(navigation image)
Home American Libraries | Canadian Libraries | Universal Library | Community Texts | Project Gutenberg | Children's Library | Biodiversity Heritage Library | Additional Collections
Search: Advanced Search
Anonymous User (login or join us)
Upload
See other formats

Full text of "Model Ekonomi Rumahtangga Miskin Pertanian"

^i 



meija 



Jurnal Eniu Ekonomi, Akuntansi & Manajemen 
ISSN : 1410-9999 



MODEL EKONOMI RUMAHT ANGGA PERTANIAN MISKIN : 
Perluasan Model Ekonomi Rumahtangga Usaha Tani 

Yuhka Sundaya 

Program Studi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Bandung 
Diterima tanggal 5 Nopember 2007; diterima dalam bentuk revisi tanggal 19 Desember 2007 

Abstract 

This paper aim to build aframework of the poor agricultural household economy. I specify 
the utility function on the basic household economic models. With using statica comparative 
analysis, I promote a land reform policy in order to reducing the poor farmer. Given price of 
staple food, its policy potentially will be able to increase the poor household production and 
motivate they to participate in the market of staple food. Its analysis motivate research activity 
more empirically. 



Key words : Household economic, poverty 

I. PENDAHULUAN 

Kemiskinan (poverty) merupakan 
masalah utama perekonomian. Tingginya 
angka kemiskinan dapat mengurangi 
prestasi pemerintah dalam kegiatan 
pembangunan, karena salah satu sasaran 
dari pembangunan adalah memperbaiki 
kondisi ekonomi masyarakat. Kegiatan 
pembangunan yang tidak mengubah 
kondisi kemiskinan akan menyisakan 
masalah yang memicu permasalahan sosial 
dan politik. Stabilitas negara akan 
terganggu dan biasanya secara simultan 
akan berbalik mengganggu kinerja 
perekonominan yang sedang dibangun. 

Karena itu, masalah kemiskinan 
telah menjadi agenda bersama setiap 
negara yang tergabung dalam membangun 
komitmen tujuan pembangunan millenium 
(Millenium Development Goals, MDGs). 
Tujuan ini memiliki kekuatan mengikat 
bagi pemerintah setiap negara untuk 
memberikan kontribusi dalam mengurangi 
populasi penduduk miskin dunia melalui 



basis wilayah pembangunan masing- 
masing. MDGs menetapkan target, bahwa 
pada tahun 2015 angka kemiskinan dunia 
harus turun sepanahnya dari populasi 
rumahtangga miskin pada tahun 1990. 
Menurut Pasha dan Palanivel (2004), 
setiap tahun angka kemiskinan harus turun 
minimal 3 persen untuk mencapai target 
tersebut. 

Kemiskinan mencerminkan kondisi 
rumahtangga dimana daya belinya lebih 
rendah dibandingkan dengan kebutuhan 
dasar (basic need). Oleh karena itu, 
gagasan utama untuk mengurangi 
kemiskinan adalah meningkatkan daya beli 
supaya sepadan dengan kebutuhan dasar. 

Kerangka kerja mengenai perilaku 
ekonomi rumahtangga miskin masih jarang 
dipublikasikan. Topik kemiskinan 

seringkah diterjemahkan dengan seberapa 
dalam kemiskinan itu terjadi pada suatu 
komunitas atau negara. Boleh jadi arah 
pemikiran ini merupakan implikasi dari 
kurangnya penjelasan mengenai perilaku 



57 



Sunday a/Kinerja : Jurnal Ilmu Ekonomi, Akuntansi dan Manajemen (2007): 56 - 71 



ekonomi rumahtangga miskin dalam buku 
teks ekonomi. Teks ekonomi yang ada 
cenderung mengarahkan aspek pengukuran 
tingkat kemiskinan. Konsep yang biasa 
dikenal dalam komunitas ahli ekonomi 
adalah Lorenz curve, indeks Gini ratios, 
indeks pembangunan manusia dan 
variasinya. Hasil studi literatur 
memberikan motivasi kepada para ahli 
ekonomi untuk mengembangkan kerangka 
kerja ekonomi rumahtangga miskin. 

Menurut kegiatan ekonominya, ada 
rumahtangga miskin yang pasif dan 
sebagian ada yang aktif. Anak-anak yang 
terlantar, kemudian gelandangan dan 
pengemis berbeda sekali karakternya 
dengan petani misalnya. Komunitas petani 
seringkah terjebak ke dalam situasi 
kemiskinan, meski curahan waktu kerjanya 
lebih intensif Dalam paper ini, komunitas 
petani menjadi fokus pembahasan. 
Komunitas petani, meski sebagian besar 
tergolong miskin, memiliki peran strategis 
dalam perekonomian regional maupun 
nasional. Mereka memasok hasil produksi 
untuk kebutuhan konsumsi dan bahan baku 
produksi sektor manufaktur. 

Keterbelakangan sektor pertanian, 
berdasarkan pengalaman di Indonesia, 
telah menimbulkan masalah 

makroekonomi yang cukup serius. 
Kemampuan sektor pertanian yang rendah 
dalam memenuhi kebutuhan lokal, 
mendorong tingginya impor beragam 
komoditi pertanian. Fenomena ini telah 
menimbulkan persoalan khusus dalam 
neraca perdagangan suatu negara. 

Paper ini bertujuan untuk 
membangun replika atau model ekonomi 
rumahtangga miskin. Model ini pada 
dasarnya memperluas model ekonomi 
rumahtangga yang dikembangkan oleh 
Bekcer (1965) dan Singh et al, (1986). 
Dengan demikian model ekonomi 
rumahtangga miskin ini merupakan variasi 
dari model ekonomi rumahtangga 
sebagaimana biasanya. Spesifikasinya 



terletak pada bentuk fungsi utilitas dan 
fungsi anggaran rumahtangga miskin, dan 
tentu saja spesifikasi ini akan memberikan 
argumentasi yang boleh jadi serupa atau 
berbeda dengan model ekonomi 
rumahtangga biasanya. 

Bagian berikutnya dari paper ini 
terdiri dari empat bagian. Bagian kedua 
berisi studi literatur dalam topik 
kemiskinan dan apa yang sudah capai oleh 
beberapa ahli ekonomi yang berhasil 
dikumpulkan. Pada bagian ketiga 
dijelaskan model dasar yang 
dikembangkan oleh penulis. Bagian 
keempat merupakan inti dari paper ini. Di 
dalamnya dijelaskan perilaku ekonomi 
mereka dalam pengambilan keputusan 
konsumsi dan produksi. Pada bagian ini 
diberikan penjelasan mengenai alternatif 
mereka di dalam meningkatkan 
pendapatannya. Bagian terakhir 

menyajikan diskusi yang berpotensi 
memiliki untuk memiliki manfaat praktis. 

II. ULASAN PENELITIAN 
TERKAIT 

Masalah kemiskinan perlu 

didefinisikan secara jelas, meski ada 
pembatasan, agar memudahkan di dalam 
memahaminya dan sekurang-kurangnya 
dapat dimodelkan. Melalui cara ini, kita 
dapat menganalisa sebab kemiskinan dan 
merumuskan pendekatan untuk 

meredamnya. Menurut Encyclopedia 
Americana, kemiskinan {poverty) adalah 
insufficiency atau ketidakcukupan barang 
secara relatif terhadap kebutuhan manusia. 
Dalam ensiklopedi tersebut dijelaskan 
bahwa kemiskinan biasanya dipandang 
dalam dua perspektif yang berbeda yaitu 
sebagai kekurangan uang (moneylessness) 
dan ketidakberdayaan (powerlessness). 
Kekurangan tersebut tidak selalu berarti 
kekurangan kas melainkan kekurangan 
kronis atas semua jenis sumber daya untuk 
memenuhi kebutuhan dasar seperti nutrisi, 
istirahat, ketentraman hati, kesehatan 



Sunday a/Kinerja : Jurnal Ilmu Ekonomi, Akuntansi dan Manajemen (2007). 56 - 71 



58 



jasmani. Kebanyakan ahli ekonomi 
merepresentasikan masalah kemiskinan 
dengan tingkat pendapatan, dengan 
perkataan lain masalah tersebut didekati 
dengan secara moneter. Bank Dunia, 
Assian Development Bank (ADB), 
Organization for Economic Co-operation 
and Development (OECD) dan Millenium 
Development Goals (MDGs) menitik 
beratkan indikator pendapatan untuk 
mengurangi tingkat kemiskinan. 

Anahsa masalah kemiskinan juga 
perlu dibatasi dari jenis aktivitas 
ekonominya. Menurut ADB kemiskinan 
merupakan kelompok yang heterogen. 
Sifat kemiskinan bermacam-macam, ada 
yang timbul karena sebab dan korban 
(victim). Kemiskinan bisa timbul dari 
sebuah keterbatasan dalam kegiatan 
produktif yang menghasilkan pendapatan 
yang rendah. Pelaku ekonomi produktif 
namun miskin secara ekonomi perlu 
menjadi fokus kebijakan ekonomi. 
Informasi dari Arifin (2006), lebih dari 55 
persen jumlah penduduk miskin adalah 
petani, dan 75 persen dari petani miskin 
adalah petani tanaman pangan. Di sektor 
pertanian inilah, permasalahan menjadi 
semakin pelik, karena Hasil Sensus 
Pertanian 2003 menunjukkan bahwa 
jumlah rumah tangga pertanian meningkat 
menjadi 25,4 juta dari sekitar 20,8 juta 
pada tahun 1993 atau meningkat sebesar 
2,2 persen per tahun. Jumlah petani gurem 
pun ikut meningkat dari 10,8 juta (52,7 
persen) menjadi 13,7 juta (56,5 persen) 
rumah tangga. Boleh jadi, kondisi 
kemiskinan tersebut yang menjadi 
penyebab turunnya produksi pertanian dari 
tahun ke tahun. 

Rumahtangga pertanian yang miskin 
harus menjadi fokus dari arah kebijakan 
ekonomi. Bagaimanapun keberadaan 
sektor pertanian sangat penting peranannya 
dalam perekonomian. Sektor ini 
menyediakan komoditi primer yang dapat 
dikonsumsi langsung ataupun menjadi 



input kegiatan produksi sektor manufaktur. 
Penurunan output pertanian karena itu 
dapat mengganggu kegiatan konsumsi dan 
produksi agregat. 

Dari sisi praktis, terdapat beberapa 
gagasan kebijakan untuk meredam 
kemiskinan rumahtangga pertanian. 
Eskola (2004) merekomendasikan 
kebijakan komersialisasi pertanian, 
sedangkan de Janvry dan Sadoulet (1996) 
merekomendasikan program transfer 
kekayaan masing - masing untuk meredam 
kemiskinan. Eskola (2004) berpendapat 
bahwa pembangunan fasilitas pasar yang 
dekat dengan kegiatan pertanian serta 
kemudahan petani untuk mengakses 
informasi pasar dapat meningkatkan 
derajat komersialisasi rumahtangga 
pertanian. Partisipasi pasar akan terbuka 
lebar bagi petani, dan dengan cara 
demikian hambatan penjualan mengecil 
yang pada akhirnya dapat meningkatkan 
pendapatan rumahtangga petani. 

Argumentasi mereka didasarkan pada 
analisa empiris yang berbasis pada 
kerangka kerja ekonomi rumahtangga 
pertanian. Kerangka kerja tersebut telah 
menjadi benchmark atau model dasar 
dalam menganalisis ekonomi rumahtangga 
(Singh et al., (1986), Taylor dan Adelman 
(2002)). 

Peluang ahli ekonomi untuk 
membangun model ekonomi rumahtangga 
miskin masih besar. Ini bisa kita pelajari 
dari Schreinemachers dan Berger (2006). 
Mereka memberikan stimulus kepada para 
ahli ekonomi untuk mengembangkan dan 
menerapkan metode yang tersedia untuk 
menganalisis kemiskinan. 

Mereka membangun model 
kemiskinan rumahtangga pertanian dengan 
metodologi yang baru, istilah yang 
digunakan mereka dan beberapa ahli 
ekonomi adalah novel methodology. 
Pendekatan statistik yang dihasilkan oleh 
para ahli ekonomi mereka pandang kurang 
memenuhi informasi dalam implementasi 



59 



Sunday a/Kinerja : Jurnal Ilmu Ekonomi, Akuntansi dan Manajemen (2007): 56 - 71 



kebijakan. Dari hasil studi literaturnya 
mereka mengemukakan bahwa 

kebanyakan analisis kemiskinan fokus 
dengan pertanyaan seputar determinan atau 
faktor penentu kemiskinan dengan 
mengestimasi sejumlah besar variabel 
eksogen (pendidikan, umur, ukuran 
rumahtangga dan kepemilikan lahan) yang 
semata-mata fokus pada pengukuran 
tingkat kemiskinan. Pendekatan ini 
memang direkomendasikan dalam World 
Bank 's Sourcebook for Poverty Reduction 
Strategies. Mengutip dari Pyatt (2003), 
mereka memandang juga bahwa 
pendekatan tersebut merupakan 

pendekatan statistik {statistical approach) 
yang bergantung pada kesimpulan statistik 
(statistic inferential). Pendekatan statistik 
memang berguna untuk mengindentifikasi 
variabel penting dalam meredam 
kemiskinan. Akan tetapi mereka 
mengevaluasi bahwa pendekatan tersebut 
memiliki dua kelemahan. Pertama, 
pendekatan statistik tidak membuka 
penjelasan detail mengenai peluang dan 
kendala orang miskin untuk 

mengembangkan lahan miliknya dan 
karena itu menghasilkan informasi yang 
terbatas untuk implementasi kebijakan. 

Kedua, simulasi kebijakan berbasis 
pendekatan statistik seolah 

memperlakukan rumahtangga miskin 
sebagai korban yang pasif (passive victims) 
dan tidak menunjukkan pelaku yang 
adaptif Contoh penelitian kemiskinan 
dengan pendekatan statistik dilakukan oleh 
Datt dan Johffe (2005) dan de Janvry et al, 
(2005), Martin & Taylor (2007). 

Penelitian sistem pertanian (farming 
system research, FSR) sebagai pelengkap 
pendekatan statistik juga mereka pandang 
kurang memenuhi. FSR kurang 
merepresentasikan heterogenitas dan 
interaksi yang mendasar untuk memahami 
kemiskinan dan efek distribusional dari 
kebijakan untuk meredam kemiskinan. 
FSR juga mereka pandang terlalu menitik 



beratkan pada sisi produksi, dan relatif 
mengabaikan sisi konsumsi rumahtangga 
pertanian. Karena itu mereka menekankan 
kembali bahwa kontribusi aktual ahli 
ekonomi untuk menganalisis kemiskinan 
masih perlu dikembangkan. Kebutuhan 
analisis ini mereka respon dengan 
membangun model yang mengkuantifikasi 
kemiskinan, melakukan simulasi 

rumahtangga pertanian untuk mengatasi 
kerawanan pangan dan untuk menangkap 
heterogenitas serta efek distribusional. 
Arah penelitian tersebut mereka 
munculkan dengan mengaplikasikan novel 
methodology. Schreinemachers dan 
Berger (2006) menggabungkan model 
pemrograman matematik untuk 

rumahtangga pertanian, model 

disinvestment dan multy agent system 
untuk merajut pemrograman matematik 
terhadap dunia riil rumahtangga pertanian. 
De Janvry et al., (2005) 
menganalisis kemiskinan rumahtangga 
pertanian di China. Menurut mereka, 
dalam kaitannya dengan pengentasan 
kemiskinan, negara ini dapat dijadikan 
pembelajaran bagi negara lain. 
Kesempatan kerja di luar pertanian dapat 
menjadi penyumbang utama pendapatan 
rumahtangga pertanian. Dengan 

menggunakan data hasil survey dari 
Provinsi Hubei, mereka melakukan 
simulasi yang sifatnya counterfactual 
terhadap rumahtangga pertanian yang tidak 
mengakses sumber pendapatan dari 
kegiatan off-farm. Simulasi mereka 
lakukan dengan menggunakan model 
ekonometrika probit. Persamaannya 
menjelaskan bahwa perubahan pendapatan 
dua jenis petani : petani yang tidak 
memiliki pekerjaan lain di luar pertanian 
dan petani yang terlibat dalam kegiatan off- 
farm. Pendapatan tersebut dijelaskan oleh 
alokasi input tenaga kerja, lahan, jarak 
rumahtangga terhadap daerah kabupaten, 
dan lamanya pendidikan. Variabel eksogen 
ini mereka sebut dengan karakteristik 



Sunday a/Kinerja : Jurnal Ilmu Ekonomi, Akuntansi dan Manajemen (2007). 56 - 71 



60 



rumahtangga. Hasil simulasi menunjukkan 
bahwa tanpa ada kesempatan kerja off- 
farm kemiskinan pedesaan akan lebih 
tinggi dan mendalam, dan hasilnya 
kesenjangan pendapatan akan makin 
tinggi. Mereka menemukan bahwa 
pendidikan, kedekatan lokasi terhadap 
kota, efek tetangga dan efek desa terlihat 
krusial dalam menolong rumahtangga 
tertentu untuk memperoleh akses terhadap 
kesempatan itu. Lebih lanjut mereka 
menyimpulkan bahwa partisipasi dalam 
kegiatan off-farm dapat memberikan efek 
limpahan yang positif terhadap produksi 
rumahtangga pertanian. 

Datt dan Joliffe (2005) membangun 
model empiris kemiskinan di Mesir. 
Mereka memusatkan perhatian untuk 
menggali determinan kemiskinan disana. 
Dengan menggunakan metodologi 
ekonometrika, mereka merepresentasikan 
kemiskinan dengan konsumsi per kapita. 
Model ekonominya menjelaskan 

perubahan konsumsi per kapita yang 
dideterminasi oleh karakteristik 

rumahtangga. Hasil estimasi menunjukkan 
bahwa karakteristik rumahtangga yang 
menjelaskan perubahan pengeluaran per 
kapita tersebut mencakup ukuran 
rumahtangga, lama pendidikan primer 
yang ditempuh oleh suami dan istri, luas 
lahan olahan yang dimiliki, jarak sekolah 
dari rumah, dan jarak rumah sakit dari 
rumah. Hasil estimasi dan hasil validasi 
variabel tersebut menjelaskan perubahan 
konsumsi per kapita rumahtangga di 
pedesaan dan perkotaan. Dikombinasikan 
dengan hasil simulasi terhadap model 
empiris tersebut, mereka menekankan 
pentingnya peningkatan pendidikan orang 
tua di dalam meredam masalah 
kemiskinan. 

de Janvry dan Sadoulet (1996) 
merekomendasikan implementasi program 
transfer kekayaan untuk memecahkan 
masalah kemiskinan. Program ini mesti 
didukung oleh fleksibilitas dalam 



merealokasi sumber daya. Mereka 
memandang bahwa terbatasnya akses 
terhadap kekayaan (asset) merupakan 
determinan utama masalah kemiskinan. 
Pandangan ini selaras dengan definisi 
kemiskinan menurut ADB. Hanya saja 
dalam definisi ADB, asset tersebut tidak 
terbatas fisik, lebih dari itu aspek 
pendidikan dan kesehatan dipandang 
sebagai asset. de Janvry dan Sadoulet 
(1996) menganalisis peranan kekayaan 
dalam menjelaskan strategi alokasi tenaga 
kerja rumahtangga, sumber pendapatan, 
tingkat pendapatan yang dicapai dan 
kemiskinan per kapita diantara kelas 
rumahtangga pertanian di Meksiko. 
Mereka menggunakan model ekonomi 
rumahtangga non separahle untuk 
menjelaskan redistribusi kekayaan melalui 
efek pendapatan langsung dan efek 
keseimbangan umum. Hasilnya 

menunjukkan bahwa redistribusi lahan 
memberikan manfaat pemerataan dan 
efisiensi. Mereka berpendapat bahwa 
terdapat skala ekonomi dalam penggunaan 
tenaga kerja sendiri {self-employment) 
dalam usaha kecil, modal manusia untuk 
partisipasi pasar tenaga kerja, dan modal 
sosial untuk migrasi internasional yang 
menimbulkan konflik antara pemerataan 
dan efisiensi sosial dalam meredistribusi 
kekayaan. Mereka mempertimbangkan 
bahwa pembuat kebijakan harus 
memahami derajat heterogenitas yang 
menjadi ciri penduduk desa. 

Bermula dari definisi kemiskinan, 
tersirat bahwa model ekonomi untuk 
membantu menganalisis kemiskinan, 
sekurang-kurangnya harus menangkap gap 
antara pendapatan dengan nilai kebutuhan 
dasar. Dari hasil studi literatur karakteristik 
ini belum terinternalisasikan secara 
eksplisit ke dalam model yang digunakan 
para ahli ekonomi untuk menganalisis 
masalah tersebut. Ini memotivasi penulis 
untuk berpartisipasi dengan para ahli 



61 



Sunday a/Kinerja : Jurnal Ilmu Ekonomi, Akuntansi dan Manajemen (2007): 56 - 71 



ekonomi lain dalam membangun model 
ekonomi rumahtangga miskin. 

III. MODEL DASAR 

Becker (1965) melakukan revisi 
terhadap teori ekonomi neo-klasik, 
khususnya yang berpangkal pada 
Marshallian. la membangun model 
ekonomi rumahtangga dimana pendapatan 
bersifat endogen, sedangkan dalam model 
Marshallian pendapatan bersifat eksogen. 
Asumsi dalam ciri pendapatan ini memiliki 
implikasi penting terhadap teori 
permintaan dan teori penawaran yang telah 
dikembangkan oleh Neo-Klasik (Pollak, 
2002). 

Replika ekonomi rumahtangga 
menyatakan bahwa ketika pendapatan 
bersifat endogen, maka keputusan 
konsumsi tidak bisa dilepaskan dengan 
keputusan produksi. Sementara itu, dalam 
model ekonomi neo-klasik, analisis 
konsumsi separable dengan keputusan 
produksi yang bersumber pada tahapan 
analisis yang terpisah, konsumen murni 
dan produsen mumi. Karenanya yang 
dilakukan oleh Bekcer (1965) dan 
Singh et al.,(1986) pada dasarnya adalah 
melonggarkan asumsi yang digunakan oleh 
ahli ekonomi neo-klasik dalam 
menganalisis perilaku ekonomi 

rumahtangga (household hehaviour). 

Singh et al., (1986) melihat bahwa 
anggaran rumahtangga bersifat 

endogeneous, sedangkan di dalam model 
Marshall anggaran dianggap bersifat 
eksogen. Singh etal., (1986) 

mengembangkan model ekonomi 

rumahtangga Becker (1965) dengan unit 
analisisnya di sektor pertanian. Becker 
(1965) membangun teori ekonomi 
rumahtangga secara umum tanpa aplikasi 
kegiatan rumahtangga secara spesifik. 
Teori tersebut pada dasarnya merelaksasi 
model Marshall yang menganggap 
pendapatan rumahtangga bersifat endogen 
(money income held constani). 



Seperti dalam model Marshall, 
rumahtangga dianggap meningkatkan 
kesejahteraannya melalui maksimisasi 
kegunaan atau utilitas yang mereka peroleh 
dari konsumsi beragam komoditi. Dalam 
model Bekcer (1965) dan 

Singh et al.,(1986) waktu santai dianggap 
sebagai bentuk konsumsi. Karenanya, 
rumahtangga tidak hanya mengkonsumsi 
komoditi fisik, tapi ia juga mengkonsumsi 
waktu seperti mengkonsumsi komoditi 
fisik lainnya. Fungsi kegunaan ini 
dinyatakan secara matematis pada 
persamaan [1]. 



U(Xi„ Xin, Xi), untuk a, m, 1 = 1, ..., n 



[1] 



Fungsi kegunaan tersebut memiliki 
property atau sifat-sifat seperti biasanya. 
Sifat seolah cekung diterapkan terhadap 
fungsi kegunaan, dimana kegunaan 
meningkat seiring dengan bertambahnya 
konsumsi atas komoditi tersebut, namun 
dengan tingkat perubahan yang menurun. 
Persamaan [1] menyederhanakan bahwa 
kegunaan rumahtangga. U, diperoleh dari 
konsumsi komoditi yang diproduksi 
sendiri, Xa, komoditi yang dibeli dari 
pasar, Xm (selanjutnya disebut dengan 
komoditi pasar), dan waktu santai, Xi. 

Kendala yang dihadapi rumahtangga 
untuk tujuan memaksimisasi fungsi 
kegunaannya berupa pendapatan potensial, 
sumberdaya waktu dan fungsi produksi. 
Pendapatan potensial ini bersifat endogen, 
seperti dinyatakan secara matematis pada 
persamaan [2]. 

P.„.X„ = Y = P,(Q,-X,) + W(L-F) [2] 

- V.Z + E 
Persamaan [2] menjelaskan 
keseimbangan anggaran rumahtangga, 
pengeluaran sama setara {equivalent) 
dengan pendapatan. P^, Pa dan W masing- 
masing adalah harga komoditi pasar, harga 
komoditi sendiri dan tingkat upah. Qa, L, 
F, dan Z masing-masing adalah jumlah 



Sunday a/Kinerja : Jurnal Ilmu Ekonomi, Akuntansi dan Manajemen (2007). 56 - 71 



62 



produksi rumahtangga, tenaga kerja 
keluarga dan tenaga kerja luar keluarga 
dan input produksi variabel non tenaga 
kerja (selanjutnya disebut input produksi 
lain). Rumahtangga disebut sebagai unit 
yang menawarkan tenaga kerja jika L > F, 
kondisi sebaliknya menyatakan bahwa 
rumahtangga sebagai unit pengguna tenaga 
kerja dari luar {hired labor). Rumahtangga 
termasuk kategori komersial jika, Xa=0, 
semi komersial jika Qa > Xa, dan 
susbsisten jika Qa = Xa. Term "E" dalam 
sisi kanan persamaan [2] menunjukkan 
pendapatan lain yang diterima secara 
eksogen di luar aktivitas produksi 
rumahtangga. 

Kendala kedua adalah kendala 
sumberdaya waktu. Kendala ini merupakan 
persamaan identitas, bentuknya dinyatakan 
pada persamaan [3]. 



T = L+X 



[3] 



Persamaan [3] menyatakan bahwa waktu 
yang dialokasikan untuk santai dan 
bekerja, sama dengan total sumberdaya 
waktu yang dimiliki oleh rumahtangga. 
Identitas ini dapat disubstitusikan ke dalam 
persamaan [2], sehingga diperoleh 
persamaan [2a] berikut. 






Y = Pa(Qa-Xa) 

+ W(T - Xi 



■ F) - V.Z + E [2a] 



Dengan mengaturnya kembali maka 
diperoleh identitas pendapatan potensial 
yang lebih eksplisit seperti dinyatakan 
pada persamaan [2b]. 

P,,.X.„ + Pa.Xa + W.Xi = Y = 

PaQa-V.Z-W.F + W.T+E [2b] 

Istilah "potensial", muncul dari 
diinkorporasikannya nilai total sumberdaya 
waktu yang dievaluasi dengan besaran 
upah pada pasar kerja (W. T). Oleh karena 
itu, pendapatan potensial dapat diartikan 
sebagai penjumlahan dari keuntungan 



rumahtangga, %, nilai total sumberdaya 
waktu dan pendapatan eksogen. Term 
keuntungan ditunjukkan pada persamaan 
[2.b], yaitu % = PaQa - V.Z - W.F. 

Kendala ketiga bagi rumahtangga 
adalah kendala fungsi produksi. Dalam 
bentuk yang implisit fungsi produksi ini 
dinyatakan pada persamaan [4]. 



G(Qa;L,Z) 



[4] 



Dalam hal ini rumahtangga dianggap 
hanya menghasilkan satu komoditi, Qa, 
yang bergantung pada penggunaan secara 
intensif atas dua jenis input, L dan Z. 
Fungsi produksi implisit tersebut. G, 
dianggap memiliki properti yang serupa 
dengan teori ekonomi produksi biasanya. 
Fungsi produksi ini dianggap seolah 
cembung, yaitu produksinya berubah 
secara positif seiring dengan perubahan 
penggunaan input, namun dengan tingkat 
perubahan yang menurun {diminishing 
return). 

Model dasar ekonomi rumahtangga 
tersebut menunjukkan sifat separable atau 
rekursif, walaupun bersifat simultan dalam 
penggunaan sumberdaya waktunya. Secara 
rekursif, tahap pertama, rumahtangga 
menentukan terlebih dahulu penggunaan 
inputnya yang optimal, L dan Z dengan 
keputusan rasional, yaitu memaksimisasi 
pendapatan potensialnya [2b] dengan 
syarat ikatan fungsi produksi [4], dan tahap 
kedua, rumahtangga memaksimisasi fungsi 
kegunaannya dengan syarat ikatan 
pendapatan potensialnya [2b]. 

Keputusan penggunaan input yang 
optimal diperoleh dari upaya untuk 
memaksimisasi keuntungan dengan syarat 
ikatan fungsi produksi, sehingga 
melahirkan kondisi dimana rumahtangga 
akan menggunakan tenaga kerja dalam 
proses produksinya pada saat nilai 
tambahan produk fisik tenaga kerjanya 
(value marginal physical product oflahor) 
setara dengan tingkat upah di pasar kerja 



63 



Sunday a/Kinerja : Jurnal Ilmu Ekonomi, Akuntansi dan Manajemen (2007): 56 - 71 



(eguimarginal principle). Keputusan 
penggunaan input lainnya serupa dengan 
keputusan penggunaan tenaga kerj a. 



P,.(2Q,/2L) = W 

Pa.(?Qa/?Z) = v 



[5] 



Berdasarkan pada turunan parsial fungsi 
keuntungan rumahtangga, maka 

dideterminasi bahwa penawaran produk 
rumahtangga dan alokasi penggunaan input 
yang optimal ditentukan oleh variabel 
eksogennya, yaitu harga output, tingkat 
upah dan harga input lain. 



Qa(Pa, W, V) 

L*(Pa, W, V) dan Z*( P„ W, V) 



[6] 
[7] 



Setelah rumahtangga membentuk 
pendapatan potensialnya, maka ia dapat 
mencapai kesejahteraannya melalui 
maksimisasi fungsi kegunaan dengan 
properti tertentu. Maksimisasi fungsi 
kegunaan [1] dengan syarat ikatan 
pendapatan potensialnya [2.b], 

memberikan determinan permintaan 
rumahtangga atas komoditi konsumsi, 
seperti disajikan pada persamaan [8]. 



X,(P,„, Fa, W, Y*), untuk i = a, m, 1 



[8] 



Permintaan rumahtangga atas komoditi 
konsumsi ditentukan oleh harga komoditi, 
tingkat upah dan pendapatan potensial. 

Rumahtangga memperoleh 

pendapatan dari penjualan surplus 
produksinya {marketed surplus, MS). 
Surplus produksi merupakan selisih antara 
banyaknya produksi rumahtangga, Qa, 
dengan banyaknya konsumsi rumahtangga 
atas produknya sendiri, Xa. Oleh karena 
itu, penjualan surplus produksinya 
dideterminasi oleh seluruh harga output, 
harga input dan pendapatan. 

MS, = Q,-X„ [9] 

sehinggaMS,(P.„,P,,W,V,Y*) 



Selanjutnya bisa dipertimbangkan, 
bagaimana jika terjadi guncangan (shock) 
terhadap harga produk rumahtangga. Ini 
dapat dipelajari dari persamaan [10]. 
Persamaan tersebut merupakan hasil 
differensiasi persamaan [8] dalam 
menanggapi perubahan harga produk 
RTPM. Sebagai penyederhaan dianggap 
bahwa produk rumahtangga termasuk 
kategori barang normal. Dalam kasus 
usaha tani, guncangan ini bisa ditimbulkan 
oleh kebijakan operasi pasar untuk 
memberikan harga patokan minimum dan 
maksimum. Dari sisi produksi, perubahan 
produksi searah dengan perubahan harga. 
Kenaikan harga misalnya memberikan 
dorongan kepada rumahtangga untuk 
meningkatkan produksinya. Dari sisi 
permintaan, melalui statika komparatif, 
guncagan tersebut memberikan efek 
substitusi (direct) dan efek keuntungan 
(indirect). Karena itu, besar dan arah 
perubahan permintaan tidak bisa dipastikan 
(tentatif). Efek subsitusi, seperti biasanya 
memiliki pengaruh negatif, sedangkan efek 
keuntungan bisa memiliki efek negatif atau 
positif Efek positif dalam efek keuntungan 
terjadi bila rumahtangga memiliki surplus 
produksi, Qa > Xa, sedangkan efek negatif 
terjadi bila rumahtangga tersebut tidak 
memiliki surplus produksi, Qa = Xa atau Qa 

<Xa. 

dX,/dP, = ?X,/?Pa 

+ (?Xa/?Y*).(?Y*/?X,) 

= dXJd?, + 
(Qa-X,).(?X,/?Y*) [10] 

Efek total perubahan harga tersebut 
terhadap rumahtangga dapat dikaji dari 
perubahan surplus produksi, seperti 
disajikan pada persamaan [1 1]. 

dMS,/dP, = 2Qa/2Pa + dXJS?^ 

+ (Qa-X,).(?Xa/?Y*) [11] 



Sunday a/Kinerja : Jurnal Ilmu Ekonomi, Akuntansi dan Manajemen (2007). 56 - 71 



64 



Persamaan [11] menjelaskan bahwa 
penjualan surplus produksi sebagai sumber 
pendapatan rumahtangga sangat tergantung 
pada kepekaan output dan permintaan 
terhadap harga dan efek keuntungan 
rumahtangga. 

Model ekonomi rumahtangga 
pertanian tersebut, pertama kali 
diintroduksikan untuk menjelaskan temuan 
empiris yang bersifat counterintuitive, 
dimana kenaikan harga bahan makanan 
pokok tidak secara signifikan 
meningkatkan surplus pasar di sektor 
pertanian Jepang (Kuroda dan Yotopoulos, 
1978). Model ini menjelaskan keterkaitan 
antara keputusan produksi dan konsumsi. 
Dari sisi produsen, rumahtangga pertanian 
harus memilih alokasi tenaga kerja dan 
beragam input produksi lainnya, dan dari 
sisi konsumen, rumahtangga harus 
menentukan alokasi pendapatan dari 
keuntungan pertanian dan partisipasi kerja 
pada pekerjaan lain untuk barang dan jasa 
konsumsi. Keuntungan pertanian 

mencakup keuntungan yang melekat pada 
barang yang diproduksi dan dikonsumsi 
oleh rumahtangga yang sama, dan 
konsumsi mencakup barang yang dibeli 
serta diproduksi sendiri. Sepanjang pasar 
barang dialokasikan pada pasar yang 
bersaing sempurna, termasuk tenaga kerja, 
maka rumahtangga akan indifferent antara 
mengkonsumsi barang yang diproduksi 
sendiri dan barang yang dibeli melalui 
mekanisme pasar. Dengan mengkonsumsi 
seluruh atau sebagian output yang dapat 
dijual pada harga pasar tertentu, 
rumahtangga secara melekat membeli 
barang dari dirinya sendiri. Kemudian, 
dengan mengalokasikan waktu untuk 
istirahat atau kegiatan produksi, 
rumahtangga secara melekat membeli 
sumber daya waktunya sendiri, yang 
dinilai dengan upah pasar. Model ini 
diterapkan terhadap sektor pertanian yang 
mengkonsumsi sebagian outputnya atau 



sebagian inputnya, yaitu pertanian tanaman 
pangan. 

IV. MODEL EKONOMI RTPM 

Pengertian kemiskinan tidak 
memiliki pengertian tunggal. Tapi 
bagaimanapun, menurut Glewwe (2003) 
pengertian umumnya adalah standar hidup 
layak minimal yang harus diperoleh 
individu dan rumahtangga jika mereka 
memiliki kesempatan hidup. Di dalam 
mereplikasi fitur ekonomi RTPM, 
kebutuhan dasar (subsisten) perlu 
diinkorporasikan ke dalam fungsi utilitas 
mereka. Belajar dari Henderson dan 
Quandt (1980) fungsi utilitas Stone-Geary 
karenanya cocok untuk menangkap ciri 
RTPM ini. Relaksasi model ekonomi 
rumahtangga untuk membuat model 
ekonomi rumahtangga pertanian miskin, 
dilakukan dengan menginkorporasikan 
fungsi utilitas tersebut ke dalam fungsi 
utilitas yang dijelaskan pada model dasar. 
Fungsi utilitas RTPM disajikan pada 
persamaan [12]. 

U = (X„-Cj'»(X,-Cj'-(X.-Cj^- [12] 
(X,-Cj''(X^-Cj^' 

dimana U adalah utilitas RTPM. Xm, Xs, 
Xi, Xh, dan X„ secara berurutan adalah 
jumlah konsumsi komoditi yang tersedia di 
pasar, komoditi yang dihasilkan suami, 
komoditi yang dihasilkan istri, waktu 
senggang suami dan waktu senggang istri. 
Cm, Cs, Cl, Ch, dan C„ adalah jumlah 
konsumsi subsisten (kebutuhan dasar) dari 
setiap komoditi yang dijelaskan 
sebelumnya. 

Fungsi utilitas Stone-Geary 
menunjukkan tingkat pengembalian yang 
konstan {constan return to scale) atau 
mirip dengan properti fungsi Cobb- 
Douglass, dimana ^Sz = 1, untuk z = m, s, 
i, h, w. Rumahtangga yang pas-pasan atau 
subsisten dicirikan oleh Xi = Cj, untuk i = 



65 



Sunday a/Kinerja : Jurnal Ilmu Ekonomi, Akuntansi dan Manajemen (2007): 56 - 71 



m, s, i, h, w, dan untuk RTPM dicirikan 
oleh Xi < Cl, untuk i = m, s, i, h, w. 
Kesejahteraan rumahtangga subsisten 
bersifat konstan, hal ini disebabkan karena 
mereka tidak menerima utilitas dari 
konsumsi komoditas yang setara dengan 
jumlah kebutuhan dasar setiap 
komoditinya.' Sedangkan bagi RTPM, 
jelas bahwa jika seluruh komoditi yang 
dikonsumsinya berada di bawah jumlah 
kebutuhan dasarnya, maka utilitas RTPM 
menjadi irrasional, sedangkan jika hanya 
separohnya atau salah satu konsumsinya 
berada di bawah kebutuhan dasarnya, 
maka utilitas RTPM hanya diperoleh dari 
sebagian komoditi yang mana 
konsumsinya di atas kebutuhan dasarnya. 

Mirip dengan model dasar ekonomi 
rumahtangga, kendala di dalam 
memaksimisasi fungsi utilitas RTPM 
adalah pendapatan potensial, sumberdaya 
waktu dan fungsi produksi RTPM. 
Selanjutnya, diasumsikan bahwa 

pendapatan RTPM bersifat endogen. 
Sebagai contoh, rumahtangga petani gurem 
memperoleh pendapatan dari hasil 
penjualan surplus produksi ubinya. 
Dimana penjualan surplus ini merupakan 
jumlah hasil panen ubi yang dijual setelah 
dikurangi oleh kebutuhan dasar mereka 
atas ubi. Surplus produksi dalam hal ini 
merupakan pendapatan yang menjadi 
sumber pengeluaran rumahtangga petani 
gurem. Konsekuensi lainnya, jika hasil 
panen ubi sama dengan jumlah kebutuhan 
dasarnya, maka rumahtangga ini tidak akan 
memperoleh pendapatan uang, besarnya 
hasil panen sama dengan besarnya 
kebutuhan dasar rumahtangga. Dari uraian 
ini, secara intuitif menunjukkan bahwa 
keputusan konsumsi tidak bisa dipisahkan 
dengan keputusan produksi RTPM. 
Anggaran RTPM merupakan kendala 

Setiap bilangan nol dipangkalkan dengan bilangan 
rasional hasilnya sama dengan nol, karenanya 
utilitas. U, sama dengan nol 



dalam memaksimisasi fungsi utilitasnya. 
Anggaran RTPM dispesifikasi melalui 
persamaan [13]. 



P.„.X„ = Y = P,(Q, - X,) + P,(Q, - X0 

+ PhToh + PwTow 



V,.K,-V,K. + E 



[13] 



dimana P^, Ps, Pi, Ph, P„ secara berurutan 
adalah harga komoditi konsumsi yang 
dibeli di pasar, harga produk yang 
dihasilkan suami, harga produk yang 
dihasilkan istri. Notasi Qs, Qi, Toh, To„, 
dan E secara berurutan adalah jumlah 
produk yang dihasilkan suami, jumlah 
produk yang dihasilkan istri, waktu kerja 
suami pada pekerjaan lain, waktu kerja 
istri pada pekerjaan lain, dan pendapatan 
eksogen (pinjaman dan/atau pemberian 
dari pihak luar RTPM). Notasi Vs dan V, 
secara berurutan adalah harga input 
variabel lainnya yang digunakan dalam 
kegiatan produksi suami dan istri, 
sedangkan Ks dan Kj adalah jumlah input 
variabel lainnya yang digunakan dalam 
kegiatan produksi mereka masing-masing. 

Persamaan [13] menjelaskan bahwa 
sumber pengeluaran RTPM untuk membeli 
komoditi konsumsi yang tersedia di pasar 
bersumber dari pendapatan RTPM yang 
diperoleh dari penjualan surplus produksi 
{marketed surplus) suami dan istri 
ditambah dengan pendapatan suami dan 
istri dari pekerjaan sambilannya, dikurangi 
dengan biaya produksi dalam kegiatan 
produksi suami dan istri dan ditambah 
pendapatan eksogen. 

Kendala kedua adalah kendala 
sumberdaya waktu yang dimiliki oleh 
suami dan istri, dinyatakan pada 
persamaan [14]. 



Th - Xh + Tws + Toh 
T = y + T + T 

J- w -'^.w J- wi J- ow 



[14] 



Notasi Th dan T„ adalah total sumberdaya 
waktu yang masing-masing dimiliki oleh 
suami {husband) dan istri {wife). Suami 



Sunday a/Kinerja : Jurnal Ilmu Ekonomi, Akuntansi dan Manajemen (2007). 56 - 71 



66 



dan istri secara umum mengalokasikan 
sumberdaya waktunya untuk waktu santai 
(Xh dan X„), kegiatan produksi mereka 
(T„s dan T„i), serta alokasi waktu untuk 
pekerjaan lain sebagai pekerjaan sambilan 
misalnya (Toh dan T„„). 

Kendala kedua dapat dicolapse 
menjadi kendala tunggal, yaitu dengan cara 
mensubstitusikan identitas variabel waktu 
untuk pekerjaan sambilan suami dan istri, 
masing-masing pada persamaan [14] ke 
dalam persamaan [13], dan dengan 
menyusunnya kembali menurut komponen 
pengeluaran konsumsi, pendapatan dan 
pengeluaran produksi diperoleh. 



PmXin + PhXh + Pw■X^^, - 

Ps(Qs-X,) + P.(Q.-XO+Ph.Th 
+ Pw.Tw- (Pi,T„, + P„.T„, + V,.K, 
+ V,.KO + E 



[15] 



Persamaan [15] menyatakan pendapatan 
potensial RTPM, atau menurut Becker 
(1965) disebut dengan "full income". 
Istilah "potensial" muncul karena 
diinkorporasikannya nilai sumberdaya 
waktu suami dan istri (Ph.Th + PwT„). 
Pendapatan potensial berikutnya dapat 
didefinisikan sebagai pendapatan RTPM 
seandainya seluruh waktu digunakan untuk 
kegiatan produktif. Sisi kiri persamaan 
tersebut menunjukkan pengeluaran RTPM 
untuk komoditi konsumsi, term pertama 
dan kedua sisi kanan persamaan tersebut 
menyatakan pendapatan RTPM dari 
penjualan surplus produksi yang dihasilkan 
suami dan istri. Dan term kelima 
(persamaan dalam tanda kurung) 
menyatakan pengeluaran atau biaya 
produksi RTPM. Persaman [15] 
menegaskan bahwa pendapatan RTPM 
bersifat endogeneous. Untuk 

penyederhanaan, kita ringkas seluruh term 
sisi kanan persamaan [15'] dengan Y*, 
seperti dinyatakan pada persamaan [4']. 



Kendala terakhir yang dihadapi 
RTPM dalam upaya memaksimisasi 
kesejahteraannya adalah kendala fungsi 
produksi suami dan istri. Untuk 
penyederhanaan kendala ini dinyatakan 
secara implisit (implicit joint production 
function). 



G(Qs,Q.;Kks,Kk,F) 



[16] 



Y* = P„.X„ + Ph.Xh + PwX„ 



[15' 



Notasi G menyatakan bentuk fungsi 
produksi yang diasumsikan seolah 
cembung. Dimana tambahan produksi 
mengalami penurunan seiring dengan 
tambahan penggunaan input variabel. 
Notasi "F" dalam persamaan [16] 
menyatakan input tetap RTPM. 

Berikutnya dianggap bahwa RTPM 
berperilaku rasional^, sehingga 

konsekuensinya penentuan jumlah 
komoditi yang mesti diproduksi dan 
dikonsumsi berbasis pada equimarginal 
principle. Eguimarginal principle dapat 
kita tentukan dengan cara memaksimisasi 
fungsi utilitas RTPM dengan syarat ikatan 
fungsi pendapatan potensial [15] dan 
fungsi produksi gabungan [16]. Dalam 
bentuk fungsi Lagrangean, perilaku 
maksimisasi ini disimplifikasi pada 
persamaan [17]. 

£ = (J^„ -Cj'- (X, -C,f (J^ -C,)'- (J^, -Q,)^ (X„ -Cj-- 

+ ^{P,(Q, - X,) + P.(Q. - X) + Pi,Th 
+ P„.T„ - (Pi,T„, + P„.T„, + V,K, + V,KO 
-(P„.X„ + Pi,Lh + P„.LJ+E} 
+ eG(Q,,Q.;T„,,T„.,Kk,,Kk,F) [17] 



Pengalaman penulis melalui wawancara secara 
random dengan para petani di Jawa Barat dalam 
waktu dan tempat yang berbeda menunjukkan 
bahwa variable harga input dan harga output 
menjadi pertimbangan RTPM dalam keputusan 
ekonomi tertentu. Pengamatan random ini 
menunjukkan bahwa prinsip equimarginal 
exsistences dalam keputusan ekonomi RTPM. 



67 



Sunday a/Kinerja : Jurnal Ilmu Ekonomi, Akuntansi dan Manajemen (2007): 56 - 71 



Turunan parsial dari persamaan [17] 
disajikan sebagai pada persamaan [18]. 



S£/ex, 


5 %S, 

Xz-Cz 


= 


[18.1a] 


d£ldX 


= Y* -P X 


= 


[18.1b] 


\rk e£/SQn 


= p„ +e/XG„ 


= 


[18.2a]' 


IIX 3£/STws 


= -Ph + e/A,G„s 


= 


[18.2b] 


IIX S£/3Twi 


= -Pw + e/>.Gwi 


= 


[18.2C] 


i/x a/SKfa 


= -v, + e/XGfa 


= 


[18.2d] 


11% a/SKM 




= 


[18.2e] 


S£/se 


Kk,F) 


= 


[18.21] 
[18] 



Disini diasumsikan bahwa 

keputusan ekonomi RTPM ditentukan 
secara rekursif atau separabel, meski 
keduanya simultan dalam variabel waktu. 
Persamaan [7.2a] menunjukkan bahwa 
kombinasi jumlah produksi suami dan istri 
ketika kurva isorevenue menyinggung di 
satu titik pada kurva tingkat pergantian 
produk {rate of product transformastion, 
RPT). Dimana kemiringan isorevenue 
ditunjukkan oleh kemirinan rasio harga 
produk suami dan istri. Bagi rumahtangga 
subsisten, harga tidak menjadi insentif 
dalam keputusan produksinya. Alokasi 
waktu kerja suami-istri RTPM dan 
penggunaan input variabel lainnya yang 
optimal ditentukan dengan equimarginal 
principle. Waktu kerja yang dialokasikan 
oleh RTPM dalam garapan produksinya 
masing-masing ditentukan ketika 

tambahan penerimaan atas tambahan 
waktu kerja, Gkn (untuk n = h, w), sama 
dengan tambahan pengeluaran atas 
tambahan waktu kerja, dimana mereka 
menyetarakannya dengan tingkat upah 
pada pekerjaan sambilan. Jika mereka 

untuk z = m, s, i, h, w 
untuk n = s dan i 



tidak memiliki pekerjaan sambilan, maka 
alokasi waktu kerja itu ditentukan secara 
subyektif yang bisa dipastikan menjadi 
penyebab inefisiensi produksinya. 
Penentuan jumlah input variabel lainnya 
serupa dengan keputusan alokasi waktu 
kerja. Dengan memecahkan persamaan 
[18.2], maka kita dapat memperoleh 
determinan dalam penawaran produk dan 
permintaan input RTPM, hasilnya 
disajikan pada persamaan [19]. 

Q„(P,,P„Ph,Pw,V,,VO, [19.1] 

untuli n = s dan i 

T™(Ps,P.Ph,Pw,V,,VO, [19.2] 

untuli n = h dan 

w 

K^Ps, P. Ph, Pw, V,, VO, [19.3] 

untuk n = s dan i 

Hasil dari proses pengambilan 
keputusan produksi RTPM menentukan 
besarnya pendapatan potensial mereka. 
Keputusan produksi sebelumnya 

menentukan keuntungan melalui hasil 
produksi aktual, Qs dan Qi, serta 
menentukan biaya produksi melalui 
penentuan alokasi waktu kerja dan input 
variabel lainnya. Besarnya pendapatan 
potensial ini selanjutnya menjadi kendala 
RTPM dalam mencapai tingkat 
kesejahteraannya melalui keputusan 
konsumsi yang menentukan tingkat 
utilitasnya. Dengan memecahkan 

persamaan [18. la] dan [18. Ib], maka kita 
dapat memperoleh determinan fungsi 
permintaan RTPM, seperti disajikan pada 
persamaan [20]. 

X,= C, + a,/P,(Y*-P,,.C„, 

untuk Z = m. S, i, h, w [9] 
Persamaan tersebut menyatakan bahwa 
permintaan RTPM atas beragam komoditi 
konsumsi ditentukan oleh kebutuhan 
dasarnya yang bersifat konstan, nilai 
tambahan kegunaan atas tambahan 
konsumsi setiap komoditinya, (a^/Pz), 



Sunday a/Kinerja : Jurnal Ilmu Ekonomi, Akuntansi dan Manajemen (2007). 56 - 71 



68 



pendapatan potensialnya, dan seluruh 
harga komoditi yang membentuk fungsi 
utilitasnya. Karena pendapatan potensial 
RTPM bersifat endogen, maka suatu 
perubahan dalam harga komoditi konsumsi 
akan menciptakan pengambilan keputusan 
konsumsi yang cukup kompleks bagi 
RTPM. 

Contoh untuk mengevaluasi dampak 
perubahan harga produk pertanian 
disajikan pada persamaan [10]. Persamaan 
tersebut menjelaskan bagaimana 

perubahan konsumsi komoditi RTPM 
seandainya terjadi shock yang 
menyebabkan perubahan harga atas produk 
yang dihasilkan suami. 



dX,/dP, = (a,/P,2).(Q, - X, - C,).(eY*/eP,) 



[10] 



- ^sfPs z Pz-Cz 



untuk z = m, i, h, w 



Besarnya perubahan konsumsi 

rumahtangga atas produk yang dihasilkan 
oleh suami dalam menanggapi perubahan 
harga produknya sendiri secara intuitif 
dapat dikatakan mendekati inelastik 
(hampir tidak peka). Pengaruhnya 
dipastikan negatif, tapi hampir mendekati 
nol. Hal ini menunjukkan bahwa RTPM 
akan sangat sulit untuk melepaskan bagian 
produksinya ke pasar. Jadi walaupun suami 
merespon positif terhadap kenaikan harga 
produknya, {dQJdVs > 0), namun dengan 
kondisi permintaan RTPM yang hampir 
tidak peka terhadap perubahan harga, maka 
peluang RTPM untuk meningkatkan 
pendapatannya melalui penjualan surplus 
produksi suami sangatlah kecil. Intuisi ini 
memberikan implikasi, bahwa kebijakan 
ekonomi melalui pengendalian instrumen 
harga produk pertanian sangat sulit untuk 
mendorong RTPM dalam meningkatkan 
produksi tanaman pangan. Bahkan, 
kebijakan ekonomi untuk mendorong 
komersialisasi sebagaimana dikemukakan 
oleh Eskola (2004) bukan syarat utama 



untuk meredam kemiskinan petani. 
Komersialisasi pertanian yang 

dioperasionalisasikan oleh peningkatan 
akses pasar dan informasinya bagi petani 
dikhawatirkan tidak mendorong kenaikan 
produksi, karena batas produksinya yang 
terbatas. 

Model rumahtangga miskin petani 
yang dibangun ini dapat menjadi kerangka 
kerja untuk menggali alternatif kebijakan 
dalam rangka mengatasi kemiskinan 
petani. Dengan mempertimbangkan 
properti ekonomi RTPM yang disajikan 
sebelumnya, kita dapat membuat 
simplifikasi berikutnya dalam wujud grafis 
yang disajikan pada Gambar 1. Gambar 
tersebut menjamin konsistensi dengan 
penjelasan secara matematis. Gambar 
tersebut terdiri dari empat kuadran. Ada 
tiga kuadran yang penting untuk dipahami 
dalam memprediksi dampak kebijakan 
ekonomi terhadap rumahtangga miskin 
pertanian. Kuadran pertama menjelaskan 
fungsi produksi pertanian yang dikerjakan 
oleh istri petani. Disamping kanannya, 
kuadran dua, menjelaskan batas 
kemungkinan produksi rumahtangga 
pertanian. Garis vertikal pada kuadran ini 
menunjukkan besarnya jumlah produksi 
istri petani secara neto, dan garis horisontal 
menunjukan besarnya jumlah produksi 
suami yang dihasilkan suami secara neto. 
Istilah neto tersebut menjelaskan 
keputusan produksi dan konsumsi secara 
simultan. Produksi neto tersebut 
menunjukkan selisih antara jumlah 
komoditi tanaman pangan yang diproduksi 
dengan yang dikonsumsi. Kuadran di 
bawahnya, kuadran keempat, menunjukkan 
fungsi produksi yang dikerjakan oleh 
suami. Notasi pada gambar tersebut 
konsisten dengan notasi yang digunakan 
dalam penjelasan matematis. 



Sunday a/Kinerja : Jurnal Ilmu Ekonomi, Akuntansi dan Manajemen (2007): 56 - 71 



69 




Gambar 1. Kerangka Kerja Ekonomi Rumahtangga Miskin Usaha Tani Tanaman 
Pangan 



V. DISKUSI KEBIJAKAN 
EKONOMI 

Gambar tersebut menampilkan tiga 
macam kasus terkait dengan keputusan 
ekonomi RTPM. Kasus pertama, jumlah 
produksi suami lebih besar dari kebutuhan 
dasarnya (Qs^ > Cs^). Dimana jumlah 
produksi ini merupakan hasil dari 
keputusan alokasi input variabel dengan 
rasio K^s^^/T^s"^. RTPM memiliki surplus 
yang bisa dijual dan menjadi sumber 
pembelian komoditi yang tersedia di pasar. 
Dikombinasikan dengan jumlah komoditi 
konsumsi lainnya, maka kita dapat 
menganalisis kesejahteraan RTPM pada 
kurva indifferen, IA. Kasus kedua, jumlah 



hasil produksi suami dan istri sama dengan 
besarnya kebutuhan dasar kedua produk 
tersebut. Kasus ini merupakan kasus 
rumahtangga subsisten, dan RTPM tidak 
memiliki iso revenue - tidak memiliki 
pendapatan, sehingga tidak mampu 
membeli komoditi konsumsi yang tersedia 
di pasar. Kasus ketiga {the real poor), 
besarnya hasil produksi RTPM lebih 
rendah dari besarnya kebutuhan dasar atas 
produk mereka. Kasus ini merupakan 
kasus irrasional yang direpresentasikan 
oleh IC. Kemampuan dan hasil produksi 
RTPM tidak mampu memenuhi kebutuhan 
dasarnya - tidak ada surplus yang bisa 
dijual dan tidak ada pendapatan uang kas 
untuk memenuhi pembelian komoditi yang 



70 



Sunday a/Kinerja : Jurnal Ilmu Ekonomi, Akuntansi dan Manajemen (2007). 56 - 71 



tersedia di pasar. Kasus ketiga memberikan 
tiga pilihan ketat bagi RTPM. Pertama, 
boleh jadi ia terdorong untuk melanggar 
norma/aturan/kaidah yang berlaku untuk 
memperoleh tambahan komoditi 

konsumsinya. Kedua, RTPM harus 
menambah pendapatan eksogennya, misal 
dengan cara meminjam atau melakukan 
urbanisasi ke perkotaan, dan boleh jadi 
berpotensi menjadi ''beggar". Sedangkan 
pilihan ketiga adalah memanfaatkan 
komoditi yang tersedia tapi berpotensi 
untuk mengakibatkan busung lapar, lack of 
nutrition, dan pilihan keempat adalah 
melakukan likudasi asset yang mereka 
miliki dengan resiko keadaan ekonomi 
kedepan cenderung lebih buruk. Dari 
keempat kemungkinan pilihan tindakan, 
nampak tidak ada pilihan yang paling baik. 
Semua pilihan tersebut akan membuahkan 
hasil yang tidak menguntungkan bagi 
RTPM. Dan persolan ini melegalisasi 
campur tangan pemerintah dengan segera 
{immediately). 

Gagasan mendasar untuk meredam 
kemiskian tipe ini adalah dengan 
menambah kapasitas produksi terhadap 
RTPM. Berdasarkan analisis statika 
komparatif, alternatifnya adalah kebijakan 
non harga. Karena itu, kebijakan reformasi 
lahan {land reform ploicy) merupakan 
alternatif yang dapat dipertimbangkan. 
Melalui regulasi, kebijakan tersebut 
dioperasionalisasikan dengan cara 
merelokasi lahan yang tidak 

diproduktifkan kepada RTPM. Sedangkan 
melalui mekanisme pasar, alternatifnya 
adalah dengan mengkreasi kebijakan 
ekonomi yang berpotensi untuk 
menciptakan land pricing berbasis pada 
produktivitasnya. 

VI. SIMPULAN 

Model ekonomi RTPM yang 
disajikan dalam paper ini merupakan 
spesifikasi dari model ekonomi rumtangga. 
Dengan membandingkan model dasar 



dengan model yang dikembangkan penulis, 
spesifikasinya terletak pada fungsi utilitas. 
Fungsi utilitas tersebut menangkap 
karakter kemiskinan, yaitu pendapatan 
lebih rendah dari nilai kebutuhan dasar. 

Hasil pemecahan model 

mempromosikan kebijakan reformasi lahan 
sebagai dasar untuk meredam kemiskinan 
petani. Hasil analisis statika komparatif 
menunjukkan bahwa efek perubahan harga 
tidak memberikan dorongan yang kuat 
terhadap perubahan produksi. RTPM 
diperkirakan sulit untuk melepas surplus 
produksinya ke pasar tanaman pangan, 
karena terdesak oleh pemenuhan 
kebutuhan subsisten. 

Argumentasi tersebut sifatnya masih 
tentatif Bagaimanapun, fungsi utilitas dan 
fungsi produksi RTPM perlu untuk 
diestimasi parameternya untuk 

memberikan informasi yang lebih spesifik. 
Namun demikian, model ini berpotensi 
untuk menjadi kerangka kerja di dalam 
menjelaskan perilaku ekonomi RTPM. 
Dari sana bisa dipertimbangkan beberapa 
variabel ekonomi yang perlu dikaji secara 
empiris. 

DAFTAR PUSTAKA 

Amason, R, and Kashorte, M. 2006. 
Commercialization of South 
Africa's Subsistence Fisheries ? 
Considerations, Criteria and 
Approach. International Journal of 
Oceans and Oceanography ISSN 
0973-2667 Vol.I No.l (2006), pp. 
45-65. 

Arifm, Bustanul. 2006. Refleksi Strategi 
Pengentasan Kemiskinan. Bisnis & 
Ekonomi Politik, Vol.7 (4). Jakarta. 

Becker, Gary S. A Theory of the 
Allocation of Time. Economic 
Journal, Vol. 75, No. 299, 
(September 1965), 493-517. 
(Reprinted in Becker [1976]). 

Datt, G. and D. Jolhffe. 2005. Poverty in 
Egypt Modeling and Policy 



Sunday a/Kinerja : Jurnal Ilmu Ekonomi, Akuntansi dan Manajemen (2007): 56 - 71 



71 



Simulations. Economic 

Development and Cultural Change. 
TheUniversityofChicago. Chicago. 

de Janvry, A. Sadoulet, E and Zhu, N. 
2005. The Role of Non-Farm Inc 
ome s in Re duc ing Rural Poverty 
and Ine quality in China. CUDARE 
Working Papers. DepaRTPMent of 
Agricultural & Resourc e 
Economics. Cahfornia. 

de Janvry, A and Sadoulet, E. 1996. 
Household Modelling for The 
Design of Poverty Alleviation 
Strategies. California Agricultural 
Experiment Stasion Giannini 
Foundation of Agricultural 

Economics January. California. 

Eskola, E. 2005. Commercialisation and 
Poverty in Tanzania: Household- 
level Analysis. Discusion Paper 
DepaRTPMent of Economics. 
University of Copenhagen. 

Denmark. 

Glewwe, P. 2003. Using multi-topic 
household surveys to improve 
poverty reduction policies in 
developing countries. 

DepaRTPMent of Apphed 

Economics University of Minnesota. 
St. Paul, Minnesota, United States of 
America. 

Henderson, J.M and Quandt, R.E. 1980. 
Microeconomic Theory. McGraw- 
Hill Book Co, Third Edition. 
Singapore. 

Kuroda, Yoshimi and Pan Yotopoulos. 
1978. A Microeconomic Analysis of 
Production Behaviour of Farm 
Household in Japan : A Profit 
Function Approach. The Economic 
Review. Japan. 

Mora, J and Taylor, J.E. Determinants of 
Migration, Destination, and Sector 
Choice: Disentangling Individual, 
Household and Community Effects. 

Pollak, R. S. 2002. Gary Becker's 
Contributions to Family and 



Household Economics. Dept. of 
Economics. Washington University 
in St. Louis. 

Pasha, H.T and Palanivel, T. 2004. Pro - 
Poor Growth and Policies : The Asia 
Experiment. Asia-Pacific Regional 
Programme on the Macroeconomics 
of Poverty Reduction, United 
Nations Development Programme. 

Pyatt, G. 2003. An Altemative Approach 
to Poverty Analysis. Economic 
Systems Reasearch. 

Singh, 1, Squire, L, Strauss, J. 1986. 
Agricultural Household Models: 
Extensions,Applications, and Policy, 
The John Hopkins University Press, 
Baltimore. 

Schreinemachers, P and Berger, T. 2006. 
Simulating farm household poverty: 
from passive victims to adaptive 
agents. Contributed paper prepared 
for presentation at the International 
Association of Agricultural 
Economists Conference, Gold Coast, 
Australia, August 12-18, 2006 . 
Australia. 

Taylor, J.E, and Adelman, 1. 2003. 
Agricultural Household Model 
Genesis, Evolution and Extension. 
Kluwer Academic Publisher. 
Netherlands. 

Taylor, J.E, Mora, J. Adam, Feldman. 
2005. Remittances, lnequality and 
Poverty: Evidence from Rural 
Mexico. Selected Paper prepared for 
presentation at the American 
Agricultural Economics Association 
Annual Meeting, Providence, Rhode 
Island, July 24-27, 2005.