin S. tadi membalas disambut tepuk tangan 
gemuruh para penonton. Kulihat bendera Muhammadiyah berki- 
bar-kibar. 

"Pertanyaan kedua: Terjemahkan dalam kalimat integral dan 
hitung luas wilayah yang dibatasai oleh y = 2x dan x = 5." 

Lintang kembali menyambar tombol secepat kilat dan jawaban- 
nya serta-merta memecah ruangan. 

"Integral batas 5 dan 0, 2x minus x kali dx, hasilnya: dua belas 
koma lima!" 

Luar biasa! tanpa ada kesangsian, tanpa membuat catatan apa 
pun, kurang dari 5 detik, tanpa membuat kesalahan sedikit pun, dan 
nyaris tanpa berkedip. 

"Seratussssss!" lengking Benyamin S. 

Mendengar lengkingan Benyamin S. pendukung kami melon- 
jak-lonjak seperti orang kesurupan. Suara mereka riuh rendah lak- 
sana kawanan kumbang kawin. Flo melompat-lompat sambil me- 
ngeluarkan jurus-jurus kick boxing. 

"Pertanyaan ketiga: Hitunglah luas dalam jarak integral 3 dan 
untuk sebuah fungsi 6 plus 5x minus x pangkat 2 minus 4x." 



347 



Andrea Hirata 

Lintang memejamkan matanya sebentar, ia tak membuat catat- 
an apa pun, semua orang memandangnya dengan tegang, lalu ku- 
rang dari 7 detik kembali ia melolong. 

"Tigabelas setengah!" 

Tak sebiji pun meleset, tak ada ketergesa-gesaan, tak ada ke- 
raguan sedikit pun. 

"Seratusssss!" balas Benyamin S. sambil menggeleng-gelengkan 
kepalanya karena takjub melihat kecepatan daya pikir Lintang. Pen- 
dukung kami bersorak sorai histeris gegap gempita. Mereka men- 
desak maju karena perlombaan semakin seru. Ayah, Ibu, dan adik- 
adik Lintang berasaha berdiri dan bergabung dengan pendukung 
kami yang lain. Mereka tersenyum lebar dan kulihat ayah Lintang, 
pria cemara angin itu, wajahnya berseri-seri penuh kebanggaan pada 
anaknya, matanya yang kuning keruh. berkaca-kaca. 

Sementara para peserta lain terpana dan berkecil hati. Lintang 
menjawab kontan, bahkan ketika mereka belum selesai menulis soal 
itu dalam kertas catatan yang disediakan panitia. Beberapa di antara- 
nya membanting pensil tanpa ampun. Trapani yang kalem meng- 
angguk-angguk pelan. Pak Harfan bertepuk tangan girang sekali 
seperti anak kecil, wajahnya menoleh ke sana kemari. "Lihatlah 
murid-muridku, ini baru murid-muridku ...," itu mungkin makna 
ekspresi wajahnya. Bu Mus bergerak maju ke depan, wajah kusutnya 
telah sirna menjadi cerah. Sekarang beliau berani mengangkat wa- 
jahnya, matanya juga berkaca-kaca dari bibirnya bergumam, "Sub- 
hanallah, subhanallah ...." 

Ibu jas merah muda berupaya keras menenangkan penonton 
yang riuh dan berdecak-decak kagum, terutama menenangkan pen- 



348 



Detik-Detik Kebenar 



an 



dukung kami yang tak bisa menguasai diri. Beliau melanjutkan per- 
tanyaan. 

"Selain menggunakan teknik radiocarbon untuk menentukan 
usia sebuah temuan arkeologi, para ahli juga...." 

Kring! Kriiiiiiiingggg! 

Kembali Lintang mengamuk, dan ia menjawab lantang. 

"Thermoluminescent dating] Penentuan usia melalui pelepasan 
energi sinar dalam suhu panas!" 

"Seratussss!" 

Berikutnya hanyalah kejadian yang persis sama dengan perta- 
nyaan itu. Wanita cantik berjas merah muda itu tak pernah sempat 
menyelesaikan pertanyaannya. Lintang menyambar setiap soal tanpa 
memberikan kesempatan sekali pun pada peserta lain. 

Ratusan penonton terkagum-kagum. Warga Muhammadiyah di 
ruangan itu berjingkrak-jingkrak sambil saling memeluk pundak. 
Yang paling bahagia adalah Harun. Dia memang senang dengan ke- 
ramaian. Aku melihatnya bertepuk-tangan tak henti-henti, berte- 
riak-teriak memberi semangat, tapi wajahnya tak melihat ke arah ka- 
mi, ia menoleh keluar jendela. Kiranya ia sedang memberi semangat 
kepada sekelompok anak perempuan yang sedang bermain kasti di 
halaman. 

Di tengah hiruk pikuk para penonton aku sempat mendengar 
jawaban-jawaban tangkas Lintang: "Vincent Van Gogh, menyas- 
szonytanc, The Hunchback ofNotredame, paradoks air, Edgar Alan 
Poe, medula spinalis, Dian Fossey, artropoda, 300 ribu kilometer per 
detik. Basedow, dactylorhiza moculata, ancyostoma duodenale, Stone 
Henge, Platyhelminthes, endoskeleton, Serebrum, Langerhans, 



349 



Andrea Hirata 

fluoxetine hydmchloride, 8,5 menit cahaya, extremely low frequency, 
molekul chiral..." 

la tak terbendung, aku merinding melihat kecerdasan sahabatku 
ini. Peserta lain terpesona dibuatnya. Mereka seperti terbius sebuah 
kharisma kuat kecerdasan murni dari seorang anak Melayu peda- 
laman miskin, murid sekolah kampung Muhammadiyah yang 
berambut keriting merah tak terawat dan tinggal di rumah kayu do- 
yong beratap daun nun jauh terpencil di pesisir. 

Para peserta sekolah PN merasa geram karena tak kebagian satu 
pun jawaban. Maka mereka mencoba berspekulasi. Tujuannya bu- 
kan untuk menjawab tapi untuk menjegal Lintang. Mereka berusaha 
secara tidak rasional memencet tombol secepat mungkin. Sebuah 
tindakan tolol yang berakibat denda karena tak mampu menginter- 
pretasikan seluruh konteks pertanyaan. Sedangkan Lintang, seperti 
dulu pernah kuceritakan, anak ajaib kuli kopra ini, memiliki ke- 
mampuan yang mengagumkan untuk menebak isi kepala orang. 

Dominasi Lintang membuat beberapa penonton terusik egonya 
dan penasaran ingin menguji Einstein kecil ini maka insiden pun 
terjadi. Ketika itu juri menanyakan: 

"Terobosan pemahaman ilmiah terhadap konsep warna pada 
awal abad ke-16 memulai penelitian yang intens di bidang optik. 
Ketika itu banyak ilmuwan yang percaya bahwa campuran cahaya 
dan kegelapanlah yang menciptakan warna, sebuah pendapat yang 
rupanya keliru. Kekeliruan itu dibuktikan dengan memantulkan 
cahaya pada sekeping lensa cekung ...." 

Kriiiiiing! Kriiiiing! Kring! Lintang menyalak-nyalak. 

"Cincin Newton!" 



350 



Detik-Detik Kebenar 



an 



"Seratussss!" 

Sekali lagi suporter kami bergemuruh jumpalitan, tapi tiba-tiba 
seseorang di antara penonton menyela, "Saudara ketua! Saudara 
ketua! Saudara ketua dewan juri! Saya kira pertanyaan dan jawaban 
itu keliru besar!" 

Seluruh hadirin sontak diam dan melihat ke arah seorang 
pemuda yang kecewa ini. Oh, Drs. Zulfikar, guru fisika teladan dari 
sekolah PN itu. Gawat! Urusan ini bisa runyam. Sekarang pan- 
dangan seluruh hadirin menghunjam ke arah guru muda yang otak 
cemerlangnya sudah kondang ke mana-mana. Untuk diajar privat 
olehnya bahkan harus antre. la harapan yang akan melanjutkan 
tradisi lama sekolah PN sebagai pemenang pertama lomba kecer- 
dasan ini dan ia sudah mempersiapkan timnya demikian sempurna. 
la tak ingin dipermalukan dan ia tak pernah berurusan dengan 
sesuatu yang tidak terbaik. Sekarang apa yang akan ia perbuat? Aku 
dan Sahara waswas tapi Lintang tenang-tenang saja. Drs. itu angkat 
bicara dengan gaya akademisi tulen: 

"Percobaan dengan lensa cekung tidak ada kaitannya dengan 
bantahan terhadap teori awal yang meyakini bahwa warna 
dihasilkan oleh campuran cahaya dan kegelapan. Dan sebaliknya, 
pemahaman terhadap penciptaaan warna bukanlah persoalan optik, 
kecuali dewan juri ingin membantah Descartes atau Aristoteles. Soal 
optik dan spektrum warna adalah dua macam hal yang berbeda. 
Situasi ini ambigu, di sini kita menghadapi tiga kemungkinan, per- 
tanyaan yang salah, jawaban yang keliru, atau kedua-duanya tak 
berdasar dalam arti tidak kontekstual!" 

Aduh...! Komentar ini sudah di luar daya jangkau akalku, asing, 
tinggi, dan jauh. Ini sudah semacam debat mempertahankan tesis S2 



351 



Andrea Hirata 

di depan tiga orang profesor. Tapi tidakkah sedikit banyak kata-kata 
sang Drs. itu berbentuk U, kritis namun berputar-putar? Dan ia 
pintar sekali membimbangkan dewan juri dengan menyitir pendapat 
Rene Descartes, siapa yang berani membantah sinuhun ilmu zaman 
lawas itu? Mudah-mudahan Lintang punya argumentasi. Kalau tidak 
kami akan habis di sini. Aku membatin dengan cemas tapi tak tahu 
akan berbuat apa. Pak Harfan bertelekan pinggang lalu menunduk 
dan Bu Mus merapatkan kedua tangannya di atas dadanya seperti 
orang berdoa, wajahnya prihatin ingin membela kami tapi beliau tak 
berdaya karena serangan Drs. Zulfikar memang sudah terlalu 
canggih. Bu Mus tampak tak tega melihat kami. Aku memandang 
Sahara dan ia cepat-cepat memalingkan muka, ia menoleh keluar 
jendela seolah tak mengenal kami. Wajahnya menunjukkan ekspresi 
bahwa saat itu ia sedang tidak duduk di situ. 

Para penonton dan dewan juri terlihat bingung atas bantahan 
yang supercerdas itu. Jangankan menjawab bahkan sebagian tak me- 
ngerti apa yang dipersoalkan. Tapi seseorang memang harus menye- 
lamatkan situasi ini, maka ketua dewan juri bangkit dari tempat 
duduknya. Lintang masih tenang-tenang saja, ia tersenyum sedikit, 
santai sekali. 

"Terima kasih atas bantahan yang hebat ini, apa yang harus saya 
katakan, bidang saya adalah pendidikan moral Pancasila ...," kata 
ketua dewan juri. 

Si Drs. bersungut-sungut, ia merasa di atas angin. Ekor matanya 
seolah mengumumkan kalau ia sudah khatam membaca buku 
Principia karya Isaac Newton, bahwa ia juga pelanggan jurnal-jurnal 
fisika internasional, bahwa ia kutu laboratorium yang kenyang 
pengalaman eksperimen, bahkan seolah fisikawan Christiaan Huy- 
gens itu uwaknya. Pria ini adalah seorang fresh graduate yang som- 



352 



Detik-Detik Kebenar 



an 



bong, ia memperlihatkan karakter manusia sok pintar yang baru 
tahu dunia. Bicaranya di awang-awang dengan gaya seperti Pak Ha- 
bibie. Ia mengutip buku asing di sana sini tak keruan, menggunakan 
istilah-istilah aneh karena ingin mengesankan dirinya luar biasa. 
Tapi kali ini, aku jamin dia akan menelan APC, pil pahit segala pe- 
nyakit andalan orang kampung Belitong yang amat manjur. 

Karena merasa sudah menang dengan kritiknya guru muda itu 
meningkatkan sifat buruk dari sombong menjadi tak tahan pada 
godaan untuk meremehkan. 

"Atau barangkali anak-anak SMP Muhammadiyah ini atau de- 
wan juri bisa menguraikan pendekatan optik Descartes untuk men- 
jelaskan fenomena warna?" 

Keterlaluan! Seluruh hadirin tentu mengerti bahwa kalimat ber- 
nada menguji itu sesungguhnya tak perlu. Pak Zulfikar hanya ingin 
menghina sekaligus melumpuhkan mental kami dan dewan juri ka- 
rena ia yakin bahwa kami tak mengerti apa pun mengenai Descartes. 
Dengan demikian ia dapat menganulir pertanyaan awal tadi sekali- 
gus menjatuhkan martabat majelis ini. Yang menyakitkan adalah ia 
dengan jelas menekankan kata SMP Muhammadiyah untuk mengi- 
ngatkan semua orang bahwa kami hanyalah sebuah sekolah kam- 
pung yang tak penting. 

Aku memang tak mengerti pendekatan optik tapi aku tahu sedi- 
kit sejarah penemuan fenomena warna. Aku tahu bahwa Descartes 
bekerja dengan prisma dan lembaran-lembaran kertas untuk meng- 
uji warna, bukan murni dengan manipulasi optik. Newton-lah se- 
sungguhnya sang guru besar optik. Pak Zulfikar jelas sok tahu dan 
dengan mulut besarnya ia mencoba menggertak semua orang me- 
lalui kesan seolah ia sangat memahami teori warna. Aku geram dan 



353 



Andrea Hirata 

ingin meinbantah Drs. congkak ini tapi pengetahuanku terbatas. 
Tabiat Pak Zulfikar adalah persoalan klasik di negeri ini, orang- 
orang pintar sering bicara meracau dengan istilah yang tak mem- 
bumi dan teori-teori tingkat tinggi bukan untuk menemukan sebuah 
karya ilmiah tapi untuk membodohi orang-orang miskin. Sementara 
orang miskin diam terpuruk, tak menemukan kata-kata untuk mem- 
bantah. 

Aku menatap Lintang, memohon bantuannya jika nanti aku 
angkat bicara melawan kezaliman Drs. itu. Aku sangat perlu du- 
kungannya. Tapi bagaimana nanti kalau ternyata aku yang keliru? 
Bagaimana kalau aku diserang balik bertubi-tubi? Ah, risikonya ter- 
lalu tinggi, bisa-bisa aku dipermalukan. Ini juga persoalan klasik 
bagi orang yang memiliki pengetahuan setengah-setengah sepertiku. 
Maka dadaku berkecamuk antara ingin melawan dan ragu-ragu. Ta- 
pi aku sangat marah karena sekolahku dihina dan aku jengkel karena 
aku tahu bahwa Drs. itu membawa-bawa nama Descartes secara 
keliru dan tidak adil guna keuntungannya sendiri. 

Melihatku demikian gusar Lintang tersenyum kecil padaku. Se- 
buah senyum damai. Aku tahu, seperti biasa, ia dapat membaca pi- 
kiranku dengan benderang. Ia membalas tatapanku dengan lembut 
seakan mengatakan, "Sabar Dik, biar Abang bereskan persoalan ini 
...." Wajahnya tenang sekali. Aku dan Sahara ciut. Kami mengerut di 
ketiak kiri kanan pendekar ilmu pengetahuan yang sakti mandragu- 
na andalan kami ini. 

Mendengar tantangan Pak Zulfikar yang tak bersahabat tadi 
bapak ketua dewan juri yang baik menarik napas panjang. Beliau 
menoleh ke arah para koleganya, anggota dewan juri. Semuanya 
menggeleng-gelengkan kepala. Lalu beliau mencoba menengahi de- 
ngan diplomatis dan sangat merendah. 



354 



Detik-Detik Kebenar 



an 



"Maafkan Bapak Guru Muda, atas nama dewan juri saya terpak- 
sa mengatakan bahwa pengetahuan kami agaknya belum sampai ke 
sana." 

Kata-katanya demikian bersahaja. Kasihan bapak tua itu. la se- 
orang guru senior yang rendah hati dan sangat disegani karena dedi- 
kasinya selama puluhan tahun di dunia pendidikan Belitong. Beliau 
tampak malu dan putus asa. Lalu beliau mengalihkan pandangan ke 
arah regu F, regu kami, Lintang tersenyum dan mengangguk kecil 
padanya. Tanpa diduga ketua dewan juri mengatakan, "Tapi mung- 
kin anak Muhammadiyah yang cemerlang ini bisa membantu." 

Suasana sunyi senyap dalam nuansa yang sangat tidak meng- 
enakkan, dan semakin tidak enak karena sang Drs. kembali meng- 
udara dengan komentar sengak tanpa perasaan. 

"Saya harap argumentasi mereka bisa setepat jawabannya tadi!" 

Semakin keterlaluan! la sengaja memprovokasi Lintang dan kali 
ini Lintang terpancing, ia angkat bicara. 

"Jika bantahan Bapak mengenai pertanyaan yang tidak konteks- 
tual dengan jawaban, mungkin saja bantahan semacam itu bisa di- 
terima. Dewan juri menanyakan sesuatu yang jawabannya sudah 
tertera di kertas yang dibacakan ibu pembaca soal. Saya yakin di sana 
tertulis cincin Newton dan kami menjawab cincin Newton, berarti 
kami berhak atas angka seratus. Maka kalaupun itu memang tidak 
kontekstual, itu hanya berarti dewan juri menanyakan sesuatu yang 
benar dengan cara yang keliru ...." 

Pak Zulfikar tak terima. 

"Dengan kata lain pertanyaan nomor itu gugur karena bisa saja 
peserta lain menduga arah jawaban yang keliru!" 



355 



Andrea Hirata 



Lintang tak sabar. 

"Tidak ada yang keliru! Kecuali Bapak tidak memedulikan sub- 
stansi dan ingin menggugurkan nilai kami karena persoalan remeh- 
temeh." 

Pak Zulfikar tersinggung, ia menjadi marah, dan suasana ber- 
ubah tegang. 

"Kalau begitu jelaskan pada saya substansinya! Karena bisa saja 
kalian mendapat nilai melalui kemampuan menebak-nebak jawaban 
secara untung-untungan tanpa memahami persoalan sesungguh- 
nya!" 

Wah, ini sudah kurang ajar. Sahara menyeringai, setelah sekian 
lama menghilang ke alam lain kini ia kembali dalam penjelmaan 
seekor leopard, alisnya bertemu. Para penonton dan dewan juri ter- 
cengang, terlongong-longong dalam adu argumentasi ilmiah tingkat 
tinggi yang memanas. Mereka bahkan tak mampu memberi satu 
komentar pun, persoalan ini gelap bagi mereka. Tapi aku tersenyum 
senang karena aku tahu kali ini guru muda yang sok tahu ini akan 
kena batunya. 

Bantahannya yang terakhir itu adalah pelecehan. Lintang ter- 
sengat harga dirinya, wajahnya merah padam, sorot matanya tak lagi 
jenaka. Lintang, yang baru sekali ini menginjak Tanjong Pandan, 
berdiri dengan gagah berani menghadapi guru PN yang arogan jebo- 
lan perguruan tinggi terkemuka itu. Sembilan tahun sangat dekat 
dengan Lintang, baru kali ini aku melihatnya benar-benar muntab, 
maka inilah cara orang genius mengamuk: 

"Substansinya adalah bahwa Newton terang-terangan berhasil 
membuktikan kesalahan teori-teori warna yang dikemukakan Des- 



356 



Detik-Detik Kebenar 



an 



cartes dan Aristoteles! Bahkan yang paling mutakhir ketika itu, 
Robert Hooke. Perlu dicatat bahwa Robert Hooke mengadopsi teori 
cahaya berdasarkan filosofi mekanis Descartes dan mereka semua, 
ketiga orang itu, menganggap warna memiliki spektrum yang 
terpisah. Melalui optik cekung yang kemudian melahirkan dalil 
cincin, Newton membuktikan bahwa warna memiliki spektrum yang 
kontinu dan spektrum warna sama sekali tidak dihasilkan oleh sifat- 
sifat kaca, ia semata-mata produk dari sifat-sifat hakiki cahaya!" 

Drs. Zulfikar terperangah, penonton tersesat dalam teori fisika 
optik, sekadar mengangguk sedikit saja sudah tak sanggup. Dan aku 
girang tak alang kepalang, dugaanku terbukti! Rasanya aku ingin 
meloncat dari tempat duduk dan berdiri di atas meja mahoni mahal 
berusia ratusan tahun itu sambil berteriak kencang kepada seluruh 
hadirin: "Kalian tahu, ini Lintang Samudra Basara bin Syahbani 
Maulana Basara, orang pintar kawanku sebangku! Rasakan kalian 
semua!" Sekarang ekspresi Sahara seperti leopard yang sedang men- 
cabik-cabik predator pesaing, ia mengaum, alisnya bertemu seperti 
sayap elang, dan Lintang masih belum puas. 

"Newton mengatakan, kecuali Bapak ingin nyangkal manuskrip 
ilmiah yang tak terbantahkan selama 500 tahun hasil karya ilmuwan 
yang disebut Michael Hart sebagai manusia paling hebat setelah 
Nabi Muhammad, bahwa tebal tipisnya partikel transparan menen- 
tukan warna yang ia pantulkan. Itulah persamaan ketebalan lapisan 
udara antara optik sebagai dasar dalil warna cincin. Semua itu hanya 
bisa diobservasi melalui optik, bagaimana Bapak bisa mengatakan 
perkara-perkara ini tidak saling berhubungan?" 

Sang Drs. terkulai lemas, wajahnya pucat pasi. Ia membenam- 
kan pantatnya yang tepos di bantalan kursi seperti tulang belulang- 
nya telah dipresto. Ia kehabisan kata-kata pintar, kacamata minus- 



357 



Andrea Hirata 

nya merosot layu di batang hidungnya yang bengkok. la paham 
bahwa berpolemik secara membabi buta dan berkomentar lebih jauh 
tentang sesuatu yang tak terlalu ia kuasai hanya akan memperlihat- 
kan ketololannya sendiri di mata orang genius seperti Lintang. Maka 
ia mengibarkan saputangan putih, Lintang telah menghantamnya 
knock out. Ia dipaksa Lintang menelan pil APC yang pahit tanpa air 
minum dan pil manjur itu kini tersangkut di tenggorokannya. Sekali 
iagi para pendukung kami berjingkrak-jingkrak histeris seperti 
doger monyet Pak Harfan mengacungkan dua jempolnya tinggi- 
tinggi pada Lintang. "Bravo! Bravo!" teriaknya girang. Bu Mus yang 
berpakaian paling sederhana dibanding guru-guru lain mengang- 
guk-angguk takzim. Ia terlihat sangat bangga pada murid-murid 
miskinnya, matanya berkaca-kaca dan dengan haru beliau berucap 
lirih, "Subhanallah... subhanallah..." 

Selanjutnya, mekanisme lomba menjadi monoton, yaitu ibu 
cantik membacakan pertanyaan yang tak selesai, suara kriiiiiing, 
teriakan jawaban Lintang, dan pekikan seratussss dari Benyamin S. 
Aku terpaku memandang Lintang, betapa aku menyayangi dan 
kagum setengah mati pada sahabatku ini. Dialah idolaku. Pikiranku 
melayang ke suatu hari bertahun-tahun yang lalu ketika sang bunga 
pilea ini membawa pensil dan buku yang keliru, ketika ia beringsut- 
ingsut naik sepeda besar 80 kilometer setiap hari untuk sekolah, 
ketika suatu hari ia menempuh jarak sejauh itu hanya untuk menya- 
nyikan lagu Padamu Negeri. Dan hari ini ia meraja di sini— di maje- 
lis kecerdasan yang amat terhormat ini. 

Seperti Mahar, Lintang berhasil mengharumkan nama perguru- 
an Muhammadiyah. Kami adalah sekolah kampung pertama yang 
menjuarai perlombaan ini, dan dengan sebuah kemenangan mutlak. 
Air yang menggenang seperti kaca di mata Bu Mus dan laki-laki ce- 



358 



Detik-Detik Kebenar 



an 



mara angin itu kini menjadi butir-butiran yang berlinang, air mata 
kemenangan yang mengobati harapan, pengorbanan, dan jerih 
payah. 

Hari ini aku belajar bahwa setiap orang, bagaimana pun terbatas 
keadaannya, berhak memiliki cita-cita, dan keinginan yang kuat 
untuk mencapai cita-cita itu mampu menimbulkan prestasi-prestasi 
lain sebelum cita-cita se-sungguhnya tercapai. Keinginan kuat itu 
juga memunculkan kemampuan-kemampuan besar yang 
tersembunyi dan keajaiban-keajaiban di luar perkiraan. Siapa pun 
tak pernah membayangkan sekolah kampung Muhammadiyah yang 
melarat dapat mengalahkan raksasa-raksasa di meja mahoni itu, tapi 
keinginan yang kuat, yang kami pelajari dari petuah Pak Harfan 
sembilan tahun yang lalu di hari pertama kami masuk SD, agaknya 
terbukti. Keinginan kuat itu telah membelokkan perkiraan siapa pun 
sebab kami tampil sebagai juara pertama tanpa banding. Maka 
barangkali keinginan kuat tak kalah penting dibanding cita-cita itu 
sendiri. 

Ketika Lintang mengangkat tinggi-tinggi trofi besar kemenang- 
an, Harun bersuit-suit panjang seperti koboi memanggil pulang 
sapi-sapinya, dan di sana, di sebuah tempat duduk yang besar, ibu 
Frischa berkipas-kipas kegerahan, wajahnya menunjukkan sebuah 
ekspresi seolah saat itu dia sedang tidak duduk di situ. 



^Qr^^rS^ 



359 



<Ra(oz8 
Sociefeifde Himfoai 



MEREKA menyebut diri mereka Societeit de Limpai, sederhananya: 
Kelompok Limpai. Limpai adalah binatang legendaris jadi-jadian 
yang menakutkan dalam mitologi Belitong. Sebuah karakter fabel 
yang menarik karena beberapa cerita rakyat memberikan definisi 
yang berbeda bagi makhluk mitos ini. Orang-orang pesisir meng- 
anggapnya sebagai semacam peri yang hidup di gunung-gunung. Di 
Belitong bagian tengah ia dipercaya berbentuk binatang besar 
berwarna putih seperti gajah atau mammoth, Sebalik-nya di utara ia 
adalah angin yang jika marah akan menumbangkan pohon-pohon 
dan merebahkan batang-batang padi. 

Ada pula beberapa wilayah yang mengartikannya sebagai bogey 
yakni hantu hitam dan besar. Orang-orang muda semakin salah 
mengerti. Bagi mereka Limpai adalah urban legend maka ia bisa saja 



Andrea Hirata 

incubus 1 yaitu setan yang menyaru sebagai pria tampan atau death 
omen yang dapat menyamar menjadi apa saja. Disebut salah 
mengerti karena sebenarnya akar cerita Limpai terkait dengan ajaran 
kuno turun-temurun di Belitong agar masyarakat tidak semena- 
mena memperlakukan hutan dan sumber-sumber air. Ajaran itu 
mengandung tenaga sugestif ketakutan terhadap kualat karena 
hutan dan sumber-sumber air dijaga oleh hantu Limpai. Namun, 
dewasa ini sebagian besar orang melihat wujud Limpai tak lebih dari 
kabut yang melayang-layang di dalam kepala yang bodoh, tipis 
iman, senang bergunjing, dan kurang kerjaan, itulah Limpai. 

Societeit de limpai merupakan organisasi rahasia bentukan 
orang-orang aneh dan aku adalah sekretaris organisasi yang unik ini. 
Societeit beroperasi diam-diam. la semacam organisasi tanpa ben- 
tuk. Tak diketahui kapan, di mana mereka biasa berkumpul, dan apa 
yang mereka bicarakan. Jika secara tak sengaja ada yang memergoki 
mereka, mereka segera mengalihkan pembicaraan, bahkan meng- 
anggap saling tak kenal satu sama lain. Tindak tanduknya demikian 
disamarkan bukan karena mereka mengusung sebuah misi yang 
amat berbahaya, anarkis, komunis, atau melawan hukum, tapi lebih 
karena mereka menghindarkan diri dari ejekan khalayak karena 
kekonyolannya. Sebab Societeit adalah kumpulan manusia tak ber- 
guna yang memiliki kecintaan berlebihan pada dunia klenik dan 
mistik. Para peminat klenik dalam masyarakat kami selalu jadi ba- 
han tertawaan. Mereka tidak populer karena barangkali tidak seperti 
pada budaya lain di tanah air, orang-orang Melayu— khususnya di 
Belitong— memang tidak terlalu meminati dunia perdukunan. Maka 



1 Incubus: berasal dari cerita rakyat Eropa, yaitu seorang setan jantan yang dipercaya 
suka mencari wanita untuk disetubuhi saat mereka tidur. 



362 



Societeit de Lh 



lima i 



npi 



Societeit de Limpai pada dasarnya tidak mendapat tempat di kam- 
pung kami. 

Namun bagi para anggota Societeit, organisasi mereka adalah 
organisasi yang sangat serius. Anggotanya hanya sembilan orang 
dan untuk menjadi anggota syaratnya berat bukan main. Anggota 
paling senior saat ini berusia 57 tahun, pensiunan syah bandar 2 , dan 
yang termuda adalah dua orang remaja berasia 16 tahun. Enam 
orang lainnya adalah seorang petugas teller di BRI cabang pem- 
bantu, seorang Tionghoa tukang sepuh emas, seorang pengang- 
guran, seorang pemain organ tunggal, seorang mahasiswa teknik 
elektro drop out yang membuka sebuah bengkel sepeda, dan Mujis, 
si tukang semprot nyamuk. Anehnya ketua kelompok ini justru yang 
termuda itu. Ialah bapak pendiri organisasi yang disegani anggota- 
nya karena pengetahuannya yang luas tentang dunia gelap, per- 
alien-an, serta koleksinya yang lengkap tentang cerita kabar angin 
atau cerita konon kabamya. la tak lain tak bukan adalah Mahar yang 
fenomenal. Sedangkan anak remaja satunya tentu saja Flo. Adapun 
aku hanya seorang sekretaris dan pembantu umum, maka tidak 
dihitung sebagai anggota kehormatan. 

Aktivitas Societeit sangat padat. Mereka melakukan ekspedisi ke 
daerah-daerah angker, menyelidiki kejadian-kejadian mistik, berdis- 
kusi dengan para spiritual di seantero Belitong, dan memetakan 
mitologi lokal, baik Folklor maupun urban legend dalam suatu mito- 
grafi yang menarik. Dalam banyak sisi dapat dianggap bahwa para 
anggota Societeit sesungguhnya adalah orang-orang pemberani yang 
sangat penasaran ingin membongkar rahasia fenomena ganjil dan 
memiliki skeptisisme yang tak mau dikompromikan. Jika belum 



1 Syah bandar: pejabat pemerintah yang bertugas mengatur pelabuhan. 



363 



Andrea Hirata 

melihat dan merasakan sendiri, mereka tak 'kan percaya. Societeit 
dengan brilian telah mengadopsi sosok Limpai yang mistis sebagai 
metafora sehingga mereka bisa disebut orang-orang antusias, ilmu- 
wan, orang gila, atau musyrikin tergantung sudut pandang setiap 
orang menilainya. Sama seperti perbedaan perspektif setiap orang 
dalam memaknai Limpai. 

Dalam pembuktiannya terhadap fenomena paranormal mereka 
sering menggunakan metode ilmiah sehingga mereka dapat juga 
disebut sebagai ilmuwan— tentu saja ilmuwan dalam definisi mereka 
sendiri. Ke arah inilah Mahar telah berkembang, bukan ke arah 
pencapaian-pencapaian seni yang seharusnya menjadi rencana A 
baginya, dan dengan kehadiran Flo, kesia-siaan bakat itu semakin 
menjadi-jadi. 

Dalam menjalankan tugas sintingnya mereka melengkapi diri 
dengan perangkat elektronik, misalnya beragam alat perekam audio 
video, perangkat-perangkat sensor, dan berbagai jenis teropong. Di 
bawah supervisi mahasiswa elektro yang drop out itu mereka merakit 
sendiri detektor medan elektromagnet yang dapat membaca 
gelombang area observasi dalam kisaran 2 sampai 7 miligauss karena 
mereka yakin aktivitas kaum lelembut berada dalam kisaran 
tersebut. Mereka juga menciptakan sensor frekuensi yang dapat 
mengenali frekuensi sangat rendah sampai di bawah 60 hertz karena 
menurut akal sesat mereka dalam frekuensi itulah kaum setan alas 
sering berbicara. Selain semua elektronik yang canggih itu pada 
setiap ekspedisi mereka juga membekali diri dengan kemenyan, 
gaharu, jimat telur biawak, buntat 3 , dan penangkal bala, serta seekor 



3 Buntat: semacam batu hitam yang terdapat di perut kelabang, dipercaya ampuh 
sebagai jimat pengasih. 



364 



Societeit de Lh 



lima i 



npi 



ayam kate kampung karena seekor ayam dianggap paling cepat 
tanggap kalau iblis mendekat. 

Mereka secara rutin berkelana. Suatu ketika mereka memasuki 
Hutan Genting Apit, tempat paling angker di Belitong. Hutan ini 
menyimpan ribuan cerita seram dan yang paling menonjol adalah 
fenomena ectoplasmic mist yakni kabut yang bercengkerama sendiri 
dan secara alamiah— atau mungkin setanlah— membentuk wujud- 
wujud tertentu seperti manusia, hewan, atau raksasa. Tak jarang 
bentuk-bentuk ini tertangkap kamera film biasa. Para pengendara 
yang melalui kawasan ini sangat disarankan untuk tidak melirik kaca 
spion karena hantu-hantu penghuni iembah ini biasa menumpang 
sebentar di jokbelakang. 

Di Iembah ini mereka memasang alat-alat elektronik tadi di 
cabang-cabang pohon untuk mendeteksi gerakan, suara, dan ben- 
tuk-bentuk tak biasa lalu menganalisisnya. Kemudian Genting Apit 
menjadi semacam laboratorium alam bagi Societeit. Tempat yang 
selalu dihindari orang mereka kunjungi seumpama orang piknik ke 
pantai saja. 

Tak ayal Societeit juga mendatangi kuburan-kuburan keramat, 
bermalam di lokasi-lokasi yang terkenal keseramannya, mengum- 
pulkan cerita-cerita takhayul, dan mencari benda-benda magis pusa- 
ka warisan antah berantah. Mereka diam di tempat yang ditinggal- 
kan orang karena takut, mereka justru menunggu makhluk-makhluk 
halus yang membuat orang lain terbirit-birit. Semakin lama Societeit 
semakin bergairah dengan aktivitasnya meskipun di sisi lain masya- 
rakat juga semakin mencemooh mereka. Mereka dianggap orang- 
orang aneh yang menghambur-hamburkan waktu untuk hal-hal tak 
bermanfaat. 



365 



Andrea Hirata 

Tak semua kegiatan Societeit tak berguna. Adakalanya pende- 
katan ilmiah mereka malah mampu mematahkan mitos. Misalnya 
dalam kasus api anggun di atas sebatang pohon jemang besar. Telah 
puluhan tahun berlangsung para pengendara sering ketakutan ketika 
melintasi sebuah tikungan menuju Manggar karena pada puncak 
sebuah pohon jemang besar persis di seberang tikungan itu sering 
tampak api berkobar-kobar. Jemang Hantu, demikian julukan 
tempat angker itu. Kejadian itu selalu tengah malam setelah turun 
hujan dan sudah menjadi cerita seram yang melegenda. 

Sulit untuk mengatakan bahwa para pengendara telah salah 
lihat apalagi berbohong karena di antara mereka yang telah menyak- 
sikan pemandangan horor itu adalah Zaharudin bin Abu Bakar, 
ustad muda kampung kami yang pantang berdusta. 

Maka Societeit turun tangan melakukan semacam riset. Setelah 
sepanjang sore turun hujan malamnya mereka mengendap-endap di 
sekitar jemang angker tadi untuk melakukan pengamatan. Tak lama 
setelah lewat tengah malam mereka memang menyaksikan api ber- 
kobar-kobar di puncak pohon itu namun pada saat itu pula mengerti 
jawabannya. Mereka berhasil menghancurkan mitos angker pohon 
jemang yang telah puluhan tahun menciutkan nyali orang kampung. 

Letupan api itu sesungguhnya berasal dari kabel listrik tegangan 
tinggi yang korslet karena air hujan. Tiang kabel itu berjarak kira- 
kira 120 meter dari puncak pohon dan ketinggian keduanya sepadan 
sehingga jika dilihat dari jauh. sebelum memasuki tikungan seolah- 
olah letupan korslet yang menimbulkan bunga-bunga api itu ber- 
kobar-kobar dari puncak pohon jemang. 



366 



Societeit de Lh 



lima i 



npi 



JIKA tiba dari pengembaraan mistiknya, Mahar dan Flo selalu 
membawa cerita-cerita seru ke sekolah. Misalnya suatu hari mereka 
berkisah bahwa di tengah sebuah hutan yang gelap mereka menemu- 
kan kuburan dengan ukuran tambak hampir tiga kali enam meter 
dan jarak antara kedua nisannya hampir lima meter. Karena orang 
Melayu selalu memasang nisan di sekitar kepala dan ujung kaki 
maka dapat diperkirakan ukuran jasad yang terkubur di bawahnya 
adalah ukuran manusia yang luar biasa besar. 

Flo memulai kisah bahwa ia menemukan piring-piring dari 
tanah liat di sekitar kuburan dengan ukuran seperti dulang dan kon- 
disinya masih utuh. Ia juga menemukan berbagai jenis kendi yang 
tidak rusak dan terkubur dangkal. Flo dengan dingin saja memberi 
tahu kami bahwa ia tidur paling dekat dengan nisan- nisan itu dan 
tak sedikit pun merasa takut. Ia menceritakan sebuah pengalaman 
yang mendirikan bulu kuduk seolah sebuah cerita lucu tentang baru 
saja meminumkan susu pada anak-anak kucing persia di rumahnya. 
Ingin kukatakan padanya bahwa gerabah-gerabah arkeologi itu 
memang tidak rusak tapi yang rusak adalah otaknya. 

Sebaliknya versi Mahar jauh lebih menarik. Ia memberi penje- 
lasan pengetahuan tentang hubungan beberapa kuburan purba ber- 
tambak superbesar di Belitong dengan teori-teori para arkeolog ter- 
kenal seperti Barry Chamis atau Harold T. Wilkins yang percaya 
bahwa pada suatu masa yang lampau manusia-manusia raksasa per- 
nah menjelajahi bumi. Ia membuat analogi yang menarik, logis, dan 
lengkap dengan analisis waktu tentang kuburan itu dengan hal ikh- 
wal tengkorak manusia raksasa Pasnuta yang ditemukan di Omaha 
atau kerangka tak utuh manusia yang digali dari situs-situs kuburan 
purba di Dataran Tinggi Golan. Jika direkonstruksi kerangka-ke- 
rangka itu membentuk manusia setinggi hampir enam meter. 



367 



Andrea Hirata 

Maka cerita Mahar selalu mengandung ilmu. Dia memang seo- 
rang eksentrik yang berdiri di area abu-abu antara imajinasi dan ke- 
nyataan, tapi tak diragukan bahwa ia cerdas, pemikirannya terstruk- 
tur dengan baik, dan pengetahuan dunia gaibnya amat luas. Mahar 
dan Flo duduk santai pada cabang rendah filicium seperti para pade- 
ri tukang cerita dari sebuah kuil Sikh dan kami, para Laskar Pelangi, 
bersimpuh membentuk lingkaran, tercengang dengan mata berbi- 
nar-binar mendengar keajaiban-keajaiban petilasan mereka dalam 
dunia magis. Adapun orang lain dari kejauhan hanya akan melihat 
ikatan persahabatan Laskar Pelangj yang demikian indah. 

Pada kesempatan lain mereka bercerita tentang petualangan 
mencari sebuah gua purba tersembunyi yang belum pernah dijamah 
siapa pun. Gua itu konon berada di tengah rimba dan eksistensinya 
hanya berdasarkan mitos samar turun-temurun dari sebuah komu- 
nitas kecil terasing yang hidup seperti suku primitif di barat daya 
Belitong. Mereka menyebutnya gua gambar. Tak tahu apa maksud 
nama itu dan bagi mereka gua itu adalah gua gaib yang tak 'kan 
pernah ditemukan. 

Mendengar kisah itu Societeit berdiri telinganya dan merasa 
tertantang. 

Ketika Societeit mendatangi komunitas yang hanya terdiri dari 
sebelas kepala keluarga dan mencari informasi tentang gua gambar, 
pawang suku di sana menertawakan mereka. 

"Ananda tak 'kan menemukan gua itu, karena gua itu adalah gua 
siluman. Gua itu hanya akan menampakkan diri di malam hari yang 
paling gelap, itu pun hanya bisa dilihat oleh orang-orang gunung 
terpilih yang tak kita kenal." 



368 



Societeit de Lh 



lima i 



npi 



Orang-orang gunung adalah cerita konon yang lain. Kami 
menyebutnya orang Tungkup. Mereka tinggal di gunung dan juga 
tak pernah dilihat orang kampung. 

"Selama tiga hari tiga malam kami berjalan kaki menembus 
rimba belantara liar untuk mencari gua itu. Pohon-pohon di sana 
sebesar pelukan empat orang dewasa dengau kanopi menjulang ke 
langit," demikian cerita Mahar. 

"Saking lebatnya hutan itu sinar matahari tak mampu 
menembus permukaan tanah. Pohon-pohon berlumut, gelap dan 
lembap, penuh lintah, kelelawar, kadal, macan akar 4 , luak, dan ular- 
ular besar," sambung Flo meyakinkan. 

"Kami hampir putus asa, tapi berantung, pengetahuan Mujis 
yang baik tentang kontur hutan akhirnya membimbing kami menu- 
runi sebuah lembah curam di antara dua gunung dan di dasar 
lembah itu, pas menjelang magrib, kami menemukan sebuah gua!" 

Kami ternganga-nganga, merapatkan lingkaran duduk, 
mendekati dua petualang sejati yang sangat hebat ini, tak sabar 
mendengar kelanjutan cerita. 

"Kami belum yakin apakah itu gua gambar seperti dimaksud 
komunitas kuno itu. Wilayah itu sangat sulit ditempuh. Mulut gua 
sangat sempit dan ditutupi akar-akar mahoni raksasa, seperti jari- 
jari yang sengaja menyamarkan," demikian kata Flo ekspresif. Ah, 
Flo yang cantik, ramping, atletis, dan berkulit putih seindah anggrek 
bulan, dikombinasikan dengan cerita petualangan mendebarkan 
penuh getaran marabahaya di tengah hutan rimba dan sebuah gua 
misteri, sungguh sebuah perpaduan yang membuat dirinya tampak 



4 Macan akar: sebutan untuk macan kecil yang selalu berada di dekat akar pohon. 



369 



Andrea Hirata 

semakin indah. Mentalitas dan prinsip-prinsip hidup Flo yang tak 
biasa, telah menjadikan dirinya seorang wanita yang sangat 
memesona. 

"Ketika kami mendekat, kami terkejut karena beberapa ekor 
biawak dan musang yang garang berloncatan keluar dari gua." 

Mahar dan Flo sambung menyambung. 

"Setelah menyiangi akar-akar itu akhirnya kami berhasil masuk 
ke dalam gua." 

"Di dalamnya amat lebar dan memanjang, menjulur ke bawah 
seperti sumur yang landai, dingin, gelap, dan ada suara riak-riak air." 

"Ternyata di tengah gua itu ada aliran air yang deras!" 

Cerita semakin seru, seperti cerita petualangan Indian 
Winnetou, kami duduk terpaku menyimak. 

"Kami mencoba menelusuri gua itu, bau amis kotoran kelelawar 
menyengat hidung dan membuat perut mual. Sarang laba-laba 
hitam besar menutupi celah-celah gua seperti tirai putih berjuntai- 
juntai. Laba-laba itu demikian besar sehingga cecak dan kelelawar 
tersangkut di jaringnya dan mengering karena darahnya telah diisap 
serangga maut itu. Lintah merayapi dinding gua, mengincar darah 
anak-anak kelelawar." 

Mengerikan. 

"Rantai makanan di dalam gua adalah singkat, tidak seperti 
subekosistem lain di luar!" Flo menambahi. 

"Kami terus merambah masuk sampai beratus-ratus meter tapi 
tak menemukan tanda-tanda gua itu akan berakhir." 



370 



Societeit de Lh 



lima i 



npi 



"Gua itu seperti tak berujung ...," Mahar bercerita dengan penuh 
penghayatan sehingga kami merasa seperti berada di dalam gua yang 
sangat mencekam itu. Kami merasakan udara dingin, kegelapan, 
ketakutan, dan seakan mendengar pekik keleawar dan percikan air 
di dalamnya. 

"Tapi suara aliran air tadi semakin lama semakin bergemuruh, 
kami perkirakan di depan kami ada jurang di bawah tanah yang 
amat berbahaya, maka kami memutuskan untuk beristirahat." 

Wajah Mahar serius, nyali kami ciut ketika menatapnya, dan dia 
melanjutkan cerita seperti orang berbisik. 

"Kami agak merapat ke dinding gua untuk menyiapkan 
peralatan tidur, ketika aku menaikkan lampu aki untuk mendapat 
bentangan cahaya yang lebih besar, aku terkejut melihat bayangan 
goresan-goresan berpola yang samar di dinding licin itu ...." 

Menegangkan sekali. Kami semakin merapat, Sahara menggigit 
jarinya, A Kiong berkali-kali menarik napas panjang, Samson tak 
berkedip, Lintang menyimak penuh perhatian, Syahdan ketakutan, 
Trapani memeluk Harun. 

"Kami semua saling berpandangan lalu serentak menaikkan 
lampu, dan kami tersentak melihat sekeling kami." 

Aku menahan napas.... 

"Ternyata kami dikelilingi oleh ribuan goresan simbol-simbol 
purba atau huruf-huruf hieroglif primitif yang terhampar di dinding 
gua, menjalar-jalar misterius sampai ke stalagmit dan stalagtit!" 

Rasanya aku mau meloncat dari tempat duduk, dan perut 
bawahku ngilu menahan kencing karena perasaan tegang yang 



371 



Andrea Hirata 

meluap-luap. Kami terpana, bahkan tak mampu mengucapkan 
sepatah kata pun. Dadaku berdegup kencang. 

"Kemudian di langit-langit gua terdapat beberapa lukisan 
paleolitikum 5 yang menggambarkan orang-orang yang tak 
berpakaian sedang memakan mentah-mentah seekor burung besar 
yang mirip kalong." 

"Sebuah gua antediluvium dengan seni lukis gua yang 
memukau!" sambung Flo. 

Sekarang kami mengerti mengapa komunitas terasing tadi 
menyebut gua itu gua gambar. 

"Ada lukisan kucing pohon, tombak kayu, ular tanah, bulan, 
dan bintang-bintang." 

"Kami memutuskan untuk tidur di bagian itu...," kata Mahar 
pelan. Raut wajahnya memperlihatkan bahwa ia masih memiliki 
sebuah kejutan lain yang tak kalah misteriusnya. Maka dada kami 
tak reda berdegup. 

"Aku tak bisa tidur sepanjang malam. Ketika semua anggota 
Societeit terlelap karena kelelahan aku melamun dan memerhatikan 
dengan saksama simbol-simbol yang berserakan tak teratur meme- 
nuhi dinding dan langit-langit gua." 

Kami terpaku, pasti akan terjadi sesuatu yang ajaib. 

"Lalu aku merasa simbol-simbol itu seperti diam-diam terangkai 
sendiri dan membisikkan sesuatu ke telingaku...." 

Oh, jantungku berdebar-debar. 



5 Paleolitikum: zaman batu tua; purba yang berlangsung dari 750.000 sampai 15.000 
tahun yang lalu, ditandai dengan pemakaian alat-alat serpih. 



372 



Societeit de Lh 



lima i 



npi 



"Tapi semuanya tak jelas, hingga aku merasa lelah dan 
memejamkan mata." 

Kami menunggu kejutan besar itu. 

"Namun tak lama kemudian, antara tidur dan terjaga, aku 
mendengar suara gemerisik seperti jutaan semut mendekatiku, dan 
agaknya ribuan simbol-simbol samar itu menjadi hidup lalu 
memberiku semacam mimpi, semacam wangsit, semacam gambaran 
masa depan... semua ini tak pernah kuceritakan pada siapa pun!" 

Kami semakin merapat, sangat penasaran. 

"Apakah wangsit itu saudaraku Mahar??!!" A Kiong berteriak 
tak sabar menunggu terkuaknya sebuah misteri besar. la sedikit 
merayu. Suaranya tercekat dan bergetar. Bahkan Flo tampak tegang. 
Rupanya ia sendiri belum pernah mendengar wangsit ini. 

Mahar menarik napas panjang sekali, agaknya ia merasa berat 
membocorkan kisah ini. "Begini ...," katanya serius. 

"Mimpi itu memperlihatkan bahwa sebuah kekuatan besar di 
Pulau Belitong akan segera runtuh. Orang-orang Melayu Belitong 
akan jatuh melarat dan kembali berperikehidupan seperti zaman 
purba dulu, yaitu bernafkah secara bersahaja dari hasil-hasil laut dan 
hutan. Sebaliknya, dunia luar akan maju demikian pesat. 
Penggunaan komputer akan merasuki seluruh segi kehidupan. 
Penggunaan komputer yang merajalela itu menyebabkan praktik- 
praktik akuntansi tak lama lagi akan punah ...." 



^S^zs^L^ 



373 



IPufau Hanun 



SEPERTI layaknya sesuatu yang sederhana, maka tragedi atau drama 
semacam opera sabun tak pernah terjadi di sekolah Muhammadiyah. 
Sekolah itu demikian teduh dalam kiprahnya, tenang dalam kesaha- 
jaannya, bermartabat dalam kesederhanaannya, dan tenteram dalam 
kemiskinannya. 

Namun kali ini berbeda, mendung tebal bergelayut rendah siap 
menumpahkan murka di atap sekolah itu karena dua warganya 
semakin lama semakin tidak waras sehingga kelangsungan pendidik- 
an keduanya terancam. Lebih dari itu tingkah laku keduanya me- 
rongrong reputasi sekolah Muhammadiyah yang ketat menjaga 
nilai-nilai moral Islami. Dan tak tanggung-tanggung, rongrongan itu 
berupa pelanggaran paling berat dalam konteks moral itu sendiri 
yakni: kemusyrikan! Kedua makhluk dramatis itu tentu saja sudah 
sangat dikenal: Mahar dan Flo. 



Andrea Hirata 

Seiring dengan euforia organisasi rahasia Societeit yang mereka 
inisiasi, nilai-nilai ulangan Mahar dan Flo persis penerjun yang 
terjun dengan parasut cadangan yang tak mengembang— terjun 
bebas. Rapor terakhir mereka memperlihatkan deretan angka merah 
seperti punggung dikerok. Umumnya angka-angka biru hanya 
untuk mata pelajaran pembinaan kecakapan khusus, yaitu kejuruan 
agraria, kejuruan teknik, ketatalaksanaan, dan bahasa Indonesia, itu 
pun hanya untuk bidang bercakap-cakap dan mengarang. Nilai Flo 
adalah yang paling parah. Matematika, bahasa Inggris, dan IPA 
hanya mendapat angka 2. Meskipun bapaknya telah menyumbang 
papan tulis baru, lonceng, jam dinding, dan pompa air untuk Mu- 
hammadiyah namun Bu Mus tak peduli, beliau tak sedikit pun sung- 
kan menganugerahkan angka-angka bebek berenang itu di rapor Flo 
karena memang itulah nilai anak Gedong itu. 

Mahar dan Flo berada dalam situasi kritis dan sangat mungkin 
dilungsurkan ke kelas bawah karena tidak bisa mengikuti Ebtanas. 
Surat peringatan telah mereka terima tiga kali. Menanggapi masalah 
gawat ini diam-diam Bapak Flo melakukan konspirasi dengan Bu 
Frischa untuk menghasut Flo agar kembali ke sekolah PN. Lagi pula 
di sekolah PN Bu Frischa telah menjamin nilai yang tak memalukan 
di rapor Flo. Untuk keperluan penghasutan itu Bu Frischa mengutus 
seorang guru pria muda yang flamboyan di sekolah PN agar dapat 
mendekati Flo. 

Sore itu kami sekelas baru saja pulang menonton pertandingan 
sepak bola dan melewati pasar. Bu Frischa dan guru flamboyan tadi 
sedang berbelanja. Flo yang mengenakan celana dan jaket jin belel 
mendekati Bu Frischa seperti gaya berjalan koboi yang akan duel 
tembak. 



376 



Pufau Latum 

"Nama saya Flo, Floriana," kata Flo sambil berusaha menyalami 
Bu Frischa. Pria flamboyan itu mengangguk santun dan melempar- 
kan senyum termanisnya untuk Flo. 

"Tolong bilang pada pria tengik ini, saya tak 'kan pernah me- 
ninggalkan Bu Muslimah. dan sekolah Muhammadiyah ...." 

Flo berlalu begitu saja, Bu Frischa dan sang pria flamboyan ter- 
pana, dan ide untuk menghasutnya tak pernah terdengar lagi. 



NILAI-nilai rapor Mahar dan Flo hancur karena agaknya 
mereka sulit berkonsentrasi sebab terikat pada komitmen-komitmen 
kegiatan organisasi, dan lebih dari itu, karena mereka semakin 
tergila-gila dengan mistik. Hari demi hari pendidikan mereka 
semakin memprihatinkan. Tapi bukan Mahar dan Flo namanya 
kalau tidak kreatif. Mereka sadar bahwa mereka menghadapi trade- 
off, dua sisi yang harus saling menyisihkan, memiiih sekolah atau 
memilih kegiatan organisasi paranormal. Sekolah sangat penting 
namun godaan untuk berkelana menyibak misteri gaib sungguh tak 
tertahankan. Mereka tidak ingin meninggalkan keduanya. 

Lalu tak tahu siapa yang memulai tiba-tiba mereka muncul 
dengan satu gagasan yang paling absurd. Karena tak ingin kehilang- 
an sekolah dan tak ingin meninggalkan hobi klenik maka mereka 
berusaha menggabungkan keduanya. Mahar dan Flo akan mencari 
jalan keluar mengatasi kemerosotan nilai sekolah melalui cara yang 
mereka paling mereka kuasai, yaitu melalui jalan pintas dunia gaib 



1 Trade-off: sebuah situasi saat seseorang harus berkompromi dengan menyerahkan 
seluruh atau sebagian dari suatu hal untuk menukarnya dengan hal lainnya. 



377 



Andrea Hirata 

perdukunan. Sebuah cara tidak masuk akal yang unik, lucu, dan me- 
ngandung mara bahaya. 

Mahar dan Flo sangat yakin bahwa kekuatan supranatural dapat 
memberi mereka solusi gaib atas nilai-nilai yang anjlok di sekolah. 
Dan mereka tahu seorang sakti mandraguna yang dapat membantu 
mereka dan kesaktiannya telah mereka buktikan sendiri melalui 
pengalaman pribadi. Orang sakti ini secara ajaib telah menunjukkan 
jalan untuk menemukan Flo ketika ia raib ditelan hutan Gunung 
Selumar tempo had. Orang supersakti itu tentu saja Tuk Bayan Tula. 
Menurut anggapan mereka masalah sekolah ini hanyalah masalah 
kecil seujung kuku yang tak ada artinya bagi raja dukun itu. Mereka 
percaya manusia setengah peri itu bisa dengan mudah membalikkan 
angka enam menjadi sembilan, empat menjadi delapan, dan merah 
menjadi biru. 

Setelah menemukan rencana solusi yang sangat andal itu Mahar 
dan Flo tertawa girang sekali sampai meloncat-loncat. Flo menun- 
jukkan kekagumannya pada kreativitas Mahar dalam memecahkan 
masalah mereka. Mendung yang menghiasi wajah mereka setiap kali 
dimarahi Bu Mus kini sirna sudah. Di dalam kelas mereka tampak 
sumringah walaupun tidak sedikit pun belajar. 

Seluruh anggota Societeit menyambut antusias ide ketuanya 
untuk mengunjungi Tuk Bayan Tula. Para anggota ini sebenarnya 
telah lama mengidamkan pertemuan dengan Tuk, idola mereka itu, 
namun niat itu terpendam karena mereka takut mengungkapkan- 
nya, bahkan membayangkannya saja mereka tak berani. Apalagi 
tersiar kabar bahwa Tuk tak menerima semua orang. Hanya nasib 
yang menentukan apakah Tuk berkenan atau tidak. Dan tragisnya, 
jika Tuk tak berkenan biasanya yang mengunjunginya tak pernah 
kembali pulang. Ketika Mahar berinisiatif ke sana para anggota 



378 



Pufau Latum 

menyambut usulan yang memang telah mereka tunggu-tunggu. 
Mereka siap menerima risiko asal dapat melihat wajah Tuk walau 
hanya sekali saja. 

Kunjungan ke Pulau Lanun untuk menjumpai Tuk merupakan 
ekspedisi paling penting dan puncak seluruh aktivitas paranormal 
Societeit. Mereka mempersiapkan diri dengan teliti dan mengerah- 
kan seluruh sumber daya karena perjalanan ke Pulau Lanun tak mu- 
dah dan biayanya sangat mahal. Mereka harus menyewa perahu de- 
ngan kemampuan paling tidak 40 PK, jika tidak maka akan me- 
makan waktu sangat lama dan tak 'kan kuat melawan ombak yang 
terkenal besar di sana. 

Kemudian mereka harus menyewa seorang nakhoda yang ber- 
pengalaman dari suku orang-orang berkerudung. 

Karena ia berpengalaman dan tak mau mati konyol sebab ia 
tahu reputasi Tuk maka harga jasa nakhoda ini juga sangat mahal. 

Akibatnya Mahar rela menggadaikan sepeda warisan kakeknya, 
Flo menjual kalung, cincin, gelang, dan merelakan tabungan uang 
saku selama dua bulan yang ada dalam tas rajutannya. Mujis melego 
hartanya yang paling berharga, yaitu sebuah radio transistor dua 
band merk Philip, si pengangguran menggaruk-garuk sampah untuk 
tambahan ongkos, sang mahasiswa drop out meminjam uang pada 
bapaknya, dan si pemain organ tunggal menggadaikan electone 
Yamaha PSR sumber nafkahnya. 

Adapun orang Tionghoa yang menjadi tukang sepuh emas me- 
mecahkan celengan ayam jago disaksikan tangisan anak-anaknya, si 
petugas teller BRI kerja lembur sampai tengah malam, sang pensiun- 
an syah bandar menggadaikan lemari kaca yang digotong empat 
orang— dan menimbulkan keributan besar dengan istrinya, semen- 



379 



Andrea Hirata 



tara aku sendiri merelakan koleksi uang kunoku dibeli murah oleh 
Tuan Pos. 

Kami berdebar-debar menunggu hari H dan ketika uang patu- 
ngan digelar di atas meja gaple, terkumpul uang sebanyak Rp 1,5 
juta! Luar biasa. Uang yang sebagian besar logam itu bergemerin- 
cingan bertumpuk-tumpuk. Aku gemetar karena seumur hidupku 
tak pernah melihat uang sebanyak itu, apalagi karena sebagai 
sekretaris Societeit aku harus menyimpannya. Aku genggam uang 
itu dan terkesiap pada perasaan menjadi orang kaya. Ternyata jika 
kita telah menjadi orang miskin sejak dalam kandungan, perasaan 
itu sedikit menakutkan. 

Kami bersorak karena inilah dana terbesar yang berhasil kami 
kumpulkan. Aku menyimpan uang itu di dalam saku dan terus- 
menerus memegangnya. Tiba-tiba semua orang tampak seperti 
pencuri. Kadang-kadang uang memang punya pengaruh yang jahat. 
Setelah mendapatkan perahu dan bernegosiasi alot dengan nakhoda 
akhirnya pas tengah hari kami berangkat. 

Pada awalnya perjalanan cukup lancar, ikan lumba-lumba 
berkejaran dengan haluan perahu, cuaca cerah, angin bertiup sepoi- 
sepoi, dan semua penumpang bersukacita. Namun, menjelang sore 
angin bertiup sangat kencang. Perahu mulai terbanting-banting tak 
tentu arah, meliuk-liuk mengikuti ombak yang tiba-tiba naik turun 
dengan kekuatan luar biasa. Dan ombak itu semakin lama semakin 
tinggi. Dalam waktu singkat keadaan tenang berubah menjadi horor. 
Semakin ke tengah laut perahu semakin tak terkendali. Sama sekali 
tak diduga sebelumnya ombak mendadak marah dan langit mulai 
mendung. Badai besar akan menghantam kami. Semua penumpang 
pucat pasi. Terlambat untuk kembali pulang, lagi pula perahu sudah 
tak bisa diarahkan. 



380 



Pufau Latum 

Kadang-kadang sebuah gelombang yang dahsyat menghantam 
lambung perahu hingga terdengar suara seperti papan patah. Aku 
menyangka perahu kami pecah dan kami akan karam dan berserak- 
an di laut lepas ini. Gelombang itu mengangkat perahu setinggi 
empat meter kemudian menghempaskannya seolah tanpa beban. 
Kami terhunjam bersama ombak besar yang menimbulkan lautan 
buih putih meluap-luap mengerikan. Ombak sudah demikian ganas, 
sedangkan badai yang sesungguhnya belum tiba. 

Aku melihat wajah nakhoda yang sudah berpengalaman itu dan 
jelas sekali ia cemas, membuat kami menjadi semakin gamang. 
Nakhoda menunjuk jauh ke arah depan, di sana tampak sebuah 
pemandangan yang membuat kami merinding hebat, yaitu gumpal- 
an awan gelap bergerak pasti menuju ke arah kami dengan kilatan- 
kilatan halilintar sambung menyambung di dalamnya. Badai besar 
akan segera datang menggulung kami. 

Nakhoda mencoba membalikkan arah perahu tapi mesin 40 PK 
itu tak berdaya dan jika menelusuri gelombang yang demikian tinggi 
nakhoda khawatir perahu akan tertelungkup. Maka tak ada pilihan 
baginya kecuali menyongsong awan yang gelap kelam itu. Kami tak 
berdaya seperti diombang-ambingkan oleh sebuah tangan raksasa 
dan tangan itu justru mengumpankan kami kepada badai. Dalam 
waktu singkat badai sudah tiba di atas kami dan angin puting 
beliung memboyakkan perahu tanpa ampun. Hujan sangat lebat dan 
suasana menjadi gelap. Sambaran-sambaran kilat yang sangat dekat 
dengan perahu menimbulkan pemandangan yang menciutkan nyali. 

Ketika pusaran angin menusuk permukaan laut, kira-kira dua 
puluh meter di samping kami, seluruh tubuhku gemetar melihat 
semburan air besar tumpah di atas perahu. Perahu berputar-putar di 
tempat seperti gasing. Kami terpeleset dan telentang di sepanjang 



381 



Andrea Hirata 

geladak, berusaha saling memegangi agar tak tumpah dari perahu. 
Nakhoda bertindak cepat menurunkan layar yang koyak dihantam 
angin, menutup palka, menjauhkan benda-benda tajam, dan 
mematikan mesin. Lalu ia berteriak kencang memerintahkan kami 
agar mengikat tubuh masing-masing ke tiang layar. Kami melilit- 
lilitkan tali beberapa kali seputar lingkar pinggang dan menyimpul- 
kan ujungnya dengan simpul mati kemudian mengikatkan diri 
dengan cara yang sama ke tiang layar. Usaha ini dilakukan agar kami 
tak terpelanting ke laut. 

Kami segera sadar bahwa situasi telah menjadi gawat, nyawa 
kami berada di ujung tanduk. Begitu cepat alam berubah dari pela- 
yaran yang damai beberapa waktu lalu hingga menjadi usaha mem- 
pertahankan hidup yang mencekam saat ini. Kami dibukakan Allah 
sebuah lembar kitab yang nyata bahwa kuasa-Nya demikian besar 
tak terbatas. Kami berkumpul membentuk lingkaran kecil mengeli- 
lingi tiang layar. Tangan kami bertumpuk-tumpuk berusaha meng- 
genggam tiang itu. Bahu kami saling bersentuhan satu sama lain. 
Kami seperti orang yang bersatu padu menjelang ajai. 

Hampir satu jam kami masih tak tentu arah. Aku melihat 
haluan perahu berpendar-pendar dan kepalaku pusing seolah akan 
pecah. Ketika kulihat Mujis menghamburkan muntah, perutku 
serasa diaduk-aduk dan dalam waktu singkat aku pun muntah. 
Pemandangan berikutnya adalah setiap orang di atas perahu 
menyemburkan selurah isi perutnya, termasuk nakhoda kapal yang 
telah berpengalaman puluhan tahun. Aku mencapai tingkat puncak 
mabuk laut ketika tak ada lagi yang bisa dimuntahkan dan yang 
keluar hanya cairan bening yang pahit. Semua penumpang perahu 
mengalaminya. 



382 



Pufau Lanun 

Kami sudah pasrah di atas perahu yang terangkat tinggi lalu 
terhempas dahsyat bak sepotong busa di atas samudra yang meng- 
amuk. Inilah pengalaman terburuk dalam hidupku. Saat itu aku 
amat menyesal telah ikut campur dalam ekspedisi orang-orang gila 
Societeit untuk menemui seorang dukun yang bahkan tak peduli 
dengan hidupnya sendiri. Tak adil mempertaruhkan nyawa untuk 
orang yang tidak menghargai nyawa. Aku memandang permukaan 
laut yang biru gelap dengan kedalaman tak terbayangkan dan dunia 
asing di bawah sana. Aku merasa sangat ngeri jika tenggelam. 

Wajah nakhoda tak memperlihatkan harapan sedikit pun. la 
juga telah mengikatkan tubuhnya ke tiang layar. la terpekur 
menunduk dalam, tangannya yang kuat dan tua berurat-urat 
memegang kuat tiang layar, berebutan dengan tangan-tangan kami. 
Jika kami tenggelam maka di dasar laut mayat kami akan melayang- 
layang di ujung simpul-simpul tali yang mengikat tubuh kami 
seperti surai-surai gurita. Sebagian besar penumpang mengalirkan 
air mata putus asa. Namun, Flo sama sekali tak menangis. Sebelah 
tangannya menggenggam tiang layar, bibirnya membiru, dan 
wajahnya menengadah menantang langit. Wanita itu tak pernah 
takluk pada apa pun. 

Tak ada tanda-tanda ombak akan reda, bahkan semakin 
menjadi-jadi. Tinggal menunggu waktu kami akan terbenam karam. 
Dan saat yang menakutkan itu datang ketika dari jauh kami melihat 
gelombang yang sangat tinggi, hampir tujuh meter. Inilah 
gelombang paling besar dalam badai ini. Kami gemetar dan 
berteriak histeris. Dalam waktu beberapa detik hentakan gelombang 
dahsyat itu menerjang perahu dan mematahkan tiang layar yang 
sedang kami pegang. Tiang itu patah dua dan bagian yang patah 
meluncur deras menuju buritan membingkas tiga keping papan di 



383 



Andrea Hirata 

lambung perahu sehingga kapal bocor dan air masuk berlimpah- 
limpah. Mujis, Mahar, dan orang Tionghoa yang berpegangan pada 
sisi belakang layar tertendang patahan tadi dan terpelanting ke gela- 
dak. Jika tak dihalangi tutup palka mereka sudah jadi santapan 
samudra. Mereka menjerit-jerit ketakutan, menimbulkan kepanikan 
yang mencekam. Aku berpikir inilah akhir hayatku, akhir hayat 
kami semua, laut ini akan segera memerah karena ikan-ikan hiu 
berpesta pora. Namun pada saat paling genting itu aku mendengar 
samar-samar suara orang berteriak. Rupanya syah bandar melepas- 
kan pegangannya dari tiang layar dan mengumandangkan azan 
berulang-ulang. Kami masih terlonjak-lonjak dengan hebat dan air 
mulai menggenangi geladak tapi lonjakan perahu tiba-tiba reda. 
Anehnya segera setelah azan itu selesai perlahan-lahan gelombang 
turun. Gelombang laut yang meluap-luap berbuih mengerikan tiba- 
tiba surut seperti dihisap kembali oleh awan yang gelap. Kami 
terkesima pada perubahan yang drastis. Ombak ganas menjadi 
semakin jinak. 

Hanya dalam waktu beberapa menit angin berhenti bertiup 
seperti kipas angin yang dimatikan. Badai yang mencekam nyawa 
lenyap seketika seperti tak pernah terjadi apa-apa. Tak lama 
kemudian seberkas sinar menyelinap di antara gumpalan awan 
hitam, mengintip-intip dari gumpalan-gumpalan kelam yang 
memudar. Meskipun kami tak tahu sedang berada di perairan mana 
namun kami bersyukur kepada Allah berulang-ulang, bahkan mena- 
ngis haru. Setidaknya harapan muncul kembali. Lalu kami bergegas 
menimba air yang memenuhi perahu. Permukaan laut yang luas tak 
terbatas menjadi amat tenang seperti permukaan danau. 

Kami memandang jauh ke laut dan tak berkata-kata karena 
masih gentar pada bencana yang baru saja mengancam. Flo terse- 



384 



Pufau Latum 

nyum puas. la telah membuktikan bahwa ketika maut tercekat di 
kerongkongannya ia tetap tak takut. Sebelum menemui Tuk Bayan 
Tula, ia telah mencapai salah satu tujuannya. Pengalaman seperti 
tadilah yang sesungguhnya ia cari. 

Awan perlahan-lahan menjadi gelap, bukan karena akan badai 
tapi karena senja telah turan. Nakhoda berusaha memperkirakan 
posisi kami. Ia membaca bulan dan bintang di atas langit yang cerah 
karena cahaya purnama hari kedua belas. Ia menghidupkan mesin 
dan perahu bergerak pelan menuju arah sesuai hempasan badai. 
Berarti badai tadi telah mambuang kami jauh tapi ke arah yang 
memang kami tuju. Tak lama kemudian nakhoda kembali memati- 
kan mesin. 

Beliau berjalan menuju haluan dan menyuruh kami diam. 
Pantulan sinar bulan berkilau-kilauan di permukaan laut lepas 
sejauh mata memandang. Perahu peian-pelan menembus benteng 
kabut yang tebal. Sunyi senyap seperti suasana danau di tengah 
rimba. Ada perasaan seram diam-diam menyelinap. 

Nakhoda mengawasi jaah ke depan dengan mata tajamnya yang 
terlatih. Kami cemas mengantisipasi bahaya lain yang akan datang, 
mungkin perompak, mungkin binatang yang besar, atau mungkin 
badai lagi. Kami metihat bayangan hitam gelap di depan kami tapi 
sangat tak jelas karena tertutup halimun yang semakin tebal. Kami 
ketakutan. Tiba-tiba nakhoda menunjuk lurus ke depan dan 
mengatakan sesuatu dengan suaranya yang serak. 

"Pulau Lanun!" 

Kami serentak berdiri terperangah dan tepat ketika beliau 
selesai menyebutkan nama pulau itu terdengarlah lolongan sege- 



385 



Andrea Hirata 

rombolan anjing melengking-lengking mendirikan bulu kuduk, 
seperti menyambut tamu tak diundang. 

Teronggok sepi seperti sebuah benda asing yang dikelilingi 
samudra, Pulau Lanun tampak kecil sekali. Ada puluhan pohon 
kelapa di sisi timurnya dan daun-daun kelapa itu berkilauan laksana 
lampu-lampu neon yang berkibar-kibar karena pantulan sinar 
purnama. Di tengah pulau tumbuh pohon-pohon besar yang 
rindang di antara ilalang dan bongkahan-bongkahan batu. Lolongan 
anjing semakin panjang dan menjadi-jadi ketika perahu menyelusuri 
naungan dahan-dahan bakau, mendekati Pulau Lanun. Pada bagian 
ini cahaya bulan tak tembus dan terang hanya kami dapat dari 
lampu pelita kecil yang berayun-ayun di tiang layar. Di bawah 
naungan daun-daun bakau itu kami disergap perasaan takut yang 
sulit dijelaskan. 

Di dalam hati aku mencoba merekonstruksi perasaan yang 
dialami utusan pawang angin tempo hari dan sejauh ini semuanya 
tepat. Mereka mengatakan nuansa magis mulai terasa ketika perahu 
mendekati pulau, hal itu benar. Saat perahu merapat rasanya 
tengkuk ditiup-tiup oleh angin yang jahat dari mulut ribuan hantu 
tak kasat mata yang membuntuti kami. Ada sebuah pengaruh mistis 
dan udara kuburan. Ada rasa kemurtadan, pengkhianatan, dan 
pembangkangan pada Tuhan. Ada jerit kesakitan dari binatang yang 
dibantai untuk ritual sesat dan tercium bau amis darah, bau mayat- 
mayat lama yang sengaja tak dikubur, bau asap dupa untuk 
memanggil iblis, dan bau ancaman kematian. 

Kabut yang beterbangan agaknya makhluk suruhan gentayang- 
an yang mengawasi setiap gerak-gerik kami. Bangkai-bangkai pera- 
hu perompak yang pemiliknya telah dipenggal Tuk Bayan Tula 
berserakan— hitam dan hangus. Pakaian-pakaian lengkap manusia 



386 



Pufau Latum 

memperlihatkan mayat mereka tak pernah diurus sang datuk. Jika ia 
ingin menyembelih kami tak ada hukum yang akan membela kami 
di sini. Kami seperti menyerahkan leher memasuki sumur sarang 
makhluk jadi-jadian karena tak mampu mengekang nafsu ingin 
tahu. 

Anjing-anjing yang melolong dalam kesenyapan malam tak 
tampak bentuknya. Kadang kala terdengar seperti bayi yang 
menangis atau nenek tua yang memohon ampun karena jilatan api 
neraka. Suara-suara ini mematahkan semangat dan menciutkan 
nyali. Sungguh besar sugesti Tuk Bayan Tula dan sungguh hebat 
pengaruh magis legendanya sebingga menciptakan kesan mencekam 
seperti ini. Saat itu kuakui bahwa beliau— apa pun bentuknya— 
memang orang yang berilmu sangat tinggi. Daya bius magis Tuk 
Bayan Tula menisbikan pengalaman bertaruh dengan maut ketika 
badai menghantam perahu kami beberapa waktu yang lalu. Seperti 
kharisma binatang buas yang membuat mangsanya tak berkutik 
sebelum diterkam, demikianlah kharisma Tuk BayanTula. 

Walaupun sinar purnama kedua belas terang tapi semuanya 
tampak kelam. Kami berjalan pelan beriringan menuju kelompok 
pohon-pohon rindang dan batu-batu tadi. Di situlah Tuk Bayan 
Tula, orang tersakti dari yang paling sakti, raja semua dukun, dan 
manusia setengah peri tinggal. Kami gemetar namun tampak jelas 
setiap anggota Societeit telah menunggu momen ini sepanjang 
hidupnya. 

Tiba-tiba, seperti dikomando, suara lolongan anjing berhenti, 
diganti oleh kesenyapan yang mengikat. Burung-burung gagak 
berkaok-kaok nyaring di puncak pohon bakau yang tumbuh subur 
sampai naik ke daratan. Suasana semakin seram ketika kami 
menerabas ilalang dan menjumpai beberapa punsuk menyembul- 



387 



Andrea Hirata 

nyembul seperti iblis bersembuyi di celah-celah perdu tebal. Punsuk 
adalah istilah orang Kek untuk menyebut gundukan tanah seperti 
makam-makam kuno. Punsuk selalu identik dengan rumah berbagai 
makhluk halus, lebih dari itu karena ia kelihatan seperti kuburan- 
kuburan Belanda, maka padang kecil ini terkesan sangat angker. 

Akhirnya, kami tiba di sebuah rongga yang disebut gua oleh 
utusan dulu. Gua itu adalah celah antara dua batu besar yang 
bersanding tidak simetris. Itulah rumah Tuk Bayan Tula. Kengerian 
semakin mencekam tapi apa pun yang terjadi semuanya telah 
terlambat karena kami melihat sebelas pelepah pinang tergelar di 
mulut rongga batu. Kami menjual dan datuk telah membeli. Kami 
telah disambut dan harus siap dengan risiko apa pun. 

Kami tak langsung duduk karena dilanda ketakutan apalagi di 
dalam gua terlihat kain tipis berkelebat lalu pelan-pelan seperti asap 
yang mengepul dari tumpukan kayu basah yang dibakar muncul 
sebuah sosok tinggi besar. Dengan mata kepalaku sendiri aku 
menyaksikan bahwa sosok itu tidak menginjak bumi. Ia seperti 
mengambang di udara, bergerak maju mundur seumpama benda tak 
berbobot. Belum pernah seumur hidupku menyaksikan pemandang- 
an seajaib itu. Dialah sang orang sakti, manusia setengah peri, Tuk 
Bayan Tula. 

Tanpa sempat kami berpikir tiba-tiba sosok itu melesat seperti 
angin dan telah berdiri tegap kukuh di depan kami. Kami 
terperanjat, serentak terjajar mundur, dan nyaris lari pontang- 
panting. Tapi kami menguatkan hati. Tuk Bayan Tula berada dua 
meter dari kami yang takzim mengelilinginya. Beliau adalah 
seseorang yang sungguh-sungguh mencitrakan dirinya sebagai 
orang sakti berilmu setinggi langit. Kain hitam melilit-lilit tubuhnya, 
parang panjangnya masih sama dengan cerita utusan dulu, rambut, 



388 



Pufau Latum 

kumis, dan jenggotnya lebat tak terurus, berwarna putih bercampur 
cokelat. Tulang pipinya sangat keras mengisyaratkan ia mampu 
melakukan kekejaman yang tak terbayangkan dan dan alisnya 
mencerminkan ia tak takut pada apa pun bahkan pada Tuhan. 
Namun, yang paling menonjol adalah matanya yang berkilat-kilat 
seperti mata burung, seluruhnya berwarna hitam. Sedikit banyak, 
apa pun yang akan terjadi, aku merasa beruntung pernah melihat 
legenda hidup ini. 

Tuk diam mematung. Seluruh anggota Societeit memandangi- 
nya. Bertarung nyawa ke pulau ini agaknya terbayar karena telah 
mehhat tokoh panutan mereka. Tak sedikit pun keramahan di- 
tunjukkan Tuk. Lalu beliau duduk dan kami juga duduk di sebelas 
pelepah pinang yang secara misterius telah beliau sediakan. Mahar 
tampak sangat terpesona dengan sang datuk, baginya ini mimpi 
yang menjadi kenyataan. Tapi ia masih tak berani mendekat karena 
takut. Maka Flo bangkit menghampiri Mahar, menarik tangannya, 
dan wanita muda luar biasa itu tanpa tedeng aling-aling menyeret 
Mahar menghadap datuk. 

Selanjutnya dengan amat berhati-hati Mahar berbisik pada sang 
datuk. Tuk memandang jauh ke samudra yang berkilauan tak peduli 
meskipun Mahar menceritakan bahaya maut yang kami alami untuk 
menjumpainya. Suara Mahar terdengar sayup-sayup 

"... ombak setinggi tujuh meter ...." 

"... badai ... angin puting beliung... tiang layar patah ... azan ...." 

Tuk Bayan Tula mendengarkan tanpa minat. Mahar melanjut- 
kan kisahnya hingga sampai kepada tujuan utama kedatangannya. 

"... saya dan Flo akan diusir dari sekolah ...." 



389 



Andrea Hirata 

"... sudah mendapat surat peringatan karena nilai-nilai yang 
merah...." 

"... minta tolong agar kami bisa lulus ujian ...." 

"... minta tolongDatuk, tak adalagi harapan lain...." 

"... dimarahi orangtua dan guru setiap had...." 

Kami diam seribu basa dan terus-menerus memandangi Tuk 
dari ujung kaki sampai ujung rambut. 

Tiba-tiba tak dinyana, Datuk memalingkan wajahnya pada 
Mahar dan Flo. Kedua anak nakal itu pucat pasi. Tuk memegang 
pundak Mahar sambil mengangguk-angguk. Mahar berseri-seri 
bukan main seperti korban longsor dicium presiden. Para anggota 
Societeit tampak bangga ketuanya disentuh dukun sakti pujaan hati 
mereka. Mahar mengerti apa yang harus dilakukan. la 
mengeluarkan sepucuk surat dan sebuah pena lalu menyerahkannya 
dengan penuh hormat pada Tuk. Datuk itu mengambilnya dan 
dengan kecepatan yang tak masuk akal beliau kembali masuk ke 
dalam gua. 

Selanjutnya terjadi sesuatu yang sangat aneh. Dari dalam gua 
terdengar suara keras bantingan-bantingan seperti sepuluh orang 
sedang berkelahi. Kami terlonjak dari tempat duduk, berkumpul 
rapat-rapat, mamandang waspada ke dalam gua. Kami mendengar 
suara auman seekor binatang buas bersuara menakutkan yang 
belum pernah kami dengar sebelumnya. 

Jelas sekali di dalam sana Tuk Bayan Tula sedang bertarung 
habis-habisan dengan makhluk-makhluk besar yang ganas. Rupanya 
untuk memenuhi permintaan Mahar beliau harus mengalahkan 
ribuan hantu. Seberkas penyesalan tampak di wajah Mahar. la tak 



390 



Pufau Latum 

sanggup menanggungkan beban jika tokoh kesayangannya harus 
tewas karena permohonannya. 

Debu mengepul dari pasir lantai gua karena makhluk-makhluk 
liar bergumul di dalamnya. Kami bergidik cemas tapi tak berani 
mendekat. Kami menunduk memejamkan mata membayangkan 
risiko maut. Lalu piring kaleng, panci, tulang-tulang ikan, 
tempurung kelapa, tungku, cangkir, cambuk, parang, dan sendok 
terlempar keluar gua dan berserakan di dekat kami. Di antara 
benda-benda itu terdapat primbon, penanggalan tradisional Bali, 
peta laut, dan beberapa kitab lama bertulisan tangan bahasa Melayu 
kuno danKek. 

Pertempuran demikian seru hingga akhirnya terdengar jeritan 
kekalahan. Lalu kami melihat puluhan sosok bayangan lelembut 
berbentuk seperti jasad terbungkus kain kafan hitam beterbangan 
melesat cepat keluar dari dalam gua menembus pucuk-pucuk pohon 
santigi menghilang ke arah laut. Anjing-anjing hutan kembali 
melolong agaknya lolongan anjing-anjing itu memaki-maki gerom- 
bolan hantu yang telah dikalahkan Tuk Bayan Tula. 

Tuk Bayan Tula kembali hadir di mulut gua dalam keadaan 
terengah-engah, compang-camping, dan berantakan. Aku sangat 
prihatin melihat orang sakti sampai terseok-seok seperti itu. Demi 
memenuhi permintaan Mahar dan Flo agar tak diusir dari sekolah 
beliau telah mempertaruhkan jiwa. 

Tuk mengangkat gulungan kertas pesannya tinggi-tinggi seakan 
mengatakan, "Lihatlah wahai manusia-manusia cacing tak berguna, 
siapa pun, kasat atau siluman tak 'kan sanggup melawanku. Aku 
telah membinasakan iblis-iblis dari dasar neraka untuk membuat 
keajaiban yang membalikkan hukum alam. Nilai-nilai ujianmu akan 



391 



Andrea Hirata 

melingkar sendiri dalam kegelapan untuk menyelamatkanmu di 
sekolah tua itu. Terimalah hadiahmu, karena engkau anak muda 
pemberani yang telah menantang maut untuk menemuiku ...." 

Tuk menyerahkan gulungan kertas itu yang disambut Mahar 
dengan kedua tangannya seperti gelandangan yang hampir mati 
kelaparan menerima sedekah. Mahar memasukkan gulungan kertas 
ke dalam tempat bekas bola badminton dengan amat hati-hati dan 
menutupnya rapat-rapat seperti arsitek menyimpan cetak biru 
bangunan rahasia tempat menyiksa aktivis. Kotak itu dimasukkan- 
nya ke dalam jaketnya. Tuk memberi isyarat agar kertas itu dibuka 
setelah kami tiba di rumah dan menunjuk ke perahu agar kami 
segera angkat kaki. Tak sempat kami mengucapkan terima kasih, 
secepat kilat, seperti angin Tuk Bayan Tula lenyap dari pandangan, 
sirna ditelan gelap dan asap dupa gua persemayamannya. 

Kami lari terbirit-birit menuju perahu. Nakhoda segera 
menghidupkan mesin. Kami langsung kabur pulang. Mahar meme- 
gangi kotak bola badminton di jaketnya tak lepas-lepas. Wajahnya 
senang bukan main. Flo juga tersenyum lega. Kertas itulah sertifikat 
asuransi pendidikan mereka. Kami semua sepakat akan membuka 
surat itu besok sepulang sekolah di bawahfilicium. 

Tengah hari itu banyak orang berkumpul di bawah pohon 
filicium. Seluruh teman sekelasku, seluruh anggota Societeit terma- 
suk nakhoda yang juga menyatakan minat mendaftar sebagai ang- 
gota baru, dan para utusan terdahulu yaitu dua orang dukun, kepala 
suku Sawang, dan seorang polisi senior. Karena berita kami me- 
ngunjungi Tuk Bayan Tula telah tersebar ke seantero kampung 
maka dalam waktu singkat reputasi Societeit melejit. Semua orang 
tahu betapa besarnya risiko mengunjungi Pulau Lanun, yaitu ombak 
yang ganas, ikan-ikan hiu, dan kekejaman Tuk Bayan Tula sendiri. 



392 



Pufau Latum 

Maka dalam pembukaan pesan Tuk siang ini banyak sekali yang 
hadir. Kulihat ada Tuan Pos, para calon anggota baru Societeit yang 
bersemangat karena reputasi baru organisasi, beberapa penjaga dan 
pemilik warung kopi, beberapa orang tukang gosip, tukang ikan, 
juragan-juragan perahu, dan beberapa penggemar paranormal 
tingkat pemula. 

Setelah seluruh guru pulang Mahar dan Flo keluar dari kelas 
dengan wajah berseri-seri. Langkahnya ringan karena beban hancur- 
nya nilai-nilai ulangan yang telah sekian lama menggelayut di 
pundak mereka akan segera sirna. Mereka yakin sekali pesan Tuk 
akan menyelamatkan masa depannya. Parapsikologi 2 , metafisika 3 , 
dan paranormal terbukti bisa memasuki area mana pun, demikian 
kesan di wajah keduanya. Lalu kesan lain: kalian boleh membaca 
buku sampai bola mata kalian meloncat tapi Tuk Bayan Tula akan 
membuat kami tampak lebih pintar, atau: belajarlah kalian sampai 
muntah-muntah dan kami akan terus mengembara mengejar pesona 
dunia gaib, tapi tetap naik kelas sampai tingkat berapa pun. 

Mahar dengan cermat mengeluarkan kotak bola badminton, ia 
membuka tutupnya pelan-pelan. Mengambil gulungan kertas itu 
dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Baginya itulah dokumen deklarasi 
kemerdekaan dirinya dan Flo dari penjajahan dunia pendidikan 
yang banyak menuntut. Mahar memegangi gulungan itu kuat-kuat 
dan sebelum membukanya ia memberikan sebuah pidato singkat: 

"Nasib baik memihak para pemberani!" 



2 Parapsikologi: cabang ilmu jiwa tentang hal-hal yang gaib atau di luar jangkauan 
pancaindra. 

3 Metafisika: ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hal-hal yang nonfisik atau 
tidak kelihatan. 



393 



Andrea Hirata 

Itulah pembukaan pidatonya, sangat filosofis seperti Socrates 
sedang memberikan pelajaran filsafat pada murid-muridnya. 
Anggota Societeit mengangguk-angguk setuju. 

"Inilah pesan yang kami dapatkan dengan susah payah. Kami 
mengikatkan diri pada tiang layar karena nyawa kami tinggal 
sejengkal dan kami memuntahkan cairan terakhir yang rasanya 
pahit untuk mendapatkan keajaiban ini!" 

Anggota Societeit bertepuk tangan bangga mendengar pidato 
hebat ketuanya. Demi menyaksikan pembukaan pesan ini sang teller 
BRI bolos kerja sedangkan bapak Tionghoa tukang sepuh emas 
menutup tokonya. Mahar melanjutkan pidato dengan berapi-api. 

"Kami rela menggadaikan harta benda kesayangan dan berani 
mengambil risiko dimusnahkan dari muka bumi oleh Tuk Bayan 
Tula, tapi akhirnya kami bisa membuktikan bahwa Societeit de 
Limpai bukan organisasi sembarangan!" 

Mahar berpidato penuh wibawa di hadapan para pengikutnya 
lalu seperti biasa ia mengeluarkan bahasa tubuhnya yang khas: 
menaikkan alis, mengangkat bahu, dan mengangguk-angguk. 

"Kami menyaksikan sendiri bahwa Tuk Bayan Tula bertempur 
habis-habisan untuk memberi kita pesan pada kertas ini!! Sebagai 
ketua Societeit, saya merasa mendapat respek dengan perlakuan 
beliau itu." 

Anggota Societeit kembali bertepuk tangan bergemuruh. Wajah 
Flo tampak semakin cantik ketika ia gembira. 

"Maka, inilah prestasi tertinggi Societeit de Limpai." 

Mahar mengangkat lagi gulungan kertas pesan Tuk Bayan Tula 
tinggi dan akan segera membukanya. 



394 



Pufau Latum 

Semua orang merubung ingin tahu. Beberapa peminat, terma- 
suk aku, sampai naik ke atas dahan-dahan rendah filicium agar dapat 
membaca pesan Tuk. Tangan Mahar gemetar memegang gulungan 
kertas keramat itu dan wajah Flo memerah menahan girang, ia 
melonjak-lonjak tak sabar menunggu kejutan yang menyenangkan. 
Semua orang merasa tegang dan sangat ingin tahu. Mahar perlahan- 
lahan membuka gulungan kertas itu dan di sana, di kertas itu tertulis 
dengan jelas: 

INILAH PESAN TUK-BAYAN-TULA 
UNTUK KALIAN BERDUA, 
KALAU INGIN LULUS UJIAN: 
BUKA BUKU, BELAJAR!! 



^S^zsQ^ 



395 



Jzfvis 7{as Left ike "Euifdmq 



KAMI sedang benci pada Samson karena sikapnya yang keras kepa- 
la. Kami berdebat hebat di bawah pohon filicium. Sembilan lawan 
satu. Tapi ia dengan konyol tetap memperjuangkan pendiriannya, 
tak mau kalah. 

Duduk perkaranya adalah semalam kami baru saja menonton 
film Pulau Putri yang dibintangi S. Bagyo. Di film itu S. Bagyo dkk. 
terdampar di sebuah pulau sepi yang hanya dihuni kaum wanita. 
Kerajaan— atau berarti lebih tepatnya keratuan— di pulau itu sedang 
diteror seorang nenek sihir berwajah seram. Jika ia tertawa, ingin 
rasanya kami terkencing-kencing. 

Kami menonton film yang diputar sehabis magrib itu di bioskop 
MPB (Markas Pertemuan Buruh) yang khusus disediakan oleh PN 
Timah bagi anak-anak bukan orang staf. Sebuah bioskop kualitas 
misbar dengan 2 buah pengeras suara lapangan merk TOA. Karena 
lantainya tidak didesain selayaknya bioskop maka agar penonton 



Andrea Hirata 

yang paling belakang tidak terhalang pandangannya, di bagian 
belakang disediakan bangku tinggi-tinggi. Dan kami, sepuluh 
orang— termasuk Flo— duduk berjejer di bangku paling belakang. 

Anak-anak orang staf menonton di tempat yang berbeda, nama- 
nya Wisma Ria. Di sana film diputar dua kali seminggu. Pe-nonton 
dijemput dengan bus berwarna biru. Tentu saja di bioskop itu juga 
terpampang peringatan keras "DILARANG MASUK BAGI YANG 
TIDAK MEMILIKI HAK". 

Kami tak menduga sama sekali kalau film yang berjudul indah 
Pulau Putri tersebut adalah film horor. Membaca judulnya kami 
pikir kami akan melihat beberapa putri cantik melumuri tubuhnya 
dengan semacam krim dan lari berlarian sambil tertawa cekikikan di 
pinggir pantai. 

"Asyik," kata Kucai berbinar-binar. 

Namun, perkiraan kami meleset. Baru beberapa menit film 
dimulai nenek sihir itu muncul dengan tawanya yang mengerikan. 
Yang cekikikan adalah kaum dedemit. S. Bagyo dan kawan-kawan 
lari terbirit-birit. Dari belakang aku dapat menyaksikan seluruh 
penonton, anak-anak kuli PN Timah, tiarap setiap nenek jahat itu 
muncul di layar. Beberapa anak perempuan menangis dan anak- 
anak lainnya ambil langkah seribu, kabur dari bioskop rombeng ini 
dan tak kembali lagi. 

Di deretan tempat dudukku kulihat Samson yang duduk di 
ujung kiri hampir sama sekali tidak menonton. la bersembunyi di 
ketiak Syahdan. Sebaliknya, Syahdan bersembunyi di ketiak A 
Kiong. A Kiong bersembunyi di ketiak Kucai, Kucai di ketiakku. 
Aku dan Trapani di ketiak Mahar. Trapani menjerit-jerit memanggil 



398 



Elvis Has Left The Buifding 

ibunya jika nenek sihir itu mengobrak-abrik kampung. Dan Mahar 
menunduk seperti orang mengheningkan cipta. 

Yang berdiri tegak tak bergerak hanya Harun, Sahara, dan Flo. 
Mereka tertawa terbahak-bahak melihat S. Bagyo pontang-panting 
dikejar setan. Jika S. Bagyo berhasil lolos mereka bertepuk tangan. 

Ketika pulang, kami bergandengan tangan. Ketika melewati 
kuburan, tangan Trapani sedingin es. 

Esoknya, saat istirahat siang Samson berkeras bahwa nenek sihir 
itulah yang diuber-uber oleh S. Bagyo. Kami semua protes karena 
ceritanya sama sekali tidak begitu. 

"Tahukah kau justru Bagyolah yang diuber-uber nenek sihir 
sepanjang film itu," Samson berkeras. 

"Mana mungkin," bantah Kucai. 

"Aku melihat sendiri kau menggigil ketakutan di bawah ketiak 
Syahdan," serang A Kiong. 

Samson masih berkelit, "Apa kau sendiri menonton? Setahuku 
hanya Sahara, Harun, dan Flo yang tak sembunyi." 

Sahara melirik kami dengan pandangan jijik, "Semua pria 
brengsek!" katanya ketus. 

Harun mengangguk-angguk mendukung mutlak pernyataan 
itu. 

"Biar kami hanya melirik sekali-sekali bukan berarti kami tak 
tahu jalan ceritanya," Mahar memojokkan Samson. 

Demi mendengar kata "melirik sekali-sekali" itu Sahara semakin 
jijik. 



399 



Andrea Hirata 

"Semua pria menyedihkan!" 

Samson membalas Mahar, "Ah.! Tahu apa kau soal film, urus 
saja jambulmu itu!" 

Kami semua tertawa geli, dan memang Mahar segera menyisir 
jambulnya. 

Kami semua terlibat perang mulut, kecuali Trapani, ia diam 
melamun. Belakangan ini Trapani semakin pendiam dan sering me- 
lamun. Aku paham apa yang terjadi. Samson malu mengakui bahwa 
ia bersembunyi di bawah ketiak Syahdan. Ia tak ingin citranya se- 
bagai pria macho hancur hanya karena ketakutan nonton sebuah 
film. Perilakunya itu persis kaum oportunis di panggung politik ne- 
geri ini. 

Perdebatan semakin seru. Diperlukan seorang penengah dengan 
wawasan dan kata-kata cerdas pamungkas untuk mengakhiri perse- 
teruan ini. Sayangnya si cerdas itu sudah dua hari tak tampak batang 
hidungnya. Tak ada kabar berita. 

Ketika esoknya Lintang tak juga hadir, kami mulai khawatir. 
Sembilan tahun bersama-sama tak pernah ia bolos. Saat ini sedang 
musim hujan, bukan saatnya kerja kopra. Bukan pula musim panen 
kerang, sementara karet telah digerus bulan lalu. Pasti ada sesuatu 
yang sangat penting. Rumahnya terlalu jauh untuk mencari berita. 



SEKARANG hari Kamis, sudah empat hari Lintang tak muncul 
juga. Aku melamun memandangi tempat duduk di sebelahku yang 
kosong. Aku sedih melihat dahan filicium tempat ia bertengger jika 



400 



Elvis Has Left The Buifding 

kami memandangi pelangi. la tak ada di sana. Kami sangat kehilang- 
an dan cemas. Aku rindu pada Lintang. 

Kelas tak sama tanpa Lintang. Tanpanya kelas kami hampa 
kehilangan auranya, tak berdaya. Suasana kelas menjadi sepi. Kami 
rindu jawaban-jawaban hebatnya, kami rindu kata-kata cerdasnya, 
kami rindu melihatnya berdebat dengan guru. Kami juga rindu ram- 
but acak-acakannya, sandal jeleknya, dan tas karungnya. 

Bu Mus berusaha ke sana sini mencari kabar dan menitipkan 
pesan pada orang yang mungkin melalui kampung pesisir tempat 
tinggal Lintang. Aku cemas membayangkan kemungkinan buruk. 
Tapi biarlah kami tunggu sampai akhir minggu ini. 

Senin pagi, kami semua berharap menjumpai Lintang dengan 
senyum cerianya dan kejutan-kejutan barunya. Tapi ia tak muncul 
juga. Ketika kami sedang berunding untuk mengunjunginya, se- 
orang pria kurus tak beralas kaki masuk ke kelas kami, menyampai- 
kan surat kepada Bu Mus. Begitu banyak kesedihan kami lalui 
dengan Bu Mus selama hampir sembilan tahun di SD dan SMP Mu- 
hammadiyah tapi baru pertama kali ini aku melihatnya menangis. 
Air matanya berjatuhan di atas surat itu. 

Ibunda guru, 

Ayahku telah meninggal, besok aku akan ke sekolah. 

Salamku, Lintang. 



SEORANG anak laki-laki tertua keluarga pesisir miskin yang 
ditinggal mati ayah, harus menanggung nafkah ibu, banyak adik, 



401 



Andrea Hirata 

kakek-nenek, dan paman-paman yang tak berdaya, Lintang tak 
punya peluang sedikit pun untuk melanjutkan sekolah. la sekarang 
harus mengambil alih menanggung nafkah paling tidak empat belas 
orang, karena ayahnya, pria kurus berwajah lembut itu, telah mati, 
karena pria cemara angin itu kini telah tumbang. Jasadnya di- 
makamkan bersama harapan besarnya terhadap anak lelaki satu- 
satunya dan justru kematiannya ikut membunuh cita-cita agung 
anaknya itu. Maka mereka berdua, orang-orang hebat dari pesisir 
ini, hari ini terkubur dalam ironi. 

Di bawah pohon filicium kami akan mengucapkan perpisahan. 
Aku hanya diam. Hatiku kosong. Perpisahan belum dimulai tapi 
Trapani sudah menangis terisak-isak. Sahara dan Harun duduk ber- 
gandengan tangan sambil tersedu-sedu. Samson, Mahar, Kucai, dan 
Syahdan berulang kali mengambil wudu, sebenarnya dengan tujuan 
menghapus air mata. A Kiong melamun sendirian tak mau digang- 
gu. Flo, yang baru saja mengenal Lintang dan tak mudah terharu 
tampak sangat muram. la menunduk diam, matanya berkaca-kaca. 
Baru kali ini aku melihatnya sedih. 

Kami melepas seorang sahabat genius asli didikan alam, salah 
seorang pejuang Laskar Pelangi lapisan tertinggi. Dialah ningrat di 
antara kami. Dialah yang telah menorehkan prestasi paling istimewa 
dan pahlawan yang mengangkat derajat perguruan miskin ini. 
Kuingat semua jejak kecerdasannya sejak pertama kali ia memegang 
pensil yang salah pada hari pertama sekolah, sembilan tahun yang 
lalu. Aku ingat semangat persahabatan dan kejernihan buah 
pikirannya. Dialah Newton-ku, Adam Smith-ku, Andre Ampere-ku. 

Lintang adalah mercu suar. Ia bintang petunjuk bagi pelaut di 
samudra. Begitu banyak energi positif, keceriaan, dan daya hidup 
terpancar dari dirinya. Di dekatnya kami terimbas cahaya yang 



402 



Elvis Has Left The Buifding 

masuk ke dalam rongga-rongga otak, memperjelas penglihatan 
pikiran, memicu keingintahuan, dan membuka jalan menuju pe- 
mahaman. Darinya kami belajar tentang kerendahan hati, tekad, dan 
persahabatan. Ketika ia menekan tombol di atas meja mahoni pada 
lomba kecerdasan dulu, ia telah menyihir kepercayaan diri kami 
sampai hari ini, membuat kami berani bermimpi melawan nasib, 
berani memiliki cita-cita. 

Lintang seumpama bintang dalam rasi Cassiopeia 1 yang mele- 
dak dini hari ketika menyentuh atmosfer. Ketika orang-orang masih 
lelap tertidur. Cahaya ledakannya menerangi angkasa raya, memberi 
terang bagi kecemerlangan pikiran tanpa seorang pun tahu, tanpa 
ada yang peduli. Bagai meteor pijar ia berkelana sendirian ke planet- 
planet pengetahuan, lalu kelipnya meredup dalam hitungan mundur 
dan hari ini ia padam, tepat empat bulan sebelum ia menyelesaikan 
SMP. Aku merasa amat pedih karena seorang anak supergenius, 
penduduk asli sebuah pulau terkaya di Indonesia hari ini harus 
berhenti sekolah karena kekurangan biaya. Hari ini, seekor tikus 
kecil mati di lumbung padi yang berlimpah ruah. 

Kami pernah tertawa, menangis, dan menari bersama di dalam 
lingkaran bayang kobaran api. Kami tercengang karena terobosan 
pemikirannya, terhibur oleh ide-ide segarnya yang memberontak, 
tak biasa, dan menerobos. Ia belum pergi tapi aku sudah rindu de- 
ngan sorot mata lucunya, senyum polosnya, dan setiap kata-kata 
cerdas dari mulutnya. Aku rindu pada dunia sendiri di dalam 
kepalanya, sebuah dunia kepandaian yang luas tak terbatas dan ke- 
rendahan hati yang tak bertepi. 



1 Cassiopeia: konstelasi bintang berbentuk seperti huruf "W" di belahan bumi utara, 
berada di dekat polaris. 



403 



Andrea Hirata 

Inilah kisah klasik tentang anak pintar dari keluarga melarat. 
Hari ini, hari yang membuat gamang seorang laki-laki kurus cemara 
angin sembilan tahun yang lalu akhirnya terjadi juga. Lintang, sang 
bunga meriam ini tak 'kan lagi melontarkan tepung sari. Hari ini aku 
kehilangan teman sebangku selama sembilan tahun. Kehilangan ini 
terasa lebih menyakitkan melebihi kehilangan A Ling, karena ke- 
hilangan Lintang adalah kesia-siaan yang mahabesar. Ini tidak adil. 
Aku benci pada mereka yang berpesta pora di Gedong dan aku benci 
pada diriku sendiri yang tak berdaya menolong Lintang karena 
keluarga kami sendiri melarat dan orangtua-orangtua kami harus 
berjuang setiap hari untuk sekadar menyambung hidup. 

Ketika datang keesokan harinya, wajah Lintang tampak hampa. 
Aku tahu hatinya menjerit, meronta-ronta dalam putus asa karena 
penolakan yang hebat terhadap perpisahan ini. Sekolah, kawan- 
kawan, buku, dan pelajaran adalah segala-galanya baginya, itulah 
dunianya dan seluruh kecintaannya. Suasana sepi membisu, suara- 
suara unggas yang biasanya riuh rendah di pohon filicium sore ini 
lengang. Semua hati terendam air mata melepas sang mutiara ilmu 
dari lingkaran pendidikan. Ketika kami satu per satu memeluknya 
tanda perpisahan, air matanya mengalir pelan, pelukannya erat 
seolah tak mau melepaskan, tubuhnya bergetar saat jiwa 
kecerdasannya yang agung tercabut paksa meninggalkan sekolah. 

Aku tak sanggup menatap wajahnya yang pilu dan kesedihanku 
yang mengharu biru telah mencurahkan habis air mataku, tak dapat 
kutahan-tahan sekeras apa pun aku berusaha. Kini ia menjadi tangis 
bisu tanpa air mata, perih sekali. Aku bahkan tak kuat mengucapkan 
sepatah pun kata perpisahan. Kami semua sesenggukan. Bibir Bu 
Mus bergetar menahan tangis, matanya semerah saga. Tak setitik 
pun air matanya jatuh. Beliau ingin kami tegar. Dadaku sesak mena- 



404 



Elvis Has Left The Buifding 

hankan pemandangan itu. Sore itu adalah sore yang paling sendu di 
seantero Belitong, dari muara Sungai Lenggang sampai ke pesisir 
Pangkalan Punai, dari Jembatan Mirang sampai ke Tanjong Pandan. 
Itu adalah sore yang paling sendu di seantero jagad alam. 

Saat itu aku menyadari bahwa kami sesungguhnya adalah 
kumpulan persaudaran cahaya dan api. Kami berjanji setia di bawah 
halilintar yang menyambar-nyambar dan angin topan yang mener- 
bangkan gunung-gunung. Janji kami tertulis pada tujuh tingkatan 
langit, disaksikan naga-naga siluman yang menguasai Laut Cina 
Selatan. Kami adalah lapisan-lapisan pelangi terindah yang pernah 
diciptakan Tuhan. 



405 



Uvta Mas tahun k&mudian 



Zaaffeafu 



SEORANG wanita setengah baya berjalan dengan seorang pria ber- 
nama Dahroji, menghampiriku. Masalah! Pasti masalah lagi! 

"Kalau Nyonya mau marah, tumpahkan pada laki-laki berantak- 
an ini," kata Dahroji. la pergi menahan murka. 

Wanita itu mengamatiku baik-baik. Dandanannya, huruf "r" dan 
"g" yang keluar dari tenggorokannya, tarikan alisnya serta gayanya 
memandang, mengesankan ia pernah sekian lama tinggal di luar nege- 
ri dan ia muak dengan semua ketidakefisienan di negeri ini. 

Agaknya ia memiliki masalah yang sangat gawat. Ya, memang 
gawat, surat restitusi bea masuk lukisan dari luar negeri yang dikirim 
oleh kantor Duane terlambat ia terima karena aku salah sortir. Seharus- 
nya ia masuk kotak Ciawi tapi aku tak sengaja melemparkannya ke 
lubang Gunung Sindur. Human error] 



Andrea Hirata 

Telah tiga kali aku keliru minggu ini. Alasanku karena overload. 
Dahroji, ketua ekspedisi, tak mau tahu kesulitanku. Volume surat 
meningkat tajam dan banyak perluasan wilayah yang membuka wijk 
baru yang tak kukenal. Aku memandang kuyu pada tiga karung surat 
bercap Union Postale Universele ketika nyonya yang masih seksi itu 
komplain. Sejenak aku benci pada hidupku yang kacau balau. Salah 
satu ciri hidup yang tak sukses adalah menerima semprotan pelanggan 
sebelum sempat sarapan pagi. Tapi sekian lama bekerja di sini aku telah 
terlatih memadamkan sementara fungsi gendang telinga. Maka madam 
itu hanya kulihat bergetar-getar seperti Greta Garbo dalam film bisu 
hitam putih. 

"Hoe vaak moet ik je dat nog zeggenW" hardiknya sambil mele- 
ngos pergi. Benar kan kataku? Kira-kira maksudnya: 'saya sudah kom- 
plain berapa kali masih saja keliru' 

Dan kembali aku termangu-mangu menatap tiga karung surat 
tadi. Setelah terpuruk akibat dikhotbahi nyonya itu aku masih harus 
bekerja keras menyortir semuanya karena pukul delapan seluruh peng- 
antar kilat khusus termin pertama akan berangkat dan karena aku ada- 
lah pegawai pos, tukang sortir, bagian kiriman peka waktu, shift pagi, 
yang bekerja mulai subuh. 

Aku sengsara batin karena ironi dalam hidupku. Rencana A-ku 
dua belas tahun yang lalu untuk menjadi seorang penulis dan pemain 
bulu tangkis ternama telah lenyap, kandas di dalam kotak-kotak sor- 
tir surat. Bahkan rencana B-ku, yaitu menjadi penulis buku tentang bulu 
tangkis dan kehidupan sosial, juga telah gagal— meskipun di dalam hati aku 
masih menyimpan komentar-komentar manis para mantan kampiun bulu 
tangkis. 



408 



ZaafBatu 

Buku itu sebenamya telah selesai kutulis, tidak tanggung-tanggung, 
seluruhnya mencapai 34 bab dan hampir 100.000 kata. Untuk menulisnya 
aku telah melakukan riset yang intensif di federasi bulu tangkis dan komite 
olahraga nasional serta mengamati kehidupan sosial beberapa mantan 
pemain bulu tangkis terkenal. Aku juga mempelajari budaya pop serta tren 
terbaru pengembangan kepribadian. Tapi para penerbit tak sudi mener- 
bitkan bukuku ber-dasarkan pertimbangan komersial. Mereka lebih 
tertarik pada karya-karya sastra cabul, yaitu buku-buku yang penuh tulis- 
an jorok seperti kondom, masturbasi, dan orgasme karena buku-buku se- 
macam itu lebih mendatangkan keuntungan. Mereka, para penerbit itu, 
telah melupakan prinsip-prinsip men sana in corpore sano. 

Aku berusaha membesarkan hati dengan berpretensi me-nyama- 
nyamakan diriku dengan John Steinbeck yang tujuh kali ditolak penerbit 
tapi akhirnya bisa mengantongi Pulitzer. Aku juga tak keberatan menjadi 
Mary Shelley yang hanya pernah sekali menulis buku Frankenstein lalu 
hilang dalam kejayaan. Aku harap bukuku: Bulu Tangkis dan Pergaulan 
dapat menjadi sebuah karya fenomenal yang dikenang orang sepanjang 
masa. Setidaknya itulah sumbang-anku untuk kemanusiaan. Namun 
bagaimanapun aku berusaha me-nguatkan diri, kenyataannya aku 
hampir mati lemas ditumpuki kegagalan demi kegagalan. Bagaimana- 
pun dulu Pak Harfan dan Bu Mus mengajariku agar tak gentar pada 
kesulitan apa pun, namun pada titik ini dalam hidupku ternyata 
nasib telah menghantamku dengan technical knock out. 

Pada suatu dini hari yang paling frustrasi, di bawah hujan deras, 
aku menumpuk empat bendel master tulisanku beserta enam buah 
disket. Tumpukan itu kusimpul mati dengan tali jalin dan pemberat 
setengah kilo berupa segel timah plombir untuk mengikat kantong 
pos. Aku berlari menuju Jembatan Sempur lalu buku bulu tangkis 
rencana B-ku itu, buku bergenre humaniora itu — sambil memejam-kan 



409 



Andrea Hirata 

mata dengan hati yang redam — kulemparkan ke dasar Kali Ciliwung. 
Jika tak tersangkut di celah batu-batu di dasar kali maka buku itu 
akan terapung-apung bersama banjir kiriman ke Jakarta, hanyut 
terombang-ambing bersama cita-citaku. 

Aku ingin melarikan diri ke satu-satunya tempatyang paling indah 
dalam hidupku, yang telah kukenal sejak belasan tahun yang lalu. 
Sebuah desa cantik dengan taman bunga, pagar-pagar batu kelabu 
yang mengelilinginya, dan jalan setapak yang ditudungi untaian 
dahan-dahan prem. Itulah Edensor, eden berarti surga, nirwana pelari- 
an dalam otak kecilku dari buku Herriot yang sangat kumal karena 
telah puluhan kali kubaca. Semakin sukar hidupku, semakin sering aku 
membacanya. Sayangnya aku tak bisa ke Edensor karena sampai hari 
ini tempat itu masih tetap hanya ada dalam khayalanku. 

Setiap pulang kerja aku sering duduk melamun di pokok pohon 
randu, di pinggir Lapangan Sempur, dekat kamar kontrakanku. Meng- 
hadap ke Kali Ciliwung aku memprotes Tuhan: 

"Ya, Allah, bukankah dulu pernah kuminta jika aku gagal menjadi 
penulis dan pemain bulu tangkis maka jadikan aku apa saja asal bukan 
pegawai pos! Dan jangan beri aku pekerjaan mulai subuh ...!!" 

Tuhan menjawab doaku dulu persis sama seperti yang tak ku- 
minta. Begitulah cara Tuhan bekerja. Jika kita menganggap doa dan 
pengabulan merupakan variabel-variabel dalam sebuah fungsi linier 
maka Tuhan tak lain adalah musim hujan, sedikit banyak kita dapat 
membuat prediksi. Kuberi tahu Kawan, cara bertindak Tuhan sangat 
aneh. Tuhan tidak tunduk pada postulat dan teorema mana pun. 
Oleh karena itu, Tuhan sama sekali tak dapat diramalkan. 

Maka inilah aku sekarang. Dalam asumsi yang konservatif petugas 
biro statistik menyebut orang sepertiku sebagai mereka yang bekerja 



410 



ZaafBatu 

pada sektor jasa, mengonsumsi di bawah 2.100 kalori setiap hari, 
dan berada dekat sekali dengan garis miskin. Miskin, kata itu demikian 
akrab sepanjang hidupku, bagaikan sahabat baik, seperti mandi pagi. 
Sebenarnya sepanjang waktu aku meloncat-loncat di antara garis 
miskin itu, tergantung jam lembur yang diberikan Dahroji. Jika aku 
banyak lembur maka bulan itu mereka dapat mempertimbangkanku 
dalam lapisan berpenghasilan menengah ke bawah. Toh orang-orang 
statistik itu tidak membuat parameter waktu bagi setiap kategori. Tapi 
singkatnya begini saja, aku adalah bagian dari 57% rakyat miskin yang 
ada republik ini. 

Hidup membujang, mandiri, terabaikan, bekerja sepuluh jam 
sehari, kisaran usia 25-30 tahun, itulah demografi yang aku wakili. Secara 
psikografi identitasku adalah pria yang kesepian. Orang marketing 
melihatku sebagai target market produk-produk minyak rambut, deo- 
doran, peninggi tubuh, peramping perut buncit, atau apa saja yang 
berkenaan dengan upaya peningkatan kepercayaan diri. Dunia tak mau 
peduli padaku, dan negara hanya mengenalku melalui sembilan digit 
nomor, 967275337, itulah nomor induk pegawaiku. 

Tak ada bahagia pada pekerjaan sortir. Pekerjaan ini tidak ter- 
masuk dalam profesi yang ditampilkan murid-murid SD dalam karnaval. 
Setiap hari berkubang dalam puluhan kantong pos dari negeri antah 
berantah. Masa depan bagiku adalah pensiun dalam keadaan miskin 
dan rutin berobat melalui fasilitas Jamsostek, lalu mati merana sebagai 
orang yang bukan siapa-siapa. 

Setelah usai bekerja aku terlalu lelah untuk bersosialisasi. Aku 
menderita insomnia. Setiap malam antara tidur dan terjaga aku terhip- 
notis cerita wayang golek dan suara kemerosok radio AM. Aku bangun 
pagi-pagi buta ketika orang-orang Bogor masih meringkuk di tempat 
tidur mereka yang nyaman. Aku merangkak-rangkak kedinginan, 



411 



Andrea Hirata 

terseok-seok menuju kantor pos melewati bantaran Kali Ciliwung 
yang masih diliputi kabut untuk kembali menyortir ribuan surat. Saat 
orang-orang Bogor bangun dan mengibas-ngibaskan koran pagi di 
depan teh panas dan tangkupan roti, aku juga sarapan makian dari 
madam Belanda tadi. Itulah. hidupku sekarang, masa depanku tak 
jelas dan aku sudah tak punya konsep lagi tentang masa depan. 
Semuanya serba tak pasti. Yang kutahu pasti cuma satu hal: aku telah 
gagal. Aku mengutuki diri sendiri terutama ketika apel Korpri tanggal 
17. 

Hanya Eryn Resvaldya Novella satu-satunya hiburan dalam 
hidupku. la cerdas, agamais, cantik, dan baik hati. Usianya 21 tahun. 
Belakangan aku memanggilnya awardee karena ia baru saja menerima 
award sebagai mahasiswa paling bermutu di salah satu universitas 
paling bergengsi di negeri ini di kawasan Depok Ia mahasiswa uni- 
versitas itu, jurusan psikologi. Ayah Eryn, abangku, terkena PHK dan 
aku mengambil alih membiayai sekolahnya. 

Lelah seharian bekerja lenyap jika melihat Eryn dan semangat 
belajarnya, jiwa positifhya, dan intelegensia yang terpancar dari sinar 
matanya. Aku rela kerja lembur berjam-jam, membantu menerjemahkan 
bahasa Inggris, menerima ketikan, dan berkorban apa saja — termasuk 
baru-baru ini menggadaikan sebuah tape deck, hartaku yang pa- 
ling berharga— demi membiayai kuliahnya. Pengalaman dengan Lintang 
telah menjadi trauma bagiku. Kadang-kadang aku bekerja begitu ke- 
ras demi Eryn untuk menghilangkan perasaan bersalah karena tak 
mampu membantu Lintang. Eryn menimbulkan semacam perasa- 
an bahwa semenyedihkan apa pun, hidupku masih berguna. Tak ada 
yang dapat dibanggakan dalam hidupku sekarang, tapi aku ingin men- 
dedikasikannya pada sesuatu yang penting. Eryn adalah satu-satunya 
arti dalam hidupku. 



412 



ZaafBatu 

Saat ini Eryn sedang panik karena proposal skripsinya berulang kali 
ditolak. Sudah belasan kali hal ini terjadi. Sejak kuliahnya selesai se- 
mester lalu ia telah menghabiskan waktu lima bulan hanya untuk 
mencari topik skripsi yang bermutu. Bersama surat penolakan itu 
pembimbingnya melampirkan lima belas lembar kertas berisi judul 
skripsi yang pernah ditulis. Aku melirik, benar saja, sudah tiga puluh 
orang yang menulis tentang personality disorder, puluhan lainnya 
menulis topik tentang kepuasan kerja, down syndrome, dan metode 
konseling anak. Tak terhitung yang telah menulis skripsi mengenai 
autisme. 

Pembimbingnya menuntut Eryn menulis sesuatu yang baru, 
berbeda, dan mampu membuat terobosan ilmiah ka-rena ia adalah 
mahasiswa cerdas pemenang award. Aku setuju dengan pandangan 
itu. Eryn sebenarnya telah memiliki konsep tentang sesuatu yang 
berbeda itu. Dari pembicaraannya yang meluap-luap aku menangkap 
bahwa ia telah mempelajari suatu gejala psikologi di mana seorang 
individu demikian tergantung pada individu lain sehingga tak bisa me- 
lakukan apa pun tanpa pasangannya itu. Kemudian ia pun mengajukan 
tema tersebut, pembimbingnya setuju. 

Masalahnya adalah gejala seperti itu sangat jarang terjadi se- 
hingga Eryn tak kunjung mendapatkan kasus. Memang terdapat be- 
berapa kasus dependensi tapi intensitasnya rendah, gejala sehari-hari 
saja yang tidak memerlukan perawatan khusus sehingga dianggap ku- 
rang memadai untuk analisis mendalam. Eryn mencari sebuah kasus 
ketergantungan yang akut. 

la telah berkorespondensi dengan puluhan psikolog, psikiater, 
dosen-dosen universitas, lembaga-lembaga yang menangani kesehatan 
mental, dan para dokter di rumah sakit jiwa di seluruh negeri, tapi 



413 



Andrea Hirata 



hampir empat bulan berlalu kasusnya tak kunjung ditemukan. Eryn 
mulai frustrasi. 

Namun agaknya nasib menyapa Eryn hari ini. Ketika menyortir 
aku menemukan sepucuk surat yang ditujukan ke kontrakanku. Surat 
untuk Eryn dengan sampul resmi yang bagus sekali, dari sebuah ru- 
mah sakit jiwa di Sungai Liat, Bangka. 

"Awarded Seseorang dari rumah sakit jiwa agaknya jatuh hati 
padamu ...," kataku setiba di ramah kontrakanku. 

la merampas surat dari tanganku, membacanya sekilas, lalu 
meloncat-loncat gembira. 

"Alhamdullilah, finally! Cicik (paman), kita akan berangkat ke 
Sungai Liat!" 

Eryn telah menemukan kasusnya. Seorang dokter senior — profesor 
tepatnya— yang menjadi staf ahli di rumah sakit jiwa Sungai Liat mem- 
beri tahu bahwa kasus langka yang dicari Eryn ditemukan di sana. Dok- 
ter itu juga mengatakan bahwa kasus itu banyak diincar para ilmuwan, 
termasuk beberapa kandidat Ph.D. untuk diteliti, tapi Eryn dipriori- 
taskan karena prestasi kuliahnya. 

Eryn memintaku cuti untuk mengantarnya ke rumah sakit jiwa itu. 
Apa dayaku menolak, bukankah semuanya memang untuk mendu- 
kung dirinya. Lagi pula Sungai Liat ada di Pulau Bangka, tetangga Pulau 
Belitong. Kami akan sekalian pulang kampung setelah ia riset. 

Rumah sakit jiwa Sungai Liat sudah sangat tua. Orang Belitong me- 
nyebutnya Zaal Batu. Barangkali zaman dulu dinding ruang perawat- 
annya adalah batu. Karena di Belitong tidak ada rumah sakit jiwa— bah- 
kan sampai sekarang— maka orang Belitong yang mentalnya sakit 
parah sering dikirim melintasi laut ke rumah sakit jiwa ini. Karena itu 



414 



ZaafBatu 

Zaal Batu bagi orang Belitong selalu memberi kesan sesuatu yang mendiri- 
kan bulu kuduk, kelam, sakit, dan putus asa. 



SORE itu mendung ketika kami tiba di Zaal Batu. Suara azan 
ashar bersahut-sahutan lalu sepi pun mencekam. Kami memasuki ge- 
dung tua berwarna serba putih dengan plafon tinggi dan pilar-pilar. 
Lalu kami melewati sebuah selasar panjang berlantai ubin tua ber- 
warna cokelat dan bermotif jajaran genjang simetris. 

Beberapa jambangan bunga model lama— gaya Belanda— bederet- 
deret di sepanjang selasar itu. Pemandangan lainnya tak berbeda de- 
ngan rumah sakit jiwa lainnya Pintu-pintu besi dengan gembok besar, 
kamar obat berisi botol-botol pendek, bau karbol, meja beroda, para 
perawat yang berpakaian serba putih, dan para pasien yang berbicara 
sendiri atau memandang aneh. Terdengar lamat-lamat suara cekikikan 
dan teriakan beberapa kelompok pasien yang sedang bercanda dengan 
para perawat di halaman rumah sakit yang luas. 

Setelah melewati selasar kami berhadapan dengan sebuah pintu 
jeruji yang dikunci dengan lilitan rantai dan digembok. Kami terhenti 
di situ. Seorang perawat pria tergopoh-gopoh menghampiri kami. la 
tahu kami sedang ditunggu, ia membuka pintu. Kami masuk melintasi 
sebuah ruangan panjang. Ruangan yang terkunci rapat ini menampung 
beberapa pasien. Mereka mengikuti gerak-gerik kami dengan teliti. 

Eryn tak berani jauh-jauh dari perawat tadi. Aku tak takut tapi 
sedih melihat penderitaan jiwa mereka. Suasana di sini mencekam. 
Banyak pasien berusia lanjut dan meskipun kelihatan sehat tapi kita 
segera tahu bahwa orang-orang ini sangat terganggu kewarasannya. 
Pandangan matanya penuh tekanan, kesedihan, dan beban. Beberapa 



415 



Andrea Hirata 

di antaranya bersimpuh di lantai atau mengguncang-guncang jerejak 
besidijendela. 

Aku memerhatikan beberapa wajah para pasien di balik 
batangan jeruji besi. Perlahan-lahan batangan jeruji itu bergerak sen- 
diri berselang-seling. Wujudnya menjelma menjadi puluhan pasang 
kaki manusia. Di sela-sela kaki itu kulihat wajah yang telah sangat lama 
kukenal. Kesedihan rumah sakit jiwa ini membuka ruangan gelap di 
kepalaku tempat Bodenga bersembunyi. 

Kami kembali terhenti di depan sebuah pintu besi. Kali ini pintu 
besi dua lapis. Setelah rantai dibuka kami memasuki ruangan berupa 
lorong yang panjang. Sisi kiri kanan lorong adalah kamar-kamar pera- 
watan. Suasana di lorong ini sunyi senyap. Sebagian besar kamar ko- 
song dengan pintu terbuka. Kamar yang diisi pasien tertutup rapat 
Lamat-lamat terdengar suara orang meratap dari balik pintu-pintu 
tertutup itu. 

Aku mendengar suara langkah sepatu yang bergema dalam kesepi- 
an ruangan. Seorang pria berusia enam puluhan mendekati kami. Beliau 
tersenyum. Wajahnya tenang, bersih, dan bening, tipikal wajah yang 
sering tersiram air wudu. Jemari tangannya menggulirkan biji-biji 
tasbih, beliau mengucapkan asma-asma Allah, beliau membuatku sa- 
ngat segan, seorang intelektual yang rendah hati sekaligus yang taat 
beragama. Profesor ini memiliki dua kualitas agung tersebut. De- 
ngan sangat santun beliau menyatakan terima kasih atas kedatangan 
kami. Namanya Profesor Yan. 

"Ini kasus mother complex yang sangat ekstrem ...," kata profesor 
itu dengan suara berat, itu seakan ikut merasakan penderitaan 
pasiennya. 



416 



ZaafBatu 

"Tiga puluh delapan tahun di bidang ini baru kali ini aku menjum- 
pai hal semacam ini. Anak muda ini sedikit pun tak bisa lepas dari 
ibunya. Jika bangun tidur tidak melihat ibunya ia menjerit-jerit histeris. 
Ketergantungan yang kronis ini menyebabkan ibunya sendiri seka- 
rang hampir terganggu jiwanya. Mereka telah menghuni tempat ini 
hampir selama enam tahun ...." 

Aku tersentak miris mendengar penjelasan beliau. Eryn sendiri terpe- 
ranjat. Ia berusaha menguatkan diri mendengar kenyataan yang meng- 
hancurkan hati itu. Aku menatap wajah Profesor Yan. Ia adalah dok- 
ter jiwa yang amat berpengalaman tapi jelas ia prihatin dan terpenga- 
ruh dengan kasus ini. Di sisi lain aku kagum pada psikologi dan orang- 
orang yang mendedikasikan hidupnya pada bidang ini. 

Penjelasan Profesor Yan melekat dalam pikiranku. Aku merinding 
karena merasa getir pada nasib anak beranak itu. Anak muda yang 
malang. Ibunya yang tadinya sehat terpaksa hidup tidak normal. 
Orangtua mana yang mampu menolak kasih sayang anaknya, meski- 
pun rasa sayang itu berlebihan? Mungkin ia lebih rela gila daripada 
membiarkan anaknya berteriak-teriak memerlukannya sepanjang waktu. 
Mereka berdua pasti amat menderita. Enam tahun terpuruk di sini, 
betapa mengerikan. Kadang-kadang nasib bisa demikian kejam pada 
manusia. Siapakah anak beranak yang malang itu? 

Profesor Yan membimbing kami menyelusuri lorong tadi menuju 
sebuah pintu paling ujung. Di sana ada ruangan terpencil dan menyen- 
diri. Beliau membuka pintu pelan-pelan. Aku gugup membayangkan 
pemandangan yang akan kulihat. Akankah aku kuat menyaksikan pen- 
deritaan seberat itu? Apa sebaiknya aku menunggu di luar saja? Tapi 
Profesor Yan telanjur membuka pintu. Engsel pintu berdecit panjang, 
menimbulkan rasa gamang. 



417 



Andrea Hirata 

Kami berdiri di ambang pintu. Ruangan itu luas, tak berjendela, 
dan dindingnya polos tinggi berwarna putih. Tak ada lukisan atau 
jambangan bunga. Begitu sepi, tak ada suara satu pun. Penerangan 
hanya berasal dari sebuah bohlam dengan kap rendah sehingga plafon 
menjadi gelap. Ruangan ini suram, penuh nuansa kepedihan dan kepu- 
tusasaan. Dalam sorot lampu tak tampak perabot apa pun kecuali sebuah 
bangku panjang kecil nun jauh di sudut ruangan. 

Dan di bangku panjang itu, kira-kira lima belas langkah dari kami, 
duduk berdua rapat-rapat kedua makhluk malang itu, seorang ibu dan 
anaknya. Gerak-gerik mereka gelisah, seperti tempat itu sangat asing 
dan mengancam mereka. Mereka seakan memelas, memohon agar disela- 
matkan. 

Dalam cahaya lampu yang samar tampak sang anak berpostur 
tinggi dan sangat kurus, rambutnya panjang dan menutupi sebagian 
wajahnya. Jambang, alis, dan kumisnya tebal tak teratur. Kulitnya putih. 
Air mukanya menimbulkan perasaan iba yang memilukan. la berpakaian 
rapi, bajunya adalah kemeja putih lengan panjang, celananya berwarna 
gelap, dan sepatu kulitnya bersih mengjlap. Usianya kurang lebih tiga 
puluhan. la ketakutan. Sorot matanya yang teduh melirik ke kiri dan ke 
kanan. la gugup dan sering menarik napas panjang. 

Ibunya kelihatan puluhan tahun lebih tua dari usia sesung- 
guhnya. Pancaran matanya menyimpan kesakitan yang parah dan 
caranya menatap menjalarkan rasa pedih yang dalam. Lingkaran di 
sekeliling matanya berwarna hitam dan ia amatlah kurus. Daya hidup 
telah padam dalam dirinya. Ia memakai sandal jepit yang kebesaran 
dan tampak menyedihkan. Wajahnya jelas memperlihatkan kerisauan 
yang amat sangat dan tekanan jiwa yang tak tertahankan. 



418 



ZaafBatu 

Mereka berdua melihat kami sepintas-sepintas tapi kebanyakan 
menunduk. Sang anak mengapit lengan ibunya. Ketika kami masuk, 
ia semakin merapatkan dirinya pada ibunya. Aku tak sanggup 
menanggungkan pemandangan memilukan ini. Tanpa kusadari air 
mataku mengalir. Eryn pun ingin menangis tapi ia berupaya keras 
menjaga sikap profesional sebagai seorang peneliti. Aku tak tahan 
melihat anak beranak dengan cobaan hidup seberat ini. Mereka 
seperti dua makhluk yang terjerat, cidera, dan tak berdaya. Aku minta 
diri keluar dari ruangan yang menyesakkan dada itu. 

Hampir selama satu setengah jam Eryn dibantu oleh profesor yang 
baik itu dalam melakukan semacam wawancara pendahuluan dengan 
kedua pasien malang itu. Dari pintu yang terbuka aku dapat melihat 
mereka berempat duduk di bangku tersebut. Kedua pasien itu masih 
terlihat gelisah. 

Kemudian wawancara pun selesai dan Eryn memberi isyarat 
padaku untuk berpamitan pada ibu dan anak itu. Aku masuk lagi ke 
ruangan, mencoba tersenyum seramah mungkin walaupun hatiku 
hancur membayangkan penderitaan mereka. Aku menyalami kedua- 
nya. Kali ini Eryn tak sanggup menahan air matanya. Lalu pelan-pelan 
kami pamit keluar ruangan. 

Profesor Yan dan Eryn berjalan di depanku. Mereka terlebih 
dahulu keluar ruangan, sementara aku yang keluar terakhir meraih 
gagang pintu dan menutupnya. Tepat pada saat itu aku terperanjat ka- 
rena mendengar seseorang memanggil namaku. 

"Ikal...," suara lirih itu berucap. 

Eryn dan Profesor Yan kaget. Mereka terheran-heran, apalagi aku. 
Kami saling berpandangan. Tak ada orang lain di ruangan itu kecuali 
kami bertiga dan kedua makhluk malang tadi. Dan jelas suara itu 



419 



Andrea Hirata 

berasal dari ruangan yang baru saja kututup. Kami berbalik, tapi ragu, 
maka aku tak segera membuka pintu. 

"Ikal...," panggilnya lagi. 

"Mereka memanggil Cicik!" teriak Eryn menatapku takjub. 

Salah seorang dari pasien itu jelas memanggilku. 

Aku memutar gagang pintu dan menghambur ke dalam. Kuham- 
piri mereka dengan hati-hati. Dalam jarak tiga meter aku berhenti. 
Mereka berdua bangkit. Aku mengamati mereka baik-baik, berusaha 
keras mengenali kedua tubuh ringkih yang berdiri saling menceng- 
keram lengan masing-masing dengan jari-jari yang kurus tak tera- 
wat. Rambut sang ibu yang kelabu terjuntai panjang semrawut menu- 
tupi kedua matanya yang cekung dan berwarna abu-abu. Pipi anaknya 
basah karena air mata yang mengalir pelan. Air matanya itu berjatuh- 
an ke lantai. Bibirnya yang pucat bergetar mengucapkan namaku ber- 
kali-kali, seakan ia telah bertahun-tahun menungguku, tangannya men- 
jangkau-jangkau. Ibunya terisak-isak dan menutup wajah dengan ke- 
dua tangannya. Aku tak mampu berkata apa pun dan masih diliputi 
tanda tanya. Namun, tepat ketika aku maju selangkah untuk meng- 
amati mereka lebih dekat si anak menyibakkan rambut panjang yang 
menutupi wajahnya dan pada saat itu aku tersentak tak alang kepa- 
lang. Aku terkejut luar biasa. Kurasakan seluruh tubuhku menggigil. 
Rangka badanku seakan runtuh dan setiap persendian di tubuhku se- 
akan terlepas. Aku tak percaya dengan pemandangan di depan mata- 
ku. Aku merasa kalut dan amat pedih. Aku ingin berteriak dan mele- 
dakkan tangis. Aku mengenal dengan baik kedua anak beranak yang 
malang ini. Mereka adalah Trapani dan ibunya. 



420 






Satu titik dalam relativitas waktu: 
Saat inilah masa depan itu 

TOKO Sinar Harapan tak banyak berubah, masih amburadul seperti 
dulu. Ketika bus reyot yang membawaku pulang kampung melewati 
toko itu, di sebelahnya aku melihat toko yang bernama Sinar 
Perkasa. Di situ ada seorang laki-laki yang menarik perhatianku. Pria 
itu agaknya seorang kuli toko. Badannya tinggi besar dan rambutnya 
panjang sebahu diikat seperti samurai. Lengan bajunya digulung 
tinggi-tinggi. la sengaja memperlihatkan otot-ototnya. Tapi wajah- 
nya sangat ramah dan tampaknya ia senang sekali menunaikan 
tugasnya. Belanjaan yang dipanggul kuli ini tak tanggung-tanggung: 



1 Agnostik: orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi (Tuhan) tidak dapat 
diketahui dan mungkin tidak akan dapat diketahui. Orang seperti ini percaya bahwa 
Tuhan ada tapi tak mau memeluk agama apapun. Agnotisisme tumbuh subur di 
Belanda. 



Andrea Hirata 

dua karung dedak di punggungnya, ban sepeda dikalungkan di 
lehernya, dan plastik-plastik kresek serta tas-tas belanjaan bergelan- 
tungan di lengan kiri kanannya. la seperti toko kelontong berjalan. Di 
belakangnya berjalan terantuk-antuk seorang nyonya gemuk yang 
memborong segala macam barang itu. 

Setelah memuat belanjaan ke atas bak sebuah mobil pikap, pria 
bertulang besi tadi menerima sejumlah uang. la mengucapkan teri- 
ma kasih dengan menunduk sopan lalu kembali ke tokonya. Toko 
ber-judul Sinar Perkasa itu, sesuai sekali dengan penampilan 
kulinya. Pria itu menyerahkan uang tadi kepada juragan toko yang 
kemudian mengibas-ngibaskan uang itu ke barang-barang dagang- 
annya lalu mereka berdua tertawa lepas layaknya dua sahabat baik. 
Wajah keduanya tak lekang dimakan waktu. 

Aku tersenyum mengenang nostalgia di Toko Sinar Harapan 
dan teringat bahwa dulu aku pernah memiliki cinta yang ternyata 
tak hanya sedalam lubuk kaleng-kaleng cat yang sampai sekarang 
masih berjejal-jejal di situ. Aku juga merasa beruntung telah 
menjadi orang yang pernah mengungkapkan cinta. Masih terasa in- 
dahnya sampai sekarang. Merasa beruntung karena kejadian itu me- 
rupakan tonggak bagaimana secara emosional aku telah berevolusi. 
Dan agaknya cinta pertamaku dulu amat berkesan karena ia telah 
melambungkanku ke puncak kebahagiaan sekaligus membuatku 
menggelongsor karena patah hati di antara keranjang buah meng- 
kudu busuk di toko itu. 

Kita dapat menjadi orang yang skeptis, selalu curiga, dan tak 
gampang percaya karena satu orang pemah menipu kita. Tapi 
ternyata dengan satu kasih yang tulus lebih dari cukup untuk 
mengubah selu-ruh persepsi tentang cinta. Paling tidak itu terjadi 
padaku. Meskipun kemudian setelah dewasa beberapa kali cinta 



422 



Agnostik 

memperlakukan aku dengan amat buruk, aku tetap percaya pada 
cinta. Semua itu gara-gara wanita berparas kuku ajaib di Toko Sinar 
Harapan itu. Kemanakah gerangan dia sekarang? Aku tak tahu dan 
tak mau tahu. Gambaran cinta seindah lukisan taman bunga karya 
Monet itu biarlah seperti apa adanya. Kalau aku menjumpai A Ling 
lagi bisa-bisa citra lukisan itu pudar karena mungkin saja A Ling 
sekarang adalah A Ling dengan parises, selulit, pan-tat turun, susu 
kempes, gemuk, perut buncit, dan kantong mata. la dulu adalah 
venus dari Laut Cina Selatan dan aku ingin tetap mengenangnya 
seperti itu. 

Aku mengeluarkan dari tasku buku Seandainya Mereka Bisa 
Bicara yang dihadiahkan A Ling padaku sebagai kenangan cinta per- 
tama kami. Bus reyot yang terlonjak-lonjak karena jalan yang 
berlubang-lubang membuat aku tak dapat membacanya. Ketika 
jarak antara bus dan Toko Sinar Harapan perlahan mengembang 
aku me-rasa takjub bagaimana lingkaran hidup merupakan jalinan 
aksi dan reaksi seperti postulat Isaac Newton atau hidup tak ubah- 
nya sekotak cokelat seperti kata Forest Gump. Jika membuka kotak 
cokelat kita tak 'kan dapat menduga rasa apa yang akan kita dapat- 
kan dari bungkus-bungkus plastik lucu di dalamnya. Sebuah benda 
kecil yang tak penting atau suatu kejadian yang sederhana pada 
masa yang amat lampau dapat saja menjadi sesuatu yang kemudian 
sangat memengaruhi kehidupan kita. 

Buku itu kugenggam erat di atas pangkuanku dan aku segera 
menyadari bahwa seluruh kebidupan dewasaku telah terinspirasi 
oleh buku kumal yang selalu kubawa ke mana-mana itu. Dulu ketika 
frustrasi karena berpisah dengan A Ling maka pesona Desa Edensor, 
Taman Daffodil dan jalan pasar berlandaskan batu-batu bulat, serta 
hamparan sabana di bukit-bukit Derbyshire telah menghiburku. 



423 



Andrea Hirata 

Kemudian pada masa dewasa ini ketika kehidupanku di Bogor ber- 
ada pada titik terendah aku perlahan-lahan bangkit juga karena 
semangat yang dipancarkan oleh Herriot, sang tokoh utama buku 
itu. Seperti ajaran Pak Harfan, Bu Mus, dan Kemuhammadiyahan, 
Herriot juga mengajariku tentang optimisme dan bagaimana aku 
harus berjuang untuk meraih masa depanku. 

Seminggu setelah kulemparkan naskah bulu tangkisku ke Kali 
Ciliwung aku membaca sebuah pengumuman bea-siswa pendidikan 
lanjutan dari sebuah negara asing. Aku segera menyusun rencana C, 
yaitu aku ingin sekolah lagi! Kemudian setelah itu tak ada satu menit 
pun waktu kusia-siakan selain untuk belajar. Aku membaca 
sebanyak-banyaknya buku. Aku membaca buku sambil menyortir 
surat, sambil makan, sambil minum, sambil tiduran mendengarkan 
wayang golek di radio AM. Aku membaca buku di dalam angkutan 
umum, di dalam jamban, sambil mencuci pakaian, sambil dimarahi 
pelanggan, sambil disindir ketua ekspedisi, sambil upacara Korpri, 
sambil menimba air, atau sambil memperbaiki atap bocor. Bahkan 
aku membaca sambil membaca. Dinding kamar kostku penuh 
dengan grafiti rumus-rumus kalkulus, GMAT, dan aturan-aturan 
tenses. Aku adalah pengunjung perpustakaan LIPI yang paling rajin 
dan shift sortir subuh yang dulu sangat kubenci sekarang malah 
kuminta karena dengan demikian aku dapat pulang lebih awal untuk 
belajar di rumah. Jika beban pekerjaan demikian tinggi aku mem- 
buat resume bacaanku dalam kertas-kertas kecil, inilah teknik jem- 
batan keledai yang dulu diajarkan Lintang padaku. Kertas-kertas 
kecil itu kubaca sambil menunggu ketua pos menurunkan kantong- 
kantong surat dari truk. 

Di rumah aku belajar sampai jauh malam dan penyakit insom- 
nia ternyata malah mendukungku. Aku adalah penderita insomnia 



424 



Agnostik 

yang paling produktif karena saat-saat tak bisa tidur kugunakan un- 
tuk membaca. Jika kelelahan belajar aku melakukan penyegaran 
mental yaitu kembali membuka buku Seandainya Mereka Bisa 
Bicara dan di sana kutemukan bagaimana Herriot menghadapi ke- 
sulitan membuktikan dirinya di depan para petani Derbyshire yang 
sangat skeptis, keras kepala, dan anti perubahan. Dari buku itu juga 
aku merasakan angin pagi lembah Edensor yang dingin bertiup me- 
rasuki dadaku yang sesak setelah menyelusup di antara dedaunan 
astuaria. Membaca semua itu semangatku kembali terpompa dan 
hatiku semakin bening siap menerima pelajaran-pelajaran baru. 

"Aku harus mendapatkan beasiswa itu!" demikian kataku dalam 
hati setiap berada di depan kaca. 

Aku benar-benar bertekad mendapatkan beasiswa itu karena 
bagiku ia adalah tiket untuk meninggalkan hidupku yang terpuruk. 
Lebih dari itu aku merasa berutang pada Lintang, A Ling, Pak 
Harfan, Bu Mus, Laskar Pelangi, Sekolah Muhammadiyah, dan Her- 
riot. 

Kemudian tes demi tes yang mendebarkan berlangsung selama 
berbulan-bulan, diawali dengan sebuah tes penyaringan pertama di 
sebuah stadion sepak bola yang dipenuhi peserta. Hampir tujuh 
bulan kemudian aku berada pada tahap yang disebut penentuan 
terakhir. Penentuan terakhir merupakan sebuah wawancara di se- 
buah lembaga yang hebat di Jakarta. Wawancara akhir ini dilaku- 
kan oleh seorang mantan menteri yang berwajah tampan tapi senang 
bukan main pada rokok. 

"Disgusting habit!" Sebuah kebiasaan yang menjijikkan, kata 
Morgan Freeman dalam sebuah film. 

Aku mengenakan pakaian rapi dan untuk pertama kalinya, 



425 



Andrea Hirata 

berdasi, memakai sedikit minyak wangi, dan menyemir sepatu. Pul- 
pen di saku dan kubawa map yang tak tahu berisi apa. Aku telah 
men-jadi tipikal orarig muda yang spekulatif. Sebuah pemandangan 
yang menyedihkan sesungguhnya. 

Bapak perokok itu memanggilku, mempersilakanku duduk di 
depannya, dan mengamatiku dengan teliti. Barangkali ia berpikir 
apakah anak kampung ini akan bikin malu tanah air di negeri orang. 
Lalu ia membaca motivation letter-ku, yaitu suatu catatan alasan 
dari ber-bagai aspek yang dibuat peserta mengapa ia merasa patut 
diberi bea-siswa. 

Mantan menteri itu mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu ajaib 
sekali! la sama sekali tidak mengeluarkan kembali asap rokok itu. 
Rupa-nya asap itu diendapkannya sebentar di dalam rongga 
dadanya. Mata-nya terpejam ketika menikmati racun nikotin lalu 
disertai sebuah se-nyum puas yang mengerikan ia mengembuskan 
asap rokok itu dekat sekali dengan wajahku. Mataku perih, aku 
menahan batuk dan ingin muntah tapi apa dayaku, laki-laki di 
depanku ini memegang tiket masa depanku dan tiket itu amat 
kuperlukan. Maka aku duduk bertahan sambil membalas senyum- 
nya dengan senyum basi ala pramugari sementara perutku mual. 

"Saya tertarik dengan motivation letter Anda, alasan dan cara 
Anda menyampaikannya dalam kalimat Inggris sangat mengesan- 
kan," katanya. 

Aku kembali tersenyum, kali ini senyum khas penjual asuransi. 

"Belum tahu dia, orang Melayu lincah benar bersilat kata," 
kataku dalam hati. 

Lalu sang mantan menteri membuka proposal penelitianku 



426 



Agnostik 

yang berisi bidang yang akan kutekuni, mated riset, dan topik tesis 
dalam pendidikan beasiswa nanti. 

"Ahhhh, ini juga menarik...." 

la ingin melanjutkan kata-katanya tapi agaknya rokok yang 
sangat dicintainya itu lebih penting maka ia kembali memenuhi 
dadanya dengan asap. Aku berani bertaruh jika dirontgen maka 
rongga dada dan seluruh isinya pasti telah berwarna hitam. Bapak 
ini terkenal sangat pintar bukan hanya di dalam negeri tapi juga di 
luar negeri, sumbangannya tak kecil untuk bangsa ini, tapi bagai- 
mana ia bisa menjadi demikian bodoh dalam persoalan rokok ini? 

"Hmmm... hmmm... sebuah topik yang memang patut dipelajari 
lebih jauh, menarik sekali, siapa yang membimbing Anda menulis 
ini?" beliau tersenyum lebar dan asap masih mengepul di mulutnya. 

Aku tahu pertanyaan itu retoris, tak memerlukan jawaban, 
karena dia tahu seseorang tak mungkin dibimbing untuk membuat 
proposal tersebut, maka aku hanya tersenyum. 

"Bu Mus, Pak Harfan, Lintang, Sekolah Muhammadiyah, A 
Ling, dan Herriot!" Itulah jawaban yang tak kuucapkan. 

"Saya telah lama menunggu ada proposal riset semacam ini, 
ternyata datang dari seorang pegawai kantor pos! Ke mana kau pergi 
selama ini anak muda?" 

Kembali retoris dan aku kembali tersenyum. "Edensor!" Bisik 
hatiku. 

Maka tak lama kemudian aku telah menjadi mahasiswa. 
Meskipun hanya langkah kecil aku merasa telah membuat sebuah 
kemajuan dan sekarang aku dapat menilai hidupku dari perspektif 
yang sama sekali berbeda. Aku lega terutama karena aku telah 



427 



Andrea Hirata 

membayar utangku pada Sekolah Muharnmadiyah, Bu Mus, Pak 
Harfan, Lintang, Laskar Pelangi, A Ling, bahkan Herriot dan 
Edensor. Setiap titik yang aku singgahi dalam hidupku selalu mem- 
beriku pelajaran berharga. Sekolah Muharnmadiyah dan persahabat- 
an Laskar Peiangi telah mem-bentuk karakterku. A Ling, Herriot, 
dan Edensor telah mengajariku optimisme dan menunjukkan bahwa 
jalinan nasib dapat menjadi begitu menakjubkan. Kemudian, meski- 
pun aku tidak menyukai pekerjaan sortir, tapi orang-orang hebat 
kawan sekerja di kantor pos Bogor telah mengajariku arti integritas 
bagi sebuah badan usaha dan makna dedikasi pada pekerjaan pos 
yang mulia, yaitu mengemban amanah. 



ADA orang-orang tertentu yang memendam cinta demi-kian 
rapi. Bahkan sampai mereka mati, sekerling pun mereka tak pernah 
memperlihatkan getar hatinya. Cinta mereka sesepi stambul lama 
nan melankolis dengan pengarang yang tak pernah dikenal. Jika 
malam tiba mereka mendengus-dengus meratapi rindu, menampar 
muka sendiri karena jengkel tak berani mendeklarasikan cinta yang 
menggelitik perutnya. Cintanya tak pernah terungkap karena ngeri 
membayangkan risiko ditolak. Lama-lama, seperti seorang narsis, 
mereka menyukai mencintai seseorang di dalam hatinya sendiri. 
Cinta satu sisi, indah tapi merana tak terperi. Mereka hidup dalam 
bayangan. Mengungkapkan cinta agaknya mengandung daya tarik 
paling misterius dari cinta itu sendiri. Itulah yang dirasakan A Kiong 
selama belasan tahun. 

Hampa karena cinta dan kecewa pada masa depan membuat A 
Kiong sempat menjalani hidup sebagai seorang agnostik, yaitu orang yang 
percaya kepada Tuhan tapi tidak memeluk agama apa pun, oleh karena 



428 



Agnostik 

itu ia tidak pernah beribadah. la mendaki puncak bukit keangkuhan di 
dalam hatinya untuk berteriak lantang menentang segala bentuk 
penyembahan. Ia berkelana mengamati agama demi agama, terombang 
ambing dalam kebingungan tentang keyakinan dan konsep keadilan 
Tuhan. Hari demi hari ia semakin sesat. Ia kafir bagi agama mana pun. 

Namun, menjelang dewasa ia mengalami suatu masa di saat 
setiap mendengar suara azan ia sering disergap perasaan sepi nan indah 
yang menyelusup ke dalam kalbunya, membuatnya terpaku, dan 
melelehkan air matanya. Panggilan shalat itu mengembuskan rasa 
hampa yang menyuruhnya merenung. Ia cemas serasa akan mati esok 
pagi. Ia merenung dan pada suatu hari dengungan azan magrib membuat- 
nya berputar seperti gasing, perutnya naik memuntahkan seluruh 
makanan dan minuman haram dari lipatan-lipatan ususnya, ia ter- 
jerembap takberdaya seakan tulang belulangnya hancur dihantam palu 
godam. Air matanya berlinang tak terbendung. Ia merangkak-rangkak 
memohon ampunan. Ia telah dipilih oleh Allah untuk diselamatkan. A 
Kiong, makhluk pendusta agama ini, bagian dari sebagian kecil orang 
yang amat beruntung, mendapat magfirah*. 

la memeluk Islam, disunat, dan mengucapkan kalimat syahadat 
disaksikan Bak Harfan dan Bu Mus. Bu Mus menganugerahkan 
sebuah nama untuknya: Muhammad Jundullah Gufron Nur Zaman. 
Nama yang sangat hebat. Artinya tentara Allah, orang yang 
mendapat ampunan dan cahaya. A Kiong tinggal sejarah, bagian 
dari sebuah masa lalu yang gelap. Ia segera menjadi muslim yang 
taat. Hidupnya tenang, namun kesepian sepanjang malam masih 
merisaukannya. 

Penerima cahaya ini menceritakan dengan sepenuh jiwa ke- 
padaku bahwa yang merisaukannya itu adalah cinta yang telah di- 
simpannya sangat lama. Cinta yang tak terungkap. Tak seorang pun 



429 



Andrea Hirata 

tahu kalau Nur Zaman selama ini telah menjadi seekor pungguk 2 . 
Wanita itu, katanya, telah membuat malam-malamnya gelisah. 

"Aku lemas karena paru-paruku basah digenangi air mata 
rindu," demikian ungkapan perasaannya padaku. Laki-laki berkepa- 
la kaleng kerupuk ini bisa juga puitis. 

"Berhari-hari terperangkap dalam bingkai kaca seraut wajah 
yang sama, tak dapat lagi kupikirkan lagi hal-hal lain. Setiap melihat 
cermin yang terpantul hanya wajahnya. Aku tak mau makan, tak bi- 
sa tidur...," kenangnya. Romantis laksana opera sabun, sekaiigus lucu 
dan menyedihkan. 

Lalu setelah belasan tahun mengumpulkan keberanian, pada 
suatu malam, dengan basmallah, ia menjumpai wanita itu dan lang- 
sung, di depan orangtuanya, menyatakan keinginannya melamar. Ia 
pasrahkan semua keputusan kepada Allah. Ia siap hijrah ke Kanton 
naik kapal barang jika ditolak. Ternyata wanita itu juga telah lama 
diam-diam menaruh hati padanya. Terberkatilah mereka yang 
berani berterus terang. Wanita itu adalah Sahara. 

Sekarang mereka sudah punya anak lima dan membuka toko 
kelontong dengan judul Sinar Perkasa tadi. Mereka mempekerjakan 
seorang kuli dan memperlakukannya sebagai sahabat. Kulinya ada- 
lah pria raksasa berambut sebahu seperti samurai itu, tak lain adalah 
Samson. 

Jika waktu luang mereka bertiga mengunjungi Harun. Harun 
bercerita tentang kucingnya yang berbelang tiga, melahirkan anak 
tiga, semuanya berbelang tiga, dan ke-jadian itu terjadi pada tanggal 
tiga. Sahara mendengarkan penuh perhatian. Kalau dulu Harun 



2 Pungguk (Ninox scutulata malaccensis): burung elang malam (burung hantu) yang 
suka memandang bulan. 



430 



Agnostik 

adalah anak kecil yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa, 
sekarang ia adalah orang dewasa yang terperangkap dalam alam 
pikiran anak kecil. 

"Aku mendapatkan kebahagiaan terbesar yang mungkin 
didapatkan seorang pria," kata Nur Zaman padaku. 

Ingatkah akan kata-kata itu? Bukankah dulu kata-kata itu 
pernah kuucapkan? Klise! Tidak, sama sekali tidak klise bagi Nur 
Zaman. Ia adalah pria terhormat yang telah memanfaatkan dengan 
baik waktu yang diberikan Tuhan. Ia berhasil menemukan 
kebenaran hakiki melalui penderitaan pergolakan batin. Tuhan 
mencintai orang-orang seperti ini. 



BUS reyot itu menurunkan aku di seberang jalan di depan rumah 
ibuku. Aku mendengar lagu Rayuan Pulau Kelapa di RRI, yang berarti 
warta berita pukul 12. Sebuah siang yang panas dan sunyi. Dan 
kesunyian itu bubar oleh suara klakson panjang dari sebuah mobil 
tronton kapasitas sepuluh ton, gardan ganda, bertenaga turbo, de- 
ngan delapan belas ban berdiameter satu meter. 

Seorang pria kecil terlonjak-lonjak di jok sopir. Ia terlalu kecil bagi 
truk raksasa pengangkut pasir gelas ini. 

"Pulang kampung juga kau akhirnya, Ikal. Hari yang sibuk! 
Datanglah ke proyek," teriaknya. 

Aku melepaskan empat tas yang membebaniku tapi hanya 
sempat melambaikan tangan. Ia pun pergi meninggalkan debu. 

Esoknya aku berkunjung ke bedeng proyek pasir gelas sesuai 
undangan sopir kecil itu. Bedeng itu memanjang di tepi pantai, tak ber- 



431 



Andrea Hirata 

pintu, lebih seperti kandang ternak. Inilah tempat beristirahat puluh- 
an sopir truk pasir yang bekerja siang malam bergiliran 24 jam untuk 
mengejar tenggat waktu mengisi tongkang. Tongkang-tongkang itu di- 
muati ribuan ton kekayaan bumi Belitong, tak tahu dibawa ke mana, 
salah satu perbuatan kongkalikong yang mengangkangi hak-hak war- 
ga pribumi. 

Aku masuk ke dalam bedeng dan melihat ke sekeliling. Di 
tengah bedeng ada tungku besar tempat berdiang melawan dingin 
angin laut. Di pojok bertumpuk-tumpuk kaleng minyak solar, bungkus 
rokok Jambu Bol, dongkrak, beragam kunci, pompa minyak, tong, 
jerigen air minum, semuanya serba kumal dan berkilat. Panci hitam, 
piring kaleng, kotak obat nyamuk, kopi, dan mi instan berserakan di 
lantai tanah. Selembar sajadah usang terhampar lesu. Sebuah kalen- 
der bergambar wanita berbikini tergantung miring. Walaupun seka- 
rang sudah bulan Mei tak ada yang berminat menyobek kalender bu- 
lan Maret, karena gambar wanita bulan Maret paling hot dibanding 
bulan lainnya. 

Pria yang kemarin menyapaku, yang menyetir tronton itu, salah satu 
dari puluhan sopir truk yang tinggal di bedeng ini, duduk di atas dipan, 
dekat tungku, berhadap-hadapan denganku. la kotor, miskin, hidup 
membujang, dan kurang gizi, ia adalah Lintang. 

Aku tak berkata apa-apa. Terlihat jelas ia kelelahan melawan 
nasib. Lengannya kaku seperti besi karena kerja rodi tapi tubuhnya 
kurus dan ringkih. Binar mata kepintaran dan senyum manis yang jenaka 
itu tak pernah hilang walaupun sekarang kulitnya kering berkilat 
dimakan minyak. Rambutnya semakin merah awut-awutan. Lintang 
dan keseluruhan bangunan ini menimbulkan rasa iba, iba karena kecer- 
dasan yang sia-sia terbuang. 



432 



Agnostik 

Aku masih diam. Dadaku sesak. Bedeng ini berdiri di atas tanah 
semacam semenanjung, daratan yang menjorok ke laut. Aku mende- 
ngar suara ... Bum...! Bum ...! Bum...! Aku melihat ke luar jendela 
sebelah kananku. Sebuah tug-boat* penarik tongkang meluncur pelan di 
samping bedeng. Suara motor tempel yang nendang menggetarkan 
tiang-tiang bedeng dan asap hitam mengepul tebal. Gelombang halus 
yang ditimbuikan tugboat tersebut memecah tepian yang berkilat 
seperti permukaan kaca berwarna-warni karena digenangi minyak. 

Kupandangi terus tugboat yang melaju dan sekejap aku merasa 
tugboat itu tak bergerak tapi justru aku dan bedeng itu yang 
meluncur. Lintang yang dari tadi mengamatiku membaca pikiranku. 

"Einstein's simultaneous relativity ...," katanya me-mulai 
pembicaraan. la tersenyum getir, Kerinduannya pada bangku sekolah 
tentu membuatnya perih. 

Aku juga tersenyum. Aku mengerti ia tidak mengalami apa yang 
secara imajiner baru saja aku alami. Dua orang melihat objek yang 
sama dari dua sudut pandang yang berbeda maka pasti mereka 
memiliki persepsi yang berbeda. Oleh karena itu, Lintang menyebut- 
nya simultan. Sebuah konteks yang relevan dengan perspektifku me- 
lihat hidup kami berdua sekarang. 

Tak lama kemudian aku mendengar lagi suara bum! Bum! Bum! 
Kali ini sebuah tugboat yang lain meluncur pelan dari arah yang berlawan- 
an dengan arah tugboat yang pertama tadi. Buritan tugboat yang perta- 
ma belum habis melewatiku maka aku menoleh ke kiri dan ke kanan 
membandingkan panjang ke dua tugboat yang melewatiku secara ber- 
lawanan arah. 

Lintang mengobservasi perilakuku. Aku tahu ia kembali membaca 
isi kepalaku, keahliannya yang selalu membuatku tercengang. 



433 



Andrea Hirata 

"Paradoks...," kataku. 

"Relatif ...," kata Lintang tersenyum. 

Aku menyebut paradoks karena ukuran yang kuperkirakan se- 
bagai subjek yang diam akan berbeda dengan ukuran orang lain yang 
ada di tugboat meskipun untuk tugboat yang sama. 

"Bukan, bukan paradoks, tapi relatif," sanggah Lintang. 

"Ukuran objek bergerak dilihat oleh subjek yang diam dan bergerak 
membuktikan hipotesis bahwa waktu dan jarak tidaklah mutlak tapi 
sebaliknya— relatif. Einstein membantah Newton dengan pendapat 
itu dan itulah aksi-oma pertama teori relativitas yang melambungkan 
Eins-tein." 

Ugghh, Lintang! Sejak kecil aku tak pernah punya kesempatan 
sedikit pun untuk berhenti mengagumi tokoh di depanku ini. 
Mantan kawanku sebangku yang sekarang menjadi penghuni sebuah 
bedeng kuli ternyata masih sharp] Walaupun bola mata jenakanya telah 
menjadi kusam seperti kelereng diamplas namun intuisi kecerdasannya 
tetap tajam seperti alap-alap mengintai anak ayam. Aku beruntung sem- 
pat bertemu dengan beberapa orang yang sangat genius tapi aku tahu 
Lintang memiliki bakat genius yang jauh melebihi mereka. 

Aku termenung lalu menatapnya dalam-dalam. Aku merasa amat 
sedih. Pikiranku melayang membayangkan dia memakai celana pan- 
jang putih dan rompi pas badan dari bahan rajutan poliester, melapisi 
kemeja lengan panjang berwarna biru laut, naik mimbar, membawakan 
sebuah makalah di sebuah forum ilmiah yang terhormat. Makalah itu 
tentang terobosannya di bidang biologi maritim, fisika nuklir, atau 
energi alternatif. 

Mungkin ia lebih berhak hilir mudik keluar negeri, mendapat 



434 



Agnostik 

beasiswa bergengsi, dibanding begitu banyak mereka yang mengaku 
dirinya intelektual tapi tak lebih dari ilmuwan tanggung tanpa kon- 
tribusi apa pun selain tugas akhir dan nilai-nilai ujian untuk dirinya 
sendiri. Aku ingin membaca namanya di bawah sebuah artikel dalam 
jurnal ilmiah. Aku ingin mengatakan pada setiap orang bahwa 
Lintang, satu-satunya ahli genetika di Indonesia, orang yang telah me- 
nguasai operasi pohon Pascal sejak kelas satu SMP, orang yang 
memahami filosofi diferensial dan integral sejak usia demikian muda, 
adalah murid perguruan Muhammadiyah, temanku sebangku. 

Namun, hari ini Lintang ternyata hanya seorang laki-laki kurus 
yang duduk bersimpuh menunggu giliran kerja rodi. Aku teringat lima 
belas tahun yang lalu ia memejamkan matanya tak lebih dari tujuh detik 
untuk menjawab soal matematika yang rumit atau untuk meneriak- 
kan Joan dArch! Merajai lomba kecerdasan, melejitkan kepercayaan diri 
kami. Kini ia terpojok di bedeng ini, tampak tak yakin akan masa 
depannya sendiri. Aku sering berangan-angan ia mendapat 
kesempatan menjadi orang Melayu pertama yang menjadi matemati- 
kawan. Tapi angan-angan itu menguap, karena di sini, di dalam be- 
deng tak berpintu inilah Isaac Newton-ku berakhir. 

"Jangan sedih Ikal, paling tidak aku telah memenuhi harapan 
ayahku agar tak jadi nelayan ...." 

Dan kata-kata itu semakin menghancurkan hatiku, maka seka- 
rang aku marah, aku kecewa pada kenyataan begitu banyak anak 
pintar yang harus berhenti sekolah karena alasan ekonomi. Aku me- 
ngutuki orang-orang bodoh sok pintar yang menyombongkan diri, dan 
anak-anak orang kaya yang menyia-nyiakan kesempatan pendidikan. 



435 



Andrea Hirata 

ALASAN orang menerima profesi tertentu kadang-kadang sangat 
luar biasa. Ada orang yang senang menjadi kondektur karena hobinya 
jalan-jalan keliling kota, ada yang gembira memandikan gajah di 
kebun binatang karena hobinya main air, dan ada yang selalu 
meminta tugas ke luar kota agar dapat sekian lama meninggalkan 
istrinya. Tapi tak ada yang senang menyortir surat untuk alasan apa 
pun. Oleh karena itu, ketika 10 karung surat ditumpahkan di depanku 
untuk disortir sedangkan tambahan tenaga yang kuminta berulang- 
ulang tak terpenuhi, aku langsung hengkang meninggalkan meja 
sortir itu, tak pernah kembali. 

Sebagian orang menduduki profesinya sekarang sesuai cita-citanya, 
sebagian besar tak pernah sama sekali menduga bahwa ia akan 
menjadi seperti apa adanya sekarang, dan sebagian kecil memilih 
profesi karena pertemuan dengan seseorang. 

Pertemuan dengan seseorang sering menjadi sebuah titik balik 
nasib. Jika tak percaya, tanyakan itu pada Mahar, Flo, dan seluruh 
anggota Societeit de Limpai. Pertemuan dengan Tuk Bayan Tula dan 
pesan beliau yang berbunyi: "jika ingin lulus ujian, buka buku, belajar!" 
Ternyata menjadi kata-kata keramat yang mampu memutar haluan 
hidup mereka. 

Pada hari Sabtu, sehari sesudah Mahar membaca pesan Tuk, kami 
berdesak-desakkan di jendela kelas menyaksikan Flo dan Mahar 
menemui Bu Mus di bawah pohon filicium. Ketiga orang itu berdiri 
mematung dan tak banyak bicara. Lalu tampak kedua anak berandal 
itu bergantian mencium tangan Bu Mus, guru kami yang bersahaja. 
Perseteruan lama telah berakhir dengan damai. Keesokan harinya Mahar 
membubarkan Societeit de Limpai, dan esoknya lagi, pada Senin pagi 
yang biasa saja, kami menerima kejutan yang luar biasa, mengagetkan, 
dan amat mengharukan, Flo datang ke sekolah mengenakan jilbab. 



436 



Agnostik 

Mahar dan Flo berhasil lulus ujian caturwulan terakhir. Flo telah 
berubah total. la dulu seorang wanita yang berusaha melawan 
kodratnya namun akhirnya ia menjadi wanita sejati. Momentum 
dalam hidupnya jelas terjadi karena pertemuan dengan seseorang. 
Seseorang itu ada dua, yaitu Mahar dan Tuk Bayan Tula. Kejadian itu 
telah memutarbalikkan hidupnya. Flo menempuh perguruan tinggi di 
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Sriwijaya. Setelah 
lulus, ia menjadi guru TK di Tanjong Pandan dan bercita-cita membangun 
gerakan wanita Muhammadiyah. Ia menikah dengan seorang petugas 
teller bank BRI mantan anggota Societeit, dan keinginan lama Flo 
untuk menjadi laki-laki dibayar Allah dengan memberinya dua kali 
persalinan yang melahirkan empat anak laki-laki yang tampan luar 
biasa dalam jarak hanya setahun. Dua kali anak kembar! 

Pesan Tuk Bayan Tula telah memberi pencerahan bagi para anggota 
Societeit, bahwa tak ada yang dapat dicapai di dunia ini tanpa usaha 
yang rasional. Sebuah pencerahan terang benderang yang datang 
justru dari seorang tokoh dunia gelap, manusia separuh peri, bahkan 
banyak yang menganggapnya manusia separuh iblis. 

Para anggota Societeit adalah orang-orang biasa, miskin, dan 
kebanyakan, namun mereka kaya raya akan pengalaman batin dan 
petualangan penuh mara bahaya untuk mencari kebenaran hakiki. 
Mereka memastikan setiap kesangsian, membuktikan prasangka dan 
mitos-mitos, serta mengalami sendiri apa yang hanya bisa diduga-duga 
orang. Mereka memuaskan sifat dasar keingintahuan manusia sampai 
batas akhir yang menguji keyakinan. Mereka adalah. orang-orang yang 
menjemput hidayah dan tidak duduk termangu-mangu menunggunya. 
Kini mereka menjadi orang-orang Islam yang taat yang menjauhkan 
diri dari syirik. Di bawah pemimpin baru, pemain organ tunggal itu, 
mereka membentuk perkumpulan yang aktif melakukan dakwah dan 



437 



Andrea Hirata 

mengislamkan komunitas-komunitas terasing di pulau-pulau terpencil di 
perairan Bangka Belitong. Mereka laksana manusia-manusia baru yang 
dilahirkan dari kegelapan dan kini berjalan tegak di ladang ijtihad di 
bawah siraman air Danau Kautsar yang membersihkan hati. 

Tuk Bayan Tula sendiri tak ada kabar beritanya. Anggota Societeit 
adalah manusia terakhir yang melihat beliau masih hidup. Dalam 
kaar (peta laut) terakhir perairan Belitong yang dipetakan oleh TNI AL, 
Pulau Lanun sudah tak tampak. Di perairan ini sering sekali pulau- 
pulau kecil timbul dan tenggelam karena badai atau ketidakstabilan 
permukaan air laut. Adapun pensiunan syah bandar yang dulu me- 
ngumandangkan azan ketika anggota Societeit hampir tewas dilamun 
badai sekarang menjadi muazin tetap di Masjid Al-Hikmah. 

NASIB, usaha, dan takdir bagaikan tiga bukit biru samar-samar 
yang memeluk manusia dalam lena. Mereka yang gagal tak jarang 
menyalahkan aturan main Tuhan. Jika mereka miskin mereka menga- 
takan bahwa Tuhan, melalui takdir-Nya, memang mengharuskan me- 
reka miskin. 

Bukit-bukit itu membentuk konspirasi rahasia masa depan dan 
definisi yang sulit dipahami sebagian orang. Seseorang yang lelah 
berusaha menunggu takdir akan mengubah nasibnya. Sebaliknya, se- 
seorang yang enggan membanting tulang menerima saja nasibnya 
yang menurutnya tak 'kan berubah karena semua telah ditakdirkan. 
Inilah lingkaran iblis yang umumnya melanda para pemalas. Tapi yang 
pasti pengalaman selalu menunjukkan bahwa hidup dengan usaha 
adalah mata yang ditutup untuk memilih buah-buahan dalam 
keranjang. Buah apa pun yang didapat kita tetap mendapat buah. 
Sedangkan hidup tanpa usaha adalah mata yang ditutup untuk 
mencari kucing hitam di dalam kamar gelap dan kucingnya tidak ada. 
Mahar memiliki bukti untuk hipotesis ini. 



438 



Agnostik 

la hanya berijazah SMA. Nasibnya seperti Lintang. Mereka adalah 
dua orang genius yang kemampuannya dinisbikan secara paksa oleh 
tuntutan tanggung jawab pada keluarga. Mahar tak bisa 
meninggalkan rumah untuk berkiprah di lingkungan yang lebih men- 
dukung bakatnya sejak ibunya sakit-sakitan karena tua. Sebagai anak 
tunggal ia hams merawat ibunya siang malam karena ayahnya telah 
meninggal. 

Mahar pernah menganggur dan setiap hari, tanpa berusaha, 
menunggu takdir menyapanya. Ia mengharapkan surat panggilan 
dari Pemda untuk tenaga honorer. Ketika itu ia berpikir kalau takdir 
menginginkannya menjadi seorang guru kesenian maka ia tak perlu 
melamar. Ternyata cara berpikir seperti itu tak berhasil. 

Maka ia mulai berusaha menulis artikel-artikel kebudayaan Melayu. 
Artikelnya menarik bagi para petinggi lalu ia dipercaya membuat 
dokumentasi permainan anak tradisional. Dokumentasi itu 
berkembang ke bidang-bidang lain seperti kesenian dan bahasa yang 
membuka kesempatan riset kebudayaan yang luas dan memungkin- 
kannya menulis beberapa buku 

Jika dulu ia tak menulis artikel maka ia tak 'kan per-nah 
menulis buku. Melalui buku-buku itu ia tertakdirkan menjadi 
seorang narasumber budaya. One thing leads to another. Dalam 
kasus Mahar nasib adalah setiap deretan titik-titik yang dilalui 
sebagai akibat dari setiap gerakan-gerakan konsisten usahanya dan 
takdir adalah ujung titik-titik itu. Sekarang Mahar sibuk mengajar 
dan mengorganisasi berbagai kegiatan budaya. 

Tentu saja pekerjaan-pekerjaan itu tak mampu menyokong 
nafkah ia dan ibunya maka honor kecil tapi rutin juga Mahar 
peroleh dari orang pesisir yang meminta bantuannya melatih beruk 



439 



Andrea Hirata 

memetik buah kelapa. la sangat ahli dalam bidang ini. Dalam tiga 
minggu seekor beruk sudah bisa mengguncang-guncang kelapa 
untuk membedakan mana kelapa yang hams dipetik. 

Lain pula cerita Syahdan. Syahdan yang kecil, santun, dan lemah 
lembut agaknya memang ditakdirkan untuk menjadi pecundang yang 
selalu menerima perintah. Jika kami membentuk tim ia pasti 
menjadi orang yang paling tak penting. Ia adalah seksi repot, 
tempat penitipan barang, penguras konsumsi, pembersih, tukang 
angkat-angkat, dan jika makan paling belakangan. Ia adalah kambing 
hitam tempat tumpahan semua kesalahan, dia tak pernah sekalipun 
dimintai pertimbangan jika Laskar Pelangi mengambil keputusan, lalu 
dalam lomba apa pun dia selalu kalah. Lebih dari itu ia sangat 
menyebalkan karena sangat gagap teknologi. Ia sama sekali tak bisa 
diandalkan untuk hal-hal berbau teknik, bahkan hanya untuk membetul- 
kan rantai sepeda yang lepas saja ia sering tak becus. Cita-citanya 
untuk menjadi aktor sangat tidak realistis, maka kami tak pernah 
berhenti menyadarkannya dari mimpi itu, bahkan bertubi-tubi mence- 
moohnya. Namun tak disangka di balik kelembutannya ternyata Syahdan 
adalah seorang pejuang. Semangat juangnya sekeras batu satam. Setelah 
SMA ia berangkat ke Jakarta. Dengan map di ketiaknya ia melamar untuk 
menjadi aktor dari satu rumah produksi ke rumah produksi lainnya, 
hanya bermodalkan satu hal: keinginan! Itu saja. Aneh, setelah lebih dari 
setahun akhirnya ia benar-benar menjadi aktor! 

Sayangnya sampai hampir tiga tahun berikutnya ia masih saja 
seorang aktor figuran. Lalu ia bosan berperan sebagai figuran makh- 
luk-makhluk aneh: tuyul, setan, dan jin-jin kecil karena tubuhnya 
yang mini dan berkulit gelap. Ia juga bosan menjadi pesuruh ini itu di 
sebuah grup sandiwara tradisional kecil yang sering manggung di 
pinggiran Jakarta. Tugas ini itu-nya itu antara lain memikul genset 



440 



Agnostik 

dan mencuci layar panggung yang sangat besar. Lebih dari semua itu, 
menjadi figuran dan pesuruh ternyata tak mampu menghidupinya. Di 
tengah kemelaratannya Syahdan yang malang iseng-iseng kursus 
komputer dan di tengah perjuangan mendapatkan kursus itu ia nyaris 
menggelandang di Jakarta. 

Di luar dugaan, orang lain umumnya mengetahui bakatnya 
ketika masih belia tapi Syahdan baru tahu kalau ia berbakat mengutak- 
atik program komputer justru ketika sudah dewasa. Dengan cepat ia 
menguasai berbagai bahasa pemrograman dan dalam waktu singkat ia 
sudah menjadi network designer. Tahun berikutnya sangat 
mengejutkan. Ia mendapat beasiswa shortcourse di bidang computer 
network di Kyoto University, Jepang. Di sana ia berhasil mencapai 
kualifikasi keahliannya dan menjadi salah satu dari segelintir orang 
Indonesia yang memiliki sertifikat Sisco Expert Network. Ia kembali 
ke Indonesia dan dua tahun kemudian Syahdan, pria liliput putra 
orang Melayu, nelayan, jebolan sekolah gudang kopra Muhammadiyah 
telah menduduki posisi sebagai Information Technology Manager di 
sebuah perusahaan multinasional terkemuka yang berkantor pusat di 
Tangerang. Dari sudut pandang material Syahdan adalah anggota 
Laskar Pelangi yang paling sukses. Ia yang dulu selalu menjadi penerima 
perintah, tukang angkat-angkat, dan tak becus terhadap sesuatu yang 
berbau teknik, kini memimpin divisi inovasi teknologi dengan ratusan 
anakbuah. 

Namun Syahdan tak pernah menyerah pada cita-citanya untuk 
menjadi aktor sungguhan. Suatu hari ia meneleponku tanpa salam 
pembukaan dan tanpa basa-basi penutupan. Ia hanya mengatakan ini 
dan tanpa sempat aku berkata apa-apa ia langsung menutup 
teleponnya. 

"Kau dengar ini Ikal, aku ingin menjadi aktor!!" Syahdan tak 



441 



Andrea Hirata 



pernah melepaskan mimpinya karena ia adalah seorang pejuang. 



442 






%me 



DAN inilah yang paling menyedihkan dari seluruh kisah ini. Karena 
tak selembar pun daun jatuh tanpa sepengetahuan Tuhan maka tak 
absurd untuk menyamakan PN Timah dengan The Tower of Babel di 
Babylonia. Sebuah analogi yang pas karena setelah membentuk provinsi 
baru kawasan itu juga disebut Babel: Bangka Belitung. 

Pada tahun 1987 harga timah dunia merosot dari 16.000 USD/ 
metriks ton menjadi hanya 5.000 USD/metriks ton dan dalam sekejap 
PN Timah lumpuh. Seluruh fasilitas produksi tutup, puluhan ribu 
karyawan terkena PHK. 

Ketika berada di puncak komidi putar dulu, barangkali itu sebuah 
kemunafikan, seperti hainya Babylonia, sebab Tuhan menghukum 
keduanya dengan kehancuran berkeping-keping yang menghinakan. 



1 Anakronisme: hal yang tidak cocok dengan zaman tertentu; bisa juga berarti 
penempatan tokoh, peristiwa, percakapan, dan unsur latar yang tidak sesuai menurut 
waktu dalam karya sastra. 



Andrea Hirata 

Ternyata untuk musnah tak harus termaktub dalam Talmud. Tak ada 
firasat sebelumnya, Perusahaan Gulliver yang telah berjaya ratusan 
tahun itu mendadak lumpuh hanya dalam hitungan malam. Maka Babel 
adalah inskripsi, sebuah prasasti peringatan bahwa Tuhan telah 
menghancurkan dekadensi di Babylonia seperti Tuhan menghancur- 
kan kecongkakan di Belitong. Segera setelah harga timah dunia turun, 
keadaan diperparah oleh ditemukannya sumber suplai lain di beberapa 
negara, PN Timah pun megap-megap. Orang Islam tidak diperbolehkan 
memercayai ramalan namun ingin rasanya mengenang mimpi Mahar 
bertahun-tahun yang lalu di gua gambar tentang kehancuran sebuah 
kekuatan besar di Belitong. Hari ini mimpi meracau itu terbukti. 

Pemerintah pusat yang rutin menerima royalti dan deviden 
miliaran rupiah tiba-tiba seperti tak pernah mengenal pulau kecil itu. 
Mereka memalingkan muka ketika rakyat Belitong menjerit menuntut 
ketidakadilan kompensasi atas PHK massal. Habis manis sepah di- 
buang. Jargon persatuan dan kesatuan menjadi sepi ketika ayam 
petelur telah menjadi mandul. Pulau Belitong yang dulu biru berkilau- 
an laksana jutaan ubur-ubur Ctenopore redup laksana kapal hantu yang 
terapung-apung tak tentu arah, gelap, dan sendirian. 

Dalam waktu singkat Gedong berada dalam status quo. Warga 
pribumi yang menahankan sakit hati karena kesenjangan selama 
puluhan tahun, dan yang agak sedikit picik, menyerbu Gedong. Para 
Polsus kocar-kacir ketika warga menjarah rumah-rumah Victoria 
mewah di kawasan prestisus tak bertuan itu. Laksana kaum proletar 
membalas kesemena-menaan borjuis, mereka merubuhkan dinding, 
rnenariki genteng, menangkapi angsa dan ayam kalkun, mencabuti 
pagar, mencuri daun pintu dan jendela, mencongkel kusen, memecah- 
kan setiap kaca, mengungkit tegel, dan membawa lari gorden. 

Tanda-tanda peringatan "DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK 



444 



Anakr 



vmsme 



MEMILIKI HAK" diturunkan dan dibawa pulang untuk dijadikan 
koleksi seperti cinderamata pecahan batu tembok Berlin. Sebagian 
penjarah yang marah duduk sebentar di sofa besar chesterfield dan 
makan di meja terracotta yang mahal, berpura-pura menjadi orang 
staf sebelum mereka beramai-ramai menjarahnya. 

Rumah-ramah Victoria di kawasan Gedong, negeri dongeng 
tempat puri dan Cinderella bersukaria langsung berubah menjadi 
Bukit Carphatian tempat kastil keluarga Dracula. Jika malam kawasan 
itu gelap gulita. Pohon-pohon beringin tak lagi imut tapi kini menunjuk- 
kan karakter aslinya sebagai pohon tempat kaum jin rajin beranak 
pinak. Daunnya yang rindang memayungi jalan raya seakan siap me- 
mangsa siapa pun yang melintas di bawahnya. Danau-danau buatan 
berubah menjadi habitat biawak dan tiang-tiang utama dari bangun- 
an yang telah dijarah tampak seurnpama bangkai binatang besar 
atau tombak-tombak perang bangsa Troya yang panjang dan di puncak- 
nya ditancapkan kepala-kepala manusia. Sekolah-sekolah PN bubar, 
berubah menjadi bangunan kosong yang termangu-mangu sebagai jejak 
feodalisme. Kini sekolah-sekolah itu lebih cocok menjadi lokasi shooting 
acara misteri. Ratusan siswa PN yang masih aktif dilungsurkan ke 
sekolah-sekolah negeri atau sekolah kampung. 

Rumah Kepala Wilayah Produksi PN yang berdiri amat megah 
seperti istana di Manggar, puncak Bukit Samak— dengan pemandang- 
an spektakuler laut lepas dan sebuah generator listrik terbesar se-Asia 
Tenggara— dijarah sehingga rata dengan tanah. Rumah Sakit PN yang 
hebat juga tak luput dari anarkisme. Obat-obatan dihamburkan ke 
jalan, kursi dan meja roda dibawa pulang atau dihancurkan. Sepintas 
aku masih mencium amis darah di atas brankar dan bau cairan 
kompres yang tergenang dalam piring piala ginjal*, suatu bau busuk 
kekayaan yang dikumpulkan dalam pundi-pundi ketidakadilan tanpa 



445 



Andrea Hirata 

belas kasihan pada. rakyat kecil. 

Bentangan kawat telepon digulung. Kabel listrik yang masih dialiri 
tegangan tinggi dikampak sehingga menimbulkan bunga api seperti 
asteroid menabrak atmosfer. Kapal keruk digergaji menjadi besi 
kiloan. Sebuah dinasti yang kukuh dan congkak hancur berantakan 
menjadi remah-remah hanya dalam hitungan malam, seiring dengan 
itu, reduplah seluruh metafora yang mewakili kedigdayaan sebuah 
perusahaan yang telah membuat Belitong dijuluki Pulau Timah. 

Yang terpukul knock out tentu saja orang-orang staf. Tidak hanya 
karena secara mendadak kehilangan jabatan dan hancur citranya tapi 
sekian lama mapan dalam mentalitas feodalistik terorganisasi yang 
inheren tiba-tiba menjadi miskin tanpa pelindungan sistem. Karakter 
terbunuh secara besar-besaran. Verloop ke wisma-wisma timah yang 
mewah di Jakarta atau Bandung dua kali setahun sekarang harus diganti 
dengan mencangkul, memanjat, memancing, menjerat, menggali, 
mendulang, atau menyelam untuk menghidupi keluarga. Anakronistis 
mungkin, sebab mereka kembali hidup bersahaja seperti zaman 
antediluvium ketika orang Melayu masih menyembah bulan. 

Karena tak terbiasa susah dan ditambah dengan anak-anak yang tak 
mau berkompromi dalam menurunkan standar hidup— sementara 
mereka tengah kuliah di universitas-universitas swasta mahal— membuat 
orang-orang staf stres berkepanjangan. Tak jarang masalah mereka 
berakhir dengan stroke, operasi jantung, mati mendadak, drop out 
massal, dan lilitan utang. Mereka seperti orang tersedak sendok 
perak. Yang tak mampu menerima kenyataan dan hidup menipu diri 
sendiri didera postpowersyndrome, biasanya tak bertahan lama dan 
segera check in di Zaal Batu. Komidi berputar berbalik arah dalam 
kecepatan tinggi, penumpangnya pun terjungkal. 



446 



Anakr 



vmsme 



Kehancuran PN Timah adalah kehancuran agen kapitalis yang 
membawa berkah bagi kaum yang selama ini terpinggirkan, yakni 
penduduk pribumi Belitong. Blessing in disguise, berkah tersamar. 
Sekarang mereka bebas menggali timah di mana pun mereka suka di 
tanah nenek moyangnya dan menjualnya seperti menjual ubi jalar. 

Saat ini diperkirakan tak kurang dari 9.000 orang bekerja 
mendulang timah di Belitong. Mereka menggali tanah dengan sekop dan 
mendulang tanah itu dengan kedua tangannya untuk memisahkan 
bijih-bijih timah. Mereka bekerja dengan pakaian seperti tarzan namun 
menghasilkan 15.000 ton timah per tahun. Jumlah itu lebih tinggi 
dari produksi PN Timah dengan 16 buah kapal keruk, tambang-tambang 
besar, dan open pit mining 2 , serta dukungan miliaran dolar aset. Satu lagi 
bukti kegagalan metanarasi kapitalisme. 

Ekonomi Belitong yang sempat lumpuh pelan-pelan menggeliat, 
berputar lagi karena aktivitas para pendulang. Suatu profesi yang dulu 
dihukum sangat keras seperti pelaku subversi. 



TAHUN 1991 perguruan Muhammadiyah ditutup. Namun 
perintis jalan terang yang gagah berani ini meninggalkan semangat 
pendidikan Islam yang tak pernah mati. Sekarang Belitong telah 
memiliki dua buah pesantren. Pembangunan pesantren ini adalah 
harapan para tokoh Muhammadiyah sejak lama. Generasi baru para 
legenda K.H. Achmad Dahlan, Zubair, KA. Abdul Hamid, Ibrahim bin 
Zaidin, dan K.A. Harfan Effendi Noor lahir silih berganti. Suatu hari 



2 Open pit mining: pertambangan sumur terbuka; istilah untuk bagian dari lubang 
sumur yang digunakan untuk menahan guguran yang bisa menutupi sumur jika ada 
ledakan dari dalam. 



447 



Andrea Hirata 

nanti akan ada yang mengisahkan hidup mereka laksana sebuah epik. 

Tak dapat dikatakan bahwa seluruh alumni sekolah Muham- 
madiyah Belitong telah menjadi orang yang sukses— apalagi secara 
material— namun para mantan pengajar sekolah itu patut bangga bahwa 
mereka telah mewariskan semacam rasa bersalah bagi mantan murid- 
nya jika mencoba-coba berdekatan dengan khianat terhadap amanah, 
jika mempertimbangkan dirinya merapakan bagian dari sebuah gerom- 
bolan atau rencana yang melawan hukum, dan jika membelakangi 
ayat-ayat Allah. Itulah panggilan tak sadar yang membimbing lurus 
jalan kami sebagai keyakinan yang dipegang teguh karena bekal dari 
pendidikan dasar Islam yang tangguh di sekolah miskin itu. Perasaan 
beruntungku karena didaftarkan ayahku di SD miskin itu puluhan 
tahun lalu terbukti dan masih berlaku hingga saat ini. 

Fondasi budi pekerti Islam dan kemuhammadiyahan yang telah 
diajarkan padaku menggema hingga kini sehingga aku tak pernah 
berbelok jauh dari tuntunan Islam bagaimanapun ibadahku sering 
berfluktuasi dalam kisaran yang lebar. Sepanjang pengetahuanku tak 
ada mantan warga Muhammadiyah yang menjadi bagian dari sebuah 
daftar para kriminal, khususnya koruptor. Pesan Pak Harfan bahwa 
hiduplah dengan memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima 
sebanyak-banyaknya terefleksi pada kehidupan puluhan mantan siswa 
Muhammadiyah yang kukenal dekat secara pribadi. Mereka adalah tipikal 
orang yang sederhana namun bahagia dalam kesederhanaan itu. 

Pak Harfan dan mantan pengajar perguruan Muhammadiyah 
hingga kini tak pernah berhenti mendengungkan syiar Islam. 
Mereka bangga memikul takdir sebagai pembela agama. Bu Mus 
dan guru-guru muda Muhammadiyah mendapat kesempatan dari 
Depdikbud untuk mengikuti Kursus Pendidikan Guru (KPG) lalu 
diangkat menjadi PNS. Bu Mus sekarang mengajar Matematika di SD 



448 



Anakr 



vmsme 



Negeri 6 Belitong Timur. Beliau telah menjadi guru selama 34 tahun dan 
mengaku tak pernah lagi menemukan murid-murid spektakuler 
seperti Lintang, Flo, dan Mahar. 



^Q^ZS^L^ 



449 






AKU bangga duduk di sini di antara para panelis, yaitu para budaya- 
wan Melayu yang selalu menimbulkan rasa iri. Sebuah benda segitiga 
dari plastik di depanku menyatakan eksistensiku: 

Syahdan Noor Aziz Bin 

Syahari Noor Aziz 

Panelis 

Aku terutama bangga pada sahabat lamaku Mahar Ahlan bin 
Jumadi Ahlan bin Zubair bin Awam, cicit langsung tokoh besar 
pendidikan Belitong, Zubair. la meluncurkan bukunya had ini. Se- 
buah novel tentang persahabatan yang sangat indah. Ketika ia me- 



1 Gotik: dalam fesyen berarti gaya busana dan rias wajah yang serba gelap, biasanya 
dengan lipstik dan rias mata hitam dengan wajah yang dipucatkan, dilengkapi 
dengan perhiasan perak yang berat. Gaya ini populer di tahun 80-an. 



Andrea Himta 

mintaku menjadi panelis, aku langsung setuju. Aku mengambil cuti di 
antara kesibukanku di Bandung sekaligus pulang kampung ke Beli- 
tong. 

Di antara hadirin ada Nur Zaman dan guruku, Bu Mus serta Pak 
Harfan. Ada pula Kucai, sekarang ia adalah Drs. Mukharam Kucai 
Khairani, MBA dan selalu berpakaian safari. Dulu di kelas otaknya 
paling lemah tapi sekarang gelar akademiknya termasuk paling tinggi 
di antara kami. Nasib memang aneh. 

Kucai selalu berpakaian safari karena cita-citanya untuk men- 
jadi anggota dewan rupanya telah tercapai. Ia telah menjadi politisi 
walaupun hanya kelas kampung. Ia menjadi seorang ketua salah satu 
fraksi di DPRD Belitong. Kucai sangat progresif. Ia bertekad menurun- 
kan peringkat korupsi bangsa ini dan ia geram ingin membongkar 
perilaku eksekutif yang sengaja membuat struktur baru guna melegali- 
sasi skenario besar, yaitu merampoki uang rakyat. Bersama Mahar ia 
juga berniat mengembalikan nama-nama daerah di Belitong kepada 
nama asli berbahasa setempat. Nama-nama itu selama masa orde baru 
dengan konyol di-bahasa Indonesiakan. Proyek prestisius mereka 
lainnya adalah mematenkan permainan perosotan dengan pelepah 
pinang. 

Tapi lebih dari semua itu aku rindu pada Ikal. Kasihan pria keri- 
ting yang pernah jadi tukang sortir itu. Kelelahan mencari identitas, in- 
somnia, dan terobsesi dengan satu cinta telah membuatnya agak sene- 
wen. Kabarnya ia hengkang dari kantor pos lalu mendapat beasiswa un- 
tuk melanjufkan pendidikan. Barangkali untuk tujuan sebenarnya: 
membuang dirinya sendiri. 

Setelah acara peluncuran buku, aku, Nur Zaman, Mahar, dan 
Kucai mengunjungi ibu Ikal untuk bersilaturahmi sekalian mena- 



452 



Gotik 



nyakan kabar anaknya di rantau orang. Ketika bus umum yang kami 
tumpangi melewati pasar Tanjong Pandan, aku melihat seorang pria 
yang sangat gagah seperti seorang petinggi bank atau seperti petugas 
asuransi dari Jakarta yang sedang mengincar asuransi aset di provinsi 
baru Babel. 

Pria itu bercelana panjang cokelat teduh senada dengan warna 
ikat pinggangnya. Kemejanya jatuh menarik di tubuhnya yang kurus 
tinggi dengan bahu bidang. Postur yang disukai para perancang mo- 
de. Sepatu pantofelnya jelas sering disemir. Rambutnya lurus pendek 
disisir ke belakang. Kulitnya putih bersih. Tak berlebihan, ia seperti 
Adrien Brody! 

Sayangnya barang bawaannya sama sekali tak sesuai dengan pe- 
nampilan gagahnya. Ia menenteng plastik kresek belanjaan, ikatan daun 
saledri, kangkung, kardus, dan alat-alat dapur. Ia berjalan tercepuk-ce- 
puk mengikuti seorang ibu di depannya. Meskipun sangat repot dan 
kepanasan tapi ia berseri-seri. Aku kenal pria ganteng itu, ia Trapani. 
Tahun lalu aku mendengar cerita pertemuannya dengan Ikal di Zaal 
Batu. Ia mengalami kemajuan dan diizinkan pulang. Aku tak memberi 
tahu Nur Zaman, Mahar, dan Kucai. Aku memandang ibu dan anak itu 
berjalan beriringan sampai jauh. Air mataku mengalir. Nur Zaman, 
Mahar, dan Kucai tak tahu. 

Aku terkenang lima belas tahun yang lalu. Setelah tamat SMA, 
aku, Ikal, Trapani, dan Kucai memutuskan untuk merantau mengadu 
nasib ke Jawa. Hari itu kami berjanji berangkat dengan kapal barang dari 
Dermaga Olivir. Tapi sampai sore Trapani tak datang. Karena kapal 
barang hanya berangkat sebulan sekali maka terpaksa kami berangkat 
tanpa dia. Pada saat itu rupanya Trapani telah mengambil keputusan 
lain. Ia tak datang ke dermaga karena ia tak mampu meninggalkan 
ibunya. Setelah itu kami tak pernah mendengar kabar Trapani. 



453 



Andrea Himta 



SEKARANG kami duduk di beranda sebuah rumah panggung 
kuno khas-Melayu, rumah ibu Ikal. 

"Bagaimana kabarnya si Ikal itu, Ibunda?" tanya Mahar kepada ibu 
Ikal. 

Ibu tua berwajah keras itu awalnya tadi sangat ramah. Beliau 
menyatakan rindu kepada kami, namun demi mendengar pertanyaan 
itu beliau menatap Mahar dengan tajam. 

Mahar tersenyum kecut. Wajah ibu Ikal kelihatan kecewa berat. 
Beliau diam. Tangannya memegang sebilah pisau antip 2 , menceng- 
keramnya dengan geram sehingga dua butir pinang terbelah dua tan- 
pa ampun. Salah satu belahan pinang jatuh berguling dan terjerumus di 
antara celah lantai papan lalu diserbu ayam-ayam di bawah rumah, be- 
liau tak sedikit pun peduli. 

Si pemimpi itu pasti sudah bikin ulah lagi. Mahar sedikit menyesal 
mengungkapkan pertanyaan itu. 

Ibu Ikal meramu tembakau, pinang, kapur sirih, dan gambir yang 
bertumpuk-tumpuk di dalam kotak tembaga yang disebut keminang- 
an. Lalu dua lembar daun sirih dibalutkan pada ramuan tadi sehingga 
menjadi bola kecil. Beliau menggigit bola kecil itu dengan geraham di 
sudut mulutnya seperti orang ingin memutuskan kawat dengan gigi, 
bersungut-sungut, dan bersabda dengan tegas: 

"Terakhir ia mengirimiku sepucuk surat dan diselipkannya selem- 
bar foto dalam suratnya itu." 



2 Pisau antip: sebutan untuk semacam alat pemotong dengan sistem per seperti 
pemotong kuku. 



454 



Gotik 



Beliau meludahkan cairan merah yang terbang melalui jendela 
rumah panggung sambil melilitkan jilbabnya dua kali menutupi 
dagunya sehingga seperti cadar. Beliau jelas sedang marali. 

"Rupanya dia dan kawan-kawannya sedang mengikuti semacam 
festival seni mahasiswa. Wajahnya di foto itu dicoreng-moreng tak 
keruan tapi dia sebut itu seni?!!" 

Kami menunduk tak berani berkomentar. 

"Menurutnya itu seni lukis wajah, ya seni lukis wajah, apa itu... 
gotik! Ya gotik! Dia sebut itu seni lukis wajah gotik! Dan dia sangat 
bangga pada coreng-morengnya itu!" 

Beliau menghampiri kami yang duduk tertunduk melingkari meja 
tua batu pualam. Kami pun ciut. 

"Bukan main anak muda Melayu zaman sekarang!!!" 

Ibu Ikal mengepalkan tinjunya, kami ketakutan, beliau mengacung- 
acungkan pisau antip, kami tak berkutik, suara beliau meninggi. 

"Dia sebut itu seni??? Ha! Seni!! Barangkali dia ingin tahu 
pendapatku tentang seninya itu!!!" 

Beliau benar-benar muntab, murka tak terkira-kira. Untuk kedua 
kalinya beliau menyemburkan cairan merah sirih melalui jendela seperti 
anak- anak panah yang melesat. 

"Pendapatku adalah wajahnya itu persis benar dengan wajah orang 
yang sama sekali tidak pernah shalat!" 

Demi mendengar kata-kata itu Kucai yang tengah memamah 
biak sagon tak bisa menguasai diri. Dia berusaha keras menahan tawa 
tapi tak berhasil sehingga serbuk kelapa sagon terhambur ke wajah 
Mahar, membuat jambul pengarang berbakat itu kacau balau. Kucai 



455 



Andrea Himta 

berulang kali minta maaf pada ibu Ikal, bukan pada Mahar, tapi 
wajahnya mengangguk-angguk takzim menghadap ke Nur Zaman. 



^S^ZSQ^ 



456