(navigation image)
Home American Libraries | Canadian Libraries | Universal Library | Community Texts | Project Gutenberg | Children's Library | Biodiversity Heritage Library | Additional Collections
Search: Advanced Search
Anonymous User (login or join us)
Upload
See other formats

Full text of "icgid"

TERORISME DI INDONESIA: JARINGAN NOORDIN TOP 



Asia Report N°114 - 5 Mei 2006 



Internationa 



Crisis Group 

WORKING TO PREVENT 
CONFLICT WORLDWIDE 



DAFTAR ISI 

RANGKUMAN IKHTISAR i 

I. PENDAHULUAN 1 

II. JARINGAN BOM MARRIOTT 3 

A. SekolahLuqmanul Hakiem 3 

B. Sis a BahanPeledak 3 

C. HUBUNGAN NGRUKI 4 

D. Susunan Tim Yang Terakhir 5 

III. BOM KEDUTAAN BESAR AUSTRALIA 6 

A. Ja ring an JawaTimur 7 

B. Jaringan Sekolah Ji Di Jawa Tengah 9 

C. Situasi/Kondisi Jaringan Sejauh Ini 11 

D. Hubungan KeluargaDanBisnis Di Jawa Barat 11 

E. Menggerakkan Jaringan 12 

F. Hubungan Dengan Wilayah-Wilayah Konflik 13 

IV. NOORDIN MENDEKATI KOMPAK DAN DARUL ISLAM 14 

A. ParaKurir 15 

B. KONEKSlFlLIPINA 15 

C. Koneksi Maluku 16 

1. Pelatihan di Waimurat, Bum, Oktober 1999 17 

2. Kantor KOMPAK, Ambon 2000-2001 17 

3. Pelatihan di Seram Barat, Juli 2004 17 

D. Usaha Noordin UntukMembangun Aliansi 18 

1. Mendekati Sunata dan Akram 19 

2. Pindah ke Semarang dan Solo 19 

3. Sunata menolak 20 

V. MENJELANG BALI II 21 

VI. KESIMPULAN 23 

LAMPIRAN 

A. Peta Indonesia 25 

B. Peta Pulau Jawa (propinsi jawa tengah) 26 

C. Index nam a 27 

D. Tentang International Crisis Group 36 

E. Laporan Crisis Group dan Briefings on Asia Sejak tahun 2003 37 

F. Crisis Group Board of Trustees 39 



Internationa 



Crisis Group 

WORKING TO PREVENT 
CONFLICT WORLDWIDE 



Asia Report N° 114 



5 Mei 2006 



TERORISME DI INDONESIA: JARINGAN NOORDIN TOP 



RANGKUMAN IKHTISAR 



Polisi sudah semakin dekat mengepung Noordin 
Mohammed Top, teroris yang paling diburu di Asia 
Tenggara. Dalam sebuah operasi penggerebekan yang 
dramatis yang terjadi di subuh 29 April 2006 di Wonosobo, 
Jawa Tengah, polisi menembak dan menewaskan dua 
orang anggota dari tim intinya dan menangkap yang lain. 
Jika dan ketika mereka berhasil menangkap Noordin, 
polisi akan me-nonaktifkan orang yang paling bertekad 
untuk menyerang kepentingan Barat. Namun masalah 
tentang struktur pendukung Noordin masih tetap hams 
dihadapi. 

Selama empat tahun Noordin telah masuk kedalam 
jaringan para jihadis untuk membangun pengikut yang 
sangat paruh dan setia, dan jaringan yang sama ini juga 
mungkin dapat digunakan oleh yang lain. Jemaah 
Islamiyah (JI), organisasi jihadis terbesar di Asia Tenggara, 
terns menyediakan para pengikut seperti itu: dua orang 
yang tewas dalam operasi penggerebekan di Wonosobo, 
dan sedikitnya satu dari orang-orang yang ditangkap adalah 
anggota yang telah lama bergabung dengan JI. Tetapi 
pada awal tahun 2004, Noordin mulai menjangkau 
orang-orang muda dari organisasi lain dan beberapa dari 
mereka tidak memiliki afiliasi dengan organisasi apapun 
sebelumnya. 

Menurut laporan, banyak dari anggota JI yang melihat 
kelompok Noordin - ia sendiri menyebutnya sebagai 
Al-Qaeda untuk kepulauan Melayu - sebagai sebuah 
kelompok sempalan yang telah menyebabkan kerusakan 
besar bagi organisasi yang telah mereka ikuti pada 
pertengahan tahun 90-an. Tetapi menurut laporan, Noordin 
melihat dirinya sebagai pemimpin sayap militer JI, 
meskipun ia tidak berada dibawah siapapun. Ia melakukan 
pembenaran atas aksi-aksinya dengan mengutip doktrin 
jihadis bahwa dalam keadaan darurat - contohnya jika 
dikepung oleh musuh - sebuah kelompok kecil yang 
terdiri dari dua atau tiga orang, bahkan seorang individu 
dapat menghadapi musuh tanpa hams menunggu perintah 
dari seorang imam. 

Laporan ini mengamati bagaimana Noordin telah 
mengandalkan kontak pribadi untuk membangun 
kelompoknya. Laporan ini disusun berdasarkan dokumen- 
dokumen Berita Acara Pemeriksaan, dokumen-dokumen 



pengadilan, dan laporan dari media setempat, dengan 
meng-cross check informasi yang didapat lewat wawancara 
secara luas dengan narasumber resmi dan tak resmi yang 
banyak tahu mengenai hal ini. 

Unmk aksi bom Marriott di Jakarta pada bulan Agustus 

2003, ia menggunakan sekelompok kecil anggota JI yang 
berbasis di Sumatra yang memiliki hubungan dengan 
Luqmanul Hakiem, yaitu sekolah JI di Malaysia, atau 
dengan kembarannya, pondok pesantren al-Mukmin 
di Ngruki, dekat Solo, Jawa Tengah. 

Untuk aksi bom kedubes Australia pada bulan September 

2004, ia mengandalkan tiga jaringan yaitu: divisi JI Jawa 
Timur; para alumni dari sekolah-sekolah JI di Jawa 
Tengah; dan sebuah faksi dari kelompok pemberontak 
lama bernama Darul Islam yang berbasis di Jawa Barat, 
yang angggotanya memasok para operatif utama. 
Meskipun para individu dari faksi Ring Banten pemah 
bekerja sama dengan JI sebelumnya, namun operasi 
militer dengan cara outsourcing (menyerahkan tugas 
kepada organisasi lain) semacam ini belum pemah terjadi 
sebelumnya. Ini adalah salah satu indikasi bahwa Noordin 
bekerja sendirian. 

Setelah bom Kuningan, Noordin mulai kekurangan pasokan 
dana, senjata dan pasukan tempur yang berpengalaman. 
Ia kemudian berpaling pada dua orang yang memiliki 
akses ke semua itu, dan dua orang ini bukan anggota JI. 
Yang satu dari sebuah faksi Darul Islam yang berbeda, 
yang memiliki banyak pengalaman di Filipina; yang satu 
lagi pernah menjadi ketua kantor KOMPAK (sebuah 
yayasan Islam) di Ambon dan mampu menggerakkan 
para mantan pejuang daerah konflik Ambon dan Poso. 
Negosiasi yang cukup alot diikuti dengan para kurir yang 
digunakan untuk menyampaikan pesan di antara para 
bos. Ternyata ketua Darul Islam maupun KOMPAK 
tidak tertarik untuk bergabung dengan Noordin, tetapi 
keduanya ditangkap pada pertengahan tahun 2005 dan 
mulai kehilangan kontrol atas para pengikutnya, dan 
beberapa dari mereka bergabung dengan Noordin. 

Unmk aksi bom Bali pada bulan Oktober 2005, Noordin 
mengandalkan orang-orang dalamnya untuk mencari 
dan melatih anggota bam. Kalangan dalam ini termasuk 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page ii 



dua orang yang tewas pada tanggal 29 April. Proses 
perekrutan tampaknya dilakukan secara ad hoc/dadakan, 
meskipun dokumen-dokumen tertulis yang dihubungkan 
dengan Noordin menduga ia memiliki sebuah struktur sel 
yang sangat terorganisir yang didisain untuk melakukan 
operasi militer. 

Noordin telah memperlihatkan kebulatan tekad dan 
kemampuan yang luar biasa untuk merencanakan operasi- 
operasi serangan, bahkan meskipun ia kehilangan rekan 
terdekatnya dalam operasi polisi dan tetap menjadi target 
dari operasi pengejaran terbesar yang pernah ada di 
Indonesia. Tidak jelas siapa di antara para calon 
penggantinya, yang juga dapat melakukan hal seperti dia. 



Tetapi tindak tanduknya setelah bom Bali II menyiratkan 
bahwa ia mulai kehabisan dana dan kader yang 
berpengalaman. Tewasnya dua orang anggotanya yang 
bertugas sebagai kurir dan merekrut anggota baru dalam 
operasi polisi tanggal 29 April tentunya menjadi sebuah 
pukulan yang sangat besar bagi Noordin. Operasi 
penggerebekan di Wonosobo ini adalah keberhasilan bagi 
polisi, dan penangkapan Noordin tentu akan menjadi 
sebuah keberhasilan yang lebih besar lagi. Namun 
jaringan-jaringan yang ia miliki sebagai persediaan yang 
dapat ia ketuk sewaktu-waktu akan tetap bertahan sebagai 
sumber relawan untuk operasi serangan di masa depan. 

Jakarta/Brussels, 5 Mei 2006 



Internationa 



Crisis Group 

WORKING TO PREVENT 
CONFLICT WORLDWIDE 



Asia Report N° 119 



14 September 2006 



TERORISME DI INDONESIA: JARINGAN NOORDIN TOP 



PENDAHULUAN 



Noordin Mohammed Top masih tetap menjadi buronan 
yang paling diburu di Indonesia. 1 Meskipun upaya 
pengejaran polisi yang gigih selama empat tahun dan 
penggerebekan tanggal 29 April 2006 berhasil menjaring 
sejumlah rekan terdekatnya, Noordin tak hanya berhasil 
meloloskan diri dari upaya penangkapan, namun ternyata 
masih bisa merekrut relawan-relawan baru untuk 
melakukan aksi bom bunuh diri yang spektakuler 
setahun sekali, antara lain: Hotel Marriott di Jakarta 
tahun 2003; Kedutaan Australia di Kuningan, Jakarta 
tahun 2004; dan tiga restoran di Bali tahun 2005. 
Dipandang dari segala sudut, warganegara Malaysia yang 
berusia 38 tahun ini bukanlah seorang figur yang sangat 
mengesankan. Sebagai seorang muslim salafi, pengetahuan 
keagamaannya sangat terbatas, dan ia tidak bisa berbahasa 
Arab. Ia juga bukan seorang orator yangulung. Tetapi ia 
mempunyai kepiawaian untuk dapat mengumpulkan 
pengikut-pengikut yang setia yang memiliki ketrampilan 
yang tidak ia punyai. Selain itu kemampuannya dalam 
menghindari kejaran pohsi untuk waktu yang begitu lama 
telah meningkatkan statusnya (dibidang ini). Ia pun dapat 
mengklaim bahwa ia memimpin satu organisasi yang secara 



1 Untuk laporan yang sehubungan dengan Indonesia lihat laporan 
Crisis Group di Asia N°103, Weakening Indonesian Mujahidin 
Networks: Lessons from Maluku and Poso (Melemahkan 
Jaringan Kelompok Mujahidin di Indonesia: Pelajaran dari 
Maluku dan Poso), 13 Oktober 2005; Laporan Asia N°92, 
Recycling Militants in Indonesia: Darul Islam and the Australian 
Embassy Bombing (Mendaur ulang Militan di Indonesia: Darul 
Islam dan Aksi Pengeboman Kedubes Australia) , 22 Februari 
2005; Laporan Asia N°74, Indonesia Backgrounder: Jihad in 
Central Sulawesi (Latar Belakang Indonesia: Jihad di Sulawesi 
Tengah), 3 Februari 2004; Laporan Asia N°63, Jemaah Islamiyah 
in South East Asia: Damaged but Still Dangerous (Jemaah 
Islamiyah di Asia Tenggara: Cedera tetapi Masih Tetap 
Berbahaya), 26 Agusrus 2003; Laporan Asia N°43, Indonesia 
Backgrounder: How the Jemaah Islamiyah Terrorist Network 
Operates (Bagaimana Jaringan Teroris Jemaah Islamiyah 
beroperasi), 11 Desember 2002; dan Briefing Asia N°20, Al- 
Qaeda in South East Asia: The Case of the "Ngruki Network" in 
Indonesia (Al-Qaeda diAsia Tenggara: Kasus "Jaringan Ngruki" 
di Indonesia), 8 Agusrus 2002 (seperti yang telah dikoreksi pada 
tanggal 10 Januari 2003). 



aktif terus melakukan jihad terhadap Amerika dan 
sekutunya di Indonesia. 

Organisasi itu bukan Jemaah Islamiyah (JI) - setidaknya 
bukan JI yang selama ini dikenal oleh hampir seluruh 
anggotanya. Noordin dan para anggota intinya adalah 
anggota JI. Ia menjadi Direktur pondok pesantren 
Luqmanul Hakiem di Malaysia hingga tahun 2001, yang 
merupakan markas Mantiqi I, yaitu divisi JI yang meliputi 
wilayah Malaysia dan Singapura. Tetapi sejak aksi bom 
marriott tahun 2003, tampaknya secara berangsur-angsur ia 
telah semakin merencanakan jalannya sendiri. Pada saat aksi 
bom Kuningan, tampaknya ia telah beroperasi sendiri 
diluar komando pusat JI, meskipun menurut laporan ia 
masih menganggap dirinya sebagai anggota JI. 

Menurut laporan ia berusaha melakukan pembenaran atas 
tindakannya dengan alasan bahwa dalam situasi darurat 
- misalnya jika dalam keadaan terkepung oleh musuh - 
sebuah kelompok kecil, atau bahkan seorang individu 
dapat menghadapi musuh tanpa hams menunggu perintah 
dari imam. Dengan cara ini, ia mungkin menganggap 
dirinya memimpin JI "yang sesungguhnya", dibandingkan 
dengan mereka yang tidak melakukan apa-apa yang 
menentang aksi pengeboman. 

Tetapi, bagaimanapun ia berusaha melakukan pembenaran, 
Noordin melakukan aksinya sendiri. Pada tahun 2005, 
para pengikutnya mulai menyebut diri mereka sebagai 
thoifah muqotilah, bahasa Arah untuk "pasukan tempur". 
Walaupun sebutan ini baru dipakai, sebenarnya istilah ini 
adalah istilah lama yang digunakan JI untuk menyebut 
sebuah unit pasukan khusus yang memiliki otoritas sendiri 
yang rencananya akan dibentuk oleh JI setelah Bom Bali 
I. Noordin kelihatannya telah menggunakan istilah 
tersebut dengan pas, tanpa ada kaitan dengan rencana JI 
tersebut. 

Sekitar bulan April 2005, menurut Polri, Noordin 
mengklaim bahwa ia memimpin sebuah kelompok operarif 
yang meliputi gugus Kepulauan Melayu bernama Tanzim 
Qoidatul Jihad, yaitu nama resmi Al-Qaeda." Sejauh mana 
komunikasi yang sebenarnya terjadi antara ia dengan Al 
Qaeda tidak begitu jelas, tetapi tampaknya ia begitu 
mengidolakan Al Qaeda, tidak hanya meniru namanya 



' "Tanzim Qoidatul Jihad dibentuk 6 bulan sebelum Bom Bali 
II", Suara Merdeka, 3 Februari 2006. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 2 



saja tetapi juga bahan dan taktik yang digunakan. Pada 
pertengahan tahun 2004, ia menggunakan nama samaran 
"Aiman", sudah hampir pasti nama ini diambil dari nama 
orang kedua di Al Qaeda yaitu Aiman Zawaheri. Seluruh 
isi dari website www.anshar.net, yang dibuat dibawah 
bimbingan Noordin antara bulan Juli dan September 
2005, merupakan artikel-artikel dari Sawt al- Jihad, yaitu 
sebuah majalah online milik Al Qaeda, yang telah 
diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Penampilan 
Noordin dalam sebuah kaset video yang ditemukan pada 
bulan November 2005, lengkap dengan balaclava (topi 
yang biasanya digunakan di daerah dingin yang menutupi 
wajahnya kecuah mata dan mulut) tampaknya merupakan 
usaha untuk meniru video yang dibuat oleh Zarqawi, tokoh 
pelawan A.S. di Iraq. 

Hubungan Noordin dengan Ali Ghufron alias Mukhlas, 
salah seorang pelaku Bom Bah, masih tetap kuat. Menurut 
laporan, Noordin mengidolakan ustadz yang berasal dari 
Jawa Timur ini. Mukhlas yang seorang hafez (orang yang 
hapal Qur'an) adalah mentornya di Mantiqi I. Walaupun 
sedang menunggu pelaksanaan hukuman matinya di penjara 
Bah, namun ternyata Mukhlas masih dapat memberikan 
anak-anak didiknya bahan-bahan untuk kelompok 
pengajian mereka. Hal ini dimungkinkan karena kurangnya 
kondisi pengawasan terhadap media komunikasi di penjara- 
penjara di Indonesia. Jika Noordin tidak terlalu meyakinkan 
sebagai ustadz, Mukhlas adalah sebaliknya, dan melalui 
berbagai sarana, tulisan maupun elektronik, ajaran- 
ajarannya dapat - dan hampir pasti - digunakan untuk 
merekrut dan mengindoktrinasi para anggota baru. 3 

Sejak Bom Bali II, Noordin mengalami kemunduran. Pada 
bulan November 2005, ia kehilangan seorang anggota 
kunci dari timnya, yaitu ahh perakit bom Azhari Husin, 
dalam sebuah operasi pengepungan pohsi di Jawa Timur; 
delapan orang pengikutnya ditahan di Semarang, tidak 
jauh dari lokasi penggerebekan bulan April. Tetapi 
kelompoknya mampu bertahan dan bahkan terus 
berkembang karena jaringan yang berhasil ia tembus 
untuk mendapatkan bantuan tempat persembunyian, 
logistik, dan anggota baru. 

Jaringan-jaringan ini telah berubah seiring berjalannya 
waktu, dimana perubahannya mencerminkan semakin 
menjauhnya Noordin dari JI. Untuk bom Marriott, seluruh 
anggota tim operatif utama adalah para anggota JI yang 
berbasis di Sumatra. Untuk bom Kuningan, Noordin 
berpaling ke jaringan JI di Jawa Timur, sekolah-sekolah 
JI di Jawa Tengah dan sebuah kelompok Darul Islam di 
Jawa Barat yang pernah bekerja sama dengan JI di masa 



lalu tetapi merupakan kelompok terpisah dari rantai 
komando Darul Islam. Aksi pengeboman yang 
sesungguhnya dilakukan oleh kelompok terpisah ini 
dalam semacam operasi outsourcing yang agak tidak 
lazim dalam standar praktek JI. 

Untuk proteksi setelah serangan ke Kedubes Australia, 
Noordin semakin mengandalkan pada jaringan-jaringan 
termasuk JI tetapi juga jauh diluar JI dengan 
mengikutsertakan para mantan pejuang daerah konflik 
di Ambon dan Poso, yang bukan anggota JI. Ia juga 
menggunakan jaringan para veteran tersebut untuk 
mendekati dua orang tokoh yang bukan berasal dari JI, 
yaitu ketua KOMPAK Abdullah Sunata dan ketua Darul 
Islam Akram alias Shamsuddin alias Taufikurrahman. 
Mereka menolak untuk bergabung dengan Noordin, tetapi 
pada pertengahan tahun 2005, mereka berdua ditangkap 
oleh polisi. 4 

Bom Bali II yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 2005 
memperlihatkan bahwa segera sesudah Sunata dan Akram 
berada dibelakang terali, kendali mereka terhadap para 
pengikutnya menjadi reman, sehingga membuat Noordin 
berhasil mengajak beberapa dari mereka ikut dalam 
aksinya. Awal tahun 2006 ia mencoba untuk mengubah 
kelompok ad hocnya menjadi pasukan bersenjata yang 
lebih terstruktur yang dapat beroperasi hingga meliputi 
luar Jawa, dan setidaknya dalam angan-angannya, hingga 
keluar Indonesia. 



4 Abdullah Sunata ditahan atas tuduhan kepemilikan senjata 
dan menyembunyikan informasi tentang keberadaan Noordin, 
Akram ditahan karena keterlibatannya dalam sebuah aksi 
pengeboman di Yogyakarta tahun 2000. 



Pada bulan Oktober 2005 setelah Bom Bali II, Mukhlas telah 
dipindahkan dari LP di Bali ke Nusakambangan, sebuah penjara 
dengan keamanan maksimum yang berlokasi di Jawa Tengah, 
dan pengawasan mungkin akan lebih ketat sekarang . 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 3 



II. JARINGAN BOM MARRIOTT 



Bom Marriott tahun 2003 memberikan studi kasus 
yang pertama mengenai bagaimana Noordin menggunakan 
jaringan pribadinya. Rencana-rencana untuk operasi 
bom Marriott ini terjadi hampir tanpa disengaja. Tetapi 
seiring dengan berjalannya rencana, Noordin sangat 
mengandalkan orang-orang yang ia kenal dan percayai 
yang hampir seluruhnya adalah anggota JI dan banyak 
dari mereka yang memiliki hubungan dengan pondok 
pesantren Luqmanul Hakim di Johor, Malaysia. 



pada pertengahan 2002 ia dan iparnya yang seorang 
WNI dan lulusan Luqmanul Hakiem bernama Muhammad 
Rais, pindah ke Bukittinggi, Sumatra Barat bersama 
keluarga mereka, dan membuka sebuah bengkel 
shockbreaker mobil. 7 

Mereka mempekerjakan Ismail, seorang lulusan Luqmanul 
Hakiem juga, dan pada bulan November 2002, sebulan 
setelah Bom Bah I, atas undangan Noordin, Azhari Husin 
ikut bergabung dengan mereka. 

B. Sisa BahanPeledak 



A. Sekolah Luqmanul Hakiem 

Luqmanul Hakiem dibuka pada tahun 1992 berdasarkan 
instruksi dari Abdullah Sungkar, dengan Mukhlas sebagai 
kepala sekolahnya. Sekolah ini didirikan dengan meniru 
pesantren al-Mukmin yang didirikan oleh Sungkar dan 
Abu Bakar Ba'asyir duapuluh tahun yang lalu, yang 
berlokasi di Ngruki, Jawa Tengah. Luqmanul Hakiem 
mengadopsi kurikulum Ngruki sepenuhnya dan memiliki 
tujuan yang sama untuk membangun kader-kader baru 
untuk berjihad; selain itu guru-gurunya banyak yang 
lulusan dari Ngruki. 5 Setelah dibentuknya JI pada tahun 
1993, Luqmanul Hakiem menjadi pusat kendali Mantiqi 
I, dimana hampir seluruh anggota utamanya memiliki 
hubungan dengan sekolah itu. Seluruh anggota JI pelaku 
pengeboman yang paling dikenal seperti Hambali, 
Mukhlas, Amrozi, Ah Imron, Zulkarnaen, Faturrahman al- 
Ghozi, Dulmatin, Imam Samudra, Azhari dan juga 
Noordin sendiri, pernah mengajar atau belajar disitu. 
Luqmanul Hakiem tak hanya mendidik para pemuda 
tetapi juga pemudi, dan Hambali bukanlah satu-satunya 
anggota senior JI yang bertemu dengan istrinya di situ. 
Pada masa jayanya, sekolah ini memiliki 350 murid. 

Noordin mulai mendengarkan ceramah-ceramah disitu 
sekitar tahun 1995, pada waktu ia sedang bersekolah 
untuk mengambil gelar SI di Universiti Teknologi 
Malaysia yang letaknya tak jauh dari Luqmanul Hakiem. 
Tetapi hingga awal tahun 1998 Noordin belum bergabung 
dengan JI. 6 Ketika jelas bahwa Luqmanul Hakiem 
memerlukan seorang warganegara Malaysia untuk 
menjadi kepala sekolah agar sekolah ini tetap dapat dibuka, 
Noordin kemudian diangkat menjadi kepala sekolah, 
namun Mukhlas tetap menjadi tokoh yang berpengaruh. 

Pada akhir tahun 2001, Pemerintah Malaysia melakukan 
penggerebekan terhadap JI di Malaysia, dan Luqmanul 
Hakiem berhenti beroperasi pada awal tahun 2002. 
Noordin pergi ke Riau Indonesia di awal tahun, dan 



' Wawancara Crisis Group, Jakarta, Maret 2006. 
Wawancara Crisis Group, Jakarta, April 2006. 



Pemicu ide dilakukannya aksi bom Marriott terjadi 
secara tidak sengaja pada bulan Desember 2002. Ketika itu 
Polri sedang meningkatkan upaya pencarian mereka 
terhadap para anggota JI setelah bom Bali I, dan Toni 
Togar, seorang anggota JI yang berbasis di Medan, Sumatra 
Utara, menjadi grogi, karena di rumahnya disimpan seluruh 
bahan peledak yang tersisa dari aksi bom Malam Natal 
bulan Desember 2000. Ia menghubungi Noordin untuk 
memberitahu bahwa ia akan membuang seluruh bahan 
peledak tersebut. Pertanyaannya adalah mengapa ia memilih 
mengkontak Noordin, bukan atasannya langsung di JI, 
yaitu ketua Wakalahnya, yang tampaknya juga bisa 
dihubungi. 

Jawaban atas pertanyaan diatas mungkin dapat memberikan 
petunjuk atas kegiatan-kegiatan Noordin selanjutnya. 
Tim yang melakukan pengeboman malam natal dipimpin 
oleh Hambali, dan anggotanya termasuk Imam Samudra 
serta banyak dari pelaku Bom Bah 2002. Dari awal orang- 
orang ini telah beroperasi diluar struktur administrasi 
JI, bahkan tidak menjadi bagian dari unit pasukan khusus 
JI yang bernama laskar khos, yang menurut laporan 
dipimpin langsung oleh Zulkarnaen, orang yang termasuk 
dalam komando pusat dan bertanggung jawab atas urusan 



7 Rais dan Noordin pastinya sudah saling mengenai ketika mereka 
bersama-sama di Luqmanul Hakiem selama paling sedikit enam 
tahun. Rais adalah seorang WNI yang keluarganya hidup di 
Malaysia, di sebuah desa/perkampungan dimana pendiri JI, 
Abdullah Sungkar dan rombongannya menetap pada tahun 
1985. Ia bergabung dengan JI pada tahun 1995 ketika ia berusia 
limabelas tahun dan dikirim ke Ngruki untuk menyelesaikan 
sekolahnya. Setelah lulus tahun 1995, ia kembali ke Malaysia 
untuk mengajar di Luqmanul Hakiem dan bergabung dengan 
wakalah JI yang berada dibawah Mantiqi I di Johor. Ia tetap 
ringgal disana hingga Februari 2002 ketika salah seorang iparnya 
yang berwarganegara Malaysia ditangkap karena menjadi 
anggota KMM (Kumpulan Mujahidin Malaysia) yaitu sebuah 
organisasi afiliasi JI yang beranggotakan WN Malaysia. Banyak 
dari anggota KMM merupakan anggota dari partai oposisi, 
PAS. Menurut laporan, JI tampaknya tidak ingin terlihat sebagai 
turunan dari PAS, sehingga mendorong mereka yang tertarik 
dengan JI untuk membentuk organisasinya sendriri.. Wawancara 
Crisis Group, Jakarta, Maret 2006. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 4 



kemiliteran. Abu Bakar Ba'asyir tahu mengenai kegiatan- 
kegiatan Hambali, tetapi hampir seluruh anggota wakalah 
tidak tahu, dan orang-orang seperti Toni Togar sering 
di pilih unttik ikut tanpa sepengetahuan pimpinan divisi 
mereka. 8 Jadi Hambali sebenarnya telah memulai sebuah 
preseden bagi sebuah tim rahasia untuk melakukan 
aksi jihad sendiri. Mungkin hal ini sebagian karena ia 
mengendalikan dana terpisah, termasuk yang berasal 
dari al-Qaeda. 9 

Toni Togar dan Azhari keduanya pernah menjadi anggota 
dari tim Hambali, dan walaupun masih belum jelas 
bagaimana Noordin terlibat, hal yang cukup logis bagi 
Togar untuk mengutarakan rencananya untuk membuang 
bahan-bahan peledak itu kepada seseorang yang berada 
dalam kalangan ini. Tetapi, Noordin melihatnya sebagai 
menyia-nyiakan bahan yang bagus. Ia pun melarang 
Toni Togar untuk membuangnya, dan mengatakan bahwa 
bahan peledak itu masih dapat digunakan, dan ia akan 
mengatur pengambilan bahan peledak tersebut. 10 Tetapi 
sebelum Noordin dapat melakukan hal itu, Toni Togar 
telah muncul ke bengkel di Bukittinggi dan memberitahu 
Noordin dan Rais bahwa ia telah memindahkan bahan- 
bahan peledak tersebut ke rumah seorang anggota JI di 
Dumai, Riau. 

C. HubunganNgruki 

Pada bulan Januari 2003, Rais, Noordin dan Azhari pindah 
ke Bengkulu, dimana sekelompok anggota JI tinggal, 
termasuk Asmar Latin Sani, yang menjadi pelaku bom 
bunuh diri pada aksi bom Marriott. Disitu Noordin dan 
Azhari merencanakan aksi pengeboman sebagai cara 
untuk memanfaatkan bahan-bahan peledak tersebut. 
Anggota-anggota JI di Bengkulu, Lampung, dan Riau 
terlibat dalam perencanaan dan bantuan logisuk, tetapi 
mereka tidak diberi tahu apa sasarannya. 

Yang menarik, Noordin mulai merencanakan sebuah 
serangan yang spektakuler bersama dengan anggota-anggota 
dari Bengkulu, pada saat anggota lain dari wakalah mereka 
sedang mengikuti sebuah program untuk melatih kembali 
ketrampilan militer mereka sebagai respon atas exposure 
dan penangkapan-penangkapan paska Bom Bah. 11 Bagi 



Untuk referensi mengenai keterlibatan Abu Bakar Ba'asyir 
dalam membahas rencana untuk aksi bom Malam Natal, lihat 
pernyataan Faiz bin Abu Bakar Bafana, 30 April 2002 dalam 
berkas kasus Abdul Aziz bin Sihabudin, No. Pol. BP/364/ 
XII/2002/SERSE/, Kepolisian Republik Indonesia Daerah Riau 
Kota Barelang. 

9 Ken Conboy, The Second Front (Jakarta, 2005), hal. 112. 
Dakwaan terhadap Mohamed Rais di Pengadilan Negri 
Jakarta Selatan, No.PDM-51/JKTSL/01/2004. 
11 Pelatihan ini adalah bagian dari upaya komando pusat yang 
memutuskan untuk mencoba mengkoordinir kegiatan-kegiatan 



hampir seluruh pimpinan JI saat itu, sekarang adalah 
waktu untuk melakukan training dan konsolidasi, bukan 
melakukan serangan baru. Tetapi karena Hambali 
sebelumnya telah membuat sebuah preseden melakukan 
operasi sendiri, Noordin pun mengikuti jejakny a. 

Tahap-tahap operasi selanjutnya melibatkan tim-tim 
kecil yang memiliki hubungan satu sama lain hingga 
diluar hubungan JI. Kegiatan-kegiatan seperti memindahkan 
bahan peledak dari Dumai ke Bengkulu lewat Pekanbaru, 
Riau, pada bulan Februari 2003 dan memperoleh bahan- 
bahan tambahan seperti detonator melibatkan Noordin, 
Azhari, Rais, Toni Togar, dan seorang anggota baru 
bernama Masrizal bin Ah Umar alias Tohir yang merupakan 
alumni Ngruki dan pengajar di Luqmanul Hakiem. Ia 
adalah sahabat Rais dan sudah pasti sangat dipercaya 
oleh yang lainnya. 

Setelah bahan-bahan peledak tiba di Bengkulu dengan 
selamat dengan cara dikirim sebagai paket biasa lewat 
angkutan bis antarkota, bahan-bahan ini kemudian 
disimpan di rumah Sardona Siliwangi, seorang lulusan 
Ngruki dan anggota JI. Pada saat rencana Marriott 
sedang dimatangkan, Sardona yang tinggal di Bengkulu 
bersama dengan Asmar Latin Sani sedang berupaya 
untuk mendirikan sebuah pondok pesantren seperti 
Ngruki disitu, dan Sardona lah yang membuka sebuah 
rekening bank pada bulan Maret 2003 untuk memfasilitasi 
transaksi-transaksi keuangan bagi Noordin. Meskipun 
begitu, ia tampaknya bukan anggota tim yang antusias, 
jadi lebih karena sudah dimintai tolong, dia tidak dapat 



pelatihan dengan operasi militer. Mustofa bertanggung jawab 
untuk pelatihan, Zulkarnaen untuk urusan militer , namun 
mereka kurang cocok satu sama lain. Masing-masing anggota 
menyimpan pasokan senjata secara rahasia dan tidak membaginya 
dengan JI secara keseluruhan untuk pelatihan. Hambali menarik 
anggota fiah (cell) tanpa memberitahu kerua wakalah terkait 
dan menggunakan anggota mereka untuk operasi-operasi yang 
tidak ada hubungannya sama sekali dengan pelatihan. Dalam 
sebuah upaya untuk maju diluar ego masing-masing, mengurangi 
kebingungan, dan meletakkan pelatihan pada strategi militer 
yang lebih jelas, pjs (pejabat sementara) amir, Abu Rusdan, 
menyepakati sebuah komando pusat sebagai satu-satunya komando 
yang mengkoordinir pos untuk mengawasi fungsi pelatihan dan 
militer, dengan sebuah lini administratif secara langsung dari 
mantiqi-mantiqi ke wakalah -wakalah. Unit-unit militer yang 
terlatih di tingkat wakalah dikenal sebagai thoifah muqotilah, yairu 
penggunaan yang asli/sebenarnya dari istilah ini. Wawancara 
Crisis Group, Jakarta, Maret-April 2006. Hanya Mantiqi II yang 
benar-benar mendapatkan training berdasarkan struktur yang baru 
yang masih dalam proses pada awal tahun 2003, tetapi kemudian 
diketahui oleh polisi pada bulan Juni 2003 dan banyak dari 
pesertanya yang ditangkap. Lihat kesaksian saksi ahli Lobby 
Loqman SH, 12/12/2003 Badan Reserse Kriminal Polri, 
Direktorat VI Anti-Teror dalam berkas kasus Solihin alias Rofi. 
(Loqman menyebut unit-unit tersebut sebagai thofiah mukhatalah.) 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 5 



menolak. 12 Bam pada awal bulan April Noordin secara 
resmi mengajaknya untuk bergabung. Meskipun awalnya 
ia bersedia, Sardona hanya bertahan selama beberapa 
minggu sebelum akhirnya memuruskan mundur karena 
merasa waktu yang diminta darinya terlalu banyak. 
Tampaknya Noordin tidak berbagi informasi detil 
kepadanya kecuali mengenai bagaimana cara 
berkomunikasi lewat kode rahasia dan kata kunci. 13 

Polisi tidak pernah ketinggalan jauh: Rais ditangkap 
akhir April 2003, Sardona pada bulan Mei. Kesulitan- 
kesulitan menyusun sebuah operasi pastinya semakin 
dibuat sulit setelah mengetahui bahwa polisi akan 
mendapatkan lebih banyak informasi tentang mereka 
dari anggota-anggota yang telah ditangkap, tetapi hal 
ini tidak menghentikan niatnya untuk melanjutkan 
rencana Noordin melakukan aksi pengeboman seperti 
yang terjadi pada saat sejumlah rekannya tertangkap 
menjelang aksi bom Kuningan. 

Pada akhir bulan April, seorang lagi anggota JI dari Riau 
diikutsertakan, yaitu Mohamed Ihsan alias Jhoni Hendrawan 
alias Gembrot alias Idris. Ia sudah pernah terlibat dalam bom 
Malam Natal tahun 2000 di Pekanbaru dan adalah sebuah 
pilihan yang wajar bagi mereka untuk melibatkannya, 
walaupun perannya tidak terlalu besar, yaitu memindahkan 
bahan peledak ke tempat lain lagi. 

Pada bulan Mei, dua orang anggota dm yang sudah teruji 
dan dipercaya telah kembali. Mereka adalah Toni Togar 
dan Ismail. Toni Togar, yang keengganannya untuk 
menyimpan bahan peledak akhirnya malah menggerakkan 
seluruh rencana pengeboman, merampok sebuah bank di 
Medan pada tanggal 6 Mei untuk mengumpulkan dana 
bagi operasi. Ismail, lulusan Luqmanul Hakiem yang 
pernah bekerja dengan Rais dan Noordin di bengkel 
shock breaker mobil di Bukittinggi, menerima sebuah 
email dari Noordin yang menyuruhnya untuk mengambil 
sebuah paket dari se seorang di Dumai. Setelah paket 
itu diambil oleh Ismail, ternyata isinya adalah uang 
tunai dalam bentuk dollar Australia yang dikirim oleh 
Hambali lewat seorang kurir. 14 Ismail kemudian menerima 



Berita Acara Pemeriksaan Sardona Siliwangi alias Dona 
Bin Azwar, 28 Agustus 2003. 

13 Ibid. 

14 Sebuah buku yang tampaknya ditulis berdasarkan transkrip 
dari interogasi terhadap Hambali menyebutkan bahwa Hambali 
telah mengatur untuk mengirim uang sebanyak $25,000: $15,000 
untuk biaya-biaya operasional, $10,000 untuk keluarga para 
pelaku bom Bali. Conboy, op. cit, hal. 229. Adik Hambali, Gun 
Gun, yang ditangkap di Karachi pada bulan September 2003, 
memberikan testimoni bahwa Hambali telah diberi janji akan 
diberi uang sebanyak $50,000 dari seorang Arab di Pakistan, 
yang telah dikirim lewat kurir ke Thailand dan selanjutnya ke 
Malaysia yang mana sebagian dari dana tersebut adalah untuk 
membantu keluarga dari para anggota KMM yang ditahan. Uang 



serangkaian instruksi dari Noordin mengenai cara membawa 
uang tunai tersebut dari Dumai ke Lampung. 15 

Tabel 1 berisi ringkasan tentang hubungan sekolah- 
sekolah dengan para pelaku: 

Tabel 1: Latar belakang pendidikan para pelaku bom 
Marriott (nama-nama yang ditulis tebal adalah nama 
yang paling sering dipakai) 



Noordin Moh. Top 




Luqmanul Hakiem, 1995-2002 


Azhari Husin 




Luqmanul Hakiem, 1998-2002 


Indrawarman alias Toni 


Togar 


Ngruki, 1987-1990 


Mohammed Rais 




Ngruki, 1991-1995; 
Luqmanul Hakiem, 1996-1999, 
2001-2002 


Asmar Latin Sani 




Ngruki, 1991-1995 


Ismail alias Mohamed Ikhwan 


Luqmanul Hakiem, 1991-1998 


Sardona Siliwangi 




Ngruki, 1993-1997; 
Universitas an-Nur, 2000-2002 


Masrizal bin Ali Umar 




Ngruki, 1990-1994; 


alias Tohir 




Luqmanul Hakiem, 1998, 2000 


Mohamed Ihsan alias 




Ngruki, 1989-1993 


Jhoni Hendrawan alias Idris 





D. Susunan Tim Yang Terakhir 

Pada tanggal 4 Juni 2003 di Lampung, susunan terakhir 
dari tim aksi bom Marriott dibentuk, mereka adalah: 
Noordin, Azhari, Ismail, Asmar Latin Sani, dan Tohir. 
Noordin yang memberikan tugas. Ia jelaskan bahwa ia 
yang memimpin operasi, dengan Azhari sebagai ketua 
lapangannya dan Ismail sebagai asistennya. Asmar dan 
Tohir yang bertugas mencari rumah kontrakan, membeli 
kendaraan dan membawa bahan peledak ke Jakarta. 
Asmar telah bersedia menjadi syahid. 

Ketika tiba di Jakarta, mereka berpencar menjadi dua 
kelompok untuk melakukan survei terhadap empat lokasi 
yang akan dipilih menjadi sasaran. Azhari dan Ismail 
mempelajari dua lokasi yaitu Marriott dan sebuah kantor 
cabang Citibank; Noordin dan Tohir melihat Jakarta 
International School dan Australian International School. 
Pada akhirnya mereka memutuskan untuk memilih hotel 



yang sampai ke Indonesia mungkin berasal dari sumber yang 
sama. Lihat Berita Acara Pemeriksaan Gun Gun Rusman 
Gunawan alias Abdul Hadi, 20 Januari 2004 dalam berkas kasus 
Gun Gun Rusman Gunawan alias Abdul Hadi, No. Pol BP/04/III 
/2004 Den Sus 88 Anti Teror. 

13 Berita Acara Pemeriksaan Ismail alias Muhamad Ikhwan 
alias Agus alias Iwan, 28 Januari 2004 dalam berkas kasus 
Gun Gun Rusman Gunawan, op. cit. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 6 



Marriott sebagai sasaran karena menggunakan nama 
Amerika dan mudah untuk dicapai. Hotel Marriott dibom 
pada tanggal 5 Agustus. 

Noordin hanya menggunakan anggota-anggota JI, dalam 
operasi ini anggota yang ia pakai sebenarnya malah 
kumpulan kecil anggota-anggota JI yang berbasis di 
Sumatra, yang merupakan lulusan Ngruki, atau Luqmanul 
Hakiem, atau keduanya. Pertanyaannya adalah apakah 
pengeboman hotel Marriott disokong oleh JI atau tidak. 
Namun sudah jelas bahwa anggota komando pusat telah 
dikabari. Pada tanggal 7 Juni, menurut kesaksian Ismail, 
Noordin menemui sekretaris komando pusat yaitu Abu 
Dujanah (seorang WNI yang mengajar di Luqmanul 
Hakiem), dan Qotadah alias Basyir, seorang anggota 
Mantiqi II yang pernah terlibat dalam pelatihan militer 
paska Bali. (Ia tampaknya satu-satunya anggota JI yang 
terlibat dalam program itu yang menyeberang ke 
Noordin). Malam itu, Noordin, Azhari dan kedua orang 
tamu tersebut bertemu di sebuah hotel, kemudian Ismail 
mendampingi mereka kembali ke Jakarta. Pada akhir 
bulan Agustus, setelah aksi pengeboman, Noordin and 
Azhari bertemu dengan mereka kembali di Bandung dan 
bicara hingga larut malam. 

Noordin and Abu Dujanah masih dalam pengejaran, 
keberadaan Qotadah tidak diketahui dan Azhari sudah 
tew as, jadi apa isi pembicaraan mereka malam itu masih 
belum diketahui. Apakah Noordin meminta Abu Dujanah, 
dalam kapasitasnya sebagai sekretaris komando pusat, 
untuk mendapatkan dukungan bagi operasi ini dari 
komando pusat? Atau ia mendekati Abu Dujanah karena 
ia termasuk kalangan Luqmanul Hakiem, dan yakin bahwa 
ia akan bersimpati terhadap cara yang dilakukannya 
dengan menjalankan operasi ini sendirian, dan mungkin 
dapat memberi bantuan? Argumentasinya kemungkinan 
besar argumentasi yang sama yang ia berikan kepada 
Sardona sebelumnya, yaitu "Musuh-musuh kita akan 
menghancurkan kita jika kita tidak menghancurkan 
mereka terlebih dahulu". 



III. BOM KEDUTAAN BESAR 
AUSTRALIA 



16 



Seperti yang telah diketahui, argumentasi ini tidak dapat 
diterima oleh banyak anggota JI, yang percaya bahwa Bom 
Bali adalah tindakan salah yang membawa malapetaka. 
Tetapi menurut salah seorang sumber, Abu Dujanah telah 
memberikan prioritas paling tinggi untuk melindungi 
sesama anggota JI, dan apapun pendapatnya mengenai 
operasi Bom Marriott, yang jelas ia berusaha untuk 
memobilisasi jaringan JI untuk memberikan perlindungan 
bagi para pelaku. 17 



Berita Acara Pemeriksaan Sardona Siliwangi alias Dona bin 
Azwar, 28 Agustus 2003. 

17 Wawancara Crisis Group, Jakarta, Maret 2006. Banyak 
spekulasi oleh media mengenai apakah Abu Dujanah telah 
mengambil alih peran sebagai amir JI. Sumber-sumber Crisis 



Untuk serangan ke kedubes Australia, Noordin membentuk 
timnya dengan menggunakan tiga jaringan, yaitu: divisi JI 
Jawa Timur; asosiasi informal para alumni sekolah-sekolah 
JI dan sekitar Solo, Jawa Tengah; dan bagian dari organisasi 
Darul Islam yang berbasis di Banten dan propinsi Jawa 
Barat. 

Setelah dipilih, satu atau dua orang dari masing-masing 
jaringan ini masuk ke dalam jaringan pribadi mereka 
untuk menggerakkan yang lain, dan mereka sering 
mengandalkan hubungan kekeluargaan, bisnis, tetangga, 
pekerjaan, ataupun sekolah maupun hubungan organisasi, 
meskipun kadang-kadang sunt untuk dibedakan. Afiliasi 
dengan JI atau DI sering membawa kepada hubungan 
perkawinan dan hubungan bisnis di antara sesama anggota. 
Dan hubungan yang sifatnya di atas dan di luar struktur 
organisasi seperti ini berarti network dapat diaktifkan dan 
kesetiaan dapat diminta sewaktu-waktu dalam situasi 
apapun, apakah organisasi sedang aktif atau tidak, atau 
apakah sebuah aksi disokong oleh seorang ketua atau tidak. 

Untuk misi ini, pertanyaan yang paling menarik adalah 
bagaimana jaringan Jawa Timur/Tengah dan Jawa Barat 
bergabung. Disini tampaknya pengalaman di Ambon 
adalah kuncinya. Bermula dari Noordin yang bertanya 
kepada seorang pengikut muda di Solo pada bulan April 
2004 dimana ia bisa mendapatkan operatif tambahan yang 
memiliki komitmen yang sudah terbukti untuk berjihad, 
dan pemuda ini menjawab, sebenarnya," saya kenal 
seseorang di Bandung yang mungkin bisa membantu" 
Pemuda itu adalah Iwan Dharmawan alias Rois, yang 
bertanggung jawab atas tugas logistik dan mencari orang- 
orang yang bersedia menjadi pelaku bom bunuh diri untuk 
operasi tanggal 9 September 2004 tersebut. Sebelum kita 
melihat bagaimana Noordin membangun kontak dengan 
Rois, layak khanya kita melihat bagaimana ketiga j aringan 
ini bekerja. 



Group mengatakan belum. Tetapi ia adalah salah satu anggota 
dari komando pusat yang sejak tahun 2003 tetap berada dalam 
posisi sebagai pengambil keputusan, dan jika diperlukan, 
berkomunikasi dengan yang lain. Zulkarnaen berada diluar 
kontak; Abu Bakar Ba'asyir, Abu Rusdan, Ahmad Roichan dan 
Mustofa berada dalam tahanan; Ustadz Arif dalam keadaan lemah. 
Sebuah sumber menduga Abu Dujanah, walaupun tidak ada 
yang mengawasi, mungkin tidak akan menggunakan sumber 
daya JI untuk melakukan aksi pengeboman ala Noordin tetapi 
tidak ada bukti bahwa ia berusaha untuk menghentikan rekannya 
tersebut. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 7 



A. Jaringan Jawa Timur 

Pada akhir tahun 2003, sebagai buntut dari aksi bom 
Marriott dan upaya pengejaran oleh polisi yang semakin 
meningkat, Noordin dan Azhari membutuhkan tempat 
persembunyian. Selama bulan Oktober, mereka 
bersembunyi di daerah Bandung, tetapi di bulan November 
mereka berhasil kembali ke Solo, dimana mereka 
melakukan kontak dengan Usman bin Sef alias Fahim, ketua 
wakalah JI untuk Jawa Timur. Fahim sedang dicari oleh 
polisi atas berbagai aktivitasnya yang terkait dengan JI dan 
saat itu sedang bersembunyi di daerah Solo. Tetapi sebagai 
seorang ustadz yang disegani; ketua Yayasan Darussalam 
yang merupakan front JI di ibukota Jawa Timur, Surabaya; 
dan sebagai seorang ketua Wakalah, ia dapat mengeluarkan 
instruksi kepada anggota-anggota JI di Surabaya dan hams 
dipatuhi. 

Pada bulan November, Fahim memanggil seseorang 
bernama Son Hadi dari Surabaya ke Solo. Son Hadi 
lulus dari Ngruki pada tahun 1991 dan pernah bekerja 
dengan Fahim di Yayasan Darussalam sejak tahun 
1997. Fahim mengatakan kepada Son Hadi bahwa 
menyembunyikan Noordin dan Azhari adalah perbuatan 
baik dan memerintahkannya untuk mencarikan tempat 
persembunyian bagi mereka di Surabaya. 

Son Hadi kembali ke Surabaya dan menghubungi tiga 
temannya yang saling mengenal satu sama lain lewat 
pengajian tetapi juga tampaknya mereka sama-sama 
anggota JI. 18 Pada tanggal 18 November, ia menyewa 
sebuah minibus dengan menggunakan uang hasil 
sumbangan atau infaq dari masyarakat Muslim di 
Surabaya. 19 Dengan mengendarai mobil, ia dan seorang 
teman berangkat ke Mojoagung, sebuah kota kecil 
yang letaknya sekitar setengah jam dari Surabaya, 
untuk bertemu dengan Fahim, Noordin dan Azhari. 
Kemudian semuanya naik mobil menuju ke sebuah 
lokasi yang telah diatur di dalam kota, dimana dua 
rekan yang lain, yang seorang bernama Ismail, sudah 
menunggu dengan motor. Mereka kemudian membawa 
Noordin dan Azhari ke rumah Ismail, dan selama 
sekitar sebulan segala sesuatunya berjalan lancar. 



Ketiga orang dimaksud adalah Ustadz Anton alias Pak Lik, 
Ismail, dan Jauhari. Anton juga seorang peserta pengajian di 
masjid al-Ikhsan di Surabaya, dimana Son Hadi sering bertindak 
sebagai khatib dan tampaknya masjid ini juga menjadi salah 
satu pusat kegiatan-kegiatan JI. Son Hadi mengatakan kepada 
polisi bahwa Ismail, yang bersedia untuk menampung mereka, 
juga merupakan salah seorang yang sering ikut pengajian ini, 
artinya ia kemungkinan juga aktif di wakalah JI. Jauhari 
merupakan anggota dari kalangan yang sama, tetapi apa hubungan 
persisnya dengan Son Hadi tidak begitu jelas. 
19 Berita Acara Pemeriksaan Son Hadi dalam berkas kasus 
Achmad Hasan als Agung Cahyono als Purnomo, Jakarta, 10 
Januari 2005. 



Namun kemudian ayah Ismail berencana untuk datang 
ke rumahnya, dan Ismail memberitahu bahwa mereka 
harus pindah. Son Hadi menghubungi seorang rekan 
yang lain, Achmad Hasan, yang tinggal di Blitar, Jawa 
Timur. Hasan telah dibai'at menjadi anggota JI oleh Fahim 
pada tahun 1996, tetapi ia juga punya hubungan bisnis 
dengan Son Hadi, yaitu istri mereka bersama-sama 
menjalankan sebuah bisnis membuat dan menjual jilbab. 2 ° 

Pada bulan Januari 2004, seorang operatif lain 
diikutsertakan. Adalah Heri Sigu Samboja alias Ilyasa, 
seorang lulusan Ngruki berusia 22 tahun, dan seorang gum 
agama di pesantren Darul Fitroh, Sukaharjo, yang letaknya 
di luar Solo. Ayahnya, Khumaidi, adalah seorang veteran 
Afghan dan teman Fahim. 21 Fahim tampaknya telah 
menghubungi Khumaidi mengenai rencana untuk mengirim 
Heri, anaknya, belajar dengan Azhari di Blitar. Menurut 
pernyataan Heri kepada polisi, ayahnya datang ke pesantren 
tempatnya mengajar dan menawarkan kepadanya untuk 
belajar komputer dan belajar mengenai bagaimana membuat 
virus yang dapat merusak sistem data Amerika Serikat. Heri 
tidak terlalu tertarik; katanya, ia lebih tertarik untuk pergi 
jihad ke Poso atau Mindanao. Ayahnya mengatakan 
hal itu sangat sulit saat ini karena pengawasan sangat 
ketat dan memintanya untuk pergi ke Solo saja untuk 
mempertimbangkan tawarannya untuk belajar komputer. 
Heri berangkat hari berikutnya ke sebuah tempat yang 
sudah diatur, yaitu di rumah seorang guru agama dimana 
disitu juga sudah ada seorang pemuda. Gum agama tersebut 
kemudian membawa keduanya untuk bertemu dengan 
Fahim. 22 

"Kamu tahu kenapa kamu kesini?", tanya Fahim. 

"Untuk belajar komputer", jawab Heri. 

"Sebenarnya untuk belajar mengenai elektronik", kata 
Fahim. "Apakah kamu siap untuk ini?" 23 



Para perempuan anggota JI tampaknya berperan penting dalam 
mendukung kegiatan-kegiatan organisasi dengan cara membuat 
dan menjual pakaian Muslim. Istri Agus Dwikarna (seorang 
anggota Laskar Jundullah, bukan JI) juga aktif dalalm bisnis 
ini, menjual pakaian Muslim di Filipina bagian Selatan dan juga 
di Indonesia. Menurut laporan, sebuah pabrik yang berlokasi 
di luar Solo mengalami kesulitan ketika perempuan yang 
menjalankan pabrik ini, yaitu istri dari seorang guru Ngruki, 
dituduh membayar upah dibawah standar oleh para pekerjanya. 

21 Fahim adalah salah satu peserta pelatihan di Afghanistan 
angkatan tahun 87 tetapi ia berkunjung ke Mindanao pada 
bulan November 1987; tidak jelas kapan Khumaidi berada di 
Afghanistan tetapi kemungkinan mereka berada disana pada 
waktu yang sama. 

22 Guru agama ini adalah Ustadz Hasbi. Pemuda yang satu 
lagi yang sudah berada disitu adalah Eyas alias Tukiadi. 

23 Berita Acara Pemeriksaan Heri Sigu Samboja alias Nery 
Anshori alias Mohamad al Ansori alias Mohammad Nuruddin 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 8 



Mereka mengatakan siap. Pasti sudah jelas bagi kedua 
pemuda tersebut bahwa mereka akan terlibat dalam 
sebuah kegiatan bawah tanah tetapi mereka, begitupun 
juga ayah Heri, mungkin saat itu belum tahu apa yang 
akan terjadi. 

Heri kemudian kembali ke pesanrren tempatnya mengajar 
dan meminta ijin cuti kepada direktur pesantren, dan 
seperti yang telah diperintahkan Fahim, mengatakan 
kepadanya bahwa ia akan pergi ke Poso untuk mengajar. 
Beberapa hari kemudian, ayahnya menjemput dan 
mengantarnya ke Blitar, dan memberikan sebuah nomor 
telepon untuk dihubungi jika mereka sudah sampai. 
Nomor yang diberikan ternyata nomor telepon Hasan, 
yang menjemput mereka di terminal bis dan membawa 
mereka kerumahnya. Mereka kemudian diperkenalkan 
kepada Noordin dan Azhari, keduanya menggunakan 
nama samaran, dan memberitahu bahwa mereka akan 
belajar merakit bom. 

Heri dan rekannya mulai kursus dengan Azhari di rumah 
Hasan selama sebulan, tujuh jam sehari. Beberapa minggu 
sesudah mereka tiba, Fahim menelepon Hasan dan 
memerintahkannya untuk pergi ke masjid utama di Kediri, 
sebuah kota yang letaknya dua jam perjalanan dari Blitar. 
Fahim telah menunggu disana bersama dengan dua orang 
lain yaitu Adung, seorang rekan lama Hambali dari 
Malaysia yang menggantikannya sebagai ketua Mantiqi I 
dan menjadi anggota komando pusat JI, serta Qatadah, 
yang bersama dengan Abu Dujanah, bertemu dengan 
Noordin sebelum dan setelah bom Marriott. 

Kemudian mereka semua kembali ke Blitar dengan 
kendaraan, dan ternyata para tamu tersebut memiliki 
kado buat mereka yaitu: 25 kg potassium klorat dan 
10 kg sulfur untuk membuat bom, serta sebuah pistol 
dan beberapa amunisi. Tak lama kemudian, seorang 
tamu lain mengirimkan sekitar 30 kg TNT. 

Sekitar awal bulan Februari 2004, Heri dan rekannya 
yang belajar merakit bom dianggap telah menyelesaikan 
pelajaran mereka dan disuruh pulang. Adung dan 
Qotadah menemani Heri ke Solo. Setidaknya hingga 
tahap ini, Noordin tampaknya masih mendapat dukungan 
dari para anggota komando pusat yang hampir seluruhnya 
memiliki hubungan dengan Mantiqi I. 

Hari berikutnya Heri memberitahu ayahnya bahwa ia 
telah bergabung dengan Noordin dan Dr Azhari untuk 
berjihad. Dalam keadaan itu, tampaknya berita ini bukan 
berita yang mengejutkan bagi ayah Heri. Kemudian 



alias Ilyasa als Akhi Shogir alias Jamaluddin alias Azmi als 
Ma'ruf alias Abdul Fatah, 12 November 2004, dalam berkas 
kasus Achmad Hasan als Agung Cahyono als Purnomo, 
Jakarta, 10 Januari 2005. 



Heri kembali mengajar di Darul Fitroh dan tetap 
berhubungan dengan Adung. 

Tak lama kemudian, Hasan menelepon Son Hadi untuk 
memberitahu bahwa Noordin dan Azhari harus 
meninggalkan rumahnya dan membawa serta bahan- 
bahan berbahaya milik mereka. Pada saat itu, Son Hadi 
menelepon seorang teman lama, Chandra alias Farouk, 
yang tinggal di Pasuruan, Jawa Timur, dan menanyakan 
jika ia dapat menampung dua orang tamu. Chandra dan 
Son Hadi telah saling mengenal sejak tahun 1996 ketika 
keduanya belajar di Bangil, Jawa Timur, dan selanjutnya 
bekerja sama dalam sebuah bisnis mengumpulkan dan 
menjual baju bekas untuk tujuan perindustrian - sebuah 
contoh lain mengenai hubungan bisnis JI. 24 

Setelah Noordin dan Azhari pindah ke Pasuruan, Son 
Hadi menerima telepon yang memerintahkan ia untuk 
pergi ke Solo dan bertemu dengan Adung. Ia disuruh 
untuk membawa seorang guru yang disegani bernama 
Abu Fida, seorang anggota JI dari wakalah Jawa Timur 
dan anak dari direktur masjid dimana banyak kegiatan 
JI dilakukan. Pertemuan tersebut tampaknya agak tegang. 
Son Hadi melaporkan bahwa ia telah memindahkan kedua 
buronan. Ini adalah pertama kalinya Adung mengetahui 
mengenai hal itu, dan ia memerintahkan untuk diberitahu 
siapa Chandra. Ia menginstruksikan kepada Son Hadi 
bahwa sejak saat itu, ia, Adung, dan bukan Fahim (atasan 
Son Hadi dalam struktur organisasi JI) yang bertanggung 
jawab untuk melindungi para buronan, dan Abu Fida, 
bukan Son Hadi, yang akan menjadi penanggung jawab 
lokal. Ia memerintahkan Son Hadi untuk memberikan 
nomor telepon Chandra kepada Abu Fida, kemudian 
menyuruh ia pulang ke Surabaya. 

Abu Fida mengambil alih tanggung jawab terhadap kedua 
buronan dan pada bulan April 2004 memerintahkan Hasan 
untuk ke rumah Chandra di Pasuruan untuk menjemput 
Azhari dan membawanya kembali ke rumah Hasan di 
Blitar. Heri, sang guru agamaj juga pindah kerumah Hasan 
bersama Azhari. Noordin, yang tampaknya bersembunyi 
di daerah Surabaya, mengunjunginya dua kali di bulan 
Mei dan Juni. 



Son Hadi mengatakan kepada polisi bahwa Chandra dikenal 
sebagai aktivis Nil (Darul Islam) pada saat mereka berada di 
Bangil, jadi kemungkinan ia bukan seorang anggota JI. Berita 
Acara Pemeriksaan Son Hadi bin Muhadjir, 15 Desember 2004 
dalam berkas kasus Achmad Hasan alias Agung Cahyono alias 
Purnomo, Jakarta, 10 Januari 2005. Hubungan/kaitan lain dengan 
Bangil antara lain: Joni Achmad Fauzan, yang membantu 
menyembunyikan Noordin pada awal tahun 2005 dan bergabung 
dengan nya, bersekolah di Bangil kira-kira pada tahun yang sama 
dengan Chandra dan Son Hadi, dan juga lulusan Ngruki, jadi 
mungkin ia kenal dengan Son Hadi disitu. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 9 



Pada bulan Mei, Noordin meminta pertolongan Hasan 
untuk membantu mempertemukannya dengan Munfiatun, 
seorang perempuan muda yang pernah mengutarakan 
keinginannya untuk menikah dengan seorang mujahid. la 
akan menjadi istri kedua Noordin; saat itu Noordin 
masih berstatus menikah dengan saudara perempuan 
Mohamed Rais dari Riau. Noordin telah mendengar 
tentang Munfiatun dari Hasan, karena Munfiatun 
adalah bekas teman se-kost-an istri Hasan ketika mereka 
berdua masih kuliah di Malang. 25 Adung yang menjadi 
penghulu, dan Hasan dan Abu Fida ikut nadir. Kemudian 
Abu Fida memberikan Hasan sehelai panjang sumbu 
peledak untuk dibawa ke Azhari di Blitar. 

Hingga pertengahan bulan Juni, Azhari memiliki seorang 
murid lagi yang belajar merakit bom, namanya Gempur 
Budi Angkoro ahas Jabir, seorang lulusan Ngruki dan 
sepupu dari Faturrahman al-Ghozi, seorang tokoh JI dan 
rekan Hambah yang tewas di Filipina pada tahun 2003. 
Jabir adalah salah seorang dari dua orang yang tewas 
dalam operasi penggerebekan polisi di Wonosobo pada 
bulan April 2006. la tinggal bersama Azhari hingga tanggal 
5 Juh 2004 dan kemudian menjadi salah seorang anggota 
penting dari tim inti Noordin Top, dan menurut laporan 
ikut membantu merekrut pelaku bom bunuh diri Bom Bah 
II. 

Esok harinya, Adung dan Fahim tertangkap di Solo. Ketika 
Hasan mendengar berita itu, ia cepat-cepat membawa 
Azhari, Heri, dan seluruh bahan-bahan untuk membuat bom 
kembali ke Pasuruan, dimana Chandra telah menemukan 
tempat lain untuk mereka bersembunyi. Jabir dan Noordin 
bergabung beberapa hari kemudian, dan mereka semua 
tinggal disana hingga mereka bersama-sama berangkat ke 
Jakarta pada tanggal 22 Juli. 

B. Jaringan Sekolah Ji Di Jawa 
Tengah 

Jaringan kedua yang ikut serta adalah jaringan sekolah- 
sekolah JI yang berada di seluruh Indonesia. Dari sekolah 
ini, tiga sekolah yang paling penting di daerah Solo yaitu: 
al-Mukmin di Ngruki; Darusysyahada di Boyolali; dan 
Mahad Aly, atau juga dikenal sebagai Universitas an-Nur, 
yang berlokasi di Solo. Banyak dari para pelaku bom 
Kuningan yang lulusan dari ketiga sekolah ini. 



Tabel 2: Latar Belakang Pendidikan para pelaku 
Bom Kuningan 



Son Hadi 


Ngruki 1988 - 1991 


Syaifuddin Umar alias 
Abu Fida 


Pengajar, Universitas an-Nur 
2000-2002 


Gempur Budi Angkoro 
alias Jabir 


Ngruki 1993-1996; 
Darusysyahada 1996-1998, 
mengajar tahun 99-04 


Suramto alias Muhammad 
Faiz alias Deni 


Ngruki 1992-1995; al-Husein 
(Indramayu, juga sekolah JI) 
1995-1997; an-Nur 2000-2003 


Bagus Budi Pranoto 
alias Urwah 


Al-Muttaqien (Jepara, juga 
sekolah JI) 1990-1996; an-Nur 
2000-2003 


Lutfi Haidaroh alias 
Ubeid 


Ngruki 1992-1995; 
Darusysyahada 1995-1998; an- 
Nur 2000-2003 


Heri alias Umar 
(saudara laki-laki Ubeid) 


An-Nur 


Heri Sigu Simboja alias 
al-Anshori 


Ngruki 2002-2003 



Urwah, Ubeid, dan Deni dalam tabel di atas adalah teman 
sekelas di an-Nur, dan Abu Fida adalah guru mereka pada 
saat itu. Pada bulan Maret 2004, menurut Urwah, ia dan 
Ubeid dipanggil dari Solo ke Surabaya oleh Abu Fida 
dengan dalih membantu mengembangkan sebuah konsep 
untuk mendirikan sebuah pesantren baru. Mereka segera 
berangkat, dan di tempat pertemuan yang sudah ditetapkan 
sebelumnya, yaitu di sebuah rumah milik Abu Fida, mereka 
bertemu dengan teman sekelas mereka dulu, yaitu Deni. 26 
(Deni sebelumnya adalah seorang pendakwah untuk 
Yayasan Darussalam di Surabaya dari tahun 1997 hingga 
tahun 2000, yang berarti ia mungkin pernah menjadi 
bagian dari wakalah JI dibawah kepemimpinan Fahim. Ia 
juga dikenal sebagai kurirnya Abu Dujanah. 27 ) Abu Fida 
memperkenalkan Urwah dan Ubeid kepada Noordin. 

Pada suatu waktu di bulan April 2004, Urwah dan Ubeid 
pindah ke rumah di Surabaya dan selama tiga bulan 
kedepan terlibat dalam diskusi panjang dengan Noordin 
mengenai kebutuhan untuk berperang dengan kafir 
(dipahami oleh Mushm salafi sebagai semua orang yang 
bukan Muslim) pada umumnya, dan dengan AS dan 
sekutunya di Indonesia pada khususnya. 28 Tidak perlu 



Berita Acara Pemeriksaan Achmad Hasan ahas Agung Cahyono 
alias Purnomo, 9 Desember 2004, dalam berkas kasus Achmad 
Hasan als Agung Cahyono als Purnomo, Jakarta, 10 Januari 
2005. Munfiatun pernah kuliah di Universitas Brawijaya, Malang. 



Berita Acara Pemeriksaan Bagus Budi Pranoto alias Urwah, 
21 September 2004, dalam berkas kasus Iran Hidayat, Polri 
Daerah Metro Jakarta dan Sekitaraya, Direktorate Reserse 
Kriminal Umum, 2005. 

2 7 Wawancara Crisis Group, Jakarta, April 2006. 
28 Berita Acara Pemeriksaan Bagus Budi Pranoto alias Urwah. 
op. cit. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 10 



pergi ke Iraq atau Afghanistan; jihad bisa dilakukan di sini. 29 
Noordin menekankan bahwa agar jihad ini dapat berhasil, 
setiap kelompok hams bekerja sama, dan seseorang yang 
ia ingin diajak serta dalam jihad ini yaitu Abdullah Sunata 
dari KOMPAK, yang mungkin dibanding siapapun di 
Indonesia adalah orang yang paling banyak kenal dengan 
para mantan pejuang wilayah konflik Ambon dan Poso 
yang berpengalaman,. 30 

Pada saat inilah hubungan Noordin dengan struktur 
keorganisasian JI mulai melemah. Saat ia mulai aktif 
merekrut orang-orangnya, ia semakin menjauhkan diri 
dari kepemimpinan JI mainstream. 31 

Ketika Noordin, Urwah dan Ubeid membahas kebutuhan 
untuk mendapatkan mujahidin yang sungguh-sungguh, 
Urwah menyebutkan nama Iwas alias Rois yang berasal 
dari Bandung. Urwah mengenal Rois (seorang anggota 
pasukan Darul Islam) setidaknya sejak tahun 2002 ketika 
Rois datang ke Universitas an-Nur untuk mendaftarkan 
adiknya. 32 Tampaknya Noordin telah mengenal Rois 
sebelumnya di Ambon atau Mindanao. 33 Ia memerintahkan 
Urwah untuk membangun kontak lagi dengan Rois dan 
menjajaki sejauh mana ia bersedia untuk ambil bagian 



Berita Acara Pemeriksaan Purnama Putra alias Usman alias 
Usamah alias Ipung alias Risqy alias Uus alias Tikus, 14 Mi 
2005, hal. 19, dalam berkas kasus Enceng Kurnia alias Arham 
alias Arnold, Badan Reserse Kriminal Polri, Detasemen Khusus 
88 Anti-Terror. Mungkin bukan sebuah kebetulan bahwa pada 
waktu itu sebuah pamflet yang berisi artikel yang muncul 
pertama kali di majalah on-line milik Al Qaeda bernama Sawt 
al- Jihad yang telah diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa 
Indonesia beredar di kalangan para kelompok jihadis. Judul 
artikel tersebut adalah "Kau tidak harus ke Iraq untuk berjihad", 
dan ditulis pada tahun 2003 oleh seorang jihadis berasal dari 
Saudi, Muhammad bin Ahmad as-Salim. 

30 Berita Acara Pemeriksaan Purnama Putra, op. cit., hal. 
19. Noordin belum pernah bertemu dengan Sunata hingga setelah 
bom Kuningan, tetapi Sunata tampaknya telah memberi wewenang 
bagi para pengikutnya untuk mendapatkan bahan-bahan untuk 
aksi pengeboman, termasuk sumbu peledak yang diberikan oleh 
Abu Fida setelah pernikahan Noordin. Ibid, hal. 20. 

31 Buku panduan administratif JI yang dikenal dengan nama 
PUPJI, mengijinkan anggota JI untuk bekerja sama dengan 
organisasi-organisasi lain tetapi tidak sampai mengacuhkan 
hirarki JI. 

32 Yang dikatakan oleh Urwah adalah bahwa ia pertama kali 
bertemu dengan Iwan alias Rois di Solo pada tahun 2002, 
ketika Rois datang ke tempat kostnya di Universitas an-Nur 
dan meninggalkan kartu namanya, yang berisi nama dan 
nomor telepon kantor ekspedisi Sajira. Ubaid dan Rois berada 
di Mindanao mengikuti pelatihan pada waktu yang sama tetapi 
di kamp pelatihan yang berbeda dan kemungkina mereka 
belum pernah bertemu. 

33 Seorang sumber mengatakan Ambon, tetapi tidak ingat 
kapan Noordin berada di sana. Wawancara Crisis Group, 
Jakarta, April 2006. Kesaksian Urwah dalam pengadilan 
menduga Mindanao. 



dalam sebuah aksi jihad. Urwah menelepon Rois pada 
awal bulan Mei, dan mereka sepakat untuk bertemu di 
Solo. 

Dua hari kemudian, di sebuah masjid di kampus an-Nur, 
Urwah mengajak Rois mengobrol tentang sikapnya 
terhadap AS dan sekutunya serta kepentingan mereka di 
Indonesia. Dari perbincangan tersebut ia menyimpulkan 
bahwa Rois memiliki pengetahuan agama yang cukup 
serta jiwa yang sesuai untuk berjihad, yang akan 
menjadikannya anggota yang bagus bagi rim mereka. 

Urwah kembali ke Surabaya dan melaporkan 
perbincangannya dengan Rois kepada Noordin yang pada 
saat itu tidak berkomentar apa-apa, namun seminggu 
kemudian menyuruh Urwah untuk menemui Rois kembali 
dan menyampaikan sebuah surat. Di masjid yang sama di 
Solo, Urwah menyampaikan surat tersebut kepada Rois; 
Rois membacanya, dan mengirimkan sebuah surat balasan 
melalui Urwah. 

Kami tidak mengetahui apa isi surat tersebut, tetapi 
tampaknya surat tersebut telah memberi petunjuk kepada 
Rois, dalam beberapa minggu pada akhir bulan Mei, untuk 
mendirikan sebuah kamp baru untuk latihan kemiliteran 
di Gunung Peri, Cisolok, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, yang 
khusus didisain untuk memilih para pelaku bom bunuh diri. 
Hampir seluruh peserta latihan telah mengikuti latihan 
sebelumnya yang diadakan Rois pada tahun 2003, salah 
satunya yaitu Heri Golun, yang belakangan meledakkan 
bom di depan kedutaan Australia. Dua minggu setelah 
latihan berjalan, adik Ubeid yaitu Heri alias Umar dan 
seseorang dari luar Jawa Barat tiba. Deni sudah berada di 
sana setelah dikirim oleh Urwah, tak lama berselang setelah 
pertemuannya dengan Rois di Solo. 34 Deni dan Umar - 
yang ditahan pada awal tahun 2006 oleh polisi karena 
menyembunyikan informasi mengenai keberadaan Noordin 
- memberikan pelajaran agama, dan Rois serta paman 
istrinya, Saptono, yang memberikan latihan kemiliteran. 
Training tersebut berfokus pada fa'i (yaitu merampok 
non-Muslim untuk mengumpulkan dana untuk berjihad), 
dan dalam salah satu sesi training mereka berpura-pura 
merampok sebuah rumah. Menurut Deni, ia tidak tahu 
siapa yang mengorganisir atau membiayai training, 
meskipun pada akhir tahun 2004 Rois bersaksi bahwa 
dana training berasal dari pamannya, dirinya, dan 



Deni mengatakan Urwah memberitahunya bahwa ia 
diperlukan sebagai instruktur agama untuk sebulan, tetapi tidak 
memberikan informasi lebih lanjut, hanya mengatakan bahwa 
Rois akan menjelaskan pada saat ia sampai di Bandung. Lihat 
Berita Acara Pemeriksaan Surampto alias Muhammad Faiz 
alias Deni alias Ahmad dalam berkas kasus Achmad Hasan als 
Agung Cahyono als Purnomo, Jakarta, 10 Januari 2005. Mereka 
yang ikut bergabung dalam pelatihan selain adik Ubeid yaitu 
Dirman, Ade Bahru, Abu Roiroh, dan Deny Nugraha. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 11 



pendapatan dari tambang emas yang tak memiliki ijin 
resmi di wilayah itu. 35 

Pada masa training, Ubeid dan Urwah berkunjung 
untuk melihat siruasi training. Urwah memberi Rois 
sepucuk pistol revolver kecil beserta empat buah 
peluru kaliber 2.2, sebagai hadiah dari Noordin. 



C. Situasi/Kondisi Jaringan Sejauh Ini 

Sejauh ini Noordin telah banyak mengandalkan Fahim 
dan jaringan Jawa Timurnya, dimana satu mata rantai 
yaitu dari Fahim ke Son Hadi, telah membawa paling 
sedikit lima dan mungkin enam orang terhbat dalam 
menyembunyikan kedua buronan Noordin dan Azhari. 
Mereka adalah Anton, Ismail, Jauhari, Chandra, Hasan 
dan Deni. Semuanya, kecuali Chandra, kemungkinan 
telah megenal Fahim dan Son Hadi dari wakalah JI Jawa 
Timur dan Yayasan Darussalam di Surabaya, walaupun 
ada ikatan atau hubungan dari hal lain, yaitu misalnya 
dari hubungan istri Son Hadi dan Hasan. Chandra adalah 
teman dan rekan bisnis Son Hadi, tetapi tidak jelas apakah 
ia bergerak di dalam kalangan mujahidin yang sama. 

Proses perekrutan para perakit bom tampaknya merupakan 
proses yang lebih pribadi. Fahim kelihatannya telah 
menggunakan koneksi Afghanistannya untuk mendekati 
ayah Heri Sigu Samboja dan kemudian anaknya. Jabir 
memiliki garis keturunan darah biru jihadis, tetapi 
tampaknya ia direkrut secara perorangan. 

Persahabatan antara ketiga lulusan Universitas an-Nur 
yaitu Urwah, Ubaid dan Deni serta kesetiaan mereka 
kepada bekas guru mereka, Abu Fida, sangat menolong 
dalam membangun bagian yang paling penting dalam 
operasi, yaitu perekrutan dm operatif lapangan dari Jawa 
Barat. Hubungan ini bergantung pada sebuah mata rantai 
yang penting, dari Urwah dan Ubaid ke Rois, dan kami 
masih belum tahu dimana persisnya hubungan itu dibentuk. 
Tetapi hubungan pribadi di antara para operatif Jawa Barat 
adalah yang paling menarik untuk disimak. 

D. Hubungan Keluarga Dan Bisnis Di 
Jawa Barat 

Ketika Urwah menghubungi Iwan ahas Rois, ia mungkin 
tidak ada bayangan sama sekali bahwa pada saat itu ia 
sedang mendekati seluruh klan dari anggota Darul 
Islam. Dua keluarga terbukti berperan penting dalam 
bom Kuningan. Yang satu yaitu keluarga istri Rois, 
yaitu Wiwit. Ayah Wiwit bernama Awal Purnomo lahir 
di Cianjur, dan anak pertama dari sembilan bersaudara. 



Ibid. 



Dua saudara laki-lakinya yaitu Kang Jaja ahas Aqdam 
dan Saptono, mulai terlibat dalam organisasi Darul 
Islam pada tahun 80-an. Awal sendiri baru menjadi 
anggota pada tahun 1993, pada usia 39 tahun. Kang Jaja 
adalah yang paling terlibat dari ketiga bersaudara, dan ia 
lah yang memulai pelatihan militer bagi anggota DI di 
Jawa Barat dengan dibantu beberapa veteran Afghanistan. 3 6 

Pada tahun 1998, Kang Jaja mendirikan sebuah perusahaan 
yang bergerak di bidang ekspedisi bernama CV Sajira, 
dengan dua orang bisnis partner yang lain yaitu Awal 
(adik/kakak Kang Jaja), dan seorang anggota pasukan Darul 
Islam yaitu Heri Hafidin. Perusahaan ini diharapkan akan 
menghidupkan aspirasi Darul Islam dan dapat memberikan 
bantuan logistik, bahan-bahan serta dana_untuk 
perjuangannya. 3 7 Ia pribadi yang membiayai training untuk 
para kadernya di Mindanao dan pada akhir tahun 1999 
mengirimkan sebuah kelompok beranggotakan sembilan 
orang termasuk keponakannya Rois, dan saudaranya, 
Saptono. 

Yang juga ikut dalam kelompok itu yaitu Rosihin Noor, 
yang kemudian menjadi paling militan di kelompok tersebut 
dan menjadi instruktur menembak dalam sesi latihan ala 
militer yang diadakan oleh Kang Jaja. Rosihin masuk 
kedalam keluarga besar yang kedua yang terlibat dalam 
bom Kuningan melalui perkawinan. Kepala keluarganya 
yaitu Engkos Kosasih alias Pak Kamal adalah seorang 
mantan pasukan tempur Darul Islam dan menjadi 
komandan untuk wilayah Banten pada awal tahun 1960 
sebelum Darul Islam menyerah kepada pemerintah 
Indonesia. Ia memiliki tujuh anak, empat diantaranya 
telah meninggal dunia. Tiga yang masih hidup semuanya 
kemudian terhbat dalam kelompok Kang Jaja. Anak laki- 
lakinya, Agus Ahmad, ditarik menjadi anggota Darul 
Islam pada tahun 1993 oleh salah satu anak didik ayahnya, 
dan kemudian menjadi karyawan CV Sajira pada tahun 
1999. Anak perempuannya, lis, menikah dengan Rosihin, 
juga karyawan CV Sajira. Anak laki-laki yang paling 
kecil, Iwan Sujai, juga bergabung dengan DI dan CV 
Sajira. 

Selain para pelaku yang terkait dengan perusahaan, ada 
juga ketiga orang calon pelaku bom bunuh diri, yang 
kesemuanya berteman sejak kecil di desa yang sama di 
Cigarung, Sukabumi, dan ayah mereka masing-masing 
adalah anggota Darul Islam. 

Irun Hidayat juga merupakan seorang tokoh utama. Ditarik 
kedalam Darul Islam oleh Kang Jaja pada tahun 1987 pada 
usia limabelas tahun, ia pernah menjadi teman sekelas Imam 



Untuk diskusi mengenai keterlibatan Kang Jaja dalam Darul 
Islam, lihat laporan Crisis Group, Recycling Militants in Indonesia 
(Mendaur ulang Militan di Indonesia), op. at, hal. 27-30. 
37 Kang Jaja memiliki 34 persen saham, Awal dan Hafidin 
masing-masing 33 persen. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 12 



Samudra dan Heri Hafidin (salah satu pemilik CV Sajira) 
di SMA Islam Serang. la kemudian menjadi sahabat Rois, 
dan keduanya berangkat ke Ambon pada bulan Januari 
2002. Irun menjadi instruktur bela diri di dalam latihan 
kemiliteran yang diadakan oleh Kang Jaja dan Rois. Sejak 
tahun 1999, Irun juga telah menjadi ketua dewan agama 
Perserikatan Pekerja Muslim Indonesia atau PPIM. la baru 
saja akan mampir ke seorang rekan sesama anggota PPIM 
untuk menampung para pelaku bom, malam sebelum 
mereka menyerang kedutaan. 

E. Menggerakkan Jaringan 

Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, ketika Rois 
didekati oleh Noordin lewat Urwah, ia segera mulai 
mendirikan sebuah kamp pelatihan baru untuk memilih 
para pelaku bom bunuh diri sebagai salah satu cara untuk 
menyerang apa yang ia sebut sebagai kepentingan 
Amerika dan Yahudi. 

Pada tanggal 22 Juni, Urwah menemani Rois dan 
pamannya, Saptono, ke Surabaya dimana Rois bertemu 
dengan Noordin. Noordin menanyakan kesiapan para 
pelaku bom bunuh diri, dan Rois menjawab tiga orang 
calon telah dipilih. Noordin mengatakan mereka harus 
'dimatangkan' terlebih dahulu melalui tambahan pelajaran 
agama, dan menunjuk seorang guru bernama Baharudin 
Soleh. Untuk tugas ini, Soleh yang juga menggunakan 
nama alias Abdul Hadi, mungkin yang juga telah 
'mematangkan' para pelaku Bom Bali II. Ia tewas dalam 
operasi penggerebekan polisi pada bulan April 2006. 
Ia dan Jabir - salah seorang yang juga tewas dalam 
penggerebekan tersebut - adalah teman sekelas di Ngruki 
pada tahun 1993 hingga 1994. 

Pada tanggal 25 Juni, Abdul Hadi menemani Rois kembali 
ke Bandung. Tugas yang harus mereka lakukan segera yaitu 
menemukan sebuah pesantren dimana ketiga calon syahid 
bisa mendapatkan pelajaran agama tambahan dibawah 
bimbingan guru-guru yang dapat dipercaya. Dalam sebuah 
rencana yang tampaknya disusun oleh Noordin, pesantren 
tersebut tidak hanya harus menerima Abdul Hadi dan 
adik Ubeid sebagai guru yang tidak dibayar, tetapi juga 
menerima ketiga calon syahid yaitu - Apuy alias Epul, 
Didi alias Rijal, dan Heri Golun - sebagai murid. Rois 
bertanya kepada Irun Hidayat apakah ia tahu pesantren 
yang kira-kira bersedia. Irun menyarankan Miftahul Huda 
yang berlokasi di Cikampek. Kepala pesantren setuju, dan 
pelajaran dimulai pada tanggal 3 Juli. 38 



Berita Acara Pemeriksaan Iwan Dharmawan Muthoalias Rois 
alias Fajar alias Abdul Fatah alias Dharma alias Yadi alias 
Muhammad Taufik alias Rdho alias Hendi dalam berkas kasus 
Hasan als Agung Cahyono als Pumomo, Jakarta, 10 Januari 2005. 



Apapun rencana yang telah disusun, rencana tersebut 
terganggu dengan penangkapan Fahim, Adung dan yang 
lainnya oleh polisi tiga hari kemudian. Pada tanggal 15 
Juli Urwah datang ke Bandung dan memberitahu Rois 
bahwa keberadaan Noordin dan Azhari telah diketahui 
dan mereka butuh bantuannya untuk mendapatkan 
tempat persembunyian baru. Rois kemudian berangkat 
ke Surabaya keesokan harinya dan berkonsultasi dengan 
Noordin. Sekarang prioritas yang baru yaitu mencari 
tempat persembunyian di daerah Jakarta bagi kedua WN 
Malaysia tersebut dan sejumlah pengikut mereka. Pada 
tanggal 22 Juli, Noordin, Azhari dan rombongannya, 
termasuk Hasan dari Jawa Timur dan Heri Sigu 
Samboja, murid yang sedang magang merakit bom, tiba 
di ibukota, dengan seluruh bahan-bahan peledak. 

Rois berhasil meminta Agus Ahmad menampung kelompok 
tersebut di rumahnya di Cianjur untuk beberapa malam. 
Pada saat mereka disana, mereka mendengar kabar bahwa 
Urwah dan Ubeid telah ditangkap di Solo pada tanggal 26 
Juli. Noordin memerintahkan kelompoknya untuk 
berpindah lagi, dan menugaskan Rois mencari jalan untuk 
meloloskan diri. Rois membawa Noordin dan Azhari 
dengan kendaraan ke masjid utama di Banten dan 
meninggalkan mereka di situ, sementara ia menemui Pujata, 
sesama anggota kelompok Ring Banten. Pujata pernah 
ditangkap dan ditahan sebentar pada bulan November 2002 
karena membantu membuang sisa-sisa bahan peledak 
yang digunakan untuk Bom Bali. Dapat dipahami kalau 
kemudian Pujata segan untuk terlibat lagi ketika diminta 
bantuannya untuk mencari tempat persembunyian bagi 
para buronan tersebut. Karena itu Rois pergi menemui 
anggota kelompok Ring Banten yang lain, yaitu 
Fathurrochman alias Rochman. Ia juga pernah ditahan 
bersama dengan Pujata dalam kasus yang sama, tetapi 
bersedia untuk membantu. Ketika itu, Rosihin Noor 
berada di rumah Rochman ketika Rois datang, dan Rois 
menyuruhnya untuk memastikan bahwa bahan-bahan 
peledak telah dipindahkan dan rombongan yang berada 
di Pesantren Miftahul Huda segera pindah. 

Rochman menemukan sebuah rumah di daerah Anyer, 
Banten, dan sejak saat itu, Noordin dan Azhari berpindah- 
pindah terus, dan jarang sekali tinggal di tempat yang 
sama lebih dari empat malam. 

Pada tanggal 5 Agustus, atas perintah Noordin, Rois 
berangkat untuk menjemput Heri Golun, yang telah dipilih 
sebagai pelaku bom bunuh diri, dan membeli sebuah mobil 
Daihatsu yang akan digunakan dalam aksi pengeboman. 
Ia mendapat bantuan dari Irun Hidayat dalam kedua tugas 
tersebut. Sejak saat itu hingga tanggal 17 Agustus, mereka 
sibuk mengerjakan segala hal - dari memindahkan para 
buronan, membeli tambahan material untuk aksi 
pengeboman hingga kegiatan mengumpulkan dana - 
bergantian dengan saat-saat luang, yaitu pada saat para 
operatif ke Warnet untuk melewatkan waktu. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 13 



Pada tanggal 17 Agustus, Noordin meminta Rois untuk 
memeriksa kesiapan mental Heri Golun sehubungan 
dengan kesediaannya unruk menjadi pembom. Ketika 
Heri menyatakan bahwa ia siap, ia kemudian pindah ke 
rumah di mana Noordin dan Azhari tinggal, dan tidur di 
dalam kamar mereka pada malam hari, agar mereka 
dapat memberikan tambahan taushiyah (bimbingan 
rohani) secara intensif kepadanya. 

Pada tanggal 23 Agustus, Rois mulai mengajarkan Heri 
Golun cara menyetir mobil, dan pada tanggal 9 September, 
Heri Golun yang bam bisa menyetir mobil ini meledakkan 
dirinya bersama dengan mobil yang dibawanya, melakukan 
bom bunuh diri di depan kedutaan besar Australia. 

F. Hubungan Dengan Wilayah-Wil ayah 

KONFLIK 

Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, bagaimana 
Urwah dan Ubeid (operatif JI di Solo) mengenal Iwan 
alias Rois dan mengetahui bahwa mungkin Rois mampu 
memperoleh pelaku bom bunuh diri yang diperlukan 
oleh Noordin merupakan sebuah pertanyaan yang masih 
belum dapat dijawab. Bahkan sebelum Rois muncul 
dalam operasi ini, sudah ada hubungan yang baik antara 
JI dan kelompok Banten, antara lain: 

□ Kang Jaja dan yang lainnya dalam kelompok 
tersebut telah aktif di Darul Islam sebelum 
sebuah faksi pecah dan membentuk Jemaah 
Islamiyah, jadi banyak pimpinan yang telah 
mengenal satu sama lain; 

□ Menurut laporan, Imam Samudra adalah 
anggota dari kelompok Banten dan JI, serta 
masih menjaga hubungan pertemanannya 
dengan Heri Hafidin, teman sekelasnya di 
sekolah dulu, yang kemudian menjadi seorang 
ustadz terkemuka di kelompok Banten dan 
salah seorang pemilik dari CV Sajira; 

□ Beberapa dari anggota kelompok Banten adalah 
lulusan Ngruki, termasuk Abdul Rauf dan Andri 
Octavia, dua dari beberapa orang yang ditahan 
terkait dengan sebuah aksi perampokan untuk 
mengumpulkan dana untuk Bom Bali; dan 

□ Iqbal, pelaku bom bunuh diri dalam Bom Bali, 
adalah orang Banten, bukan anggota JI, dan 
meninggalkan sebuah surat wasiat yang isinya 
mengatakan ia berharap kesyahidannya akan 
membantu memberi inspirasi bagi yang 
lain untuk memulihkan kembali kejayaan 
Negara Islam Indonesia yang didirikan oleh 
Kartosoewirjo. 



Tetapi mengapa Urwah langsung menyebut nama Rois 
ketika Noordin bertanya kepadanya tetang mujahidin 
yang sungguh-sungguh? Riwayat kemiliteran Rois dapat 
memberikan beberapa jaw aban awal. 

Pada pertengahan tahun 1999, Rois menjadi ketua 
Batalion KW 9 Darul Islam untuk daerah Pandeglang, 
Banten. Suatu waktu di tahun 1999 hingga Februari 2000, 
ia merupakan salah seorang dari sembilan anggota Darul 
Islam dari daerah Banten yang didanai oleh Kang Jaja 
untuk mengikuti latihan kemiliteran di Mindanao. Dari 
bulan Agustus hingga September 2001, untuk 
mempersiapkan kepergian 'ke Ambon atau Poso' (kata- 
kata yang diucapkan Rois, yang menunjukkan bahwa 
Ambon dan Poso dianggap sama-sama penting untuk aksi 
jihad), Rois dan Kang Jaja mengadakan sebuah pelatihan 
kemiliteran untuk duabelas anggota kelompok Banten, 
dan untuk itu mereka mengundang seorang anggota JI 
dari Malaysia untuk bertindak sebagai instruktur. Polisi 
menggerebek tempat latihan dan menangkap hampir 
seluruh peserta, tetapi mereka hanya ditahan sebentar. 
Kemudian Rois mengadakan pelatihan kemiliteran lagi, 
yaitu pada akhir tahun 2001 hingga awal tahun 2002, di 
pegunungan Ujung Kulon, Jawa Barat. Pada akhir bulan 
Januari hingga awal Februari, Rois pergi ke Ambon 
selama dua minggu bersama dengan Irun Hidayat untuk 
mengunjungi sejumlah anggota kelompok Banten yang 
telah diikutkan dengan Laskar Jihad disana. Dari bulan 
Juni 2002 hingga Februari 2003, ia di Poso. 

Delapan bulan di sebuah lokasi konflik tentunya telah 
memberikan banyak waktu bagi Rois untuk memperlihatkan 
kemampuan kepemimpinannya, ketrampilan tempurnya 
dan komitmennya terhadap jihad. Namanya tentu sudah 
dikenal di kalangan JI. Begitu juga reputasi JI di Poso 
karena memiliki para kader yang paling dalam 
pengetahuan agamanya, tentu juga telah membuat Rois 
terkesan (kemungkinan hasrat untuk memperdalam ilmu 
agamanya lah yang telah mendorongnya untuk 
mendaftarkan adiknya ke Universitas an-Nur). Tetapi 
pertemuan tersebut pastinya telah membuat masing- 
masing saling terkesan, karena yang disarankan oleh 
Urwah untuk melakukan tugas ini adalah Rois sendiri, si 
pejuang tempur, bukannya Ring Banten, organisasinya. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 14 



IV. NOORDIN MENDEKATI KOMPAK 
DAN DARUL ISLAM 



Tidak banyak petunjuk yang memperlihatkan bahwa 
kelompok Noordin dengan para pengikutnya yang 
sangat paruh dan setia memiliki strukrur tertentu pada 
tahap ini. Semua yang paling dekat dengannya, yaitu 
Ubeid, Jabir, Abdul Hadi dan Azhari, adalah anggota JI, 
dan Noordin tetap sangat mengandalkan jaringan JI. 
Tetapi jelas bahwa sumber daya semakin menciut. 
Seperti yang disebutkan sebelumnya, sejak bulan April 
2004, Noordin telah mencoba untuk mengajak Abdullah 
Sunata, pemimpin mujahidin KOMPAK, dan Akram, 
pemimpin DI, untuk bergabung dengannya. Dan niatnya 
untuk mengajak Sunata dan Akram sangat masuk akal, 
karena: 

□ Kedua-duanya dikenal sebagai para pemimpin 
yang kuat dan karismatik, dan Muslim salafi; 

□ Keduanya bukan anggota JI, tetapi mereka 
memiliki banyak pengikut yang pernah 
mengikuti latihan kemiliteran, dan hampir 
semuanya merupakan veteran daerah konflik 
Ambon, Poso atau keduanya; 

□ Mereka mempunyai jalur sendiri ke Filipina 
dan kamp latihan di Mindanao dan terpisah 
dari JI, serta aktif mencari anggota-anggota 
baru untuk direkrut; 

□ Mereka puny a akses ke persenjataan dan 
pasokan dari daerah konflik dan Mindanao; dan 

□ Setidaknya Sunata tampaknya punya akses 
ke pendanaan. 

Sudah jelas bahwa jika Noordin dapat mengajak salah 
satu atau keduanya bergabung, khususnya Sunata, 
kekuatannya akan sangat bertambah. Masalahnya adalah 
kelihatannya keduanya tidak tertarik dengan operasi 
pengeboman ala Al-Qaeda. (Tampaknya Sunata memasok 
bahan-bahan ke Noordin lebih karena harga diri sebab 
mampu memberikan bantuan yang diminta, dan hanya 
untuk menunjukkan keunggulannya, ketimbang karena 
hal lain.) 

Fokus Sunata tetap pada wilayah konflik. la berangkat 
ke Ambon pada tahun 1999, menjalankan kantor 
KOMPAK disana pada saat konflik mencapai puncaknya 
pada tahun 2000-2001, kemudian pulang pergi antara 
Poso dan Ambon, merekrut dan melatih kelompok- 
kelompok baru yang terdiri dari anak-anak muda untuk 
bertempur di Ambon dan Poso. Pada bulan April 2004, 
ketika Noordin sedang mencari SDM (sumber daya 
manusia) dan bahan-bahan untuk aksinya, Sunata sedang 
mengawasi Ambon pecah dalam kekerasan dan memikirkan 



cara untuk memanfaatkan kondisi itu. 39 Menurut 
laporan, ia percaya bahwa jihad di Ambon dan Poso 
belum selesai, dan bahwa para kafir disana adalah 
musuh tetap yang jika tidak diserang lebih dulu, mereka 
akan mengancam kehidupan kaum Muslim. 40 Hingga 
tahun 2004, setelah lima tahun bertempur, ia mungkin 
telah melihat tugas melatih anggota pasukan tempur di 
daerah konflik sebagai tugas tetap, dan jika konflik 
mereda, adalah menjadi kepentingannya untuk 
menimbulkan kerusuhan kembali. Karena peranannya di 
Ambon, ia memiliki hubungan baik dengan hampir 
setiap kelompok jihadi di Indonesia dan tampaknya 
menikmati statusnya karena semua orang meminta 
bantuannya, tetapi tidak ada alasan untuk percaya bahwa 
ia punya kepentingan untuk bergabung dengan perang 
milik Noordin yang sangat berbeda jenisnya. 

Akram sendiri lebih penuh misteri. Nama sebenarnya 
adalah Muhammad Taufiqurrahman dan berasal dari 
Temanggung, Jawa Tengah. Ia adalah seorang veteran 
Afghanistan dari angkatan yang sama dengan Mukhlas 
(1985) dan dikenal oleh sesama alumni Afghan dengan 
nama Shamsuddin. Ia pernah tinggal di Sabah selama 
beberapa tahun sebelum berangkat ke Mindanao pada 
tahun 1987 untuk mendirikan sebuah kamp pelatihan 
bagi Darul Islam, lima tahun sebelum JI juga melakukan 
hal yang sama - meskipun Fahim (yang kemudian menjadi 
ketua wakalah JI Jawa Timur) telah menemaninya 
dalam kunjungan ke Mindanao tersebut. Kakaknya, 
Abdul Malik, adalah seorang pengusaha tembakau, juga 
sangat terlibat dalam mengirim anggota-anggota baru DI 
ke Filipina, dan keduanya sama-sama menikahi wanita 
Filipina (istri Akram adalah suku Tausug). Ketika JI 
lepas dari Darul Islam pada tahun 1993, Akram tetap 
netral dan akhirnya bergabung dengan seorang pimpinan 
DI yang lain yang bernama Aceng Kurnia. 

Dua hal dari Akram, yaitu orang-orangnya dan koneksinya 
di Sabah dan Mindanao, tentu telah membuat Noordin 
tertarik, karena Tawao, pelabuhan Sabah yang jorok dan 
juga daerah kekuasaan Akram, adalah sebuah tempat 
transit standar bagi mereka yang bermaksud ke Filipina 
dari Indonesia. Tetapi sama seperti Sunata, Akram tidak 



Ia mengatur untuk mengirim senjata dari Umar Patek di 
Filipina ke seorang rekan yang dipercaya di Ambon dan 
untuk pelatihan kemiliteran (sebagian besar untuk para 
anggota KOMPAK) di pegunungan di Seram Barat beberapa 
bulan kemudian, tampaknya dengan harapan kerusuhan akan 
terus berlanjut sebagai akibat dari aksi kekerasan bulan 
April. Lihat Berita Acara Pemeriksaan Abdullah Sunata alias 
Arman alias Andri, 12 Juli 2005, hal. 8 dalam berkas kasus 
Enceng Kurnia, op. cit. Untuk mengetahui latar belakang 
dari aksi kekerasan bulan April, lihat Briefing Crisis Group 
di Asia N°32, Indonesia: Violence Erupts Again in Ambon 
(Kekerasan Meletus Lagi di Ambon), 17 Mei 2004. 
40 Wawancara Crisis Group, Maret 2006. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 15 



pernah memperlihatkan ketertarikan untuk menyerang 
Barat. Kalau Sunata lebih tertarik dengan jihad 
setempat, Akram, dilihat dari latar belakangnya, hampir 
pasti lebih tertarik pada memperoleh kemampuan militer 
untuk mendirikan sebuah negara Islam di Indonesia. 

A. ParaKurir 

Noordin, Sunata dan Akram, masing-masing menggunakan 
anak buahnya sebagai kurir. Ubeid melakukan tugas ini 
untuk Noordin hingga ia ditangkap pada akhir bulan Juli 
2004, sekitar enam minggu sebelum bom Kedubes 
Australia. Tidak jelas siapakah, jika memang ada, yang 
menggantikan tugasnya pada masa-masa penting yaitu 
tak lama sebelum dan sesudah aksi pengeboman. 

Namun pada awal bulan Oktober 2004, Noordin 
memberikan tugas ini kepada Ah Zein, seorang mantan 
pejuang daerah konflik Ambon berumur 29 tahun. 
Baginya, pilihan ini adalah pilihan yang sempurna. Ah 
Zein adalah seorang anggota JI yang berbasis di Solo, dan 
mempunyai kontak dengan KOMPAK dari masa-masa 
nya di Ambon. Ia sering datang ke Islamic Center di Solo 
yang merupakan pusat kendali seluiuh kegiatan KOMPAK 
di wilayah konflik. Ia adalah teman Abdul Rohim, anak 
dari Abu Bakar Ba'asyh, dan ia memiliki latar belakang 
keluarga yang sangat meyakinkan untuk kelompok ini, 
yaitu: ia adalah adik Fathurrahman al-Ghozi, dan 
sepupunya Jabh, sudah masuk kelompok Noordin lebih 
dahulu. Keuka mereka bertemu pertama kali di 
Pekalongan, Jawa Tengah pada bulan Oktober 2004, tugas 
pertama yang diberikan oleh Noordin kepadanya yaitu 
melobi Abdullah Sunata untuk mendapat sebuah pistol. 41 

Kurir Abdullah Sunata dengan JI yaitu Purnama Putra 
alias Usman, 23 tahun, pemuda asal Solo yang bergabung 
dengan KOMPAK dan pergi ke Ambon pada tahun 
2000. Perawakan Usman sangat kecil dan tidak kelihatan 
seperti pejuang sama sekali, sehingga salah satu nama 
panggilannya yaitu Tikus, tetapi dia kenal dengan semua 
orang. Usman bergabung dengan KOMPAK pada usia 
delapanbelas tahun atas undangan seorang teman yaitu 
Hari Kuncoro, yang kemudian menikah dengan saudara 
perempuan pelaku bom Bah, Dulmatin. Usman membantu 
memproduksi majalah 

KOMPAK berjudul al-Bayan dan beberapa dari VCD 
KOMPAK yang banyak jumlahnya. 

Kurir Akram dengan Abdullah Sunata yaitu Enceng 
Kurnia alias Arham ahas Arnold, 32 tahun, berasal dari 



Berita Acara Pemeriksaan Ahmad Rofiq Ridho alias Ali 
Zein alias Allen alias Abu Husna alias Fuad Baraja, 13 Juli 
2005 dalam berkas kasus Enceng Kurnia, op. cit. 



Bandung. Ia tadinya anggota Batalion Abu Bakar dan 
AMIN, sekumpulan para militan muda yang tidak puas, 
dan pada tahun 1999 memisahkan diri dari komando DI 
wilayah Jakarta dan Jawa Barat, karena frustrasi dengan 
para tetuanya yang enggan untuk melakukan jihad ke 
Ambon. 42 Akram mengatur agar Arham mendapatkan 
pelatihan di Mindanao. Setelah sepuluh minggu di 
Mindanao pada tahun 1999, Arham kembali ke 
Indonesia dan langsung berangkat ke Ambon. 

Para kurir yaitu Ah Zein, Usman, dan Arham, semuanya 
mengenal Arham dari Ambon. Sementara Ah Zein dan 
Usman sudah sedikit mengenal satu sama lain dari 
Islamic Center di Solo dan memiliki beberapa teman 
yang sama, khususnya karena ikatan antara JI-KOMPAK 
telah terbentuk cukup lama. 43 Arham mengenal Usman 
lewat Abdullah Sunata pada tahun 2003. Arham dan Ah 
Zein belum pernah bertemu sebelumnya, tetapi Noordin 
tahu tentang Arham dari beberapa kontaknya di 
KOMPAK dan JI. Meskipun Darul Islam, KOMPAK, 
mainstream JI, dan Noordin masing-masing memiliki 
tujuan yang berbeda-beda, namun kadang terjadi 
perpotongan dan saling melengkapi diantara mereka 
lewat network pribadi para anggota mereka. 



B. 



KONEKSI FlLIPINA 



Hubungan antara organisasi-organisasi diatas dengan 
pelaku bom Bah, Dulmatin dan Umar Patek, adalah 
salah satu contoh interaksi antar masing-masing organisasi 
tersebut. Beberapa bulan setelah bom Bah tahun 2002, 
kedua buronan anggota JI ini datang ke Jakarta dan 
meminta bantuan Abdullah Sunata sebagai bekas ketua 
KOMPAK di Ambon, jika ia dapat membantu 
menghubungi para veteran Ambon yang dikenal sebagai 
kelompok STAIN. 44 Hampir seluruh anggota kelompok 
STAIN adalah anggota Darul Islam. Tetapi Dulmatin 
dan Patek tahu bahwa mereka juga alumni Mindanao, 
dan mereka berdua ingin ke Filipina. Setelah bom Bah I, 
rute yang biasanya dipakai JI untuk ke Mindanao lewat 
Sulawesi Utara tampaknya menjadi terlalu berbahaya; 
Nasir Abas ketua Mantiqi III JI, yang biasanya mengatur 



Lihat Laporan Crisis Group, Recycling Militants in Indonesia 
(Mendaur ulang Militan di Indonesia), op. cit., untuk pembahasan 
mengenai AMIN. 

43 Untuk gambaran mengenai bagaimana hubungan itu terbentuk, 
lihat Laporan Crisis Group, Jihad in Central Sulawesi (Jihad di 
Sulawesi Tengah), op. cit. Direktur kantor KOMPAK di Solo dan 
Gedung Islamic Center dimana kantor KOMPAK bertempat 
adalah Aris Munandar, seorang anggota JI. 

44 STAIN adalah singkatan dari Sekolah Tinggi Agama Islam 
Negeri. Kelompok STAIN menyewa sebuah rumah kontrakan 
dekat institusi ini di Batu Merah, Ambon, pada saat konflik 
mencapai puncaknya. Sebagian besar dari mereka kembali ke 
Jawa. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 16 



perjalanan bagi para anggota JI melalui bagian Timur 
Malaysia ke Zamboanga, sedang bersembunyi di Poso. 
Dulmatin dan Umar Patek berharap untuk menggunakan 
saru-sarunya rute yang bisa dipakai, yaitu jalur yang di 
kontrol oleh DI lewat Kalimantan Timur ke Tawao di 
Sabah, Malaysia kemudian menyeberang ke Mindanao. 
Sunata bersedia untuk membantu dan mencarikan rumah 
kontrakan bagi tamu yang tidak disangka-sangkanya. 45 

Ahmed Said Maulana dari kelompok STAIN sangat 
sering berkunjung ke rumahnya, jadi Sunata kemudian 
meneleponnya. Tetapi ternyata ia termasuk segelintir 
anggota STAIN yang tidak punya pengalaman di 
Mindanao. 46 Kemudian Umar Patek teringat dengan 
anggota STAIN yang lain, yaitu Arham, penghubung 
Akram, yang mungkin dikenal Patek ketika di Mindanao 
pada tahun 1999. 47 Abdullah Sunata kenal baik dengan 
Arham dari masanya di Ambon, dan tahu bahwa Arham 
beserta istrinya tinggal di Lampung. Setelah menelepon 
beberapa kali untuk mendapatkan alamat lengkap 
Arham, seorang ajudan Sunata dan Umar Patek kemudian 
berangkat ke Lampung untuk mencari tahu jika Arham 
dapat membantunya berangkat ke Filipina, dan pada saat 
yang sama membuka lokasi kamp pelatihan baru untuk 
orang-orang Indonesia. Arham setuju, dan pada akhir 
bulan Maret 2003, berhasil membantu Dulmatin dan 
Umar Patek beserta keluarga mereka tiba di Filipina. 

Konsekwensinya/akibatnya cukup signifikan: 

□ Abdullah Sunata menjadi sadar bahwa melalui 
koneksi Arham, ia dapat mengirim anggota- 
anggota baru KOMPAK untuk dilatih oleh 
Dulmatin dan Umar Patek, keduanya alumni 
Afghan dengan pengalaman luas. Kenyataan 
bahwa mereka berdua pernah terlibat dalam 
operasi pengeboman yang ditentang oleh Sunata 
tidak menjadi soal; mereka tetap instruktur 
yang berpengalaman. Karena itu, ia mulai 



Berita Acara Pemeriksaan Abdullah Sunata, 12 Juli 2005, 
dalam berkas kasus Enceng Kurnia, op. cit. Pada saat itu, 
Sunata mengatakan, mereka menggunakan dana dari hasi 1 
penjualan mobil milik saudaranya Dulmatin. 

46 Ibid. Crisis Group keliru menyatakan dalam laporannya 
Recycling Militants in Indonesia (Mendaur ulang Militan di 
Indonesia), op. cit., bahwa Maulana menemani Dulmatin dan 
Umar Patek ke Mindanao. Ia diminta untuk ikut, tetapi tidak 
berangkat saat itu. Ia baru berangkat ke Mindanao tahun 2003 
dengan Sunata. 

47 Sunata menyatakan bahwa Umar Patek dan Arham sudah 
saling mengenal ketika mereka di Mindanao pada tahun 1999; 
Arham mengatakan ia pertama kali bertemu dengan Patek 
ketika Patek muncul di rumahnya pada bulan Maret 2003 dan 
pada saat itu Patek meminta bantuannya untuk membuka 
sebuah tempat pelatihan baru di Mindanao, bukan untuk 
keluar dari Indonesia. 



mengirimkan kelompok-kelompok kecil 
berjumlah tiga atau empat orang ke kamp 
pelatihan di Filipina, dan ia sendiri berangkat 
pada bulan Juli 2003 selama sebulan atas 
undangan Umar Patek, bersama dengan teman 
sejawatnya di KOMPAK, Muhammad Faiz. 

□ Dulmatin dan Umar Patek memulai tempat 
pelatihan mereka sama sekali diluar jaringan 
JI di Filipina. Mereka berdiam di Pawas, di 
luar Cotabato, dimana para anggota DI dilatih, 
bukan di Jabal Quba, dimana kamp pelatihan 
JI berlokasi. Merekapun hampir-hampir tidak 
memiliki urusan sama sekali dengan Wakalah 
Hudaibiyah, divisi administratif JI di Mindanao. 
Namun, mereka bergabung dengan setidaknya 
dua orang yang punya hubungan dengan 
Mantiqi I, yaitu Marwan seorang WN Malaysia, 
dan Darwin yang telah melarikan diri ke 
Mindanao dua tahun sebelumnya. 48 Belakangan, 
Hari Kuncoro, adik ipar Dulmatin ikut 
bergabung dengan mereka. 

□ Karena Noordin juga bagian dari Mantiqi I, 
sudah sewajarnya lah ia menganggap Umar 
Patek dan Dulmatin sebagai sekutu. 

Hasilnya, kehadiran kedua orang buronan tersebut ke 
Filipina telah memperkuat hubungan segitiga antara 
KOMPAK, faksi Akram dari Darul Islam, dan Noordin, 
meskipun kelompok pertama dan kedua memiliki perbedaan 
serius dengan kelompok ketiga. Hal ini kemungkinan juga 
memperkuat keinginan Noordin untuk mengajak Akram 
dan Sunata ikut bergabung dengannya. 

C. Koneksi Maluku 

Potongan terakhir yang memperkuat ikatan antara para 
pelaku menjelang bom Bali II adalah koneksi Maluku. 
Sebagai pendahuluan untuk melihat bagaimana ikatan 
ini dihidupkan ke seluruh lini organisasi, kita bisa 
menyimak tiga kegiatan berikut: kesatu, latihan 
kemiliteran pertama yang diadakan oleh KOMPAK di 
pulau Bum, Maluku, pada tahun 1999; kedua, kantor 
KOMPAK di Ambon dari tahun 2000 hingga 2001; 
ketiga, sebuah latihan kemiliteran di Seram Barat pada 
tahun 2004. Kegiatan-kegiatan ini tak hanya membantu 
menjelaskan bagaimana jaringan pribadi yang abadi 



Marwan alias Zulkifli bin Hir adalah kakak tertua dari Dani 
alias Taufik, yang ditahan terkait dengan aksi pengeboman 
Mall Atrium di Jakarta bulan September 2001. Katanya ia 
adalah seorang pendiri KMM. Asep alias Darwin adalah 
seorang anggota JI dari Indonesia. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 17 



terbentuk, tetapi juga memperlihatkan bahwa sekali seorang 
anggota dari salahsatu jaringan direkrut, kemungkinan 
akan lebih mudah untuk rekrut anggota yang lain. 

1. Pelatihan di Waimurat, Buru, Oktober 1999 

Pulau Buru terutama dikenal sebagai pulau yang 
digunakan sebagai penjara bagi orang-orang yang dicurigai 
sebagai angggota PKI pada masa-masa awal pemerintahan 
Soeharto. Tetapi pada bulan Oktober 1999, Aris 
Munandar dari kantor KOMPAK di Solo mengorganisir 
dan mendanai sebuah pelatihan kemiliteran untuk sekitar 
30 orang (termasuk anggota-anggota baru dari Jawa) di 
dekat Waimurat. Sedikitnya empat orang pemimpin JI 
menjadi instrukturnya, yaitu: Zulkarnaen, kepala operasi 
militer JI; Umar Wayan alias Abdul Ghoni dan Ali 
Imron, keduanya memegang peranan penting dalam 
bom Bali I; dan Muchtar alias Ilyas. Semuanya veteran 
Afghan. Ke tempat itu KOMPAK, JI dan Darul Islam 
mengirim para pemudanya untuk berlatih. 

Dari kelompok Darul Islam termasuk juga Hilman, 
berasal dari Jawa Barat, dan katanya ia dekat dengan 
Akram; serta dua orang yang dikenal dengan nama 
Umar dan Ali. Peserta training dari KOMPAK termasuk 
Abdullah Sunata; Asep Jaja alias Dahlan, yang dihukum 
seumur hidup atas keterlibatannya dalam aksi serangan 
ke kantor Brimob di Seram pada bulan Mei 2005; 
Salman alias Apud, yang ditangkap di Malaysia pada 
bulan September 2003 ketika kembali dari pelatihan di 
Mindanao; Mohamed Saifuddin ahas Faiz, yang kemudian 
memfasilitasi pertemuan antara Sunata dengan Noordin 
dan ditangkap pada bulan Desember 2004 di Mindanao; 
Hari Kuncoro; Dani Chandra, yang ditangkap pada 
pertengahan tahun 2005 karena membantu menyembunyikan 
Noordin; dan beberapa orang yang lain. 

2. Kantor KOMPAK, Ambon 2000-2001 

Semuanya dan banyak lagi yang lain tetap mempertahankan 
kontak satu sama lain selama pertempuran di Ambon, 
dengan kantor KOMPAK di wilayah yang dikenal dengan 
nama Waihon yang berfungsi sebagai pusat kendali. Sunata 
menjadi ketua KOMPAK pada tahun 2000 dan bertanggung 
jawab menyalurkan makanan dan dana kepada para 
mujahidin dan para pengungsi Muslim. Pada tahun 2004, 
Asep Jaja, salah seorang peserta training di Pulau Buru 
dan teman sekelas Sunata di SMA, kemudian melakukan 
peran yang sama secara informal. 49 



Suatu waktu pada tahun 2003, setelah Bom Bali I, kantor 
KOMPAK di Ambon, Kalimantan Timur (Samarinda) dan 
Sulawesi Selatan ditump, jadi tinggal kantor di Jakarta dan 
Solo saja yang masih berfungsi. 



Dalam tugasnya sebagai komandan bagi para mujahidin 
ketika konflik sedang memanas, Sunata akhirnya mengenal 
setiap orang dalam JI dan DI maupun sejumlah orang 
Muslim setempat yang direkrut disana. Pada saat itu ada 
tiga pusat di Ambon, yaitu: 

□ Kantor KOMPAK di Waihong. Sunata sering 
pulang ke Jawa, dan selalu membawa kader 
baru setiap kembali ke Ambon. 

□ Rumah JI di Air Kuning. Salah seorang pelaku 
bom Bali I, Utomo Pamungkas alias Mubarok 
berbasis disini. Ali Zein, yang kemudian 
menjadi penghubung Noordin, tiba pada bulan 
Mei 2001. Ia bertemu Sunata pertama kali pada 
saat kedatangannya kedua kali di Ambon pada 
tahun 2002, dan bertemu dengan Asep Jaja 
pada masa ia di sana di tahun 2003. 

□ Rumah Darul Islam di dekat kompleks STAIN 
di Kebon Cengkeh, Batu Merah. Rombongan 
DI di Ambon termasuk orang-orang yang 
dikirim oleh tetua DI, Gaos Taufik; orang-orang 
yang lebih militan dari Batalion Abu Bakar 
(AMIN); dan mereka yang setia terhadap 
Ajengan Masduki. Kemungkinan disinilah 
Akram, yang masuk kedalam kategori terakhir, 
membangun para pengikut yang lebih kuat. 
Salah seorang yang tiba pada bulan Juni 2000 
untuk "masa orientasinya" yang pertama kali 
adalah Enceng Kurnia alias Arham, yang 
kemudian menjadi kurir Akram. 

Etika saling membantu yang terbentuk di antara para 
kelompok ini di Ambon kemudian membawa hasil 
praktis secara langsung. Pada tahun 2004, ketika Sunata 
(KOMPAK) yang sedang berada di Jakarta bermaksud 
mengirim sebuah senjata untuk Asep (KOMPAK) yang 
berada di Ambon, setelah kekerasan meletus disana 
pada bulan April, Sunata menghubungi Umar Patek (JI) 
di Filipina, dan menyuruh Ah Zein (JI) untuk mengambil 
senjata tersebut di Menado, Sulawesi Utara. 50 

3. Pelatihan di Seram Barat, Juli 2004 

Mungkin karena ia sangat terikat dengan Ambon, Sunata 
percaya bahwa jihad disana belum selesai. Setelah 
kekerasan pecah lagi di Ambon pada bulan April 2004, 
ia memutuskan untuk mempersiapkan lebih banyak 
orang untuk meneruskan jihad. Ia kemudian mengorganisir 
dan mendanai sebuah pelatihan kemiliteran di pegunungan 
di luar Olas, Seram Barat - sebuah lokasi yang 



Berita Acara Pemeriksaan Ahmad Rofiq Ridho alias Ali 
Zein dalam berkas kasus Enceng Kurnia, op.cit. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 18 



sebelumnya digunakan untuk pelatihan KOMPAK dan 
JI. Banyak muka-muka lama diantara para insrruktumya, 
termasuk sedikitnya dua orang alumni dari pelatihan di 
Pulau Bum tahun 1999, yaitu Asep Jaja dan Moh Faiz. 
Dua dari tiga penghubung, yaitu Usman Tikus dari 
KOMPAK dan Arham dari Darul Islam, juga ikut. 
Sunata juga membawa tiga orang dari sebuah organisasi 
yang bekerja sama dengannya di Poso, dan seorang 
anggota Darul Islam bernama Harun, yang ia kenal dari 
Ambon dan Poso (dan yang telah bekerja dengan Ring 
Banten di Jawa Barat). Beberapa warga setempat dan 
"sisa-sisa mujahidin" - yaitu orang-orang yang pergi ke 
Ambon untuk bertempur dan menetap disana - 
menggenapi kelompok pelatihan. Sunata mengirimkan 
sekitar duapuluh orang calon anggota baru. 

Tiga hal dari pelatihan ini patut disimak, yaitu: mereka 
menggunakan poster SBY dan Jusuf Kalla pada waktu 
mencalonkan diri menjadi Presiden dan Wapres Indonesia 
sebagai target latihan menembak; dana mereka 
(darimanapun sumbernya) tidak mencukupi untuk 
membiayai dua minggu pelatihan yang direncanakan; dan 
banyak dari para instruktur ikut dalam aksi penyerangan ke 
pos pohsi di desa yang sama pada bulan Mei 2005. Tetapi 
untuk laporan ini, aspek yang paling penting dari pelatihan 
ini adalah bagaimana pelatihan ini keluar dari apa yang telah 
dibina lebih dari lima tahun sebelumnya saat kamp bum 
didirikan pertama kali. 

D. UsahaNoordinUntukMembangun 
Aliansi 

Selumh rangkaian menjadi satu dalam usaha Noordin 
mengajak Sunata dan Akram bergabung. 

Pada bulan April 2004, Usman alias Tikus berangkat ke 
Surabaya sehubungan dengan usaha dagang kecil-kecilan 
yang ia miliki bersama dengan ipar Asep Jaja. 51 Ia 
menelepon Abu Fida untuk mendapatkan tempat 
menginap. Abu Fida adalah pengajar di Universitas an- 
Nur, anggota JI Jawa Timur, dan mentor dari sejumlah 
pengikut Noordin di Jawa Barat. Abu Fida bersedia 
menampungnya, tetapi keesokan harinya mengundang 
Usman untuk menemui seorang tamu - yaitu Noordin - 
yang memintanya untuk menjadi penghubung dengan 
Sunata dan memberitahu Sunata bahwa ia butuh TNT, 
sumbu peledak, dan dana sebesar Rp 500,000 untuk 
mendapatkan calon pelaku bom bunuh diri. Usman 
mengirimkan pesan tersebut kepada Sunata lewat email. 



51 Asep Jaja menikahi seorang perempuan dari pesantren al- 
Islam di Lamongan, sekolah ini diasosiakan dengan ketiga 
bersaudara yang terlibat dalam bom Bali, Mukhlas, Ali Imron, 
dan Amrozi. 



Beberapa minggu kemudian, Usman berangkat lagi ke 
Surabaya dan memberitahu Noordin bahwa ia dan Sunata 
bersedia mencarikan bahan-bahan yang diminta. Tetapi 
kemudian, Noordin juga meminta bubuk aluminium dan 
sejumlah senjata dari Filipina, termasuk senjata api jenis 
M-16 dan RPG (senjata pelontar granat). Sekali lagi 
Usman mengirim pesan ini kepada Sunata lewat email. 

Sementara menunggu balasan dari Sunata, ia mengecek 
teman-teman KOMPAKnya jika ada yang memiliki 
bahan-bahan peledak dan akhirnya berhasil memperoleh 
sepuluh kg TNT yang merupakan sisa bahan dari Ambon 
yang ia dapat dari bekas teman sekelasnya di sekolah, 
yaitu Hari Kuncoro, ipar Dulmatin. Usman menyimpan 
bahan TNT ini di kamar yang ia sewa di Solo, dan Ubeid, 
yang pada saat itu bertugas menjadi ajudan Noordin, 
menjemput bahan tersebut di kantor KOMPAK di Solo. 

Pada bulan Juni, Hari Kuncoro berhasil memperoleh 
sumbu peledak dan memberikannya ke Iqbal Huseini 
(seorang anak buah Sunata) untuk disampaikan ke 
Usman. Sebelum Usman berangkat ke Seram Barat 
untuk mengikuti pelatihan kemiliteran, ia memberikan 
sumbu peledak tersebut kepada Ubeid di Surabaya, di 
dekat sebuah masjid dekat Universitas Airlangga. Polisi 
menangkap Ubeid dan beberapa yang lain pada akhir 
Juli 2004, dan Noordin kehilangan pembantu utamanya. 

Meskipun begitu, rencana untuk aksi bom Kuningan 
tetap berlanjut, dan selanjutnya kebutuhan yang mendesak 
adalah mendapatkan tempat untuk bersembunyi. Pada 
awal bulan Oktober Ali Zein di telepon oleh seorang 
teman di Solo yang bernama Iwan, memintanya untuk 
mencari rumah kontrakan di daerah Pekalongan, sebuah 
kota kecil di pesisir utara Jawa Tengah yang terkenal 
dengan batiknya. 

Dipilihnya kota Pekalongan kemungkinan ada hubungan 
secara langsung atau tidak langsung dengan Said Sungkar, 
yaitu seorang tokoh kunci bagi siapapun yang terlibat 
dalam kegiatan jihad di daerah tersebut. Bertentangan 
dengan banyak pernyataan, ia bukan dan menurut laporan 
belum pernah menjadi anggota JI, meskipun punya 
hubungan keluarga dengan pendiri JI, Abdullah Sungkar. 
Menurut laporan, ia selama ini merupakan salah satu 
penyumbang terbesar bagi kegiatan-kegiatan di Maluku. 
Ah Zein menggunakan relasi Sungkar di Pekalongan untuk 
mengumpulkan sumbangan bagi jihad di Ambon, 
termasuk dari dua orang yang cukup berperan dalam 
menyembunyikan Noordin pada akhir tahun 2004, yaitu 
Imam Bukhori dan Ustadz Fathurrahman, keduanya adalah 
anggota FPI cabang Pekalongan. Hubungan dengan FPI - 
yaitu kelompok yang lebih dikenal karena menyerang 
tempat-tempat tuna susila, kasino, karaoke bar, dan tempat- 
tempat maksiat, daripada karena terorisme - mungkin tidak 
sesignifikan hubungan dengan orang-orang yang 
mengikuti pengajian garis keras di Pekalongan yang dapat 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 19 



diandalkan Noordin. Orang-orang ini termasuk Abdul 
Aziz, seorang guru komputer yang kemudian diketahui 
sebagai webmaster sebuah situs yang dibuat untuk Noordin 
dan pengikutnya yang bernama www.anshar.net. 52 

Setelah diniinta mencarikan sebuah tempat di Pekalongan, 
Ah Zein menelepon Imam Bukhori, dan bertanya jika 
seorang teman dapat tinggal di rumahnya. Bukhori setuju, 
dan Ah Zein kemudian menyampaikan pesan tersebut. 
Tiga hari kemudian, Ah Zein di telepon untuk datang 
bertemu di rumah Bukhori, dan ketika disana sudah ada 
sepupu Jabir, Iwan dan dua orang laki-laki bernama Zuber 
dan Aiman - namun lebih dikenal sebagai Azhari dan 
Noordin. 

Seminggu kemudian Ah Zein memberitahu Usman Tikus 
di kantor KOMPAK di Solo bahwa ia telah mengganukan 
Ubeid sebagai asisten Noordin. Ia minta tolong Usman 
untuk melobi Sunata memberikan sebuah pistol otomatis 
kepada Noordin, yang pada saat itu hanya memiliki sebuah 
pistol tua. Secara kebetulan, keuka Usman menghubungi 
Sunata, Arham (penghubung Darul Islam) baru saja 
kembah dari Ambon dengan sebuah Baretta. Tak lama 
kemudian Arham berangkat ke Solo dan memberikan 
sebuah dus kecil dalam tas plasuk kepada Usman. Usman 
kemudian memberikan tas plasuk itu kepada Ah Zein yang 
menyerahkannya kepada Noordin. Isi dus kecil itu adalah 
sepucuk pistol Baretta dan 35 butir peluru. 

Ah Zein dan Usman bertemu untuk mencoba memfasihtasi 
pertemuan antara Noordin dan Abdullah Sunata di 
Pekalongan, di rumah seorang anggota FPL 

1. Mendekati Sunata dan Akram 

Pada awal bulan Ramadhan, pertengahan Oktober 2004, 
Usman, Sunata, Ah Zein dan Noordin berkumpul di 
Pekalongan. 53 Sunata dan Noordin bersama-sama masuk 
ke sebuah ruangan. Menurut Sunata, mereka membahas 
persepsi mereka yang sama mengenai jihad sebagai 
sebuah pilar agama, dan Noordin menjelaskan rencananya 
untuk aksi-aksi pengeboman selanjutnya, dan mengajak 
Sunata untuk bekerja sama dengannya.' 4 Sunata 



Sebuah pertanyaan yaitu apakah kelompok yang digambarkan 
sebagai pengajian sebenarnya adalah sebuah sel organisasi, 
karena para anggota JI yang diinterogasi kadang menggunakan 
isrilah ini untuk mengalihkan perharian pohsi dari hubungan 
stmktural yang lebih formal. Tetapi dalam kasus ini mungkin 
kelompok ini lebih bersifat sebagai ad hoc/dadakan, karena sulit 
untuk membayangkan sebuah organisasi yang dapat merangkul 
Said Sungkar, FPI dan anggota JI yang militan pada waktu yang 
sama. 

53 Bahan dalam bagian ini diambil dari Berita Acara Pemeriksaan 
Usman, Ah Zein dan Abdullah Sunata dalam berkas kasus 
Enceng Kurnia. op. cit. 

54 Pernyataan Sunata dalam Berita Acara Pemeriksaan ibid. 



menjawab ia harus membahas hal itu dengan yang lain. 
Keesokan harinya, Usman dan Sunata kembali ke Solo. 

Tak lama setelah itu, Noordin, Ah Zein, Usman dan Faiz 
(yang mantan pasukan tempur dan anggota KOMPAK 
dari pelatihan di Pulau Bum tahun 1999), bertemu di 
Pekalongan untuk membahas sebuah program kerjasama. 
Noordin meminta Faiz untuk melobi Akram (bosnya 
Arham), dan meminta Usman untuk melobi Sunata. Ia 
memberi Usman sehelai kertas yang berisi alamat sebuah 
email dan sebuah password, dan menyuruhnya untuk 
mengingatnya dan membuka email tersebut jika ia telah 
sampai di kota lain. Kemudian ia mengambil kembah 
kertas tersebut. 

Beberapa hari kemudian, Faiz tampaknya bertemu Akram 
di Yogyakarta. Ketika kemudian ia dan Usman kembah ke 
Pekalongan, ia memberitahu Noordin bahwa Akram tidak 
mau terhbat; prioritasnya saat itu adalah mengatur kembah 
organisasinya sendiri. Noordin telah menyarankan ketiga 
organisasi tersebut (DI, KOMPAK dan kelompoknya 
sendiri) untuk mengadakan sebuah pelatihan merakit bom, 
tetapi Akram mengatakan tak seorangpun dari DI yang 
dapat ikut. Usman mengirimkan sebuah pesan dari Sunata 
yang isinya ia siap untuk mengirimkan orang-orangnya, 
tetapi ia perlu tahu kapan dan untuk berapa lama. Hari 
berikutnya, Faiz dan Usman kembah ke Solo. Dan 
pelatihan yang dimaksud tidak pernah terwujud. 

2. Pindah ke Semarang dan Solo 

Pada saat ini, Noordin mulai merasa kurang aman 
tinggal di Pekalongan, dan memerintahkan Ah Zein 
untuk mencari sebuah tempat baru di Semarang, Jawa 
Tengah. Ah Zein menelepon seorang teman dari kantor 
KOMPAK di Solo, teman ini mengatakan bahwa 
Noordin bisa menggunakan rumah orangtuanya di dekat 
Ungaran. Kemudian Ah Zein, Noordin, Azhari dan Jabir 
berangkat ke Semarang naik mobil bersama dengan 
Iwan. Noordin dan Azhari berpencar beberapa hari 
kemudian, karena Noordin yakin ada banyak intel disitu. 

Pada tahap ini, Usman menelepon Ustadz Zaenal di 
Pesantren Isykarima di Tawangmangu, Solo, yang didirikan 
tahun 2000, kelihatannya sebagai cabang kecil dari 
Ngruki. Zaenal memberitahu rombongan tersebut bahwa 
mereka dapat menggunakan sebuah kamar di pesantren 
yang biasanya digunakan untuk pasien yang diganggu 
jin. Jadi Ah Zein, Faiz, Noordin dan Usman tinggal 
disitu untuk sementara. Mereka memberitahu Zaenal 
bahwa mereka yang akan menanggung urusan makan 
untuk semuanya; Noordin saat itu masih memasok dana. 

Untuk dua hari pertama, Faiz dan Usman tinggal 
bersama Noordin agar Ah Zein dapat mengurus tugas- 
tugas yang lain. Ketika Ah Zein kembah, Faiz dan 
Usman kembah ke Solo, dimana mereka sedang 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 20 



mengedit sebuah VCD tentang latihan di Seram Barat 
yang mereka harap dapat digunakan untuk menggalang 
dana. Dua hari kemudian mereka kembali lagi ke 
Tawangmangu ketika Ali Zein harus mengurus segala 
sesuatunya buat Noordin. Bulan Ramadhan sebentar lagi 
usai, karena itu Usman, Faiz, dan Noordin sebagian 
besar menghabiskan wakrunya membaca Al-Quran di 
dalam kamar mereka. Ketika Ali Zein kembali, Usman 
dan Faiz minta ijin Noordin untuk bisa kembali ke Solo 
melanjutkan tugas mereka mengedit VCD. 

Pada saat ini, Abdullah Sunata memberi tahu Usman 
dan Faiz (mereka berdua adalah anggota KOMPAK 
yang seharusnya melapor ke Sunata bukan Noordin) 
untuk memutuskan kontak dengan Noordin. Sejak itu 
mereka mematikan hand phone mereka dan tidak pernah 
kembali ke Pesantren di Tawangmangu. Sekitar seminggu 
setelah bulan puasa usai (16 November), Usman dan 
Faiz berangkat ke Jakarta untuk menyerahkan VCD 
yang telah selesai mereka edit ke Sunata. Tak lama 
setelah itu, Faiz berangkat ke Filipina, dengan bantuan 
Arham, penghubung Darul Islam, tetapi ia ditangkap 
ketika tiba di Zamboanga pada bulan Desember 2004. 

Pada awal bulan Januari 2005, Usman alias Tikus 
kembali ke Solo, dan diminta Ali Zein untuk menemui 
Noordin lagi. Kali ini di dekat Kartosuro dimana ia 
sedang bersembunyi di sebuah pabrik furnitur, 
mengasingkan diri disitu karena khawatir terlalu banyak 
orang di sekitarnya. Ali Zein butuh bantuan Usman untuk 
mencarikan tempat tinggal dan menyarankan Usman 
untuk meminta bantuan seorang teman dari KOMPAK 
bernama Joko Harun. Selama pertemuan antara Usman 
dengan Ali Zein dan Noordin, Usman pernah meminjam 
sepeda motor Joko ataupun mendapatkan tumpangan, 
karena itu akhirnya Ah Zein juga kenal dengan Joko. 55 
Joko setuju, dan Noordin pindah ke rumah Joko di Solo. 

Malam itu, Usman bertemu dengan Noordin di rumah 
Joko, dan Noordin meminta Usman untuk mencari orang- 
orang yang kira-kira bisa melakukan fa'I (merampok non 
Muslim untuk keperluan jihad) - hal ini merupakan sebuah 
indikasi bahwa Noordin mulai kehabisan dana. Usman 
memberitahu Noordin bahwa 'anak-anak Poso' biasanya 
siap untuk tugas semacam itu, tetapi ia harus mendapat ijin 
terlebih dahulu dari Sunata untuk menghubungi mereka. 

Referensi Poso sangat penting. Sebelum itu, jaringan 
Noordin paska bom Marriott hanya berkisar di Jawa. 
Memang tak diragukan bahwa JI masih punya orang- 
orang di Poso, tetapi mereka yang berada di sekitar 
Noordin pada awal tahun 2005 yang punya kontak 



dengan Poso adalah orang-orang dari KOMPAK, seperti 
Usman. Benin dimulainya ide untuk mengajak serta para 
mujahidin dari Poso yang mempunyai hubungan dengan 
KOMPAK dan bukannya para veteran Poso yang 
berbasis di Jawa, mungkin bermula dari sini. 

3. Sunata menolak 

Pada pertemuan yang sama di rumah Joko, Usman 
menyampaikan pada Noordin bahwa Sunata sedang 
berada di kota ini. Keesokan harinya, lewat pesan-pesan 
yang disampaikan melalui Usman, Noordin dan Sunata 
bertemu lagi, dan Sunata tetap menolak permintaan 
Noordin sebelumnya untuk bergabung. Malam itu, 
menurut Usman, Sunata marah kepadanya karena masih 
melanjutkan komunikasi dengan Noordin, padahal 
sebelumnya sudah diperintahkan untuk memutuskan 
hubungan. 56 

Keesokan harinya, setelah Joko berangkat kerja, Usman 
bertemu dengan Noordin lagi. Noordin mulai dengan 
bicara tentang mengapa ia menghubungi Sunata, kebutuhan 
untuk mengatur operasi, mengalokasikan dana dan 
melatih personil. Usman memberitahu Noordin bahwa 
Sunata sudah menginstruksikan dia untuk memutuskan 
kontak dengan Noordin sejak ia, Faiz dan Noordin 
masih bersama-sama yang terakhir kali, tetapi ia dan 
Faiz tidak tahu bagaimana cara memberitahu Noordin 
mengenai hal itu. Akhirnya ia minta ijin untuk pergi 



Berita Acara Pemeriksaan Purnama Putra, op. cit. 



Usman dan Joko saling mengenai dari kantor KOMPAK di 
Solo; keduanya berteman dengan Hari Kuncoro, dan Joko 
bersama-sama dengan Hari selama empat bulan di Ambon 
tahun 2002. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 21 



V. MENJELANG BALI II 



Sejak saat itu, dokumentasi tentang pergerakan Noordin 
mulai berkurang. Kami tidak akan memiliki laporan 
yang lengkap, sampai para pelaku yang ditangkap 
setelah bom Bali II bersaksi (beberapa dari mereka 
sedang dalam persidangan saat ini). 

Kami tahu kalau Noordin tinggal selama seminggu di 
rumah Joko Harun di Solo pada bulan Januari 2005. Saat 
itu Azhari tampaknya berada di Solo, di daerah Laweyan. 
Suatu waktu di bulan Februari, Noordin berhasil pindah 
ke Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, 57 dimana seorang 
lulusan Ngruki bernama Joni Ahmad Fauzan (teman 
sekelas Ali Zein) bersedia menampungnya. 

Ketika berada di situ, Noordin memerintahkan Joko, Joni 
dan Ali Zein untuk melakukan survei terhadap sejumlah 
lokasi di Jawa Timur yang diincar untuk aksi pengeboman 
atau penculikan, termasuk diantaranya: Universitas Kristen 
Malang; warganegara Amerika yang bekerja di PLTU 
Paiton dekat Banyuwangi; sebuah sinagoga (rumah ibadah 
kaum Yahudi) di Surabaya; pemilik sebuah pabrik jamur 
yang disangka orang Cina atau Korea (sebenarnya orang 
Cina asal Menado beragam Kristen); kantor-kantor konjen 
di Surabaya; dan hotel Novotel di Surabaya, karena 
managernya dicurigai seorang WN Australia.^ 8 

Karena mereka harus terus pindah dan tetap berada satu 
langkah lebih depan dari polisi, Noordin tidak dapat 
melakukan apa apa di luar melakukan pengamatan awal 
terhadap target sasaran dan tampaknya ia telah pindah 
kembali ke Indramayu, di Jawa Barat, dimana ia dan 
Azhari bergabung kembali. Selama beberapa bulan 
kelihatannya mereka berada di Jawa Barat sebelum 
kembali ke Jawa Tengah. 

Kemungkinan pada saat mereka berada di Jawa Barat lah 
perekrutan para pelaku bom bunuh diri untuk Bom Bah II 
mulai dilakukan oleh Jabir, sepupu al-Ghozi yang sejak 
awal mempunyai peran penting dalam membantu Noordin 
menghindari penangkapan. Sementara Ubeid membantu 
membawa Rois dari kelompok Banten ikut dalam bom 
Kuningan, Jabir kelihatannya yang bertanggung jawab 
merekrut pelaku bom bunuh diri di Cafe Nyoman di 
Jimbaran, Bah pada tanggal 1 Oktober 2005. Jabir, seperti 
yang telah diceritakan sebelumnya, telah lulus dan mengajar 
di pesantren Darusysyahada (sekolah JI) di Boyolah, di luar 
Solo. Salah satu muridnya dari angkatan 1999-2000 adalah 



3 Pernyataan Joko Triharmanto alias Harun alias Jek dalam 
berkas kasus Enceng Kurnia, op. cit. 

58 Dakwaan terhada Ahmad Rafiq Ridho alias Ali Zein alias 
Allen alias Jamal alias Saiful, No.Reg Perk: PDM2618/JKTSL 
712/ 2005, 15 Desember 2005. 



Salik Firdaus, asal Cikijing, Majalengka, Jawa Barat. Salik 
ikut dalam pelatihan guru, yaitu sebuah program yang di 
sekolah-sekolah seperti Darusysyahada sering merupakan 
jalan langsung ke pelantikan anggota baru JI, tetapi ia tidak 
menyelesaikan program itu. 59 Polisi percaya bahwa Jabir 
merekrutnya, kemudian Salik yang membawa dua pelaku 
bom bunuh diri yang lain. 60 Salik memiliki riwayat 
pendidikan yang umumnya dimiliki para anggota JI, yaitu: 
ia tidak hanya belajar di Darusysyahada, tetapi juga 
mengajar di sekolah JI yang lain yaitu al-Mutaqien di 
Indramayu - dimana salah seorang dari mereka yang 
ditangkap dalam operasi penggerebekan polisi tanggal 29 
April lalu juga mengajar disitu. 6 ' 

Seorang anggota Darul Islam yang lain yang kelihatannya 
telah masuk dalam jaringan ini sebelum bulan Mei 2005 
adalah Agus Puryanto alias Arman. Ia lahir di Ngawi dan 
kuliah di STAIN di Solo. Ia adalah pendukung berat Abu 
Bakar Ba'asyir, dan menurut laporan sering ikut dalam aksi- 
aksi demonstrasi di Solo dan Jakarta untuk mendukung 
pemimpin JI yang ditahan ini. 62 Pada bulan Juni, ia 
menyewa sebuah rumah di daerah pinggiran kota, di 
Kartosura, Sukoharjo, yang ia tempati bersama seseorang, 
dan sudah hampir pasti orang ini adalah Azhari, tetapi 
kemudian tiba-tiba pindah pada bulan Agustus padahal 
masa sewanya belum habis. Arman meledakkan dirinya 
ketika ia dan Azhari dikepung oleh pohsi di Malang, Jawa 
Timur pada bulan November 2005. 

Pada bulan Mei, Cholily, seorang mahasiswa dari 
Malang, menurut laporan tampaknya bertemu Noordin 
dan Azhari untuk pertama kalinya di Solo. Pohsi 
mengatakan bahwa ia telah menjadi anggota JI sejak 
tahun 1999. 63 Sebuah laporan media menduga Cholily 



Progam ini dikenal dengan nama Kuliyatul Mu'alimin al- 
Islamiyah (KMI), dan biasanya diikuti dengan magang 
mengajar selama setahun di institusi-institusi yang berpikiran 
sama. Lihat "Salik Firdaus Jebolan Ponpes Darusysyahadah di 
Boyolali", Antara, 1 November 2005; "Pamit ke Batam, Terus 
Menghilang", Suara Merdeka, 11 November 2005. 
60 "Keluarga Akui Foto Salik", Pikiran Rakyat, 11 November 2005. 
6 ' Wawancara Crisis Group, Jakarta, Februari 2006. Guru yang 
ditangkap ini adalah Solahudin, yang berasal dari keluarga JI: 
saudara laki-lakinya, Farihin alias Ibnu, Abdul Jabar, dan 
Mohamed Islam semuanya pernah ditahan dalam penjara terkait 
dengan kegiatan jihad. Abdul Jabar terlibat dalam aksi 
pengeboman rumah Kedubes Filipina di Jakarta tahun 2000 dan 
saat ini sedang menjalani hukuman penjara selama duapuluh 
tahun. Solahudin sendiri diduga terlibat dalam aksi pengeboman 
Mall Atrium dan beberapa gereja di Jakarta tahun 2001. 

2 "Arman alias Agus Puryanto Pernah ajak Teman Kuliah 
Jihad ke Ambon", detik.com, 21 November 2005. 

3 "Cholily Terus Diperiksa", Kompas, 23 November 2005. 
Jika laporan keterlibatannya dengan JI memang benar, maka 
ia akan menjadi segelintir orang yang bergabung dengan JI 
yang memiliki latar belakang Nahdatul Ulama. Ia adalah 
mahasiswa Universitas Negeri Malang, tadinya kuliah di 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 22 



direkrut oleh Ahmad Basyir (seorang anggota KOMPAK 
yang berbasis di Surabaya dan ditangkap pada bulan 
Maret 2006), tetapi tidak ada verifikasi. 64 Tetapi polisi 
mengatakan bahwa Cholily menjadi murid Azhari 
setelah ia mengikuti sebuah kursus di Solo dengan 
Noordin, Arman (anggota DI yang disebutkan diatas) 
dan Basyir. 65 Kemungkinan kursus ini adalah pelajaran 
merakit bom yang pernah dicoba oleh Noordin untuk 
diadakan ketika ia mengajak Akram dan Sunata untuk 
ikut bergabung. 

Pada bulan Juni atau Juli 2005, Noordin dan Azhari 
kembali ke Pekalongan. Abdul Aziz, seorang guru 
komputer disitu, mengatakan kepada polisi bahwa ia 
ditelepon oleh Abdul Hadi, orang yang bertanggungjawab 
untuk 'mematangkan' para pelaku bom bunuh diri di 
Kedutaan Australia, dan meminta bantuannya untuk 
mencari sebuah rumah kontrakan untuk Noordin sekitar 
bulan Juli. Noordin memberitahu Abdul Aziz bahwa ia 
akan memakai rumah tersebut untuk membuat website, 
tetapi ternyata digunakan untuk bekerja dengan Misno, 
yang kemudian menjadi pelaku bom bunuh diri bom Bali 
II. 

Selama beberapa minggu kemudian, Subur memimpin 
sebuah kursus singkat pelatihan kemiliteran bagi lima 
anggota kelompok ini di lerang gunung Ungaran, di 
bagian Selatan Semarang; seluruh peserta latihan 
membayar biaya latihan mereka sendiri sendiri. 66 

Dari bulan Juli hingga September, Abdul Aziz bekerja 
membuat situs di komputernya di SMA al-Irsyad, 
Pekalongan. Noordin tampaknya yang mengawasi 
pembuatan isi situs, yang isinya temasuk sebuah bagian 
tentang 'nasihat' panjang oleh Mukhlas kepada sesama 
mujahidin, dan tampak jelas bahwa nasihat ini ditulis 
oleh Mukhlas setelah ia dipenjara. Abdul Azis seringkali 
bertemu dengan Misno dalam dua bulan tersebut, dan 
melaporkan bahwa calon pelaku bom bunuh diri ini 
memberitahunya untuk tidak membicarakan apapun 
tentang situs tersebut kepada Said Sungkar. Hal ini 
menunjukkan bahwa walaupun Sungkar telah banyak 



sekolah keguruan IKIP Malang, satu dari sekolah kejuman 
yang paling top di Indonesia. 

64 ABC newsonline, 7 Maret 2006. Mengenai klaim polisi 
bahwa Basyir adalah seorang anggota KOMPAK, lihat artikel 
yang ditulis oleh Eddy Chua, "Fugitive Noordin gives Indon 
cops the slip again", The Star (Malaysia), 13 Maret 2006. 
13 "Berkas Kasus Bom Bali II Dilimpahkan ke Kejaksaan", 
tempo.interaktif.com, 24 Februari 2006. 
Teroris Ditempa di Gunung Unggaran", Bali Post, 8 
Desember 2005. 



memberikan bantuan logistik, namun ia bukan termasuk 
kalangan dalam. 67 

Pada suatu waktu di bulan September, Noordin, Azhari dan 
calon pelaku bom bunuh diri yang sudah dipiiih tampaknya 
kembali ke Semarang, yang letaknya beberapa jam naik 
mobil dari Pekalongan. Di Semarang mereka berharap 
dapat menemukan tempat bersembunyi dan mendapatkan 
tambahan anggota baru. Pada masa puncak keberadaan JI, 
wakalah Jawa Tengah yang berbasis di Semarang adalah 
wakalah yang paling terorganisir, dan meskipun pernah di 
sweeping oleh polisi beberapa kali (operasi penggerebekan 
yang paling besar yaitu pada bulan Juh 2003), sebuah basis 
yang solid masih tetap ada. Dalam wakalah ini termasuk 
Subur Sugiarto, yang bertugas sebagai kurir Noordin Top, 
sama seperti tugas yang dilakukan oleh Ubeid dan Ah Zein 
sebelumnya. 68 Ia tampaknya juga telah membawa rekan- 
rekannya yang berasal dari Semarang kedalam jaringan ini, 
sebagian besar dari mereka tampaknya anggota baru, 
bukan bekas anggota wakalah yang sudah lama. 69 Subur 
dan tiga anggota ini merampok sebuah toko handphone di 
Pekalongan pada bulan September dan mengambil empat 
belas buah handphone untuk digunakan oleh kelompok ini. 

Bersamaan dengan rencana untuk bom Bali II semakin 
matang, Noordin mengadakan pelatihan bagi ketiga 
calon pelaku bom bunuh diri dan Anif Solchanudin, di 
lantai dua restoran "Selera" di Semarang. 70 Anif tadinya 
akan dipersiapkan untuk menjadi "pengantin" (kode 
rahasia untuk pelaku bom bunuh diri) yang keempat, 
tetapi ia seorang veteran Ambon, dan menurut laporan, 
Azhari memutuskan bahwa ia diperlukan untuk melatih 
yang lain. 

Pada tanggal 1 Oktober, Salik Firdaus, Misro, dan Aip 
Hidayat berjalan masuk ke tiga cafe di Bali, dan 
meledakkan diri mereka bersama dengan bom yang 
mereka bawa, menewaskan duapuluh orang yang lain 
dalam kejadian ini. Dari sebuah basis di Jawa Timur, 
Azhari tampaknya yang mengawasi perakitan bom 
dalam tas ransel yang digunakan dalam bom Bali II, 
sementara Noordin tetap di Semarang. 

Pada tanggal 9 November, polisi menangkap Cholily di 
Semarang ketika ia sedang membawa sebuah bom yang 



' "Azis carikan Noordin rumah kontrakan", Bali Pos, 6 
Desember 2005. 

68 "Diduga Terkait Dr Azahari", Sinar Harapan. 

69 Mereka termasuk Dwi Wdiyarto alias Wiwid, 30; Anif 
Solchanudin alias Pendek ("Shorty"), 24; Ardi Wibowo alias 
Dedi, 30; Aditya Tri Yoga, 29; Wawan Suprihatin, 35; Hari 
Seti Rahmadi; Sri Puji Mulyono; Joko Suroso; dan Reno alias 
Tedi. Semuanya kecuali Reno alias Tedi ditangkap setelah 
Bom Bali II; Aditya Tri Yoga ditangkap kemudian dilepaskan. 

"Police nab four suspected terrorists in Central Java", 
Jakarta Post, 10 Januari 2003 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 23 



dibuat oleh Azhari dari Malang untuk disampaikan ke 
Noordin lewat Tedi, seorang anggota dari kelompok 
Semarang yang masih dicari oleh polisi. Dari Cholily 
polisi mengetahui tempat persembunyian Azhari di 
Batu, Malang, dan segera mengepung tempat tersebut. 
Pada saat terjadi tembak menembak, Azhari tewas, dan 
Arman meledakkan dirinya. 

Noordin berhasil meloloskan diri di Semarang. Sejak itu 
jejaknya terendus di Solo; Rengasdengklok dan Krawang, 
Jawa Barat; Surabaya; dan Wonosobo, Jawa Tengah. 



VI. KESIMPULAN 



Noordin jelas bercita-cita memimpin sebuah mesin mihter 
yang sangat terorganisir dengan sel-sel tersebar di seluruh 
Asia Tenggara, yang didisain untuk menyusun serangan- 
serangan teror terhadap Amerika Serikat dan sekutunya, 
dan musul-musuh Islam yang lain. Namun saat ini ia masih 
jauh sekali dari angan-angannya. Meskipun begitu: 

□ Ia memiliki persediaan orang-orang dari 
basis JI di Surabaya, Solo dan Semarang 
jika diperlukan. Dari setiap basis selama ini 
ia berhasil mendapatkan kurir yang dapat 
dipercaya dan dapat masuk ke network yang 
lain untuk meminta bantuan. 

□ Jaringan sekolah JI tetap memiliki 
peranjpenting, khususnya bagi kalangan tim 
inti, yang mungkin masih berhubungan 
dengan orang-orang dari Mantiqi I yang lama, 
termasuk Jabir dan Abdul Hadi. Keduanya 
tewas dalam operasi penggerebekan polisi 
pada bulan April 2006. Sebuah pertanyaan 
yang penting adalah apakah mereka juga 
termasuk Abu Dujanah dan Zulkarnaen, atau 
apakah JI telah terpecah-pecah semakin jauh. 

□ Apapun ambisinya, 'organisasi' Noordin 
masih tampak bersifat ad hoc, tetapi hal ini 
bisa berubah. Berlawanan dengan asumsi, 
perpindahannya yang terus menerus mungkin 
malah akan meningkatkan kemampuannya 
untuk membangun sel-sel teroris [di tempat 
yang ia singgahi], meskipun sel-sel ini 
melawan komando operasi langsung.. 

□ Dengan penahanan Sunata dan Akram, ia 
mungkin semakin berusaha untuk menjangkau 
organisasi-organisasi lain. Ada beberapa indikasi 
bahwa ia berhasil menarik sejumlah pengikut 
mereka. Untuk akses terhadap mujahidin yang 
berpengalaman maupun senjata dan dana, 
kontak dari network tersebut sangat diperlukan. 

□ Ia akan mencari kurir-kurir baru, khususnya 
untuk berhubungan dengan Filipina, dan untuk 
ini mungkin ia akan berpaling kepada Malik, 
kakak Akram. 

□ Peran para pemimpin JI dari Mantiqi II akan 
menjadi sangat penting dalam upaya menahan 
para anggota muda yang lebih militan agar 
tidak bergabung dengan Noordin. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 24 



□ Karena Noordin beroperasi berdasarkan 
prinsip melakukan operasi sendiri dengan 
menggunakan tim kecil sebagai respon atas 
situasi politik saat ini, ia mungkin juga 
mendorong kelompok-kelompok yang 
berpikiran sama untuk melakukan hal yang 
sama, yang mana mungkin akan membawa 
dampak, khususnya pada Poso. 

□ Pengawasan terhadap barang-barang yang 
masuk dan keluar dari penjara di Indonesia 
semakin dibutuhkan, agar Mukhlas, Imam 
Samudra dan yang lainnya tidak dapat 
memberikan bahan-bahan, dorongan ataupun 
legitimasi radikal kepada kelompok Noordin. 

Ada berbagai indikasi bahwa kemampuan kelompok 
Noordin masih tetap terbatas. Anif Solchanudin, yang 
sempat dipersiapkan untuk menjadi calon pelaku bom 
bunuh diri "keempat", dibatalkan untuk tugas ini karena 
ia dibutuhkan untuk melatih anggota-anggota baru. 
Kalau Noordin masih dapat mengandalkan para veteran 
JI dari Ambon, Poso dan Mindanao (yang jumlahnya 
bisa mencapai ratusan), mungkin ia tidak akan terlalu 
khawatir dengan satu orang instruktur yang tidak begitu 
berpengalaman. 

Tampaknya dalam kelompok inti Noordin tidak ada 
seorangpun yang memiliki pengetahuan agama yang sangat 
dalam yang biasanya membedakan JI dengan KOMPAK 
dan DI, dan tidak ada petunjuk adanya perhatian terhadap 
dakwah di dalam bahan-bahan tulisan yang mereka 
keluarkan. Hal ini mungkin tak hanya menjelaskan 
ketergantungan mereka terhadap tulisan-tulisan dan 
khotbah-khotbah Mukhlas, tetapi juga memperlihatkan 
kemampuan terbatas mereka untuk menarik para ustadz 
JI. 

Untuk pelatihan di Gunung Unggaran pada akhir bulan Juh 
2005, Subur (kurir Noordin) hanya dapat memperoleh 
delapan orang peserta, dan mereka harus membayar biaya 
training sendiri. Sangat menyolok perbedaannya dengan 
Abdullah Sunata dari KOMPAK yang berhasil 
mengumpulkan duapuluh orang peserta untuk pelatihan di 
Seram Barat pada tahun 2004, dan ia yang menanggung 
seluruh biaya training. Ketergantungan terhadap fa'i 
(perampokan bersenjata) memperlihatkan bahwa tidak 
banyak pasokan dana yang datang dari luar maupun dari 
infaq (sumbangan dari anggota) untuk menyokong kegiatan. 

Usaha untuk mensurvei sejumlah lokasi yang mungkin 
dapat dijadikan target aksi terorisme di Jawa Timur pada 
awal tahun 2005 memperlihatkan kebulatan tekad untuk 
tetap meluncurkan serangan-serangan meskipun mereka 
sedang bersembunyi dan menjadi target pengejaran 



terbesar yang pernah ada dalam sejarah Indonesia. 
Namun bahwa ia harus membatalkan seluruh rencana 
tersebut karena ia harus terus pindah, mengindikasikan 
bahwa ia tidak memiliki cukup kekuatan di Jawa Timur 
untuk terus melanjutkan rencana tanpa nya. 

Sekalipun demikian, yang sangat mengkhawatirkan 
adalah tampaknya mereka tidak pernah kehabisan 
anggota baru, dan tampaknya tidak terlalu sulit bagi 
orang-orang yang bertugas untuk merekrut anggota baru 
seperti Subur Sugiarto atau Jabir untuk membuka 
jaringan pribadi mereka dan mendapatkan orang-orang 
baru kenka dibutuhkan. Kami belum mendapatkan 
gambaran yang jelas mengenai argumen yang dipakai 
untuk perekrutan, kecuali menurut Abdul Aziz, si guru 
komputer, bahwa ia bergabung bukan karena ia setuju 
dengan aksi pengeboman, tetapi karena ia, sama seperti 
Noordin, juga membenci AS dan sekutunya. 

Memang benar bahwa meskipun hanya sedikit anggota 
KOMPAK - atau JI - yang memiliki ketrampilan 
merakit bom, telah bergabung dengan Noordin, hanya 
butuh satu atau dua orang untuk mengajar yang lain. 
Jabir, yang belajar merakit bom dengan Azhari tahun 
2004, saat ini sudah tewas, tetapi Reno alias Tedi (dari 
Semarang) yang saat ini masih buron muncul dalam 
video yang disponsori oleh Noordin, sedang mengajar 
cara-cara membuat bom. 

Sebuah catatan akhir: memperkuat jaringan di Malaysia, 
Filipina dan mungkin Thailand akan menjadi semakin 
penting bagi Noordin yang merupakan WN Malaysia, 
daripada bagi mereka yang WNI; bahwa ia telah 
mengutarakan tujuan lama Mantiqi I untuk operasi yang 
menjangkau seluruh kepulauan di Asia Tenggara bukan 
suatu hal yang mengejutkan. Jika akhirnya ia memiliki 
kesempatan untuk berpikir di luar hal tentang upaya 
menyelamatkan dirinya, hal ini mungkin berarti ia akan 
melakukan lebih banyak upaya-upaya untuk berkomunikasi 
dengan para anggota JI Malaysia yang berada di 
Filipina, menjangkau para anggota DI di Sabah, dan 
mengaktifkan hubungan lama di Thailand. Ambisi Noordin 
terlalu besar untuk fokus hanya di Indonesia saja, tetapi 
tampaknya Polri akan menangkap dia lebih dulu. 

Jakarta/Brussels, 5 Mei 2006 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 25 



APPENDIX A 



PETA INDONESIA 



Cocoa [Keeling) 

(AUSTRALIA) 



INDIAN 



OCEA 






Indonesia 



InfriiiianiJi-ir: 1 ju-.irdary 
•fc Nsticinaf capital 
— ■ — i- Railtofld 
Road 




B3&eS02S9BAI (C00429) 11-02 



Courtesy of The General Libraries, The University of Texas at Austin 



Terorisme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 26 



APPENDIX B 



PETA PULAU JAWA (PROPINSI JAWA TENGAH) 




Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 

Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 Page 27 

APPENDIX C 
INDEX NAMA 



Abdul Ghoni 

Lihat Umar Wayan 
Abdul Hadi 

Lihat Baharudin Soleh 

Abdul Malik 

Anggota Darul Islam (DI); pengusaha tembakau dari Wonosobo; terlibat dalam pengiriman rekrutan DI 
ke Filipina; kakak dari Akram; menikah dengan wanita Filipina. 

Abdul Rauf alias Sam 

Anggota faksi Darul Islam (DI) yang disebut Ring Banten, ditangkap setelah Bom Bali 2002 berkaitan dengan 
perampokan toko emas, dimana aktivitas tersebut terkait dengan pendanaan bom Bali. Menjalani masa hukuman 
16 tahun penjara di Bali. Juga merupakan cucu seorang anggota DI, alumni Ngruki. 

Abdul Rohim 

Putra Abu Bakar Ba'asyir; aktif dalam kegiatan memproduksi VCD tentang konflik-konflik; sering melakukan 
perjalanan ke Pakistan dan Afganistan pada tahun 2000-2001. 

Abdullah Sunata alias Nata alias Arman alias Andri 

Ketua kantor KOMPAK di Ambon 2000-2001, dijatuhi hukuman penjara selama 7 tahun pada April 2006 karena 
menolak memberikan keterangan sehubungan keberadaan Noordin dan kepemilikan senjata secara ilegal. Noordin 
pernah berusaha mengajaknya bergabung pada tahun 2004 tapi dia menolak. 

Abdullah Sungkar 

Pendiri Jemaah Islamiyah, dan juga pendiri pesantren al-Mukmin bersama Abu Bakar Ba'asyir di Ngruki, luar 
kota Solo, Jawa Tengah Lahir pada tahun 1937 dari keluarga pedagang batik yang terkenal keturunan Yaman; 
bergabung dengan Darul Islam tahun 1976, pernah dipenjara sebentar pada tahun 1977, kemudian dipenjara lagi 
bersama Abu Bakar Ba'asyir pada tahun 1978; melarikan diri ke Malaysia dengan Bakar Ba'asyir tahun 
1985, meninggal di Bogor tahun 1999. 

Abu Bakar Ba'asyir 

Menggantikan Abdullah Sungkar sebagai amir Jemaah Islamiyah, 1999; Ketua Majelis Mujahidin Indonesia, 2000. 
Lahir tahun 1938 di Jombang, Jawa Timur, menempuh pendidikan di pesantren Gontor, aktif di al-Irsyad; pendiri 
Pesantren al-Mukmin bersama Sungkar, yang kemudian lebih dikenal sebagai Pondok Ngruki. Masuk Darul Islam 
tahun 1976, ditahan tahun 1978, dibebaskan tahun 1982, melarikan diri ke Malaysia tahun 1985, kembali ke 
Indonesia tahun 1999. Ditahan lagi Oktober 2002, dijatuhi hukuman 4 tahun penjara atas tuduhan makar dan 
pelanggaran imigrasi pada bulan September 2003; Tuduhan makar ditolak oleh hakim, hukuman dikurangi satu tahun 
enam bulan oleh Mahkamah Agung pada bulan Maret 2004; menjelang pembebasan, ditahan lagi selama 30 bulan 
dengan tuduhan keterlibatan dalam tindak terorisme, dan baru dibebaskan pada bulan Juni 2006. 

Abu Dujanah 

Nama ash Ainul Bahri; asal Cianjur, Indonesia; pernah menjabat sekretaris Mantiqi II, juga menjadi sekertaris 
markaziah JI; pernah mengajar di Luqmanul Hakiem; membantu mehndungi Azhari dan Noordin Mohammed 
Top setelah bom Marriott, Agustus 2003; veteran Afghan. 



Abu Fida 



Dosen di Mahad Aly, yang juga dikenal sebagai Universitas an-Nur, Solo; anggota wakalah Jemaah 
Islamiyah Jawa Timur; mentor beberapa pemuda Jawa Tengah pengikut Noordin. Ditahan Agustus 2004 
dengan tuduhan menampung para teroris, namun kemudian dibebaskan. Nama aslinya Syaifuddin Umar. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 

Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 Page 28 

Aceng Kurnia 

Asli Garut; kepala pengawal pribadi Kartosoewirjo, ditangkap Juni 1962; memimpin upaya menghidupkan 
kembali Darul Islam pada tahun 1969. Ditempatkan sebagai Komandan I DI divisi Jawa Barat, 1975. Dia juga 
dikenal sebagai pembimbing Akram. 

Achmad Hasan alias Agung Cahyono alias Purnomo 

Lahir tahun 1971, tinggal di Blitar, Jawa Timur; sarjana ekonomi; dibaiat sebagai anggota Jemaah Islamiyah oleh 
Fahim tahun 1996; ditahan tahun 2004, dijatuhi hukuman mad tahun 2005 atas keterlibatannya dalam pemboman 
kedubes Australia. 



Adung 



Nama asli: Sunarto bin Kartodihardjo; anggota Markaziah Jemaah Islamiyah, dia juga dikenal sebagai sopir 
almarhum Sungkar di Malaysia, kemudian menggantikan Mukhlas sebagai ketua Mantiqi I. Lulusan Ngruki, 
ditahan tahun 1979-1981 berkaitan dengan Komando Jihad. Ditangkap kembali di Solo tahun 2004 karena 
menyembunyikan informasi seputar Noordin, dijatuhi hukuman 7 tahun penjara. 

Agus Ahmad 

Orang yang pertama ditangkap berkaitan dengan bom kedubes Australia September 2004. Lahir tahun 1973, di 
Cianjur, Jawa Barat. Direkrut oleh Iwan alias Rois. Dijatuhi hukuman 4 tahun penjara, Juli 2005. 

Ahmad Rofiq Ridho alias Ali Zein alias Allen alias Abu Husna alias Fuad Baraja 

Kurir Noordin, 2004. Alumni Ngruki, saudara Fathurrahman al-Ghozi, sepupu Jabir; veteran Ambon; Anggota 
Jemaah Islamiyah . Ditangkap Juli 2005, dijatuhi hukuman 7 tahun penjara, April 2006. 

Ahmad Sayid Maulana 

Anggota AMIN. Pemimpin Darul Islam di Maluku. Ditangkap di Sabah, Malaysia September 2003; ditahan 
dibawah Internal Security Act. 

Ajengan Masduki 

Pemimpin Darul Islam yang perselisihannya dengan Abdullah Sungkar membuat Sungkar membentuk kelompok 
baru Jemaah Islamiyah pada tahun 1993. Meninggal di Cianjur, Jawa Barat November 2003. 

Akram alias Shamsuddin alias Muhammad Taufiqurrahman 

Pemimpin Darul Islam yang pernah didekati Noordin pada tahun 2004. Lahir di Temanggung, Jawa Tengah; 
veteran Afghan; tinggal di Sabah sebelum ke Mindanao pada tahun 1987 untuk membentuk pusat pelatihan 
anggota DI di Mindanao. Setia pada pemimpin DI Aceng Kurnia. Adik dari Abdul Malik. Ditangkap Juni 2005 
atas keterlibatan dalam pemboman mesjid di Yogyakarta tahun 2000; dijatuhi hukuman 3 tahun, Januari 2006. 

Ali Ghufron (kadangkala ditulis Aly Ghufron) alias Mukhlas 

Direktur pertama pesantren Luqmanul Hakiem, Malaysia; Pemimpin Jemaah Islamiyah; veteran Afghan; Bah 
bomber; penulis bacaan me ngenai jihad yang kreatif; saudara dari Ah Imron dan Amrozi; dijatuhi hukuman mad 
tahun 2003, saat ini ditahan di penjara Nusakambangan, Jawa Tengah. 

Ali Zein 

Lihat Ahmad Rofiq Ridho 

Anif Solchanudin 

Direkrut sebagai pelaku bom bunuh diri yang keempat untuk Bomb Bali II (bersama dengan Salik Firdaus, Misro, 
dan Aip Hidayat). Veteran Ambon. Ditangkap November 2005, dengan tuduhan menampung Noordin. 

Apuy 

Nama lain dari Syaiful Bahri; anggota Ring Banten dari Cigarung, Sukabumi, terlibat dalam bom Kedubes 
Australia tahun 2004. Pada awalnya terpilih sebagai calon pelaku bom bunuh diri. Ditangkap November 2004 di 
Bogor, dijatuhi hukuman 10 tahun penjara, September 2005. 

Arham 

Lihat Enceng Kurnia 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 

Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 Page 29 

Aris Munandar 

Ketua KOMPAK-Solo yang menyediakan dana untuk membiayai aktivitas jihad di Ambon dan Poso. Pada bulan 
October 1999, mengorganisir dan membiayai sebuah kursus pelatihan militer di dekat Waimurat, Bum. 

Asep Jaja alias Dahlan 

Pejuang KOMPAK, teman seangkatan Abdullah Sunata saat mengikuti pelatihan di Waimurat, Bum 1999, dan di 
Seram Barat pada Juli 2004; Terlibat kasus penyerangan Pos Brimob di Loki, Maluku, Mei 2005; menikahi 
seorang wanita dari pesantren al-Islam di Lamongan. Dijatuhi hukuman seumur hidup. 

Asmar Latin Sani 

Pelaku bom bunuh diri dalam peristiwa bom Marriott tahun 2003, Jakarta; Lulusan Ngmki 1995. 

Azhari Husin alias Zubair alias Zuber 

Warganegara Malaysia; anggota Jemaah Islamiyah; ahli perakit bom. Tewas dalam penggerebekan pohsi di Batu, 
Malang, Jawa Timur, November 2005. Terlibat dalam bom malam natal 2000, pemboman di Batam, Bah I dan II, 
Marriott, and bom Kedubes Australia. Mahasiswa jurusan teknik mesin, Adelaide University, Austraha; 1979- 
1984, menempuh studi di University of Technology, Malaysia (UTM); PhD, Reading University, UK, 1990 dalam 
bidang property valuation; professor di UTM, 1991. Tinggal di Jakarta 1996; anggota board JI pesantren 
Lukmanul Hakiem, Johor; instruktur di Mindanao, 1999; pelatihan bahan peledak, Afghanistan, 2000. 

Bagus Budi Pranoto 

Lihat Urwah 

Baharudin Soleh alias Abdul Hadi 

Teman dekat Noordin yang tewas dalam penggerebekan tanggal 29 April 2006 di Wonosobo, Jawa Tengah. 
Dipilih oleh Noordin untuk "mematangkan" para pemuda yang terpilih sebagai calon pelaku bom bunuh diri 
dalam pemboman Kedubes Austraha (Apuy alias Epul, Didi alias Rijal, dan Heri Golun), dengan memberi mereka 
tambahan instruksi agama. Bermain perananan sempa untuk Bom Bali II. Menikahi anak perempuan Amrozi. 

Basyir 

Lihat Qotadah 
Bukhori 

Lihat Imam Bukhori 

Chandra alias Farouk 

Menampung Noordin selama 12 hari sebelum pemboman kedubes, masih buron. Menempuh studi di Bangil, 
Rekan bisnis dengan Son Hadi. Asal dari Pasuman, Jawa Timur, mungkin pemah direkmt sebagai calon pelaku bom 
bunuh diri. Tidak jelas apakah dari Jemaah Islamiyah atau Darul Islam. 

Cholily 

Kurir Noordin, yang penangkapannya di Semarang pada tanggal 9 November 2005 berlanjut pada pengintaian 
polisi terhadap tempat persembunyian Azhari di Batu, Malang, pada hari yang sama. 

Dani Chandra alias Yusuf 

Anggota KOMPAK, ditangkap pada bulan Juni 2005 di Wonogiri karena menyimpan bahan peledak yang dibuat 
oleh Reza alias Iqbal Husaini; mendapat pelatihan di Waimurat, Bum 1999; dua kali veteran Ambon, juga pergi 
ke maluku Utara dan Morotai selama konflik. Lulusan D-3 dari Institut Pertanian Bogor. 

Deni 

Lihat Suramto 

Dulmatin 

Nama ash Joko Pitono. Lahir di Pemalang, Jawa Tengah; Veteran Afghan; anggota Jemaah Islamiyah, mengajar 
di pesantren Luqmanul Hakiem, Johor, Malaysia; salah satu dari "the most-wanted" pelaku bom Bah; berada di 
Filipina sejak 2003, sudah beberapa kali dijadikan target airstrikes dari Angkatan Bersenjata Filipina, termasuk 
November 2004 dan Januari 2005. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 

Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 Page 30 

Engkos Kosasih alias Kamal 

Mantan pejuang Darul Islam, komandan wilayah Banten di awal tahun 1960an. Tiga anaknya terlibat dalam 
Ring Banten, termasuk Agus Ahmad. 

Enceng Kurnia alias Arham alias Arnold 

Asal Bandung; anggota Darul Islam, Perantara Akram dengan Abdullah Sunata. Mendapat pelatihan di Mindanao 

1999, pergi ke Ambon di awal 2000. Terlibat dalam pelatihan militer KOMPAK di Seram Barat, Juli 2004. 

Fahim 

Lihat Usman bin Sef 
Faiz 

Lihat Mohamed Saifuddin 

Fathurrahman al-Ghozi 

Anggota Jemaah Islamiyah (JI); Lahir di Madiun, putra dari anggota Darul Islam,Zainuri; saudara Ah Zein, sepupu 
Jabir; Lulusan Pondok Ngruki; veteran Afghan, kelas 1990; instruktur di Kamp JI Hudaibiyah, Mindanao dari 
tahun 1995; terlibat dalam beberapa JI bombings termasuk serangan terhadap Duta Besar Filipina di Jakarta tahun 

2000, Rizal Day bombing di Manila 30 Desember 2000; ditangkap bulan Januari 2002 di Manila; melarikan diri 
pada bulan Juh 2003 dari Kamp Crame, Manila. Tertembak dan tewas pada Oktober 2003. 

Fathurrochman alias Rochman 

Anggota Ring Banten, ditahan bersama Pujata dalam kasus yang sama. Namun tidak seperti Pujata, dia bersedia 
membantu Iwan mendapatkan rumah di daerah Anyer, Banten untuk para buron (Noordin and Azhari). 

Gembrot 

Lihat Mohamed Ihsan 
Gempur Budi Angkoro 

Lihat Jabir 

Hambali 

Mantan ketua Mantiqi I Jemaah Islamiyah; mantan anggota GPI dari Cianjur; ditangkap di Thailand, Agustus 
2003, diduga terlibat dalam setiap pengeboman besar oleh JI. Saat ini ditawan di sebuah tempat yang 
dirahasiakan di AS sejak 2003. 

Hari Kuncoro 

Saudara ipar Dulmatin; anggota KOMPAK dan JI; veteran Ambon; saat ini ditengarai tengah berada di Filipina. 

Harun alias Syaiful alias Fathurrobi 

instruktur group Cimanggis, Maret 2004; bekerja dengan Ring Banten, membantu merekrut para pemuda yang 
kemudian ambil bagian dalam pemboman September 2004. Lahir di Cilacap, Jawa Tengah. Ambil bagian 
dalam pelatihan di Seram Barat July 2004; membantu menyembunyikan para pelaku kejahatan serangan 
terhadap pohsi di Seram Barat, Mei 2005. Berpengalaman sebagai mujahid Ambon dan Poso as mujahid. Dijatuhi 
hukuman sampai 9 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Maluku, Februari 2006. 

Hence Malewa 

Lahir di Poso 1979; anggota Mujahidin Kayamanya, Poso; ambil bagian dalam pelatihan di Seram Barat, July 
2004; ditangkap di Yogyakarta atas dugaan keterlibatan dalam pembunuhan jaksa Palu Fery Silalahi; dijatuhi 
hukuman 20 bulan atas kepemilikan senjata api, April 2006. 

Heri Golun 

Pelaku bom bunuh diri pemboman Kedubes Australia, September 2004; anggota Ring Banten. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 

Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 Page 31 

Heri Sigu Samboja alias Ilyasa alias Nery Anshori alias Mohamad al Ansori alias Mohammad Nuruddin alias 
Akhi Shogir alias Jamaluddin alias Azmi alias Ma'ruf alias Abduf Fatah 

Lahir di Solo 1982; pernah belajar membuat bom dengan Azhari, membantu merangkai bom Kedubes, dijatuhi 
hukuman 7 tahun, September 2005. Ayahnya adalah seorang veteran Afghan. 

Idris 

Lihat Mohamed Ihsan 

Imam Bukhori 

Anggota Front Pembela Islam, FPI di Pekalongan; teman Said Sungkar. Jabir, Noordin dan Azhari pada tahun 
2004. Ditangkap November 2005. 

Imam Samudra 

Pelaku bom Bali, anggota Jemaah Islamiyah dan Ring Banten. Dijatuhi hukuman mati 2003. 

Iqbal alias Arnasan alias Lacong 

Pelaku bom bunuh diri Bali bombings 2002, anggota Ring Banten, bukan Jemaah Islamiyah, dia meninggalkan 
pesan berharap bahwa kematiannya akan memberi inspirasi kepada yang lain untuk mengembalikan kebesaran 
Negara Islam Indonesia sebagaimana telah didhikan oleh Kartosoewhjo. 

Iqbal Huseini alias Ramly alias Rambo 

Anggota KOMPAK, setia kepada Abdullah Sunata, terlibat dalam perolehan kawat-kawat peledak yang digunakan 
dalam pemboman Kedubes. Dijatuhi hukuman empat tahun penjara, April 2006. 

Irun Hidayat 

Anggota Ring Banten; teman Imam Samudra selama di sekolah menengah, teman Iwan alias Rois, pernah ke 
Ambon sebentar; instruktur bela diri di pelatihan militer yang dijalankan oleh Kang Jaja dan Rois, mengajar seni 
beladiri. Sejak 1999 pimpinan lokal Perserikatan Pekerja Mushm Indonesia,PPIM. Dijatuhi hukuman selama 3 
tahun, Juli 2005. 

Ismail (Muhamad Ikhwan) 

Alumni Luqmanul Hakiem, bekerja dengan Noordin dan Azhari di Marriott bombing 2003. Dijatuhi hukuman 
dua belas tahun, October 2004. 

Iwan Dharmawan alias Rois 

Anggota Ring Banten, komandan lapangan pemboman Kedubes September 2004; keponakan Kang jaja dari 
perkawinan; lulusan sekolah menegah negeri, Sukabumi. Mendapat pelatihan di Kamp mihk Darul Islam di 
Mindanao 1999-2000. Veteran Ambon dan Poso. Mendirikan kamp pelatihan militer atas permintaan Noordin di 
Gunung Peti, Cisolok, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, terutama dirancang untuk memilih para pelaku bom bunuh 
diri. Ditangkap November 2004 di Bogor. Dijatuhi hukuman mati, Juli 2005. 

Jabir (nama asli: Gempur Budi Angkoro) 

Tewas dalam penggerebekan polisi 29 April 2006 di Wonosobo, Jawa Tengah. Anggota JI dari Madiun, 
sepupu Fathur Rahman al-Ghozi, menempuh pendidikan di Ngruki 1993-1996, lulusan dan mengajar di 
pesantren Darusysyahada. Dia terlibat sejak awal dalam membantu Noordin lolos penangkapan. Mungkin 
juga bertanggungjawab atas perekrutan Salik Firdaus, pelaku bom bunuh diri di Bom Bali II. 

Jhoni Hendrawan 

Lihat Mohamed Ihsan 

Joko Triharmanto alias Harun (Joko Harun) 

Membantu menyembunyikan Noordin pada awal 2005. Veteran Ambon dan Poso. Mungkin anggota KOMPAK. 
Dijatuhi hukuman enam tahun penjara, Januari 2006. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 

Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 Page 32 

Joni Achmad Fauzan 

Asal Mojokerto, membantu menyembunyikan Noordin pada awal 2005 di sebuah panti asuhan Muhammadiyah di 
Mojokerto; teman sekelas Ali Zein di Ngruki; melakukan survey bakal target di Jawa Timur dengan Ali Zein dan 
Joko Harun atas instruksi Noordin di awal 2005. Dijatuhi hukuman enam tahun penjara, April 2006. 

Lutfi Haidaroh 

Lihat Ubeid 

Marwan (nama asli: Zulkifli bin Hir) 

Saudara ipar Dani alias Taufik (ditangkap berkaitan dengan pemboman Atrium Mall 2001 di Jakarta). KM 
berada di Mindanao bersama dengan Dulmatin dan Umar Patek. Warganegara Malaysia, disebut-sebut sebagai 
salah satu pendiri KMM. 

Misno 

Pelaku bom bunuh diri di Cafe Manega, Jimbaran, Bali 1 Oktober 2005. Putra penggarap ladang di Cilacap, 
menempuh pendidikan di SD. Usia 23 tahun ketika tewas. 

Mohammad al Ansori 

Lihat Heri Sigu Samboja 

Mohamed Ihsan alias Jhoni Indrawan alias Gembrot alias Idris 

Anggota Jemaah Islamiyah dari Riau; Anggota Ngruki, terlibat dalam pemboman malam natal 2000 di 
Pekanbaru, peran kecil di Bali 2002, Bomb Marriott. Dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara, Juli 2004. 

Mohamed Rais 

Saudara ipar Noordin, lulusan Luqmanul Hakiem; Warganegara Indonesia, namun tinggal di Malaysia. Masuk 
Jemaah Islamiyah tahun 1995; Lulusan Ngruki; Instruktur di Luqmanul Hakiem; anggota Mantiqi I JI wakalah Johor. 
Pindah ke Bukittinggi, Sumatra Barat, awal tahun 2002 dengan Noordin. Membantu di tahap-tahap awal 
Marriott bombing; ditangkap akhir April 2003, dijatuhi hukuman tujuh tahun, Mei 2004. 

Mohamed Saifuddin alias Faiz 

Anggota KOMPAK, veteran Ambon, ambil bagian dalam pelauhan di Waimurat, Bum pada tahun 1999, Juli 2004, 
pelauhan di Seram Barat, membantu mewujudkan pertemuan Sunata-Noordin. Pergi menuju Filipina, akhir 2004, 
ditangkap setibanya di Zamboanga, Desember 2004. Saat ini ditahan di Filipina. 

Mukhlas 

Lihat Ali Ghufron 
Muchtar alias Ilyas 

Veteran Afghan, seorang pimpinan Jemaah Islamiyah. Instruktur di pelauhan militer 1999 Waimurat, Bum 1999. 
Mukhlas 

Lihat Ali Ghufron 
Muhamad Ikhwan 

Lihat Ismail 

Munfiatun 

Istri kedua (2004) Noordin, teman dan mantan teman sekamar istri Achmad Hasan ketika menjadi mahasiswi di 
Universitas Brawijaya Malang. Dijatuhi hukuman 3 tahun pada 2005, ditahan di Malang. 

Mus'ab Sahidi 

Teman Ali Zein yang membantu dia menemukan tempat bersembunyi untuk Noordin. 

Muzayin Abdul Wahab (juga dieja Muzain, Mujayin) 

Kakak kandung Aris Munandar, ustadz dan imam sebuah mesjid di Cipayung, Jakarta Timur, Pembimbing 
agama Abdullah Sunata. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 

Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 Page 33 

Nasir Abas 

Mantan ketua Mantiqi III Jemaah Islamiyah 

Noordin Mohammed Top 

Anggota Jemaah Islamiyah Malaysia, mantan direktur pesantren Luqmanul Hakiem Johor; Lulusan Universiti 
Teknologi Malaysia. Kepala strategi pemboman Marriott bombing 2003, Pemboman Kedubes 2004 dan Bom Bali 
October 2005. Tidak punya pengalaman di Afganistan tapi pernah mendapat pelatihan di Mindanao, pernah pergi 
ke Ambon. 

Purnama Putra alias Usman alias Usamah alias Ipung alias Uus alias Tikus 

Lahir di Sukorharjo 1981; perantara Abdullah Sunata dengan Jemaah Islamiyah, bertemu Noordin dua belas kali, 
membantu merancang pertemuan Noordin-Sunata. Anggota KOMPAK; pergi ke Ambon pada tahun 2000; 
membantu memproduksi majalah KOMPAK al-Bayan dan beberapa VCD KOMPAK. Dijatuhi hukuman tujuh 
tahun, April 2006. 

Qotadah alias Basyir 

Anggota senior Mantiqi II terlibat dalam pelatihan penyegaran pasca Bali, dia bersama Abu Dujanah bertemu 
Noordin sebelum dan sesudah pemboman Marriott. 

Rois 

Lihat Iwan Dharmawan alias Rois 
Rosihin Noor 

Salah satu dari anggota Ring Banten, instruktur menembak di pelatihan militer Kang Jaja. 

Said Sungkar 

Kerabat pendiri Jemaah Islamiyah, Abdullah Sungkar, tapi tidak pernah menjadi anggota JI, tinggal di 
Pekalongan. 

Salik Firdaus 

Pelaku bom bunuh diri di Cafe Nyoman, Jimbaran, Bali 1 Oktober 2005. Lahir tahun 1981, Cikijing, Majalengka, 
Jawa Barat. Sempat tinggal di Darusyahadah, mengajar di pesantren al-Mutaqien Chebon. 

Salman alias Apud 

Peserta pelatihan KOMPAK, ditangkap di Malaysia, September 2003 sekembalinya dari pelatihan di Mindanao. 

Saptono 

Paman dari istri Iwan Dharmawan, instruktur di kamp pelatihan militer yang dibentuk Rois di Gunung Peti, 
Cisolok, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. 

Sardona Siliwangi alias Dona bin Azwar 

Anggota Jemaah Islamiyah dari Bengkulu, lulusan Ngruki; rumah di Bengkulu sempat digunakan untuk 
menyimpan bahan-bahan peledak yang digunakan dalam pemboman Marriott. Membuka rekening bank pada 
bulan Maret 2003 untuk memudahkan transaksi keuangan untuk Noordin. Ditangkap pada bulan Mei 2003, 
dijatuhi hukuman sepuluh tahun, Februari 2004, dalam banding berkurang menjadi delapan. 



Son Hadi 



Lahir tahun 1971, Pasuruan, Jawa Timur; Lulusan Ngruki, bekerjasama dengan Fahim di Yayasan Darussalam 
- dan kemudian diperkirakan menjadi anggota wakalah Jemaah Islamiyah - sejak 1997. Dijatuhi hukuman 
empat tahun, Mei 2005. 



Subur Sugiarto 



Ditangkap pada bulan Januari 2006, dicurigai telah membuat video testamen terakhir para pelaku bom bunuh 
diri Bali II. Menjadi kurir Noordin dan koordinator Semarang pada tahun 2005, setelah penangkapan Ali 
Zein. Merampok toko telepon selular di Pekalongan pada bulan September 2005 dan mencuri empat belas buah 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 

Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 Page 34 

telepon untuk dipakai kelompoknya. Setelah pemboman, memimpin sebuah kursus pelatihan militer singkat di 
lereng Gunung Ungaran, selatan Semarang. Dilaporkan sebagai Jemaah Islamiyah sejak 1999. 

Sunata 

Lihat Abdullah Sunata 

Suramto alias Mohammad Faiz alias Deni alias Ahmad 

Lahir di Sukoharjo 1979. Kurir Abu Dujanah, Lulusan Ngruki, Pesantren al-Husein, Indramayu (juga merupakan 
lembaga pendidikan JI); dan Universitas an-Nur. Bekerja sebagai pengkotbah di Yayasan Darussalam di Surabaya 
1997-2000. 

Syaifuddin Umar 

Lihat Abu Fida 
Taufikurrahman 

Lihat Akram 

Tohir (Nama asli: Masrizal bin Ali Umar) 

Menempuh pendidikan di Ngruki 1990-1994, segera setelah lulus masuk ke Jemaah Islamiyah, mengajar di 
Luqmanul Hakiem tahun 1998, dikirim untuk mengikuti pelatihan militer di Mindanao, kembali ke Luqmanul 
Hakiem tahun 2000. Dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara, September 2004 atas keterlibatannya di Marriott 
bombing. 

Toni Togar alias Indrawarman 

Anggota Jemaah Islamiyah berbasis di Medan, Sumatra Utara, terlibat dalam bom malam natal 2000. 
Kegelisahannya menyimpan sisa bahan-bahan peledak dari operasi diatas membawa Noordin merencanakan 
pemboman Marriott. Lulusan Ngruki, 1987-1990. Dijatuhi hukuman dua belas tahun, Mei 2004. 

Ubeid (nama asli: Lutfi Hudaeroh) 

Kurir Noordin; ditangkap bulan Juli 2004; Lulusan Ngruki, Darusyahadah, dan An-Nur. Lahir tahun 1979, 
Ngawi, Jawa Timur. Anggota Jemaah Islamiyah, veteran Mindanao. Fasih berbahasa Arab. Dijatuhi hukuman 
tiga setengah tahun, Mei 2005. 

Umar alias Heri 

Adik kandung Ubeid. Membantu pelatihan militer para tersangka pemboman Kedubes. Anggota Jemaah Islamiyah, 
ditangkap Januari 2006. 

Umar Patek 

Bali bomber, anggota Jemaah Islamiyah, bekerja dengan Dulmatin di Mindanao; menikahi seorang Filipina 
yg masuk gerakan Balik Islam. 

Umar Wayan alias Abdul Ghoni 

Jemaah Islamiyah, veteran Afghan, instruktur kursus pelatihan militer di dekat Waimurat, Bum, Maluku 1999; 
terlibat di Bom Bah I , dijatuhi hukuman seumur hidup, 2004. 

Urwah (nama asli: Bagus Budi Pranoto) 

Membantu Iwan alias Rois beraksi dalam operasi pemboman Kedubes yang dipimpin Noordin 2004. Menempuh 
pendidikan di pesantren al-Mutaqien, Jepara, Mahad Aly (Universitas an-Nur, Solo). Dijatuhi hukuman tiga 
setengah tahun, Mei 2005. 

Usman (tikus) 

Lihat Purnama Putra 

Usman bin Sef alias Fahim 

Ketua Jemaah Islamiyah wakalah Jawa Timur, membantu melindungi Noordin setelah peristiwa Marriott, 
mencarikan Noordin tambahan bahan-bahan peledak. 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 

Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 Page 35 

Zulkarnaen (nama asli: Aris Sumarsono) 

Kepala operasi militer Jemaah Islamiyah, anggota komando pusat; dalam persembunyian sejak bom Bali 2002. 
Veteran Afghan, bertugas sebagai instruktur di kursus pelatihan militer dekat Waimurat, Bum. Pelajar Ngruki 
1975-1980, berasal dari Sragen, Jawa Tengah. 

Zulkifli bin Hir 

Lihat Marwan 



Terorisme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 36 



APPENDIX D 



TENTANG INTERNATIONAL CRISIS GROUP 



The International Crisis Group (Crisis Group) adalah 
suatu organisasi non-pemerintah multinasional dengan 
lebih dari 110 pegawai tersebar di lima benua, yang 
bekerja melalui analisis lapangan dan advokasi bagi 
pencegahan dan resolusi konflik. 

Pendekatan Crisis Group didasarkan pada peneMan di 
lapangan. Kelompok-kelompok analis politik, berdasarkan 
keadaan di negara-negara yang menghadapi resiko krisis, 
mengumpulkan informasi dari berbagai siunber, menilai 
kondisi setempat dan menghasilkan laporan-laporan analitis 
reguler yang berisi rekomendasi-rekomendasi praktis yang 
ditnjukan kepada para pengambil kebijakan internasional. 
Crisis Group juga menerbitkan CrisisWatch, sebuah buletin 
bulanan setebal dua belas halaman, yang menghadirkan 
informasi terkini yang singkat dan tajam mengenai keadaan di 
berbagai wilayah konflik atau rawan konflik di seluruh dunia. 

Laporan-laporan Crisis Group disebarluaskan baik melalui 
email atau versi cetak kepada para pejabat di kementrian luar 
negeri dan organisasi-organisasi internasional serta tersedia 
pula untuk umum melalui sims internet organisasi ini di 
www.crisisgroup.org . Organisasi ini bekerja secara erat 
dengan pemerintah dan pers untuk menyoroti masalah- 
masalah penung yang diidentiflkasi di lapangan dan 
menghasilkan dukungan bagi ketenUian-ketenUian 
kebijakannya. Dewan Crisis Group - yang mencakup tokoh- 
tokoh penung dalam bidang politik, diplomasi, usaha dan 
media - juga terlibat dalam membanUi agar laporan-laporan 
serta rekomendasi-rekomendasi Crisis Group mendapatkan 
perhatian dari para pembuat kebijakan senior di seluruh dunia. 
Dewan Crisis Group diketnai oleh Christopher Patten, mantan 
Komisioner Eropa unUvk Urusan Luar Negeri dan Thomas R. 
Pickering, mantan duta besar AS dan deputi senior hubungan 
internasional pernsahaan Boeing. Sedangkan Presiden dan 
Pemimpin Eksekutif semenjak bulan Januari 2000 dijabat oleh 
mantan Menteri Luar Negeri Australia, Gareth Evans. 

Markas besar International Crisis Group berada di Brussels, 
dengan kantor-kantor advokasinya di Washinton D.C, New 
York, London, dan Moskow. Pada saat ini, organisasi ini 
mengoperasikan proyek-proyek lapangan di tiga belas negara 
dan wilayah di seluruh dunia (di Amman, Belgrade, Bishkek, 
Bogota, Kairo, Dakar, Dushanbe, Islamabad, Jakarta, Kabul, 
Nairobi, Pretoria, Pristina, Seoul dan Tbilisi), didukung oleh 
para analis yang bekerja di lebih dari 50 negara dan wilayah 
yang tengah mengalami konflik di empat benua.. Di Afrika, 
hal ini meliputi Angola, Burundi, Pantai Gading, Republik 
Demokratis Kongo, Eritrea, Ethiopia, Guinea, Liberia, 



Rwanda, wilayah Sahel, Sierra Leone, Somalia, Sudan, 
Uganda dan Zimbabwe; di Asia, Afghanistan, Indonesia, 
Kashmir, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Myanmar/Burma, Nepal, 
Korea Utara, Pakistan, Tajikistan, Turkmenistan dan 
Uzbekistan; di Eropa, Albania, Armenia, Azerbaijan, Bosnia 
dan Herzegovina, Georgia, Kosovo, Macedonia, Moldova, 
Montenegro dan Serbia; di Timur Tengah, keseluruhan 
wilayah mulai Afrika Utara sampai Iran; dan di Amerika 
Latin, Colombia, wilayah Andean dan Haiti. 

Crisis Group mendapatkan dukungan dana dari pemerintah, 
yayasan-yayasan amal, perusahaan-perusahaan, dan donor 
perorangan. Lembaga-lembaga pemerintah berikut adalah 
penyandang dana pada saat ini yaiUi: Austtalian Agency for 
International Development, Austrian Federal Ministry of 
Foreign Affairs, Belgian Ministry of Foreign Affairs, 
Canadian Department of Foreign Affairs and International 
Trade, Canadian International Development Agency, 
Canadian International Development Research Centte, 
Czech Ministry of Foreign Affairs, Dutch Ministry of 
Foreign Affairs, European Union (Komisi Eropa) Finnish 
Ministry of Foreign Affairs, French Ministry of Foreign 
Affairs, German Foreign Office, Irish Department of Foreign 
Affairs, Japanese International Cooperation Agency, 
Principality of Liechtenstein Ministry of Foreign Affairs, 
Luxembourg Ministry of Foreign Affairs, New Zealand 
Agency for International Development, Republic of China 
(Taiwan) Ministry of Foreign Affairs, Royal Danish Ministry 
of Foreign Affairs, Royal Norwegian Ministry of Foreign 
Affairs, Swedish Ministry for Foreign Affairs, Swiss Federal 
Department of Foreign Affairs, United Kingdom Foreign and 
Commonwealth Office, United Kingdom Department for 
International Development, U.S. Agency for International 
Development. 

Sedangkan donor dari yayasan dan sektor swasta termasuk 
Carnegie Corporation of New York, Compton Foundation, 
Flora Family Foundation, Ford Foundation, Fundacion 
DARA Internacional, Bill & Melinda Gates Foundation, 
William & Flora Hewlett Foundation, Hunt Alternatives 
Fund, Korea Foundation, John D. & Catherine T. MacArthur 
Foundation, Moriah Fund, Charles Stewart Mott Foundation, 
Open Society Institute, Pierre and Pamela Omidyar Fund, 
David and Lucile Packard Foundation, Ploughshares Fund, 
Sigrid Rausing Trust, RockefeUer Foundation, RockefeUer 
Philanthropy Advisors, Sarlo Foundation of the Jewish 
Community Endowment Fund and Viva Trust. 

Mei 2006 



Informasi lebih jauh mengenai Crisis Group bisa diperoleh melalui website kami di www.crisisgroup.org 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 37 



APPENDIX E 



LAPORAN CRISIS GROUP DAN BRIEFINGS ON ASIA SE JAK 2003 



CENTRAL ASIA 

Cracks in the Marble: Turkmenistan's Failing Dictatorship, 

Asia Report N°44, 17 January 2003 (also available in Russian) 

Uzbekistan's Reform Program: Illusion or Reality?, Asia 
Report N°46, 18 February 2003 (also available in Russian) 

Tajikistan: A Roadmap for Development, Asia Report N°51, 
24 April 2003 

Central Asia: Last Chance for Change, Asia Briefing N°25, 29 
April 2003 (also available in Russian) 

Radical Islam in Central Asia: Responding to Hizb ut-Tahrir, 

Asia Report N°58, 30 June 2003 

Central Asia: Islam and the State, Asia Report N°59, 10 July 2003 

Youth in Central Asia: Losing the New Generation, Asia 
Report N°66, 31 October 2003 

Is Radical Islam Inevitable in Central Asia? Priorities for 
Engagement, Asia Report N°72, 22 December 2003 

The Failure of Reform in Uzbekistan: Ways Forward for the 
International Community, Asia Report N°76, 11 March 2004 
(also available in Russian) 

Tajikistan's Politics: Confrontation or Consolidation?, Asia 
Briefing N°33, 19 May 2004 

Political Transition in Kyrgyzstan: Problems and Prospects, 

Asia Report N°81, 11 August 2004 

Repression and Regression in Turkmenistan: A New 
International Strategy, Asia Report N°85, 4 November 2004 
(also available in Russian) 

The Curse of Cotton: Central Asia's Destructive Monoculture, 

Asia Report N°93, 28 February 2005 (also available in Russian) 

Kyrgyzstan: After the Revolution, Asia Report N°97, 4 May 
2005 (also available in Russian) 

Uzbekistan: The Andijon Uprising, Asia Briefing N°38, 25 
May 2005 (also available in Russian) 

Kyrgyzstan: A Faltering State, Asia Report N°109, 16 December 2005 

Uzbekistan: In for the Long Haul, Asia Briefing N°45, 16 
February 2006 

Central Asia: What Role for the European Union?, Asia 
Report N°113, 10 April 2006 

NORTH EAST ASIA 

Taiwan Strait I: What's Left of "One China"?, Asia Report 
N°53, 6 June 2003 

Taiwan Strait II: The Risk of War, Asia Report N°54, 6 June 2003 

Taiwan Strait HI: The Chance of Peace, Asia Report N°55, 6 
June 2003 

North Korea: A Phased Negotiation Strategy, Asia Report N°61, 
1 August 2003 

Taiwan Strait IV: How an Ultimate Political Settlement Might 
Look, Asia Report N°75, 26 February 2004 

North Korea: Where Next for the Nuclear Talks?, Asia Report 
N°87, 15 November 2004 (also available in Korean and in 
Russian) 



Korea Backgrounder: How the South Views its Brother from 
Another Planet, Asia Report N°89, 14 December 2004 (also 
available in Korean and in Russian) 

North Korea: Can the Iron Fist Accept the Invisible Hand?, 

Asia Report N°96, 25 April 2005 (also available in Korean and in 
Russian) 

Japan and North Korea: Bones of Contention, Asia Report 
N°100, 27 June 2005 (also available in Korean) 

China and Taiwan: Uneasy Detente, Asia Briefing N°42, 21 
September 2005 

North East Asia's Undercurrents of Conflict, Asia Report 
N°108, 15 December 2005 (also available in Korean) 

China and North Korea: Comrades Forever?, Asia Report 
N°112, 1 February 2006 (also available in Korean) 

SOUTH ASIA 

Afghanistan: Judicial Reform and Transitional Justice, Asia 
Report N°45, 28 January 2003 

Afghanistan: Women and Reconstruction, Asia Report N°48. 
14 March 2003 (also available in Dari) 

Pakistan: The Mullahs and the Military, Asia Report N°49, 
20 March 2003 

Nepal Backgrounder: Ceasefire - Soft Landing or Strategic 
Pause?, Asia Report N°50, 10 April 2003 

Afghanistan's Flawed Constitutional Process, Asia Report N°56, 
12 June 2003 (also available in Dari) 

Nepal: Obstacles to Peace, Asia Report N°57, 17 June 2003 

Afghanistan: The Problem of Pashtun Alienation, Asia Report 
N°62, 5 August 2003 

PeacebuiMng in Afghanistan, Asia Report N°64, 29 September 2003 

Disarmament and Reintegration in Afghanistan, Asia Report 
N°65, 30 September 2003 

Nepal: Back to the Gun, Asia Briefing N°28, 22 October 2003 

Kashmir: The View from Islamabad, Asia Report N°68, 4 
December 2003 

Kashmir: The View from New Delhi, Asia Report N°69, 4 
December 2003 

Kashmir: Learning from the Past, Asia Report N°70, 4 December 
2003 

Afghanistan: The Constitutional Loya Jirga, Afghanistan 
Briefing N°29, 12 December 2003 

Unfulfilled Promises: Pakistan's Failure to Tackle Extremism, 

Asia Report N°73, 16 January 2004 

Nepal: Dangerous Plans for Village Militias, Asia Briefing 
N°30, 17 February 2004 (also available in Nepali) 

Devolution in Pakistan: Reform or Regression?, Asia Report 
N°77, 22 March 2004 

Elections and Security in Afghanistan, Asia Briefing N°31, 30 
March 2004 

India/Pakistan Relations and Kashmir: Steps toward Peace, 

Asia Report N°79, 24 June 2004 



Terohsme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 38 



Pakistan: Reforming the Education Sector, Asia Report N°84, 
7 October 2004 

Building Judicial Independence in Pakistan, Asia Report 
N°86, 10 November 2004 

Afghanistan: From Presidential to Parliamentary Elections, 

Asia Report N°88, 23 November 2004 

Nepal's Royal Coup: Making a Bad Situation Worse, Asia 
Report N°91, 9 February 2005 

Afghanistan: Getting Disarmament Back on Track, Asia 
Briefing N°35, 23 February 2005 

Nepal: Responding to the Royal Coup, Asia Briefing N°35, 
24 February 2005 

Nepal: Dealing with a Human Rights Crisis, Asia Report N°94, 
24 March 2005 

The State of Sectarianism in Pakistan, Asia Report N°95, 18 
April 2005 

Political Parties in Afghanistan, Asia Briefing N°39, 2 June 2005 

Towards a Lasting Peace in Nepal: The Constitutional Issues, 

Asia Report N°99, 15 June 2005 

Afghanistan Elections: Endgame or New Beginning?, Asia 
Report N°101, 21 July 2005 

Nepal: Beyond Royal Rule, Asia Briefing N°41, 15 September 2005 

Authoritarianism and Political Party Reform in Pakistan, 

Asia Report N°102, 28 September 2005 

Nepal's Maoists: Their Aims, Structure and Strategy, Asia 
Report N°104, 27 October 2005 

Pakistan 's Local Polls: Shoring Up Military Rule, Asia Briefing 
N°43, 22 November 2005 

Nepal's New Alliance: The Mainstream Parties and the Maoists, 

Asia Report 106, 28 November 2005 

Rebuilding the Afghan State: The European Union's Role, 

Asia Report N°107, 30 November 2005 

Nepal: Electing Chaos, Asia Report N°lll, 31 January 2006 

Pakistan: Political Impact of the Earthquake, Asia Briefing 
N°46, 15 March 2006 

Nepal's Crisis: Mobilising International Influence, Asia Briefing 
N°49, 19 April 2006 

SOUTH EAST ASIA 

Aceh: A Fragile Peace, Asia Report N°47, 27 February 2003 
(also available in Indonesian) 

Dividing Papua: How Not to Do It, Asia Briefing N°24, 9 
April 2003 

Myanmar Backgrounder: Ethnic Minority Politics, Asia Report 
N°52, 7 May 2003 

Aceh: Why the Military Option Still Won't Work, Indonesia 
Briefing N°26, 9 May 2003 (also available in Indonesian) 

Indonesia: Managing Decentralisation and Conflict in South 
Sulawesi, Asia Report N°60, 18 July 2003 

Aceh: How Not to Win Hearts and Minds, Indonesia Briefing 
N°27, 23 July 2003 

Jemaah Islamiyah in South East Asia: Damaged but Still 
Dangerous, Asia Report N°63, 26 August 2003 



The Perils of Private Security in Indonesia: Guards and 
Militias on Bali and Lombok, Asia Report N°67, 7 November 2003 

Indonesia Backgrounder: A Guide to the 2004 Elections, Asia 
Report N°71, 18 December 2003 

Indonesia Backgrounder: Jihad in Central Sulawesi, Asia 
Report N°74, 3 February 2004 

Myanmar: Sanctions, Engagement or Another Way Forward?, 

Asia Report N°78, 26 April 2004 

Indonesia: Violence Erupts Again in Ambon, Asia Briefing 
N°32, 17 May 2004 

Southern Philippines Backgrounder: Terrorism and the Peace 
Process, Asia Report N°80, 13 July 2004 (also available in Bahasa) 

Myanmar: Aid to the Border Areas, Asia Report N°82, 9 
September 2004 

Indonesia Backgrounder: Why Salafism and Terrorism Mostly 
Don't Mix, Asia Report N°83, 13 September 2004 

Burma/Myanmar: Update on HIV/AIDS policy, Asia Briefing 
N°34, 16 December 2004 

Indonesia: Rethinking Internal Security Strategy, Asia Report 
N°90, 20 December 2004 

Recycling Militants in Indonesia: Darul Islam and the 
Australian Embassy Bombing, Asia Report N°92, 22 February 2005 

Decentralisation and Conflict in Indonesia: The Mamasa 
Case, Asia Briefing N°37, 3 May 2005 

Southern Thailand: Insurgency, Not Jihad, Asia Report N°98, 
18 May 2005 

Aceh- A New Chance for Peace, Asia Briefing N°40, 15 August 2005 

Weakening Indonesia's Mujahidin Networks: Lessons from 
Maluku and Poso, Asia Report N°103, 13 October 2005 (also 
available in Indonesian) 

Thailand's Emergency Decree: No Solution, Asia Report 
N°105, 18 November 2005 

Aceh: So far, So Good, Asia Update Briefing N°44, 13 December 
2005 (also available in Indonesian) 

Philippines Terrorism: The Role of Militant Islamic Converts, 

Asia Report N°110, 19 December 2005 

Papua: The Dangers of Shutting Down Dialogue, Asia Briefing 
N°47, 23 March 2006 

Aceh: Now for the Hard Part, Asia Briefing N°48, 29 March 2006 

Managing Tensions on the Timor-Leste/Indonesia Border, 

Asia Briefing N°50, 4 May 2006 

OTHER REPORTS AND BRIEFINGS 

For Crisis Group reports and briefing papers on: 

Africa 
Europe 

Latin America and Caribbean 
Middle East and North Africa 
Thematic Issues 
Crisis Watch 
please visit our website www.crisisgroup.org 



Terorisme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 39 



APPENDIX F 



CRISIS GROUP BOARD OF TRUSTEES 



Co-Chairs 

Christopher Patten 

Former European Commissioner for External Relations; 
Former Governor of Hong Kong; former UK Cabinet Minister; 
Chancellor of Oxford and Newcastle. Universities 

Thomas Pickering 

Senior Vice President, International Relations, Boeing; 
Former U.S. Ambassador to Russia, India, Israel, El Salvador, 
Nigeria, and Jordan 

President & CEO 

Gareth Evans 

Former Foreign Minister of Australia 

Executive Committee 

Morton Abramowitz 

Former U.S. Assistant Secretary of State and Ambassador to Turkey 

Emma Bonino 

Member of European Parliament; former European Commissioner 

Cheryl Carolus 

Former South African High Commissioner to the. UK; former Secretary 
General of the ANC 

Maria Livanos Cattaui* 

Former Secretary-General, International Chamber of Commerce. 

Yoichi Funabashi 

Chief Diplomatic Correspondent & Columnist, TheAsahi Shimbun, 
Japan 

William Shawcross 

Journalist and author, UK 

Stephen Solarz* 

Former U.S. Congressman 

George Soros 

Chairman, Open Society Institute 

William O. Taylor 

Chairman Emeritus, The Boston Globe, U.S. 
*Vice-Chair 

Adnan Abu-Odeh 

Former Political Adviser to King Abdullah II and to King Hussein; 
former Jordan Permanent Representative to UN 

Kenneth Adelman 

Former U.S. Ambassador and Director of the Arms Control and 
Disarmament Agency 

Ersin Arioglu 

Member of Parliament, Turkey; Chairman Emeritus, Yapi Merkezi 
Group 

Diego Arria 

Former Ambassador of Venezuela to the UN 

Zbigniew Brzezinski 

Former U.S. National Security Advisor to the President 



Kim Campbell 

Secretary General, Club of Madrid; former Prime Minister of Canada 

Victor Chu 

Chairman, First Eastern Investment Group, Hong Kong 

Wesley Clark 

Former NATO Supreme. Allied Commander, Europe 

Pat Cox 

Former President of European Parliament 

Ruth Dreifuss 

Former President, Switzerland 

Uffe Ellemann-Jensen 

Former Minister of Foreign Affairs, Denmark 

Mark Eyskens 

Former Prime Minister of Belgium 

Leslie H. Gelb 

President Emeritus of Council on Foreign Relations, U.S. 

Bronislaw Geremek 

Former Minister of Foreign Affairs, Poland 

Frank Giustra 

Chairman, Endeavour Financial, Canada 

I.K. Gujral 

Former Prime Minister of India 

Carla Hills 

Former U.S. Secretary of Housing; former U.S. Trade. Representative 

Lena Hjelm-Wallen 

Former Deputy Prime Minister and Foreign Affairs Minister, Sweden 

Swanee Hunt 

Chair of Inclusive. Security: Women Waging Peace; former U.S. 
Ambassador to Austria 

Asma Jahangir 

UN Special Rapporteur on Extrajudicial, Summary or Arbitrary 
Executions; former Chair Human Rights Commission of Pakistan 

Shiv Vikram Khemka 

Founder and Executive Director (Russia) of SUN Group, India 

James V. Kimsey 

Founder and Chairman Emeritus of America Online, Inc. (AOL) 

Bethuel Kiplagat 

Former Permanent Secretary, Ministry of Foreign Affairs, Kenya 

Trifun Kostovski 

Member of Parliament, Macedonia; founder ofKometal Trade Gmbh 

Wim Kok 

Former Prime Minister, Netherlands 

Elliott F. Kulick 

Chairman, Pegasus International, U.S. 

Joanne Leedom-Ackerman 

Novelist and journalist, U.S. 

Todung Mulya Lubis 

Human rights lawyer and author, Indonesia 



Terorisme Di Indonesia: Jaringan Noordin Top 
Crisis Group Asia Report N°114, 5 Mei 2006 



Page 40 



Ayo Obe 

Chair of Steering Committee of World Movement for Democracy, 
Nigeria 

Christine Ockrent 

Journalist and author, France 

Friedbert Pfluger 

Parliamentary State Secretary, Federal Ministry of Defence; member 
of the. German Bundestag 

Victor M. Pinchuk 

Founder oflnterpipe Scientific and Industrial Production Group 

Surin Pitsuwan 

Former Minister of Foreign Affairs, Thailand 

Itamar Rabinovich 

President of Tel Aviv University; former Israeli Ambassador to the 
U.S. and Chief Negotiator with Syria 

Fidel V. Ramos 

Former President of the Philippines 

Lord Robertson of Port Ellen 

Former Secretary General of NATO; former Defence Secretary, UK 

Mohamed Sahnoun 

Special Adviser to the United Nations Secretary-General on Africa 



Ghassan Salame 

Former Minister lebanon, Professor of International Relations, Paris 

Salim A. Salim 

Former Prime Minister of Tanzania; former Secretary General of 
the Organisation of African Unity 

Douglas Schoen 

Founding Partner ofPenn, Schoen & Berland Associates, U.S. 

Par Stenback 

Former Minister of Foreign Affairs, Finland 

Thorvald Stoltenberg 

Former Minister of Foreign Affairs, Norway 

Grigory Yavlinsky 

Chairman of Yabloko Party, Russia 

Uta Zapf 

Chairperson of the German Bundestag Subcommittee on Disarmament, 
Arms Control and Non-proliferation 

Ernesto Zedillo 

Former President of Mexico; Director, Yale Center for the Study 
of Globalization 



INTERNATIONAL ADVISORY COUNCIL 

Crisis Group's International Advisory Council comprises major individual and corporate donors who contribute their advice and 
experience to Crisis Group on a regular basis. 

Rita E. Hauser (Chair) 

Marc Abramowitz 

Anglo American PLC 

APCO Worldwide Inc. 

Patrick E. Benzie 

BHP Billiton 

Harry Bookey and Pamela Bass- 

Bookey 

John Chapman Chester 

Chevron 

Companhia Vale do Rio Doce 

Cooper Family Foundation 

Peter Corcoran 



Credit Suisse 

John Ehara 

Equinox Partners 

Konrad Fischer 

Iara Lee & George Gund III 

Foundation 

Jewish World Watch 

JP Morgan Global Foreign 

Exchange and Commodities 

George Kellner 

George Loening 

Douglas Makepeace 



Anna Luisa Ponti 

Michael L. Riordan 

Sarlo Foundation of the Jewish 

Community Endowment Fund 

Tilleke & Gibbins 

Baron Guy Ullens de Schooten 

Stanley Weiss 

Westfield Group 

Woodside Energy, Ltd. 

Don Xia 

Yasuyo Yamazaki 

Sunny Yoon 



SENIOR ADVISERS 

Crisis Group's Senior Advisers are former Board Members (not presently holding executive office) who 
maintain an association with Crisis Group, and whose advice and support are called on from time to time. 



Oscar Arias 
Zainab Bangura 
Christoph Bertram 
Jorge Castaiieda 
Eugene Chien 
Gianfranco DeU'Alba 



Alain Destexhe 
Marika Fahlen 
Stanley Fischer 
Malcolm Fraser 
Max Jakobson 
Mong Joon Chung 



Allan J. MacEachen 
Barbara McDougall 
Matt McHugh 
George J. Mitchell 
Cyril Ramaphosa 
Michel Rocard 



Volker Ruehe 
Simone Veil 
Michael Sohlman 
Leo Tindemans 
Ed van Thijn 
Shirley Williams 



As at May 2006