(navigation image)
Home American Libraries | Canadian Libraries | Universal Library | Community Texts | Project Gutenberg | Biodiversity Heritage Library | Children's Library | Additional Collections
Search: Advanced Search
Anonymous User (login or join us)
Upload
See other formats

Full text of "Rua bineda in Bali : counterfeit justice in the trial of Nyoman Gunarsa"

RUA BINEDA IN BALI 

Counterfeit Justice In The Trial of Nyoman Gun^sa 



^vu- 



Xv 



v^C 







Ron Jenkins Ron Jenkins 



Ron Jenkins is a former Guggenheim 

fellow whose research in Bali over the 

past thirty years has been supported 

by fellowships from the Watson 

Foundation, The Asian Cultural 

Council of the Rockefeller Brothers 

Fund, and the Fulbright Fund. 

A professor of theater at Wesleyan 

University, he holds a doctorate from 

Harvard University and a master's 

in buffoonery from the Ringling 

Brothers Clown College. In addition 

to writing numerous books on theater, 

he has contributed articles to Tiie 

New York Times, Tlie Village Voice, 

and UNESCO's International Tlieater 

Review. 



Ron Jenkins aiinlah mantan penerima 
beasiswa Guggenheim moigadakan 
penelitian di Bali selama tiga puluhan 
tahun dan biaya penelitiannya 
dibantu oleh Watson Foundation, 
Ttie Asian Cultural Council of the 
Rockefeller Brothers Fund, dan the 
Fulbright Fund. Dia adalah seorang 
profesor di bidang teater dari 
Wesleyan University, meraih gelar 
doktor dari Harvard University dan 
masternya dalam bidang pelav^/ak/ 
badut dari Ringling Brothers Clown 
College. Di samping menulis sejumlah 
buku dalam bidang teater, dia juga 
mengkontribusikan artikel-artikel 
pada New York Times, Vw Village 
Voice, dan UNESCO's Inter)iational 
Theater Review. 



I Nyoman Gunarsa / Nyoman Gunarsa 



I Nyoman Gunarsa is one of Bali's 

most acclaimed artists. His paintings 

have been exhibited in museums 

all over the world, and he has won 

countless awards for the unique ways in 

which his works combines innovative 

modern techniques with the traditional 

_ principles of Balinese Hindu culture. 

Tlie Gunarsa Museum in Klungkung 

is a repository of many of Bali's oldest 

artistic artifacts and the site of Bali's 

^ largest ceremonial uate. 



/ Nyoman Gunarsa adalah seorang 
pelukis Bali yang paling dielu-elukan. 
Lukisannya telah dipamerkan di 
musium-nnisium seluruh dunia, 
dan tak terhitung memenangkan 
penghargaan dengan jalan yang 
unik dimana karyanya merupakan 
kombinasi inovasi teknik-teknik 
moderen dengan prinsip-prinsip 
tradisi budaya Bali Hindu. Musium 
Nyoman Gunarsa di Klungkung 
adalah tempat penyimpanan dari 
sekian banyak karya-karya artistik 
artefak seni tua Bali dan sebuah 
tempat dengan gapura Bali yang 
amat besar 



'r*>'f' 



:^^^* 



RUA BINEDA IN BALI 

Counterfeit Justice In The Trial of Nyoman Gunarsa 



Ron Jenkins 



Translation by Nyoman Catra & Post Graduate Institute of Indonesian Art - ISI Jogjakarta 

Shadow Puppet Play "False Anggada" by Wayan Nardayana ('Dalang CenkBlonk') 

"The Heron and the Crab" by Ida Pedanda Ketut Sidemen 

Photographs by Franziska Blattner, Ron Jenkins, and Indrawati Gunarsa 

Graphic Design by Johannes Satyadi 

Printed by PT. Jayakarta Agung Offset 

Managing Editor - Indrawati Gunarsa 

Executive Editor - Franziska Blattner 

Associate Editor - Gede Artison Andarawata 

Assistant Editors - Komang Artisti Sekar Linuwih & Luh Estiti Andarawati 

Copy Editors - I Gusti Ngurah Artawan & Luh Gede Sujianingsih 

Copyright of illustrations, 2010, Nyoman Gunarsa 

Copyright of "The False Anggada," 2010, Wayan Nardayana 

Copyright of "The Heron and the Crab," 2010, Ida Pedanda Ketut Sidemen 

Copyright of the text of "Ruabineda," 2010, Ron Jenkins 

Copyright of the Indonesian translation, 2010 by Nyoman Catra 

Copyright photos, 2010, Franziska Blattner, Ron Jenkins, Indrawati Gunarsa 



RUA BINEDA IN BALI 

Counterfeit Justice In The Trial of Nyoman Gunarsa 



Ron Jenkins 



Published by 

INDONESIAN INSTITUTE OF THE ARTS 

ISI JOGJAKARTA 



\ 



r 




DEDICATION 

Didedikasikan 



To my wife Franziska, 
for confusing me in so many loving and enlightening ways. 



Untuk istri saya Franziska, 

karena membuat saya bingung dalam berbagai kesayangan dan 

pencerahannya. 



^^J!^^. 




TABLE OF CONTENTS 

Daftar Isi 



1 . Acknowledgments | Pernyataan rasa terima kasih 9 

2. Preface: The Painter, The Puppet-Master, and the Priest | Prawacana: Pelukis, Dalang, dan Pendeta 1 3 

3. Introduction: The Battle of Dharma and Adharma | Pendahuluan: Pertempuran Dharma dan Adharma 21 

4. Art on Trial: Sekala and Niskala | Seni di Sidang: Sekala dan Niskala 39 

5. Puppet Justice: The Shadows of Clowns and Kings | Keadilan dalam Wayang: Bayang-bayang para Panakawan dan Raja 69 

6. Astra Geni: Art as a Weapon | Astra Geni: Seni Sebagai Senjata 87 

7. A Priest's Perspective: The Light and the Dark | Perspektif Pendeta: Terang dan Gelap 111 

8. Karma Pala: The Justice of Heaven | Karma Pala: Keadilan Sorgawi 125 

9. "The False Anggada" - Shadow Play by I Wayan Nardayana | "Anggada Palsu" - Pertunjukan Wayang Kulit oleh I Wayan Nardayana 1 59 

10. Courtroom Testimonies of Nyoman Gunarsa and Indrawati Gunarsa | Transkripsi Kesaksian oleh I Nyoman Gunarsa dan Indrawati Gunarsa 267 

11. "The Heron and the Crab" by Ida Pedanda Ketut Sidemen | "Burung Bangau dan Kepiting" oleh Ida Pedanda Ketut Sidemen 305 

12. Epilogue: Synest^es/a - The Soul of an Artist | Epilog: Synesthesia: Jiwa seorang Seniman 313 



ACKNOWLEDGMENTS 

1 

Pernyataan 

rasa terima kasih 



'Om Awignam Astu Namo Sidham" 



"Om Awignam Astu Namo Siddham' 



This book would not be possible without the kindness and wisdom of the 
many extraordinary Balinese artists who have been so generous to me over 
the past thirty-three years. There are too many to name, but 1 will try to 
express my thanks to a few who have worked directly on this project. 



First I want thank I Nyoman Gunarsa for the magnificent artwork that is 
published in this book for the first time. His wife Indrawati Gunarsa, their 
son Gede Artison Andarawata and the entire Gunarsa family were extremely 
helpful me to throughout my research. 



I Wayan Nardayana, known throughout Bali as dalang CenkBlonk, also 
deserves my deep gratitude for patiently allowing me to observe and 
document his artistry as a master of shadow puppetry. 



Ida Pedanda Ketut Sidemen is a profoundly wise poet and priest whose 
sense of spirituality and love of language have inspired me in more ways 
that I can say. 

I Nyoman Catra has been my friend, teacher and student for many years, 
and his contributions to my understanding of Balinese culture go far 
beyond his help with the Indonesian translation of this book. 

I Gusti Ngurah Artawan made important contributions to this book by 
transcribing "Anggada Palsu" and translating a first draft to Indonesian. 
Ni Luh Gede Sujianingsih was also a diligent assistant whose translation 
skills were invaluable throughout the process of writing this book. Her 
father I Ketut Jagra made valuable contributions to the translations. 



The support of the senior faculty of the Indonesian Institute of the Arts 
(ISI) in Denpasar has been invaluable to me. In addition to thanking 



Buku ini tidak akan terwujud tanpa kebaikan dan kebijaksanaan dari 
sejumlah seniman Bali yang luar biasa yang telah dengan kemurahan hati 
kepada saya selama kurun waktu tigapuluh dua tahun lamanya. Terlalu 
banyak nama-nama untuk disebutkan, di sini saya akan coba untuk 
menyatakan rasa hormat dan terima kasih saya kepada beberapa yang telah 
bekerja secara langsung pada proyek ini. 

Pertama saya menyatakan terima kasih kepada I Nyoman Gunarsa atas 
karya seninya yang bagus sekali dipublikasikan untuk pertama kali dalam 
buku ini. Istrinya Indrawati, putranya Gede Artison Andarawata dan seluruh 
keluarganya Gunarsa yang sangat membantu saya selama penelitian saya 
pada perjuangan mereka di pengadilan. 

I Wayan Nardayana, dikenal diseluruh Bali sebagai dalang CenkBlonk, juga 
berhak mendapat rasa hormat saya yang paling dalam dengan kesabaran 
memberikan saya untuk mengobservasi dan mendokumentasikan keahlian 
seninya sebagai dalang. 

Ida Pedanda Ketut Sidemen adalah sastrawan yang amat bijaksana dan 
seorang pendeta yang memiliki rasa spiritual dan kecintaannya dengan 
bahasa telah menghilhami saya dari berbagai jalan yang dapat saya katakan. 

I Nyoman Catra telah menjadi teman, guru, dan murid saya untuk sekian 
tahun dan kontribusinya kepada saya mengertikan budaya Bali melebihi 
dari bantuannya dalam pengindonesiaan dari buku ini. 

I Gusti Ngurah Artawan membuat kontribusi penting untuk buku ini dengan 
mentrakripsikan 'Anggada Palsu" dan terjemahan draf awal ke dalam 
bahasa Indonesia. Ni Luh Gede Sujianingsih juga asisten yang rajin yang 
keterampilan terjemahannya amat berharga sepanjang proses penulisan 
buku ini. Ayahnya I Ketut Jagra memberi sumbangan yang berharga untuk 
terjemahan. 

Dukungan dari dosen senior Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar untuk 
saya adalah tak ternilai harganya. Di samping itu terima kasih saya untuk 



10 



I Made Bandem, I Wayan Dibia, I Ketut Kodi, and I Nyoman Sedana for 
their ongoing advice. I want to thank I Wayan Rai for estabhshing the 
International Translation Center and initiating its work making the texts 
of Indonesian performances more accessible to scholars and students 
around the world. Indonesian Shadow Puppetry has been declared a World 
Cultural Treasure by the United Nations, but without translations of the 
densely textured plays, foreigners will never fully appreciate the complex 
interweaving of history, religion and current events that makes this art so 
compelling. Lastly I want to thank my colleagues in the faculty and the 
administration of Wesleyan University for their continuing support of my 
Indonesian research. 



Finally, although they are not cited directly, I want to acknowledge the 
superb work of the many western writers who have investigated Balinese 
culture over the past century. They have helped to provide the foundation 
for many of the insights in this book. One of the most perceptive observers 
of Balinese art and culture is Hildred Geertz, whose recent trilogy of books 
provides an outstanding model of sensitive and illuminating scholarship. 
The publications of Adrian Vickers, Helen Creese, Clifford Geertz, Mark 
Hobart, P.J. Zoetmulder, C. Hooykaas, Urs Ramseyer, H.I.R. Hinzler, Henk 
Schulte Nordholdt, S.O. Robson, Thomas M. Hunter, Mary Zurbuchen, R. 
Rubenstein, Jean Couteau, Fred Eisner, Jane Belo, Idanna Pucci, Margaret 
Mead, Fritz DeBoer, Miguel Covarrubias, Walter Spies, David Stuart- Fox, 
Claire Holt, and Colin McPhee, each in their own distinctive style, have made 
essential contributions to my understanding of Bali in all its incarnations. 



"Om Santi, Santi, Santi, Om" 



/ Made Bandem, I Wayan Dibia, I Ketut Kodi dan I Nyoman Sedana atas 
sarannya yang tiada henti. Saya ingin berterima kasih kepada I Wayan Rai 
untuk mewujudkan International Translation Center dan mendukung usaha 
yang berkelanjutan untuk membuat buku-buku seperti ini yang membuat 
teks-teks pertunjukan di Indonesia dapat lebih diakses untuk sarjana dan 
mahasiswa dari seluruh dunia. Pertunjukan Wayang Kulit Indonesia sudah 
dideklarasikan sebagai World Cultural Treasure oleh Perserikatan Bangsa- 
bangsa, akan tetapi tanpa terjemahan dari kepadatan tekstur pertunjukan, 
orang asing tidak bakalan pernah sepenuhnya dapat mengapresiasi 
kompleksitas rajutan sejarah, agama, dan peristiwa kekinian yang membuat 
seni ini menjadi meyakinkan. Juga saya berterima kasih teman-teman dosen 
dan administrasi di Weleyan University atas dukungannya yang tak pernah 
surut untuk penelitian saya di Indonesia. 

Akhirnya, kendati mereka tidak dikutip karyanya secara langsung saya ingin 
menyampaikan rasa terima kasih terhadap hasil kerja yang gemilang dari 
sejumlah penulis barat yang telah mengadakan investigasi tentang budaya 
Bali sejak seabad yang lampau. Mereka telah membantu memberikan dasar 
wawasan luas dalam buku ini. Salah seorang yang paling memiliki perspektif 
observasi tentang seni dan budaya Bali adalah Hildred Geertz dengan 
triology buku barunya menyediakan model yang luar biasa dari sensitif dan 
mengiluninasi para sarjana. Publikasi-publikasi dari Adrian Vickers, Helen 
Creese, Clifford Geertz, Mark Hobart, P.J. Zoetmulder, C. Hooykaas, Urs 
Ramseyer, H.I.R. Hinzler, Henk Schulte Nordholdt, S.O. Robson, Thomas M. 
Hunter, Mary Zurbuchen, R. Rubenstein, Jean Couteau, Fred Eisner, Jane 
Belo, Idanna Pucci, Margaret Mead, Fritz DeBoer, Miguel Covarrubias, 
Walter Spies, David Stuart-Fox, Claire Holt, dan Colin McPhee, dengan 
gaya mereka masing-masing, telah memberi kontribusi mendasar untuk 
pengertian saya tentang Bali di dalam keseluruhan kelahirannya. 

"Om Santi, Santi, Santi, Om" 



11 



12 




PREFACE: 

The Painter, the Puppet-master, 

and the Priest 




Prawacana: 

PelukiSy Dalangy dan Pendeta 



13 



"There is no limit to learning. The sea goes on forever. Where is the 
end of the sea? There is none. That is what knowledge is like. Where is 
the footprint of a flying bird? You cannot see it. It is there, but it is not 
there. That's why we have to be patient." 

-Blonk: a clown puppet in the shadow play "The False Anggada" 



"Tiada batas untuk belajar. Laut membentang tanpa batas. Dimana 
ujungnya laut? Tidak ada. Seperti itulah pengetahuan itu adanya. 
Dimana bekas jejak kaki dari seekor burung yang sedang terbang? Kamu 
tak dapat melihatnya. Sesungguhnya ada di sana, akan tetapi tidak ada 
di sana. Itulah sebabnya kita harus bersabar" 

- Blonk: wayang badutan di dalam pertunjukan wayang 
"Anggada Palsu." 



Like the trace a bird leaves in the sky, justice is elusive. This book is about 
a search for justice that began in a courtroom battle over copyright laws 
in Denpasar, Bali. It is a story of art forgery, mystical shadow puppets, 
international crime syndicates, and divine identity theft as seen from 
the perspectives of three extraordinary Balinese individuals: a painter, a 
puppet master, and a high Brahmin priest, who is also a poet. I Nyoman 
Gunarsa, one of Bali's most acclaimed artists has devoted eight years to 
a legal battle over the forgery of his paintings, a struggle he hopes will 
strengthen the enforcement of Indonesia's copyright laws for all artists. I 
Wayan Nardayana is one of Bali's most popular and accomplished dalangs, 
a master of shadow puppetry whose witty cinematic performances update 
the plots of Hindu epics with references to modern moral dilemmas. Ida 
Pedanda Ketut Sidemen, sometimes known as 
Ida Pedanda Ketut Kencana Singarsa, is a high 
Brahmin Hindu priest, who is also one of Bali's 
most gifted poets, the author of sophisticated 
verses that give renewed spiritual meaning to 
sacred Hindu texts. 



The collective artistry of these three individuals 
provides more insight into the issues of 
justice, morality, and truth than was found 




Seperti menelusuri jejak seekor burung di udara, keadilan adalah terabaikan. 
Buku ini tentang penelusuran untuk keadilan yang perdebatannya berlangsung 
di ruang pengadilan berkenaan masalah hukum hak cipta di Denpasar, 
Bali. Ini adalah sebuah ceritera tentang pemalsuan karya seni, pertunjukan 
wayang kulit yang mistis, sindikat kejahatan internasional, dan pencurian 
identitas kedewataan yang muncul dari perspektif tiga orang secara individu: 
seorang pelukis, dalang dan seorang pendeta dari kalangan brahmana yang 
juga seorang sastrawan. I Nyoman Gunarsa salah seorang seniman Bali 
yang dielu-elukan telah mencurahkan dalam kurun waktu delapan tahun 
untuk memperjuangkan melalui hukum pengadilan atas pemalsuan karya- 
karya lukisannya, sebuah perjuangan yang dia harapkan akan memperkuat 
penyelenggaraan dari hukum hak cipta di Indonesia untuk semua seniman. 

I Wayan Nardayana adalah salah seorang 
dalang Bali yang popular dan sukses, ahli dalam 
mempermainkan wayang melalui pertunjukan 
sinematik yang Jenaka memperbaharui alur 
ceritera dari epik Hindu dengan referensi moral 
dilema moderen. Ida Pedanda Ketut Sidemen 
salah seorang pendeta dari kalangan brahmana 
juga seorang sastrawan dermawan, penulis sanjak- 
sanjak dengan cangih yang memberi kebaharuan 
arti spiritual pada teks sakral Hindu. 

Pada keahlian artistik dari ketiga masing-masing 
individu menyediakan pengertian yang mendalam 
kedalam persoalan keadilan, moralitas, dan 



14 



in the confusing decision of the judges in the 

copyright trial, ahhough the courtroom was 

enhvened by Gunarsa's artworks and the dances 

he performed there to explain the difference 

between the forged paintings and the originals. 

Lawyers for the Indonesian Anti-Corruption 

Movement (GerRAK) and Bali Corruption 

Watch have declared Gunarsa's trial an example 

of "mafia justice." Because the judge s decision 

acknowledged the forgery of Gunarsa's paintings 

but absolved the perpetrators of its creation 

and sale from any punishment, there are 

strong suspicions that organized crime figures 

manipulated the verdict. Citing the "false logic" of 

the ruling, the anti-corruption lawyers who analyzed the trial's proceedings 

called it a "tragedy of the law... a valuable lesson of something that should 

never be repeated."' 




kebenaran daripada yang telah diperoleh di dalam 
Keputusan yang membingungkan dari para hakim 
di dalam ruang pengadilan disemarakkan dengan 
karya-karya besarnya Gunarsa dan tarian yang 
dia pertunjukkan sebagai bagian dari kesaksiannya 
menerangkan perbedaan antara lukisan palsu 
dengan yang asli. Para pengacara untuk Indonesian 
Anti-Corruption Movement (GerRAK) dan Bali 
Corruption Watch telah mengumumkan bahwa 
pemeriksaan pengadilan Gunarsa sebagai contoh 
dari "mafia pengadilan" Oleh karena keputusan 
jaksa telah membuktikan pemalsuan atas karya 
lukisannya Gunarsa ... di sana kuat kecurigaannya 
bahwa figure kriminal terorganisasi memanipulasi 
keputusan. Mengutip "logika palsu" dari penguasa, para hakim anti koupsi 
yang menganalisa dokumen tentang cara kerja pemeriksaan pengadilan 
menyebutkannya sebagai "tragedi hukum... pelajaran berharga dari sesuatu 
yang seyogyanya tidak pernah terulang lagi."' 



Ttie painter, the puppet-master and the priest, each in their own way, rely 
on the animist-mystic traditions of the Balinese Hindu religion to provide 
a sense of clarity, truth and justice that was missing from the decision of 
the judges in the court. 



Pelukis, dalang, pendeta, masing-masing dengan caranya sendiri, bersandar 
pada tradisi animisme mistis dari keagaman Hindu Bali untuk membagikan 
pengertian kejelasan, kebenaran, dan keadilan yang absen dari keputusan 
para hakim di pengadilan. 



With the copyright trial as a starting point each of these individuals 
comments on the underlying meanings of truth and falseness as seen 
through the Balinese-Hindu philosophy ofruabineda, a principle of spiritual 
dialectics that envisions the co-existence of opposites in a state of dynamic 
equilibrium. Darkness and light. The true and the false. Good and evil. 
Gods and demons. The Balinese believe that all these contradictory forces 
exist in opposition to one another and that the continuing tension between 
them is necessary for the balanced functioning of the world. 



Dengan pengadilan hak cipta sebagai titik berangkat komentar-komentar 
masing-masing dari individu ini mengenai pengertian mendasar tentang 
kebenaran dan kepalsuan seperti dapat dilihat melalui filsafat Hindu 
orang Bali yakni ruabineda, sebuah prinsip dari dialektika spiritual yang 
memimpikan kebersamaan dari pernyataan yang bertentangan untuk 
dinamika keseimbangan. Kegelapan dan terang. Kebenaran dan kepalsuan. 
Baik dan jahat. Tuhan dan raksasa. Orang Bali percaya bahwa semua 
dari sifat berseberangan ini ada, saling bertentangan satu sama lain dan 



Wahyu Sasongko in "Nyoman Gunarsa: Jalan Panjang Martir Hak Cipta dan Eksaminasi atas Putusan Bebas 
Terdakwa Ir. Hendra Dinata". (Malang, 2009). Pp. 89-90. 



Wahyu Sasongko in "Nyoman Gunarsa: Jalan Panjang Martir Hak Cipta dan Eksaminasi atas Putusan Bebas 
Terdakwa Ir. Hendra Dinata". (Malang, 2009). Pp. 89-90. 



15 



\ 



K^V 



::^'fi. 



.c 










A 






rS 



C^^^ 



I 



.V.-7»? 



■M 



-4i*^! 






-■'—i^ 



1 



7 



,-^ 



1.0 



^ 



J^ 



K^ 



\/ 



yy 



X5 



/r 



^v 



/ 



©^ 



.^; 



/1" 



cvs»V-.i 






/ 



'\ 



Y 



: } 



/r 



i. 



M 



JL-, 



'Jls 



"jy.' 



-^ 



•^ 



*:^^^ 



/ 



^' 



</ 



•^ 



-^. 



J^ 



P 






v\ 






t 's.; 



-«^ 



^.it7' 



>-51 



Nardayana transforms Gunarsa's copyright trial into 

an allegorical story based on characters from the 

Ramayana, animating the philosophical issues in a 

spectacular display of shifting shadows accompanied 

by enlightening comic commentary. In a kinetic 

series of watercolors Gunarsa brings the shadow play 

to life in his distinctive style of swirling colors and 

dynamic lines. Ida Pedanda Ketut Sidemen provides 

additional commentary on the issues of truth and falsehood by quoting 

Hindu texts that are the source of both his religious faith and his poetry. 




The similarities in the responses to the trial given by the painter, the puppet 
master and the priest are illuminating in the way they reveal the common 
reference points of all three men. Each of them in their own way relies on 
the animist-mystic traditions of the Balinese Hindu religion to provide a 
sense of clarity, truth and justice that was missing in the courtroom. 



Among other reference points, they all pointed to Saraswati, the Hindu 
goddess of wisdom, as a source of guidance in distinguishing the true 
from the false. Ida Pedanda Ketut Sidemen broke down the definition of 
her name into three root words that combine to mean "The weapon of 
knowledge as a guide to human behavior." Gunarsa drew a diagrammatic 
sketch that illustrated the goddess as the source of all literature and arts. 
And Nardayana inserted a clown dialogue into his shadow play that used 
humor to explain the significance of the cecek lizard that is associated with 
Saraswati. The cecek is the name of a lizard but it is also a grammatical mark 



itulah menjadi ketegangan yang tidak berkesudahan 
diantara keduanya adalah sangat diperlukan untuk 
keseimbangan fungsi dunia. 

Nardayana mentransformasikan sidang pengadilan ke 
dalam sebuah kiasan ceritera berdasar pada karakter 
tokoh dari Ramayana, menghidupkan persoalan- 
persoalan filsafat ke dalam pertunjukannya yang 
spektakuler dengan mengganti bayang-bayang disertai 
dengan pencerahan melalui komentarnya yang Jenaka. 
Dalam kinetis serial dari lukisan cat airnya Gunarsa 
membawa pertunjukan wayang hidup ke dalam 
gayanya yang khas dari lingkaran warna-warna dan dinamika garis. Ida 
Pedanda Ketut Sidemen memberikan komentar tambahan pada persoalan- 
persoalan dari kebenaran dan kepalsuan dengan memetik teks-teks Hindu 
yang menjadi sumber baik sebagai kepercayaan agamanya maupun karya 
sastranya. 

Persamaan di dalam memberi respon kepada sidang pengadilan yang 
diberikan oleh pelukis, dalang dan pendeta menerangkan dengan cara 
mereka dalam menyatakan hal-hal pokok referensi umum dari ketiganya. 
Masing-masing dengan caranya sendiri bersandar pada tradisi animisme 
mistis dari kepercayaan agama Hindu untuk memberikan pengertian untuk 
kejelasan, kebenaran dan keadilan yang absen di dalam ruang persidangan 
pengadilan. 

Diantara pokok referensi yang lain mereka semua menunjukpada Saraswati, 
Dewi kebijaksanaan Hindu sebagai sumber tuntunan dalam membedakan 
kebenaran dari kepalsuan. Ida Pedanda Ketut Sidemen memecah definisi 
namanya ke dalam tiga akar kata yang kemudian dikombinasikan berarti 
"Senjata dari ilmu pengetahuan sebagai tuntunan untuk perangai manusia" 
Gunarsa menggambar diagramatik sketsa yang mengilustrasikan sang Dewi 
sebagai sumber untuk semua literatur dan seni. Nardayana memasukkan 
dialog panakawan ke dalam pertunjukan wayangnya dengan menggunakan 
lelucon untuk menerangkan arti binatang cecdk yang diasosiasikan dengan 



17 




that resembles a dot or a period. "That's why offerings to Saraswati include 
a cake shaped like a cecek" says the clown servant Sanggut. "Saraswati is 
the symbol of knowledge. The source of knowledge comes from the dot 
{cecek)" 



"From what?" asks Sanggut's less enlightened brother and fellow servant, 
Delem. 

"From the dot," Sanggut insists. From the dot. Letters are made from an 
arrangement of dots. A straight succession of dots is called a line." The 
wise clown goes on to argue that all written words are made of dots, so all 
written literature and wisdom begins with a dot. He takes the logic a step 
further by making a pun on the Indonesian word for dot (titik) which is 
the same as the Balinese word for vagina, concluding his comic lecture by 




Saraswati. Kata cecek adalah sebutan untuk cecak yang juga sebagai tanda 
yang berhubungan dengan tanda pada tata bahasa yang berupa bintik 
atau titik. "Itulah sebabnya sesajen untuk Saraswati terdapat jajan yang 
menyerupai bentuk seekor cecak," kata panakawan Sungut. "Saraswati 
adalah symbol dari ilmu pengetahuan. Sumber pengetahuan datangnya dari 
titik fcecekj." 

"Dari apa?" pertanyaan saudaranya Sangut yang kurang akan penerangan 
dan temannya sebagai abdi, Delem. 

"Dari titik" Sangut bersikeras. Dari titik. Huruf dibuat dari pengaturan titik- 
titik. Rangkaian titik-titik lurus disebut garis. Panakawan yang bijaksana 
meneruskan untuk berargumentasi bahwa semua kata-kata yang ditulis 
dibuat dari titik, dengan demikian semua tulisan literatur dan kebijaksanaan 
dimulai dari titik. Dia mengambil logika dalam langkah maju membuat 
lelucon dengan permainan kata cecek untuk bahasa Indonesianya berarti 



18 



declaring that therefore "everything in the world is born out of a dot." 



The puppet master's multi- linguistic punning is only one of the sophisticated 
techniques used by Nardayana to communicate complex spiritual concepts 
to a general audience in an entertaining manner. The virtuosic skills 
of Gunarsa are equally astonishing in the way his drawings depict the 
complicated iconography of his religion in a few artfully shaped lines. Ida 
Pedanda Ketut Sidemen, an artist in his own right, is peerless in his ability to 
make the arcane philosophy of Balinese Hinduism immediately accessible 
to anyone who reads his poetry or listens to him speak. 



This book documents the collective talents of these three gifted men in an 

attempt to tell the story of a copyright trial whose importance transcends 

the secular courtroom in which it was held. By inspiring the artistry of a 

painter, a puppet master, and a priest, the trial reveals the 

extraordinary ability of the Balinese to use their cultural 

traditions to make sense of the moral dilemmas that 

accompany the ongoing modernization of their island. 

While the rest of the world might not see the traces left 

in the sky by a flying bird, the Balinese painters, puppet 

masters, and priests, know it is there. Their culture values 

the artistic and spiritual expression of what is invisible to 

the eye. This book is a tribute to that skill and the wisdom 

behind it. 




'titik' yang dalam bahasa Balinya berarti merupakan bagian dari kemaluan 
wanita, menyudahi ceramah leluconnya dengan pernyataan bahwa oleh 
karenanya 'semuanya di dunia lahir dari titik." 

Multi bahasa sebagai permainan kata ki dalang adalah satu dari teknik yang 
canggih digunakan oleh Nardayana untuk mengkomunikasikan kompleksitas 
konsepsi spiritual untuk penonton umum ke dalam cara menghibur Keahlian 
hebat dalam teknik yang dimiliki Gunarsa sejajar membuat terperangah 
dalam cara lukisannya menggambarkan ikonografi yang kompleks dari 
kepercayaan agamanya dalam hanya beberapa bentuk licin garis-garis. 
Ida Pedanda Ketut Sidemen seorang seniman dalam caranya sendiri, tiada 
bandingannya pada kemampuannya untuk membuat misterius filsafat 
dari Hinduisme Bali dengan segera dapat diterima oleh setiap orang yang 
membaca sajak-sajaknya atau mendengarkan dia berbicara. 

Buku ini mendokumentasikan secara kolektif berkemampuan dari ketiga 
orang yang berbakat di dalam usaha mengisahkan ceritera pengadilan 
hak cipta jauh lebih penting dengan ruang persidangan sekuler yang 
telah berlangsung. Dengan diilhami oleh kemahiran 
dari seorang pelukis, dalang, dan pendeta ketiganya 
memperlihatkan kemampuannya yang luar biasa sebagai 
orang Bali untuk menggunakan tradisi budaya mereka 
dalam memberikan pengertian tentang dilema moral 
yang menyertai keberlanjutan moderenisasi dari pulau 
tempat tinggalnya. Sementara di negara lain barangkali 
tidak melihat jejak yang ditinggalkan oleh seekor burung 
yang sedang terbang diudara, pelukis Bali, dalang, dan 
pendeta tahu bahwa itu ada disana. Nilai-nlai budaya 
mereka menjadi artistik dan ekspresi spiritual tentang 
apa yang tidak nampak dihadapan mata. Buku ini 
menghargai keterampilan tersebut dan kebijaksanaan 
yang berada dibaliknya. 



19 











V 





INTRODUCTION: 

The Battle of Dharma 
and Adharma 




P endahuluan: 

Pertempuran Dharma 
dan Adharma 



21 



"To find justice in this world is difficult, because there are so many kinds 
of justice: justice according to God, justice according to the judge, justice 
according to the accused, justice according to the community. Oh, there 
are many kinds." 

- Twalen, the clown servant and sage, in "The False Anggada." 



"Untuk mendapatkan keadilan di dunia ini sangatlah sulit, oleh karena 
terdapat beragam jenis keadilan: keadilan menurut Tuhan, keadilan 
menurut hakim, keadilan menurut tertuduh, keadilan menurut 
masyarakat. Oh, ada banyak jenisnya." 

- Tualen, panakawan dalam pementasan "Anggada Palsu". 



On June 26, 2008 in the austere government offices of Indonesia's Ministry 
of Law, an artist was pleading his case in a private audience with a Deputy 
Minister from the National Task Force for Intellectual Property Rights. The 
artist had traveled hundreds of kilometers from his home on the island 
of Bali in hopes of meeting with the country's President, Susilo Bambang 
Yudhoyono, and the Deputy Minister assured him that his appeal would be 
brought before the President after he dealt with the student riots that were 
then plaguing the capitol city of Jakarta. 



Pada tanggal 26 Juni 2008 dalam situasi pemerintahan Asisten Menteri 
Koordinator Tim Nas Haki di Indonesia dalam keadaan tegang, seorang pelukis 
mengadakan pembelaan terhadap kasusnya dengan mengadakan pendekatan 
secara perseorangan kehadapan Asisten Menteri Koordinator Tim Nas yang 
bertugas membidangi pelanggaran hak cipta. Seorang pelukis mengadakan 
perjalanan ratusan kilometer dari rumahnya di pulau Bali dengan harapan 
dapat bertemu dengan pimpinan Negara, Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono, diterima oleh Asisten Menteri yang dengan meyakinkan bahwa, 
pendekatannya akan dibawa kehadapan presiden, setelah dia menyelesaikan 
persoalan penting berkenaan dengan gerakan mahasiswa yang mengacau 
keamanan ibukota Jakarta. 



"Ihe President should meet with people who are trying to solve problems 
peacefully, not only with those who threaten violence," argued I Nyoman 
Gunarsa, an internationally exhibited artist, whose paintings had been 
forged and put up for sale by individuals he believed to be part of a multi- 
national crime syndicate. Gunarsa had been fighting the case in the courts 
for over eight years, and although the paintings had been proven false, the 
judge in the most recent trial had declined to hold anyone responsible, 
leaving the forgers, distributors, and gallery owners unpunished and free 
to continue their operation. "This case is not just about my paintings," said 
Gunarsa. "It is about upholding copyright laws, so that the rest of the world 
will stop viewing Indonesia as a 'nation of pirates' {'Negeri Pembajak'). 



The artist's colorful language was met with formal words of sympathy 
expressed by the Deputy Minister in phrases that were as stiff as the collar of 



"Presiden seyogyanya bertemu dengan orang yang ingin menyelesaikan 
masalahnya dengan damai, tidak hanya untuk mereka yang mengancam 
dengan kekerasan," argumentasi I Nyoman Gunarsa seorang pelukis berkaliber 
internasional, yang lukisannya dipalsukan dan dijual oleh seseorang yang 
dia percaya sebagai bagian dari jaringan sindikat multi nasional. Gunarsa 
telah memperjuangkan kasusnya di pengadilan lebih dari delapan tahun, dan 
kendati lukisannya sudah terbukti dipalsukan, para hakim pada pengadilan 
belakangan ini mengalami kemunduran dalam menentukan seseorang yang 
bertanggungjawab, dan membiarkan si pemalsu, distributor, dan pemilik 
galeri, tanpa diberi hukuman dan bebas untuk melangsungkan operasi 
mereka. "Kasus ini bukan hanya menyangkut lukisan saya" kata Gunarsa. 
"Ini adalah penegakkan hukum hak cipta, dengan demikian dunia luar akan 
berhenti menuding Indonesia sebagai negara pembajak" 

Bahasa seorang pelukis yang berwarna-warni bertemu dengan bahasa formal 
yang dilontarkan sebagai sebuah simpati oleh Asisten Menteri, dalam frase 



22 



his batik print shirt. It seemed unUkely that the case would get any farther 
than that sterile office, until Gunarsa pulled out a large notebook with 
reproductions of his paintings, and used them to explain the case in more 
detail. At first the Deputy Minister just looked politely at the photographs 
and nodded. Gunarsa showed him the paintings that were used as evidence 
in the courtroom, pointing out the details that distinguished the original 
paintings from the forgeries. The Deputy Minister mumbled a few words 
of encouragement with a rigid smile. Then Gunarsa turned the pages of 
his notebook to another set of paintings that were not used in the trial, but 
seemed to be of far greater interest to the Deputy Minister. 



They were paintings of a wayang kulit shadow puppet play that used an 

episode from the Hindu epic Ramayana as an allegory to illuminate the 

deeper meanings of the copyright trial. 

The shadow puppet play had been 

performed in Denpasar's Puputan Square 

the week before the trial began (April, 

2007). That audience in Bali's capital a 

year earlier had laughed and cheered at "^ '^^-,. 

the puppet masters re-imagining of a 

modern court case as a battle between 

sacred monkeys and giant demons. 

Gunarsa seemed to recapture the energy 

of that festive outdoor performance as he 

recounted the puppet story to the Deputy 

Minister. The plump, cherubic sixty-four 

year old artist stood up and acted out 

scene after scene, imitating the voices of 

the puppet monkeys, demons, and clowns 

with a vibrant vocal range that matched 

the swirling colors of his paintings. The 

Deputy Minister was entranced, leaning 




yang tak ubahnya sekaku kerah baju batik cetaknya. Nampaknya sulit untuk 
dipercaya bahwa penanganan kasusnya dapat melaju dari sebuah kantor 
steril seperti itu, sampai akhirnya Gunarsa mengeluarkan buku catatan 
besar dengan reproduksi lukisan-lukisannya, dan menggunakannya untuk 
menerangkan kasusnya lebih detail. Mengawali Asisten Menteri melihat 
pada foto-foto dengan sopan seraya mengangguk-angguk. Gunarsa 
memperlihatkan padanya lukisan yang telah dijadikan barang bukti 
di pengadilan, menunjuk lebih detail perbedaan lukisan-lukisan yang 
asli dengan yang dipalsukan. Asisten Menteri berkomat-kamit dengan 
beberapa kata-kata membesarkan hati dalam senyumnya yang kaku. 
Kemudian Gunarsa membuka halaman buku catatannya ke halaman yang 
lain dengan sejumlah lukisan-lukisan yang tidak dipergunakan dalam 
pengadilan, yang kelihatannya jauh lebih menarik bagi Asisten Menteri. 

Terdapat pula lukisan-lukisan pertunjukan Wayang Kulit yang menggunakan 
episode dipetik ceritera kepahlawanan Hindu yakni Ramayana sebagai 

sebuah kiasan menerangkan arti yang 
lebih dalam dari peradilan hak cipta. 
Pertunjukan wayang kulit dipentaskan 
di lapangan Puputan Badung, seminggu 
sebelum peradilan dilaksanakan 
(bulan April 2007). Para penonton 
yang kebanyakan dari penduduk kota 
Denpasar setahun sebelumnya tertawa 
terpingkal dan mengelukan ki dalang 
kondang membayangkan kembali kasus 
pengadilan moderen ke dalam sebuah 
perang seekor kera suci dengan raksasa 
besar. Gunarsa nampaknya dapat 
menangkap energi dari pertunjukan 
yang diselenggarakan di alam terbuka 
yang bersifat festa seperti halnya dia 
meceriterakankembalikisahpertunjukan 
tersebut kehadapan Asisten Menteri. 
Sintalnya, seorang malaikat, pelukis 



24 



forward on the edge of his chair, his eyes darting back and forth between the 
illustrations and the artist who was bringing them to life in his office. 



At the heart of the play was a climactic scene in which the false was 
distinguished from the true in a highly theatrical encounter. A demon 
disguised as the red monkey commander Anggada was unmasked as an 
imposter by Anggada's brother, the Hindu monkey hero Hanuman. The 
demon planned to use his disguise to enter the palace of King Rama and 
murder him, but Hanuman was suspicious and tested his authenticity 
by speaking to him in monkey language. When the demon failed to 
understand and respond, Hanuman knew he was a fraud and chased 
him from the palace door, saving the kingdom from destruction by his 
shrewd discernment of the difference between the false monkey and his 
true brother. 



When Gunarsa reenacted that crucial scene, he screeched like a monkey 
to demonstrate the efficacy of Hanumans test. The simian gibberish 
elicited hearty laughter from the Deputy Minister who then began to 
participate in the performance himself, like a child calling out to the 
puppets in a Punch and Judy play. "Yes, now Hanuman is the judge," he 
cried. From that moment, he was swept away by the truth of the allegory, 
and responded with genuine enthusiasm to Gunarsa's arguments about 
the importance of the case, and the possibility of its being heard on appeal 
by the nations Supreme Court. 



After he had finished recounting the shadow puppet allegory, Gunarsa 
returned to the facts of the copyright trial. This time, sensing the support 



berumur enam puluh empat tahun berparas kekanak-kanakan berdiri 
tegak memperagakan adegan demi adegan, menirukan suara wayang kera, 
raksasa, dan panakawan dengan getaran dan perbedaan tingkat suara, 
menyatu dengan campuran warna lukisannya. Asisten Menteri menjadi 
terpesona, mendongak ke depan dari tepian kursinya, matanya bergerak 
bolak-balik diantara ilustrasi si pelukis yang membawakan semua itu 
dengan hidup di kantornya. 

Pada inti pertunjukan tersebut terdapat adegan puncak dimana yang palsu 
dibedakan dengan yang benar. Seorang Raksasa yang mentransformasi 
dirinya menjadi seorang jenderal kera merah Anggada dibuka kedoknya 
sebagai penipu lihai oleh kakaknya Anggada, seekor kera pahlawan dalam 
epik Hindu bernama Hanuman. Raksasa merencanakan untuk menggunakan 
penyamarannya memasuki istana raja Rama dan membunuhnya, akan 
tetapi Hanuman menaruh kecurigaan dan menguji keasliannya dengan 
berbicara bahasa kera dengannya. Ketika si Raksasa gagal mengertikan dan 
menjawabnya, Hanuman mengetahui bahwa dia itu adalah seorang penipu 
seraya mengejarnya dari gapura kerajaan, menyelamatkan kerajaan dari 
kehancuran dengan menggunakan kepintarannya membedakan diantara 
'kera palsu dengan saudaranya yang asli. 

Ketika Gunarsa meragakan kembali adegan krusial tersebut, dia mengeluarkan 
bunyi berciut seperti suara kera sembari mendemonstrasikan kemanjuran 
pengujian yang dilakukan oleh Hanuman. Bualan monyet menimbulkan 
ketawa besar dalam hati Asisten Menteri yang kemudian ikut berpartisipasi 
dalam mempertunjukan dirinya, tak ubahnya seorang anak kecil memanggil- 
manggil kehadapan wayang seperti halnya dalam pertunjukan Punch dan 
Judy. "Ya, sekarang Hanuman adalah hakimnya," teriaknya. Dari peristiwa 
tersebut, dia dibawa hanyut oleh kebenaran kiasan, dan memberi respon 
dengan penuh antusias terhadap argumentasinya Gunarsa tentang penting 
kasusnya, dan kemungkinannya telah didengar kesungguhan permohonannya 
oleh Mahkamah Agung. 

Setelah dia selesai meragakan kiasan pertunjukan wayang, Gunarsa kembali 
kepada kenyataan dari perkara hak cipta. Kali ini dia merasakan topangan 



25 



of his newly converted audience, Gunarsa did more than simply present 
the legal arguments. 

He stood up and re-enacted the courtroom drama as if it too were a shadow 
puppet play in which the accurate discernment of the difference between 
truth and falsehood would determine the fate of the kingdom, in this case 
Indonesia itself In fact, President Yudhoyono had recently empowered 
a commission to recommend ways to strengthen Indonesia's copyright 
laws. The issue was acknowledged as a major problem for the nation's 
international reputation and cultural identity, but that sense of urgency had 
not yet filtered down to local courts, and Gunarsa's case was the first in 
the country's history to attempt to apply intellectual property rights to the 
works of visual artists. 



Gunarsa's spirited performance in the Deputy Minister's office was an 
attempt to transcend years of indifference, corruption, and organized crime 
that had reduced Indonesia's copyright laws to toothless suggestions that 
were rarely enforced. By the end of his presentation the artist had succeeded 
not only in persuading the Deputy of the timeliness of his case, he had even 
inspired the stodgy bureaucrat to express his solidarity in a dance. After 
Gunarsa had demonstrated that the forged paintings of traditional Balinese 
dancers could be distinguished from the originals by their distorted sense of 
anatomy, the Deputy Minister extended his arm in an imitation of the forged 
painting, tilted sideways in his chair, and agreed with the artist's assessment. 
"A person can't dance like that," he said sympathetically, joining Gunarsa in 
a comically awkward pas de deux that relied on the logic of the human body 
as the final arbiter of truth. 



penonton haru yang kiranya bisa memberi jalan keluar, Gunarsa melakukan 
lebih dari sekedar menghadirkan argumentasi menurut hukum. 

Dia berdiri dan memperagakan kembali drama dalam ruang pengadilan 
seperti halnya juga sebuah pertunjukan wayang kulit dengan penentuan 
yang akurat dari perbedaan antara kebenaran dan kebohongan, akan dapat 
menentukan nasib dari kerajaan, dalam hal ini adalah Indonesia sendiri. 
Pada kenyataannya Presiden Yudhoyono tak begitu lama telah menguasakan 
kepada sebuah komisi pengawas agar merekomendasi jalan untuk 
memperkuat hukum hak cipta di Indonesia. Persoalannya adalah pengakuan 
sebagai persoalan besar untuk bangsa dalam reputasi internasional dan 
identitas budaya, akan tetapi rasa mendesaknya itu belum disaring turun ke 
dalam peradilan lokal, dan kasusnya Gunarsa adalah yang pertama dalam 
sejarah bangsa untuk berusaha memberlakukan hak atas kekayaan intelektual 
ke dalam karya visual (lukis) seniman. 

Spirit pertunjukannya Gunarsa di kantor Asisten Menteri adalah sebagai 
sebuah usaha untuk melewati bertahun-tahun sikap acuh tak acuh, korupsi, 
kriminal terorganisasi yang menekan hukum hak cipta di Indonesia, 
termasuk pada usulan ompong yang jarang dikuatkan. Sampai pada akhir 
presentasinya si pelukis telah berhasil tidak hanya membujuk Asisten Menteri 
dari ketepatan waktu untuk kasusnya, dia bahkan mengilhami birokrasi yang 
kurang tertarik untuk menyatakan kesetiakawanannya ke dalam sebuah 
tarian. Setelah Gunarsa mendemonstrasikan semua lukisan palsu tentang 
penari tradisional Bali dapat dibedakan dari yang asli melalui perasaan 
dari anatominya yang dirusakkan. Asisten Menteri menjulurkan tangannya 
ke dalam tiruan dari lukisan yang dipalsukan, diangkat menyamping pada 
kursinya dan setuju dengan penilaian si seniman. "Seseorang tidak akan bisa 
menari seperti itu," kata dia penuh simpatik, menemani Gunarsa di dalam 
kekakuan lelucon pas de deux yang secara diam-diam percaya dengan logika 
dari tubuh manusia sebagai penguasa akhir akan kebenaran. 



27 



The encounter between the artist and the Deputy Minister 
was extraordinary in many ways. Not only did it culminate 
in an unlikely dance duet, but it also marked the meeting of 
two distinctive Indonesian cultures, the Balinese Hinduism 
of Nyoman Gunarsa, and the Javanese Muslim faith of the 
Deputy Minister. Indonesia has the world's largest Muslim 
population, but as the globes fourth most populous nation 
it is also home to a diverse spectrum of people who speak 
hundreds of different languages and live on thousands of 
far flung islands. 




Gunarsa and the Deputy Minister did not speak to each 
other in their respective native tongues (Balinese and Javanese), but used 
Indonesian instead, the official lingua franca of the Indonesian archipelago. 
More effective than a common language in bringing them together was 
their common passion for wayang kulit shadow puppet plays. Although the 
Javanese and Balinese shadow puppets are performed in different styles they 
share a set of plots and characters revolving around the Hindu epic stories 
of the Ramayana and Mahabhrata. Javanese Muslims do not regard the 
stories as religious, but consider them to be part of their cultural heritage, 
and in fact, before the thirteenth century most Javanese practiced a form of 
Hindu-Buddhist-Animism that is similar to the religion practiced today in 
Bali. The shadow puppet plays are one of the last vestiges of their shared 
history, but because few Balinese understand the Javanese language used in 
Javanese shadow plays and most Javanese do not understand the Balinese 
language used in Balinese shadow plays, the two traditions remain distant 
to their respective admirers. 



Pertemuan diantara seniman dengan Asisten Menteri dalam 
banyak hal adalah sangat luar biasa. Tidak hanya dilakukan 
dalam puncak tak ubahnya bagaikan tarian duet, akan 
tetapi juga pertanda pertemuan dari dua budaya Indonesia 
yang berlainan yakni Nyoman Gunarsa sebagai orang Bali 
beragama Hindu dengan Asisten Menteri sebagai orang 
Jawa penganut kepercayaan agama Islam. Indonesia adalah 
Negara terbesar yang berpopulasi penganut kepercayaan 
menurut agama Islam, selain itu sebagai Negara keempat 
terbesar populasinya didunia dan juga rumah orang-orang 
yang memiliki spektrum berbeda, berbahasa dengan ratusan 
bahasa yang berbeda, dan tinggal di dalam ribuan pulau- 
pulau bertebaran berjauhan. 



Gunarsa dengan Asisten Menteri keduanya tidak berbicara 
satu sama lain dengan bahasa daerahnya (Bali dan Jawa), akan tetapi 
menggunakan bahasa Indonesia, yakni bahasa nasional, bahasa penghubung 
untuk Seantero kepulauan Indonesia. Jauh lebih efektif dibanding dengan 
menggunakan bahasa umum dalam membawa mereka bersama adalah 
kegemaran untuk menonton pertunjukan wayang kulit. Kendati pertunjukan 
wayang kulit Jawa dan Bali memiliki gaya yang berbeda keduanya 
menggunakan perlengkapan untuk alur ceriteranya dan karakter dari 
masing-masing tokoh dari seputar epik Hindu yakni ceritera Ramayana dan 
Mahabharata. Orang Islam Jawa menghormati ceritera tersebut tidak sebagai 
bagian dari agamanya, akan tetapi lebih mempertimbangkannya sebagai 
bagian dari warisan budaya mereka, yang pada kenyataannya sebelum abad 
ke tiga belas kebanyakan orang Jawa menganut bentuk kepercayaan dari 
Hindu - Buddha - dan kepercayaan Animisme yang memiliki kesamaan 
dengan agama yang masih dipraktekkan sampai sekarang ini di Bali. 
Pertunjukan wayang kulit adalah salah satu kebudayaan tradisi yang masih 
bertahan dalam membagi sejarah bersama, akan tetapi oleh karena hanya 
sedikit orang Bali mengerti Bahasa Jawa yang digunakan dalam pertunjukan 
wayang Jawa dan kebanyakan orang Jawa tidak mengerti bahasa Bali yang 
digunakan dalam pertunjukan wayang Bali, kedua dari tradisi ini tetap 
memiliki jarak akan kekaguman dan rasa hormat mereka. 



28 




29 




•,-'*«^ 



The exchange between Gunarsa and the Deputy Minister revealed more 
than a simple enthusiasm for wayang. It demonstrated the deep connection 
they both feel exists between the ethical values expressed in wayang and the 
codes of conduct all people are expected to follow, regardless of religion. In 
this case a complex legal issue that had not been decided with clarity in the 
courts was communicated effectively through the allegorical language of 
wayang shadow puppets. The actions of Rama, Hanuman, his monkey army, 
and their demonic adversaries eliminated the need for legal arguments. The 
Balinese artist and the Javanese bureaucrat understood each other perfectly, 
because in both of their cultures the puppets embody the struggles between 
good and evil, faith and betrayal, or falseness and truth, that are at the core 
of humanity's efforts to live together in a just society. Some might say that 
wayang offers a shadow legal code that is philosophically more compelling, 
persuasive, and accessible than the formal laws of government. Many of 
Indonesia's presidents have professed a deep love of wayang, including 
the founding president Sukarno, who was named after a wayang character 
(Kama), and the current president, Yudhoyono, who 
according to the minister of culture, Jero Wacik, grew 
up performing wayang stories with palm leaves as his 
make-shift puppets. A few months after the wayang 
play about Gunarsa's trial was performed in Bali, a 
former Indonesian president, Abdurrahman Wahid, 
also known by his nickname "Gus Dur," commissioned 
a Javanese wayang play to allegorically tell the story 
of how he had been slandered by Jusuf Kalla, who 
was then vice-president. Wahid had threatened to 
take the case to court, but the wayang plot about the 
misfortunes that befell a kingdom after it's hero had 
been insulted, was more effective than an extended 
legal battle in expressing his side of the story. Furthermore he, and the 
thousands of supporters who gathered on a field near his Jakarta home to 
watch the play, experienced the vicarious pleasure of watching the hero's 
adversary apologize. 




Pertukaran diantara Gunarsa dan Asisten Menteri diungkapkan lebih dari 
sekedar antusias pada wayang. Itu menunjukkan hubungan yang sangat 
dalam diantara mereka berdua, merasakan keberadaannya akan nilai-nilai 
etika yang diekspresikan dalam wayang dan aturan tingkah laku untuk semua 
orang yang diharapkan untuk diikuti, dengan mengabaikan agamanya. 
Dalam kasus ini permasalah menurut hukum yang kompleks belum pernah 
diputuskan dengan kejelasan di dalam persidangan, telah dikomunikasikan 
dengan efektif melalui bahasa kiasan dari wayang kulit. Perlakuan sang 
Rama, Hanuman, dengan pasukan keranya, beserta musuhnya yang bersifat 
keraksasaan, mengabaikan kebutuhan akan argumentasi berdasarkan 
undang-undang. Seniman Bali dan birokrat orang Jawa mengerti satu sama 
lain dengan sempurna, oleh karena dikedua dari budaya mereka yakni 
pada budaya wayang, menggambarkan pergumulan antara baik dengan 
jahat, beriman dengan pengkhianat, kepalsuan dengan kebenaran, yang 
keberadaannya adalah pada inti usaha manusia untuk hidup bersama 
di masyarakat. Mungkin beberapa orang mengatakan bahwa wayang 
menawarkan bayangan aturan perundang-undangan 
yang berupa filsafat lebih mendorong, membujuk, 
dan dapat diakses, dibanding dengan hukum formal 
pemerintahan. Beberapa dari Presiden Indonesia 
menyatakan kecintaannya yang mendalam terhadap 
wayang, termasuk presiden pertamanya yakni 
Sukarno yang namanya diambil dari nama karakter 
wayang (Kama), dan presiden sekarang Yudhoyono 
yang menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata 
Jero Wacik beliau tumbuh sebagai dalang dengan 
mempertunjukkan ceriteranya dengan wayang 
terbuat dari daun palem. Beberapa bulan setelah 
pertunjukan wayang tentang pengadilannya Gunarsa 
yang dipentaskan di Bali, mantan Presiden Indonesia Abdulrrahman 
Wahid yang juga dikenal denga nama kecilnya "Gus Dur," menugaskan 
mempertunjukkan wayang Jawa membawakan ceritera secara simbolik 
bagaimana dia telah difitnah oleh wakil presiden Jusuf Kalla. Wahid telah 
diancam untuk membawa masalahnya ke pengadilan, akan tetapi alur 
pertunjukan wayang tentang kemalangan yang menimpa sebuah kerajaan 



31 



setelah pahlawannya dicacimaki, jauh lebih efektif ketimbang dengan 
rentangan perseteruan perang resmi dalam mengekspresikan sisi beliau di 
dalam ceriteranya. Lebih jauh lagi beliau dengan ribuan pendukungnya 
berkumpul di tanah lapang didekat rumahnya di Jakarta untuk menyaksikan 
pertunjukan tersebut, menyaksikan langsung sepertinya mengalami sendiri 
kesenangan menyaksikan musuh dari sang pahlawannya meminta maaf 



Both the Javanese and BaHnese wayang shadow puppet stages are structured 

in a way that emphasizes the dynamic tension between contradictory 

elements of existence. Good and Evil. Darkness and Light. 

The High and the Low. The True and the False. In the world 

of wayang, as in the philosophy of life embodied in the 

Hindu epics that comprise its repertoire, these oppositional 

forces are inextricably entwined with one another. In 

the old Javanese literary language known as Kawi, the 

simultaneously conflicting and interdependent nature of 

these contradictory forces is called ruabineda. Although 

the old Javanese Kawi language is no longer spoken, most 

of the Hindu literature used as source material for the 

shadow plays in Java and Bali is written in Kawi, so shadow 

puppet masters on both islands still study it, and often sing 

quotations from old poetry in the original Kawi phrases. 




The physical manifestations of ruabineda can be seen in the way a wayang 
puppet play is dramatized. The heroic characters representing the forces of 
good, faithfulness, and truth are hned up on the right side of the shadow 
puppet screen. The villains who represent the forces of evil, betrayal, and 
falseness are lined up on the left side of the screen. But on each side are 
characters that embody the opposite of what they appear to be. The Balinese 
clown servant, Sanggut, for instance who always accompanies the villainous 
antagonists from the left side of the screen, often argues with his partner 



32 



Baik wayang Bali maupun wayang Jawa pementasannya disusun 

berdasarkan cara yang penekanan dinamikanya, ketegangannya, 
berunsurkan dari elemen yang bertentangan akan 
keberadaan Baik dan Jahat. Kegelapan dan Terang. Tinggi 
dan Rendah. Kebenaran dan Kepalsuan. Di dalam dunia 
wayang seperti halnya di dalam filsafat hidup perwujudan 
di dalam epik Hindu yang meliputi repertoarnya, semua 
dari kekuatan yang bertentangan ini adalah tidak mungkin 
untuk dipisahkan karena satu sama lainnya terjalin erat. 
Di dalam literatur bahasa Jawa Kuno yang dikenal dengan 
bahasa Kawi, keduanya berbarengan secara alami unsur 
yang berlawanan dan saling ketergantungan dari kekuatan 
yang bertentangan ini disebut ruabineda. Kendatipun 
Bahasa Jawa Kuno tidak lagi menjadi bahasa pergaulan, 
kebanyakan literatur Hindu menggunakannya sebagai 
sumber materi untuk pertunjukan wayang kulit di Jawa dan 
Bali ditulis dalam bahasa Kawi, dengan demikian dalang di 

kedua daerah ini masih mempelajarinya, dan sering menyanyikan petikan 

dari puisi frase kawinya yang asli. 

Manifestasi pisik dari ruabineda dapat dilihat di dalam dramatisasi 
kemasan pertunjukan wayang kulit. Karakter-karakter pahlawan ksatria 
yang menggambarkan sifat baik, kesetiaan, dan kebenaran adalah berjejer 
di sisi sebelah kanan kelir. Penjahat sebagai perlambang dari kekuatan 
kejam, penghianat, dan kepalsuan adalah berjejer disebelah kiri kelir. 
Namun masing-masing sisi adalah karakter-karakter sebagai perwujudan 
pertentangan dari apa yang mereka munculkan. Panakawan para abdi 
dalam wayang Bali, seperti Sangut contohnya yang selalu mengikuti 




33 



FAKE PAINTING 
LUKISAN PALSU 




Nyoman Sumerta, of the "Sumerta Gallery" in Teges, Ubud, asked about 

the authenticity of this painting after receiving it from Pak Kristiyono. 

Lukisan ini didapat dari Pak Kristiyono yang menanyakan keaslian lukisan tersebut 

melalui saudara Nyoman Sumerta dari "Sumerta Gallery" Teges Ubud. 



34 



NYOMAN GUNARSA'S TRUE PAINTING 
LUKISAN ASLI NYOMAN GUNARSA 




This authentic painting by Nyoman Gunarsa is from the collection of Made Suwitha. 
Lukisan asli Nyoman Gunarsa yang telah dikoleksi Made Suwitha (sebagai terdakwa). 



Delem, in favor of the positive values represented by the protagonists who 
originate on the right side of the screen. The duo of Delem and Sanggut is 
a manifestation of Ruabineda in comic form, a pair of opposites who are 
in constant conflict with one another while at the same time inseparable. 
Their low social status is also in clear contrast to the high social status of 
their masters, but again the opposition conceals another paradox. In many 
situations the lowly servants are revealed through their joking and comic 
observations to be wiser than their aristocratic masters, who need and rely 
on them in spite of their lowly status. 



kebengisan tokoh antagonis yang kejam dari sisi sebelah kiri kelir, sering 
berargumentasi dengan pasangannya Delem dalam kebajikan sebagai nilai- 
nilai positif yang dihadirkan oleh tokoh protagonis yang asalnya dari sisi 
sebelah kanan kelir. Pasangan Delem dengan Sangut adalah manifestasi 
dari ruabineda di dalam bentuk sepasang pelawak yang bertentangan, 
selalu konflik satu sama lain dan dalam waktu yang bersamaan mereka tak 
terpisahkan. Sosial status mereka yang rendah juga jelas mencerminkan 
kontras dengan junjungannya yang memiliki sosial status tinggi, kembali 
disini oposisi merahasiakan paradoksi yang lain. Di dalam beberapa 
situasi pelayan yang rendah mengungkapkan pesannya melalui humor dan 
badutan mereka menjadi lebih bijaksana dibanding dengan aristokrasi 
tuannya, yang memerlukan dan mengandalkan mereka walau status 
mereka terbilang rendah. 



The opposition between darkness and light is of course built into the core 
technique of a shadow puppet play, where the images on the screen are 
composed of black silhouettes created by the absence of the light source 
that illuminates the rest of the screen and makes the characters visible. The 
darkness would not exist without the light and vice versa, and the images 
on the screen would not be possible without the positioning of light and 
darkness in contrast to one another. These paradoxes are sometimes joked 
about by the clowns, often in situations where electricity failures temporarily 
halt the play. Some wayang plays are still performed with the light of a flame 
from a coconut oil lamp, but many now use electric light to enhance the 
shadows and create special effects. 



Metaphorically the light represents the truth and the darkness represents 
what is false. Just as the villains on the left side of the screen represent 
characters who have chosen false paths (for the most part) as opposed to 
the true paths chosen by the characters on the right side (again, for the most 
part, but never entirely). These conflicting forces need each other to exist 
so that truth emerges in contrast to the falseness that opposes it, just as the 
light is visible in contrast to the darkness that shadows it. 



Pertentangan diantara kegelapan dan terang adalah rangkaian teknik inti 
yang dibangun pada pertunjukan wayang kulit, dimana khayalan yang 
muncul di layar, dikomposisikan dari siluet hitam yang dibentuk oleh 
sumber sinar yang tertutup penyinarannya di layar, sehingga karakter bisa 
muncul. Kegelapan tidak akan muncul tanpa sinar, demikian sebaliknya, 
dan bayangan di layar tidak bakalan muncul tanpa kegelapan dan terang, 
yang dapat memposisikan kontras satu sama lain. Berlawanan asas 
terkadang dijadikan lelucon oleh panakawan, memanfaatkan situasi ketika 
listrik mati untuk sementara manakala pertunjukan berlangsung. Beberapa 
pertunjukan wayang masih tetap dimainkan dengan lampu belencong 
berminyak kelapa, dan beberapa diantaranya menggunakan lampu listrik 
untuk membentuk bayangan dan menciptakan efek-efek tertentu. 

Secara metapora sinar melambangkan kebenaran dan kegelapan 
melambangkan kesalahan. Seperti halnya para penjahat dari sisi sebelah 
kiri layar mewakili tokoh-tokoh yang memilih jalan salah (pada kebanyakan 
bagian) sebagai oposisinya untuk jalan yang benar dipilih oleh tokoh-tokoh 
yang berada di sisi sebelah kanan (lagi, pada kebanyakan bagian, tidak 
pernah untuk seluruhannya). Pertentangan kekuatan seperti ini memerlukan 
keberadaan untuk keduanya dengan demikian kebenaran muncul sebagai 



35 



These philosophical roots of ruabineda are embedded 

in the literature and performance of wayang, but 

for the audience, what is important is how these 

conflicting elements are portrayed in the dramatic 

action of the plays. As was evident in the interaction 

between Gunarsa and the Deputy Minister, wayang 

enthusiasts get wrapped up in the ethical dilemmas of 

the characters, even though they are only shadows on 

the screen. As shadows they can make visible what is 

usually invisible. Their otherworldly appearance makes 

the flickering silhouettes an appropriate medium for 

conveying messages from the invisible world of spirits, 

gods, demons, and deceased ancestors. In the old 

Javanese language this invisible world is called niskala 

and it exists in contrast to the visible world of everyday life that is called 

sekala. The puppets in a wayang play give form to the struggles of the 

invisible world, enabling the audience to see connections between their 

own lives and the examples played out in shadows on the screen. 




This story of Gunarsa's copyright trial and the wayang plays it inspired is a 
contemporary example of how the invisible world of the shadow puppets 
still interacts with the visible world of artists, lawyers, judges, politicians, 
and criminals. For Gunarsa the search for justice in the visible world of 
sekala is inextricably linked to the search for justice in the invisible world of 
niskala. As his wife, Indrawati, said when she and her husband were leaving 
the office of the Deputy Minister, "We are sure that dharma will defeat 
adharmar Indrawati was born in Java, and she said this after recounting 
yet another fable of the invisible world to the Deputy Minister, this time 



kontras dari kejahatan yang mengoposisikannya, sama 
halnya terang itu muncul akibat dari kontras kegelapan 
yang membayanginya. 

Akar filsafat ruabineda adalah terpancang di dalam 
literature dan pertunjukan wayang, akan tetapi yang 
penting bagi penonton adalah bagaimana ketegangan 
elemen-elemen ini digambarkan dalam dinamika laku 
dalam pertunjukan tersebut. Adalah menjadi bukti 
dalam interaksinya antara Gunarsa dengan Asisten 
Menteri, kegemaran mereka akan wayang dapat 
membungkus etika dilema dari berbagai karakter, 
walaupun itu hanya dalam bayangan di kelir. Melalui 
bayang-bayang semua dapat dibuat menjadi nyata, 
apa-apa yang biasanya tidak nyata. Kehadiran dunia 
lain dari mereka terbuat dalam getaran bayangan gelap 
sebagai media yang sangat cocok untuk menyampaikan 
pesan dari dunia mayanya berbagai spirit, dewa-dewa, 
raksasa, dan para nenek moyang pendahulu. Di dalam bahasa Jawa Kuno 
dunia tak nyata ini disebut Niskala dan keberadaan kontrasnya adalah 
untuk dunia nyata yakni dunia kehidupan sehari-hari disebut Sekala. 
Dalam pertunjukan wayang kulit, wayang memberi bentuk kepada 
pergumulan dari dunia maya sehingga memungkinkan penonton dapat 
melihat hubungan diantara kehidupan mereka dan contoh-contoh yang 
dimainkan di dalam bayangan di layar. 

Ceritera dari kasus pengadilan hak ciptanya Gunarsa, pertunjukan 
wayangk/i yang menghilhami sebagai sebuah contoh kekinian bagaimana 
dunia maya dari pertunjukan wayang tetap berinteraksi dengan dunia 
nyatanya para seniman, hakim, politikus, dan criminal. Bagi Gunarsa 
pencarian keadilan di dunia nyata (sekalaj adalah tidak memungkinkan 
untuk melepaskan diri dalam hubungan pencarian keadilan di dunia 
maya fniskalaj. Seperti halnya dengan istrinya, Indrawati, mengatakan 
manakala dia dengan suaminya meninggalkan kantor Asisten Menteri, 
"Kami berkeyakinan bahwa Dharma akan menaklukkan Adharma." 



36 



a Javanese story of murder, ghosts, and retribution. Dharma is an old 
Javanese word synonymous with virtue, justice, civic duty, and truth, while 
adharma is its opposite. Her statement to the minister about dharmas 
triumph over adharma was her way of using the language of wayang to 
support her husband's faith that in life, as in wayang, the true will triumph 
over the false. 



Indrawati lahir di Jawa dan katanya, setelah menceriterakan ini, masih ada 
kisah dari dunia tidak nyata dari Asisten Menteri, kali ini adalah ceritera 
Jawa tentang pembunuhan, hantu, dan ganti rugi. Dharma adalah istilah 
dalam bahasa Jawa kuno memiliki padanan dengan kata kebaikan, keadilan, 
tugas kewarganegaraan, dan kebenaran, sementara Adharma adalah 
kebalikannya. Pernyataannya kehadapan menteri tentang kemenangan 
dharma di atas adharma adalah caranya menggunakan bahasa wayang 
untuk menopang perjuangan suaminya dalam kehidupan nyata, seperti 
halnya di dalam wayang, bahwa kebenaran akan memperoleh kemenangan 
di atas kebohongan. 



37 




■^'oP/^ fCAAfirAi 






ART ON TRIAL: 

Sekala and Niskala 




Seni di Sidang: 

Sekala dan Niskala 



39 



FAKE PAINTING 
LUKISAN PALSU 



NYOMAN GUNARSA'S TRUE PAINTING 
LUKISAN ASLI NYOMAN GUNARSA 




This falsified painting, brought by Bapak Kristiyono to the Sumerta Gallery and then shown 

to Nyoman Gunarsa for verification, was used as evidence in court. 
Lukisan tiruan (palsu) ini didapat dari Bapak Kristiyono, kemudian dibawa ke Sumerta Gallery 
untuk kemudian ditunjukkan kepada saya (Nyoman Gunarsa), yang kini menjadi barang bukti. 




This authentic painting by Nyoman Gunarsa is in the Collection of the Museum of 

Balinese Classical Art. 

Lukisan asli Nyoman Gunarsa, koleksi Museum Seni Lukis Klasik Bali. 



40 



"I believe this life of ours is like a wayang play. Wayang is a light, an 
illumination, that gives us a model of how to look for the truth." 
- I Nyoman Gunarsa 



Once a week for several months in the spring and 

summer of 2007 the State Court in Bali's capitol 

city of Denpasar was flooded with art. Early in 

the morning, while the main hall was still empty, 

workers carried in more than a dozen framed 

canvases and lined them up against the walls 

behind the judges' bench and behind the tables 

for the prosecuting and defending attorneys. 

Some of these paintings were the work of Nyoman 

Gunarsa. Others were false copies that bore his 

name. The installation of these artworks echoed 

the preparations that take place before a wayang 

kulit shadow play. The puppet master's assistants line up the characters on 

two opposing sides of the screen, preparing the audience for the inevitable 

clash between good and evil, truth and falsehood, that comes at the climax 

of every story. In this case the paintings were the main characters in the 

conflict that was about to unfold in court. The prosecuting attorneys would 

accuse the defendant, Sinyo, of selling falsified paintings in his gallery. His 

defense attorneys would argue that the paintings might be authentic, or 

that in any case Sinyo thought they were when he offered them for sale. The 

genuine paintings in the courtroom were not separated from the forgeries as 

they might have been if they actually were characters in a wayang play, but 

the battle lines between the opposing sides were clearly delineated, and the 

vivid presence of the painted figures surrounding the human antagonists 

heightened the sense of drama in the courtroom. 




Although the judge's chairs were on raised platforms some of the six-foot 



"Saya percaya hidup kita ini tak ubahnya ibarat pertunjukan Wayang. 
Wayang adalah sebuah cahaya, yang menyinari, yang memberi kita 
sebuah model bagaimana melihat pada sebuah kebenaran." 
- 1 Nyoman Gunarsa 

Suatu ketika seminggu untuk beberapa bulan 
pada musim panas dan penghujan di tahun 2007 
Pengadilan Negeri Bali di ibukota Denpasar 
dibanjiri oleh benda seni. Paginya ruangan 
utamanya masih dalam keadaan kosong, pekerja 
membawa lebih dari selusin lukisan dalam kanvas 
berbingkai dijejerkan ditembok dibelakang para 
hakim, dibelakang meja jaksa penuntut umum, dan 
pengacara pembelaan. Beberapa dari lukisan-lukisan 
ini adalah karya Nyoman Gunarsa. Selebihnya 
duplikat palsu dengan tanda tangannya. Instalasi 
dari karya seni ini menggaungkan persiapan yang 
berlangsung seperti halnya sebelum pertunjukan wayang kulit. Pembantu 
dalang (katengkongj menjejerkan tokoh-tokoh dalam wayang di dua sisi 
yang berseberangan di layar, mempersiapkan penonton untuk perselisihan 
yang tak bisa diacuhkan diantara baik dan buruk, kebenaran dan kepalsuan 
yang akan muncul pada klimaks setiap ceritera. Dalam hal ini lukisan 
adalah tokoh-tokoh utamanya dalam konflik yang akan dibentangkan dalam 
pemeriksaan pengadilan. Jaksa penuntut umum akan menuduh terdakwa, 
Sinyo, menjual lukisan palsu pada galerinya. Pengacara pembelanya akan 
berargumentasi bahwa lukisan itu adalah asli, atau dalam beberapa kasus 
mengira adalah memang demikian adanya, ketika dia menjajakan itu untuk 
dijual. Lukisan-lukisan asli di dalam ruang pengadilan tidak dipisahkan 
dengan yang dipalsukan seperti halnya semuanya adalah tokoh-tokoh 
dalam dunia pewayangan, akan tetapi garis perseteruan antara sisi yang 
berseberangan sangat jelas digambarkan dan kehadirannya yang hidup dari 
tokoh-tokoh yang digambarkan diseputar tokoh antagonis mempertinggi 
rasa dari dramanya di dalam ruang pengadilan. 

Walaupun kursinya hakim dalam posisi ditinggikan di atas panggung 



41 



high paintings loomed over their heads when they sat down to convene 
the trial. Most of the artwork depicted traditional Balinese dancers, 
captured in mid-step, as if they were about to leap oflFthe canvas 
into the courtroom. The figures wore brightly colored sarongs and 
flowered headdresses that filled the otherwise somber courtroom 
with rainbows of visual energy. There had always been small 
hints of Bali's Hindu traditions in the courtroom: the tiny shrine 
of incense and offerings nailed onto the back wall; a cluttered 
cabinet filled with law books and plastic bottles of holy water; the old 
Javanese words 'dharma yukti (Virtue and truth') engraved in the 
wooden seal under the judge's chair; and the tiny yellowing cloth that 
hung over the entrance with faded hand-drawn symbols indicating 
that the room had been ritually protected from the disruptive forces 
of the invisible world. The significance of these small magical talismans 
was magnified many times over by the invasion of the life-sized painted 
dancers, who represented performers at sacred ceremonies that are at the 
heart of Bali's cultural and religious identity. These sacred traditions would 
be on trial along with the art. 




rendah beberapa dari lukisan-lukisan yang berketinggian 180 cm 
terbayang di atas kepala mereka ketika mereka duduk dalam 
berkumpul untuk pemeriksaan pengadilan. Kebanyakan dari 
karya seni tersebut menggambarkan penari Bali tradisional, 
yang dapat ditangkap seakan ketengah melangkah sepertinya 
dia hendak menari keluar dari kanvas ke dalam ruang 
pengadilan. Figur-figur yang mengenakan kain sarung dengan 
warna cerah dan mahkota berhias bunga yang memenuhi bahkan membuat 
suram ruang pengadilan dengan pelangi dari energi visual. Selalu ada isyarat 
kecil dalam tradisi Bali Hindu, juga terdapat dalam ruang pengadilan yakni 
tempat pemujaan kecil fplangkiranj tempat upakara dan dupa dibakar yang 
dipakukan ke tembok; sebuah almari yang dipenuhi dengan buku-buku hukum 
kacau balau posisinya serta botol-botol plastik dari air suci; motto dalam 
bahasa Jawa Kuno 'dharma yukti' (keadilan dan kebenaran) diukirkan pada 
kayu penyegel di bawah mejanya hakim, dan kain kuning kecil menggayut di 
atas pintu masuk sebagai indikasi bahwa ruangan tersebut telah diupacara 
untuk perlindungan dari gangguan kekuatan dunia yang tidak kelihatan. Arti 
dari magisnya jimat kecil ini dalam pelanggaran lukisan penari diperbesar 
berulang kali melebihi dari ukuran tubuh manusia, yang menggambarkan 
penari di dalam upacara sakral yang menjadi jantung dari identitas budaya 
dan agama orang Bali. 



The lawyers' attempts to differentiate truth from falsehood were played out 

on many levels. While the prosecutors attempted 

to prove that the paintings for sale in Sinyo's 

galleries were false, the defense lawyers attacked 

the credentials of many witnesses, claiming that 

they were not 'true' art experts, so they could not 

be trusted to judge the authenticity of the paintings. 

Gunarsa's wife Indrawati was the first witness. 

Shortly after she had sworn to 'tell the whole 

truth and nothing but the truth,' the chief lawyer 

for Sinyo's defense asked the judge to ignore her 

opinions and have her testimony struck from the 

record because "she is not an expert." He used the 




Pengacara berusaha untuk membedakan yang asli dengan yang palsu 
dimainkan dalam berbagai tingkatan. Sementara 
jaksa penuntut umum berusaha untuk 
membuktikan bahwa lukisan untuk dijual di dalam 
Galerinya Sinyo adalah palsu, pengacara pembela 
menyerang surat kepercayaan dari banyak saksi, 
menuntut bahwa 'sungguh' mereka bukanlah ahli 
seni, dengan demikian mereka tidak bisa dipercaya 
untuk menghakimi keaslian dari lukisan-lukisan 
tersebut. Indrawati, istrinya Gunarsa adalah saksi 
yang pertama. Tak lama setelah dia bersumpah 
untuk 'mengatakan semua yang dikatakannya 
benar dan tiada lain selain kebenaran,' wakil 



42 




43 



44 




phrase disdainfully several times, 
and maintained a condescending 
attitude towards her throughout 
the questioning. With his black 
robe and dark crooked hairpiece 
he swaggered across the courtroom 
floor like a comic book villain, 
smugly satisfied with his own 
cleverness. 



Indrawati, however, was a 
formidable sparring partner. 

Having had decades of experience as an art dealer and the curator of a 
museum of antiquities owned by her husband, she turned the defense 
lawyer's own words against him, prefacing many of her detailed responses 
about art technique with a variation of the phrase, "You are not an expert 
in the field, so how can I educate you, sir." One of her answers in response 
to questions about Gunarsas 1998 stroke included information on which 
side of the brain processes artistic functioning. The defense lawyer implied 
that the alleged forgeries might have been painted by Gunarsa when his 
motor functions were impaired by the stroke. Shocked at the accusation 
that her husband could have forged his own paintings, Indrawati responded 
with polite firmness to the question, "Did his work change because he had 
experienced an illness?" 




pengacara pembelanya Sinyo 
memohon kehadapan hakim 
untuk mengabaikan opininya 
dan hapuskan kesaksiannya dari 
rekaman mengingat "dia bukan 
ahlinya." Dia menggunakan 
frase dengan penuh penghinaan 
berulang kali dan bersikap rendah 
diri dalam mengajukan keseluruh 
pertanyaannya. Dengan jubah 
hitamnya dimana hitam helai 
rambutnya yang tidak seimbang, 
dia berjalan dengan sombongnya 
melintas dilantai ruang persidangan, 
tak ubahnya buku komik seorang 
penjahat, dengan penuh kepuasan 
akan kepintarannya sendiri. 

Indrawati, bagaimanapun adalah 
mitra tarung yang hebat. Dengan 
memiliki pengalaman beberapa puluh tahun sebagai pedagang barang seni 
dan curator dari museum antik yang dimiliki oleh suaminya, dia memutar 
balikkan kembali kata-kata pengacara pembela yang ditujukan pada dirinya, 
memberi pengantar secara detail pada responnya tentang teknik seni dengan 
frase yang bervariasi, "Anda bukan orang ahli dalam bidang ini, dengan 
demikian bagaimana cara saya mendidik anda, pak" Dalam memberi 
jawaban untuk sebuah pertanyaan tentang sakit stroke-nya Gunarsa pada 
tahun 1998, adalah satu dari jawabannya termasuk memberikan informasi 
dalam sisi mana dari kerja otak berkenaan dengan fungsi artistiknya. Hakim 
pembela menyatakan bahwa tuduhan pemalsuan barangkali memang dilukis 
oleh Gunarsa ketika motor penggeraknya menjadi lemah akibat stroke yang 
dideritanya. Mendengar tuduhan yang mengejutkan tersebut bahwa suaminya 
telah memalsukan lukisannya sendiri, Indrawati memberi tanggapan dengan 
santun dan tegas terhadap pertanyaan tersebut, "Apakah karyanya berubah 
disebabkan oleh pengalaman sakitnya?" 



45 



"No, I am sure," Indrawati replied. "I will explain 
it to you because you are not an expert in art. If 
someone is an economist, the active part of the brain 
is the left side, but if he is an artist, the active side 
is the right side. My husband's stroke was on the 
left side, so his artistic skills continued to function. 
There was no change.... Because you are not an 
expert, sir, I had to inform you." 



^■: 




•*^. 



*WAKi 



1« 



",'/ ''i" 



HENVNTUT PBMef^lNTP^H 



"Tidak, saya yakin betul, " Indrawati menjawab. 
"Saya akan terangkan kepada anda karena anda 
bukanlah orang ahli dalam bidang seni. Jika seseorang 
adalah seorang ekonomi, kerja otaknya adalah pada 
bagian sisi kiri, akan tetapi jika dia seorang seniman 
sisi kerja aktifnya ada pada sisi kanan. Stroke suami 
saya adalah pada bagian kiri, dengan demikian 
keterampilan artistiknya berfungsi normal. Tidak 
ada perubahan ... Oleh karena anda bukanlah orang 
ahli, pak. Saya harus beri tahu anda" 



■"■"'f •> 




The verbal battle between Indrawati and the lawyer 
continued throughout her testimony. At one point 
she asked and received permission from the judge 
to walk over to the paintings lined up against the 
wall as she pointed out the differences between 
the forgeries and the originals. Each time she 
approached the paintings she was followed by 
an entourage of reporters, photographers, TV 
cameramen, lawyers from both sides, and all three 
judges, who stepped down from their platforms 

to accommodate her. During those moments Indrawati seemed to be 
controlling the courtroom single-handedly, like a charismatic lecturer in 
an art gallery, or a choreographer putting a chorus of extras through their 
paces. The defense lawyers huddled together at the back of the crowd that 
followed Indrawati from one painting to another, while Sinyo himself stayed 
in his chair and stared down at the ground. During the course of the eight- 
year legal battle over the paintings Sinyo had twice tried unsuccessfully to 
sue Indrawati for slander. He seemed to be still nursing the wounds of those 
lost cases by pretending that Indrawati was not there at all. 



-1 



'^ KAI,4 r^Je^ 



P- 






^,: 



Perdebatan lisan berlanjut antara Indrawati dengan 
pengacara selama kesaksiannya. Pada suatu ketika 
dia memohon dan permohonannya dikabulkan 
oleh hakim untuk mendekati lukisan-lukisan yang 
berjejer disepanjang tembok sembari menunjuk 
perbedaan diantara yang palsu dengan yang asli. 
Setiap dia mendekati lukisan-lukisan tersebut dia 
diikuti oleh rombongan iring-iringan fotografer, 
cameraman TV, pengacara dari kedua kubu, dan 
ketiga dari keseluruhan hakim, turun dari flatform 
tempat duduk mereka masing-masing untuk mengakomudasi dia. Pada 
saat itu Indrawati sepertinya mengendalikan ruang persidangan seorang 
diri, tak ubahnya sebagai seorang pemberi ceramah yang memiliki karisma 
dalam sebuah galeri seni, atau seorang koreografer memposisikan tarian 
masai melalui langkah mereka. Pengacara pembela ikut berjubel pada 
bagian belakang dari gerumulan keramaian mengikuti Indrawati dari satu 
lukisan ke lukisan yang lain, sementara Sinyo sendiri tinggal dikursinya dan 
menatap ke lantai. Selama delapan tahun jalannya perjuangan lewat hukum 
atas lukisannya, Sinyo telah dua kali mencoba untuk menggugat Indrawati 
atas tuduhan fitnah. Nampaknya dia masih menyusui pada luka-luka dari 
kalahnya dalam kasusnya dengan berpura-pura bahwa Indrawati sama 
sekali tidak berada di sana. 



46 



The climax of the simmering antagonism between Indrawati and the 



Puncak dari pertentangan perlahan mendidih antara Indrawati dengan 



defense lawyers came when they challenged her 

past failure to press charges against an artist 

who had copied Gunarsa's paintings. Again, 

she turned the tables on them, suggesting that 

although she was not an expert in the law, she 

understood legal ethics and procedures more 

fully than they did themselves. "Excuse me, 

sir. I am not a lawyer, but I obey the laws and 

understand the impropriety of making mutual 

accusations. Because the police did not consider 

him a suspect, there was nothing wrong in my 

saying, 'I don't know. That (pressing charges) is 

the right of the police, the responsibility of the police, yes the police.' Is that 

true or not?" The spectators in the courtroom, who had been won over by 

Indrawati's fiery demeanor, laughed and applauded her logic. The judge 

was forced to intervene. 




pengacara pembela datang ketika mereka 
menantang kegagalan masa lampaunya untuk 
mendesak menuntut seniman yang telah mencopy 
lukisan-lukisan Gunarsa. Lagi dia memutar meja 
kehadapan mereka, mengusulkan bahwa walau 
dia ahli dalam bidang hukum, dia mengerti 
etika menurut hukum dan prosedurnya lebih 
lengkap dari apa yang mereka lakukan untuk diri 
mereka. "Maafkan saya Pak. Saya bukan seorang 
pengacara, akan tetapi saya menghormati hukum 
dan mengerti ketidak pantasan bagaimana 
membuat tuduhan terbalik. Oleh karena polisi 
tidak mempertimbangkan bahwa dia sebagai seseorang yang dicurigai, dan 
tidak ada sesuatu yang salah dari apa yang saya katakan, 'Saya tidak tahu. Itu 
adalah haknya polisi, tanggung] awabny a polisi, ya polisi.' Apakah itu benar 
atau salah?" Pengunjung di dalam ruangan pengadilan yang telah memberi 
kemenangan akan sikapnya yang berapi-api tertawa dan memberi tepukan 
tangan akan logika pemikirannya. Hakim juga didesak untuk campur tangan. 



'T want to remind you again," admonished the judge, "that if you are not 
asked a question, you should not give commentary, so in that way only what 
is asked will be answered." 



"Saya ingin mengingatkan anda lagi" Hakim mengingatkan, "bahwa jika 
anda tidak diminta untuk bertanya anda harus tidak memberi komentar, 
demikianlah semestinya apa yang dipertanyakan akan dijawab" 



Indrawati's response to the judge was respectful, but it also expressed her 
disapproval of the way in which the lawyers were using distractions to blur 
the distinctions between what was true and what was false. "If things are 
not clear," she said pointedly, "I also will not answer." 



Indrawati memberi respon kehadapan hakim dengan penuh hormat, akan 
tetapi juga mengekpresikan penolakannya dari cara yang mana pengacara 
menggunakan cara menyembunyikan untuk mengaburkan perbedaan antara 
apa yang benar dan apa yang salah. "Bila sesuatunya tidak jelas" katanya 
dengan tajam, "Saya juga tidak akan menjawab" 



The judge was forced to concede her point. "In that case the court will 
make things clear." 



Hakim juga ditekan untuk mengakui poinnya. "Pada kasus itu pengadilan 
akan membuat segala sesuatunya jelas" 



"Ali right, sir," Indrawati replied, satisfied for the moment. "Thank you." 



"Baiklah, Pak" Jawab Indrawati, mengenakkan untuk sementara. "Terima 
kasih" 



47 



By the end of her testimony Indrawati had transformed the courtroom into 
a stage where the battle between the true and the false was heightened by the 
personal antagonism between the participants, and the theatrical tension of 
their dialogue. The paintings had become major characters in the conflict 
by virtue of her visiting them each in turn to point out their virtues and 
their flaws. Indrawati had also enlivened the courtroom with laughter. 
Like the comic servant Twalen, the most beloved of all Wayang characters, 
whose humble appearance belies his divine origins and uncommon wisdom, 
Indrawati outsmarted the arrogant antagonists who tried to dismiss her as 
a minor player in the drama. When given an opportunity to dispute her 
testimony, Sinyo began to make a few points, but gave up. "Actually, I cannot 
have a conversation with her, because she talks too much," he said in a tone 
of resignation. 



Pada akhir dari kesaksiannya Indrawati telah mentransformasikan ruang 
pengadilan menjadi panggung dimana perseteruan diantara kebenaran 
dan kepalsuan telah dipertinggi oleh personalnya antagonis dengan para 
peserta, dan ketegangan teatrikal dari dialog mereka. Lukisan-lukisan 
tersebut menjadi karakter pokok di dalam konflik dengan kebaikannya 
telah mengunjunginya semua satu persatu bergiliran untuk menunjuk 
kebenarannya dan kecacatannya. Indrawati juga meramaikan ruang sidang 
pengadilan dengan penuh tawa. Seperti abdi yang lucu Twalen, yang paling 
dicintai dari sekian banyak tokoh dalam wayang yang karena kerendahan 
hati penampilannya terbentang sifat asli ketuhanan dan kebijaksanaan yang 
tidak asing, Indrawati jauh lebih pintar dibanding antagonis yang arogan 
yang mencoba untuk membebaskan dia sebagai pemain minor di dalam 
drama. Ketika dia diberikan kesempatan atas perselisihan kesaksiannya, 
Sinyo mulai membuat beberapa poin, akan tetapi menyerah. "Sesungguhnya 
saya tidak bisa bercakap-cakap dengannya, karena dia berbicara terlalu 
banyak" katanya dalam suara mengundurkan diri. 



Indrawati had the last word, responding to Sinyo's accusation that she had 
physically attacked the false paintings in his gallery by reminding the court 
she had already been cleared of those charges in a prior trial. "I would add," 
she concluded, "that... during the time I was put on trial, the witnesses 
contradicted him (Sinyo)." 



Indrawati mempunyai kata terakhirnya, memberi respon pada tuduhannya 
yang secara pisik dia telah serang pada lukisan-lukisan palsu di dalam 
galerinya dengan mengingatkan pengadilan dia sudah secara gamblang 
terhadap tuntutannya pada peradilan terdahulu. "Saya mau tambahkan," dia 
menambahkan, "bahwa., selama kurun waktu saya perkarakan, para saksi 
mengkontradiksi dia (Sinyo)." 



Indrawati had set the tone of the trial, by refusing to be bound by the traditional 
decorum of the law, turning the courtroom into both an art gallery and a 
stage. She had also initiated an inquiry into the deeper meanings of truth and 
falseness that went beyond simply determining whether or not a painting was 
counterfeit. In recounting her first meeting with an employee in Sinyo's gallery 
she quoted herself as saying that Gunarsa's paintings "embody the image of 
Indonesia.... Why are you falsifying Bali itself?" Her question to the gallery 
employee was for her the heart of the trial's meaning. She saw in Gunarsa's 
paintings the "image of Indonesia.... especially Bali" and that is what she felt 
was being falsified by the forged paintings. When pressed to define what is 
was that differentiated the original paintings of Gunarsa from the copies. 



Indrawati telah menseting sifat peradilan, dengan menolak untuk diikat oleh 
kesopanan tradisional dari hukum, memutar ruang pengadilan menjadi galeri 
seni dan tempat pertunjukan. Dia juga menginisiasikan sebuah penyelidikan 
ke dalam arti yang lebih dalam dari kebenaran dan kepalsuan yang 
melampaui hanya untuk menentukan apakah ya atau tidak lukisan tersebut 
dipalsukan. Dalam menceriterakan pertemuan pertamanya dengan pekerja 
di galerinya Sinyo dia mengutip pembicaraan dirinya bahwa lukisannya 
Gunarsa "perwujudan kesan Indonesia... Kenapa kamu memalsukan Bali 
sendiri?" Pertanyaannya kepada pekerja galeri baginya merupakan hal yang 
paling esensial dalam pemeriksaan pengadilan. Dia melihat pada lukisannya 
Gunarsa "citra Indonesia.... khususnya Bali" dan itulah yang mebuat dia 



48 



FAKE PAINTING 
LUKISAN PALSU 



NYOMAN GUNARSAS TRUE PAINTING 
LUKISAN ASLI NYOMAN GUNARSA 




On this sticker is written "The work of Nyoman Gunarsa" 

Sticker yang tertuliskan karya Nyoman Gunarsa 



Lukisan tiruan (palsu) yang diketemukan di CelHni Gallery milik Hendra Dinata 

alias Sinyo, Jl. Gatot Subroto Denpasar. 

This falsified painting was found in the Cellini Gallery, owned by Hendra Dinata, 

alias Sinyo, Jalan Gatot Subroto, Denpasar. 

Foto ini diambil oleh Indrawati Gunarsa, sewaktu Polisi dari Polda mengantar ke Gallery 

Cellini Jl. Gatot Subroto Denpasar untuk mencari kebenaran bahwa Gallery tersebut 

menjual lukisan tiruan (palsu) Nyoman Gunarsa. 

This photo was taken by Indrawati Gunarsa, at the time that officers from the district police 

accompanied her to Gallery Cellini on Jalan Gatot Subroto to confirm that the gallery was 

selling paintings falsely attributed to Nyoman Gunarsa. 




This painting was used for comparative purposes in the investigation by Balinese District Police. 
Pembanding baru yang dipergunakan oleh penyidik Polda Bali. 



49 



she used the Javanese phrase 

"mbalung sumsum" to explain 

that her husband had assimilated 

the music and movements of 

Balinese sacred dances "in the 

marrow of his bones," and that 

it was this cultural essence that 

he communicated through the 

'soul' of his artistry. With those 

remarks Indrawati made it clear 

that in the case of Gunarsa's artwork, the court could not fairly determine the 

nature of truth and falsity in the visible world of commerce and copyright 

without examining the nature of truth and falsehood in the invisible world of 

spiritual beliefs that are at the core of Bali's cultural identity. Her husband's 

testimony would amplify those ideas, and other 'experts' would also refer to 

the 'soul' of his paintings, but Indrawati was the first to link Gunarsa's case 

to the invisible world of niskala and the falsification of cultural identity. 





merasa telah dibohongi oleh 
pemalsu lukisan. Ketika ditekan 
untuk mendefinisikan apakah 
yang membedakan lukisan 
aslinya Gunarsa dari copynya, 
dia gunakan frase bahasa Jawa 
"mbalung sumsum" untuk 
menerangkan bahwa suaminya 
telah mengasimilasikan musik 
dan gerakan tari sakral Bali "di 
dalam sumsum tulangnya," dan itulah esensi dari kebudayaan ini dan dia 
mengkomunikasikannya melalui jiwa dari keterampilan kesenimanannya. 
Dengan ucapannya itu Indrawati membuatnya jelas bahwa di dalam kasus 
karyanya Gunarsa, pengadilan tidak dapat secara adil menentukan secara 
alami kebenaran dan kepalsuan di dunia nyata dari perdagangan dan hak cipta 
tanpa mengeksaminasi secara alami akan kebenaran dan kepalsuan di dunia 
tidak nyata dunianya kepercayan spiritual yang menjadi inti dari identitas 
budaya orang Bali. Kesaksian suaminya akan memperkuat ide tersebut dan 
ahli yang lain yang juga menunjuk pada jiwa dari lukisan-lukisannya, 
sesunguhnya Indrawati adalah orang yang pertama menghubungkan 
kasusnya Gunarsa ke alam tidak nyata yakni dunia 'niskala.' dan pemalsuan 
dari identitas budaya. 



Over the next few months more than a dozen witnesses followed Indrawati 
to give testimony. The most frequently asked question during the court's 
proceedings was "How can you identify the difference between the false 
paintings and the originals?" Almost all of the art experts, museum curators, 
and professors gave variations of the same answer. "The forgeries do not 
have the artist's "soul." They used the word "jiwa" to indicate the invisible 
essence that gave Gunarsa's work its artistic distinctiveness and 'soul.' 



Selama beberapa bulan berikutnya lebih dari selusin saksi mengikuti Indrawati 
untuk memberi kesaksiannya. Yang paling sering melayangkan pertanyaan 
selama cara kerjanya pengadilan adalah "Bagaimana saudara dapat 
mengidentifikasi perbedaan antara lukisan palsu dengan yang asli." Hampir 
seluruh dari ahli seni, museum curator, dan professor memberi variasi dari 
jawaban yang sama. "Yang palsu tidak memiliki jiwa' senimannya" Mereka 
gunakan kata "jiwa" untuk mengindikasikan esensi yang tak nampak yang 
membuat karyanya Gunarsa memiliki perbedaan artistik dan jiwa! 



It was up to Gunarsa himself to define exactly what it was that constituted 
the 'soul' of his paintings. He began his testimony with an intellectual 
definition of his style that referred to the sense of proportion, perspective 



50 



Sampai pula pada Gunarsa sendiri untuk memberi definisi persis apa yang 
mendasari dari jiwa' lukisan-lukisannya. Dia memulai kesaksiannya dengan 
definisi intektual dari gayanya yang menunjukkan pada rasa secara proporsi. 



and anatomy that differentiated his work from the forgeries, but eventually 
he felt compelled to abandon this rational approach and provide what he 
felt was irrefutable proof of his argument. He danced. Gunarsa stood 
up in the courtroom and used his own body to prove that the forgeries 
misrepresented the traditions embedded in Balinese choreography. He 
took the position of one of the dancers in the false paintings and explained, 
"You can see how a person whose legs were in a position like that would fall 
down. . . It is unbalanced." 



Gunarsa then demonstrated the correct dance stances. The spectators in 

the courtroom applauded his testimony as if it were a performance. He was 

not only defending the integrity of his identity as a painter. He was also 

defending the integrity of Balinese traditions as they are embodied in the 

movements of its dancers. The dances depicted in the paintings take place 

during sacred ceremonies. The choreography is an offering to the Gods. The 

exquisite balance displayed by the highly trained dancers is a manifestation 

of a deeper spiritual balance that is a cornerstone of the Balinese Hindu 

religion. According to Balinese beliefs, humans are engaged in an ongoing 

struggle to maintain their equilibrium in spite of forces from the invisible 

world that pull them up towards the Gods 

in heaven and down towards the demons 

of the underworld. The body of a Balinese 

dancer is a microcosm of that invisible tug of 

war, a physical embodiment oVruabineda in 

action. The elbows, rib cage, fingertips and 

toes are always straining upwards against 

gravity while the torso sinks on bended knees 

towards the ground. These conflicting forces 

pulling in opposite directions within a single 

dancer s body give Balinese choreography its 

dynamic tension and spiritual integrity. To 

depict these sacred dances in careless copies 

that are "unbalanced" is an artistic travesty 

verging on sacrilege. The forgeries not only 




perspektif, anatomi yang membedakan karyanya dengan yang palsu, akan 
tetapi pada akhirnya dia merasa terpaksa untuk mengabaikan pendekatan 
rasional ini dan menyediakan apa yang dia rasa sebagai bukti yang tidak 
dapat dibantah dari argumentasinya. Dia menari. Gunarsa berdiri di ruang 
pengadilan dan menggunakan badannya sendiri untuk membuktikan lukisan 
yang palsu itu salah penyajian tradisi yang terpancang dalam koreografi Bali. 
Dia mengambil satu posisi dari satu lukisan palsu dan menerangkan, "Anda 
akan melihat bagaimana seseorang dengan kakinya dalam posisi seperti itu, 
dia akan jatuh... Itu tidak seimbang" 

Gunarsa kemudian mendemonstrasikan cara berdirinya seorang penari 
yang benar. Pengunjung di dalam ruang pengadilan bertepuk tangan atas 
kesaksiannya sepertinya itu adalah sebuah pertunjukan. Dia tidak hanya 
mempertahankan integritas dari identitas dirinya sebagai pelukis. Dia 
juga mempertahankan integritas dari tradisi Bali seperti semuanya sebagai 
perwujudan di dalam gerakan tariannya. Para penari yang digambarkan 
dalam lukisannya mengambil tempat pada upacara sakral. Koreografinya 
adalah sesajen persembahan kehadapan Tuhan. Keseimbangan yang indah 
dipertontonkan oleh penari yang terlatih adalah sebagai manifestasi dari 
kedalaman keseimbangan spiritual sebagai dasar bagi orang Bali yang 

beragama Hindu. Menurut kepercayaan orang 
Bali manusia adalah bersentuhan dengan 
pergumulan yang tak pernah berkesudahan 
mempertahankan keseimbangan kendatipun 
ada tekanan dari dunia tidak nyata yang 
menarik semuanya ke atas menuju Tuhan di 
sorga dan turun ke arah alam raksasa di bawah 
bumi. Badan penari Bali adalah mikrokosmos 
dari kekuatan yang saling tarik menarik 
sebagai perwujudan ruabineda dalam gerak 
secara pisik. Siku, tulang belikat, jari tangan 
dan jari kaki selalu membuat ketegangan naik 
melawan grafitasi sementara batang tubuh 
tenggelam dalam bengkokan lutut menuju 
lantai. Kekuatan yang bertentangan ini tarik 



51 



52 




diminish the reputation of the painter, they diminish the reputation of the 
island and its culture as well. 



Gunarsas use of dance as courtroom evidence reveals the extent to 
which traditional Balinese performing art forms have shaped his identity 
as a painter. When challenged to define the 'soul' of his work, Gunarsa 
instinctively began to move, accompanying his improvised choreography 
with gamelan melodies that he hummed to himself as he shifted his limbs 
into positions that matched the lines he had drawn into his paintings of 
the dancers. In a 2003 interview Gunarsa said that his paintings were 
inextricably linked to the traditional Balinese music he listened to when 
he drew them. "I am drawing the lines as I would sing," he said at the time. 
"I set the colors as I would dance... My lines are my music. My colors are 
my dance." (Wayan Sukra, Moksa, Jakarta: 2003, p. 37) Now Gunarsa was 
demonstrating that claim in a courtroom, dancing his colors and singing his 
lines before a judge. 



When he argues for copyright laws as a means of maintaining the integrity 
of Bali's traditional arts, Gunarsa is not talking about a hollow quest for 
authenticity that would lead to the rigid mummification of form and content. 
He is fighting for the vibrant Balinese traditions that are constantly evolving 
and responding to political, social, and artistic influences from Indonesia 
and abroad. Like many Balinese performing and visual artists Gunarsa's 
work has been influenced by foreign sources, but it remains deeply rooted in 
the traditions that give Balinese art its distinctive spirit. He calls this blend 
a 'local-universal' style. 



menarik ke arah yang bertentangan dalam badan setiap penari memberi 
koreografi ketegangan dinamika dan spiritual integritas. Untuk melukis 
tarian sakral seperti ini dalam copian yang kurang peduli pada membuatnya 
'tidak seimbang adalah sebuah artistik parodi diambang pelanggaran pada 
hal-hal yang dianggap keramat. Pemalsuan tidak saja menurunkan reputasi 
pelukisnya, mereka menurunkan reputasi daerahnya dan budayanya juga. 

Gunarsa menggunakan tarian sebagai bukti dalam ruang persidangan 
mengungkapkan tingkatan yang mana seni pertunjukan Bali dibentuk 
oleh identitasnya seperti halnya pada pelukis. Ketika menantang untuk 
mendapatkan jiwa dari karyanya, Gunarsa secara naluriah mulai bergerak 
menyertai improvisasi koreografinya dengan melodi gamelan yang dia 
senandungkan sendiri sewaktu dia membentuk anggota tubuhnya ke dalam 
posisi yang cocok dengan garis yang dia goreskan kedalam lukisan penari- 
penarinya. Bertahun-tahun sebelum pemeriksaan pengadilan dia pernah 
memberi tahu seorang pewawancara (Wayan Sukra, Moksa, Jakarta: 2003. p. 
37) yang lukisannya tidak mungkin dapat melepaskan diri dari keterkaitannya 
dengan musik Bali tradisional yang dia dengarkan sewaktu dia melukis. 
"Saya menggoreskan garis-garis seperti saya sedang bernyanyi" katanya pada 
waktu itu. "Saya set warnanya seperti halnya saya mau menari... Garis saya 
adalah musik saya. Warna saya adalah tarian saya" Sekarang Gunarsa telah 
mendemonstrasikan tuntutan tersebut dihadapan hakim di dalam ruang 
persidangan, menari adalah warnanya dan bernyanyi adalah garisnya. 

Manakala dia memperdebatkan untuk hukum hak cipta sebagai artian untuk 
memelihara integritas seni tradisional Bali, Gunarsa tidaklah membahas 
tentang gaung pencaharian untuk keaslian yang akan mengantarkan pada 
kekakuan pengawetan mayat dari bentuk dan isi. Dia memperjuangkan 
untuk getaran tradisi Bali yang secara terus menerus mengembangkan dan 
menjawab terhadap politikal, sosial, dan pengaruh-pengaruh artistik dari 
Indonesia dan dunia luar. Seperti banyak seniman seni pertunjukan dan 
seniman seni rupa, karyanya Gunarsa telah dipengaruhi oleh sumber-sumber 
asing, akan tetapi tetap mengakar pada tradisi yang dapat memberi pada 
khasanah kesenian Bali spirit yang berbeda. Dia sebut ini gaya campuran 
'lokal-universaV 



53 



FAKE PAINTING 
LUKISAN PALSU 



NYOMAN GUNARSA'S TRUE PAINTING 
LUKISAN ASLI NYOMAN GUNARSA 
















/ "^ *- 



' T 






X- 



••a 



^f 




'i» 



.*» 



— ^ 




^i-'d^^ 




This false painting was found in "Gallery Cellini," owned by Hendra Dinata, alias Sinyo, 

on Jalan Gatot Subroto, Denpasar. 

Lukisan tiruan (palsu) ini diketemukan di Gallery Cellini milik Hendra Dinata 

alias Sinyo, Jl. Gatot Subroto Denpasar. 




This original painting by Nyoman Gunarsa was published as part of an exhibition shown 

at the Arcade Gallery in Old Oakland, California, USA. 

Lukisan asli Nyoman Gunarsa yang telah dibukukan pada pameran tunggal 

di Arcade Gallery, Old Oakland, California USA. 



54 



At the core of Balinese art is a Hindu-animist tradition that affirms the 
interconnectedness of the invisible world of the gods and the visible world 
of man. It is also a tradition that reveres artistic expression as a means for 
keeping the connection between those worlds alive. The arts themselves are 
also connected with each other to an extent that is rarely found in Western 
artistic traditions. Balinese performing artists are trained in singing, dance, 
literature, and the playing of musical instruments, and these forms are 
rarely performed in isolation from one another. As a painter, Gunarsa has 
assimilated these interlocking visions of artistry and spirituality. 



"I listen to gamelan music when I paint so that I can give shape to the colors 
and movements that are in the melodies," he explains. "I do not always 
achieve my goal, but my ideal desire is to paint the essence of the music." 
Gunarsa's understanding of the link between traditional music and painting 
is rooted in Balinese religious beliefs. Sacred books preserved in the form of 
palm leaf manuscripts called lontars explain the connection in detail: Each 
musical note in the pentatonic scale is written with a sacred symbol that 
corresponds to a color, a god, a spatial direction, and a place in the human 
body. 



One of the watercolors Gunarsa painted after the trial expresses these 
overlapping relationships with a diagrammatic depiction of dancing gods 
emanating from colors that originate on the keys of a traditional metal 
xylophone from a Balinese gamelan orchestra. Other watercolors depict 
dancing human forms that grow out of the shapes of the traditional Balinese 
alphabet used in the writing of sacred religious literature like the Ramayana 
and the Mahabhrata. When Gunarsa paints, he is creating images infused 
with colors, shapes, and lines that cannot be separated from the music, 
religious stories, and sacred dances that have influenced him since childhood. 
Although he has developed his own distinctive style as an artist, it has been 
formed in the cauldron of Balinese interlocking traditional arts. When he 
fights for the intellectual property rights of Balinese artists (and by extension 



Pada intinya seni tradisi Hindu- animisme Bali yang menegaskan saling 
bertautannya dunia tidak nyata dunia dewa-dewa dengan dunia nyata 
dunianya manusia. Itu adalah juga tradisi yang memuja-muja ekspresi 
artistiknya sebagai arti untuk menjaga koneksi diantara kedua dunia itu 
hidup. Seni itu sendiri adalah juga berhubungan dengan satu sama lain untuk 
diperluas yang jarang didapat dalam tradisi artistik didunia Barat. Seniman 
seni pertunjukan dilatih dalam bernyanyi, menari, literature, dan memainkan 
musikal instrument, dan bentuk-bentuk seperti ini jarang dipentaskan dalam 
keterpisahannya dari satu elemen dengan yang lainnya. Sebagai seorang 
pelukis, Gunarsa telah mengasimilasikan pandangan terjalin ini kedalam 
keterampilan kesenimanannya dan spiritualitasnya. 

"Saya mendengarkan gamelan ketika saya melukis, dengan demikian saya 
mencoba untuk memberi bentuk pada pewarnaannya dan gerakan pada 
melodinya," katanya menerangkan. "Saya tidak selalu dapat mencapai 
tujuan saya, akan tetapi keinginan ideal saya adalah melukis pada esensi 
dari musik" Pengertian Gunarsa akan keterkaitan antara tradisional 
musik dan lukisan mengakar dalam kepercayaan agama orang Bali. Buku 
suci dipreservasi di dalam bentuk manuskrip pada daun lontar yang dapat 
menerangkan koneksinya secara detail: Setiap notasi nada musik Bali yang 
berlaras pentatonik ditulis dengan simbol suci yang berhubungan dengan 
warna, dewa, dan spasial arah, dan tempatnya dalam diri manusia. 

Satu dari lukisan cat airnya Gunarsa yang dilukis setelah pemeriksaan 
pengadilan, mengekspresikan tumpang tindihnya hubungan ini dalam 
penggambaran diagram dari tarian tubuh para dewa berasal dari warna, yang 
aslinya berasal dari bilah gender orkestra gamelan Bali. Ada lukisan cat air 
lainnya mengambarkan manusia dalam tariannya tumbuh keluar membuat 
bentuk alphabet tradisional Bali yang digunakan dalam menulis literatur 
sakral keagamaan seperti Ramayana dan Mahabharata. Ketika Gunarsa 
melukis, dia menciptakan kesan memasukkan warna, bentuk, dan garis yang 
tak bisa dipisahkan dari musik, ceritera keagamaan, dan tarian suci yang 
mempengaruhi dia sejak masa kanak-kanak. Walau dia mengembangkan 
gayanya sendiri yang khas sebagai seorang pelukis, itu telah dipalsukan dalam 
kawah dari ketersambungan Seni Bali tradisional. Ketika dia berjuang untuk 



55 



all Indonesian artists), he is fighting to preserve the integrity of a style that is 
enriched by its local heritage. The falsified copies and illegal reproductions 
of that work degrade the integrity of that vibrant tradition, diminishing the 
original work in hollow imitations. "The false paintings have my name, but 
not my soul," laments Gunarsa referring not only to his individual soul, but 
also to the soul of his island. 



Another part of Gunarsa's testimony that was as significant as his dance, but 
not as dramatic, was his response to the defense lawyer's questions about 
the meaning of abstract impressionism. Gunarsa admitted that although his 
works were essentially Balinese, they had been influenced by the abstract- 
impressionist movement. The lawyer then tried to suggest that this genre of 
art was so vaguely defined that it could not be forged. Any copy, he implied, 
could be seen as a legitimate attempt to express an abstract impression of a 
subject. While debunking the absurdity of the lawyer's questions, Gunarsa 
gave his own personal definition of abstract expressionism as it appears in 
his work. "I choose abstraction because I like to be free, especially in the 
background. Freedom. Abstraction. Expressing what cannot be seen." 



In these simple sentences Gunarsa expressed an essential element of his 
unique style: the ability to express "what cannot be seen." The invisible 
world (niskala) of spirits, ancestors, gods, and demons, that the Bahnese 
believe to be co-existent with the visible world (sekala) of their material 
lives, is represented as an "abstraction" found "in the background" of all his 
paintings. This rich background of swirling abstract shapes gives spiritual 
depth and balance to all his sketches and paintings. No matter what their 
ostensible subject matter, they are all situated in the teeming spirit world of 
niskala that is at the core of the Balinese world-view. 



hak atas kekayaan intelektual dari seniman Bali (dan dengan pengembangan 
untuk seluruh seniman Indonesia), dia berjuang untuk preservasi integritas 
gaya yang diperkaya oleh warisan lokal. Pemalsuan peniruan dan reproduksi 
legal dari kerja tersebut menurunkan integritas dari getaran tradisi, 
mengurangi karya asli karena gaungnya imitasi. "Pada lukisan palsu itu 
tertera nama saya, akan tetapi tidak jiwa saya" keluh Gunarsa menunjuk 
tidak hanya pada jiwa dirinya, tetapi juga pada jiwa tanah kelahirannya. 

Bagian lain dari kesaksian Gunarsa adalah sangat penting seperti tariannya 
dan bukan sebagai dramatik, adalah responnya kepada pertanyan pengacara/ 
pembela tentang arti dari abstrak impresionisme. Gunarsa mengakui 
kendati karya-karyanya pada intinya bercorak Bali semuanya dipengaruhi 
oleh gerakan abstrak impresionisme. Pengacara kemudian mencoba untuk 
mengusulkan bahwa jenis seni seperti ini samar-samar digambarkan yang 
tidak dapat untuk dipalsukan. Copy apa saja, dia menyiratkan akan dapat 
dilihat sebagai sebuah usaha yang sah untuk mengekspresikan subjek abstrak 
impresionisme. Sementara membuktikan ketidak benaran dari kemustahilan 
pertanyaan-pertanyaan pengacara, Gunarsa memberikan definisinya sendiri 
tentang abstrak ekspresionisme seperti yang muncul pada lukisannya. "Saya 
memilih abstraksi oleh karena saya menyukai kebebasan, khususnya pada 
latar belakang. Kebebasan. Abstraksi. Mengekspresikan secara kasat mata 
apa-apa yang tidak dapat dilihat" 

Dalam kalimat yang sederhana ini Gunarsa mengekspresikan elemen yang 
mendasar dari keunikan gayanya: kemampuan untuk mengekspresikan 
"sesuatu yang tidak nampak" Dunia yang tidak nyata Cniskalaj dunianya 
spirit, para leluhur, para dewa, dan raksasa yang dipercaya oleh orang Bali 
menjadi kelangsungkan dari dunia nyata (sekalap dari kehidupan material 
mereka adalah dipersembahkan sebagai sebuah bentuk "abstraksi" terdapat 
"dalam latar belakang" dari seluruh lukisannya. Latar belakang yang kaya 
dengan bentuk-bentuk abstrak melingkar memberi kedalaman spiritual dan 
keseimbangan untuk seluruh sketsa dan lukisan-lukisannya. Apapun pura- 
puranya pokok persoalan, semuanya disituasikan dalam padatnya spirit dari 
dunia niskala jyan^ menjadi inti dari pandangan orang Bali terhadap dunia. 



56 








>^ 



-.;"— / ' 



C (■ 



/, 






«• 



<" ^ 






^ 













^fNJs 






57 



According to Gunarsa, many of these indecipherable shapes in the 
background of his paintings are abstractions of Bahnese symbols called 
aksara. On one level the aksara are letters in the Balinese alphabet, but they 
can also be used as magically charged symbols in the chanting of mantras 
intended to influence the forces of the invisible world. The aksara are also 
associated with notes on the musical scale, colors, parts of human anatomy, 
the positions of the gods in the heavens, and supernatural weapons associated 
with each of the gods. Some versions of Balinese mythology attribute the 
origins of the aksara to the goddess of wisdom and literature, Saraswati, who 
is associated with the small lizard known in Balinese as cecek, which is also 
the word for a dot or a point. On the day designated to honor Saraswati, the 
goddess is given offerings in the shape of a cecek lizard, but they are also 
adorned with tiny dots to acknowledge the double meaning of the word and 
the fact that all written words begin with dots. Dots are the elements that 
are arranged together to form the shapes of lines and curves that make up 
the aksara letters that spell the words. Dots are also the elements that make 
up all the lines and curves in visual art, and by extension Gunarsa attributes 
the origins of all Balinese art forms to all the aksara bestowed on the world 
by Saraswati. Because Saraswati is associated with wisdom, truth, and the 
cecek lizard, it is believed that having one's words punctuated by the croaking 
of the lizard is a sign from the invisible world that the words just spoken 
were true. So it is understandable that between court sessions Gunarsa's 
thoughts and drawings would turn to the subject of Saraswati, bestower of 
truth. 



Menurut Gunarsa banyaknya bentuk-bentuk yang tidak dapat diketemukan 
ini sebagai latar belakang lukisannya adalah bentuk abstrak dari simbol- 
simbol Bali yang disebut aksara. Dalam satu tingkatan aksara adalah huruf 
dalam abjad bahasa Bali dan semuanya juga dapat digunakan sebagai 
simbol kekuatan di dalam melantunkan mantera-mantera diharapkan dapat 
mempengaruhi kekuatan dari dunia tidak nyata. Aksara jw^a diasosiasikan 
dengan notasi dalam laras karawitan Bali, warna, bagian dari anatomi badan 
manusia, posisinya para dewa di sorga, dengan senjata supra naturalnya yang 
diasosiasikan untuk masing-masing para dewa. Beberapa versi dari atribut 
mitologi Bali sebagai asal muasal dari aksara yaAin/ Dewi Saraswati lambang 
kebijaksanan dan literature, juga disosiasikan dengan binatang cecak, di 
Bali dikenal dengan nama 'cecek.' juga sebuah kata untuk penyebutan titik. 
Pada hari yang menunjuk untuk menghormati Dewi Saraswati, sang Dewi 
dihaturkan sesajen di dalam bentuk binatang cecak, di samping juga dihiasi 
dengan titik-titik kecil untuk mengakui adanya arti ganda dari kata tersebut 
dan pada kenyataannya bahwa semua penulisan kata dimulai dari titik. 
Titik merupakan elemen-elemen yang dapat diatur ke dalam bentuk garis, 
melengkung yang membentuk aksara huruf yang diucapkan sebagai kata- 
kata. Titik juga sebagai elemen yang dapat membentuk berbagai jenis garis 
lurus dan garis lengkung di dalam seni lukis, dan sebagai pembentangan 
atributnya Gunarsa sumber asli semua jenis bentuk seni dengan seluruh 
aksara memberi anugrah untuk dunia oleh Dewi Saraswati. Oleh karena 
Dewi Saraswati diasosiasikan dengan kebijaksanaan, kebenaran, dan 
binatang cecdik yang dipercayai memiliki satu kata sebutan titik (cek) dengan 
suaranya cecak sebagai tanda dari dunia tidak nyata dari kebenaran yang 
baru saja disuarakan. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa diantara 
sesi pengadilan, pikiran Gunarsa dan lukisan-lukisan akan berpaling ke 
subjek Saraswati sebagai penganugrahan kebenaran. 



In one of his drawings Gunarsa depicts the goddess floating above a cecek 
lizard surrounded by dots, while she is encircled by aksara letters of the 
Balinese alphabet. Emanating from the dots around the lizard are lines that 
point towards a dancer, a musician, a painter, a sculptor and an architect. 
This vision of the birth of the arts as being inseparable from the creation of 
aksara is consistent with Gunarsa's belief that "all Balinese art forms begin 



Satu diantara lukisannya Gunarsa menggambarkan sang Dewi mengambang 
di atas binatang cecak diitari oleh titik-titik, sementara sang Dewi diitari 
oleh aksara, huruf-huruf dari abjad Bali. Terpancar dari titik-titik diseputar 
cecak adalah garis-garis yang menunjuk ke arah penari, pemusik, pelukis, 
pematung, dan arsitektur. Pemandangan kelahiran dari berbagai bentuk seni 
kreasi tidak terpisahkan dari aksara menjadi tetap dengan kepercayaannya 



59 



with the aksara!' The background of the drawing is filled with abstracted 
miniature aksara. This sketch of Saraswati as the mother of art and literature 
is an explicit embodiment of the interpenetration of visible and invisible 
worlds that is implicit in all his work. 



One of the most sacred aksara is called the ongkara. It is a visualization of the 
syllable 'om' which is itself a conflation of three other syllables representing 
the Hindu trinity of Brahma, Siva, and Visnu. After one of the trial sessions, 
Gunarsa retreated to the comfort of the studio at his home in Klungkung, 
where he reflected on the nature of the aksara as he drew. "The fundamental 
shape of the aksara is a triangle," Gunarsa says as he sketches three triangles 
radiating outwards from the 'om' aksara. Below each triangle he draws three 
letters of the aksara alphabet. "Each letter has the elements of a dance," he 
says as he transforms the curves of the three letters into the limbs of three 
dancers, preserving the triangular core of each moving figure. Without 
reference to or knowledge of the French writer Antonin Artaud, Gunarsa is 
proving the critic s observation that Balinese dancers actually are animated 
hieroglyphs. Gunarsa is using a bamboo pencil on paper to animate the 
Balinese alphabet in a sketch that captures the essence of his approach to 
painting Balinese dance. The complex conceptual framework of this drawing 
is what Gunarsa attempted to communicate through his demonstrative 
dance in the courtroom. The sacred dances, mantras, aksara, music and 
mudra gestures of Balinese priests are all inextricably linked to one another, 
and a true representation of the dances has to take into account that spiritual 
unity. Gunarsa's dance in the courtroom illustrated the soul of his paintings 
in action. His sketch illustrated it on paper. His drawing depicted the bodies 
of Balinese dancers as animated embodiments of a sacred alphabet. 



To complete the concept he was trying to illustrate in his studio, Gunarsa 
framed the bm' aksara and the three dancing letters with drawings of the 
two most sacred figures in Balinese dance. Barong and Rangda. Barong is a 



Gunarsa bahwa, "semua bentuk seni Bali dimulai dari aksara." Latar belakang 
dari lukisannya dipenuhi dengan mininatur abstrak dari aksara. Sketsa 
Saraswati ini sebagai ibu dari seni dan literatur adalah perwujudan langsung 
dari interpenetrasi dunia nyata dan dunia tidak nyata yang terkandung pada 
semua karyanya. 

Satu yang paling sakral diantara aksara disebut ongkara. Itu adalah 
visualisasi dari silabel 'Om' yang mana di dalamnya merupakan gabungan 
dari tiga silabel perwujudan dari Sanghyang Tri Murti yakni Brahma, Siwa 
dan Wisnu. Seusai satu sesi pemeriksaan pengadilan Gunarsa mundur 
untuk menghibur diri di studio di rumahnya di Klungkung, dimana dia 
refleksikan sifat alami aksara tersebut ketika dia melukis. "Bentuk dasar 
dari aksara adalah segi tiga" kata Gunarsa sembari mensketsa tiga segitiga 
sebagai pancaran keluar dari aksara 'Om! Di bawah masing-masing segitiga 
dia melukis tiga huruf dari abjad aksara. "Setiap huruf memiliki elemen 
tarian" katanya ketika dia mentransformasikan lekukan dari ketiga huruf ke 
dalam wujud tiga penari, memelihara esensi bentuk segi tiga tersebut. Tanpa 
referensi terhadap pengetahuan dari seorang penulis Francis Antonin Artaud, 
Gunarsa telah membuktikan observasi kritis bahwa penari Bali sesungguhnya 
adalah animasi hieroglyphs (bahasa yang divisual dengan simbol-simbol). 
Gunarsa menggunakan pensil bambu pada kertas untuk menghidupkan 
abjad huruf Bali ke dalam sketsa yang dapat ditangkap esensi pendekatannya 
ke dalam lukisan tarian Bali. Konsepsi yang kompleks sebagai bingkai kerja 
dari lukisannya apa yang Gunarsa coba komunikasikan dengan demontrasi 
tariannya di ruang persidangan. Tarian suci, mantra, aksara, musik dan 
gerakan mudra tangan pendeta tidak memungkinkan keluar melepaskan 
diri hubungan satu sama lain, dan presentasi tari-tarian sesungguhnya telah 
memberitahukan persatuan spritual tersebut. Tariannya Gunarsa di ruang 
pemeriksaan pengadilan mengilustrasikan jiwa dari lukisannya dalam bentuk 
aksi. Lukisannya mengambarkan wujud dari penari-penari Bali seperti yang 
dihidupkan ke dalam wujud abjad suci. 

Melengkapi konsep yang dia coba ilustrasikan di studionya, Gunarsa 
membingkai aksara om' dengan tiga tarian huruf dengan lukisan dari dua figur 
yang paling suci yakni Barong dan Rangda. Barong adalah mahluk menyerupai 



60 




61 




62 




.,^-itii'ltfc 



-^ • ■ -:> 



Art '^ 



dragon-like creature who represents positive protective forces, and Rangda 
is a fanged demonic female who represents negative destructive forces. 
These two fantastical embodiments of ruabineda are traditionally pitted 
against one another in temple dances, and Gunarsa draws them on opposite 
sides of his dancing alphabet, singing in the low demonic growl associated 
with Rangda as he sketches her wildly flailing limbs. The painter sings the 
music associated with Barong as he draws the calmer but still vibrant form 
of the dragon. Like the dancers in his paintings, these figures are alive with 
movement, as is Gunarsa's entire body when he draws them. Part of the flow 
of movement from arm to hand to bamboo implement to paper includes 
the flicking of Gunarsa's wrist as he sketches tiny aksara between the lines 
that depict the dancing emblems of good and evil. In the end his sketch 
encompasses a microcosm of the Balinese world-view, alive with swirling 
movements of sacred dance generated by an intricate alphabet that contains 
the seeds of divine choreography in the curves and angles of each letter. It 
is a visualization of the meaning of dance in Bali that Gunarsa might never 
have put to paper if the secular courts had not forced him to define how his 
art captures the essence of his subjects. Like the fragments of choreography 
Gunarsa presented as evidence in the courtroom, his diagrammatic sketch 
is an attempt to capture the invisible truths that are encoded in the textures 
of all Balinese art forms. 



These traces of the invisible world can be found in 
the best examples of Balinese music, dance, theater, 
and visual artworks. To use his wife's phrase, 
Gunarsa has assimilated these elements of Balinese 
spiritual beliefs 'in the marrow of his bones.' They 
form the core of the artistic "soul" he believed was 




naga melambangkan kekuatan positif sebagai pelindung, dan Rangda adalah 
figure raksasa wanita bertaring melambangkan kekuatan negatif atau 
peleburan. Keduanya merupakan perwujudan fantastis dari ruabineda secara 
tradisi beradu satu dengan yang lain di dalam tari-tarian pura, dan Gunarsa 
melukiskannya kedalam dua sisi yang bertentangan pada tarian hurufnya, 
bernyanyi mengeram dalam suara rendah yang diasosiasikan dengan Rangda 
sewaktu dia mensketsa dengan buasnya mencambuk anggota badannya. 
Pelukis menyanyikan musik yang diasosiasikan dengan Barong sewaktu 
dia melukis dengan tenang namun tetap penuh getaran muncul dari figure 
naga tersebut. Seperti figur penari dalam lukisannya, figur-figur ini jelas 
nampaknya hidup dengan gerakannya sepertinya menyatu dengan gerakan 
seluruh badannya Gunarsa manakala dia melukis. Bagian dari mengalirnya 
gerakan dari tangannya ke bambu dalam mengimplementasikan ke dalam 
kertas termasuk kibasan dari Gunarsa yang meliuk sewaktu dia mensketsa 
aksara-aksara kecil diantara garis-garis yang menggambarkan emblem dari 
sifat baik dan buruk. Diakhir pensketsiannya yang meliputi mikrokosmos 
dari pandangan dunia orang Bali, hidup dengan gerakan-gerakan melingkar 
dari tarian sakral yang terlahir dari penggambaran hurup yang ruwet yang 
berisi koreografi dari biji-bijian kedewataan di dalam lingkungan dan sudut 
dari setiap huruf. Itu adalah visualisasi dari arti tarian di Bali yang mana 
Gunarsa barangkali belum pernah menaruhnya di kertas jika peradilan sekuler 
yang telah mendorong dia untuk mendapatkan bagaimana karya seninya 
menangkap esensi dari tarian Bali. Seperti fragmen dari sebuah koreografi 
Gunarsa berikan sebagai bukti di dalam ruang pemeriksaan persidangan, 
sketsa diagramatikanya adalah berkehendak untuk 
menangkap kebenaran yang tidak nampak dia 
padukan dalam tekstur pada semua bentuk seni di 
Bali. 

Penjelajahan dunia yang tidak nyata ini didapat di 
dalam contoh yang paling baik dalam Bali seperti: 
musik, tarian, teater, dan pekerjaan seni visual. 
Menggunakan frase istrinya Gunarsa yang telah 
mengasimilasikan elemen-elemen dari kepercayaan 
spiritual orang Bali ke dalam "sumsum tulangnya". 



63 



being falsified by the forged paintings in the trial, setting what he believed 
to be a dangerous precedent for the falsification of Bali's artistic and spiritual 
identity on a larger scale. Although it was ultimately the truths of the 
invisible world that were on trial in Gunarsa's case, the rhetoric of the lawyers 
focused on the more tangible and visible elements of truth and evidence 
that are appropriate to a secular court of law. But even Sinyo, a Christian, 
understood that the case was in some sense about the underlying truths of 
cultural identity, and not just about paintings. Responding to Indrawati's 
testimony, the defendant complained to the judge that she had once called 
him "a person without culture" who could not represent the character of the 
nation "because I was just a businessman." She had said nothing of the kind in 
this trial, but he had clearly been mulling over something she had said years 
ago, hoping to win his case by declaring himself a man of culture as well. So, 
when he was asked by the judge to comment on Gunarsa's testimony, Sinyo 
staged a cultural performance of his own. He dramatically called for an 
assistant to enter the courtroom. The man complied, carrying what looked 
like it might be another painting, wrapped in brown paper. Sinyo ripped 
off the paper to reveal a hand painted placard signed by Gunarsa endorsing 
the gallery where Sinyo claimed to have bought the paintings that were now 
being called false. 



Semuanya itu membentuk inti, jiwa artistiknya yang dia percaya telah 
dipalsukan oleh si pemalsu lukisan di dalam pemeriksaan pengadilan, 
menseting apa yang dia percaya akan menjadi preseden buruk dan berbahaya 
untuk pemalsuan karya artistiknya Bali dan identitas spiritual dalam skala 
yang lebih luas. Walaupun pada akhirnya kebenaran dari dunia yang tidak 
nyata terjadi pada pemeriksaan pengadilan dalam kasusnya Gunarsa, 
retorikanya para pengacara lebih terfokus pada kebenaran dan bukti-bukti 
yang elemennya kelihatan secara kasatmata yang lebih cocok untuk peradilan 
hukum sekuler. Akan tetapi kendatipun Sinyo yang menganut agama Kristen 
mengerti bahwa kasusnya dalam beberapa pengertian tentang kebenaran 
yang melandasinya dari identitas budaya, dan tidak semata tentang lukisan. 
Merespon kesaksiannya Indrawati Sinyo komplain kehadapan jaksa karena 
Indrawati pernah mengatakan dirinya "seseorang tanpa budaya" yang tidak 
dapat mewakili karakter bangsa "oleh karena saya (Sinyo) adalah hanya 
orang bisnis." Dia tidak bilang apa-apa pada pemeriksan pengadilan seperti 
ini, akan tetapi dia secara jelas mempertimbangkan atas sesuatu yang dia 
katakan setahun sebelumnya, dengan harapan untuk memenangkan kasus 
ini Sinyo mengumumkan dirinya sendiri sebagai seorang budayawan juga. 
Dengan demikian ketika dia ditanya oleh hakim untuk mengomentari 
kesaksiannya Gunarsa, Sinyo mempertontonkan pertunjukan budayanya 
sendiri. Dia secara dramatik memanggil untuk seorang pendamping untuk 
memasuki ruang persidangan. Orang itu menyetujui dengan membawa 
sesuatu yang kelihatannya itu adalah kiranya sebuah lukisan yang lain, yang 
dibungkus dengan kertas coklat. Sinyo merobek kertasnya untuk membuka 
plakat yang dilukis tangan ditunda tangani oleh Gunarsa menguasakan 
sebuah galeri dimana Sinyo mengklaim didapat dengan cara membeli lukisan 
tersebut yang kini disebut sebagai pemalsuan. 



"What was your intention in making this sign for the Switha Gallery?" he 
shouted triumphantly to Gunarsa. Then turning to the judge he declared, 
"I found this, Your Honor, in the Switha gallery... I got all the paintings 
here that are being called false from the Switha Gallery. . . So now I want an 
answer, yes or no? About this matter of Mr. Switha I invite Mr. Gunarsa to 
swear to the Gods in the ritual of sumpah cor, here and now." 



"Apa niat saudara membuat tandatangan seperti ini untuk Switha Gallery?" 
dia berteriak secara berjaya kehadapan Gunarsa. Kemudian berpaling 
kepada hakim dia mengumumkan "Saya dapatkan ini. Yang Mulia, di Switha 
Gallery.. Saya dapat semua lukisan-lukisan disini yang dikatakan palsu dari 
Switha Gallery... Dengan demikian sekarang saya butuh jawaban , ya atau 
tidak? Berkenaan dengan masalah ini dari Pak Switha saya mengundang 



65 



Gunarsa had in fact made the sign as a favor to the gallery owner, but it 
had nothing to do with the paintings under question in the trial. Gunarsa 
explained the meaning of the placard calmly, but he was incensed by Sinyo's 
introduction of a sacred ritual challenge into the court. According to 
Balinese Hindu laws a "sumpah cor" is "an oath of pouring" that involves 
going to a high priest and swearing the truth of a statement while drinking 
holy water. The implication of the ritual is that the results of the oath will be 
"poured" like water upon one's descendents, blessing them if the statement 
is true and cursing them if it is false. Since he had already sworn an oath 
to God and the state before he began his testimony, Gunarsa resented the 
implication by Sinyo that he was lying, but he was even more upset by what 
he felt was an inappropriate invocation of a sacred ceremony that could only 
be conducted by a high priest in a sacred setting. No priest would ever agree 
to perform a sacred ritual of that nature in a secular courtroom. In Gunarsa's 
mind, Sinyo, a non-Hindu, was proposing another forgery, a false ceremony 
that would be totally inappropriate to the setting at hand. Like the forged 
paintings, the very idea was "out of balance," a kind of spiritual blasphemy 
that would cheapen the ritual the way the forged paintings cheapened the 
sacred dances they depicted. It was in Gunarsa's mind an insult to the spirits 
of the invisible world. 



"Don't make things up," he shouted to Sinyo. "Don't try to divert our 
attention to blur the issues. Don't play around with swearing to the gods." 
Gunarsa raised his arms in a dramatic gesture as he spoke and the courtroom 
spectators applauded. They too sensed that the invisible world of their gods 
and ancestors was on trial along with the paintings. 



Gunarsa untuk mengucapkan sumpah dihadapan Tuhan dengan upacara 
"sumpah cor," di sini dan sekarang." 

Gunarsa pada kenyatannya membuat tanda tangan sebagai tanda kebaikan 
hati untuk pemilik galeri, akan tetapi tidak ada yang dilakukan dengan lukisan- 
lukisan dibawah pertanyaan di dalam pemeriksan pengadilan. Gunarsa 
menerangkan arti dari plakat secara tenang, akan tetapi dia telah dibuat marah 
oleh pendahuluannya Sinyo dari upacara suci ditantang di dalam pengadilan. 
Menurut hukum orang bali Hindu, "sumpah cor" adalah "sumpah kucuran" 
yang menyertakan pendeta dan bersumpah akan kebenaran dari pernyataan 
sambil menegak air suci. Implikasi dari upacara ini adalah hasil dari sumpahnya 
akan dikucurkan seperti air kepada keturunan seseorang, memberkahi dia 
bila pernyataannya benar dan mengutuk dia kalau dia itu salah. Sementara 
dia telah mengucapkan sumpah kehadapan Tuhan dan Negara sebelum dia 
memulai pemeriksaan pengadilan ini, Gunarsa marah akan usul Sinyo bahwa 
dia adalah bohong, bahkan dia lebih terganggu dengan apa yang dia rasa 
tidak pantas berdoa dengan upacara sakral yang hanya boleh dilakukan oleh 
pendeta dalam tempat yang suci pula. Tak seorang pendetapun akan setuju 
untuk menyelenggarakan upacara sakral dengan sifat alamnya dalam tempat 
sekuler seperti ruangan pengadilan ini. Dalam benaknya Gunarsa, Sinyo yang 
bukan orang Hindu, telah mengusulkan pemalsuan yang lain, upacara palsu 
yang akan sepenuhnya tidak pantas untuk situasi sekarang di pengadilan. 
Seperti pada lukisan palsu, dari ide juga "diluar keseimbangan" sejenis 
spiritual penghinaan terhadap Tuhan yang akan membuat upacara menjadi 
murahan sama halnya dengan lukisan-lukisan palsu yang membuat murahan 
penari sacral yang digambarkan. Adalah di dalam benaknya Gunarsa sebuah 
penghinaan kehadapan spirit didunia tidak nyata. 

"Jangan mengada-ada" dia berteriak kehadapan Sinyo. "Jangan mencoba 
mengalihkan perhatian kita untuk tujuan mengaburkan masalah. Jangan 
berputar dengan bersumpah kepada Tuhan" Gunarsa mengangkat tangannya 
dalam gerakan dramatic ketika dia berbicara dan pengunjung di dalam 
ruang persidangan bertepuk tangan. Mereka terlalu perasaan bahwa dunia 
tidak nyata dari Tuhan mereka dan para leluhurnya berada dalam sidang 
pengadilan bersama lukisan-lukisannya. 



66 



Ajfter months of testimony from expert witnesses on both sides, the 
judges handed down a mixed verdict that was inconclusive and full of 
contradictions, a muddled model of ruabineda run amok. Gunarsa's 
courtroom dance had been persuasive in helping to convince the judges 
that the paintings were in fact forgeries. But in a confusing, almost farcical 
decision, they declared that since the paintings were false, and had been 
proven not to be the work of Gunarsa, they could not be protected as his 
work under copyright law. Sinyo and his associates were cleared of all 
charges, and no one was convicted of wrongdoing. Gunarsa was crushed. 
He vowed to appeal to the high court in Jakarta, but while he waited for a 
decision about whether or not they would hear his case, the artist's thoughts 
turned back to the still higher court of the invisible world. While he was 
waiting for a reprieve from the injustice he had received at the hands of the 
judges in the visible world of sekala, he would revisit the satisfaction he 
had enjoyed while watching the trial imagined by the wayang puppets in 
the invisible world of niskala. Some of the events depicted in the shadow 
puppet play had been prophetic. Performed a week before the trial began, 
the wayang enacted scenes that would later occur in court. The puppet play 
had foreseen the manipulation of the law at the same time 
that it had clarified ethical issues that had been blurred 
by the legal rhetoric of the trial lawyers. In the months 
that followed the trial's muddled verdict, Gunarsa often 
returned to the trial as it had been depicted on the wayang 
stage, painting its characters repeatedly, mimicking the 
voices of the puppets, reflecting on the insights of the 
clowns, and even envisioning a sequel. 




Setelah sebulan kesaksian dari saksi ahli dari kedua belah pihak diperiksa, 
para hakim meneruskan dengan keputusan campuran yang mana belum 
selesai dan penuh dengan kontradiksi bercampur aduk seperti rua bineda' 
menjadi rusuh. Tariannya Gunarsa dalam ruang persidangan telah 
membujuk untuk meyakinkan para hakim bahwa lukisan-lukisan pada 
kenyataannya adalah dipalsukan. Akan tetapi dalam keputusan yang sangat 
membingungkan dan bahkan cendrung sebagai sebuah lelucon, mereka 
mengumumkan bahwa sesungguhnya lukisan-lukisan tersebut dinyatakan 
tiruan, dan telah dibuktikan bukan hasil karyanya Gunarsa, semuanya itu 
tidak bisa dilindungi sebagai karyanya dihawah hukum hak cipta. Sinyo dan 
seluruh asosiasinya dibebaskan dari semua tuntutan dan tak seorangpun 
dihukum karena melakukan pelanggaran. Gunarsa dihancurkan. Dia 
berjanji untuk memohon/naik banding ke Mahkamah Agung di Jakarta, 
akan tetapi sementara dia menunggu pada keputusan apakah juga mereka 
tidak mendengarkan kasusnya, pikiran seniman beralih lagi ke hal: masih 
ada pengadilan lebih tinggi di dunia tidak nyata. Sementara dia menunggu 
penangguhan hukuman dari ketidak adilan dia menerima keputusan para 
hakim dari dunia nyata dunia Sekala, dia akan mengunjungi kembali untuk 
kepuasan dengan membuat kesenangan dirinya sambil 
melihat peradilan yang diimajinasikan dalam wayang kulit 
di dunia maya, dunia Niskala. Beberapa peristiwa yang 
dilukiskan di dalam pertunjukan wayang telah menjadi 
ramalan, menetapkan adegan pembabakan yang nantinya 
terjadi di pengadilan. Yang lain mengklarifikasi isu ketika 
yang telah dikaburkan oleh retorika hukum dari peradilan 
para pengacara. Bulan-bulan berikutnya setelah peradilan 
dengan keputusannyayangbercampur aduk, Gunarsasering 
kembali ke pengadilan seperti itu melukiskannya ke dalam 
pertunjukan wayang, melukis tokoh-tokohnya berulang 
kali, menirukan suara-suara wayang mencerminkan 
pengertian yang mendalam dari tokoh panakawan dan 
bahkan memimpikan kelanjutannya. 



67 



PUPPET JUSTICE: 

The Shadows of 
Clowns and Kings 

Keadilan dalam 
Wayang: 

Bayang-bayang para Panakawan 
dan Raja 




69 



"The path of life is full of choices between what is false and what is true, 
so we as human beings have to decide: Do we want to become false or 
do we want to become our true selves? Watching the shadow puppet 
characters, the choice is clear." 

- I Wayan Nardayana, the shadow puppet master known as 
'Dalang CenkBlonk.' 



"Jalan hidup ini penuh dengan pilihan diantara apa itu salah dan apa 
itu benar, dengan demikian kita sebagai manusia harus memutuskan: 
Apakah kita ingin menjadi pembohong atau apakah kita memilih 
kebenaran kita dalam diri? Dengan melihat pertunjukan tokoh-tokoh 
dalam wayang kulit, pilihan menjadi jelas." 

- I Wayan Nardayana, seorang dalang yang dikenal dengan 
sebutan dalang Cenk Blonk. 



When Gunarsa visits the puppet master I Wayan 

Nardayana at his home in the village of Belayu 

he wears the traditional sarong, sash, and 

headdress the Balinese wear when going to sacred 

ceremonies. Although their meetings are friendly 

and informal, a conversation between two artists 

who have reached the pinnacles of their respective 

fields, Gunarsa wears these clothes as a sign of 

respect. "Visiting a dalang is like visiting a priest," 

he says with a laugh, but there is a bit of truth in 

Gunarsa's joke. The word dalang is an honorific 

term that implies much more than its awkward 

English language equivalent: "shadow puppet 

master." The dalang has mastered the art form of 'wayang kulif ('shadows 

of skin or leather'), a genre of puppetry with deep sacred significance to 

the Balinese. Mastering the form involves not only learning the technical 

skills of manipulating the puppets, but also studying the Mahabhrata, 

Ramayana, and other sacred texts that are enacted in improvised episodes 

during the performances. Many shadow puppet plays are performed as 

part of ceremonial temple festivals, but even the ones performed in secular 

settings are preceded by ritual offerings, chants, and prayers. 




Ketika Gunarsa mengunjungi dalang Wayan 
Nardayana di desa Belayu dia mengenakan 
busana tradisi memakai sarung dan kain sebagai 
ikat pinggang, dan ikat kepala, tataan busana yang 
biasa dikenakan ketika mengikuti upacara sakral. 
Kendati perteman mereka adalah bersahabat dan 
bersahaja, percakapan diantara kedua seniman 
yang telah mencapai puncak dari bidang keahlian 
yang dihormati, Gunarsa mengenakan busana 
ini sebagai wujud rasa hormatnya. "Mengunjungi 
dalang sama halnya mengunjungi pendeta" 
katanya sambil tertawa, akan tetapi ada unsur 
benarnya dari guraunya Gunarsa. Kata dalang 
adalah sebutan kehormatan yang menyiratkan lebih jauh dari kekakuan 
Bahasa Inggris untuk hal yang sejajar: "shadow puppet master" Seorang 
dalang adalah piawi akan bentuk seni pedalangan dari "wayang kulit" 
(wayang yang dibuat dari kulit sapi ditatah), sebuah jenis dari pewayangan 
dengan arti sakral yang sangat dalam bagi masyarakat Bali. Untuk menjadi 
ahli dalam bentuk ini melibatkan tidak hanya mempelajari keterampilan 
teknik memainkan wayang, akan tetapi juga mempelajari Mahabharata, 
Ramayana, dan beberapa teks sakral yang lain yang dapat ditetapkan dalam 
improvisasi pada episode dalam pementasan. Banyak pertunjukan wayang 
kulit dipentaskan sebagai bagian dari upacara-upacara di pura, dan bahkan 
yang dipentaskan dalam pengaturan untuk kepentingan sekulerpun didahului 
dengan ritual menghaturkan sesajen, mantra, dan doa. 



70 




71 



A special form of shadow puppetry called wayang 

lemah ('day shadows') is staged without a screen 

or light source, so that the painted leather puppets 

can be seen directly as they enact scenes from the 

Ramayana or Mahabhrata above a string stretched 

between two tree branches stuck in the ground. This 

form of shadow play where the sun is the only source 

of light is a ritual requirement for many ceremonies. 

Because it is viewed primarily as a performance for 

the gods, the Balinese rarely pay attention to it, 

but if it were not staged, the ceremony would be 

viewed as incomplete and ritually invalid. One day 

of the Balinese religious calendar is set aside for 

honoring the shadow puppets. It is called Tumpek Wayang ('the Saturday 

of the Puppets'), and on that day offerings of flowers, fruit, and rice cakes 

are presented to the puppets, which are housed in special shrines. People 

who are born during the week of 'Tumpek Wayang are considered to be 

especially vulnerable to the demon of time (Kala) and often ask dalangs to 

come to their homes on their birthdays to stage a ritually protective 'wayang 

lemah' about the god Siwa's son who was saved from Kala by a dalang who 

hid the child behind his puppets. 




Whenever a wayang play is staged for a special 
occasion, the dalang meets with the host to 
discuss ways in which the original stories from the 
Mahabhrata, Ramayana, or other sources might 
be adapted or updated to fit the situation being 
observed: wedding, cremation, temple anniversary, 
etc. A few weeks before the 2007 trial in Denpasar, 




Bentuk special dari pertunjukan wayang yang 
disebut 'wayang lemah' (wayang siang hari) yang 
dipentaskan tanpa layar (kelir) atau lampu sumber 
cahaya, dengan demikian pewarnaan kulit wayang 
dapat dilihat langsung sewaktu mereka memainkan 
adegan dari Ramayana atau Mahabharata di atas 
seutas benang yang dibentangkan diantara dua 
cabang pohon yang ditancapkan di pohon pisang. 
Bentuk pertunjukan wayang seperti ini dimana 
surya adalah sumber cahaya yang menjadi bagian 
dibutuhkan untuk beberapa upacara. Oleh karena 
itu kelihatannya sebagai sebuah pementasan untuk 
para dewa, orang Bali kurang memberi perhatian 
kepadanya, akan tetapi bila tidak diadakan upacaranya dipandang kurang 
lengkap secara ritual keagamaan kurang sempurna. Satu hari menurut 
kalender keagamaan orang Bali ditentukan hari untuk menghormati wayang 
kulit. Hari itu disebut "Tumpek Wayang" (Sabtu Keliwon wuku Wayang), 
dan pada hari itu sesajen yang dibuat dari rangkaian bunga, buah, dan 
jajan dari beras dipersembahkan kehadapan wayang yang ditempatkan 
khusus di tempat suci. Orang-orang yang lahir pada hari-hari minggunya 
wuku wayang dipertimbangkan menjadi sangat berbahaya dari kejaran 
Hyang Kala, dan dalang sering diminta untuk datang kerumahnya pada 
hari kelahirannya untuk pementaskan wayang 
sapuh leger untuk tujuan perlindungan seperti 
putranya Hyanga Siwa yang selamat dari kejaran 
Bhatara Kala dan diselamatkan oleh dalang dengan 
bersembunyi dibelakang wayang. 

Bilamana pertunjukan wayang dipentaskan untuk 
peristiwa tertentu, ki dalang bertemu dengan si 
penanggap untuk membicarakan jalan yang mana 
ceritera aslinya dari Mahabharata, Ramayana 
atau sumber ceritera lainnya kiranya diadopsi atau 
diperbaharui untuk penyesuaian dengan situasi 
yang sedang di amati: perkawinan, kremasi, upacara 



72 




1 





Gunarsa asked Nardayana if he could perform a shadow play that might have 
some relevance to the issue of copyright protection. The dalang agreed. 



"As soon as Mr. Gunarsa told me his situation I knew immediately that 
the story of "Anggada Palsu" ("The False Anggada") would fit perfectly," 
said Nardayana, whose nickname as 'Dalang CenkBlonk' comes from the 
names of two ancient wayang clown characters, Cenk and Blonk, whom he 
resurrected as his trademark characters. They appear at the end of all his 
stories as representatives of ordinary people commenting on the meaning 
of the play and its relevance to the current concerns of the audience. This is 
a function that is also served by the two pair of clown servants that appear 
in every Balinese shadow play (Twalen & Merdah, Delem & Sanggut), 
but Cenk and Blonk are especially ridiculous free spirits whose satirical 
commentary gives Nardayana's performances a unique twist. Their 
distinctive voices have helped to make Dalang CenkBlonk the most sought- 
after puppet-mater on the island of Bali. In telling the story of "The False 



odalan di pura dan yang lainnya. Beberapa minggu sebelum peradilan tahun 
2007 di Denpasar, Gunarsa meminta kepada Nardayana mempertunjukkan 
wayang kulit yang kiranya mempunyai beberapa relevansi dengan masalah 
perlindungan hak cipta. Ki dalang setuju. 

"Demikian Pak Gunarsa memberitahu saya situasinya saya tahu tanpa 
harus berfikir panjang bahwa ceritera "Anggada Palsu" akan cocok dengan 
sempurna" kata Nadayana, yang memiliki nama kondangnya sebagai dalang 
CenkBlonk terlahir dari nama-nama dua tokoh wayang badutan yakni, 
Cenk (Nang Klenceng) dan Blonk (Nang Eblong) yang mana dia hidupkan 
dan selipkan pada bagian akhir dari keseluruhan ceritera sebagai perwakilan 
dari orang kebanyakan berkomentar terhadap kepedulian masalah kekinian 
penonton. Fungsi seperti ini juga dilakukan oleh dua pasang punakawan 
yang selalu hadir pada setiap pementasan wayang kulit Bali yakni (Twalen & 
Mredah, Delem & Sangut), akan tetapi Cenk dan Blonk adalah terutamanya 
menggelikan spirit bebas (membebaskan minuman keras) yang komentar- 
komentarnya yang menyindir menjadikan pertunjukan wayangnya Nardayana 
unik membelit, dan telah membuat membantu dia menjadi dalung yang paling 



73 



Anggada" Nardayana used the comic dialogue of these six 
clown figures to inform the audience about the relevance of 
the ancient allegory to the modern copyright trial that was 
about to take place in Denpasar. They make their points 
through jokes and puns that make the complex ethical 
issues accessible and palatable to the diverse audiences 
who attend shadow plays for a variety of reasons, from a 
desire for pure entertainment and the fulfillment of social 
obligations to a hunger for philosophical enlightenment or 
simple curiosity. 



The night that Nardayana performed "The False Anggada" in 
Denpasar's Puputan Square, the open grassy field was crowded with thousands 
of spectators who had read about the free event in the newspapers. Gunarsa 
sat on the ground in front of the screen like everyone else, wondering what 
the dalang would say. Although Gunarsa had suggested the play's theme, he 
had no idea how Nardayana would actually make the connection between 
the characters of the Ramayana and the modern problems of copyright 
enforcement. The dalang had performed this story before, but never with 
this particular theme. "The False Anggada" is in the category of plays called 
Kawi Dalang ("Inventions of the Puppet Masters"). Although the characters 
in the story like King Rama, the monkey general Hanuman, and his brother 
Anggada, are all found in the Hindu epic Ramayana, the specific incidents 
in the story were invented by the dalang. 




"In Balinese wayang," explains Nardayana, "many of the stories come from 
India. But some of the stories were created in Bali to relate to problems that 
are particular to Bali. They are grafted onto the original and give rise to a 
new branch of the story. The dalang is free to create a new branch of the 



digandrungi di Bali. Di dalam membawakan ceritera dari 
"Anggada Palsu" Nardayana menggunakan komik dialog 
dari enam tokoh panakawan untuk menginformasikan 
kehadapan penonton tentang relevansi dari kiasan kuno ke 
dalam masalah moderen tentang peradilan hak cipta jelang 
mengambil tempat di Denpasar Mereka membuat poin- 
poin melalui lelucon dan silat lidah yang membuat isu-isu 
etika dapat diakses dan menjadi enak untuk penonton yang 
menyaksikan pertunjukan wayang, mereka terdiri dari 
berbagai lapisan yang hadir dengan alasan yang bervariasi, 
dari keinginan sekedar menghibur dan pemenuhan 
kewajiban sosial sampai pada kehausan akan filsafat- 
filsafat sebagai pencerahan atau sekedar ingin tahu. 



Malam hari ketika Nardayana mempertunjukkan ceritera 
"Anggada Palsu" di tanah lapang berumput Puputan Badung ribuan 
pengunjung datang memadati dimana mereka mendapat informasi akan 
pertunjukan gratis tersebut dari surat kabar. Gunarsa duduk di tanah lapang 
didepan layar seperti yang lainnya, meragukan apa yang akan dikatakan 
dalang. Walaupun Gunarsa memiliki rasa yang akan dibuat dalam 
pertunjukan, tetapi dia tidak tahu bagaimana kiranya Nardayana dapat 
membuat hubungan karakter-karakter dari pertunjukan Ramayana dengan 
persoalan masa kini akan penguatan tentang masalah hak cipta. Dalang 
sudah pernah mempertunjukkan ceritera ini sebelumnya tetapi bukan 
untuk tema khusus seperti ini. "Anggada Palsu" termasuk kategori dari 
pengemasan pertunjukan yang dikenal dengan "Kawi Dalang" (ciptaan atas 
dasar kepiawian dalang). Kendati para tokoh di dalam ceritera seperti raja 
Rama, petinggi jenderal pasukan kera Hanuman, dan saudaranya Anggada, 
semuanya terdapat dalam epik Hindu Ramayana, namun ceritera seperti ini 
secara khusus digagas dan dikemas oleh ki dalang. 

"Di dalam wayang Bali" Nardayana menerangkan, banyak ceritera datangnya 
dari India. Beberapa ceritera ada yang diciptakan di BaU yang berhubungan 
masalahnya dengan persoalan yang ada di Bali. Kemunculannya didorong 
kedalam ceritera aslinya dan dibangun sebagai cabang baru dari ceritera 



74 



plot, but there still have to be the same two sides, Rawhana on the evil side, 
and Rama on the side of truth. We can create something new and make it 
different, as long as it is faithful to the original. It is interesting to expand 
the story's range." 



tersebut. Dalang mempunyai kebebasan menciptakan cabang baru dengan 
alurnya, namun seyogyanya tetap pada kaidah dua sisi yakni Rahwana di 
sisi yang jahat dan Rama di sisi kebenaran. Kita bisa ciptakan sesuatu yang 
baru dan membuatnya berbeda sepanjang tetap setia mengacu pada ceritera 
pokoknya. Adalah sangat menggugah kehendak untuk memperluas cakupan 
ceritera" 



"The False Anggada" stays true to the epic formula of truth 

battling falsehood, with the red monkey general Anggada 

and his brother Hanuman serving the interests of the 

god-king Rama, while the son of the evil Rahwana plots 

to assassinate Rama in revenge for having killed his father 

in the war that constituted the central plot of the original 

Ramayana story. This variation on the old story focuses 

on Rahwana's son, named Maya Cakru. Many of the more 

literate audience members understand from the start that 

the character is linked to falseness just from the meaning 

of his name. Maya means illusion, and the word Cakru is 

derived from the name of Vishnu's sacred discus, a magical 

weapon called a cakra. So the villain's name connotes a false 

or illusory weapon. The last letter of the name is changed 

from 'a' to 'u' to reinforce the perception of falsehood. 

The misspelling leaves no doubt that the 'cakru' in the demon's name is an 

inauthentic replica of the god Visnu's sacred cakra. 




"Anggada Palsu" pembungkuskebenaran dengan epikformula 
dari kebenaran bertempur dengan kebohongan, dengan 
jenderal kera merah Anggada dan saudaranya Hanoman 
mengabdi pada sang Rama raja yang disegani, sementara 
anak dari raja Rahwana yang jahat merencanakan 
untuk membunuh Rama sebagai usaha balas dendam atas 
kematian ayahnya di dalam perang yang berdasar pada 
alur utama dari ceritera Ramayana. Variasi dari ceritera 
lama seperti ini difokuskan pada anaknya Rahwana yang 
bernama Maya Cakru. Kebanyakan dari penonton yang 
memahami tentang literatur mengerti sejak awal bahwa 
tokoh ini memiliki kaitan erat dengan kebohongan berdasar 
dari arti namanya. Maya berarti ilusi, dan kata Cakru 
diambil dari nama senjata saktinya dewa Wisnu yang 
bernama Cakra. Dengan demikian nama dari tokoh jahat 
ini dikonotasikan pada sebuah kesalahan atau senjata yang menyesatkan. 
Nama akhirnya diganti dari 'a' menjadi 'u' untuk lebih menekankan persepsi 
dari kepalsuannya. Salah pengucapan tidak diragukan bahwa kata 'cakru 
dalam namanya raksasa adalah tidak asli dari replika 'cakra' sucinya dewa 
Wisnu. 



The demon whose name connotes 'false imitation schemes to enter the 
palace of Rama and murder him by turning himself into a false imitation 
of Rama's trusted general, the red monkey Anggada. Maya Cakru takes 
advantage of the fact that Anggada is away from the palace. The red 
monkey has been ordered by Rama to go to heaven and bring back holy 
water that is necessary to complete a ceremony for the purification of the 
world. While Anggada is gone, Maya Cakru goes to the cemetery to ask the 



Raksasa yang namanya dikonotasikan dengan 'palsu atau imitasi' ... untuk 
masuk pada istana sang Rama dan membunuh dia dengan cara membalikkan 
dirinya ke dalam imitasi kepalsuan sang jenderal kepercayaan Rama yakni 
kera merah Anggada. Maya Cakru mengambil kesempatan pada kenyataan 
bahwa Anggada adalah pergi dari istana. Si kera merah diperintahkan oleh 
Rama pergi ke sorga dan membawa serta air suci yang sangat dibutuhkan untuk 
melengkapi sebuah upacara untuk penyucian dunia. Sementara Anggada 



75 



death goddess Durga for the power to transform himself into 
the shape of the red monkey. After the transformation he goes 
to the palace with a container of counterfeit holy water that 
is actually poison. Anggada's brother Hanuman is suspicious 
and stops the "false Anggada" at the palace gates, subjecting 
him to a test of authenticity. He speaks to the impersonator 
in monkey language, and when he does not respond in kind, 
Hanuman knows he must be an imposter. Rama's army of 
monkeys launches a war against Maya Cakru's demon followers 
and Rama's kingdom of Ayodhya is saved. 




pergi, Maya Cakru datang ke kuburan memohon kehadapan dewi 
Durga sebuah kekuatan untuk dapat menstranformasi dirinya 
ke dalam bentuk seekor kera merah. Setelah bertransformasi dia 
pergi ke istana dengan sangku berisi air suci yang sesungguhnya 
adalah racun. Saudaranya Anggada yang bernama Hanuman 
curiga dan menghentikan langkahnya Anggada palsu, di depan 
gerbang istana dan menanyakan dirinya melalui sebuah tes 
akan keasliannya. Dia berbicara dengan penyamar dalam 
bahasa kera, dan ketika dia tidak memberikan respon dengan 
baik, Hanoman mengetahui dia pasti adalah seorang penyamar. 
Pasukan Rama melancarkan serangan kehadapan raksasa Maya 
Cakru dan pengikutnya dengan demikian kerajaan sang Rama 
yakni Ayodya menjadi selamat. 



The shadow play offers an allegory about the danger of accepting false 
copies. The climactic scene in which Hanuman tests the imposter through 
the use of monkey language is the dalangs metaphor for a courtroom 
trial. Hanuman is the judge who devises a foolproof test for discerning 
the difference between the false monkey and his true brother Anggada. 
The ability to differentiate the false from the true saves the world not only 
from the murderous counterfeit demon, but also from the poisonous 
counterfeit holy water he was planning to use to pollute the ceremony that 
would cleanse the world of evil. The kingdom has been saved through 
Hanuman's wise enforcement of simian copyright law. More effective 
than a didactic lecture on the subject, the shadow 
play presents the theme of copyright with mesmerizing 
silhouettes of constantly changing shape and size that 
conjure up spectacular battle scenes and hilarious slapstick 
comedy. The monkey language test is particularly funny, 
with Hanuman's screeches of gibberish echoed feebly by 
Maya Cakru's whining responses. After his humiliation the 
demon meets his servant Delem who laments, "I forgot to 
give you a course in monkey talk." 




Pertunjukan wayang kulit memberikan kiasan tentang bahayanya menerima 
duplikat palsu. Adegan puncak ketika Hanuman memberi tes kepada yang 
palsu melalui menggunakan bahasa kera adalah metaporanya dalang untuk 
sidang pengadilan. Hanuman adalah hakim memikirkan tes yang sangat 
mudah membedakan perbedaan antara kera yang palsu dengan saudara 
aslinya Anggada. Kemampuan untuk membedakan dari yang palsu dengan 
yang asli dapat menyelamatkan dunia tidak saja dari rencana pembunuhan 
raksasa palsu, tetapi juga dari racun palsu yang dikatakan air suci yang 
dia rencanakan untuk digunakan meracuni upacara yang bertujuan untuk 
membersihkan dunia dari kejahatan. Kerajaan dapat diselamatkan oleh 
Hanuman dengan kekuatan kebijaksanaan dari peradilan 
hukum hak cipta kera. Jauh lebih efektif ketimbang dengan 
pendidikan ceramah pada pokok materi, pertunjukan 
wayang kulit menyajikan tema tentang hak cipta dengan 
bayangan mengikat secara konstan merubah bentuk dan 
ukuran dengan kenangan adegan-adegan perang yang 
dahsyat dan lelucon dan badutan yang sangat menggelikan. 
Tes bahasa yang dilakukan oleh si kera adalah sangat 
lucu, dengan siutan Hanuman yang melengking ditirukan 
dengan lemah oleh Maya Cakru dengan suara melolong. 
Setelah penghinaan ini si raksasa menemui Delem yang 



76 



mengeluhkan, "Hamba lupa memberitaku paduka pelajaran bahasa kera." 



This scene and its central metaphor would have been enough to 

entertainingly make the point that forgery is a danger to both the visible 

world of the body and the invisible world of the spirit, but wayang is a 

sophisticated art form and Nardayana is one of its most accomplished 

experts. This 'trial' scene is only the climax of a far more complex 

dramatic mechanism whose structure of overlapping sub-plots rivals the 

intricacy and depth of a Shakespearean drama. All the minor characters are 

also engaged in activities that echo the central theme of 

unmasking fraud. Like a Chinese box of mirrors within 

mirrors Nardayana's shadow play presents scene after 

scene in which the audience is invited to differentiate 

the true from the false. The ingeniously interlocking 

plot-lines are all the more remarkable when one takes 

into consideration the fact that the play was improvised 

by a single performer playing all the roles himself as 

he changed voices and manipulated the shadows of 

his puppets while sitting in a fixed position behind the 

screen. 



The dalang begins the performance by making offerings 

to the spirits of the invisible world and chanting mantras 

that invoke the inspiration of the gods. He does this 

while manipulating a mountainous egg-shaped puppet 

called a kayonan, a term derived from a word that could mean either 'wood' 

or 'idea'. The kayonan is the sacred puppet that begins and ends all wayang 

plays. In one sense it is the tree of life from which all creatures are descended. 

At the same time it is a sacred mountain, the source of all ideas and stories, 

one of which is selected by the dalang for each evening's presentation. 




Adegan ini adalah pusat dari metapora dan cukup menghibur dalam 
membuat poin bahwa pemalsuan adalah bahaya baik untuk dunia nyata, 
dunia material, maupun dunia maya yakni dunianya spirit, dengan wayang 
sebagai bentuk seni yang jelimet dan Nardayana adalah salah seorang ahli 
yang paling mampu memenuhi syarat tersebut. Adegan pengadilan ini 
adalah hanya sebuah klimak dari jauh lebih kompleks mekanisme dramatic 
yang strukturnya saling tumpang tindih dengan sub-alur dapat menyaingi 
keruwetan dan kedalaman drama sejarah Shakespeare. 
Semua karakter pendukung juga terlibat dalam aktivitas 
yang menggema pada tema inti untuk membuka kedok 
penipuan. Tak ubahnya seperi kotak cermin China 
didalam kotak cermin, pertunjukan wayang kulitnya 
Nardayana mempersembahkan adegan demi adegan 
yang mana penonton diundang untuk membedakan yang 
benar dengan yang palsu. Dengan mahirnya menjalin 
keseluruhan garis alur dan lebih luar biasa ketika dengan 
pertimbangan yang diambil oleh seseorang yang pada 
kenyataannya pementasan tersebut adalah improvisasi 
oleh seorang pelaku memainkan seluruh peran sendiri 
dengan merubah-ubah suaranya, memainkan bayangan 
dari wayangnya sambil duduk bersila dibelakang layar. 

Ki dalang memulai pertunjukannya dengan menghaturkan 
upakara kehadapan spirit didunia tidak nyata dengan 
melantunkan mantra untuk mengundang inspirasi dari 
Tuhan. Dia lakukan ini ketika dia memegang wayang 
yang berbentuk lonjong seperti telor bernama kayonan sebuah nama yang 
berarti ganda yakni 'kayu' dan 'ide.' Kayonan adalah wayang sacral dan 
selalu digunakan untuk memulai pertunjukan wayang. Dalam satu sisi 
adalah sebagai perwujudan pohon kehidupan dimana dari sana semua 
kehidupan bermula. Dalam waktu yang bersamaan adalah menjadi sumber 
dari semua ide, ceritera, satu kiranya yang dipilih oleh dalang untuk setiap 
malam disajikan. 



77 



After the kayonan prologue, Nardayana begins the story of "The False 
Anggada" with a scene depicting the true Anggada making preparations to 
go to heaven and find holy water for Rama's ceremony. Having established 
the main plot points for the audience, the dalang now puts the spotlight 
on the clown servants of the protagonist, Twalen and his son Merdah, 
sometimes also known as Malen and Werdah. Up until this point the 
short, stubby, and plump servants have bowed obsequiously to their 
master Anggada and translated his eloquent poetic language (spoken and 
sung by the dalang in Old Javanese) into the common Balinese vernacular 
most easily understood by the audience. Once Anggada leaves, the comic 
duo begin to banter with puns and coarse jokes 
whose crisp staccato rhythms would be familiar 
to aficionados of American Vaudeville and 
the English Music Hall. Their iconic status as 
instantly recognizable character types is similar 
to the recognition granted in Italy to commedia 
dell'arte clown servants like Harlequin and 
Pulicinella, the primary diff"erence being that 
commedia figures (with some exceptions) are 
relics of a half-remembered past while Twalen 
and Merdah are part of a living theatrical tradition 
that is still a part of everyday life in Bali. 




Setelah prolog kayonan, Nardayana memulai cerita "Anggada Palsu" 
dengan mengisahkan Anggada yang asli membuat persiapan untuk 
pergi ke sorga guna mendapatkan air suci untuk upacaranya sang Rama. 
Setelah menyelesaikan poin-poin pada alur utama untuk penonton, ki 
dalang kemudian memberikan penonjolan pada panakawan abdi pada sisi 
protagonist, Twalen dan putranya Merdah, terkadang juga disebut Malen 
dan Wredah. Sampai pada poin ini panakawan yang pendek, gemuk, dan 
gendut dengan posisi agak membungkuk dihadapan tuannya sang Anggada 
dan menterjemahkan ekspresi bahasa poitisnya (sebagai wawan kata dan 
nyanyian oleh ki dalang di dalam bahasa Jawa Kuno) ke dalam bahasa 

umum yang jauh lebih mudah dimengerti oleh 
penontonnya. Demikian Anggada meninggalkan 
tempat, pasangan badut ini memulai berseloroh 
dengan permainan silat lidah dan lelucon 
kasarnya dengan irama stakato mengkeriting 
yang sangat diakrabi seperti aficionados(fan) 
American Vaudeille dan English Music Hall. Status 
badutan mereka segera dapat dikenali sebagai 
model karakternya tak ubahnya dalam mengenali 
panakawan warisan commedia delVarte Italia 
seperti tokoh Harlequin dan Pulicinella (dengan 
beberapa pengecualian) adalah peningalan yang 
sebagian masih diingat sebagai peninggalan masa 
lampau, sementara Tualen dan Merdah adalah 
bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bali. 



Twalen and Merdah follow Anggada to the invisible world of heaven 
but are separated from their master and decide to take advantage of 
the opportunity to take an unplanned holiday to the invisible world of 
hell where Twalen hopes to be "refreshed." He uses the English word, an 
addition to his richly fragmented vocabulary that also includes bits of 
Latin, High Balinese, and Old Javanese to supplement the Low Balinese 
and Indonesian he uses most of the time - all of these languages and the 
cross-linguistic puns that occasionally link them are generated by a single 
performer, the dalang, who must keep track of the different language 



Twalen dan Merdah mengikuti Anggada ke dunia maya yakni ke sorga 
akan tetapi mereka berpisah dengan tuannya dan memutuskan mengambil 
kesempatan untuk mengambil liburan yang tidak direncanakan ke dalam 
dunia neraka dimana Twalen berharap untuk "refreshed" (dia menggunakan 
kata Inggris disamping dengan kayanya fragmen perbendaharaan kata yang 
juga harus digunakan sedikit bahasa Latin, Bahasa Bali Halus, Bahasa Jawa 
Kuno, dilengkapi dengan Bahasa Bali Kasar dan Bahasa Indonesia yang 
dikebanyakan dia gunakan pada setiap adegan - semua bahasa-bahasa ini 
dan silang permainan kata untuk lelucon adalah di hasilkan oleh seorang 



78 



preferences displayed by each of the play's characters. 



On their way to hell, Twalen instructs his son Merdah on the proper code 
of conduct that should be followed by servants. There are ten rules to be 
followed, each constructed around a linguistic pun on its number ("One?" 
"We should serve "won-one-derfully.".... "Four?" "For-Four-go all else to 
attend to the needs of your master." etc.). After hearing the original code of 
behavior from his father, Merdah proposes an alternative code of his own 
that involves lots of eating and goofing off. His father reprimands him for 
replacing the true code of conduct with a false one. "Your basic rules of 
conduct from one to ten are all about food. . .," he complains. "After the rice 
is eaten what does it become? Nothing more than skin, body parts, blood, 
bones, and forgive your father in advance for saying it, but it all turns into 
shit." 



Unfazed by his father's scatological reasoning, Merdah simply asks, "After 
that?" This causes his father to launch into tirade about the dangers of 
materialism. "Our life is not just about food. We cannot live only to eat, but 
we have to eat to live." Again, Merdah is unmoved. "Is there a difference?," he 
asks. Twalen takes the question as a cue to lecture his son on the difference 
between the corporal life of the body and the invisible world of the spirit, 
that both need to be nourished. He goes on to rail against the hollowness of 
television consumerism, which presents characters with fancy clothes and 
flawed morals. "But behind it all there is corruption," Twalen concludes, 
raising a theme that will continue through the shadow play, and later be 
brought up again in the courtroom, where Gunarsa suggests that corruption 
might have played a role in the twisted logic of the verdict, "because we live 
in a country where the law can be bought." 



penyaji, ki dalang, yang harus tetap menjaga perbedaan suara dipilih untuk 
memberi karakter pada masing-masing tokoh dari pertunjukan tersebut). 

Dalam perjalanannya ke neraka, Tewalen menginstruksikan anaknya Merdah 
dengan kepantasan perlakuan sesuai tatacara yang harus diikuti sebagai 
abdi. Ada sepuluh azas yang harus diikuti, masing-masing dikonstruksikan 
diseputar permainan kata dalam penomoran ("Satu?" Kita harus melayani 
" menang - satu - penuh - (bagus)derfully." .... "Empat?" "Untuk-empat- 
pergi untuk memenuhi hal yang diperlukan dari tuanmu." Dst) Setelah 
mendengarkan kode perilaku yang pantas dari ayahnya, Merdah mengusulkan 
alternative kodenya sendiri yang menyertakan banyak tentang makanan dan 
memakannya. Dia ditegur oleh ayahnya dari menggantikan dari kode perilaku 
yang benar dengan yang salah. "Landasan dasarmu dari satu sampai sepuluh 
semuanya menyangkut makanan...," dia marah. "Setelah nasi itu dimakan 
apa jadinya? Tidak ada lebih jadi kulit, bagian badan, darah, tulang, dan 
maafkan ayahmu dulu untuk membilang semua itu, akan tetapi semuanya 
itu akan kembali ke najis" 

Tidak tak diganggu oleh alasan ayahnya yang (vulgar) scatological, Merdah 
bertanya dengan sederhana, "Setelah itu?" Inilah yang menyebabkan ayahnya 
meluncurkan kedalam lama mengomel tentang bahayanya dari materialisme. 
"Hidup kita tidak hanya soal makanan. Hidup kita bukan hanya untuk 
makan, tetapi kita makan untuk hidup" Lagi-lagi Merdah tidak bergerak. 
"Ada perbedaannya itu? dia bertanya. Twalen mengambil pertanyaan tersebut 
sebagai sebuah pertanda untuk memberikan pelajaran kepada anaknya 
dalam perbedaan antara kehidupan jasmani dari badan dan dunia tidak 
nyata dari dunianya spirit, keduanya memerlukan makanan. Dia lanjut 
memagari melawan lubang menganga dari konsumerisme televisi, yang 
mempertontonkan tokoh-tokoh dengan busana yang mewah gemerlapan 
namun cacat moral. "Akan tetapi dibalik semua itu penuh dengan korupsi" 
Twalen mengakhiri pengangkatan tema yang akan dilanjutkan melalui 
pertunjukan wayang dan drama yang kemudian membentang di ruang 
pengadilan, dimana Gunarsa menyatakan bahwa korupsi kiranya telah 
memainkan peran dalam logika terbalik dari keputusan akhir, "mengingat 
kita hidup di Negara dimana hukum bisa dibeli" 



79 



The parallels between the laws encountered by the clowns in heaven and 
the laws that will be tested in Gunarsa's upcoming court case are always 
hovering in the subtext of the play, but occasionally they are mentioned 
directly in the comic banter. 



Paralel diantara hukum diketemukan oleh panakawan di sorga dan hukum 
yang akan diujikan dalam pemeriksaan pengadilan tentang kasusnya 
Gunarsa nantinya selalu menunggu dalam penantian dekat pada sub teks 
pertunjukan, akan tetapi adakalanya semua itu disebutkan secara langsung 
di dalam selorohan lelucon. 



Twalen: Let's go somewhere refreshing. 
Merdah: Where? 
Twalen: To hell. 
Merdah: What for? 

Twalen: To see the souls being judged. 
Merdah: Being judged? 
Twalen: Tomorrow will be the judging. 
Merdah: What kind of judging? 
Twalen: The judging about the copyright. 
Merdah: Is that right? 
Twalen: Yes. That is the situation there. 
Merdah: Why should we go there? 

Twalen: Well, to see how the people who hold the power of the law decide 
the cases. We will be like a team of monitors. 

Merdah: Is that how it will be? 

Twalen: Yes. Which side is right and which is not. 

Merdah: Oh, I see. 

Twalen: That is what is difficult for the people who hold the power of 

the law. They make the laws, but then they don't always enforce 
them. The law is sacred if you apply it fully. Be sure to uphold it. 
Be sure to enforce it. Because today many clever people 
manipulate the law. Our country is the cleverest... at twisting 
the law. 



These observations are followed by a reference to a recent twisting of the 
law that was fresh in the minds of the audience. Twalen suggests that there 
might be a place in hell for Amrozi, one of the three terrorists condemned 



Twalen: Mari pergi kesuatu tempat untuk penyegaran 

Merdah: Kemana? 

Twalen: Ke neraka. 

Merdah: Untuk apa? 

Twalen: Melihat para atma sedang diadili. 

Merdah: Sedang diadili? 

Twalen: Besok akan diadili. 

Merdah: Pengadilan seperti apa? 

Twalen: Pengadilan tentang hak cipta. 

Merdah: Apa itu betul? 

Twalen: Ya. Seperti itulah situasinya di sana. 

Merdah: Kenapa kita mesti pergi ke sana? 

Twalen: Yah, untuk melihat orang-orang yang memegang kekuasaan 
tentang hukum dalam memutuskan perkara. Kita sebagai 
tim monitoring. 

Merdah: Seperti itukah terjadi nantinya? 

Twalen: Ya. Dari sisi mana yang benar dan yang mana bukan. 

Merdah: Ooo begitu 

Twalen: Itulah sulitkan bagi orang-orang yang semestinya memegang 

kekuasaan hukum. Mereka membuat hukum, akan tetapi tidak 
selalu mereka memperkuatnya. Hukum itu sakral jika kamu 
aplikasikan secara penuh. Pastikan dalam memegangnya. 
Pastikan dalam memperkuatnya. Oleh karena sekarang ini banyak 
orang pintar memanipulasi hukum. Negeri kita adalah terpintar 
dalam memutar balikkan hukum 

Observasi seperti ini diikuti dengan referensi memutar balikkan fakta hukum 
menjadi segar dalam ingatan penonton. Twalen mengusulkan barangkali 
sudah ada tempatnya Amrozi di kawah neraka, salah satu dari tiga teroris 



80 



to a death sentence for the Bah Bombings of 2002, who was still alive on 
Death Row at the time of the performance, reportedly enjoying illegal 
access to cell phones, computers, and other luxuries as a result of bribes to 
his jailers. "They say he was sentenced to die," says Merdah. "The law died, 
but Amrozi is still alive," answers Twalen, stating succinctly the feelings of 
many Balinese about the law's unjust treatment of the Bali Bombers. 



When the pair arrives at the gates that separate heaven from hell, Twalen 

and Merdah discover first-hand how clever people try to 

manipulate the law by watching the newly- arrived dead 

souls trying to convince the gatekeeper Suratma that they 

deserve admission to heaven. Ihe first soul they see is called 

Wayan Polos, a name that means Mr. Virtuous. He mentions 

his neighbor Sudharma (a name that means 'follower of the 

noblest laws') who steals things all the time. Mr. Virtuous 

claims that he lives up to his name by praying regularly, 

donating more money to the temple than anyone else and 

making the biggest offerings. "I burn so many bundles of 

incense sticks," Mr. Virtuous boasts, "that I make the priest 

sneeze from all the smoke." 



Suratma is not impressed with the soul's history of fake piety, and instructs 
him at length on the difference between true religious feelings and the false 
trappings of religion. At one point he sums up the problem by decrying the 
soul's lack of spiritual balance. "You must be balanced," he repeats, using 
the same criterion for separating truth from falsehood that Gunarsa would 
later use in the trial to differentiate his paintings from the forgeries. "If you 
are not balanced, that is when things are difficult." 




dijatuhi hukuman mati karena perlakuannya peledakan bom di Bali tahun 
2002, yang ketika dilangsungkannya pertunjukan tersebut dia masih hidup, 
dikabarkan menyenangi akses ilegal menggunakan telepon genggam, 
computer, dan beberapa barang mewah sebagai hasil dari penyuapan untuk 
masa kurungannya. "Katanya dia sudah dijatuhi hukuman mati," kata 
Merdah. "Hukumnya yang mati, akan tetapi Amrozi masih hidup," jawab 
Twalen, menyatakan dengan ringkas tetapi jelas akan perasaan banyak orang 
Bali tentang hukum kurang adil dalam masalah pengeboman Bali. 

Manakala sepasang punakawan sampai pada pintu pemisah antara sorga dan 
neraka, Twalen dan Merdah menemui dari tangan pertama 
bagaimana pintarnya orang-orang mencoba memanipulasi 
hukum dengan mengamati kedatangan seorang atma yang 
baru saja meninggal mencoba merayu sang Suratma penjaga 
pintu bahwa mereka pantas dapat masuk ke sorga. Atma yang 
pertama mereka lihat adalah bernama Wayan Polos, sebuah 
nama yang berarti Pak Lugu. Dia menyebut tetangganya 
bernama Sudharma (sebuah nama yang berarti 'pengikut 
yang paling mulia terhadap hukum') yang mencuri sesuatu 
terus menerus, mengklaim dia hidup di atas namanya dengan 
berdoa secara regular, menyumbang ke pura selalu melebihi 
orang lain dan membuat sesajen yang paling besar. "Saya 
membakar banyak bungkus dupa" dia membual, "membuat 
pemangku bersin karena diliputi asap" 

Suratma tidak terkesan dengan kisahnya kealiman palsunya si atma, 
menginstruksikan dia cukup lama pada perbedaan antara rasa keagamaan 
yang benar dengan kepalsuan yang dibalut atas nama agama. Pada poin dia 
meringkas permasalahan dengan mengutuksi atma kekurangan keseimbangan 
spiritual. "Kamu harus seimbang" dia mengulangi, menggunakan ukuran 
dari pemisahan kebenaran dari kepalsuan yang Gunarsa kemudian gunakan 
di dalam pemeriksaan pengadilan untuk membedakan lukisannya dari 
pemalsuan. "Jika kamu tidak seimbang, itu yang membuat segala sesuatunya 
sulit" 



81 



After an extended debate the unbalanced soul tries to gain entrance to 
heaven by bribing Suratma, who of course refuses, and ends up being called 
a bohong lu ('big liar') by the desperate soul. In the end "Mr. Virtuous" is 
condemned to fifty years in the burning cauldrons of hell. "My god, that's 
so extreme," the soul complains. "I've only been alive for forty-five years, 
and I'll be frying for fifty." 



Suratma then encounters the soul of a prostitute who is also rejected from 
heaven. Although scenes like these are full of vulgar comedy, they also 
present serious teachings about Hindu philosophy that define the difference 
between hollow religious practice and genuine spirituality. For instance 
Suratma explains the importance of the Hindu principles of Kayika Wacika 
Manacika, which involves striving for unity of thought, speech, and action. 
Ultimately all of the scenes at heaven's gate present Suratma as a judge who 
upholds the law by clearly discerning the difference between the true and 
the false without succumbing to corruption. 



Setelah perdebatan panjang roh yang terganggu jiwanya mencoba untuk 
dapat masuk sorga dengan jalan menyuap Suratma, yang sudah barang tentu 
menolaknya, dan pada akhirnya diledek "bohong lu" oleh atma yang putus 
asa. Pada akhirya "Pak Jujur" dihukum selama lima puluh tahun di dalam 
kawah dengan jilatan api di neraka. "Ya Tuhan itu sangat ekstrim," si atma 
komplain. "Hamba hidup hanya empat puluh lima tahun, dan hamba kan 
digoreng selama lima puluh tahun" 

Suratma kemudian menjawab sang atma sebagai seorang prostitusi yang 
ditolak dari sorga. Kendati adegan seperti ini penuh dengan komedi fulgar, 
semuanya juga menghadirkan pengajaran yang serius tentang filsafat Hindu 
yang dapat membedakan perbedaan antara praktik keagamaan yang gamang 
dengan spiritual yang asli. Sebagai contoh Suratma memberitahukan prinsip 
yang penting dari ajaran Hindu adalah Kaya, Wak, Manah, yang menyertakan 
kerja keras penyatuan dari fikiran, perkataan dan perbuatan. Pada akhirnya 
semua dari adegan-adegan pintu masuk sorga ini menghadirkan Suratma 
sebagai hakim yang memegang teguh hukum dengan jelasnya memilah 
perbedaan antara kebenaran dengan kepalsuan tanpa harus mengalah untuk 
sebuah korupsi. 



When the dalang moves to depicting scenes 
involving the servants of the antagonist Maya Cakru, 
the audience sees the same problems of separating 
falsehood and truth from a new perspective. The 
clown servant Delem proclaims his desire to be 
elected village chief, then Governor, then President. 
It is up to his younger brother Sanggut to point 
out that his vision of politics is false, based on self- 
interest rather than service to the community. 



Delem responds to the dismissal of his political 
ambitions by bragging about his luxurious lifestyle, 
recounting a typical day that includes smoking clove 




Ketika ki dalang memainkan adegan yang 
menggambarkan panakawan tokoh antagonis Maya 
Carkru, penonton melihat persoalan yang sama 
yakni pemisahan kepalsuan dengan kebenaran 
dari perspektif baru. Panakawan abdi raja Delem 
mengutarakan keinginannya agar dipilih menjadi 
pimpinan desa, kemudian Gubernur, kemudian 
Presiden. Tergantung pada saudranya Sangut yaitu 
adiknya untuk menunjuk pandangan politiknya 
seperti itu adalah salah, berdasar dari keinginan 
sendiri, ketimbang sebagai pelayan masyarakat. 

Delem merespon kepada penolakan ambisi para 
politisinya dengan membual diseputar kemewahan 
gaya hidup menceriterakan kekhususan sehari- 



82 



cigarettes, soaking in a Jacuzzi with his beautiful wife, and being driven to 
the spa by a chauffeur in his luxury sedan. Again Sanggut punctures the 
false pipe dream of his brother by recounting the true nature of their lives 
as servants to Maya Cakru who spend their days performing menial jobs. 
Although he serves the side of evil in the world of wayang, Sanggut is a 
voice of truth, whose commentary is rendered more comical and poignant 
by its location in the midst of characters who are linked to falsehoods. 



At the moment that Maya Cakru is preparing to transform himself into 
the "False Anggada" Delem says that even if he and his master are taken 
to court for this crime, there will be no punishment, because "you can buy 
your way out of the law." 

Sanggut chastises his brother for his amoral thoughts. "Don't think you can 
buy your way out of the law," he says. "False words will get you punched 
in the mouth." Then Sanggut takes the argument about falsehood and 
corruption to a higher level, invoking the invisible world by talking about 
the goddess of truth and wisdom, Saraswati. 



At the end of the story, when Maya Cakru has been unmasked as a fraud 
and war breaks out between Rama's monkey army and the demon followers 
of Maya Cakru, the dalang presents an image that epitomizes the battle 
between good and evil, truth and falseness, more powerfully than any other 
in the realm of the Balinese cosmology: the battle between Rangda and 
Barong. Anggada transforms himself into the figure of Barong, a lion-like 
dragon who represents the positive, true, and protective elements of the 
invisible world, while Maya Cakru transforms himself into Rangda, who 
represents the negative, false, and destructive elements of the invisible 
world. The shadow play battle between these two fantastical creatures 
ends in the same way as all re-enactments of their clash. They fight to a 
draw. One cannot defeat the other. They are the ritual embodiments of 
ruabineda at its highest levels. Good and evil. Light and dark. Truth and 



hari termasuk mengisap rokok cerutu, berendam di dalam Jacuzzi bersama 
istri cantik, dan mengendarai sedan mewah untuk pergi ke spa didampingi 
sopir. Lagi-lagi Sangut merusak khayalan palsu saudaranya dengan 
menceriterakan keadaan alami sesungguhnya menjadi abdi untuk Maya 
Cakru. Kendatipun dia mengabdi pada sisi dari penjahat di dalam 
dunia wayang, Sangut adalah suara dari kebenaran, yang komentarnya 
mensumbangkan lebih lucu dan lebih tajam dengan penempatannya di 
tengah karakter yang berhubungan dengan kebohongan. 

Pada saat Maya Cakru mempersiapkan dirinya untuk bertransformasi 
menjadi "Anggada Palsu" Delem mengatakan bahkan dia dan tuannya 
dibawa ke pengadilan karena kejahatannya, bakalan tidak ada hukuman, 
karena "paduka bisa beli untuk bisa bebas dari jeratan hukuman." 

Sangut menghukum untuk kebaikan kepada saudaranya dari perlakuannya 
yang mempunyai pikiran tidak bermoral. "Jangan kamu kira kamu dapat 
membeli caramu keluar dari jeratan hukum," katanya. "Kata-katamu salah 
kamu akan dapat pukulan di mulutmu." Kemudian Sangut mengambil 
argumentasi tentang kepalsuan dan korupsi ke level yang lebih tinggi, 
dengan permohonan pada dunia tidak nyata melalui dewi kebenaran dan 
kebijaksanaan, yakni Saraswati. 

Pada akhir ceritera ketika Maya Cakru telah dibuka kedoknya sebagai penipu 
dan perangpun meletus antara kera-kera pasukan sang Rama melawan 
raksasa para pengikutnya Maya Cakru, disini ki dalang menghadirkan 
imajinasi bahwa perang tersebut melambangkan pergolakan baik melawan 
buruk, kebenaran dan kepalsuan, lebih kuat dibanding dengan sesuatu yang 
ada pada kenyataan kosmologi Bali yakni pertempuran antara Rangda 
melawan Barong. Anggada mentransformasikan dirinya menjadi figur 
Barong seekor singa yang mendekati bentuk naga mewakili kekuatan positif, 
kebenaran, elemen perlindungan dari dunia yang tidak nyata, sementara 
Maya Cakru mentransformasikan dirinya menjadi figur Rangda yang 
mewakili kekuatan negatif, kepalsuan, dan elemen perusak dari dunia tidak 
nyata. Pertempuran wayang kulit dari dua mahluk yang fantastis ini berakhir 
dengan ke dalam jalan yang sama keduanya sebagai pengulangan kembali 



83 



lies. None of these categories could exist 
without their opposites, their doubles, 
their shadows. 



The dalangs decision to end with this 

image foreshadowed the stalemate 

that later marked the end of Gunarsas 

copyright trial. Months later, when asked 

at his home in Belayu how he had come 

up with the structure of this particular 

shadow play, Nardayana had a short answer and a long answer. The 

short answer was one word: ''Ruabineda" 

The long answer began with the dalang stating his belief that Gunarsas 
copyright trial was essentially a story about ruabineda, so it was natural for 
the dalang to structure the play around situations that reflected variations 
on that theme, from the clown dialogues to the battle between Rangda and 
Barong. 



"In Hinduism we have the concept of ruabineda" noted Nardayana. "There 
is right and wrong. There is day and night. There is high and low. And so 
on. Rama (the hero) exists because there is Rawhana (the villain). If there 
is no Rawhana, there is no Rama. The wind exists because there is air. The 
difference between the high air pressure {tekanan tinggi) and the low air 
pressure {tekanan rendah) causes the movement {perpindahan) of the wind. 
It is like this in our lives and in the wayang. In life there is good and evil. In 
religion we call it the character of the gods and the character of the raksasa 




dari perpecahan mereka. Pertempuran 
berkesudahan dengan seri. Satu tidak 
dapat mengalahkan yang lain. Mereka 
adalah upacara sebagai perwujudan 
ruabineda dalam tingkatan yang lebih 
tinggi. Baik dengan buruk. Terang dengan 
gelap. Kebenaran dengan kebohongan. Tak 
satupun kategori ini ada ada bila tidak 
ada pertentangannya, kembarannya, 
bayang-bayangnya. 

Keputusan dalang untuk mengakhiri 
dengan gambaran bayangan kemacetan 
yang kemudian menandai akhir dari 
pengadilan hak ciptanya Gunarsa. 
Beberapa bulan kemudiannya ketika dia 
ditanya dirumahnya di Belayu bagaimana 
dia datang dengan struktur ide khususnya untuk pertunjukan wayangnya, 
Nardayana memiliki jawaban singkat dan jawaban panjang. Jawaban 
pendeknya adalah tediri dari satu kata: "Ruabineda." 
Jawaban panjangnya dimulai oleh dalang menyatakan kepercayaannya 
pada Persidangan hak ciptanya Gunarsa pada intinya adalah kisah tentang 
'ruabineda,' adalah menjadi alami bagi ki dalang untk menstruktur 
pertunjukannya diseputar situasi yang merefleksikan variasi dari tema 
tersebut, dari percakapan panakawan sampai ke perang antara Rangda 
dengan Barong. 

"Dalam kepercayaan Hindu kita memiliki konsep yang disebut dengan 
ruabineda," Nardayana memberi catatan. "Ada yang benar dan yang salah. 
Ada siang dan malam. Ada tinggi dan rendah. Dan seterusnya. Rama 
(sang pahlawan) ada oleh karena ada Rahwana (penjahat). Kalau tidak 
ada Rahwana, tidak bakalan ada Rama. Adanya angin karena adanya 
udara. Perbedaan diantara tekanan udara tinggi dan tekanan udara rendah 
disebabkan oleh perpindahan dari angin. Seperti inilah adanya dalam 
kehidupan kita dan dalam kehidupan dunia wayang. Dalam kehidupan 



84 



(demons). Now it depends on us. Which one are we going to choose in our 
hfe? Do we want to choose the true or false? The truth has its final harvests 
at the end. Falseness also has its final harvests at the end. In the afterlife 
they are called heaven and hell. Here on earth we also have heaven and hell. 
Prison is hell. Heaven is the acknowledgment you get from the community 
for your good actions. If we commit crimes, we go to jail. If we do good 
things, our actions are acknowledged by the community. In wayang it is 
also like this. We have the right side and the left side. On the right are 
the elements of truth. On the left are the elements of falseness. There are 
also characters who have traits of pretending {pura pura). The meaning of 
pretending is that someone gives the impression of being a good person, 
but he is really evil. With the insertion of a character like that the story 
comes alive. Everything is turned upside down. But in the end karmapala 
restores the balance. It is the same with a baby calf. It will never make a 
mistake while looking for its mother. Even though there are many mother 
cows around, the calf knows which one is its mother. Karma is like that. 
It will follow the one who commits the action. These are the teachings of 
Hinduism." 




terdapat adanya sifat baik dan sifat jahat. Dalam ajaran agama kita sebut 
sebagai karakter dewa dan karakter raksasa. Sekarang tergantung pada 
kita. Yang mana akan kita pilih dalam hidup ini. Apakah kita mau memilih 
yang benar atau yang salah. Pada akhirnya kebenaran akan memiliki 
panen akhir. Kebohongan juga akan memiliki panen akhir pada akhirnya. 
Di dunia sana keduanya disebut dengan sorga dan neraka. Disini di dunia 
nyata kita juga memiliki sorga dan neraka. Penjara adalah neraka. Sorga 
adalah penghargaan yang kamu terima dari masyarakat karena perbuatan 
baik anda. Jika kita melakukan kejahatan kita akan dibawa ke penjara. Jika 
kita melakukan sesuatu yang bagus kita akan diakui oleh masyarakat karena 
perbuatan baik kita. Di dalam wayang juga berlaku seperti ini. Kita memiliki 
sisi kanan dan sisi kiri. Di sisi kanan terdapat elemen kebenaran. Di sebelah 
kiri adalah elemen kejahatan. Ada juga karakter yang memiliki perangai 
berpura-pura. Arti dari pura-pura adalah dia memberikan impresi sebagai 
orang baik, akan tetapi sesungguhnya dia adalah jahat. Dengan penyisipan 
tokoh-tokoh seperti itu membuat ceritera hidup. Semuanya diputar balikkan. 
Akan tetapi pada bagian afc/z/r karmapala memulihkan keseimbangan. Sama 

halnya dengan seekor anak sapi. Dia tidak 
bakalan pernah salah dalam mencari 
ibunya kendati ada banyak induk sapi 
disekelilingnya, anak sapi mengetahui 
yang mana ibunya. Hasil akhir dari sebuah 
karma adalah seperti itu. Akan mengikuti 
seseorang yan melakukan aksinya. Seperti 
itulah ajaran dari kepercayaan Hindu." 



85 



ASTRA GENI: 

Art as a Weapon 




Astra G eni: 

Seni sebagai Senjata 



87 



"The 'astra genV is a sacred weapon that knows the 
difference between good and evil. It is used by the 
hero of the puppet play to find the wrong-doer and 
punish him no matter where he hides." 
- Nyoman Gunarsa 



Nyoman Gunarsa believes that art is the ujung tombak 
("point of the spear"), a weapon composed of words, 
images, and timeless wisdom that can be more effective 
in battle than conventional implements of war. In the 
months that followed the inconclusive court decision 
in Denpasar, Gunarsa grew impatient waiting for the 
copyright case to be decided by Indonesia's High Court in Jakarta, so he 
returned to the weapon of art. He made dozens of paintings of the wayangplscy 
that had been inspired by his case. During this period he also made sketches 
of the courtroom itself, but they were simpler and starker, far outnumbered 
by his vibrant and colorful depictions of "The False Anggada" with its cast of 
evil demons, heroic monkeys, and gods. Some of the watercolors included 
phrases that ballooned out of the characters' mouths like the dialogue in 
comic books. Through his dynamic combination of words and images 
Gunarsa brought the puppet play back to life day after day, as if the images of 
Anggada, Hanuman, and Maya Cakru were still flickering in his imagination 
like shadows on a screen. 




Eventually the shadow story playing itself out in Gunarsa's mind took on a 
life of its own, and the artist began creating paintings of scenes that did not 
take place in the original performance. "It has to have another ending," he 



"Astra geni adalah sebuah senjata suci yang 
mengetahui dengan jelas antara kebajikan dan 
kebatilan. Senjata ini digunakan oleh para ksatria 
dalam pertunjukan wayang kulit untuk mengejar 
para pelaku yang berbuat salah dan menghukum dia 
tanpa kecuali dimanapun mereka bersembunyi." 
- Nyoman Gunarsa. 

Nyoman Gunarsa percaya bahwa seni adalah "ujung 
tombak" ("the point of the spear"j, sebuah senjata 
yang dikomposisikan dari formulasi kata, kesan, 
kebijaksanaan tanpa batas waktu, dapat lebih efektif di 
dalam perang dibanding dengan implementasi perang 
konvensional. Berbulan-bulan peradilan berlangsung di 
Denpasar yang kemudian diikuti dengan keputusan pengadilan yang kurang 
meyakinkan, menumbuhkan ketidaksabaran Gunarsa dalam menunggu 
persoalan hak ciptanya untuk diputuskan oleh Mahkamah Agung di Jakarta, 
dimana dia kembali menggunakan senjata seni. Dia membuat lusinan 
lukisan pertunjukan wayang yang terlahir dari inspirasi dari persoalannya 
sendiri. Selama kurun waktu dalam persidangan dia juga membuat sketsa 
tentang suasana ruang persidangan, kesemuanya itu dibuat lebih sederhana 
dan mendekati kenyataan, jumlahnya jauh melebihi dengan penggambaran 
warna-warni yang menggetarkan dan lukisan dari "Anggada Palsu" dengan 
penokohan Raksasa jahat, pahlawan kera, dan para Dewa. Beberapa dari 
lukisan cat airnya termasuk di dalamnya bagian-bagian yang penggambaran 
mulutnya mengembung keluar dari karakter seperti layaknya berdialog 
dalam buku komik. Melalui dinamika kombinasi kata-kata dan imajinasinya, 
Gunarsa membawa pertunjukan wayang itu hidup kembali dari hari ke 
hari, seakan bayangan dari tokoh Anggada, Hanuman, dan Maya Cakru 
sepertinya masih berkerdip dalam khayalan tak ubahnya ibarat bayangan 
wayang dalam layarnya. 

Akhirnya kisah dari cerita wayang bermain dengan sendirinya keluar 
dari pikiran Gunarsa seraya mengambil kehidupannya sendiri, dan naluri 
kesenimannnya mulai menciptakan lukisan-lukisannya yang tidak pernah 



said, describing the new series of paintings. "The story has to come to a final 
conclusion." 



The first wayang performance had ended with the figures of Rangda and 
Barong battling each other to a draw in the perpetual struggle between 
positive and negative forces that is fundamental to the Balinese Hindu 
philosophy. As if its conclusion had been foretold by the puppet play, the 
trial in Denpasar had also ended in an inconclusive manner. Now Gunarsa 
felt compelled to apply another Hindu concept to the story's resolution: 
karmapala. Karmapala is a form of divine justice that metes out punishment 
for acts of evil and rewards for acts of goodness. "If you plant corn, you will 
harvest corn," he explained. "If you plant sweet potatoes, you will harvest 
sweet potatoes." 



Gunarsas reflections on karmapala 
gave birth to a new image that began 
to appear in his watercolors about 
the story. It was a magical weapon 
known in Hindu scriptures as "astra 
gem' ("the fiery weapon that sees 
the truth"). Gunarsa depicted it as a 
fiery arrow that could follow its target 
anywhere. "No one can hide from the 
astra geni" Gunarsa said pointing at 
the weapon in a painting of a demon 
trying to elude its attack. "It knows the 
difference between right and wrong 
and will follow an enemy no matter 




muncul dalam pertunjukan wayang sesungguhnya. "Semestinya harus 
memiliki kesimpulan akhir yang lain," katanya, ketika mendiskripsikan serial 
baru buah karya dari sejumlah lukisannya. "Ceritera diselesaikan seharusnya 
dengan keputusan akhir" 

Pertunjukan wayang yang pertama diselesaikan dengan menghadirkan 
pergumulan dua figur Rangda dan Barong berseteru, berakhir dengan seri 
dalam pertempuran yang tiada henti antara kekuatan positif melawan 
kekuatan negatif, menjadi landasan dasar dalam filsafat hidup umat Hindu 
Bali. Seperti halnya kesimpulan akhir yang dituturkan lewat pertunjukan 
wayang, pengadilan di Denpasar juga berakhir dalam sikap yang tak 
meyakinkan. Kini Gunarsa merasa membutuhkan untuk menggunakan 
konsepsi yang lain dari ajaran agama Hindu dalam menentukan resolusi 
ceritera yakni: karmapala. Karmapala adalah wujud dari keadilan para 
dewa yang membagikan keputusan akhir berupa hukuman untuk para 
penjahat dan penghargaan dari perbuatan yang baik. "Jika kamu menanam 

jagung, kamu akan memanen jagung" 
dia menceriterakan. "Jikalau kamu 
menanam ketela, ketelalah yang akan 
kamu panen" 

Refleksinya Gunarsa dalam konsep 
karmapala memberi kelahiran kepada 
imajinasi baru yang dia tuangkan ke 
dalam kanvas dengan pewarnaan cat 
air bertautan dengan ceritera tersebut. 
Adalah senjata "astra geni" sebuah 
senjata yang memiliki kekuatan magis 
yang digambarkan dalam buku suci 
agama Hindu (yakni sebuah senjata 
yang dapat melihat kebenaran). 
Gunarsa mengambarkannya sebagai 
sebuah senjata jilatan api yang dapat 
mengejar sasarannya kemana saja dia 
lari. Tak seorangpun dapat menghindar 



90 



how many times he changes direction. The astra geni is hke the "Exocet" 
missile of Hinduisms sacred books. It is a smart bomb against which there 
is no defense." 




Eventually Gunarsa went again to visit Nardayana at his home in the 

village of Belayu, hoping 

he could persuade the 

dalang to perform another 

shadow play in which 

the metaphorical drama 

would be resolved more 

definitively. The master 

painter began his request 

to the master puppeteer 

with the utmost simplicity. 

"It isn't finished yet," said 

Gunarsa. The dalang 

agreed to perform a sequel 

to "The False Anggada." 



Nardayana confessed that he had personal reasons for inventing a new ending 
to the allegorical wayang. A few years earlier one of his performances had 
been video-taped by copyright violators who sold pirated dvd's of his puppet 
play. This experience strengthened his belief that Indonesia's copyright laws 
shouldbe upheld in the courts for the protection of all artists. To accommodate 
Gunarsa's image of the astra geni the dalang proposed another story about 
Anggada in which Rawhana's grandson, a demon named Mayasura, slanders 
the red monkey's reputation by attacking Rama in the dark and claiming that 
it was Anggada who had attacked the king. Anggada is thrown out of the 
palace in disgrace, but when Mayasura asks Rama for a weapon to use against 



dari kejaran senjata astra geni," kata Gunarsa menunjuk kepada gambaran 
senjata dalam lukisannya tentang seorang Raksasa yang mencoba menghindar 
dari serangannya. "Senjata itu mengetahui perbedaaan antara yang benar 
dengan yang salah, dan akan mengejar musuhnya tidak peduli berapa kali 
dia akan berubah arah. Senjata astra geni tak ubahnya seperti "peluru 
kendaWnya kepercayaan Hindu yang terdapat dalam buku suci. Senjata itu 
adalah sebuah bom yang pintar yang tak mungkin untuk dielakkan." 

Akhirnya Gunarsa pergi lagi menemui Nardayana di rumahnya di desa 

Belayu, dengan harapan 
dia dapat meyakinkan 
sang dalang untuk 
mempertunjukkan 
kembali wayang kulitnya, 
di mana sebuah drama 
yang berkenaan dengan 
metafora akan dapat 
dipecahkan secara lebih 
pasti. Sang maestro 
seni lukis mengajukan 
permohonannya kembali 
kehadapan ki dalang 

kondang dengan segala kesederhanaannya. "Ini belum berakhir," kata 

Gunarsa. Sang dalang setuju. 

Nardayana mengakui bahwa dia memiliki alasan tersendiri dalam 
mengkemas pertunjukan wayangnya menciptakan sambungan sampai 
kepada yang bersifat kiasan. Beberapa tahun sebelumnya satu dari 
pertunjukannya divideokan oleh seseorang pelanggar hak cipta yang menjual 
rekaman pertunjukan wayangnya tanpa ijin atau sepengetahuannya. 
Pengalamannya ini memperkuat kepercayaannya bahwa hukum tentang 
hak cipta di Indonesia seyogyanya ditangani oleh pengadilan untuk tujuan 
melindungi semua seniman. Untuk mencocokkan imajinasinya Gunarsa 
tentang geni astra, ki dalang mengajukan ceritera yang lain tentang Anggada 
yang mana di dalamnya seorang Raksasa Mayasura cucu dari Raja Rahwana 



91 



Anggada he is given the astra geni. When the demon launches the magical 
weapon against the red monkey it discerns the difference between good and 
evil, boomeranging back on Mayasura and destroying the originator of the 
deception. 



Gunarsa was thrilled with the dalangs suggestion. For him this 
sequel and its new ending provided the dramatic satisfaction 
of karmapala that was missing from the first Anggada puppet 
play and the copyright trial that followed it. For nearly two 
hours the two artists discussed the philosophical ramifications 
of the allegory and its relevance to the moral issues related to copyright 
laws. Their conversation shifted back and forth fluidly from the story of the 
forged paintings to the story of the monkey hero who had been betrayed and 
thrown out of the palace. Like the first Anggada story, this plot also included 
a kind of divine identity theft. The demon Mayasura, who had been adopted 
into the palace as a baby after his grandfather Rahwana's death, imitated 
Anggada falsely during his attack on Rama, and when Anggada came to the 
king's defense, the demon claimed that it was Anggada who was the attacker. 
Anggada leaves the palace in shame, while Mayasura is hailed as a hero. The 
moral universe of the play is temporarily turned upside down. A villain is 
praised for his deception, while a hero is condemned for his virtue. Order 
can only be restored by the 'fiery weapon that sees the truth' ("astra geni") 
and the victory of karmapala that results from its use. 




memfitnah reputasi si kera merah, Anggada, dengan cara menyerang Rama 
dalam kegelapan dan memfitnah bahwa Anggadalah yang menyerang 
sang raja. Anggada diusir keluar dari istana dengan aib memalukan, dan 
ketika Mayasura memohon sebuah senjata untuk melawan 
Anggada kehadapan Sri Rama, dia dianugrahkan senjata geni 
astra. Manakala raksasa Mayasura melepas senjata sakti yang 
memiliki kekuatan dapat memilah perbedaan antara yang baik 
dengan yang buruk, yang dia bidikkan pada sasarannya si kera 
merah Anggada, menjadi bumerang memantul kembali ke 
Detya Mayasura dan menghancurkan dirinya sebagai sumber 
kecurangan. 

Hati Gunarsa tergetar oleh saran yang diajukan sang dalang. 
Baginya, bagian ini sebagai kesimpulan akhir yang baru 
memberikan kepuasan dramatik dari karmapala yang absen 
pada versi pertunjukan wayang Anggada yang pertama, seperti 
halnya perkara tentang hak cipta yang mengikutinya. Hampir 
dua jam kedua seniman ini mendiskusikan percabangan filsafat dari kiasan 
dan relevansinya berkaitan dengan isu moral yang berhubungan dengan 
undang-undang hak cipta. Percakapan mereka mengalir berpindah 
bolak-balik dari kisah pemalsuan lukisan ke kisah pahlawan kera yang telah 
dikhianati dan dibuang keluar dari istana. Seperti halnya dengan kisah 
Anggada yang pertama, alur ini juga mengandung pencurian identitas. 
Raksasa Mayasura yang telah diangkat menjadi keluarga istana ketika dia 
masih bayi setelah kematian Rahwana kakeknya, dengan cara memalsukan 
dirinya menjadi Anggada sewaktu dia menyerang Sri Rama, manakala 
Anggada datang untuk membela sang raja. Raksasa memutarbalikkan 
fakta dan mengatakan Anggadalah sebagai penyerangnya. Anggada 
meninggalkan istana dengan rasa malu, sementara Mayasura dielukan 
sebagai pahlawan. Moral alam duniawi dari pertunjukan tersebut untuk 
sementara terbalik seratus delapan puluh derajat. Seorang penjahat mendapat 
penghargaan untuk tipu muslihatnya, sementara sang pahlawan dihukum 
karena kebajikannya. Perintah hanyalah dapat dipulihkan oleh 'sebuah 
senjata yang dapat melihat kebenaran f"geni astra'j dan kemenangan 
karmapala berbuah dari penggunaannya. 



92 



"The astra geni is looking for the difference between the 
person who is innocent and the person who commits crimes," 
says Gunarsa. "This is the way the law should work in our 
society. In religion we have the principles of ruabineda, good 
and evil, truth and falseness, but they should be built into the 
law the way they are built into the astra geni\ 



The dalang agrees. "We all have standards," he says, "for 

copying, and for cheating, which are false actions. Religion 

also states these things. We all live together, but our minds 

are different. To give peace to our lives, we need standards 

to follow, common standards. These standards must be 

respected. In the banjar (neighborhood association) we call 

these traditional customs (awig-awig) and nationally we call 

them laws (hukum). For those who violate the customs, there are sanctions. 

For those who violate the laws, there are sanctions." 



"Like astra genii' Gunarsa interjects. He sees the sacred object as a weapon 

that can be wielded in the metaphorical story to redress the injustices of 

the trial. He gives the dalang more details about 

the twists of the trial. "I was accusing him," 

continued Gunarsa, "but he accused someone 

else of dropping off the paintings. It was a chain 

of criminals. One was the distributor. One was 

the retailer. And then there was the one who 

signed the false signature." 




Gunarsa goes on to explain that there had 
been a previous trial in which, one member 




"Senjata geni astra mencari perbedaan diantara seseorang yang 
lugu dengan seseorang yang berbuat kejahatan" kata Gunarsa. 
"Demikianlah seyogyanya hukum itu berlaku dalam masyarakat 
kita. Di dalam agama kita memiliki prinsip ruabineda, baik 
dan buruk, benar dan salah, akan tetapi hal itu semestinya 
dibangun berdasarkan hukum seperti halnya dia dibangun ke 
dalam geni astra". 

Sang dalang setuju. "Kita semua memiliki norma" katanya, 

"untuk menggandakan dan mengutip, yang mana merupakan 

aksi yang salah. Ajaran agama juga menyatakan untuk sesuatu 

seperti ini. Kita semua hidup bersama, akan tetapi pikiran kitalah 

yang berbeda. Untuk memberikan kedamaian dalam hidup kita, 

kita membutuhkan norma untuk dijadikan pegangan, norma 

umum. Norma seperti inilah yang mesti dihormati bersama. 

Di banjar kita namakan peraturan adat Cawig-awigJ dan regulasi secara 

nasionalnya kita sebut hukum. Kepada mereka yang melanggar awig-awig, 

ada sangsinya. Bagi mereka yang melanggar hukum ada juga sangsinya" 

"Seperti halnya dengan geni astra," Gunarsa menyisipkan. Dia melihat 
obyek sakral sebagai sebuah senjata yang dapat dipegang dan digunakan 

dalam metafora ceritera untuk menunjukkan 
ketidak adilan dari perkara pengadilan. Dia 
memberikan lebih rinci lagi kepada sang 
dalang tentang plintiran dalam persidangan. 
"Saya menuduh dia," lanjut Gunarsa, "akan 
tetapi dia menuduh orang lainlah yang 
menjatuhkan lukisan-lukisan tersebut. Itu 
adalah rangkaian kriminal. Salah seorangnya 
adalah distributor. Seorangnya lagi adalah 
pengecer. Kemudian ada seseorang yang 
membubuhkan tandatangan palsu." 

Gunarsa lebih lanjut membeberkan bahwa 
dalam persidangan sebelumnya di mana 



93 



94 








TV 



w 



N \ 



'V- 



^^6^ 






A.'^AZ4^/ ^^Vy4/7V /'A^"A/,^- 
Vav /V'/ »Al^ Aif'*^^'^^'' 





of the criminal syndicate was convicted of being guilty: 
"The middleman was also singled out, put on trial and 
sentenced. Sinyo should have been punished too, but he 
was set free, because he has money. One was taken and 
one was not." This imbalance in the justice system is one 
of the sources of Gunarsa's frustration. He believes that 
bribery was part of the process that led to setting Sinyo 
free. 

The miscarriage of justice through corruption was one of 

the themes that Nardayana had raised in the first shadow 

puppet play when Twalen and Merdah witness a dead soul 

trying to bribe his way into heaven. Both men realize the 

problem reaches far beyond the case of copyright law to 

the Indonesian legal system at large. The dalang reminds 

Gunarsa that the Indonesian President Yudhoyono has 

launched a campaign to eliminate corruption from the 

legal system. "They cannot dare to do those kinds of things any more, 

because we have the Corruption Eradication Commission (known in 

Indonesia as KPK)." 



Gunarsa worries that the federal government's 
program against corruption has not yet solved the 
problem. He reports that the files of the trial that 
had resulted in a conviction of Sinyo s associate had 
mysteriously disappeared. "In Bali some judges 
are still manipulating things, playing around with 
justice. My fear is that the police can be bought. 
The prosecutors can be bought. Justice can be 
bought." 





salah seorang dari anggota mata rantai telah dijatuhi 
hukuman karena bersalah. "Orang tengah juga dipilih, 
dimasukkan dalam perkara dan dihukum. Sinyo 
semestinya juga dihukum, akan tetapi dia dibebaskan, 
karena dia memiliki uang" Ketidak seimhangan dalam 
sistem peradilan seperti ini menjadi sumber frustasinya 
Gunarsa. Dia percaya bahwa suapan kiranya menjadi 
bagian dari proses yang membuat Sinyo bebas. 

Kegagalan dari keadilan melalui korupsi juga menjadi 
tema yang diangkat oleh Nardayana pada pertunjukan 
wayangnya yang pertama ketika Tualen dan Merdah 
menyaksikan roh orang meninggal yang mencoba 
menyuap unuk memuluskan perjalanannya menuju 
sorga. Keduanya menyadari persoalan mencapai jauh 
diluar dari kasus hukum hak cipta sebagai sistem formal 
Indonesia dalam arti luas. Ki Dalang mengingatkan 
Gunarsa bahwa Presiden Indonesia Yudoyono telah mewacanakan dalam 
kampanyenya untuk mengurangi korupsi dari sistem formal. "Mereka 
tidak berani melakukan hal seperti itu lagi, oleh karena kita telah memiliki 
badan Komisi Pemberantasan Korupsi di Indonesia dikenal dengan 
singkatan KPK. 



Gunarsa menghawatirkan bahwa program 
pemerintah pusat melawan korupsi belum dapat 
memecahkan masalah. Dia melaporkan sejumlah 
dokumen dari persidangan pengadilan yang 
dihasilkan tentang penghukuman rekan sejawatnya 
Sinyo, secara misterius menghilang. "Di Bali 
beberapa hakim masih memanipulasi sesuatu, 
mempermainkannya diseputar keadilan. Ketakutan 
saya bahwa polisi juga dapat dibeli. Jaksa penuntut 
dapat dibeli. Hukum dapat dibeli" 



95 



The dalang is sympathetic to Gunarsas concerns. 
He reiterates points that he had expressed in 
the first puppet play through the voice of the 
clown servant Twalen. "Sometimes the laws are 
manipulated," he tells Gunarsa, "to the point that 
the false becomes the true, and the true becomes 
the false, because of money. Because it is people 
who uphold the law, and they are fallible. But 
according to our beliefs religious laws cannot 
be manipulated. The truth is always true and 
falseness is always false. All of that is established 
from the Lord above. Karmapala teaches us that 
in the end everything you do will come back to 
you. 



Nardayana is describing the scene of inverted 

values depicted in the sequel to Anggada's story 

where Anggada is thrown out of the palace and 

the demon who falsely slandered him is praised 

('the false becomes true and the true becomes 

false'), but when Gunarsa hears the word 

karmapala his thought shift back again from 

the world of wayang to the specifics of his case. 

"Yes," he interrupts. "Karmapala means that anyone who commits evil, 

will be doomed by their own evil deeds. I am hoping that the one who has 

committed crimes of falseness will be punished, because I am looking for 

the truth. The astra geni is the symbolic weapon of karmapala" 



It is normal in Bali for the host of a wayang play to discuss the issues he 
hopes will be discussed in the course of the story, and most dalangs choose 




Ki dalang menaruh simpatik terhadap 
kepeduliannya Gunarsa. Dia mengulangi poin 
pernyataannya yang dia telah ekpresikan dalam 
pertunjukan wayangnya yang pertama, melalui 
suara panakawan Tualen. "Kadangkala hukum itu 
dimanipulasikan," dia kasih tahu kepada Gunarsa, 
"tegasnya bahwa yang salah bisa menjadi benar, 
dan yang benar bisa menjadi salah, karena uang. 
Oleh karena mereka orang-orang bertugas sebagai 
penegak hukum, dan mereka berbuat keliru atau 
salah. Akan tetapi menurut hukum kepercayaan 
kita, tidak mungkin untuk dimanipulasi. Yang 
benar itu selalu benar dan yang salah adalah 
tetap salah. Semua itu ditetapkan oleh Yang Maha 
Kuasa di atas. Karmapala memberi pelajaran 
kepada kita bahwa pada akhirnya semua yang 
pernah kamu lakukan akan kembali ke kamu" 

Nardayana menggambarkan nilai-nilai yang 
diputar balikkan dalam untaian adegan kisahnya 
Anggada, dimana Anggada diusir keluar dari 
istana sedangkan raksasa yang dengan licik 
menebar fitnah justru mendapat penghargaan 
Cyang salah menjadi benar dan yang benar 
menjadi salah'), akan tetapi ketika Gunarsa 
mendengar kata karmapala pikirannya berbalik 
kembali dari dunia wayang kepada kasusnya yang lebih mengkhusus. "Ya" 
dia menyela. "Karmapala berarti bahwa setiap orang yang berbuat kejahatan, 
akan dihukum oleh kejahatan yang dia perbuat sendiri. Saya berharap bahwa 
seseorang yang melakukan kejahatan dari pemalsuan akan dihukum, karena 
saya mendambakan kebenaran sejati. Astra geni adalah senjata simbolik 
dari karmapala. 

Adalah menjadi kebiasaan di Bali bagi si penanggap pertunjukan wayang 
melakukan diskusi tentang hal-hal yang akan didiskusikan dalam jalan 



96 





97 



their stories as a form of allegorical commentary on 

the situation being experienced by their audiences 

at the moment of the performance. The importance 

of matching a performance to the concerns of the 

spectators is embodied in a concept known as desa, 

kala, patra ('place, time and context'). The interaction 

between Gunarsa and Nardayana is an example of how 

deeply the Balinese believe in the connection between 

the invisible world of wayangs religious allegories and 

the visible world of everyday life. For some, of course, 

wayang puppet plays are merely entertainments, but 

for deeply religious Balinese Hindus, there are powerful links between the 

world of shadows and the world of the flesh. 




ceritera, dan kebanyakan dalang memilih ceritera sebagai 
komentar yang bersifat perlambang dalam situasi yang 
tengah dialami oleh penontonnya pada saat pementasan. 
Pentingnya memadukan dalam sebuah pementasan 
terhadap kepedulian dengan situasi penontonnya 
adalah menjadi bagian dari sebuah konsep yang dikenal 
dengan istilah desa, kala, patra (berarti: tempat, waktu 
dan keadaan). Interaksi diantara Gunarsa dengan 
Nardayana adalah sebuah contoh betapa dalamnya 
kepercayaan orang Bali dalam hubungannya dengan 
alam maya dunia wayang sebagai kiasan religius dan 
dunia nyata sebagai kehidupan setiap hari. Untuk beberapa orang sudah 
barang tentu memandang pertunjukan wayang adalah melulu sebagai 
hiburan, akan tetapi lebih dalam bagi orang Hindu Bali terdapat koneksi 
yang sangat kuat diantara dunia wayang dengan dunia wadak. 



In the sacred Hindu text "Dharma Pawayangan" dalangs are given 

instructions on how to uphold the moral integrity of their art, explaining 

which offerings and mantras are to be used in different situations. The holy 

book outlines the connections between the four servant clowns and the 

four guardian spirits that accompany each human being at the moment of 

birth, and act as sacred protectors throughout the 

lifespan. These four sacred guardians are known 

as kanda empat ('the four siblings') and they are 

associated with the umbilical cord, the amniotic 

sac, the amniotic fluid, and the afterbirth. These 

physical by-products of birth are buried with 

offerings by the family of the newborn child as 

embodiments of the kanda empat, which are 

invoked during many religious ceremonies as the 

child progresses from childhood to adulthood 

to death and reincarnation. Nardayana quotes a 

well-known Balinese proverb: "If we remember 

the kanda empat, they will remember us, but if 

we forget them, they will forget us too. It is the 




Dalam teks lontar suci "Dharma Pewayangan" dalang diberikan instruksi 
bagaimana memegang integritas moral seni mereka, menerangkannya 
dengan upakara dan mantra-mantra yang akan digunakan dalam situasi 
yang berbeda. Garis besar buku suci memuat hubungan diantara empat 
punakawan dengan empat spiritual saudara pelindung yang menyertai setiap 

manusia sejak dia lahir, dan bertugas sebagai 
proteksi spiritual sepanjang hayat di kandung 
badan. Kempat malaikat pelindung ini dikenal 
dengan nama kanda empat (empat saudara) 
dan mereka semua itu berhubungan dengan 
ari-ari, air ketuban, lamas dan darah. Keempat 
unsur pisik yang menyertai manusia lahir 
ditanam dengan upakara tertentu oleh keluarga 
pada setiap kelahiran bayi yang baru sebagai 
perwujudan kanda empat untuk dimohonkan 
perlindungannya pada kebanyakan upacara 
keagamaan ketika pertumbuhan anak dari masa 
kanak-kanak sampai menginjak dewasa kemudian 
kematian bahkan sampai reinkarnasi nantinya. 



98 



same with the four punakawan (the name that refers collectively to the 
four clown/servant puppets). They are also guardians who give advice that 
people remember." 



The symbolic relationship between the world of wayang and the material 
world reflects what is known in Bali as the relationship between bhuana 
agung and bhuana alit, the microcosm and the macrocosm. The bhuana 
agung (literally 'large world') refers to the spiritual construction of the 
universe, while the bhuana alit (literally 'small world') refers to the corporeal 
world of the human body. "The puppet screen is a manifestation of the sky" 
explains Nardayana. "Under the screen is the banana log (gedebong) which 
supports the rods inserted in each puppet, and is a manifestation of the 
earth. And the flame of the coconut oil lamp that projects the shadows is 
a manifestation of the sun. But at the same time all these elements exist in 
the body of the dalang. The banana log is like one of my bones. The screen 
is like the tissues of my flesh. The strings that tie the screen to the frame 
are like my nerves. And the little nails that secure the banana log are my 
teeth." 

The four sacred clown puppets are also internalized by the dalang. "The 
punakawan are the dalang, and the dalang is them," states Nardayana with 
quiet conviction. These four characters are the servants who translate the 
words of the gods and kings into a vernacular that can be understood by 
the audience. Ostensibly these are the characters that the dalung speaks 
through, using their voices to make the ancient stories and complex 
religious concepts accessible to the spectators, but when Nardayana and 
other dulungs speak reverently of these characters it is sometimes unclear 
who is speaking through whom. "In the mythology, these four servants 
were sent to the world to serve the earthly reincarnation of Visnu," says 
Nardayana, recounting the relationship of the wa/am^ servants to the sacred 
directions, colors, and body parts associated with each of the Hindu gods in 
Bah. "I apologize for not knowing all of the sacred books thoroughly, but 



Nurduyanu mengutip pribuhusu yung suduh di kenul di Buli: "Jiku kitu ingut 
dengun suuduru emput kitu, mereka akun mengingut kitu, ukun tetupi bilu 
kitu melupukun mereku, merekupun ukun melupukun kitu. Ini sumu hulnyu 
dengun keemput panakwan (sebutun yung merujuk securu kolektif untuk 
keemput pembadut/abdi dulum wuyung). Mereku jugu muluikat pelindung 
yang memberikan nusehut yung dikenung oleh orang" 

Hubungan simbolik dianturu duniu wayang dengun duniu muteriul terpuncur 
seperti apu di Buli dikenul dengun hubungun bhuana agung dengan bhuana 
alit, jugut ruyu dengun duniu di dulum diri. Bhuana agung (urtinyu duniu 
besur) merujuk pudu konstruksi spirituul duri pembentukun ulum semestu, 
sementuru bhuana alit (urtinyu duniu kecil) berkuitun dengun duniu budun 
munusiu. "Luyurnyu wuyung fkelir'j melumbungkun lungit," Nurduyunu 
menerungkun. "Di buwuh kelir terduput pohon pisung ("gedebong'j untuk 
menopung setiup tungkui wuyung ketiku dituncupkun uduluh munifestusi duri 
bumi. Koburun lumpu belencong berminyuk kelupu yung memproyeksikun 
buyungun ke kelir uduluh sebugui munifestusi mutuhuri. Dulum wuktu 
bersumuun, semuu elemen ini terduput jugu dulum diri si dalang. Pohon 
pisung uduluh seperti tulung suyu, luyur utuu kelir uduluh lupisun duri duging. 
Tuli pengikut luyur sumpui dengun ke lumpu tuk ubuhnyu uduluh suruf-saraf 
tubuh. Puku-puku kecil mengunci pohon pisung uduluh gigi suyu" 

Keemput punukuwun suci duri wuyung uduluh jugu diinternulisasikun oleh 
dulung. "Panakawan itu uduluh dulung, dun ki dalang uduluh mereku," 
Nurduyunu menyutukun dengun tenung penuh keyukinun. Keempat duri 
tokoh ini uduluh puru ubdi yung menterjemuhkun buhwu puru dewu dan 
ruju-ruju ke dulum buhusu yung dipuhumi dun dimengerti penontonnyu. 
Seoluh-oluh melului kurukter iniluh ki dalang berbicuru menggunukun 
ucupunnyu untuk membuut kisuh yung suduh kuno tersebut dengun konsep 
keugumuun yung kompleks duput diterimu oleh musyurukut penonton, ukun 
tetupi ketiku Nurduyunu demikian jugu hulnyu dalang yung luin berbicuru 
dengun hormutnya pudu semuu kurukter ini sesungguhnyu terkadang takjelus 
siupu yung berbicuru melului siupu. "Dulum mitologi keempat punukuwun ini 
uduluh diutus ke duniu nyutu untuk mengubdi kepudu reinkurnusi Wisnu yung 
berudu di bumi," kutu Nurduyunu, menceriterukun hubungan panakawan 



99 



these four servants have divine origins. Twalen 
is related to Lord Ismaya and therefore to Siwa. 
His dwelHng place is in the east, where the color 
is white, so even though the skin of the puppet is 
painted black, Twalens blood is white and pure." 
Nardayana's description of Twalen is consistent 
with the reverence paid to the puppet by other 
dalangs. There is at least one Balinese Brahmin 
high priest who uses the puppet of Twalen as 
a vehicle for making blessings at ceremonies, 
dipping the puppet into holy water and sprinkling 
it over the participants in the ceremony. 





wayang dengan arah suci, warna, dan bagian dari 
badan dalam hubungannya dengan setiap para dewa 
menurut Hindu di Bali. "Saya mohon maaf karena 
tidak menguasai seluruh isi dari buku suci tersebut, 
akan tetapi keempat panakawan ini asli memiliki 
sifat ketuhanan. Twalen ada hubungannya dengan 
Dewa Ismaya yang tiada lain adalah Siwa. Stana 
beliau adalah di arah timur, warnanya adalah 
putih, kendati kulitnya wayang dicat berwarna 
hitam, darahnya Tuwalen adalah putih bersih" 
Nardayana mendeskripsikan tentang Twalen yang 
memiliki kesamaan dengan referensi yang diberikan 
oleh para dalang yang lainnya. Paling tidak ada seorang pendeta brahmana 
yang mengunakan wayang Twalen sebagai wahana dalam memberi berkah 
pada upacara, dengan mencelupkan tangkai wayang ke dalam air suci dan 
memercikkannya kepada seluruh peserta upacara. 



Twalen is a symbolic embodiment of ruabineda, black on the outside, with 

white blood on the inside. He wears the 

sacred cloth of black and white checked 

patterns known as polenc which is itself a 

manifestation of ruabineda that mirrors 

Twalen's character. He has a humble 

appearance, but a divine origin. The other 

servant puppets are less revered, but still 

connected to sacred origins. "Merdah is 

yellow," Nardayana continues, referring 

to Twalen's son and comic sidekick. 

"He dwells in the west (the direction 

associated with the god Mahadewa). 

Delem is a proud fiery character, because 

he is related to Brahma whose element is 

fire. Delem dwells in the south where the 

color is red, and so his blood is also red." 




100 



Twalen adalah simbol personifikasi dari ruabineda, hitam dibagian luarnya, 

dengan darah putih bagian dalamnya. 
Dia menggunakan kain suci berpola kotak 
catur berwarna hitam dan putih yang 
disebut kain poleng yang sesungguhnya 
kain itu sendiri melambangkan ruabineda 
yang mencerminkan karakternya Twalen. 
Dia memiliki perangai yang hormat 
rendah hati, namun sesungguhnya dia 
adalah perwujudan dewa. Panakawan 
yang lain dalam wayang kurang dipuja 
seperti Twalen, akan tetapi tetap memiliki 
hubungan dengan kesucian asli. "Merdah 
adalah kuning," Nardayana meneruskan, 
menunjuk kepada anaknya Tualen 
dan pembadut pendampingnya. "Dia 
beristana di barat (arah mata angin 
yang diasosiasikan dengan posisi Dewa 



Sanggut, Delem's fellow servant on the "left" or "evil" side of the wayang 

world, is the opposite of his partner. "Sangut is associated with Visnu," 

continue Nardayana. He dwells in the north where he is soft like his 

element, which is water. He puts out the fires that Delem starts." Again the 

dalangs description of the characters confirms their contradictory nature 

as embodiments of the principle of ruahineda. 

Sanggut and Delem are opposites. Ordinarily in the 

course of a wayang play, Delem will speak falsely 

and advocate deception, while Sanggut, although 

he works for the "left," opposes his partner and 

advocates positions of truthfulness and honesty. 

As a team they play on contradictions within 

contradictions, which makes them both comically 

entertaining and philosophically enlightening, 

qualities that are essential to a good wayang play. 




The wide-ranging conversation between the dalang and the painter takes 
place on the platform of an open-air pavilion with a tile roof supported 
by four pillars. The pavilion is located next to Nardayana's family temple, 
whose shrines are organized according to the same principles of sacred 
color and directionality that the dalang explains are embodied in the 
wayang servant clown puppets. Nearby is a closed room whose doors are 
sculpted in the form of a kayonan wayang pwppet. At the base of this figure, 
which represents both the tree of life and the source of all stories, are the 
four clown servants from the world of wayang, Delem, Sanggut, Twalen 
and Merdah. It is fitting that they are carved into the base of the kayonan 



Mahadewa). Delem seorang tokoh sombong pedas berapi-api karena dia 
diasosiasikan dengan dewa Brahma berelemen api. Delem beristana diselatan 
dengan warna merah dan juga darahnyapun merah" 

Sangut, saudaranya Delem yang berpihak pada kelompok "kiri" atau "jahat" 
pada dunia wayang, adalah bertentangan dengan pasangannya. "Sangut 
diasosiasikan dengan dewa Wisnu," Nardayana melanjutkan. Dia beristana 
di utara dimana dia memiliki sifat yang lembut seperti elemennya yakni 
air. Dia mampu memadamkan api yang dimulai oleh Delem." Lagi-lagi 
ki dalang mendeskripsikan mengkonfirmasikan 
karakter mereka yang bertentangan adalah 
perwujudan dari prinsip ruabineda. Sangut 
dengan Delem adalah b er seberangan. Biasanya 
di dalam jalannya pertunjukan wayang, Delem 
berbicara penuh kebohongan dan mendukung 
penipuan, sementara Sangut kendati dia mengabdi 
kepada untuk kelompok "kiri," dia berseberangan 
dengan pasangannya dan dia tetap mendukung 
keberadaan dari kebenaran dan kejujuran. Sebagai 
sebuah tim mereka bermain berseberangan dalam 
pertentangan, yang membuat badutan mereka 
berdua menghibur dan secara filosofi juga 
memberi pencerahan, menjadi kualitas mendasar 
pertunjukan wayang yang bagus. 

Percakapan dengan dalang dengan pelukis yang demikian luas meliputi 
banyak hal mengambil tempat di pelataran balai terbuka dengan atap 
alang-alang disangga oleh empat pilar. Letak balai tersebut disebelah 
pura keluarga ('sanggahj yang mana tata letak bangunan suci disusun 
menurut prinsip yang sama dari warna suci dan prinsip arah seperti 
yang di tuturkan oleh dalang adalah perwujudan wayang punakawan. 
Disebelahnya adalah ruang tertutup yang pintu masuknya diukir dalam 
bentuk kayonan wayang. Dibawah dari figur yang menggambarkan pohon 
kehidupan dan sumber dari semua ceritera terdapat empat punakawan 
dari dunia pertunjukan wayang yakni Delem, Sangut, Twalen dan Merdah. 



101 



because they and their words are at the foundation 
of all wayang plays. One of the names by which the 
quartet is collectively known is the penasar, or 'those 
at the foundation.' 



Inside the room protected by the penasar is 
Nardayana's wooden puppet box, containing all the 
characters in all the stories of the wayang universe. 
Each time he performs a wayang play the dalang 
chooses some of those puppet characters to inhabit 
the shadow world that consists of a banana log earth 
and a canvas screen sky illuminated by a coconut- 
oil lamp. "The puppet box," explains Nardayana first 
using the word keropak and then switching to the 
word ^ec/on^ which is the same word used to describe 
the containers of the sacred objects in a family temple 
shrine, "is symbolic of nature, and its contents. The 
puppets are its inhabitants: people, animals, plants, 
gods, and all the rest. The dalang at the moment of 
the performance, becomes like a god, but only for the 
moment of the puppet performance. He gives life to 
all of them." 




"Yes," agrees Gunarsa enthusiastically. "The dalang is a creator. He can 
invent a story like the gods. He can punish the villain with the astra genu 
Gunarsa has turned to the world of wayang for the justice that he feels was 
denied to him in the world of formal laws and courtrooms. The courtroom 
he trusts most is the courtroom of the dalang, where the audience can see 
the effects of karmapala without waiting a lifetime. The dalang shortens 
the path to justice, so that it can be achieved in the course of an evening's 
story. 



Adalah sangat cocok mereka diukirkan menjadi 
dasar kayonan karena mereka dan dunia mereka 
adalah fondasi dari seluruh pertunjukan wayang. 
Pada kenyataannya satu nama untuk keempatnya 
adalah "penasar," atau 'semuanya sebagai dasar! 

Di dalam ruangan yang dijaga oleh penasar adalah 
tempat penyimpanan kotak kayu untuk wayangnya 
Nardayana berisikan penuh dengan wayang berbagai 
karakter untuk seluruh ceritera dunia pertunjukan 
wayang. Setiap kali dia mempertunjukkan wayang 
ki dalang menggunakan wayang dengan karakter 
yang sama untuk menghidupkan dunia pewayangan 
berisikan tanah dari batang pohon pisang, layar 
kain sebagai langitnya disinari oleh lampu belencong. 
"Kotak wayang" Nardayana menerangkan pada 
awalnya menggunakan kata keropak kemudian 
diganti dengan sebutan gedog yang berarti sama 
dengan kata yang digunakan untuk menyatakan kotak 
dari obyek suci dalam pura keluarga, adalah symbol 
alam dengan segala isinya. Wayangnya adalah mahluk 
hidupnya: orang, binatang, tumbuh-tumbuhan, 
dewa-dewi, dan yang lainnya. Ketika pementasan 
ki dalang tak ubahnya ibarat tuhan, walau hanya 
untuk sementara selama mempertunjukkan wayang. 
Dia memberi kehidupan kepada semua mahluk itu. 

"Ya" Gunarsa setuju dengan penuh antusias. "Ki dalang adalah seorang 
pencipta. Dia bisa membuat ceritera tak ubahnya seperti Tuhan. Dia bisa 
menghukum si penjahat dengan astra geni." Gunarsa memalingkan dunia 
wayang untuk keadilan yang telah ditolak untuknya dalam dunia hukum 
formal dari ruang pengadilan. Ruang pengadilan yang lebih dia percaya 
adalah ruang pengadilan dari dalang, dimana pemirsanya akan dapat 
melihat efek dari karmapala tanpa harus menunggu dalam bentangan 
waktu kehidupan. Dalang memperpendek jalan menuju keadilan, sehingga 



102 



"The laws in Indonesia are not yet firm," 
says Gunarsa. "They are still in a state 
of flux. I have been struggling with this 
case for eight years, but there is still no 
clear decision and no punishment for 
those who break the law. The wayang 
introduces the theme of karmapala. 
The people who commit evil deeds are 
punished and those who commit good 
deeds are rewarded. It raises the issues 
of morality that were ignored when 
my case was in court. If we have a law 
without morals, what will happen to our 
country? The reputation of the country 
is at stake, not just the reputation of a 
single artist. Other countries will not 
have faith in us." 




In fact, Indonesia's copyright law, like other 
international copyright laws that follow United 
Nations' recommendations, does include a 
clause referring to the 'moral rights' of the artist. 
These moral rights include the protection of an 
artist's reputation if it is damaged by forgery or 
falsification of the artist's work. The decision 
in Gunarsa's case did not mention or take into 
account the damage to his reputation which is 
covered by the protection of an artist's 'moral 
rights.' This is one of the points he will argue if 




akan dapat dicapai dalam pergolakan 
ceritera semalam. 

"Hukum di Indonesia belum kuat,"kata 
Gunarsa. "Semuanya masih dalam 
keadaan berubah-ubah. Saya sudah 
delapan tahun berkutat dengan kasus 
ini, masih saja belum adanya keputusan 
yang jelas dan tidak ada hukuman 
kepada mereka yang melanggar 
hukum. Wayang memperkenalkan 
tema karmapala. Orang-orang yang 
melakukan kejahatan adalah dihukum, 
bagi mereka yang melakukan perbuatan 
baik diberikan penghargaan. Semua itu 
mengangkat masalah-masalah moral 
yang mana hal itulah diabaikan ketika 
kasus saya masih dalam persidangan. 
Jika kita memiliki hukum tanpa 
moral, apa yang akan terjadi pada dunia peradilan kita? Reputasi dari 
sebuah negara menjadi taruhannya, bukan saja pada reputasi seniman 
secara perorangan. Negara-negara lain tidak akan 
memiliki kepercayaan pada kita" 

Pada kenyataannya, hukum hak cipta di Indonesia, 
seperti halnya dengan hukum hak cipta secara 
internasional yang diikuti sesuai rekomendasi 
Perserikatan Bangsa-bangsa, adalah termasuk 
di dalam pasal menunjuk kepada "hak moral" 
pada seniman. Hak moral seperti ini termasuk 
melindungi reputasi seniman jika dia itu dirugikan 
oleh pemalsuan atau cara pemalsuan hasil karya 
seorang seniman. Keputusan dalam kasusnya 
Gunarsa tidak menyebutkan atau mengambil 
perhitungan atas kerugian terhadap reputasinya 



103 





104 



his case is accepted for review by Indonesia's High Court. 



While waiting for that opportunity Gunarsa 

chose to argue his case in the court of wayang 

shadows, where heroes and demons fight over the 

truth in cinematic silhouettes cast by the flames 

of a coconut oil lamp. On the night of June 12, 

2008 when Nardayana presented the sequel to 

Anggada's story at Puputan Square in Denpasar, 

Gunarsa was seated on the grass in front of the 

puppet screen with thousands of other spectators, 

watching the copyright laws refracted through the 

lens of a dalang's imagination. The location was 

the same as it had been more than a year earlier 

before the inconclusive trial had begun. The field's 

name was appropriate to Gunarsa's seemingly 

Quixotic attempts to establish a precedent that would strengthen the laws 

of the fourth most populous country in the world. "Puputan" means the 

end, but in keeping with the Balinese philosophy of ruabineda, it is also 

associated with a beginning. A larger than life monument on Puputan 

Square memorializes the attempts of the Balinese King of Badung to defend 

Bali against the invasion of the Dutch Colonial army in 1906. The King 

and his royal court marched to the sea in their ceremonial temple clothes. 

Armed with only wavy kris daggers, they were no match for the cannons 

and muskets of the Dutch soldiers who massacred the Balinese contingent, 

including the women and children of the court. While it marked the 

temporary end of Balinese independence, it also marked the beginning of 

world respect for the power of Balinese beliefs. The Balinese King's decision 

to perform a symbolic resistance against impossible odds reverberated 

around the world. The Dutch were shamed by their barbaric actions, and 

consequently allowed the Balinese to rule themselves and continue their 

traditional religious activities throughout the centuries of their occupation. 

And now that the Dutch have gone and Indonesia is independent, Bali still 



yang mana sesunguhnya dilindungi oleh perlindungan dari hak moral untuk 
seniman. Ini adalah satu poin yang dia akan desak perdebatkan jika kasusnya 
diterima untuk ditinjau kembali oleh Mahkamah Agung. 




menunggu datangnya kesempatan 
Gunarsa memilih untuk mendebatkan 



Sembari 
tersebut, 

kasusnya dalam peradilan pertunjukan wayang, 
dimana pahlawan dan raksasa berperang untuk 
sebuah kebenaran dengan tampilan tokoh melalui 
bayangan siluet sinematik dengan sumber cahaya 
dari kobaran lampu belencong berminyak kelapa. 
Pada malam hari tanggal 12 Juni 2008 manakala 
Nardayana mempersembahkan kisah sambungan 
kisahnya Anggada di Lapangan Puputan Badung 
di Denpasar, Gunarsa duduk di rumput didepan 
layar wayang bersama ribuan penonton lainnya, 
menonton hukum hak cipta yang dibelokkan 
melalui lensa dari imajinasi dalang. Lokasinya 
sama dengan pementasan setahun yang lampau sebelum terselesaikannya 
penyelesaian sidang pengadilan tengah berlangsung. Nama tempat lapangan 
adalah sangat cocok untuk Gunarsa melamun idealis, berusaha untuk 
menetapkan sesuatu yang dapat dijadikan teladan yang dapat memperkuat 
hukum pada negara yang populasi penduduknya keempat terbesar di 
dunia. "Puputan berarti selesai, akan tetapi untuk mengkaitkannya dengan 
ruabineda sebagai filosofi konsepsi hidup orang Bali adalah juga diasosiasikan 
dengan awal. Lebih besar dari kehidupan sesungguhnya monumen di 
lapangan Puputan mengingatkan usaha pencapaian dari seorang Raja 
Denpasar penguasa Badung untuk mempertahankan Bali dari invansi tentara 
Kolonial Belanda pada tahun 1906. Raja dengan kerabat kerajaan berbaris 
ke laut dengan berbusana upacara yang biasa dikenakan untuk ke pura. 
Hanya bersenjatakan tombak, keris, golok tidaklah seimbang berhadapan 
dengan meriam dan senapan api dari tentara Belanda yang membantai 
secara masai pasukan Bali, termasuk wanita dan anak-anak kerabat istana. 
Sementara itu sebagai tanda waktu berakhirnya kebebasan orang Bali, dan 
juga sebagai tanda awal dunia menghormati kekuatan kepercayaan orang 



105 




maintains a great deal of autonomy within the Repubhc of Indonesia, partly 
out of respect for the traditions embodied by the Puputan and the cultural 
values it represents. 



Bali. Keputusan raja di Bali adalah simbolik untuk menunjukkan penolakan 
melawan kemustahilan rintangan yang menggema diseluruh dunia. Belanda 
merasa malu dengan aksi liarnya, sebagai konsekuensinya memberikan orang 
Bali untuk mengatur dirinya dan melanjutkan tradisi aktivitas agama mereka 
selama pendudukan. Sekarang belanda sudah pergi dan Indonesia merdeka, 
Bali masih memelihara perjanjian besar tentang otonomi daerahnya didalam 
Negara Republik Indonesia, sebagiannya masih dihormati untuk tradisi 
dilandasi oleh jiwa "Puputan" c^an nilai-nilai budaya yang mewakili. 



The Puputan Badung was one of Balinese history's most potent examples of 
the use of culture as the tip of the spear {ujung tombak). The ceremonial 
procession was a performance of courage that symbolized Bali's indomitable 
spirit. Every year the Balinese perform theatrical versions of the puputan 
massacre, a reminder, like the statue in Puputan Square, that art can be a 
powerful weapon, even in the face of seemingly insurmountable odds. 



"Puputan Badung" salah satu contoh yang paling kuat dari penggunaan 
ujung tombak kebudayaan. Prosesi upacara adalah simbolik pertunjukan 
keberanian sebagai lambangnya spirit orang Bali yang gigih. Setiap tahun 
orang Bali mempertunjukkan versi pertunjukan teatrikal tentang puputan' 
dan pembantaian, dan patung pada lapangan puputan adalah salah satu 
pengingat bahwa seni adalah sebagai senjata yang sangat kuat, kendati 
dihadapan dari rintangan yang sulit untuk ditanggulangi. 



106 



In his ongoing battle to strengthen Indonesia's 
copyright laws Gunarsa has found another way 
to use art as a weapon. "I have chosen wayang 
as part of this struggle," he says, "because it is the 
media closest to the people and the strongest way 
to communicate a moral message to the public, 
and the easiest for people to absorb and appreciate. 
It reaches a wide audience. The punishment of 
karmapala is the result of ruabineda, the actions 
of good and evil. Sometimes those principles are 
clearer in wayang than they are in the law." 




In the version of Anggadas story that Nardayana 

performed that night the demon Mayasura was 

destroyed by the astrageni, a fiery arrow he had 

tried to launch against the slandered hero without 

knowing it would turn back on him and reveal 

the falseness of his actions and words. Gunarsa 

cheered the victory of karmapala with the rest 

of the audience. "The one who is wrong will be 

destroyed by karmapala. That is the meaning of 

that weapon. That is the connection to my case. 

The point is that no matter what or where, I have 

to search for the truth. My task here is not for 

myself, but for my descendants, my grandchildren. The copyright laws have 

to be upheld." 



At the end of the play, two comic characters, Cenk and Blonk, who are 
inserted into all of Nardayana's stories as representative voices of ordinary 




Dalam perjuangan yang tidak berkesudahan untuk 
menguatkan hukum hak cipta di Indonesia Gunarsa 
mendapatkan jalan lain yakni menggunakan seni 
sebagai senjata. "Saya menggunakan wayang sebagai 
bagian dari pergumulan ini, oleh karena dia sebagai 
media yang paling dekat kepada masyarakat dan 
sebagai jalan yang paling kuat mengkomunikasikan 
pesan-pesan moral kehadapan publik, dan sesuatu 
yang paling mudah bagi masyarakat dalam 
menyerap dan mengapresiasi. Bisa menjangkau 
penonton secara luas. Hukuman dari karmapala 
adalah hasil dari ruabineda, akibat dari hasil kerja 
baik ataupun buruk. Terkadang prinsip tersebut 
adalah menjadi jelas dalam pertunjukan wayang 
dibandingkan dengan didalam hukum." 



Di dalam versi kisahnya Anggada yang 
dipertunjukkan oleh Nardayana pada malam hari 
itu, raksasa Mayasura dihancurkan oleh senjata 
astrageni, sebuah senjata berapi-api yang dia 
coba lepaskan untuk membunuh musuhnya sang 
pahlawan tanpa mengetahui semuanya itu akan 
berbalik arah pada dirinya sendiri serta mencerca 
kesalahnnya dari perbuatan dan kata-katanya. 
Gunarsa mengelukan kemenangan dari karmapala 
bersama dengan penonton lainnya. "Seseorang yang 
bersalah akan dihancurkan oleh karmapala. Itulah 
artinya dari senjata tersebut. Ini berhubungan 
dengan kasus saya. Pada prinsipnya tidaklah peduli tentang apa dan dimana, 
saya harus mencari kebenaran. Tujuan saya disini tidak semata untuk diri 
sendiri, akan tetapi juga untuk generasi penerus saya, anak cucu saya. Hukum 
hak cipta mesti harus ditegakkan!' 

Pada akhir pementasan dua tokoh badut Cenk dan Blonk yang disisipkan 
kedalam seluruh ceritera pertunjukan wayang Nardayana sebagai representasi 



107 




.;A4Ar*t^;;; 



people, find the demon's body after he has been struck down by the 
weapon called astra geni. They decide that Mayasura's demise is the result 
of karmapala and exchange opinions about the meaning of copyright law. 
Their commentary connects the fate of the ancient characters who appear 
in the story with the contemporary concerns of the audience. The kayonan 
puppet appears on the screen, representing the tree of life that contains 
all stories. Offerings are made and the audience goes home. The dalang 
makes offerings to the gods and relinquishes his exalted status to become an 
ordinary man again. His wayang performance has played a role in inspiring 
a fight against the unfair enforcement of copyright laws. Gunarsa believes 
that the just enforcement of these laws will benefit the reputations of all 
Indonesian artists, and of the country itself. Nardayana's shadow puppets 
and Gunarsa's paintings will not change the copyright laws on their own, 
but their symbolic force is rooted deeply in Bali's sacred traditions. Part 
of the arsenal of cultural weapons that have 
been wielded successfully by the Balinese for 
generations, the puppets and the paintings 
are imbued with the persuasive power that 
resides at the 'tip of the spear." 




omongan orang kebanyakan, menemukan jasadnya raksasa setelah 
tersungkur dihantam oleh astrageni. Mereka berkesimpulan bahwa kematian 
Mayasura adalah sebagai akibat dari karmapala dan kemudian mengalihkan 
pikiran mereka tentang arti dari hukum hak cipta. Komentar mereka 
berhubungan dengan takdir dari tokoh-tokoh kuno yang dimunculkan melalui 
ceritera dengan kepedulian terhadap masalahnya penonton berlangsung p ada 
masa kini. Wayang kayonan muncul di layar sebagai penggambaran pohon 
kehidupan yangberisikan semua ceritera. Upakara dihaturkan ketika penonton 
pada bergegas pulang. Ki dalang menghaturkan sesajen kehadapan Tuhan 
melepaskan status suci dirinya kembali menjadi orang biasa. Pertunjukan 
wayangn)/a telah memainkan peran dalam menginspirasikan pertempuran 
melawan ketidak adilan memperkuat hukum hak cipta. Gunarsa percaya 
bahwa hanya dengan memperkuat dari hukum-hukum ini akan bermanfaat 
pada reputasi untuk seluruh seniman dan negara sendiri. Pertunjukan 

wayangnya Nardayana dan lukisan-lukisan 
Gunarsa tidak bakalan merubah hukum 
hak cipta dengan sendirinya, akan tetapi 
tekanan simboliknya adalah mengakar amat 
dalam didalam tradisi sakral di Bali. Bagian 
dari gudang senjata kebudayaan yang telah 
memiliki kesuksesan untuk orang Bali dari 
generasi ke generasi, pertunjukan wayang 
dan lukisan adalah menghilhami dalam 
membujuk kekuatan yang berada pada 
'ujung tombak" 



Pf RC/. M l' F) ^^Zi Pff.vrif 



109 



no 




A PRIEST'S 
PERSPECTIVE: 

The Light and the Dark 




Perspektif Pendeta: 

Terang dan Gelap 



111 



"Om Aditya Sya Param Jyoti Rakta Teja Namastute Sweta Pangkaja 
Madhyasthah Bhaskara Ye Namastute." 



"Om, Lord of the Sun whose glory illuminates the world with fiery light 
that shimmers and glistens in the heart of the lotus flower, I worship You." 



"Om Sanghyang Widhi Wasa, Sinar Surya Yang Maha Hebat, Engkau 
Bersinar Merah, Hormat Pada-Mu, Engkau Yang Berada Ditengah- 
tengah Teratai Putih, Hormat Pada-Mu Pembuat Sinar." 

"Om Sanghyang Surya yang maha hebat menyinari dunia dengan 
sinar merekah berkerdip gemerlapan di dalam bunga teratai, hamba 
memunjaMu." 



The Balinese prayer quoted above was chanted 
by the dalang Nardayana before he began the 
wayang shadow puppet performance that 
alluded to Gunarsa's copyright trial. It is a 
sacred invocation that calls on the sun to 
witness the play and inspire it with the truth 
that is inherent in its illuminating rays of light. 
The same mantra is chanted by Balinese high 
Brahmin priests every morning when they 
pray to the sun, which is a manifestation of the 
highest god in the Balinese-Hindu Pantheon, 
Sang Hyang Widi Wasa. 



The high priest of Gria Taman in Sanur, Ida 
Pedanda Ketut Sidemen interprets the prayer's 
first line as "asking for the blessing of sun's rays 
to enlighten the world, because without that 
illumination, there would be no truth in the 
world. There would be no words. The light of 
the truth gives birth to words." 




Mantram pemujaan orang Bali yang dipetik 
di atas dilantunkan oleh dalang Nardayana 
jelang dia memulai pertunjukan wayang 
kulitnya yang dikaitkan dengan peradilan hak 
ciptanya Gunarsa. Adalah sebuah lantunan 
matram yang sakral dengan memanggil Dewa 
Surya untuk menyaksikan pertunjukannya 
yang diinspirasikan oleh kebenaran yang 
tidak bisa dipisahkan dari penerangan 
sinar cahayaNya. Mantra yang sama juga 
dilantunkan oleh para pendeta pada pagi 
setiap harinya memuja Dewa Surya, sebagai 
manifestasi personifikasi Tuhan Yang Maha 
Esa dalam Pemujaan Kahyangan Jagat, Sang 
Hyang Widi Wasa. 

Seorang pendeta dari Geria Taman 
di Sanur, Ida Pedanda Ketut Sidemen 
menginterpretasikan bait pemujaan tersebut 
pada baris pertamanya ''memohonkan 
perlindungan dari sinar sucinya surya yang 
menyinari dunia, tanpa sinar beliau, tidak 
bakalan ada kebenaran didunia. Tidak akan 
ada kata-kata. Sinar kebenaran memberikan 
kelahiran kata-kata." 



112 



Hie dalang and the priest are both concerned about the relationship between 
Hght and truth. When the dalang invokes the sun, it is night, and he hopes 
that the flame of his coconut-oil lamp will be blessed to symbolically take 
the place of the sun in the microcosm of the wayang universe. The lotus 
flower is also invoked in the prayer as an earthly manifestation of the sun's 
illuminating powers. The kawi word used for lotus flower is pangkaja which 
literally means 'the eastern light in the mud." The lotus flower closes in the 
night and opens in response to the sunlight. It operates on the principles of 
ruabineda that are embedded in its name. It reaches for the light of the sun 
at the same time that it is rooted in the darkness of the mud. 



When he learned of Nardayana's shadow play allegory about the copyright 
trial, Ida Pedanda Ketut Sidemen responded with a flood of stories on 
similar themes that could also illuminate the issues behind Gunarsas case. 
The similarities between the responses of the priest and the responses of 
the dalang reveal how deeply the issues in Gunarsas trial are linked to the 
spiritual, religious, and cultural concerns at the core of Bali's traditions. The 
watercolors of Gunarsa capture these themes in painted lines. The wayang 
shadow puppet plays of Nardayana capture the same themes in narrative 
performance. And the reflections of the priest confirm the spiritual roots 
of these issues in Balinese Hindu phflosophy. All three of these individuals 
see the concept of copyright as something that goes beyond the legal issues 
in a secular courtroom to touch upon sacred concepts linked to ruabineda, 
the true and the false, visible and invisible worlds, darkness and light, 
dharma and adharma. 



Ida Pedanda Ketut Sidemen's observations on these issues are particularly 
flluminating, because he is a poet as well as a priest. He approaches the 
issues with an artistic mastery of language and literature that matches the 
virtuosity of Gunarsa and Nardayana in their respective fields. The painter. 



Ki dalang dan pendeta keduanya berurusan dengan hubungan diantara 
sinar dan kebenaran. Ketika dalang memohon kehadapan dewa surya, 
pada saat itu adalah malam hari, dan berharap kobaran api dari lampu 
minyak kelapanya (T)elencongj akan memberi restu secara simbolik 
mengambil tempat surya di alam jagad kecil yakni dunianya wayang. 
Bunga teratai juga diberi mentera sebagai manifestasi surya di bumi yang 
menyinari penuh kekuatan. Kata dari bahasa kawi digunakan untuk 
teratai adalah pangkaja' yang secara harafiah berarti 'sinar didalam 
lumpur." Bunga teratai kuncup diwaktu malam hari dan kembang sewaktu 
memberi respon kehadapan sinar matahari. Hal itu berjalan pada prinsip 
ruabineda seraya tertanam dalam namanya. Bunga tersebut disatu sisi 
menggapai sinar sang surya pada waktu bersamaan mengakar dalam 
kegelapan lumpur. 

Ketika beliau belajar pada kiasan pertunjukan wayangnya Nardayana 
tentang peradilan hak cipta, Ida Pedanda Ketut Sidemen memberi 
respon membanjiri dengan ceritera dalam tema yang hampir sama yang 
kiranya dapat menerangi isu-isu dibalik kasusnya Gunarsa. Persamaan 
diantara responnya pendeta dan responnya dalang menyatakan betapa 
dalamnya persoalan dalam peradilan Gunarsa adalah berkaitan dengan 
kepedulian spiritual, religius, dan kebudayaan dalam intinya tradisi Bali. 
Dalam lukisan cat airnya Gunarsa menangkap tema-tema ini dilukiskan 
berurutan. Pertunjukan wayang kulitnya Nardayana menangkap tema- 
tema yang sama dalam naratif pertunjukannya. Demikian juga halnya 
refleksi dari seorang pendeta mempertegas akar spiritual dari persoalan 
ini melalui filsafat Hindu Bali. Ketiga individu ini melihat konsep hak 
cipta sebagai sesuatu yang membentang melewati persoalan hukum formal 
dalam ruang pengadilan yang sekuler lebih jauh lagi menyentuh konsepsi 
sakral yang berhubungan dengan ruabineda, benar dan salah, dunia nyata 
dan dunia maya, kegelapan dan penerangan, dharma dan adharma. 

Observasi Ida Pedanda Ketut Sidemen terutamanya pada persoalan ini 
dapat memperjelas, oleh karena beliau selain seorang sastrawan beliau juga 
seorang pendeta. Beliau mendekati persoalan dengan kepiawian dalam 
memformulasi bahasa dan literatur memiliki kecocokan dengan keahlian 



113 











^'W 




.#i ^"'■ 




:<j 



the puppet master, and the poet/priest each provide their own unique artistic 
and spiritual perspectives on the meaning of copyright. 



"The dalanghsLS to think about which of these many stories matches the case 
most closely," the priest said. "It's like when I chant a prayer. I choose the 
one that fits the occasion. There are lots of stories that teach the philosophy 
of ruabineda. In the Ramayana and the Mahabhrata many episodes are 
based on the philosophy of ruabineda and the importance of knowing the 
difference between the false and the true. The same ideas can be found in 
the Tantri stories." 



One of the stories the priest recalls is about a heron (cangak) that dresses 
up as a priest in order to earn the trust of some fish and make it easier for 
him to eat them. "The fish mistake him for someone who follows the laws 
ofdharma (religious integrity and truth), because he has the right costume," 




dalam teknik dari Gunarsa dan Nardayana dalam bidang keahliannya 
masing-masing. Pelukis, dalang, dan pendeta sastrawan masing-masing 
memberikan keunikan artistik dan perspektif spiritual berkenaan dengan 
arti dari hak cipta. 

"Ki dalang harus memikirkan yang mana diantara sekian banyaknya ceritera 
kiranya paling cocok atau mendekati persoalan" kata pendeta. "Itu sama 
halnya bilamana saya melantunkan mantra. Saya memilih satu diantaranya 
yang paling cocok dengan peristiwa atau upacara. Ada banyak ceritera yang 
mengajarkan filsafat fenfan^ ruabineda. Dalam Ramayana dan Mahabharata 
banyak episode berdasar pada filsafat ruabineda dan pentingnya dalam 
mengetahui perbedaan diantara yang salah dengan yang benar. Ide yang 
sama bisa didapat di dalam ceritera Tantri" 

Satu ceritera yang disebut oleh pendeta adalah kisah tentang burung bangau 
yang berbusana sebagai seorang pendeta agar mendapat kepercayaan dari 
sejumlah ikan untuk memudahkan dia memakan mereka. "Kesalahan ikan 
kehadapannya yakni seseorang yang mengikuti hukum dharma (kejujuran 



114 




recounts the priest. He has the headdress and everything. But he is a 
counterfeit priest. A false priest." 



"The fish are crying, because the lake they live in is drying up," continues 
the priest. "So they turn to the bird dressed as a priest, because they think 
he is a holy man." Although the priest is speaking in Indonesian he uses the 
low Balinese word "sadu" for holy man to emphasis the low status of the 
deceitful impersonator. "He promises to take the fish to a place with lots of 
water, but instead he takes them to a dry rock, where he eats them. Then 
along comes a crab (yuyu), whose name is associated with the truth (yukti)" 
Again the priest plays with language to emphasize the story's elements of 
ruabineda: the falseness of the fake priest and the truth inherent in his 
antagonist. The word for crab in Balinese is yuyu, which the priest conflates 
with the word for truth which is yukti. "The crab knows the heron is a liar, 
so he bites him in the neck and kills him. In this story the crab becomes the 
judge who knows the difference between the true and the false, because his 
name means truth. That is the victory ofkarmapala" 




religius dan kebenaran), oleh karena dia mengenakan busana yang benar" 
ceritanya pendeta. Dia memakai mahkota dan reagalia yang lain. Akan tetapi 
dia adalah pendeta gadungan. Pendeta bohongan." 

"Ikan pada menangis, oleh karena danau dimana mereka tinggal akan 
mengering," pendeta melanjutkan. "Demikian mereka berpaling pada si 
burung yang bermahkota pendeta, oleh karena mereka kira dia adalah 
orang sadu," Kendati pendeta berbicara dalam bahasa Indonesia beliau 
menggunakan kosa kata bahasa bali rendah "sadu" untuk kata orang suci 
untuk memberi penekanan pada status rendah penyamar yang curang. "Dia 
berjanji untuk memindahkan semua ikan ke tempat yang airnya melimpah, 
akan tetapi sebaliknya mereka dibawa ke tempat batu karang yang kering, 
dimana mereka dimangsa semuanya. Kemudian datang si kepiting yang 
namanya diasosiasikan dengan kebenaran" Kembali pendeta bermain 
dengan bahasa dari ceritera untuk menegaskan elemen dari ruabineda: 
kepalsuan dari pendeta gadungan dan kebenaran yang melekat pada diri 
lawannya. Kata untuk kepiting dalam bahasa Bali adalah 'yuyu' yang mana 
pendeta menyamakan dengan kata untuk kebenaran yakni 'yukti! "Kepiting 



115 



The priest tells the story to a foreign visitor in the his home in Sanur, but 
by the time he finishes a crowd of Balinese guests and relatives has gathered 
around the pavilion where the priest is sitting, laughing and commenting 
on the story amongst themselves. Sensing the enthusiasm of his impromptu 
audience the priest continues telling entertaining allegories that provide 
insight into the theme of truth and falseness. Songbirds perched in flowered 
cages throughout the open-air courtyard provide a musical accompaniment 
to his improvised performance. Eventually he pulls out a manuscript written 
in the fluid curves of the Balinese alphabet and begins to sing verses from a 
poem he has written himself on the theme. It is a sequel to the Tantri story 
of the heron and the crab. 



The priest prefaces his singing with a casual explanation of the plot and 
the themes of the poem. "I could add another story, which is also about 
a heron, who wants to catch fish but can't fly," says the priest. "He sees 
another big bird diving for fish from the air and tries to do the same thing, 
but when he dives into the water, he is so big that he can't get out. So he 
is washed up on the shore and meets a crab. The crab asks him why he 
was in the water and the bird says he was trying to help the fish because 
he feels sorry for them. The crab knows that he is the descendent of the 
other heron who deceived the fish and killed them, so he says, 'I know your 
ancestor also felt sympathy for the fish and helped them to move. What 
can I do to repay the debt that the fish owe your ancestor.' The bird asked 
to be taken to a peaceful place, because he could no longer walk on his 
own. The crab carried him to a hot dry rock, like the one his ancestor had 
flown to with the fish. When the stork was weak from the heat of the sun, 
the crab pinched the bird's long beak with his claws and told him he was 
evil. You have been lying to cover up your evil deeds like your ancestors. 



mengetahui si burung bangau adalah pendusta, dan dia menjepit lehernya 
si bangau sampai dia mati. Dalam kisah ini si kepiting menjadi hakim yang 
mengetahui perbedaan yang benar dengan yang palsu, oleh karena namanya 
sendiri berarti kebenaran. Itu adalah kemenangan dari karmapala." 

Pendeta menceriterakan kisah ini dihadapan orang asing di tempat tinggal 
beliau di Sanur, ketika menyelesaikan kisahnya kerumunan orang Bali dan 
kerabat yang berkumpul diseputar balai dimana pendeta duduk, tertawa dan 
mengomentari diantara mereka tentang ceritera tersebut. Mengetahui antusias 
dari pendengarnya yang tidak memiliki persiapan sebelumnya, pendeta 
melanjutkan memberikan kiasan yang menghibur menyediakan pengertian 
yang mendalam pada tema kebenaran dan kepalsuan. Kicau burung yang 
bergantung pada sangkarnya yang berornamentasi bunga-bungaan di alam 
tempat tingal beliau yang terbuka seakan menyediakan musik pengiring pada 
pertunjukan improvisasinya. Pada akhirnya beliau mengeluarkan lontar yang 
ditulis mengalir dengan ukiran abjad huruf Bali, dan memulai menyanyikan 
sajak dari puisi yang beliau karang sendiri dalam tema ini. Itu adalah bagian 
dari ceritera Tantri tentang burung bangau dan kepiting. 

Pendeta memberi prawacana pada nyanyiannya sebagai penerangan 
bersahaja tentang alur dan tema dari puisinya. "Saya bisa tambahkan 
dengan ceritera yang lain, yakni tentang kisah si burung bangau juga, 
yang ingin menangkap ikan namun tidak bisa terbang," kata pendeta. "Dia 
melihat burung besar lainnya menyelam untuk mendapatkan ikan dari 
udara dan dia mencoba melakukan hal yang sama, akan tetapi ketika dia 
menyelam di air, dia terlalu besar dan tidak bisa keluar. Dengan demikian 
dia mandi ditepian dan bertemu dengan kepiting. Si kepiting bertanya 
padanya, kenapa dia ada di dalam air dan si burung menjawab karena 
dia merasa kasihan dengan warga ikan dan dia ingin membantu mereka. 
Si kepiting mengetahui dia itu adalah keturunan dari burung bangau yang 
menipu ikan-ikan dan membunuh mereka, demikian katanya, 'Aku tahu 
leluhurmu juga merasa kasihan kepada kelompok ikan dan membantu 
mereka untuk memindahkannya. Apa yang dapat aku lakukan untuk 
membayar hutang budi yang membebani para ikan terhadap leluhurmu.' Si 
burung memohon untuk dibawa ketempat yang aman, mengingat dia tidak 



116 



That is why I cut off your beak so you can't speak Ues 
anymore." 



The priests sequel to the Tantri story ends with the 
bird's disfigurement rather than death, but its theme 
is similar to the original. "This story is another 
example of how karmapala works," he says. "I wrote 
about the descendants of the birds from the Tantri 
story to show that old stories still have truths that 
can be useful to us today." 



Having introduced the tale in prose, the priest begins 

to sing in a deep and gruffly melodious voice. The 

poetry is written in sophisticated rhythmic structures 

in language so lyrical that even some Balinese do 

not understand all the nuances of the words. He 

stops every few lines to translate the story into the 

common vernacular, breaking the hypnotic spell of the song to comment 

on the action as if describing for the audience a scene from an invisible 

world that only he could see. "The heron is expressing his sympathy for 

the fish that are stranded on the beach and drying out in the sun." Then 

he sings again, the inflections of his voice changing slightly as the point 

of view shifts from the bird to the crab. "The crab knows the heron is not 

telling the truth and that his words do not match his intentions, but he 

does not want to say directly that the bird is lying, so he just listens." The 




kuat lagi berjalan sendiri. Si kepiting membawa 
dia ke tempat karang yang kering, seperti halnya 
leluhurnya menerbangkan ikan-ikan kesana. Ketika 
si burung bangau semakin melemah dari sengatan 
sinar matahari, si kepiting menjepit leher panjang 
si burung dengan cangkangnya dan memberi 
tahu padanya bahwa dia adalah seorang yang 
kejam. Kamu sesungguhnya berbohong menutupi 
perbuatan kejimu seperti halnya leluhurmu. Oleh 
karenanya aku potong paruhmu sehingga kamu 
tidak berbohong lagi" 

Cuplikan kisah tantrinya sang pendeta berakhir 
dengan perusakan wajah ketimbang dibunuh, akan 
tetapi tema intinya sama dengan yang asli" Kisah ini 
adalah contoh yang lain dari bagaimana karmapala 
berproses," katanya. "Saya tulis tentang keturunan si 
burung dari ceritera Tantri untuk memperlihatkan 
kisah dari masa lampau masih memiliki kebenaran 
yang masih berguna untuk masa kini" 

Dalam memperkenalkan kisah ini didalam bentuk 
prosa, pendeta bernyanyi keras dengan suara merdu. 
Syairnya ditulis dalam ritme yang sangat kompleks 
dalam lirik bahasa yang terkadang sukar dapat 
dimengerti nuansa bahasanya kendati oleh orang 
Bali sekalipun. Beliau berhenti pada setiap beberapa 
baris untuk menterjemahkan ceriteranya ke dalam bahasa daerah yang 
umum, memenggal ejaan hipnotis nyanyian tersebut untuk dikomentari 
dari bahasa kuno dengan menceriterakannya kembali kepada pemirsanya 
dari dunia maya yang hanya beliau sendiri yang dapat melihatnya. "Burung 
bangau menunjukkan rasa simpatinya kepada ikan-ikan yang terdampar di 
tepian danau sekarat karena terik matahari" Kemudian beliau bernyanyi 
lagi dengan liukan dan getar suaranya sedikit berubah ketika beberapa 
pergantian pertemuan antara si burung dengan si kepiting. "Kepiting 



117 



priest goes back to singing, drawing his listeners into another world, before 
he stops to translate again. "He is the descendant of the heron who wore 
white clothes and pretended to be a priest, so that he could eat the fish." As 
the story progresses the priest sings longer and longer before stopping to 
translate, as if the poem won't let him stop singing. "The crab knows that 
the heron is only pretending, but he says nothing and just amuses himself 
by listening to the heron's lies." Soon the priest is so wrapped up in the 
singing that he stops only long enough to tell his listeners that he doesn't 
want to stop. "Now the crab is telling the story of their ancestors. I will 
translate later." From this point the priest sings without interruption. His 
informal audience is entranced, regardless of 
how much of the text they actually understand. 




When he finishes singing the last stanza, the priest, shifts into a more 
casual mode of speech, addressing the intimate gathering in the courtyard 
like a grandfather talking to his family. He takes off the thick-lensed black 
glasses he wore to read the poem and looks directly into the faces of his 
listeners. "The crab is the voice of truth," the priest explains, "This is 
what he says to the heron: 'Your deceitful ancestor dressed up in white 
with a priest's headdress, imitating a holy man for evil ends. Now you 
want to do the same thing. But it is wrong." The priest's is soft spoken, 
but his manner gives the impression that he is speaking to each person 
present as if he or she were the heron in the story. "Don't make the same 
mistakes as your ancestors. It is sinful. You are living by exploiting the 



118 



mengetahui si burung bangau tidak mengatakan yang benar dan kata- 
katanya tidak nyambung dari apa yang dia utarakan, akan tetapi dia tidak 
mau mengatakan secara langsung bahwa si burung adalah berbohong, dengan 
demikian dia hanya diam mendengarkannya." Pendeta kembali bernyanyi 
menarik perhatian pemirsanya ke dalam dunia lain, sesaat dia berhenti 
untuk menterjemahkannya lagi. "Dia adalah keturunan dari burung bangau 
yang mengenakan busana putih dan berpura-pura sebagai pendeta, dengan 
cara itu dia bisa memangsa ikan." Demikian ketika ceritera bergerak maju 
pendeta bernyayi semakin lebih panjang dan tidak lagi menterjemahkannya, 
seakan puisinya tidak memberi kesempatan kepada beliau untuk berhenti 

bernyanyi. "Kepiting mengetahui bahwa si 
burung bangau adalah hanya berpura-pura, 
bahkan dia tidak bilang apa-apa dan hanya 
diam sembari mendengarkan si burung bangau 
berbohong" Hampir si pendeta diliputi dengan 
nyanyiannya dia hanya berhenti sejenak untuk 
memberitahu pemirsanya bahwa dia tidak ingin 
berhenti. "Sekarang si kepiting menceriterakan 
kisah leluhurnya. Saya akan terjemahkan 
nanti" Dari titik ini pendeta bernyanyi tanpa 
ada yang menyelanya. Pendengar informalnya 
terpesona mengabaikan berapa banyak mereka 
sesungguhnya dapat mengerti teks lagunya. 

Ketika beliau selesai menyanyikan bait yang terakhir, sang pendeta, beralih 
suasana pembicaraannya menjadi lebih biasa, menunjuk keakraban 
kebersamaan di halaman seperti halnya seorang kakek berbicara kepada 
keluarganya. Beliau melepas kacamatanya yang hitam tebal yang beliau 
kenakan untuk membaca dan memandang langsung pada wajah- 
wajah pemirsanya "Kepiting tersebut adalah suara dari kebenaran," 
pendeta menerangkan. "Beginilah katanya kehadapan si burung bangau: 
"Leluhurmu yang curang berbusana putih dengan mahkota pendeta, 
menirukan orang suci yang pada akhirnya berbuat kejahatan. Sekarang 
kamu mau melakukan hal yang sama. Akan tetapi itu adalah salah" Sang 
pendeta berucap lirih, akan tetapi caranya memberikan kesan bahwa beliau 



suffering of others, by taking things that are not yours, by choosing a path 
that is not truthful. You have a long mouth that you use to lie, so in order 
to stop you from saying anything else that isn't true, I am going to cut your 
beak." 



The small audience laughs at the victory of karmapala, perhaps out of relief 
that their own beaks are still intact. "That story is not in the book of Tantri," 
the priest announces, laughing along with them. "I wrote it myself It is 
about ruahineda. It is about the true and the false. The crab is the truth and 
the heron is falsehood. Because the crab knows the stories of his ancestors, 
he is not deceived by the descendant of the heron. The crab knows the 
truth. He sees the truth. He speaks the truth." 



"Ruahineda deals with the true and the false. The crab is the truth and the 
heron is the false. They are the descendants of the characters in the tantri 
story who also represented truth and falseness. Because the crab knows 
the stories of his ancestors, he is not deceived by the descendant of the 
heron. He knows about the past deception and falseness, but he does not 
say anything." 

The priest's variation of the story gives the plot new resonance for 
a contemporary audience. They listen to the new encounter between 
the heron and the crab with a double awareness. Knowing about the 
meeting of the characters' ancestors adds a layer of irony to the narrative 
for the audience, enabling them to appreciate the crab's manipulation 
of the heron. They can laugh with the crab as he lures the heron into 
unknowingly asking for his own punishment by agreeing that the sacred 
books demand past debts be repaid. They can also contemplate a new 
dimension of ruahineda when they learn that the crab, a representative of 



herhicara kepada setiap orang yang hadir seperti halnya mereka adalah 
hurung hangau dalam ceritera. "Jangan herhuat kesalahan yang sama 
seperti yang dilakukan oleh leluhurmu. Itu penuh dosa. Kamu hidup dengan 
mengeksploitasi kesengsaraan orang lain, dengan mengamhil sesuatu yang 
hukan milikmu, dengan memilih jalan yang hukan jalan kebenaran. Kamu 
memiliki mulut panjang untuk herbohong, dengan demikian agar dapat 
mengehentikan kamu dari mengatakan hal-hal lain yang tidak benar, saya 
akan memotong paruhmu." 

Pemirsa yang jumlahnya tidak begitu banyak tertawa pada kemenangan 
dari karmapala, barangkali dapat pembebasan bahwa paruh mereka masih 
utuh. "Kisah itu tidak ada di buku Tantri," pendeta memberitahukan, 
sambari tertawa bersama mereka. "Saya sendiri yang menulisnya. Ini 
semua berkenaan dengan ruabineda. Adalah berkenaan dengan kebenaran 
dan kebohongan. Si kepiting adalah kebenaran dan burung bangau adalah 
kebohongan. Oleh karena si kepiting mengetahui kisah leluhurnya, dia 
tidak ditipu oleh keturunan si burung bangau. Si kepiting mengetahui yang 
benar. Dia melihat yang mana benar. Dia berbicara benar" 

"Ruabineda adalah tentang benar dan salah. Si kepiting adalah benar dan 
si burung bangau adalah salah. Mereka adalah keturunan dari kisah dalam 
ceritera Tantri yang juga menggambarkan kebenaran dan kebohongan. Oleh 
karena si kepiting mengetahui tentang kisah leluhurnya, dia tidak ditipu 
oleh keturunan burung bangau. Dia mengetahui tentang kebohongan dan 
kebenaran pada masa lampau, namun dia tidak bilang apa-apa," 

Variasi yang diberikan oleh pendeta pada ceritera tersebut memberikan 
alur baru untuk pendengar masa kini. Mereka mendengarkan pertemuan 
baru diatara burung bangau dengan si kepiting dengan kesadaran ganda. 
Mengetahui tentang pertemuan tokoh-tokoh leluhurnya menambah satu 
lapisan ironi pada naratif untuk pemirsanya, memungkinkan mereka lebih 
mengapresiasi si kepiting akan perbuatan curang si burung bangau. Mereka 
boleh tertawa dengan si kepiting yang memancing si burung bangau tanpa 
mengetahuinya menanyakan untuk hukumannya dengan menyetujui bahwa 
tuntutan buku suci terhadap hutang pada masa lampau harus dibayar. 



119 



the truth, has to resort to deception to bring the heron to justice. 



The priest's subtle reframing of the tale also highlights an important theme 
that is not explicit in the original. The crab acquires truth through his 
familiarity with the stories of the ancestors. If he had not studied that 
history, he might not have known the true intentions of the heron. This 
new twist enables the priest to emphasize the importance of reading history 
and literature. He is suggesting that the wisdom found in these old texts 
remains useful from generation to generation and can still be a useful tool 
for survival in the modern world. 



To explore this idea further the priest explains the meaning of the name of 
the Hindu goddess Saraswati, who is believed to be the source of all written 
words and wisdom. "In the old Javanese language of kawi," says the priest, 
"sara means weapon, swa means line, and ti means behavior, or the way we 
conduct ourselves. Saraswati is the one who gives us a line, a guide that 
we can use for modeling our behavior. These guidelines or regulations are 
weapons. The wisdom to know which actions we can imitate and which 
we cannot makes us strong. Knowledge is the weapon we receive from 
Saraswati." 



Like many of the themes discussed by the priest, the concept of Saraswati as 
a source of wisdom, literature, and knowledge was presented in Nardayana's 
shadow puppet play about the copyright trial. The story of the case evokes 
similar responses from the dalang and the priest, both of whom have 
studied sacred Hindu texts extensively, and view them as cultural weapons 
associated with the power of truth. 



Mereka juga dapat merenungkan dimensi baru tentang ruabineda ketika 
mereka belajar bahwa si kepiting itu adalah representasi dari kebenaran, 
harus menempatkan segala bentuk penipuan dari si burung bangau untuk 
dibawa ke pengadilan. 

Pembingkaian kembali yang sulit dipisahkan kepunyaannya pendeta terhadap 
kisah tersebut yang juga menyoroti tema penting yang tidak termasuk di 
dalamnya pada kisah aslinya. Si kepiting memperoleh kebenaran melalui 
keakrabannya dengan kisah dari leluhurnya. Jika dia tidak pernah belajar 
sejarah tersebut, mungkin saja dia tidak mengetahui niat sesungguhnya 
dari si burung bangau. Pembelotan yang baru seperti ini memungkinkan 
pendeta untuk menekankan pentingnya membaca sejarah dan literature. 
Beliau mengusulkan bahwa kebijaksanaan yang terdapat di dalam teks- 
teks kuno tetap dapat berguna dari generasi ke generasi sebagai alat untuk 
kelangsungannya di dalam dunia moderen. 

Dalam mengeksplorasi ide ini lebih jauh pendeta menjelaskan arti dari 
Dewi Saraswati dalam ajaran Hindu, yang dipercaya sebagai sumber untuk 
semua dunia tulis menulis dan kebijaksanaan. "Dalam Bahasa Jawa Kuno 
yakni bahasa kawi" kata pendeta, "sara berarti senjata, swa berarti garis, 
dan ti berarti perangai, atau tata cara kita memperlakukan diri kita sendiri. 
Saraswati adalah satu-satunya yang memberi kita garis, sebuah tuntunan 
yang dapat digunakan untuk memperagakan prilaku kita sendiri. Petunjuk 
atau peraturan seperti ini adalah senjata. Kebijaksanaan untuk mengetahui 
yang mana aksi yang dapat kita tiru dan yang mana tidak dapat membuat 
kita kuat. Pengetahuan adalah senjata yang kita terima dari Saraswati" 

Seperti halnya banyak tema yang didiskusikan oleh pendeta, konsepsi 
Saraswati sebagai sumber kebijaksanaan, literatur, dan pengetahuan juga 
dipersembahkan dalam pertunjukan wayangnya Narday ana tentangperadilan 
hak cipta. Ceritera dari persoalan menimbulkan persamaan respon baik oleh 
dalang maupun oleh pendeta, keduanya telah mempelajari teks dari buku 
suci Hindu secara ekstensif, dan memandangnya sebagai senjata kebudayaan 
diasosiasikan dengan kekuatan kebenaran. 



120 



"The strongest weapons come out of ideas, not guns," says Ida Pedanda 
Singarsa. "One of my ancestors, Sang Hyang Dwi Jendra, wrote a poem 
called "Niti Sara." Niti means idea or thought, and sara means weapon, 
so the name of the poem means 'Thought- Weapons.' It is a collection of 
short powerful ideas expressed in poetry. The meaning of the title is that 
power can be found in ideas. And the powerful can be defeated by using 
ideas. That is why in some of the old Tantri stories the monkey can defeat 
the tiger. The tiger is more powerful, but the monkey has the weapon of his 
thoughts. Thoughts can also be tricks. Tricks are thoughts that have been 
well cooked or ripened." 



One of the poems in "Niti Sara" is also about the 
difficulty of finding truth. "My ancestor wrote 
that there is no truth in the world, and there will 
never be any truth until lotus flowers grow out of 
stones." 

The poetic fragment that the priest recalls invites 

deeper reflection. Its contradictions are rooted in 

the same philosophy of ruabineda that informs 

most Balinese Hindu beliefs. The lotus, whose Kawi 

nsime, p angkaj a, is itself a contradiction, suggests a 

source of light that grows out of darkness. The lotus 

blossom is a central image in Balinese Hinduism. 

The circular arrangement of its petals is viewed as a 

microcosm of the cosmos in which each major diety 

inhabits a cardinal direction and Siwa, lives in the 

center. This arrangement is known as Nawasanga 

or 'nine nines." As the dwelling place of the sacred 

sources of enlightenment, the lotus flower can be 

seen as a metaphor for the truth, as can Dwi Jendra's poetic paradox about 

the lotus growing out of the stone. If, as the priest's ancestor suggests, real 

truth cannot be found in the material world until a lotus flower grows out 

of a stone, humans might have to wait until they die to experience truth in 




"Senjata yang paling kuat keluar dari ide, bukan sejata api" kata Ida Pedanda 
Singarsa. "Satu dari leluhur saya yakni Sanghyang Dwi Jendra, menulis puisi 
disebut "Niti Sara." Niti berarti ide atau pikiran, dan sara berarti senjata, 
dengan demikian nama dari puisi berarti 'Senjata-Pikiran.' Adalah kumpulan 
dari ide pendek yang berkekuatan tinggi dinyatakan di dalam puisi tersebut. 
Arti dari judul tersebut adalah kekuatan bisa didapat di dalam ide. Dan 
kekuatan dapat dikalahkan dengan menggunakan ide. Oleh karenanya 
kenapa di beberapa ceritera kuno Tantri si kera dapat mengalahkan si 
harimau. Si harimau jauh lebih kuat, akan tetapi si kera memiliki senjata 
pikirannya. Pikiran bisa juga muslihat. Muslihat adalah pikiran yang telah 
dimasak dengan sempurna atau sudah matang. 

Salah satu puisi di dalam "Niti Sara" adalah juga 
tentang kesulitan mencari kebenaran. "Leluhur 
saya menulis bahwa tidak ada kebenaran didunia, 
tidak bakalan ada kebenaran sampai bunga teratai 
tumbuh dari batu!' 

Bagian-bagian puisi yang diingatkan oleh pendeta 
mengundang refleksi yang lebih mendalam. 
Pertentangannya berakar pada filosofi yang sama 
yakni ruabineda ya«^ membentuk hampir sebagian 
besar kepercayaan orang Bali Hindu. Teratai yang 
dalam bahasa kawi disebut pangkaja adalah pada 
bunga itu sendiri terjadi kontradiksi, mengusulkan 
sumber dari cahaya tumbuh dari kegelapan. 
Kembang teratai menjadi imajinasi sentral dalam 
kepercayan menurut orang Bali Hindu. Tata 
letak daun bunga teratai yang melingkar adalah 
dipandang sebagai mikrokosmos dari alam semesta 
yang mana setiap dewa utama berstana di setiap 
arah dan Siwa berstana di tengah. Sebagai stana dari sumber suci pencerahan, 
bunga teratai dapat dilihat sebagai perlambang dari kebenaran, seperti halnya 
paradoksi puisinya Sanghyang Dwi Jendra tentang teratai yang tumbuh dari 
batu. Jika seperti yang disarankan oleh leluhurnya pendeta bahwa kebenaran 



121 



another world. Perhaps the moment of the soul's release from the body's 
cold bones is the equivalent of a lotus growing out of a stone. Maybe the 
moment truth is born does not come until the cremation flames rise up out 
of the sarcophagus. 



Whatever the meaning of his ancestor's poem, 

Ida Pendanda Singarsa is reluctant to end the 

conversation on such a somber note. Not wanting to 

lose the opportunity to bring a little more laughter 

to his audience, the priest recalls one more comic 

fable on the theme of justice in the courts. "Here is 

another story on the subject," he says. "It is about an 

argument between a big black monkey and a young 

ape. The black monkey finds a vegetable that he 

calls a banah (yam). The young ape comes along 

and tells him that it is not a banah, but a gadung 

(yam). Actually banah and gadung are two words for 

the same thing, but since they cannot stop arguing ^ 

they go to court to resolve their dispute. When the 

judge sees that the black monkey is much bigger 

than the young ape, he decides the case in favor of 

the black monkey and declares the vegetable to be a 

banah. That is not justice, but that kind of thing still 

happens today. Sometimes the one who wins is not 

necessarily the one who is right. It is too bad that 

judges don't study the Ramayana, because it is the book that teaches that 

falseness must be banished from the world. That is Rama's mission." 




Though they have never met him Gunarsa and Nardayana are in agreement 



hakiki tidak didapatkan di dalam dunia material ini sampai nantinya bunga 
teratai tumbuh dari batu, manusia mesti menunggu sampai mereka mati 
untuk mengalami kebenaran dialam sana. Barangkali ketika jiwa manusia 
lepas dari jasadnya tulangnya yang dingin sama halnya ibarat teratai yang 
tumbuh dari batu. Barangkali saat kelahiran kebenaran tidak bakalan datang 
sampai api pembakaran jenasah mengangkatnya dari peti mati. 

Apapun arti dari puisi leluhur pendeta, Ida 
Pedanda Singarsa menjadi segan untuk mengakhiri 
perbincangan dalam catatan suram seperti itu. Tidak 
menginginkan untuk kehilangan kesempatan untuk 
memberi sedikit tertawa pada pemirsanya, pendeta 
mengingat satu lagi kisah fable yang lucu dalam 
tema keadilan di pengadilan. "Ini ada satu ceritera 
lagi sesuai subjek," katanya. "Itu adalah mengenai 
perdebatan diantara kera hitam besar dengan monyet 
kecil. Kera hitam mendapatkan sayur yang dia sebut 
* i banah (ubi rambat). Monyet kecil datang langsung 
mengatakan bahwa itu bukanlah banah akan tetapi 
gadung (ubi rambat). Sesungguhnya banah dan 
gadung adalah dua kata untuk menyatakan hal 
yang sama, akan tetapi ketika mereka tidak bisa 
menghentikan perdebatannya, mereka pergi ke 
pengadilan untuk memecahkan perselisihan mereka. 
Ketika hakim melihat si kera hitam jauh lebih besar 
dibanding dengan si monyet kecil, dia memutuskan 
permasalahan dengan berbaik hati untuk si kera 
besar dan mengumumkan sayur itu adalah banah. Itu bukanlah kebenaran, 
namun hal seperti itu masih saja terjadi sampai sekarang. Terkadang 
seseorang yang dikatakan menang tidaklah mesti seseorang yang benar. 
Sangatlah disayangkan seorang hakim tidak belajar Ramayana, sebab itu 
adalah buku yang mengajarkan pembohong harus dibuang dari dunia. Itu 
adalah misinya Rama" 

Kiranya mereka tidak pernah bertemu dengan beliau, Gunarsa dan 



122 



with the priest on that point, and many others. They have studied the 
Ramayana, performed it, painted it, and even invented sequels that follow 
the adventures of the main character's descendants. In concluding their 
versions of Anggada's story with the image of the sacred weapon called 
astra geni the painter and the dalang are instinctively following another 
of the priest's suggestions, "Remember the meaning of Saraswati's name, 
and respect her weapons of wisdom that guides our actions towards the 
truth." 



Nardayana adalah dalam kecocokan dengan pendeta pada poin dan 
dalam banyak hal yang lain. Mereka telah mempelajari Ramayana dan 
mempertunjukkannya, melukisnya, dan bahkan menciptakan bagian- 
bagian mengikuti keturunan dari tokoh-tokoh utama. Dalam kesimpulan 
akhir dari versi ceritera Anggada dengan imajinasi senjata sakral yang 
disebut dengan astra geni pelukis dan dalang secara instinktif mengikuti 
hal lain yang diusulkan pendeta. "Ingat arti dari nama Saraswati dan 
menghormati senjatanya tentang kebijaksanaan yang dapat menuntun 
perbuatan kita menuju kebenaran." 



123 




AX 






w m. 



KARMAPALA: 

The Justice of Heaven 




Karmap ala: 

Keadilan Sorgawi 



125 



Ida Pendanda's story about the heron who impersonates a priest is based on 
a well known Balinese fable that is depicted in a set of paintings found in 
one of the island's most famous landmarks, Kertha Gosa, or "Hall of Justice." 
Kertha Gosa is an open-air pavilion located in Klungkung on the grounds 
of what used to be the palace of the royal family. The heron's deception is 
one of many cautionary tales that adorn the ceiling of Kertha Gosa, where 
legal disputes were decided by the King of Klungkung. 



As a child in the 1950's Nyoman Gunarsa went to a school built by the 
Dutch on those same palace grounds. He often stared out the window of his 
classroom at the Kertha Gosa pavilion dreaming that he would be a painter 
one day. The paintings on the ceiling of the "Hall of Justice" were among 
his first artistic inspirations. "Whenever I could, I would spend time in the 
pavilion making sketches of all the scenes on the ceiling," he recalls. Those 
paintings were part of my education as an artist and as a human being. 
They visualized the difference between right and wrong, taking justice out 
of the realm of abstraction and turning it into something concrete and 
unforgettable." 



After the disappointment of learning that that the Supreme Court in Jakarta 
had refused to hear an appeal of his copyright case, Gunarsa went to Kertha 
Gosa and revisited the paintings he had grown up studying. He pointed to 
the faded figure of the heron in a priest's headdress, "The story of that false 
priest is not so different from the story I've just lived through, but in my case 
it was a false judge. He was dressed up in the robes of the court but he didn't 
uphold the laws of justice any more than the heron upheld the laws of the 
gods. The connection between this story and our case is clear. The judge 
and lawyers, like the heron, manipulate the truth for their own gains. The 
law is good, but the way it is applied is corrupt. The judge has the power to 
turn black into white, to turn lies into truth. The law in Indonesia is played 



Ceriteranya Ida Pedanda tentang seekor burung bangau yang menyamar 
sebagai pendeta bersumber dari ceritera binatang sebuah kisah yang amat 
populer di Bali digambarkan ke dalam satu set lukisan-lukisan terdapat di 
balai Kerta Gosa yang juga berarti "Tempat Keadilan" sebuah objek menonjol 
yang amat terkenal. Kerta Gosa adalah bangunan balai panjang terbuka, 
berlokasi di Kabupaten Klungkung, dipelataran yang dulunya bagian dari 
istana dari keluarga raja. Kisah penipuan sang bangau adalah salah satu dari 
sekian banyak ceritera yang mengandung nasehat menghiasi langit-langit dari 
balai Kerta Gosa tersebut, dimana perselisihan hukum diputuskan oleh Raja 
Klungkung di tahun 1908. 

Sebagai anak kecil di tahun 1950an Nyoman Gunarsa belajar pada sekolah 
yang dibangun oleh Belanda di kawasan istana. Dia sering menoleh ke luar 
melalui jendela dari dalam ruang kelasnya ke balai Kerta Gosa memimpikan 
ingin jadi seorang pelukis suatu hari nanti. Lukisan-lukisan yang terpajang 
pada langit-langit dari "Balai Peradilan" adalah menjadi inspirasi artistiknya 
yang pertama. "Kapan saja ada waktu senggang, saya akan meluangkan 
waktu di balai tersebut membuat sketsa dari semua adegan di langit-langit." 
dia mengingat. Semua lukisan itu merupakan bagian dari pendidikan saya 
sebagai pelukis dan sebagai manusia. Semua itu menggambarkan perbedaan 
antara yang benar dan yang salah, mengambil keadilan diluar kenyataan 
duniawi secara abstrak dan membalikkannya kembali menjadi sesuatu yang 
nyata dan tak terlupakan. 

Setelah kekecewaan dari mempelajari bahwa Mahkamah Agung di Jakarta 
telah menolak untuk mendengarkan permohonan tentang kasus hak ciptanya, 
Gunarsa pergi ke Balai Kerta Gosa dan mengunjungi kembali lukisan-lukisan 
yang telah menjadikan dia tumbuh dan berkembang dengan mempelajarinya. 
Dia menunjuk pada figur burung bangau yang sudah mulai memudar dengan 
busana berhiasan mahkota seorang pendeta, "Kisah dari pendeta palsu tersebut 
tidak jauh berbeda dengan apa yang saya alami dalam menjalani hidup ini, 
hanya dalam kasus saya hakimnyalah yang palsu. Dia berbusana pakai jubah 
pengadilan akan tetapi dia tidak lagi menegakkan hukum dibanding dengan 
si burung bangau yang menegakkan hukum Tuhan. Hubungan diantara 
kisah ini dengan kasus kami adalah sangat jelas. Para hakim dan pengacara. 



126 



^^y- 



'C ''tif '^' 



_Cv 



; 



^ 



y 



-7 



-ft 



/ 



'.••/ 



cs 



/ 



-A 



"^■Sl»' 



t 



rv^ 






/i^, I. l', tx 






/^ .( <-•» 1 






/•t*C^r. ■. ''!:.vv.y'•*^• 



r^ 



rv 



U 






N 



'/. » 



m 



^v^ 



^i 



5^.:^ 









S 



<ti VVi 




^ 



(>^ i/«e>' 






>V <*«*A/.r»«^ 



''•I '.w. 



W5V; 






yM 



^i^'t 









V. -J' 



■y... 



^ 



^ 



.^ 






1 \V 



J^ 



5r.**^ 





\ 






»/N 



\ 



Ctr^^i^ <M^,^uy.^;^ 



/ 



Va^ ^..w^ -4w^-^ .«V/^<^' , '«'^ '*^;^ ^ 



Lv^ 



/ 



■■•( 



/ 



^^^3^ii^ 





7 ■ 



y 




/Z 



^1<>^r 



128 



! 



\>M 






like a game, and I am a victim of their manipulation. Like the fish who were 
victimized by a false priest, I was victimized by a false judge whose decision 
violated the law. I am not afraid to call the judge a false judge, because that 
is the truth based on the facts of the case. In this version of the story I am 
the fish, but I am a fish with a paintbrush and artist s palette." 



For Gunarsa the laws that were betrayed in the courtroom still live in the 
realm of art. When his sees the next panel in the painting of the story, 
Gunarsa imagines a new role for himself in his battle for justice. The heron 
is decapitated by the crab, a creature who symbolizes the truth. "Maybe I 
should be the crab with a paintbrush instead," he laughs. 



sama dengan si burung bangau, memanipulasi kebenaran untuk keuntungan 
diri mereka. Hukumnya sudah bagus, akan tetapi bagaimana semestinya 
diaplikasikan adalah diperkosa. Hakim memiliki kekuasaan untuk memutar 
balikkan yang hitam menjadi putih, membalikkan yang bohong menjadi benar. 
Hukum di Indonesia dimainkan sebagai pertandingan dan saya adalah korban 
dari manipulasi mereka. Seperti si ikan yang dijadikan korban oleh si pendeta 
palsu, saya dikorbankan oleh si hakim bohong, yang mana keputusannya 
melanggar hukum. Saya tidak takut untuk menyebut hakimnya adalah hakim 
palsu, oleh karena demikianlah sebenarnya berdasarkan kenyataan pada 
kasusnya. Dalam versi kisah seperti ini saya adalah ikannya, akan tetapi saya 
adalah ikan dengan kuas dan palet" 

Bagi seorang Gunarsa hukum yang telah dikhianati dalam ruang peradilan 
masih hidup di alam seni. Manakala dia mengalihkan pandangannya pada 
kisah dalam lukisan di panel berikutnya, Gunarsa membayangkan peran 
baru untuk dirinya dalam memperjuangkan untuk sebuah keadilan. Si 
burung bangau di penggal lehernya oleh si kepiting, seekor binatang lambang 
kebenaran. "Barangkali saya lebih baik harus jadi kepiting dengan kuasnya" 
dia tertawa. 



Gunarsa is not alone in his belief that the judge in his case disregarded the 
law. Shortly after his trial ended a team of lawyers engaged by the Indonesian 
Anti- Corruption Movement and Bali Corruption Watch examined the 
courtroom proceedings and published a devastating analysis suggesting 
that the judge's "flawed" and "inaccurate" reasoning could only be explained 
as an example of "mafia justice" in which the law had been manipulated by 
individuals acting in their own self-interest. Criticizing both the judges in 
Denpasar and the justices on the Supreme Court who upheld their decision, 
the report of the anti-corruption agency states: "In the decision that freed 
the suspect Sinyo, although there are strong signs the decision should be 
reversed - the possibility that the judge had been "bought" can not be 
definitively proven." It goes on to argue that cases like this in which legal 
logic is so blatantly twisted are the "tip of the iceberg" offering "proof that 
there really is a mafia" undermining the work of the Indonesian courts.' 

' Putu Wirata Dwikora, director of Bali Corruption Watch, in "Nyoman Gunarsa: Jalan Panjang Martir 
Hak Cipta dan Eksaminasi atas Putusan Bebas Terdakwa Ir. Hendra Dinata. (Malang, 2009). P.2 



Gunarsa percaya bahwa dia tidaklah sendirian dalam melihat hakim yang 
menangani kasusnya tak mengindahkan hukum. Tak lama setelah pemeriksaan 
pengadilan selesai tim pengacara digandeng oleh Indonesian Anti-Coruption 
Movement dan Bali Corruption Watch memeriksa hasil kerja peradilan dan 
mempublikasikan sebuah analisa sangat keras memberikan kesan bahwa hakim 
"bercacat" dan "tidak teliti" memberikan alasan yang diekplanasi hanyalah 
sebagai contoh dari "mafia peradilan" dimana hukum telah dimanipulasi 
oleh aksi perseorangan di atas kepentingan pribadi mereka. Laporan dari 
Agen Anti Korupsi tersebut menyatakan: "Dalam keputusan membebaskan 
tersangka Sinyo, walau terdapat signal yang amat kuat bahwa keputusan 
semestinya dibalik - sebuah kemungkinan bahwa hakim telah "dibeli" kendati 
tidak dapat secara pasti untuk dibuktikan" Itu semua berlangsung dalam 
perseteruan bahwa kasus seperti ini yang mana logika formal adalah sangat 
menyolok diputar balikkan adalah "ujung dari gumpalan gunung es yang 
terapung" memberikan "bukti bahwa memang sesungguhnya adalah mafia" 



129 



Wahyu Sosongko, Professor of Law at Indonesia's 

Lampung University writes, "The arguments used 

by the judge in his decision are confused. The judge 

acknowledges that the paintings in question are in fact 

false, but even though Nyoman Gunarsa suffers a loss 

because his name and signature are used illicitly, the judge 

explains that the painter has no legal connection to the 

paintings and therefore has no right to stop the suspect 

or sue him. The judge's use of logic is misleading because 

it allows anyone who is proven in court to have intentionally reproduced, 

distributed, exhibited, and sold creative works to violate the copyright of 

those works, in this case the false paintings that were reproduced without 

permission from the painter. In spite of the fact that Nyoman Gunarsa is 

the original artist and that his name and signature were falsified, the judge 

argues that he has no right to prevent the falsification of his work. This is a 

tragedy of the law."" 




yang meruntuhkan kerja pengadilan di Indonesia.' 

Wahyu Sasongko, seorang Profesor ahli Hukum pada 
Universitas Lampung Indonesia menulis, "Argumentasi 
yang digunakan oleh hakim dalam mengambil keputusan 
mereka adalah membingungkan. Hakim mengakui adanya 
lukisan-lukisan yang dipertanyakan pada kenyataannya 
adalah palsu, bahkan kendati Nyoman Gunarsa menderita 
kerugian karena nama dan tanda tangannya digunakan 
secara terlarang, hakim menerangkan bahwa tidak ada 
hubungan formal menurut hukum dengan lukisan-lukisan 
tersebut dan oleh karenanya tidak ada hak untuk menghentikan tersangka atau 
menggugat dia. Penggunaan logikanya hakim adalah menyesatkan karena 
akan memberi peluang kepada orang-orang yang terbukti di dalam pengadilan 
yang dengan sengaja mereproduksi, mendistribusikan, memamerkan, dan 
menjual hasil kerja kreatif dengan melanggar hak cipta dari seluruh karya 
seperti itu, dalam hal ini lukisan-lukisan dipalsukan di reproduksi tanpa ijin 
dari pelukisnya. Kendati pada kenyataannya bahwa Nyoman Gunarsa adalah 
pelukis aslinya dan nama serta tanda tangannya telah dipalsukan, hakim 
berargumentasi dia tidak mempunyai hak untuk mencegah pemalsuan hasil 
kerjanya. Ini adalah sebuah tragedi hukum" " 



130 



According to Tuafik Basari, a senior attorney for Indonesia's Public Legal 
Assistance Society, "The reasoning that the judge used in the decision to 
free the suspect in this case is not logical." Noting that important evidence 
mysteriously disappeared from the court's files of a related case, Basari 
goes on to lament that the case is "a very significant black stain on our 
legal system of justice... There should be a comprehensive investigation to 
determine the source of the vanished dossier, and criminal action should be 
taken against those whose carelessness implicated them in this event."'" 



Wahyu Sasongko, Professor of Law at the University of Lampang, in "Nyoman Gunarsa; Jalan Panjang Martir 
Hak Cipta dan Eksaminasi atas Putusan Bebas Terdakwa Ir. Hendra Dinata. (Malang, 2009). Pp. 88-89 

Taufik Basari, in "Nyoman Gunarsa: Jalan Panjang Martir Hak Cipta dan Eksaminasi atas Putusan Bebas 
Terdakwa Ir. Hendra Dinata. (Malang, 2009). Pp. 133-134 



Menurut Tuafik Basari, seorang pengacara senior untuk Lembaga Bantuan 
Hukum Masyarakat, "Pemikiran yang digunakan dalam mengambil 
keputusan membebaskan orang yang dicurigai dalam hal ini tidaklah logis" 
Catatan-catatan sebagai bukti penting secara misterius menghilang dari file- 
file pengadilan yang berkaitan dengan kasus tersebut, Basari berteriak tak 
berkesudahan mengeluhkan bahwa kasus tersebut adalah "sangat penting 
sebagai sebuah noda hitam pada sistem perundang-undangan peradilan kita... 
Seyogyanya dilakukan penyelidikan secara menyeluruh untuk menentukan 
sumber hilangnya kumpulan dokumen penting, dan tindakan jahat harus 

' Putu Wirata Dwikora, director of Bali Corruption Watch, in "Nyoman Gunarsa: Jalan Panjang Martir Hak Cipta 
dan Eksaminasi atas Putusan Bebas Terdakwa Ir. Hendra Dinata. (Malang, 2009). P.2 

" Wahyu Sasongko, Professor of Law at the University of Lampang, in "Nyoman Gunarsa: Jalan Panjang Martir Hak 
Cipta dan Eksaminasi atas Putusan Bebas Terdakwa Ir Hendra Dinata. (Malang, 2009). Pp. 88-89 




131 



Arip Yogiawan, a lawyer for the Legal Aid Society in 
Bandung, Indonesia, focuses on the numerous facts 
that the judge ignored in making his decision, including 
forensic tests on the false paintings that proved they were 
not the work of Gunarsa. "It is clear that the paintings 
displayed in the gallery were not the work of Nyoman 
Gunarsa, and therefore the copyright protection of the 
original works should not be ignored."'" 





^^■j 




jfc^tT;^ 


^^ 


^H 


H. V ' w .^^^^^^H 


Wjm 


■^ 


V 




m^i^ 


^ 


m 


d^l 


P 


Ji 


W^ 1^ 


^■^f^ 


^^E 


^M 


mil 







diambil untuk melawan mereka yang ceroboh melibatkan 
mereka dalam peristiwa ini" '" 

Arip Yogiawan, seorang pengacara untuk Legal Aid Society 
di Bandung, Indonesia, memfokuskan pada sejumlah 
kenyataan bahwa hakim mengabaikan dalam membuat 
keputusannya, termasuk pada test forensik pada lukisan- 
lukisan palsu yang membuktikan bahwa semuanya itu 
bukanlah karyanya Gunarsa. "Itu sangat jelas lukisan- 
lukisan yang dipajangkan di galeri bukanlah karyanya 

Nyoman Gunarsa, dan oleh karenanya perlindungan hak cipta atas keaslian 

hasil kerjanya seharusnya tidak diabaikan" " 



Gunarsa reflects on the corruption of justice that undermined the verdict 
in his trial as he looks up at the paintings of the Kertha Gosa ceiling. One 
sequence shows the agony of sinners in hell, whose grotesque punishments 
are imagined to fit their crimes. "That is the fate of liars," he says, pointing 
to a painting of a man whose mouth is being scorched by a flaming torch. 
In another corner of the ceiling he finds the mythical figures of Rangda 
and Barong enacting the eternal battle between good and evil, a scene that 
helps him see his trial in a larger context of spiritual conflicts based on the 
oppositional elements of Ruabineda: truth and lies, justice and injustice, 
honesty and betrayal. 



Still another panel depicts a shower of fiery weapons 
sailing over a pyramid of flames, recalling the image of 



Arip Yogiawan, in "Nyoman Gunarsa: Jalan Panjang Martir Hak Cipta dan 
Eksaminasi atas Putusan Bebas Terdakwa Ir. Hendra Dinata. (Malang, 2009). P. 175. 




Gunarsa membayangkan akan pemerkosaan keadilan serta perusakan 
keputusan dalam peradilannya seperti halnya ketika dia melihat ke atas 
pada lukisan-lukisan di langit-langit balai Kerta Gosa. Sebuah rangkaian 
menunjukkan kenyerian dari pendusta di neraka, yang kena hukuman 
fantastis amatlah cocok dengan kejahatan yang dilakukannya. "Itulah nasib 
para pendusta" katanya, menunjuk pada sebuah lukisan seorang lelaki 
yang mulutnya sedang dibakar dengan kobaran api obor. Di sudut lain 
dari langit-langit dia mendapatkan dongengan figur Rangda dan Barong 
menggambarkan peperangan antara baik dan buruk dalam diri, membantu 
menempatkan pemeriksaan pengadilannya dalam konteks yang lebih besar 
dari konflik spiritual berdasar pada pertentangan dari elemen Ruabineda; 
kebenaran dengan kebohongan, keadilan dengan ketidak 
adilan, kejujuran dengan pengkhianatan. 

Dalam panel yang lain ada lukisan pancaran senjata 
api melintas di atas kobaran api berwujud piramida. 



Taufik Basari, in "Nyoman Gunarsa: Jalan Panjang Martir Hak Cipta dan Eksaminasi 
atas Putusan Bebas Terdakwa Ir. Hendra Dinata. (Malang, 2009). Pp. 133-134 

Arip Yogiawan, in "Nyoman Gunarsa: Jalan Panjang Martir Hak Cipta dan 
Eksaminasi atas Putusan Bebas Terdakwa Ir Hendra Dinata. (Malang, 2009). R 175. 



132 



the astra geni from Nardayana's 
shadow play. In fact all the figures 
on the ceiling are reminiscent of 
shadow puppets. The Klungkung 
style of painting is based on 
a two dimensional form of 
representation that owes much 
to the design of wayang kulit 
puppets. Gunarsa's artistic 

sensibilities were nurtured by this 
unique form of abstraction and 
its influence can be seen in the 
personal style he has developed 
for his own paintings. 




A few hundred yards from Kertha 

Gosa is the school building where 

Gunarsa studied as a child. It 

is now a museum, and on the 

wall of his former classroom are 

two large canvases painted by 

Gunarsa. His style bridges the 

gulf that separates the traditional 

designs of Kertha Gosa's ceiling 

and the evolving aesthetics of 

contemporary Bali. Like the 

Kertha Gosa ceiling Gunarsa's canvases depict the human figure in a style 

that echoes the form of shadow puppets. One of the paintings portrays two 

warriors in traditional garb as if they were figures from a puppet play. The 

other portrays two women temple dancers in ceremonial costumes. They 

are also depicted in a style linked to the figures found on the Kertha Gosa 

ceiling, but like the warriors, the dancers defy the constraints of tradition. 



mengingatkan sebagai kesan dari 
astra geni pertunjukan wayang 
kulitnya Nardayana. Pada 
kenyataannya semua fugur-figur 
yang terdapat di langit-langit 
mengingatkan kepada pertunjukan 
wayang. Gaya lukisan Klungkung 
berdasar pada bentuk dua dimensi 
yang kebanyakan meminjam dari 
wayang kulit tradisi. Sensibilitas 
atau rasa artistiknya Gunarsa 
dipelihara oleh bentuk yang unik 
ini dengan mengabstraksikannya 
dan pengaruhnya dapat dilihat 
pada gaya pribadinya yang dia 
kembangkan sebagai ciri pribadi 
lukisannya. 

Beberapa ratus meter dari balai 
Kerta Gosa adalah bangunan 
sekolah dimana Gunarsa belajar 
ketika dia masih kecil. Sekarang 
sudah berubah menjadi museum, 
dan di dinding bekas ruangan 
kelasnya terdapat dua lukisan 
berukuran raksasa yang dilukis oleh 
Gunarsa sendiri. Gaya lukisannya 
menjembatani jurang pemisah 
desain tradisional di langit-langit 
balai Kerta Gosa dengan estetika Bali kontemporer. Seperti halnya dengan 
langit-langitnya Kerta Gosa, Gunarsa melukiskan mengambil figure manusia 
dalam gaya yang kebanyakan dimiliki oleh pertunjukan wayang. Satu dari 
lukisan tersebut menggambarkan ksatria berbusana tradisional seperti 
nampaknya mereka adalah figur dari pertunjukan wayang. Lukisan yang lain 
menggambarkan sepasang wanita penari pura mengenakan kostum upacara. 



133 



134 














They break out of the static patterns of the old Klungkung style and seem to 
vibrate with a hyper-kinetic energy that is unmistakably modern. 



Among the most striking elements of these works are the swirling shapes 

in the background areas between the 

human figures. Gunarsa fills the space 

with abstract lines, curves, and angles 

that might be viewed as coded musical 

notes propelling the figures through 

space. Although they give Gunarsa's work 

a decidedly modern flair, this element of 

his painting also has its roots in classical 

Klungkung paintings. The background 

spaces in that traditional style are 

ornamented with countless tiny floating 

ovals, as if the air itself had eyes and the 

gods were watching over every scene. This 

motif can be seen in a painting hanging 

in the former schoolroom near Gunarsa's 

canvas. It is a variation of the Nawa 

Sanga, a holy pattern depicting the nine 

sacred directions of Balinese cosmology. 

The spaces between the gods and demons 

are filled with the familiar eye-shaped ovals whose power is intensified by 

the floating shapes of mystical weapons like the disc-shaped cakra, flaming 

arrows, and dragon-headed whips. Gunarsa's kinetic background shapes 

suggest abstractions of these weapons or of the letters of the Balinese 

alphabet called aksara, some of which are also considered to be weapons of 

protection when used with the proper magical incantations. 




Mereka juga dihidupkan dalam gaya yang menyatu dengan figur yang terdapat 
di langit-langit balai Kerta Gosa, akan tetapi seperti halnya lukisan pahlawan, 
lukisan penari juga menantang batasan dari tradisi. Mereka mendobrak pola- 
pola gaya Klungkung yang statis dan kelihatannya digetarkan oleh energi 
kinetis berlebihan itu jelasnya adalah moderen. 

Diantara elemen-elemen yang paling menyolok dari karya ini adalah bentuk- 
bentuk yang berpusar di bagian areal latar 
belakang diantara figur-figur manusia. 
Gunarsa mengisi kekosongan dengan 
garis-garis abstrak, lekukan-lekukan dan 
sudut-sudut yang kelihatannya sebagai 
note musik yang kecil sehingga mendorong 
figura lebih keluar dalam ruang. Kendati 
mereka menyebut karya Gunarsa dengan 
jelas sebagai bakat moderen, elemen- 
elemen dari lukisannya juga mengakar 
dengan gaya tua dari lukisan-lukisan 
Klungkung. Ruang latar belakang dalam 
gaya tradisi seperti itu diornamentasikan 
dengan oval kecil mengambang tak 
terhitung jumlahnya, layaknya bahwa 
udara itu memiliki mata para dewa dalam 
melihat pada setiap adegan. Motifnya 
dapat dilihat di dalam lukisan yang 
menggantung pada bekas ruang kelasnya 
dekat kanvasnya Gunarsa. Adalah variasi dari nawasanga, pola-pola suci 
menggambarkan sembilan arah suci dari kosmologi Bali. Ruang diantara alam 
Tuhan dan Raksasa diisi dengan bentuk mata oval sudah dikenal kekuatannya 
diintensifikan dengan bentuk senjata mistis mengambang seperti cakranya 
Siwa, panah menyala dan cambuk berkepala naga. Bentuk-bentuk latar 
belakang kinetiknya Gunarsa mengedepankan bentuk abstrak dari senjata ini 
atau bentuk gaya baroque dari abjad Bali yang dikenal dengan nama aksara 
beberapa diantaranya dipertimbangkan sebagai senjata untuk perlindungan 
jika digunakan sesuai mantra magis. 



135 



Although it is impossible to label these shapes with a precise meaning, 
Gunarsa's dancing hieroglyphs give his paintings their distinctive style, and 
locate his roots in the mystical cosmology of his ancestors. "In the old 
paintings," Gunarsa says, "the shapes in the spaces between the figures were 
like the eyes of the gods watching everything, symbols of karmapala and 
the justice of heaven." For Gunarsa the spiritual dimensions of traditional 
Balinese art are reminders that spiritual justice transcends the law of men. 



Walaupun tidak memungkinkan untuk menamakan bentuk-bentuk tersebut 
dengan arti sesungguhnya, tarian hieroglyphs (bentuk symbol tulisan romawi) 
Gunarsa memberikan gaya lukisannya yang unik, dan menempatkan akarnya 
di dalam cosmologi mistis dari leluhurnya. "Bentuk-bentuk pengisi ruang 
diantara figur-figur dalam lukisan tua layaknya seperti spirit. Semuanya 
seperti mata-mata para dewa yang mengamati segala sesuatunya, simbol dari 
karmapala dan pengadilan sorga." Bagi Gunarsa dimensi spiritual dari seni 
Bali tradisional adalah pengingat bahwa peradilan secara spiritual melebihi 
hukum manusia. 



The schoolhouse turned museum is filled with talismans of that Balinese 
faith in the ultimate triumph of good over evil. Across from Gunarsa's 
paintings are the masked figures of Barong and Rangda whose ongoing 
battle represents the eternal struggle between the positive and negative 
forces of the universe. Not far from them is a painting that depicts the 1908 
massacre of the Balinese by Dutch colonial soldiers. The battle occurred 
in the palace courtyard of the Kertha Gosa pavilion. The Balinese King of 
Klungkung refused to surrender to the Dutch, whose laws of empire had 
decreed that Bali belonged to them. Instead he relied on the sacred laws 
of his island and the spiritual weapons that had served his ancestors. In 
the short-term all the members of his court were slaughtered, but a century 
later evidence of the king's ultimate victory can be found in the fact that 
the Dutch are gone and the Balinese "hall of justice" still stands on the site 
of the Dutch army's hollow triumph. A stone statue of a hunched-over 
Dutch soldier sits sulking in a shadowy corner beneath the painting of the 
'nawasanga! The resonance of all this history infuses the objects in the 
musty former schoolroom with a tranquil aura of karmapala, the ancient 
Hindu belief that justice prevails in the end. 



It is his understanding of karmapala that comforts Gunarsa in the aftermath 
of his trial. All the sacred emblems of spiritual justice found in the kertha 



Gedung sekolah yang sudah beralih fungsi menjadi musium tersebut 
dipenuhi dengan jimat yang menurut kepercayaan orang Bali pada akhirnya 
kebenaran pasti menang diatas kejahatan. Di seberang lukisan-lukisan 
Gunarsa terdapat figur bertopeng Barong dan Rangda yang berseteru 
secara terus menerus melambangkan pergolakan internal dalam diri antara 
kekuatan positif dengan negatif dari alam semesta. Tidak jauh dari semua 
itu terdapat lukisan yang menggambarkan pembantaian terhadap orang Bali 
oleh tentara kolonial Belanda di tahun 1908. Pertumpahan darah terjadi 
dihalaman diantara gedung sekolah dan balai Kerta Gosa. Raja Klungkung 
menolak untuk menyerah kehadapan Belanda yang menurut hukum kerajaan 
telah memutuskan bahwa Bali termasuk dalam wilayahnya. Selain itu beliau 
lebih percaya dengan hukum sakral dari pulaunya dan senjata spiritual yang 
telah melayani nenek moyangnya. Dalam waktu singkat semua keluarga 
dan kerabat kerajaan dibantai, akan tetapi seabad kemudian terbukti raja 
akhirnya mendapatkan kejayaan yang pada kenyataan Belanda telah pergi 
dan "balai peradilan" orang Bali masih berdiri kokoh dalam area bekas tentara 
Belanda memperoleh kemenangan palsu. Patung batu tentara Belanda duduk 
membungkuk di sudut yang remang-remang dibawah lukisan nawasanga.' 
Resonansi dari semua sejarah ini dituangkan ke dalam objek pada ruangan 
pengap bekas ruang sekolah dengan aura ^enan^ dar/ karmapala, kepercayaan 
kuno masyarakat Hindu bahwa pada akhirnya keadilan akan menunjukkan 
dirinya. 

Adalah pemahamannya tentang karmapala yang melegakan Gunarsa pada 
buntut peradilannya. Semua lencana sakral dari peradilan spiritual yang 



136 





137 





138 




gosa and its adjacent museum can also be found in the art 
museum that Gunarsa has estabhshed a few kilometers 
away on a plot of land next to his home. The Nyoman 
Gunarsa Museum of Classical Balinese Art boasts a rare 
colleciion of paintings, sculpture, textiles, and shadow 
puppets that enable visitors to view centuries of Balinese 
tradition in the span of a few hundred square meters. 
There are painted cloths that tell the stories of gods and 
heroes struggling for justice in the face of evil. There are 
figures of Rangda and Barong. There are also depictions 
of the mystical weapons of the nawasanga, some of them 
carved in stone on the exterior walls of the museum, 'for 
protection,' says Gunarsa. 



«^ 




An important part of the museum's collection includes cowhide leather 
shadow puppets depicting hundreds of figures from Hindu mythology 
including the characters from the Ramayana who were animated by the 
dalang Nardayana in his performance about the copyright trial. 

Gunarsa takes a few of them in his hands one at a time, giving them voices 
that echo the dialogue in Naradayana's puppet play. "The false Anggada 
will never escape," he grunts in the unmistakable voice of Twalen, the comic 
narrator of the wayang plays. "The astra geni is a weapon that pursues evil 
wherever it hides." Gunarsa laughs with the deep bellowing tones of the 
puppet clown and picks up a shadow puppet incarnation of a fiery arrow 
that might represent the astra geni. He waves it over another shadow 
puppet that embodies a pyramid of blood red flames. In the world of 
wayang justice is inevitable. In the world of Indonesia's legal system justice 
has eluded Nyoman Gunarsa. Legal representatives of the country's anti- 
corruption organizations have analyzed his case and found that corruption 
of the judges by organized crime figures linked to Sinyo is the most likely 
explanation for the convoluted decision that ignored the the violation of 



didapat di dalam balai kerta gosa dan juga di dalam 
museum yang berdekatan juga didapatkan di dalam 
museum seninya Gunarsa yang dirikan hanya beberapa 
kilometer jauhnya dalam pengaturan areal di samping 
rumahnya. Musium Gunarsa untuk Seni Bali Klasik 
dengan koleksinya aneh membanggakan terdiri dari 
lukisan-lukisan, patung, tekstil, dan wayang kulit yang 
memungkinkan pengunjung untuk melihat tradisi Bali dari 
berabad silam di dalam bentangan ruang beberapa ratus 
meter persegi. Terdapat lukisan kain yang menceriterakan 
kisah dari dewa-dewa dan pahlawan bergumul untuk 
mendapatkan keadilan dari hadapan pendurhaka. Ada 
figur Rangda dan Barong. Terdapat juga penggambaran 
senjata mistis dari dewatandiwasangsi, beberapa diantaranya 
dipahatkan di batu di tembok bagian luar museum, sebagai 
perlindungan,' katanya Gunarsa. 



Menjadi bagian penting dari koleksinya museum termasuk wayang kulit 
dari kulit sapi menggambarkan ratusan figur dari mitologi Hindu termasuk 
karakter dari Ramayana seperti yang telah dihidupkan oleh dalang Nardayana 
dalam pementasannya tentang pengadilan hak cipta. 

Gunarsa mengambil beberapa diantaranya dan memegangnya satu persatu, 
memberikan suara padanya menggema dari dialog pertunjukannya 
Nardayana. "Anggada palsu tidak bakalan pernah bisa menghindar" dia 
mengorok dalam suaranya Twalen yang tidak diragukan lagi, tokoh narator 
badut yang terdapat dalam pertunjukan wayang. "Astra geni adalah senjata 
yang mengejar pen j ahatkemanapun dia menghindar" Gunarsa tertawa dengan 
suara rendah untuk wayang penakawan dan mengambil wayang inkarnasi 
panah berapi-api sebagai perwujudan astra geni. Dia mengayunkan keatas 
wayang lain yang mengambarkan jilatan api seperti darah merah berbentuk 
piramida. Di dalam dunia wayang keadilan tidaklah bisa diacuhkan. Di 
dunia dari sistem peradilan resmi di Indonesia Nyoman Gunarsa telah 
dielakkan. Badan perwakilan resmi negara yakni organisasi anti korupsi 
telah menganalisis keputusan yang diambil di pengadilan Denpasar dan 



139 



the copyright statutes that are written into Indonesian law. 



diketemukan korupsinya hakim dengan figur-figur organisasi kriminal yang 
berhubungan dengan Sinyo bisa dipastikan penjelasan untuk keputusan yang 
dibengkokkan dengan mengabaikan fakta dari kasus dan pelanggaran tentang 
hak cipta dalam perundang-undangan dasar negara telah termuat dalam 
hukum Indonesia. 



Gunarsa is outraged by this miscarriage of justice, and wonders how it 
will affect the rights of other artists whose protection under the law is so 
vulnerable. His legal avenues of appeal are exhausted, but the exposure of 
the corruption that led to the exoneration of the copyright violators is still 
possible. Gunarsa continues to work with the Indonesian Anti-Corruption 
Movement and Bali Corruption Watch whose lawyers have declared that his 
case "a tragedy of the law. . . that can serve as a valuable lesson, of something 
that should never be repeated. The way in which the case was handled was 
irregular. The officials assigned to uphold the law were not professional in 
their actions."" 



The corruption of public officials is so rampant in Indonesian society that it 
is one of the first associations that the high priest Ida Pedanda Ketut Sidemen 
makes when he sees a photo of the Kertha Gosa painting illustrating the 
story of the heron and the crab. "He is dressed like a priest, but he is not a 
priest, says Ida Pedanda. He will be trusted, because no one would expect 
anything untrustworthy from a priest. But the heron betrays that trust. 
It is the same kind of corruption that often happens now in Indonesia. 
Common people believe the things that are said by people wearing ties and 
government uniforms, but they are often the most corrupt. It is an example 
of ruabineda. The one who appears to be representing truth is telling the 
lies, like someone dressed as a judge pretending to be upholding justice, but 
corrupting it instead. This would be a false judge, and it is not just the judge 
who is at fault. The people who believe him are also wrong. Why should 

" Wahyu Sasongko, in "Nyoman Gunarsa: Jalan Panjang Martir Hak Cipta dan Eksaminasi atas Putusan Bebas 
Terdakwa Ir. Hendra Dinata, (Malang, 2009). Page 89-90 



140 



Gunarsa sakit hati oleh kekeliruan hukum ini, dan mengkhawatirkan 
bagaimana akan berpengaruh pada hak para seniman lain yang bernaung 
dibawah perlindungan hukum yang sangat mudah untuk diserang. Jalan proses 
hukum yang demikian lebar untuk menempuh banding sangatlah melelahkan, 
akan tetapi kemungkinan membongkar korupsinya yang mengantarkan 
pada pembebasan dari tuduhan pelanggaran hak cipta bagi pelanggar masih 
menggiurkan. Gunarsa berlanjut untuk bekerjasama dengan Indonesian Anti 
Coruruption Movement dan Bali Corruption Watch yang mana pengacara- 
pengacaranya telah mengumumkan bahwa kasusnya merupakan "sebuah 
tragedi dalam hukum... yang dapat menjadi pelajaran berharga, dari sesuatu 
yang semestinya tidak terulang lagi. Cara penanganan kasus ini tidak seperti 
biasanya. Para pejabat yang ditugasi untuk menegakkan hukum bukanlah 
orang-orang profesional di dalam tingkah laku mereka!'^ 

Korupsi oleh para pejabat publik sangatlah merajalela di dalam masyarakat 
Indonesia salah satu dan yang pertama diasosiasikan oleh pendeta Ida Pedanda 
Ketut Sidemen ketika beliau melihat foto lukisan-lukisan dari balai Kerta Gosa 
dengan ilustrasi ceritera burung bangau dan kepiting. "Dia berbusana seperti 
pendeta, akan tetapi dia bukanlah seorang pendeta" kata Ida Pedanda. Agar 
dia dapat dipercaya, karena tak seorangpun berharap sesuatu yang tak dapat 
dipercaya dari seorang pendeta. Akan tetapi si burung bangau mengkhianati 
kepercayaan tersebut. Sama halnya dengan model korupsi yang sering terjadi 
di Indonesia sekarang ini. Orang kebanyakan percaya kepada sesuatu yang 
dikatakan oleh orang yang memakai dasi dan berseragam pemerintahan, akan 
tetapi merekalah sesungguhnya orang yang paling sering melakukan korupsi. 
Itu adalah contoh dari ruabineda. Seseorang yang tampil sebagai perwujudan 
kebenaranlah yang justru berkata bohong, seperti halnya seseorang yang 

" Wahyu Sasongko, in "Nyoman Gunarsa: Jalan Panjang Martir Hak Cipta dan Eksaminasi atas Putusan Bebas 
Terdakwa Ir. Hendra Dinata. (Malang, 2009). Page 89-90 



#«^^«4^' y*sr ^^^'^^^ ^ *y**^^'^\ /^tjix 










h' ■4^~ 







141 












142 



we believe anything that is said before we know for sure that it is true. We 
have to think first about what is true and what is false. That is what the 
story sings." 



The priest's choice of verbs is revealing. When he looks at the story of the 
heron as it is painted on the ceiling of Kertha Gosa, he does not just see a 
visual metaphor for justice denied, he hears the story as if someone were 
singing it to him from one of his fading lontar manuscripts. For him the 
painting pulsates with teachings of sacred books and the voices of those 
who sing from them. The tension between falsehood and truth is both the 
source and subject of the heavenly music that enlightens those who listen. 



The artist Gunarsa, like the priest, is also sensitive to the music in the 
paintings of Kertha Gosa. For him it is a music connected to history and 
nature, as well as religion. The ceiling is alive with images that remind him 
of his childhood when he was first inspired to become an artist, and in those 
images he hears the sound of the pindekan, the spinning noisemaker that 
farmers set up in the rice fields to scare birds away from their crop. "The 
pindekan is shaped like a wheel," Gunarsa explains, drawing a quick sketch 
of a windmill above a hut in a ricefield. "It is propelled by the wind and it 
moves through all the sacred directions. The sound it makes is the sound 
of ruabineda, the sound of opposition. The wind blows through it from the 
east to the west, or the west to the east, and the propeller spins through all 
the directions of the nawa sanga. Like electricity, its energy is created by 
the movement from one extreme to the other, from positive to negative. It 
is the shape of the tampak dara, and as it spins it makes a sound that comes 
from that spinning between opposites, as if it is singing a song of the wind 
telling us that change is eternal." 



berbusana sebagai hakim berpura-pura sebagai pemegang penegakan 
keadilan, justru sebaliknya melakukan korupsi. Orang seperti ini adalah hakim 
palsu, dan itu adalah tidak saja hakim yang salah. Orang yang percaya dengan 
dia juga salah. Kenapa kita harus percaya pada sesuatu yang dikatakan sebelum 
kita mengatahui dengan yakin. Kita harus berfikir dahulu apa itu yang benar 
dan apa itu yang salah. Seperti itulah dinyanyikan dalam ceritera." 

Pilihan kata kerja Ida Pedanda adalah membuka jalan pikiran. Ketika beliau 
melihat pada kisahnya burung bangau seperti yang dilukiskan pada langit- 
langit balai Kerta Gosa, beliau tidak hanya melihat kiasan nyata untuk keadilan 
diingkari, beliau juga mendengar ceritera manakala seseorang menyanyikan 
untuk beliau dari manuskrip lontar kusam miliknya. Bagi beliau getaran 
lukisan dengan ajaran dari buku suci dan suara-suara semuanyalah yang 
bernyanyi darinya. Ketegangan diantara kesalahan dan kebenaran keduanya 
adalah sumber dan subjek dari musik sorga yang dapat memberi pencerahan 
bagi mereka yang mendengarkannya. 

Pelukis Gunarsa, seperti halnya pendeta, adalah juga sensitif kepada rasa 
musikal di dalam lukisan Kerta Gosa. Baginya itu adalah sebuah musik 
berhubungan dengan sejarah dan alam termasuk juga agama. Langit-langit 
tersebut hidup dengan kesan yang dapat mengingatkannya pada masa 
kanak-kanaknya ketika dia untuk pertama kalinya diinspirasikan untuk 
menjadi seorang pelukis, dan dalam kesan tersebut dia mendengar suara dari 
pindekan, suara yang dilahirkan oleh putaran baling-baling yang dipasang 
oleh petani di sawahnya untuk menakut-nakuti burung agar menjauh dari 
hasil panennya. "Bentuk dari pindekan tak ubahnya seperti roda" Gunarsa 
menerangkan, dengan cepat dia membuat sketsa kasar baling-baling di atas 
gubuk di tengah sawah. "Ini didorong oleh angin dan bergerak dengan 
sendirinya ke semua arah yang suci. Suara yang dikeluarkan adalah suara 
dari ruabineda, suara dari pertentangan. Angin menghembus dari timur ke 
barat, atau dari barat ke timur, dan baling-baling berputar ke semua arah 
dari nawasanga. Seperti halnya listrik, energinya diciptakan oleh gerakan 
dari positif ke negatif. Itu adalah bentuk dari tampak dara dan demikian 
dia berputar itu membuat suara yang datang dari perputaran antara 
perseberangan, seperti halnya menyanyikan lagu dari angin yang memberitahu 



143 



kita bahwa perubahan itulah yang abadi." 



;Gunarsas drawing of the pindekan crackles with a sense of movement 
that makes the wind visible, and he voices the sound of the pindekan as he 
sketches its spinning form. He cannot separate the music of the natural 
world from its visual representation and its spiritual connection to Balinese 
beliefs. "When I was a child I worked with my father in the rice fields and 
was inspired by the movement of nature. The clouds were always moving, 
changing shapes. And the movement of the clouds was always accompanied 
by the singing of the wind, and sometimes by the 
pindekan, which also kept spinning and changing, 
but its essential shape was the shape of the tampak 
dara that could be found also in the leaves of 
the palm trees. The tampak dara signifies the 
virtue that exists between the extremes of high 
and low, left and right. This is ruabineda. The 
wheel of life is always spinning us back and forth 
between good and evil, between black and white, 
according to the fruits of our actions." 







The shape of the sacred tampak dara is made by two lines of equal length 
that intersect each other at their midpoint creating four right angles. The 
vertical line represents the axis from heaven to earth and the horizontal line 
represents the link between humanity and the natural environment that 
sustains it. When shorter lines are added to each of its ends, at a ninety- 
degree angle, the shape becomes the Hindu Swastika, a symbol of eternal 
movement and stability that long predates its appropriation by the Nazis. 
Some Balinese believe that the tilting of the symbol off its north-south 
axis was a destabilizing act of sacrilege that made the demise of the Nazis 
inevitable. 



Lukisan Gunarsa tentang pindekan pecahan dengan rasa bergerak yang 
membuat angin itu nyata, dan dia bunyikan suara dari pindekan sambil dia 
mensketsa bentuknya yang berputar. Dia tidak dapat memisahkan musik 
dari alam dari persembahan visualnya dan hubungan spiritualnya dengan 
agama orang Bali. "Ketika saya masih kecil saya bekerja dengan ayah saya di 
sawah dan diilhami oleh gerakan alam. Awan selalu bergerak, berubah-ubah 
bentuk, merubah dirinya kedalam bentuk para ksaria dari Mahabharata 

dan Ramayana atau binatang naga. Perubahan 
dari bentuk-bentuk awan tersebut selalu disertai 
oleh nyanyian angin, dan terkadang oleh suara 
pindekan, yang selalu berputar dan berubah, 
akan tetapi bentuk pokoknya adalah berbentuk 
tampak dara yang juga bisa didapat di dalam 
daun tanaman jenis pohon palem. Tampak dara 
menandakan kebaikan yang berada diantara 
pertentangan diantara tinggi dengan rendah, kiri 
dengan kanan. Inilah ruabineda. Roda kehidupan 
kita selalu berputar bolak balik diantara baik 
dengan jahat, diantara hitam dengan putih, sesuai 
dengan buah dari tindakan kita" 

Bentuk dari tampak dara yang sakral tersebut dibentuk oleh dua garis sama 
panjang menyilang satu sama lain, pada titik pertengahan membuat empat 
sudut yang sama. Garis vertikalnya mengkiaskan keberadaan dari sorga ke 
bumi, dan garis horisontalnya melambangkan hubungan sesama manusia 
dan alam lingkungannya yang menopangnya. Bila garis lebih pendek bersudut 
sembilan puluh derajat ditambahkan kekanan pada setiap ujung dari masing- 
masing garis, bentuk ini akan menjadi swastika Hindu, sebuah simbol dari 
gerakan abadi dan keseimbangan yang jauh lebih tua dari hal yang sama 
diberikan untuk Nazis. Beberapa orang Bali percaya bahwa kemiringan dari 
simbol keluar dari keberadaan utara selatan adalah yang membuat tindakan 
ketidakstabilan melanggar terhadap hal-hal yang diangap keramat yang 
membuat kehancuran dari Nazis tak dapat dielakkan. 



144 



The pentatonic sounds of the Bahnese musical scale are arranged in a pattern 
that fits that image of the tampak dara, with each note corresponding to 
points found at the north, south, east, west, and center of the symbol. 
Adding the points of northeast, southwest, northwest, and southeast creates 
the nine-directional symbol of the nawa sanga whose points correspond to 
the dwelling places of nine gods, along with the sacred weapons (senjata) 
and monosyllabic mantras (aksara) that are associated with each of them. 
The clockwise movement around each of these points is a circular rotation 
known as pengider bhuana and it is associated with the circle of life as the 
universe turns in eternal motion. 



This sacred geometry is the foundation for the composition of many 
traditional Balinese paintings, including the ceiling of Kertha Gosa. Though 
less evident, the same sacred geometry is submerged in the structure of 
all Gunarsa's artwork, and it is particularly forceful in the way it animates 
the abstract shapes in the spaces between and around his central subjects. 
A modern counterpart to the mystical shapes that filled the spaces in 
traditional paintings like the ones at Kertha Gosa, Gunarsa's abstractions 
surround his figures with a dynamic sense of kinetic energy that is almost 
audible. TTiey imbue his work with a sense of spiritual mystery that is rooted 
in the symbols of the tampak dara, nawa sanga, senjata, and aksara, even 
though these symbols are never overtly present. Balinese cosmology has 
been assimilated into the movement of Gunarsa's muscles when he puts a 
pen to paper or a brush to canvas, and that movement seems always to be 
propelled by the sounds that are integral to Balinese life: gamelan orchestras, 
chants of prayer, and the wind blowing through a pindekan in a rice field. 



When Gunarsa sees his paintings, he hears the sounds that inspired them. 
Like the priest who hears the singing of sacred stories in the illustrations 
that adorn Kertha Gosa's ceiling, Gunarsa cannot help but hear the music 
that is embedded in the visual composition of his canvases. Pointing to a 
painting of the Calonarang dance drama, Gunarsa sings the incantations of 



Pengaturan pola sistem nada pentatonik (lima nada) untuk laras karawitan 
Bali sesuai dengan kesan dari tampak dara, yang mana setiap nada bersenyawa 
dengan menunjuk terdapat di utara, selatan, timur, barat dan ditengah dari 
simbol. Dengan menambahkan pada titik-titik di timur laut, barat daya, barat 
laut dan tenggara akan membuat sembilan arah mata angin sebagai simbol 
nawa sungSLyang titik-titiknya berhubungan dengan stana dari sembilan para 
dewa dengan senjata sucinya dan aksara bersuku kata satu yang memiliki 
keterkaitan satu sama lainnya. Gerakannya yang searah dengan putaran 
jarum jam seputar masing-masing dari titik ini berputar melingkar dikenal 
dengan sebutan pengider bhuana diasosiasikan dengan siklus kehidupan 
seperti halnya alam semesta bergerak berputar abadi. 

Geometri sakral seperti ini menjadi dasar untuk komposisi kebanyakan 
lukisan Bali radisional, termasuk lukisan di langit-langit balai Kerta Gosa. 
Meskipun sedikit kurang jelas, geometri sakral keberadaannya menyelam di 
dalam struktur karya seninya Gunarsa, dan terutama sekali itu sangat kuat 
dalam menghidupkan bentuk-bentuk abstrak di dalam ruang diantara dan 
diseputar subjek-subjek utamanya. Pendamping moderen kepada bentuk- 
bentuk mistis seperti yang terdapat di Kerta Gosa, pengabtraksian Gunarsa 
diseputar figur-figurnya dengan rasa tenaga gerak yang hampir dapat 
didengar. Semuanya itu mengilhami kerjanya dengan rasa misteri spiritual 
yang mengakar pada simbol-simbol dari tampak dara, nawa sanga, sejata 
dan aksara, kendatipun simbul-simbul ini tak pernah secara terbuka hadir 
kepermukaan. Kehadiran dari kosmologi Bali telah diasimilasikan ke dalam 
gerak ototnya Gunarsa manakala dia menggoreskan penanya di kertas 
atau pada sapuan kuasnya di kanvas,dan gerakan tersebut nampaknya 
selalu didorong oleh suara yang menyatu ke dalam pemandangan jagad 
Bali, gamelan, mantram lantunan doa-doa, dan angin yang menghembus 
pindekan di tengah sawah. 

Ketika Gunarsa melihat lukisannya, dia mendengar suara-suara yang 
mengilhaminya. Seperti halnya pendeta yang mendengar nyanyian dari 
ceritera sakral di dalam ilustrasi yang menghiasi langit-langit Kerta Gosa, 
Gunarsa tidak dapat membantu akan tetapi mendengar bahwa musik tersebut 
terpendam dalam komposisi visual dari kanvas-kanvasnya. Menunjuk pada 



145 



146 




the sisya, apprentice sorcerers whose magic spreads plague in each direction 
of the nawa sanga. Later he stops in front of a painting of a priest blessing 
an offering with the sprinkling of holy water and the whisper of a sacred 
mantra. Gunarsa imitates the delicate tinkling of the priest's bell, noting 
that its sound is generated by the clapper's movement from east to west 
or north to south as it hits against the dome of the bell at each of those 
points. 



In Gunarsa's paintings the sacred sounds, holy dances, and mystical beliefs 
of Bali's heritage crash and clang together against the dynamic energy of 
Bali's struggle to maintain its cultural identity in the modern world. This 
dynamic merging of the senses is at the heart of Gunarsa's style, and it could 
not be duplicated by the listless forgeries that were on display at the copyright 
trial in Denpasar. Expert witnesses maintained that the copies lacked the 
soul of Gunarsa's signature style, and the judges agreed with them. Even in 
their decision to deny Gunarsa his rights under Indonesian copyright law, 
the judges admitted that the copies did not meet his standards of artistic 
creation. What the judges failed to do was to listen to the music of the 
paintings on display in their courtroom. They could not hear the sound of 
Balinese history, religion, and culture singing in Gunarsa's canvases, and 
they were tone deaf to the destruction their decision would initiate. 



The artistic heritage of Bali, Indonesia or any other culture 
cannot endure if its ransacking is legitimized by the 
authorities designed to protect it. If left unchallenged the 
decision of the judges would undermine all copyright laws 
in Indonesia, essentially permitting anyone to make bad 
copies of any work of art (visual, literary, or musical) and 
profit from their sale by arguing that the copy is not really 
the same as the original, so the original artists have no legal 
right to stop them. This violates not only the economic 




lukisan dramatari Calonarang, Gunarsa menyanyikan mantra-mantra dari 
sisya, murid dari seorang tukang sihir yang kekuatan magiknya menebar 
wabah ke seluruh penjuru dari nawasanga. Kemudian dia berhenti dihadapan 
lukisan seorang pendeta mendoakan sesajen dengan memerciki air suci dan 
membisikkan mantra sakral. Gunarsa menirukan enaknya denting suara 
genta pendeta memberikan catatan suara tersebut dihasilkan oleh ayunan 
anak genta dengan gerakan dari timur ke barat dan dari utara ke selatan 
memukuli setiap titik pada lengkungan tepian dari genta tersebut. 

Di dalam lukisan Gunarsa suara suci, tarian suci, dan kepercayaan mistis 
warisan orang Bali berbenturan dan berdentingan bersama melawan energi 
dinamika kontemporer bergumul untuk tetap hidup. Dinamika seperti ini 
bersatu dalam rasa menjadi pusat denyut gayanya Gunarsa, dan semestinya 
tidak digandakan ke dalam pemalsuan yang tak bergairah seperti telah 
dipamerkan pada peradilan hak cipta di Denpasar. Para ahli menjadi saksi 
menegakkan bahwa duplikat kekurangan dari jiwa gaya tanda tangannya 
Gunarsa, dan hakim setuju dengan mereka. Bahkan dalam keputusan mereka 
menyangkal haknya Gunarsa dibawah perlindungan hukum hak cipta 
Indonesia, para hakim mengakui bahwa duplikatnya tidaklah memenuhi 
ukuran untuk standar artistik kreasinya. Apa yang menjadi kesalahan para 
hakim yang tidak dilakukan adalah mendengarkan rasa musical dari lukisan- 
lukisannya yang dipajang di dalam ruangan pengadilan mereka. Mereka tidak 
dapat mendengar suara dari sejarahnya orang Bali, agama, dan budayanya 
yang bernyanyi dalam kanvas-kanvasnya Gunarsa, dan mereka telah tuli 
nada dalam menghancurkan keputusan awal mereka. 

Bagaimana dengan warisan artistiknya Bali, Indonesia atau 
sejumlah budaya yang lain dalam mempertahankannya jika 
perampoknya disyahkan oleh pemegang kekuasaan yang 
dibentuk sesungguhnya untuk melindungi. Keputusan para 
hakim akan merusak semua hukum hak cipta di Indonesia, 
pada intinya memberi ijin kepada setiap orang untuk 
membuat duplikat jelek dari berbagai hasil karya seni (visual, 
leteratur, musikal) dan mendapat keuntungan dari hasil 
penjualan mereka dengan argumentasi bahwa duplikatnya 



147 



rights, but also the moral rights of every artist under international copyright 
law, because the original artists get no share of the sale of the copies and 
no compensation for the fact that their reputation and future earnings are 
diminished by the dissemination of inferior work under their names. By 
this twisted logic anyone could go into a bank, sign someone else's name 
to a check, take money out of that person's account, and avoid punishment 
because the forged check was not authentic and so did not belong to the 
owner of the account. 



tidaklah sama dengan aslinya jadi dengan demikian itu adalah menjadi 
miliknya dan seniman aslinya tidak mempunyai hak untuk menghentikan 
mereka. Pelanggaran seperti ini tidak saja pada hak ekonomi, akan tetapi juga 
menyangkut hak moral setiap seniman dibawah perlindungan hukum hak 
cipta internasional, oleh karena seniman aslinya tidak memperoleh bagian 
dari hasil penjualan duplikasinya dan tidak ada konpensasi untuk kenyataan 
bahwa reputasi mereka dan pendapatan dimasa datang menjadi berkurang 
dengan penyebarluasan hasil karya yang murahan mutunya mengatas 
namakan dirinya. Dengan pembengkokan logika seperti ini setiap orang bisa 
pergi ke bank menanda tangani pada nama orang lain ke pada sebuah cek 
yang sesungguhnya bohong dan tidak kepunyaan dari pemilik tabungan. 



If the judge's reasoning is allowed to stand as precedent for 
future judgments, no international company would agree to 
do business in Indonesia. The ruling would allow anyone to 
sell counterfeit products (Coca Cola, Gucci, or Sonny, for 
example) as long as they could prove that the items with the 
famous labels were not authentic, and consequently were 
not the property of the brand name owners. The decision 
of the judges makes a mockery of international copyright 
law and announces to the world that Indonesia is officially 
declaring itself to be a nation where piracy is legal. 




If the judges in Denpasar and Jakarta, however, had listened more deeply 
to the music that is embedded in Gunarsa's artwork, they would have heard 
the sound of karmapala, the principle of spiritual justice that is at the core 
of Balinese culture, and illustrated so vividly on the ceiling of Kertha Gosa. 
If they had been more attentive to the rhythms of Balinese history and 
culture, they would have been reminded of the fate in the after-life that 
awaits those who distort the truth. 



Jika pertimbangan para hakim mengijinkan berpegang 
sebagai sesuatu yang dapat dijadikan teladan untuk 
pengadilan di masa datang, tidak ada perusahan 
internasional setuju melakukan bisnis di Indonesia. 
Penguasa akan mengijinkan kepada setiap orang untuk 
menjual produksi palsu (seperti Coca Cola, Gucci, atau 
Sony) sepanjang mereka bisa membuktikan bahwa item 
berlebel terkenal adalah tidak asli, konsekwensinya bukanlah 
merupakan kepunyaan si pemilik nama cap si produser. 
Keputusan para hakim membuat olok-olokan pada hukum 
hak cipta internasional dan memberitahukan dunia bahwa Indonesia adalah 
secara resmi mengumumkan dirinya sebagai bangsa dimana perampasan 
adalah sah menurut undang-undang. 

Kalau saja para hakim di Denpasar dan Jakarta, barangkali, mau 
mendengarkan lebih dalam kepada rasa musikal yang tertanam pada karya 
seninya Gunarsa, mereka akan mendengar suara dari karmapala, prinsip 
dari pengadilan spiritual yang menjadi inti dari kebudayaan orang Bali, 
diilustrasikan dengan gamblang di langit-langit Kerta Gosa. Jika saja mereka 
lebih menaruh perhatian kepada ritme dari sejarah dan budaya orang Bali, 
mereka semestinya sudah diingatkan akan nasib di dunia sana yang tengah 
menunggu mereka yang merusak kebenaran. 



148 



Nyoman Gunarsa is not content to wait for the afterlife to find justice. He 
wants to see the judges answer to the laws ofkarmapala as soon as possible, 
and he responds to the injustice of their decision with the strongest weapon 
at his disposal, art. The wayang play of Nardayana laid out the facts of the 
case ir a clear manner and was prophetic in its observations about the 
corrupt manipulation of the law in Indonesia. Many of the paintings done 
by Gunarsa during and after the trial also reflect his longing for justice. 
The sketches he scribbles casually over lunch in his studio are often visual 
metaphors of justice deferred. One of them re-imagines the story on the 
ceiling of the Kertha Gosa by caricaturing the judge as a heron in a judicial 
hat and robe being pinched by a crab with a paintbrush. He laughs as he 
draws, echoing the musical guffaws of the shadow puppet clown Twalen. 
This, in turn inspires him to enact a miniature wayang play with scraps 
of fruit as his puppets. "This is the heron who impersonated a priest, he 
chortles holding up a box of dates. Then he picks up a discarded banana 
peel and dangles it over the dates, "And this is the crab that won't rest until 
he finds the truth." 



Nyoman Gunarsa tidaklah mengisi untuk menunggu mendapatkan 
keadilan setelah kehidupan ini berakhir. Dia menginginkan untuk melihat 
hakim menjawab terhadap hukum karmapala sesegera mungkin, dan dia 
merespon ketidak adilan dari hasil keputusan mereka dengan senjata 
yang paling kuat pada penyelesaian, yakni seni. Pertunjukan wayangnya 
Nardayana membentang luas kenyataan dari persoalan dengan sikap yang 
jelas dan sebagai hal besifat ramalan dalam observasinya tentang korupsi 
manipulasi terhadap hukum di Indonesia. Banyak lukisan karyanya 
Gunarsa selama dan setelah persidangan pengadilan juga merefleksikan 
dambaannya akan keadilan. Sketsa-sketsa yang dia ceriterakan dengan 
bersahaja setelah makan siang di studionya adalah sering sebagai 
visualisasi metapora dari sebuah keadilan yang tertunda. Salah satu 
diantaranya mengingatkan akan cerita di langit-langit Kerta Gosa dengan 
penggambaran hakim dalam karikatur sebagai seekor burung bangau dengan 
topi yang biasa dikenakan pada proses peradilan dan toga yang tengah 
dijepit oleh si kepiting dengan kuas lukisannya. Dia tertawa manakala dia 
mengambarkannya, dengan menggemakan musikal terbahak-bahaknya tokoh 
Twalen panakawan wayang kulit. Ini berbalik memberi inspirasi pada dirinya 
untuk menetapkan sebuah miniature pertunjukan wayang dengan sisa buah 
sebagai wayangnya. "Ini adalah burung bangau yang merubah dirinya 
menjadi seorang pendeta, dia tertawa terbahak-bahak dengan mengangkat 
sebuah kotak biji. Kemudian dia mengangkat kelupasan kulit pisang dan 
mengayunkannya di atas kotak biji, "Dan inilah si kepiting yang tak mau 
beristirahat sebelum dia mendapatkan keadilan" 



Eventually Gunarsa creates his own new variation of the story about the 
heron and the crab. It unfolds in a visual narrative of five watercolors. The 
thoughts and words of the heron, crab, and fish are handwritten above them 
as they would be in a cartoon, but the structure of his five-part creation 
also mirrors the format of a lontar manuscript in which words and images 
are combined to tell a story with a moral message. The action of Gunarsas 
re-imagining of the story moves inevitably to the climax of karmapala in 
which the heron's neck is sliced apart by the crab's claws. 



Pada akhirnya Gunarsa menciptakan kreasi barunya sendiri merupakan 
variasi dari ceritera burung bangau dan kepiting. Itu membentang kedalam 
sebuah visual naratif dari lima lukisan cat air. Pikiran dan perkataan dari 
burung bangau, kepiting, dan ikan diterakan dalam tulisan tangan di atas 
mereka sepertinya mereka seakan dalam kartun, akan tetapi struktur dari 
kelima bagian kreasinya juga mencerminkan format dari lontar manuskrip 
yang mana kata-katanya dan kesan khayalan merupakan penggabungan 
untuk memaparkan sebuah ceritera dengan pesan-pesan moral. Aksinya 
Gunarsa dalam mengimajinasikan kembali ceritera tersebut tak bisa diacuhkan 
bergerak menuju klimak karmapala yang mana leher si burung bangau 



149 



dipotong dengan cangkang kakinya si kepiting. 



The first image presents the beauty of the natural world in pastel shades of 
yellow and blue. The four elements of creation are palpable: earth, air, water, 
and fire. The surface of the lake is rippling and drops of water splash around 
the fish as they leap up to ask the priestly- clad heron to help save them 
from the drought that is drying out their home. The heron is perched above 
them on the shore, with shoots of grass growing from the mound of earth 
he stands on. Clouds drift overhead propelled by a gentle wind suggested 
by the swirling curves of the brush-strokes that depict a pale-blue sky in 
the background. The sun radiates fiery rays of heat that reach the fish and 
heron in faint dabs of yellow paint. The sun is in the northeast quadrant 
of the paper, consistent with the vision of Balinese cosmology found in the 
nawasanga, and it is personified with a smiling face that suggests the eyes of 
heaven are watching everything that will ensue. Ironically the sun's features 
bear a slight resemblance to Gunarsa's own visage. 



Kesan pertama hadir adalah keindahan dunia alami di dalam bayangan 
dari pastel kuning dan biru. Empat elemen kreasi dengan gamblang muncul 
adalah: tanah, angin, air, dan api. Permukaan dari danau berdesir dan tetesan 
air nyemplung diseputar ikan manakala dia melompat ke atas memohon 
kehadapan burung bangau yang berlagak seperti pendeta untuk dimohonkan 
bantuannya menyelamat mereka dari kekeringan yang membuat kematian 
dirumah mereka. Burung bangau bertengger di tepian di atas mereka, dengan 
tunas-tunas rumput tumbuh dari gundukan tanah di tempat dia berdiri. 
Awan mengapung di atas kepala didorong oleh angin lembut dilukiskan 
dengan pusaran lingkaran dari kibasan kuas yang mengambarkan langit 
biru muda sebagai latar belakang. Radiasi surya dalam pancaran panasnya 
sinar yang menyentuh ikan dan burung bangau dalam olesan redup dari 
cat kuning. Matahari berada di timur laut kwadrant dari kertas, konsisten 
dengan pandangan kosmologi orang Bali yang terdapat dalam nawasanga, 
dan itu dipersonifikasikan dengan muka tersenyum yang mengusulkan mata- 
mata dari sorga sedang mengamati segala sesuatunya yang akan terjadi. 
Ironisnya airmukanya matahari membawa sedikit kemiripan seperti roman 
mukanya sendiri. 



Although the natural setting is idyllic, it is clear, even without reading the 
dialogue, that something is amiss in the natural order of things. The fish are 
out of water, balanced precariously on their fins at the lake's surface as if it is 
already too shallow to sustain them, and their features give the impression 
of frightened children. Their state of desperation is heightened by the drops 
of water splashing off their scales that could be seen anthropomorphically 
as beads of sweat expressing their fear of death. The heron rings the bell of a 
priest (genta) with one talon which puts him out of balance, standing on one 
leg as he lies to the fish about how he will save them. The heron's inner state 
of corruption is expressed throughout Gunarsa's sequence of watercolors 
by his external state of physical imbalance. On land the heron stands only 
on one leg. When he is in the air, the bird twists his neck so that he looks 
backwards while flying forwards. And when the heron lies to the crab in the 
fourth painting of the series, the bird defecates while speaking, as if the fish 



Walaupun seting alamnya idilis sangatlah jelas kendati tanpa harus membaca 
dialognya, ada yang salah dari susunan dari sesuatunya secara alami disitu. 
Ikannya keluar dari air seimbang tidak nyaman pada sirip mereka pada 
permukaan danau sepertinya itu dangkal untuk mendukung mereka dan 
kehadiran mereka memberikan kesan seperti ketakutan anak kecil. Pernyataan 
keputusasaan mereka dipertinggi oleh tetesan air mencemplung di luar 
sekala mereka yang dapat dilihat sebagai anthropormophis dari kebasahan 
embuh manik-manik mengekspresikan ketakutan mereka akan kematian. Si 
burung bangau membunyikan genta seorang pendeta dengan satu kuku yang 
membuat dia tidak seimbang, berdiri di satu kaki demikian dan berbohong 
kehadapan ikan-ikan tentang bagaimana dia akan menyelamatkan mereka. 
Pernyataan dalam si burung bangau tentang korupsi diekspresikan melalui 
sikwen-sikwen lukisan cat airnya Gunarsa dengan pernyataan luarnya secara 
pisik tidak seimbang. Di tanah si burung bangau berdiri hanya dengan satu 



150 



he has killed and eaten are expelling themselves from his digestive system to 
reveal his gluttonous sins to the world. Gunarsa heightens the sensory impact 
of the scene with sound effects of the turds hitting the ground ("Prot!! Prot!! 
Prot!!) and by giving their trajectory a visual pattern that mirrors the shapes 
of the beads that dangle from the bird's earings. The earrings and head-dress 
that the heron wears resemble those of a priest, but the excrement falling 
from the other end of his body reveal the falsehood of his disguise. With the 
top of his body garbed in holy accessories and his bottom parts stained with 
filth Gunarsa's heron is an animated emblem of ruabineda. Two extremes 
co-exist in one creature in a way that is unbalanced and blasphemous. It is 
Gunarsa's scathing caricature of the judges who turned the law upside down 
in his case and the viewer can almost smell the stench of corruption. 



kaki. Manakala dia ada di udara si burung membengkokan lehernya dengan 
menoleh ke belakang sementara dia terbang ke depan. Ketika si burung 
bangau berbohong dihadapan kepiting pada lukisan yang keempat dari serial 
lukisannya, si burung membuang air besar ketika sedang berbicara, sepertinya 
ikan-ikan yang telah dibunuhnya dan dimakannya, mengeluarkan mereka 
dari sistem percernaannya untuk mengungkapkan kelahapan dosanya kepada 
dunia. Gunarsa mempertinggi dampak yang berhubungan dengan perasaan 
dari pemandangan dengan efek suara dari kotoran yang jatuh ke tanah ("Prot!! 
Prot!! Prot!!) dan dengan memberikan lintasan mereka ke dalam pola visual 
yang mencerminkan bentuk dari manik-manikan membayang-bayangkan dari 
anting-antingnya si burung. Anting-anting dan hiasan kepala yang dikenakan 
oleh si burung bangau semua itu menyerupai seorang pendeta, aka tetapi 
najis yang jatuh dari pantatnya mengakhiri dirinya mengungkap kepalsuan 
dari penyamarannya. Pada bagian atas badannya berbusana dengan asesoris 
suci dan bagian bawahnya dinodai dengan kotoran burung bangau lukisan 
Gunarsa dihidupkan oleh lambang ruabineda. Dua perbedaan besar yang 
berdampingan pada satu mahluk dalam arti itu adalah tidak seimbang dan 
menghina Tuhan. Adalah karikaturnya Gunarsa yang pedas untuk para 
hakim yang memutar hukum menjadi terbalik dalam kasusnya dan pengamat 
hampir dapat mencium bau busuk dari korupsi. 



The crab on the other hand appears in the fourth painting as a vision of 
truth that will penetrate the heron's lies. While the priest used a verbal 
pun to conflate the name of the crab {yuyu) with the word for truth (yukti), 
Gunarsa relies on a visual analogy to convey the virtue of the crustacean 
hero. The body of the crab in Gunarsa's watercolors has a circular structure 
that recalls the shape of the nawasanga and its depiction of the nine sacred 
directions. Although it is presented from three different angles, as if it were 
spinning like the pindekan wheel whose wind-propelled movement echoes 
the turning of the world, the crab has eight appendages radiating out from 
his central shell, a design that corresponds to the eight cardinal directions 
and the ninth point which is the dwelling place of Shiva in the center of the 
diagram. The crab's virtue is also depicted visually by his yellowish red color 
that matches the coloring of the sun who is personified by the Balinese as 
the deity who is a source of light and truth Sangh Hyang Surya. 



Si kepiting di sisi yang lain muncul di dalam lukisan keempat sebagai sebuah 
pandangan dari kebenaran akan menembus kebohongan si burung bangau. 
Sementara pendeta menggunakan permainan kata verbal untuk coflate 
namanya si kepiting fyuyuj dengan kata untuk kebenaran (yuktij, Gunarsa 
bersandar pada visual analogi untuk menyampaikan kebaikan dari pahlawan 
binatang berkulit keras. Badannya si kepiting adalah dalam lukisan cat airnya 
Gunarsa memiliki struktur melingkar yang memanggil bentuk dari nawasanga 
itu tergambarkan dari kesembilan arah sakral. Walaupun itu dipresentasikan 
dari tiga sudut yang berbeda, berputar seperti roda pindekan dimana 
angin menghembus lembut menggemakan perputaran dunia, si kepiting 
memiliki delapan kaki yang radiasinya keluar dari pusat perisainya, sebuah 
desain yang berhubungan dengan delapan arah mata angin dan poin yang 
ke sembilan adalah stana dari Siwa dipusat diagram. Kebenaran si kepitng 
juga digambarkan secara visual dengan warna kuning kemerahan yang cocok 



151 



Although the crab does not appear in the story until the fourth watercolor, 
his arrival has been visually foreshadowed by the shape and color of the 
yellowish-red necklace the heron wears around his neck as part of his disguise. 
The priestly accessory is counterfeit, and in keeping with the principles of 
ruabineda it is replaced by a creature who symbolizes authenticity. The crab 
wraps himself around the heron's neck, pretending to believe the heron's lies 
about transporting him to a lake that will never dry up, but when he sees the 
bones of the fish the heron has eaten on a barren hot stone, the crab slices 
through the heron's neck with his pincers, beheading the bird and ending 
his lies. 



Associating the false priest in the fable with the false judge in his court case, 
Gunarsa rejects the gentler ending of the priest's retelling of the tale in which 
the crab merely cuts off the heron's beak to silence and humiliate him as a 
punishment for his lies. "Karmapala must be complete," the artist insists. 
In his five-painting narrative the artist has created a water-color wayang 
play that metaphorically metes out justice in a style that owes much to the 
ceiling-paintings of kertha gosa that he studied as a child. Identifying with 
the crab as what he called "the personification of the artist" Gunarsa wields 
his paintbrush like a saber. His art is his weapon {senjata kesenian), and he 
wields it with fierce grace in his ongoing struggle to transform the ugliness 
of corruption into the beauty of justice fulfilled. 



dengan warna sinar matahari yang dipersonifikasikan oleh orang Bali 
sebagai dewa sebagai sumber sinar dan kebenaran Sanghyang Surya. 

Walaupun si kepiting tidak muncul di dalam ceritera sampai dengan 
lukisan cat air yang keempat, kehadirannya telah secara visual membayangi 
dari bentuk dan warna dari kuning kemerahan kalung yang dipakai si 
burung bangau dilehernya sebagai bagian dari penyamarannya. Asesori 
kependetaan adalah palsu dan dalam menjaga dengan prinsip dari 
ruabineda itu diganti dengan mahluk sebagai simbol keasliannya. Kepiting 
membungkus dirinya diseputar lehernya si burung bangau berpura-pura 
percaya akan kebohongan si burung bangau tentang pemindahan dirinya 
ke sebuah danau yang tak pernah kering, akan tetapi ketika dia melihat 
tulang belulangnya ikan yang dimangsa oleh bangau di atas tandusnya 
batu panas, si kepiting memotong kerongkongan lehernya bangau dengan 
cangkangnya, menyudahi kebohongannya. 

Menghubungkan pendeta palsu dalam kisah ceritera binatang dengan 
hakim palsu dalam kasus pengadilannya, Gunarsa menolak akhir yang 
lebih lemah dari apa yang diceriterakan oleh pendeta ceritera yang 
mana si kepiting hanya memotong paruhnya si burung bangau untuk 
membuat dia diam dan menghina dia sebagai sebuah hukuman atas 
kebohongannya. "Karmapala harus lengkap," seniman mendesak. Dalam 
lima naratif lukisannya seniman telah menciptakan pertunjukan wayang 
yang secara metaporikal mengukur diluar keadilan dalam sebuah gaya 
yang berhutang banyak untuk lukisan-lukisan langit-langit dari kertha 
gosa yang dia belajari ketika masih kecil. Mengidentifikasikan dengan si 
kepiting dengan apa yang dia sebut "personifikasi dari seorang seniman" 
Gunarsa menggunakan kuas catnya bagaikan pedang. Karya seninya 
adalah senjatanya fsenjata kesenianj, dan dia memegangnya dengan galak 
hormat dalam keberlanjutan perjuangannya untuk merubah kejelekan 
dari korupsi menjadi keindahan dari keadilan terpenuhi. 



152 



\j Hitli Kill^ e^-e^tC /^<^^-^-< 








7 ^M^Cti/- ^ 






V '- i^^-'^'V^^ AY'^.Crt<^^^-'^ ^'''^^ .^ 



«<--.»%- 










// 



<^' 






£-4 











>- ' cV; (?<m! ^'-e ^de 






-J 











• • 






. *♦ 



.'**^/M*, 



♦■■ 



'M. 












'y 



Vn 




^ e,.i:/ 








>- 







■-■fe 



<^ 








W^t/^gr^'Al^^ Ai-^t dcr^J^^ -^^'^rt^ • 




'y. 



'V" 









.>v^,;, 













^. 



l' 








^ r7. 



<ry r\ 



158 




"THE FALSE 

ANGGADA" - 

SHADOW PLAY 

by 
I Wayan Nardayana 




Pertunjukan Wayang - 
''Angga d a Palsu'' 

oleh 

I Wayan Nardayana 



159 




Wayang Cenk Blonk Hak Cipta 

Judul : 

Tgl / Blonkn / Thn : 

Tempat : Lapangan Puputan Badung 

ENGLISH 



Wayang Cenk Blonk Hak Cipta 

Judul : 

Tgl / Blonkn / Thn : 

Tempat : Lapangan Puputan Badung 

BAU/KAWI 

(Boldface text indicates words spoken originally 

in Kawi) 



Wayang Cenk Blonk Hak Cipta 

Judul : 

Tgl / Blonkn / Tlin : 

Tempat : Lapangan Puputan Badung 

INDONESIAN 



Dalang: (chanting a mantra) Om Om, most radiant 
sun, source of the most glorious light, I bow down 
before you, and pay homage to your fiery red rays 
that glisten, incarnated in the center of the lotus 
flower that is born out of the darkness. (The word 
for lotus, 'pangkaja,' is derived from the words for 
mud,' pang,' and easterly, 'kaja,' so it is literally the 
flower that is born in the mud and opens to the sun 
rising in the east). I worship you with the prayer of 
OM that reverberates to the highest heaven of the 
most glorious lord Siwa. 

All that dwells in the natural world has a soul. Safe 
and pure without danger. After the decision of 
Batara Atianta. Start by praying, start by praying 



Dalang: (mantra) "Om Om Om Raditya sya 
paranjyotir, rakta teja namastute sweta pangkaja 
amadyaste, baskara ye nama namah. Oooom rang 
ring syah parama siwa ditya ya namah swaha". 



Umerep ri sekala sang ning aneng apremanaaa. 
Swasta ya paripurna natan kacauhing dening 
pangila-ila. Wuus wecananira Batara Atianta. 



Dalang: (mantra) Om Sanghyang Widhi Wasa, 
Sinar Surya Yang Maha Hebat, Engkau Bersinar 
Merah, Hormat Pada-Mu, Engkau Yang Berada 
Ditengah-tengah Teratai Putih, Hormat Pada-Mu 
Pembuat Sinar. 



Terdiamlah semua yang bernyawa di alam nyata. 
Selamat dan sempurna tidak kena mara bahaya. 
Setelah keputusan Hyang Batara, Berkehendak. 



160 



at the feet of the gods. To avoid mistakes in the 
face of the lord's power. 



Hurry. After a long time. It appears. The story 
is told of Lord Suniantala like darkness walking. 
He quickly walks into the Rangdu tree, the king of 
trees. It can make the whole world tremble. Earth, 
Light, Wind, Sky, Stars, Meteors, and also the sun 
and the moon. Hurry. The story is told about the 
appearance of the puppets that will dance. 



Because it has been ordered by Lord Paramakawi, 
based on an idea by the Lord Creator. It is available, 
because it is already complete in all seven chapters. 
The first chapter and the ones that follow in the 
story. They were written by none other than the 
sage Valmiki a long time ago. After that, it is told 
that none other than the Lord Creator cut the 
contents of the story. The story being told now is 
about nothing less than heaven. The story being 
told is the story of the red monkey Commander 
Anggada, and also his two servants, none other 
than Twalen and Werdah, and how they were 
ordered by Lord Rama to go to Siwa's Heaven. 
They meet none other than Lord Siwa, because 
Lord Rama was conducting a ceremony to cleanse 
the world of demonic forces, and to pray for the 
entire world. That is the reason why Anggada was 
ordered to go and bring down the cleansing holy 
water. So that is the content of the story. 

The story that will be told is none other than 
General Anggada in Siwa's Heaven. 

Kruweeee. Kruwee. (Anggada dances to monkey sounds) 



Manggalaning sembah, manggalaning sembah 
ningulun ri padana sira Hyang. Lamakana 
natan keneng sotsot upadrawa kuasanira paduka 
Batara. Agiaaaaa. Dadia Pira pinten gati kunang 
lawas ikang kalaniraaa. 

Mijiiil. Saksan mijil sang Hyang Suniantala 
kadi gelapp dumerasah anusuping rangduning 
praja menala. Yaya gumeter marikanang kang 
Pertiwi tala. Apah Teja Bayu Akasa Lintang 
Trenggana muang Surya Candra. Agiaaaa. 
Saksana mijil Sang Hyang Ringgit yata amolah 
cara. Sawetaning dinuduh de nira Sang Hyang 
Paramakawi nguniweh winekanira Sang 
Hyang Guru Reka. Paraaan ri sapratingkah ira. 
Sawetaning sampun jangkep marikanang kang 
Sapta Kanda. Utara Kanda tekeng Kapi Kanda 
carita. Yata pangiketang niraaa Bagawan Walmiki 
kala nguni purwa. Antian irikaaaa. Saksana mijil 
Sang Hyang Kawi Swara Murti tan sah amunggel 
punang taTwalena carita. Yaya kawinursita 
mangke tansah marewanten ikanang Suargaaa 
Loka. Warnaneeen wijilira Boset Bang Wira 
Ngada. Katekaning caraka nira maka rwa. Tan 
sah Twalen muang Werdah. Apan wit kadunung 
nira Sri Batara Rama. Lumaku aneng kunang 
Siwa Loka. Tan sah nyatpada Hyang hyang ning 
Nilakanta. Mapan Sri Narendra Batara Rama 
angadak kunang yadnya Bhuta Yadnya. Mapahayu 
kunang jagat kabeh. Ya nimitanian kaduta lumaku 
nedunang Tirta Sudamala. Samangkana kunang 
taTwalena caritaaa. 



Kawinursita sah sira Wira Ngada kunang Swarga 
Loka. Kruweeeek. Kruweeeek. (Igal wayang 
Anggada) 



Mengawali sembah, mengawali sembah hamba di 
hadapan paduka Hyang Kuasa. Agar terhindar 
dari mala petaka atas kekuasaan paduka Bhatara. 



Segera, setelah sekian lama waktunya. Muncul. 
Diceritakan muncul Sang Hyang diantara Alam 
Nyata dengan Alam Maya bagaikan gelap berjalan 
cepat memasuki pohon Rangdu, raja pohon. 
Menyebabkan bergemetar semua Bumi. Benda 
padat Sinar Angin Angkasa Bintang Meteor 
dan juga Matahari Bulan. Segera. Diceritakan 
muncullah Sang Hyang Ringgit (Wayang) akan 



Karena diutus oleh beliau Sang Hyang Paramakawi 
atas gagasan Sang Hyang Pengarang. Adalah 
keberadaan beliau; karena sudah lengkap semua 
Tujuh babak. Utara babak juga Utara babak 
cerita. Tiada lain karangannya Bagawan Walmiki 
pada waktu lampau. Setelah itu, diceritakan tiada 
lain hadir Sang Hyang Pengarang, memotong 
jalan cerita. Diceritakan sekarang tiada lain 
di Sorga. Dikisahkan keberangkatan Monyet 
Merah, Perwira Ngada, dan juga abdinya berdua. 
Tiada lain Twalen dan Werdah. Karena diutus 
oleh Batara Rama. Menuju ke Siwa Loka. Tiada 
lain menghadap Hyang Hyang Siwa. Karena 
beliau Batara Rama mengadakan upacara Buta 
Yadnya. Mendoakan dunia semua. Itu yang 
menyebabkan Ngada diutus menuju menurunkan 
Air pembersihan. Demikianlah isi cerita. 



Diceritakan tiada lain Wira Ngada di Siwa Loka. 

Kruweeeee. Kruweeeeek. (Anggada menari). 



161 



Chorus sings: The son ofSubali appears. 

Anggada: Kruweeek. 

Chorus sings 

Anggada: {dances) Kruweeeek. 

Chorus sings 

Dalang: Radiaaaa. 

Anggada: My servant Twalen. Is it you? 

Twalen: Yes, I am here, my lord. I am at your 

service. 

Anggada: So get ready. Get ready, Twalen. This 

is the moment to follow your lord Commander 

Anggada. 

Twalen: I would not dare refuse to follow you in 

your journey. I bow down to you. Forgive me. Lord 

Anggada, my master. 

Anggada: Your master has been ordered by Lord 

Rama, ordered to go to Siwa's Heaven, for no other 

reason than to meet face to face with the lord of 

lords, Siwa. 

Twalen: Because you have been ordered by his 
Lordship, I bow down to you. I bow down to my 
lord. I am my master's servant. I ask forgiveness 
from Lord Rama, the King of your nation, over there 
in Ayodya Pura. You will present yourself in the 
invisible world of Siwa's Heaven, arriving there in a 
silver ship, is that not right? 

Anggada: I will go because Lord Rama is 
conducting a ceremony of prayer to purify the 
entire world. 

Twalen: Because our devoted lord never stops 
preparing ceremonies to make the world safe, 
peaceful, and tranquil, so that harmony can be 
achieved. It is hoped that the ceremony of prayers 
will cleanse the world of all dangers. Because my 
lord always thinks about the welfare of the people in 
the kingdom of Ayodya. That is how it is. 
Anggada: True. 
Twalen: True. 



Sendon: "Mijiiil sira Bali Putra. 

Angada: Kruweeek. 

Sendon... 

Angada: (menari). Kruweeeek. 

Sendon... 

Dalang: Radiaaaa. 

Anggada: Caraka Twalen paricarakanku kalaganta. 

Twalen: Inggih titiang Ratu. Titiang parekan Iratu 

tua titiang. 

Anggada: Kewala yatna-yatna. Kewala yatna- 

yatna Twalen! Risada kala lampah tuanta Sira 

Wira Ngada. 

Twalen: Ten purun piwal. Titiang ngiringan 

sapemargin palungguh Iratu, sasuhunan titiang. 

Sugra Sang Angada kadi linggih Iratu. 

Anggada: Mapan tuanta Wira Ngada wit kaduta 

lawan Sri Narendra Batara Rama. Kinon lumaku 

aneng kunang Suarga Loka. Tan sah nyatpada 

Hyang-hyangning Nilakanta. 

Twalen: Duwaning Iratu kautus ratu antuk Ida 

Batara sasuhunan. Sasuhunan Iratu Bataran titiang. 

Sugra Ida Batara Rama, murdaning jagat ratu, 

irika ring Ayodya Pura. Mangda sida aratu tangkil, 

merika ke niskala Siwa Loka, Rauhing Jung Ing 

Selaka. Boya sapunika. 

Anggada: Mapan yadnya tansah ginelar Sri 
Narendra Batara Rama. Mopahayu maparisudi 
kang jagat kabeh. 

Twalen: Santukan Ida Batara sasuhunan tan 
maren gumanti nabdad yadnya. Ngardi panegara 
moksartem jagaditha ya ca iti darma. Kerahayune 
kepanggih.Moga-mogayadnyamapahayumarisuda 
aratu sahanaing mala petakan ikanang jagat. 
Mangda panggih ratu punika indik kesejahteraan. 
Minakadi panjak irika ring Ayodya. Sapunika. 
Angada: Yogya. 
Twalen: Patut. 



Sendon: "Keluarlah beliau putranya Bali.... 

Anggada: Kruweeek. 

Sendon... 

Anggada: (menari). Kruweeeek. 

Sendon... 

Dalang: Radiaaaa. 

Anggada: Twalen abdi sayangku.... 

Twalen: Ya, hamba, tuanku. Hamba abdi tuanku, si 

tua hamba. 

Anggada: Bersiap-siaplah. Siap-siap Twalen! 

Manakala Tuanmu Sang Perwira Ngada. 

Twalen: Kapan hamba berani menolak. Hamba akan 
mengikuti paduka, tuanku. Mohon ampun paduka, 
Sang Anggada. 

Anggada: Oleh karena tuanmu, Angada, diperintah 
oleh Sri Narendra Batara Rama. Disuruh datang 
ke Siwa Loka, Tiada lain menghadap Hyang- 
hyangning Nilakanta. 

Twalen: Karena tuanku diutus oleh paduka raja 
junjungan kita. Junjunganpadukadanjugajunjungan 
hamba, mohon maaf hamba, beliau Betara Rama, 
pucuk pimpinan negeri Ayodyapura. Agar paduka 
datang ke dunia maya tiada lain ke Siwaloka menuju 
Jungning Selaka. Bukankah demikian? 

Anggada: Oleh karena Narendra Rama 
menggelar upacara, mendoakan keselamatan dan 
kesejahteraan keseluruhan negari. 

Twalen: Karena beliau Batara junjungan kita tiada 
henti untuk menggelar yadnya, mewujudkan 
negara moksartem jagaddhita ya ca iti darma. 
Memperoleh keselamatan. Semoga dengan upacara 
dapat membersihkan segala sumber petaka di 
dunia. Agar diperoleh apa yang dimaksud dengan 
kesejahteraannya rakyat di Ayodyapura. 
Anggada: Benar. 
Twalen: Betul. 



163 



Anggada: That is why your lord, Commander 
Anggada, was ordered to meet the lord of lords, 
Siwa, for no other reason than to search for holy 
purifying water. 

Twalen: Yes. That is fundamental to the ceremony. 
My master has been ordered by His Highness, 
Lord Rama, the King of the World, to journey to 
the invisible world of Siwa's Heaven. I ask for your 
blessings in the realm of Lord Siwa, where you 
will seek the Holy Water that they say can cleanse 
the world of all impurities. It can wash away the 
suffering of all the people. It can sanctify everything 
so that nothing is unclean. That is the purpose of the 
ceremony. 

Anggada: True. 

Twalen: True. 

Anggada: And so that it may succeed, we must 

leave quickly. Stay by the side of your master, 

Commander Anggada. 

Twalen: I will follow your path. Together with your 

servant Merdah, we will accompany you on your 

journey. 

Anggada: Prepare yourself! 

Twalen: Go ahead. 

Anggada: Kruweeek. 

(a tumultuous journey ensues with sound effects and 

swirling shadows). 

Twalen: Merdah, get ready, get ready. Come here, 

Merdah. Follow Lord Anggada! Merdah! 

Merdah: What's happening. Dad? 

Twalen: Well, that's the way it is with the journeys of 

Lord Anggada. It is so fast. Where are we? Well, it's 

like this.... 

Merdah: Where are we? 

Twalen: This is called "The Invisible World". It is 

named "Heaven." 

Merdah: Oh, is this heaven? 



Angada: Larapania ta tuanta Wira Ngada wit 
kaduta, nyatpada lawan Hyang-Hyang ning Nila 
Kanta,tan sah bipraya ngulati kunang Tirta 
Sudamala. 

Twalen: Inggih. Raris melarapan yadnya punika. 
Ratu kautus antuk Ida Sang Rama Dewa. Murdaning 
jagat. Mangda sida Iratu tangkil ke niskala. Ke Siwa 
Loka. Sugra titiang, nyatpada ring linggih Ida Batara 
Siwa. Ngulati ngelungsur sane baosange Tirta 
Pangelukatan Sudamala. Anggen ngelebur malan 
jagat. Anggen ngelebur malan panjak druwene 
sami. Mangda sida suci ning tanpa leteh. Pidabdab 
yadnya druwe. 



Anggada: Yogya. 

Twalen: Patut. 

Anggada: Lamakana sida katiba, lah sigra lumaku! 

Papah Sira tuanta wira Ngada. 

Twalen: : Kewanten Aratu memarga. Banggiang 

titiang sareng parekane Werdah, tut wuri pemargin 

Iratu. 

Anggada: Yatna! 

Twalen: Ngeraris! 

Anggada: Kruweeek. 



Twalen: Merdah. Dabdabang-dabdabang , mai -mai 
Merdah. Iring-iring Dane Sang Ngada! Merdah! 
Werdah: Kenken, nang? 

Twalen: Peh monto pemargin Dane Sang Ngada. 
Mecues to. Dija ne? Kaden keto nake. 

Werdah: Dija ne? 

Twalen: Ne raosange Niskala. Ne suba madan 

Suarga Loka. 

Werdah: One Suarga Loka? 



Anggada: Yang menjadi kewajiban diutusnya 
tuanmu Wira Ngada mengahadap Hyang- 
hyanging Nilakanta tiada lain akan mencari Tirta 
Sudamala. 

Twalen: Ya. Berdasarkan upacara tersebutlah 
kemudian paduka diutus oleh beliau pimpinan 
pucuk negeri, Sang Rama Dewa.Tuanku agar 
menghadap ke dunia maya, ke Siwaloka, maafkan 
hambamu, memohon kehadapan beliau Batara Siwa. 
Memohon untuk mendapatkan yang disebut air 
suci pembersihan Sudamala. Digunakan melebur 
kekotoran dunia. Digunakan melebur kesengsaraan 
masyarakatnya semua. Agar mencapai kesucian, 
bersih tanpa kekotoran, menjadi tujuan dari upacara 
beliau. 

Angada: Benar. 
Twalen: Betul. 

Anggada: Agar cepat berhasil; mari segera 
berangkat! Dampingi tuanmu perwira Ngada. 

Twalen: Berangkatlah tuanku. Biarkan hamba 

dengan abdimu Werdah, mengikuti perjalanan 

tuanku. 

Anggada: Siaga! 

Twalen: Silahkan! 

Anggada: Kruweeek. 



Twalen: Persiapkan, persiapkan. Mari, mari Merdah. 
Ikuti, ikuti beliau sang Ngada! Merdah! 
Werdah: Bagaimana 'Yah? 

Twalen: Wah begitu perjalanan dane Sang Ngada. 
Melesat itu. Dimana ini? Bukankah begitu. 

Werdah: Dimana ini? 

Twalen: Ini dinamakan dunia maya. Ini 'dah yang 

disebut Sorga. 

Werdah: Oh, ini alam surga? 



164 



Twalen: This is heaven. You are your father's son and 

are very lazy, but don't bring your lazy habits from 

the material world here to the invisible world. 

Merdah: What is the right way to act? 

Twalen: Well if your father is a servant, your first 

priority should be to follow and serve the words of 

Lord Rama. Then you should follow Lord Anggada. 

Fundamentally the right thing for you is to be of 

service. You should have the proper principles. 

Merdah: What should I use as the foundation? What 

principles should I use? 

Twalen: "The Basic Rules of Conduct." Basic means 

at the foundation. Conduct means behavior. What 

are the rules of our life? It is said that we should be 

of service here in the world. 

Merdah: What is the right way? 

Twalen: The right way is for us to count from one to 

ten, and use that as a foundation for serving. 

Merdah: One? 

Twalen: We should serve Wonderfully. 

That's how. 

Merdah: One. Serve Won(one)derfully. 

Twalen: Won(one)derfully. 



Twalen: Ne Suarga Loka. Cai anggon nanang 
panak jeg pragat keliad-keliud. De agul-agule di 
Mercapada mai aba ke Niskala. 
Werdah: Kenken patutne? 

Twalen: Yen nanang memarekan, nampa nyuwun 
pawecanan Ida Batara Rama. Ngiringan Dane Sang 
Ngada. Patut benya dadi parekan ngelah dasar. 
Ngelah patut benya gelar. 

Werdah: Apa anggon dasar, apa anggon gelar? 

Twalen: Dasa Sila. Dasa ngaraning dasar. Sila 
ngaraning tingkah. Kenken sesanan iragane idup. 
Raosange ngabdi dini di gumine. 

Werdah: Kenken patut? 

Twalen: Beneh keteken sa kanti adasa, to anggon 

dasar iraga memarekan. 

Werdah: Saaaa? 

Twalen: Sesanan iraga dadi parekan. Kenken? 

Werdah: Sa, sesana. 
Twalen: Sesana. 



Twalen: Ini alam surga. Kamu sebagai anakku, kok 

selalu malas-malasan. Jangan kebiasaan ugal-ugalan 

di bumi dibawa ke sini, ke alam gaib. 

Werdah: Bagaimana seharusnya? 

Twalen: Kalau ayah mengabdi, memikul 

menyongsong wacana beliau Ida Batara Rama. 

Mengikuti beliau Sang Ngada. Sepantasnya kamu 

sebagai abdi mempunyai dasar. Kamu sebagai abdi 

punya dasar. Kamu mesti punya modal. 

Werdah: Apa yang dipakai dasar? Apa yang dipakai 

modal? 

Twalen: Dasa sila. Sepuluh berarti dasar. Sila berarti 

perilaku. Bagaimana aturan kita hidup. Dikatakan 

mengabdi di sini di bumi. 

Werdah: Bagaimana seharusnya? 

Twalen: Benarnya hitungan dari satu sampai 

sepuluh, itu dipakai dasar kita mengabdi. 

Werdah: Satuuuu? 

Twalen: Perilaku kita sebagai abdi, mestinya 

bagaimana? 

Werdah: Satu, perilaku. 

Twalen: Perilaku. 



165 





Merdah: Two? 

Twalen: To(two) be bound to your position below 

your master. 

Merdah: Three? 

Merdah: Be diUgent three times over in your 

service. 

Merdah: Four? 

Twalen: (Four)Forgo all else to attend to the needs 

of your master. 

Merdah: Five? 

Twalen: You should be like the five fingers and five 

toes of your master. If you use a current term that 

would be an assistant. In the palace or in the priest's 

home that would be called a servant. 

Merdah: Six? 

Twalen: Attend to the words of your master six times 

over. 

Merdah: Ven? 

Twalen: Can't you squeeze the whole word "seven" 

out of your butt-hole? Make sure 'seven' times over 

that you are serving well. 

Merdah: Eight? 

Twalen: Your are like an ambassador, deleg(eight) 

ated by your master. 

166 



Werdah: Dua? 

Twalen: Duwaning cai kewawa ring linggih Ida 

Anake Agung. 

Werdah: Telu? 

Twalen: Telebeng awake memarekan. 

Werdah: Pat? 

Twalen: Cai pang patuh ring pikayun Ida anake 

agung. 

Werdah: Lima? 

Twalen: Cai pinaka lima batis Ida. Yen cara jani 

madan pembantu. Di Puri, di Jero, di geria madan 

pengerob. 

Werdah: Nem? 

Twalen: Nampa nyuwun cai setata pawecanan Ida. 

Werdah: Tuuu? 

Twalen: Beh meles song jit ci ngorang pitu. 

Pituhuyang awake ngayah. 

Werdah: Kutus? 

Twalen: Cai pinaka duta, pinaka utusan Ida. 



Werdah: Dua? 

Twalen: Duhai kau menghamba kehadapan Ida 

Anake Agung. 

Werdah: Tiga? 

Twalen: Siaga selalu menjadi abdi. 

Werdah: Empat? 

Twalen: Kamu harus tepat patuh dengan kemauan 

beliau orang Agung. 

Werdah: Lima? 

Twalen: Kamu ibaratnya tangan kaki beliau. Istilah 

sekarang sekarang disebut pembantu. Di Puri, di 

Jero, di Geria bernama pengerob. 

Werdah: Enam? 

Twalen: Pegang junjung perkataan beliau. 

Werdah: Juuuuh? 

Twalen: Wah meleleh air pantatmu bilang juuuuhh. 

Sungguhkan hatimu mengabdi. 

Werdah: Delapan? 

Twalen: Kamu sebagai duta, sebagai utusan beliau. 



Merdah: Nine? 

Twalen: Always ready nine times over. 

Merdah: Ten? 

Twalen: Being an attendant should be your 

foundation. Don't be a person without a foundation. 

Don't just ask for a salary. Remember the tasks that 

need to be done. 

Merdah: So where do the Basic Rules of Conduct 

come from? Your mouth or your butt, dad? 

Twalen: What are you talking about? 

Werdah: If we follow dad's basic rules of conduct, 

from one until ten, there is no time for a servant to 

eat. As soon as you wake up all your time is taken 

with the job of being a servant. Daaaaaaaad? 

Twalen: What? 

Werdah: The servant will DSD. 

Twalen: DSD? 

Werdah: Die a slow Death. Because father has the 

meaning of the Basic Rules of Conduct all wrong. 

Twalen: Oh, do you know the meaning of the Basic 

Rules of Conduct? 

Werdah: If I can't use the Basic Rules of Conduct as a 

foundation, I will swear never to be a servent. 

Twalen: All right. You are going to swear to their 

contents. What is the right meaning of number one? 

Werdah: Once it is morning, just wake up. 

Twalen: It's easier than going to the toilet. One. 

Once it is morning, just wake up. 

Twalen: Two? 

Werdah: To please your father, go be a servant at the 

palace. 

Twalen: Three? 

Werdah: Start the day with three items, dad. 

Twalen: What? 

Werdah: Granules, sugar, and boiling water. 

Twalen: That is coffee. 

Werdah: Have your coffee first. Wake up with sleepers 



Werdah: Siya? 

Twalen: Siaga setata. 

Werdah: Dasa? 

Twalen: Dasarin awake memarekan. De benya 

sing medasar. De gajih doen tuntute. Ingetang 

kewajibane laksanang. 

Werdah: Dong apa ngardiang Dasa Sila to? Bibihe 

apa jite, nang? 

Twalen: Kal ke keto? 

Werdah: Yen wake ngenehang Dasa Silan, nange. 

Uli sa, nganti ke dasa to cepok sing ada ketekan 

parekan makan to. Yen uli mara bangun jeg nyemak 

gae tunden parekne. Nanaaaaang. 

Twalen: Kenken? 

Werdah: MPP parekne. 

Twalen: MPP? 

Werdah: Mati pelan-pelan. Ulian pelih baan nanang 

ngartiang Dasa Sila to. 

Twalen: Ooo..., Ci ngelah arti Dasa Sila? 

Werdah: Yen sing medasar baan Dasa Sila, wake 

gering sing memarekan . 

Twalen: Imih. Misi gering pra. Beneh saaaa? 

Werdah: Semengan mara bangun. 

Twalen: Apa aluhang ken meju, sa. Semengan mara 

bangun. 

Twalen: Dua? 

Werdah: Duaning ugi nanang kel ngayah ke Puri. 

Twalen: Telu? 

Werdah: Dasarin baan telu, nang. 

Twalen: Apa? 

Werdah: Serbuk, gula, yeh anget. 

Twalen: Kopi to. 

Werdah: Ngopi malu. Mara bangun, pecehe aman 



Werdah: Sembilan? 

Twalen: Selalu siap 

Werdah: Sepuluh? 

Twalen: Luluhkankesungguhanhatimumenghamba. 

Jangan setengah hati. Ingat laksanakan kewajiban. 



Werdah: Wah, apa yang membuat Dasa Sila itu? 

Mulut apa pantat, 'Yah? 

Twalen: Emangnya gimana? 

Werdah: Ketika saya renungkan Dasa Silamu, dari 

satu sampai ke sepuluh, sama sekali tidak ada 

perhitungan makan untuk abdi. Dari baru bangun 

kok dijejali pekerjaan terus, Yaaaaah?. 

Twalen: Bagaimana? 

Werdah: MPP para abdi jadinya. 

Twalen: MPP? 

Werdah: Mati Pelan Pelan. Karena kesalahan Ayah 

memberi arti pada Dasa Sila itu. 

Twalen: Ooo..., Kamu punya arti Dasa Sila? 

Werdah: Tanpa didasari Dasa Sila, sumpah aku 'tak 

'kan mengabdi. 

Twalen: Wah. Berisi sumpah segala. Baiklah. 

Saaaatuuu? 

Werdah: Setiap pagi baru bangun. 

Twalen: Apa sih sukarnya; Saatuuu setiap pagi baru 

bangun. 

Twalen: Dua? 

Werdah: Karena kemauan ayah akan mengabdi ke 

Puri. 

Twalen: Tiga? 

Werdah: Didasari oleh tiga hal, 'yah. 

Twalen: Apa? 

Werdah: Kopi bubuk, gula, dan air hangat. 

Twalen: Kopi itu. 

Werdah: Ngopi dulu. Emangnya begitu bangun. 



167 



in your eyes as big as sour mangosteens, and run 

straight to the palace. 

Twalen: Powder, sugar, boiUng water. So, four? 

Werdah: Four is for equaUty with your master. For 

what kind of equahty? 

Twalen: For what kind of equality? 

Werdah: If our master goes to the restaurant, father 

must go with him to the restaurant. If our master 

buys Cap Cay, father cannot settle for fried rice. 

Twalen: For equality in eating together? 

Werdah: For equality in eating together. 

Twalen: Five? 

Werdah: Add milk and five makes it perfect. 

Twalen: The servant also drinks milk? 

Werdah: They say that four-course meals are healthy, 

but five-course meals are perfect. It is not important 

that we eat a lot. But if we eat a little it should be food 

with a lot of energy. 

Twalen: Oh, add milk and five makes it perfect. Then 

six ? 

Werdah: If there's not enough, add a sixth dish. 

Twalen: Ooo, everything is about food. So then, 

seven? 

Werdah: If your stomach is full with seven courses 

of food, dad, then you can be serious about serving. 

It's like a motor. Even though a car's engine might be 

good, it can't move if there is no fuel. 

Twalen: The seven courses of food make you serious 

about serving. 

Werdah: The seven courses of food make you serious 

about serving. 

Twalen: Eight? 

Werdah: Our master, daaaad, cannot be stingy or 

greedy. Everything he has, he must donate(eight) 

to us. 

Twalen: Oh, that is a very easy one. Turning eight 

into donate. Ooo. 



sentule ba melaib ke Puri. 

Twalen: Serbuk, gula, yeh anget. Pat lantas? 

Werdah: Iraga pang patuh ken Ida anake agung. 

Patuhe to kenken? 

Twalen: Patuhe to kenken? 

Werdah: Yen Anake Agung ke Restorant, nanang 

pang bareng ke restorant. Yen Anake Agung meli 

Capcay, nanang paling sing nasi goreng. 

Twalen: Patuh makan? 

Werdah: Patuh makan. 

Twalen: Lima? 

Werdah: Tambah susune lima sempurna. 

Twalen: Mesusu mase parekane? 

Werdah: Empat sehat lima sempurna raosange. 

Iraga sing penting makan banyak. Walaupun makan 

sedikit tetapi makan itu cukup gisi. 

Twalen: Ooo, tambah susu lima sempurna. Enam 

lantas. 

Werdah: Asal kuang makan nambah. 

Twalen: Ooo, bagian maman gen onya ne. Pitu 

lantas? 

Werdah: Yen suba betek basang wake nanang. Ditu 

mara pituhuyang awake ngayah. Yen cara motor, 

menapa bagus mesin motore itu kalau mobil tidak 

berisi bensin, motor itu tak bisa jalan. 

Twalen: Ditu mara pituhuyang? 

Werdah: Ditu mara pituyang. 

Twalen: Kutuuus? 

Werdah: Anake Agung, naaaang. Sing dadi bruwit 

sing dadi demit. Apa Ida madruwe pang ketes sik 

ukud iragae. 

Twalen: Ooo gampang-gampang keto luwung to. 

Kutus, ketes. Ooo. 



kotoran mata masih sebesar buah sentul, sudah lari 

ke Puri? 

Twalen: Bubuk kopi, gula, air hangat. Kalau 

empatnya? 

Werdah: Kita harus patuh terhadap beliau orang 

agung. Patuh itu bagaimana? 

Twalen: Patuh dalam bidang apa? 

Werdah: Bila sang raja ke restoran, ayah mesti ikut 

ke restoran juga. Kalau orang sang Raja beli Capcay, 

ayah setidaknya nasi goreng. 

Twalen: Sama-sama makan? 

Werdah: Sama-sama makan. 

Twalen: Lima? 

Werdah: Ditambah susu, lima sempurna. 

Twalen: Seorang abdi, minum susu juga? 

Werdah: Empat sehat lima sempurna, namanya. Kita 

tidak penting makan banyak. Walau makan sedikit, 

tetapi makan itu cukup gisi. 

Twalen: Ooo, ditambah susu, jadi lima sempurna. 

Enam lantas. 

Werdah: Kalau makannya kurang; nambah. 

Twalen: Ooo, bagian makanan saja semuanya. Tujuh 

lantas? 

Werdah: Kalau perut saya sudah penuh, ayah, di sana 

baru abdikan diri dengan serius. Kalau diibaratkan 

seperti motor; betapapun bagusnya mesin motor itu 

kalau tidak berisi bensin, motor itu tak bisa jalan. 

Twalen: Di sana baru diseriuskan menghamba? 

Werdah: Di sana baru serius. 

Twalen: Delapan? 

Werdah: Sang Raja 'Yaaaaahhh. Tidak boleh pelit, 

tidak boleh pelit. Apapun beliau punya, agar sampai 

pada kita. 

Twalen: Ooo gampangan begitu? Bagus itu. Delapan, 

dapat juga bagian. Ooo 






<n" ^ . V^V 








KT^ 



Twalen: So then, nine? 

Werdah: When the sun sets in the west, be prepared 

nine times over. 

Twalen: Prepared for what? 

Werdah: Prepared to look for number ten. 

Twalen: So then, ten? 

Werdah: When the attendant takes his leave, he 

should get a rice dinner to go, so his wife and child 

at home can eat also. That's how it should be. 

Twalen: Your basic rules of conduct from one to ten 

are all about food. Only counting to seven reminds 

you to do your job. Other than that, all your father 

can see is food. But your father can't stop thinking 

like a father. 

Werdah: What can't you stop thinking? 

Twalen: After the rice is eaten what does it become? 

Nothing more than skin, body parts, blood, bones, 

and forgive your father in advance for saying it, but 

it all turns into shit. 

Werdah: After that? 

Twalen: Our life is not just about food. No. We cannot 

live only to eat, but we have to eat to live. 

Werdah: Is there a difference? 

Twalen: There is a diff'erence. If we only eat, that 

just fulfills the needs of our bodies, but our lives are 

based on two foundations. 

Werdah: What are they? 

Twalen: Body and Soul. Mental and Spiritual. 

Werdah: Oh, is that how it is? 

Twalen: That's how it is. But your father is not sure 

about it. Your father sees many good looking people 

on televsion. 

Werdah: Good looking people on TV? 

Twalen: They wear ties and have shiny shoes. They 

appear confident. 

Werdah: How? 

Twalen: But behind it all, there is corruption. 



Twalen: Siya lantas? 

Werdah: Be mekere engseb surya kauh. Siap-siap. 

Twalen: Siap-siap ngudiang? 

Werdah: Ngalih dasa. 

Twalen: Dasa lantas? 

Werdah: Dasarin di mepamit raga, maan nasi 

bungkus. Panak somah jumah pang ngamah mase. 

To keto. 

Twalen: Dong ketekan Dasa Silan ci, uli di sa nganti 

ke dasa bagian makanan doen onya to. Sapapitu gen 

inget nyemak gae to. Lenan to makanan doen tolih 

nanang. Kewala nanang anggon ci rerama, sing abis 

pikir nanang. 

Werdah: Sing habis pikire to? 

Twalen: Dadi apa gen nasi ne pakan? Sing ada dadi 

kulit, dadi isi, dadi getih, dadi tulang. Sugra nanang 

di ajeng; makejang dadi tai dadi bacin. 

Werdah: Suba keto? 

Twalen: Idup iragae makan dogen? Sing baang. 

Hidup ini bukan untuk makan. Tapi kita perlu 

makan untuk hidup. 

Werdah: Melenang to? 

Twalen: Melenang. Yen makan doen, to mara 

kebutuhan jasmani adane to. Iraga idup madasar 

baan dadua. 

Werdah: Apa to? 

Twalen: Rohani jasmani. Mental sepiritual. 

Werdah: Ooo keto? 

Twalen: Keto. Nanang sing yakin. Liu tepuk nanang 

nak ganteng di TV e. 

Werdah: Ganteng di TV e? 

Twalen: Medasi mesepatu nyelig. Uli penampilan 

meyakinkan. 

Werdah: Engken? 

Twalen: Di balik to korupsi ya. 



Twalen: Sembilan lantas? 

Werdah: Jelang matahari tenggelam di ufuk barat, 

siap-siap. 

Twalen: Siap-siap untuk apa? 

Werdah: Mencari sepuluh. 

Twalen: Sepuluh lantas? 

Werdah: Dengan alasan ketika permisi pulang, dapat 

nasi bungkus. Anak istri di rumah agar makan juga. 

Demikian tuh. 

Twalen: Lho hitungan dasa Silamu, dari satu sampai 

sepuluh itu hanya tentang makanan. Hitungan ke 

tujuh saja ingat mengambil pekerjaan. Selebihnya 

hanya untuk makanan, yang aku lihat. Sebagai orang 

tua ayah tak habis pikir. 

Werdah: Tak habis pikir yang dimaksud? 

Twalen: Jadi apa saja nasi yang dimakan? Tidak ada 

jadi kulit, jadi daging, jadi darah, jadi tulang. Maaf 

ayah selagi dihadapan banyak orang; apa semua itu 

hanya jadi kotoran? 

Werdah: Setelah itu? 

Twalen: Emangnya hidup kita hanya untuk makan? 

Tidaklah. Hidup ini bukan untuk makan, tapi kita 

perlu makan untuk hidup. 

Werdah: Emangnya itu beda? 

Twalen: Beda. Kalau makan saja, itu baru pemenuhan 

kebutuhan jasmani namanya. Kita hidup dilandasi 

dua hal. 

Werdah: Apa itu? 

Twalen: Rohani, jasmani. Mental, spiritual. 

Werdah: Ooo begitu? 

Twalen: Ya gitu. Ayah enggak yakin. Banyak orang 

ganteng ayah lihat di TV. 



Werdah: Orang ganteng di TV? 

Twalen: Berdasi bersepatu mengkilat. 

penampilannya, meyakinkan. 

Werdah: Bagaimana? 

Twalen: Di balik itu, dia korupsi. 



Dari 



170 



Werdah: How is that? 

Twalen: Their morals are not good. 

Werdah: Their morals? 

Twalen: Morals. That is the most important part of 

being completely human. It makes you a person of 

quality. 

Werdah: What kind of quality? 

Twalen: A healthy body with a soul that is also 

healthy. 

Werdah: Oh, is that how it is? 

Twalen: That's how it is. That's why your father is 

telling you. You cannot just pay attention i;o your 

body. You have to use your mind properly. Don't just 

proclaim your religion with your mouth. Religion is 

not just something you put on your identification 

card. If your actions are not correct, that is a reflection 

of the way you live your religion. 

Werdah: Oh, is that how it is? 

Twalen: Yeeeess! That's why your father is telling 

you this. So now you can reflect on what is correct. 

Prepare yourself. Because it is easy to find clever 

people in the world. 

Werdah: Easy? 

Twalen: Easy. But finding honest people is difficult. 



Werdah: Men apa? 

Twalen: Moral sing bagus. 

Werdah: Moral? 

Twalen: Moral. Sangkal iraga penting membentuk 

manusia seutuhnya. SDM pang berkwalitas. 

Werdah: Ne madan berkwalitas? 
Twalen: Jasmani sehat, rohanipun sehat. 

Werdah: Ooo keto? 

Twalen: Keto. Sangkal nanang ngorin cai to. Sing 

dadi awak doen perhatiang. Mentale patut. Agama 

pelajahin benya. De bibih doen ngeraosang agama. 

Pang de agama to hanya sekedar KTP. Kewala 

laksanane sing sajan ada mencerminkan orang 

beragama. 

Werdah: Ooo ketooo. 

Twalen: Aaaaae. Kelan nanang ngorin cai. Patut cai 
jani patut metaki-taki. Mepidabdab. Wireh ngalih 
nak duweg aluh. 

Werdah: Aluh? 

Twalen: Aluh. Ngalih nak jujur keweh. Maka 



Werdah: Lalu bagaimana? 

Twalen: Moral tidak bagus. 

Werdah: Moral? 

Twalen: Moral. Karenanya penting kita membentuk 

manusia seutuhnya. SDM agar berkualitas. 

Werdah: Yang dimaksud berkualitas? 
Twalen: Jasmani sehat, rohanipun sehat. 

Werdah: Ooo begitu? 

Twalen: Ya gitu. Itu sebabnya ayah mengingatkan 
kamu. Tidak boleh hanya badan saja yang 
diperhatikan. Semestinya juga mental. Jangan mulut 
saja berkata agama. Janganlah agama itu hanya 
sekedar ditera di KTP. Tetapi perbuatanya tidak 
mencerminkan orang yang sungguh beragama. 

Werdah: Ooo begitu. 

Twalen: Yaaa. Itu sebabnya ayah memberitahu 

kamu. Sepatutnya, sekarang kamu bergegas. 

Mempersiapkan diri. Karena mencari orang pintar 

gampang. 

Werdah: Gampang? 

Twalen: Gampang. Mencari orang jujur sulit. Maka 



171 




So be happy to become an honest person. Because 
in the world it is rare and difficult to find an honest 
person. That means that becoming an honest person 
is the rarest thing in the world. 
Werdah: Oh, is that how it is? 
Twalen: Yes yes. Oh, do you see that? 
Werdah: Who? 

Twalen: It is lord Anggada. He's leaping up to Siwa's 
heaven. That makes your father happy. 
Werdah: How? 

Twalen: Who knows? There could be a stray angel. 
I might bring one home to be my wife. Then you'd 
have a mother. Like you always wanted. 
Werdah: Well, well, well, so you're looking for a 
woman, dad? 

Twalen: If there is one who would believe in me. 
Why not? 

Werdah: Well there is a bat looking for something 
down there. Looking for a pumpkin in Jegu. (these 
are nonsense rhymes in Balinese). 
Twalen: A bat is looking down below. Looking for 
pumpkins in Jegu. What are you talking about? 
Werdah: About you yourself. You don't have any 
teeth, but you are thinking about marriage. Why 
would any woman would want you? 
172 




bahagialah menjadi orang jujur. Sebab di Gumine 
langah, keweh ngalih nak jujur. Maka dadi nak 
jujur paling langka di Gumine. 

Werdah: Ooo keto? 

Twalen: Aaa ae. Ooo o puk ci to? 

Werdah: Nyen? 

Twalen: Dane Sang Ngada. Mecues ke Siwa Loka. 

Nanang demen atie. 

Werdah: Kenken? 

Twalen: Nyen nawang ada dedari kesasar. Juk ukud 

aba mulih anggon nanang somah. Anggon ci eme. 

Keto nyet e to. 

Werdah: Dong dong dong, mekita ngalih nak eluh 

mase, nang? 

Twalen: Dong yen ada nak ngugu. Kenken neh. 

Werdah: Dong lelawah alih di beten. Buah waluh 
alih di Jegu. 

Twalen: Lelawah alih di beten. Buah waluh alih di 
Jegu. Engken j a? 

Werdah: Dong awak pawah nu mase ngitungan 
nganten. Nyen nak luh bakal ngugu. 



berbahagialah menjadi orang jujur. Sebab di dunia 
jarang, sulit mencari orang jujur. Maka menjadi 
orang jujur paling langka di dunia. 

Werdah: Ooo begitu? 

Twalen: Ya ya. Ooo kamu lihat tuh? 

Werdah: Siapa? 

Twalen: Beliau Sang Ngada. Melesat ke Siwa Loka. 

Hati ayah jadi senang. 

Werdah: Bagaimana? 

Twalen: Siapa tahu ada bidadari kesasar. Ayah 'kan 

tangkap satu, bawa pulang jadikan istri. Sebagai 

ibumu. Demikian niatku. 

Werdah: 'Ntar, 'ntar, 'ntar, ada niat untuk 

mempersunting wanita lagi, ayah? 

Twalen: Bila ada orang yang menaruh hati. 

Bagaimana tidak? 

Werdah: Kelelawar cari di bawah, buah labu cari 

di Jegu. (padanan ide: Kulit kepongpong dipelintir 

angin, mata merah terkena debu). 

Twalen: Kulit kepongpong dipelintir angin, mata 

merah terkena debu. Apa maksudnya? 

Werdah: Wah, gigi sudah ompong memikirkan 

kawin lagi, wanita mana yang akan mau. 



Twalen: Because I'm toothless? 

Werdah: Because you are toothless. 

Twalen: A (toothless) bat meets another bat. He gets 

some medicine for his blotchy body. 

Werdah: What's that about? 

Twalen: Being toothless is not a problem. The thing 

that matters is still strong. What are you thinking? 

Having no teeth doesn't matter. Are my teeth getting 

married? Even though I'm toothless, the man 

downstairs still has what it takes. Although, your 

father is old, don't call me an old man. 

Werdah: Then what? 

Twalen: Your father is like an old car engine. 

Werdah: Like an old car engine? 

Twalen: Your father is like an old car. 

Werdah: How like an old car? 

Twalen: Getting it started is difficult. 

Werdah: Getting it started is difficult? 

Twalen: Yes. But once it gets going, it's difficult to 

stop. 

Werdah: An old car? 

Twalen: An old car. If you get a new car nowadays 

it has a shiny body and is easy to start. Just click 

the ignition and vroooom. But after five years your 

engine breaks down. The staying power isn't strong. 

So there! 

Werdah: Oh, is that how it is? 

Twalen: That's how it is. Your father has already 

passed the test run. A rare specimen, don't you 

think? Lots ofpeople are looking for antiques. What 

do you say to that? 

Werdah: So that's why they are looking? 

Twalen: And what's more, then they renovate the 

antiques. Many jalopies have old parts, hub caps, 

tires, so they replace them. 

Werdah: Oh, antique antiquities? 

Twalen: Yes, what do you know about it. Those 

things are very expensive nowadays. 



Twalen: Baan pawahe? 

Werdah: Baan pawahe. 

Twalen: Lelawah ketemu Lelawah. Tubuh panu di 

beri obat. 

Werdah: Apa to? 

Twalen: Biar pawah sing ada masalah. Asal itu anu 

masih kuat. Kenken ci. Apin nanang pawah. Gigi 

maan nganten? Apin pawah be siteng panggal 

pengijeng to sangetang. De nak tuae ubat-abite to. 

Apin nanang tua. 

Werdah: Men? 

Twalen: Tuan nanange nak tuaning cara motor. 

Werdah: Tuan cara motore? 

Twalen: Nanang sing motor kuno nanang. 

Werdah: yen motor kunoe? 

Twalen: Ngidupang sukeh. 

Werdah: Ngidupang sukeh? 

Twalen: Aa. Kewala di suba idupe ngamatiang 

keweh. 

Werdah: Motor kunoe? 

Twalen: Motor kunoe. Yen cai motor cara janie. 

Nyelig di body ngidupang aluh. Ngajak setater pecik 

gen sereeeet. Kewala limang tiban turun mesin ci. 

Daya tahan sing kuat. Kenken. 

Werdah: Ooo keto? 

Twalen: Keto kenkene. Yen nanang kan suba lulus 
uji coba. Barang langka kenken ci. Nak jani liu nak 
ngalih barang-barang antik jani, kenkene. 

Werdah: Awinang aliha? 

Twalen: Apa buin lantas barang antike di modifikasi 

lantas. Liu ceketere misi anu, pelek anu, meban, 

mepelekan jani. 

Werdah: Ooo antik-antik? 

Twalen: Aa kenken ci. Mael barange to. Jani kene. 



Twalen: Karena ompong? 

Werdah: Karena ompongnya. 

Twalen: Kepompong ketemu kelelawar. Tubuh panu 

diberi obat. 

Werdah: Apa itu? 

Twalen: Biar ompong tidak ada masalah. Asal 

anunya itu masih kuat. Bagaimana kamu. Biar ayah 

'udah ompong. Emang giginya yang menikah? Biar 

ompong, asal pangkal gigi masih kuat; masa bodoh. 

Jangan ketuanku dipermasalahkan. Biar ayah udah 

tua... 

Werdah: Lalu? 

Twalen: Tuanya ayah tak ubahnya seperti mobil. 

Werdah: Ketuaan seperti motor? 

Twalen: Ayah kan motor kuno, ayah. 

Werdah: Kalau motor kunonya? 

Twalen: Menghidupkannya sulit. 

Werdah: Menghidupkannya sulit? 

Twalen: Ya. Tetapi ketika sudah hidup, mematikan 

sulit. 

Werdah: Motornya kuno? 

Twalen: Motor kuno. Kalau kamu, motor jaman 

sekarang. Mengkilat di body. Menghidupkannya 

gampang. Dilengkapi starter, hanya pencet saja, 

sereeeet. Tetapi lima tahun udah turun mesin, kamu. 

Daya tahannya tidak kuat. Gimana kamu. 

Werdah: Oh begitu? 

Twalen: Ya gitu tuh, gimana kamu. Kalau ayah kan 

udah lulus uji coba. Barang langka, gimana kamu. 

Banyak orang sekarang memburu barang antik. 

Gimana kamu. 

Werdah: Kenapa diburu? 

Twalen: Apalagi barang antiknya dimodifikasi. 

Banyak motor bekas berisi apa namanya tuh..., 

pelek, rodanya berpelek sekarang. 

Werdah: Ooo antik-antik? 

Twalen: Ya bagaimana kamu. Itu barang mahal. 

Sekarang begini. 



173 



Werdah: Oh, is that so? 

Twalen: Now if we go along to Siwa's Heaven, the 

people there will be talking about important things. 

Our master Anggada will be meeting with Lord 

Surya and Lord Siwa. 

Werdah: And so? 

Twalen: So, don't you disturb them! 

Werdah: What do you mean? 

Twalen: Let's go somewhere refreshing. 

Werdah: Where? 

Twalen: To hell. 

Werdah: What for? 

Twalen: To see the souls being judged. 

Twalen: Being judged? 

Twalen: Tomorrow will be the judging. 

Werdah: What kind of judging? 

Twalen: The judging about copyright. 

Werdah: Is that right? 

Twalen: Yes. That is the situation there. 

Werdah: Why should we go there? 

Twalen: Well, to see how the people who hold the 

power of the law decide the cases. Oh, we will be like 

a team of monitors. 

Werdah: Is that how it will be? 

Twalen: Yes. Which side is right and which is not. 

Werdah: Oh, I see. 

Twalen: That is what is difficult for the people who 

hold the power of the law. They make the laws, but 

then they don't always enforce them. The law is 

sacred if you apply it fully. Be sure to uphold it. Be 

sure to enforce it. Because today many clever people 

manipulate the law. Our country is the cleverest. 

Werdah: Why is that? 

Twalen: An example. 

Werdah: What? 

Twalen: A government employeee is not allowed to 



Werdah: Kenken? 

Twalen: Yen benya bareng kema ke Siwa Loka. Nak 
bebaosang sarat Dane Sang Ngada, ngiring Ida 
Batara Surya. A Ida Batara Siwa. 



Werdah: 


: Kenken? 


Twalen: 


Ci de ngulgul! 


Werdah: 


: Kenken? 


Twalen: 


Jak represing. 


Werdah: 


: Kija? 


Twalen: 


Ke Yama Loka. 


Werdah: 


: Ngudiang? 


Twalen: 


Nelokan atma-atma sidang. 


Werdah: 


: Sidang? 


Twalen: 


Biin mani kel sidang nyen. 


Werdah 


: Sidang apa? 


Twalen: 


Hak Cipta keto. 


Werdah 


: Keto? 


Twalen: 


Aa. Kenken ya keadaan ditu? 



Werdah: Ngudiang kema? 

Twalen: Ye nelokan kenken nak ne ngisi-ngisi 

hukum. Memutuskan sebuah kasus. Ooo, iraga 

dadi tim pemantau. 

Werdah: Keto? 

Twalen: Aa. Apa beneh apa sing. 

Werdah: Ooo keto? 

Twalen: To keto. Nak keweh ngisi hukum. Gae gen 

awige, awag-awagen lantas. Hukume to nak tenget 

yen hukume to saja tepaten. Saja jejegen, saja 

jalanan. Wireh liu jani nak duweg mempermainkan 

hukum. Gumin ragae paling duwege. 



Werdah: To nguda keto? 

Twalen: Contoh. 

Werdah: Kenken? 

Twalen: Pegawai negeri sing dadi ngelah kurenan 



Werdah: Bagaimana? 

Twalen: Kalau kita ikut ke Siwa Loka sana. 
Pembicaraan penting paduka Ngada, dengan beliau 
Dewa Surya dengan beliau Batara Siwa. 

Werdah: Bagaimana? 

Twalen: Kamu jangan mengganggu! 

Werdah: Bagaimana? 

Twalen: Mari beranjangsana. 

Werdah: Kemana? 

Twalen: Ke Yama Loka 

Werdah: Untuk apa? 

Twalen: Melihat para atma disidang. 

Werdah: Sidang? 

Twalen: Besok akan sidang lagi. 

Werdah: Sidang apa? 

Twalen: Hak cipta, gitu lho. 

Werdah: Begitu? 

Twalen: Ya. Bagaimana barangkali keadaan di 

sana? 

Werdah: Ngapain ke sana? 

Twalen: La ya, melihat-lihat bagaimana orang yang 

megang-megang hukum. Memutuskan sebuah 

kasus. Ooo, kita menjadi tim pemantau. 

Werdah: Begitu? 

Twalen: Ya. Apa benar, apa tidak. 

Werdah: Ooo begitu? 

Twalen: Ya seperti itu. Orang, emang sulit 

menegalckan hukum. Buat peraturan adat; kemudian 

tidak dihiraukan. Hukum itu sakral, kalau hukum 

itu benar-benar ditepati, benar-benar dikukuhkan, 

benar-benar dijalankan. Sekarang ini, banyak orang 

pintar mempermainkan hukum. Orang-orang kita 

paling pintar. 

Werdah: Kenapa demikian? 

Twalen: Contoh. 

Werdah: Bagaimana? 

Twalen: Pegawai negeri tidak boleh mempunyai dua 



175 



have two wives. That's what the law says. Now here's 

the trick. 

Werdah: What? 

Twalen: Just a contract marriage. That's how they do 

it. There is no evidence. No one can prosecute you. 

Werdah: Oh, is that how it is? 

Twalen: Yes. We are the cleverest at twisting the law. 

Werdah: Oh, it's like that? 

Twalen: Yes. Because nothing is perfect in the world. 

There is no law that is perfect. Now if we stay aware, 

we will hold the law in high esteem. The law will 

be strong. To find justice in this world is difficult, 

because there are so many kinds of justice, many 

kinds. 

Werdah: For example? 

Twalen: Justice according to God. Justice according 

to the judge. Justice according to the accused. 

Justice according to the community. Oh, there are 

many kinds. 

Werdah: So, then? 

Twalen: ... hmmm (thinks) 

Werdah: For example? 

Twalen: You burn your friend's house, like the case 

of the citizens of Klungkung. 

Werdah: What happens if you burn your friend's 

house? 

Twalen: Well. 

Twalen: As for God's justice, we do not understand 

it. As for the justice of the judge, they will get a 

five year jail sentence, for example. As for justice 

according to the owner of the house, five years is not 

appropriate. He wants the death penalty. According 

to the community, it should be something different. 

Werdah: Oh, is that how it is? 

Twalen: Yes. So then there will be some playing 

around (with justice). 

Werdah: Oh, is that how it is? 



dua. Munyin hukume keto. Jani siasatne jani. 

Werdah: Kenken? 

Twalen: Jeg kawin sirih suba lantas. To sing ba 

ngidang. Nak tara ada bukti, kenken anu nuntut. 

Werdah: Ooo keto? 

Twalen: Aa. Paling duweg mensiasati hukum. 

Werdah: Ooo keto? 

Twalen: Aa. Wireh di Gumie sing ada ne sempurna. 

Hukum apa sing ada sempurna. Jani yen iraga sadar 

lantas menjungjung tinggi hukume to. Hukume 

to bakal kuat. Ngae adil di Gumie keweh. Wireh 

macem-macem adile, liu macemne. 

Werdah: Conto ne? 

Twalen: Adil menurut Tuhan. Adil menurut hakim. 
Adil ne menurut ne tersangka. Adil menurut 
masyarakat. Ooo liu to. 

Werdah: Meeen? 

Twalen: ...hem....? 

Werdah: Contohne? 

Twalen: Cai nunjel umah timpal. Kasus wangsa di 

Kelungkungne. 

Werdah: Maan nunjel umah timpal? 

Twalen: Aa. 

Twalen: Yen menurut keadilan Sang Hyang Widhi, 

iraga sinah ba sing nawang. Yen menurut pengadilan 

hakime ne. Baang ba ya hukume limang tahun, keto 

umpama. Menurut keadilan ne ngelah umahe sing 

cocok limang tahun. Pang hukum mati ya. Ooo. 

Yen menurut masyarakat biin len. 

Werdah: Ooo keto? 

Twalen: Aa. Kelan ne ada permainan lantas keto. 

Werdah: Ooo keto? 



istri. Seperti itu tertera dalam hukum. Kemudian 

disiasati lalu. 

Werdah: Caranya? 

Twalen: Dengan jalan kawin sirih, lantas. Itu kan 

sudah biasa. Orang tidak ada bukti, bagaimana cara 

menuntutnya. 

Werdah: Ooo begitu? 

Twalen: Ya. Paling pintar mensiasati hukum. 

Werdah: Ooo begitu? 

Twalen: Ya. Karena di dunia tidak ada yang sempurna. 

Hukum apapun tidak ada yang sempurna. Kalau 

saja kita semua sadar menjungjung tinggi hukum 

itu; hukum itu akan kuat. Membuat keadilan di 

dunia sulit. Karena keadilan itu bermacam-macam. 

Banyak macamnya. 

Werdah: Contohnya? 

Twalen: Adil menurut Tuhan. Adil menurut hakim. 

Adil menurut yang tersangka. Adil menurut 

masyarakat. Ooo banyak itu. 

Werdah: Lalu? 

Twalen: Hem ? 

Werdah: Contohnya? 

Twalen: Kamu membakar rumah teman. Seperti 

kasus warga yang di Klungkung. 

Werdah: Membakar rumah teman? 

Twalen: Ya. 

Twalen: Kalau menurut keadilan Tuhan, sudah pasti 

kita tidak tahu. Kalau menurut keadilan hakim, 

udah beri aja dia hukuman lima tahun; umpamanya. 

Menurut keadilan yang punya rumah tidak cocok 

lima tahun. Hukum mati aja dia. Ooo Kalau menurut 

masyarakat lagi lain. 

Werdah: Ooo begitu? 

Twalen: Ya. Makanya ini ada permainan seperti itu. 

Werdah: Ooo begitu? 



176 



Twalen: Yes. So there will be some tampering to 

make the game look good. This kind of game goes 

on everywhere. 

Werdah: Oh, so that's how it is? 

Twalen: Yes. If we are with our wives and there is no 

game-playing, then something beautiful is missing. 

Werdah: Oh, you're bringing it down to that. 

Twalen: Yes, just joking. If you are too serious, it's 

only words. 

Twalen: Let's go to Yama's Hell. We can watch the 

souls being judged. Maybe there will be a place for 

Amrozi there. (Amrozi was a convicted terrorist 

awaiting the death penalty at the time of the play). 

Werdah: Hasn't he been executed yet? 

Twalen: Not yet. 

Werdah: Not yet? 

Twalen: Not yet. 

Werdah: They say he was sentenced to die. 

Twalen: The law died, but Amrozi is still alive. That's 

what happened. 

Werdah: Oh, is that how it is? 

Twalen: Yes. We never know for sure. Let's go to have 



Twalen: Aa. Pang nyak kutak-katik. Pang nyak 

cantik permainane. Dija misi permainan kenken 

ne. 

Werdah: Ooo keto? 

Twalen: Aa. Yen ajak somahe yen sing jin permainan 

nyak sing luwung. 

Werdah: Kema abae. 

Twalen: Nah ketoang nen malu. Bes serius gen 

omongne. 

Twalen: Lan ke Yama Loka. Ngelokin atma-atmae 

sidang ditu. Lan. Ada ya tongos Amrozi ditu. 



Werdah: Konden hukum mati to? 

Twalen: Konden. 

Werdah: Tonden? 

Twalen: Tonden. 

Werdah: Kone hukum mati ya to? 

Twalen: Hukume mati. Amrozi nu hidup. Kenken 

ci. 

Werdah: Ooo misi keto? 

Twalen: Aa. Nak kena sing baan. Lan-lan lokan. 



Twalen: Ya. Agar mau di kutak-katik. Agar mau 

cantik permainannya. Dimana saja ada permainan; 

bagaimana kamu. 

Werdah: Ooo begitu? 

Twalen: Ya. Kalau bersama istri tanpa diisi 

permainan, tidak indah. 

Werdah: Kok kesana dibawa. 

Twalen: Ya guyon dikit. Biar tak terlalu serius 

pembicaraanya. 

Twalen: Mari ke Yama Loka. Melihat-lihat para 

roh disidang di sana. Ayo. Apakah si Amrozi dapat 

tempat disana? 

Werdah: Belum dieksekusi mati tuh? 

Twalen: Belum. 

Werdah: Belum? 

Twalen: Belum. 

Werdah: Katanya dia difonis dengan hukuman 

mati? 

Twalen: Hukumnya yang mati. Amrozi masih hidup. 

Gimana kamu. 

Werdah: Ooo nyindir ya? 

Twalen: Ya, kita tidak pernah tahu. Mari, mari. 



177 



a look. 

Werdah: Let's go. 
Singers: ... (chant) 

Lord Suratma: Ha ha ha haaa. My name is Lord 
Suratma. Lord Suratma is the secretary in Heaven. 
Sang Hyang Suratma is Heaven's expert for writing 
and punctuation. All the deeds commited by 
humans that make up their karma will be entered 
into the computer of Lord Suratma. Hey, all you 
Cikrabala (demons of hell), please grab these 
souls. Lord Suratma will keep writing. Over here. 
Over here! 
Singers: ... (chant) 
Sang Suratma : 



Soul: My name is Wayan Polos, sir. {Polos means 

'virtuous') 

Sang Suratma: Who? 

Soul: Wayan Polos. 

Sang Suratma: Oh, good, good, good. Your name 

interests me already. If your name is Virtuous', then 

your character must be virtuous. Take care to give 

names whose nature is positive. A good name reflects 





Werdah: Lan-lan. Jalan. 
Sendon: ... 

Sang Suratma: Ha ha ha haaaa. Yayateki ngaran 
Sang Hyang Suratma. Sang Hyang Suratma 
sekretaris Suarga Loka. Sang Hyang Suratma 
juru tulis penyarikan Suarga, sahananing karman 
manusa, masuk dalam komputer Sang Hyang 
Suratma. Ih wateking Cikrabala sedaya yata 
amet ikanang atma. Merangke! Apan Sang Hyang 
Suratma bipraya nyurat. Merangke-merangke! 

Sendon: ... 

Sang Suratma: Ih kita atma prapta. Sang Hyang 

Suratma tetanya lawan kalaganta. Sang apa dwi 

dasa nama. Muang apa prayojananta aneng 

kunang Mayapada? 

Atma: Titiang madan Wayan Polos Atu. 

Sang Suratma: Nyen? 

Atma: Wayan Polos. 

Sang Suratma: Goo bagus, bagus, bagus. Uli adan ba 

menarik. Adan Polos sifat pasti polos. Apiken ngae 

adan sifate pang nyak bagus. Uli adan ngeranang 

sifate luwung. 



lihat. 

Werdah: Mari, mari jalan. 

Senden: ... 

Sang Suratma: Ha ha ha haaaa. Namaku ini Sang 

Hyang Suratma. Sang Hyang Suratma sekretaris 

Surga. Sang Hyang Suratma juru tulis, sekretaris 

surga berkenaan semua perbuatan manusia, 

masuk dalam komputer Sang Hyang Suratma. 

Wahai para Cikrabala semua, ambil para atma. 

Kesini! Karena Sang Hyang Suratma akan 

mendata. Kesini! Kesini! 

Sinden: ... 

Sang Suratma: Wahai kamu roh yang datang. Sang 
Surama bertanya padamu. Siapa namamu. Juga 
apa maumu datang ke dunia maya? 

Roh: Hamba bernama Wayan Polos. 

Sang Suratma: Siapa? 

Roh: Wayan Polos. 

Sang Suratma: Ooo bagus, bagus, bagus. Dari nama 

saja sudah menarik. Namanya Polos sifatnyapun 

pasti polos. Buat nama yang bagus, agar sifatnya 

jadi bagus. Dari nama membuat sifat jadi bagus. 



178 



a good character. 

Soul: Oh. My neighbor to the south is named 

Sudharma {one following the noblest laws'), but he is 

always stealing things. 

Sang Suratma : Sudarma? Stealing things? What's 

your name? 

Soul: I am Wayan Polos. 

Sang Suratma: What did you do in the world? 

Soul: I like to practice religion. 

Sang Suratma: For example? 

Soul: I always practice Tri Sandya ( ). I do it three 

times. Three times every day. Morning, afternoon, 

and evening. I never forget, sir. 

Sang Suratma: Oh, good good good. That is the right 

way to be. What is your name? 

Soul: I am Wayan Polos, sir. 

Sang Suratma: Aaah, do you make donations? 

Soul: I am the father of donations. Wherever there is 

a temple renovation, I am the first one to donate. If 

someone donates two hundred, I give four hundred. 

If someone donates four hundred I give eight 

hundred. If someone donates five hundred, I give a 

million. So that I can outdo all the others and keep 

up my prestige, sir. 

Sang Suratma : Oh, good, good, good. Your name? 

Soul: I am Wayan Polos, sir. 
Suratma : How about your praying? 
Soul: I like praying very much. Whenever there is 
a temple ceremony, I am always the first to pray. I 
burn so many bundles of incense sticks that I make 
the priest sneeze from all the smoke. 
Sang Suratma: Oh, good, good, good. That is the 
right way to be. Your name? 
Soul: Wayan Polos, sir. 
Sang Suratma: Why have you come here? 
Soul: I am looking for heaven. 



Atma: Bih delod umah tiange Sudarma adane, 
ngemaling sai to. 

Sang Suratma: Sudarma apa ngemaling? Adan cie? 

Atma: Tiang Wayan Polos. 

Sang Suratma: Wisayan ta ring Mercapada? 

Atma: Tiang demen me agama. 

Sang Suratma: Contohne? 

Atma: Rutin tiang Tri Sandya. Tiga hari tiang, aa, 

tiga kali tiap hari. Semengan tengai sanja. Pagi 

siang dan sore. Tak pernah lupa tiang atu. 

Sang Suratma: Ooo bagus, bagus, bagus. Pang keto. 

Adan cie? 

Atma: Wayan Polos tiang Atu. 

Sang Suratma: Aaa yan mepunia? 

Atma: Tiang bapak donature. Dija ja ada 

wewangunan di Pura tiang simalu meaturan. Nak 

ngaturan satak, tiang samas. Nak ngaturang samas 

tiang lapan ratus. Nak ngaturang mang atus tiang 

satu juta. Pang gedenan gen ken timpale. Gengsi 

tiang Atu. 



Sang Suratma: Ooo bagus, bagus, bagus. Adane? 

Atma: Wayan Polos tiang Atu. 

Sang Suratma: Yan mebakti? 

Atma: Tiang paling demen mebakti. Dija ja ada 

odalan di Pura tiang simalu mebakti. Apesel-pesel 

ngenyit dupa. Jero Mangku kanti simpatan uyak 

andus dupan tiange. 

Sang Suratma: Ooo luwung luwung luwung. Pang 

keto, pang keto pang keto ba. Adane? 

Atma: Wayan Polos Atu. 

Sang Suratma: Aaa tekan ci mai? 

Atma: Tiang ngalih Suarga. 



Roh: Wah tetangga saya di sebelah selatan rumah 
namanya Sudarma, tapi dia sering mencuri. 

Sang Suratma: Sudarma, apa mencuri? Namamu? 

Roh: Hamba Wayan Polos. 

Sang Suratma: Pekerjaanmu di dunia? 

Roh: Hamba senang beragama. 

Sang Suratma: Contohnya? 

Roh: Rutin hamba Tri Sandya. Tiga hari hamba, aaa 

maaf, tiga kali setiap hari. Pagi, siang, sore; pagi, 

siang, dan sore. Tidak pernah lupa hamba paduka. 

Sang Suratma: Ooo bagus, bagus, baguslah. Begitulah 

semestinya. Namamu? 

Roh: Wayan Polos, hamba paduka. 

Sang Suratma: Aaa kalau bersedekah? 

Roh: Hambalah bapak donatur. Dimanapun ada 

pembangunan perbaikan Pura, hambalah yang 

terdepan menyumbang. Orang menyumbang dua 

ratus, hamba empat ratus. Orang menghaturkan 

donasi empat ratus hamba delapan ratus. Orang 

menghaturkan donasi lima ratus, hamba satu juta. 

Pokoknya selalu lebih besar dibanding teman. 

Gengsi hamba paduka. 

Sang Suratma: Ooo bagus, bagus, baguslah. 

Namamu? 

Roh: Wayan Polos hamba paduka. 

Sang Suratma: Kalau sembahyang? 

Roh: Hamba paling senang sembahyang. Dimana ada 

odalan di Pura hamba terdepan duduk sembahyang. 

Berbungkus-bungkus membakar dupa. Jero Mangku 

sampai bersin-bersin menghirup asap dupa hamba. 

Sang Suratma: Ooo bagus, bagus, bagus. Ya begitulah, 

agar begitulah, seperti itulah. Namanya? 

Roh: Wayan Polos paduka. 

Sang Suratma: Aaa kedatangan kamu ke sini? 

Roh: Hamba mau ke Surga. 



179 



:' ' ^<t * j 



^\.- 



'* 



A- 



X 



y 



^^, 



r^/ 



^^ 



^y 







m-:^ 



• ^* 



} 



,<: 



.^ 



V 



-\ 



o 



/if*' 



.-=?v" 



r . 



r.^»- 



• *- 



^ 



«^ 



% / '^V v^' 



/ 



^ w 



yr 



^- V 



rf''i^<iiaiiii 



Sang Suratma: Why are you looking for heaven? 

Soul: Because I like to pray. 

Sang Suratma: Do you think you can find a place in 

heaven just because you like to pray? Do you think 

the Hindu religion asks you to do nothing more 

than pray. The Hindu religion has four paths. They 

are called "Catur Marga" ("The Four Paths"): Bakti 

Marga (the path of prayer), Karma Marga (the path 

of good deeds), Raja Marga (the path of law), Jnana 

Marga (the path of knowledge). Putting a flower 

above your head (in prayer) is just a small part of 

what the Hindu religion teaches you. That is called 

"Apara Bakti." 

Soul: What do you mean? Not only here (have I been 

praying), but I've been to Java four times. I've gone 

back and forth to India three times to pray. Is that a 

bad thing to do? 

Sang Suratma: It's good. 

Soul: Oh, it's good . 

Sang Suratma: Your temple shrines at home are 

falling apart, but you pay no attention, because you 

are traveling all over looking for God in Java and 

India. Take care of your home first, mister! You are 

peeling off the bark of your Pole tree to give to your 

neighbor. You are not paying attention to yourself 

The Hindu religion has three levels. The high, the 

middle, and the low. In your home there are also 

three levels. 

Soul: The highest? 

Sang Suratma: Your family temple shrine! 

Soul: The middle? 

Sang Suratma: The house. 

Soul: The lowest? 

Sang Suratma: The outhouse. The toilet! In the 

village there are also three levels. 

Soul: The first? 

Sang Suratma: The Temple. 

Soul: The middle? 



Sang Suratma: Awinan ci ngalih Suarga? 
Atma: Wireh tiang demen mebakti. 
Sang Suratma: Kaden ci dadi Suarga alih 
ulian demen mebakti. Agama Hindu kaden ci 
sembahyang gen orine. Agama Hindu to ngelah 
jalan patpat. Raosange Catur Marga. Bakti Marga, 
Karma Marga, Raja Marga. Jnana Marga. Ci mara 
bisa menekang bunga duwur ubun-ubun. To mara 
seper kecil ajaran Agama Hindu. Mara Apara Bakti 
adane to. 



Atma: Napi nika, de ja driki, ke Jawa gen pang 
pat. Ke India bulak-balik pang telu mebakti. Jelek 
nika? 

Sang Suratma: Luwung. 
Atma: Ooo luwung. 

Sang Suratma: Sanggah Kemulan ci nyerendeng, 
sing rungu-rungu ci. Tungkul ci paling ngalih 
Dewa widhi ke Jawa ke India nabdab Dewa. Dewa 
di jumah sing apikan ci. Ne jumah malu apikan 
Gus! Ci cara babakan Pole nyeksek ke pisaga, awak 
ci pedidi sing runguang ci. Agama Hindu ngelah 
paletan telu. Utama, Madya, Nista. Jumah ci atelu. 



Atma: Utamane? 

Sang Suratma: Sanggah! 

Atma: Madya? 

Sang Suratma: Umah! 

Atma: Nista? 

Sang Suratma: Teba, WC! Di Desa ada telu! 

Atma: Utamane? 
Sang Suratma: Pura! 
Atma: Madyane? 



Sang Suratma: Alasan kamu hendak ke Surga? 
Roh: Karena hamba senang sembahyang. 
Sang Suratma: Kamu kira Sorga mudah didapat 
hanya dengan rajin sembahyang? Melaksanakan 
agama Hindu, kamu kira hanya dengan sembahyang 
saja? Ada empat jalan ajaran menrut Agama Hindu, 
disebut dengan Catur Marga: Bakti Marga, Karma 
Marga, Raja Marga. Jnana Marga. Kamu baru bisa 
menaikan bunga di atas ubun-ubun. Itu hanya 
sebagian kecil ajaran Agama Hindu namanya. 



Roh: Apa itu, jangankan di sini, ke Jawa empat kali. 
Ke India bulak -balik tiga kali untuk sembahyang. 
Jelekkah itu? 

Sang Suratma: Bagus. 

Roh: Ooo Bagus. 

Sang Suratma: Tempat suci dirumahmu mau ambruk, 

tidak kamu perhatikan. Karena kamu sibuk kesana- 

kemari mencari Dewa. Ke Jawa ke India mencari 

Dewa. Dewa dirumahmu sendiri kamu tidak hirau. 

Yang dirumah mesti diperhatikan dahulu. Gus! 

Kamu ini ibarat irisan pohon Pole, sibuk dengan 

tetangga, dirimu sendiri tidak kamu urus. Cara 

beragama Hindu memilikian, tiga tingkatannya. 

Utama, Sedang, Nista. Tiga juga dirumahmu. 

Roh: Utamanya? 

Sang Suratma: Tempat suci! 

Roh: Sedang? 

Sang Suratma: Rumah! 

Roh: Nista? 

Sang Suratma: Bagian belakang rumah, WC! Di 

desa ada tiga! 

Roh: Utamanya? 

Sang Suratma: Pura! 

Roh: Sedangnya? 



181 



Sang Suratma: The village. 
Soul: The lowest? 

Sang Suratma: The graveyard. The graveyard. But in 
your house you're using marble for the toilet. You're 
using marble for your house. You line the ceilings 
with gold leaf trimmings in the Balinese style. You 
even have a small frangipani tree. But your temple 
shrines are tiUed out of line. Your ancestors are 
crying to be cared for. It is the same when you go to 
the temple. You wear a Safari jacket, perfectly ironed 
with gold buttons. You add an ornamental cloth 
trimming. An ornamental cloth trimming. Fancy 
sandals. But your head cloth is mismatched batik 
and dirty. Your hair is not shampooed and oiled. 
Your fancy shirt is crying. You must be balanced. 
You must be balanced. If you are not balanced, that 
is when things are difficult. 

Soul: Why is it so difficult to get into this place I 
don't think there is a test you can study for to get in. 
If I knew what was in the test, I would have studied 
the book before I died. There are no dead people 
around to tell you these things. So this is how it is. 
Lets not make things so difficult. It's actually very 
simple. Why make it so complicated? Don't get 
yourself so stressed out. Now, let's look at it this way. 
In the preparations for my death, my descendants 
supplied me with lots of money. Why don't you take 
all of it, to smooth things over, so that I can just get 
in to heaven. 

Sang Suratma: Whoa! You think the gods take 
money on the side? Even if you gave your money 
to Lord Suratma, do you think there are popsicle 
venders in heaven? Do you think the gods go to the 
corner store to buy popsicles? The gods have their 
own way of doing things. It is not important for the 
gods in heaven to eat and drink, because they all have 
what is called "Genta Amerta," the sacred nectar of 
immortality. The holy water of life. That's why the 

182 



Sang Surtama: Desa! 
Atma: Nistane? 

Sang Surtama: Setra, Sema! Yen jumha WC ci 
memarmeran. Umah ci memarmeran. Meprada 
meberber mestail Bali. Misi Jepun Jepang. Kewala 
Sanggah Kemulan ci nyerendeng. Tugtuge ngeling 
Sang Pitaran cie. Patuh ci cara ke Pura. Mebaju 
Safari meterik mekancing mas. Tambah saput 
Songket. Kamen Songket. Sandal Emiped. Kewala 
udeng ci len Batik len dekil. Sing mambuh biin 
sada. Ngeling baju saparin cie. Pang setabil, pang 
setabil, pang setabil! Idup ci pang setabil. Asal sing 
setabil, to ba ne keweh. 



Atma: Adi keweh nganteg dini nah. Kaden sing 
misi tes kene dini. Ajan tawang misi tes kene, 
mekere mati sing nyemak buku malu. Nak mati 
sing ada nyambat e to. Puniki nak antuk, ampunan 
nika bes ruet-ruetange. Pang gampangen gen nake. 
Ngudiang ruet-ruet kenten. Setres Betara nyen. Ne 
mangkin sapuniki. Dugas tiange mati, liu sajan 
tiang bekelange pipis ken sentanan tiange. }eg ambil 
sami nika anggen penglicin. Pang maan gen tiang 
Suarga. 



Sang Surtama: Pah, kayang Dewa tombok ci. Api 
ci ngemang Sang Hyang Suratma pipis, kaden 
ci di Suargan ada dagang es. Kaden ci ada Dewa 
di warung singgah meli es. Dewa Aji mara ada. 
Dewa Di Suargan sing penting makan sing penting 
minum. Wireh Dewa di Suargan makejang suba 
ane madan Genta Amerta. Tirta Kehidupan. Kelan 
Dewa sing bisa mati. Kayang satak tali keti tiban 
Dewa nu idup. 



Sang Suratma: Desa. 
Roh: Nistanya? 

Sang Suratma: Kuburan, tempat pemakaman! Kalau 
di rumah WC mu pakai marmer. Rumah kamu 
pakai marmer. Berjejer berstyle Bali bercat prada. 
Dihiasi jepun Jepang. Tetapi tempat sucimu miring. 
Nangis sedih leluhurmu. Sama halnya bila kamu ke 
Pura. Berbaju safari bersetrika berkancing emas. 
Ditambah saput songket. Kain songket. Sandal 
Emiped. Tetapi ikat kepalamu beda yakni batik dan 
kotor. Rambut tak dikeramas. Nangis baju safarimu. 
Semestinya harus seimbang. Seimbang, seimbang! 
Hidup kamu harus seimbang. Kalau tidak seimbang, 
itulah yang membuat sulit. 



Roh: Kenapa jadi sulit sesampainya di sini, ya? Tak 
menyana dikasi tes begini disini. Kalau tahu berisi 
tes begini, sebelum mati ya ambil buku dululah. 
Kematian tidak pernah dikasih tahu. Begini aja deh, 
jangan itu dipersulit. Buatlah lebih gampang saja. 
Kenapa mesti ruet begitu. Nanti Bhatara bisa stres. 
Sekarang begini. Ketika hamba mati, banyak sekali 
hamba dibekali uang oleh sanak keluarga hamba. Ya 
ambil sajalah semua itu sebagai pelicin. Agar hamba 
dapat Surga. 



Sang Suratma: Wah, ini Dewa juga di sogok. 
Kalaupun kamu beri Sang Hyang Suratma uang, 
kamu kira di Surga ada dagang es? Kamu kira ada 
Dewa mampir ke warung beli es? Kalau dewa Aji 
baru ada. Dewa di Surga tidak penting makan tidak 
penting minum. Karena Dewa di Surga semua sudah 
yang namanya Genta Amerta. Tirta kehidupan. Itu 
makanya para Dewa tidak bisa mati. Sampai dua 
ratus ribu tahun Dewa masih hidup. 



gods cannot die. Even after two hundred thousand 

years, the gods will still be alive. 

Soul: The gods in heaven never have to eat or drink? 

Sang Suratma: No. 

Soul : I made a ceremonial offering of a roasted pig, 
and you're not going to tell me that the gods didn't 
eat what I offered. Aaaaah. You're a big liar. 

Sang Suratma: A big liar? 

Soul: Don't the gods take what is offered to them? 
Sang Suratma: Well, at the moment that you made 
the offering of the Roasted Pig, did you ever say, 
'Lord Suratma, I am now offering you this Roasted 
Pig.' Did you ever say that? 

Soul: No, never. 

Sang Suratma: If you never said that, then I never ate 

it. It is clear that if you make an offering, it also has 

to include a prayer. If you don't know the right one, 

you can ask a priest. If you can't find a priest, you 

can look for a temple guardian. 

It is the same if you have wealthy guests at your 

home. You put a meal in front of your guests, but 



Atma: Dewa di Suargan sing pati makan sing pati 

minum? 

Sang Surtama: Sing. 

Atma: Tiang ngaturang Pregembal Guling 

Bebangkit, ten soroh Tu makan aturang tiage to? 

Aaaa bohong lu. 

Sang Suratma: Bohong lu? 

Atma: Ada Dewa mirat dana. 

Sang Surtama: Dong dugas ci ngaturang Pregembal 

Guling Bebangkit, taen ci matur. Ratu Sang Hyang 

Surtama, tiang ngaturang Ratu Pregembal Guling 

Bebangkit. Taen matur keto? 

Atma: Ten ja wenten pa. 

Sang Surtama: Yen ba keto sing ja bapa ya makan. 
Terang ba cai yen ngeturang banten, pang misi saa 
pang misi sapa. Yen ci sing bisa Peranda tuwur. 
Yen sing ada Peranda Pemangku pendak. Patuh ci 
cara ngae... ngundang tamu sugih. Ngae masakan 
enak. Jang ci masakane di malun tamue. Sing ci 
persilahkan makan tamue. Nyak sing tamue makan. 



Roh: Dewa di Surga tidak pernah makan? Tidak 

pernah minum? 

Sang Suratma: Tidak. 

Roh: Hamba menghaturkan upakara pregembal 

guling bebangkit, bukannya kelompok paduka yang 

memakan persembahan hamba itu? Aaaa bohong 

Ihu. 

Sang Suratma: Bohong Ihu? 

Roh: Ada tidak Dewa mengambil? Mengaku! 

Sang Suratma: 'Bentar dulu, ketika kamu 

menghaturkan upakaraPregembalGulingBebangkit, 

pernahkah kamu bilang. "Ratu Sang Hyang Suratma, 

hamba menghaturkan tuan Pregembal Guling 

bebangkit." Pernah bilang begitu? 

Roh: Tidak ada ya. 

Sang Suratma: Ya kalau begitu, bukan Aku yang 

makan. Jelaslah sudah. Kalau kamu menghaturkan 

upakara, agar berisi doa-doa. Kalau kamu tidak bisa 

carilah Pendeta. Kalau tidak ada Pendeta Pemangku 

juga boleh. Sama halnya kalau kamu bikin... 

mengundang tamu kaya. Membuat masakan enak. 

Kamu taruh masakannya di hadapan tamumu. Tidak 



183 




you don't ask them to eat. You don't want them to 

eat. However dehcious your meal is, the important 

thing is the principle of 'Kaya Wak Manah.' 'The 

integration of Thoughts, Words, and Actions.' 

So now it is like this, like this, like this. You like 

to practice religion, but it is religion without a 

foundation, without laws. At the base of our life in 

the Hindu religion are the principles of Tatwa, Susila, 

and Upacara. (Religious Philosophy, Spiritual Laws 

of Conduct, and Ritual). You conduct Ceremonies 

without a foundation of spiritual philosophy or 

religious laws. So now this is how it will be: you will 

be thrown into the burning cauldron of hell for fifty 

years. 

Soul: My god. That's so extreme! I've only been alive 

for forty five years, and I'll be frying for fity. I'll be 

fried longer than I lived. 

Sang Suratma: Lord Suratma is not the one punishing 

you. 

Soul: Who is? 

Sang Suratma: You sentenced yourself to the 

punishment. When you did all those bad deeds, you 

pulled yourself down into what is called hell. If you 

had done lots of good deeds, you would have pulled 

yourself up into what is called heaven. No matter 




Menapa ja enak masakan cie. Penting to Kaya Wak 
Manah. Keneh munyi Ian laksana. Jani kene kene 
kene. Wireh cai demen meagama. Kewala meagama 
tanpa dasar, tanpa suduk. Wireh asal iraga idup 
meagama Hindu ada Tatwa, Susila, Upacara. Ci 
ngelaksanang yadnya tanpa Susila, tanpa Tatwa. 
Jani kene. Cai kelebok aneng Kawah Jambangan 
seket tiban. 



Atma: tmiiih. Exstrim Dewae. Tiang idup gen 

45 tahun, megoreng seket. Lebihan megoreng 

ketimbang idupe. 

Sang Suratma: Sing ja Sang Hyang Suratma ne 

ngukum cai. 

Atma: Sira? 

Sang Surtama: Perbuatan ci pedidi ne ngukum cai. 

Yen cai liu melaksana corah, kedenge ci madan ke 

Neraka. Yen cai liu melaksana ne patut kedenge ci 

madan ke Suarga. Agama apapun yang dianut, pasti 

ujung-ujung ne misi Suarga lan Neraka. Kenee, 



kamu persilahkan tamunya makan. Tidak bakalan 
tamunya makan. Betapapun enak masakanmu. 
Penting itu. Kaya, Wak, Manah. Pikiran, perkataan, 
dan perbuatan. Sekarang begini, begini, begini. Oleh 
karena kamu senang beragama, tetapi beragama 
tanpa dasar, tanpa aturan. Oleh karena, manusia 
hidup beragama Hindu ada disebut dengan Tatwa, 
Susila, Upacara. Kamu melaksanakan upacara tanpa 
susila, tanpa tatwa. Sekarang begini. Kamu dibuang 
ke kawah Jambangan lima puluh tahun. 



Roh: Waaaah. Extrimis Dewa ini. Hamba hidup 

hanya 45 tahun, kok digoreng lima puluh. Kelebihan 

digoreng ketimbang hidup. 

Sang Suratma: Bukannya Sang Hyang Suratma yang 

menghukum kamu. 

Roh: Siapa? 

Sang Suratma: Perbuatan kamu sendiri yang 

menghukummu. Kalau kamu banyak berbuat jahat, 

ditariklah kamu ke Neraka. Kalau kamu banyak 

berbuat baik ditariklah kamu ke Surga. Agama 

apapun yang dianut, pasti ujung-ujungnya berisi 



184 



what kind of religion you follow, you surely end up 

in heaven or hell. So this is how it's going to beeeeee! 

You will be thrown into the burning cauldrons of 

hell for fifty years. Cikrabala, take this soul. Throw 

him in. Throw him in. Throw him in! 

Soul: Oh no. Help. Aaiaiiiiiii. Oh no! 

Chorus: ... (singing) the conduct of the soul... 

Sang Suratma (greeting a female soul): Well, you are 

a voluptuous soul. Lord Suratma has a question 

for you. What is your name? What is your reason 

for coming here to the invisible world? 

Soul: My name is Luh Koncreng, sir. (Miss Flirt= the 

one trying too hard to get attention) 

Sang Suratma: Luh Koncreng? 

Soul: Yes. 

Sang Suratma: Why is your name Koncreng? 

Soul: Because in the material world I was always 

playing around with brother Hard-On. 

Sang Suratma: Oh, so you're a CG? A call girl? 

Soul: Yes. I'm called a playgirl, sir. 

Sang Suratma: Oooo. Where is your base of 

operations? 

Soul: I don't have a fixed locale, sir. Sometimes I'm 

in Sema Baung, then I move to Padang Galak. Then 

to Blanjong. Then I can be called new merchandise 

instead of old stock, sir. 

Sang Suratma: Oh, how much do you charge? 

Soul: In the past, sir, when times were good, I charged 

a million rupiah for each visit. 

Sang Suratma: And then? 

Soul: Since the bomb struck in Kuta, I only charge a 

thousand five hundred. Just enough to buy soap. 

Sang Suratma: Oh, your business is deteriorating. 
What is your name? 
Soul: I am Koncreng. 



cai kalebok di Kawah Jambangan seket tiban. 
Cikrabalaaa amet ikanang atma! Merangke, 
merangke merangke. 



Atma: Aduh tulung. Aaaahhh. Aduuuuh. 

Sendon: Polahaning atma. 

Sang Suratma: Ih kita atma behenol. Sang Hyang 

Suratma atetanya lawan kalaganta. Sang apa dwi 

dasa nama. Muang apa prayojanan marikanang 

Mayapada? 

Atma: Tiang nika madan Luh Koncreng Atuuuu. 

Sang Surtama: Luh Koncreng? 

Atma: Inggih. 

Sang Suratma: Ngudiang nyi madan koncreng? 

Atma: Santukan rika ring Mayapada titiang setata 

bergulat sama beli Gede Tomblos. 

Sang Suratma: Ooooo nyai CO nyi? Cewek 

Orderan? 

Atma: Ngih. Tiang baosange Play Girl Atu. 

Sang Suratma: Ooooo. Dija nyi kereng mangkal? 

Atma: Aratu nika ten tentu Atu. Malih Sema Baung, 

Malih tiang pindahange ke Padang Galak. Malih 

Blanjong. Tiang baosange barang baru setok lama 

Atu. 

Sang Suratma: Oooo. Kuda kereng tarif nyie? 

Atma: Ratu daweg degdeg Gumi dumun, satu juta 

sekali traktir memargi Atu. 

Sang Suratma: Men? 

Atma: Sekat ulung boome di kuta, siyu mang atus 

jalanin tiang. Pang wenten belin sabun. 

Sang Suratma: Ooo jebol proyek nyie. Nyen adan 

nyie? 

Atma: Tiang Koncreng! 



Surga - Neraka. Beginiiii, kamu dibuang di kawah 
jambangan lima puluh tahun. Cikrabala ambillah 
roh ini! Kesini kesini kesini. 



Roh: Aduh tulung. Aaaahhh. Aduuuuh. 
Sinden: Tingkah para roh. 

Sang Suratma: Wahai kamu roh bahenol. Sang 
Suratma bertanya kepada kamu. Siapa namamu. 
Juga apa maksud kedatanganmu ke dunia maya? 

Roh: Hamba bernama Luh Koncreng Padukaaaa. 

Sang Suratma: Luh Koncreng? 

Roh: Ya. 

Sang Suratma: Kenapa kamu bernama Koncreng? 

Roh: Karena di Bumi hamba selalu bergumul dengan 

abang Gede Tomblos. 

Sang Suratma: Oooo kamu CO kamu? Cewek 

Orderan? 

Roh: Ya. Hamba dipanggil sebagai Play Girl, 

paduka. 

Sang Suratma: Oooo dimana kamu sering 

mangkal? 

Roh: Paduka, tidak tentu, paduka. Terkadang di 

Sema Baung. Kemudian hamba dipindah ke Padang 

Galak. Lagi di Blanjong. Hamba disebut sebagai 

barang baru setok lama, paduka. 

Sang Suratma: Oooo. Berapa biasanya tarifmu? 

Roh: Paduka, ketika situasinya baik, satu juta sekali 

traktir, biasa paduka. 

Sang Suratma: Lalu? 

Roh: Semenjak boomnya meledak di Kuta, seribu 

lima ratuspun hamba kanggokan. Untuk pembeli 

sabun saja. 

Sang Suratma: Ooo jebol proyekmu. Siapa 

namamu? 

Roh: Hamba Koncreng! 



186 




Sang Suratma: All right. Let me look here at the 

computer files. Koncreng. It's in the K's. Kooncrent. 

Oh, yes, here it is. Koncreng. That's you, Koncreng. 

You're right here in the book. You have already 

known the taste of many men. It says here the total 

is three thousand, five hundred and fifi:y one and a 

half times. 

Soul: Why is there a half? 

Sang Suratma: Well, it's like this. You were setting 

up shop in Blonkanjong. It was a Friday. The 

government employees propositioned you. You're 

were just getting warmed up and you got grabbed 

right away. Tibum. That's considered a half. It's a 

half if you're just getting warmed up. Is that the way 

it was? 

Soul: Yes, it was sir. 

Sang Suratma: Oh, at least you are honest. Honest. 

You were given a good opportunity by the Lord 

when you were born as a human, but you didn't take 

advantage of it. You chose the wrong goals for the 

pleasure of filling up your cooking pot. "Becoming 

a human is the highest level of being. Because of 

that you can help to free yourself from suffering, 



Sang Suratma: Ne bapa nolih di bagian komputere, 
Koncreng. Bagian K. Koncreng, Koooncreng. Na 
Koncreng naaaa. Nyai Koncreng. Nyi mungguh di 
Kitab Sarae. Nyi suba nawang asan nak muani ne. 
Ngenah dini. Pang 3551 Vi. 



Atma: Dados medaging ^2? 

Sang Suratma: Kenee. Dugas nyi mangkal di 
Blanjong. Hari Jumat. Ada unduk pegawai negeri 
nraktir nyi. Begitu nyi baru pemanasan nyi langsung 
tangkep Tibum. Asukan bapa setengah. Setengah 
ne mara pemanasan setengah. Ada keto? 



Atma: Inggih wenten Atuu. 

Sang Suratma: Ooo jujur, jujur. Ne ba madan nyai 
baaange kesempatan melah ken Widhi lekad dadi 
manusia. Tidak dipergunakan dengan bagus. Justru 
nyi salah sasaran, barang ne demenan nyie anggo 
nyi payuk jakan. Apanikang dadi wang utama 
juga ya. Nimitanian hana tumulung awaknia 
sakeng sengsara. Masedana suhakarma. Sesuatu 



Sang Suratma: Coba kulihat di bagian komputerku. 
Koncreng. Bagian K. Koncreng, Koooncreng. Ya 
Koncreng Yaaaa. Kamu Koncreng. Kamu tercatat di 
buku ini. Kamu sudah tahu nikmat bersama lelaki. 
Kelihatan disini. Sebanyak 3551 Vi. 



Roh: Kenapa berisi V2. 

Sang Suratma: Begini. Saat kamu mangkal di 

Blanjong. Hari Jumat. Ada pegawai negeri mentraktir 

kamu. Begitu kamu mulai pemanasan kamu langsung 

ditangkap Tibum. Dianggap setengah. Setengah, 

karena baru pemanasan. Ya baru setengah. Betul 

begitu? 

Roh: Ya betul paduka. 

Sang Suratma: Ooo jujur, jujur. Sebenarnya kamu 
ini diberi kesempatan baik oleh Tuhan, lahir 
sebagai manusia. Tidak dipergunakan dengan 
bagus. Justru kamu salah sasaran, barang yang 
kamu senangi kamu gunakan sebagai sumber 
penghasilan. Sesungguhnya utamalah kelahiran 
seseorang menjadi manusia. Oleh karena dia dapat 



187 




succeed in doing good deeds". It is an extraordinary 

happiness to be born as a human in this world. Why? 

In becoming human, we can help ourselves to avoid 

evil actions and to do good deeds. To do good deeds. 

But you chose the wrong goals. So now this is how 

it will be: Because in the material world you always 

played around with the private parts of men, now 

you will be given those parts. You will carry on your 

shoulders the antique parts of men, three thousand 

five hundred and fifty five and a half of them. The 

left-over half will be eaten by a cat. Cikrabala take 

this soul. Throw her in. Throw her in. Throw her 

in! 

Soul: Oh, Lord, help me. 

Singers: ... (chant) 

Narrator: Uduuuuuh. 

Sang Suratma: Ah, the souls that show up here keep 

getting worse and worse. Hey, you with the plump 

body. Lord Suratma has some questions for you. 

What is your name, and what did you do in the 

material world? 

Twalen: My name is Malen {his nickname). 

Sang Suratma: Who? 

Twalen: Malen. 

Sang Suratma: Malen? 




kebahagian luar biasa ci terlahir sebagai manusia 
ke dunia ini. Mengapa? Dengan menjadi manusia, 
kita bisa menolong diri kita, dari perbuatan yang 
jahat, dengan, apa, perbuatan yang halal. Yang 
Subha Karma. Justru nyi salah sasaran. Jani kene. 
Wireh nyai di Mercapada setata bergulat sama 
rudal-rudal nak muani. Jani bakal ada sarana. Nyi 
bakal nyuwun barang antik nak muani, 3551 Vi 
juga. Biin setengah amah meng to. Cikrabala amet 
ikanang atma. Merangke, merangke! 



Atma: Dewa ratu tulung tiang. 

Sendon: ... 

Dalang: Uduuuuh. 

Sang Suratma: Nyelek-nyelekan atmae teka ah. liiih 

kita atma badan padet. Sang Suratma atetanya 

lawan kalaganta. Sang apa dwi dasa nama? Muang 

apa prayojanan aneng kunang Mercapada? 

Twalen: Tiang madan I Malen. 
Sang Suratma: Nyen? 
Twalen: Malen! 
Sang Suratma: Malen? 



menolong dirinya dari sengsara. Berdasarkan 
dengan perbuatan baik. Sesuatu kebahagiaan luar 
biasa kamu terlahir sebagai manusia ke dunia ini. 
Mengapa? Dengan menjadi manusia, kita bisa 
menolong diri kita, dari perbuatan yang jahat 
dengan, apa, perbuatan yang halal. Yang berbuat 
baik. Justru kamu yang salah sasaran. Sekarang 
begini. Karena kamu di Bumi selalu bergulat dengan 
rudal-rudalnya lelaki. Sekarang akan ada sarana. 
Kamu akan menjunjung barang antik lelaki sebanyak 
3551 Vi juga. Setengahnya lagi, dimakan kucing itu. 
Cikrabala ambilah ini, roh. Kesini, kesini! 

Roh: Oh Tuhan tolong hamba. 

Sinden: ... 

Dalang: Uduuuuuh. 

Sang Suratma: Semakin jelek aja roh yang datang, 

ah. Wahai kamu roh badan padet. Sang Suratma 

bertanya kepada kamu. Siapa namamu. Juga apa 

pekerjaanmu di Bumi? 

Twalen: Hamba bernama I Malen. 

Sang Suratma: Siapa? 

Twalen: Malen. 

Sang Suratma: Malen? 



188 




Twalen: Yes. 

Sang Suratma: Malen. Malen. Malen. Ma. Malen. Ma 

ma ma ma mi. Ma maaa mi e mami. That's the end 

oftheUst. Your name? 

Twalen: Maleeeen! 

Sang Suratma: Ma ma ma ma mi, Your name? 

Twalen: Lord of the Deaf. Ma ma ma ma, I already 

said it is Malen. 

Sang Suratma: Mister... 

Twalen: Yes.... First. 

Sang Suratma: Ma mama ma. 

Twalen: Not the 'ma ma ma' again. 

Sang Suratma: Ma mama mi. Wait a minute. Are you 

dead yet? 

Twalen: No. 

Sang Suratma: Whoa. The only humans in my 

computer are the ones who are already dead. Then 

they appear here. You are still a flesh and blood 

human. Why did you come here? 

Twalen: For refreshment. 

Sang Suratma: You came here for refreshment? 

Twalen: In the material world there's no place to 

enjoy yourself anymore. 



Twalen: Ngih. 

Sang Suratma: Malen. Malen. Malen. Ma Malen. 

Ma ma ma ma mi. Ma maaa mi e mami kelah ba. 

Adane? 

Twalen: Maleeen! 

Sang Suratma: Ma ma ma ma mi. Adane? 

Twalen: Bongol Dewae. Ma ma ma ma.. Orang ba 

Malen. 

Sang Suratma: Bapa ... 

Twalen: Ngih ...dumun. 

Sang Suratma: Ma mama ma. 

Twalen: Bin ma ma ma gen terus. 

Sang Suratma: Ma mama mi. Nen malu ci taen mati 

pidan? 

Twalen: Ten. 

Sang Suratma: lyiiiih. Ane masuk dalam komputer 

Sang Hyang Suratma, manusane subamati, mungguh 

dini. Ci jelema matah Blegeran, ci ngudiang mai? 

Twalen: Refreshing. 

Sang Suratma: Refreshing mai? 

Twalen: Napi di Mercapada ten wenten tongos 

melali mangkin. 



Twalen: Ya. 

Sang Suratma: Malen. Malen. Malen. Ma Malen. Ma 

ma ma ma mi. Ma maaa mi e mami habis sudah. 

Namanya? 

Twalen: Maleeen! 

Sang Suratma: Ma ma ma ma mi. Namanya? 

Twalen: Dewa tuli ini. Ma ma ma ma.. Sudah bilang 

Malen. 

Sang Suratma: Bapak. . 

Twalen: Ya.... dulu. 

Sang Suratma: Ma mama ma. 

Twalen: Lagi-lagi ma ma ma saja terus. 

Sang Suratma: Ma mama mi. Sebentar dulu. Kamu 

sudah pernah mati? 

Twalen: Belum. 

Sang Suratma: Lhooo. Yang masuk dalam komputer 

Sang Hyang Suratma, manusia yang sudah mati, 

semua kelihatan di sini. Kamu manusia biasa, kamu 

ngapain kesini? 

Twalen: Refreshing. 

Sang Suratma: Ke sini refreshing? 

Twalen: Di Bumi sekarang ini tidak ada tempat 

untuk jalan-jalan. 



189 



Sang Suratma: Why is that? 

Twalen: When you go to the beach there's a tsunami. 

When you go to the mountains, there's a volcanic 

eruption. When you go to Java, there's a big mud pit. 

So I came here to the afterhfe. 

Sang Suratma: Here? 

Twalen: Yes, sir. 

Sang Suratma: Who came with you? 

Twalen: I accompanied Lord Anggada. 

Sang Suratma: What for? 

Twalen: To get to heaven. 

Sang Suratma: Now that you're in the afterlife, what 

do you want? 

Twalen: I want refreshment. 

Sang Suratma: If you are looking for Siwa's heaven, 

you can find it to the northeast. 

Twalen: Northeast? 

Sang Suratma: That is the road to follow. 

Twalen: If that's how it is, may I have permission to 

leave? 

Sang Suratma: Yesss. Lord Suratma is getting a 

headache. His pants stink. Forgive me Lord 

Siwa. We must be prepared to meet you. Let's get 

ready! 

Dalang: We will leave aside the story of the journey 



Sang Suratma: Adi keto? 

Twalen: Melaib ke pasih bisa Tsunami. Melaib ke 
gunung, gunung meletus. Ke Jawa nyayad pang liu. 
Mai tiang ke Suarga. 

Sang Suratma: Mai? 

Twalen: Inggih Tu. 

Sang Suratma: Nyen ajak cie? 

Twalen: Tiang ngiring dane Sang Ngada. 

Sang Suratma: Ngudiang? 

Twalen: Ke Suarga Loka. 

Sang Suratma: Suba ke Suarga Loka. To ngudiang 

mai? 

Twalen: Tiang refreshing. 

Sang Suratma: Yen cai bakal ngalih Siwa Loka. To 

Ersania ulati! 

Twalen: Kaja kangine? 

Sang Suratma: To mamban ne patut ulati. 

Twalen: Ba keto tiang ngelungsur pamit Ratu. 

Sang Suratma: Naaaah. Uyeng-uyengan Sang Hyang 
Suratma. Pahit mekilit bon kelanane. Pasang Tabe 
Dewa Betara Siwa. Kewala pada yatna apan 
bipraya hana nyatpada. Yatna Dewaaaa! 
Dalang: Tan kewarnan nirang lampah sira si 



Sang Suratma: Kenapa begitu? 
Twalen: Pergi ke pantai bisa Tsunami. Berlari ke 
gunung, gunung meletus. Ke Jawa, Lumpur meluap. 
Makanya hamba datang ke sini ke Surga. 

Sang Suratma: Ke mari? 

Twalen: Ya paduka. 

Sang Suratma: Bersama siapa kamu? 

Twalen: Hamba mengikuti jejak Sang Ngada. 

Sang Suratma: Untuk apa? 

Twalen: Ke Surga Loka. 

Sang Suratma: Ya sudah ke Surga Loka. Untuk apa 

ke sini? 

Twalen: Hamba refreshing. 

Sang Suratma: Kalau kamu mau mencari Siwa Loka. 

Ke timur laut mesti dituju. 

Twalen: Timur laut? 

Sang Suratma: Itu arah jalan yang benar. 

Twalen: Kalau demikian, hamba mohon pamit 

paduka. 

Sang Suratma: Yaaa. Dibuat pusing Sang Hyang 

Suratma, amis amat bau celananya. Ampun Dewa 

Betara Siwa. Hati-hatilah, oleh karena ada orang 

hendak menghadap. Siaga Dewaaaa! 

Dalang: Demikian dikisahkan perjalanannya si 



191 




to Siwa's heaven of General Anggada and his two 
servants, Twalen and Merdah. There is nothing 
more to say other than that they meet the Lord of 
Lords Siwa, and that they find the holy purifying 
water. That is the first part of the story. Now the 
story will be told of what happens in Laut Lungsur. 
There is a powerful demon there named Detya Kala 
Maya Cakru. He is none other than the descendant 
of Rahwana. He is preparing a troop of demons. 
He has already completed his studies in the temple 
of the dead with the goddess Durga. Now he is 
looking for Rama. That is the point of the story. In 
Laut Lungsur there appears the demon Detya Kala 
Maya Cakru. Weeeeee. liiiiiih. Aaaaah. Aaaaah. 
He has the appearance of power. 
Detya Kala Maya Cakru: My servants, Delem and 
Sangut. Comehere, bothof you. Heeeeee huuuuu 
emmmm. All the demon soldiers are ready to go. 
Follow your master on his journey. We are going 
to the temple in Ayodya with no other purpose 
than to meet Lord Rama, because he has caused 
destruction. He killed my father (Rahwana). That 
is why Lord Rama is our enemy. Let's goooooo! 
Weeeeee. Aiiiiiiih. 
Go! Weeee . Aiiiih 




Wira Ngada, katekaning carakanira maka rwa, 
Twalen muang Werdah, juga aneng Siwa Loka. 
Tan sah nyatpada ri Hyang Hyang ning Batara 
Siwa. Tan sah ngulati kunang tirta Sudamala. 
Mangkana rumuhun kunang tatwa lenan carita. 
Kawinursita magke tan sah aneng Segara 
Lungsur. Hana Raksasa sakti ngaran Detya Kala 
Maya Cakru. Tan sah sutanirang Dasa Nana. Ri 
sedeng anamtam ikanang wadwa raksasa. Mapan 
ya wus nangun ajah aneng Dalem, lawan Hyang- 
Hyang ning Batari Durga. Ya mangkin mulat kara 
sirang Regawa. Mangkana punggeling kunang 
taTwalena carita. Aneng Segara Lungsur antian 
mijil Detya Kala Maya Cakru. Weeeeee. liiiih Ah 
ah. Weee. Karura karaaaa. 

Detya Kala Maya Cakru: Caraka Deleeeeem! 
Muang Uludawa. Muang Uludawa. Carakaning 
Ngong makarwa pwa kalaganta. Heeeee hog em 
em em. Merangkeeee. Tamtam sahananing wadwa 
raksasa kabeh. Tut lampah sira tuanta. Lumaku 
aneng Ayodya Pura. Tan sah meperih lawan Si 
Rama Dewa. Mapan ya ngawe kasmala. Amejah 
ikanang bapa. Kadiang punapa si Rama Dewa 
pinaka musuh. Mangkaaaat! Weeeeee. Aiiiih. 



192 



perwira Ngada, dan juga abdinya berdua Twalen 
dan Werdah berada di Siwa Loka. Tiada lain 
mengadap kehadapan Hyang Hyang Batara Siwa. 
Tiada lain mencari air suci Sudamala. Demikian 
adanya dan kini berganti cerita. Dikisahkan 
sekarang tiada lain di Laut Lungsur. Ada raksasa 
sakti bernama Detya Kala Maya Cakru, Tiada 
lain anaknya Rahwana. Sedang mempersiapkan 
pasukan raksasa. Karena sudah selesai belajar di 
Dalem, dihadapan Hyang Hyang Batari Durga. 
Dia sekarang hendak mencelakai Rama. Demikian 
penggalan cerita selanjutnya. Di Laut Lungsur 
muncullah Detya Kala Maya Cakru. Weeeee. liiih. 
Ah ah. Weee. Menakjubkan. 

Detya Kala Maya Cakru: Abdiku Deleeem dan juga 
si rambut panjang, Sangut. Abdiku berdua kamu. 
Heeee. hog em em em . Kesiniiiiiiii. Persiapkan 
bala wadwa raksasa semua. Ikuti perjalanan 
tuanmu. 

Pergi menuju ke kerajaan Ayodya. Tiada lain 
bertemu dengan Si Rama Dewa. Karena ia 
membuat bencana. Membunuh orang tuaku. 
Bagaimanapun si Rama Dewa adalah musuh. 
Berangkaaaat! Weeeee Aiiiiiih. 





Delem: ... (sings song in gibberish with a few 
recognizable words, Uke 'carik', meaning ricefield or 
punctuation mark) 



Sangut: What is that song about? {he sings) 



Delem: What does that mean? 

Sangut : I don't know. It's too complicated. I can only 

sing it. 

Delem: ... (sings gibberish) Get ready! 



(Delem and sangut dance) 

Delem: Quiet. Quiet. Quiet. Stop dancing around 

like that. I'm too tired to keep up. It is strange, 

Sangut. My singing is faster than yours. 

Sangut: Faster? How. 

Delem: Please bang on the kulkul (wooden gong) in 

the banjar. Call everyone in the community together. 



Delem: (gending): "Leng-leng lung-lung 

lumanggaaaaang" . liiii. (gending)"Aaaamulung 

alelayang ring sang kirangan. Congkak congcang 

cingania kecek. Acala calang carik cang cucu 

cucut. Tongkak ti ninoyong doh mawiatah wedi 

wediii. Dayus minggus kasingkul bit mijah atag 

kapit tukad akung. 

Sangut: Apa kaden orange neh. (gending) Montang 

mongsos siya namor. cemara maring lo sikang kil 

centik. Sat sat sosian pasusuian, sasusupan samia 

rusasasa. 

Delem: Apa artine? 

Sangut: Nawang sing. Pang milu gen je megending 

ruet mase. 

Delem: (gending): Kat kat luklak saluklik salika 

lika lawaning lawit. Puk upuk peksa peksa pijer 

tengkuak kupu-kupu". Dabdabang! 

(Delem dan Sangut menari). 

Delem: Ngoyong, ngoyong, ngoyong! De ci ngekeh 

Ngut! Bes tuyuh ngekeh. Len Ngut. Munyin kaka 

enggal ken ci. 

Sangut: Enggel. kenkene. 

Delem: Gedig kulkul banjar 'ci jep diolas. Dauhang 

para masyarakat ci makejang. 



Delem: (gending): "Leng-leng lung-lung 

lumanggaaaaang". liiii. (gending)"Aaaamulung 

alelayang ring sang kirangan. Congkak congcang 

cingania kecek. Acala calang carik cang cucu cucut. 

Tongkak ti ninoyong doh mawiatah wedi wediii. 

Dayus minggus kasingkul bit mijah atag kapit 

tukad akung. 

Sangut: Apa dibilang itu. (gending) Montang 

mongsos siya namor. cemara maring lo sikang kil 

cemik. Sat sat sosian pasusuian, sasusupan samia 

rusasasa. 

Delem: Apa artinya? 

Sangut: Tidak tahu. Ikut-ikutan 'ajalah bernyanyi 

ruwet. 

Delem: (gending): Kat kat luklak saluklik salika 

lika lawaning lawit. Puk upuk peksa peksa pijer 

tengkuak kupu-kupu" Bergeaslah! 

(Delem dan Sangut menari). 

Delem: Diam, diam, diam! Jangan kamu berulah 

Ngut! Terlalu payah dikau berulah. Beda Ngut. 

Suaraku lebih cepat darimu. 

Sangut: Cepat bagaimana. 

Delem: Bunyikan kentongan banjar ku mohon dengan 

hormat. Umumkan kepada masyarakatmu semua. 



194 



Sangut: Why is that? Why wasn't there any 

announcement of meeting? 

Delem: No, there is no meeting, no. 

Sangut: So what's happening? 

Delem: Call all the people to the temple to pray. I 

will accompany them all them to the temple. 

Sangut: Oh, to pray, because the world is plagued 

with problems? 

Delem: Yes, that's the reason. 

Sangut: So what? 

Delem: That's very important. You are N.C. Not 

Connected. A.T.T. Afraid to Telecommunicate. 

Sangut: What do you mean? 

Delem: You haven't heard that I've been chosen as a 

candidate for Governor of Lungsur village. 

Sangut: What does that have to do with bringing the 

people to pray in the temple? 

Delem: When I bring them together to pray there 

I can spread the word to them about my programs. 

If it works out, I will become the Governor here in 

Lungsur. I will tear down the temple. 

Sangut: Why is that? Why will you tear down my 

temple? 

Delem: So I can renovate it, of course. 

I'll tell you how you can organize it. You, as a leader, 

can just find a way to get all the people to vote for me 

on election day. So please calm down. 

Sangut: So, if you win the election as Governor of 
Lungsur, you'll renovate the temple? 
Delem: Yes, I will revovate. 

Sangut: If you lose the election and the temple is 
already torn down, who will renovate it. Delem, 
Delem, let me say something from my heart, with all 
good intentions. I have nothing to gain. Religion can 
guide us about how to manage politics, but politics 



Sangut: Engken ne? Kal sing ada arah-arahan 

ongkon nak sangkep? 

Delem: Aing sangkep sing. 

Sangut: Kenken ne? 

Delem: Ajak masyarakate makejang mebakti ke 

Pura. Kaka kel ngajak to ke Pura makejang. 

Sangut: Ooo nunas icang Gumi gerubug kene? 

Delem: Nah to ja mase. 

Sangut: Men kenken? 

Delem: Ne penting, ci adah ci Kuper. Kurang 

pergaulan. Telkom, Telat Komunikasi ci. 

Sangut: Kenken ne? 

Delem: Wireh jani kaka suba kel anggone calon 

Gubernur di desa Lungsur. 

Sangut: Apa hubungane ajak masyarakat ke Pura? 

Delem: Ajak sembahyang bersama. Ooo ditu kaka 

mensosialisasikan program-program kaka. Yen 

nyak kaka menek dadi Gubernur dini di tanah 

Lungsur. Ah j eg Pura kel uwug kaka. 

Sangut: lyeh kenken ne? Ujang uwug Puran cange 

to? 

Delem: Kel benin kenken ci. Ooo orin kenken 

caran ci ngurusan. Ci dadi keliane. Engken caran ci 

ngituangan to pang nyak gebyar milih kaka. To ooo 

orin kaka tenang. 

Sangut: Yen melem tulus nyen di Segara Lungsur 
menek dadi Gubernur. Pura kel benin? 
Delem: Benin. 

Sangut: Yen buwung tes menek? Ba kadung uwug 
nyen menin? Lem Lem, cang ngorin Melem ulian 
keneh cange rahayu ne. Bedik sing ada kakene, 
gama mengajarkan iraga untuk berpolitik. Tapi 
agama jangan disusupi politik to. Pengidih cange 



Sangut: Bagaimana ini? Tanpa pemberitahuan 

orang-orang disuruh rapat. 

Delem: Bukan. Bukan rapat. 

Sangut: Bagaimana ini? 

Delem: AjakseluruhmasyarakatkePurasembahyang. 

Aku 'kan mengajak semuanya ke Pura. 

Sangut: Ooo mendoakan akan wabah yang telah 

melanda dunia? 

Delem: Ya juga untuk itu. 

Sangut: Lalu bagaimana? 

Delem: Yang penting, waduh kamu orangnya 

kuper; kurang pergaulan. Telkom, telat mikir. Telat 

komunikasi kamu. 

Sangut: Bagaimana ini? 

Delem: Karena sekarang ini aku sudah dicalonkan 

sebagai Gubernur di desa Lungsur. 

Sangut: Apa hubungannya dengan mengajak 

masyarakat ke Pura? 

Delem: Diajak sembahyang bersama. Ooo disana 

aku 'kan mensosialisasikan progam-programku. 

Kalau aku berhasil naik menjadi Gubernur di sini di 

tanah Lungsur, Ah semua Pura akan ku bongkar. 

Sangut: Lho bagaimana ini? Kenapa Pura saya 

dibongkar? 

Delem: Untuk diperbaiki, giamana kamu. Ooo 

beritahukan, giamana caranya kamu mengurus. 

Kamu jadi ketuanya. Gimanalah caramu 

mengusahakan agar gebyarnya memilih aku. 'Tuuuu. 

Kubilangin, tenang. 

Sangut: Jika Melem mulus jadi gubernur di Segara 

Lungsur, Pura akan direnopasi? 

Delem: Renopasi. 

Sangut: Kalau batal naik? Sudah terlanjur di 

bongkar, siapa memperbaiki? Lem, Lem, saya kasih 

tahu Melem dengan maksud hati baik. Sedikitpun 

tak ada cara begini, yaitu agama mengajarkan kita 

untuk berpolitik. Janganlah agama itu disusupi 



195 



should not be inserted into religion. My request is 

this. In the future when the people finish setting 

up the banners for their religious ceremonies, don't 

replace them with campaign banners in the temple. 

Don't be a leader who works that way. 

Delem: Works what way? 

Sangut: If you have already conducted yourself well 

in the village, you don't have to bring my people to 

pray together to get them to vote for you. 

If you have already done good deeds, your actions 

will be appreciated by the people. You won't have to 

make promises to get elected. Even though I have a 

beautiful temple, I feel conflicted. 

Delem: Why are you conflicted? 

Sangut: My devotion to the temple is complicated, 

because in my religion we have three basic 

elements. 

Delem: What are they? 

Sangut: The Emotions, the Intellect, and the Body. 

The most important thing is the feeling we have 

about our religion. It doesn't matter if the temple 

is luxurious. Even if the temple is luxurious, if you 

don't have a strong feeling about your religion, it is 

not good. It is hollow. The intellect. Even if you 

know a lot about religious teachings, but you don't 

put them into practice, it is hollow. The feeling for 



to. Mani nyanan suwud nake kel nanceban umbul- 
umbul yadnya. Umbul-umbul partai lantas di 
Pura. Kel kudiang cang? De de Leeeem! Yen dadi 
pemimpin to nak proses. 

Delem: Proses apa? 

Sangut: Yen suba luwung pekertin Meleme di Desa 

di Banjar. De ajake sembahyang bersama masyarakat 

cange, jeg pilihe Melem. Yen ba luwung. Apa 

buin apa yang Melem lakukan to sudah diniMaya 

Cakruati oleh masyarakat bersama. De de baange 

janji jeg pilihe. Apin cang ngelah Pura luwung 

keweh cang. 

Delem: Ngudiang keweh? 

Sangut: Miara keweh. Sebab cang meagama ada 

dasar cang telu. 

Delem: Apa? 

Sangut: Rasa, rasio. Raga. Ne penting rasa agama. 
Apin Pura mewah. Apin Pura mewah. Men dereng 
rasa agama sing bagus, pocooool. Rasio. Apin liu 
nawang tutur agama, men sing terapang pocool. 
Rasa agamane penting. Kelan nak ne kuno-kuno 
ngae Pura nak aluh-aluh ngae Pura. 



politik. Permintaan saya, sungguh. Besok-besok 
orang tidak lagi memancangkan umbul-umbul 
upacara; umbul-umbul partai lantas di Pura, 
bagaimana 'kan jadinya? Jangan! Jangan! Leeeeem! 
Kalau menjadi pemimpin itu adalah sebuah proses. 
Delem: Proses apa? 

Sangut: Kalau sudah baik perbuatan Melem di desa, 
dibanjar,takperlu untuk diajaksembahyangbersama 
masyarakatnya, pasti Melem dipilih. Kalau sudah 
baik. Apalagi apa yang Melem lakukan manfaatnya 
sudah diniMaya Cakruati oleh masyarakat semua. 
Tak usah dihumbar janji pasti dipilih. Bahkan bila 
saya punya Pura bagus justru saya sulit. 
Delem: Mengapa sulit? 

Sangut: Memeliharanya sulit. Ada tiga hal yang saya 
jadikan dasar beragama. 

Delem: Apa? 

Sangut: Rasa, Rasio, Raga. Yang penting rasa agama. 
Kendati Puranya bagus. Walaupun Puranya mewah. 
Namun rasa agamanya belum bagus, percumaaaa. 
Rasio. Walau banyak tahu filsafat agama, kalau tidak 
diterapkan percumaaa. Rasa agamanya penting. Itu 
sebabnya orang dahulu membuat pura gampang- 
gampang saja. 



197 



your religion is important. That's why it was so easy 
for people in the past to build temples. 

Delem: Why was it easy? 

Sangut: Take a long stone, lay a flat stone on top of 

it, and there you have it. It's called a Lingga Yoni 

shrine. It is an inexpensive temple. 

Delem: Why is that? 

Sangut: You don't have to spend any money. You 

just run down to the river to get the stones. Now 

the world has progressed and people say they hold 

their temples in high esteem. The temples get tafler 

and taller, so that our esteem can grow higher and 

higher. The world has progressed a lot in making the 

temples higher, but they are no longer held in high 

esteem. 

Delem: Then how? 

Sangut: Now the temple is esteemed only as high as 

our heads. So Melem comes and brings money to 

our temple in order to renovate it. But then it is no 

longer esteemed as high as our heads. 

Delem: Then how? 

Sangut: It is lowered again to something that we 

just carry on our shoulders, an obligation that our 

generation passes down to our descendants. And 





Delem: Ngudiang aluh-aluh? 

Sangut: Make batu lonjong sik, jiine batu lempeng. 

Tumpukne ba ditu. To raosange Lingga Yoni. Mudah 

ajin Pura e. 

Delem: Dadi keto? 

Sangut: Tara ngelahang prebia. Ke tukade melaib 

nyemak batu. Jani maju Gumie..., kelan aluh nak 

ngae Pura. Kelan raosange Pura to sesungsungan. 

Di duwur ngoyong joh Purae. Sungsunge diduwur. 

lani maju-maju Gumine biin apikane Purae. 

Ngeluwung-ngeluwungan Purae; suwud dadi 

sesungsungan. 

Delem: Dadi apa? 

Sangut: Sesuwunan. Di nase ba ngoyong. Jani 

teka Melem gebyar gebyur ngaba pipis ke Puran 

cange. Apikan Melem Puran cange. Suwuuud dadi 

sesuwunan. 

Delem: Dadi apa? 

Sangut: Tetegenan. Baat mekerug sentanan cange 

tamiang. Apa buin idup keweh jani Leeeem. Anggon 

amah basange gen keweh. Salihke menin Pura. 



Delem: Kenapa gampang? 

Sangut: Diambilkan satu batu lonjong ditumpuk di 

atas batu bidang; itu yang dinamakan Lingga-Yoni. 

Murah harga pembuatan Puranya. 

Delem: Kenapa begitu? 

Sangut: Tidak menghabiskan biaya. Pergi kesungai 

mengambil batu. Sekarang dunia semakin maju..., 

itu sebabnya orang gampang buat Pura. Makanya 

Pura itu disebut sesembahan. Jauh, di atas tempatnya 

Pura. Disembah jauh di atas. Sekarang dunia 

semakin maju, lagi-lagi Puranya direnovasi lebih 

apik. Semakin baik Puranya, tidak lagi menjadi 

sesembahan. 

Delem: Jadi apa? 

Sangut: Jadi junjungan. Di atas kepala letaknya. 

Sekarang Melem datang dengan gembyar-gembyor 

membawa uang ke Pura saya. Melem perbaiki Pura 

saya. Tidak lagi menjadi junjungan. 

Delem: Jadi apa? 

Sangut: Jadi pikulan. Berat sekali keturunan saya 

mewariskan. Apalagi hidup sulit sekarang Leeeeem. 

Untuk makan, isi perut saja sudah sulit. Apalagi 



198 



besides that, life today is difficult and different. It is 
even hard to fill our stomachs, let alone renovate the 
temple. 

Delem: Ah. Ah. Ah. I'm trying to give you a donation, 
but you don't want it. If I become governor school 
tuitions will be free. There will be no more taxes. 
Sangut: Ah, that is the voice of a drunken man. 
Delem: Do I sound drunk? 

Sangut: It's an old story. I hear it every day. Nobody 
believes it. It's just a drunk man talking. It's going to 
be like this or like that. The public is more intelligent 
than that. They've got their eyes open. They've gone 
to college. People are not so gullible anymore. They 
don't believe in promises. They want the proof of 
action. A promise is just a promise. It is the action 
that matters. 

Delem: What's wrong? Don't you agree with me? 
Sangut: I did not say I don't agree. If Delem wants 
to be a leader, I am in favor of it, but you haven't 
yet been a leader of our neighborhood group in the 
hamlet, and you're already dreaming of becoming 
Governor. Ah, ah, ah, ah. I will tell you something, 
Delem. If you want to be a leader, first you have to 
lead yourself well, then lead your family well, your 
wife. Be a leader to your neighbors. If you lead 



Delem: lah ah ah ah. Ci ajak baang sumbangan sing 
nyak. Yen kaka menek dadi Gubernur SPP gratis. 
Pajak hapus. 

Sangut: Ah munyi mabuk to. 
Delem: Mabuk munyin cange? 
Sangut: Uling pidan ba keto-keto. Ba ngelemah 
dingeh cange. Ada sing nak percaya. Munyin nak 
mabuk to. Kene sing keto, 'nak masyarakat jani 
ba intelek ba melek. Ba pendidikan ba tinggi. 
Nak sing nak gugue. Nak nu sing nak ngugu janji, 
jani. Laksana anggone bukti. Nak janji obral janji. 
Tinggal janji gen ia. Nak laksana ne pentingange. 



Delem: Ci kenken ne? Ci sing cocok? 
Sangut: Gang ada ngorang sing cocok. Yen ba nyak 
Melem jadi, cang sing cocok ba. Di Banjar, dadi 
sekhe semal sing taena. Mimpi dadi Gubernuuuuur. 
Ah ah ah ah. Gang ngorin Lem. Yen benya dadi 
pemimpin, memimpin diri sendiri malu! Ba bisa 
memimpin diri sendiri, mimpin keluarga. Kurene 
pimpin rumah tangga pimpin. Bagus memimpin 
keluarga. Dadi pemimpin di Banjar. Kelian adat yen 



memperbaiki Pura. 



Delem: lah ah ah ah. kamu diberi sumbangan tidak 
mau. Kalau aku naik menjadi Gubernur, SPP gratis, 
pajak dihapus. 

Sangut: Ah, itu ocehan orang mabuk. 
Delem: Perkataan saya mabuk? 
Sangut: Emang sejak dulunya udah begitu. Hampir 
setiap hari saya dengar itu. Tidak ada orang percaya. 
Ocehan orang mabuk itu. Omong-omong, orang 
masyarakat sekarang sudah intelek sudah melek. 
Sudah berpendidikan tinggi. Orang tidak percaya. 
Sekarang ini, orang-orang tidak percaya dengan 
janji-janji. Perbuatan yang menjadi bukti. Orang 
janji, ngobral janji. Janji tinggal janji. Orang lebih 
mementingkan perbuatan dari pada janji. 
Delem: Gimana kamu ini? Kamu tidak cocok? 
Sangut: Adakah saya bilang tidak cocok? Kalau 
Melem bisa jadi, saya bakalan menolak. Di Banjar, 
menjadi anggota grup menghalau tupai saja tidak 
pernah. Mimpi jadi Gubernuuuuurrr. Ah ah ah 
ah. Saya kasih tahu kamu. Lem. Kalau kamu 
menjadi pemimpin, harus mampu memimpin 
diri sendiri dahulu! Sudah bisa memimpin diri 
sendiri, memimpin keluarga. Istri dipimpin, rumah 



199 



your family well, you can become a leader in your 
community, a councilor or something like that. If 
you do that well you can become the leader of your 
village. You can become an alderman and then get 
promoted to district chief. After that you can become 
mayor. And after you have had success as a mayor, 
then you will become Governor. 
Delem: After Governor, I can be elected President. 

Sangut: Ah, in Java it is unlikely you would get the 
votes to be President. That position is impossible. 
We {in Bali) are happy if we can get three ministerial 
positions {in the Federal Government). How can you 
expect to become President? You should settle for 
what you can get. I am being honest, because it is 
just you and I here talking between ourselves. 
Delem: What's wrong with you? Your brain is N.C., 
Not Connected. Your thinking is behind the times. 
Oh, what are you talking about? You're saying that 
people can't make progress, that they can't flourish. 
Just look at you. Compare yourself to me. We are 
faaar faaaar apart. 
Sangut: We are close, but you say we are far. 

Delem: Faaaar. Far apart if you compare the way we 
live. What time do I wake up, Sangut? 

Sangut: What time do you wake up? 
Delem: Never later than four in the morning. I wake 
up before the roosters crow. Did you know I'm the 
one who tells the roosters what time it is? 
Sangut: Waaaah! You are a little arrogant. 
Delem: As soon as I wake up there is a glass of clear 
water on the table. Your sister Nyoman, my wife, 
Ibu Erik, has it ready for me. Ha. Ha. Drinking clear 
water when you get up in the morning improves the 
circulation of your blood vessels. Ooooh, not like 
you who gets up at ten. You have grains of sand in 



apa. Luwung memimpin kelian adat dadi Bendesa. 
Ooo. Suwud dadi Bendesa. Luwung benya dadi 
Bendesa angkate dadi Camat. Suwud dadi Camat 
Bupati. Ba luwung sukses di Kabupaten, dadi lantas 
Gubernur. 



Delem: Suwud Gubernur pilihe dadi Presiden. 

Sangut: Ah di Jawa kuangan Jelema anggo Presiden. 
Sing mungkin ngateg mai meeduman. Maan dadi 
Mentri neng Telu gen ba demen atie. Kel nagih dadi 
Presiden ba benya. Nak biasa-biasa gen omongan 
nake. Ne ada-ada dini gen nake. 



Delem: Ci kenken ci ne? Otak ci Kuper nyen. Ci 
aduh ci telat mikir ne. Aduuuh nak. Orang nak 
tuna maju tuna berkembang ci kene. Yen kaka tolih 
ci aduuuh. Yen kaka teh saihan kaka. Kaka ajak ci 
joooooh. Jooh, joooh. 

Sangut: Awak paek benya ngorang jooh. 

Delem: Jooooh. Di bidang kehidupan joh saing. Joh 
joh joh. Ooo kaka bangun jam kuda Ngut? 

Sangut: Jam kuda bangun? 

Delem: Paling sing jam empat pagi. Konden 

mekruyuk siap kaka bangun. Nak kaka nundun 

siap pang ci nawang. 

Sangut: Beeeeh sombong ne. 

Delem: Mara bangun, diatas meja air putih 

segelas. Embok Nyoman ci kurenan kaka Buk Erik 

menyediakan. Ha ha ha. Mara bangun minum air 

putih pang nyak lancar urat-urat darah to. Ooo sing 

keto cara ci bangun jam dasa. Mara bangun pecehe 

aman sentule melaib ke paon ngidu. Mara bangun 



tangga dipimpin. Sukses memimpin keluarga, jadi 
pemimpin di banjar. Ketua adat. Sukses memimpin 
ketua adat, menjadi pemimpin desa adat. Berhasil 
anda menjadi pemimpin desa adat, diangkat 
menjadi Camat. Setelah menjadi Camat, Bupati. 
Setelah sukses di Kabupaten, lantas jadi Gubernur. 

Delem: Sehabis jadi Gubernur, dipilih menjadi 

Presiden. 

Sangut: Ah, di Jawa mana kurang orang untuk 

dijadikan Presiden. Tidak mungkin kebagian sampai 

ke sini. Dapat posisi tiga Menteri saja sudah senang. 

Mau minta jadi presiden lagi? Yang biasa-biasa saja 

diomongkan. Yang ada diseputar ini sajalah. 



Delem: Bagaimana kamu ini? Otak kamu Kuper 

ini. Kamu... waduh kamu ini telat mikir. Aduuuuh 

orang. Orang tidak bisa maju kamu tidak bisa 

berkembang. Kalau aku lihat kamu aduuuh. Kalau 

aku bandingkan aku dengan kau terlalu jauh. 

Jauuuuhhh, jauuuuhhhh, jauuhhhh. 

Sangut: Orang kita dekat, kok kamu bilangnya 

jauh. 

Delem: Jauuuuh. Di bidang kehidupan; jauh 

tanding. Jauh, jauh, jauh. Ooo aku bangunnya jam 

berapa, Ngut? 

Sangut: Jam berapa bangun? 

Delem: Setidaknya jam empat pagi. Ayam belum 

berkokok, aku sudah bangun. Akulah yang 

membangunkan ayam. Agar kamu tahu saja. 

Sangut: Waaaah sombongnya. 

Delem: Begitu bangun, di atas meja, air putih 

segelas. Embak Nyomanmu, Bu Erik istriku yang 

menyediakannya. Ha ha ha. Baru bangun minum 

air putih, agar urat-urat darah itu lancar. Ooo 

tidak seperti kamu; bangunnya jam sepuluh. Baru 

bangun kotoran matamu masih sebesar buah sentul; 



200 



your eyes as big as melons and you run to the kitchen 

to warm yourself by the fire. For me it's clear water 

as soon as I get up. After I drink the clear water, your 

sister Nyoman gives me a back massage. "Let's go to 

aerobics, dear husband." We go the aerobic center 

right here in the neighborhood. And on the way 

while we are holding hands she sings a little song. 

Sol sol dooo. Do la so. Sol Doo. Do la sol. 

La di dah. La di dah. 

Sangut: What is that ? 

Delem: That's the sound of your sister Nyoman's shoes 

on the road. Sol sol paaa. Pa mi re. Mi sol sol dooo. 

Do la sol. Byug go byug. My slippers flop on the 

asphalt. My Gobyug-gobyug. Degleg-degleg. Aaaah, 

it's like a musical melody. All along Fm wearing a 

little towel around my neck. 

Sangut: It's good you wear a little towel around your 

neck so people can't see your goiter. 

Delem: Oooo. We come home from aerobics. 

Sangut: You come home from aerobics. 

Delem: The servants have already set the table. Hot 

coffee with milk. Spice cigarettes, the Gudang Garam 

Merah brand. There's a newspaper too. 

Sangut: Wow. 

Delem: I drink coff'e. Light up a cigarette. Read 

the newspaper. Look at the view. Listen. Find out 



air putih. Suwud minum air putih sigite bangkiang 
kaka ken Embok Nyoman cie. "Kang mas robik yuk". 
Erobik. Di alun-alune robik. Melinder dini. Sambil 
kaka medandan tangan, megending-gending kecil. 
Sol sol doooo. Do la sol. Sol sol dooo. Do la sol. 
Gedegleg-gedegleg. 



Sangut: Apa to? 

Delem: Sepatu tinjik Embok Nyoman ci mekaplug 

di aspale. Sol sol paaa. Pa mi re. Mi sol sol dooo. 

Do la sol. Byug go byug. Pantopel kaka mekaplug 

di aspale. Gobyug-gobyug. Degleg-degleg. Aaaah 

cara melodi lagu. Sambilang kaka mekalung cerik 

anduk. 

Sangut: Beneh kalungan cerike. Ada nak nepukin 

pang saru gondongane. 

Delem: Ooooo. Teka li erobik. 

Sangut: Teka uli erobik? 

Delem: Nganteg jumah di atas meja pembantu ba 

nyiapin to. Kopi susu, roko kretek Gudang Garam 

Merah. Di tambah koran. 

Sangut: Pih. 

Delem: Nyiup kopi ngisep roko, memaca koran. 

Mendengar melihat pemandangan. Bagaimana 



berlari ke dapur menghangatkan diri. Baru bangun 
air putih. Selesai minum air putih, pinggangku 
dicubit oleh embak Nyomanmu. "Kang mas erobik 
yuk". Erobik. Di alun-alun erobik. Berputar di sini. 
Sembari aku bergandengan tangan, bernyanyi- 
nyanyi kecil. Sol sol doooo. Do la sol. Sol sol dooo. 
Do la sol. Gedegleg-gedegleg. 



Sangut: Apa itu? 

Delem: Sepatu tinjik Embak Nyomanmu 
berbenturan di aspal. Sol sol paaa. Pa mi re. Mi sol 
sol dooo. Do la sol. Byug ge byug. Pantopel kakak 
berbenturan di aspal. Gobyug-gobyug. Degleg- 
degleg. Aaaah seperti melodi lagu. Sembari aku 
berkalung handuk. 

Sangut: Pantas dikalungkan handuknya. Ketika 
dilihat orang, agar gondoknya tidak kelihatan. 
Delem: Ooooo. Sekembalinya dari erobik. 
Sangut: Sekembali dari erobik? 
Delem: Sesampai di rumah di atas meja pembantu 
sudah menyiapkan kopi, susu, rokok kretek Gudang 
Garam Merah. Di tambah Koran. 
Sangut: Wah. 

Delem: Minum kopi, menghisap rokok, membaca 
koran, mendengar, melihat pemandangan. 

203 




about the political situation in the country. What's 

the condition of the economy? What's happening in 

Iran? Not like you: a frog in a coconut shell who 

doesn't know what's happening in the world. 

Sangut: Wow. 

Delem: Right, Sangut? 

Sangut: Right. After your hot cofi^ee, Gudang Garam 

Merah spice cigarettes, and newspaper, what then? 

Delem: I take a shower. I come into the bathroom 

and everything's ready: the hot water, the cold water, 

the medium warm water. All I have to do is push the 

button. 

Sangut: Oh, in your bathroom. . . you just push. 

Delem: Yes, it's electric. 

Sangut: Oh, it's electric. 

Delem: In the bathroom, your sister Nyoman and I 

get in the Jacuzzi. 

Sangut: What do you mean, Jacuzzi? 

Delem: There is a half bucket of water for both of us. 

We splash it around. Guzzy, cuzzy, cuzzy (splashing 

sounds). It's a Jacuzzi. 

Sangut: After the Jacuzzi? 

Delem: Lunch. The servants already have it on the 

table. Four courses for health. Five for perfection 




situasi politik dalam negeri, bagaimana. Keadaan 
ekonomi engken? Pang de ci katak dalam 
tempurung, sing nawang perkembangan jaman. 

Sangut: Pih. 

Delem: Pas Ngut? 

Sangut: Pas. Suwud kopi susu, roko kretek Gudang 

Garam Merah ditambah Koran...? 

Delem: Mandi. Kaka mecelep ke kamar mandi suba 

tersedia air hangat, air dingin setengah mateng. 

Tinggal nyelek. 

Sangut: Ooo di kamar mandi... celek. 

Delem: Saklare! 

Sangut: Ooo saklare. 

Delem: Di kamar mandi kaka ajak Mok Nyoman ci 

mandi uap. 

Sangut: Imih ane kenken madan mandi uap? 

Delem: Ada iyeh tengan ember pang nyandang ajak 
dadua. Golek uap uap uap uap. Mandi uaaaap. 

Sangut: Habis mandi uap? 

Delem: Makan siang. Di atas meja pembantu sudah 

menyiapkan 4 sehat 5 sempurna. 



Bagaimana situasi politik dalam negeri? Bagaimana? 

Bagaimana keadaan ekonominya? Agar kamu 

tidak seperti katak dalam tempurung. Tidak tahu 

perkembangan jaman. 

Sangut: Wah. 

Delem: pas Ngut? 

Sangut: Pas. Sehabis kopi susu, rokok kretek Gudang 

Garam Merah ditambah Koran...? 

Delem: Mandi. Aku masuk ke kamar mandi, sudah 

tersedia air hangat, air dingin, air setengah matang. 

Tinggal pencet. 

Sangut: Ooo di kamar mandi... mencetnya. 

Delem: Saklarnya! 

Sangut: Ooo saklarnya. 

Delem: Di kamar mandi aku dengan embak 

Nyomanmu mandi uap. 

Sangut: Wah, yang bagaimana namanya mandi 

uap? 

Delem: Ada air setengah ember agar cukup berdua. 

Golek uap uap uap. Mandi uaaaap. (Uap dalam 

bahasa Bali berarti usap). 

Sangut: Habis mandi uap? 

Delem: Makan siang. Di atas meja, pembantu sudah 

menyiapkan 4 sehat 5 sempurna. 



204 



Sangut: And after lunch? 

Delem: Sleeeping. 

Sangut: That's what a pig does. A pig sleeps right 

after it eats. 

Delem: It's good for your digestion. Not like you, 

running around after you eat. ft makes you too thin. 

You need a lot of flesh to hold your bones together. 

Otherwise your body will fall apart. 

Sangut: Wow. After sleeping? 

Delem: At four in the afternoon I run to the 

community hall to do the Poco-Poco dance exercises 

with your sister Nyoman. One two three four. Stretch, 

shake your butt and squeeze. One two three four. 

Shake your butt and squeeze. ''Mens Sana in Corpore 

Sana" (quoting the Latin phrase). "A Healthy Soul in 

a Healthy Body." 

Sangut: That's right. 

Delem: Isn't that right, Ngut? 

Sangut: Right. And after the Coconut exercises? 

Delem: Poco-Poco! Not coconut. 

Sangut: After the Poco-Poco exercises? 

Delem: A shower. 

Sangut: You go to the bathroom again and push the 

buttons for hot water, cold water, medium warm 

water and a Jacuzzi. Then after the shower? 



Sangut: Habis makan siang? 

Delem: Bubuk. 

Sangut: Eee angkal cara celeng? Yen celeng suwud 

makan pules. 

Delem: Pang nyak medegdegan nasie. Sing keto cara 

cie, suwud makan ngelincaaang. Kal awak ci berig 

bregidig. Ne aget kulit ngaput tulang. Yen sing keto 

ngerosok bangken cie. 

Sangut: Bih. Habis bubuk? 

Delem: Jam 4 sore melaib ke wantilan senam poco- 

poco ajak Mok Nyoman cie. Tu Wa Ga Pat. Tarik 

goyang ajit jepit. Tu Wa Ga Pat tarik goyang ajit 

jepit. Aaaah. Men sana in corpore sana. Dalam 

badan sehat ada jiwa yang sehat. 



Sangut: Pas. 

Delem: Pas Ngut? 

Sangut: Pas. Habis senam ngoco? 

Delem: Poco-Poco! Ngoco-ngoco. 

Sangut: Habis senam poco-poco? 

Delem: Mandi. 

Sangut: Biin mecelep kamar mandi biin celek. 

Beneh, air hangat, air dingin, setengah mateng, 

mandi uap. Habis mandi? 



Sangut: Habis makan siang? 
Delem: Tidur. 

Sangut: Lho... kok seperti babi? Kalau babi setelah 
makan, tidur. 

Delem: Agar nasinya mengendap. Tidak seperti 
kamu, sehabis makan tidak bisa diam. Itu sebabnya 
kau kurus kering. Syukur saja ada kulit membungkus 
tulangmu. Kalau tidak, berserakanlah bangkaemu. 
Sangut: Wah. Habis bobok? 

Delem: Jam 4 sore, berlari ke wantilan senam poco- 
poco bersama embak Nyomanmu. Tu, ua, ga, pat, 
tarik goyang pantat jepit. Tu, ua, ga, pat, tarik goyang 
pantat jepit. Aaaah. Mensana incoporosana. Di 
dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat. 



Sangut: Pas. 

Delem: Pas Ngut? 

Sangut: Pas. Habis senam ngoco...? 

Delem: Poco-poco! Ngoco-ngoco. 

Sangut: Habis senam poco-poco? 

Delem: Mandi. 

Sangut: Lagi masuk ke kamar mandi, lagi mencet. 

Benar, air hangat, air dingin setengah matang, mandi 

uap. Habis mandi? 



205 




i 


1 V' 'V _ r 


8 

iri 

•i 

''H 





Delem: Shopping 

Sangut: Where? 

Delem: At the shopping center. 

Sangut: Where ? 

Delem: In Nusa Dua. {sings a radio commercial) "Let's 

go have fun, let's go have fun at the Nusa Dua hotel." 

Haaa. You should know what my wife is like. Ibu 

Erik is always making moves in front of the mirror. 

My wife never forgets to wear mini skirts, blue jeans, 

and a see-through t-shirt without a bra. 

Sangut: Aduuuh, I feel cold all over. 

Delem: And her hair? 

Sangut: Her hair? 

Delem: She lets her hair hang down. She irons it to 

make it straight. She wears black sun glasses. Your 

sister Nyoman dresses like a tourist. Sandals and 

everything. 

Sangut: What? 

Delem: Karviill brand. She carries a mini-tote bag. 

Sangut: What's in the bag? 

Delem: Cosmetics. 

Every time you turn around she's looking in the 

mirror. Every time you turn around she's looking in 

the mirror, chckety, clickety in her high heeled shoes. 

That's your sister Nyoman. And your sister Nyoman 

206 



Delem: Berkemas. 

Sangut: Kija ne? 

Delem: Shopiiing. 

Sangut: Kija? 

Delem: Nusa Dua. (gending)"/a/an melali, jalan 

melali ke hotel Nusa Dua. Haaaa. Kurenan kaka pang 

ci nawang. Buk Erik di malun lemari tunggang- 

tungging. Kurenan kaka tak lupa, nganggon rok 

mini, jin ketat, kaos oblong tanpa BH. 

Sangut: Aduuuuh dingin-dingin awake. 

Delem: Rambut? 

Sangut: Rambut? 

Delem: Dibiarkan mayang terurai. Direbonding. 

Pakai kaca mata hitam. Cara toris Mok Nyoman 

cie. Sandalnya? 

Sangut: Apa? 

Delem: Karviiiil! Bawa tas mini. 

Sangut: Dalam tas? 

Delem: Kosmetik. Sebilang pengkol masuluh. 

Sebilang pengkol masuluh. Teklik. Teklik Mok 

Nyoman cie. Dan Mok Nyoman ci tak lupa pakai 

farfum seprai Casablancaaa. Selat satus meter jeg 

ngabyur kuren kaka. Yen ci maan nepuk kuren 



Delem: Berkemas. 

Sangut: Kemana ini? 

Delem: Shopiiing. 

Sangut: Kemana? 

Delem: Nusa Dua. (geniding)"Ha>'o/a/j berlancong, 

mari berlancong, ke hotel Nusa Dua. Haaa. Istriku, 

agar kau tahu aja; Bu Erik, di depan cermin almari 

bersolek. Istriku tak pernah lupa memakai rok mini, 

jin ketat, kaos oblong tanpa BH. 

Sangut: Aduuuuh menggigil tubuhku. 

Delem: Rambut? 

Sangut: Rambut? 

Delem: Dibiarkan mayang terurai. Direbonding. 

Pakai kaca mata hitam. Seperti turis saja embak 

Nyomanmu. Sandalnya? 

Sangut: Apa? 

Delem: Karviiiil! Bawa tas mini. 

Sangut: Dalam tas? 

Delem: Kosmetik. Setiap tikungan bercermin. 

Setiap tikungan bercermin. Teklik teklik embak 

Nyomanmu. Dan embak Nyomanmu tak lupa 

pakai parfum sepray Casablancaaa. Jarak seratus 

meter menyebar bau istriku. Kalau kamu sempat 














S' 



<. * •. "»v 



^t. .#^ 



•^*: 



;•»' 



*■••«- .-.'i-' 



I 



■"^ 




.•••^- 



f/ .vl 



never forgets to use Casablanca perfume spray. You 
can smell my wife from a hundred meters away. 
You could faint from seeing my wife. Her chest is 
full. Her waist is small. Her thighs are plump. She's 
shaped like an Australian horse. 
Sangut: Ahhh, I'm feeling cold all over. And after 
shopping? 
Delem: Tim-Tim. 
Sangut: What? 

Delem: My private chauffeur is already outside. He 
waves. Your Timor-Timor Luxury Sedan is parked 
outside. Timor-Timor. "Hurry, Boss." That's what 
my chauffeur calls me. He pushes the remote control 
ignition button to start up the Luxury car from a 
meter away. "Tililut. Tillilut." That's what a luxury 
car sounds like when you start it up. Not like when 
you start up your car. "Ke ke ke keg. Ke ke keg." You 
have to push it. Ahhhh. I sit in the back. 
Sangut: Why does the boss sit in the back? 
Delem: If there's an accident the chaffeur dies. You 
have no idea. Politicians have to be careful, you know. 
Ahhh. I close the door of the sedan. "Jeeeeg." 

Sangut: What is that? 

Delem: That is the sound of my car door closing. 
Not like your car. "Blongkaaag." And when I'm 
inside the car I never forget to play Rock and Roll 
with big "Bazooka" brand speakers: 'jus, jus, jus." If 
I pass by, the people hear the noise and say, "That 
must be somebody famous. Ooooooh. He's playing 
'jus, jus, jus.'" I eat melon. You chew on crabapples. 
I take a shower in the bathroom. You bathe in the 
river. As soon as you start to wash your face, a big 
turd floats downstream from the north. Aaaaa. You 
are stupefied. Yes, yes, you are dazed. Now you 
feel ashamed. That describes you exactly. You feel 
ashamed. You are in a daze. Yes, yes, yes. Ooohh, 
my mouth is sore. 



kaka aduh jeg bisa pingsan niwang ci. Tangkah 
endig. Bangkiang cenik. Nyengkled. Jit tegik. Arah 
cara kuda Australi jenengne. 



Sangut: Aruh dingin-dingin awake. Habis 

berkemas? 

Delem: Tim-Tim 

Sangut: Apa? 

Delem: Sopir pribadi ba diwang ba ngewangsiten. 

Sedan Tumor parkir. Timor-Timor. Timor-Timor. 

"Cepet bos!". Keto sopir kaka. Ngidupang mobil 

mewah selat satu meter mecik rimut. Tililut, tililut. 

Rimut mobil mewahe. Sing keto ci ngidupan motor 

cie. Ke ke ke ke keg. Ke ke keg. Nyogok misi man. 

Aaaah kaka negak di belakang. 



Sangut: Nguda bos di belakang negak? 
Delem: Di tabrak montore pang sopire bangka. Ci 
sing ngelah daya. Orang politik kenken ci. Aaaa 
nutup pintu sedan, jeeeeg. 

Sangut: Apa to? 

Delem: Munyin pintue tooo. Sing keto montor cie, 
Blaaaaag. Aaaa dalam Sedan tak lupa muter lagu 
Rock and Roli salonnya Bazooka. Jus jus jus. Asal 
kaka maan liwat diwangan pasti ba uyut. Pasti Pak 
Ngurah ne, ooooo. Orang jos ai jos ae. Kaka makan 
Melon ci Lempeni gutgut ci. Pang milu ci ngamah 
buah. Kaka mandi di kamar mandi. Ci pragat 
manjus di telabah. Mara masugi tai gede anyud 
uling kaja. Aaaaah. Ne ne bengong ci bengong ci. 
Ne ne lek atin ci . Lek atin ci. Otopresis ci ne. Lek 
atine. Bengong ci ye ye ye. Duh sakit bungut wih. 



melihat istriku, waduh bisa pingsan kamu. Dadanya 
busung. Pinggang kecil, langsing. Pantat menukik. 
Walahwalah kayak kuda Australi aja tampangnya. 



Sangut: Aduuuh menggigil tubuhku. Habis 

berkemas? 

Delem: Tim-Tim. 

Sangut: Apa? 

Delem: Sopir pribadi di luar udah memberi tanda. 

Sedan Timor parkir. Timor-Timor, Timor- Timor". 

Cepat Bos". Kata supirku. Menghidupkan mobil 

mewah dari jarak satu meter dengan mencet rimut. 

Tililut, tililut. Rimut mobil mewahnya. Tidak seperti 

menghidupkan motormu. Ke ke ke keg. Ke ke keg. 

Mesti didorong lagi. Aaaah; Aku duduk di belakang. 

Sangut: Kenapa bos duduk di belakang? 
Delem: Kalau-kalau motornya tabrakan, agar 
supirnya yang mati. Kok enggak punya akal kamu. 
Pikiran politik! Gimana kamu ini. Yaaa... pintu 
sedan ditutup, jeeeeg. 
Sangut: Apa itu? 

Delem: Bunyi pintunya, seperti itu. Tidak kayak 
motormu, Blonkaaag. Yaaa di dalam sedan tak lupa 
memutar lagu Rock and Roli, salonnya Bazooka. Jus 
jus jus. Setiap aku berkesempatan lewat dijalanan 
pasti gaduh. Pasti Pak Ngurah ini, oooo. Bilang jos 
ai jos ae. Kalau aku makan melon, kamu makan 
lempeni. Agar kamu ikut-ikutan makan buah. Aku 
mandi, di kamar mandi; kamu selalu mandi di 
sungai. Begitu basuh muka, kotoran besar datang 
dari utara. Aaaah. Ye ye bengong kamu, bengong 
kamu. Ye ye malu kan kamu, malu. Kamu ini 
Otopresis. Kamu ini dederu malu. Bengong kamu 
ye ye ye . Aduh sakit mulutku. 



208 



Sangut: Aruh. 

Delem: Why do you say, 'aruh aruh.' Ooo you are far 

far far away. 

Sangut: I am thinking deeply. 

Delem: What are you thinking about? 

Sangut: I'm thinking about what I know. You, Delem, 

work with me as a servant in the Palace of Segara 

Lungsur. At four in the morning when it is still 

dark I wake you up. 'Delem, let's go to work at the 

Palace, Delem. When we get to the palace we clean 

up the grass, cook, and sweep. We wash clothes. 

We iron them. We work until ten in the evening 

and then go home. The next day it's the same thing, 

early in the morning. 'Delem, let's go to work in the 

Palace, Delem. We get to the Palace. We cut the 

grass, sweep, cook, clean up. Every day it's like that. 

So I am thinking what's all this about high-heeled 

shoes and push button bathrooms and Timur luxury 

cars and Casablanca perfume? When did it happen 

Deleeeeeeem? 

Delem: You ask me when. Those are just my dreams. 

That's how we'll live when we are rich. What do you 

think about that? 

Sangut: Uhe he he he he. What a dope I was, ha ha. I 

was taking you so seriously. But it was just a dream. 

The Luxury Timor Sedan. It was all in your head. 



Sangut: Aruh. 

Delem: Nguda aruh aruh ci? Oooo jauh, jauh, 

jauh. 

Sangut: Orin cang nak berpikir keras ne. 

Delem: Apa pikir? 

Sangut: Ne tawang cang kan, Melam ajak cang 

memarekan dini. Di Puri Segara Lungsur. Semengan 

nu peteng ba dundun cang Melam. Jam 4. Lem mai 

ngayah ke Puri Lem. Nganteg di Puri, ngudud, 

masak , nyampat. Mencuci , nyetrika. Nganti jam 

dasa petengne mara mepamit. Mulih to. Bin mani 

semengan biin. Leeem ngayah ke Puri Lem. Ked di 

Puri ngudud, nyampat, masak, nyuci. Ngelemah 

keto to. Ne pikir cang . Gobyog-gobyog. Teklik- 

tekilik. Timor. Kasablanca pidan to Leeeem ? 



Delem: Pidan takonang cie. To nak mara cita-cita. 
Kayange sugih, keto nyan bena idup. Kenken baan 
ci ngenehang to. 

Sangut: Uhe hehehe he he. Dong he hehe. Malah 
mesedenan cang ningehang. Mara cita-cita. Misi 
sedan Timor. Awak pengesan keles sing ngelah. 



Sangut: Aduh. 

Delem: Kenapa kamu aduh aduh? Ooo jauh, jauh, 

jauh. 

Sangut: Saya ini selagi berpikir keras. 

Delem: Mikirin apa? 

Sangut: Sejauh yang saya tahu, Melem dengan saya 

'kan mengabdi di sini, di Puri Segara Lungsur. Di pagi 

buta saya mesti membangunkan Melem. Jam 4. Lem 

mari kita menghamba ke Puri, Lem. Sesampainya di 

Puri, membersihkan rumput, memasak, menyapu, 

mencuci, menyetrika. Setelah jam sepuluh malam 

baru pulang. Ya pulang. Keesokan paginya lagi; 

Leeem menghamba ke Puri Lem. Sesampainya di 

Puri memotong rumput, menyapu, memasak, nyuci. 

Berhari-hari begitu terus. Yang saya tak habis pikir: 

gobyog-gobyog. teklik-teklik. Timor. Kasablanca. 

Kapan itu Leeeem? 



Delem: Kapan? Tanyamu. Itu kan baru cita-citaku. 
Bila aku 'udah kaya, begitulah kita hidup. Bagaimana 
caramu memikirkan itu. 

Sangut: Uhe hehehe he he. Dong he hehe. Waduh 
serius nian saya mendengarkannya. Ini hanya baru 
cita-cita? Mengendarai sedan Timor? Pemarut 



209 



You don t have any of it. 

Delem: You talk too much. 

Sangut: If my sister really wore clickety click high 

heels to the gym she would break her foot. One Two 

Three Four. Stretch, shake your butt, squeeze. 

Delem: You talk too much. 

Sangut: Aruhh. So she uses Casablanca perfume 

spray, does she? Whenever I meet your wife she 

smells like a goat. One Two Three Four. Stretch, 

shake. 

Delem: You talk too much. 

Dalang: Deleeeem. 

Delem : Yes, here I am. {Delem jumps off the screen 

in response to the call of the dalang puppeteer). 

Sangut: If he wasn't like that, he wouldn't be Delem. 

That's just the way he is. That's Mr. Delem. Mr. 

Optimist. His eyes are always looking up. He never 

ever looks down at the ground. He doesn't know 

the ground is under his feet. He just looks up. He 

can't bend his neck down because of the goiter under 

his chin. That's what you call a person who wants a 

luxurious life-style. A luxury life-style. Sometimes 

he will do anything he can to reach that goal of 

luxury. Delem is a good painter, but his paintings 

never sell. So I asked him, "Hey, how is it going?" 

"I made a painting." "What kind of painting." "You 



Delem: Peta gen ci. 

Sangut: Dong misi teklik-teklik sepatu tinjik. Dong 

cang nolih batis kurenan Meleme belah-belah tepuk 

cang. Tu Wa Ga Pat. Tarik goyang ajit jepit. 

Delem: Petaaaa. 

Sangut: Aruuuh. Dong ngangon parfun seprai 

Casablanca. To cang ngimpasan kurenan meleme 

cara kambing meuyeng bone. Tu Wa Ga Pat. Tarik 

goyang 

Delem: Petaaaa. 

Dalang: Deleeeeem. 

Delem : Tiaaang.( Delem makecos). 

Sangut: Yen sing I Melem sing keto. Nak mula 
biasa to Melem . To Pak Melem. Pak Beres to. 
Matae nyengenget melat menek to. Sing taen, sing 
taen sing nolih tanah. Tawang sing tanahe beten. 
Nyengenget gen terus ne. Gangsele ken baongne 
beten. Itu namanya manusia yang bergaya hidup 
mewah. Bergaya hidup mewah. Kadang kala 
untuk mencapai semua tujuan kemewahan itu 
menghalalkan segala cara. Melem nak duweg 
melukis ya. Kalo sing payu-payu lukisan ya e, keto. 
Raga ba tes ajake. "Yuk". Keto. Engkene? "Ngae 
lukisan puk". Lukisan apa gae? "Anun Pak anu. 



kelapa rusakpun kamu tak punya. 

Delem: Comel amat kamu. 

Sangut: Aduh berisi teklik teklik sepatu tinjik. 

Waduh ku lihat kaki istrimu pecah-pecah, Melem. 

Satu, dua, tiga, empat, tarik goyang pantat jepit. 

Delem: Ngomeeeelll. 

Sangut: Aduuuh. Dong memakai parfum sepray 

Casablanca. Ketika aku berdampingan dengan 

istrimu, Melem, baunya ya ampun, amis, kayak 

kambing dikibas. Tu wa ga pat. Tarik goyang 

Delem: Ngomeeeelll. 

Dalang: Deleeeem. 

Delem : Hammmbaaa. (delem meloncat masuk ). 

Sangut : Kalau tidak begitu, tidak I Melem, namanya. 
Emang tabiatnya Melem seperti itu. Itu Pak Melem, 
Pak Beres dia. Mata mendeleik ke atas. Tidak pernah, 
tak pernah menoleh tanah. Dia acuh dengan tanah 
di bawah. Menolehnya ke atas saja. Lehernya yang 
mengganjal. Itu namanya manusia yang bergaya 
hidup mewah. Bergaya hidup mewah. Kadang 
kala untuk mencapai semua tujuan kemewahan itu 
menghalalkan segala cara. Melem, orangnya pintar 
melukis. Tetapi tidak laku-laku lukisannya. Seperti 
itulah. Saya lantas diajak. "Yuk". Begitu. Bagaimana 
ini? " Buat lukisanlah " Buat lukisan apa? Itu, 



211 



know, one of those by whatsisname. A Gunarsa 
copy." It's okay to make a copy. Of course people 
can make copies. We can paint copies of things by 
our friends. But we should put our own signature 
underneath, so it is understood that we were making 
a copy. Delem did it differently. He made a copy and 
signed Mr. Gunarsas name underneath. Friends like 
that can bankrupt you. That cannot be allowed. It is 
a violation of copyright, of what is called intellectual 
property rights. That wrongs the rights. {The original 
pun plays on the similarity between the acronym for 
"intellectual property rights and the word for battery, 
'HAKI' and 'aki\ by joking that the battery is dead). 
This is what Mr. Gunarsa is fighting against. Steadily, 
like the sun coming up in the east, he has been 
struggling for years to establish intellectual property 
rights for artists. In the past, no one thought about 
it. How difficult was it for the great dancer Mario 
to invent his choreography. Now there are people 
who have recorded it on DVD's. But Mr. Mario 
never saw a penny from them. I should say Mr. 
Mario's heirs never saw a penny, because Mr. Mario 
has already passed away. It shows that we have to 
stay aware, so that the creativity of artists does not 
become bankrupt. People talk about it all the time. 
Artists are tired of other people profiting from their 
work. So we have to stay vigilant. In the past tourists 
would come and artists would be happy to let them 
take photos. But now the world has changed. There 
is a thing called copyright and people should know 
the laws to protect themselves. That's why we should 
stand behind Mr. Gunarsa in his struggle to establish 
copyright laws for artists. Tomorrw they say Gunarsa 
will go to court. I will be standing in the back with 
my belt (sabuk). I will bring my thick army belt 
(sabuk kopel), so if there is a riot I can use it as a 
weapon. People can be difficult these days. That is 
why I often have to use the word difficult. Nowadays 

212 



Gunarsa tempa". Nempa dadi. Kan niru nak mula 
dadi. Iraga ngambar nempa anun timpal dadi. Jin ja 
tekenan ragae betene. Pang tawange ya raga niru to. 
Melem len. Nempa gambaran, teken Pak Gunarsae 
jin betenan. Timpale sing bangka, timpale. To ba 
menghalalkan segala cara. To menghina adane hak 
cipta. Ne raosange HAKI. Aki suak jani. To Pak 
Gunarsa lawan. To nak Matahari dari timur to. Inih 
uli tiban-tiban memperjuangkan hak cipta to. Hak 
Atas Kekayaan Intelektual. HAKI to. Uling pidan 
nak ba biasa keto to. Maestro Mario to kudang, 
kuda ya keweh ne ngae tari to. Jani duweg ba nak 
rekam VCD ada. Pak Mario nepuken sing unduk. 
Ngorang ia ja Pak Mario sing ada. "Dadi rekam 
ne". Ada sing ngorang ia. Pak Mario. Sentanane 
nak sing nepukin unduk. Makane perlu raga sadar 
jani. Pang de nganti kreativitas senimane bangkrut 
ulian ento. Sesai ba ngeraosang. Dong senimane 
tuyuh orang lain ne anu. Ne motah to. Nah ne patut 
sadar ajak makejang. Yen cara pidan teka Tourist 
nyak foto gen ken torise ba demen atie. Pang maan 
me foto. Iraga to, Jani nak Gumi suba maju. Serba 
makejang pada intelek-intelek. Suba nawang aturan 
to. Makane jani mari iraga selalu bareng di belakang 
Pak Gunarsa. Memperjuangkan Hak Cipta ne ento 
bareng. Biin mani kone Pak Gunarsa kel bareng 
mepengadilan ento. Raga kel ngalih sabuk uling di 
belakang ne. Sabuk Kopel kel aba. Yen ada kerusuhan 
pang aluhang ben ngelamet. Apan nak keweh jani. 
Mawinan raga sai ngeraosang keweh. Ada nak 
unjuk rasa keto. Tembak ken Polisi. Polisi kena ba 
anu. Tembak ken Polisi. Aaaa yen Polisi kena jagur 
sing kena to. Ba biasa keto. Makane jani iraga sadar- 
sadar ajak makejang. Orang ngalih nak sadar keweh. 
Raga pang sing ulian nak keto. Ngudiang raga dadi 
Manusa memarekan sik Raksasa ne momo-momo 
keto. Raga Manusa sik Raksasa memarekan, perah 
kewehe atie. Ngajak Raksasa model-model keto jeg 



Pak itu, lukisan Gunarsa ditiru". Meniru boleh. 
Bukankah meniru dibolehkan. Kita menggambar 
meniru milik orang boleh. Beri tanda tangan kita 
sendiri dibawahnya. Agar diketahui kita meniru 
itu. Melem, lain dia. Meniru gambaran, tanda 
tangannya Pak Gunarsa dibubuhi dibawahnya. Kan 
itu dapat membuat teman bangkrut. Orang seperti 
itu namanya menghalalkan segala cara. Itu artinya 
menghina hak cipta. Yang disebut HaKI. Akinya 
sekarang suak. Pak Gunarsa dilawan. Dia itu ibarat 
matahari dari timur, dia. Ya, dari tahun-ketahun 
tetap memperjuangkan hak cipta, dia itu. Hak Atas 
Kekayaan Intelektual, HaKI itu. Emangnya sejak 
dahulu sudah terbiasa seperti itu. Betapa sulitnya 
Maestro seperti Mario, buat tarian. Sekarang banyak 
orang pintar ada yang merekam ke dalam VCD. Pak 
Mario tidak tahu apa-apa tentang itu. Bilangpun 
sama Pak Mario tidak pernah. Keturunanyapun 
tidak tahu apa-apa juga. Makanya kita perlu sadar 
sekarang ini. Agar jangan kreativitas seniman sampai 
bangkrut, karena itu. Sudah sering dibicarakan. 
Yahhh.. senimanya yang payah, orang lainlah yang 
menikmat, ya untungnya itu.Nah semua kita mesti 
sepatutnya sadar. Kalau seperti dulu memang kalau 
turis datang memfoto saja membuat hati sudah 
senang. Agar pernah saja berfoto, diri kita tuh. 
Sekarang ini orang dunia sudah maju. Semua pada 
intelek-intelek. Sudah mengetahui aturan. Makanya 
sekarang mari kita selalu dukung Pak Gunarsa dari 
belakang. Ikut memperjuangkan Hak Ciptanya itu. 
Besok katanya Pak Gunarsa ikut sidang pengadilan. 
Saya akan ikut mencari kekebalan di belakang Sabuk 
Kopel akan dibawa. Kalau ada kerusuhan agar 
gampangan untuk mencambuknya. Karena sekarang 
ini, orang memang sulit. Sebabnya saya bilangnya 
sulit; ada orang unjuk rasa, ya seperti itu, ditembak 
oleh Polisi. Ya kalau Polisi kena pukul tidak kena 
itu. Sudah biasa begitu. Makanya sekarang ini kita 




cf-. • f» 



V/J,1 



f i- 



if people have a demonstration, the police shoot 

them. If anyone hits a policeman, they get shot. If a 

policeman punches somebody, no one says anything. 

It's just the way things are. That's why we all have 

to stay vigilant. It's not easy to find people who are 

vigilant. We should not have to be subjected to those 

kinds of things. Why should we as human beings 

have to submit to greedy demons? (Raksasa). These 

kinds of demons want to sweep things under the rug. 

They think that anything is allowed as long as they 

get what they want for themselves. So then, Delem 

is a kind of provocateur. That fits. Delem. His name 

means 'always moving {He combines the first two 

syllables of the words meaning 'always moving' and 

'unstable', 'dengang and 'lembpuyengan to explain 

the origin of the name, 'Delem'). He's a person who is 

always dizzy. Always on the run. "DeLeeeeeem." 

Detya Kala Maya Cakru: Deleeeem. 

Delem: Ak ak ak ak. Here I am, at your service. 

Please speak. Ak ak ak. 

Detya Kala Maya Cakru: Deleeeem. 

Delem: Here I am. 

Detya Kala Maya Cakru: Em em em em. 

Delem: Ha ha ha. 

Detya Kala Maya Cakru: Em em em. 

Delem: Ha ha ha ha. 

Detya Kala Maya Cakru: Em em. 

Delem: Ha ha. 

Detya Kala Maya Cakru: Em. 

Delem: Ha. 

Detya Kala Maya Cakru: Em. 

Delem: Ha. My mouth is broken. Please tell me what 

tasks you want me to perform. 

Detya Kala Maya Cakru: Deleeem. 

Delem: Here I am. 

Detya Kala Maya Cakru: Get ready. 

Delem: Yes. 

Detya Kala Maya Cakru: Please call all the Raksasa 



bagian sapu bersih gen. Apa ja halalkan segala cara, 
untuk kepentingan diri sendiri. Aduh Melem lantas 
bagian Propokatorne. Cocok sajan ne. Aruuuh. 
Pak Delem. Dengang Lempuyengan. Jelema uyeng- 
uyenaen ya. Inih pelaibne. Leeeem. 



Detya Kala Maya Cakru: Deleeeem. 

Delem: Ak ak ak ak. Titiang parekan duwe. Raris 

mawecana! Ak ak ak. 

Detya Kala Maya Cakru: Deleeeeem. 

Delem: Titiang. 

Detya Kala Maya Cakru: Em em em em. 

Delem: Ha ha ha ha. 

Detya Kala Cakru: Em em em em. 

Delem: Ha ha ha ha. 

Detya Kala Maya Cakru: Em em. 

Delem: Ha ha. 

Detya Kala Maya Cakru: Em. 

Delem: Ha. 

Detya Kala Maya Cakru: Em. 

Delem: Ha. Uwug bungute. Napi wenten karya raris 

mawecana! 

Detya Kala Maya Cakru: Deleeem. 

Delem: Titiang. 

Detya Kala Maya Cakru: Yatna! 

Delem: Inggih. 

Detya Kala Maya Cakru: Atag sahananing wadwa 



mesti sadar, sadar, semua. Mencari orang sadar sulit. 
Agar kita jangan seperti itu. Kenapa kita sebagai 
manusia, mengabdi pada Raksasa yang serakah- 
serakah seperti ini. Sebagai manusia kok mengabdi 
pada raksasa. Susah amat hatiku. Mengajak Raksasa 
model seperti itu, wah, segalanya disapu bersih. Di 
bidang apa saja selalu menghalalkan segala cara, 
untuk kepentingan diri sendiri. Aduh, Melemlah 
lantas jadi propokatornya. Memang cocok ini. 
Aduuuh. Pak De-lem.... Dengang Lempoyongan. 
Dia itu manusia uring-uringan. Waduh larinya. 
Leeeem. 



Detya Kala Maya Cakru: Deleeeem. 

Delem: Ak ak ak ak. Hamba, abdimu yang mulia. 

Silahkan berbicara! Ak ak ak. 

Detya Kala Maya Cakru: Delemeeeeem. 

Delem: Hamba. 

Detya Kala Maya Cakru: Em em em em. 

Delem: Ha ha ha ha. 

Detya Kala Maya Cakru: Em em em em. 

Delem: Ha ha ha ha. 

Detya Kala Maya Cakru: Em em. 

Delem: Ha ha. 

Detya Kala Maya Cakru: Em. 

Delem: Ha. 

Detya Kala Maya Cakru: Em. 

Delem: Ha.rusak mulutku. Ada apa gerangan, 

paduka? Silahkan bersabda! 

Detya Kala Maya Cakru: Deleeeem. 

Delem: Hamba. 

Detya Kala Maya Cakru: Siaga! 

Delem: Baiklah. 

Detya Kala Maya Cakru: Perintahkan pasukan 



215 





(demons). 

Delem: Yes, allow me to gather all your people and 

get them ready to follow your path. 

Detya Kala Maya Cakru: Go to Ayodya. 

Delem: We will go to the country of Ayodya? 
Detya Kala Maya Cakru: That is right. 

Delem: Correct. Ha ha ha ha. 

Sangut: Deleeeem. {he has changed places behind 

Delem who thinks it is still his master speaking) 

Delem: Here I am. Ha ha ha. 

Sangut: Get ready! 

Delem: Yes. Ha ha ha. {he gets angry when he 

realizes it is Sangut calling him pretending to be his 

master) Sangut, you son of a bitch. You sound like 

a rickety old 70cc motorcycle. Nothing but squeak 

squeeaaak. 

Deyta Kala Maya Cakru: Deleeeeeem. 

Delem: Son of a bitch. 

{Delem is hit by Kala Maya who thinks the insult was 

meant for him) 

Delem: Damn that Sangut. He's nothing but an old 

lady with a protruding forehead. He didn't tell me 

{that the master had returned). My head is spinning. 



Raksasa kabeh! 

Delem: Inggih banggiang titiang nabdabang panjak. 
Pacang ngiring pamargin palungguh Iratu. 
Detya Kala Maya Cakru: Lumaku aneng Ayodya. 

Delem: Jagi merika ke Ayodya Pura? 
Detya Kala Maya Cakru: Yogya. 
Delem: Patut. Ha ha ha ha ha. 
Sangut: Deleeeeem 

Delem: Titiang. Ha ha ha ha. 
Sangut: Yatna- yatna! 

Delem: Inggih. Ha ha ha. Cicing Seven Cebloke to. 
la jerit. Bench nguwik-nguwik. 



Deyta Kala Maya Cakru: Deleeeeeem. 

Delem: Seven ceblok. 

(Delem di pukul oleh Kala Maya). 

Delem: Cicing-cicing meng jantuke to. Sing nyambat 
jeg uyeng-uyengen nase. 



raksasa semua! 

Delem: Baiklah. Biarlah hamba menyiapkan wadwa 

semua. Untuk mengikuti perjalanan yang mulia. 

Detya Kala Maya Cakru: Berangkat menuju 

Ayodya. 

Delem: Akan kesana, ke Negara Ayodya? 

Detya Kala Maya Cakru: Benar. 

Delem: Benar. Ha ha ha ha. 

Sangut: Deleeeeem. 

Delem: Hamba. Ha ha ha ha. 
Sangut: Siap-siaplah! 

Delem: Baiklah. Ha ha ha. Ah anjing lu. Manusia 
tujuh sial lu. Dia yang menjerit. Pantas saja nguwik- 
nguwik nafasnya. 



Detya Kala Maya Cakru: Deleeeem. 

Delem: Tujuh sial. 

(Delem di pukul oleh Kala Maya). 

Delem: Anjing-anjing kucing jantuk itu. Tak ngasih 
tahu dia. Waduh kepala pening tujuh keliling. 



216 



Sangut: Deleeeem. {pretending again to be the 

master) 

Delem: Here I am. {Sangut runs away). Who was 

that who just went by so quickly? His pants stink so 

bad, he smells like a cat's corpse. Here's the Prime 

Minister. He's getting the demons ready so that they 

can follow the path of Detya Kala Maya Cakru. They 

will go to the country of the Ayodya Palace. Now he 

will take his revenge. 

Singers: ... (chant) 

Dalang: Aaaaaaa. We weeeeeee. (the demons enter). 

We we we. Weeee yog yog yog yog yog . 

Raksasa : Ha ha ha. 

Raksasa: Ha ha. Ho ho. Ha ha. Ho ho . Ha ha. He 

he. Ha ha. He he. 

Delem: Oh, look at that. Look at that. Do you 

see? They are in their battle formation. Like an 

impenetrable fence of towering tree trunks. None of 

them are out of place. Aaaah. All of them are ready. 

Lord Rama will be blown to smithereens and end up 

in the cemetery. 

Sangut: Let's eat some porridge. 

Delem: Who is your king? Sang Maya Cakru. Who 

who who? 

Sangut: Wau. 

Delem: I am telling you. You have to know the 

history of all this. Back to the beginning in the time 

of our ancestors. There were many problems. Long 

ago there was a holy and powerful king named Lord 

King Dasanana. Dasamuka. Lord King Rahwana. 

King of the country of Alengka. 

Sangut: And then? 

Delem: It started with the words of his sister Diah 

Surpanaka Dewi. 

Sangut: What did she say? 

Delem:" My brother, in the Dandaka forest, there is 

a very beautiful girl. Her name is Diah Sita. She is 

Rama's wife. If you can take Diah Sita to be your wife 



Sangut: Deleeeeem. 

Delem: Titiaaaaaang. Ya san mekliem to? Bench 
ba pahit mekilit bon klanane. Bangken Emeng gen 
bon klanane. Gusti Patih. Dabdabang mangkin. 
Dabdabang para Raksasane, jaga ngiring pemargin 
Detya Kala Maya Cakru. Bakal ngungsi Gumi 
Ayodya Purane. Aaa jani ba bakala ngeweragan. 

Sendon: ... 

Dalang: Aaaaaaa. We weeeeeee. (Keluar para 

Raksasa). We we we. Weeee yog yog yog yog yog . 

Raksasa: Ha haha ha ha. 

Raksasa: Ha ha. Ho ho. Ha ha. Ho ho . Ha ha. He 

he. Ha ha. He he. 

Delem: Ooo to to to to. Puk ci to. Mererod. Bah 

bedeg. Seluh pangi. Kerik tingkih. Ketog semprong. 

Aaaah jeg makejang sayaga. Jani ba aaaa. I Rama 

Dewa hancur lebur terkubur. 



Sangut: Makan bubur. 

Delem: Nyen Betaran ci. Sang Maya Cakru. Nyen 

nyen nyen nyen? 

Sangut: Pih. 

Delem: Ne kaka nuturan cai. Ci pang nawang 

sejarah-sejarah, kawitan-kawitan, unduk-unduk, 

ne malu ada sang Praratu sakti mapesengan Sang 

Prabu Dasanana. Dasamuka. Sang Prabu Rahwana. 

Ratuning Lengka Diraja. 

Sangut: Terus? 

Delem: Sangkaning atur arin Ida. Diah Surpanaka 

Dewi. 

Sangut: Engken? " 

Delem: "Beli Agung, di alas Dandaka ada nak Luh 

Jegeg mekece-kecegan, madan Diah Sita, somah I 

Rama Dewa. Yen Beli Agung sida ngambil Diah Sita 



Sangut: Deleeem 

Delem: Hambaaaaaa. Rasanya seperti dia yang 

berkelebat itu? Pantasan bau celananya amis amat. 

Berbau mayat kucing celananya. Maha Patih. 

Persiapkan para Raksasa semuanya, agar menyertai 

perjalanan Detya Kala Maya Cakru. Menuju Negara 

Ayodya Pura tiada lain. Yaa Sekaranglah waktunya 

membalas dendam. 

Sendon... 

Dalang: Aaaa. We weeee. (keluar para raksasa). We 

we we . Weee yog yog yog yog yog yog 

Raksasa: Ha hhahaha. 

Raksasa: Ha ha. Ho ho. Ha ha. Ho ho . Ha ha. He 

he. Ha ha. He he. 

Delem: Ooo to to to to. Kamu lihat itu. Beriringan. 

Bah bedeg. Semuanya tanpa kecuali dari berbagai 

lapisan, siaga. Aaah wah semua sudah siaga. 

Sekaranglah waktunya. I Rama Dewa hancur lebur 

terkubur. 

Sangut: Makan bubur. 

Delem: Siapa beliau junjunganmu; Sang Maya 
Cakru? Siapa? Siapa? Siapa? 
Sangut: Wah. 

Delem: Baiklah akan kuberitahu kamu. Agar kamu 
tahu sejarah-sejarah, leluhur-leluhur, masalah- 
masalah dari masa lampau adanya Maharaja sakti 
mandraguna seperti sang raja bernama Sang Raja 
Dasanana. Dasamuka. Maharaja Rahwana. Raja di 
Alengka Negara. 
Sangut: Terus? 

Delem: Karena adanya pemberitahuan adiknya yang 
bernama Diah Surpanaka Dewi. 
Sangut: Bagaimana? 

Delem: "Kakanda prabu, di hutan Dandaka ada 
seorang wanita teramat cantik, bernama Diah 
Sita, istri Rama Dewa. Kalau Kakanda prabu bisa 

217 



you will become very famous, the most famous of all, 
the most respectable of all gentlemen. You will take 
over the world there, in the country of Alengka. 



Sangut: Oh, is that what Diah Surpanaka Dewi said? 
Delem: Yes. So King Rahwana, followed by his 
minister Marica, went to Dandaka forest. When they 
arrived in the middle of the forest they saw Rama 
and Sita. They were on their honeymoon in the 
forest. Tlie minister Marica changed his body into 
the form of a golden deer. Sita cried her eyes out 
when she saw that deer. And because Rama loved 
his wife, he chased the deer to bring it back for her, 
leaving Sita alone. Then Lord Rahwana changed his 
form into the body of a Priest. To make a long story 
short, Sita was kidnapped. She was flown through 
the sky. Zooooooom. Rahwana carried her flying 
through the sky. 

Sangut: He carried her flying through the sky, 
Delem. 

Delem: Above the sea. 
Sangut: Above the sea. 

Delem: Then a powerful gust of wind came along. 
It blew open the folds of Sitas dress, revealing the 
flawless thigh of Lady Sita, as smooth as the velvety 
skin of a yellow langsat fruit, with tiny thin hairs. 

Sangut: It gives me goosebumps. 

Delem: Not only you. 

It was the same for Lord King Rahwana. He was a 

Super Playboy {using the English term). When he 

saw that view he trembled and could not control his 

desire. 

Sangut: He could not control his desire. 

Delem: His sperm came out. 

Sangut: It came out? 

Delem: It fell down. 



anggen beli rabi, ngancan kesumbung, kajanaloka, 
kajanapria Beli ngisi gumi, di Gumi Lengka 
Dipurane". 



Sangut: Ooo keto atur Diah Surpanaka Dewi. 
Delem: Aa. Lantas Sang Prabu Rahwana, kairing 
antuk Kriana Patih Marica, ngungsi Alas Dandaka. 
Nganteg di tegah alase, kacingak I Rama ajak Sita 
sedeng mekasih-kasih, memanying-manying, 
memesra-mesra di alase. Kriana Patih Marica, 
anyukti rupa dadi Kidang emas. Ngeling nyakit 
I Sita nolih kidange to. Ulian tresna I Rama ken 
somah, kepunge kidange ken Rama. Sita kutange 
didian ditu. To. Lantas Sang Prabu Rahwana anyukti 
rupa dadi Bagawan. Gelisang satwa enggal, bakat 
pelaibange I Sita, keberange di langite. Ber ber. 
Ritatkala mekeber di langite duwur.... 

Sangut: Ritatkala mekeber di langite. Lem. 

Delem: Duwur pasihe. 

Sangut: Duwur pasihe. 

Delem: Ada angin ngelinus teka. Kepirne siyot Diah 

Sitae. Ngenah pahan Diah Sita putih mulus, kuning 

langsat, misi bulu srining-srining. 



Sangut: Aruh dingin-dingin awake. 
Delem: De ja cai. Kadi linggih Ida Sang Prabu 
Bajra Rahwana. Super Playboy to. Ngetor nepukin 
pemandange to. Ulian sing tahan.... 



Sangut: Ulian sing tahan. 
Delem: Metu kaman Ida. 
Sangut: Metu? 
Delem: Ulung. 



mempersunting Diah Sita, dijadikan istri, akan 
semakin tersohor, terkenal dimata rakyat, terkenal 
sebagai lelaki sejati, manakala paduka memegang 
tampuk pemerintahan, di Negeri Lengka Dipura 
ini. 

Sangut: Ooo begitulah kata Diah Surpanaka Dewi. 
Delem: Yaaa. Lantas Sang Prabu Rahwana, disertai 
oleh patih Marica menuju hutan Dandaka. 
Sesampainya di tengah hutan, dilihatlah I Rama 
Dewa bersama Sita, sedang bercinta, bercumbu, 
bermesra-mesraan di hutan. Patih Marica berubah 
wujud menjadi Kijang Emas. Menangis miris Sita 
melihat kijang tersebut. Karena cintanya I Rama 
dengan istri, dikejarlah kijang itu oleh I Rama. 
Sita ditinggal sendirian disana. Lantas sang prabu 
Rahwana berubah wujud menjadi Pendeta. Singkat 
cerita, I Sita dapat dilarikan, diterbangkan di langit. 
Bang..bang... Saat terbang di langit di angkasa.... 

Sangut: Saat terbang di langit, Lem. 

Delem: Di atas laut. 

Sangut: Di atas laut. 

Delem: Ada angin ribut datang. Tersingkaplah 

kainnya Diah Sita. Kelihatan paha Diah Sita putih 

mulus, kuning langsat, berisi bulu tipis-tipis. 



Sangut: Aduuuuh merinding tubuhku. 
Delem: Jangankan kamu. Seperti beliau Sang Raja 
Rahwana. Super Playboy itu. Gemetar melihat 
pemandangan seperti itu. Karena tidak tahan.... 



Sangut: Karena tidak tahan. 
Delem: Keluar spermanya. 
Sangut: Keluar? 
Delem: Jatuh. 



218 



Sangut: It spurted out. 

Delem: Well, to say it spurted out would be a little 

crude. Whenever you read the old books they say 

these things in a way that is fitting with the place, 

the time and the context. So you cant just say all 

of a sudden, 'it spurted out." You have to say it in 

a refined way. Indirectly, but still clear. You can't 

say 'spurrrrrrrting out.' You have to say something 

different. 

Sangut: What? 

Delem: Spritzing out. 

Sangut: An ape goes out. A monkey comes back. {It's 

the same thing). 

Delem: The sperm fell into the sea. 

Sangut: Fell. 

Delem: It fell. And because it was the sperm of the His 

Royal Highness, the sperm glistened like firelight. 

Sangut: It glistened? 

Delem: It gUstened. So then Lord Brahma caught 

some of that sperm, and then he chanted mantras 

over it. It was blessed. And then out of the sperm 

sprang a little boy who was given the name Lord 

Maya Cakru. The sea in that place was transformed 

into land, and the land was called Segara Lungsur. 

(Gift of the Sea). And then the creatures of the sea 

were transformed into an army of demons to serve 

our master. 



Sangut: Mekecret. 

Delem: Beh mekecret. Jorok. Men ngelemah 
mekawin mesanti, ngeraosang Desa Kala Patra. 
Tekane teka, mekecret. Yen ngomong pang alus. 
Pang saru. Ya pang ngenah. Mekecreeeet. Lenan 
ken mekecret raosang! 



Sangut: Apa? 

Delem: Mekecrot! 

Sangut: Mekaad Bojog teka Lutung ne. 

Delem: Ulung kama di pasihe. 

Sangut: Ulung. 

Delem: Uluuung. Ulian kaman Sang Para Ratu luih, 

ngendih ngabar-ngabar kamae. 

Sangut: Ngendih? 

Delem: Ngendih! Lantas ledang Ida Batara Brahma 

kapining kamane to. Lantas kamane to kajapa 

mantraning. Ka Weda Wedaning. Lantas kamane 

to embas dadi anak alit lanang, kapesengan Sang 

Maya Cakru. Pasihe ne kasupat dadi Gumi. Madan 

Segara Lungsur. Be makejang di pasihe kasupat 

dadi Raksasa. To pinaka wadwan liiida. 



Sangut: Muncrat. 

Delem: Beh muncrat. Jorok. Hampir setiap hari 
membaca kekawin, membicarakan desa, kala, patra, 
tahu tahu muncrat. Kalau ngomong agar lebih halus. 
Agak samar tapi tetap kelihatan. Muncrrraaat. Selain 
muncrat, omongkan! 



Sangut: Apa? 

Delem: Muncrat! 

Sangut: Monyet pergi, datangnya kera ini. 

Delem: Jatuh spermanya di laut 
Sangut: Jatuh. 

Delem: Jatuuuh. karena sperma Sang Raja Utama, 
bercahaya terang spermanya. 
Sangut: Bercahaya? 

Delem: Bercahaya! Selanjutnya Ida Batara Brahma 
senang dengan sperma itu. Lantas sperma itu diberi 
mantra. Diberi weda. Dari sperma itu lahirlah 
menjadi anak kecil laki diberi nama Sang Maya 
Cakru. Laut ini dikutuk menjadi bumi, bernama 
Segara Lungsur. Semua yang ada di laut dikutuk 
menjadi Raksasa. Itu semua menjadi pasukan 
pengikut beliau. 



219 



hI^^K^v ' 


AMi^: 












WBL ' /y^jpy "--■ 




H^^^ .^-^- .if «.^-■' * 


'.^^^^^^K- 


^nf^' J^*^' ■ 




y^f^ 



^ 




^ \ 




Sangut: Ooo 

Delem: When he reached the age of twenty-five... 

Sangut: 25 years old. 

Delem: The god Brahma said... 

Sangut: What? 

Delem: "My son Maya Cakru. Now you possess 

a country, but if the country is not founded on 

the teachings of sacred books it will not be able to 

sustain itself. Please go to the Temple of Death and 

ask the Goddess Durga for her teachings. There you 

can ask for the wisdom that will enable a man to rule 

a nation, that will reveal the meaning of our lives: 

the four guardian spirits {Kanda Empat), the four 

essences, the four divinities, the four infants. Study 

these teachings. 

Sangut: In the Temple of Death? 

Delem: In the Temple of Death. To make a long story 

short, five years passed. He graduated. 

Sangut: He graduated? 

Delem: He graduated. He got his graduate degree. 

Sangut: What? 

Delem: Doctor Maya Cakru, M.A., Ph.D, M.D. 

Sangut: What is M.D.? 

Delem: Master of Demonology. I have the rank of 

Lieutenant General. You have the rank of Lieutenant 

Colonel. 

Sangut: The rank of Lieutenant Colonel is bad. 

Delem: As soon as he graduated, he (Lord Cakru) was 

endowed with magical powers, wisdom, knowledge, 

and intelligence. He had the highest degree and the 

Goddess Durga spoke to him. 

Sangut: What did she say? 

Delem: "Maya Cakru, you are my student. Now that 

you have grown up, it is proper that you should use 

the knowledge you have gained in my service, the 

wisdom your mother has given you here. Put your 



Sangut: Oooo. 

Delem: Di subane Ida maumur selae tiban. 

Sangut: 25 tahun. 

Delem: Mawecana Ida Batara Brahma. 

Sangut: Engken? 

Delem: "Cening Maya Cakru. Wireh Idewa ngisi 

Gumi. Yen Idewa ngisi Gumi yen sing medasar baan 

sastra, pocol, genjong Gumine. Kama lautang Idewa 

Ke Dalem nunas ajah ring Ida Batari Durga. Ditu 

tunasin ragane inga-ingu. Kenken pidabdab nak 

ngisi Gumi. Kenken sukseman iraga idup. Kanda 

Pat Buta. Pat Sari. Pat Dewa. Pat Rare, pelajahin". 



Sangut: Di Dalem? 

Delem: Di Dalem. Gelisang satwa enggal. Ada 

limang tiban. Tamaaat. 

Sangut: Tamat? 

Delem: Tamat! Maan titel gede. 

Sangut: Apa? 

Delem: Drs. Maya Cakru. Bsc. SH. IL. 

Sangut: IL e? 

Delem: Inan Liak. Kaka maan pangkat Letnan 

Jedral. Ci maan pangkat Letkol. 

Sangut: Beh jelek Letkol pangkate. 
Delem: Di suba tamat. Sakti, pradnyan, wikan, 
widagda, duweg. Maan titel gede. Mawecana Ida 
Batari Durga. 

Sangut: Engken? 

Delem: "Ceniiiing Maya Cakru sisyan Meme Idewa 
wreh Idewa suba duwur, jani sandang jani Idewa, 
abdiang kebisan Idewane. Peplajahan Idewane 
baang ban Meme dini. Abdiang kebisane anggon 



Sangut: Oooo. 

Delem: Setelah beliau berumur dua puluh lima 

tahun. 

Sangut: 25 tahun. 

Delem: Bersabdalah beliau Ida Batara Brahma. 

Sangut: Bagaimana? 

Delem: "Cening Maya Cakru. Oleh karena 

nanda memegang tampuk pemerintahan, kalau 

tidak berdasarkan sastra, percuma, guncanglah 

pemerintahan negara. Silahkan ananda ke Dalem 

mohon ajaran kehadapan Hyang Batari Durga. 

Disana mohonkan diri pelajaran. Bagaimana 

tingkah-polah orang memegang Negara. Bagaimana 

arti kehidupan. Kanda Pat Buta. Pat Sari. Pat Dewa. 

Pat Rare, dipelajari. 

Sangut: Di Dalem? 

Delem: Di Dalem. Singkat cerita. Setelah lima tahun. 

Tamaaaaat. 

Sangut: Tamat? 

Delem: Tamat! Dapat gelar tinggi. 

Sangut: Apa? 

Delem: Drs. Maya Cakru. Bsc. SH. IL. 

Sangut: IL itu? 

Delem: Inan Liak. Aku dapat pangkat Letnan 

Jendral. Kamu dapat pangkat Letkol. 

Sangut: Wah jelek amat Letkol pangkatku. 
Delem: Setelahnya tamat. Sakti, pintar, lihai, cerdik. 
Mendapatkan gelar tinggi. Bersabdalah Ida Batari 
Durga. 

Sangut: Bagaimana? 

Delem: Nanda Maya Cakru siswaku ananda. Karena 
ananda sudah dewasa, sudah saatnya ananda abdikan 
kepintaran semua pelajaran yang ku berikan disini. 
Abdikan pengetahuanmu untuk mensejahterakan 



221 




intelligence to use in the service of improving the 
world. Put yourself into the service of Lord Rama. 
Put your intelligence to use there in his palace. Be of 
service to him. He is the avatar of Vishnu on earth. 
Sangut: That is what the goddess Durga said? 
Delem: Yes. And you and I will follow him to the 
country of Ayodya. But in the middle of the journey, 
he stopped all of a sudden. He used his disc brakes. 
{This pun refers to the word for car brakes,'ngerim 
cakram', and the name of Vishnu's magic weapon, 
a discus called 'cakra', which is the source of Maya 
Cakru's name) 
Sangut: Why? 

Delem: To think things over. To come up with 
a strategy, a plan of action. It was as if he had 
mortgaged three acres of land to go to school and 
now that he had graduated, why should he use his 
degree to work as a janitor? And what's more, to be 
in the service of his enemy? It would be like you 
becoming an assistant driver after you already had 
all the licenses from A to Z. Why become a servant 
when you have the power to turn the world upside 
down? East becomes West. North becomes South. 
Kill Rama. Kill his monkey soldiers. Kidnap Sita. 
Cash in the mortgage. 



melahang jagat. Kema jani Idewa memarekan ring 
Ida Batara Rama. Abdiang kebisane. Menyeraka. 
Ida awatara Wisnu di Gumine". 

Sangut: Keto Ida Batari Durga? 

Delem: Aa. Kaka cai pada ngiring kel ke Gumin 

Ayodyane. Di tengah jalan ngerim Ida. Ngerim 

cakram. 



Sangut: Engken? 

Delem: Tik kutak-katik. Mencari taktik, kir di 
pikir-pikir. To carik telung hektar megade anggon 
masekolah. Disuba tamate, to ngudiang titele anggo 
tukang sapu. Bin sada memarekan ken musuh. 
Angganin benya cara sopir, suba ngelah SIM A. 
SIM B. SIM Z. Ngudiang dadi kernet? Badingan 
jae e. Kangine dadiang kauh. Kaja e dadiang kelod. 
I Rama matiang. Bojoge matiang. I Sita juang. 
Penyuwudne raga ngontrak. 



dunia. Berangkatlah ananda mengabdi kehadapan 
Ida Batara Rama. Abdikan kepintaramu. Mengabdi. 
Beliau titisan Wisnu di Bumi". 

Sangut: Begitulah paduka Ida Batari Durga? 
Delem: Yaa. Aku, kamu pada akan mengikuti ke 
Negari Ayodyanya. Di tengah jalan tancap rem 
beliau. Rem cakram. 



Sangut: Bagaimana? 

Delem: Tik kutak-katik. Mencari taktik, kir di pikir- 
pikir. Itu sawah tiga hektar dikontrakan dipakai 
biaya sekolah. Setelah tamat, kenapa mesti gelarnya 
dipakai tukang sapu. Apalagi mengabdi pada 
musuh. Seperti kamu menjadi sopir sudah punya 
SIM A SIM B SIM Z. Mengapa jadi kondektur? Coba 
bandingkan. Timur dijadikan barat. Utara jadikan 
selatan. I Rama dibunuh. Monyet dibunuh. I Sita 
diambil. Pada akhirnya kita ngontrak. 



222 



Sangut: Wow. Is it possible? 

Delem: Why not? Our side is magically powerful 

and potent. How are we doing? Now is the time. 

How is Rama doing now? He had a dream that all 

his monkeys were cut down. They will die tomorrow. 

Ohhhhhh. 

We can kidnap a servant girl. On my wedding day I 

will let you take over everything. 

Sangut: You'll elope with Nyoman. 

Delem: I'll elope with Nyoman. 

Sangut: How will it be? 

Delem: I will put you in charge of the ceremony. I 

will just worry about getting married. You will be 

in charge, as the Chief Secretary, the head man, the 

accountant. You will run all the departments. 

Sangut: Just me alone? 

Delem: Yes. I have faith in you. I will only think 

about my wedding. In the end I will be married to 

Nyoman. 

Sangut: How many people should we invite? 

Delem: Invite five hundred. 

Sangut: How will you fit five hundred people in your 

small house. 

Delem: We'll use the community hall. 

Sangut: We'll borrow it? 

Delem: We'll rent it. Borrow. borrow. Borrowing 

is for public events. We'll rent it. 

Sangut: From the neighborhood banjari Five 

hundred people. Where will they come from? 

Delem: Cousins, friends, neighbors. Close family. 

Prayer groups. Wherever we can get them. In our 

neighborhood banjar there are two hundred and 

fifty 

Sangut: And the other two hundred and fifty? 

Delem: The team that worked with me on the 

construction project in Bukit. 

Sangut: How many? 

Delem: That is two hundred and fifty. Two hundred 



Sangut: Puaaaaah. Ngidang? 

Delem: Ngudiang sing ngidang. Nak sakti sakti. 
Kenken ci. Jani ba. Eh kudiange I Rama jani. Ba 
ngipi manyi telah bojoge makejang to. Kel bangka 
biin mani. Ooo. Penyerowane raga nyuang. Di kaka 
ngantene ci serahang kaka. 



Sangut: Nyuang Nyoman. 

Delem: Nyuang Nyoman. 

Sangut: Engken to? 

Delem: Ngurus gaen kakae. Kaka jeg nganten gen. 

Ci ngitungan to. Sekretaris ci. Ketua 1 ci. Bendahara 

ci. Seksi-seksi ci. Ooo. 

Sangut: Cang didian? 

Delem: Aa. Kaka percaya ken ci. Kaka jeg ngitungan 

nganten gen. Pang pragat kaka di petegulen ajak 

Nyoman. 

Sangut: Kuda ngundang? 

Delem: Ngundang mang atus. 

Sangut: Dija tekan jelema, mang atusan ngundang. 

Umah cenik. 

Delem: Balai Banjar ada. 

Sangut: Nyilih? 

Delem: Nyewaaaa. Nyilih, lek atie. Nyilih, ke umum 

nyilih. Nyewaaa. 

Sangut: Di Banjare to. Ngundang mang atus. Dija 

tekan tamue mang atus? 

Delem: Misan, mindon, pisaga. Apit aneh, 

tunggalan sumbah, juang ke juang. Ooo di Banjar 

dini ada satak seket. 

Sangut: A biin satak seket? 

Delem: Prekantin-prekantin kaka ane ajak bareng 

morong di Bukit. 

Sangut: Kuda? 

Delem: Satak seket to. Tak eket-tak eket. Mang 



Sangut: Puaaaah. Bisa? 

Delem: Kenapa tidak bisa. Begitu saktinya. Gimana 
kamu? Ya sekaranglah. Eh dibagaimanakan I Rama 
sekarang? Para monyet semua sudah bermimpi 
mengetam padi. Akan mati besok. Ooo pembantunya 
aku 'kan ambil. Ketika ku menikah nanti, kamu ku 
serahkan mengurus. 

Sangut: Kawin dengan Nyoman. 

Delem: Kawin dengan Nyoman 

Sangut: Bagaimana itu? 

Delem: Mengurus upacaraku. Aku hanyalah kawin 

saja. Kamu yang mengurus semua itu. Sekretarisnya 

kamu. Ketua satunya kamu. Bendaharanya kamu. 

Seksi-seksi juga kamu ooo. 

Sangut: Saya sendirian? 

Delem: Ya. Aku percaya dengan kamu. Aku hanya 

memikirkan menikahnya saja. Agar sukseslah 

perkawinanku dengan Nyoman. 

Sangut: Berapa mengundang? 

Delem: Mengundang lima ratus. 

Sangut: Dimana saja datangnya orang, lima ratusan 

mengundang? Rumahnya kecil. 

Delem: Balai Banjar, ada. 

Sangut: Meminjam? 

Delem: Menyewaaa! Meminjam? Malu. Ke umum 

meminjam. Sewaaa! 

Sangut: Di Banjar itu. Undangannya lima ratus. 

Dari mana datangnya tamu lima ratus? 

Delem: Sepupu, saudara, tetangga. Saudara dekat, 

satu sumbah, ambil diambil silang. Ooo di Banjar 

disini saja ada dua ratus lima puluh orang. 

Sangut: A lagi dua ratus lima puluh? 

Delem: Teman-temanku yang diajak ikut 

memborong di Bukit. 

Sangut: Berapa? 

Delem: Dua ratus lima puluh itu. Dua ratus lima 



223 



and fifty plus two hundred and fifty makes five 

hundred. 

Sangut: Wow. Five hundred guests. How many pigs 

will you have to slaughter? 

Delem: We won't count the kilos. 

Sangut: How many vans? 

Delem: We won t count the vans. 

Sangut: What? 

Delem: Whole pigs. 

Sangut: How many pigs will we be looking ft)r? 

Delem: We'll find a thousand pigs, at a hundred and 

fifty kilos each. 

Sangut: Wow. Where will you find all those pigs? 

Delem: We'll find them in Java from Javanese pig 

farmers. 

Sangut: Wow. A hundred and fifty kilos. How can you 

cook those pigs? A thousand of them at a hundred 

and fifty kilos each. On Galungan (a holiday in which 

pigs are sacrificed) cooking just one is exhausting. 

Delem: You are so stupid. For the ceremony there 

will be invitations, and at the bottom will be the 

letters NB. 

Sangut: NB? 

Delem: News Bulletin. The guests will be asked to 

bring a knife, a chopping block, a sieve, matches, and 

coconut cooking oil. 

Sangut: Yes? 

Delem: Yes. And when they get to my house each 

one of them will be asked to catch a pig, slaughter it, 

gut it, clean it, prepare it, roast it, and slice it up into 

servings. 

Sangut: Wow. Each guest has to catch a pig, slaughter 

it, roast it, and slice it up into servings. Wow, the 

guests won't have any time to rest. 



atus. 



Sangut: Imiiih. Mang atus ngundang tamu, kudang 

pikul tampahang celeng. 

Delem: Sing ngitungan pikulan. 

Sangut: Kudang kol? 

Delem: Sing ngitungan kolan. 

Sangut: Apa? 

Delem: Ukudan. 

Sangut: Kudang ukud alihang celeng? 

Delem: Alihang celeng, a siyu ukud mabaat pikul 

tengah, pikul tengah. 

Sangut: Imiiih. Dija alih celeng? 

Delem: Di Jawa alih. Tukang Jawa ngubuh 

celeng... 

Sangut: Imiiih. Pikul tengah. Kudiang ngolah 

celenge. Siyu tes keto. Pikul tengah-pikul tengah. 

Dugas Galungan celeng aukud ba lengeh cang. 



Delem: Ci lengeh. Di ngantene di ngaba surat 
undangan, betene jin NB. 

Sangut: NB? 

Delem: Numpang Berita. Tamu ne kundangan 

kayang to, orin ngaba tiyuk, talenan, tempeh, korek, 

langsung lengis gas. 

Sangut: Aa? 

Delem: Aa. Nganteg jumah kaka, baang wangsit 

ngejuk celeng padum ukude. Uli ngorok, mutbuten, 

masangan, ngelebengan, mayuh. 

Sangut: Imiiih. Tamu ukud ngejuk celeng ukud. Uli 
ngorok nganti ngelebengan, nganti mayuh. Mimih, 
se sing maan mereren undangane. 



Delem: I don't want to give them time to rest. If Delem: Jelap de baange mereren. Yen mereren 



puluh dan dua ratus lima puluh. Lima ratus. 

Sangut: Waaaah. Lima ratus mengundang tamu, 
berapa ton babi mesti dibunuh. 
Delem: Tidak menghitung tonan. 
Sangut: Berapa cool? 
Delem: Tidak menghitung pakai coolan. 
Sangut: Apa? 
Delem: Ekoran. 

Sangut: Berapa ekor carikan babi? 
Delem: Carikan babi, seribu ekor berbobot masing- 
masing seratus lima puluh kg, seratus lima puluh 

kg- 

Sangut: Waaah. Dimana cari babi? 

Delem: Di jawa cari. Tukang Jawa memelihara babi. 

Sangut: Waaah. Seratus lima puluh kg. Bagaimana 

caranya mengolah babi seribu tersebut. Seratus lima 

puluh kg-seribu lima ratus kg. Pada waktu Galungan 

mengerjakan hanya satu ekor babi saja saya sudah 

payah. 

Delem: Kamu goblok. Pada pernikahanku manakala 

membawa surat undangan, dibawahnya kasi NB. 

Sangut: NB? 

Delem: Numpang Berita. Tamu yang kundangan 

saat itu, suruh bawa pisau, kayu alas memotong, 

tempayan, korek, termasuk minyak gas. 

Sangut: Ya? 

Delem: Yaa. Setibanya di rumahku, berikan 

perintah: "tangkap babi masing-masing satu. 

Dari membunuh, membersihkan, membersihkan 

perutnya, mematangkan, menghidangkan." 

Sangut: Waduuuh. Satu tamu menangkap satu 

ekor babi. Dari membunuh sampai mematangkan, 

sampai menghidangkan. Wah, kan tidak dapat 

istirahat undangannya. 

Delem: Sengaja tidak diberi istirahat. Kalau 



224 



they are resting they will have time to smoke all my 

cigarettes. But if they are working, how can they 

smoke? How can they? They've already been given 

their jobs. 

Sangut: So the guests will will prepare five hundred 

of the pigs. What about the other five hundred pigs. 

Will you sell them? 

Delem: Why should I sell the pigs? 

Sangut: What will you do with them? 

Delem: When the guests go home, I'll tell each of 

them to take a pig. 

Sangut: Why is that? 

Delem: As a gift from the host. We do things big 

here in Segara Lungsur. So that other people cannot 

copy your brother's ceremony. 

Sangut: Wow. 

Delem: On D-day, the day of the ceremony, you will 

be standing outside the house. 

Sangut: Why? 

Delem: To greet the guests as they arrive. 

Sangut: Why? 

Delem: If guests are arrive on foot, tell them to go 

home. 

Sangut: Why? 

Delem: Because they will only bring one coconut, 

one egg, and one kilo of rice. We don't want to waste 



ngelemah rokoe lelese liu. Yen ba ngelemah uyak 
gae, kenkenan ngeroko. Sepanan kanti ya ngeroko. 
Kenken ci. Ba baang gae nas ne. 

Sangut: To teka tamu mang atus celenge siyu, biin 
mang atus kija aba? Adep? 

Delem: Ngudiang ngadep celeng. 

Sangut: Kija aba? 

Delem: Di mulih tamue, biin orin ngejuk celeng 

padum ukude. 

Sangut: Kal keto? 

Delem: Anggon peneteh sok kasi. Pang mewibawa 

dini di Segara Lugsur. Pang sing ada nak nempa 

gaen kakae. 

Sangut: Pih. 

Delem: Di hari H, ci diwang ngoyong nyen. 

Sangut: Ngudiang? 

Delem: Menelik tamue teka. 

Sangut: Adi keto? 

Delem: Yen ada tamue jalan kaki, jeg tundung orin 

mulih. 

Sangut: Adi keto? 

Delem: Paling banter ngaba nyuh bungkuk Baas 

kilo. Taluh bungkuk Ada salin-salinan gen to. Yen 



istirahatnya sering, rokoknya banyak diambil. Kalau 

sudah terus-terusan bekerja, bagaimana dia sempat 

merokok. Gimana kamu? Sudah diberi pekerjaan, 

mereka. 

Sangut: Tau yang datang lima ratus, babinya seribu, 

lima ratus lagi, dikemanakan? Dijual? 

Delem: Kenapa menjual babi? 

Sangut: Kemana dibawa? 

Delem: Ketika tamu pada pulang, lagi disuruh 

menangkap babi satu-satu. 

Sangut: Kenapa begitu? 

Delem: Sebagai bungkusan pemberat bakul. Agar 

berwibawalah aku di sini, di Segara Lungsur. Agar 

tak tertiru upacaraku. 

Sangut: Wah. 

Delem: Pada hari H, kamu diluar saja menunggu. 

Sangut: Ngapain? 

Delem: Memperhatikan tamu yang datang. 

Sangut: Kenapa begitu? 

Delem: Kalau ada tamu jalan kaki, usir saja suruh 

pulang. 

Sangut: Kenapa begitu? 

Delem: Paling-paling dia bawa satu butir kelapa. 

Beras satu kg. Telor satu butir. Merepotkan untuk 



225 



time with them. If there is a guest who comes on 
a two wheeled vehicle, or on a four-wheeler, or a 
sixteen-wheeler, tell them to come in. At least they 
will bring an envelope. Inside the envelope will be 
at least five hundred thousand rupiah. AfLer the 
ceremony we can buy a ricefield. 
Sangut: Is this a business ceremony? If we have 
a thousand pigs weighing one hundred and fifty 
kilograms each, those are very expensive pigs. Do 
you have the money for it? 
Dalem: The bank has it. 

Sangut: Yes, the bank has it, but do you have collateral 
{for a loan)'? The ricefield is already mortgaged. 
Delem: I can borrow it from the Banjar. I have a 
persuasive tongue. 

Sangut: If you borrow, but don't give it back? 
Delem: Give it back? What are you talking about? 
After the wedding I would tell Nyoman (his bride- 
to-be) to stand outside the house. 
Sangut: Why? 

Delem: To look out for people asking for money in 
case they arrive with the promissory note. If Ketut 
is the one who brings the promissory note, she will 
say, "Hello, brother Ketut. I know that you are here 
for the debt repayment. But I don't know anything 
about the problem of debt or repayment. I don't 



ada tamu ngaba roda dua, roda empat, roda enam 
belas, mara orin mulih. Paling sing amplop. Di 
dalam amplop paling sing mang atus tali. Suwud 
gae pang ngidang meli carik. 



Sangut: Ooo bisnis gae e ne. Yen celeng a siyu. Pikul 
tengah-pikul tengah. To celeng mael jani. Ba ngelah 
pis? 

Delem: Bank ada. 

Sangut: Ba ja Bank to. Ngelah wanda? To carik ba 

onya megade. 

Delem: Nyilih di Banjar maan. Bungut memedang. 

Sangut: Yen nyilih sing uliang? 

Delem: Uliang. Kenken ci. Suwud nganten Nyoman 

orin diwang ngoyong di angkul-angkule. 

Sangut: Ngudiang? 

Delem: Nyaga nak ne nagih utang. Yen teka ne 
ngelahang utange. Yen Ketut ne ngelah utange, ye 
beli Ketut, sing keto Nyoman. Tiang nawang beli 
mal nagih hutang. Kewala nyen tiang sing nepukin 
masalah utang piutang. Tiang sing nawang. Beli 
Ngurah Delem ajak. Ya nak nelokin borongane di 



diberi balasan bawaannya. Kalau ada tamu bawa 
roda dua, roda empat, roda enam belas, baru suruh 
pulang . Paling tidak amplop. Di dalam amplop 
paling tidak lima ratus ribu. Seusai upacara agar 
bisa beli sawah. 

Sangut: Ooo upacaranya bisnis ini. Kalau babinya 

seribu, masing-masing berberat seratus lima puluh 

kilogram. Sekarang ini babi kan mahal? Sudah 

punya uang? 

Delem: ada Bank. 

Sangut: Memang adanya di Bank. Punya jaminan? 

Sawah semua sudah habis jadi jaminan. 

Delem: Pinjam di Banjar, pasti dapat. Mulut 

berkarisma. 

Sangut- lika pinjam, tidak akan dikembalikan? 

Delem: Kembalikan. Gimana kamu ini. Selesai 

upacara menikah Nyoman suruh di luar diam di 

depan rumah. 

Sangut: Ngapain? 

Delem: Menjaga orang-orang yang menagih 

hutang. Kalau datang yang punya hutang. Kalau 

berhutangnya kepada si Ketut: "yee kakang Ketut...," 

kan begitu si Nyoman. "...saya tahu abang ke mari 

menagih hutang. Tetapi saya tidak tahu-menahu 

masalah utang piutang. Saya tidak tahu. Abang 



227 



understand it. My husband Ngurah Delem will talk 
to you about it. But now he is working on a housing 
project in Bukit". That's what she will say. "My 
husband will be there for five days. Yes, my husband 
is there". That's what I will tell Nyoman to say. 
Sangut: So, Melem? 

Delem: I'll be hiding in the rice warehouse. 
Sangut: That solves the problem. What happens 
when he comes back in five days? 
Delem: Five days later. 
Sangut: Five days later, he will come again. 
Delem: "Hello, Ketut." That's what I'll say. "I already 
know that you are here to ask for money. There is a 
lot of money in the bank, Ketut." 
Sangut: Oh, you will say there is a lot of money in 
the bank? 

Delem: Yes, that's right. "Ketut, you know that getting 
the money out is not easy. You have to sign here and 
sign there. Letters here, letters there. Now, don't 
be sad, Ketut. You can't get the money now. Try to 
come here again in four days, Ketut. The money will 
surely be here. Calm down, take it easy with me, 
Ketut". 

Sangut: Four days? 
Delem: Four days. 
228 




^^^HS^^^^^Uh. ^ 1 


p^^ 


H IKrV , J 



Bukit. Keto orang nyen. Beli, biin limang dina beli 
mai nyen. Beli Ngurah gen ajak nyen. Ooo keto 
orin Nyoman. 



Sangut: Men Melem? 

Delem: Mengkeb di Jineng. 

Sangut: Pragat kandane. Biin limang dina orin 

teka? 

Delem: Biin limang dina. 

Sangut: Biin limang dina biin teka ya. 

Delem: Yeeeee Ketut, sing keto kaka. Kaka ba 

nawang Ketut mai kel nagih pis. Nak bek di Bank 

Tut. 

Sangut: Ooo nak bek di Bank. 

Delem: Bench. Tut ba nawang. Nak ngalih pis sing 
ja gampang. Misi teken dini teken ditu. Surat dini 
surat ditu. Jani de Tut sebet nyen. Tut sing maan pis 
jani. Yen tegarang biin 4 hari Tut mai. Pis pasti ada. 
Tenang, gampang ajak kaka Tut. 



Sangut: 4 hari? 
Delem: 4 hariiiii. 



Ngurah Delem ajak berurusan. Kini dia sedang 

menengok borongannya di Bukit." Begitulah 

patutnya dibilang. "Lima hari lagi datang ke sini 

lagi, sama abang Ngurah sajalah berurusan." Ooo 

begitulah Nyoman dikasih tahu. 

Sangut: Lalu Melem? 

Delem: Sembunyi di Lumbung. 

Sangut: Selesai urusannya? Kalau lima harinya 

disuruh datang? 

Delem: Lima hari lagi. 

Sangut: Lima harinya dia datang lagi. 

Delem: "Yeee Ketut. . . ," kan begitu aku. "Abang udah 

tahu Ketut ke sini untuk menagih uang. Di Bank 

orang-orang terlalu penuh, Tut. 

Sangut: Ooo orang penuh di Bank. 

Delem: Sungguh. Tut kan sudah tahu. Orang emang 
tidak gampang mengambil uang. Perlu tanda tangan 
di sini, tanda tangan di sana. Surat di sini, surat di 
sana. Sekarang janganlah Tut sedih, ya. Tut tidak 
dapat uang sekarang. Coba 4 hari lagi Tut ke sini. 
Uang pasti ada. Tenang, gampang dengan abang 
Tut. 

Sangut: 4 hari? 
Delem: 4 hariiii. 



Sangut: Four days later he arrives. 
Delem: "Helloooooo, Ketut". That's what I'll say. 
"Have a coffee first, Ketut." I have a coffee, so I ask 
him if he wants one, too. I am sure he doesn't want 
one. I just ask for the sake of asking. "The money is 
in the cabinet, Ketut, it's all there. If I borrow money 
from you, you don't have to worry. But last night 
I was browsing through the calendar, and it turns 
out that today is my birthday. People say that you 
cannot pay back a debt on your birthday. Don't be 
sad, Ketut. You will not get your money. Come back 
here in five days and you will get the money". 
Sangut: Heeey. Three days, four days, five days. 
Three days, four days, five days. This will keep going 
on until the grass on the path to your door is worn 
down without you cutting it. After such a long time 
I think the people who are owed the money will be 
angry, Melem. 

Delem: I hope they are angry. If so, they will be my 
enemies. Once they are my enemies, how can they 
ask for money? I hope they become my enemies. 

Sangut: Delem, if I may say so, don't put yourself up 
on such a high horse. When you do that, there is a 
danger you will fall. You will break your bones. It is 
better to be sitting in a low place {where you cannot 
fall). Nowadays people are not dazzled by wealth, 
Delem. The world is a circle now. They go to the 
store with fifty million rupiah, and come home with 
something worth four hundred million. 
Delem: And the rest? 

Sangut: On creddddddit. Even though it is impressive 
to drive an expensive car for one month, after that 
the dealer will take it back. Who will you show off 
to then, Delem? 

Delem: Look at you. Always talking about what 
then, what then, what theeeeeeen. 
{Demon puppets arrive) 



Sangut: Biin 4 hari biin teka? 

Delem: lyeeeee. Tut. Sing keto kaka. Ngopi alu Tut. 
Ada kopi tanjen mase. Ba kel sing nyak tooo. Pang 
kewala tanjen gen, basa-basi. Pis ada di lemari Tut, 
genep. Lamun kel nyilih ken Ketut. Tenang gen Tut. 
Kola ibi sanja iseng kaka malin kalender, tegak oton 
kaka bisa jani. Nak sing kone dadi mebayahan di 
tegak oton. De Tut sebet nyen. Tut sing maan pis. 
Orang biin limang dina Tut mai pis maaan. 



Sangut: Heeeee. Telun, tang dina, limang dina. 
Telun tang dina limang dina. Kanti lisig padang 
Meleme jumah sing ngudud-ngudud kanti. Yen 
mekelo-kelo dong bisa pedih ne ngelahang pipise 
ne cang Melem. 

Delem: Madak pang pedih. Yen ngidang pang puik 
biineng. Ba puik kudiange nagih pis. Madak pang 
puik. 

Sangut: Leeem. Yen cang ngorin Melem, de bes 
tegeh negakan awak. Di ulunge meglebug. Elung 
benya. Kanggoang beten-beten. lani ada sing nak 
bengong ken kesugihan Leeem. Gumi pada bunter 
jani. Ke toko ngaba pis seket juta, dimulihe bisa 
barang samas juta aba. 



Delem: Sisane? 

Sangut: Ngrediiiit. Ooo. Apin gagah ngaba mobil 
mewah abulan, suwud to tarike ken delere. Nyen 
edengan jani Leeem. 

Delem: Tolih cai. Nah Ooo to to to to. lani jani jani 

janiiii. 

(keluar para Raksasa). 



Sangut: Empat harinya lagi dia datang? 
Delem: lyeeee. Tut. Kan begitu aku. Minum kopi 
dulu Tut. Ada kopi di tawarkan juga. Sudah tahu 
dia tak kan mau. Tawarkan saja, basa-basi. Uang 
ada di lemari Tut, genap. Masalah meminjam pada 
Ketut, tenang saja. Tut. Tetapi semalam iseng abang 
membaca kalender, tepat hari ini hari lahirnya 
abang. Katanya tidak boleh membayar hutang tepat 
di hari lahir. Jangan Tut sedih ya. Tut tidak dapat 
uang. Lima hari lagi Tut ke sini, pasti dapat uang. 



Sangut: Heeee. Tiga hari, empat hari, lima hari. 
Tiga hari, empat hari lima hari. Sampai mati rumput 
Melem dirumah tidak perlu ditebas. Lama-lama 
orang yang cari uang bisa marah, Melem. 



Delem: Aku berharap mereka marah besar. Kalau 
bisa agar tak bertegur sapa lagi. Kalau sudah tak 
bertegur sapa, gimana dia minta uang? Semoga saja 
dia tak bertegur sapa. 

Sangut: Leeem. Saya kasih tahu kamu Melem. 
Jangan terlalu tinggi memposisikan diri. Kalau 
jatuh berbahaya. Patah kamu. Kanggokan di bawah 
seadanya. Sekarang ini, tidak ada orang bengong 
dengan kekayaan Lem. Bumi sudah bundar. 
Sekarang, ke toko membawa uang lima puluh juta, 
ketika pulang bisa barang empat ratus juta dibawa. 

Delem: Sisanya? 

Sangut: Ngeridiiiit. Ooo. Walaupun gagah membawa 
mobil mewah, setelah satu bulan itu di tarik oleh 
dealer. Siapa yang di perlihatkan sekarang, Leem. 

Delem: Kamu hhat. Ya Ooo to to to. Sekarang 
sekarang sekaraaang. 
(keluar para Raksasa). 



229 



Maya Cakru (the demon king): Delem. 

Delem: That's me. 

Maya Cakru: Get ready. 

Delem: Yes. 

Maya Cakru: We are already at the border. 

Delem: Already in the country of Ayodya? 

Maya Cakru: Right. 

Delem: Right. 

Maya Cakru: You can see the monkeys there. 

Delem: Wow. The monkeys are on guard 

everywhere. 

Maya Cakru: Get ready. 

Delem: Yes. 

Maya Cakru: But if I go inside... 

Delem: If you go inside. 

Maya Cakru: They will know. 

Delem: They will know. 

Maya Cakru: Right. 

Delem: Right. How can you do it? 

Maya Cakru: / have a plan. 

Delem: You will carry out your plan. The plan will 

prevail. We won't have to fight, but the enemy will 

die. It's like finding fish in a pool. The water is not 

dirty. The water lilies are not wilted. The fish will be 

caught. How? 

Maya Cakru: Because I heard that Commander 

Anggada (son of King Subali, who was killed by 

Rama) went to Siwa Loka. 

Delem: You heard the news that the red monkey 

went to Siwa's Heaven. 

Maya Cakru: Seeking holy water for purification. 

Delem: He will get holy water for a purification 

ceremony. And now? 

Maya Cakru: / will change my form to become a copy 

of Anggada. I will bring holy water, and distribute 

holy water to everyone. It will be made of poison. 

Delem: Aaaaa. Ha, ha, ha. Now, my master, you 

will change your form so that you will be seen as 



Maya Cakru: Delem. 

Delem: Tiang. 

Maya Cakru: Yatna! 

Delem: Ngih. 

Maya Cakru: Sampun prapta aneng ancaknia. 

Delem: Nganteg Cumin Yodyane. 

Maya Cakru: Yogya. 

Delem: Patut. 

Maya Cakru: Katon ikanang boset irika. 

Delem: Tuh bojoge mejaga pesliwer to. 

Maya Cakru: Yatna! 

Delem: Inggih. 

Maya Cakru: Kewala yan ngong masuk umanjing. 

Delem: Yan Iratu macelep. 

Maya Cakru: Ketara. 

Delem: Tawange. 

Maya Cakru: Yogya. 

Delem: Patut. Punapi carane? 

Maya Cakru: Winaya gelaraken. 

Delem: Naaaaa. Daya dabdabang. Daya ngeranang 

dayuh. Kenken carane mesiat pang sing (tawange), 

musuh pang bangka. Ngalih be di tlagane. lyehe 

pang sing puek, tunjunge pang sing layu. Be pang 

bakat. Punapi? 

Maya Cakru: Mapan Ngong ngarengga sira Wira 

Ngada lumaku aneng kunang Siwa Loka. 

Delem: Iratu miragi orti, kocap Bojog barake merika 

ka Siwa Loka. 

Maya Cakru: Ngulati kunang tirta Sudamala. 

Delem: Bakal ngalih tirta Sudamala. Sane 

mangkin? 

Maya Cakru: Ngong anyukti rupa nadi Ngada. 

Ngamong tirta, margiang tirta, gawe kunang 

wisya. 

Delem: Naaaaaa. Ha ha ha. Mangkin ampun Iratu 

kel mesiluman pang tawange, pang kadena Ngada. 



Maya Cakru: Delem. 

Delem: Hamba. 

Maya Cakru: Siaga! 

Delem: Ya. 

Maya Cakru: Sudah sampai di perbatasannya. 

Delem: Sampai sudah di negari Ayodya. 

Maya Cakru: Benar. 

Delem: Benar. 

Maya Cakru: Terlihat para monyet di sana. 

Delem: Wah monyet-monyet berjaga berseliweran. 

Maya Cakru: Siaga! 

Delem: Ya. 

Maya Cakru: Tetapi kalau Aku masuk ke dalam. 

Delem: Kalau paduka masuk. 

Maya Cakru: Kentara. 

Delem: Diketahui. 

Maya Cakru: Benar. 

Delem: Benar. Bagaimana caranya? 

Maya Cakru: Tipu muslihat dipakai. 

Delem: Naaa Akal dijalankan. Akal membuat adem. 

Bagaimana caranya berperang agar tidak diketahui, 

musuh agar mati. Ibarat menangkap ikan di kolam: 

airnya tidak keruh, teratainya agar tidak layu, 

ikannya didapat. Bagaimana? 

Maya Cakru: Aku mendengar si Perwira Ngada 

pergi menuju ke Siwa Loka. 

Delem: Paduka mendengar kabar, katanya si Monyet 

Merah pergi ke Siwa Loka. 

Maya Cakru: Mencari air suci Sudamala. 

Delem: Untuk mencari tirta Sudamala. Ya 

sekarang? 

Maya Cakru: Aku akan berubah wujud menjadi 

Ngada. Membawa tirta, membagikan tirta, yang 

sesungguhnya adalah racun. 

Delem: Naaaa. Ha ha ha. Sekarang paduka akan 

berubah wujud jadi Ngada, agar tidak diketahui, 



230 



/ 






< y i t;w 



^ / 



^V 



5«?^ 






U>.c 



^\ 



44^ 



v*^ 



dUu^ 



^^: 



^•^3t 



'Vi'i 



/ 



*Ki. 



Jp 



• 






?>?: 



Jit. 



Z^-:. 



l:-** 



A 



»* 



.^ 



•*^ 



Vi A 



r1 



»• 



.<•»:. 



f>j^:i 



S^^ 



[;:;?>< 



5^5p^^ 



^ 



^J^ 



|i» 



rr^vs 



f;!r<t 



\i'^:> 



"i^^ 
i.^^ 



Kh3 



^^s 



t 

'i 



y^ 



^fih 



Kjh-^ 



-■„/■ 

m. 

•j^^ 



if: 



:"^.^J*^. 



;v2s. ^ --*^.;| 



f>v 






-r^A 



-«. 






LJ. 



^ .» . W ^ 



."^J 



1 iiv-y. 't> 



'NM«»-t« 



■^15 



■'^:>5i?t 



fi> 



T^ 



% ^v 



*'^^>-^ 



•"^^ 



v^^ 



-■*V .A- 



.•%- 



^ 









VW*' 






J» « / %. 



:?/" 



.>- 




Anggada. That's what they will think. You will bring 

holy water that contains poison. You will distribute 

the water and all the monkeys will be defeated. 

Maya Cakru: Right. 

Delem: Now let's get ready. 

Chorus: ... (chants) 

Delem: Now, since Anggada is not at home, Maya 

Cakru will become Anggada. How can he imitate 

him exactly? He will imitate Anggada by pretending 

to carry the holy water (to Rama), but it will be full 

of poison. They will drink it. 

Sangut: If Anggada finds out about that, Delem will 

be charged, and taken to court. 

Delem: Why is that? 

Sangut: For imitating a friend. For stealing his 

identity. Now it is important to have our own 

identity. Whether it is good or bad, it is our own 

self, isn't that true? Even if it is a good imitation of a 

friend, what is that for? If Anggada finds out, what 

will he do? Take you to court.... 

Delem: Shut up. Shut up. Shut up. You can buy your 

way out of the law. 

Sangut: Don't think you can buy your way out of 

the law. False words will get you punched in the 

mouth. Be careful what you say. Be careful of what 

comes out of your mouth. Otherwise your mouth 



Ngaba tirta. Ditengah tirta jin cetik. Iratu nyiratin 
jeg peplekplek Bojoge. 

Maya Cakru: Yogya. 

Delem: Ngiring dabdabang. 

Sendon: ... 

Delem: Jani wireh I Ngada sing ada jumah. Jani 

dadi I Ngada. Pang kenken ben pang persis nempa. 

Nempa Ngada e. Ngaba tirta, di tengah tirta e jin 

cetik. Ia ngajeng. 

Sangut: Yen tawange ken Sang Ngada. Kel laporne 
ke pengadilan Melem ne. 
Delem: Dadi keto? 

Sangut: Nempa timpal. Sing ngelah jati diri adane. 
Iraga kan penting jani jati diri. Apin luwung, apin 
jelek diri sendiri, keto nake. Apin luwung niru 
timpal, kenken ne. Yen tawange lantas ken Sang 
Ngada, kel kudiang awake. Kena pengadilan... 

Delem: Nep nep nep nep! Hukum dadi bayah aaaa. 

Sangut: De ngawag-ngawag, hukum dadi bayah. 
Pelih baan ngomong jagure bungute nyen. Ngaba 
bungut melahang nake. Hati-hati ngaba bungut. 
Kene ba bungut me bo mangkug. Ngawag-ngawag 



agar dikira Ngada. Membawa tirta. Di dalam tirta 

diisi racun. Paduka yang membagikannya; wah 

bergelimpangan para monyetnya. 

Maya Cakru: Benar. 

Delem: Mari persiapkan. 

Sendon.... 

Delem: Sekarang kebetulan I Ngada tidak ada 

dirumah. Sekarang berubah wujud menjadi I Ngada. 

Bagaimana caranya meniru, agar persis. Meniru 

Ngada. Membawa tirta, di tengah tirta diisi racun. 

Dia yang makan. 

Sangut: Kalau diketahui oleh Sang Ngada, Melem 

akan dilaporkan ke pengadilan. 

Delem: Kenapa begitu? 

Sangut: Meniru teman. Tidak punya jati diri 

namanya. Sekarang ini pentingnya kan jati diri kita. 

Apakah baik, apakah jelek, itulah diri sendiri. Seperti 

itu semestinya. Walau baik, tetapi meniru teman; 

bagaimana ini. Kalau diketahui oleh Sang Ngada, 

akan dibagaimanakan dirimu. Kena pengadilan... 

Delem: Diam! Diam! Diam! Hukum boleh dibayar 

aaaa. 

Sangut: Jangan sembarangan, hukum boleh dibayar. 

Salah ngomong mulut kena pukul. Hati-hati ya, bawa 

mulut. Hati-hati bawa mulut. Apalagi mulut berbau 

busuk. Sembarangan berbicara. Makanya saya beri 



233 



will smell bad, if you just say anything that pops into 

your head. That's why I am telling you, Melem, that 

if you say something, it should be of value, so that 

you can imitate the voice of the cecek lizard. 

Delem: What does the voice of the cecek sound 

like? 

Sangut: Even though the cecek is a small creature, a 

small animal, the voice of the cecek is valuable. 

Delem: Why is it valuable? 

Sangut: Everytime people speak, everytime people 

speak in their homes, the voice of the cecek will be 

answered by human voices. 

Delem: How? 

Sangut: "Come down Goddess Saraswati. Oh, you 

valuable little creature"... The goddess Saraswati 

is the symbol of knowledge. The source of that 

knowledge is the dot or period, {cecek is a literary 

marking indicating the schwa sound, and cecek is also 

Balinese for lizard). That's why the Saraswati offerings 

include a cake shaped like a cecek. Saraswati is the 

symbol of knowledge. The source of knowledge 

comes from the dot. 

Delem: From what? 

Sangut: From the dot. Letters are made from an 

arrangement of dots. A straight succession of dots 

is called a line. 

Delem: A line? 

Sangut: A line. Do you know what the word for dot 

is in Indonesian? 

Delem: What? 

Sangut: "T/fz7c." Knowledge is based on dots. Letters 

are based on dots. Everything in the world is born 

out of a dot. {titik means dot in Indonesia and vagina 

in Balinese). You and I were born from a dot. 

Delem: Oh, you're bringing it down to that. 
Sangut: Yes, like that first. That's why you should 
not imitate the voice of a frog under the stairway. 



memunyi. Kelan cang ngorin Meleeem. Yan 
memunyi pang maji munyie. Pang ngidang nempa 
munyin Cecek. 

Delem: Munyin cecak? Engken ceceke? 

Sangut: Yapin ya cecek to barang cenik, buron 

cenik, maaji munyin ceceke. 

Delem: Ngudiang maji? 

Sangut: Ye kasal ada nak ngorta. Kasal ada nak 

ngerembug di bale e. Memunyi Ceceke sautange 

ken nake. 

Delem: Engken? 

Sangut: Turun Sang Hyang Aji Saraswati. O, maji 

barang Cenik... Sang Hyang Saraswati to lambang 

ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan to sumber 

uli Cecek. Kelan cara banten Saraswati misi 

jaja mepinda Cecek. Saraswati to lambang ilmu 

pengetahuan. Ilmu pengetahuan to mesumber uli 

Cecek. 



Delem: Uli apa? 

Sangut: Uli cecek. cecek ane mererod ngardi hurup. 

Ceceke mererod leser garis adane. 

Delem: Garis? 

Sangut: Garis, ceceke tawang Melem bahasa 

Indonesiane? 

Delem: Apaaa? 

Sangut: Titik. Ilmu pengetahuan to mesumber uli 

titik. Hurup itu mesumber uli titik. Di Gumine 

makejang mesumber uli titik. Melem cang sing uli 

titik lekadne. 

Delem: Oooooo. Kema aba ci. 

Sangut: Nah sing ketoang nden malu. Makane cang, 

kelan de nempa munyin idongkang beten undag. 



tau Meleeem. Kalau berbicara, agar omongannya 
mempunyai nilai. Agar mampu meniru suara cicak. 



Delem: Suara cicak? Bagaimana cicak nya? 

Sangut: Walaupun dia cicak itu benda kecil, binatang 
kecil: berharga suaranya cicak. 
Delem: Kenapa berharga? 

Sangut: Ya setiap ada orang berbincang, setiap 
orang-orang berembug, di balai-balai rumah. 
Cicaknya berbunyi, disahuti oleh orang-orang.... 
Delem: Bagaimana? 

Sangut: "...Turun Sang Hyang Aji Saraswati." Ooo, 
berharga barang kecil... Sang Hyang Saraswati itu, 
lambang ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu 
sumber dari cicak. Makanya pada upakara perayaan 
Saraswati berisi jajan berupa cicak. Itu Saraswati, 
lambang ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu 
bersumber dari titik. 



Delem: Dari apa? 

Sangut: Dari titik. Titik yang berderet membuat 

huruf. Titik yang berderet lurus garis namanya. 

Delem: Garis? 

Sangut: Garis. Cicak tahu Melem bahasa 

Indonesianya? 

Delem: Apaaa? 

Sangut: Titik (dalam bahasa Bali berarti bagian dari 

vagina). Ilmu pengetahuan itu bersumber dari titik. 

Huruf itu bersumber dari titik. Di dunia semua 

bersumber dari titik. Melem saya kan bermuasal 

dari titik. 

Delem: Ooooo. Kesana kamu alihkan. 

Sangut: Ya begitukanlah dulu. Makanya saya bilang, 

janganlah menirukan suara kodok dibawah tangga. 



234 




^ i^ 

->^- 






/ 




\ 



%-«< 



'■ Mi, 









■. 1.^ 







P^ kr^ %x 








Delem: Why? 

Sangut: If someone is speaking, and they are 

answered by a frog under the stairway who says, 

''Prut, prut, prut? ('Bullshit'). They will take a stick 

and push it into the frog's mouth. The frog is looking 

for trouble. It's like that. 

Delem: Shut up. Shut up. Shut up. I am the driver 

here. You are the assistant. Don't give orders to the 

driver. Your job is just to assist. Now it's already 

time. 

Sangut: Oh, it's so difficult, so difficult. You are 

confusing me. We already have a good country here 

in Segara Lungsur, but you will make problems again. 

What should I do now? Ohhhhhh. 

Chorus: .... (chants) 

Maya Cakru: / will speak some mantras and hope 

they are successful. I will try to unify speech, 

thought, and action so that I can change my form 

into an imitation of the red monkey. (There is 

a transformation and the puppet of Maya Cakru 

becomes the false Anggada) Now I can pay my 

respects to the king. 'Please forgive your servant 

Anggada. I want to pay my respects to my king." 

Oh, Anggada has arrived. 

Dalang: {singing) "He dares to conquer the world. 

Trying to unify it with his actions." 

Rama: My brother, Laksmana. How is it possible 

that Anggada has already arrived? 

Laksmana: That's right, my brother. Please. 

Dalang: (sings) 

False Anggada: I will pay my respects to you my 
king. But please forgive your servant for only now 
arriving, because there were a lot of accidents on the 
way. They impeded the path of the king's servant. 
But please forgive me. Ha ha ha ha. 



Delem: Engkeeeen. 

Sangut: Asal ada nak ngorta sautange ken dongkang 
beten undag. Prut prut prut. Jemak ne legitik uguge 
bungute. Dongkang ngalih wisya ne. Keto a. 



Delem: 'Ndep, 'ndep, 'ndep. Kaka sopir ci kernet. De 
sopire wawa. Urusan kernete gen to. Jani ba jani. 



Sangut: Aduh keweh-keweh. Aduh raga jeg inguh 
baane. Yen monto ba melah Gumine madan Segara 
Lungsur. Biin bakal ngae uru ara. Kudiang awake 
jani. Aduuuh. 
Sendon: ... 

Maya Cakru: Angeregep aken kunang japa mantra 
wak bajra. Anunggal kunang Bayu Sabda Idep. 
Lamakana matemahaken ikanang Boset Bang. 
Enaaaak. (berubah menjadi Anggada). Aduh 
pasang tabe sri narendra. Kewala kesamaakna 
pakuluuun sirang Ngada. Tabe-tabe Sri Narendra. 
Aduh Ngada dateng. 



Dalang: (gending) Sura dira jayaning raaaat. 

Lebur dening pangastuti. 

Rama: Sumirta putra antenku pwa kalaganta. 

Kadiang apaaa. Yayateki menawi sira Ngada wus 

prapta. 

Laksamana: Yogya kaka. Mabener. Saderaaaaaa. 

Dalang: (gending) "Kasayan ikang papa. Nahan 
prayojana. Ikang kaula. 

Anggada Palsu: Aduh pasang tabe Sri Nara Raja. 
Kewala ksamakna kang kaula. Mapan wawu 
nyatpada mapan akweh bencana madyaning 
awan, mengadang patik Sri Narendra. Kewala 
ksamaknaaaaa ksamaknaaa. Ha ha em ha ha. 



Delem: Bagaimana? 

Sangut: Kalau ada orang berbincang, disahuti oleh 
kodok dibawah tangga. Prut prut prut. Diambilkan 
kayu di tonjok-tonjok mulutnya. Kodok mencari 
bahaya. Begitu dia. 

Delem: Diam, diam, diam. Gua sopir lu kernet. 
Jangan sopir di perintah. Urusan kernet saja urus. 
Sekaranglah, ya sekaranglah. 

Sangut: Aduh susah-susah. Aduh, saya ini dibuat 
bingung olehnya. Padahal sudah punya Negara 
bernama Segara Lungsur. Lagi berulah buat masalah. 
Kuapakan diriku sekarang ini. Aduuuh. 

Maya Cakru: Memusatkan mantra dalam hati dari 
kekuatan bunyi, menyatukan tenaga, perkataan 
dan pikiran. Agar dapat berubah wujud menjadi 
Kera Merah. Semoga, (berubah menjadi Anggada). 
"Aduh hormat hamba kepada sang maharaja. 
Maafkanlah hambamu ini Si Ngada. Ampunilah 
hamba maharaja. Aduh, Ngada datang." 



Dalang: (gending) Gagah berani berjaya di dunia. 

Menyatu dari permohonan. 

Rama: Dinda Laksmana adiku. Bagaimana 

gerangan? Nampaknya mungkin ini si Ngada 

telah datang. 

Laksamana: Patut paduka. Memang benar. 

Silahkan. 

Dalang: {gendmg)"Menghilangkan kemelaratan 

rakyat diupayakan .... 

Aanggada Palsu: Aduh, hormat hamba pada 

Maharaja. Maafkan hamba ini abdimu. Karena 

terlambat datang, karena banyak halangan di tengah 

perjalanan, menghadang hamba abdimu paduka 

maharaja. Maafkanlah, maafkanlah. Ha ha em ha ha. 



237 



Rama: My son, Comander Anggada. My heart has 
no feeling other than happiness now, because you 
have already arrived here to stand before me. 

False Anggada: That is right, my king. Ha Ha ha. 

{Hanuman arrives) 

Hanuman: I pay my respects to you, my king. Oh, 

Hanuman is also happy, because my brother has 

already arrived, bringing holy water. But now, my 

king, please go inside first. Hanuman will ask his 

brother about something. 

Rama: If it is like that, be careful, Hanuman. 

Hanuman: Please, go ahead. 

Chorus sings 

Hanuman: My brother Anggada. 

Anggada: I am your brother. 

Hanuman: / am so happy, because my brother has 

arrived bringing holy water that can be used to 

complete the ceremony of King Rama. 

False Anggada: That's right. 

Hanuman: But before you go inside the palace I 

have a question for you. 

Anggada: / am ready. 

Hanuman: Anggada. 

Anggada: / am ready. 

Hanuman: {speaks in monkey gibberish). Are you 

deaf? Are you deaf? Anggada. 

False Anggada: (not having understood) Please go 

ahead. 

Hanuman: (more monkey gibberish) You are a 

counterfeit monkey. 

Chorus sings 

Delem: What's going on? 



Rama: Anaku Wira Ngada pwa kalaganta. Tan 

sipi gatinira tuas ulun kaya mangke. Mapan 

kita sampun prapta umedekaken cumawis kaya 

ingulun. 

Anggada Palsu: Aduh mabener Sri Narendra. Ha 

ha ha. 

(Datang Hanoman). 

Hanoman: Kruweeeeek. Tabe-tabe Sri Narendra. 

Aduh Maruti Hanoman juga garjita. Mapan 

antenku sampun prapta. Angawa kunang tirta. 

Kewala mangkin Sri Narendra manjing rumuhun! 

Maruti bipraya mewarah-warah lawan antenku. 

Rama: Yan tuhu mangkana yatna kalaganta 

Maruti! 

Hanoman: Lumaris! 

Sendon: ... 

Hanoman: Ranten ku Ngada pwa kalaganta. 

Anggada Palsu: Sadera kaka. 

Hanoman: Aduh aku garjita tan sipi, mapan 

antenku sampun prapta. Angamong kunang tirta. 

Ya matemahan cumawis sida karya yadnyan Sri 

Regawa. 

Anggada Palsu: Yugya-yugya. 

Hanoman: Kewala, sadurung kamu manjing 

aneng kunang Puri Kuta. Aku atetanya lawan 

kalaganta. 

Anggada Palsu: Sadera. 

Hanoman: Ngada. 

Anggada Palsu: Sadera. 

Hanoman: Kuweeep we wep. Wo wop, wo wop, we 

wep, we wep. Kal ci bongol? Bongol ci? Ngadaaa. 

Anggada Palsu: Sadera. 

Hanoman: Kuwe wep. We wep. We we wep. Wo 
wop. Wo wop. Wenara dusta baaaah. 
Sendon: ... 
Delem: Sapunapi? 



Rama: Anaku Perwira Ngada kamu. Tak terkira 
senangnya hatiku sekarang. Karena kamu sudah 
sampai menghadap dengan ku. 

Anggada Palsu: Aduh benar paduka Maharaja. Ha 

ha ha. 

(Datang Hanoman) 

Hanoman: Kruweeeek. Hormat hamba pada yang 

Mulia Maharaja. Aduh, Maruti, Hanoman juga 

bahagia. Karena adikku sudah kembali. Membawa 

air suci. Tetapi sekarang paduka maharaja masuk 

dahulu. Hanoman akan berpesan dengan adikku. 

Rama: Kalau demikian waspadalah kamu 

Hanoman. 

Hanoman: Silahkan! 

Sendon.... 

Hanoman: Adindaku Ngada kamu. 

Anggada Palsu: Baiklah kakanda. 

Hanoman: Aduh saya senang sekali, karena 

adikku sudah kembali. Membawa air suci. Yang 

akan membuat suksesnya upacara digelar oleh Sri 

Rama. 

Anggada Palsu: Benar-benar. 

Hanoman: Tetapi, sebelum kamu masuk ke dalam 

Istana. Aku bertanya dengan kamu. 

Anggada Palsu: Silahkan! 

Hanoman: Ngada. 

Anggada: Silahkan. 

Ha: Kuweeep we wep. Wo wop, wo wop, we wep, 

we wep. Kenapa kamu tuli? Tuli kamu? Ngadaaa. 

Anggada: Silahkan. 

Ha: Kuwe wep. We wep. We we wep. Wo wop. Wo 

wop. Monyet dusta waaaah. 

Sendon... 

Delem: Bagaimana? 



238 




'^ 



> ^ 



e-,-' 



'4'* ' -^ 






^zp^S 



^.._..- .'^_. . /fife,- w^of r.- I 





False Monkey: Run. There is a white monkey 
blocking the path of Commanderl Anggada. 

Delem: There is a white monkey blocking my master's 

path, asking questions in monkey language. 

False Anggada: That's right. 

Delem: I forgot to give you a course in monkey 

language. 

False Anggada: What should I do now? 

Delem: Don't worry, my master. Behind us there 

are still demons who will defend you. Oh, they will 

attack and kill the monkeys. 

False Anggada: Aaaahhh anger aahhh. 

Delem: Let's go. 

Chorus sings 

(The demons arrive) 

Sangut: Heh heh he he 

Delem: You are laughing. 

Sangut: This is a different kind of laughing. Actually 

Hanuman has become a judge. He doesn't want to 

accept a bribe. He really wants to uphold justice. 

What will you do about that? If Hanuman wanted 

to accept a bribe, you and your king would be free. If 

Judge Hanuman accepted bribes, he would surely be 

a bad judge. So what will you do now? That's why I 

told you before. People shouldn't try to be someone 

else. They should just be themselves, and not try to 

steal the identities of others. How can you defend 

yourself now? 

Delem: Shut up. Shut up. Shut up. I will use my own 

power. My body is strong and I have a lot of money. 

Now is the time. The demons are powerful. They will 

eat the monkey judge. 

Sangut: We are already resorting to violence. The 

law will not be upheld. Can violence be used this 

way? Maybe it would be better if the law were upheld. 

The people will be witnesses. The media will expose 

the proceedings of the trial. I think Melem's Master 



Anggada Palsu: Melayu. Hana Boset petak ngadang 
Wira Ngada. 

Delem: Wenten Bojog Putih nyaga Ratu metakon 

aji basa bojog? 

Anggada Palsu: Yogya. 

Delem: Tuh engsap ngemang kursus basa bojog. 

Anggada Palsu: Kadiang apa? 

Delem: Aaaah Iratu sampunang sumandang saya. 

Ring ungkur kari wenten Raksasa pacang mebela 

pati ring anggan Iratu. Aaah, papagin Bojoge jeg 

matiang bojoge. 

Anggada Palsu: Aaah kroda. 

Delem: Ngiring. 

Sendon: ... 

(Keluar para Raksasa). 

Sangut: He he he he. 

Delem: Kedek? 

Sangut: Aing nak kedek len ne. Benengen ne dadi 

Hakim Sang Hanoman. Tidak mau menerima suap. 

Betul-betul menegakkan hukum to. Kudiang awak 

to? Yen ada lantas Sang Hanoman ngidang suap, 

mara ngidang loos to. Amun Hakim Sang Hanoman 

dadi hakim, mau dengan suap. Jeg pasti terjegal. 

Ooo kudiang awake jani to. Makane orin cang. De 

demen menjadi orang lain. Jadilah diri sendiri. 

Kudiang awake ba pelih o. Ngudiang melaning 

awak. 

Delem: Nep nep nep! Sakti anggon. Awak siteng. Pis 
liu ngelah. Jani ja. Raksasa sakti-sakti. Apa Hakim 
Bojog jeg amah nas ne. 

Sangut: Badah ne ba main keras ba lantas. Hukume 
sing mejalane. Dadi nak main keras keto na. Kan 
hukume jalanin. Masyarakat akan jadi saksi. 
Media-media akan mengekspos jalanya sidang. 
Ooo. Ngencot cang sesuhunan Melem gelem biin 



Anggada Palsu: Lari. Ada Monyet Putih 
menghadang perwira Ngada. 

Delem: Ada Kera Putih menjaga paduka seraya 

bertanya dengan bahasa monyet. 

Anggada Palsu: Benar. 

Delem: Aduh, kelupaan memberi kursus bahasa 

monyet. 

Ap: Bagaimana? 

Delem: Aaaah paduka jangan khawatir. Di belakang 

masih banyak raksasa akan membela paduka. Aaah, 

hadapi monyetnya. Bunuh monyetnya. 

Anggada Palsu: Aaaa geram. 
Delem: Mari. 
Sendon.... 

(Keluar para Raksasa). 
Sangut: He he he he 
Delem: Tertawa? 

Sangut: Ndak. Orang saya ketawa lain, nih. 
Kebetulan yang menjadi hakim Sang Hanoman. 
Tidak mau merima suap. Betul-betul menegakkan 
hukum, beliau. Dibagaimanakan diri ini? Kalau saja 
Sang Hanoman bisa disuap, baru barangkali bisa 
lolos. Jika yang jadi hakim adalah Sang Hanoman, 
mau disuap, pasti terjegal. Ya, mau diapakan diri ini. 
Makanya saya bilang, jangan senang menjadikan diri 
orang lain. Jadilah diri sendiri. Mau diapakan lagi, 
orang diri sudah salah. Gimana caranya membela 
diri, sekarang? 

Delem: Diam, diam, diam! Kesaktian dipakai. Pisik 
kuat. Uang banyak. Sekaranglah. Raksasa sakti- 
sakti. Apa itu hakim monyet, lalap saja dia. 

Sangut: Wah, sudah main keras jadinya. Hukum 
tidak ditegakkan. Apakah boleh main kekerasan 
seperti itu? Mestinya kan hukumnya dijalankan. 
Masyarakat akan jadi saksi. Media-media akan 
mengekspos jalannya sidang. Ooo. Keterlaluan 



241 



might suddenly get sick tomorrow. {A reference to 

ex-President Suharto avoiding corruption trials by 

feigning illness). 

Delem: Why is that? 

Sangut: A lot of people do that. When the trial 

begins they get sick. They make the job difficult. It's 

difficult to ask questions when people get sick. That 

is a powerful way to fight the law. 

Delem: How is that? 

Sangut: By pretending to be sick. A little scab, and 

they are sick. If there is a little scab, they say they are 

sick. A little headache. They're sick. 

Delem: Isn't there a doctor? 

Sangut: Doctors. There are many honest doctors. 

And there are many so-called doctors that accept 

bribes. 

Delem: They want a confirmation of their sickness. 

Sangut: Not all doctors are like that. I don't want 
my mouth to say the wrong thing again. I don't dare. 
I'm talking about the 'so-called' doctors. Isn't it like 
that? What can you do? People always say, 'Satwam 
Eva Jayate" Meaning 'The truth will come out in the 
end." Ohh. Sooner or later. It's still like that. That's 
why Melem wants to become governor. If Melem 
really became governor here in Segara Lungsur, 
and held power, no law could touch you. When 
you leave office, the corruption commission will be 
questioning you. In that way they will find Melem. 
When you leave office Melem will be investigated 
by the corruption commission (LP3). That's why all 
your wealth will be audited. Where does this come 
from? Where does that come from? When you are 
holding office in power, no law can touch you, because 
you yourself made the laws. When you leave office, 
they will find you. . . . That's why I told you, you have 
to be brave enough to take responsibility for your 
actions. Don't talk a lot. That's why I say, "Satwam 



mam nyen. 



Delem: Kal keto? 

Sangut: Liu keto. Asal sidang geleeem. Sidang 

gelem. Bench nak sukeh, sukeh menginterograsi 

orang gelem soalne. To ba, toba kekuatan paling 

ampuh to ngelawan hukum. 

Delem: Sangkal keto? 

Sangut: Sangkal aliha geleeeem. Bolenan geleeem. 

Bolenan misi, sakit bolenan orange. Pengeng gigis 

geleeem. 

Delem: Kan ada dokter. 

Sangut: Dokter. Dong liu doktere jujur. Ada dokter 

oknum yang begitu kan keto dadi tombok. 

Delem: Nyak ba ya neken gelem. Sing keto ya? 

Sangut: Sing ja onya doktere keto. Biin pelih 
bungute nyen. Sing bani nyen. Kan oknum raosange, 
oknum. Kan keto. Kel kudiang? Cara omongan 
sesai to, Satwam Eva Jayate. Kebenaran akan pasti 
menampakan diri. Ooo. Lama atau cepet. Tetep 
to. Kelan Melem nagih dadi Gubernur. Saja nyen 
Melem dadi Gubernur dini di Segara Lungsur. 
Benengan Melem ngisi jabatan sing ada hukum 
ane paek. Di suba suwude tetele Melem ken badan 
pemeriksa korupsi to. Keto, aliha ba Melem. Di ba 
suwud aliha ba Melem ooo. LP3 to. Awanin jani 
telah kekayaan Meleme di audit. Ne dija tekane- 
ne dija tekane? Dija kaden tekane. Kudiang awake? 
Dibenengan ngisi jabatan, saja sing paek huMaya 
Cakrue bani. Pedidi ngae hukume to. Ba suwud 
aliha benya.... sangkal cang ngorang, bani berbuat 
bani bertanggung jawab. Bedikan omongan. Kal 
cang ngorang SaTwam Eva Jayate. Kebenaran pasti 
akan menampakan diri. 



junjungan Melem, bisa sakit nanti. 



Delem: Kok begitu? 

Sangut: Banyak yang begitu. Asal sidang, sakit. 

Sidang, sakit. Masalahnya, orang emang sulit, sulit 

menginterograsi orang sakit. Itu 'dah, itulah, jadi 

kekuatan yang paling ampuh melawan hukum. 

Delem: Kenapa begitu? 

Sangut: Setiap dicari, sakiiiiit. Panu sakit. Kena 

panu, sakit panu dibilang. Pusing sedikit, sakiiit. 

Delem: Kan ada dokter. 

Sangut: Dokter, Memangnya banyak dokter 
yang jujur. Ada oknum dokter yang begitu..., bisa 
disuap. 

Delem: Mau 'dah menandatangani surat sakit. 
Bukankah begitu? 

Sangut: Tidaklah semua dokter seperti itu. Nanti 
salah lagi mulutku. Takut aku. Makanya dibilang 
oknum. Gitu kan? Mau dibagaimanakan lagi. Bukan 
begitu. Akan dibagaimanakan lagi? Seperti sering 
telah dislogankan Satwam Eva Jayate. Kebenaran 
akan pasti menampakan diri. Ooo. Lama atau cepat. 
Tetap itu. Makanya Melem minta jadi Gubernur, 
Melem sungguh bisa jadi Gubernur di sini di Segara 
Lungsur. Selama Melem memegang j abatan tidak ada 
hukum yang berani mendekat. Ketika sudah selesai 
menjabat, dituntutlah Melem oleh badan pemeriksa 
korupsi itu. Begitu. Dicarilah Melem. Ketika selesai, 
dicarilah Melem ooo. oleh LP3. Makanya sekarang 
seluruh kekayaan Melem diaudit. Yang ini darimana 
datangnya? Ini dari mana datangnya? Tidak tahu, 
darimana sih datangnya? Mau bilang apa lantas? 
Memang ketika masih memegang jabatan tidak 
ada hukum yang berani mendekat. Ketika sudah 
selesai, dicarilah kita. Makanya saya kasih tahu: 
berani berbuat berani bertanggungjawab. Kurangi 



242 






K 




W , 



TK: 





I 



• •?„ 



\ 




\< 



^Mr 



^''>\ 



^-^'^ 



-'y' '• 



.>*t-? 



^•1 



:'/ 



\ 



■J^-^i 



■^ L' V 







V 



.TV^ 



•'-•■^ 



'^ 



to* ^ 



I 





i 



■0 



:•.•" 



«•('a 



*?^^. 



Eva Jayate' which means "The truth always comes 

out in the end." 

(The exact translation of the phrase is "Truth will 

emerge victorious," but the servant gives his own 

spin to the translation.) 

Delem: Okay, lets get moving. Now I will eat that 

one. (the white monkey) 

Chorus sings 

Hanuman: My father, Sugriwa, king of the monkeys. 

Prepare to give orders to all the monkeys, because a 

horde of demons are trying to kidnap Lord Rama. 

Krueeeeek. 

{sound of monkeys arriving) 

Monkey: kruweeeek. Ha ha aiii. 

Raksasa: Haaa. Out of my way, you monkeys. I am 

looking for Rama. To kill him. To kill him. To kill 

him. He he he. Because he created the disaster that 

killed our former king. He unleashed chaos. 

Hanuman: Krueeek. You are full of empty boasting. 

What? Kill Rama? I will prevent his death. If you are 

truly a good soldier, fight against me, Hanuman. 

Raksasa: Damn you. 
(Hanuman and the demon fight) 
Dalang: aih ahi ahi. 

Dalang: laaahh aoiiik aik aik. Aik aik aik. laaah ah. 
Weeee, kruweeek. 

Dalang: Kruweek aii. 

{Hanuman continues to fight with the demon) 

Chorus sings 

Sangut: Wow. The monkeys are everywhere. The 

demons are as big as Rangdu trees. Yeee, Nyoman. 

{speaking to another puppet that has arrived, a 

common man) 

Nyoman: What's going on? 

Sangut: Why have you just arrived? 



Delem: Nah dabdabang, Jani kaka ngamah tooo. 

Sendon: ... 

Hanoman: Bapa kapi Raja. Sedeng yatna tamtam 
Wore- Wore sedaya! Apan Raksasa kweh bipraya 
mengep Sri Rama Badra. Kruweeeek. 

(Keluar para Bojog). 

Bojog: Kruweeeeek. Ah ah aaah Aiii. 

Raksasa: Heeeee Haaaa. Minggir-minggir 

kalaganta Beset! Maperih sirang Regawa. Pejah 

pwa ya, pejah pwa ya. He he he. Mapan ya ngawe 

kabancana mejah Bapa rumuhun. Angulatdara. 

Hanoman: Kruweeeek. Cangkah-cumangkah 

kalaganta mojar. Apaaa? Maperih sirang Sri 

Regawa? Aku pinaka penelang patinira. Yan tuhu 

kau prawira pagpaga yeki Maruti. 

Raksasa: Ah bobab. 

(Hanoman dan Raksasa bertempur). 

Dalang: Aih aih aih. 

Sendon: ... 

Dalang: laaah aoiik aik aik. Aik aik aik iaaah ah. 

Weeee. Kruweeek. 

Sendon: ... 

Dalang: Kruweeek Aiii. 

(Hanoman terus berperang dengan Raksasa). 

Sendon: ... 

Sangut: Aruh Bojog-bojoge. Raksasa aman punyan 

Kepuhe. Yeee Nyoman. 



Nyoman: Engkeeeen. 
Sangut: Ngudiang mara pesu? 



membual. Makanya saya bilang: Satwam Eva Jayate. 

Kebenaran pasti akan menampakkan diri. 



Delem: Ayo bersiaplah. Sekarang aku makan ituuu. 

Sendon... 

Hanoman: Ayahanda Sugriwa. Waspadalah. 

Persiapkan kera-kera semua! Karena tidak sedikit 

Raksasa berkemauan mencelakai Rama Dewa. 

Kruweeek. 

(Keluar para Bojog) 

Kera: Kruweeek. Ah ah aaaah aii. 

Raksasa: Haaaa. Minggir-minggir kamu kera! Aku 

mencari Rama. Matilah dia. Matilah dia, mati dia. 

He he he. karena dia membuat bencana membunuh 

raja dahulu. Membuat onar. 

Hanoman: Kruweeeek. Bicaramu sembarangan. 

Apaaa? Mau membunuh Rama? Aku sebagai 

penghalang kematiannya. Kalau memang kamu 

perwira hadapi ini Hanoman. 

Raksasa: Ah bangsat. 

(Hanoman dan Raksasa bertempur). 

Dalang: Aih aih aih. 

Dalang: laaaah aoiiik aik aik. Aik aik aik iaaah ah. 
Weeee, Kruweeek. 

Dalang: Kruweeek aiii. 

(Hanoman terus berperang dengan Raksasa). 

Sendon 

Sangut: Aduh kera-kera. Raksasa sebesar pohon 
Rangdu. Yeee Nyoman, 



Nyoman: Bagaimana. 
Sangut: Kenapa baru datang? 



245 





Nyoman: Whether I arrive first or last, I still don't 
get anything. The results are the same. 

Sangut: Where are you going? 

Nyoman: Nowhere in particular. Just walking 

around here. 

Sangut: You're not going with us? 

Nyoman: Where? 

Sangut: To battle. 

Nyoman: Against who? 

Sangut: The monkeys. 

Nyoman: What did the monkeys do wrong? 

Sangut: The monkeys are the enemies of Sang Kal 

Maya Cakru {the demon who tried to impersonate 

Angga d a) 

Nyoman: Should I become the enemy of my friend's 

enemy? If someone dies, would you order me to die, 

too? My head will grow bald if I thought like that. 

Sangut: What are you talking about? 

Nyoman: Nothing. 

Sangut: Those are our orders, Nyoman. 

Nyoman: What kind of order is that? 

Sangut: Everyone should fight now. Small, young, old, 

pregnant, one-eyed, one-legged, everyone should fight. 



Nyoman: Maluan pesu mase sing maan apa. Siduri 
patuh. 

Sangut: Kel kija ne? 

Nyoman: Sing kija, Ineng-ineng dini gen ja. 



Sangut: Ci sing bareng? 

Nyoman: Kija? 

Sangut: Mesiat! 

Nyoman: Nyen lawan? 

Sangut: Bojoge. 

Nyoman: Apa pelih Bojoge? 

Sangut: Bojoge memusuh ken Sang Kala Maya 

Cakru. 

Nyoman: Timpale memusuh wake barengan ci? To 
nake mati, wake bareng orin ci mati? Lengar nase 
yen berpikir gen terus. 

Sangut: Engken ne? 

Nyoman: Engken sing. 

Sangut: Nak perintah ne Man. 

Nyoman: Perintah engken? 

Sangut: Kel mekejang jani mesiat. Cenik, kelih, tua, 

bajang, peceng, perot, makejang mesiat. 



Nyoman: Walaupun duluan datangnya, toh juga 

tak dapat apa-apaan. Sama dengan yang datang 

belakangan. 

Sangut: Mau kemana ini? 

Nyoman: Tidak kemana, keluyuran di sini saja. 

Sangut: Kamu tidak ikut? 

Nyoman: Kemana? 

Sangut: Berperang! 

Nyoman: Siapa yang dilawan? 

Sangut: Kera. 

Nyoman: Apa salahnya kera? 

Sangut: Kera bermusuhan dengan Sang Kala Maya 

Cakru. 

Nyoman: Orang lain bermusuhan, kok saya kamu 

ikut dilibatkan? Kalau orang mati, kamu juga suruh 

saya ikut mati? Botak kepala jadinya kalau berpikir 

saja terus. 

Sangut: Bagaimana ini? 

Nyoman: Enggak apa-apa. 

Sangut: Orang ini perintah, Man. 

Nyoman: Perintah bagaimana? 

Sangut: Sekarang ini semua orang ikut berperang. 

Kecil-besar, tua-muda, buta-pincang, semua berperang. 



246 



Nyoman: Small, young, old, pregnant, one-eyed, 

one-legged. All should fight? 

Sangut: Follow them. 

Nyoman: Should my grandfather, who is dying at 

home, also come to kill the enemy? How can he kill 

the enemy when he can hardly walk? Is your voice 

coming out of your mouth, or someplace else? 

Sangut: I am clever, but he is even more clever. 

This one is really clever. It's like this, Nyoman. It's 

like this, Nyoman. I will say a little something to 

Nyoman. 

Nyoman: You can say a lot. It's okay. The world is 

now free. Please say as much as you want. 

Sangut: Nyoman doesn't want to follow? 

Nyoman: Why should we fight with all our friends? 

Sangut: Nyoman, where are you going? 

Nyoman: I will buy some Kentucky Fried Chicken. 

Sangut: To give to whom? 

Nyoman: To give to my wife. In my opinion my wife 

is number one. It is difficult for me. I am already 

old. My wife is young. 

Sangut: So, your wife is young? 

Nyoman: She is young. I was forty years old when we 

got married. My wife was twenty when we married. 

I was so happy. When I was fifty, my wife was thirty. 

When I was sixty, she was forty. My wife wants sex, 

but I am too weak. 

Sangut: Ha ha ha. That's why I told you, Nyoman. 

Don't marry a wife that is too young. 

Nyoman: She is faithful to me. No one is faithful to 

you. 

Sangut: So what happens now? 

Nyoman: Nothing. 

Sangut: Now you just think about satisfying your 

neighbors. The neighbors are satisfied. 

Nyoman: That's okay. I sold my wife on purpose. 



Nyoman: Cenik, kelih, tua, bajang, peceng, perot. 

Bareng mesiat? 

Sangut: Bareng. 

Nyoman: Kake jumah ne mekere bangka to bareng 

ngematiang musuh. Salihte ngematiang musuh 

mejalan kake to sing ngidang. Ci bungut ci memunyi 

apa apan ci ne? 

Sangut: Ooo raga ba pahit ne biin pahiten. Pait ne 

pait. Kene Man kene Man. Gang bedik gen ngomong 

ken Man. 

Nyoman: Pang liu dadi. Nak Gumi bebas jani 

ngomong ba ci. Kal ulung munyi nah. 

Sangut: Man sing bareng? 

Nyoman: Ngudiang timpale telah lawan? 

Sangut: Man kija ne? 

Nyoman: Kel meli kentuky kud. 

Sangut: Bang nyen? 

Nyoman: Baang kurenane. Raga kan kurenane 

malu ucukang. Raga keweh kene to. Awak ba tua. 

Kurenen cenik, bajang tesan. 

Sangut: Men kurenan Mane bajang? 

Nyoman: Bajang to. Raga pidan meumur tang asa. 

Kurenane meumur duang asa ked juang. Lega atie. 

Raga meumur seket, kurenane telung dasa umurne. 

Raga nem dasa ya tang asa. Kurenane sedeng 

mekitae raga sedeng woon ne to. 

Sangut: Ha ha ha, Kelan cang ngorin Man. De ngalih 

kurenan bes cenik. 

Nyoman: Wak kegugu. Gi sing kegugu. 

Sangut: To kudiang jani ne? 

Nyoman: Kudiange sing. 

Sangut: Betek ngurusin pisaga gen ci. Pisagane 

betek. 

Nyoman: Pang ba. Jelap biin kel adep kurenane. 



Nyoman: Kecil-besar, tua-muda, buta-pincang, 

semua ikut berperang? 

Sangut: Ikut. 

Nyoman: Kakek yang jelang mati di rumah, ikut dia 

membunuh musuh? Jangankan membunuh musuh, 

berjalan saja kakek itu tidak bisa. Kamu mulut mu, 

bicara apa apaan nih? 

Sangut: Ooo Kalau awak sudah merasa cerdik, ini 

lebih cerdik lagi. Gerdik sunguh cerdik. Begini Man, 

begini Man. Tak banyak saya bicara dengan Man. 

Nyoman: Banyakpun boleh. Sekarang ini era bebas, 

bicara 'dah semanmu. Asal keluar bicaramu.... 

Sangut: Man tidak ikut? 

Nyoman: Kenapa teman semua dilawan? 

Sangut: Man kemana ini? 

Nyoman: Akan membeli kentucky satu. 

Sangut: Mau kasih siapa? 

Nyoman: Kasih istriku. Kalau saya kan istri yang 

didahulukan. Saya sulit begini. Saya sudah tua. Istri 

masih kecil, muda lagi. 

Sangut: Istrimu muda, Man? 

Nyoman: Muda dia. Ketika dulu saya berumur 

empat puluh, istriku berumur dua puluh, ketika 

dinikahi. Amat senang hatiku. Saya berumur lima 

puluh, istriku berumur tiga puluh. Saya enam puluh 

dia empat puluh. Istri sedang bernafsunya saya 

sedang lesunya. 

Sangut: Ha ha ha, makanya saya beritahu kamu, 

Man. Jangan mencari istri terlalu muda. 

Nyoman: Saya dipercaya. Sedangkan, kamu tidak 

dipercaya. 

Sangut: Lalu mau diapaain sekarang ini? 

Nyoman: Enggak apa, sih. 

Sangut: Tak henti mengurus tetangga saja kamu. 

Tetangganya yang kenyang. 

Nyoman: Biarlah. Sengaja 'kan 'ku jual istriku. 



247 



Sangut: Why is that? 

Nyoman: I hope my wife will have many other 

lovers. 

Sangut: Why is that? 

Nyoman: If she has ten lovers, every night she earns 

a hundred thousand from each one. I will get one 

million in cash. All I have to do is sign. 

Sangut: Nyoman, Nyoman. 

Nyoman: What? 

Sangut: I am telling you, Nyoman. 

Nyoman: Don't give me any philosophy. I already 

eat philosophy every day. Nobody is interested in 

advice these days. Most people are deaf, but they 

can hear. 

Sangut: What is that called? 

Nyoman: If I give them money, they can hear. If I 

give them work to do, they are deaf. Now it is always 

like that. People don't want to listen. I am feeling 

only happiness now. You are young. Your wife is 

old. You are looking for a grandmother. So don't 

try to teach me any more. I don't want your lessons. 

Tomorrow your wife will die. You hope your wife 

will die so you can get another one. You are looking 

for the old ones. You have shared all the wives of 

your friends. Tliey can only sit on your lap. You 

should look for one that can do more. Now that my 

wife is young and I am old, I tell her to just give me 

a massage. 

Sangut: Just a massage, Nyoman? 

Nyoman: Yes, that's it. 

Sangut: So, Nyoman has never gone to war? 

Nyoman: Why fight? I love peace. 

Sangut: Those are our orders. 

Nyoman: Are you the leader? What will you 

become? 

Sangut: The servant. 



Sangut: Adi keto? 

Nyoman: Wak madak pang kurenan wake liu ngelah 

mitra. 

Sangut: Adi keto? 

Nyoman: Ngelah mitra neng dasa gen, sebilang 

peteng ngenyuhin pis padum satus tali, satu juta 

wak ngelah pis. Wake sing neken-neken gen. 

Sangut: Man, Man. 

Nyoman: Engkeeen? 

Sangut: Gang ngorin Man. 

Nyoman: De j a wake baang tutur. Wake ba ngamah 

tutur ngelemah. Sing ada nak dadi tuturin jani. Nak 

ba liunang bongol ningeh. 

Sangut: Apa madan keto? 

Nyoman: Baang pis ningeh. Baang gae bongol. Jani 
nyen pang keto. Ada sing nak ningeh. Wak demen- 
demen ati kene pa. Ci wak truna kurenan ci tua. 
Dadong-dadong alih ci. Sangkal de urukane cang 
biin. Misi ngurukan tara ditu. Mani gen bangka. 
Madak mati se biin maan ngalih. Ci ngalih ne tua- 
tua to. Kelah abilan timpale amah ci. Dadi abin- 
abin dogen? Pang dadi adokan nake. Ooo jani api 
nyen kurenan ba siteng. Wake ba tua, orin mijit- 
mijit dogen to. 



Sangut: Mijit-mijit Man? 

Nyoman: Aa to. 

Sangut: Dong Man sing maan mesiat nen? 

Nyoman: Ngudiang mesiat? Raga 'kan cinta damai. 
Sangut: Nak perintahe keto. 
Nyoman: Ci dadi kelian? Ci dadi apa? 

Sangut: Parekan! 



Sangut: Kenapa begitu? 

Nyoman: Saya berharap istri saya banyak punya 
selingkuhan. 
Sangut: Kenapa begitu? 

Nyoman: Punya selingkuhan sepuluh saja, setiap 
malam memberi uang seratus ribu, satu juta saya 
punya uang. Saya 'kan tanda tangan-tanda tangan 
saja. 

Sangut: Man, Man. 
Nyoman: Bagaimana? 
Sangut: Saya beri tahu Man. 

Nyoman: Jangan saya diberi nasehat. Makanan 
sehari-hari saya nasehat. Tidak ada orang bisa 
dinasehati sekarang. Orang kebanyakan sudah tuli 
mendengar nasehat. 
Sangut: Apa namanya begitu? 
Nyoman: Dikasih uang dengar. Dikasi kerja jadi 
orang tuli. Siapapun sekarang begitu. Tidak ada 
orang mendengar. Awak hanya nyenengi hati 
dewe. Kamu muda, istrimu tua. Nenek-nenek yang 
kamu cari. Makanya jangan ngajarin saya lagi. Beri 
nasehat lagi. Besok saja mati dia. Semoga mati, kan 
dapat mencari lagi. Kamu itu mencarinya yang tua- 
tua saja. Makanya ladang orang kamu lalap. Kamu 
kira hanya cukup dipangku saja? Agar bisa dipakai 
semestinya. Ooo sekarang walaupun istri muda, 
saya sudah tua, suruh memijat-mijat saja tuh. 



Sangut: Memijat-mijat Man? 

Nyoman: Ya itu. 

Sangut: Lho emangnya Man belum dapat 

berperang? 

Nyoman: Kenapa berperang? Saya kan cinta damai. 

Sangut: Orang perintahnya begitu. 

Nyoman: Kamu kan jadi ketua? Kamu jadi apa? 



Sangut: Abdi! 



248 








■aSteft^rV 



/ 



Y 



Y 








"'^fir'-^ 



( ^ 



i 




W 



( 



>^"^Vv, 




M= 



/ 



5 



i 



\ 



_ t 



^V' 



Nyoman: What is a servant? It is just the one who 
eats whatever is close. He is the one who gives the 
king clever ideas about how to improve the world. 
Why use them for fighting? Lord Rama, you should 
know, is like a bumblebee, Rama the Bee. 
Sangut: How is he like a bumblebee? 
Nyoman: We must have many teachers in our lives. 
Choosing which of their examples to follow is like 
picking leaves from plants or fruit from trees, like 
animals do. 

Sangut: So why do you say that Rama is like a bumble 
bee? 

Nyoman: The bee, you should know, lands on the 
leaf, but the leaf does not break. He lands on the 
twig. The twig does not break. He lands on the 
branch. The branch does not break. He lands on the 
flower. The flower does not break. But he fertilizes 
the flower, helping the flower, renewing the life of 
the flower. What is the result? 
Sangut: What? 

Nyoman: Honey. That is the best result. That's how 
the bee is good. But you have to be careful with 
bees. Because if you do something wrong, and play 
around with the beautiful bee, you will surely be 
stung by it. Lord Rama is trustworthy. No matter 
how brave you are, you will be stung by lord Rama. 
Lord Rawana had a lot of power. He was killed by 
Lord Rama. He has monkey servants. But, you only 
have a big mouth. The snake is looking for the stick 
(that will beat him). You are telling me to die, but 
I already understand. You will take my wife. Your 
idea is as shallow as a beetle hole. I have a brain with 
principles. Like the proverb. Making a bridge over 
a beetle hole. Blowing to cool down cold rice. You 
already know that the hole of the beetle is small, but 
you still build a bridge over it. You already know 
that rice is cold, but you still blow on it to cool it 
down. The point is that we must always be cautious. 



Nyoman: Apa parekne apa paek pang leklek. Orin 
nake Sang Prabu peduwegan nake ngemelahang 
Gumi. Leklek anggon mesiat. Sang Rama to pang ci 
nawang, nak cara Nyawan Sang Rama. 

Sangut: Nyawan kenken? 

Nyoman: Raga kan harus hidup banyak berguru. 
Memetik contoh ken entik-entikan. Ken tumbuh- 
tumbuhan, ken binatang. 

Sangut: Mawinan Man ngeraosang Sang Rama cara 
Nyawan? 

Nyoman: Nyawan to pang ci nawang, meencegen di 
daune. Daune kel sing patah. Meencegan di carang 
kayune, carang kayune kel sing patah. Meencegan 
di rantinge, rantingpun tak patah. Meencegan di 
bunga, bunga tak rusak. Bahkan ngae penyerbukan. 
Membantu bunga. Mengawinkan bunga. Nyawane 
apa hasil na? 
Sangut: Apa? 

Nyoman: Madu. Kemelahang hasilange. Keto 
luwung nyawane. Tapi ci hati-hati ken nyawan. Ulian 
pelih baan ci ngaba awak, dipermainkan nyawan ne 
bagus to. Sing buwung ci kel gincere ken ya. Sang 
Rama mara polos. Sang Rama nyen banin ci, ci kel 
gincere ci. Sang Rahwana pidan omeh saktine. Mati 
mase ken Sang rama, mepanjak Bojog. Salih cai 
kene bungut dogen. Lelipi ngalih legitik ci ne. Ci 
ngorin wake mati, ba tawang wake. Ba mati wake. 
Kurenan wake ci nyuwang. Dakenang ken song 
beduda. Wake kan ngelah otak neglah prinsip. Cara 
senggake, song beduda biin titinin. Nasi dingin biin 
upinin, ooo. Ba seken song beduda cenik biin jin 
titi. Ba seken nasi dingin biin upinin. Tetuekne raga 
waspada to. Hati-hati raga. Kaden nake, air tenang 
menghanyutkan. Mara air tenang kaden sing dalem 
to. To cemplungen ci. Nyilem bol cie. 



Nyoman: Abdi apa, apa yang dekat agar dimakan. 
Beritahulah Sang Raja agar mampu membuat 
Negara membaik. Kenapa kok dipakai berperang. 
Agar kamu tahu saja. Sang Rama itu ibaratnya 
Lebah, Sang Rama. 
Sangut: Lebah bagaimana? 

Nyoman: Kita hidup, kan harusnya banyak berguru. 
Memetik contoh pada tumbuh-tumbuhan, mana 
pohon-pohonan, sama binatang. 

Sangut: Sebabnya Man bilang Sang Rama seperti 
lebah? 

Nyoman: Agar kamu tahu saja, ketika bertengger di 
daun, daunnya tidak patah. Bertengger di ranting, 
ranting tidak akan patah. Bertengger di bunga, 
bunga tak rusak, bahkan membuat penyerbukan. 
Membantu bunga. Mengawinkan bunga. Lebah, apa 
hasilnya? 

Sangut: Apa? 

Nyoman: Madu. Kebaikan hasilnya. Itulah 
kebaikannya lebah. Tapi kamu mesti hati-hati 
dengan lebah. Bila salah kamu membawa diri, 
dipermainkan lebah yang tampan itu. Tidak urung 
kamu akan disengat olehnya. Sang Rama baru polos. 
Kalau kamu berani dengan sang Rama, kamu akan 
disengat kamu. Sang Rahwana dulu betapa saktinya. 
Mati juga oleh Sang Rama yang berlaskarkan kera. 
Apalagi kamu ini mulut saja. Tak ubahnya seperti 
ular mencari tongkat, kamu. Kamu nyuruh saya mati; 
saya sudah tahu. Kalau aku sudah mati, istriku kau 
ambil. Lebih dangkal dari lubang beduda akalmu. 
Saya kan punya otak punya prinsip. Seperti pepatah, 
lubang beduda lagi dijembati. Nasi dingin ditiupin 
lagi, ooo. Sudah pasti lubang beduda itu kecil, lagi 
diisi jembatan. Sudah pasti nasinya dingin, lagi 
ditiupi. Pada intinya kita harus waspada. Hati-hati 
kita. Bukankah air tenang menghanyutkan. Baru 



251 





We must be careful. As people say, even calm water 

can carry you away. Don't think that calm water is 

not deep. If you dive into it, you will drown. 

Sangut: Wow, you are clever, Nyoman. 

Nyoman: Don't say that. Yesterday, where did you 

go with your head cloth flapping? 

Sangut: There will be a ceremony in the temple. 

Nyoman: Where? 

Sangut: There will be a Ngenteg Linggih ceremony. 

Nyoman: Where did you go? 

Sangut: We needed someone from the (Hindu) society 

to give a lesson, to give a talk about enlightenment 

there in the temple. 

Sangut: I will ask the Hindu society to come. 

Nyoman: What Hindu society? 

Sangut: From the province. 

Nyoman: A or B? 

Sangut: Is there A and B? 

Nyoman: Now people are talking about an era of 

democracy. Not only do we have many political 

parties. We also have many Hindu societies. 

Sangut: It is better if there are more to choose from. 

They will serve the people. Isn't that good. 



Nyoman: Yes, if they want to serve the people. If 



Sangut: Wak ah, bih duweg Man ah. 

Nyoman: Ah de ba orange. Ibi ci kija meudeng 

kilibiran to? 

Sangut: Anu kel ada yadnya di Pura. 

Nyoman: Dija? 

Sangut: Kel ada odalan Ngenteg Linggih. 

Nyoman: Kel kija to? 

Sangut: Anu nuwur lembagae kel ngemang 

pendidikan tuwun. Pang ngemang ceramah ditu. 

Tuwun to. 

Sangut: Kel nangkilang parisada. 

Nyoman: Parisada apa? 

Sangut: Propinsi. 

Nyoman: A apa B? 

Sangut: Misi A B. 

Nyoman: Jani nak omong, gumi demokrasi. Sing 

partai gen liu. Kayang parisada mekacakan. 

Sangut: Ye kan luwung. Semakin liu semakin banyak 
pilihan, kel melayani umat, kan bagus to. 

Nyoman: Aa yen nyak melayani umat. Ngurusan 



airnya tenang dikira tidak dalam itu. Disitu kamu 
ceburkan diri. Tenggelamlah kamu. 

Sangut: Wak ah, wah pintar Man ya. 

Nyoman: Ah jangan dah dibilang. Kemarin kamu 

kemana pakai udeng kilibiran itu? 

Sangut: Anu ada upacara yadnya diPura. 

Nyoman: Dimana? 

Sangut: Akan ada odalan Ngenteg Linggih. 

Nyoman: Akan kemana itu? 

Sangut: Anu menghaturkan lembaga agar turun 

memberi pencerahan. Agar memberi ceramah di 

sana. Terjun langsung tuh. 

Sangut: Akan menghadap parisada. 

Nyoman: Parisada apa? 

Sangut: Propinsi. 

Nyoman: A apa B? 

Sangut: Berisi A B, 

Nyoman: Orang bilang sekarang ini era demokrasi. 

Bukannya hanya partai yang banyak. Sampai 

parisadapun berhamburan. 

Sangut: Ye kan bagus. Semakin banyak, semakin 

banyak pilihan untuk melayani umat, kan bagus 

itu. 

Nyoman: Ya kalau mau melayani umat. Mengurus 



252 



they only want to serve themselves, it's not good. 
They should first think of taking care of the public's 
problems. Now that is the way. 
Sangut: How? 

Nyoman: If that's the way it is, we could make any 
kind of Hindu Society, a King Kong Hindu society. 
That's why I told you that the authorities must 
be united with the people at the grassroots. The 
authorities should not be separated from the people 
at the grassroots. Who will trust their voices? That's 
why now they need to prove themselves through 
action. People rarely believe words alone. 
Sangut: Why is that? 

Nyoman: Because their faith is already gone. There is 
a crisis of faith. There is already too much mistrust, 
that's why we find it difficult to speak. If there 
was good faith, people would believe what is said. 
Looking for faith is difficult. 
Sangut: It is difficult for me to talk about it. 
Nyoman: Why is it difficult? We are talking about 
real things. If things are not real, how can we talk 
about them? If we speak about what is real, people 
will believe us. If it is not real, then it is just imaginary. 
People should talk about what is real. 

Sangut: Yes, it's like this, Nyoman. I will go to pee 
first. 

Nyoman: (ignoring Sangut's attempt to leave) That's 
normal. I already know that. And why do I already 
know that? Because I already studied all that. I have 
studied about life and death. There is a proverb that 
says, 'above the sky, there is more sky.' No matter 
how powerful you are, there is always someone more 
powerful. No matter how clever you are, there is 
always someone more clever. Things are difficult for 
me now. I am following the model of a goitered neck 
(delem) and a long mouth (sangut). They are the only 
types in my group. I am going bald from stress. It is 



awakne gen sing becus, salihte ngurusan umat 
duwene. Ah jani kene nak saliha. 

Sangut: Engken? 

Nyoman: Ya dadi keto jak ngae lantas Parisada versi 
Kingkong nyen. Kan wak ngorin cai di duwur malu 
mebesikan beten pang nyak besik. De raga duwur 
besik, kauk-kauk ngorin timpal beten besik. Dija 
gugu munyie. Kelan jani laksana anggon bukti. Nak 
laksana anggon bukti. Munyi nak langah nak ngugu 
munyi. 

Sangut: Apa mawinang? 

Nyoman: Wireh kepercayaan ba tuna. Krisis 
kepercayaan. Iraga suba sing percayae jeg keweh 
benya ngomong. Yen suba percayae apa orang 
gugue. Ngalih percayae to ba keweh. 

Sangut: Wak keweh ngorin Man. 
Nyoman: Ngudiang keweh-keweh. Ne ada-ada gen 
omongan. Ne sing ada kenkenang ngomongan? 
Ne ada-ada omongan, gugu ba. Sing ada-ada, ajak 
menghayal masyarakate, nyen ngugu. Ne ada-ada 
gen omongan. 

Sangut: Nah-nah, kene nen Man. Gang ngenceh 
dik. 

Nyoman: Biasa to. Raga, raga nak ba tawang to. 
Mawinangbatawangto. Babakatpelajahinmakejang 
to. Mati kelawan idupe ba pelajahin to. Sesenggake, 
langit., di atas langit ada langit. Menapa benya sakti 
nu ada nak saktien. Menapa benya duweg nu ada nak 
duwegan keto. Raga keweh baane. Ngajak model- 
model baong gondong, bungut lantang. Ne keto- 
keto gen ajak maseka. Iraga lengar ne ulian setres 
ne. Asin setres. Batak setres ngurusin kurenan keto. 
Ne setres ngitungan keadaan keto. 



dirinya saja tidak becus, apalagi mengurus umatnya. 
Ah sekarang begini caranya. 

Sangut: Bagaimana? 

Nyoman: Kalau bisa begitu mari buat Parisada versi 

Kingkong ya. Makanya saya usul ke kamu agar 

di atas mesti bersatu lebih dahulu, agar dibawah 

juga mau bersatu. Jangan hanya teriak di atas satu, 

memberi tahu teman dibawah bersatu. Mana orang 

mau percaya pada omonganmu. Makanya sekarang 

ini, perbuatanlah yang dipakai sebagai bukti. Kalau 

hanya omongan, jarang orang percaya. 

Sangut: Apa sebabnya? 

Nyoman: Karena kepercayaan sudah tipis. Krisis 

kepercayaan. Kita sudah tidak sudah tidak dipercaya, 

sulit kita bicara. Kalau sudah dipercaya, bilang apa 

saja dipercayai. Mencari kepercayaan itulah yang 

sulit. 

Sangut: Saya sulit memberitahu Man. 

Nyoman: Kenapa sulit-sulit. Yang nyata saja 

diomongkan. Yang tidak ada bagaimana 

membicarakannya? Yang riil saja dibicarakan, 

pasti dipercayai. Yang tak ada..., diajak menghayal 

masyarakatnya, siapa percaya? Yang nyata-nyata 

sajalah dibicarakan. 

Sangut: Baik, baik, begini dululah, Man. Permisi, 

mau kencing dulu. 

Nyoman: Biasa itu. Saya..., orang saya sudah tahu 

itu. Sebabnya saya tahu? Sudah dipelajari semua itu. 

Mati dan hidup semua sudah dipelajari. Pepatahnya, 

langit... di atas langit masih ada langit. Betapapun 

saktinya awak, masih ada lebih sakti. Betapapun anda 

pintar masih ada yang lebih pintar. Saya dibuat sulit. 

Ngajak model-model leher gondok, mulut panjang, 

orang-orang seperti itu yang diajak bersekutu. Saya 

ini botak, karena setres. Pantas setres. Kalau hanya 

setres mengurus istri... ini setres mengurus keadaan 

seperti itu. 

253 



fitting that I am stressed, if I am only stressed from 
taking care of my wife. But I am stressed because I 
am thinking about the situation of the country. 

Sang Maya Cakru (the demon who imitated Anggada) 
has been talking about eliminating corruption for a 
long time. It is true that if we talk about god, we are 
a religious country (we believe in god). If we talk 
about humanity, we are a most humane country. If 
we talk about unity, we defend our unity. People's 
democracy is very much alive. There is social justice 
for all the people in Segara Lungsur. (home of 
demons). But there is corruption in the highest places. 
What is the root of the problem? Who should I ask? 
People can keep talking about corruption until they 
drown... they say they will eliminate corruption... 
eliminate corruption. And then all of a sudden the 
ones talking get corrupt. They get involved in the 
corruption cases... so who can we model ourselves 
after? We have already studied the situation abroad. 
Money is spent but nothing changes. 

We study every day, everywhere. 

We study in other countries. Only when we have to. 

Oh, I am saying too many unkind things. Someone 

will punch me in the mouth. 

People will think I am drunk. If people don t get 

paid off, they will talk. If they get paid, they will be 

quiet. I already know that. I already read about that 

before. That's the truth. 

There is a lot of talk but no action. That's the way it 

is. It's normal. The world is a difficult place. They 

want me to go to war, but I am having a difficult 

time now. It's better to stand in the back. If there 

is victory, I will follow. If we lose, I will run. I don't 

want to lose. I only want to win. Why should I join 

the losing side. I have to win. 



Sang Maya Cakru uli pidan ngeraosang brantas 
korupsi, brantas korupsi to. Ba seken yen raosang 
berkeTuhanan iraga, Gumi berkeTuhanan. 
Yen raosang Kemanusiaan iraga, Gumi paling 
berkemanusiaan. Yen raosang persatuan iraga, Gumi 
mempertahankan kesatuan. Demokrasi kerakyatan 
paling idup. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat 
Segara Lungsur. Kenyataan korupsi paling sangete 
keto. Dijane konslet? Nyen takoning? Kanti nyilem 
ngorang brantas korupsi, brantas korupsi. Tau- 
tan ya lantas kena korupsi to. Kena terlibat kasus 
korupsi... kij a j ani matempa. 



Be melajah ke luar negeri ba sesai. Pis kelah 
perobahan sing ada keto. Melajah ba ngelemah. 
Mileh melajah. Mempelajari negara orang lain. 
Di perlu gen. Aduh bes liu ngorang jelek, uguge 
bungute nyen. Aeng jelema mabuk ne malu to, keto 
ya. Jelema sing maan uyut. Te gaarang ya maan 
nengil. Ba tawang. Daya paca uling malu. Ba seken 
keto. Baang ya ngomong, Bungutne ya ngomong 
tengilang ya awakne. Ba seken keto to. Ba biasa. 
Keweh ba Gumie. Iraga tes ajake mesiat jani keweh 
to. Aden ba duri-duri. Yen menang barengan. Yen 
kalah kel pelaibang awake keto. Raga tara pa nyak 
kalah. Raga nagih menang gen. Ngudiang ngitungan 
komplotan baang di kalahe. Harus menang keto. 



Sang Maya Cakru sejak dulu bilang memberantas 
korupsi, berantas korupsi. Sudah pastikah kita 
seperti yang dikatakan berketuhanan, seperti negara 
berketuhanan. Kalau dikatakan kemanusiaan 
kita. Negara kita paling berkemanusiaan. Kalau 
dikatakan persatuan kita. Negara mempertahankan 
kesatuan. Demokrasi kerakyatan paling hidup. 
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Segara Lungsur. 
Kenyataan korupsi paling tinggi, begitu. Dimanakah 
konsletnya? Siapa ditanyakan? Sampai-sampai 
tenggelam bilangnya berantas korupsi, berantas 
korupsi. Tahu-tahu dia lantas kena korupsi itu. Kena 
terlibat kasus korupsi... siapa yang bisa dijadikan 
panutan? 



Belajar ke luar negeri sudah sering. Uang habis 
perubahan tidak begitu. Belajar sudah setiap 
hari. Kemana-mana belajar. Mempelajari negara 
orang lain. Manakala perlunya saja... aduh terlalu 
banyak bilang jelek, ditonjok mulutku nanti. Wah 
manusia mabuk ini, barangkali begitu katanya, ya. 
Orang kalau tak dapat, ribut. Coba kalau dia dapat, 
diam. Sudah tahu seperti itu. Akal sudah terbaca 
sebelumnya. Sudah pasti begitu. Berikan dia bicara. 
Mulutnya dia bicara. Lebih baik diam sajalah. Sudah 
pasti begitu. Sudah biasa. Keadaan Negara emang 
sulit. Saya diajak ikut berperang sekarang, sulit itu. 
Lebih baik dibelakang-dibelakang sajalah. Kalau 
menang ikut. Kalau kalah 'kan bisa melarikan diri, 
begitu. Awak 'kan tak mau kalah. Awak maunya 
menang saja. Kenapa mesti bersekongkol dengan 



254 



yang kalah. Harus menang, tuh. 



Chorus sings 

Hanuman: Krweeee. (he hfts Sangut flying into the 

air) 

Sangut: Ohhhhhhh. 

Sangut: That was a free airplane ride. I am lucky not 

to have been thrown down on the beach. He flew 

me up into the air. And then he brought me down. I 

didn't have to pay anything. My fate is good. That's 

why if I stay in the right place, I will get the right 

things. I don't have to buy a ticket. No passport. He 

just swept me away. 

Delem: Who is that, Sangut? 

Sangut: The white monkey. 

Delem: Who is that? 

Sangut: Hanuman. 

Delem: What happened? 

Sangut: He took me flying. 

Delemn: How could that be? 

Sangut: The monkey has no courage. 

Delem: What did you do to the monkey? 

Sangut: I told him off, just a little and he was afraid. 

I know how to kill monkeys. 

Delem: (to Hanuman) Come down, come down. 

Fly me a little too. 

Sangut: Look, here he comes. Flyyyyyying. He's going 



Sendon: ... 

Hanoman: Krweeeeek. (membawa Sangut 

terbang). 

Sangut: Adaaah aduuuh. 

Sangut: Kal ada jet gratis ne. Aget sing entungan 

di pasihe. Jemake raga kebere menek to. Biin aba 

tuwun. Keteng sing mayahe. Nak nasib mula bagus. 

Angkal raga yen raga berpijak pada sesuatu yang 

benar, pasti teka kebenarane. Meli tiket sing to. 

Pasport sing. Pelaibange raga. 

Delem: Nyen to Ngut? 

Sangut: Bojog putih. 

Delem: Nyen to? 

Sangut: Hanoman. 

Delem: Engken? 

Sangut: Keberange san. 

Delem: Ooo, kal ngidang? 

Sangut: Ah, Bojog nyali cenik. 

Delem: Kudiang ci Bojoge? 

Sangut: Dengkik gigis engkeb ya. Kan ba matin 

Bojog ba tawang cang. 

Delem: Ih tuwun, tuwun, tuwun. Keberang jep! . . . 

Sangut: Ooo teka, jemake beeeeer. Biin jemake 



Sendon.... 

Hanoman: Krweeeeek. (membawa Sangut terbang) 

Sangut: Adaaah aduuuh. 

Sangut: Kok ada jet gratis ini. Syukur tidak dibuang 
di laut. Awak diambil, diterbangkan naik, kemudian 
lagi dibawa turun. Sepeserpun tidak bayar. Orang 
nasib memang bagus. Itu sebabnyakalaukitaberpijak 
pada kebenaran, pasti kebenaran itu datang. Beli 
tiketpun tidak. Pasportpun tidak. Dilarikan kita. 

Delem: Siapa itu Ngut? 

Sangut: Kera putih. 

Delem: Siapa itu? 

Sangut: Hanoman. 

Delem: Bagaimana? 

Sangut: Diterbangkan tadi. 

Delem: Ooo, kok bisa? 

Sangut: Ah, kera bernyali kecil. 

Delem: Kau apakan keranya? 

Sangut: Digertak sedikit saja, diam dia. Bagaimana 

matinya kera, kan saya sudah tahu. 

Delem: Ih turun turun turun. Terbangkan sebentar! 



Sangut: Ooo datang, diambil beeeer. Lagi diambil 



255 



to take you flyyyyyying. That's what will happen. 
Delem: Oh, your voice is too soft. My voice is bigger. 
Hey, monkey, Hanoman, Hanoman, come down, 
come down, come down. I'm gonna beat you up... 
come down here. 
{Hanuman snatches Delem and flies away with him) 

Sangut: Gliding in the air. Higher, flying, floating 
into the air. 

Hanoman: Kruweeeek. 
Sangut: Baaa heee hhe. 
Hanoman: Kruweeeeek. 

Sangut: What's going on? Delem, Delem, what's up 
with this? Where's your ticket? Oh man, oh man, 
oh man. Everything's going wrong. Oh my god. I 
feel sorry for Melem. If the monkey comes, he will 
eat him. What are you going to do then? I feel sorry 
for my brother. If he's gone, what will I do without 
him. I'll keep watch behind the rocks. Where the 
monkey can't see. Oh, my god, Delem, the monkey 
is coming. Lem! 

{Delem is surprised and jumps up) 

Delem: Ha, Ha, ha. You big-lipped dog, you . . . He's a 

tricky character. Gusti Patih, go fight! 

Chorus sings 

[The giant demon Raksasas fight with the monkeys) 

Delem: Attaaack. 

{The puppets Cenk and Blonk enter) 

Cenk: Why are your lips folded over like that? 

Blonk: You are so mean. You only want to settle 

scores and insult me. 

Cenk: You don't know what you're saying. Your eyes 

are closed and your feet are monstrous. And besides 

that, you're as dense as stone. Because you have a 

negative attitude. 

Blonk: Why negative? 

Cenk: I had a bad dream last night. 



beeeerrrrr. A keto. 

Delem: Ah munyin ci cenik. Munyin kaka mara 

gede. Hai Bojog. Hanoman, Hanoman, Hanoman, 

tuwun tuwun tuwun! Kel cak-cak nas ne nyen... 

tuwuun! 

(Hanoman menyambar Delem dan membawa 

terbang). 

Sangut: Melayang-layang di udara. Tegehang, 

keberang. leg menambung. 

Hanoman: kruweeeek. 

Sangut: Baaaaa he he. 

Hanoman: Kruweeeeek. 

Sangut: Kenken. Kenkene? Lem Lem, kenkene? 

Tikete ken? Pih nyem, nyem, nyem. Onya nyem 

nah...Onya nyem ne to. Imih ratu. Aruh pedalem 

Melem. Yen teka Bojoge amahe. Kel kudiang awake 

keto. Aduh ulian pedalem nyama. Ngelah nyema 

ya gen sik. Uang ne nyen, kudiang awake sing ada 

Melem nyen. Jaga mase baan batu. Yen teka Bojoge, 

pang sing tepuke to. Aduh. Lem Bojoge teka Lem! 



(Delem terkejut dan bangun). 

Delem: Hah hah hah. Cicing Men Jantuk to. . . Dayan 

jelema ne. Gusti Patih werangan! 

Sendon: . . 

(Siat para Raksasa dengan para kera). 

Delem: Lawaaaan. 

(Keluar wayang Cenk-Blonk). 

Cenk: Adi mepeliten bungute. 

Blonk: Ci meripit. Ci ngitungan monto wake jekjek 

ci. 

Cenk: Orang sing nepukan unduk. Mata ngidem 

batis mekale to. Ba keto to to to to, Ci batu ngenen. 

Uli pirasat ba jelek ne. 



Blonk: Ngudiang jelek? 
Cenk: Ngipi ibi sanja jelek ne. 



beeer. A begitu. 

Delem: Ah gerta Maya Cakruu kecil. Gertakku baru 

besar. Hai kera. Hanoman Hanoman Hanoman, 

turun turun turun! Akan dicincang kamu nanti... 

turuuuun! 

(Hanoman menyambar Delem dan membawa 

terbang). 

Sangut: Melayang-layang di udara. Tinggikan 

terbangkan. Sampai melambung 

Hanoman: kruweeeek. 

Sangut: Baaa he he. 

Hanoman: Kruweeeeek. 

Sangut: Bagaimana. Bagaimana? Lem Lem, 

bagaimana nih? Tiketnya mana? Wah dingin, 

dingin, dingin, semua dingin ya... semua dingin 

ini ya. Oh Tuhan, aduh kasihan Melem. Kalau ada 

kera datang, pasti dimakan. Mau diapain dirinya 

ini. Aduh, karena kasihan saja ama saudara. Punya 

saudara dia saja satu. Kalau ini hilang, bagaimanakan 

diriku ini, tanpa Melem nanti. Jaga jugalah dengan 

batu. Kalau-kalau kera datang, agar tidak dilihat. 

Aduh. Lem keranya datang. Lem! 

(Delem terkejut dan bangun). 

Delem: Hah hah hah. Anjing ciancuk kamu... 

Akalnya.. Gusti Patih balaskan! 

Sendon.... 

(Siat para Raksasa dengan para kera). 

Delem: Lawaaaan. 

(Keluar wayang Cenk-Blonk). 

Cenk: Kenapa berbalik mulutnya. 

Blonk: Kamu pelit. Kamu tak pakai perhitungan. 

Gua lu injak-injak. 

Cenk: Gua bilang tak tahu apa-apa? Mata terpejam 

kaki sembrawut itu. Sudah begitu itu itu itu itu, kamu 

kena batunya. Dari pirasat saja sudah jelek ini. 

Blonk: Kenapa jelek? 

Cenk: Impian kemarin malam, jelek ini. 



257 





Blonk: What kind of dream? 

Cenk: Last night I dreamed that a snake bit me. 

Blonk: If you dreamed you were bitten by a snake, 

that is good. 

Cenk: Why? 

Blonk: Good luck will come. 

Cenk: That's good luck? 

Blonk: Good luck. If you're bit by a snake it's good 

luck. What kind of snake? 

Cenk: A little garden snake. 

Blonk: Ah, that is good luck, but just a little, you 

know. 

Cenk: Why just a little. 

Blonk: It's just a garden snake. 

Cenk: Well, first the garden snake. It bit me like that. 

Tut. Then later, a snake the size of a sago palm tree 

came. Tuuuuut. Like that. (It bit me). 

Blonk: Ah, a big one. 

Cenk: Is that big? 

Blonk: It's big. Where did it bite you? 

Cenk: My hand. 

Blonk: Ah, that's little. 

Cenk: Why little? 

Blonk: If a snake bites your hand, that means a little 

luck. If it bites your foot, then it's a lot. 



Blonk: Ngipi apa? 

Cenk: Ngipi tegut lipi ibi sanja. 

Blonk: Yen ngipi tegut lipi luwuuung. 

Cenk: Adi keto? 

Blonk: Rejeki kel teka! 

Cenk: Rejeki to? 

Blonk: Rejeki. Yen tegut lipi rejeki. Lipi apa? 

Cenk: Lipi jali. 

Blonk: Ah ada rejeki tapi cenik. Keto. 

Cenk: Ngudiang Cenik? 

Blonk: Lipi jali to. 

Cenk: Nah malu lipi jali. Tot ketoange. Benjepne 

teka lipi aman punyan jakae. Toooot ketoange. 

Blonk: Ah gedeee. 

Cenk: Gede to? 

Blonk: Gedeee. Apan ci cegute? 

Cenk: Limae. 

Blonk: Ah Ceniiik. 

Cenk: Ngudiang Cenik? 

Blonk: Yen lima tegut lipi, Cenik. Yen batis tegut 

ken lipi mara gede. 



Blonk: Bermimpi apa? 

Cenk: Bermimpi digigit ular kemarin malam. 

Blonk: Kalau bermimpi digigit ular bagus. 

Cenk: Kok begitu? 

Blonk: Rejeki akan datang. 

Cenk: Rejeki apa? 

Blonk: Rejeki. Kalau digigit ular rejeki. Ular apa? 

Cenk: Ular jail. 

Blonk: Ah ada rejeki, tapi kecil. Begitu. 

Cenk: Kenapa kecil? 

Blonk: Ular jail itu. 

Cenk: Ya pertamanya ular jail. Tot dibegitukan. 

Sebentarnya datang ular sebesar pohon henau. 

Toooot digitukan. 

Blonk: Ah besaaaar. 

Cenk: Besar itu? 

Blonk: Besar. Apamu yang digigit? 

Cenk: Tanganku. 

Blonk: Ah keciiiil. 

Cenk: Kenapa kecil? 

Blonk: Kalau tangan digigit ular, kecil. Kalau kaki 

digigit ular baru besar. 



258 



Cenk: First it bit my hand. Then it bit my foot. 

Blonk: Biiiiig. Very big. Just calm down. Did blood 
come out? 

Cenk: Yes, a few drops. 
Blonk: Ah, just a little then. 
Cenk: Why a little? 
Blonk: A few drops. 

Cenk: First it was a few drops. Then two bucket- 
fulls. 

Blonk: Biiiig. 

Cenk: It's big. Then it's little. Then it's big. Tlien it's 
little again. 

Blonk: Why are you acting like that? We can work it 
out. What time was your dream? 
Cenk: Twelve o'clock. 

Blonk: How do you know what time it was when 
you're dreaming? Do you dream with your eyes 
open? 

Cenk: I was dreaming. Then I woke up and saw the 
clock. It was twelve. 

Blonk: Oh, I see. I thought you were dreaming with 
your eyes open. 

Cenk: You don't know anything. That's bad luck. 
Really really bad luck. 
Blonk: Why bad luck? 

Cenk: Because tomorrow I will go to the court. 
Blonk: Why? 

Cenk: Because I'm working together with a group 
and we split it six ways. 
Blonk: I see. Did you get your share? 
Cenk: Oh, a lot. They say tomorrow Mr. Sunshine 
will go into battle. 
Blonk: Who said that? 

Cenk: Tomorrow Pak Gunarsa will press charges 
against me. 

Blonk: Why will he press charges? 
Cenk: Because I made copies. 



Cenk: Malu lima, lantas keto batise tegute. 

Blonk: Gedeee. Gede gede, tenang gen ci. Pesu 

getih? 

Cenk: Pesu mekecrit. 

Blonk: Ah Cenik. 

Cenk: Ngudiang Cenik? 

Blonk: Mekecrit. 

Cenk: Nak malu mekecrit. Ba keto duang ember 

ada. 

Blonk: Gedeeee. 

Cenk: Biin gede biin Cenik, biin gede biin Cenik. 

Blonk: Ci keto wak dadi atur. Jam kuda ngipi? 

Cenk: Jam roras. 

Blonk: Adi ngipi nawang jam. Sambilang kedat 

ngipi? 

Cenk: Cang ngipi, enten tes jame jam roras. 

Blonk: Ooo keto. Kaden wak ci sambilang ngipi 

kedat kaden... 

Cenk: Apa sing tawang ci ne. Nasib jelek ne. Jelek 

sajan nasib ne. 

Blonk: Ngudiang jelek? 

Cenk: Kena, biin mani saya kel sidang ne. 

Blonk: Adi keto? 

Cenk: Ba bakat bareng maseka, dum ajak nem to. 

Blonk: Ooo keto? Maan ci duman? 

Cenk: Ooo liu. Orin biin mani Sang Matahari kel 

membrontak mani ne. 

Blonk: Nyen keto? 

Cenk: Pak Gunarsa biin mani ne. Kel nuntut. 

Blonk: Ngudiang nuntut? 
Cenk: Bakat niru to. 



Cenk: Pertamanya tangan, kemudian lantas kaki 

digigit. 

Blonk: Besaaar. besar-besar, tenang saja kamu. 

Keluar darah? 

Cenk: Keluar sedikit. 

Blonk: Ah kecil. 

Cenk: Kenapa kecil? 

Blonk: Sedikit. 

Cenk: Ya pertama sedikit. Setelah itu ada barang 

dua ember. 

Blonk: Besaaaar. 

Cenk: Lagi besar, lagi kecil, lagi besar lagi kecil. 

Blonk: Kamu begitu orang bisa diatur. Jam berapa 

bermimpi? 

Cenk: Jam dua belas. 

Blonk: Kenapa bermimpi tahu jam? Sambil buka 

mata bermimpi? 

Cenk: Saya bermimpi, lantas bangun. Jamnya jam 

dua belas. 

Blonk: Ooo begitu. Kukira sambil bermimpi buka 

mata kira... 

Cenk: Apa tidak tahu kamu ini. Nasib jelek ini. Jelek 

sekali nasib ini. 

Blonk: Kenapa jelek? 

Cenk: Kena, besok saya akan sidang ini. 

Blonk: Kenapa begitu? 

Cenk: Sudah terlanjur ikut bersekongkol, dibagi 

berenam itu. 

Blonk: Ooo begitu? Dapatkah kamu bagian? 

Cenk: Ooo banyak. Ku bilang besok sang Matahari 

akan memberontak besok ini. 

Blonk: Siapa bilang? 

Cenk: Pak Gunarsa besok ini. Akan menuntut. 

Blonk: Kenapa menuntut? 
Cenk: Karena meniru itu. 



259 



Blonk: That's why I told you before, if you can't paint, 

why do you paint. 

Cenk: Oh, I already bought it. 

Blonk: Bought what? 

Cenk: The painting. I already bought it. That means 

I have the copyright. 

Blonk: Well, no. You have the painting. But the 

copyright still belongs to the painter. If you sell it 

again, still the one who made it has the copyright. 



Cenk: So that's how it is? 

Blonk: Yeah. 

Cenk: Now you have a big profit. Profit is the most 

important thing. 

Blonk: Ah, you only think about the profit. That 

means you earn happiness from other people's 

suffering, is that it? 

Cenk: Yes, that's right. 

Blonk: That's right. 

Cenk: Right. That's why you clap your hands. 

Blonk: Oh, applause is not so important for me. 

Everyone knows that. After they clap their hands, 

I won't be shy about asking for money. If they don't 

clap for me, I won't dare ask for money, (from the 

host) 

Cenk: Is it good to clap your hands? 

Blonk: It's good. But if you clap your hands in an 

alley, a dog will chase you. Actually it depends on 

the context, because clapping your hands is based on 

Desa Kala Patra (Time, Place, and Situation). The 

people here are all intellectuals. All of them are 

educated. There is no use bringing salt to the sea. 

Everybody already understands. 

Cenk: Oh, is that how it is? 

Blonk: Everybody understands. That's because our 

society's education has been improved. Therefore, 

we have to look inside ourselves. Mulat Sarira (self 



Blonk: Makane wak ngorin cai men sing bisa 

ngambar, dadi ngambar. 

Cenk: Ooo raga kan ba meli. 

Blonk: MeH apa? 

Cenk: Gambaran ba, ba beli raga to. Kan raga ne 

ngelah hak to. 

Blonk: Ah sing. Gambarne to ci ja ba ngelah. 

Hak ciptane tetep yang melukis ngelah to. Ci biin 

ngadep. Ya biin ngadep. Tetep ya ne ngae ngelah 

hak cipta to. 

Cenk: Keto to? 

Blonk: Aa. 

Cenk: Jani liu untungne. Kan keuntungan 

terutama. 

Blonk: Ah ci matan ci untung gen. Ne madan ci 

bahagia di atas penderitaan orang lain, keto. 

Cenk: Beneh keto? 

Blonk: Keto. 

Cenk: Beneh tepuk tangan ci. 

Blonk: Ah wake kan sing penting tepuk tangan. Nak 

pada ngerti onya. Be' nyak tepuk tangan, enjepan 

juari ngidih pipis apa. Yen sing ada tepuk tangan 

berek sing juari ngidih pipis wake. Nganteg jumah 

bengong. 

Cenk: Luwung tepuk tangan to? 

Blonk: Luwung. Kalo ibi tepuk tangan di rurunge 

kepunge ken cicinge. Nak nganutin Desa Kala 

Patra mase tepuk tangane. Masayarakat dini kan 

nak masyarakat intelek-intelek onya to. Makejang 

berpendidikan to. Wake kan tan bina ngaba uyah 

ke pasihe. Ba onyang pada ngerti keto. 

Cenk: Ooo keto? 

Blonk: Ngerti makejang. Makane masyarakat raga 
to pendidikane sudah maju. Makane marilah iraga 
pada saling introspeksi diri. Mulat sarira. Belajar 



Blonk: Makanya saya menyuruh kamu kalau tidak 

bisa menggambar, kenapa menggambar. 

Cenk: Ooo saya kan sudah beli. 

Blonk: Beli apa? 

Cenk: Lukisannya, sudah..., sudah kubeli, itu. Kan 

saya yang punya hak itu. 

Blonk: Ah tidak. Lukisan itu kamu sudah punya. Hak 

ciptanya itu tetap punya yang melukis. Kamu lagi 

menjual. Ya lagi menjual. Tetaplah yang membuat 

punya hak ciptanya itu. 

Cenk: Begitu itu? 

Blonk: Ya. 

Cenk: Sekarang untungannya banyak. Kan 

keuntungan terutama. 

Blonk: Ah kamu matamu untung saja. Ini namanya 

kamu bahagia diatas penderitaan orang lain, 

begitu. 

Cenk: Benar begitu? 

Blonk: Begitu. 

Cenk: Pantas tepuk tangan kamu. 

Blonk: Ah saya kan tidak penting tepuk tangan. 

Orang pada mengerti semua. Kalau sudah mau 

tepuk tangan, sebentar nanti kan tidak malu 

meminta upah. Kalau tidak ada orang yang tepuk 

tangan, sumpah tidak berani minta uang saya. 

Cenk: Bagus tepuk tangan itu? 

Blonk: Bagus, kalau kemarin tepuk tangan 

dijalan, dikejar anjing. Mestinya tepuk tangan itu 

menyesuaikan dengan Tempat Waktu dan Situasi. 

Masyarakat di sini kan masyarakat intelek-intelek 

semua. Semua mereka berpendidikan. Saya kan tak 

ubahnya membawa garam ke laut. Semua sudah 

pada mengerti, begitu. 

Cenk: Ooo begitu? 

Blonk: Mengerti semua. Makanya masyarakat kita itu 

pendidikannya sudah maju. Makanya marilah kita 

pada saling interospeksi diri. Koreksi diri. Belajar 



260 



HT:^ 






\ 



^^:'f'>. 



s:<V 



^> 



Q^ 



!vr\jr.<^ 



?•j^:;>?'^- ''".r^ 






I ,- >-^v•;■-^■Y^■ -. ' ■■• y Z- -'- - -v.- 



•si 



; -. -f-4^^ 



f. 



iX £5: 



i!f. 






>t#^ 



,^'- 



■>.•'■ ■■ ■'■■ • ■^^. '■< > XX'-; . ; .- .« ^ • * • . 












:^^ 



H 



*: i 



.v iV.' ' 



A 



li. 



*>■ 



r:^"'. 
-^^ 



^:i^3^- 






««"A 



m 



■0 



X 



* \ 



^i(^ 



*£<^ 



'':^ '- 



-<, 



^ 



:% 



introspection). Learning to look for the truth is 
the right thing to do. Don't just use your rehgion as 
a mask. Really act on it. Religion forbids the five 
M's. Memadat (Using Drugs), Memaling (Stealing), 
Memitra (Adultery) and others. Avoid them. You 
as a community concentrate too much on gambling 
games (like ce/c/ cards). You shouldn't do that. If we 
don't respect the ceremonies of our own holy days, 
who will respect them? 
Cenk: Oh, is that right? 

Blonk: Yes. You know, our government stopped the 
flights of airplanes on the Nyepi holy day of silence. 
If not for that, we might not know how to celebrate 
our own holy days on our own. So, you see, the 
authorites are making an effort to shape the world so 
that we can devout ourselves to our holy days. 
Cenk: Oh, is that right? 
Blonk: Yes. 

Cenk: Was it wrong what was done in the past? 
Blonk: No one is saying it was wrong. Let's improve 
things a little. Let's improve things. Keep learning, 
because there is no limit to learning. That's why 
knowledge is symbolized by a chain. We are always 
learning. The ocean is endless. The sea goes on 
forever. Where is the end of the sea? There is none. 
That is what knowledge is like. Where is the footprint 
of a flying bird? You cannot see it. It is there but it is 
not there. That's why we have to stay alert. Adahh 
dah dah dah. Toh toh toh. Lord Detya Kala Maya 
Cakru (a demon) is angry. 

Cenk: {translating Maya Cakra) Hey all you monkeys. 
Hey, Rama Dewa. Who am I? I am the student of 
Batari Durga (wife of Siwa). Now is the time. Your 
death cannot be cancelled. Now you will burn. Now 
you are dead. 

Blonk: Hey, where are you going? To the cemetery. 
Come and see. Come and see. 
Kala Maya Cakru: Don't think you are so important 



mencari sebuah kebenaran yang hakiki. Agama doen 
pang da anggon tami. Laksanakanlah! Agamane 
ba melarang raga Panca Ma. Memadat, Memaling, 
Memitra dan lain sebagainya. Hindarilah. Ci 
dadi rakyat tungkul ci maCeki. Pang da keto. Yen 
sing iraga menghargai hari raya raga. Nyen orin 
menghargai. 



Cenk: Ooo keto? 

Blonk: Aa. Monto aparete kanti nyetop kapal terbang 
kanti hari raya Nyepi. Pang da kanti iraga lantas 
sing bisa merayakan hari iraga sendiri. Amonto 
suba kiBlonkah Sang Angawa Rat ngisi jagat. Untuk 
iraga pang nyak kusuk hari rayane ento. 

Cenk: Ooo keto? 
Blonk: Aa. 

Cenk: Pelih ne ba liwat? 

Blonk: Ada sing nak ngorang pelih? Lan benahi 
lagi, keto. Di benahi. Terus melajah. Wireh melajah 
to sing ada batasne. Kelan lambang pengetahuan 
to disimbulkan dengan rantai. Raga terus belajar. 
Belajar terus. Samudra tanpa tepi. Sing ada tanggun 
pasihe. Dija tanggun pasihe? Sing ada. Keto ba 
satmaka ilmu pengetahuan. Tulya kadi tapakin 
kuntul anglayang. Dija enjekin kedise makeber. 
Sing ada to. Sing ada tepuk. Ya ada kalo sing ada. 
Makane iraga mari sadar. Adah dah dah dahh. To to 
to to. Badah duka Sang Detya Kala Maya Cakru. 
Cenk: Ih ih ih cai bojoge makejang. Rama Dewa ci. 
Wake ne nyen. Sisyan Batari Durga ne. Jani ba. Sing 
buwungan ci mati sengeh jani ne. Bangka nasne 
jani. 

Blonk: Ooo kija to? Kel ke Setra. Mai lok mai lok. 

Kala Maya Cakru: Haywa kalaganta agung ambek 



mencari sebuah kebenaran yang mutlak. Jangan 
Agamanya hanya dijadikan warisan. Laksanakanlah! 
Ajaran agama sudah melarang kita dengan lima 
Ma. Makan obat terlarang. Mencuri, Selingkuh dan 
lain sebagainya. Hindarilah. Kamu menjadi rakyat 
hanya berjudi. Agar jangan begitu. Kalau tidak kita 
menghargai hari raya kita. Siapa suruh menghargai. 



Cenk: Ooo begitu? 

Blonk: Ya begitu semestinya. Aparat sampai-sampai 
menghentikan kapal terbang mendarat pada hari 
raya Nyepi. Agar jangan kitalah yang sampai tidak 
bisa merayakan hari raya kita sendiri. Demikian 
usaha sang penguasa, pemimpin Negara untuk kita, 
agar perayaan hari rayanya kusuk. 
Cenk: Ooo begitu? 
Blonk: Ya. 

Cenk: Kesalahan yang sudah lewat? 
Blonk: Adakah orang yang bilang salah? Mari kita 
benahi lagi, begitu. Dibenahi. Terus belajar. Oleh 
karena belajar itu tidak ada batasnya. Itu sebabnya 
lambang ilmu pengetahuan itu disimbulkan dengan 
rantai. Kita terus belajar. Belajar terus. Samudra 
tanpa tepi. Dimana batas laut? Tidak ada. Seperti 
itulah ibaratnya ilmu pengetahuan itu. Tak ubahnya 
seperti jejak kaki burung yang sedang terbang. Tidak 
ada itu. Tidak ada kelihatan. Ya ada. Tapi tidak ada. 
Makanya kita mari sadar. Aduh duh duh duh. Itu itu 
itu. wah marah Sang Detya Kala Maya Cakru. 
Cenk: Ih ih ih kamu kera semua. Rama Dewa kamu. 
Saya ini siapa. Murid Betari Durga ini. Sekarang 
sudah. Tidak lain kamu mati terbakar ini. Mati 
kamu sekarang. 

Blonk: Ooo kemana itu? Akan ke kuburan. Mari 

lihat mari lihat. 

Kala Maya Cakru: Jangan kamu besar tingkah bisa 



263 



because you can kill all the soldiers. Who am I, Kala 
Cakru. I am a certified student ofBatari Durga. I 
chant mantras. I hope to unify Action, Word and 
Thought. There is nothing else for me to do but to 
transform myself and become Durga.... Ahhhhhh! 
{Kala Maya Cakru transforms into Rangda and 
Anggada transforms into Barong) 
Rangda: Ha ha ha ha. Rem reeeeeeem. The light of 
the Lord Sun. My soul is possessed by Kala Maya 
Cakru. What can be seen? Ah ahhhhhhh. 

Blonk: Ok ok ok. 

Cenk: What? 

Blonk: (to the demon Rangda). Will you eat my 

head? The tame pig becomes a wild pig. There is a 

cow. A tiger. Smoke. 

Cenk: What is it? 

Blonk: Smoke. 

Cenk: Oh, look at that. 

Blonk: Who is that? 

Cenk: It's Lord Tunggal (the highest god) and Lord 

Wenang followed by Lord Anggada. 

Blonk: The red monkey? 

Cenk: Yes. He is bringing the Purifying holy water. 

Blonk: Lord Wenang. Lord Tunggal. 

Cenk: Lord Wenang. Lord Tunggal. 

Blonk: Lord Tunggal? 

Cenk: He is the one who makes the day, the night, 

and the dusk. 

Blonk: Lord Wenang? 

Cenk: He is the one who decides who has the right to 

life and who has the right to die. Lord Tunggal gives 

his approval. He gives his approval. You and I, no. 

(we can't decide). 

Blonk: Oh, is that right? 

Cenk: Yes. That is why we surrender our life to 

him. 

Blonk: To whom? 



sida mejah ikanang wadwa prasama. Sang apa 

yayateki Kala cakru. Sah sisyanirang Batari 

Durga. Angeregepaken kunang japa mantra. Wak 

bajra, anunggalaken Bayu Sabda Idep. Tan sah 

matemahaken ikanang DurgaMurtiiii. Aaaaaah. 

(Kala Maya Cakru berubah menjadi Rangda. 

Nggada berubah menjadi Barong). 

Rangda: He he he he. Rem reeeeem, tejan Sang 

Hyang Baskara Dipati. Kasoooor lawan penadian 

yeki Kala Maya Cakru. Apa katoooon. Ah ah 

aaaaah. 

Blonk: Ok ok ok ok . 

Cenk: Apa? 

Blonk: Amah ci nas wake. Celeng pemalu dadi 

Celeng. Ada Sampi Macan. Mekudus. 

Cenk: Apa e? 

Blonk: Anduse. 

Cenk: Ooo tolih to. 

Blonk: Nyen to? 

Cenk: Sang Hyang Tunggal Ian Sang Wenang. 

Kairing antuk Dane Sang Ngada. 

Blonk: Bojog Barake? 

Cenk: Aa. Ngaba tirta Sudamala. 

Blonk: Sang Hyang Wenang. Sang Hyang Tunggal. 

Cenk: Sang Hyang Wenang Sang Hyang Tunggal. 

Blonk: Sang Hyang Tunggal? 

Cenk: Ngae lemah petenge sandi kala. 

Blonk: Sang Hyang Wenang? 

Cenk: Ane ngewenangan Cen patut mati Cen patut 
hidup. Sang Hyang Tunggal sane ngewenangan. To 
ngewenangan. Ci ajak wake sing. 

Blonk: Ooo keto? 

Cenk: Aa. Kelan serahang idpue! 

Blonk: Ken nyen? 



membunuh prajurit semua. Siapa kau kira ini 

kala Cakru. Tiada lain muridnya Batari Durga. 

Merapalkan mantra. Semoga menyatukan Tenaga 

Suara Pikiran. Tiada lain berubah menjadi Durga. 

Aaaaah. 

(Kala Maya Cakru berubah menjadi Rangda. 

Nggada berubah menjadi Barong). 

Rangda: He he he. Suraaaaamlah, sinar Sang 

Surya. Kalah dengan penjelmaan ini Kala Maya 

Cakru. Apa dilihaaaat. Ah ah aaaah. 

Blonk: Ok ok ok ok . 

Cenk: Apa? 

Blonk: Kamu makan kepala saya. Babi ikut menjadi 

babi. Ada kerbau Harimau. Berasap. 

Cenk: Apanya? 

Blonk: Asapnya. 

Cenk: Ooo lihat itu. 

Blonk: Siapa itu? 

Cenk: Sang Hyang Tunggal dan Sang Hyang Wenang. 

Diikuti oleh Sang Ngada. 

Blonk: Kera Merahnya? 

Cenk: Ya. Membawa Tirta Sudamala. 

Blonk: Sang Hyang Wenang. Sang Hyang Tunggal. 

Cenk: Sang Hyang Wenang Sang Hyang Tunggal. 

Blonk: Sang Hyang Tunggal? 

Cenk: Membuat siang malam pertengahan siang 

dan malam. 

Blonk: Sang Hyang Wenang? 

Cenk: Yang menentukan mana pantas mati mana 

pantas hidup. Sang Hyang Tunggal yang menentukan. 

Beliau yang menentukan. Kamu dan saya tidak. 

Blonk: Ooo begitu? 

Cenk: Ya. Itu sebabnya serahkan saja hidupmu! 

Blonk: Kepada siapa? 



264 





Cenk: Lord Tunggal. Lord Wenang. The one who 
watches over the world, the one who rules the world. 
That is the one to whom we surrender our lives. He 
is followed by Lord Anggada, who is bringing the 
Purifying holy water. It will purify the entire world. 
Those who are evil will be revealed as evil. Those 
who are good will be revealed as good. Cleanse 
the world now and transform all the evil so that it 
becomes goodness. Build the world. 
Blonk: Oh, is that how it is? 
Cenk: Cleanse everything. 
Blonk: Oh, is that how it is? 

Cenk: You and I will now excuse ourselves to the 
entire audience. We will do it all again tomorrow. 
We hope that you were not bored, not bored. Well, 
let's excuse ourselves. We are the servants of Lord 
Rama. Let's go. 



Cenk: Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Wenang. 
Ne ngemban Gumi ngewenangan jagat. To ne bakal 
serahang idupe to. Kairing antuk Sang Ngada ngaba 
Trita Sudamala. Luirto kel marisuda sahahaning 
jagate. Ane corah pang ya ngenah corah. Ane beneh 
pang ya beneh. Marisuda jani mesikan sahananin ne 
corah-corah pang ya dadi luwung. Ngawe jagate. 



Blonk: Ooo keto? 

Cenk: Parisuda makejang. 

Blonk: Ooo keto? 

Cenk: Ci ajak wake nganteg dini malu mepamit 

ngajak sameton sareng sami. Kanggoang benjang 

pungkur biin wawanin. Moga-mogi Ida Dane 

ten ngewanehin, tan ngewadihin. Lan mepamit. 

Memarekan ring Ida Batara Rama lan. 



Cenk: Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Wenang. 
Yang mengasuh dunia, yang menentukan dunia. 
Kepada beliaulah hidup ini diserahkan. Diikuti 
oleh Sang Ngada membawa Tirta Sudamala. Itu 
akan membersihkan semua dunia. Yang jahat 
agar dia kelihatan jahat. Yang benar agar ia benar. 
Membersihkan sekarang mengumpulkan semua 
yang jahat-jahat agar menjadi baik. Berbuat di 
dunia. 

Blonk: Ooo begitu? 
Cenk: Dibersihkan semua. 
Blonk: Ooo begitu? 

Cenk: Kamu dan saya sampai disini dulu, mohon diri 
kehadapan saudara kita semua. Cukuplah sampai 
disini, besok lusa lagi dilanjutkan. Semoga hadirin 
tidak bosan-bosan. Mari permisi. Mari mengabdi 
kehadapan Ida Batara Rama. Mari. 



SELESAI 



265 



266 




COURTROOM 
TESTIMONIES 

of 

Nyoman Gunarsa 

and Indrawati Gunarsa 




Kesaksian Sidang 

Oleh 

Nyoman Gunarsa 

dan Indrawati Gunarsa 



267 



Trial Transcripts - May 1, 2007 - Indrawati 

The session of May 1, 2007. Two witnesses: 
Dr. Nyoman Gunarsa and Indrawati. 
Before the session began, His honor the Judge ordered 
the Public Prosecutor to present the accused, Hendra 
Dinata, alias Sinyo. After the accused appeared, 
his Honor the Judge called forward two witnesses: 
witness Nyoman Gunarsa and witness Indrawati. 
Following are excerpts from the dialogue that took 
place during their testimony. 



Head Judge: The court calls the two witnesses to 

come forward. 

(They come) 

Head Judge: Before we continue the questioning of the witnesses for their 

answers, we want to inform the public prosecutor that if there are any 

other witnesses for this trial present in the courtroom we ask them to go 

outside. 

Are there any future witnesses in the courtroom at this time? 

Prosecutor: Some future witnesses are sitting outside the courtroom. 

Head Judge: Comrade Indrawati, where were you born? 

Indrawati: In Temanggung. 

HJ: Age? 

I: 57 years old. 

HJ: Religion? 

I: Hindu. 

HJ: Place of residence? 

I: Jalan Raya Banda, Number 1. Klungkung. 

HJ: Occupation? 

I: Entrepreneur and Museum Directress. 

HJ: Entrepreneur? Where precisely? 




Persidangan 1 Mei 2007 

Sidang pada tanggal 1 Mei 2007 menghadirkan 
2 orang saksi yaitu: Saksi Drs. Nyoman Gunarsa 
dan saksi Indrawati. Sebelum sidang dimulai 
Majelis Hakim memerintahkan Jaksa Penuntut 
Umum untuk menghadirkan terdakwa Ir. 
Hendra Dinata. Setelah terdakwa hadir. Majelis 
Hakim memanggil 2 orang saksi yaitu : saksi Drs. 
Nyoman Gunarsa dan saksi Indrawati, berikut 
petikan dialog dalam persidangan: 



Hakim Ketua: Hakim memanggil kedua saksi untuk duduk di depan 

Hakim Ketua: Baik sebelum diperiksa lebih lanjut saksi-saksi yang akan 
memberi jawaban, kami sampaikan kepada Penuntut Umum maupun dari 
saksi-saksi terdakwa apabila ada saksi-saksi yang akan diperiksa pada 
persidangan berikut yang sekarang ada didalam ruang sidang kami mohon 
untuk keluar. 
Hakim Ketua: Ada yang mau menjadi saksi pada sidang yang akan datang? 

Jaksa: Para saksi yang akan di dengar berikutnya agar duduk di luar sidangi 

Hakim Ketua: Saudara Indrawati lahir dimana? 

Jawab: Di Temanggung. 

Hakim Ketua: Umur? 

Jawab: 57 Tahun. 

Hakim Ketua: Agama? 

Jawab: Hindu. 

Hakim Ketua: Tempat tinggal dimana? 

Jawab: Jl. Raya Banda No. 1 Klungkung. 

Hakim Ketua: Pekerjaan Saudara? 

Jawab: Wiraswasta dan Direktris Museum 

Hakim Ketua: Wiraswasta ? Tepatnya? 



268 



I: Directress of the "Museum Klasik Bali" 

HJ: Do you know the accused? 

I: Initially I did not know him. 

HJ: Now you know him? 

I: Yes, I know him. 

HJ: Is he a relative? 

I: No. 

HJ: Does he work with you? 

I: No. 

HJ: (To Prosecutor) Two witnesses? 

Prosecutor: Yes. 

HJ: On to the second. Name? 

Gunarsa: Nyoman Gunarsa. 

HJ: Dr. Nyoman Gunarsa? 

G: Yes. (nodding) 

HJ: Where were you born, sir? 

G: I was born in Banda, Klungkung. 

HJ: Current age. 

G: 63 years old. 

HJ: Nationality? 

G: Indonesia. 

HJ: Religion 

G: Hindu. 

HJ: Residence? 

G: Jalan Raya Banda, Number 1. Takmung, Klungkung. 

HJ: The same as your wife? 

G: The same, (pointing to his wife). 

HJ: Occupation? 

G: Artist. Painter. 

HJ: You you know the accused? 

G: I have known him since the incidents concerning these paintings. 

HJ: Do you know him now? 

G: I know him as a result of this case. 

HJ: Is he a relative? 




Jawab: 
Hakim 
Jawab: 
Hakim 
Jawab: 
Hakim 
Jawab: 
Hakim 
Jawab: 
Hakim 
Jawab: 
Hakim 
Jawab: 
Hakim 
Jawab: 
Hakim 



Jawab: Direktris Museum Klasik Bali 

Hakim Ketua: Saudara kenal dengan terdakwa? 

Jawab: Asal mulanya tidak kenal. 

Hakim Ketua: Sekarang kenal? 

Jawab: Ya, kenal. 

Hakim Ketua: Ada hubungan keluarga? 

Jawab: Tidak ada. 

Hakim Ketua: Hubungan pekerjaan? 

Jawab: Tidak ada. 

Hakim bertanya kepada Jaksa. 

Hakim Ketua: 2 orang saksi ya pak? 

Jawab Jaksa: Ya. 

Hakim Ketua: Terus yang kedua, nama? 

Jawab: Nyoman Gunarsa. 

Hakim Ketua: Tertera di BAP, Drs. I Nyoman Gunarsa. 

Jawab: Ya (sambil mengangguk-. 

Hakim Ketua: Lahir dimana Pak? 

Jawab: Lahir di Banda Klungkung. 

Hakim Ketua: Umur sekarang? 
63 Tahun. 

Ketua: Kewarganegaraan? 
Indonesia. 
Ketua: Agama? 
Hindu. 

Ketua: Tempat tinggal di mana? 
Jalan Raya Banda No. 1 Takmung Klungkung. 
Ketua: Sama dengan Ibu? 
Sama (sambil menunjuk IbuJ. 
Ketua: Pekerjaan? 
Artist, Pelukis. 

Ketua: Saudara kenal dengan terdakwa? 
Saya kenal sejak peristiwa lukisan ini. 
Ketua: Sekarang kenal? 
Kenal sejak kasus ini. 
Ketua: Ada hubungan keluarga? 



269 



G: No. 

HJ: Do you work with him? 

G: No. 

HJ: All right, before you give your testimony, in accordance with the law, 

you will both take an oath and give your testimony under oath. Please 

stand. Repeat after me. (The two witnesses repeat his words) "In the name 

of the Lord, I swear that as a witness in this case I will testify the truth and 

nothing but the truth. Om Santih, Santih, Santih, Om. 

(Let there be peace on heaven, on earth, and beyond)" 

Please be seated. Now according to the rules the first 

witness to be heard will be witness Indrawati, which 

means that we will ask you, respected sir, to wait outside 

the courtroom. 



The first witness to give testimony is the witness 
Indrawati 

Head Judge: Please come forward Mrs. Indrawati. 

(she steps forward) 

Your have already taken an oath, is that 

correct? 
Indrawati: Yes. 

H J: The meaning of that public oath is: First, that you are 
responsible to God. Second, that you are responsible to 
the law, because according to article 82 of the public penal code, whenever 
a witness gives testimony, and that testimony is not truthful, the witness 
is subject to a punishment of seven years in prison, so for that reason the 
Court hopes that the testimony that you give to us will be truthful to your 
point of view and experience, so that it will help us to discover the truth 
of this case in a timely manner. All right, honorable witness, what do you 
know about the case of the accused, Hendra Dinata? 




Jawab: Tidak. 

Hakim Ketua: Hubungan pekerjaan? 

Jawab: Tidak. 

Hakim Ketua: Baik ya, sebelum memberikan keterangan, sesuai dengan 

Undang-undang, Saudara memberikan keterangan dibawah sumpah sesuai 

dengan keterangan Saudara, silahkan berdiri! 

Jawab : Ikuti apa yang saya ucapkan fditiru oleh saksi berduaj. 

Hakim Ketua: Om Atah Parama Wisesa, saya bersumpah, 
bahwa saya sebagai saksi dalam perkara ini akan 
menerangkan yang benar, tidak lain dari pada yang 
sebenarnya. Om Santih,Santih,Santih Om. 
Silahkan duduk, baik ya sesuai aturan ya, KUHP maka 
yang pertama-tama didengar adalah saksi pelapor yaitu 
saksi Indrawati, oleh karena itu kami mohon dengan 
sangat Bapak menunggu diluar sidang. 

Saksi pertama yang dimintai keterangan adalah : 
SAKSI INDRAWATI 

Hakim Ketua: Silahkan Ibu Indrawati didepan. 

Saudara saksi tadi sudah disumpah ya! 



Jawab: Baik, Pak. 

Hakim Ketua: Sumpah itu pada umumnya bermakna, satu 
bertanggung jawab kepada Tuhan, kedua bertanggung 
jawab kepada hukum, karena sesuai dengan pasal 82 KUHP, apabila saudara 
bersaksi memberikan keterangan, apabila keterangan itu tidak benar, itu 
bisa dikenakan pidana ancaman hukumannya 7 tahun, maka oleh karena 
itu Majelis mengharapkan saudara memberikan keterangan yang benar 
sesuai dengan penglihatan saudara, yang saudara alami, itu yang dapat kami 
sampaikan. Kiranya dapat membantu dalam mencari kebenaran yang up to 
date dalam perkara ini. Baik, saudara saksi ya, saudara tahu apa mengenai 
perkaranya terdakwa Hendra Dinata? 



271 



I: I reported that the accused knowingly sold falsified paintings attributed 

to Mr. Nyoman Gunarsa. 

HJ: You reported that the accused sold falsified paintings. 

I: That he knowingly sold falsified paintings attributed to Nyoman 

Gunarsa. 

HJ: How did you discover that? 

I: From the beginning. In the month of January, about two thirty in the 

afternoon, I passed by Jalan Gatot Subroto, and from the street I saw in 

passing -- the light was lit and the weather was a little cloudy -- so I could 

see that inside a painting was displayed that looked like the work of my 

husband. 

HJ: So you went into the Gallery? 

I: No, I went by, sir. 

HJ: Oh, you went by. 

I: In passing by it seemed like the painting on display resembled my 

husband's, so then I asked my driver to go back because I wanted to look at 

it. When I went back I saw the staff^ turning off the lights and locking the 

doors, so I tried to look in from outside. Because of the glare I had to do 

this (makes gesture as if saluting to cover her eyes). Then the staff came over 

to ask me, "Madam, is there anything we can do for you." I asked, "May I 

see inside. The staff let me in. They turned on the lights, opened the door 

and let me in. 

HJ: What do you mean, 'you wanted to see inside'? 

I: I wanted to see the Interior Design, to see if it was a gallery or a furniture 

store. 

HJ: Who was the owner of that Interior Design? 

I: At that time I didn't know. 

HJ: In brief, after you entered Cellini Interior Design, what did you see? 

I: I approached the paintings on display that resembled my husband's work. 
I arrived and went in with my secretary. Pak Wija and my driver. Putu. I 
examined the paintings carefully and saw a small sticker saying they were 
the work of Nyoman Gunarsa. I looked at it closely and spoke with my 
secretary, Mr. Wija. I felt sympathetic because maybe it was a new owner 
who knew nothing about the paintings of Mr. Nyoman Gunarsa and didn't 



Jawab: Melaporkan terdakwa sengaja menjual lukisan palsu Pak Nyoman 

Gunarsa. 

Hakim Ketua: Saudara yang melaporkan terdakwa menjual lukisan palsu. 

jawab: Sengaja menjual lukisan palsu dari Nyoman Gunarsa. 

Hakim Ketua: Saudara tahu dari mana? 

Jawab: Pada awalnya, bulan Januari kira-kira jam 14.30 sore saya lewat 
di Jalan Gatot Subroto, dari jalan saya lihat sepintas, lampunya menyala 
dan waktu itu cuaca agak remang-remang jadi sekilas didalam itu saya lihat 
terpajang lukisan mirip karya suami saya. 

Hakim Ketua: Saudara ke Gallery? 

Jawab: Tidak, saya lewat pak. 

Hakim Ketua: O, lewat. 

Jawab: Lewat dijalan sepintas seperti terpajang lukisan mirip suami saya, 

terus saya minta sama sopir, coba balik saya mau melihat, waktu membalik 

itu tunggu waktu, saya berbalik kembali, disitu karyawan sedang mematiin 

lampu, menutup pintu, saya menengok dari luar begitu. Karena kan silau 

ada kacanya, kan saya begini fseperti memberi hormatj, terus karyawannya 

menawarkan menanyakan, ibu ada apa, saya bilang boleh saya melihat 

didalam, karyawan mempersilahkan, lalu menghidupkan lampu, membuka 

pintu, mempersilahkan masuk. 

Hakim Ketua: Maksudnya melihat didalam itu? 

Jawab: Melihat-lihat di Interior Design, bisa ada gallery, furniture. 

Hakim Ketua: Interior Design itu milik siapa? 

Jawab: Waktu itu saya tidak tahu. 

Hakim Ketua: Singkat cerita sudah masuk kedalam Cellini Interior Design, 

saudara melihat apa? 

Jawab: Saya langsung menuju lukisan yang terpajang yang mirip lukisan 

karya suami saya, saya datang, waktu saya masuk, saya dengan sekretaris 

saya dan sopir saya Pak Wija dan Putu, saya mengawasi itu lukisan dan 

melihat stiker kecil di bilang karya Nyoman Gunarsa, saya amati terus saya 

diskusi pada sekretaris saya Pak Wija, kasihan ini mungkin pemiliknya baru, 

awam dengan lukisan Pak Nyoman sehingga dia tidak mengerti, apakah 



272 



^5^ 



/^ 

'£ 




understand. Should I tell her? Mr. Wija said, "Just tell her, madam." In the 

end I asked, 'Whose paintings are these?" 

HJ: Whom did you ask? 

I: One of the women on the staff who was escorting me. 

HJ: What was her name? 

I: I didn't ask. 

HJ: You didn't know her name. 

I: Yes. 

HJ: So what did the woman answer? 

I: "These are the paintings of Mr. Nyoman Gunarsa, Madam. The price is 

ninety million (rupiah)" No (/ said). These are not the paintings of Mr. 

Nyoman. Oh no. They are false. 

HJ: So what kind of paintings did you see inside Design Interior? What 

were the motifs. Was it a landscape, a house, or what? 

I: Theywere paintings ofBalinese dancers. Legong dancers. They resembled 

my husband's paintings, but they were not the work of my husband. 

HJ: Do you see them there among the paintings displayed as evidence? Are 

they there? (refering to a group of paintings lined up against the wall of the 

courtroom.) 

I: Yes, they are there, (pointing to the paintings). The red one, the green 

watercolor, a small green one, and some others, but they are not here. 

HJ: How many of them exactly did you see at that time? 

I: About ten were on the first floor, sir. I did not go up to the second 

floor. 

HJ: Yes, yes, there were about ten paintings on the first floor, and as far as 

you understood the paintings were not the work of Nyoman Gunarsa. Like 

this one here? 

I: None of them were. 

HJ: The ones that are here, can you point them out, to be clearer? 

(The witness Indrawati stands and walks towards the evidence) 

HJ: Which ones? 

(The witness Indrawati points one by one to the pieces of evidence, one was 

yellow measuring 145 x 145 centimeters and another was green measuring 



perlu diberi tahu, Pak Wija bilang, kasih tahu saja bu, akhirnya saya kasih 

tahu, ini lukisan siapa? 

Hakim Ketua: Saudara bertanya kepada siapa? 

Jawab: Salah satu pegawai wanita ada yang memandu. 

Hakim Ketua: Namanya siapa? 

Jawab: Saya tidak bertanya. 

Hakim Ketua: Tidak tahu namanya? 

Jawab: Ya. 

Hakim Ketua: Lalu dijawab oleh wanita itu? 

Jawab: Ini lukisan Pak Nyoman Gunarsa Bu, harganya 90 Juta, O memang 

mantap tapi ini bukan lukisan Pak Nyoman lho, ini palsu. 

Hakim Ketua: Terus lukisan yang saudara lihat di Design Interior itu lukisan 
macam apa atau motif apa, apakah tentang pemandangan, atau berupa 
rumah atau apa? 

Jawab: Lukisan tari-tarian Bali, Tari Legong yang menyerupai lukisan suami 
saya, tapi bukan karya suami saya. 

Hakim Ketua: Apa yang saudara lihat pada waktu itu ada diantara lukisan- 
lukisan yang sebagai barang bukti ini, ada? 

Jawab: Yang di sana (sambil menunjuk lukisan) yang warna merah, hijau, 

water colour, kecil hijau,dan ada beberapa lagi, tapi tidak ada disini. 

Hakim Ketua: Persisnya jumlahnya berapa yang saudara lihat pada waktu 

itu? 

Jawab: Kira-kira 10, itu ada dilantai satu pak, saya tidak naik ke lantai 

dua. 

Hakim Ketua: Ya ya, di lantai satu ada 10 lukisan yang sepengetahuan 

saudara bukan lukisan karya Nyoman Gunarsa, salah satu atau yang ini? 

Jawab: Ya, semuanya itu. 

Hakim Ketua: Yang ini, bisa ditunjukkan biar lebih jelas. 

Jawab: Saksi Indrawati berdiri lalu mendekat ke barang bukti. 

Hakim Ketua: Yang mana? 

Jawab: (Saksi Indrawati menunjuk satu persatu barang bukti, yang ukuran 

145 X 145 cm warna kuning dan ukuran 145 x 145 cm warna hijau). 



274 



145 X 145 centimeters) 

HJ: And the one over there? 

I: That is comparable. 

HJ: At the time you were looking at them, was a female employee present? 

I: Yes. 

HJ: Did you have the chance to ask the female employee where the paintings 

came from, is that what you asked her? 

I: At first I said that they were false, and the employee was angry, sir. 

HJ: Angry? 

I: Very angry. 

H J: In what way? 

I: She reprimanded me. 

HJ: What did she say? 

I: "Madam, how dare you speak like that. The painter himself brought them 

here. He was sick and needed money." I wanted to laugh, sir, but I feel 

sorry for people who don't know what they are talking about, so I restrained 

myself, and ran over to the ladder to try to hold it in like this (Indrawati 

bends over and shakes her body to demonstrate). By this time there were five 

people there, and two more had come in. I said, 'I am Nyoman Gunarsa's 

wife.' Suddenly the employee stood up straight. Her lips trembled. I 

could not hide my feelings, so I spoke. "Mr. 

Nyoman lives forty kilometers from here. 

Why are you selling forgeries. You are 

destroying the image of Bali. 'Many tourists 

come to this place,' I complained. They come 

from far away looking for Nyoman Gunarsa's 

valuable paintings. They embody the image of 

Indonesia, the identity of Nyoman Gunarsa, 

especially Bali. Why are you falsifying Bali 

itself, so that his wife has to stop you in order 

to uphold the ideals of her husband. That is 

what I told her, sir. I gave her my name card 

and warned her not to sell forgeries. 

HJ: After you examined the paintings, did 

you see tags and signatures on the paintings 




Hakim Ketua: Kalau yang dibarat ini? 
Jawab: Ini pembanding ( setelah itu duduk kembali). 
Hakim Ketua: Pada waktu saudara melihat ada karyawan perempuan? 
Jawab: Ya. 

Hakim Ketua: Apakah saudara sempat menanyakan pada karyawan wanita 
itu, ini lukisan asalnya dari mana, sempat nggak menanyakan itu? 
Jawab: Pada awalnya saya bilang ini palsu, karyawan itu marah pak. 
Hakim Ketua: Marah? 
Jawab: Marah-marah. 
Hakim Ketua: Bagaimana dia? 
Jawab: Langsung marahin saya. 
Hakim Ketua: Ada mengucapkan kata-kata? 

Jawab: Ibu ini siapa beraninya ngomong-ngomong begitu, ada pelukisnya 
sendiri bawa kesini, sakit butuh duit, saya ketawa pak, saya kan tumbuh 
rasa kasihan orang yang tidak mengerti bicara demikian saya mau ketawa, 
saya tahan, saya lari kesini dibawahnya ada tangga, pada waktu muter, 
begini-begini (sambil menggoyang badan), dan diiringi 5 orang, ada 2 orang 
lagi, setelah itu saya bilang saya itu istrinya Nyaman Gunarsa, tiba-tiba 
karyawan itu berdiri, bibirnya bergetar, saya kan tidak sampai hati, terus 

saya ngomong begini. Pak Nyoman tidak ada 
40 km dari sini, kenapa jual palsu, ini kan 
merusak citra Bali, banyak turis yang datang 
ketempat saya komplin, datang dari jauh, cari 
Nyoman Gunarsa mahal-mahal, punya citra 
Indonesia, identitas Nyoman Gunarsa, khas 
Bali, kenapa dipalsu di Bali sendiri, supaya 
ibu mencegah maka dengan itikad mendukung 
idealis suami saya, saya beritahu demikian 
Pak, saya kasih kartu nama, tolong diberitahu 
jangan jual palsu. 



Hakim Ketua: Nah setelah ibu memperhatikan 
lukisan ya, apakah ibu melihat ada stiker dan 



275 



FAKE PAINTING 
LUKISAN PALSU 



NYOMAN GUNARSAS TRUE PAINTING 

LUKISAN ASLI NYOMAN GUNARSA 





This falsified painting was found in Gallery Cellini, owned by Hendra Dinata, 
alias Sinyo, on Jalan Gatot Subroto, Denpasar. 

Lukisan tiruan (palsu) yang diketemukan di Gallery Cellini 
milik Hendra Dinata alias Sinyo, Jl. Gatot Subroto Denpasar 



A new point of comparison used in the investigation by Balinese District Police. 
Pembanding baru yang dipergunakan oleh penyidik Polda Bali. 



276 



in question? 

I: The signatures were similar {to Gunarsas), but I am not sure, but there 
were tags, sir, small ones. 
HJ: Where were they placed on the paintings? 
I: On the lower right. 
HJ: Can you try to show us where? 

(Indrawati walks to the paintings and points out where the stickers were placed 
and then goes hack to her seat. Each time she walks to the paintings she is 
followed by a crowd of judges, lawyers, and reporters that transforms the court 
into a miniature art gallery.) 

HJ: So after you saw the paintings that according to you were not the 
paintings of Mr. Nyoman Gunarsa, what did you do, what actions did you 
take? 

I: I told them that Mr. Nyoman was less than forty kilometers away, asked 
why they were selling forgeries. I gave them my name card and told them 
that if they wanted to sell Nyoman Gunarsas paintings that instead of selling 
forgeries they should contact me and I would help them, because I was his 
manager. 

HJ: After that, in the following days, the next day or two days later, the next 
week or after that did you go back to Interior Design? 
I: With eastern propriety and ethics that were clearly polite and well- 
intentioned, I sent my son and Mr. Wija to the gallery to ask where the 
paintings had come from and to photograph them. 

HJ: But at that time you did not accompany them? 

I: I stayed at home. 

HJ: You did not go there? 

I: That's right, because I wanted to handle the matter ethically. 

HJ: How long afterwards.? 

I: The next day at nine in the morning. 

HJ: You sent your son to verify whether or not they were the genuine 

paintings of Mr. Gunarsa, and so you sent your secretary Mr. Wija with 

your son. 

I: But they were not allowed to take photographs because Mr. Sinyo was 

there waiting for them. 



tanda tangan di lukisan tersebut? 

Jawab: Tanda tangannya menyerupai, tapi saya yakin bukan, kalau stiker 

ada pak, kecil. 

Hakim Ketua: Disebelah mana lukisan itu? 

Jawab: Sebelah kanan bawah. 

Hakim Ketua: Coba, bisa ditunjukkan! 

Jawab: (Ibu Indrawati lalu berdiri dan menunjukkan dimana stiker itu 

berada, setelah itu duduk kembali). 



Hakim Ketua: Nah selanjutnya setelah melihat lukisan yang menurut saudara 
bukan lukisan Pak Nyoman Gunarsa, apa yang saudara lakukan, apa yang 
saudara perbuat? 

Jawab: Saya memberitahu bahwa Pak Nyoman tidak ada 40 km dari sini, 
kenapa jual palsu, ini kartu nama kalau berniat jual, jangan jual palsu, saya 
Bantu, saya selaku managernya Pak Nyoman Gunarsa. 



Hakim Ketua: Setelah itu apakah dikemudian hari, besoknya, dua hari, 

seminggu dan selanjutnya pernah lagi ke Interior Design? 

Jawab: Dengan rasa ketimuran, dengan etika, yang jelas saya menganut 

bagaimana dengan Prikemanusiaan dengan etika budaya dan saya menyuruh 

anak saya dan Pak Wija datang ke gallery itu menanyakan lukisan dari mana 

dan memotret. 

Hakim Ketua: Tapi pada waktu itu ibu tidak ikut kesana? 

Jawab: Ada dirumah. 

Hakim Ketua: Tidak kesana? 

Jawab: Ya, karena saya menjaga etika. 

Hakim Ketua: Selang beberapa hari? 

Jawab: Besoknya, jam 09.00 pagi. 

Hakim Ketua: Ibu menyuruh anak untuk memperjelas apakah itu betul 

lukisan pak Gunarsa, dan sebagainya ibu menyuruh anaknya dan pak Wija, 

sekretaris. 

Jawab : Tapi dihalangi untuk memotret, karena sudah ditunggu oleh saudara 

Sinyo. 



277 



HJ: What is your source for that information, 

madam? 

I: My source for the information is my son, who 

said that he was met with anger. 

HJ: So, after that did you ever directly meet the 

accused in connection with the paintings or talk 

to him or ask him anything? 

I: No, my son did. 

HJ: Your son? Then you never directly met the 

accused, is that correct? 

I: No, only my son. But I asked him to ask where 

the paintings were from. 

H J: And what did the accused answer.? 

I: First the accused said, "Your mother came here very angry and she 

created havoc with my staff. My son said that if I was angry he was sorry, 

but he wanted to know where the paintings came from. Oh, he said, these 

paintings are from Bimantoro {ex-police chief of Klungkung), Sitorus {the 

township police chief), and the {current) Police Chief of Klungkung. 

H J: That is what he said to your son. 

I: Yes, to my son. 

HJ: Not to you directly? 

I: I spoke separately to my secretary and he said the same thing that my 

son said. 

HJ: Madam, you are familiar in detail with Mr. Gunarsa's paintings. 

I: I know them very well, sir. 

HJ: Mr. Gunarsa is a master painter, is that correct? 

I: Yes, sir. 

H J: Do you know if Mr. Gunarsa ever registered his work at the Copyright 

Office? 

I: Yes, my husband and I are often are invited to various places, seminars 

on the subject of copyright, violation of copyright in the field of visual arts, 

and other topics. My husband is in demand as a speaker who focuses on 

these topics. 

HJ: My question is do you know if Mr. Gunarsa ever registered his work. 




Hakim Ketua : Tapi kan berdasarkan 
keterangan Ibu? 

Jawab: Berdasarkan keterangan anak saya, bahwa 
anak saya disambut dengan marah-marah 
Hakim Ketua: Nah, selanjutnya apakah Ibu 
pernah bertemu langsung dengan terdakwa, 
berkaitan dengan lukisan-lukisan itu, pernah 
berdialog atau bertanya atau apa? 
Jawab: Tidak, anak saya. 

Hakim Ketua: Anak saudara? jadi ibu tidak 
pernah bertemu langsung dengan terdakwa ya? 
Jawab: Tidak, tapi anak saya, saya minta untuk 
bertanya, ini lukisan dari mana? 
Hakim Ketua: Lalu dijawab oleh terdakwa? 

Jawab: Dulunya terdakwa bilang, ibumu datang kesini marah-marah, 
tau enggak saya ini tukang buat huru-hara, terus anak saya lagi bilang o 
bagaimana selanjutnya kalau memang marah-marah, maaf tapi dari mana 
itu lukisan, ini lukisan dari Bimantoro, Sitorus, Kapolres Klungkung begitu. 

Hakim Ketua: Itu dibilang sama anak ibu 

Jawab: Anak saya 

Hakim Ketua: Bukan pada saudara ya? 

Jawab: Secara terpisah saya kompromikan dengan sekretaris saya, jawaban 

sekretaris saya sama dengan anak saya 

Hakim Ketua: Ibu kan tahu persis ya lukisan pak Gunarsa ya 

Jawab: Sangat tahu pak 

Hakim Ketua: Pak Gunarsa kan sebagai Maestro pelukis ya? 

Jawab: Ya pak 

Hakim Ketua: Apakah saudara tahu, karena Pak Gunarsa itu seorang pelukis 

pernah mendaftarkan karya-karyanya di Direktorat Hak Cipta, anda tahu? 

Jawab: Mendaftarkan iya dan juga suami saya, kami sering diundang ke 

mana-mana, seminar membahas tentang Hak Cipta, pelanggaran Hak Cipta 

dihidang seni lukis, juga yang lain, tetapi yang difokuskan itu, suami saya 

sebagai pembicara seni lukis. 

Hakim Ketua: Pertanyaan saya apakah ibu tahu Pak Gunarsa itu pernah 



278 



I: He did. 

HJ: With the Director General of Copyrights? 

I: Yes, he did, but the Director General of Copyrights only began its activities 

around '95, '97, '98, sir. 

HJ: When did your husband register his work? Do you still remember? 

I: My husband registered them in Jakarta, during his exhibition at BMI, 

but that was just done orally and not yet written down. Maybe my husband 

remembers the written version. 

HJ: So you forget, madam? 

I: I did not specifically ask my husband, because I heard it directly at that 

time from the attorney general, because our exhibition at BMI was opened 

by Madam Tien {the wife of then-president Suharto). All the national 

ministers were there. 

HJ: So the one who would know the details about the registration is your 

husband? 

I: Yes. 

HJ: So among these more or less ten paintings that you saw there, which 

according to you are not the paintings of Mr. Gunarsa, were any of them 

sold to other people or buyers? 

I: From the beginning, the story is like this, sir. Afterwards I was informed 

by Bimantoro, Sirotrus, and the Chief of Police of Klungkung, because my 

museum has many State Guests, and there are often official activities. The 

chief of police of Klungkung and his staff often come to provide security, 

so it automatic that I have a close relationship with every police chief 

in Klungkung, and when the Museum opened my husband was in Jogja 

teaching at the Institute of the Arts... 

H J: My question was about these paintings that you saw. Do you know 

whether or not they were sold to anyone else? 

I: It's like this, sir. There is a connection because I was told, directly, I was 
told that the painting from the chief of police in Klungkung was installed 
at the time of the building of the new police station. At that time the chief 
of police was Mr. Basuki, and he asked for a painting by Mr. Nyoman as a 
remembrance for the lobby. It measured 95 x 95 centimeters, so I wanted 



mendaftarkan karyanya? 
Jawab: Pernah. 

Hakim Ketua: Ke Dirjen Haki ? 

Jawab: Pernah, tapi Dirjen Haki itu kan mulai di aktifkan kira-kira pada 
tahun 95, 97, 98 pak. 

Hakim Ketua: Kapan suami ibu mendaftarkan?, masih ingat? 
Jawab: Waktu itu mendaftarkan di Jakarta, waktu sedang pameran di BMI, 
tetapi baru secara Usan saja belum tertulis, tertulisnya mungkin yang tahu 
suami saya. 

Hakim Ketua: Ya, ibu lupa ya? 

Jawab: Saya tidak menanyakan jelas pada suami saya, kelanjutannya 
bagaimana, karena saya dengar langsung, waktu itu di depan Bapak Jaksa 
tinggi, karena kita kan pameran untuk BMI yang buka ibu Tien, Menteri- 
Menteri Negara datang. 

Hakim Ketua: Jadi yang lebih tahu secara mendetail mengenai pendaftaran 
itu, suami ibu? 
Jawab: Ya. 

Hakim Ketua: Nah dari sekian lukisan ya, kurang lebih sepuluh lukisan 
yang saudara lihat disana, sepengetahuan ibu bukan lukisan Pak Gunarsa, 
sempat ada lukisan yang terjual pada orang lain atau pada pembeli? 
Jawab: Pada awalnya setelah, kan ceritanya begini pak, setelah saya 
diberitahu, dari Bimantoro, Sitorus dan Kapolres Klungkung, karena di 
Museum saya sering mendapat tamu Negara, sering banyak aktivitas , oleh 
pak Kapolres sering didatangi dan dijaga oleh anak buah Kapolres Klungkung, 
jadi otomatis dengan tiap-tiap Kapolres di Klungkung saya akrab dan waktu 
bangun Museum suami saya kan di Jogja ngajar di ISI... 

Hakim Ketua: Pertanyaan saya yang berkaitan dengan lukisan-lukisan ini 
ya, yang saudara lihat, tahu nggak ada nggak lukisan itu telah terjual kepada 
orang lain? 

Jawab: Begini pak, ada kaitannya terus saya karena diberitahu, saya akrab, 
saya diberitahu bahwa lukisan dari Kapolres Klungkung memang waktu 
mendirikan gedung Kapolres yang baru, waktu itu Kapolresnya Pak Basuki, 
minta supaya ada kenang-kenangan dari Pak Nyoman di lobi Kapolres, merah, 
tapi ukuran 95 X 95 saya sudah mencoba ngecek, apa masih ada atau 



279 



to check, but the new chief of pohce Mr. Hepi had aheady moved. I had 
just met Mr. Yono, and he said how are you, madam. You are Gunarsa's 
wife, aren't you. Yes, I said. How are you, madam? I'm here to check about 
someone seUing false paintings. I am a hundred percent sure they are false. 
That's what the chief of police said in Klungkung, Mr. Sitorus from the 
Township Police and Bimantoro. By chance the police chief and I are both 
from central Java, so naturally we have the same ideas about culture and art, 
so he asked me to sit down, and then he said, madam that is not possible. 
It is a hundred percent impossible, because it has been confirmed by the 
highest authorities. You have to file a report and I will come there. It is a 
serious responsibility, madam, you must fill out a report. So in the end on 
the day of the 11th, the day after the 10th, because notice was served in the 
afternoon of the 12th, I reported that I assumed false paintings were being 
sold. 

HJ: You assumed? 

I: First I reported that I assumed the paintings being sold were false, then 
the process went on, and in the end, at the beginning of April, the report 
was acted on by the District Police, and the Chief of the District Police, in 
order to get Mr. Nyoman himself to verify this, accompanied us with a police 
escort, Mr. Dewa Penida and Mr. Nyoman Madra and someone whose name 
I forget, and Mr. Wija, and Mr. Nyoman, and the five of us arrived at the 
gallery and were received by an employee. And then Mr. Nyoman saw them 
himself. 



tidak, tapi Kapolresnya baru yang Pak Hepi sudah pindah, saya baru kenal 
Pak Yono, terus ngapain bu, ibu, ibu Gunarsa ya, iya (jawab ibu) ngapain 
bu?, ini ngecek ada orang jual lukisan jelas-jelas palsu, saya yakin 100 % 
palsu, kok bilang dari Kapolres klungkung. Pak Sitorus dari Polda Bali dan 
Bimantoro, Kebetulan Pak Kapolres dengan saya kan sama-sama dari Jawa 
Tengah, otomatis kita punya budaya, punya alam pikiran sama, terus saya 
dipersilahkan duduk, bu tidak mungkin!, tidak mungkin 100% karena beliau 
hanya kenal saja mengaku-ngaku dari aparat tinggi, ibu harus membuat 
sebagai laporan dan saya baru datang, kita baru kenal , pertanggungan jawab 
benar itu bu, benar, berupa laporan, ya. Akhirnya tanggal 11, besoknya dari 
tanggal 10, karena sudah sore tanggal 12 nya diproses, ya saya laporkan 
bahwa saya menduga adanya penjualan lukisan palsu. 



Hakim Ketua: Menduga? 

Jawab: Dulunya, terus saya laporan diduga ada penjualan lukisan palsu, terus 
waktu didalam proses, akhirnya pada awal April berkas itu dikirim ke Polda, 
terus di Kapolda untuk membuktikan Pak Nyoman sendiri sebagai pelukisnya, 

kami diantar oleh dari Polda, Pak Dewa Penida dan Pak Nyoman begitu 

saya lupa namanya dan Pak Wija, Pak Nyoman dan saya, berlima datang 
ke gallery dan diterima satu pegawai, terus baru Pak Nyoman menyaksikan, 
terus ( CD terputus /tidak ada gambar). 



HJ: (The judge reads from a statement given by the witness Indrawati in a 
previous police report) "The testimony that I gave before is correct, but it is 
necessary that I add that I met the maker of the two false paintings under 
discussion, two watercolors on canvas that were presented as evidence. It was 
I Gede Padma a working painter from the village of Batubulan Kecamatan 
Sukawati, Kabupaten Gianyar. And also on the fifth of July in 2005 I was 
given some watercolors on paper, that very much resembled the style of 
my husband's. Dr. Nyoman Gunarsa, from a man named I Gede Danajyaya, 
owner of Siaja Gallery on Jalan Raya Mas, in the village of Mas in the county 



Hakim Ketua: (Hakim membacakan keterangan saksi Indrawati dalam 

BAP) ; karya suami saya Drs. I Nyoman Gunarsa dari seorang 

laki-laki bernama I Gede Dananjaya, pemilik Siaja Gallery Jalan Raya Mas 
Desa Mas Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar dan salah satu lukisan 
tersebut diperoleh dari seorang laki-laki, nama I Wayan Lanus alamat 
Banjar Manuaba Desa Kendran Kecamatan Tegalalang Kabupaten Gianyar, 
mantan karyawan Drs. I Nyoman Gunarsa. Betulkan keterangan saudara itu 
dipenyidik? 



280 



of Ubud, in the precinct of Gianyar, one of the 

paintings in question was obtained by a man 

named I Wayan Lanus from Banjar Manuaba 

in the village of Kendran in the district of 

Tagalalang in the precinct of Gianyar, former 

employee of Dr. Nyoman Gunarsa." Is this 

report from the investigating officer correct? 

I: It is true, sir. First, Your Honor... 

HJ: It's true. That's enough. 

I: But first. Your Honor, I have to say that I 

didn't understand why the investigator from the 

Bah District Police did not recommend charges 

against them, so that is why, wanting to be 

ethical, I did not press charges against them. 

HJ: (to the Prosecuting Attorneys advisor) You already knew, sir. You had 

already confirmed it. 

HJ: According to the related inquiries made by the investigator, the paintings 

had signatures. 

I: Yes, there were. There were two (she holds a photograph and points to 

the paintings), but I have proof. 

Counsel for Defense of the Accused (Penasehat Hukum Terdakwa): After 

you found out who had made the paintings that you say are false, why didn't 

you press charges? 

I: I already told the Bali District Pohce and in the end I... (cut off by the 

adviser) 

CDA: My question is, did you press charges? 

I: I already told them. I had already been questioned. I already said so. 

HJ: That's the answer. 

I: I already said so, but I didn't press charges. 

HJ: You already knew, but you didn't press charges. 

I: In this case it would have been redundant. 

HJ: Madam would help us by answering succinctly, so that we don't run out 

of energy. 

I: The questions are confusing. 

HJ: All right, I am sorry. The next questions will come from the Associate 




Jawab: Benar Pak, didepan Bapak Hakim 

Hakim Ketua: Benar, itu cukup. 
Jawab: Tapi didepan Bapak Hakim saya bilang 
tidak tahu karena penyidik dari Polda Bali 
tidak merekomendasikan mereka itu bersalah, 
jadi saya menurut etika tidak menuduh. 



Hakim Ketua: Sudah diketahui ya pak, sudah dibenarkan, (hakim bertanya 

pada penasehat Hukum). 

Hakim Ketua: Yang menjadi pertanyaan berkaitan dengan pernyataan pada 

penyidik, adakah lukisan itu yang ditandatangani? 

Jawab: ada, ada dua (sambil membawa foto dan menunjuk lukisan), tapi 

saya punya bukti. 

P. H: Setelah saudara mengetahui bahwa pembuat lukisan tersebut yang 

saudara katakan palsu, apakah saudara sudah melaporkannya? 

Jawab: Saya sudah bicara dengan polda Bali dan saya selesai ...(dipotong 

penasehat Hukum). 

PH: Pertanyaan Saya, apakah sudara sudah melaporkannya? 

Jawab: Sudah kanl, saya kan sudah diperiksa, saya sudah ngomong. 

Hakim Ketua: Sudah jawabannya. 

Jawab: Saya sudah ngomong, tapi tidak melaporkan. 

Hakim Ketua: Sudah memberitahu, tapi tidak melaporkan. 

Jawab: Masak dalam kasus ini dilaporkan berulang-ulang. 

Hakim Ketua: Ibu tolong jawab yang singkat, agar tidak habis energinya. 

Jawab: Habis pertanyaan memusingkan. 

Hakim Ketua: Baiklah, mohon maaf ini, pertanyaan selanjutnya akan 



281 



Judge. 

Associate Judge: The answers just submitted to 

the Prosecuting Advisor about the witnesses 

opinions should be erased from the court 

records, because we consider them to be 

irrelevant. She is not an expert. The witness is 

not an expert. During the time that she told her 

story to the court, about how she could see the 

character of the paintings, it is not acceptable. 

All the explanations and information presented 

by the witness should therefore be struck from 

the record. 

CDA: My question is that it supports. . . 

AJ: B ut she is not an expert. 

CDA: Claiming that this is not the character of her husband's painting, is 

her opinion as an individual... 

AJ: But that is not acceptable. It is not an opinion. She is not an expert. 

CDA: That is why we asked. . . 

AJ: It's not acceptable. 

CDA: But that has already been answered. 

AJ: Then the answers have to be struck from the record. 

I: Excuse me sir. I am not a lawyer, but I obey the laws and understand 

the impropriety of making mutual accusations. Because the police did not 

consider him a suspect, there was nothing wrong in my saying, "I don't 

know." That is the right of the police, the responsibility of the police." Yes 

the police. Is that true or not? (the spectators in the courtroom laugh). 

HJ: I want to remind you again that if you are not asked a question you 

should not give commentary so in that way only what is asked will be 

answered. Please continue. Prosecuting Adviser. 

I: If things are not clear, I also will not answer. 

HJ: In that case the court will make things clear. 

I: All right, sir. Thank you. 

CDA: Just now, madam witness, you said that these paintings were false, 

lacking proportion, without the soul and character of your husband. Where 

can you locate the specific differences that you are talking about when you 




disampaikan Hakim Anggota. 
Hakim Angg: Klasifikasi pertanyaan Penasehat 
Hukum tadi, mengenai apakah itu pendapat 
saksi harus dihapus dalam catatan, karena 
pertanyaan itu kami anggap menyimpang, 
yang kita tanyakan itu, dia bukan ahli, saksi ini 
bukan ahli, waktu ibu menceritakan ke Majelis 
tadi, majelis mengatakan bagaimana caranya 
dia melihat karakter lukisan itu, begitu toh I 
jadi yang dialaminya, yang diketahuinya kan 
itu keterangan saksi, jadi tolong itu supaya di 
cukupkan. 

P.H .: pertanyaan saya. Ini penegasan 

Hakim Angg.: Tapi dia bukan ahli. 

P.H.: Bahwa ini tidak ada karakter suaminya dilukisan ini, itu kan 

pendapatnya dia secara pribadi. 

Hakim Angg.: tapi ini tidak bisa, itu kan pendapat, dia bukan ahli. 

PH.: Oleh karena itulah kita tanyakan. 

Hakim Angg.: Tidak bisa itu. 

PH.: Tapi itu sudah dijawab. 

Hakim Angg.: Mukanya itu harus dianulir. 

Jawab ibu: Maaf pak, saya orang awam Hukum, tapi saya patuh dan saya 

punya etiket saling tuduh, karena polisi tidak menetapkan sebagai tersangka, 

tidak bersalah, saya bilang tidak tau, itu hak polisi, itu kewajiban polisi, ya 

pak polisi, bener enggak? (disambut dengan tawa hadirin) 

Hakim Ketua: Saya peringatkan sekali lagi ya, kalau tidak ditanyakan, 

jangan memberikan komentar, oleh karena itu sesuai dengan itu, apa yang 

ditanyakan itu dijawab, silahkan penasehat hukum. 

Jawab: Kalau tidak dengan jelas, saya juga tidak jawab. 

Hakim Ketua: Nanti Majelis akan menjelaskan. 

Jawab: Baik Pak, terima kasih. 

PH.: Tadi saudara saksi mengatakan bahwa lukisan ini lukisan palsu ya, 

tidak proporsional, tidak ada jiwa dan karakter suami ibu, dimana letak 

perbedaan spesifik yang dimaksud oleh saksi mengenai perbedaan lukisan 



282 



refer to the differences between the paintings? 

I: To answer your question clearly, sir, please excuse me for standing up. 

(Indrawati clarifies the differences between the paintings by demonstrating 

the body positions and movements of the dancers depicted in the both the 

false and original paintings. Then she sits down.) 

CDA: Madam witness, you just said that Mr. Nyoman Gunarsa paints with 

an inspiration of the soul in a way that gives the painting a sense of, what is 

it called, perfection? 

I: No. The main point is that anyone taking even a glance at Mr. Nyoman's 

paintings can see that he is indeed a master with a fundamental sense of 

artistic ethics. 

CDA: Just now madam witness referred to an inspiration of the soul. Mr. 

Gunarsa's paintings, the ones in question, do you know what year they were 

painted or can't you differentiate? 

I: It is not only about inspiration of the soul. Mr. Nyoman is a master artist 

of our times, inspired by the movements of Balinese dance. He knows those 

movements intimately or as the Javanese would say "mbalung sumsum" 

("they are in the marrow of his bones"), so he doesn't have to look at them, 

he already knows them instinctively. 

CDA: Just now you said that the inspiration of the soul is not the same for 

everyone. 

I: Yes, that will not always be the same. 

CDA: But these are not the same. Howcanyouprovideproof that they are 

not the paintings of Mr. Gunarsa. 

I: It is clear to anyone who knows anything about painting that it has no 

character. You are not an expert in the field of painting, so how can I educate 

you, sir. Now, sir, if I ask you to look at a letter to you written by your wife 

or ex-girlfriend, it will surely have its own soul or character. And then if 

you look at a letter written by someone else you could see clearly that it was 

not the writing of your wife, isn't that true? 

CDA: What I'm asking about is paintings, which is a different subject. 

I: Yes, but although paintings are not the same subject, the difference 

between paintings with the soul of Mr. Nyoman and those without that soul 

is similar to your recognizing the difference in someone's handwriting. 

HJ: These questions are too abstract. Making them more concrete will help 



itu? 

Jawab: Apa yang Bapak maksud, maaf pak saya berdiri, (Ibu Indrawati lalu 
menjelaskan dan memperagakan letak perbedaan dan posisi kaki penari 
antara lukisan yang asli dengan yang palsu, lalu duduk kembali). 

P.H: Saudara saksi ya, tadi saudara mengatakan bahwa Pak Nyoman 
Gunarsa melukis dengan inspirasi jiwa sehingga dengan demikian bahwa 
apa lukisan itu bisa, apa namanya sempurna? 

Jawab: Tidak pokokya orang sekilas melihat lukisan Pak Nyoman itu memang 
maestro, ada dasar-dasar etika seni. 

PH.: Saudara saksi, tadi inspirasi jiwa. Pak Gunarsa itu, yang saya tanyakan 
lukisan-lukisan ini tahun berapa atau bisa ibu bedakan? 

Jawab: Tidak hanya inspirasi jiwa. Pak Nyoman sebagai pelukis sampai 
maestro sekarang, inspirasi untuk gerak tari Bali itu, gerak tarinya saja 
sudah nelotok, kalau orang Jawanya bilang sudah mbalung sumsum, tidak 
usah lihat sudah tahu begini 

P H.: Tadi kan saksi mengatakan bahwa inspirasi jiwa itu tidak selalu sama 

semua. 

Jawab: Ya, itu kan tidak sama yang itu. 

PH.: Tapi ini tidak sama, bagaimana bisa membuktikan bahwa ini tidak 

lukisannya Pak Gunarsa. 

Jawab: Jelas dong tidak ada karakter, kalau yang namanya lukisan pak ya. 

Bapak kan awam lukisan, apa perlu saya ajari pak, sekarang Bapak saya 

Tanya Bapak menulis surat, tulisan tangan dari istri, mantan pacar pasti 

menjiwai, sekarang dapat surat dari orang lain tau nggak itu tulisan istri 

atau bukan. 

PH.: Yang saya tanya, lukisan itu kan berbeda-beda. 

Jawab: Ya tapi biarpun lukisannya tidak sama, tapi perbedaanya adalah 

tidak ada jiwa Pak Nyoman tidak ada roh, seperti Bapak kalau menulis tidak 

selamanya tulisannnya sama . 

Hakim Ketua: Begini pertanyaannya jangan terlalu abstrak, kongkritnya 



283 



us to understand. 

CDA: What year was this painting made? 

I: There are many paintings that I didn't see, but I would say 1997. 

CDA: And that one, what year? 

District Attorney: Please Your Honor, we ask that this not be repeated 

again. 

HJ: More or less around 1998. 

CDA: Madam witness, in the year 1998 was your husband, Mr. Gunarsa, 

ever sick? 

I: He was. Early on the morning of December 2, I took him to the 

hospital. 

CDA: So he was. 

I: He was. 

CDA: During the year of 1998 did he engage in any activities or paint? 

I: Very often before he was sick. After he was sick he did things for collectors 

continuing through 1999. All the paintings he did after he was sick, he 

painted on commission. They were all put in the collection of Ibu Sri in 

Jakarta the owner of the magazine Matra. The painting you referred to just 

now was not like that, because when he was sick Mr. Nyoman's hands were 

not affected, only his feet, a little bit, sir. 

CDA: Did he ever experience a stroke? 

I: Yes, but not a total stroke, and it only struck the left side of his brain. 

CDA: But you just said that these things depended on the inspiration of Mr. 

Gunarsa's soul. During the time just after his sickness, did his work change 

because he had experienced an illness? 

I: No, I am sure. I will explain it to you because you are not an expert in 

art. If someone is an economist, the active part of the brain is the left side, 

but if he is an artist, the active side is the right side. My husband's stroke 

was on the left side, so his artistic skills continued to function. There was 

no change. 

HJ: That is not an answer. 

I: Because, you are not an expert, sir, I have to inform you. 

CDA: In connection with your recent testimony, are you acquainted with 

Mr. Gede Padma? 

I: I have known Gede Padma since I was put on trial two times on accusations 



saja tolong dipahami. 

P.H.: Ini lukisannya tahun berapa itu? 

Jawab: Bisa, tapi saya banyak lukisan ndak lihat saya, tahun 1997. 

P.H.: Kalau itu tahun berapa? 

Jaksa: Begini Pak Hakim, kami mohon tidak diulang lagi. 

Hakim Ketua : Kurang lebih tahun 1998. 

PH.: Saudara saksi tahun 1998 apakah suami Ibu yang namanya Pak 

Gunarsa itu pernah mengalami sakit? 

Jawab: Pernah, 2 Desember pagi-pagi buta saya yang bawa ke rumah sakit. 

PH: Pernah? 

Jawab: Pernah. 

PH.: Apakah selama tahun 1998 itu pernah dia melakukan atau melukis? 

Jawab: Sebelum sakit, nggak. Setelah sakit hanya mencoba di muka kolector 

tidak seperti itu, terus setelah tahun 1999, iya, tapi semua lukisannya begitu 

Pak Nyoman sakit, dia melukisnnya selalu disponsori, dikoleksi semuanya 

oleh ibu Sri di Jakarta pemilik majalah Matra. Melukis tadi tidak seperti 

itu, karena Pak Nyoman biarpun sedang sakit tangannya tidak berpengaruh 

hanya sedikit kaki Pak. 

P.H.: Apakah dia pernah mengalami stroke? 

Jawab: Iya, tetapi tidak stroke total, dan yang kena otak kiri. 

PH.: Tapi tadi saksi bilang, ini tergantung daripada inspirasi jiwa Pak 

Gunarsa, pada waktu itu dia baru sakit, apakah karyanya berubah karena 

mengalami sakit? 

Jawab : Nggak, tau nggak saya memberitahu karena bapak awam seni, 

kalau orang itu ekonom, yang aktif itu otak kiri, kalau seniman yang aktif itu 

semua otak kanan, suami saya yang kena otak kiri, jadi rasa seni rasa gerak 

masih tetap, tidak berubah. 

Hakim Ketua: Jawabannya tidak! 

Jawab : Karena bapak awam saya kasi tahu. 

PH.: Sehubungan dengan pernyataan saudara tadi, saksi kenal dengan gede 

Padma. 

Jawab: Saya kenal Gede Padma setelah saya diadili dua kali berdasarkan 



284 



of slandering Sinyo. 

CDA: What led to your going there? 

I: Because from the time that I opened 

the Museum around 1995 until that 

year I always passed by Silungan, and 

on the left side of the road there were 

paintings that resembled very much 

(Gunarsa's), but I knew the were the 

work of Gede Padma. So I went there, 

and they were signed by Gede Padma, 

so I kept quiet. After I was put on 

trial twice for slander, I had the urge 

to look for Mr. Gede Padma with this 

photo, but he had already moved from 

Silungan to Batubulan. So I went to 

Batubulan to look for him carrying 

this photo. So he explained: "My 

paintings are similar to Mr. Gunarsa's. 

I take orders. I look for figures." Then 

in the end he understood that I was the wife of Mr. Gunarsa. "Oh, yes, 

yes, madam." (replies Gede Padma). I asked him if this was his work or 

not. Then he remembered. "Oh, yes, I paint many of them, many of them, 

because I can imitate Mr. Gunarsa. Thanks to Mr. Nyoman Gunarsa I can 

support my family, but I use my own name. I can buy a house like this. I 

asked him. Sir, if this is your painting, please sign it. He signed it. (She 

shows a photograph of the paitning signed by Gede Padma to the Prosecuting 

Adviser and Sinyo). 

CDA: During the time that you visited Mr. Gede Padma, did you ever show 

the paintings of Gede Padma to anyone else who thought they were the 

work of Gede Padma? 

Answer: Gede Padma had many of them. He said, "Yes, of course, madam 

I sign them. Thanks to Mr. Nyoman I can build a house here, but I buy the 

land and this house all in my name. 

CDA: You can say these things. Later Gede Padma will appear as a 

witness. 




tuntutan yang sama atas fitnah Sinyo. 
P.H.: Apa tujuan Ibu datang kesana? 
Jawab: Karena pada waktu saya bangun 
Museum kira-kira tahun 1995 sampai 
tahun itu saya selalu lewat Silungan, 
kiri jalan ada lukisan yang mirip-mirip 
begitu banyak, saya tahu itu lukisan 
Gede Padma, o saya datangi masih atas 
nama Gede Padma, saya diam. Setelah 
saya difitnah dua kali, timbul rasa saya 
untuk mencari saudara Gede Padma 
dengan membawa foto ini, tapi di 
Silungan sudah pindah ke Batubulan, 
terus ke Batubulan saya cari, saya 
sambil bawa foto ini, kemudian dia 
menjelaskan, saya memanglukisan saya 
memang sama dengan Pak Gunarsa, 
saya bisa terima pesanan, sekarang 
saya sudah cari figure sendiri, terus 
akhirnya dia tahu saya ini istrinya Pak Gunarsa, oh ya ya bu, (jawab Gede 
Padma). Saya bertanya Pak ini lukisan Bapak atau bukan? Terus dia ingat- 
ingat, oh ya saya melukis banyak sekali, banyak, karena saya meniru Pak 
Gunarsa. Karena jasa Pak Nyoman Gunarsa saya bisa hidupi keluarga saya, 
tapi saya pakai nama saya sendiri, saya bisa beli rumah ini. Saya Tanya, Pak 
kalau ini lukisan Bapak tolong dong ditandatangani. Beliau tanda tangani 
(sambil menunjukan foto lukisan yang ditandatangani Gede Padma kepada 
penasehat Hukum Sinyo). 

P.H.: Apakah saksi pada waktu menemui Pak Gede Padma, apakah saksi 
pernah menunjukkan lukisan orang lain sehingga Gede Padma mengira 
lukisan ini karya Gede Padma? 

Jawab: Gede Padma punya banyak sekali, sepertinya iya kok bu, ya saya 
tanda tangani, terima kasih karena jasa Pak Nyoman saya bisa bangun 
rumah ini, tapi beli tanah dan rumah ini tapi semua atas nama saya. 
P.H.: Ibu bisa saja bicara demikian, nanti kan saksi Gede Padma kita 
hadirkan. 






285 



I: As you please, sir, but I have already spoken with conviction. 

HJ: That's enough. Does the accused have any questions to ask the 

witness? 

Sinyo: No. 

HJ: What is your opinion of the witness' testimony? 

S: Some of it is true and some of it is false. 

HJ: Which was more: the true or the false? Was it mostly 

true? 

S: She said that my employee was very angry, but actually 

she was very angry with my employee. Secondly, she hit 

the paintings... 

HJ: So most of it is not true, yes? 

S: Other things, I don't know about. Secondly, it was said that I 

insulted her religion. That is a lie. In fact she is the one who said 

that I am a person without culture, that Gunarsa was an artist, which 

meant that only Mr. Gunarsa could represent the character of the country, 

and that I could not because I was just a businessman. Actually I cannot 

have a conversation with her, because she talks too much. 

HJ: Is that all? 

S: Yes. 

HJ: Madam, do you stand by your testimony? Do you want to change 

anything? 

I: No. 

HJ: Thank you. Please sit down in the back. 

I: Thank you, sir. I would add that at the time it was said I hit the paintings 

I did not respond again. No one asked for my explanation, and during the 

time I was put on trial the witnesses contradicted him. 

HJ: Thank you and please sit down in the back. Next, will the witness Dr. 

Nyoman Gunarsa please come into the courtroom. 

(The witness Nyoman Gunarsa enters the courtroom) 




Jawab: Silahkan Pak, tapi saya sudah dengan tekad saya, bisa. 
Hakim Ketua: Cukup ya, saudara terdakwa ada pertanyaan kepada 
saksi ? 
Terdakwa: Tidak ada. 
Hakim Ketua: Bagaimana tanggapan saudara terhadap 
keterangan saksi tadi? 
Terdakwa: Ada yang benar, ada yang salah. 
Hakim Ketua: Mana lebih banyak, yang benar benar atau 
yang salah ? Yang benar saja! 

Terdakwa: Dia bilang karyawan saya marah-marah, tapi 
justru dia yang marah-marahi karyawan saya, yang kedua 
dia memukul lukisan, .... 
Hakim Ketua: Selebihnya tidak benar ya? 
Terdakwa: Yang lain saya tidak tahu, yang kedua, saya itu 
dibilang menghina ibu agama, itu bohong, justru dialah, yang 
bilang saya itu orang yang tidak berbudaya, bahwa seniman 
Gunarsa itu, maksudnya ini bahwa hanya Pak Gunarsa saja yang bisa 
nama Negara harum, apakah saya sebagai pengusaha, tidak, saya bilang 
gitu. Justru saya tidak bisa berbicara sama dia karena dia ngomongnya 
terlalu banyak. 
Hakim Ketua: Begitu saja? 
Terdakwa: Iya. 
Hakim Ketua: Ibu tetap pada keterangannya, tidak berubah? 

Jawab: Tidak. 

Hakim Ketua: Terima kasih, silahkan duduk dibelakang. 

Jawab: Terima kasih Pak, saya tambahkan, pada waktu saya dihilang 

memukul lukisan, saya tidak direkonstruksi ulang, tidak diminta keterangan 

saya, dan waktu saya diadili, saksinya dia bolak-balik. 

Hakim Ketua: Terimakasih ya silahkan duduk dibelakang. Selanjutnya saksi 

Drs.Nyoman Gunarsa silahkan masuk ke ruang persidangan. 

(saksi Nyoman Gunarsa memasuki ruang persidangan) 



286 



Second Witness to Give Testimony is the Witness I Nyoman Gunarsa 



Saksi Kedua yang dimintai keterangan adalah SAKSI Drs. I NYOMAN 
GUNARSA 



Before the judge opens the session, the Head judge asks the PubUc Prosecutor to 
present the accused, Hendra Dinata, aUas Sinyo, to sit before the court. After 
this His Honor begins the testimony of the witness Dr. I Nyoman Gunarsa. 
What follows are excerpts from the dialogue between the court and the witness 
I Nyoman Gunarsa. 

Head Judge: Are you ready, sir. 

Nyoman Gunarsa: Ready. 

HJ: All right then. Before the questioning of the second witness proceeds, 

we ask the Public Prosecutor and the Counsel for the Defense of the Accused 

{Penasehat Hukum Terdakwa) to question the witness in a friendly manner 

and that each person speaks in a concise way that conserves time. Can we 

have an agreement on that? May we? 

All right, if that is settled, and already agreed, we hope that the witness in 

the interests of speeding things up will answer truthfully according to the 

oath that includes accepting responsibility first of all to God, and secondly 

to the law. If that is already understood we can continue with the question 

of the witness. 

Associate Justice: How long ago did you begin painting, sir? 

Gunarsa: I began painting in 1960. 

AJ: It is said that your paintings are seen and known all over the country, 

and even abroad. Could you tell us your feelings about which of your works 

are the most successful. 

G: When I paint, my paintings are like my children. I conceive my children 
with love, so all my works are created that way, and I consider them all good, 
because they are created from deep feelings and concepts. 

AJ: Which of your paintings do you have the most affection for? Do you 
have favorites or not? I also want to ask you that. 

G: Bexause I love all paintings, almost equally, I created a museum so that I 
can collect the best works there. 



Sebelum Hakim ketua memulai sidang, terlebih dahulu Hakim Ketua mohon 

kepada Jaksa Penuntut Umum untuk menghadirkan saudara terdakwa yaitu 

Ir. hendra Dinata alias Sinyo untuk duduk didepan Majelis Hakim. Setelah 

itu Mejelis Hakim mulai meminta keterangan kepada saksi Drs. I Nyoman 

Gunarsa. Berikut petikan dialog antara Majelis Hakim dengan Saksi Drs. 

I Nyoman Gunarsa: 

Hakim Ketua: Sudah siap pak ya? 

Saksi: Siap. 

Hakim Ketua: Baik ya, sebelum pemeriksaan terhadap saksi yang kedua 

dilanjutkan, kami mohon kepada Penuntut Umum dan Penasehat Hukum 

terdakwa bagaimana kita pilih satu orang saja, pertanyaan ini ini ini 

ditulis sama temannya, satu orang yang berbicara untuk menghemat waktu 

bagaimana sepakat? Boleh? 

Baik kalau begitu ya, telah disepakati, saudara saksi ya, biar lebih cepat lagi, 

diharapkan menjawab dengan benar ya, karena sumpah mengandung makna 

satu bertanggung jawab kepada Tuhan, yang kedua pada hukum, sudah bisa 

dimengerti ya, dan selanjutnya pemeriksaan saudara akan dilanjutkan. 

Hakim Angg: Bapak mulai melukis sejak kapan? 

Saksi: Saya mulai melukis sejak tahun 1960. 

Hakim Anggota: Jadi sejak melukis katakanlah karya Bapak sudah tersebar 

ya, baik dalam negeri, maupun luar negeri kan begitu ya, kalau bisa tahu 

bapak melukis yang paling bapak rasakan hasil karya bapak seperti lukisan 

apa? 

Saksi: Pada waktu melukis, lukisan itu bagaikan anak, saya membuat anak 

dengan penuh rasa cinta, jadi semua karya yang saya ciptakan itu, saya 

anggap baik, karena mengikuti perasaan dan konsep. 

Hakim Anggota: Yang mana kira-kira bapak punya lukisan kesayangan gitu? 
Ada nggak? Ya saya ingin menanyakan itu juga? 

Saksi: Karena lukisan-lukisan saya itu kasayangan, dan semua itu hampir 
sama. Jadi saya membuat Museum karena karya-karya saya yang saya koleksi 



287 







>.^fl 



AJ: Those paintings are in the museum, 

is that correct? 

G: Yes, in the museum. 

AJ: Well, now we come to the problem at 

hand. You are here as a witness to discuss 

the falsification of your paintings, is that 

correct? Are you already acquainted with 

the accused? 

G: I know the accused as a result of this 

case. 

A}: As a result of this case. Have you ever 

been to his Gallery? 

G: I was accompanied there at the 

request of the district police investigator 

on the tenth of April to bear witness as to 

whether the paintings there were authentic or false. 

AJ: At that time you went there with the police did you see any 

paintings or any falsified paintings on display? 




of your 



G: There were none of my paintings there. 

AJ: There were not? 

G: All the work there was falsified, or imitations. 

AJ: Imitations? None of them were your work? 

G: But they resembled my paintings and they were signed "Nyoman 

Gunarsa" and beneath them was a sticker that said "the work of Nyoman 

Gunarsa." 

AJ: There were paintings that resembled your paintings, sir? And on those 

paintings were signatures that resembled yours, sir? And there were also 

stickers. 

G: Yes, stickers. 

AJ: And what kind of stickers were they? 

G: The stickers read," Work of Nyoman Gunarsa." 

AJ: That is what you saw the time you went to the Gallery? 



adalah karya terbaik. 

Hakim Anggota : Lukisan itu ada pada 

Museum ya? 

Saksi: Ya, Museum. 

Hakim Anggota: Nah sekarang kita masuk 

kepersoalannya ya, saudara sebagai saksi 

disini karena 1 (satu) lukisan bapak 

dipalsukan, kan begitu ya? Anda sudah 

kenal dengan terdakwa? 

Saksi: Saya kenal terdakwa dalam kasus 

ini. 

Hakim Anggota: Perkara kasus ini ya tho! 

Bapak pernah ke Gallerynya? 

Saksi: Saya diajak oleh, diminta oleh 

penyidik Polda waktu itu tanggal 10 April 

untuk meyakinkan apakah benar ada 

lukisan palsu atau tidak. 



Hakim Anggota: Pada saat, pada waktu Bapak kesana bersama Polda, ada 

bapak lihat lukisan-lukisan atau lukisan-lukisan bapak yang dipalsukan 

yang dipajang? 

Saksi: Lukisan saya sendiri tidak ada. 

Hakim Anggota: Tidak ada ya? 

Saksi: Semua karya-karya yang saya lihat itu lukisan palsu alias tiruan. 

Hakim Anggota: Tiruan pak ya?, bukan karya bapak ya? 

Saksi: Tapi menyerupai lukisan saya dan juga ada tanda tangan Nyoman 

Gunarsa dan dibawahnya ada stiker, karya Nyoman Gunarsa. 

Hakim Anggota: Ada lukisan menyerupai lukisan bapak ya?, pada lukisan 

itu ada tanda tangan yang menyerupai punya bapak?, kemudian apakah 

ada stiker ya? 

Saksi menyela: "ya stiker" 

Hakim Anggota: Kemudian apa isi stiker tersebut? 

Saksi: Isi stiker itu "karya Nyoman Gunarsa:" 

Hakim Anggota: Itu yang bapak lihat pada waktu bapak datang ke Gallery itu? 



289 



G: That's correct. 

AJ: How many paintings were there? 

G: There were eight paintings. 

AJ: There were eight? 

G: Here in the courtroom there are six that 

are being used as evidence. But where are 

the other two large paintings? 

AJ: Now I would like to ask you about this 

painting. Whose work is this painting? 

(The judge points to one of the original 

Gunarsa paintings that has been brought 

to the courtroom to serve as a point of 

comparison with the copies) 

G: That is my work. 

AJ: Your work. And what about this one 

here? 

(The judge points to one of the falsified paintings seized by the court as 

evidence) 

G: That is not my work. 

AJ: Not your work, sir. So if we look at the paintings, in what way does this 

painting resemble the painting over there? 

(The judge points to one of the originals and one of the falsifications) 

G: There is a resemblance, but they are not the same. They are different, the 

only thing the same is ... . 

AJ: (cutting off Gunarsas response) Where is the difference? 

G: He used a carved wooden frame, which is a trademark that I always 

use. I play with the image of the sun, so he also plays with the image of 

the sun, but he has not mastered the technique, because in painting there 

are two important aspects that must be understood: the conceptual aspect 

and the physical aspect. For instance the attention given to the physical 

aspect is clearly not the same as in mine. The lines are weak. Secondly, 

the proportions are not true. It is not the depiction of an expert dancer. 

You can see how a person with their legs in a position like that would fall 

down. (Pointing to the falsified painting Gunarsa stands up and moves into 




Saksi: Betul. 

Hakim Anggota: Ada berapa lukisan pak? 

Saksi: Ada delapan lukisan. 

Hakim Anggota: Ada delapan ya? 

Saksi: Disini ada enam yang saya lihat 

dipakai barang bukti itu, jadi kemana dua 

lukisan yang gede itu?. 

Hakim Anggota: Sekarang begini, saya 

mau nanya ya, ini kan lukisan, yang ini 

lukisan karya siapa? 

(sambil menunjuk lukisan pembanding) 



Saksi: Lukisan karya saya. 

Hakim Anggota: Karya bapak ya, kalau 
yang disana itu. 
(menunjuk lukisan barang bukti) 

Saksi: Bukan karya saya. 

Hakim Anggota: Bukan karya bapak ya, nah kalau dilihat lukisan ya, apa 
ada kemiripan lukisan yang disana itu dengan lukisan yang ini (menunjuk 
barang bukti dan pembanding) 

Saksi: Ada satu kemiripan, tapi tidak sama. beda, hanya idenya sama 
(terpotong pertanyaan Hakim) 
Hakim Anggota: Perbedaannya dimana? 

Saksi: Dia menggunakan frame berukir, selalu khas saya (lukisan Gunarsa) 
kemudian saya main matahari, dia juga main matahari, tapi tehniknya 
dia tidak menguasai karena melukis itu ada dua aspek penting yang harus 
diketahui aspek ... dan aspek fisik. Kayak apa yang terawat aspek fisiknya ini 
jelas tidak sama dengan punya saya, goresannya ini lunak, kedua proporsi 
tidak benar tidak mengenai tukang tari. Anda bisa lihat bagaimana posisi- 
posisi kaki orang yang dengan posisi demikian bisa jatuh (sambil menunjuk 
lukisan palsu, kemudian Gunarsa berdiri sambil memperagakan agem- 
agem tari Bali) yang saya maksud kiri-kanan (agem tari ) jadi tidak seperti 



290 



the stance of a Balinese dancer.) What I am referring to is this, a "left-right 
stance." (Gunarsa demonstrates the correct stance), which should not be done 
like this (Gunarsa demonstrates the stance depicted in the false painting) or 
you would fall down. It is not balanced. Tliis is what you call ''agem" (the 
Balinese name for a basic dance position). Secondly, balance. Thirdly, that 
dancer is too relaxed so the head and the neck are like a doll's. The head is just 
a circle on the neck (he assumes the shape of a straight stiff line). Compared 
with my work, he has not mastered the proportions of human anatomy. It 
is the same with the fingers. You can see here on the green one {the falsified 
painting) and then on this one {the original). The fingers should be like 
this (Gunarsa demonstrates the distinctive movements of a Balinese dancer's 
fingers). Remember that my work is based on decades of study, while this one 
(pointing to the false painting) is the imitation of someone who has worked 
only a month. It is not possible. It requires experience. That painting does 
not possess the required technique and knowledge and experience. That is 
what diff^erentiates it from my work. To become a master painter requires 
time and lots of experience that is artistic, practical and analytical. 



ini (posisi penari dalam lukisan palsu) bisa jatuh, tidak seimbang, itu yang 
namanya agem, 2 keseimbangan, 3 penari itu, membuat penari itu rilek, 
kemudian kepala dan leher (menunjuk lukisan palsu), ini kayak boneka, 
kepala bulat lehernya begini (membentuk garis lurus), bandingkan dengan 
karya saya, dia tidak menguasai anatomi/ proporsi manusia. Kemudian 
jari-jari juga, kemudian kita lihat apa itu yang hijau (lukisan palsu/barang 
bukti) sama itu (menjelaskan perbedaan lukisan palsu dengan karyanya), 
jadi jari-jari itu harus begini (menjelaskan dengan memperagakan gerak 
jari tangan dan menunjukkan sedikit gerakan tari), kalau ini sejak puluhan 
tahun jangan lupa saya melukis mempelajarinya, sedangkan ini (menunjuk 
lukisan palsu) satu bulan bisa dengan meniru, ini tidak bisa, ini perlu 
pengalaman, jadi melukis itu bukan hanya tehnik dan pengetahuan yang 
diperlukan, pengalaman juga bisa membedakan karya. Jadi untuk menjadi 
seorang maestro perlu waktu, pengalaman yang banyak, artistik, proyektif, 
analogik semua. 



AJ: Ali right, sir. At the time you were painting this piece, how long did it 

take to finish? 

G: The finishing was not a problem. What was important was the mood. 

AJ: No, what I meant was how much time did it take? Do you still 

remember? 

G: When I paint I require the right mood and moment. To express the 

character, maybe about an hour. In three or four hours I can complete it 

well. 

AJ: So you don't need weeks and weeks? 

G: Oh, I don't work that way, taking weeks and weeks, because I work 

expressionistically. 

AJ: Otherwise it would disappear? 

G: Disappear. 

AJ: All right. So then where did you learn that work resembling yours was 

being displayed at the Sinyo Gallery? 

G: Oh, I learned that there were paintings that resembled mine, alias false 



Hakim Anggota: Baik pak ya!, pada saat bapak melukis lukisan ini bapak 
selesaikan berapa lama? 

Saksi: Kalau soal menyelesaikan tidak soal, yang penting ada mood. 
Hakim Anggota: Tidak, maksudnya berapa lama bapak menyelesaikan karya 
mungkin bapak masih ingat? 

Saksi: Kalau saya melukis, saya perlu mood dan momen karena saya perlu 
ekspresi, karakter itu satu jam mungkin, tiga sampai empat jam sudah bisa 
jadi bagus. 

Hakim Anggota: Jadi tidak pernah berminggu-minggu ya? 
Saksi: ooo, saya tidak mau begitu bekerja, karena kalau lebih itu berminggu- 
minggu, karena saya ekspresif. 
Hakim Anggota: Hilang, gitu ya. 
Saksi: Hilang. 

Hakim Anggota: Ya, baik kemudian begini pak ya, nah bapak dari mana tahu 
bahwa ada karya yang menyerupai karya bapak ya, dipajang di Gallerynya 
Sinyo? 
Saksi: Oo, saya tahu adanya lukisan yang mirip karya saya alias tiruan palsu 



291 



copies, from my wife on the tenth of January. My wife went to Denpasar and 

reported it to me. She said calmly that she would go the next day to check 

it again with my son Gede Artison. So both of them knew. I learned of it 

from my wife who knows the character and style of my work because she has 

always been by my side for forty years. So my wife knows all the rhythms 

and details of my work as well as I do. 

AJ: (Shows a document to Gunarsa and the prosecutor and defense attorneys 

and the accused.) It is a receipt from Ibu Sida. 

G: Yes, I obtained this from Ibu Sida. 

AJ: When did you obtain it? 

G: I obtained it on the twenty-sixth of April. 

AJ: She came directly to your house, sir? 

G: She came to Kungklung to find out if it was authentic or not. 

AJ: In the sense of a complaint, sir? 

G: Yes, it was a complaint. "Oh that is not authentic," I said, because she 

pointed to a receipt with my name on it, and I was very surprised. Shocked. 

Because my reputation {harga diri) was actually being commercialized 

without permission. This had to be investigated. I am not a person who 

usually pursues these things, but this goes to the root of Indonesian law. We 

don't want it to become an issue. We don't want to give the impression that 

we are a nation of pirates. {''Negeri Pembajak"). 

AJ: It became an issue. Did people or galleries complain? 

G: Ibu Sida. Sumerta. Sumerta sent his staff there to check two paintings. 
Sumerta said that he got the painting from Bu Ninik, an employee of Bank 
BCA. Bu Ninik got the painting from Johannes Kristyono. I've known him 
since June. 

AJ: So, you painted this painting. If I see clearly, this is a painting of two 
dancers, is that correct? When you make a painting like this, is it from a 
model? Are there several or only one or what? 

G: For me it is like this: that object is an object, but that object can become 
the character of a painting with my inspiration, and I can repeat it several 
times. This is common in the working style of Affandi. He painted profiles 



itu, dari istri saya, tanggal 10 Januari , jadi istri saya itu keluar ke Denpasar, 

dia lapor ke saya, saya hilang tenang-tenang dulu besok di cek (lukisan suami 

saya) supaya dicek kembali jam 11.30 saya punya anak Gde Artison jadi ada 

dua orang yang tahu dari istri saya sendiri, istri saya tahu gaya dan style saya 

karena dia selalu mendampingi saya hampir 40 tahun, jadi istri saya tahu 

guritno segalanya itu tahu betul bagaimana saya. 

Hakim Anggota: (Meminta sesuatu kepada Jaksa dan meminta Gunarsa juga 

penasehat Hukum terdakwa melihat kwitansi dari Ibu Sida) 

Saksi: Ya, saya dapat ini dari Ibu Sida. 

Hakim Anggota: Kapan anda dapatkan? 

Saksi: Saya dapatkan itu tanggal 26 April (tahunnya tidak jelas 

kedengaran) 

Hakim Anggota: Langsung datang ke rumah bapak?. 

Saksi: Datang ke Klungkung menyampaikan asli atau tidak. 

Hakim Anggota: Dalam arti komplain pak ya? 

Saksi: Ya komplain, wah itu bukan asli, saya bilang begitu, sebab dia 

menunjukkan ada kwitansi dan ada nama saya disana, saya kaget sekali, 

shock. Karena harga diri saya betul-betul disini dikomersilkan dan juga tanpa 

ijin, ini yang perlu kita tuntaskan. Semua ini saya bukan orang per orang 

harus tuntas masalah tapi berdasarkan hukum di Indonesia ini, jangan jadi 

topik ada kesan katakanlah jadi negeri pembajak. 

Hakim Anggota: Jadi langsung pada topik, ada berapa orang atau Gallery 
yang komplain?. 

Saksi: (satu) Ibu Sida, (dua) Sumerta, Sumerta mengirim anak buahnya 
kesana suruh ngecek membawa dua buah lukisan, Sumerta hilang bahwa ia 
dapat lukisan dari Bu Ninik, pegawai Bank BCA, Bu ninik mendapat lukisan 
itu dari Johanes Kristyono. Saya kenal dari bulan Juni (Januari - Juni). 
Hakim Anggota: Kemudian begini ya, bapak melukis ini ya, kalau saya 
lihat jelas ini lukisan dua orang penari ya?, nah apakah bapak yang melukis 
model begini, ada berapa banyak kalau dalam melukis ada hanya satu atau 
bagaimana? 

Saksi: Saya begini, obyek itu kan satu obyek tetapi obyek itu bisa menjadi 
berbagai karakter lukisan dengan inspirasi saya, bisa berkali-kali dan 
berulang-ulang, itu sudah biasa justru stylenya Affandi, Hendra, dia melukis 



292 



FAKE PAINTING 
LUKISAN PALSU 



NYOMAN GUNARSA'S TRUE PAINTING 
LUKISAN ASLI NYOMAN GUNARSA 




This painting was boutht by Ibu Sida from the CeUini Gallery, owned by Hendra Dinata, 

ahas Sinyo, on Jalan Gatot Subroto, Denpasar. 

Lukisan ini dibeli Ibu Sida di Cellini Gallery milik Hendra Dinata alias Sinyo 

di II. Gatot Subroto Denpasar. 




A painting from the Collection of the Museum of Balinese Classical Art as a point of comparison. 
Lukisan koleksi Museum Seni Lukis Klasik Bali sebagai pembanding. 



293 



several times, and they came out well, but were never the same. 

AJ: So this is an example of a model painting. The problem is that the lines 

are different from the model? 

G: Different. Very different. So it cannot fulfill the aspiration of art. 

AJ: So as for the paintings in the gallery, there were eight pieces, is that 

correct? And of the eight, none of them were your work, is that correct? 

G: They were not my work! 

AJ: There were signatures on all of them. 

G: There were. 

Second Associate Judge: There were signatures that resembled yours on 

them, is that correct? 

G: There were. 

SAJ: What year did you begin painting? 

G: 1960. 

SAJ: What year did you begin registering your paintings. 

G: 1998, sir, under intellectual copyright. (HAKI) 

SAJ: Do you still remember the registration number? 

G: I remember the number: 021240. 

SAJ: What year? 

G: 2000. 

SAJ: Before that, no? 

G: It's like this: As an artist, when a work is complete, it is immediately 

protected under the law as an original. It is already protected according to 

the code of laws, so to register it becomes a double declaration. So I appeal 

to Indonesian artists to understand the law, so that artists will not be taken 

advantage of and exploited. 

SAJ: In the registration are there several paintings registered? 

G: There is one group of paintings. 

SAJ: Does that include this painting here? (pointing to one of Gunarsas 

paintings). 

G: No, but it is the same style, so it is included in the group. In this book 

there are 120 examples. 

SAJ: As for the painting that is here, was it registered or not? 



profil dirinya berkali-kali, itu sudah jadi tetapi tidak sama. 

Hakim Anggota: Jadi ini salah satunya lukisan model begini, soal obyek yang 

ada model lain tapi goresannya sudah lain ya? 

Saksi: Lainnya lain, jadi akan berkembang karena itu aspirasi seni. 

Hakim Anggota: jadi mengenai lukisan di Gallery itu coba bapak lihat ada 

delapan karya ya?, yang ke delapan karya ini bukan karya bapak ya? 

Saksi: Bukan karya saya! 

Hakim Anggota: tanda tangan ada tertera semua? 

Saksi: ada. 

Hakim Anggota H: Yang menyerupai tanda tangan bapak itu juga ada? 

Saksi: Ada. 

Hakim Anggota II: Dari tahu berapa saksi melukis? 

Saksi: Tahun 1960. 

Hakim Anggota II: Dari tahu berapa saksi mendaftarkan lukisan-lukisan 

saksi? 

Saksi: Tahun 1998, pada HAKI pak! 

Hakim Anggota U: Masih ingat nomor pendaftarannya? 

Saksi: saya ingat nomor : 021240 

Hakim Anggota II: Tahun berapa? 

Saksi: Tahun 2000. 

Hakim Anggota II: Sebelumnya tidak? 

Saksi: Begini, sebagai seniman kalau karya itu sudah jadi, maka langsung 

mendapat perlindungan hukum dan asli. Itu sudah mendapat perlindungan, 

ini menurut Undang-Undang apalagi didaftarkan jadi dobel mendapat 

pengakuan. Jadi saya mnghimbau kepada seniman Indonesia biar tahu 

hukum, biar sebagai seniman jangan sampai dikalahkan, dieksploitir. 

Hakim Anggota IT. Dalam mendaftarkan ada berapa buah lukisan 

didaftarkan? 

Saksi: Ada satu buah lukisan. 

Hakim Anggota II: Apa termasuk lukisan ini?, (sambil menunjuk lukisan 

karya Gunarsa). 

Saksi: Tidak, tapi sejenis menyerupai satu gaya karena terbatas pada panitia, 

itu buku, tapi ada yang 120 biji satu buku. 

Hakim Anggota II: Lantas lukisan yang ada disini sudah didaftarkan apa tidak? 



294 



G: I did not yet register this one, but I already have the copyright for it, 
because as I have clearly demonstrated, it has the same form as my work 
that is already protected under the law. 
AJ: Your works are registered in the form of a published book. 

G: I always do that, but in the book there are many (paintings). (He exhibits 

the book). 

AJ: When your works are sold, how much do they cost? 

G: There are varying prices depending on the size, from a sketch at about 

a hundred million rupiah to two 

hundred million rupiah (points to a 

painting of 150x150 cm.) 

AJ: So the price of a painting depends 

on its size? 

G: No, not at all. It is based on 

the level of accomplishment. The 

quality. 

AJ: In selling your paintings to you 

pay taxes? 

G: Until now because I am a freelance 
artist, so I am not assessed sales tax. 

Prosecuting Attorney (Jaksa Umum): 

You just testified that your wife and 

son went to Sinyo's Gallery on January 

tenth and eleventh, and that then you 

went there on April tenth. Among 

the ten paintings that were displayed 

and seen and witnessed by you in person, were any of those paintings on 

display licensed by you? 

G: No, that is not true. I have never licensed any of my work. Never. If he 

testified that he had a license form me, that is slander. I never licensed my 

work. Perhaps I can show you what I brought. 




Saksi: Kalau yang ini belum saya daftarkan, tapi sudah mempunyai hak, 
karena ini merupakan karya saya yang nyata yang jelas sudah dilindungi 
hukum. 

Hakim Anggota: Karya-karya saksi apa didaftar dalam bentuk buku/ 
dimuseumkan (dicatat) dibukukan (lukisan-lukisan apa ada daftarnya)? 
Saksi: Saya selalu, tapi didalam buku banyak (dan menjelaskan buku-buku 
yang memuat karya-karyanya). 

Hakim Anggota: Karya-karya kan dijual, berapa harganya? 
Saksi: Itu bervariasi, itu ada ukuran, dari sket ada dari 100 juta sampai 200 

^ juta (menunjuk lukisan ukuran 150 
"^~' X 150 Cm). 

Hakim Anggota: Apa ukuran lukisan 
itu mempengaruhi harga? 
Saksi: Oh bukan itu, karena 
prestasinya, Quality. 

Hakim Anggota: Dalam menjual 
lukisan apa saudara membayar 
pajak? 

Saksi: Sampai saat ini karena saya 
seniman bebas, karena saya bukan 
ahlinya itu saya tidak kena pajak. 
J P U: Saudara saksi tadi saudara 
mengatakan bahwa anak dan istri 
saudara datang ke Gallery Sinyo 
tanggal 10 dan 11, kemudian saudara 
tanggal 10 April datang kesana, nah 
diantara 10 lukisan yang terpajang, 

yang dilihat saudara dan disaksikan saudara sendiri secara langsung, apakah 

didalam memajang tersebut ada ijin saudara? 

Saksi: Tidak benar, saya tidak pernah memberikan ijin, tidak pernah!, kalau 

dia terangkan dia sendiri bawa ijin, itu fitnah, tidak pernah ada ijin, mungkin 

bisa saya tunjukkan, saya bawa. 



295 



PA: So there was no license. Then you remember that the false paintings 
were sold. You explained that one was sold, just now with the receipt. To 
whom else were the paintings sold? 

G: As I said before I learned from Sumerta that Sumerta delivered some to 
Mr. Nengah Mudra, and it was said that he got them from Ibu Ninik who 
in turn got them from Mr. Johannes Kristyono. A water color and an oil. 
They are here, (he points to a green painting and a small one). 
PA: Can you explain again which paintings were sold to who? 

G: Ibu Sida had one with three dancers. Mr. Kristyono had two dancers 

and a Tamulilingan dancer, an oil, and a watercolor. 

PA: So those two paintings were sold to someone. Besides those two that 

were sold to Ibu Sida, to whom were the others sold? 

G: Those two paintings were from Ibu Ninik. Ibu Ninik brought them to 

Sumerta. Then Sumerta asked me about them and I said that they were not 

my work. So I asked if he would be a witness and show them as evidence 

here. 

PA: So among the pieces of evidence, can it be seen which are original and 

which are false. 

G: It can be seen. (He points to the paintings from Sumerta, Kristyono, and 

Ibu Sida) And I can say that these works are not mine, they are falsifications. 

They are all false, (the witness points to them). Those false paintings are not 

done according to the proportions and form of the human body. The color 

and form of the frames are different. 



J P U: Jadi tidak ada ijin, kemudian saudara mengingatkan bahwa itu lukisan 

palsu yang ada dijual, ternyata saudara menjelaskan bahwa itu dijual, seperti 

tadi ada kwitansi, kepada siapa lagi lukisan itu dijual ? 

Saksi: jadi kepada, ini tadi saya katakan dari Sumerta, Sumerta itu ajudannya 

bawa ke pak Nengah Mudra, katanya dapat dari Ibu Ninik, kemudian Ibu 

Ninik dapat dari Bapak Johanes Kristyono, cat air dan cat minyak, disini ada 

(sambil menunjuk lukisan hijau dan kecil). 

/ P U: Coba saudara jelaskan lagi tiap-tiap lukisan itu temanya seperti apa 

yang dijual? 

Saksi: Ibu Sida ada tema tiga orang penari, kemudian pak Kristyono dua 

orang penari dan tari tamulilingan, cat minyak dan cat air. 

J P U: Jadi dua lukisan itu dijual kepada siapa, disamping dua lukisan yang 

dijual kepada Ibu Sida, dijual kepada siapa? 

Saksi: Dua lukisan oo itu dari Bu Ninik, Bu Ninik bawa ke Sumerta, jadi 

pak Sumerta menanyakan kepada saya, saya bilang ini bukan karya saya, 

kemudian saya minta dan jadi saksi dan barang bukti disini. 

J P U: Jadi diantara itu ada yang barang bukti mana yang asli, mana yang 
palsu bisa dilihat?. 

Saksi: Bisa dilihat (menunjukkan lukisan dari Sumerta, Kristyono, Ibu Sida) 
dan menyatakan ini bukan karya saya alias palsu, semua palsu (ditegaskan 
saksi). Jadi lukisan palsu itu tidak sesuai proporsi dan bentuk fisik, yang 
pewarnaan bentuk frame beda. 



PA: Of the ten paintings that were displayed, it 
seems that there were six, that although they were 
not your work had your signature on them, and 
also had stickers that read, "The Work of Nyoman 
Gunarsa." Can you show us where those stickers 
were located? 




/ P U: Dari sepuluh lukisan yang dipajang, ternyata 
diantaranya 6, itu lukisan yang dipajang itu bukan 
karya dari saudara, akan tetapi tanda tangannya 
dalam lukisan itu ada tanda tangan, kemudian 
ada stiker yang bertuliskan karya Nyoman Gunarsa 
dan dapatkah saudara menunjukkan dimana stiker 
tersebut berada? (disela hakim) 



296 



Head Judge: All right. Before you answer that, at the time that you arrived 

{at Sinyo's Gallery) and saw eight paintings, did you see paintings like those? 

(points to the false paintings). 

G: Yes, that's right. 

HJ: What the Prosecuting attorney is asking is, "Was your signature there?" 

Was your signature there? 

G: Something resembling my signature was there. 

HJ: Was it your signature or not? The signature on that painting, was it 

your signature or not? 

G: No it was not. 

H: That's the answer. 

G: But I have photographs from that time taken by the district police. 

(Gunarsa takes photos from his bag). 

JA: Then according to you, in your experience, they must be genuine, is 

that correct? 

G: They must. 

JA: Please show them to us. 

(Gunarsa takes photos from his bag and shows them to the judge, the 

prosecutor, the defender, and the accused). 

Counsel for the Defense of the Accused: You gave testimony before the 

investigator explaining that your paintings were in the realm of abstract 

impressionism. I would like to ask if traditional paintings are included in 

the movement of abstract impressionism. And are there similarities among 

impressionist works? 

G: To answer this we have to go back to the word "impress" which means 

that something makes and impression, it possesses an impression of its own. 

There are two words in the term, impressionist and abstract. The impression 

resembles the trace of the object. So the form is not important to the 

impression, but the symbol of the impression has to have the proportions of 

the object of which it is an abstraction. I choose abstraction because I like 

to be free, especially in the background. Freedom. Abstraction. Expressing 

what cannot be seen. If I want emotion I can break out. Otherwise the 

painting would be just like a videograph. 

HJ: That's the answer. 



Hakim: Baik sebelum dijawab ya, pada waktu saudara datang (ke Sinyo 

Gallery) dilihat ada delapan lukisan, apa saudara lihat lukisan-lukisan itu 

(menunjuk lukisan palsu) seperti ini? 

Saksi: Ya, betul!! 

Hakim: Maksud dari Pak Jaksa (Hakim menjelaskan berkaitan dengan itu 

apakah ada tanda tangan saudara disana?, apakah ada tanda tangannya 

saudara? 

Saksi: Menyerupai, ada. 

Hakim: Apakah tanda tangan saudara atau bukan?, apakah tanda tangan 

pada lukisan itu, apakah tanda tangan saudara atau bukan? 

Saksi: Bukan! 

Hakim: Itu jawabannya. 

Saksi: Tapi saya punya foto-foto saya waktu diambil oleh Polda (sambil 

mengambil foto dalam tasnya) 

/ P U: Jadi ini menurut pandangan, pengalaman saudara, jadi harus yang 

benar pak ya! 

Saksi: Harus. 

J P U: Silahkan tunjukkan. 

Saksi: (membawa foto dan ditunjukkan pada majelis Hakim, Jaksa dan 

penasehat hukum terdakwa) 

Penasehat Hukum: Saudara saksi, saudara pernah memberikan keterangan 

didepan penyidik, yang menerangkan bahwa lukisan saudara itu adalah 

termasuk kedalam impresionisme abstrak, yang saya tanyakan apakah 

pelukis-pelukis tradisional termasuk didalamnya aliran impresionisme 

abstrak, apakah karya impresionisme itu ada kemiripan? 

Saksi: Jadi ini termasuk tentang obyek, ada, ini dari kata impress itu, kesan 

jadi, memiliki kesan, ada terdiri dari dua kata impresionis dan abstrak, impres 

merupakan kesan dari obyek. Jadi kesan-kesan tidak mementingkan bentuk, 

tetapi kesan simbul ada proporsi kemudian yang abstrak itu, saya memilih 

abstrak karena ingin kebebasan saya terutama back-ground, kebebasan, 

abstraksi, ekspresi memang sesuatu yang tak nyata, tetapi saya ingin emosi 

saya bisa keluar, kalau tidak lukisan itu bisa seperti videografi. 



Hakim: Jawabnya ada! 



297 



CDA: So there are similarities within the same movement? 

G: It's different. Each movement is different, because individual identities 

are different. But the object, the object that is painted is there. But each 

person is different, because their identities are different. So within one 

movement there must be differences. 

CDA: So the forms can be different, can't they? Fundamentally you are 

saying that when you make a painting you need an object. Can you or can 

you not paint it several times, one time one way, and another time a different 

way? We want to ask if the paintings that you call false have similarities to 

yours? 

G: They do. The ideas, the concepts are almost the same, especially the 

frame and trappings, but not at all identical to mine. Then there's the dance. 

They depict dance movements that are almost the same. My wife, after they 

were examined by my wife and myself in a detailed way, I could see that the 

technique, the technical ability was different in terms of the proportions, 

form, profiles, colors, and lines that were there. The personality or character 

was very different, the identity. The person that painted these, I believe 

this is in accordance with what I testified to the police, does not have a 

personality. I consider these paintings to be raw. (mentah). 



Penasehat Hukum: Jadi ada kemiripan diantara sesama aliran? 
Saksi: Beda, setiap aliran berbeda, karena pribadi itu berbeda, tapi satu obyek, 
obyek yang dilukis itu ada, tetapi setiap orang berbeda karena kepribadian 
itu berbeda, jadi suatu aliran itu harus berbeda -beda. 

Penasehat Hukum: Jadi wujudnya bisa beda atau lain? Berdasarkan 
pernyataan saudara, bahwa saudara saksi didalam membuat satu lukisan 
itu perlu obyak yang sama, satu obyek. Bisa enggak saudara melukisnya 
beberapa kali tetapi antara satu dan yang lain berbeda. Kami ingin tanyakan 
bahwa lukisan yang saudara katakan palsu itu ada kemiripan apa? 
Saksi: Ada dari ide, gagasan hampir sama, terutama frame, asesorinya, itu 
bukan identik saya, kemudian tari, membuat gerak tari juga hampir sama, 
istri saya, setelah dicek istri dan saya sendiri secara detail itu disana saya 
lihat tehniknya, itu kemampuan tehnik yang berbeda baik dari proporsi, 
bentuk, profil atau warnanya, goresan di sana apa-apa, pribadi atau karakter 
berbeda-beda, jadi yang berkepribadian, orang yang melukis ini saya kira itu 
memang sesuai dengan keterangan saya di kepolisian itu, ini tidak memiliki 
kepribadian. Saya anggap ini suatu karya yang mentah. 



CDA: So there are similarities in the ideas? Especially in the selection of 
the object and the selection of the trappings of the frame, and so forth? 

G: Yes, similarities and resemblances, but they are not the same. 

CDA: Among the paintings that are here as evidence that resemble those 

false paintings, where are the signatures that resemble your signature. 

G: (Shows them to the lawyers and the accused). Because these paintings are 
not my work, it goes without saying that anything he makes is a falsification. 
So he should have distinguished his work from mine, so as not to deceive 
the public and the customers and the art community, because his technique 
is different, ft is unquestionably false. 

CDA: For clarification, you pointed to some of the false paintings, is that 
correct? And you recently testified that you had given some paintings to 
Mr. Switha. What we would like to know is: are any of the paintings you 



Penasehat Hukum: jadi kemiripan itu ada dalam ide?, khususnya dalam 

pemilihan obyek kemudian pemilihan asesoris dalam frame, apakah 

demikian? 

Saksi: Ya, mirip-mirip, serupa tapi tak sama. 

Penasehat Hukum: Saya kira diantara barang bukti yang berupa lukisan 

palsu itu dimana yang ada tanda tangan yang mirip dengan tanda tangan 

saudara? 

Saksi: (Menunjukkan bersama Jaksa dan penasehat hukum terdakwa). 

Karena ini lukisan bukan karya saya otomatis sebenarnya apa yang dia buat 

adalah palsu, mestinya itu mengisahkan bahwa karya saya, seolah -olah 

ini mengelabui para pemirsa atau pembeli atau komuni art, tapi tehniknya 

berbeda, otomatis itu palsu. 

Penasehat Hukum: Saudara saksi, untuk penegasan saja seperti yang anda 

sampaikan tadi lukisan palsu ya?, saudara saksi tadi ada mengatakan 

memberikan lukisan kepada saudara Switha. Yang kami tanyakan adalah 



298 



gave to him here among these paintings? 

G: No. 

CDA: How closely do you know Mr. Switha? 

G: I met him on October first, 1989. He was 

with Putu Jaya at Pecatu Graha, a staff employee 

of Tommy. Putu Jaya asked me to make a 

painting of Balangan Beach, so at that time Putu 

Jaya sent Made Switha to pick me up and give 

me a ride from Klungkung to Balangan. So that 

is how I met him at that time. I don't have any 

relationship with him. I only know him through 

Putu Jaya. 

CDA: That is your opinion of Made Switha. To your knowledge is Made 

Switha a painter? 

G: No, he is not a painter. 

CDA: Does he own a gallery? 

G: Yes, at that time he built Show Room Made Switha and I was asked to go 

there to Nusa Dua to the art gallery. Well of course I was asked to open the 

gallery, but I did so as a favor to give my imprimatur to the gallery. As an 

old man I think that young people need support. It turned out differently 

than what I had expected. He misused my trust. It appears that he said in 

the police report that he brought ten of my paintings there. But although I 

feel sympathy for him, it is not clear that the ten paintings I saw there were 

the paintings I had given him at that time. 

CDA: They were not the same? 

G: They were not! 

CDA: We apologize in advance for the next question because it might be 

a little personal, but I had the opportunity to talk about it just now. The 

question is whether or not you noticed any difference in the quality of your 

paintings before and after your illness? 

G: I believe that there is no difference in the work before and after my illness. 

It is the same. But during the time I was sick I did take a complete rest and 




diantara lukisan-lukisan ini ada lukisan yang 
saudara berikan? 
Saksi: Tidak ada. 

Penasehat Hukum: Seberapa dekat saudara 
mengenal saudara Switha? 
Saksi: Saya mengenal ia pada 1 Oktober 1989, 
ia diantar oleh Putu Jaya yang di Pecatu Graha 
anak buahnya Tommy. Putu Jaya minta supaya 
saya melukis pantai Balangan, kemudian pada 
waktu itu Putu Jaya menyuruh Made Switha 
untuk menjemput saya ke Klungkung antar 
jemput PP dari Klungkung ke Balangan. Jadi 
dengan demikian saya kenalnya pada waktu itu, 
saya dengan dia tidak ada apa-apanya, Cuma kenal Putu Jaya. 
Penasehat Hukum: Itu pendapat saudara saksi mengenai Made Switha. 
Apakah sepengetahuan saksi Made Switha ini seorang pelukis? 
Saksi: Tidak, dia bukan seorang pelukis. 
Penasehat Hukum: Apakah ia memiliki Gallery? 

Saksi: Ia, waktu itu ia membuat show room Made Switha, kemudian saya 
disuruh kesana di Nusa Dua, disana ada Gallery seni. Nah tentu saya disuruh 
membuka Gallery itu tapi saya secara dengan baik hati, saya tanda tangani 
semua itu Gallerynya. Saya juga bilang sebagai orang tua tentu anak-anak 
muda perlu di support. Ternyata berbeda dengan apa yang saya terima 
ternyata ia menyalahgunakan kepercayaan saya, ternyata ia bilang dalam 
BAP itu telah menderop sepuluh lukisan. Tapi yang sangat saya sayangkan 
pikiran orang itu, tapi yang saya tidak jelas itu ternyata kesepuluh lukisan 
yang saya lihat itu bukan lukisan yang saya berikan pada waktu itu. 
Penasehat Hukum: Bukan? 
Saksi: Bukan!! 

Penasehat Hukum: Saudara saksi kami mohon maaf sebelumnya, mungkin 
pertanyaan ini terlalu yah sedikit pribadi bisa dibilang begitu tadi sempat 
saya ungkap. Pertanyaannya setelah sakit kalau saudara saksi bandingkan 
apakah ada perbedaan dari kwalitas seni saudara dan sesudahnya? 
Saksi: Saya menganggap tidak ada perbedaan sebelum dan setelah sakit, 
sama. Tetapi waktu sakit itu memang istirahat total dan waktu saya sakit 



299 



the doctor said I only had lost a little control of my hands. After that I took 

some medicine and painted again. I have a letter from the Sanglah hospital 

stating that my body and soul were fine and back to normal. 

CDA: A certificate of health? 

G: But it is clear that my illness should not be exploited for making 

insinuations about the difference between my true work and the falsifications. 

That is a violation of human rights. 

CDA: Are you sure they are not your paintings? 

G: They are not. And a person's illness should not be brought up in this 

trial. It is not proper! 

HJ: Let me intervene a little, sir. It is clear to you that those paintings are 

not yours. Do you know who painted them? 

G: I do not know. That is a question for the police. If the police want to 

make a case against Switha along with Sinyo, they should arrest them. 

HJ: When you went to Gallery Cellini, Gallery Sinyo, did you ever meet 

Sinyo there? 

G: No. 

HJ: So the paintings that are here seem to belong to Sinyo. Where did they 

originate? 

G: I don't know. 

HJ: I think that concludes the testimony of the witness. 

CDA: (Interrupting the Judge) Your Honor. 

H J: If you have anything to add, please make it concise and to the point. 

CDA: An additional question, sir. In your studio or in the museum at your 

residence have you ever sold falsified paintings? 

G: No. 

HJ: Does the prosecuting attorney have any questions? 

Prosecuting Attorney: Just a few. When other people want to exhibit your 

paintings, do they receive an authorizing license from you? 

G: They do. Whenever I have an exhibition in this country or abroad, there 
is always a license. If you would like to see one I have it here. 
PA: Can we see it? 
G: Yes. 



itu Dokter bilang Cuma kendala pada tangan saya, kemudian saya obati dan 

melukis lagi dan saya baik jasmani dan rohani saya normal, saya ada surat 

dari Rumah Sakit Sanglah. 

Penasehat Hukum: Surat cek kesehatan? 

Saksi: Tapi yang jelas jangan sakit itu diekseploitir untuk mengesahkan 

antara karya yang sah dan karya yang palsu. Itu tidak berprikemanusiaan. 

Penasehat Hukum: Yang jelas itu bukan lukisan bapak? 

Saksi: Bukan, jangan sampai orang sakit dipakai dalam ruang sidang ini, 

enggak benar itu!! 

Hakim Ketua: Saya tambahkan sedikit pak ya, yang jelas itu bukan karya 

bapak ya. Apakah bapak tahu siapa yang melukis? 

Saksi: Saya tidak tahu, itu urusan Polisi. Kalau polisi itu mau sukses Switha 

sama Sinyo ini harus segera diproses. 

Hakim Ketua: Apakah pada waktu saudara datang ke Gallery Cellini, 

Gallerynya Sinyo saudara ketemu dengan saudara Sinyo? 

Saksi: Tidak. 

Hakim Ketua: Terus apakah bahwa lukisan-lukisan yang ada disini ya itu 

merupakan milik dari Sinyo itu asalnya dari mana? 

Saksi: Saya tidak tahu. 

Hakim Ketua: Saya kira keterangan saudara sudah cukup ya. 

Penasehat Hukum: Bapak Majelis (dipotong Hakim) 

Hakim ketua: Ada tambahan, silahkan singkat dan padat. 

Penasehat Hukum: Saudara saksi, untuk tambahan saja, itu distudio saudara 

atau di Museum tempat tinggal saudara apakah saudara saksi menjual 

lukisan palsu? 

Saksi: Tidak! 

Hakim Ketua: Saudara terdakwa ada pertanyaan? 

J P U: Saya ada tambahan sedikit, andaikata orang lain yang ingin 

memamerkan lukisan karya saudara ditempat pameran-pameran itu apakah 

ada lisensi dari saudara? 

Saksi: Ada pak, jadi setiap saya pameran keluar negeri dan dalam negeri 

untuk ijin semua ada, bapak mau lihat suratnya, saya sampaikan. 

J P U: Bisa dilihat. 

Saksi: Ada 



300 



PA: Another question. At the time of the exhibition was the Gallery on 

Jalan Gatot Subroto easily accessible to the public. Could it be visited by 

people on the street? 

G: It was very visible because lots of people passing by on the street could 

see it. 

PA: It was easy to see? 

HJ: I think that concludes the questioning of the prosecuting attorney. 

Does the accused have anything to say? 

Sinyo: What was your intention in making this sign for the Switha Gallery 

that I am now going to show to the court. (He gestures to some men to bring 

a framed painted sign into the courtroom) 

G: Oh, that is a 

S: So what is the meaning of this? I found this, Your Honor, in the Switha 
Gallery, so it seems that he (Gunarsa) made this sign so it could be seen by 
the public. And furthermore it appeared in the mass media. 
HJ: Stop. The witness recognizes the signature, and therefore recognizes 
the object, but the witness has not had a chance to answer the question of 
what its purpose is. 

G: Oh, it's like this: Switha would often give me a ride from Klungkung to 
Balangan at the time that I was working on a commission for Sebudi in Nusa 
Dua. He {Switha) requested that I open an exhibition at his Gallery. Out of 
humanitarian feelings, since it was not any trouble, and I wanted to support 
the activities of the younger generation, and it was not a problem, I agreed, 
but it turned out that I was repaid with bullshit. So he teamed up with 
Sinyo, and took advantage of the opportunity for falsifying the paintings. 

HJ: Are there any other questions? 

S: So in the testimony I have seen Gunarsa himself said that he gave paintings 

to Switha. I got all the paintings here that are being called false from the 

Switha Gallery. So now I want an answer, yes or no? About this matter 

of Mr. Switha I invite Mr. Gunarsa to swear to the gods ('sumpah cor' is a 

BaUnese ritual ofUquid Ubations) here and now. 

HJ: What is your question? 

S: Does Mr. Gunarsa want to swear to the gods or not? 

G: I have already taken enough oaths here. Here I am under oath to the 



/ P U: saudara saksi ada tambahan, ditempai Gallery di Gatot Subroto itu 
apa mudah dilihat oleh umum, bisa dikunjungi oleh umum dari pinggir jalan? 

Saksi: pukul satu, gampang dilihat karena banyak orang lewat, jelas 

tampaknya itu. 

J P U: Mudah dilihatnya itu? 

Hakim Ketua: Saya kira dari rekan JPU sudah tidak ada pertanyaan lagi ya, 

saudara terdakwa bagaimana? 

Terdakwa: Apakah maksud saudara membikin slogan pada Switha Gallery, 

sekarang saya mau tunjukkan bapak Majelis, (sambil menyuruh seseorang 

membawa poster dalam frame). 

Saksi: O o, ini adalah 

Terdakwa: Jadi apa yang dimaksud, saya temukan ini pak (Majelis) di Switha 

Gallery, jadi maksud dia membuat tulisan ini sehingga orang-orang yang 

melihat ini, apa lagi masuk dalam media massa. 

Hakim Ketua: Stop, tandatangannya dikenalkan pada saksi, kemudian 

barangnya dikenalkan, terus yang belum dijawab oleh saksi tinggalnya barang 

ini untuk apa? 

Saksi: Oo begitu, Switha pada waktu itu menyuruh saya ke Nusa Dua 

atau pekan kesenian itu bersama Sebudi kemudian hanya dia kerap antar 

jemput saya dari Klungkung ke Balangan. Dia menyuruh saya membuka 

pameran itu di Gallerynya dia. Nah, sebagai rasa kemanusiaan saya tidak 

ada maksud apa-apa saya mendukung generasi muda melakukan hal itu, 

itu tidak menjadi masalah, tidak ada maksud apa-apa, kemanusiaan itu 

tetapi ternyata disambut dengan tahi. Jadi dia memihak ke Sinyo, dia jadikan 

kesempatan itu permasalahannya. 

Hakim: Ada lagi pertanyaan? 

Terdakwa: Kemudian diantara kesaksian yang saya lihat Gunarsa sendiri 

memberikan lukisan ke Switha, saya mendapat lukisan semua ini yang 

dibilang palsu dari Switha Gallery. Nah selama ini yang saya tahu saya mau 

jawab ya atau tidak, pak Switha mendasari mengajak pak Gunarsa sumpah 

cor sampai sekarang ini? 

Hakim: Pertanyaannya? 

Terdakwa: Apakah Pak Gunarsa mau apa tidak sumpah cor. 

Saksi: Saya sudah cukup disumpah disini. Ini sumpah pemerintah. Tadi kami 



302 






government. We just made an oath to the judge 
and that is enough! Don't make things up. Don't 
try to divert our attention to blur the issues. (He 
raises his arms in the air as he speaks and receives 
applause from the spectators in the court.) Don't 
play around with swearing to the gods. 
HJ: All right, I will intervene now. 
G: I just took an oath here. 
HJ: In the court's opinion the question you were 
asked by the accused has no relevance to your 
experience so you do not have to answer. And I 
want to remind the accused to ask his questions 
in a correct manner. All right, since that was not 
a question, you have anything else to ask the 
witness? 



S: I don't have any more questions about that first issue, so secondly I 

would like to ask about the part where Mr. Gunarsa stated that I went to his 

house with good intentions and was asked to initial a letter as proof of his 

requests. 

HJ: Is it true that you went to his house with good intentions? 

S: Yes, with good intentions. 

HJ: All right, sir, this question is clear. Does the witness agree with this 

testimony? 

G: I clearly heard everything he said. I received him politely and did not 

throw him out. I knew that the events between the 20th and the 25th were 

not finished going back and forth, but I still received him with respect and 

gave him jackfruit to eat at my house. "If you want to make peace, sign this" 

(he makes a gesture of writing). If I were angry I would have thrown him 

out at that time. 

HJ: Is that all the clarification you have to give? 

G: That is all. 

HJ: My court is closed. 




4^ » ^ sudah disumpah bapak (Hakim) sudah cukup 

^nv ■ itu!! Jangan mengada-ada, jangan mengalihkan 

^^P" B perhatian untuk mengaburkan kasus ini. (sambil 

mengacungkan tangan keatas dan mendapat 
aplaus pengunjung sidang). Jangan main-main 
dengan sumpah cor!! 
Hakim Ketua: Baik ya, saya ambil alih. 
Saksi: Tadi saya sudah disumpah disini. 
Hakim Ketua: Kembali saya jelaskan bahwa 
apa yang ditanyakan kepada saudara dari 
terdakwa sama sekali tidak ada relevansi dengan 
pengalaman saudara sehingga pertanyaan yang 
disampaikan pada saudara tidak usah dijawab 
dan memperingatkan terdakwa agar memberi pertanyaan yang baik! Baik 
ya, sudah tidak ada pertanyaan, apa masih ada yang ditanyakan kepada 
saudara saksi? 

Terdakwa: Saya tidak akan ada pertanyaan lagi itu yang pertama, kemudian 
yang kedua, dimana pak Gunarsa mengatakan saya pernah kerumahnya 
dengan itikad baik saya kesana dan disuruh paraf supaya ada bukti apa 
permintaannya dia. 

Hakim Ketua: Benar pernah kerumahnya dengan etikad baik? 
Terdakwa: Pernah, benar beritikad baik. 

Hakim Ketua: Demikian pak pertanyaan sudah jelas, apa bapak tetap 
dengan keterangannya? 

Saksi: Saya dengar jelas semuanya, saya terima dengan baik sayapun tidak 
mengusir. Karena saya tahu kejadian tanggal 20 -25 tidak selesai balak balik 
jadi tetap saya terima baik-baik dengan hormat dan dengan makan buah 
cempedak dirumah saya. Kalau mau damai harus ini (sambil mengisyaratkan 
gerak tangan orang menulis), tertulis, saya terima dengan baik, kalau saya 
marah saya usir waktu itu. 

Hakim Ketua: Jadi saudara tetap dengan keterangannya ya? 
Saksi: Tetap. 
Hakim Ketua: Sidang saya tutup. 



303 



THE HERON 
AND THE CRAB 

by 
Ida Pedanda Ketut Sidemen 



11 

Burung Bangau 

dan Kepiting 

Oleh 

Ida Pedanda Ketut Sidemen 



305 



Yudhistira made sure that this day, the 
fourth day, was a propitious day for taking 
a journey. Everyone understood this and 
was happy. While relaxing by the sea, he 
saw a heron bent over on a stone, hke a 
person practicing meditation. He was 
peeping down at the fish, but the fish were 
too frightened to swim so near and the 
heron was frustrated. 

The heron was angry that many birds were 
flying overhead, chasing away the fish and 
mocking him. One of them dove down with 
no fear for his life and plunged directly into 
the water. It was a seagull whose name, 
paksi langlang ulan, means eyes-wide- 
open-for-finding-fish.' The seagull was 
clever at searching for fish with his eyes 
wide open, diving into the water, and flying 
up again. He found many fish. 

After the heron saw the maneuvers of the 
seagull, he quickly decided he would imitate 
that bird. He was confident that he could 
do it. He was bigger than the seagull, with 
a strong body and wide wings. So he flew 
up into the air. He was very happy. From 
above he could see many schools of fish 
swimming together in swirling formations. 
There were big fish and small ones. The 
heron wanted very much to eat them. 

He was verv sure that he could succeed in 




V. o . o -/^ -i^ 'S , o-\ 



TSOBinjUMlO'EO 



o o o r\ o 



;i u 5Q O wi o o »£« ^ o CT O A^ Y^h yi 1^ n 5Q u tsi» ,j isvij ^ ri 

Sapunika Dharmamurti, mitegesang, ring rahina 
patpat, rikala pacang mamargi, sami ledang resep 
sampun, ring pasisi ngulangunin, paksi cangake 
kacingak, duwur batune ngarengkug, kadi anak 
nginengyoga, ngintip ulam, ulamejejeh mamargi, 
i cangak ipun sengitan. 



;i u KU o CT ^^ yru jsu wi o JSi m 



v^s''' o v o o ^ 

'nii2n'n»'U]5Sisuiuj)|K«sihsuiy 

-" ■jiiUUJsuoihojO'iK»i)©|>^oura»jiK»io;js«JoriinJYai9 
n o o r, OS ^ oo 



?)^ 



TTjTTUiUlJjJSl'rjTlU 

o^■^ r\ ^ 'o o'o'n 



o 






on^'Oiru^^sssiisu^uTiU'Ossijonji^ui)] 



^1^ 



Gedeg ipun kasuryakin, sareng katah, ringpaksine 
ngindang, pasliyur sami ngedekin, wenten paksi 
kadi nglalu, macehur las ipun ring urip, maring 
toyane ngumbang, wantah ipun kapituduh, 
mwasta paksi langlang ulan, duwegpisan, nyilem 
nglangi munggah malih, katah ipun polih ulam. 






u 5Q K« «UI o 5® 95^1 u ri ^ ^ yi UTi Aj in 9s»i h ra wi u Ki o !si ^ ^ rTo o W|| 
'o o o n . ./» o^ o /■^ • 

UT» 'U ra 15« u CT 9S1 h UVI !Q ITU ri 2^ n UI JSlIl 'O Jj ^ ^ UTJ UI 5Slfl Jl ISI» 9S1» 



'E;ijiifiuiq\'0'n 



o 1 ,uih u Ki 'n 5 ^ n o 'U (uissnsi ^ ^-nJ 'U 551 



^^ 



UI» )Q 'inj 'O 'O ssvi 'isTi !? ^^ 'O «U uj] ri 5© h o ri o yi o n ic| 'O yi O SO O 'n iru CT h 



o ^ 

.SSWSSl' 

injisi 



306 



getting many fish, because he was brave and daring, so he dove down 
deep into the dark blue water. His whole body was wet, and he could 
not lift himself out of the water. Now he was floating, being pulled by 
the tides. He was underwater, gasping for breath, being swept away. 
Eventually the tide dragged him to onto the hot sand of the shore. 

For a long time he was rolling around on the beach, being pummeled 
by the crashing waves and bitten all over by tiny sea creatures. He did 
not believe he would live much longer. He was blessed by the Lord Sang 
Hyang Widhi. Suddenly a crab appeared, scrambling around, looking 
for a meal on the beach. He was surprised to see the heron all curled 
up and lifeless. 

Then the crab asked, "Hey, heron, why are you here like this. The heron 
answered through his tears, "I am miserable, and what is the reason? 
It is because I wanted to help the fish. I felt so sorry for all of them, 
gasping for air on the hot sand while the tide was out. 

Many of them died under the heat of the sun's burning rays. It made 
me feel so sad to see that. And so that is why I wanted to help the fish. 
The high tide was coming. The water was rising and falling. Then I was 
caught under the water. I couldn't breath and my body was drenched 
with water. I was pummeled by the crashing waves." The crab was 
laughing to himself because he knew what really happened. 

Actually the heron and his ancestors had a long history of being evil: 
lying to friends, engaging in nasty gossip, wearing white to give the 
appearance of being holy. The crab was sure that he understood the 
heron's evil nature. The crab said, "It is really good that you want to 
help." 

"You never think about your own safety, and you only want to help 
your friends, even at the risk of death. This is because of your family 



Punikan sane kapanggih, ring i cangak, glis ipun mamanah, nyadia ipun mituwutin, 
andel maring dewek mampuh, awak siteng kampid luwih, mangkin nambyung 
ipun munggah, lega pisan manah ipun, manggihin ulame katah, masliyuran, 
rerod-rerod ageng alit, i cangak lintang dot pisan. 

inj ^ rn» r\j w u 5© Kill JQJ CT 5 ^ o 9® jsi » o ao o SU ;si> 1« ri 9S1 h isii ra 
Kuiuinim^i^ 



o o J ^ uij u QSj ji -:i o J] 9S1 in jsij ^ o yi u «u iui 5^ rii w )ffl| ^"^ 



Cageripunpacangpolih, ulam katah, dwaningipun elas, sahasa macehur mangkin, 
ring toyane dalem pelung, belus ipun buka katih, nenten dados matingtingan 
kambang mangkin ipun anyud, ring toyane sengal- sengal, kaanyudang, kampih 
ipun sampun mangkin, maring pasisi kebusan. 



«JOUUTJ 



ujsi on;ioiru'^;siJO'iri«"so«huTUJSii'U5si»J5siho'injsir . 

... .'^ n o o o v^ \ / o n ^ ^ 



1 1 Ki ;( tn io m 1 inj " 



■> jC 



^Y 



isij^ 



^CT 



Suwe ipun glalang-gliling, tigtig ombak, paling kepanesan, turing garang unting- 
unting, mingdoh ipun pacang idup, dados wenten swecan Widhi sakadi wenten 
nguduhang, wenten mangkin yuyu rawuh, grayang-grayang ngrereh teda, ring 
sagara, tangkejut ipun manggihin, i cangak paling maplisan. 

o oorio r\ ^oo o ^'»o^ n 

uviwiWjyiriiuojQB5sraKuTjrTJMrnKijhuTJUio5®rnu»^20sou»rTir^oo8QB09Q^ 

v o o o o ^ o ■1^^'^ \ ■t" a y" \ n 

UJ UJ] iru M 9®» UVI r? 9S1 ^ o UT« o inj JU Ulh o 9® ri u JQ ^ o UT» o Kll 5Q ^ o 15« TU ^ JCT r^ 

^ jo ri» uj n iu u o nj nji ^ u «UI UT« o UTj in iru jci UTJ jo] ^ 

I yuyu raris nakenin, iba cangak, apa ne ngawanang, dadi iba buka kene, i cangak 
ngelingmasawut, yuyu lacur kai j ani, olaskainengawinangkaimakenehmatulung, 
kangen kai mangenotang, bene kandas, di biyase pagaliling, pasihe enggalan aad. 



307 



heritage. Your ancestor, the heron-priest, is famous for having made 
extraordinary efforts to help my ancestors. In a story from long ago, 
it is said that my ancestors almost died because the water in their lake 
was very shallow, and many fish were splashing in puddles, gasping for 
breath. 

The heron-priest helped them all to move away, closer to the deep water. 
That help was given in the past. Now you are following in the path of 
your ancestors. I feel that I owe a debt to you and to your ancestor the 
heron-priest. Now, what can I do? How can I repay the debt to balance 
things out? It is a bad thing to remain in debt. 

Then the heron spoke. "Yes, remember. In this world it is a very bad 
thing to forget your debts. If you, crab, do not pay your debts, your life 
will become like a living hell. Also if you make loans, things will not go 
well until they are paid back, and your life will also be like hell on earth. 
If you do things in opposition to this wisdom that is found in the sacred 
books, your life will be filled with suffering." 

Then the crab spoke again. "Alright, heron. I will pay my past debts. 
What is the proper way for me to restore the balance?" The heron 
answered, "If a debt is incurred through the performance of a deed, then 
it should be repaid through the performance of a similar deed. This is 
what the sacred books teach us. So please, crab, follow the correct path 
that will make your ancestors happy. 

Now you have to help me. Bring me to a cool, shady place." The crab 
was laughing to himself as he dragged the heron to a shady spot. As 
the heron began to dry out, he began to get cold and hungry. Since he 
did not have anything to eat or drink all day, evil ideas popped into his 
mind. 

Now the shivering heron was staggering to his feet. The crab was ready, 









(1 5Q Tl ra JQ \ ra rn in» UT» UI 551 JTI ISI» N TT» o KJl «SI UT» irU «1 CT 551 

.... 'CIO ' n 

UU UJ) lAJ] «1 o lO KU UT» CT ^ 'l ifUSl UU U] 30 5S1 u iU 5® h^ 



?i) ^ CT o no 'D o 5sfl \ 
[ > '151 / i/i ini (^ 



J J 



^^ 






Buwin liyu ane mati, hendet surya, to ane ngawanang, kai kangen mangiwasin, 
ditu lawut kai matulung, teka ombak gede gati, ngencah buwin turunan, nangkeb 
kai enu ditu, bekbekan kai licitan, tigtig ombak, i yuyu kedek di ati, dening ipun 
uning pisan. 

ri UU so rn 9S1J Ji n 9SVI ri UU Ki h U Ki ^ 'l SOI 'D Ti ^ ^ ri m 9S1J n^ 5si« o J ru h iu 

is»hiruOi«''^os€iousumournoo':)suu'UCT^^5Siyiuusosuu>'^o'\uuwuj 'V\\ 

o jsij CT Ki u 5S1 so rn Kti] ^ in ^si» SU r? UU TT» 'l UU 'D iru su] ^"^ 

Ring i cangak sakeng rihin, wantah corah, nguluk-uluk timpal, sai ngadu daya 
lengit, laksanane mapi sadhu, mapanganggo sarwa putih, niru ida sangpandita, i 
yuyu sumingkin sumbung, mikatin ipun i cangak, jati corah, i yuyu raris mamunyi, 
jati saja iba olas. 



^s^suuununis^rinuihis^'LS 



lAjj^iUinj» 



^ )© in ^ O 'l in 'D inj SU 5Q O ji iru K UJI ari 561 rTi in SU 5SI ISU ^ 551« UI CT in« 'l 5S1 



tl UU so u u ^ >\ 'l in 'D 'AJ SU 551 lAJ) 



^O^ 



o njl !5 ^ UU JO SU ISU UU 'l 551 o TU ^ 'l 5SIII 'D so u JCl TU m UU o 



TU ^ ^ lO SU 'l 551 J 2fl ^ 'l ia; 5 ISU o «1 551 SU w 551 u SUJ ^ UU 'l rTJ 'l 551 TU lAJ] 5S1II >~U SU 55^ 

Tusing iba ngitung urip, tuwah nujwang, mangolasin timpal, yadin iba ngmasin 
mati, kawitan ibane malu, sang baka kaucap luwih, ngolasin laluhur gelah, ada 
satwa ane malu, kocap ida laluhur gelah, dasan seda, yeh tlagane sayan tipis, ebene 
liyu kandasan. 



UU rTl 55« ISI» 551» 'l rn 'D TU SU 551 h O ri SU 2Cl ^ UTI 'l rTI 'l 551 55« T^ ^ 5S1II UU ri 5511 'l UJ 'l UU O 'l w ^ 'l J^ 

OO onoo ^^■«'- 

SU I 'l 551 o TU ^ r? 551 UU ri o 1S« u CT 551 h TU lAi 551» UIJ o SU o 1S« ^ CT o 

o^, ^. \ o o -r- ov^ 

'D 551 so ^ ril 55« TU TU n UU CT o in u UI» in SU 20 ^^ r^ 'l TU UJI 551 in TU ^ UU ISI» ^^ 



ia; 551» UIJ o SU o 1S« ^ CT «1 551» 551 rU 55« UU 'l 551 o TU ^ in 551 UU u UU 'l in 



/ baka teka ngolasin, mangisidang, ebene makejang, kaaba ka yehe gede, keto olas 
ya ne malu, jani iba matuwutin, liyu kai mrasa mutang, teken i baka ane malu, 



308 



because he already knew that the heron was evil. He knew that the bird 
had been a liar since the time of his ancestors. The heron suddenly 
poised himself to attack and was ready to bite the crab. The crab quickly 
retaliated by grabbing the heron's beak with the pincers on the ends of 
his claws. 

The mouth ofthe heron was held tight. The heron collapsed. He couldn't 
make a sound. The bird just fluttered and shook, growing weaker and 
weaker. Then the crab said, "Now you will receive what is owed to you 
for your past evil actions. You were clever in speaking. Now you have 
to reap the results of what you have sown. When the seeds you have 
planted are harvested, you must eat the fruits of your past actions. 

You never stopped doing evil deeds, like lying to your friends, having 
bad intentions, getting your food the easy way, boasting that you are 
rich, speaking loudly to make other people trust you, coveting your 
neighbors' possessions, never thinking about what is right and what is 
wrong, inventing your own rules of morality. 

You are still lying, like your ancestor long ago, who imitated a holy 
man, dressed in white, wearing the black sash of a priest and a Brahmin 
headdress. He pretended to be a priest, an insolence that leads to a 
cursed life. Now you are copying the example of the false heron-priest. 
It is not necessary to imitate that model. Make an effort to look for the 
proper path. 

I have known these things for some time, but don't be sad. I will not kill 
you, but will let you live as proof to the world of what happens to long- 
mouthed liars. So now, to make you more handsome, I will cut your 
mouth in half. Then the heron staggered. His beak had been cut. 

The heron flew home quickly. When he arrived at his house his wife 
was surprised and began to cry. "How did this sickness come to you 



jani apa anggon icang, bakal nguliang, utange pang ingas dadi, jele yaning ngelah 
utang. 



Evi U ^si» o rTO ^ o isij ":> uvi ri CT ^ 2^ rn ri J u 5© CT 20 inij o n 9Q K« iTTi o u o i^ 

*^0»0lS1»'5OSU|!!U;i5QJUTU|^5SVI5Q5QO9;ST|WU1S1»oK9S|OUl«2«]UCTinilO 



UTIIJOUOTJOJO 



Icangak lawut mamunyi, to ingetang, da ngengsapin utang, digumine kabawosjele, 
yan sing mayah utang yuyu, nraka idup mati dadi, keto masih yan masiliang, kanti 
nagih tusing patut, nraka idup mati bakat, yaning tungkas, teken kecap sanghyang 
aji, idupe nemwang sangsara. 

o ooono ^ o ,'=' 

UT« uj uj o 'Ej rr:) o nji <; ^ UTj rii M in 9CTI h O ui« rii 9S1I1 ifu uj ^ ^ uTjj 1S1» ^ UT« n 5Q SU r^ 

n. o o o, ^ o A o -." n. 

raohuvift3irnjCTiwuTjj;si)jyisuhiAj9QUTj]ij«u'iu;oni«u)QhouT«oinjsuor^ 

/ yuyu mamunyi malih, iba cangak, kai bakal mayah, utang ane suba lami, apa 
patut anggon ngentug, i cangak masaut raris, yan mahutang piyolasan, olas anggo 
mayah yuyu, nganutin kakecap sastra, kabawosang, patute jalan to alih, kawitane 
apang ledang. 



on o o o ^ „ „.,.,. 

^ SU 5Q h JS« UIJ 5S1II w JO ^ « 2^ UJ] O UIJ UT» ril ^ UVI UJ U^ 5SVI o 10 o UIJ CT ^ UIJI Ml in 



^' 



. J 



no> o 00. 0000. 

jjKihyiJoujn'L/iJuiiiuisiinsaKsuiskoojisiujsisujussih 

<, \r o o o n, o . o -.^ a o, v o 

r^nj]»u9S]awjiKio^^o»«u5Q2orn5QjQhCTyi9siw?^ui«uuviCT»»iQu^u«uu 






Nejani iba ngolasin, kai kisidang kadayuhe aba, i yuyu kedek di ati, i cangak kapaid 
sampun, ring dayuhe ipun mangkin, sasampun ipun isisan, bulun ipun sayan etuh, 
kantun ipun kadinginan, turin layah, awai tan keni napi, pesu pitungane corah. 



SJiWi 



^^oo^ 00 o'io o^o^ o 

A«su|uiuTiu9®rn»hrTJrTJwi^9ahuTJUJW]wiiriin5|^'iaojsiui«u» 

sj 5 ^ o j®« 5QJI u 5€] ji n JCT yi uij !s^ ^ uS M rn 5SVI rn K) u ip jsfl 



ono ^■«'o^orl. <^ O.. 

« jiU5QKuTJUJUJrnrT5yi5s«UCThJuuiJsuui«ussi'no^5SiiiM(\ 



309 




Srayang-sruyung ipun mangkin, bababuyutan, i yuyu taragia dening ipun 
sampun uning, ring solah i cangak rusuh, mrekak ipun saking rihin, i cangak 
mangkin narejak, sahasa nyotot i yuyu, sebet i yuyu ngwalesang, cepet pisan, i 
yuyu ngenjirang kapit, sahasa ipun manyangkwak. 

o r\ ^ -^ o r\ o ^ 01 o o. 

rTi] in isij rn o 501 )S«i u CT K CT 9Q» O J iu 5® h UT» sa ri 9S« o uj '^ OT »j UJI 2«i so O o r^ 

V^ ^^v^nn o O o^■«'^ooo V.. o 

joj r^ j« r* SU w 5Q SQ 3Q» n UI u» uj] ri ri wi o rno ^ o 59 »ji rn 8SW 50 1?« o J jo ^ u n 

rTioinj^^ipssiuiJiinju^CT'a'^irj] 059 u 055135111 h 



ujus) ITT] u ^ UU n m o ^ ^ 



Bungut cangake kakapit, tekek pisan, i cangak maguyang, fusing ya dadi mamunyi, 
krejeng-krejeng sayan enduk, i yuyu raris mamunyi, ne cangak jani tampedang 
pikolih ibane nutur ane pula iba mabwah, jani alap timuh buin apang mentik, 
yang mabuwah iba ngamah. 



;«juiuTjiajornvuri3sihJowio«iori^^joo5si'usji'E;iJ'njh»jiui 
n 2Ci ^ i5i> u rn 5Q ^ SU o ^ ^ 'O ino 'l 551 in 5S1 uiJi n uiJ in ^ uiJ u UT« u 'O J5JI 3« 



'n so 2o uj r? ^ 'iru ^ iji!) irui^sj 'O ^ 'ui( 'ITU 'U!» 'inj) ^\ Uli 



U r i 



ll]^0551IICT5Sl 



''lAj <] 'U SU O \ UTJ u 'n» 9S1I1 CT r^^ ^s« SU 'n isij rii 3S1 !! u inj !j ^ ri O 'n 'S 'U O CT ^^ 

Tusing emed mangulurin, daya corah, demen ngapus timpal, sai ngadu daya jele 
tulus ngamah ulih aluh, edot apang ngenah sugih, munyine jani aengang apang 
awake kegugu, mikatin gelah pisaga, apang bakat tusing ngitung beneh pelih, 
nganggo pamatut kadidian. 



? 551 \ UT» 5S1 o son 5sfl \ o u SI 



;isuaciicio\ 

v o ^v^nov^ 000 on 

ounonosuuiuCT^^osunji'Ou^svi irj|5Q55«i^^ou'Ounuiossiii'33siJsih 

o o o .ooo^o•^^. 

o ^SlJ 'S 'En iO 351 inj ^ 'UVI 10 u 551 'O] 551» 'U» r^ 551« 'O 5S1 o VU ^ 'n 551 'U!» 'n» in» J^ 
UVl 'O 551 'O 551» o ISU "2 u ITU 'n 'U!» 3Slj ^ u 15« o ISU ui« inj ^ wi n CT ^^ 



uli ilu kayangjani, enu mrekak, mapi sadhu dharma, mapanganggo sarwa putih, 
masalimpet bwin maketu, mapi-mapi ngawikonin, to madan tulah idupan, buka i 
baka ne malu, jani iba bwin nuwutan tusing nyandang, ane keto palajahin, patute 
alih saratang. 



310 



while you were out looking for food?. The husband heron told his story. 
"Now I agree with what is written in the sacred books. It is very true 
what is said there. It really is a bad thing to have a mouth that is too 
long." 



o v^v'' or) o r\ ^ o •r- -r -r- ^ \ 

S®» uvi SU ri» a ri Ki ui« )® I ^ UT)] TU r^ «J Ki I ^ UI» ini jf\ rTnin» i£T« ^ 



KinuTJirur^iuiKij^^ 

uoyi5;ri]Suiotr^|5€^uij^uTJiuui«rT»o»5Qisijyi^j«iooojQOJCTioo^nKir^ 

o Vo\o n. v.«'oo A on. o on 

CT rn» JQ nj 5Q \ n s® UTJ iJi uii ini rii nil «ui \ 1« O ru uij rii U jsi rr5 \ uj UTJ w ri O \ O 



wi 5S1 ii>n a jj 5S1 J 1?« 



^'^^^ 



(Note: In Balinese the name of the kind of heron featured in this 
story is 'baka.' 

Today in Bali the word 'baka' has become synonymous with 'liar' 
or hypocrite, as has the phrase "pedanda baka' meaning 'heron- 
priest.' And when the Balinese say that someone has a 'long mouth' 
or 'bungute lantang' it means that person is a liar.) 



Kai suba mangenehin, uli busan iba da nyebetang, wireh fusing matiang kai, 
apang ibane katiru, di gumine maka bhukti, ne bungut ibane lantang, jani apang 
iba bagus, tugel kai buwin kenjang, ya i cangak, mapulisan muntag-mantig, 
bungutnyane sampun pegat. 



>^ o n . o ^ . o . ^^ o^. 

™TU«uKrn'OVUUi'\yiu5uiu5QO^<^ojsiiiiU|'oriiJi-i09rT:>'i9Qin^ 

o o o n. o n o ^ . o s-' o ^ ■^ -r 



o -r -rv -i 

um Ml rusimsu n o TU «u 

e 

sri ao O o n » in» TU ri U) ^ ^ ri TU ^ Uli 'O ^ o UT« jq u 5CT ISI» j \ UTh »;s rn 3®ii I 'U] ssi 
'uuu5|imosy'\sur!usussihasiirT)iouowiinoTUOCT^W5Qrijr]'nCTTTi«j 




/ cangak makeber gelis, ngamulihang, rawuh ipun jumah, 
makesiab somahnyane ngling, dadi kene beli rawuh, ngalih 
amah maan sakit, i cangak mwani nuturang, jani beli mara 
cumpu, teken kecap sanghyang sastra, saja pesan, kabawosang 
jele gati, yaning bungute bas lantang. 



311 



EPILOGUE: 
SYNESTHESIA- 

The Soul of an Artist 




Penutup: 
Synesthesia- 

Jiwa Seorang Seniman 



313 



"The clouds were like the eyes of spirits 
watching everything. When you are a 
child you sense the mystery of the natural 
world all around you, but you don't have 
words to express it." 

- Nyoman Gunarsa 



"They were like spirits," says Gunarsa 

pointing to the clouds in a painting inspired 

by childhood memories of his life in a small 

village near Klungkung. The watercolor 

depicts a landscape dominated by the sacred 

mountain Gunung Agung surrounded by 

clouds that resemble the eye-like shapes that 

fill the sky in the classical Klungkung style paintings he grew up studying, 

"The clouds were like the eyes of spirits watching everything. When you 

are a child you sense the mystery of the natural world all around you, but 

you don't have words to express it." 



Now that he is an adult, Gunarsa expresses those ineffable mysteries through 
his paintings. His ability to do so is what gives his artwork its soul or "j/wa." 
The expert witnesses at his copyright trial referred often to the "j/wa" of 
Gunarsa's paintings as a quality that was missing from the forgeries. They 
noted the differences between the authentic paintings and the false ones 
with technical references to perspective, anatomical proportions, and 
dynamic lines, but the term they kept coming back to was "jiwa" 



Like most artists, Gunarsa is reluctant to define the 'soul' of his work in 
words, but one of his watercolor paintings offers clues to the essence and 




"Embun tak ubahnya seperti mata-mata 
spirit mengamati segala sesuatunya. Bila 
anda seorang anak kecil anda rasakan 
misteri sifat alami dunia semua diseputar 
anda, tetapi anda tidak memiliki kata- 
kata untuk menyatakanya. 

- Nyoman Gunarsa. 



"Semuanya itu seperti spirit," kata Gunarsa 
menunjuk ke awan dalam sebuah lukisan 
diinspirasikan oleh ingatan masa kanak- 
kanaknya dari kehidupannya di sebuah 
desa kecil dekat Klungkung. Lukisan cat 
air menggambarkan sebuah pertamanan 
didominasi oleh gunung suci yakni Gunung 
Agung diitari oleh awan yang menyerupai bentuk mata yang memenuhi langit 
di dalam lukisan gaya klasik Klungkung dimana dia tumbuh dan berkembang 
serta mempelajarinya. "Awan-awan tak ubahnya seperti matanya spirit yang 
mengamati segala sesuatunya. Bila anda seorang anak kecil anda rasakan 
misteri sifat alami dari dunia semua diseputar anda, tetapi anda tidak 
memiliki kata-kata untuk menyatakannya. 

Sekarang dia sudah dewasa, Gunarsa mengekspresikan itu semua yang 
selalu dikatakan misteri suci melalui lukisannya. Kemampuannya untuk 
melakukan itu semualah yang memberikan hasil karyanya berjiwa. Para ahli 
yang menyaksikan pada pengadilan hak cipta sering menunjuk pada "jiwa" 
dari lukisan-lukisannya Gunarsa sebagai sebuah kualitas yang itulah tidak 
muncul dari lukisan yang dipalsukan. Mereka memberi catatan tentang 
perbedaan antara lukisan yang asli dengan yang tiruan dengan teknikal 
referensi untuk perspektifnya, anatominya, proforsinya, dan dinamika garis, 
akan tetapi istilah yang tetap muncul lagi adalah "jiwa." 

Seperti kebanyakan seniman, Gunarsa segan untuk menggambarkan 'jiwa' 
dari hasil karyanya di dalam susunan kata-kata, akan tetapi satu dari lukisan 



314 



origins of his artistic vision. It is a watercolor that combines words and 
images, a variation of the format used in the palm leaf /owfar manuscripts of 
sacred texts he often watched his father read. Gunarsa's handwritten words 
are at the bottom of the painting beneath the slopes of a mountain framed by 
the legs of two shadow puppets whose heads tower up over Gunung Agung 
on either side. The puppet figures are indistinct as they might appear to 
a child imagining that a cloud formation looks like the shadow play hero 
Bhima on the right side of the sky ready to do battle with a shadow play 
demon on the left side of the sky. 



The cloud-capped adversaries face each other on opposite sides of the 
mountain, suggesting the configuration of the puppets at the beginning of 
a wayang puppet play, when the sacred mountain is placed at the center of 
the dalangs screen flanked by the heroic characters on the right and the 
villains on the left. The sun rising over the mountain in Gunarsa's painting 
is placed where the flame would be burning on the coconut-oil lamp that 
casts the play's shadows. 



cat airnya memberikan jejak kepada esensi dan asal mula dari pandangan 
artistiknya. Itu adalah cat air yang dikombinasikan dengan kata-kata dan 
kesan, sebuah variasi dari format digunakan dalam daun manuskrip dari 
teks sakral yang dituliskan di daun lontar yang sering dia lihat ketika dibaca 
oleh ayahnya. Tulisan tangannya Gunarsa diterakan paling bawah bagian 
dari lukisannya dibawah kaki gunung yang dibingkai oleh kaki dari dua 
wayang yang kepalanya menjulang tinggi di atas Gunung Agung di kedua sisi. 
Figur wayangnya tak jelas, nampak persis seperti bayi menghayalkan bahwa 
formasinya awan kelihatannya bagaikan pertunjukan wayang kulit dimana 
pahlawan Bima berada di sisi sebelah kanan langit siap melakukan perang 
dengan bayangan yang berbentuk raksasa di sisi langit sebelah kiri. 

Dibawah awan mereka bermusuhan berhadapan satu sama lain disebelah 
menyebelah gunung mengingatkan pada konfigurasi awal pertunjukan 
wayang, manakala gunung yang sakral diposisikan di tengah-tengah pada 
kelirnya dalang diapit oleh oleh tokoh-tokoh kepahlawanan di sebelah kanan 
dan tokoh jahat disebelah kiri. Matahari muncul di atas gunung, dalam 
lukisannya Gunarsa diposisikan dimana api lampu belencong berminyak 
kelapa dinyalakan untuk memproyeksikan bayangan tokoh di layar. 



Although the composition of the watercolor echoes the shapes of wayang 
theater as it was practiced by his grandfather, an accomplished puppet 
master, Gunarsa points to another source of inspiration that is also deeply 
rooted in his childhood memories. It is a black and white drawing of the 
nawa sanga, the traditional Balinese vision of the universe as a circle divided 
into nine sacred directional coordinates. "To the north is Vishnu and to the 
South is Brahma," he says while gesturing back and forth between his two 
creations. "Here is a sacred line that goes from the mountain down to the 
sea," Gunarsa continues tracing a line that runs from the image of Gunung 
Agung, between the cloudy shadow puppet figures down to the handwritten 
text that seems now to be written on the surface of a shimmering sea that 
reflects the sunlight and cloud shapes above it. "I here am in the middle, 
between the heaven and the earth," he concludes confirming his place in the 
cosmos as it is understood in the Balinese cosmology of the nawa sanga. 
"My father told me that our village in Klungkung was at the center of the 



Walaupun komposisi dari lukisan cat air memantulkan bentuk pertunjukan 
teater wayang seperti yang pernah dipraktekkan oleh kakeknya seorang 
dalang yang sukses, Gunarsa menunjuk pada sumber inspirasi yang lain yang 
juga secara mendalam mengakar dalam ingatan masa kanak-kanaknya. 
Itu adalah gambaran nawa sanga hitam putih, pandangan terhadap tradisi 
orang Bali tentang alam semesta sebagai sebuah lingkaran dibagi ke dalam 
sembilan koordinat arah suci. "Di sebelah utara adalah dewa Wisnu dan 
di sebelah selatan adalah dewa Brahma" katanya sementara menunjuk 
kembali bolak-balik diantara dua kreasinya. "Ini adalah sebuah garis sakral 
dari gunung turun ke laut" Gunarsa lanjut menelusuri sebuah garis yang 
membentang melintas dari gambaran Gunung Agung diantara figure wayang 
kulit yang berawan, turun ke teks tulisan tangan yang nampaknya sekarang 
ditulis dipermukaan laut yang merefleksikan sinar surya dan bentuk-bentuk 
awan di atasnya. "Saya berada di sini di tengah, di antara sorga dan bumi" 
dia menyudahi mengkonfirmasikan tempatnya di dalam kosmos seperti 



315 




















\ 









t; - 






l^. 






- ^^ 







fSh^irlUc f^M^lA ^ 



world, with demons below us and 
the gods up above." 



To illustrate the sacred geography 

he had learned from his father, 

Gunarsa takes a pen and begins 

drawing a silhouette of the 

landscape that includes the mother 

Temple Basakih on the slopes of 

Mount Agung, goes past a pavilion 

in Klungkung to another temple 

by the sea at Kelotok. He draws a 

dragon swimming out of the sea at Kelotok to emphasize the demonic nature 

of that lower realm. All three drawings represent the codified relationship 

between humans and the mysteries of the natural world that Balinese 

children are exposed to from birth: the three worlds of bor, bwah, suah, the 

underworld, the earth, and the heavens. It is a relationship that implicitly 

underlies the composition of all Gunarsa's artwork, but in these three pieces 

the painter makes the structure explicit. He also paints the cloud shapes in 

a style that is clearly inspired by the eye-shaped ovals in classical Klungkung 

styled paintings. 



In most of his works those shapes are abstracted into the background in 
seemingly random patterns, but they are always illuminated by traces of 
Gunarsa's childhood memories. These kinetic emblems energize the spaces 
between his central figures, like a secret alphabet that links each composition 
to the invisible world of spirits that populate the Balinese landscape. 



As he notes in his handwritten commentary the size of the figures has nothing 







dimengerti di dalam nawa sanga 
kosmologi Bali. "Ayah memberitaku 
saya bahwa desa kami di Klungkung 
adalah pusatnya dunia, dengan 
alam setan dibawah kami dan alam 
Tuhan di atas." 

Untuk mengilustrasikan geografi 
sakral yang dia pelaj ari dari ayahnya, 
Gunarsa mengambil pena memulai 
menggambar bayang-bayang hitam 
sebuah pemandangan alam yang 
menyertakan Pura terbesar di Bali 
yakni Pura Besakih di kaki Gunung 
I - AQunQ, membentang, melewati 

balai di lungkung menuju ke pura 
Batu Klotok yang berada di tepi laut. Dia menggambar seekor naga keluar 
berenang di laut Klotok untuk menegaskan sifat alami dari setan yang berada 
di bawah dunia. Ketiga gambaran tersebut mewakili susunan hubungan 
diantara manusia dengan misteri sifat alami dunia bahwa anak-anak orang 
Bali diarahkan sejak lahir: adanya tiga dunia yakni bhur, bhwah, dan swah, 
dunia bawah, bumi, dan sorga. Itu adalah sebuah hubungan yang secara 
implicit menggarisbawahi komposisi dari semua karya seninya Gunarsa, 
akan tetapi pada ketiga lembar ini pelukis membuat srukturnya eksplisit. Dia 
juga melukis bentuk-bentuk awan ke dalam gaya yang jelasnya diilhami oleh 
bentuk mata yang oval dalam gaya lukisan-lukisan klasikal Klungkung. 

Dalam kebanyakan karyanya bentuk-bentuk itu dibuatnya abstrak sebagai 
latar belakang dengan pola yang tak beraturan, akan tetapi semuanya itu selalu 
diterangi oleh penelusuran ingatan Gunarsa pada masa kanak-kanaknya. 
Emblim kinetis memberi energi pada ruang diantara figure utamanya ibarat 
abjad yang sakral yang menghubungkan setiap komposisi dengan dunia tidak 
nyatanya spririt yang menghuni pulau Bali. 

Seperti dia memberi catatan pada tulisan tangannya mengomentari ukuran 



317 



to do with realistic perspective. It depends on 

the relative importance of the subjects being 

drawn. In the mountain landscape the shadow 

puppets loom large, the way they appeared to 

Gunarsa as a child who saw ghosts and spirits 

all around him. Under the watchful eyes' of the 

clouds that hover over the mountain these two 

puppet shapes seem ready to begin the battle 

between good and evil that is depicted in every 

shadow puppet play. The watercolor captures 

a moment when the gods of the nawa sanga 

are present in all directions as spectators at a 

shadow play illuminated by the sun rising over 

the sacred mountain. The puppet characters 

are formed by the changing shapes of clouds, 

and the battle between the forces of good and evil is about to be played out 

on a landscape that stretches from the heavenly heights of Gunung Agung 

down to the demon- infested sea. 




The words he paints at the base of the drawing suggest the 
scene is representative of the way his childhood imagination 
theatricalized the landscape. "When I was young I sensed 
all kinds of eerie things and was full of fantasies about the 
natural world around me. Early in morning, when it was 
still dark, it was as if the natural world was blanketed with 
ghosts or spooky spirits." 



As he looks at the watercolor Gunarsa begins to sing, 
recalling the soundtrack of his childhood fantasy. It is a 
song he learned at middle school about the mystery of a 
Balinese sunrise. He voices the words softly in Indonesian: 




dari figur-figur tidak ada hubungannya dengan 
perspektif relistik. Itu tergantung pada relatif 
pentingnya dari subjek yang digambar Pada 
gambar pemandangan gunung bayangan 
wayang tampak besar, kemunculan mereka bagi 
Gunarsa sebagai anak kecil yang melihat hantu 
dan spirit diseputarnya. Di bawah pandangan 
mata-mata penuh kewaspadaan dari awan 
yang menunggu dekat di atas gunung kedua 
bentuk wayang ini nampaknya siap untuk 
memulai peperangan diatara kekuatan baik 
dengan buruk seperti yang digambarkan pada 
setiap pertunjukan wayang kulit. Lukisan cair 
air menangkap momen ketika dewata nawa 
sanga dimunculkan di seluruh penjuru seperti 
penonton dalam pertunjukan wayang kulit, diterangi oleh matahari muncul 
di atas gunung yang sakral. Karakter wayangnya dibentak dari perubahan 
bentuk dari awan dan pertempuran antara kekuatan baik dengan kekuatan 
jahat seakan jelang dimainkan keluar dari pemandangan alam yang 
membentang dari puncak Gunung Agung dan raksasa turun 
mengerumuni laut. 

Kata-kata yang dia terakan pada bagian bawah lukisannya 
mengusulkan adegan sebagai perwujudan dari cara 
masa kanak-kanaknya mendapat kesan pemandangan 
diteatr ikalkan. "Ketika saya masih muda saya merasakan 
berbagai macam ngeri tentang berbagai hal dan penuh 
dengan fantasi tentang sifat alami dunia seputar saya. Di 
pagi buta ketika masih agak gelap dunia diselimuti oleh 
hantu atau spirit yang menyeramkan. 

Sembari melihat pada lukisan cat airnya Gunarsa mulai 
bernyanyi memanggil kembali lapisan suara dari fantasi 
masa kanak-kanaknya. Sebuah lagu yang dia pelajari 
ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama 



318 



"Fajar menyingsing terbit matahari, kabut melayang menarik hati, cuaca 
terang di seluruh negeri , burung bernyanyi, bagai berperi." ("At dawn the 
sun rises, and the clouds floating in the fog bring me joy. The climate of light 
spreads across the entire country. The birds sing, like invisible spirits.") 

"That is the song I heard while I made this painting," Gunarsa explains. "I 

could also hear the birds singing, 

like a mystery of nature. I listen to 

the music of the birds so that I can 

put it into the painting and hear it 

when I look at it again." 




A moment later the artist begins 

to sing another song. This one is 

in Balinese. He learned it from 

a priest who visited his village 

elementary school. He becomes 

more animated as he repeats the 

simple melody and begins to wave 

his arms as if he were conducting 

a gamelan ensemble. He voices 

the sounds of each instrument in 

the Balinese orchestra of gongs, 

drums and metallophones, adding 

layers of sound to his memory as if he were adding layers of color to the 

painting. Eventually the song inspires him to move from his studio to a 

nearby set of gamelan instruments where he actually does play the melody 

on a metal xylophone. Lacking the proper mallet he improvises by hitting 

the keys with a stick from his garden. The shimmering sound of the gamelan 

encourages him to sing the song more forcefully, and his right arm dances 

through the air in time with the music. 



tentang misteri dari munculnya matahari di pagi hari. Dia suarakan kata- 
katanya denga lirih dalam bahasa Indonesia: "Fajar menyingsing terbit 
matahari, kabut melayang menarik hati, cuaca terang di seluruh negeri, 
burung bernyanyi, bagai berperi" 

"Nyanyian tersebutlah yang saya dengar ketika membuat lukisan ini. 

Gunarsa menjelaskan. "Saya 
juga mendengar burung-burung 
bernyanyi, seperti misterinya 
alam. Saya mendengarkan musik 
dari burung-burung dengan 
demikian saya bisa tuangkan 
ke dalam lukisan saya dan saya 
mendengarnya kembali ketika 
saya melihat lukisannya lagi" 

Beberapa saat kemudian si pelukis 
kembali menyanyikan lagu yang 
lain. Yang ini dalam bahasa Bali. 
Dia belajar dari seorang pendeta 
yang mengunjungi sekolah 
dasarnya di desa. Dia menjadi lebih 
hidup manakala dia mengulang 
melodi yang sederhana dan mulai 
melambaikan tangannya seperti 
halnya dia sedang memimpin 
penabuh barungan gamelan. Dia 
menyuarakan suara masing- 
masing instrumen gamelan Bali seperti kendang dan nada-nada bilah 
kerawang, dengan menambahkan lapisan-lapisan suara melalui ingatannya 
seperti halnya dia menambahkan lapisan warna dalam lukisannya. Akhirnya 
nyanyian yang mengilhami dia untuk berpindah dari studio lukisannya ke 
tempat dimana satu set gamelan yang terletak tidak begitu jauh dan di sana 
dia dengan sungguh memainkan melodi gamelan tersebut. Karena tidak 
ada tabuh alat pemukul gamelan dia berimprovisasi dengan menggunakan 



319 



^ 4->f ^ % 



The open-air pavilion housing 
the gamelan is surrounded by a 
pool of lotus blossoms dappled 
with the raindrops of a recent 
shower. The lush garden is rich 
with the aromas of mango trees 
and cempaka flowers whose wet 
fallen blossoms are scattered 
across the ground. Still singing, 
Gunarsa leaves the gamelan and 
plucks a tamarind pod from a low 
hanging branch. He takes a bite 
and chews on the savory pulp. 
The sound of flowing water and 
singing birds has replaced the 
melody of his childhood song, 
but the words of the song still 
reverberate in his memory as he 
reflects on the power of music. 
"Music softens your heart," he 
says, pointing in the direction of 
the gamelan. "It teaches you to 
be refined, so that you won't just 
be a wild cowboy. Art is not just 
for beauty. It exists to transform 
the character of the people it 
touches." 



320 




batang kayu yang di ambil dari 
kebunnya untuk memainkan 
gamelan. Denting gemerincing 
suara gamelan mendorong dia 
untuk menyanyikan lagu lebih 
keras dan tangan kanannya 
menari di udara bersamaan 
dengan irama musik. 

Balai tempat gamelan sebuah 
bangunan terbuka diitari oleh 
telaga dengan bunga teratai 
mekar diperciki dengan tetesan 
air hujan yang baru saja turun 
menggerimis. Taman yang 
rimbun subur kaya dengan 
aroma dari pohon mangga 
dan bunga cempaka yang 
basah berjatuhan berserakan 
di tanah. Masih bernyanyi, 
Gunarsa meninggalkan gamelan 
dan memetik buah asam 
yang menggayut rendah pada 
cabangnya. Dia menggigit sedikit 
dan mengunyahnya dengan 
lezat sampai hancur. Suara dari 
alunan air dan nyanyian burung 
yang menggantikan melodi dari 
lagu masa kanak-kanaknya, akan 
tetapi kata-kata lagunya masih 
menggema dalam ingatannya 
seperti dia terefleksikan ke 
dalam kekuatan musik. "Musik 
memperlunak hatimu," kata dia, 
menunjuk kearah gamelan "Itu 



mengajarkan anda menjadi halus, dengan demikian anda tidak menjadi 
buas seperti cowboy. Seni tidaklah hanya untuk keindahan. Keberadaannya 
untuk mentransformasikan karakter orang-orang dengan sentuhan." 



The song from his childhood that sent Gunarsa singing into his garden 
is entitled Dharma Sadu which could be translated as "A Person of 
Incorruptible Virtue." He associates it with the diagram of the nawa sanga 
whose sacred structure is embedded in most of Gunarsa's work. Looking 
at a drawing of a rice-field pindekan whose spinning wheel mirrors the 
sacred wheel of nawa sanga, he observes, "In the Hindu religion of Bali the 
movement of the wind from north to south and back again is similar 
to the movement of life that spins back and forth between good and 
evil as a result of the choices we make in this life. The wind that blows to 
the east originates in the west and vice versa. You can't have one extreme 
without the other, but people have to do their best to live the way the priest 
suggested when he taught this song to the children in my school" 



Nyanyian dari masa kanak-kanaknya yang mengirim Gunarsa untuk 
bernyanyi di kebunnya berjudul Dharma Sadu yang kiranya dapat 
diterjemahkan ke dalam "Seorang yang kebaikannya tak dapat disuap" Dia 
asosiasikan itu dengan diagram dari nawa sanga yang struktur sakralnya 
terpancang di dalam kebanyakan karyanya Gunarsa. Melihat pada lukisan 
pindekan untuk sawah yang putaran rodanya mencerminkan roda suci nawa 
sanga, dia mengobservasi. "Di dalam ajaran agama Hindu Bali, pergerakan 
angin dari utara ke selatan dan kembali lagi adalah sama halnya dengan 
gerakan hidup, sebagai hasil dari pilihan yang kita buat dalam hidup ini. 
Angin yang mengembus ke timur berasal dari barat, demikian sebaliknya. 
Anda tidak akan dapat satu ekstrim tanpa yang lain, akan tetapi orang-orang 
harus melakukan apa yang terbaik untuk hidupnya seperti yang disarankan 
oleh pendeta yang mengajarkan lagunya di sekolah kepada anak-anak di 
sokolah saya" 



Dharma Sadu 

Ngiring durus 
Sareng sami manut 
Mangusahang raga 
Mangulati kerahayon 
Tunggalan bebaos 
Saking jati tuwon 
Nyudi sane becik 
Budi utama luhur 



The Highest Virtue 

First come along 

And follow all together 

Make an effort 

To weave a life of blessings 

Speak words that are harmonious 

Surrender yourself from your heart 

To create goodness 

With behavior of the utmost refinement 



Dharma 

Mari silahkan 
Bersama mengikuti 
Berusaha sendiri 
Mencari keselamatan 
Satukan pembicaran 
Dari kesungguhan 
Melakukan yang terbaik 
Budi utama terhormat 



Gunarsa's ability to make sound visible is one of the distinctive characteristics 
that cannot be forged by imitators of his paintings. The soul of Gunarsa's 
paintings is inseparable from their music. The painter himself put on a 
performance in the courtroom to demonstrate that the forgeries could 
not be 'danced' in the way that his own works could. His demonstration 



Kemampuan Gunarsa untuk membuat suara itu menjadi tampak adalah 
satu dari perbedaan karakteristiknya yang tak dapat dipalsukan oleh 
sipeniru untuk lukisan-lukisannya, jiwa dari lukisan Gunarsa adalah 
tidak terpisahkan dari musiknya. Pelukisnya sendiri meragakan ke dalam 
pertunjukan di dalam ruang sidang pengadilan untuk mendemonstrasikan 



321 



in the courtroom displayed his gift of synesthesia, the abihty to activate 
and merge all the senses at once. Gunarsa listens to music while he paints, 
sometimes singing and dancing, and always surrounded by the aromas of 
his lushly flowered garden studio. The art he creates is infused with sounds 
that evoke the sights, tastes, and smells of Bali's natural landscape. In 
Gunarsas depiction of a temple ceremony, one can hear the gentle ringing 
of the priests bell, sniff the aroma of smoke rising in spirals from the 
incense sticks, and feel the sprinkling of holy water on upturned hands. In 
Gunarsas painting of a shadow puppet play one can hear the gutteral rasp 
of the clown Twalen's voice and feel the heat of the coconut oil lamp that 
illuminates the screen. When Gunarsa paints a performance of legong the 
precision of his lines vibrates with the sounds of the gamelan gong music 
that propels the dancers' bodies through space. 



bahwa yang dipalsukan tidak bisa "menari" seperti halnya lukisannya 
sendiri, menari. Demonstrasinya di ruang pengadilan mempertontonkan 
(semua rasa dengar lihat lidah menyatu = synesthesia), kemampuan 
untuk mengaktifkan dan menyatukan semua rasa menjadi satu. Gunarsa 
mendengarkan musik ketika dia melukis, dan terkadang bernyanyi dan 
menari, dan selalu diitari oleh aroma dari taman bunga studionya yang 
subur. Seni yang dia ciptakan tertanam dengan suara yang menimbulkan 
penglihatan, rasa, dan bau alami pemandangan tata ruang Bali. Dalam 
lukisan Gunarsa sebagai penggambaran upacara di pura, pertama akan 
didengar dentingan suara lembut dari gentanya pendeta, mengendus-endus 
aroma asap yang mengangkat dalam spiral asap padupaan, dan merasakan 
percikan air suci pada telapak tangan yang menengadah. Dalam lukisan 
Gunarsa tentang pertunjukan wayang kulit seseorang akan mendengar 
(suara mengeram rendah -parutan guttural deskripsikan suaranya tualen) 
dari suaranya panakawan Twalen dan merasakan hangatnya api belencong 
wayang berminyak kelapa yang mengiluminasikan layar. Ketika Gunarsa 
melukis pertunjukan legong ketepatan garisnya digetarkan oleh suara 
gamelan gong yang menggerakkan badan penari di dalam ruang. 



The interpenetration of the senses that animates Gunarsa's best work is linked 
both to the fluid motion of the lines that form his figures and the kinetic 
charge of the shapes that pulsate in the spaces between them. Inspired by 
the floating ovals in classical Klungkung paintings that he once imagined 
were the eyes of the gods, Gunarsa has transformed these background 
shapes into tiny abstractions that capture the dynamism of contemporary 
Bali while maintaining the spiritual roots of its traditions. 



Menjadikan satu semua rasalah yang menghidupkan kerja besarnya 
Gunarsa memiliki hubungan baik untuk gerakan garisnya yang mengalir 
yang membentuk figurnya dan tuntutan gerakan dari bentuk-bentuk 
yang berdenyut di dalam ruang diantara semuanya. Diinspirasikan 
oleh bentuk oval yang mengambang dari gaya klasik lukisan Klungkung 
yang dia bayangkan sebagai mata-mata dari para dewa, Gunarsa telah 
mentransformasikan latar belakang ini kedalam bentuk abstrak yang kecil- 
kecil yang dapat menangkap kedinamisan kontemporer Bali sementara 
memelihara akar spiritual dari tradisi itu sendiri. 



Animated by dancing hieroglyphs that vibrate with the presence of Bali's 
invisible deities, Gunarsa's paintings will outlive any attempts by judges 
or forgers to diminish their value. His art is inspired by the movement 
between extremes that awed him when he was a boy working in his father's 
ricefields, watching the sky and listening to the wind whistle through the 
spinning wheel oi the pindekan. "The wind that came from the east sent the 



Dihidupkan oleh tarian hieroglyphs (bahasa dituliskan dalam simbol) yang 
bergetar dengan kehadiran para dewata Bali yang tidak nampak, lukisan 
Gunarsa akan hidup lebih lama kendati beberapa usaha apapun oleh hakim 
atau pemalsu untuk mengurangi nilainya. Karya seninya diilhami oleh 
gerakan diantara sifat pertentangan yang mengagumi dia ketika dia masih 
kecil bekerja di sawah ayahnya, memandangi langit dan mendengarkan 



322 



wheel moving to the west and vice versa. It spun through all the directions 
of the compass, pointing towards the dwelling place of each of the gods in 
rapid succession. North became South. East became West. I didn't know 
it then, but that was the essence of ruahinedal' As a child Gunarsa had no 
words to express the mysteries he observed in the world around him, but 
the older he gets, the more skilled he becomes in expressing those mysteries 
with deft brush-strokes that fall on his canvas like musical notes serenading 
unseen spirits in the clouds. 



angin bersiul melalui putaran dari pindekan. "Angin yang datang dari 
timur membuat roda putaran ke barat dan sebaliknya. Itu bisa berputar ke 
segala arah mata angin, menunjuk pada stana setiap dewa dalam rangkaian 
cepat. Utara menjadi selatan. Timur menjadi Barat. Saya tidak mengetahui 
itu kemudian, akan tetapi itulah esensi dari ruabineda." Sebagai anak kecil 
Gunarsa tidak memiliki kata-kata untuk mengungkapkan misteri yang 
dia observasi di dunia sekelilingnya, akan tetapi susunannya didapatnya, 
semakin meningkat keterampilannya di dalam mengekspresikan misteri itu 
semua dengan kibasan kuas semakin cepat yang jatuh pada kanvasnya ibarat 
notasi musik merayu dengan musik spirit yang tidak nampak di dalam awan. 




323 



List of Illustrations 



All pen and ink sketches, oil paintings, pastels, and watercolors are the work of 

Nyoman Gunarsa 

Traditional paintings are from the Kertha Gosa Museum 

Shadow puppet performance photos document the work ofWayan Nardayana 

(Dalang CenkBlonk) 

Photos of Nyoman Gunarsa's works are by Indrawati Gunarsa 

Other photos are by Ron Jenkins and Franziska Blattner 

Page 2 - Guneman -opening display of shadow puppets before the 

performance begins 
Page 4 - Legong dancer (pen & ink) 

Page 6 - Ganesh - shadow puppet from the guneman opening display 

Page 8 - The on^/cflra fl/csara as the source of dance movement (pen and 

ink) 
Page 12 - Aksara as the source ofoleg dancer's movements (pen and ink) 
Page 14 - Ganesh 

Page 15 - Twalen, Hanuman, and Merdah 

Page 16 - Bhagawan Valmiki writing the Ramayana (pen and ink) 
Page 17 - Twalen 

Page 18 - Nyoman Gunarsa in his studio 

Page 18 - Gunarsa's brush adding detail to painting of a flute player 
Page 19 - Gunarsa's palette of colors 

Page 20 - The birth of music and the Balinese pentatonic scale ( watercolor) 
Page 23 - Cenk and Blonk with Condong - Three characters from a shadow 

play (pen and ink) 
Page 24 - Gunarsa in front of his painting of two heavenly guardians painted 

in the ringgit or wayang style 
Page 26 - The ongkara aksara as the source of all movement (pen and ink) 
Page 28 - Tintia or Sang Hyang Tunggal and the kayonan shadow puppet 

representing creation 
Page 29 - Harmony of male and female dancers (pen and ink) 
Page 30 - Movement of the fingers, feet, and eyes in process of creating 

mudra gestures 
Page 31 - Sanggut - Collection of the Gunarsa Museum 
Page 32 - Cupak - Collection of the Gunarsa Museum - 
Page 33 - Aksara as the source of the oleg tamulilingan dance (pen and ink) 



Page 34 



Page 


36 


Page 


38 


Page 


40 


Page 


41 


Page 


42a 


Page 


42b 


Page 


43 


Page 


44 


Page 


45 


Page 


46 


Page 


47 


Page 


49a 


Page 


49b 


Page 


50 


Page 


51 


Page 


52 


Page 


54 


Page 


57 


Page 


58 


Page 


61 


Page 


62a 


Page 


62b 



- Comparison of original and forged oil paintings of the oleg 
tamulilingan dance 

- Durga 

- Agem kiri and agem kanan: dance movements born from aksara 

- Comparison of authentic and forged oil paintings of pendet 
dancers 

- Moving forged painting into the courtroom 

- Pelangkiran - offerings in the courtroom meant to provide 
spiritual protection 

- Defense lawyer in court 

- Dance in front of temple gate (pen and ink) 

- Women with offerings (pen and ink) 

- Sugama, a reknowned performer, offering his support to Gunarsa 
(pen and ink) 

- Petition to uphold copyright laws signed by numerous Indonesian 
artists 

- Demonstration in front of court in which Sugama offers support to 
Gunarsa 

- Forged painting with sticker and forged signature 

- Detail of forged painting of legong dancer 

- Detailed comparison of Gunarsa's painting of dancer's foot with 
forged painting of dancer's foot 

- Gunarsa at copyright demonstration in front of governor's 
mansion 

- Offerings for otonon celebration for three-month old baby (pen 
and ink) 

- Comparison of authentic and forged watercolors of young men in 
temple 

- Saraswati, the goddess of art and knowledge: the birth of the arts 
from the cecak (pen and ink) 

- Barong and Rangda with protective aksara symbols (pen and ink) 

- Rangda with rerajahan symbols meant to facilitate magical 
transformations (pen and ink) 

- Rerajahan drawing meant to provide spiritual protection 

- Bhima with magic aksara rerajahan for spiritual protection (pen 
and ink) 



324 



Page 


63 


Page 


64 


Page 


67 


Page 


68 


Page 


70 


Page 


71 


Page 


72a 


Page 


72b 


Page 


73 


Page 


74 


Page 


75 


Page 


76a 


Page 


76b 


Page 


77 


Page 


78 


Page 


81 


Page 


82 


Page 


84 


Page 


85 


Page 


86 



Page 88 

Page 89 
Page 90 
Page 91a 
Page 91b 

Page 92 
Page 93a 
Page 93b 

Page 94 
Page 95a 



- Gunarsa with his wife Indrawati, his daughter Linuwih, and staff 
member Mayxin 

- Gunaman opening puppet display including Mayasura, Hanuman, 
and the Kayonan 

- Temple of Denpasar 's courtroom in disrepair 

- Dalang at work behind the puppet screen (oil) 

- Dalang Wayan Nardayana with Nyoman Catra and Nyoman 
Gunarsa 

- Yudisthira in red and white painted in wayang or ringgit style (oil) 

- Dalang Wayan Nardayana making offerings behind the screen 
before his performance 

- Cenk and Blonk 

- Four clown servant characters: Delem, Sanggut, Merdah & Twalen 

- Gunarsa Museum 

- Ganesh 

- Window to heaven guarded by Vishnu's weapon, the cakra 

- Anggada 

- Hanuman from the collection of the Nyoman Gunarsa museum 

- Kayonan 

- Twalen and Merdah 

- Twalen and Merdah 

- Delem and Sanggut 

- Guneman opening display of puppets 

- Emblem of CenkBlonk displayed on the dalang's truck 

- The death of Mayasura after the astra geni he fired at Anggada 
boomerangs back (watercolor) 

- Shadow puppets of fire and arrow from the collection of the 
Nyoman Gunarsa Museum 

- Barong and Rangda painted in the Klungkung style (watercolor) 

- Gunarsa with dalang CenkBlonk (Wayan Nardayana) 

- Offerings behind the puppet screen 

- Wayan Nardayana making offerings to make the performance 
fluent and safe 

- Vishnumurti, a puppet depicting the destructive side of Vishnu 

- Kayonan on fire 

- Dalang CenkBlonk animating the clown servants Delem and 
Sanggut listening to Mayasura 

- Astra geni (pen and ink) 

- Guneman opening display of puppets 



Page 95b - Wayan Nardayana and Nyoman Gunarsa 

Page 96 - Twalen and merdah with Tintia or Sang Hyang Tunggal (pen and 

ink) 

Page 97a - Delem and Mayasura 

Page 97b - Delem, Mayasura and Sanggut 

Page 98a - Guneman opening display of puppets 

Page 98b - Dalang CenkBlonk animates Hanuman 

Page 100a - Twalen and Merdah 

Page 100b - Sanggut and Delem 

Page 101 - Sanggut and Delem 

Page 102 - Door to puppet storage room at the home of Wayan Nardayana 

Page 103a - Detail of door to puppet storage room featuring the four clown 

servants of Balinese wayang 

Page 103b - Guneman opening display with Sugriwa, Hanuman and Ganesh 

Page 104a - Hanuman and Merdah 

Page 104b - Rama and Twalen 

Page 105 - Dalang CenkBlonk animates Barong 

Page 106a - Guneman opening display with Hanuman and Wibisana, 

the brother of Rawana 

Page 106b - Sugriwa, Hanuman, Anggada, and soldiers 

Page 106c - Raksasa demon 

Page 107a - Cenk and Blonk 

Page 107b - Cenk and Blonk 

Page 108 - Mayasura asking rama for the astra geni weapon to kill Anggada 

Page 109 - Pen and ink drawing of the crab with a paintbrush in Gunarsa's 

studio 

Page 110 - Balinese high priest performing a ceremony (pen and ink) 

Page 112 - Ida Pedanda Ketut Sidemen 

Page 114 - Details of paintings from Kertha Gosa telling the story of the crab 

and the heron (1 8f 2) 

Page 115 - Details of paintings from Kertha Gosa telling the story of the crab 

and the heron (3 & 4) 

Page 117 - Ida Pedanda Ketut Sidemen reading sastra 

Page 118 - The ceremonial sacred bell of Ida Pedanda Ketut Sidemen 

Page 121 - Nawasanga 

Page 122 - Ida Pedanda Ketut Sidemen 

Page 124 - Kris daggers dropping from a tree in hell (watercolor) 

Page 127 - Death of a heron impersonating a judge (watercolor) 

Page 128a - Nawasanga Senjata - sacred weapons 



325 



Page 128b - Pindekan (pen and ink), symbolizing the spinning of the world or 

pengider bhuana 
Page 130 - Delem and Sanggut - Collection of the Gunarsa Museum 
Page 131a - Self-portrait of Gunarsa working in a ricefield and then wearing 

shoes first time 
Page 131b - The museum at Kertha Gosa 
Page 132a - Carving of the Trisula sacred weapon of protection on the wall of 

the Gunarsa Museum 
Page 132b - Carving of the Cakra sacred weapon on the wall of the Gunarsa 

Museum 
Page 133 - Oil painting of Delem and Sanggut at the Gunarsa Museum 
Page 134a - Painting of the Puputan KlungKung at the Kertha Gosa museum 
Page 134b - Gunarsa's painting of Puputan Klungkung (watercolor) 
Page 135 - Aksara as the source of dance movement (pen and ink) 
Page 137a - Barong and Rangda - detail of painting from the Kertha Gosa 

ceiling 
Page 137b - Forgers in hell punished by demons (pen and ink) 
Page 138a - Gunarsa as adult studying the ceiling of Kertha Gosa 
Page 138b - Self portrait of Gunarsa as a child studying the ceiling of Kertha 

Gosa 
Page 139 - Twalen painted on wood, preserved from Kertha Gosa and now at 

the Gunarsa Museum 
Page 141a - Corrupt judge in hell punished by demons (pen and ink) 
Page 141b - Punishment of liar in hell - detail from Kertha Gosa ceiling 
Page 142a - Barong and Rangda - detail from Kertha Gosa ceiling 
Page 142b - Punishment of judge who twists the law with lies (watercolor) 
Page 144 - Pindakan - trisula - cakra - pengider bhuana (pen and ink) 
Page 146 - Ceiling of Kertha Gosa - photo 
Page 147 - Hanuman - Collection Gunarsa Museum 
Page 148 - Anggada from Gunarsa Museum Collection 
Pages 153- 
157 - Watercolors by Gunarsa revising the tantri story of heron who 

impersonates a priest 
Page 158 - Gunaman opening display of puppets with Maya Cakru, Anggada 

and the kayonan 
Page 160a - Cenk and Blonk 
Page 160b - Cenk and Blonk 
Page 162 - Maya Cakru transforms himself into the false Anggada as his 

clowns servants watch 



Page 


[66a 


Page ] 


L 66b 


Page 


169 


Page 


l71 


Page 


[72a 


Page 


[72b 


Page 


[74 


Page 


[77 


Page 


[78a 


Page 


[78b 


Page 


[80 



Page 165 - Aksara as source of art - the first letter of the Balinese alphabet - 
ha (pen and ink) 

- Anggada asking Durga for magical powers 

- Ganesh with Rama 

- Anggada asking Durga for magical powers (watercolor) 

- Aksara as source of art - the second letter of the Balinese alphabet 

- na (pen and ink) 

- Blonk 

- Cenk 

- Durga gives Anggada magical powers (watercolor) 

- Aksara as source of art - the third letter of the Balinese alphabet - 
ca (pen and ink) 

- Sanggut & Delem (double shadow) 

- The demon Maya Cakru 

- Hanuman as judge speaks monkey language to test the false 
Anggada (watercolor) 

83 - Aksara as source of art - the fourth letter of the Balinese alphabet 

- ra (pen and ink) 
84a - Merdah & Hanuman 
84b - Durga 
85 - The real Anggada battles Maya Cakru after his deception is 

uncovered (watercolor) 
87 - Aksara as source of art - the fifth letter of the Balinese alphabet - 

ka (pen and ink) 
88a - Barong with clown servant 
88b -Delem 

89 - Aksara as source of art - the sixth letter of the Balinese alphabet - 
da (pen and ink) 

90 - Rama stops Anggada from fighting with Mayasura (watercolor) 

91 - Aksara as source of art - the seventh letter of the Balinese alphabet 
ta (pen and ink) 

92a - Sanggut 8f Delem 

92b - Gunaman opening display of puppets 

93 - Siva grants magical powers to Hanuman (watercolor) 

94a - Twalen and Hanuman with Kayonan 

94b - Twalen 

96 - Twalen and Merdah observed by Dewa Tintia (watercolor) 

97 - Aksara as source of art - the eighth letter of the Balinese alphabet 
sa (pen and ink) 



Page 

Page 
Page 
Page 

Page 

Page 
Page 
Page 

Page 
Page 

Page 
Page 
Page 
Page 
Page 
Page 
Page 



326 



Page 198a - Raksasa with Blonk Page 227 

Page 198b - Delem 

Page 199 - Aksara as source of art - the ninth letter of the BaUnese alphabet - Page 228a 

wa (pen and ink) Page 228b 

Page 201 - The real Anggada asks Durga for power in acemetery while leyaks Page 231 

test his power (watercolor) 
Page 202 - Twalen & Merdah meet Suratma judging souls in heaven Page 232 

(watercolor) 
Page 203 - Aksara as source of art - the tenth letter of the Balinese alphabet - la Page 233 

(pen and ink) 
Page 204a - Kayonan Page 235 

Page 204b - Durga 
Page 205 - Aksara as source of art - the eleventh letter of the Balinese alphabet Page 236 

- ma (pen and ink) 
Page 206a -Blonk Page 239 

Page 206b - Ganesh Page 240 

Page 207 - The real Anggada asks Durga for help after being wrongly accused 

by Mayasura (watercolor) Page 243 

Page 209 - Aksara as source of art - the twelfth letter of the Balinese alphabet - 

ga (pen and ink) Page 244 

Page 210 - Twalen and Merdah observe sinners suflfering in hell as leyak shake 

kris from tree (watercolor) Page 246a 

Page 211 - Aksara as source of art -the thirteenth letter of the Balinese alphabet - Page 246b 

ba (pen and ink) 
Page 213 - Durga gives Anggada, Twalen & Merdah magical powers to fight Page 249 

Mayasura (watercolor) 
Page 214 - Hanuman exiles Anggada for a crime he did not commit Page 250 

(watercolor) 
Page 216a -Twalen Page 252a 

Page 216b - Sanggut Page 252b 

Page 219 - Aksara as source of art - the fourteenth letter of the Balinese Page 255 

alphabet - nga (pen and ink) 
Page 220 - Twalen & Merdah meet a prostitute asking for help in hell Page 256 

(watercolor) 
Page 222a - photo of delem and sanggut seeing his shadow - Page 258a 

Page 222b - Tintia in front of a kayonan Page 258b 

Page 225 - Aksara as source of art - the fifteenth letter of the Balinese Tintia 

alphabet - (pen and ink) Page 261 

Page 226 - Mayasura transforms himself into the false Anggada as clowns Page 262 

watch (watercolor) 



Aksara as source of art - the sixteenth letter of the Balinese 

alphabet - ja (pen and ink) 

Delem and Sanggut on the wayang puppet box (keropak) 

Twalen and Merdah on the wayang puppet box (keropak) 

Twalen tries unsuccesffuly to bribe (nyogok) Suratma to get into 

heaven (watercolor) 

The false Anggada is stopped by hanuman as he tries to enter 

palace of Rama (watercolor) 

Aksara as source of art - the seventeenth letter of the Balinese 

alphabet - ya (pen and ink) 

Hanuman talks to the real Anggada in front of Rama's palace 

(watercolor) 

Delem watches Mayasura chage from the false Anggada back to 

himself (pastel and watercolor) 

Sugriwa battles against Mayasura (watercolor) 

Mr. Virtue (Wayan Polos) tries to convince Suratma to let him into 

heaven (watercolor) 

Merdah fights Sanggut as a raksasa demon fights the real Anggada 

above them (watercolor) 

Delem with shield fights Twalen with spear as Anggada fights 

raksasa above them (watercolor) 

Cenk and Blonk 

Guneman opening display of puppets with Sugriwa and Anggada 

and Sempati 

Hanuman takes Twalen for a flight in the air as Merdah watches 

from below (watercolor) 

Hanuman brings Twalen and Merdah together into the air for 

a joy-ride (watercolor) 

Blonk and Sanggut 

Cenk 

Aksara as source of art - the eighteenth letter of the Balinese 

alphabet - nya (pen and ink) 

Raksasa demon king discusses war with his raksasa advisers as 

Delem watches (watercolor) 

Twalen and Merdah 

Guneman opening display of puppets with Durga, Mayasura, 

and the kayonan 
Cenk and Blonk discuss the ethics of copyright law (watercolor) 
Maya Cakru and the real Anggada transform into Rangda and 
Barong (watercolor) 



327 



Page 264a - Twalen and Merdah on top of the wayang puppet box (keropak) Page 301 

Page 264b - Malen next to the offerings on the wayang puppet box (keropak) 

Page 266 - Three sacred syllables, ang ong mang, become aum and the source Page 303 

of dance (pen and ink) 

Page 268 - Judges with art in the courtroom Page 304 

Page 269 - The accused {terdakwa) giving testimony in court (pen and ink) 

Page 270 - Nyoman Gunarsa and Indrawati Gunarsa in court (pen and ink) Page 306 

Page 271 - Indrawati Gunarsa testifying in court (pen and ink) Page 310 

Page 273 - Indrawati Gunarsa gives testimony in front of judges (pen and ink) Page 311 

Page 275 - Indrawati Gunarsa explains a painting to a judge in court 

Page 276 - Authentic and forged paintings used as evidence in court Page 312 

Page 278 - Gede Artison Andarawata gives testimony in court in front of 

forged painting Page 314 

Page 281 - Judge consults with lawyers in court 

Page 282 - Anak Agung Rai Kalem testifies before judges and lawyers Page 316 

Page 285 - Indrawati Gunarsa explains art to the judges (pen and ink) 

Page 286 - Shadow puppets of fire and arrow from the collection of the Page 317 

Nyoman Gunarsa Museum 

Page 288 - Gunarsa at a demonstration in front of the court (pen and ink) Page 318a 

Page 289 - The accused {terdakwa) watches a witness testify (pen and ink) Page 318b 

Page 290 - Gunarsa makes his point in court by dancing 

Page 293 - Forged and authentic paintings presented as evidence in court Page 319 

Page 295 - Judge and lawyers examine documents (pen and ink) Page 320 

Page 296 - Official from the National copyright office testifies before judges Page 323 

Page 299 - Judges surrounded by art as evidence in court 



- Caricature of judge in hell with bribe money falling out of his 
clothes (watercolor) 

- Art in court next to the Indonesian flag and the Garuda eagle, the 
national symbol 

- Heron impersonating a priest has his mouth cut off by the crab 
(watercolor) 

- Ida Pedanda Ketut Sidemen presides over a ceremony 

- The sacred ceremonial bell of Ida Pedanda Ketut Sidemen 

- Detail of fire and arrows from a painting on the Kertha Gosa 
ceiling 

- Clouds over a sacred mountain framed by wayang puppets, Bhima 
and a demon (watercolor) 

- Gunarsa in front of his painting "Offerings" at the Nyoman 
Gunarsa Museum 

- Diagram of Nawasanga locating gods and their weapons in their 
sacred directions 

- Bali's sacred geography (pen &: ink) with oil painting of Barong 
and Rangda 

- Nawasanga painting from the Kertha Gosa Museum 

- Detail of demon puppet from an oil painting of a dalang in 
performance (Gunarsa Museum) 

- Gunarsa's garden studio 

- Priest presiding over a ceremony (watercolor) 

- Detail of clouds over the sacred mountain Gunung Agung 
(watercolor) 



328 



Selected Bibliography 



Artaud, Antonin. The Theater and Its Double , New York, 1958. 

Bandem, M. 8f deBoer, F. Kaja and Kelod: Balinese Dance in Transition . Kuala 
Lumpur, 1981. 

Bateson, G. & Mead, M. Balinese Character: A Photographic Analysis , New York, 
1942. 

Belo, Jane. Bali: Rangda and Barong , New York, 1949. 

Belo, Jane. Traditional Balinese Culture , New York, 1970. 

Catra, N. & Jenkins, R. The Invisible Mirror- Siwaratrikalpa: Balinese Literature 
in Performance Denpasar, 2008. 

Covarrubias, Miguel. The Island of Bali , New York, 1937. 

Creese, Helen. Parhayana: The Journeying of Partha: an 18th Century Balinese 
Kakawin , Leiden, 1998. 

de Zoete, B. & Spies, Walter. Dance and Drama in Bali , London. 1938. 

Dibia, W. & Ballinger, R. Balinese Dance, Drama, and Music , Singapore, 2004. 

Dwikora, Putu Wirata. Nyoman Gunarsa: lalan Panjang Martir Hak Cipta , 
Malang, 2009. 

Emigh, John. Masked Performance: The Play of Self and Other in Ritual and 
Theater , Philadelphia, 1996. 

Eiseman, Fred. Bali: Sekala and Niskala , Singapore, 1990. 

Geertz, Clifford. Negara: The Nineteenth Century Theater State in Bali , 
Princeton, 1980. 



Geertz, Hildred. Images of Power: Balinese Paintings Made for Gregory Bateson 
and Margaret Mead , Honolulu, 1994. 

Geertz, Hildred. The Life of a Balinese Temple: Artistry, Imagination and History 
in a Peasant Village , Honolulu, 2004. 

Geertz, Hildred. Tales from a Charmed Life: A Balinese Painter Reminisces , 
Honolulu, 2005. 

Herbst, Edward. Voices in Bali: Energies & Perception in Vocal Music and Dance 
Theater , Hanover, London, 1997. 

Hinzler, H.I.R. Bima Swarga in Balinese Wayang , The Hague, 1981. 

Hobart, Angela. Dancing Shadows of Bali , New York, 1987. 

Holt, C. Art in Indonesia: Continuities and Chang e. Ithica, 1967. 

Hooykaas, C. Kama and Kala: Materials for the Study of Shadow Theater in Bali , 
Amsterdam, 1973. 

Jaman, S. Gede. Fungsi Dan Manfaat Rerahahan Dalam Kehidupan , Surabaya, 
1999. 

Jenkins, Ron. Subversive Laughter , New York, 1996. 

McPhee, Colin. Music in Bali: A Study in Form and Instrumental Organization , 
New Haven & London, 1966. 

Mershon, Katharane. Seven Plus Seve: Mysterious Life Rituals in Bali , New York, 

1971. 

Pucci, Idanna. Bhima Suraga: The Balinese Journey of the Soul , Boston, 1992. 



329 



Ramseyer, U. The Art and Culture of Bali , Oxford, 1977. 

Robson, Stuart. Arjunawiwaha , Leiden, 2008. 

Rubenstein, Rachelle. Beyond the Realm of the Senses: The BalLnese Ritual of 
Kakawin Composition , Leiden, 2000. 

Santoso, Soewito. Ramayana Kakawin , New Delhi, 1980. 

Sidemen, Ida Pedanda Ketut. Gaguritan Panca Satya , Denpasar, 2003. 

Schulte Nordholt, Henk. Bali: An Open Fortress , Leiden, 2007 

Stuart- Fox, David. Pura Besakih , Leiden. 2001. 

Sukra, Wayan. Moksa , Jakarta, 2003. 

Teeuw, A. 8f Robson, S.O. & Zoetmulder, P.J. Siwatratrikalpa of Mpu Tanakung , 
Leiden, 1969. 



Tenzer, Michael. Balinese Music , Singapore, 1991. 

Toer, Pramoedya Ananta. Cerita Calonarang , Jakarta, 2003. 

Vickers, Adrian. Bali: A Paradise Created , Ringwood, Victoria. 1989. 

Vickers, Adrian. Journeys of Desire: A Study of the Balinese text Malat , Leiden, 
2005. 

Zoetmulder, P.J. Kalangwan: A Survey of Old Javanese Literature , The Hague, 
1974. 

Zoetmulder, P.J. Old Javanese-English Dictionary , The Hague, 1982. 

Zurbuchen, Mary. Language of the Balinese Shadow Theater , Princeton, 1981. 



330 




■JV 



vA »«>—■- • • 

- • - . ». >. ^ ■ » . , ■ ^. .■ - i ». »^c 

,. . , -.. ■ ir .-.^.- .. ... . ■ .%, 





-If " 



• ^J 



«"♦-i»! 



f-->/^» 






Ida Pedanda Ketut 
Sidemen 



Ida Pedanda Ketut 
Sidemen 



"Hi'-i 



' ■_».- ■" \ 



•■v'^'^-:.^ 



Ida Pedanda Ketut Sidemen, also 

known as Ida Pedanda Ketut Kencana 

Singarsa, is a Balinese high Brahmin 

priest. He has written numerous 

volumes of poetry based on sacred 

Hindu teachings, including "Panca 

Satya" and "Pati Jelamit" Every 

Sunday evening at his home in Gria 

Taman in the village of Sanur, Ida 

Pedanda hosts a group of fishermen, 

teachers, and hotel workers, who 

keep their cuhural traditions alive by 

singing sacred Hindu poetry from 

palm leaf manuscripts known as lontar. 



Ida Pedanda Ketut Sidemen juga 
dikenal dengan nama Ida Pedanda 
Ketut Kencana Singarsa adalah seorang 
pendeta dari kaum brahmana. Beliau 
menulis sejumlah sanjak berdasar 
pada pendidikan ajaran Hindu 
diantaranya "Panca Satya" dan Pati 
Jelamit" Setiap hari minggu malam di 
tempat kediamnya di Gria Taman di 
desa Sanur, Ida Pedanda menghimpun 
grup terdiri dari para nelayan, guru, 
karyawan hotel, menjaga kelangsungan 
hidup tradisi budaya mereka dengan 
menyanyikan sanjak-sanjak suci 



yang ditulis pada daun lontar. 



— *^ .^ .l' r • 




I Wayan Nardayana / Wayan Nardayana 



most popular and prolific dalangs. 

A master of shadow puppetry in all 

its dimensions, Nardayana performs 



like the Ramayana and Mahabharata, 

enacting the voices dozens of 

characters at the same time that 

he manipulates the shadows of the 

leather puppets that represent them. 

He is also known as Dalang 

CenkBlonk in honor of the ; 

traditional clown figures that 

he has resurrected as the 

voices of the common people, 

Cenk and Blonk. 



seorang dalang Bali yang amat popular 
dan sukses. Seseorang ahli memainkan 
wayang dari berbagai dimensinya, 
Nardayana mempertunjukkan cpisod- 
episod dari teks-teks Hindu kuno 
seperti Ramayana dan Mahabharata, • 



karakter tokoh dan pada saat 
bersamaan dia memainkan bayangan 
dari wayang kulit dengan 
segala perwujudannya. 
Dia dikenal dengan 
dalang CenkBlonk sebagai 
penghormatan pada figur 
badutan tradisional yang dia 
hidupkan mewakili suara 



ebanvaKan meuinit 



suaranya Ceng dan Blong. 



This story of art forgery, mystical shadow puppets, international crime syndicates, and divine identity theft focuses on a landmark court case as seen from the perspective of three extraordinary Balinese 
individuals: a painter, a puppet-master, and a high Brahmin priest. I Nyoman Gunarsa, one of Bali's most acclaimed artists, has devoted eight years to a legal battle over the forgery of his paintings, 
a struggle he hopes will strengthen the enforcement of Indonesia's copyright laws for all artists. I Wayan Nardayana is one of Bali's most popular and accomplished dalangs, a master of shadow puppetry 
whose witty performances of Hindu epics include references to modern moral dilemmas. Ida Pedanda Ketut Sidemen is a high Brahmin Hindu priest, who is also one of Bali's most gifted poets, the author 
of verses that give renewed spiritual meaning to ancient Hindu teachings. With the copyright trial as a starting point each of these men comments on the underlying meanings of truth and falseness as 

seen through the philosophy of ruabineda, a Balinese-Hindu principle that envisions opposites in a state of dynamic 
equilibrium. Darkness and light. The true and the false. Good and evil. Gods and demons. The BaUnese believe that the 
continuing tension between these contradictory forces is necessary for the balanced functioning of the world. 

Nardayana transforms Gunarsa's copyright trial into an allegorical story based on characters from the Ramayana, animating 
philosophical issues in a cinematic display of shifting shadows and enlightening comic commentary. Gunarsa creates a kinetic 
series of watercolors that brings the shadow play to life with his distinctive style of swirling colors and dynamic lines. Ida 
Pedanda Ketut Sidemen provides additional commentary on themes of truth and falsehood by quoting Hindu texts that are 
the source of both his religious faith and his poetry. 




%i ^ tJ T\ ^ ^.^ 



A:AA/A/.V.A ^ VJhlfWrVr - 



A^ALA-^ ^^^-i/"^^ /'A^-A/d 
B u K l' .V' i Z)/- '^ M^ ^^^ ^^' ' I 



Lawyers for the Indonesian Anti-Corruption Movement (GerRAK) and Bali Corruption Watch have declared the trial an 
example of "mafia justice," "a tragedy of the law" and "a valuable lesson of something that should never be repeated." 

The painter, the puppet-master and the priest, each of them in their own way, rely on the animist-mystic traditions of the Balinese 
Hindu religion to provide a sense of clarity, truth and justice that was missing from the decision of the judges in the court. 



Ini ceritera tentang pemalsuan karya seni, pertunjukan wayang kulit mistis, sindikat kriminal internasional, dan identitas bersifat 
kedewaan yang dicuri, difokuskan diseputar hal yang menonjol pada kasus pengadilan yang dipandang dari tiga perspektif dari 
tiga orang yang luar biasa: seorang pelukis, seorang dalang, dan seorang pendeta dari kaum brahmana. I Nyoman Gunarsa salah 
seorang pelukis Bali yang dielukan-elukan, selama delapan tahun telah mencurahkan usahanya untuk sebuah perjuangan hukum 
atas pemalsuan lukisan-lukisannya, berjuang dengan harapan dia dapat memperkuat penyelenggaraan hukum hak cipta di Indonesia 
untuk semua seniman. I Wayan Nardayana adalah salah seorang dalang yang paling popular dan sukses, ahli dan jenaka dalam 
memainkan pertunjukan wayang dari epik Hindu termasuk memberi referensi tentang dilema moral mederen. Ida Pedanda Ketut 
Sidemen adalah seorang pendeta Hindu dari golongan brahmana, yang juga salah seorang sastrawan penyair Bali, penulis sanjak- 
sanjak yang memberikan pembaharuan pada arti spiritual untuk pendidikan Hindu. Dengan pengadilan hak cipta sebagai titik pijak 
masing-masing orang ini memberikan komentarnya pada arti mendasar dari kebenaran dan kepalsuan dipandang melalui filsafat 
ruabineda, prinsip mendasar bagi orang Bali Hindu yang memimpikan pertentangan ke dalam pernyataan dinamika keseimbangan. 
Kegelapan dan terang. Baik dan buruk. Dewa dan Raksasa. Kepercayaan orang Bali ketegangan yang berlangsung terus-menerus 
diantara kekuatan yang bertentangan adalah diperlukan untuk fungsi keseimbangan dunia. 

Nardayana mentransformasikan pengadilan hak cipta ke dalam kiasan ceritera melalui karakter-karakter yang dipetik dari Ramayana, 
menghidupkan persoalan-persoalan melalui filsafat ke dalam pertunjukan sinematik dengan mengganti-ganti bayangan serta 
pencerahan komentarnya yang lucu. Gunarsa menciptakan serial kinetis dari cat air yang membawa pertunjukan wayang menjadi 
hidup dengan gayanya yang khas dengan lingkaran warna dan garis-garisnya yang dinamis. Ida Pedanda Singarsa memberikan 
komentar tambahan dalam tema dari kebenaran dan kepalsuan dengan menyitir teks sastra Hindu hal mana sebagai sumber baik 
untuk kepercayaan maupun puisinya. 



Para pengacara dari Indonesian Anti-Corruption Movement (GerRAK) dan Bali Corruption Watch telah mengumumkan pemeriksaan pengadilan sebagai sebuah contoh dari "mafia keadilan," "sebuah tragedi 
hukum" dan pelajaran berharga dari sesuatu yang mesti tidak pernah terulang lagi. 



Pelukis, dalang dan pendeta, masing-masing berada dalam jalannya sendiri bersandar kepada tradisional mistik- animisme dari agama Hindu Bali untuk memberikan kejernihan 
rasa, kebenaran dan keadilan yang absen pada keputusan hakim di pengadilan. 



ISBN TVfl-bDS-isaai-o-'i 
||llllllllllll||llllllllllli|| 

9II786O29II582I 09"