(navigation image)
Home American Libraries | Canadian Libraries | Universal Library | Community Texts | Project Gutenberg | Children's Library | Biodiversity Heritage Library | Additional Collections
Search: Advanced Search
Anonymous User (login or join us)
Upload
See other formats

Full text of "TS PLN:Teknik Pengendalian Kualitas Pembacaan Angka kWh Meter Menggunakan I-MR (Individual-Moving Range) Control Chart"

PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



PT. PLN (PERSERO) 
WILAYAH LAMPUNG 



TELAAHAN STAF 



NAMA 

NO.TEST 

JABATAN 



MARAMIS SETIAWAN 
SB0210/DS/NG/0489 
SISWA OJT 



JUDUL 



: TEKNIK PENGENDALIAN KUALITAS 



PEMBACAAN ANGKA KWH METER 



MENGGUNAKAN I-MR (INDIVIDUAL-MOVING 



RANGE) CONTROL CHART 



TAHUN 2010 



Telaah Staf Maramis Setiawan 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



LEMBAR PENGESAHAN 



JUDUL : Teknik Pengendalian Kualitas Pembacaan Angka kWh Meter 

Menggunakan I-MR {Individual-Moving Range) Control Chart 

NAMA : Maramis Setiawan 

NO. TEST : SB0210/DS/NG/0489 

JABATAN : Siswa OJT 



Menyetujui 

Mentor 

Manajer Ranting Bandar jaya 



Bandarjaya, 1 Oktober 2010 
Siswa OJT 



Hi. Paino 



NIP: 6392354B 



Maramis Setiawan 



NO. TEST: SB0210/DS/NG/0489 



Mengetahui 

Manajer Bidang SDM 
PT PLN (Persero) Wilayah Lampung 



Manajer Cabang Metro 
PT PLN (Persero) Wilayah Lampung 



Ir. Trisakti Adiwibowo, MBA 
NIP : 6692063Z 



Ir. R. Arie Muskitta 
NIP : 5791035Z 



Telaah Staf Maramis Setiawan 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



KATA PENGANTAR 

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu w a fa' ala , kami memuji-Nya, memohon 
pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri 
kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Atas pertolongan dan rahmat Allah, akhirnya 
penulis mampu menyelesaikan Telaah Staf ini dalam masa On the Job Training (OJT) dengan 
judul, Teknik Pengendalian Kualitas Pembacaan Angka kWh Meter Menggunakan 
I-MR [Individual-Moving Range) Control Chart. Seiring penulis memanjatkan syukur 
kepada Allah Azza wa jalla, tidak lupa penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak- 
pihak yang telah mendukung penyelesaian Telaah Staf ini: 

♦ Ayah dan Bunda yang secara penuh mendukung penulis baik dari segi spiritual maupun 
material. 

♦ Bapak Ir. Arie Muskitta selaku Manajer Cabang Metro 

♦ Bapak Hi. Paino selaku Manajer Ranting Bandarjaya serta selaku mentor selama OJT. 

♦ Bapak Jemangi selaku Suprvisor penulis di bidang PP dan Cater yang selalu 
membimbing selama pelaksanaan OJT. 

♦ Bapak Ardhi Nugraha Setiawan, SE yang turut membimbing selama pelaksanaan OJT 
dalam pengerjaan tugas-tugas di bidang keuangan. 

♦ Seluruh staf PT. PLN (Persero) serta outsourcing di lingkungan PT.PLN (persero) 
khususnya ranting Bandarjaya. 

♦ Rekan-rekan OJT 20 dan pihak-pihak lainnya yang belum sempat disebutkan di sini yang 
telah membantu baik sekedar ide, gagasan topik, arahan, dan informasi yang beredar 
berkenaan Telaah Staf. 

Penulis mengharapkan adanya saran dan kritik yang membangun, sehingga 
memperlancar jalan bagi Telaah Staf ini agar dapat menjadi sebuah solusi yang bermanfaat 
bagi PT. PLN (Persero) 

Bandarjaya, 1 Oktober 2010 
Penulis 

Maramis Setiawan 

Telaah Staf Maramis Setiawan iii 



* 



PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



DAFTAR ISI 

HALAMAN JUDUL i 

LEMBAR PENGESAHAN ii 

KATA PENGANTAR iii 

DAFTAR ISI iv 

DAFTAR TABEL vi 

DAFTAR GAMBAR vii 

ABSTRAK viii 

BABI 

LATAR BELAKANG 1 

BABU 

PERMASALAHAN 3 

BAB III 

PERSOALAN 4 

BAB IV 

PRA ANGGAPAN 5 

BAB V 

FAKTA YANG MEMPENGARUHI 6 

5. 1 Teknik Pengendalian kualitas 6 

5.1.1 Control Chart (Grafik/Peta Kendali) 6 

5.1.2 Individual-Moving Range (I-MR) Control Chart 10 

5.1.3 Diagram Sebab Akibat 11 

5.2 Lingkup dan Siklus Pekerjaan Cater Secara Umum 13 

5.3 Sampling Baca Meter 13 

BAB VI 

PEMBAHASAN 16 

6.1 Analisis Diagram Sebab-Akibat 16 

6.2 Aplikasi I-MR Control Chart Dalam Pendendalian Kualitas Pembacaan Meter 21 

6.2.1 Perilaku Pemakaian Tenaga Listrik yang Wajar oleh Pelanggan 21 

6.2.2 I-MR Control Chart Sebagai Pengendalian Kualitas Pembacaan Meter 22 

BAB VII 

KESIMPULAN 29 

Telaah Staf Maramis Setiawan iv 



* 



PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



BAB VIII 

TINDAKAN YANG DISARANKAN 30 

DAFTAR PUSTAKA ix 

LAMPIRAN-LAMPIRAN x 



Telaah Staf Maramis Setiawan 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



DAFTAR TABEL 

Tabel 1. 1 Tabel Rekapitulasi Keluhan Pelanggan 2 

Tabel 5. 1 Kriteria Poin yang Dikatakan Tidak Terkendali 9 

Tabel 6. 2 Pemakaian kWh meter BJ 43256 25 

Tabel 6. 3 Perhitungan Rp. Yang seharusnya diterima 26 



Telaah Staf Maramis Setiawan vi 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



DAFTAR GAMBAR 



Gambar 5. 1. Contoh Control Chart 8 

Gambar 5. 2 The Western Electric atau Aturan Zona (Montgomery, 2005) 8 

Gambar 5. 3 Contoh I-MR Control Chart (Montgomery, 2005) 11 

Gambar 5. 4 Diagram Sebab-Akibat (http://en.wikipedia.org/wiki/Ishikawa_diagram) 12 

Gambar 6. 1 Diagram Sebab-Akibat "Ketidakcocokkan angka kWh meter" 16 

Ga m bar 6. 2 Stan Meter yang Buram, B J 10983 18 

Gambar 6. 3 Dibuka Secara Paksa dan Menggunakan Kursi 18 

Gambar 6. 4 Cetak CIS yang Menunjukkan Tagihan atas Stan Tumpuk yang Telah Terbayar 19 

Gambar 6. 5 Data CIS BJ. 50569 20 

Gambar 6. 6 Data CIS B J 50751 21 

Gambar 6. 7 Grafik Pemakaian kWh BJ.34771 22 

Gambar 6. 8 Flowchart Prosedur Pengendalian Kualitas Baca Meter dengan I-MR Control Chart 23 

Gambar 6. 9 I-MR Control Chart BJ 34771 24 

Gambar 6. 10 I-MR Chart B J. 43256 24 

Gambar 6. 1 1 Control Chart Pelanggan BJ. 4814 27 



Telaah Staf Maramis Setiawan vii 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



ABSTRAK 



Keakuratan dalam pembacaan serta pencataan kWh meter menjadi salah satu kunci agar terjadinya 
kepuasan pelanggan sehingga tercapai nol komplain, bahkan kegiatan ini menjadi ujung tombak PT. PLN 
(Persero) dalam mengkonversi kWh meter menjadi pendapatan, berpengaruh besar terhadap jumlah losses, 
hingga mempengaruhi kesan pelanggan pemakai tenaga listrik terhadap kinerja PLN. Dalam Telaah Staf ini, 
penulis akan memberikan sebuah usulan metode yaitu menggunakan Individual Moving Range (I-MR) control 
chartyang diharapkan bisa menjadi alat untuk pengendalian kualitas pembacaan meter di lingkungan PT. PLN 
(Persero). Hasilnya, bahwa metode ini sesuai untuk diaplikasikan terhadap kegiatan pengendalian kualitas 
pembacaan meter. Metode ini mampu mengidentifikasi adanya ketidakwajaran dalam pemakaian kWh meter 
oleh pelanggan. Selain itu, melalui analisis Diagram Sebab Akibat didapatkan pula enam elemen yang ikut 
berpengaruh terhadap adanya ketidaksesuaian angka kWh meter di rekening dengan angka kWh meter fisik di 
lokasi pelanggan. Penulis menyarankan agar metode ini kelak mampu terintegrasi denagn Customer 
Information System (CIS) Wilayah Lampung. 



Kata kunci '.Pengendalian Kualitas, I-MR Control Chart, kWh meter, pembacaan meter, Diagram Sebab 
Akibat. 



Telaah Staf Maramis Setiawan viii 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 

BABI 
LATAR BELAKANG 

Ketika suatu produk atau jasa ingin memenuhi atau mencukupi harapan 
pelanggan, maka pada umumnya hal tersebut harus dilakukan melalui sebuah 
proses yang stabil dan berulang-ulang. Lebih tepatnya, proses harus mampu 
beroperasi dengan sedikit variabilitas disekitar target atau dimensi nominal dari 
karakteristik kualitas produk atau jasa (Montgomery, 2005). 

PT. PLN (Persero) sebagai perusahaan BUMN yang menyediakan serta 
memasok tenaga listrik tentu juga menjadikan kepuasan pelanggan baik 
pelanggan sosial hingga industri sebagai target yang harus dicapai. Salah satu 
indikator kepuasan pelanggan atas kinerja PT. PLN (persero) dalam pelayanan 
adalah tentang akurasi pembacaan atau pencatatan angka kWh meter. Maka tidak 
heran jika poin ini juga masuk ke dalam indikator-indikator Tingkat Mutu 
Pelayanan, yaitu tentang kesalahan pembacaan meter yang mana perusahaan harus 
memberikan sebuah kompensasi biaya pemakaian tenaga listrik kepada pelanggan 
jika perusahaan atau pihak yang ditunjuk terbukti melakukan kesalahan dalam 
pembacaan angka kWh meter. 

Keakuratan dalam pembacaan serta pencataan kWh meter menjadi salah 
satu kunci agar terjadinya kepuasan pelanggan sehingga tercapai nol komplain, 
bahkan kegiatan ini menjadi ujung tombak PT.PLN (Persero) dalam 
mengkonversi kWh meter menjadi pendapatan, berpengaruh besar terhadap 
jumlah losses, hingga mempengaruhi kesan pelanggan pemakai tenaga listrik 
terhadap kinerja PLN. 

Adanya komplain para pelanggan yang keluar masuk ruangan PP dan 
Cater/ Lahta di PLN ranting Bandarjaya hampir semuanya ditimbulkan akibat 
pembacaan kWh meter yang buruk. Dalam 4 bulan terakhir, PT. PLN (Persero) 
Ranting Bandarjaya telah mencatat adanya komplain yang telah direkapitulasi 
dalam tabel 1 . 1 berikut. 



Telaah Staf Maramis Setiawan 




PT. PLN [PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 

Tabel 1. 1 Tabel Rekapitulasi Keluhan Pelanggan 



Penyebab Keluhan 


Juni 


Juli 


Agustus 


September 


Tagihan besar karena stan tumpuk 


11 


13 


9 


14 


Kelebihan kWh 


57 


22 


25 


23 


Kekurangan kWh 


2 


2 


4 


3 


Total Keluhan Pelanggan 


70 


37 


38 


40 



Banyaknya komplain dari para pelanggan tersebut diakibatkan belum 
adanya sebuah alat untuk pengendalian kulitas baca meter setiap bulannya. Oleh 
karena itu, penulis akan memberikan sebuah usulan metode yaitu menggunakan 
Individual Moving Range (I-MR) Control Chart sehingga diharapkan bisa 
menjadi alat untuk pengendalian kualitas pembacaan meter di lingkungan PT. 
PLN (Persero). 

Tujuan dari penyusunan telaah staf ini adalah sebagai berikut : 

1 . Mengaplikasikan sebuah teknik pengendalian kualitas, yaitu I-MR Control Chart 
dalam kegiatan pembacaan kWh meter. 

2. Menganalisis penyebab adanya perbedaan angka kWh meter di rekening dengan 
kenyataannya di lokasi pelanggan menggunakan Diagram Ishikawa (Diagram 
Sebab Akibat) 

Adapun Manfaat dari penyusunan Telaah Staf adalah sebagai berikut : 

1. Mengetahui aplikasi I-MR Control Chart dalam mengendalikan kualitas 
pembacaan angka kWh meter beserta analisisnya. 

2. Mengetahui penyebab adanya perbedaan antara stan meter di rekening dengan 
stan meter fisik. 



Telaah Staf Maramis Setiawan 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 

BABU 
PERMASALAHAN 

Melalui studi lapangan (pendampingan Cater), interview, serta 
pengamatan di ruang pengaduan didapatkan bahwa permasalahan utama 
adanya komplain pelanggan mayoritas disebabkan ketidakcocokan angka 
kWh meter di rekening dengan angka kWh meter secara fisik di APP. 
Dalam hal ini, kami membagi komplain pelanggan tersebut ke dalam tiga 
kategori, 

Kelebihan kWh meter, yaitu angka kWh di rekening pada bulan tersebut 
lebih besar daripada angka kWh fisik di lokasi pelanggan. Hal ini 
mengakibatkan pelanggan harus membayar tagihan listrik yang lebih besar 
daripada biasanya dan akhirnya pelanggan harus rela 'membayar di muka' 
atas kWh meter yang belum dipakainya. Fenomena inilah yang juga 
mengakibatkan adanya "stan tunggu" pada bulan-bulan berikutnya dimana 
pelanggan hanya akan dikenakan biaya beban setiap bulannya. 
Kekurangan kWh meter, yaitu angka kWh di rekening pada bulan 
tersebut lebih kecil daripada angka kWh fisik di lokasi pelanggan. 
Sehingga pelanggan membayar tagihan pemakaian listrik lebih kecil 
daripada biasanya. Hal ini juga menjadi bahan keluhan pelanggan 
dikarenakan kekhawatiran pelanggan jika suatu saat 'hutang' kWh meter 
tersebut akan ditangguhkan di bulan-bulan yang akan datang, sehingga 
akan menumpuk menjadi rupiah tagihan yang jauh dari kemampuan 
pelanggan pada bulan tersebut. 

Tagihan yang melonjak karena stan tumpuk, ini adalah akibat dari poin 
b, bahwa terjadi adanya kekurangan kWh meter pada bulan-bulan 
sebelumnya. Sehingga ketika telah tiba saatnya angka kWh meter benar- 
benar diperhitungkan sesuai dengan angka fisik maka rupiah tagihan akan 
melambung tinggi sampai pelanggan tidak mampu membayarnya. 



Telaah Staf Maramis Setiawan 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 

BAB III 
PERSOALAN 

Persoalan dalam Telaah Staf ini adalah bagaimana mengaplikasikan 
sebuah metode pengendalian kualitas yaitu I-MR (Individual-Moving Range) 
Control Chart dalam pembacaan kWh meter sehingga mampu mendeteksi adanya 
ketidaknormalan perilaku pemakaian tenaga listrik oleh pelanggan. 

Berikut batasan persoalan dalam Telaah Staf ini, yaitu sebagai berikut : 

1. Penggunaan metode I-MR control chart dalam telaah staf ini sebatas pada 
bagaimana pengaplikasiannya terhadap pengendalian kualitas pencatatan 
meter belum pada tahap pengaplikasiannya secara kontinyu, namun 
diharapkan kelak bisa terintegrasi dengan Customer Information System (CIS). 

2. I-MR control chart akan diaplikasikan terhadap hanya beberapa pelanggan di 
unit kerja PT. PLN (Persero) Ranting Bandarjaya sebagai contoh. 

3. Untuk hasil yang terbaik dan akurat, metode ini membutuhkan banyak data 
sampel pemakaian kWh meter atau jam nyala perbulannya. Dalam ilmu 
statistik jumlah sampel yang banyak sehingga bisa dikatakan ideal adalah 
lebih besar atau sama dengan 30 data, sedangkan data untuk pemakaian kWh 
meter atau jam nyala di rekening pelanggan kebanyakan masih dibawah itu. 

Adapun asumsi dalam Telaah Staf ini, yaitu sebagai berikut : 

1. Pelanggan memiliki perilaku memakai tenaga listrik yang wajar dan normal 
setiap bulannya. 

2. Setiap data jumlah pemakaian kWh pelanggan yang akan diujicobakan 
diasumsikan telah berdistribusi normal. 

3. Pencatat kWh meter masih menggunakan metode pencatatan manual, belum 
menggunakan PDT (Portable Data Terminal). 



Telaah Staf Maramis Setiawan 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



BAB IV 
PRA ANGGAPAN 

Berikut adalah pra anggapan yang digunakan dalam pengerjaan 
Telaah Staf ini, yaitu sebagai berikut : 

1. I-MR control chart dapat diimplementasikan sebagai alat pengendalian 
kualitas pembacaan kWh meter. 

2. Petugas Catat Meter (Cater) tidak mencatat stan kWh dengan benar/valid 
sehingga mengakibatkan adanya kelebihan atau kekurangan kWh dalam 
rekening. 

3. Banyaknya stan meter pelanggan yang mengalami kelebihan atau 
kekurangan angka kWh bahkan sampai terjadi penumpukan stan meter. 



Telaah Staf Maramis Setiawan 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 

BAB V 
FAKTA YANG MEMPENGARUHI 

5. 1 Teknik Pengendalian kualitas 

Pengendalian kualitas adalah suatu metodologi pengumpulan dan analisis 
data kualitas, serta menentukan dan menginterpretasikan pengukuran-pengukuran 
yang menjelaskan tentang proses dalam suatu sistem industri, untuk meningkatkan 
kualitas produk atau jasa, guna memenuhi kebutuhan dan ekspektasi pelanggan. 
Dalam konteks pembahasan tentang analisis data untuk peningkatan proses 
dengan menggunakan teknik-teknik statistika, terminologi kualitas didefinisikan 
sebagai konsistensi peningkatan atau perbaikan dan penurunan variasi 
karakteristik kualitas dari suatu produk (barang atau jasa) yang dihasilkan, agar 
memenuhi kebutuhan yang telah dispesifikasikan. Dengan demikian pengertian 
kualitas dalam konteks peningkatan proses adalah bagaimana baiknya kualitas 
suatu produk (barang atau jasa) itu memenuhi spesifikasi dan toleransi yang 
ditetapkan oleh bagian desain dan pengembangan dari suatu perusahaan 
(Gaspersz, 2002). 

Kendali kualitas dilakukan dengan tujuan mewujudkan mutu yang sesuai 
dengan syarat-syarat yang dituntut oleh konsumen. Langkah pertama dalam 
kendali kualitas adalah mengetahui apakah sebenarnya yang dimaksudkan oleh 
konsep tersebut. Standar produksi dan analisis data serta sejenisnya sangat penting 
dalam kendali mutu. Jika kita mempelajari sembarang produk, kita menemukan 
bahwa banyak faktor yang mempengaruhi produksinya, termasuk bahan baku, 
peralatan, metode kerja, dan pekerja. Tidak mungkin membuat produk lain yang 
persis sama dengannya. Kualitas produk selalu bervariasi dengan luas. Untuk 
mencari faktor-faktor penyebab yang penting itu, Kaoru Ishikawa menciptakan 
diagram sebab akibat (Ishikawa, 1992). 

5.1.1 Control Chart (Grafik/Peta Kendali) 

Control chart s, yang juga dikenal sebagai Shewhart Chart atau Process- 
Behaviour Charts, dalam proses kendali statistik adalah alat yang digunakan 



Telaah Staf Maramis Setiawan 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 

untuk menentukan apakah sebuah proses dalam sebuah manufaktur atau proses 
bisnis secara statistik dalam keadaan terkendali atau tidak. 

Jika analisis peta kendali menunjukkan bahwa proses saat ini sedang 
dalam kendali (yaitu stabil, dengan variasi hanya berasal dari sumber-sumber 
umum untuk proses) maka data dari proses dapat digunakan untuk memprediksi 
kinerja masa depan proses. Jika grafik menunjukkan bahwa proses yang dipantau 
tidak dalam kendali, analisa grafik dapat membantu menentukan sumber-sumber 
variasi, yang kemudian dapat dihilangkan untuk membawa proses tersebut 
kembali ke dalam kontrol. Peta kendali adalah sebuah jenis tertentu dari run chart 
yang memungkinkan perubahan signifikan untuk dibedakan dari variabilitas alami 
dari sebuah proses. 

Peta kendali adalah salah satu dari tujuh alat dasar kontrol kualitas (Seven 
Tools) dalam Statistical Process Control (SPC). 

Sebuah Control Chart terdiri dari: 

• Poin yang menunjukkan sebuah statistik (misalnya: rata-rata, jangkauan, 
proporsi) dari pengukuran karakteristik kualitas dalam sampel yang 
diambil dari proses pada waktu yang berbeda [data]. 

• Rata-rata statistik ini menggunakan semua sampel yang dihitung 
(misalnya: rata-rata dari rata-rata, rata-rata rentang, rata-rata proporsi) 

• Sebuah garis tengah (CL) digambar pada nilai rata-rata statistik 

• Kesalahan standar (misalnya: standar deviasi / sqrt (n) untuk rata-rata) 
statistik juga dihitung menggunakan semua sampel 

• Upper Control Limit/ Batas Atas Kendali (UCL) dan Lower Control Limit/ 
Batas Bawah Kendali (LCL) yang menunjukkan ambang di mana output 
proses dianggap terkendali secara statistik, biasanya diambil pada 3 
Standard error dari Center Linel Garis Tengah (CL) 

( http://en.wikipedia.org/wiki/Control chart ) 



Telaah Staf Maramis Setiawan 




PT. PLN [PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



11.0" 



9,0 




6 9 

S-ample 



12 



UCL= 10.860 



Ceriterline = 10.05B 



LCL = 9.256 



15 



Gambar 5. 1. Contoh Control Chart 



5.1.2 Analisis Pola 



Kriteria dasar untuk menentukan apakah proses dalam keadaan tidak 
terkendali (put o f control) adalah adanya satu atau lebih titik yang terletak diluar 
batas kendali. Kriteria tambahan terkadang digunakan untuk meningkatkan 
sensitifitas sebuah control chart sehingga kita dapat merespon lebih cepat terhadap 
adanya penyebab khusus atas apa yang terjadi (Montgomery, 2005). 

Western Electric Rules dalam menentukan pola adanya titik yang tidak 
terkendali dengan membagi control chart menjadi 3 zona: Zona A, B dan C. 



UCL 




a_ Zone A 


3c- 


/^> **S** ^\ Zone B 


2a- t 


/ \ /\ / Zone C 


la- 


/ 




f V 




Zone C 


Center Itne 


/ v 

Zone B 


la, 


Zone A 


2cT ; 


LCL 

1 ! L _ L 1 t t l f t 


3o f 


1 Z 3 


4 


S 6 7 8 9 10 
SampJe numbsr 


U 


12 





Gambar 5. 2 The Western Electric atau Aturan Zona (Montgomery, 2005) 

Beberapa aturan yang membuat Control Chart lebih sensitif dan telah 
secara luas di praktekkan adalah seperti yang ditunjukkan dalam tabel 2.1. Aturan 
ini juga digunakan dalam sebuah software statistik, MINITAB 14, dalam 
pembuatan Control Chart. 



Telaah Staf Maramis Setiawan 




PT. PLN [PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



Tabel 5. 1 Kriteria Poin yang Dikatakan Tidak Terkendali 



Uraian 


Gambar Pola Control Chart 


1 . Satu atau lebih poin terletak di luar 
control limit 




9 




A f 


U 'V / 


C /\ / 


c *** V 


B v 


A 




2. Terdapat 9 poin pada zona C 
ataupun diluarnya (pada bagian 
control limit yang sama) 


r 

E 

: 

i 






\ 


*\ 




;VJ 4- «-o 


i ! y\ *-s - 


V 3 Y 7 








3. Terdapat 6 poin yang memiliki 
pola meningkat atau menurun 
secara berurutan 




6 




ft B HO 


b V^ 


C - 4/ 


C ! -. J^ 


S\ ^ 


A v i - r 




4. Terdapat 14 poin yang memiliki 
pola naik dan turun 








A 


B 'M liA 


cVU/v\ . 


c vy /\ A 


B V \/X 


A u 




5. Terdapat 2 atau 3 poin dalam zona 
A atau diluarnya (pada bagian 
control limit yang sama) 




A 




* /\ o ^ 


b / \ AV 


c ' ^ \ / 


S V 


B 


A 




6. Terdapat 4 atau 5 poin dalam zona 
B atau diluarnya 




R 




S /\ a 


B / \ /Y p 


c ' ^ \ r 


£ v 


B V 


A 




7. Terdapat 15 poin pada zona C 
(pada kedua bagian control limit) 




" 










A 


B 


C <~^ f~\ \/ — * 






A 





Telaah Staf Maramis Setiawan 




PT. PLN [PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



8. Terdapat 8 poin diluar zona C 
(pada kedua bagian control limit) 







A 
E 
C 

i 

A 




f^\ r-. 


/ \ i\ 


\1 \ 1 \ 


« \ \ 


1 — ' u 







5.1.2 Individual-Moving Range (I-MR) Control Chart 

Dalam pengendalian kualitas statistik, I-MR Control Chart (terkadang juga 
disebut sebagai X-MR Control Chart) adalah jenis peta kendali yang digunakan 
untuk memantau data variabel dari suatu bisnis atau proses industri yang sulit 
untuk menggunakan subkelompok rasional. Sampelnya berupa unit individu (n=l) 

Peta/Diagram kendali terdiri dari sepasang grafik, (1). Grafik Individu, 
yang menunjukkan nilai individu yang terukur, (2). Grafik Moving Range , yang 
menunjukkan perbedaan dari satu poin ke poin selanjutnya. Sebagaimana control 
chart yang lain, sepasang grafik ini menjadikan pengguna mampu memonitor 
sebuah pergeseran dari suatu proses yang bisa mengubah rata-rata atau variansi 
dari ukuran statistik. 

1. Formulasi Grafik Individu 

Pertama, menghitung rata-rata nilai individu 



x = 



^n 



Kemudian menghitung Upper Control Limit (UCL) dan Lower Control 
limit (LCL) untuk nilai individu, 



UCL = x + 2,66 M R 
LCL = x- 2,66 Mfi 



*) Nilai 2,66 didapatkan dari membagi 3 dengan konstanta d 2 untuk n=2, 
sebagaimana juga yang dituliskan oleh Montgomery (2005). 
2. Formulasi Grafik Moving Range 

Perbedaan antara data titik, x ( , dan sebelumnya, x^ 1; dihitung dengan 



MJ?i= ki-^-J 



Telaah Staf Maramis Setiawan 



10 




PT. PLN [PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



Kemudian, rata-rata dari nilai-nilai tersebut dihitung dengan, 


_ Er= 2 MR t 

x = 

m — 1 


UCL dihitung dengan mengkalikan moving range dengan 3.267 


UCLr = 3,267 MR 



*) Nilai 3,267 didapat dari nilai konstanta D 4 untuk n=2, sebagaimana juga yang 
dituliskan oleh Montgomery (2005). Adapun LCL= 0. 

( http://en.wikipedia.org/wiki/Shewhart individuals control chart ) 



36 

= 35 
1 

i 34 

'M 
I 33 




PA^A 



32 
Subgroup 



UCL* 35,61 



Mean = 34.09 



LCL = 32.57 



10 



20 



(a) 



i 1 




UCL 


= Lfl7i 


R = 


15726 


LCL 


= 



10 

(b) 



2D 



Gambar 5. 3 Contoh I-MR Control Chart (Montgomery, 2005) 

5.1.3 Diagram Sebab Akibat 

Kaoru Ishikawa memperkenalkan diagram sebab-akibat di Jepang, 
sehingga disebut juga dengan diagram Ishikawa. Karena bentuk stuktur diagram 
tersebut menyerupai tulang ikan, sehingga sering juga disebut diagram tulang ikan 
(fishbone diagram). Di ujung garis horizontal, suatu masalah ditampilkan. 
Masing-masing cabang mengarah ke garis utama yang mewakili penyebab 
masalah utama yang mungkin. Cabang-cabang yang mengarah ke suatu masalah 
adalah faktor-faktor yang berpengaruh pada masalah tersebut. Diagram tersebut 
mengidentifikasi penyebab-penyebab yang paling mungkin dari suatu masalah 
sehingga selanjutnya kumpulan data dan analisis dapat dipecahkan (Evans and 
William, 2005) 



Telaah Staf Maramis Setiawan 



11 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



Ketika sebuah cacat, eror, atau masalah telah diketahui dan dipisahkan 
untuk dipelajari lebih lanjut, kita harus memulai untuk menganalisis penyebab 
potensial dari akibat yang tidak diinginkan ini. Dalam situasi dimana penyebab 
tidak jelas (dan biasanya demikian), Diagram Sebab- Akibat adalah alat yang 
formal yang sering bermanfaat dalam mendudukkan penyebab-penyebab 
potensial. Diagram sebab akibat terbangun oleh sebuah tim improvement quality 
yang ditugaskan untuk mengidentifikasi area yang berpotensi bermasalah. 
Langkah-langkah dalam membangun diagram sebab akibat adalah seperti dibawah 
ini (Montgomery, 2005): 

1 . Mendefinisikan permasalahan atau akibat yang akan dianalisis. 

2. Membentuk tim untuk melakukan analisis. Seringkah tim akan 
mengungkap penyebab potensial melalui brainstorming. 

3. Menggambar kotak akibat dan garis tengah. 

4. Menentukan kategori besar penyebab yang berpotensial dan 
menggabungkannya sebagai kotak yang terhubung dengan garis tengah. 

5. Mengidentifikasi penyebab yang memungkinkan dan menetapkannya ke 
dalam kategori pada langkah 4. Membuat kategori baru jika perlu. 

6. Merangking penyebab-penyebab untuk mengidentifikasi mana yang 
kelihatannya paling berpengaruh terhadap permasalahan. 

7. Melakukan koreksi. 



Caus 



Ettsct 



f Equipmeit 1 




vlaterials Environment Managam=rt | 



f Publerri J 



Gambar 5. 4 Diagram Sebab-Akibat (http://en.wikipedia.org/wiki/Ishikawa diagram) 



Telaah Staf Maramis Setiawan 



12 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 

5.2 Lingkup dan Siklus Pekerjaan Cater Secara Umum 

Disebutkan dalam surat perjanjian antara PT. PLN (Persero) Wilayah 
Lampung (045.PJ/613/WIL-LPG/2010) dengan PT. Way Seputih Bumi Nusantara 
(WSBN) (045/ADM/WSBN/IV/2010): 

Lingkup dan siklus pekerjaan cater secara umum adalah sebagai berikut : 

a. Melakukan pencatatan angka kedudukan kWh meter (Cater) ditempat/ 
rumah atau bangunan pelanggan, termasuk pembuatan/ penyempurnaan/ 
pemeliharaan RBM, dan penyampaian surat, leaflet, brosur, 
pemberitahuan dan yang terkait dengan pencatatan meter kepada 
pelanggan serta melaporkan kepada Direksi Pekerjaan dalam hal 
ditemukan kelainan-kelainan pada kWh meter, adanya sambungan liar, 
kondisi-kondisi di lapangan yang tidak sesuai data dalam PDT serta 
adanya keluhan pelanggan. 

b. Volume pencatatan angka kedudukan kWh meter (cater) yang dikerjakan 
adalah meliputi di Ranting Bandarjaya, Rumbia, dan Kalirejo dan semua 
kantor jaga di bawah ranting tersebut adalah sejumlah sesuai dalam RAB 
dan bertambah secara otomatis sesuai dengan pertumbuhan jumlah 
pelanggan. 

c. Melakukan siklus pekerjaan pembacaan meter adalah meliputi fungsi 
perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan pengendalian. 

5.3 Sampling Baca Meter 

Disebutkan dalam surat perjanjian antara PT. PLN (Persero) Wilayah 

Lampung (045.PJ/613/WIL-LPG/2010) dengan PT. Way Seputih Bumi Nusantara 
(WSBN) (045/ADM/WSBN/IV/2010) sebagai berikut. 

Outsourcing cater berkewajiban melakukan sampling baca meter dengan 
menggunakan kamera digital (dilengkapi record tanggal) yang disiapkan oleh 
masing-masing Outsourcing cater serta menyerahkan softcopy. 



Telaah Staf Maramis Setiawan 13 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 

Jumlah sampel pelanggan yang akan disampling oleh Outsourcing cater 
minimal 0,2 % dari jumlah pelanggan yang dibaca sesuai surat perjanjian dan 
ditentukan rute-nya sesuai petunjuk pengawas lapangan. 

Sampling baca meter atau uji petik lapangan tersebut antara lain: 

• Angka kududukan meter yang direcord dalam kamera digital dan 
cetakannya 

• Uji petik diakibatkan oleh keluhan pelanggan 

Metode sampling baca meter ada beberapa cara antara lain: 

a. Dapat dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan antara petugas baca 
meter (Cater) dengan pengawas PLN sesuai jadwal baca meter yang telah 
direncanakan, dimana menggunakan kamera digital serentak datanya 
direcord. Stand akhir pelanggan [ada DPK (Daftar pemakaian kWh)] 
ataupun rekening yang nantinya terbit harus sesuai dengan data yang ter- 
record pada kamera digital, bila tidak sesuai maka dianggap salah. Hal ini 
akan dikenakan pinalti pada waktu pengajuan berita acara pembayaran. 

b. Dilaksanakan sendiri oleh pengawas PLN dengan cara mengevaluasi jam 
nyala pelanggan pada DPLD dari hasil pembacaan pelaksanaan pekerjaan 
(Cater). 

Analisa jam nyala dilaksanakan sebagai berikut: 

i. Pembacaan perlu dievaluasi, bila jam nyala menunjukkan angka 

minus dan atau melebihi 720 jam. 

ii. Pembacaan masih dalam batas normal, apabila hasil evaluasi data 
sampling menunjukkan jam nyala pada rekening bulan terakhir 
minimal berada diantara 80% x jam nyala rata-rata 2 (dua) bulan 
terakhir dan maksimal smapai dengan 110% x jam nyala rata-rata 2 
(dua) bulan terakhir, harus dilakukan sampling ke lapangan dengan 
kamera digital. 

c. Koordinator cater dapat melakukan sampling sendiri, atas kesalahan baca 
meter yang dilakukan oleh tenaga Cater, dimana data tersebut untuk 

Telaah Staf Maramis Setiawan 14 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 

kebutuhan manjemen perbaikan baca meter itu sendiri serta untuk 
memenuhi volume samping sebesar 0,2 % (bila sesuatu hal karena 
pengawas tidak dapat melakukan sampling secara bersama-sama dengan 
oursourcing) 



Telaah Staf Maramis Setiawan 15 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 

BAB VI 
PEMBAHASAN 



6.1 Analisis Diagram Sebab- Akibat 

Ketiga poin penyebab adanya komplain yang tekah dijabarkan 

pada Bab Permasalahan adalah sebuah bentuk defect (cacat) dalam proses 
bisnis atau kegiatan pembacaan serta pencatatan angka kWh meter di PT. 
PLN (Persero) khususnya di ranting Bandarjaya. Ketiganya bisa disatukan 
menjadi sebuah karakteristik kualitas yang akan kami jabarkan 
menggunakan diagram sebab-akibat, yaitu "Ketidakcocokkan angka kWh 
meter di rekening dengan angka kWh fisik". 



Metode 



Petugas cater 



Jam nyala min. 
Pelanggan baru 




Ketidakcocokan angka 

kWh meter 

Di rekening dengan 

fisik sebenarnya 



Gambar 6. 1 Diagram Sebab-Akibat "Ketidakcocokkan angka kWh meter" 

1. Petugas cater 

Petugas cater adalah petugas lapangan yang mencatat angka kWh 
meter door to door ke lokasi pelanggan. Disamping adanya faktor human 
error dalam melakukan pencatatan angka kWh meter, di faktor pertama ini 
pula banyak ditemui praktik pencatatan angka kWh meter yang tidak 
valid, yang biasa disebut dengan istilah 'nembak'. Sehingga petugas cater 
yang enggan menunaikan kewajibannya tersebut seringkah menyetorkan 
angka kWh meter dari pelanggan dengan perkiraan yang asal-asalan. 



Telaah Staf Maramis Setiawan 



16 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 

Adanya sistem punish dan reward juga belum optimal dilaksanakan 
sehingga motivasi petugas cater belum maksimal. 

2. Petugas entri data 

Adakalanya kesalahan tersebut bukan karena kesalahan petugas 
Cater semata yang salah dalam mencatat angka kWh meter atau mungkin 
dicurigai ada praktek 'menembak' angka kWh meter, namun kesalahan 
tersebut ada pada pihak petugas entri data yang salah dalam memasukkan 
data di database. Kasus yang pernah muncul adalah kesalahan dalam 
memasukkan angka kWh meter di database yang lebih dari angka kWh 
meter yang disetorkan oleh petugas cater. Hal ini seperti yang dialami oleh 
beberapa pelanggan, ketika mengajukan komplain karena adanya 
kelebihan angka kWh meter di ruang Lahta & Cater. Setelah ditelusuri dan 
kroscek dengan petugas Cater yang bersangkutan diketahui bahwa 
kesalahan ada pada memasukkan angka kWh meter rekening di database. 
Terbatasnya fasilitas komputer dari perusahaan pihak ketiga menjadikan 
petugas entri juga kesulitan dalam menyelesaikan tugasnya, apalagi 
dengan memasukkan data sebanyak hampir 50.000 pelanggan dengan 
deadline yang ketat hanya dilakukan oleh 3 petugas entri. 

3. Metode 

Sampai pada pencatatan angka kWh meter bulan Agustus 2010, 
petugas Cater masih menggunakan metode pencatatan manual. Pencatatan 
manual ada yang berdasarkan DPM (Daftar Pembacaan Meter), adapula 
yang menggunakan 'buku pintar', semacam note yang telah disesuaikan 
dengan kondisi lapangan oleh petugas Cater yang bersangkutan sehingga 
menghasilkan urutan pembacaan yang lebih efisien. Menulis manual tentu 
rawan terhadap kesalahan, dimana terkadang tulisan seorang Cater adalah 
5 tetapi petugas entri menganggapnya 8, atau maksudnya adalah 4, tetapi 
terbaca oleh petugas entri 9. 

4. APP/ stan meter 

Hal yang juga menjadi penyebab kesalahan adalah karena stan 
meter yang buram dan lokasi kWh meternya yang tinggi sehingga petugas 

Telaah Staf Maramis Setiawan 17 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 

Cater tidak mampu membaca sesuai dengan keadaan angka kWh meter 
yang sesungguhnya. Hal ini pernah kami temui ketika melakukan 
pendampingan cater, yaitu pelanggan dengan nomor kontrak B J 10983. 




Gambar 6. 2 Stan Meter yang Buram, BJ 10983 




Gambar 6. 3 Dibuka Secara Paksa dan Menggunakan Kursi 
untuk Membaca Angka yang Buram dan Tinggi 

Ketika melihat angka kWh meter ternyata ditemukan bahwa angka 
kWh meter telah menumpuk, pada angka kWh fisik tersebut terbilang 
sebesar 14249 hal ini menunjukkan terjadinya penumpukan hingga 417 
kWh. Pada pembayaran bulan 9 diketahui angka tersebut telah masuk dan 
terbayar sehingga menjadi tambahan pendapatan PT.PLN (Persero) Ranting 
Bandarjaya. 



Telaah Staf Maramis Setiawan 



18 




PT. PLN [PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



33* 



PT. PLN (Persero) WILAVAH LAMPUNG Hal : 1,00 dari 1,00 

Jam Cetak: 11:11:43 
CABANG METRO Tanggal Cetak : 27/09/2010 

CUSTOMER INFORMATION SYSTEM Na ™ p ^ as ; spvppjbwh 



17.220.010983.8 

MAPJUNI 


STATUS PELANGGAN 

AKTIF | PEL, BIA5A 


ID Ttg Kiri : 
ID Ttg Kanan : 

Kode Lokasi : 
Gardu : 
Tiang : 

No Kontrol : 
No Kontrak : 


220BEAA00901 

B 0063 

B2 

B50004700990 
BJO 10983 


Rupiah BP 

Rupiah UJL 

Tgl BP 

Tgl UJL 

Tipe Meter 

No. Meter 

Tgl Pasang 

Tgl Nyala 



20,250 

01/03/1996 
01/03/1996 


BANDAR AGUNG 


REGULER 


Telp: - 

HP: - 

Email : - 


Tarif : RI 
Daya : 450 
NPWP : 


Cabang 

Ranting / Rayon 
Sub Ranting / Kaja 
Instalatir 


Tgl Jatuh Tempo : 20 September 2010 


Fak. Meter : 

FRT 

FKVARH : 

FJN : 


1 
1 

1.0 


Materai : 

5ewa Trafo : 

Kode PPJ : l 



REKENING 






























BI 


Thn 


Tagihan 


Rekening 


B. Beban 


PPJ 


PPN 


S Trafo 


BK 


SPH 


P2TL 


Inv 


Non 
Subsidi 


KETERANGAN PELUNASAN 


LKT 


TGL BAYAR 


USER ID 


LNS 


3 


2010 


211,360 


1 157,535 


4,350 


13,325 





















700 


07/03/2010 


Pos_Sopp 


Ya 


S 


2010 


^.-l,JJi> 


21,810 


4,350 


1,525 





















700 


12/03/2010 


Po5_Sopp 


Ya 


7 


2010 


12,645 


11,320 


4,350 


S25 





















700 


06/07/2010 


P05_Sopp 


Ya 


6 


2010 


12,645 


11,820 


4,350 


825 





















700 


03/06/2010 


P05_S0pp 


Ya 


5 


2010 


35,565 


30,720 


4,350 


1,845 








3,000 












700 


04/06/2010 


Pos Sopp 


Ya 



Gambar 6. 4 Cetak CIS yang Menunjukkan Tagihan atas Stan Tumpuk yang Telah 

Terbayar 

Pelanggan 

Rumah yang terkunci dan adanya anjing galak pada sisi pelanggan 
juga bisa menjadi penyebab angka kWh meter yang tidak terbaca sehingga 
petugas cater terpaksa memperkirakan angka kWh meter di lokasi. Oleh 
karena itu poin ini juga bisa menjadi pertanyaan balik kepada pelanggan 
yang komplain ketika ada kelebihan, kekurangan, atau stan tumpuk. 
PLN 

Dari sisi kita, PLN, juga memberi andil atas adanya kesalahan yang 
mengakibatkan komplain dari pelanggan. Yaitu adanya kebijakan minimal 
jam nyala pada pelanggan baru sebesar 250 jam nyala. Hal ini misalnya 
terjadi pada pelanggan dengan no. kontrak BJ 50569, BJ 50751, BJ 50749, 
BJ 50740, BJ 50764, dan lainnya. Pelanggan-pelanggan tersebut 
mengajukan komplain atas adanya kelebihan angka kWh meter pada 
rekening mereka. Misalnya BJ 50569, setelah dicek pada stan meter fisik 
pada bulan 7 sebesar 115 kWh, sedangkan angka kWh meter di rekening 
sebesar 542 kWh. Adapun pelanggan B J 50751, ketika dicek pada stan 
meter fisik pada bulan ke-8 menunjukkan 108 kWh. Sedangkan pada 
rekening sebesar 542. Hal ini disebabkan karena jam nyala minimal yang 
terlalu besar yang ditetapkan oleh PLN, apalagi jika keadaan ini 



Telaah Staf Maramis Setiawan 



19 




PT. PLN [PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 

diperparah dengan praktik 'nembak' angka kWh meter oleh cater maka 
akan menumpuk lebih besar. 



17.220.050569.2 STATUS PELANGGAN 

SURANTO AKTIF | PEL, BIASA 


IDTtgKiri: - Rupiah BP : 270,000 
IDTtg Kanan: - Rupiah U JL : 90,900 

Tgl BP: 30/03/2010 
Kode Lokasi : BCE0045 Tgl UJL : 30/03/2010 
Gardu: b 0162 Tipe Meter : MF-97E 

Tldng: Di No, Meter : 200937237 
No Kontrol: - Tgl Pasang : 30/03/2010 
No Kontrak : BJ050569 Tgl Nyala : 13/04/2010 


BANDARJAYA TIMUR 


REGULER 


Kode Gol : Umum 


Telp : 

HP: - 

Email : - 


Tarif : RI 
Daya : 900 
NPWP : 


Cabang 

Ranting / Rayon 
Sub Ranting / Kaja 
Instalatir 


Tgl Jatuh Tempo : 20 September 2010 


Fak. Meter : l Materai . o 
FRT: 1 Sewa Trafo: 

FKVARH ; o 

Kode PPJ : l 
FJN: 1.0 



REKENING 






























BI 


Thn 


Tagihan 


Rekening 


B, Beban 


PPJ 


PPM 


S Trafo 


BK 


SPH 


P2TL 


Inv 


Non 
Subsidi 


KETERANGAN PELUNASAN 


LKT 


TGL BAYAR 


USER ID 


UNS 


9 


2010 


19,620 


13,000 


13,000 


1,620 











G 


G 








RBJ3 


15^)9^2010 


Liani_Rbjl 


Ya 


3 


2010 


19,620 


13,000 


13,000 


1,620 























RBJ3 


16^)3^2010 


Liani_Rbjl 


Ya 


7 


2010 


55,270 


50,705 


13,000 


4,565 





















RBJ3 


13^)7^2010 


Liani_Rbjl 


Ya 


6 


2010 


141,055 


129,410 


13,000 


11,645 





















WGi 


15^)6^2010 


Rini_Rbj7 


Ya 


5 


2010 


143,315 


133,775 


23,300 


12,040 








3,000 


Q 


a 








INCI 


15^)6^2010 


Rini_Rbj7 


Ya 



TOTAL TAGIHAN (BLM LUNAS) 



DATA MET ER 


























Bin 


Thn 


LWBP 


WBP 


KVARH 


PEMAKAIAN 


Pemakaian 
Non Subs, 


Jam 
Nyala 


Jml 
Pemakaian 


Lalu 


Baru 


Lalu 


Baru 


Lalu 


Baru 


LWBP 


WBP 


KVARH 


9 


2010 


542 


542 


12/7? 


2010^ 


























3 


2010 


542 


— —- 


*** f ( 


*^ 


























7 


2010 


463 


1 5« l stan f 


sik= 1 


15 








20 


40 


19 


larrf w«*^ 


Min 79 


6 


2010 


225 
















20 


40 


173 


Jail l 


"T 1 ^ 


min 238 


5 


2010 





225 














20 


40 


165 


1 


250 


j_^ 



Gambar 6. 5 Data CIS BJ. 50569 



Telaah Staf Maramis Setiawan 



20 




PT. PLN [PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



17.220.050751.9 

SURYANA 


STATUS PELANGGAN 

AKTIF PEL. BIASA 
REGULER 


IDTtgKiri: - Rupiah BP : 270,000 
IDTtg Kanan: - Rupiah U JL : 90,900 

Tgl BP : 07/04/2010 
Kode Lokasi : ADB0185 Tgl UJL : 07/04/2010 
Gardu : 5M 0013 Tipe Meter : MF-97E 

Tldng : LJ No. Meter : 200904135 
No Kontrol : - Tgl Pasang : 08/04/2010 
No Kontrak: BJ050751 Tgl Nyala : 15/04/2010 


BANJAR AGUNG 




Telp : 

HP : - 

Email : - 


Tarif : RI 
Daya : 900 
NPWP : 


Cabang 

Ranting / Rayon 
5ub Ranting / Kaja 
Instalatir 


Tgl Jatuh Tempo : 20 September 2010 


Fak. Meter : 1 Materai : 

FRT; 1 Sewa Trafo : 

Kode PPJ : l 
FJN: 1,0 



REKENING 






























BI 


Thn 


Tagihan 


Rekening 


B, Beban 


PPJ 


PPN 


S Trafo 


BK 


SPH 


P2TL 


Inv 


Non 
Subsidi 


KETERANGAN PELUNASAN 


LKT 


TGL BAYAR 


USER ID 


LNS 


9 


2010 


22,620 


18,000 


19,000 


1,620 








3,000 
















Lahta 


Blm 


S 


2010 


19,920 


13,275 


19,000 


1,645 





















RBJ3 


10)09/2010 


Liani_Rbjl 


Ya 


7 


2010 


58,270 


50,705 


19,000 


4,565 








3,000 


Q 


Q 








RBJ3 


10/09/2010 


Liani_Rbjl 


Ya 


6 


2010 


147,055 


129,410 


19,000 


11,645 








6,000 












RBJ3 


10/09/2010 


Liani_Rbjl 


Ya 


5 


2010 


144,505 


132,575 


27,600 


11,930 





















VTRh 


19/05/2010 


Sulkan_Vtm 


Ya 



TOTAL TAGIHAN (BLM LUNAS) 



22.620 



DATA MET ER 




Gambar 6. 6 Data CIS BJ 50751 

6.2 Aplikasi I-MR Control Chart Dalam Pendendalian Kualitas 
Pembacaan Meter. 

Telah disebutkan pada Bab Landasan Teori tentang prosedur 
pengendalian kualitas baca meter, dalam subbab 2.3 poin b, yaitu, 
"Dilakukan sendiri oleh pengawas PLN dengan cara mengevaluasi jam 
nyala pelanggan pada DPLD dari hasil pembacaan pelaksanaan pekerjaan 
(Cater)". Dengan adanya dua kriteria yang disebutkan dalam poin tersebut 
akan lebih sempurna jika dilengkapi dengan metode yang memang telah 
dikenal dalam ranah bidang Quality Control, yaitu I-MR Control Chart. 
Pada subbab ini kami akan membahas tentang pengaplikasian I-MR 
Control Chart sebagai alat untuk pengendalian kualitas pembacaan meter. 
Pembahasan ini akan kami bahas dalam poin-poin sebagai berikut. 

6.2.1 Perilaku Pemakaian Tenaga Listrik yang Wajar oleh Pelanggan 

Pengendalian kualitas pembacaan meter ini sebenarnya adalah 

sebuah monitoring serta kontrol terhadap pemakaian tenaga listrik dari 
pelanggan. Dengan memanfaatkan perilaku pemakaian tenaga listrik yang 



Telaah Staf Maramis Setiawan 



21 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 

cenderung stabil setiap bulannya maka kita bisa mendeteksi adanya 
ketidakwajaran penggunaan tenaga listrik. 

Berikut ini adalah salah satu grafik historik pemakaian kWh meter 
untuk pelanggan dengan no kontrak B J. 34771. 



Grafik Pemakaian kWh 



60 
50 

40 
30 
20 
10 



"VWv^ 



'kWh 
-Kecenderungan 



i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i 
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 



Gambar 6. 7 Grafik Pemakaian kWh BJ.34771 

Pelanggan ini termasuk pelanggan yang tidak bermasalah dengan 
angka kWh meter, sehingga menunjukkan grafik yang cenderung stabil 
seperti di atas. Ketika kami melakukan sampling atas pelanggan tersebut 
ternyata memang benar antara angka kWh di rekening dengan angka kWh 
fisik sama. Ini membuktikan bahwa pemakaian pelanggan akan 
menunjukkan pemakaian kWh meter yang cenderung stabil, dengan 
catatan bahwa petugas baca meter selalu membaca di lokasi dengan 
akurat. 

6.2.2 I-MR Control Chart Sebagai Pengendalian Kualitas Pembacaan 
Meter 

Pembuatan I-MR control chart dalam Telaah Staf berikut dengan 

ketentuan sebagai berikut: 

1. Menggunakan software MINITAB 14, adapun contoh perhitungan 
manualnya dengan bantuan Excel terlampir pada halaman lampiran. 

2. Menggunakan uji pertama dalam mendeteksi adanya data yang out of 
control, yaitu adanya satu atau lebih poin terletak di luar control limit. 

3. Pengujian hanya dilakukan kepada beberapa pelanggan saja. 



Telaah Staf Maramis Setiawan 



22 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



4. Adapun prosedur pengendalian kualitas pembacaan meter menggunakan I- 
MR Control Chart adalah sebagai berikut. 






Mulai 



Pembacaan kWh 

meter 

bulan ke-n 



t 

Data 
pemakaian 
kWh meter/ 
Jam Nyala 



Evaluasi kWh meter/ 
Jam Nyala dengan 
l-MR Control Chart 




.a^^aAI" 



Mengevaluasi 

penyebab- 
penyebabnya 



Data pemakaian 

kWh meter/ Jam 

nyala dalam 

kendali 



Membuang poin 

data diluar batas 

UCL dan LCL 



Selesai 



Gambar 6. 8 Flowchart Prosedur Pengendalian Kualitas Baca Meter dengan I-MR Control 

Chart 



Telaah Staf Maramis Setiawan 



23 




> 



PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



Berikut ini adalah I-MR control chart beberapa pelanggan yang kami uji. 
Pelanggan dengan no. kontrak B J. 34771 



JI-MR Chart of BJ 34771 



B l l^il 



I-MR Chart of B J 34771 




Gambar 6. 9 I-MR Control Chart BJ 34771 

Dari I-MR Control Chart di atas menunjukkan bahwa pelanggan B J 
34771 menggunakan tenaga listrik dengan wajar setiap bulannya. Terlihat 
bahwa tidak ada data pemakaian kWh meter yang diluar batas kendali. 
> Pelanggan dengan no. kontrak B J. 43256 



©I-MR Chart of BJ 43256 



I MR Chart of BJ 43256 




Gambar 6. 10 I-MR Chart BJ. 43256 

I-MR Control Chart di atas menunjukkan bahwa pelanggan BJ 43256 
tidak normal pemakaian tenaga listriknya tiap bulan. Sehingga hal ini perlu 
adanya peninjauan ke lapangan. Yaitu pada poin ke 13, 14 dan 21, ketiga poin 
tersebut terletak di luar batas control limits. Kita ingin mengetahui bagaimana hal 
ini bisa terjadi, apakah memang perilaku konsumen terhadap pemakaian tenaga 



Telaah Staf Maramis Setiawan 



24 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



pada bulan ke 13 dan 14 memakai lebih besar diluar kewajaran? dan apakah 
perilaku konsumen pada bulan ke 21 memang menggunakan tenaga listrik yang 
amat kecil? atau mungkin ada kesalahan baca meter? atau mungkin adanya 
kelainan terhadap APP/ kWh meter?. Pertanyaan ini akan terjawab melalui 
peninjauan ke lokasi dengan melihat stan fisik. Dan ketika dilakukan peninjauan 
lapangan pada tanggal 22/09/2010, angka stan fisik ternyata sebesar 11614. Hal 
ini menunjukkan bahwa stan meter rusak/ mogok, sehingga perlu adanya koreksi 
terhadap rekening pelanggan yang ada. Berikut ini adalah tabel pemakaian tenaga 
listrik per bulan untuk pelanggan BJ 43256. 

Tabel 6. 1 Pemakaian kWh meter BJ 43256 



Bin 


Thn 


Angka kWh meter 


Pemakaian 
kWh 


Lalu 


Baru 


9 


2010 


14,774 


14,831 


220 


8 


2010 


13,900 


14,774 


874 


7 


2010 


13,899 


13,900 


1,250 


6 


2010 


13,893 


13,899 


1,250 


5 


2010 


11,279 


13,893 


2,614 


4 


2010 


9,380 


11,279 


1,899 


3 


2010 


7,271 


9,380 


2,109 


2 


2010 


3,438 


7,271 


3,833 


1 


2010 


10,454 


3,438 


3,443 


12 


2009 


8,987 


10,454 


1,467 


11 


2009 


7,587 


8,987 


1,400 


10 


2009 


5,728 


7,587 


1,859 


9 


2009 


3,945 


5,728 


1,783 


8 


2009 


2,358 


3,945 


1,587 


7 


2009 


826 


2,358 


1,532 


6 


2009 


28,156 


826 


1,250 


5 


2009 


26,978 


28,156 


1,250 


4 


2009 


25,900 


26,978 


1,250 


3 


2009 


24,410 


25,900 


1,490 


2 


2009 


22,743 


24,410 


1,667 


1 


2009 


21,209 


22,743 


1,534 



Dari fakta yang ada tersebut maka seharusnya PLN mendapatkan 
pendapatan yang lebih besar dari pelanggan BJ. 43256 mulai dari bulan rusaknya 
kWH meter tersebut yaitu bulan ke-5. Jika kita melakukan perhitungan peramalan 
dengan metode rata-rata tiap bulannya sebelum kWh meter rusak, maka akan 
didapatkan perkiraan pemakaian tenaga listrik per bulan sebagai berikut 



Telaah Staf Maramis Setiawan 



25 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



Perkiraan kWh = 



Jumlah pemakaian kWft meter bulan 1/2009 sampai hzilan 4/2010 

16 



_ Jr , , 1399 + 2109 +3333+344-3 + +1534 - o^C L.H/L 

Perkiraan kWh = = 1S35 kWh 



Dengan memperkirakan bahwa pemakaian kWh meter pada bulan 
8 dan 9 adalah 1.835 kWh, maka akan dapat dihitung pendapatan yang 
seharusnya didapatkan oleh PLN dengan berdasarkan TDL 2010, Tarif BI, 
sebagai berikut. 

Tabel 6. 2 Perhitungan Rp. Yang seharusnya diterima. 



Bin 


Thn 


Angka kWh meter 


Pemakaian 
kWh 


Rp. Rekening 


Perkiraan 
Jika Normal 


Perkiraan 
Rp. Rekening 


Lalu 


Baru 


9 


2010 


14,774 


14,831 


220 


199,100 


1,835 


1,660,675 


8 


2010 


13,900 


14,774 


874 


790,970 


1,835 


1,660,675 




Total 


1,094 


990,070 


3,670 


3,321,350 




Selisih kWh 


2,576 






Selisih Rp. 


2,331,280 





Sehingga pendapatan yang seharusnya didapatkan oleh PLN 
Ranting Bandarjaya seharusnya bisa lebih dari Rp. 2.331.280,- antara 
bulan Agustus dan September 2010. 

Yang perlu dilakukan selanjutnya dalam pengendalian kualitas ini 
adalah memperbaiki serta mengevaluasi penyebab adanya kesalahan 
tersebut, sehingga kesalahan semacam ini tidak terulang kembali terhadap 
pelanggan BJ. 43256 serta menjadi bahan evaluasi untuk pelanggan yang 
lain, apalagi terhadap pelanggan dengan daya yang besar. 

Pada prosedur akhir, control chart yang terdapat poin yang out of 
control tersebut dihilangkan atau direvisi sehingga control chart bebas 
dari poin out of control, hal ini dilakukan agar poin data yang telah 
terdeteksi bulan ini tidak terulang kembali terdeteksi melalui pengendalian 
kualitas baca meter bulan selanjutnya. 

Inilah salah satu pengaplikasian I-MR Control Chart terhadap data 
historik yang dimiliki pelanggan sendiri, sehingga bisa kita evaluasi mana 
pelanggan yang perlu di tinjau dilapangan bahkan bisa sampai 
menghasilkan penambahan pendapatan serta menurunkan losses kWh 



Telaah Staf Maramis Setiawan 



26 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 

meter ketika proses pengendalian kualiatas dengan I-MR Control Chart ini 
dilakukan dengan baik. 



> Pelanggan dengan no. kontrak BJ. 4814 



JI-MR Chart of C19 



r^i B IRF 



I-MR Chart ofC19 



1000- 

■; soo- 

J 600- 
1 400 

20D- 



13 5 




9 1.1 13 15 17 19 

Observatio-n 



600 
£ 450 

E 

9 3O0- 

E 

| 150- 
0- 



^^ 



9 11 13 

ObeervatiDn 




Gambar 6. 11 Control Chart Pelanggan BJ. 4814 

Dari control chart B J. 4814 juga didapatkan adanya poin yang 
terletak di luar kendali, yaitu poin ke 19 dan 20. Pada rekening, angka kWh 
meter terbaru untuk bulan 9 adalah 5573, padahal di stan fisik ketika dilihat 
pada tanggal 16/9/10 sebesar 5664. Hal ini menunjukkan adanya stan 
tumpuk. Dari grafik di atas dapat kita duga bahwa pada bulan poin ke 19 
Cater melakukan kesalahan dalam pembacaan kWh meter sehingga 
memasukkan angka kWh meter yang sangat rendah dari pemakaian tenaga 
listrik seperti biasanya. Disaat pembacaan bulan poin ke 21 diadakan 
pembacaan yang sesungguhnya, maka pelanggan merasa terbebani atas kWh 
meter yang belum dibayarnya pada bulan poin ke 19. Sehingga pelanggan 
harus membayar tagihan yang melonjak lebih dari 2 kali lipat tagihan 
biasanya. Seandainya pendeteksian adanya ketidakwajaran tersebut kita 
lakukan pada bulan poin 19, niscaya kita akan lebih awal untuk 
mengoreksinya sehingga pelanggan B J. 4814 pada bulan poin 21 tidak perlu 



Telaah Staf Maramis Setiawan 



27 




PT. PLN [PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



mengajukan komplain yang tentu dapat memberikan kesan kinerja yang 
buruk oleh PLN kepada pelanggan selama ini. 



Telaah Staf Maramis Setiawan 28 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 

BAB VII 
KESIMPULAN 

Dari seluruh rangkaian Telaah Staf yang dilakukan, diperoleh beberapa 
kesimpulan sebagai berikut : 

1 . Adanya kesalahan karena perbedaan angka kWh meter di rekening dengan 
angka fisik di lapangan disebabkan oleh 6 elemen yang mempengaruhinya, 
yaitu pertugas Cater, petugas entri data, APP/ kWH meter, metode, pihak 
pelanggan, serta pihak PLN sendiri. 

2. Metode I-MR Control Chart mampu diaplikasikan dalam pengendalian 
pembacaan meter. 

3. Dengan metode ini akan mudah dideteksi adanya data pemakaian kWh 
meter atau jam nyala yang tidak wajar, sehingga perlu diadakan 
peninjauan lapangan. 



Telaah Staf Maramis Setiawan 29 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 

BAB VIII 
TINDAKAN YANG DISARANKAN 

Saran dari Telaah Staf ini adalah sebagai berikut : 

Agar metode I-MR Control Chart diaplikasikan untuk mengendalikan 

kualitas pembacaan meter di lingkungan PT. PLN (Persero) Wilayah 

Lampung 

Agar metode tersebut dapat ditambahkan dalam fitur Customer 

Information System (CIS) Wilayah Lampung. Metode ini akan lebih 

sensitif mendeteksi adanya ketidakwajaran dengan menambah kriteria 

tambahan, misalnya pemakaian > 720 jam nyala, pemakaian jam nyala, 

pemakaian 1 kWh, atau yang lain 

Perlu adanya studi lebih lanjut tentang apakah harus menggunakan 

rekanan pihak ke-3 atau pihak PLN sendiri secara langsung yang 

membawahi outsourcing Cater, 

Perlu adanya nota dinas dari manajemen untuk melaksanakan studi 

evaluasi atas aturan penjanjian yang telah dilakukan antara pihak rekanan 

dengan PLN. 



Telaah Staf Maramis Setiawan 30 




PT. PLN (PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 

DAFTAR PUSTAKA 

Evans, J.R and William M.L. 2005. The Management and Control of Quality. 

South Western, Ohio. 
Gaspersz, V. 2001. Metode Analisis untuk Pengendalian Kualitas. PT. Gramedia 

Pustaka Umum, Jakarta. 
http://en.wikipedia.org/wiki/Control chart diakses tanggal 23 September 2010 
http://en.wikipedia.org/wiki/Ishikawa diagram diakses tanggal 23 September 

2010 
http://en.wikipedia.org/wiki/Shewhart individuals control chart diakses tanggal 

23 September 2010 
Ishikawa, K. 1992. Pengendalian Mutu Terpadu. PT. Remaja Rosdakarya: 

Bandung. 
Montgomery, Douglas. 2005. Introduction to Quality Control 5e. John Wliye & 

Sons: United States of America 
Risiana, Yan. 2007. Analisis Pengendalian Mutu Pada Proses Produksi Pressure 

Tank PH 100. Skripsi Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan 

Manajemen IPB 
Surat Perjanjian Tentang Pekerjaan Pencatatan Angka Kedudukan Pada KWH 

Meter (cater) dan Pengelolaan Administrasinya di PT. PLN (Persero) 

Cabang Metro Ranting Bandarjaya, Ranting Rumbia dan ranting 

Kalirejo Antara PT.PLN (Persero) Wilayah Lampung dengan PT. Way 

Seputih Bumi Nusantara (WSBN). 19 April 2010 



Telaah Staf Maramis Setiawan ix 




PT. PLN [PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 

LAMPIRAN-LAMPIRAN 



> Contoh perhitungan I-MR Control Chart, BJ 34771 



No 


Bin 


kWh 


MR 


1 


9 


55 




2 


8 


56 


1 


3 


7 


35 


21 


4 


6 


48 


13 


5 


5 


48 





6 


4 


36 


12 


7 


3 


53 


17 


8 


2 


38 


15 


9 


1 


50 


12 


10 


12 


40 


10 


11 


11 


38 


2 


12 


10 


45 


7 


13 


9 


50 


5 


14 


8 


50 





15 


7 


48 


2 


16 


6 


53 


5 


17 


5 


45 


8 


18 


4 


45 





19 


3 


42 


3 


20 


2 


50 


8 


21 


1 


50 







rata-rata 


46 


A 



> Moving Range Chart 



MR = 7 



UCL = 3.267 MR = 23,03 

LCL=0 

> Individual Chart 

X = 46 



UCL = x + 2.66 MR = 46 + 2.66 X 7 = 6S,18 



LCL= x- 2.66 MR = 46 + 2.66 X 7 = 27,67 



Telaah Staf Maramis Setiawan 




PT. PLN [PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



l-Control Chart 



UCL 


LCL 


X 


65.18157 


27.67557 


55 


65.18157 


27.67557 


56 


65.18157 


27.67557 


35 


65.18157 


27.67557 


48 


65.18157 


27.67557 


48 


65.18157 


27.67557 


36 


65.18157 


27.67557 


53 


65.18157 


27.67557 


38 


65.18157 


27.67557 


50 


65.18157 


27.67557 


40 


65.18157 


27.67557 


38 


65.18157 


27.67557 


45 


65.18157 


27.67557 


50 


65.18157 


27.67557 


50 


65.18157 


27.67557 


48 


65.18157 


27.67557 


53 


65.18157 


27.67557 


45 


65.18157 


27.67557 


45 


65.18157 


27.67557 


42 


65.18157 


27.67557 


50 


65.18157 


27.67557 


50 




Telaah Staf Maramis Setiawan 



XI 




PT. PLN [PERSERO) 

WILAYAH LAMPUNG 

CABANG METRO, RANTING BANDARJAYA 



• MR Control Chart 



UCL 


LCL 


MR 


42.14922 







42.14922 





1 


42.14922 





21 


42.14922 





13 


42.14922 








42.14922 





12 


42.14922 





17 


42.14922 





15 


42.14922 





12 


42.14922 





10 


42.14922 





2 


42.14922 





7 


42.14922 





5 


42.14922 








42.14922 





2 


42.14922 





5 


42.14922 





8 


42.14922 








42.14922 





3 


42.14922 





8 


42.14922 










Telaah Staf Maramis Setiawan 



xn